BTS & SEVENTEEN
Chapter 6
Ready?
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
Writer : Hansollee
Jungkook terbangun di malam hari, matanya mengerjab perlahan untuk menghilangkan pandangan kabur. Merasakan kepalanya berat, ia memejamkan matanya sesaat di barengi desisan. Tepat setelah ia menyandar di headbed, Hojoon mengiriminya pesan jika dia tidak pulang malam ini. Sudah biasa.
Dan itu berarti kakaknya ingin berbicara dengannya malam ini; Wonwoo akan tahu jika Jungkook mulai gelisah karena banyak pertanyaan yang belum terjawab. Wonwoo selalu menghindar setiap ia bertanya. Jungkook penasaran, yang selama setahun lebih mengendalikannya itu benar-benar kakaknya atau sosok yang lain? Suasana kamar Jungkook sangat suram, gelap dan mati. Miris sekali kehidupannya, tanpa sadar ia menitikan air matanya, matanya memerah manakala garis-garis mulai muncul kembali di sekitar lehernya. Sakit. Menahan semua kesakitan mental maupun fisiknya bukanlah hal yang mudah, dia mempunyai keterbatasan sebagai manusia. Sabar tidak ada batasnya, tapi ini bukan sekedar pembahasan kata 'Sabar'. Jungkook merasakan kehampaan, kosong, gelap dan Jungkook benci dirinya sendiri. Ia akhirnya menyerah, menjambak rambut hitam legamnya -menariknya dengan kuat-kuat tak peduli jika kepalanya botak sekalipun.
Sesak selalu tepat waktu, hatinya semakin perih, dia butuh pengobatan tak mungkin dia seperti ini hingga akhir dunia nanti. Jungkook ingin kembali ke dirinya yang sebenarnya. Bukan menuruti perkataan kakaknya. Bukan mau di kendalikan kakaknya.
Bukan berkata dingin setiap orang berbicara dengannya.
Bukan bersikap acuh ke semua orang.
Bukan seorang yang selalu berkebalikan dengan aslinya.
Bukan Jungkook yang mempunyai kehidupan datar.
Ia ingin berubah!
"AARRGGGGHHH!"
Teriakan Jungkook terdengar pilu, terisak lirik dengan tangannya yang terkulai lemas ke bawah dan seketika ia merasa mual. Dengan cepat ia menyibak selimutnya lalu-
BRUK!
jatuh seperti orang bersujud. Dan ia muntah di karpet hitamnya, muntah darah. Dan itu sangat menyakitkan. Butuh beberapa menit baginya untuk memuntahkan semua darah yang terus-terusan keluar dari mulutnya. "Uhukk!"
Suara pintu kamar menuju balkon terbuka lebar, di sambut hembusan angin malam yang begitu dingin menusuk kulit. Jungkook menopang tubuhnya dengan tangan kirinya di meja nakas. Tubuhnya bergetar hebat, kepalanya berkunang-kunang, yang di fikirannya sekarang adalah ia harus melawan kakaknya.
Harus.
"Mau melawanku?"
DEG.
Jungkook kembali terjatuh tengkurap, ia menahan beban tubuhnya dengan kedua tangannya. Kalau kalian ingin tahu keadaan Jungkook dari sisi Wonwoo.
Dia. Sangat. Menakjubkan.
Rambut acak-acakan, tubuhnya bergetar dengan keringat yang begitu banyak, nafasnya tersengal, bekas darah di sekitar mulut-dagu dan leher hingga seragam sekolahnya. Tak lupa; ia terlihat begitu lemah tak berdaya.
Sungguh sempurna.
Wonwoo tersenyum miring di ambang pintu balkon. Aura gelap mengelilinginya, langit malam bertabur bintang dan bulan yang sangat terang sempurna menjadi background sang kakak. Jujur; Jungkook seperti melihat iblis tengah menjemputnya untuk ke neraka. Tetap diam, dengan deraian air mata yang tak ada henti-hentinya, membuat sakit di sekujur tubuhnya menjadi.
"Bunuh aku hyung" lirih Jungkook.
Lebih baik ia mati sekalian. Mungkin ia akan lebih tenang jika ia mati dan terlepas dari semua kendali kakaknya. Ya, ia terlalu lelah. Sangat-sangat lelah menunggu akhir dunia nanti. "Bunuh aku saja, aku benci diriku"
"Munafik"
Mata Jungkook membola mendengar satu kata paling menohok hatinya. Semunafik itukah dirinya? Samapai dengan santainya sang kakak yang amat ia rindukan berkata seperti itu?
Munafik ?
Dia Munafik ?
Wonwoo mendekat beberapa langkah. "Kau berbicara seperti itu seolah kau yang paling berhak hidup bahagia", Jungkook menunduk tak berani menatap kakaknya. Ia menggigit bibir bawahnya merasakan ketakutannya dahulu kembali. Meremas karpet hitamnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Tak ada hal yang paling menyeramkan selain kepercayaan"
Jungkook menggeleng menyergah ucapan kakaknya; "Kau salah hyung", tubuh Jungkook bergerak mundur, duduk bersandar di sisi kasur bersprei putihnya yang kusut.
Helaan nafasnya terdengar terputus-putus. Mata Jungkook bergerak dari bawah ke atas, menatap kakaknya yang tak bergeming. Aura gelap itu masih ada, heran saja; darimana kakaknya memiliki kekuatan negatif ini? Benar-benar dendam nyata. Sedih melihat kakaknya seperti ini, Jungkook ingin kakaknya pergi. Ingin.
"Kepercayaanku pada hyung sangatlah besar. Tapi aku tak tahu bagaimana denganmu hyung. Ku mohon kembalilah, biarkan kami hidup tenang begitupun dirimu"
"Kau tidak mengerti"
"Aku memang tidak mengerti. Di usiaku yang sekarang, aku belum mengerti apapun!" kata Jungkook. Sedangkan Wonwoo hanya diam dengan wajah emo-nya. "Kau kakak yang terbaik bagiku, seburuk apapun dirimu di masa lalu. Aku tetap menyayangi dirimu, kau hyungku! Untuk itulah aku tidak mengerti"
Tatapan Wonwoo berubah datar. Ia tersenyum meremehkan. "Satu tindakan yang kau lakukan, maka ku beri satu penderitaan. Jangan salahkan aku, karena semua yang terjadi"
Keduanya bertatapan. "Itu karena dirimu", tubuh Jungkook menegang sempurna. Mulutnya terkatup rapat, tidak mengerti; ia benci tidak menemukan jawaban semua yang di lakukan kakaknya, semua yang di ucapkan kakaknya, kembali ia menjatuhkan air matanya dalam diam. Kedua mata terfokus -sendu melihat objeknya.
Wonwoo mengusap tangan kirinya, kepalanya di miringkan ke kiri. Seringaian mengerikan dari wajahnya tak luntur sedikitpun.
Jungkook menggeleng cepat, mengetahui apa yang akan di lakukan kakaknya. Matanya membelalak, perasaan itu kembali lagi.
"Ti-tidak hyung.. TIDAK!"
.
KLAP.
"HAH! Hah.. Hah.."
Eh? Kenapa di kelas?. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, memastikan ia berada di mana. Semua teman sekelasnya, menatapnya terganggu bahkan ada yang kelewat sinis. Tapi Jungkook tak peduli, melihat papan tulis berisi penuh coretan termasuk 'Aturan kuis hari ini'. Ia menghela nafas lega, setidaknya ia sudah merasa aman. 'Syukurlah!'. Nafasnya sudah kembali normal walaupun peluh membanjiri pelipis dan lehernya.
"Jungkook, kau baik-baik saja?"
Pertanyaan dari Ryoung Ssaem menyadarkan Jungkook dari lamunannya. Dengan cepat Jungkook mengangguk, tangannya mencengkram erat pinggiran meja, matanya bahkan sudah berkaca-kaca mengingat-ingat apa yang sudah terjadi tadi. Ia menelan ludahnya kasar.
'Astaga, apa maksudnya ini?'
Wonwoo justru tersenyum manis di depan pintu kelas Jungkook.
"Terimakasih kook-ah"
Ada yang aneh, menurut Seokmin dan Soonyoung. Melihat Mingyu hanya diam dab terus melihat ke arah atap sekolah. Bukan terlalu masalah sih tapi, kasihan lehernya nanti sakit.
"Mingyu, apa makanan buatanku tidak enak?" tanya Soonyoung. Hanya berbasa-basi sebenarnya, mencoba mengalihkan pandangan Mingyu. Memangnya ada apa sih di sana? Tapi, tetap tak ada jawaban. Soonyoung mendengus kasar.
Seokmin menyikut Soonyoung lalu menatap Mingyu. "Apa itu wajar?"
"Sepertinya Mingyu sedang berinteraksi dengan Wonwoo", Soonyoung menjawab asal. Sungguh! Dia tidak tahu apa yang Mingyu lakukan, melamun membayangkan masa lalunya? Atau sedang yah.. berbicara dengan Wonwoo -mungkin saja. Atau bisa saja hanya menikmati pemandangan.
Mata Seokmin membulat saat diam-diam Soonyoung mencium pipinya. Lalu kembali memakan chicken katsu buatannya sendiri, yang sejujurnya agak asin sih. Hehe.
"Soo-soonyoung", Seokmin menatap Soonyoung dengan tatapan tak percaya sembari tangannya memegang pipi kanannya. Dan di balas senyum hingga matanya menghilang. Duh! Seokmin jadi gemas sendiri.
Mingyu tak menggubris mereka, bukan bermaksud mengabaikan. Duduk menyandar di pohon yang begitu rindang, kotak bekal pink bermotif karakter di winnie the pooh; piglet di pangkuannya, dan matanya tak teralihkan dari atap sekolah sejak ia mendudukkan dirinya dengan Seokmin dan Soonyoung di halaman belakang sekolah.
Ia melihat apa yang Seokmin dan Soonyoung pernah lihat.
Wonwoo hyung-nya duduk di pinggiran atap tanpa batas, dengan tatapan sendu ke arahnya.
'Wonwoo hyung' batinnya.
.
Lantai 2, kembali ke lantai 1.
Lantai 1, naik lagi ke lantai 3 lalu kembali ke 1.
Itu yang di lakukan Taehyung di saat istirahat berlangsung untuk kedua kalinya. Ia merasa tubuhnya mati kaku. Kakinya kram mendadak sampai harus di seret.
"Astaga! Kemana kau Jungkook?!", Taehyung mengusak surai rambutnya. Tak mengindahkan tatapan murid yang berlalu lalang melewatinya, beruntung saja ia tak bertemu guru kedisiplinan. Ia sejujurnya lelah tak menemukan Jungkook di manapun. Karena yang ia tahu dari Seokmin; Jungkook setiap istirahat akan berdiam diri di perpustakaan atau ruang guru untuk makan siang. Tapi mana? Ia berkeliling berkali-kali melwati tempat tersebut, tetap nihil. "Kook-ah, kau di mana? Ku mohon jangan bersembunyi dariku".
Ke-PD-an -_-.
Matanya terus mengedar keseluruh koridor dan halaman luas sekolah. Ia rela membolos pelajaran demi bertemu Jungkook. Bahkan Jimin memukulnya karena berani membolos.
Karena sejak pagi ia tak melihat Hoobae paling memikat itu. Ia jadi merindukan Hoobae-nya, walaupun belum pernah berkenalan secara resmi. Tapi ia tahu Jungkook juga ingin mengenal dirinya. Hey! Jangan tanya ia bisa tahu, gerak-gerik tubuhnya mudah terbaca. "Ayolah Jeon! Jangan membuat-ku.. JUNGKOOK!"
Senang bukan main, tatkala matanya menangkap siluet Jungkook yang sedang berjalan menaiki tangga menuju atap sekolah. Nah yang ini Taehyung tidak tahu. Segera ia berlari dengan cepat melihat Jungkook menghentikan langkahnya.
DEG.
Kesan angkuh dan tatapan dingin adalah hal pertama yang Taehyung rasakan setiap berada di dekat Jungkook. Jarak mereka hanya terpaut 3 anak tangga, Taehyung tersenyum melihat Jungkook yang juga menatapnya datar. Tak ada pandangan bersahabat sedikitpun, pantas orang-orang menilainya buruk dalam bergaul karena sikap Jungkook sendiri. Namun perhatian Taehyung teralih ke leher Jungkook. "Eh? Lehermu kenapa kook-ah?"
Panggilan itu.
Tatapan itu.
Semakin membuat Jungkook berharap ia mati secepatnya.
Dengan cepat Jungkook berbalik untuk menyembunyikan tanda di lehernya lalu pergi meinggalkan Taehyung yang terbengong melihat reaksi Jungkook. Salah tindakan!
"E-eh Kook! Tunggu aku!"
Dan terjadilah aksi kejar-kejaran di tangga tanpa batas itu. Yeah, tangga ini khusus di buat jika ada keadaan darurat; Dinding kedap suara dan itu mengakibatkan suara langkah cepat mereka terdengar menggema.
"Jungkook tunggu! Aku ingin bicara denganmu! Jungkook berhenti!" teriakan Taehyung tak di hiraukan sama sekali. Itu membuat Taehyung kesal sekaligus khawatir, ia merasa bersalah akan kejadian tadi.
"Jungkook!", Taehyung menghitung ini putaran tangga ke 3. Dan sedikit lagi sampai ke atap.
Entah kekuatan darimana, kram di kakinya menghilang dan mempercepat larinya untuk menyusul Jungkook.
Tap.
HAH!
Sret.
Ia menarik tangan Jungkook dan mendorongnya ke sisi pintu atap.
"Akh" ringisan ringan Jungkook terdengar lirih. Taehyung mengunci pergerakan Jungkook, dan semakin memojokkan Jungkook di sana.
Posisi mengkhawatirkan.
Karena tangga darurat ini tak memiliki pembatas di sisinya. Dan sepertinya Taehyung lupa posisi tubuhnya dan Jungkook. Bergerak ke kiri sedikit saja, di pastikan mereka akan jatuh dan mati mengenaskan. Mereka di lantai 3 bruh!
"Jungkook-ah", Taehyung melembutkan tatapannya saat Jungkook yang sedari tadi membuang muka -yang sebenarnya sedang mewanti-wanti mereka akan jatuh- balik menatapnya dengan tatapan yang tak berubah.
Sempat Taehyung tertegun dan tubuhnya terasa beku. "Kook"
"Lepaskan aku"
Kalimat pertama yang Jungkook ucapkan seperti perintah mutlak, Taehyung tanpa sadar melepas cengkraman di lengan Jungkook. Ia sedikitpun tak mengalihkan tatapannya dari gerak-gerik Jungkook, mencoba memahami Hoobae manisnya melewati tatapan mata mereka.
Tapi sulit.
Aneh pikir Taehyung, ada hal yang tak biasa dari diri Jungkook. Membuatnya harus terdiam membaca keinginan Jungkook.
Tetap; tak terbaca.
"Pergilah"
Taehyung tersadar dari pikiran rumitnya, "apa?"
"Pergi"
Serangan mendadak dari mata gelap Jungkook seketika Taehyung menggeleng. Dan tiba-tiba ia merasa hawa di sekitarnya tak mengenakan. Ia berdeham.
"A-aku ingin bicara padamu"
Kali ini Jungkook yang terdiam. Percayalah, jantung Jungkook berdetak 2x lipat lebih cepat dan pemilik yakin ini bukan karena lari menaiki tangga tadi. Ia menggeleng kemudian. "Pergilah sunbae, ini keinginanku"
"Tapi-"
Jungkook kembali membuang muka dengan tangan kanannya menarik jas sekolah Taehyung. Lalu membuka pintu atap.
"Tunggu Kook!"
"Aku-", Jungkook melihat kakaknya. Duduk memunggunginya. "Aku tidak bisa sunbae, maaf.."
GREB.
Ini yang tak Taehyung pahami sejak kemarin. Penjelasan Seokmin dan sikap Jungkook tidak bisa ia mengerti atau tebak. Tatapan Taehyung menyendu, keinginan hatinya semakin kuat bahwa ia ingin melindungi Jungkook.
Siswa dengan banyak hal yang tak terduga, misterius dan begitu mudah menariknya ke dalam pesona Hoobae manisnya hanya dengan sebuah tatapan.
"Kau tidak baik kook-ah"
Dan pada akhirnya Taehyung membiarkan Jungkook lalu pergi dari sana. Memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti.
Merasa Taehyung sudah pergi, Jungkook jatuh terduduk. Menangisi kepergian Taehyung, Sunbae yang sangat ia kagumi.
"Eomma, Appa..."
Wonwoo yang mendengar isakan Jungkook hanya diam, tatapan sendunya berganti nyalang; ketika melihat Mingyu berdiri dari duduknya lalu pergi bersama Seokmin dan Soonyoung.
BRAK!
"Hyung!", Jungkook terlonjak kaget saat sebuah kursi melayang dan menabrak dinding di sampingnya. Ia berbalik kemudian berdiri menghadap kakaknya.
"Hyung, kau kenapa?"
"Persediaanmu habis"
Jungkook mengangguk mengerti. "Ah, aku tahu"
"Kau melanggar lagi, berniat melawanku ternyata"
"Hyung, jangan ungkit itu lagi!"
Wonwoo tergelak. "Kenapa? Takut melihat keponakkanmu mati mengenaskan hm?", wajah Wonwoo lebih berekspresi. Jungkook tak mengerti apa maksud di balik senyum cerah kakaknya. Ada yang ganjil.
"Hari ini kita butuh darah"
DEG.
.
Langkah Seokmin terhenti begitupun Soonyoung dan Mingyu saat melewati kelas X-C. "Eoh Sunbae!"
Soonyoung melirik Mingyu yang hanya diam. Lalu kembali melihat ke depan. Di mana teman sekelasnya berjalan menghampiri mereka.
"Hai Seokmin, Soonyoung..", ucapan Taehyung terhenti ketika melihat pemuda asing di belakang Seokmin. Seolah mengerti Seokmin menarik Mingyu ke depan. "Eh iya, kenalkan dia temanku sunbae"
Taehyung mengangguk dengan mulut sedikit terbuka. "Halo, aku Kim Mingyu, teman sekelas Seokmin. Aku anak baru di sini sunbae" kata Mingyu sembari membungkuk tanda hormat. Soonyoung sepertinya menyadari sesuatu saat Mingyu terdiam kembali. Lalu Mingyu tersenyum tipis di balas senyum menawan Taehyung.
Tunggu!
"Kau Mingyu?" tanya Taehyung melirik Seokmin yang sedang menepuk dahinya.
Keduanya bertatapan.
Tatapan intens Taehyung dan tatapan bingung Mingyu.
"Kau kenal keluarga Jeon kan? Jeon Jungkook?", mata Taehyung berbinar. Seokmin memperlihatkan cengirannya dan Soonyoung justru mematung di tempatnya.
Mingyu hampir lupa akan nama itu.
"Jeon Jungkook?"
"Ya Jungkook, kau kenal dia kan?!"
Tiba-tiba suara 'Bugh' dari arah tangga tadi menghentikan obrolan mereka, dan keempatnya menoleh ke belakang Taehyung, yang kebetulan di lewati Seungcheol dan Joshua yang sedang membawa buku paket tersentak kaget dan berteriak histeris.
"YAK APA-APAAN INI?!" teriak Seungcheol.
Sedangkan Joshua mundur sampai menabrak kursi. Buku paket matematika berserakan bercampur aliran darah membasahinya. Seungcheol melotot melihat itu. Heol,
"Darah"
Itu suara Mingyu dan Taehyung. Keduanya beralih melihat ke arah atap. Soonyoung berjengit kemudian memeluk Seokmin, bahkan Seokmin juga merasakan jantungnya lepas. Segera ia menuntun Soonyoung ke samping Joshua dan duduk di sana. "Seokmin"
"Tenanglah"
Joshua -ah tidak, semua yang ada di sana mematung. Apalagi Seungcheol yang kaget bukan main saat tiba-tiba bunyi yang membuatnya kaget -entah darimana asalnya- dan cipratan darah yang mengotori celana dan sepatunya.
"Kenapa bisa?" gumam Joshua. Masih dalam mode kagetnya. Dadanya naik-turun dengan cepat. Astaga.
Darah itu begitu banyak mengalir dari tangga, tapi tidak berbau. Mingyu memutar kepalanya masih tetap menatap ke atas sana. Mengikuti bentuk tangga,
Tes.
Reflek Mingyu memejamkan matanya. Tangannya terangkat mengusap tetesan berbau anyir itu di pipinya. Matanya seketika berkaca-kaca. Tapi pemikiran Taehyung lain halnya.
"JUNGKOOK!"
.
.
.
.
.
.
.
TBC^^
Note : Gak tau harus ngomong apa '-' sejujurnya chapter ini gak meyakinkan di publish/? gak sreg ama karakter wonu di sini -_- masih baper pemisrah(?) tadi malem di KCON NY 2016 tetep gak liat wonu :3 dan review lom bisa bales.
Wonwoo tambah kejam?
BENER! dan maaf yg biasin wonu xD gue nistain bias kalian. VKook? banyak yg pengen mereka cepet ketemu :v tuh udah kan? dan kak taetae pekaan kok orangnya,.
Maaf! MAAF BANGET yang nunggu kelanjutan ff Bornean Boy T-T gue gak tau kapan di lanjut, masalahnya setiap ngetik bagian wonu baper terus hikkss :') gak kuat! Dan untuk Closed Book makasih banget udah foll/fav sepertinya abis lebaran nanti di lanjut '-'
Review ?
