Summer in Seoul ©Ilana Tan
Saduran dari karya Ilana Tan yang saya gubah nama tokoh menjadi pairing kesukaan saya.
..
..
MinYoon
Park Jimin x Min Yoongi BTS
.
Kim Seokjin BTS
Kim Taehyung BTS
Zhoumi SJM
Park Chanyeol EXO
Byun Baekhyun EXO
Ps, GS untuk Min Yoongi, Kim Seokjin dan Byun Baekhyun.
..
..
.
Enam
.
Ponselnya masih berdering. Suga ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak. Ia sudah melihat huruf-huruf muncul di layar ponselnya. Dari Mister Kim. Hari ini hari Minggu dan seharusnya Suga tidak bekerja. Kenapa atasannya menelepon? Tapi Suga juga tahu kalau teleponnya tidak dijawab, Mister Kim akan terus meneleponnya sampai laut mengering.
Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.
"Hha-lho..." Salah satu alasannya malas menjawab telepon adalah karena tenggorokannya sedang sakit dan ia tidak bisa berbicara seperti biasa. Sekarang suaranya nyaris seperti bisikan angin.
Di seberang sana terdengar suara Mister Kim yang melengking.
"Astaga, Miss Min. Kenapa suaramu seperti hantu begitu? Aku tahu, aku tahu, hari ini Minggu. Tapi aku harus tetap meneleponmu untuk meminta bantuan. Tolong kauantarkan pakaian untuk Park Jimin, ya? Kami di sini sibuk sekali. Ya, sibuk sekali. Tidak ada yang sempat membawakan pakaiannya. Tolong ya? Antarkan ke rumahnya. Kau tahu alamat rumahnya? Tentu saja tidak, bodoh sekali aku. Eeh... alamatnya di mana ya? Sebentar, ya... Mister Cha... MISTER CHA! Di mana kutaruh alamat Park Jimin? Tolong carikan untukku. Miss Min, kembali ke pembicaraan kita tadi. Begini saja, akan kukirim alamat Park Jimin lewat SMS begitu kutemukan nanti. Kau bisa mengambil pakaiannya dari butik lalu langsung pergi ke rumahnya ya? Thank you very much. Miss Min, kau baik sekali. Bye-bye!"
Suga mendengar telepon ditutup di ujung sana. Ia sama sekali tidak punya kesempatan bicara. Kalaupun punya kesempatan, ia tidak akan bisa bicara banyak. Ia menarik napas perlahan-lahan dan mengembuskannya perlahan-lahan juga. Mungkin atasannya ini dari dulu sampai sekarang tidak akan bisa berubah. Seenaknya sendiri. Diktator, pikir Suga dalam hati sambil melotot kepada ponselnya.
Sebaiknya kau menambah gajiku atau aku akan mengundurkan diri. Lihat saja siapa yang mau bekerja untukmu.
Kata-kata ini sudah sering diucapkannya, tapi ia belum pernah benar-benar mengajukan surat pengunduran diri. Walaupun Mister Kim orang yang aneh dan seenaknya, Suga merasa bisa belajar banyak darinya. Sejak kecil Suga suka sekali dunia fashion. Jadi, walaupun jalannya tidak selalu lancar, ia senang bisa bekerja dengan perancang busana terkenal yang tidak segan-segan mengajarinya banyak hal.
Suga meneguk teh panasnya lagi dan duduk meringkuk di tempat tidur. Hari memang sudah siang, tapi ia masih segan bangun dari sana.
Pagi tadi begitu ia bangun, tenggorokannya terasa sakit dan suaranya mulai serak. Mungkin ini efek segala jeritan dan teriakannya kemarin di acara jumpa penggemar Park Jimin. Kemarin ia memang menjerit sekuat tenaga bersama-sama ribuan penggemar lain. Entah apa yang diteriakkannya, ia sendiri juga sudah lupa. Ia hanya terus menjerit untuk meramaikan suasana. Akibatnya, hari ini berbisik saja susah!
Suga baru saja akan terlelap kembali ketika ia teringat perintah Mister Kim. Sambil mendecakkan lidah dengan kesal dan mengumpat-umpat dalam hati, ia bangun dan berganti pakaian.
Sekitar satu setengah jam kemudian, Suga sudah berdiri di depan pintu rumah Park Jimin yang berada di kawasan perumahan mewah.
Ia hanya bisa terkagum-kagum dalam hati. Malam itu, ketika pertama kalinya datang ke sana, ia tidak begitu memerhatikan sekelilingnya. Saat itu ia kan sedang frustasi. Sekarang Suga baru bisa melihat jelas bentuk rumah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi itu. Ia membiarkan matanya berpesta sepuasnya.
Rumah berlantai dua itu lumayan besar, dengan tembok putih, beranda yang luas, dan banyak jendela kaca. Suga menyukai beranda di lantai dua. Ia mengangkat tangan untuk menaungi mata dari sinar matahari dan mendongak memerhatikan rumah itu dengan perasaan senang.
Lalu ia mengulurkan tangan dan memencet bel pintu.
Selanjutnya terdengar suara Park Jimin dari interkom. Suga ragu. Ia berdeham, walaupun tindakan itu tidak membantu sama sekali, memencet tombol interkom, dan menyebutkan namanya dengan suara serak.
"Apa? Siapa? Maaf, suaranya kurang jelas," suara Park Jimin terdengar lagi.
Suga mengulangi ucapannya sambil mengerutkan kening. Seharusnya Park Jimin bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Rumah besar seperti ini pasti dilengkapi kamera pengawas.
Pasti. Kenapa laki-laki itu harus membuat tenggorokannya bertambah sakit?
"Aku masih tidak mengerti apa yang kauucapkan. Tapi, baiklah. Masuk saja, Suga."
Suga memalingkan wajahnya dan mendengus. Benar, kan? Park Jimin sudah tahu siapa yang berdiri di depan pintu.
Sambil menjinjing gantungan baju beberapa pakaian yang dibungkus plastik, Suga melewati pagar besi yang terbuka secara otomatis, lalu mendorongnya sampai menutup dengan kakinya. Ia menaiki anak-anak tangga menuju rumah besar itu.
Park Jimin sudah menunggu di depan pintu. Laki-laki itu mengenakan kaus longgar kelabu dan celana panjang hitam. Rambutnya agak berantakan karena tidak ditata. Suga menyadari Jimin menatapnya dari kepala sampai ke kaki, lalu tatapan laki-laki itu kembali ke wajahnya. "Ada apa denganmu? Mana yang sakit?" tanya Park Jimin tanpa basa-basi.
Suga menunjuk lehernya.
"Sudah minum obat?" tanya Park Jimin lagi.
Suga tersenyum dan mengangguk.
Park Jimin memandangnya, lalu bertanya, "Kenapa kemari?"
Suga mengacungkan pakaian-pakaian yang dibawanya. "Misther Kim... coba pakhaian..."
Park Jimin mengibaskan tangan. "Astaga... Aku tidak tahan mendengar suaramu yang mengerikan itu. Ikut aku, Aku punya obat untukmu. Ayo, masuk."
Suga berusaha berbicara, tapi lehernya terlalu menyiksa. Akhirnya ia menurut saja. Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kata-kata Park Jimin dalam keadaan seperti ini. Tunggu saja sampai suaranya kembali seperti semula.
Di dalam rumah, ia melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang ditunjukkan Park Jimin. Bagian dalam rumah itu ditata rapi sekali. Semua perabot dan hiasan di dalam rumah itu terkesan mewah. Setelah meletakkan pakaian di sofa terdekat, Suga mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan foto sepasang pria dan wanita setengah baya. Suga menduga mereka orangtua Park Jimin. Ada juga beberapa foto Park Jimin sewaktu kecil, remaja, dan saat ini.
Begitu asyiknya Suga mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari Park Jimin sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa tiba-tiba sakit tenggorokan? Kemarin bukannya biasa-biasa saja?" tanyanya.
"Kemarinh... jhumpa pengghemar... menjerith," Suga berusaha menjelaskan terpatah-patah.
Park Jimin tertawa. "Ah, jadi karena kemarin kau ikut menjerit-jerit? Anak bodoh. Minum ini," katanya sambil mengulurkan gelas berisi cairan berwarna cokelat pekat.
Suga menerimanya dengan bimbang.
"Tidak usah kuatir. Itu bukan obat bius. Minum saja dan sebentar lagi tenggorokanmu akan membaik."
Suga menatap Park Jimin yang berjalan kembali ke dapur. Setelah dengan ragu-ragu meminum cairan itu, yang ternyata lumayan enak, ia kembali melihat-lihat sekeliling ruangan. Ada grand piano putih di ruang tengah yang tidak diingatnya ada di sana ketika pertama kali datang ke rumah itu. Suga mengelus permukaan piano tersebut dan membuka tutupnya. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi ia suka mendengarkan musik. Ia menekan salah satu tuts piano dan tersenyum sendiri.
"Hei, jangan pegang-pegang sembarangan."
Suga mengangkat kepala dan melihat Park Jimin berjalan menghampirinya. Ia melambai-lambaikan tangan menyuruh Park Jimin datang sambil menunjuk piano.
"Apa?" tanya Park Jimin bingung setelah berdiri di dekat piano.
"Mainhkhan," Suga berbisik serak sambil menggerak-gerakkan jari tangan seperti sedang bermain piano.
"Kau mau aku main piano?"
Suga mengangguk dan menarik Park Jimin supaya duduk di kursi piano. Park Jimin duduk dengan enggan dan berkata, "Kau mau bayar berapa?"
"Appha?" tanya Suga sambil menggerakkan dagu.
"Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini?" Park Jimin mengulangi.
Suga mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk piano dengan tegas.
"Ya, ya. Aku mengerti," kata Park Jimin.
Suara dentingan piano yang lembut mulai terdengar. Suga berdiri di samping piano, menopangkan dagu di atasnya sambil melihat jemari tangan Park Jimin menari-nari di atas tuts piano. Ketika alunan nada yang dimainkan laki-laki itu akhirnya berhenti, Suga bertepuk tangan.
"Bagus sekali!" katanya, lalu memegang leher. "Eh, tenggorokanku sudah tidak terlalu sakit lagi."
Park Jimin tersenyum. "Sudah kubilang obatnya manjur."
"Mainkan satu lagu lagi," pinta Suga.
Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel. Suga merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Raut wajahnya berubah ketika melihat layarnya. Ia segera membuka layar ponsel dan berjalan menjauh dari Park Jimin agar laki-laki itu tidak mendengar pembicaraannya.
"Halo? Ada apa, Chanyeol ssi?" Suga berbicara dengan nada rendah. "Apa? Sekarang? Aku... tidak bisa. Aku sedang... eh..."
"Telepon dari Zhoumi Hyung, ya?" seru Park Jimin keras.
Suga terlompat kaget dan buru-buru menutup ponsel dengan tangan. Tapi tidak ada gunanya, Park Chanyeol sudah mendengar kata-kata itu dengan jelas.
"Yoongi, kau sedang bersama seseorang?" tanya Park Chanyeol dengan nada curiga.
Suga membelalak kepada Park Jimin yang memasang tampang polos tak berdosa, lalu berkata pelan, "Ya. Aku harus pergi. Sudah dulu ya?"
Suga menutup ponsel dan berkacak pinggang. Park Jimin sudah gila ya? Kalau memang Paman Zhoumi yang menelepon, Suga kan tidak mungkin berbicara dengan suara pelan seperti tadi. Orang aneh!
"Park Jimin, kau ini kenapa? Kau mau orang-orang tahu tentang kita?" tanya Suga sambil menatap Jimin yang bangkit dari piano.
Park Jimin kelihatannya tidak peduli. Ia hanya melewati Suga dan berkata, "Aku ke kamarku sebentar."
Suga memandangi sosok Park Jimin yang menaiki tangga dengan cepat, lalu menghilang di ujung tangga. Benar-benar orang aneh!
Suga menggeleng dan kembali melihat-lihat rumah Park Jimin. Jarang ada orang yang bisa masuk ke rumah artis. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Ia sedang mengamati tongkat pemukul bisbol dengan perasaan heran ketika mendengar ponselnya berbunyi lagi.
Siapa lagi? Jangan-jangan Park Chanyeol, katanya pada diri sendiri sambil melihat ke kanan-kiri, mencari asal bunyi. Tadi ponselnya ia taruh di mana ya? Ah, itu dia, di atas piano.
Ia berlari ke arah piano dan langsung membuka layar ponsel. "Halo?"
"Halo? Siapa ini?" tanya suara wanita di ujung sana.
Suga mengerutkan dahi. Ia tidak mengenali suara wanita itu. Maka ia bertanya, "Ini Min Yoongi. Anda ingin mencari siapa?"
Suara wanita itu tidak ragu-ragu ketika menjawab, "Bukankah ini ponsel Park Jimin?"
Suga terkejut. Astaga! Lagi-lagi ia mengambil ponsel yang salah. Ia memutar kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselnya tergeletak di meja makan. Bagaimana ini?
"Oh... Benar, ini memang ponsel Park Jimin," kata Suga agak gugup. "Akan saya panggilkan dia."
Wanita di ujung sana tiba-tiba menahannya. "Tunggu sebentar. Anda ini nona yang ada di foto bersama Jimin itu, ya?"
Suga menahan napas dan berpaling ke arah tangga, berharap Park Jimin segera muncul.
"Anu... saya..." Suga sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak pernah diberitahu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang menanyakan hubungannya dengan Park Jimin.
"Tidak apa-apa," suara wanita itu berubah ramah. "Aku ibu Park Jimin."
Astaga! Ibunya? Pengetahuan ini malah membuat Suga panik.
"Ah, apa kabar, Bibi?" kata Suga berusaha terdengar tenang meski sebenarnya ia bergerak-gerak gelisah. Kemudian Suga menutup ponsel dengan tangan dan berseru memanggil Jimin dengan suaranya yang masih sedikit serak. "Park Jimin ssi!" Ia kembali menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, "Sebentar lagi Park Jimin ssi akan turun."
Ibu Park Jimin tertawa pelan. "Senang sekali bisa mendengar suaramu walaupun Jimin belum memperkenalkan kita. Dasar anak itu. Tadi kau bilang namamu Min Yoongi, bukan? Kedengarannya kau sedang flu. Kau tidak apa-apa?"
"Oh, saya tidak apa-apa." Tepat pada saat itu ia melihat Park Jimin menuruni tangga, ia cepat-cepat berlari ke arah laki-laki itu.
"Park Jimin ssi sudah di sini. Silakan Anda bicara dengannya," kata Suga di telepon, lalu menyodorkan ponsel ke Jimin.
Park Jimin menerima ponsel itu dengan bingung. "Siapa?"
"Ibumu," bisik Suga panik.
Jimin mengangkat alis karena terkejut dan menjawab telepon.
"Halo, Ibu?" Lalu tiba-tiba ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan Suga bisa mendengar suara ibu Park Jimin yang berteriak keras. Akhirnya Park Jimin menempelkan ponsel kembali ke telinga dan berkata, "Bukannya aku tidak mau menceritakannya pada Ayah dan Ibu, hanya saja menurutku… Aku tahu… Apa? Aku di rumah. Ya, baiklah. Akan kujelaskan kepada Ayah nanti. Apa? … Dia?" Suga agak bingung ketika laki-laki itu menatapnya.
"Sebentar," kata Park Jimin, lalu mengulurkan ponsel ke Suga. Suga menatap Park Jimin dan ponsel itu bergantian.
"Ibuku mau bicara denganmu," kata Park Jimin sambil meletakkan ponsel ke tangan Suga. "Tidak apa-apa."
Suga menggigit bibir dan menatap Park Jimin. Kemudian ia menempelkan ponsel itu ke telinga dan menyapa ibu Park Jimin. Ia mendengarkan perkataan wanita yang lebih tua itu sebentar sambil mengangguk-angguk dan sesekali berkata "baik" dan "saya mengerti". Akhirnya ia mengucapkan "sampai jumpa" dan menutup ponsel.
"Ibuku bilang apa?" tanya Park Jimin ketika Suga mengembalikan ponselnya.
Suga balas bertanya, "Apa yang kaukatakan pada ibumu tentang aku?"
"Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa," kata Park Jimin. "Ayahku melihat foto-foto kita di internet dan ibuku menelepon untuk menanyakan kebenarannya."
Suga hanya mengangguk-angguk. "Oh, foto-foto kita ada di internet juga?"
"Lalu ibuku bilang apa padamu?" tanya Park Jimin lagi.
Suga tersenyum. "Katanya aku harus mengawasi makanmu karena kau sering lupa makan kalau sudah sibuk bekerja. Katanya aku harus banyak bersabar kalau menghadapimu, apalagi kalau kau sedang uring-uringan. Katanya sebenarnya kau anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa. Ibumu juga bilang ingin bertemu denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya."
Park Jimin mengerang. "Cerewet sekali. Kenapa ibuku begitu baik padamu? Padaku tadi dia malah berteriak-teriak."
Suga mengangkat bahu. "Mungkin ibumu lebih suka anak perempuan. Hei, kalau tidak salah, ibumu penulis buku, ya? Aku pernah membaca salah satu bukunya dan aku suka sekali. Ibumu benar-benar berpikir aku pacarmu, ya? Wah, hebat."
Park Jimin tidak mengacuhkan kata-kata Suga dan bertanya, "Kenapa kau menjawab teleponku?"
Suga berdeham dan menjawab, "Kupikir ponselku yang berbunyi. Tadi kan memang ada yang meneleponku. Sewaktu ponselmu berbunyi, kukira dia menelepon lagi. Sudah kubilang kau harus mengganti nada deringmu."
"Siapa yang menelepon?"
"Teman," sahut Suga sambil memalingkan wajah. "Oh, coba lihat. Sudah waktunya makan siang. Pantas saja aku mulai lapar. Kau juga belum makan, kan?"
Park Jimin berkacak pinggang dan menunduk menatap lantai. Kemudian ia mengangkat kepala dan berkata, "Kalau begitu, kita pergi makan di luar saja."
"Hei, kau mau kita berdua dilihat orang? Kau mau membuat hidupku susah?" tanya Suga.
"Lalu bagaimana?"
"Kita pesan pizza saja," usul Suga cepat. "Sudah lama aku tidak makan pizza. Oke?"
"Sakit tenggorokan malah mau makan pizza?" tanya Park Jimin.
"Kau makan bubur saja."
"Tenggorokanku sudah sembuh," protes Suga.
..
..
"Kapan kau akan membawaku menemui ibumu?"
Jimin mengangkat kepala dan menatap gadis yang sedang menggigit potongan pizza di hadapannya itu dengan kaget. Lalu Suga tertawa dan berkata, "Bercanda. Tidak usah bingung begitu."
Jimin kembali memakan pizza-nya tanpa berkata apa-apa.
"Bulan lalu sewaktu kau ke Amerika, apakah kau pergi untuk mengunjungi orangtuamu?" tanya Suga sambil lalu.
"Bagaimana kau bisa tahu aku pergi ke Amerika bulan lalu?" Jimin balik bertanya.
Suga mengedikkan bahu. "Semua orang juga tahu," katanya. "Di masa sekarang ini, tidak ada yang bisa disembunyikan selebriti. Orang-orang punya banyak cara untuk mencari tahu. Dari hal-hal yang mendasar, misalnya soal ibumu yang penulis, ayahmu komponis, dan soal mereka tinggal di Amerika Serikat, sampai ukuran bajumu dan jam berapa kau tidur di malam hari."
"Benarkah?" Jimin tersenyum dan menambahkan, "Jadi menurutmu tidak ada yang tidak diketahui orang-orang tentang aku?"
Suga terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, "Eh, ada," kata Suga tegas.
"Apa?"
Suga tersenyum bangga dan menjawab, "Orang-orang tidak tahu kau mengenalku."
Ah, dia benar. Mereka berdua punya rahasia. Entah kenapa hal ini membuat Jimin senang.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu," kata Jimin tiba-tiba. Suga menatapnya, menunggu kata-katanya.
"Aku ingin tahu siapa orang yang meneleponmu tadi," kata Jimin. Ia melihat raut wajah Suga berubah maka ia cepat-cepat menambahkan, "Jangan katakan lagi dia itu teman dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan."
Suga membuka mulut dan menutupnya kembali. Jimin menyadari gadis itu bimbang.
"Dia mantan pacarmu yang pernah kau ceritakan?" tanya Jimin hati-hati.
Suga menarik napas panjang dan mengembuskannya. Lalu ia mengangguk.
Jimin tiba-tiba merasa tidak bersemangat. Ia bertanya lagi, "Untuk apa dia meneleponmu lagi setelah apa yang dilakukannya padamu?"
Suga mengangkat bahu. "Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Dia hanya mengajak ngobrol, makan, dan hal-hal kecil seperti itu."
Jimin tidak menyadari suaranya bertambah keras. "Lalu kenapa kau masih mau menemuinya?"
Suga sampai menatapnya heran. "Kurasa aku… aku… entahlah." Jimin bisa melihat Suga agak bingung menjawab pertanyaannya.
"Lagi pula… memangnya setelah berpisah harus bermusuhan?" kata Suga akhirnya.
"Sampai sekarang… kau masih menyukainya?" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jimin tanpa bisa dicegah. Lalu tanpa disadarinya, tubuhnya menegang menunggu jawaban gadis itu.
Suga terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya menjawab, "Mungkin."
"Apa?"
Suga menatapnya dengan agak bingung. "Mungkin," katanya sekali lagi. "Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah."
Mendadak Jimin merasa susah bernapas. Matanya tertuju ke meja tapi tatapannya kosong. Pikirannya juga kosong.
Lalu ia mendengar suara Suga lagi. "Ini masalah pribadiku dan tidak ada hubungannya denganmu dan Paman. Tidak perlu cemas. Aku berjanji tidak akan mengatakan apa pun mengenai kalian berdua pada orang itu. Aku orang yang bisa membedakan masalah pribadi dengan pekerjaan."
Jimin tertawa masam. "Begitu?"
"Ada yang ingin kutanyakan padamu," kata Suga tiba-tiba.
Jimin menatap wajah gadis itu berubah serius, "Apa?"
Suga tidak menatap Jimin, tapi memandang pizza di tangannya. "Kejadian empat tahun lalu… Bisa kauceritakan?"
Jimin tertegun. Ia tidak menyangka Suga akan menanyakan hal itu.
Suga meliriknya sekilas dan menambahkan, "Aku hanya ingin mendengar ceritanya dari sisimu… kalau kau tidak keberatan."
Entah kenapa Jimin merasa agak gelisah. Sampai sekarang ia masih belum bisa melupakan kejadian tersebut. Kecelakaan yang seakan-akan baru terjadi kemarin.
"Apa yang ingin kauketahui?"
"Semuanya."
Jimin menarik napas dalam-dalam. Pandangannya menerawang. Kata-katanya meluncur pelan dan datar. "Saat itu acara sudah berakhir. Hujan turun. Aku sudah berada di dalam mobil yang menunggu di pintu utama. Para penggemar masih berkerumun di sekeliling mobilku. Mereka berteriak-teriak, berdesak-desakan. Sopirku nyaris tidak bisa menjalankan mobil. Para petugas keamanan juga kewalahan membuka jalan agar mobil bisa lewat. Akhirnya mereka berhasil menahan para penggemar. Mobil pun mulai bergerak. Pelan, tidak cepat, karena aku masih melambaikan tangan kepada para penggemar. Lalu hal itu terjadi begitu saja."
Jimin mengernyitkan dahi mengingat saat-saat itu. "Mobil direm mendadak. Ketika aku bertanya pada sopirku apa yang terjadi, dia berkata salah seorang penggemarku tertabrak. Seperti mimpi buruk. Semua orang jadi panik dan gadis itu cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Kami tidak diizinkan melihatnya karena dokter harus melakukan pemeriksaan di ruang gawat darurat. Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kejadian sesungguhnya, tapi menurut beberapa saksi mata, para penggemar saling mendesak dan gadis ini terdorong jatuh ke depan tepat ketika mobilku lewat. Walaupun mobil tidak melaju kencang, kepala gadis itu membentur aspal sehingga…"
Jimin mendengar napas Suga tersentak. Namun ketika mengangkat wajah, ia melihat gadis itu mengangguk kecil, meminta Jimin melanjutkan cerita.
Apa yang ada dalam benak gadis itu?
Jimin ingin tahu.
Masih dengan agak enggan, Jimin melanjutkan, "Kudengar gadis itu bukan dari Seoul. Ia datang dari jauh untuk… Aku bahkan tidak sempat menjenguknya di rumah sakit karena ia langsung dibawa pulang entah ke mana. Kami hanya bisa menyampaikan ucapan turut berdukacita melalui media."
Suga hanya diam.
"Bagaimana menurutmu?"
Suga tersentak dari lamunan. "Eh, apa?"
"Bagaimana menurutmu?" ulang Jimin.
"Oh… entahlah… tapi kurasa… kau tidak salah."
Jimin menduga Suga gugup karena tidak tahu apa yang harus dikatakan setelah mendengar cerita itu. Tapi Jimin merasa sikap itu lebih baik daripada berpura-pura memahami perasaannya.
..
..
TBC
..
..
