[REMAKE] Safe With Me by Kristen Proby
Main Casts: Lu Han (GS), Oh Sehun
And Others
Genre: Romance, Drama.
Rated: M
Warning: Genderswitch, Some Age-switch, OOC, No Children
Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Kristen Proby.
Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.
This story set is in Seattle, not in South Korea.
Really hope you guys will enjoy this story~
Review, kritik dan saran sangat dinanti.
No bash, If you hate HunHan or hate this story then don't read.
Thank you.
Pls read remaker's note in the end of the story if you don't mind.
Chapter 4
-Luhan POV-
Hari masih sangat pagi ketika aku bangun dari tidurku. Aku mengira aku akan terbangun sendiri di atas tempat tidur ini, tetapi suatu kejutan untukku, Sehun masih tertidur dengan damainya di sampingku. Aku menopang kepalaku di tanganku dan membiarkan mataku menikmati pemandangan tubuhnya yang berbaring di sampingku. Selimut hanya menutupi bagian tubuhnya hingga ke pinggang, membuat otot perutnya yang luar biasa terlihat jelas oleh kedua mataku.
Terdapat tato bergambar elang dengan sayap yang terbuka di lengan atasnya, menggenggam sesuatu di cakarnya. Sayapnya sewarna dengan bendera Amerika.
Aku bergerak mendekat dan mencium tato itu lembut.
Teringat bagaimana aku ingin merasakannya semalam, dan dia tidak pernah memberikanku kesempatan, aku memutuskan untuk memanfaatkan saat dia tertidur ini dan perlahan menggerakkan tubuhku menuju bagian bawah tempat tidur, berpindah ke bawah selimut dan berhenti di antara kedua kakinya.
Aku memberikan ciuman basah di daerah sekitar pinggulnya sebelum beralih ke kejantanannya. Aku menggerakkan lidahku disana, dari batang hingga ujung kepala kejantanannya, memutar-mutar lidahku seperti sedang menjilat ice cream.
Ketika aku melirik kearahnya, aku tak terkejut menemukan mata Sehun telah terbuka lebar dan dia tengah melihatku dengan intens, memamerkan senyum setengahnya yang begitu tampan.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku menekan kejantanannya masuk lebih dalam di mulutku, menghisapnya dengan perlahan.
"Ah, hell," dia berbisik dan mengangkat kedua tangannya untuk mencengkeram bantal di samping kepalanya. Otot lengannya menegang, dan perutku mengencang melihatnya, mengetahui bagaimana rasanya berada di dalam pelukan kedua lengan besar itu.
Sembari perlahan mengeluarkan kejantanannya dari dalam mulutku, aku menggunakan tanganku untuk memompa miliknya itu perlahan, dan kemudian miliknya itu kembali tenggelam di dalam mulutku. Tanganku meremas lembut kedua bola kembarnya yang menggantung.
"Luhan!" Seru Sehun, dan kejantanannya terasa mengeras dan menghujam lebih dalam di mulutku.
Dan berikutnya dengan lebih intens, aku menggoda kulit sensitifnya itu dengan ujung gigi-gigiku, dan tiba-tiba aku berbalik terbaring dengan dia yang berada di atasku dan menciumku dalam, penuh gairah, kedua tangannya sibuk menggerayangi tubuhku, seakan-akan dia tidak pernah menyentuhku sebelumnya.
"Aku ingin membuatmu klimaks," aku merengut ketika dia mencium rahang dan cuping telingaku.
"Kau hampir melakukannya." Dia menggigit bahuku dan kemudian menggoda daguku dengan hidungnya. "Tapi kau yang akan selalu klimaks pertama, Legs. Fuck, aromamu benar-benar nikmat."
"Aromaku seperti seks," aku tertawa.
"Mmm," dia menyetujui dan menatap kedua mataku, kedua mata birunya bersinar akan gairah dan kebahagiaan. Dia memposisikan dirinya dan perlahan memasuki diriku, langsung sampai ke ujung. Selagi dia terdiam, dia menyapukan buku-buku jarinya ke pipiku dan menciumku dengan manis.
"Bagaimana perasaanmu?" bisiknya.
"Baik," jawabku dan mencoba memutar pinggulku, tetapi dia menahanku.
"Apa kita baik-baik saja?" dia bertanya, kedua matanya tampak serius.
"Kita akan baik-baik saja begitu kau mulai menggerakkan bokong seksimu."
Dia tersenyum, dan mulai menggerakkan pinggulnya, membuat kejantanannya keluar masuk di dalam diriku dalam satu gerakan panjang.
"Lebih baik?"
"Ya." Aku menelan ludah. "Apakah kau tidur nyenyak?"
"Tak pernah lebih nyenyak dari semalam," tegas Sehun sembari mengerenyitkan dahinya, kemudian menggerakkan pinggulnya lagi. "Astaga, kau terasa begitu nikmat, sayangku."
Sehun meraih kedua tanganku, menyatukan jari-jari kami berdua dan menarik mereka ke atas kepalaku, menahannya di kasur saat ia mulai bergerak lebih cepat dan keras, menatapku dalam saat ia bercinta denganku.
Aku mengangkat kakiku sampai pahanya, dan melingkar keduanya di pinggulnya, membuka diriku sepenuhnya kepada dirinya.
"Fuck, yes," dia mengerang dan menenggelamkan dirinya di dalam diriku, menarik dan mendorong, nafasnya terdengar cepat, kedua tangannya menggenggam kedua tanganku erat, sampai akhirnya dia gemetar hebat dan menggeram keras, membawaku sampai ke puncak bersamaan dengan dirinya.
Saat dia mulai pulih dari orgasmenya, dia melepaskan kedua tanganku dan mencium hidungku. "Well, selamat pagi, Legs."
"Legs?" Aku bertanya sambil tertawa. "Apa itu Legs?"
"Ah, sayangku, ketika kau tertawa dengan diriku yang masih berada di dalam dirimu..." Dia menggelengkan kepalanya sebelum menempelkan keningnya ke keningku. "Sudahkah aku memberitahumu kalau aku sangat menyukai kakimu? I really love your legs."
"Sekali atau dua kali," jawabku. "Tetapi aku tidak keberatan untuk selalu kau ingatkan."
.
.
"Aku mau jellybeans!" Luna berseru ketika kami semua berada di ruang keluarga untuk menonton film bersama.
"Seberapa sering kalian melakukan movie night?" Sehun bertanya, mendudukkan dirinya di kursi dan memberikan sekotak jellybeans kepada Luna.
"Aku mencoba melakukannya sekali seminggu."
"Aku mau permen kacang!" Hana tersenyum kearah Sehun dan mengedipkan kedua matanya, membuatku terkekeh.
Dia benar-benar perayu kecil.
"Segera datang," Sehun memberikan sekotak permen kacang kepadanya dan tersenyum menatap si kembar yang tengkurap di atas tumpukan bantal dan selimut.
"Apa yang kita tonton?" tanyanya.
"Ivan The Incredible."
"Great," dia tersenyum dan menekan tombol play di remote, memberikanku semangkuk popcorn sembari dia berbisik, "Aku sama sekali tidak tahu ini film apa."
"Tidak apa-apa," aku balik berbisik, "mereka akan tertidur dalam satu jam dan menyelesaikannya besok."
"Apa samchon mau permen kacang?" Hana menawari Sehun.
"Tidak terima kasih, sayang," Sehun tersenyum kepadanya.
"Samchon tidak suka permen kacang?" dia bertanya sambil merengut.
"Tidak terlalu." Dia mengangkat kedua bahunya. "Samchon tidak terlalu suka dengan permen kacang."
"Kau harus menyukainya!" Luna melompat berdiri dan Hana mengikutinya.
"Yep! Ini, makan ini!" Hana bergerak naik ke atas pangkuan Sehun.
"Kalian tidak bisa memaksaku!" Sehun berteriak dengan nada bercanda, mengajak mereka bermain dengan pura-pura menangkis tangan kecil Hana yang mencoba menyodorkan permen kacang ke dalam mulutnya dan tak lama Luna ikut membantu Hana.
"Samchon harus memakannya!" Luna berteriak dan mencoba menggelitik tubuh Sehun.
"Aku tidak kegelian!"
"Ya, samchon kegelian!"
Yang aku bisa lakukan hanya menonton mereka dan tertawa.
"Tolong! Luhan, tolong jauhkan monster-monster kecil ini dariku! Aku tidak kuat!"
"Kau pengecut!" Luna berseru sambil tertawa dengan keras dan terus menggelitiki Sehun.
"Makan ini, pengecut!" Hana tertawa dan terus mencoba membuat Sehun memakan permen kacang di tangan kecilnya.
Akhirnya, Sehun membuka kedua tangannya dan memeluk mereka berdua yang masih berjuang melawannya, berdiri dan membawa mereka berkeliling ruangan, berteriak seperti Sparta, "Victory!"
Dia menjatuhkan Hana dan Luna dengan pelan di kumpulan selimut dan bantal mereka, sama sekali tidak terengah-engah. Anak-anak tertawa dengan air mata menetes di wajah mereka.
"Dan kau," Sehun menunjuk diriku dengan tatapan marah main-main.
"Apa yang aku lakukan?" aku bertanya, kedua mataku melebar, berpura-pura tidak bersalah.
"Kau seharusnya membantuku."
"Kau bisa mengurus semuanya dengan baik sendiri," aku menyeringai dan tiba-tiba aku sudah berada di atas bahu Sehun, dan anak-anak terdengar berteriak dan tertawa bahagia melihatnya.
"Aku rasa aku akan membuangnya ke tempat sampah!" Sehun memberitahu kedua putriku dan melangkah menuju dapur.
"Tidak, letakkan dia di tempat daur ulang," Luna tertawa.
"Kau tidak bisa mendaur ulang mama!" Aku berteriak dan memukul Sehun pelan dengan kepalan tanganku. "Turunkan aku!"
"Pengkhianat!" Sehun berteriak dan berjalan kembali menuju ruang keluarga dan menurunkan aku di atas sofa. "Yang barusan adalah peringatan."
"Baiklah," aku tertawa. Anak-anak terus tertawa dan aku bisa melihat Hana memeluk pinggang Sehun dengan erat.
"Aku mencintaimu, samchon. Bisakah kita menonton film sekarang?"
Dia terpaku sejenak dan berkedip dua kali sebelum menjawab dengan keras, "Ya, buttercup, ayo kita menonton."
Hana tersenyum penuh cinta kearah Sehun dan ikut berbaring di samping Luna, siap untuk menonton film.
Sehun duduk di sampingku dan menarikku mendekat, menempelkan tubuhku dengan tubuhnya sembari mencium kepalaku dan mengambil segenggam popcorn dari atas mangkuk dan memasukkannya ke dalam mulutnya sambil menonton film yang sedang diputar.
Suasana ini benar-benar terasa menakjubkan. Memiliki dirinya disini bersama kami benar-benar terasa sempurna.
Dan kurang dari satu jam, kedua putriku sudah tertidur nyenyak di atas lantai.
"Ternyata tidak selama yang aku kira," aku berbisik sambil tersenyum.
"Terimakasih Tuhan," dia bergumam dan menolehkan kepalanya untuk menciumku. "Ayo kita bawa mereka ke kamar, sehingga aku bisa membawamu ke atas ranjang."
"Rencana bagus."
.
.
"Mama! Mama!"
"Lu." Sehun menyentuh lenganku.
"Itu Luna," ucapku, seketika bangun dan melangkah cepat menuju ke kamar anak-anak. Sehun tepat berada di belakangku.
"Mama!"
"Aku disini, baby girl. Ada apa?"
"Luna muntah," Hana memberitahu kami dan menunjuk kearah lantai.
"Aku minta maaf," Luna menangis.
"Oh baby, tidak apa-apa." Aku menariknya ke dalam pelukanku, tidak menyadari Sehun yang sudah meninggalkan kamar. Aku menempelkan pipiku di keningnya dan terkesiap.
Tubuhnya begitu panas.
"Kau demam, sayang. Mama akan memeriksa suhu badanmu, okay?"
"Okay," ujarnya parau dan berbaring perlahan tepat dengan kembalinya Sehun yang membawa baskom besar dan beberapa alat untuk bersih-bersih lainnya.
"Kau urus Luna, biar kubereskan semuanya."
"Kau tidak perlu..."
"Tidak apa, Lu. Aku bisa melakukannya."
"Terima kasih." Aku mencium pipinya dan bergegas mengambil obat demam dan thermometer, kemudian kembali tepat ketika Sehun selesai membereskan kekacauan di atas lantai kamar.
"Mama?" Hana memanggil dari atas tempat tidurnya.
"Ya, sayang," aku menjawab dan meletakkan thermometer di telinga Luna.
Tiga puluh delapan koma tiga derajat celcius. Sial.
"Aku tidak enak badan." Hana duduk dan memeluk dirinya sendiri.
"Kemarilah, buttercup," Sehun mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju ke kamar mandi, dimana aku mendengar dia muntah.
Luna mendengarnya juga, dan itu membuatnya kembali muntah. Terimakasih Tuhan, Sehun tadi membawa baskom.
Dan terus saja seperti itu selama berjam-jam, memeluk mereka berdua sembari mereka terus menerus muntah, mengompres mereka dengan kain basah dan akhirnya memberikan mereka obat demam dan berdoa agar panas mereka segera turun.
Sehun terus bersama kami. Dia sama sekali tidak meninggalkan kami untuk tidur. Dia juga tidak mengeluh dan tidak merasa jijik melihat banyaknya muntahan yang dikeluarkan oleh kedua putriku.
Dia hanya menolongku dalam diam, kami bergantian menjaga anak-anak, mengganti pakaian mereka, membantu mereka ke kamar mandi dan menenangkan mereka.
Aku menimang Luna di kursi goyang di sudut kamar, dan Sehun memeluk Hana, duduk di atas tempat tidur Hana dengan punggung bersender di dinding.
"Aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih kepadamu," bisikku.
"Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku, Luhan." Dia melihat wajah Hana dan merengut. "Kasihannya mereka begitu sakit."
"Flu sedang menyebar dimana-mana." Aku menyenderkan kepalaku di kursi dan menutup kedua mataku. "Nana terkena juga minggu lalu."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sehun bertanya.
"Ini sudah cukup," aku menjawab sambil tersenyum. "Begadang dan memberikan mereka obat, berdoa agar semuanya cepat berakhir, dan memeluk mereka."
"Ini adalah pekerjaan sulit," dia berkomentar santai dan menatapku dari atas kepala Hana.
"Ini bukan apa-apa," aku tertawa tanpa humor. "Ketika mereka masih kecil, aku tidak pernah tidur. Mereka tidak pernah mau tidur di waktu yang sama, tidak perduli seberapa keras aku berusaha. Mereka harus menyusu setiap dua jam sekali, mereka berdua, jadi aku merasa seperti sepanjang hari yang aku lakukan adalah menyusui mereka."
Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum kepada Sehun. "Aku rasa aku pernah melewati dua minggu tanpa mandi."
"Kenapa kau tidak mencari bantuan?" Dia bertanya.
"Ibuku bersamaku selama dua minggu ketika mereka lahir, tetapi mereka harus dimasukkan ke dalam NICU karena mereka lahir prematur, dan ketika aku membawa mereka ke rumah, ibuku juga harus kembali ke rumahnya."
"Mereka lahir prematur?"
"Ya, mereka lahir sekitar tiga minggu lebih cepat dari perkiraan," jawabku.
"Dimana Jackson saat itu?" Dia menggeram.
Aku tertawa lagi dan mengusap pipi lembut Luna dengan jari telunjukku.
"Bekerja. Dia selalu bekerja." Aku menggigit bibirku, membenci merasakan air mataku yang memaksa untuk keluar. "Dia bahkan tidak bersamaku ketika Hana dan Luna lahir."
Sehun mengutuk pelan.
"Dia bukan orang yang jahat, Sehun." Aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Sejujurnya, dia hanya tidak seharusnya membentuk sebuah keluarga bersama siapapun. Aku tahu ketika aku menikahinya kalau pekerjaannya adalah prioritas untuknya. Dia tidak pernah merahasiakan itu."
Luna bergerak pelan, mengganti posisinya di dalam pelukanku.
"Aku rasa aku berpikir dia mungkin berubah ketika Hana dan Luna lahir." Aku tersenyum sedih. "Tetapi dia tidak berubah. Dan aku sadar bahwa dia sejak awal memang tidak seharusnya bersama kami."
"Jadi kau sudah menjadi single mom sejak awal." Itu bukan pertanyaan.
"Ya," aku mengangguk. "Aku sangat mencintai mereka. Mereka sepadan dengan setiap jam tidur yang hilang, Sehun. Tetapi sial, sangat melelahkan dan menakutkan ketika mereka sakit. Ada saat dimana salah satu mereka muntah di dalam kamar mandi dan yang lainnya muntah di atas kasur dan aku hanya bisa bersama dengan salah satu dari mereka. Apa yang harus aku lakukan kalau begitu?"
Aku mengangkat kepalaku menatap Sehun dan membiarkan air mataku jatuh ke pipiku.
"Atau ketika mereka berdua menangis secara bersamaan, dan aku hanya bisa menggendong salah satu dari mereka saat itu, terutama sekarang disaat mereka sudah semakin besar." Aku menggelengkan kepalaku dan mengusap pipiku. "Aku khawatir aku tidak akan cukup untuk mereka."
"Berhenti, baby. Kau adalah ibu yang luar biasa. Mereka begitu mencintaimu."
Aku hanya mengangguk dan menatap Hana yang tertidur nyaman di dalam pelukan Sehun, pipinya terlihat merah muda karena demam.
"Ketika aku memberitahukan mereka kalau baba mereka meninggal," aku berbisik dan menelan ludahku, mengayun kursi yang aku duduki perlahan, "aku pikir mereka akan histeris, tetapi mereka hanya merengut dan Hana berkata, 'apakah itu berarti kita tidak akan bertemu dengan baba lagi?'"
Kali ini aku menatap Luna dan mengecup puncak kepalanya.
"Apa yang kau katakan?" dia bertanya pelan.
"Aku hanya menjawab iya, itu benar. Tidak ada satupun dari mereka yang menangis, Sehun. Mereka hanya cemberut dan memelukku, karena mereka berkata aku terlihat sedih. Mereka tidak berduka untuk dirinya karena mereka tidak mengenalnya."
"Itu adalah salahnya, Lu, dan itu karena perbuatannya sendiri."
"Aku tahu," aku mengangguk. "Itu hanya membuatku sangat sedih karena Hana dan Luna begitu luar biasa, dan dia melewatkan saat-saat untuk mengenal mereka."
Tiba-tiba, Luna bergerak lagi dan menangis sebelum muntah ke seluruh tubuhku.
"Here we go again."
.
.
Dua puluh jam kemudian, kami semua kelelahan. Pada satu titik di tengah hari, Soojung membawakan kami sup dan sandwich, kaldu untuk anak-anak, dan memeriksa mereka untuk memastikan bahwa mereka memang benar hanya terkena flu.
Selama dua jam terakhir keadaan jauh lebih tenang. Panas mereka mulai turun, dan mereka juga sudah bisa tidur dengan nyenyak.
"Aku rasa kita sudah melewati masa-masa yang paling berat," gumamku sambil menyisir rambut Hana dengan jari-jariku. Aku berbaring di sebelahnya, sedikit mengantuk. Sehun duduk diatas kursi goyang dengan Luna berada di pangkuannya.
"Dia suka ditimang disini," gumam Sehun sambil tersenyum lembut.
"Ya, kursi goyang itu adalah tempat favoritnya," aku menyetujui perkataan Sehun. "Hana bisa tidur dimana saja, kapan saja. Luna, tidak terlalu. Tetapi jika kita menimangnya di atas kursi itu, dia akan tidur dengan cepat."
"Aku akan mencoba membaringkannya di atas tempat tidur," ucap Sehun sambil mencium kening Luna. "Demamnya sudah turun, syukurlah. Mereka benar-benar membuatku takut."
Bagaimana aku bisa menolak seorang lelaki yang begitu baik kepada kedua putriku?
Aku membiarkan mataku perlahan menutup, mendengarkan gerak Sehun yang tengah membawa Luna menuju tempat tidurnya. Aku pasti tertidur untuk beberapa menit karena hal selanjutnya yang aku tahu, Sehun sudah mengangkatku dari atas tempat tidur Hana.
"Aku bisa berjalan," protesku tetapi dengan tangan yang mengalung di lehernya. "Aku bukanlah wanita yang memiliki tubuh mungil seperti Irene."
Sehun hanya tersenyum.
"Aku tidak merasa begitu seksi malam ini," aku bergumam dengan nada bersalah.
"Aku rasa aku bisa menahan diriku malam ini," Sehun menjawab sambil tertawa.
"Aku seharusnya tinggal bersama anak-anak. Kau tidurlah."
"Aku menyalakan monitor di kamar mereka," dia menunjukkannya kepadaku. "Jadi kita akan bisa mendengar mereka apabila mereka membutuhkan kita. Untuk sekarang, aku akan membawamu untuk berendam di dalam air hangat. Kau pantas mendapatkannya, sweetheart."
Aku terkejut ketika dia membawaku ke dalam kamar mandi dan melihat dia telah mengisi bathtub dengan air hangat dan beberapa tetes lavender milikku.
"Berapa lama aku tertidur?" aku bertanya.
"Sekitar lima belas menit." Dia menurunkanku perlahan di atas kursi toilet dan membantuku untuk melepas pakaianku dan juga masuk kedalam bathtub.
Setelah beberapa lama berada disana dan menyaksikan Sehun membersihkan diri di hadapanku, kami pun berjalan bersama memasuki kamar tidur sembari mengeringkan tubuh kami berdua. Dia membantuku mengenakan piyama dan aku juga membantunya mengenakan pakaiannya.
"Aku akan tidur di sofa," ucapnya kemudian.
Dia mulai melangkah untuk meninggalkan kamar, tetapi aku menghentikannya.
"Omong kosong. Kau akan tidur bersamaku disini, Kim Sehun."
Dia berhenti tepat di depan pintu dan menundukkan kepalanya, seperti dalam mode mengalah dan berbalik menghadapku, kedua matanya terlihat sedih. "Aku tidak seharusnya tidur disini, Lu. Anak-anak ada di rumah."
"Tetapi kita tidak telanjang. Anak-anak akan baik-baik saja. Kita mungkin akan bangun terlebih dahulu dari mereka."
Dia meletakkan kedua tangannya di pinggulnya.
"Aku takut aku akan melukaimu ketika aku tertidur," bisiknya dengan suara serak.
"Apa?" tanyaku dan berjalan mendekatinya, melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya dan membawanya mendekat kepadaku. "Kau tidak akan melukaiku."
"Tidak secara sengaja, tidak akan pernah." Dia memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya dan menatapku dalam. "Tetapi ketika mimpi buruk datang, aku bisa menjadi sangat kasar padamu, Lu."
"Aku akan baik-baik saja."
Dia menggelengkan kepalanya tetapi aku tetap memeluknya.
"Jika kau membuang aku sekarang, setelah semua hal yang kita lakukan bersama? Aku benar-benar akan menendang bokongmu."
Bibirnya berkedut menahan senyum sebelum dia mencium keningku dan menarik napas panjang.
"Apa kau yakin?"
"Ya, aku yakin."
Dia mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jariku dan menarikku pelan menuju tempat tidur, membaringkan tubuh kami berdua, dan menarikku menempel padanya, punggungku berada di bagian depan tubuhnya.
"Terima kasih, Sehun. Untuk segalanya."
Aku mendengar dia menghela napas sebelum dia bersandar padaku dan mencium kulit lembut di bawah telingaku.
"Selamat malam, Legs."
.
.
Aku mencintai pekerjaanku. Bukan hanya karena aku kompeten di dalamnya, tetapi karena pekerjaanku begitu menyenangkan dan aku merasa seperti bagian dari keluarga.
Kim Yoonseok adalah pemilik perusahaan konstruksi ini. Dia menikah dengan Kim Jiwon, sepupuku, walaupun dia dan aku dibesarkan lebih seperti kakak adik. Sejak meninggalkan Chicago, Yoonseok tidak hanya menjagaku, tetapi dia juga memberiku pekerjaan di perusahaannya, membayarku untuk bekerja di dalam ruangan sebagai petugas administrasi untuk membantuku tidak terlalu menarik perhatian.
Terima kasih Tuhan telah mengirim mereka untukku.
Aku tidak hanya mengelola keuangan perusahaan disini, tetapi aku juga mendapatkan begitu banyak teman dan kebanyakan mereka adalah laki-laki.
Tentu saja ada beberapa dari mereka yang suka menggodaku, tetapi semua hanya main-main dan aku tahu bahwa mereka selalu menjagaku. Mereka juga sangat menyenangkan untuk diajak bergurau ketika mereka datang ke kantorku dengan pertanyaan tentang gaji atau bonus mereka, atau hanya untuk mengobrol satu sama lain sebelum mereka kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Tetapi ada seorang pekerja baru, Woo Jiho, dan dia benar-benar membuatku tidak nyaman.
Dia tidak memperlakukanku secara kurang ajar, tetapi caranya menatapku dan caranya berbicara kepadaku membuatku merinding.
Dia adalah pria yang tampan, dan mungkin sudah terbiasa menggunakan kelebihannya ini untuk mendekati setiap wanita yang dia suka, tetapi entah kenapa perasaanku mengatakan dia bukanlah pria yang baik dan itu membuatku benar-benar tidak nyaman.
Aku selalu berusaha menghindari kontak mata dengannya, berjalan dengan cepat setiap melewatinya dan benar-benar menjauhinya sebisa mungkin. Aku ingin mengatakan kepadanya untuk menjauh dariku, tetapi dia belum pernah melakukan hal-hal kurang ajar kepadaku.
Kecuali memberiku perasaan tidak nyaman.
Yoonseok berada di ruangan yang sama denganku, tetapi dia lebih sering menghabiskan waktunya bekerja di lapangan bersama para pekerjanya, meninggalkan semua tugas kantor kepadaku, dan kami berdua sama-sama tak keberatan akan hal itu.
Hari ini Yoonseok sedang memimpin rapat pagi dengan beberapa pegawai di ruangan sebelah karena ada proyek baru. Aku bisa mendengar suaranya dari sini sambil mengecek beberapa email masuk.
Pintu depan membuka dan menutup dengan suara yang menyebalkan, tanda engsel yang sudah berkarat. Aku menoleh dan seketika terkejut ketika melihat Jiho melangkah mendekati mejaku dengan seringaian di wajahnya. Aku kira yang baru saja masuk adalah Yoonseok.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku.
"Aku punya pertanyaan soal bonus asuransiku," dia menjawab dan menyenderkan pinggulnya di atas mejaku. Dia terlalu dekat dan ini membuatku tidak nyaman.
"Aku sudah menjelaskan semuanya padamu, Jiho-ssi."
Dia tersenyum dan mengangkat bahunya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatapku intens. "Aku belum mengerti."
"Tidak, kau pasti mengerti. Aku sudah menjelaskannya padamu berulang-ulang."
"Mungkin aku hanya ingin datang kesini dan mengobrol dengan wanita cantik." Dia tersenyum kepadaku, seperti pria yang suka menggoda wanita-wanita di bar, dan itu membuat perutku mual.
"Jiho-ssi, aku tidak tertarik. Apabila kau memiliki pertanyaan tentang gaji atau asuransi, tidak apa-apa, tetapi aku terlalu sibuk untuk hanya sekedar mengobrol dan aku benar-benar tidak tertarik denganmu."
Aku berdiri dan mencoba menjauh darinya, tetapi dia menghalangiku dan secara terang-terangan menyenggol pinggir payudaraku dengan lengannya.
"Kau tahu," dia bergumam dan menggerakkan tangannya menyentuh lenganku. "Kau tidak terlihat seperti istri seorang polisi."
Apa-apaan? Bagaimana dia tahu soal Jackson? Siapa dia sebenarnya?
Aku melepaskan diriku darinya tepat ketika Yoonseok melangkah memasuki ruangan.
"Aku bukan istri polisi," ucapku dingin.
"Apa yang kau lakukan disini?" Yoonseok bertanya pada Jiho, suaranya tenang, tetapi mata birunya terlihat marah.
"Aku hanya menanyakan Luhan tentang asuransiku."
"Dia baru saja akan pergi," aku memberitahu Yoonseok dan melotot ke arah Jiho. "Jika kau memiliki pertanyaan lagi, kau bisa menanyakannya langsung kepada Yoonseok oppa."
Dia mengangkat tangannya seperti menyerah dan melangkah mundur dariku. "Maaf karena sudah mengganggumu."
"Pergi dan lanjutkan pekerjaanmu!" Yoonseok berseru.
"Ya, boss."
Jiho bergegas pergi meninggalkan ruangan, membanting pintu di belakangnya dan Yoonseok berbalik menatapku dengan kedua matanya yang dingin.
"Apa itu tadi?"
"Tidak ada yang tidak bisa aku atasi," aku menghela napas sembari kembali duduk di kursiku dan kembali memeriksa email di komputerku, mencoba menenangkan diriku. Ya Tuhan, aku benar-benar ingin muntah. Aku rasa aku membutuhkan mandi yang lama untuk menghapus semua sentuhannya kepadaku.
"Apa itu tadi?" Yoonseok mengulangi sembari menatapku tajam. "Dan jangan mengatakan omong kosong kepadaku."
"Jiho mendatangiku," aku mengangkat bahuku dan berusaha menunjukkan senyuman pada Yoonseok, tetapi sepertinya gagal karena aku masih gemetar karena dia tadi dia menyebut-nyebut soal istri polisi. "Kecuali, kenapa dia mengatakan bahwa aku adalah istri polisi?"
"Dia mungkin melihat kau dijemput Junmyeon kemarin," jawab Yoonseok, seakan jawabannya menjawab segalanya dan memang benar, terima kasih Tuhan. Aku tidak pernah memberitahukan siapapun tentang masa laluku sebelumnya.
"Oh, oppa benar." Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. "Kalau begitu, tidak ada masalah."
"Apa kau yakin? Aku bisa memecatnya."
"Aku yakin," aku menggelengkan kepalaku dan bersender di kursiku dan menghela napas panjang. "Dia sedikit creepy, tetapi kali ini adalah pertama kalinya dia melewati batas."
"Aku akan mengawasinya. Apabila hal seperti ini terjadi lagi, kau harus langsung memberitahuku dan aku akan menendang si brengsek itu, kau mengerti?"
"Yes, sir," aku menjawab sarkastis.
"Aku serius, Lu."
"Okay," jawabku.
Dia menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju mejanya. Dan aku benar-benar berharap kejadian seperti hari ini tidak akan terjadi lagi.
.
.
"Dimana Sehun samchon?" Hana bertanya dan menatapku dengan kedua mata coklat besarnya sembari ia mendorong-dorong chicken nugget nya berputar di atas piringnya.
"Mama sudah memberitahumu sebelumnya. Dia sedang pergi dengan samchon yang lain dan appanya." Setelah selesai mengiris beberapa melon, aku meletakkannya di atas piring mereka dan kembali membersihkan dapur kedua orang tuaku.
"Aku merindukannya," Luna mendesah dramatis.
"Dia baru saja mengantar kita kesini satu jam yang lalu, sayang," aku mengingatkan mereka sambil memutar kedua bola mataku.
"Hey! Yeye tidak akan menonton Nemo konyol ini sendirian!" Ayahku berteriak dari arah ruang keluarga, membuat Hana dan Luna terkikik.
"Cepat habiskan makan malam kalian agar kalian bisa menemani yeye menonton Nemo."
Setelah menghabiskan semua makan malam dan buah mereka, mereka bergegas turun dari atas kursi mereka dan berlari untuk bergabung dengan ayahku di depan televisi.
"Mereka sepertinya benar-benar menyukai Sehun," ibuku berkata santai ketika dia melangkah masuk menuju dapur.
Dia tidak sedang bergurau.
"Kami semua menyukai Sehun," aku memberitahunya dan tersenyum. "Dia adalah keluarga."
"Hmm."
"Ada apa?" aku bertanya sembari berkacak pinggang. Ibuku menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu sembari dia mencampurkan campuran brownie, telur dan minyak, siap membuat cemilan untuk anak-anak.
"Hanya sebuah pengamatan."
"Ma," aku berkata tetapi dia menyelaku.
"Aku senang anak-anak menyukai dia," dia bergumam. "Dia adalah pria yang baik."
Aku merengut dan mengganguk, menatapnya dengan seksama.
"Dan kau sudah sendiri terlalu lama."
"Ma," aku mencoba bicara lagi tetapi dia berbalik menghadapku dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Aku terpaku di tempatku berdiri.
"Kau sudah sendiri terlalu lama," dia mengulangi ucapannya dan menelan ludah, berkedip beberapa kali. "Aku berharap kau kembali kesini lebih cepat, dan mama minta maaf kau harus kembali kesini karena keadaan ini. Aku sangat bangga padamu, baby girl."
Aku bergerak menyeberangi ruangan dan membungkusnya dengan kedua lenganku, memeluknya dengan erat. Aku mendapatkan tinggiku dari ibuku, begitu juga dengan rambut hitam dan kedua mata coklatku.
Ibuku adalah wanita yang begitu cantik, luar dan dalam.
"Jika dia yang kau dan si kembar inginkan, aku merestuimu," dia berbisik di telingaku, tersenyum sebelum kembali mengurus adonan browniesnya.
"Ma, aku tidak pernah mengatakan kalau aku memiliki hubungan khusus dengan Sehun," aku mengingatkannya.
"Aku tidak buta atau bodoh, Luhan."
Aku terdiam dan tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Apakah Sehun yang aku mau?
Oh, aku pasti bercanda. Tentu saja dia yang aku mau.
.
.
To Be Continued
Another chara muncul...
Apakah Jiho ada hubungannya dengan kematian Jackson? Jengjengjeng... Hohoho
Kinda sad karena sepertinya jumlah review menurun. Huhuhu
I'm okay tho, mungkin beberapa dari kalian terlalu sibuk untuk meninggalkan review,
but to be very honest aku lebih seneng kalian menyempatkan meninggalkan review kalian walau hanya satu kalimat,
karena review kalian adalah penyemangatku melanjutkan remake ini~
Fyi mungkin banyak dari kalian yang belum tahu, Safe With Me ini merupakan buku kelima dari series With Me in Seattle nya Kristen Proby.
Series ini menceritakan tentang kisah cinta keluarga Montgomery atau keluarga Kim disini karena itu karakternya ada banyak. Hehe
Kalau remake ini selesai, aku kepikiran buat meremake series lanjutannya, yaitu Breathe With Me dan Forever With Me dengan cast ChanBaek dan KaiSoo.
Dan untuk cerita ini mungkin akan selesai sekitar enam atau tujuh chapter lagi.
Btw wanna say thank you so much buat yang udah review di chapter sebelumnya:
selynLH7, 88it'sme, hunhania, hannie080, rly, dan Feyaliaz307
You guys rock!
Gonna post next chapter di malam rabu, so see you soon in the next chapter guys!
And don't forget to vote EXO for MAMA 2017!
Bubye~
