UNSEEN POLARS | 2Min - Jeongcheol Fanfiction (Chapter 6)

PDA Presents

.

.

.

Dalam keadaan masih sadar penuh, Seungcheol digiring masuk ke sebuah bangunan bertingkat namun nampak tua dan terbengkalai. Tangannya sudah terikat, lebam disana-sini dan bekas darah dari luka gores di wajahnya sudah mengering sejak tadi. Tapi Seungcheol sama sekali tidak peduli soal itu. Selama dipaksa berjalan memasuki rumah, irisnya tak juga lekang dari visual sosok Jeonghan yang dibawa dalam keadaan pingsan akibat bius dosis rendah yang disuntikkan padanya saat dimobil. Seungcheol sempat mengamuk saat melihat pemuda berambut panjang itu harus dibius agar tidak berontak. Namun Seungcheol tak punya daya apa-apa saat Jeonghan dipisahkan darinya lalu dibawa dengan mobil lain kesini.

"Jeonghan-ah..."

"Diam! Cepat, jalan!"

Seseorang menendang kaki Seungcheol dari belakang, menyuruhnya untuk mempercepat langkah. Seperti tawanan, tangannya terikat dibelakang dan beberapa ajudan membentengi tubuhnya dari berbagai sisi.

"Sekarang masuk dan jangan buat keributan!"

Tubuh Seungcheol yang masih berbalut seragam didorong memasuki sebuah, ruang kosong; 3x4 meter, dinding beton tanpa cat dan hampa tanpa benda apapun kecuali udara dingin yang mengisinya.

"Kalian bawa kemana Jeonghan?!"

Seungcheol mencoba mendorong jejeran pria yang menghalanginya untuk mendekati pintu.

"Hei... Kau ini tawanan. Apa ada peraturannya untuk menahanmu diruangan yang sama dengan kekasihmu? Bisa-bisa, kalian malah melakukan sesuatu diruangan ini."

Si 'pemimpin' komplotan tersenyum meremehkan, diiringi gelak tawa pria-pria lain yang membuat Seungcheol semakin muak.

Apa yang harus dilakukannya? Meski Jeonghan ikut tertangkap, setidaknya ia harus ada bersama Jeonghan dan memastikan jika mereka tidak melakukan hal yang buruk kepada pemuda itu bila didekatnya. Seungcheol tak ingin Jeonghan lepas dari jangkauan matanya, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk melindungi Jeonghan.

"Kumohon... Bawa Jeonghan bersamaku... Kumohon... Hanya ini yang aku minta dari kalian..."

Seungcheol menjatuhkan lututnya ke lantai, lalu menunduk dengan tangis yang hampir lancang menuruni pipi. Ia mulai putus asa, merasa telah kehilangan harapan jika mereka tidak menuruti permintaannya untuk membawa Jeonghan kemari.

Ruangan yang tadinya berisi gelak tawa kini seketika berubah hening. Orang-orang didepan Seungcheol seperti kejatuhan benda asing dari langit yang membuat mereka kehilangan kata-kata. Selama berjam-jam menghadapi Seungcheol yang keras kepala dan pemberontak, mereka tidak menyangka jika orang sekeras Seungcheol mau berlutut agar Jeonghan ditempatkan diruangan yang sama dengannya.

"Baiklah, akan kami bawa kekasihmu kemari dengan syarat kau berhenti memberontak dan membuat kami semua kerepotan."

Seungcheol menegakkan kepalanya dan mengangguk tegas. Yang terpenting, Jeonghan ada bersamanya dan mereka tidak melakukan sesuatu pada pemuda itu.

"Bawa pemuda cantik itu kemari. Ambil juga matras dan letakkan dia disana."

.

.

.

Beberapa mobil polisi terpakir dipelataran rumah mewah Minho. Suara walkie talkie silih berganti menggema memenuhi rangan. Sirine yang masih menyala dari beberapa pasukan yang baru datang menambah cekamnya malam itu.

Dini hari, Minho mengetahui jika Seungcheol ditawan oleh komplotan tak dikenal dan diketahui Jeonghan yang saat itu juga menghilang ikut diculik bersama dengan Seungcheol.

"Apa yang harus kita lakukan... Kau harus temukan adikku, Minho!"

Sejak tadi, Taemin tak bisa menghentikan tangisan histerisnya dipelukan Minho. Ia terus memanggil nama Jeonghan dan Seungcheol. Minho setia membelai dan mengecup kepala Taemin untuk menenangkan selagi polisi mendekati mereka dan meminta keterangan singkat.

"Kami sudah mengirim beberapa pasukan patroli kesetiap titik dimana Seungcheol dan Jeonghan kerap berada. Kita tunggu kabar selanjutnya beberapa jam lagi. Kami harap anda bisa bersabar dan membantu kami dalam penyelidikan, Tuan Choi."

Kepala Polisi distrik Seoul menyampaikan perkembangan terakhir yang terjadi pada Minho.

"Tolong, Sersan Park... Tolong temukan adik kami secepatnya... Apapun yang terjadi tolong selamatkan mereka..."

Taemin yang masih dalam keadaan shock berat tak dapat mengendalikan diri hingga berlutut agar polisi mau membantunya dengan segera menemukan Seungcheol dan Jeonghan.

"Mine, apa yang kau lakukan... Cepat berdiri, sayang... Tentu saja polisi akan membantu kita. Aku mohon kau tenang dulu, sayang..."

Minho memapah tubuh Taemin untuk berdiri dan memeluk lagi tunangannya dengan erat. Ia mengelus punggung Taemin dan membisikkannya berbagai kata bahwa semua akan baik-baik saja.

"Tuhan... tolong kami, Ya Tuhan... Tolong lindungi adikku... Minho bagaimana ini..."

Taemin maracau menangisi kemalangan yang menimpa keluarga kecilnya malam itu. Disisi lain, Minho tak bisa menahan lagi amarahnya melihat Taemin jadi seperti ini. Ia bersumpah akan menghancurkan siapapun yang telah mengacaukan kehidupannya.

Minho tidak bisa tinggal diam.

.

.

.

"Hey, hyung. Kau menyukai pemuda cantik bernama Lee Taemin itu, kan?"

"Kenapa tiba-tiba kau tanya padaku seperti itu?"

"Sudah, mengaku saja. Kau suka padanya, kan? Kau memang terlihat menggelikan saat suka pada seseorang. Hihihi..."

Seungcheol terkikik malam itu, saat ia tengah "mengacaukan" kamar Minho dengan berbaring di kasur kakaknya dan mengajaknya mengobrol walau Minho sedang berkutat dengan buku-bukunya.

Mata Minho masih berjalan mengikuti cetakan huruf yang tertera di lembar 148 buku pengantar bisnis yang ia baca, namun pikirannya tak 100% berada dalam materi. Mendengar celotehan Seungcheol, kepalanya lagi-lagi memutar ulang kejadian siang itu.

"Bagaimana menurutmu?"

Minho tiba-tiba buka suara.

"Bagaimana apanya?"

Seungcheol memutar posisi tubuhnya dan menatap Minho dengan kerutan di dahi.

"Dia. Lee Taemin."

"Oh... Dia memang cantik, dan sangat mendekati tipeku."

"Astaga. Tahu apa kau soal tipe ideal. Dasar anak kecil."

Minho terkekeh mempermainkan adiknya, membuat Seungcheol mengerucutkan dan duduk dengan tangan menyilang dibawah dada.

"Hei, aku sudah bisa menentukan mana orang yang masuk dalam standardku. Lee Taemin salah satunya."

"Tapi sayangnya, dia sudah menjadi incaranku."

Minho membalik halaman buku yang dibacanya sambil tersenyum menang.

"Ya terserah kau saja. Ambil saja Lee Taemin. Lagi pula Paman Lee bilang Taemin juga punya adik yang seusia denganku. Kupikir dia tak jauh berbeda dengan 'incaranmu' itu."

Seungcheol berdebat tidak mau kalah. Ia melompat turun dari ranjang Minho, kemudian mengambil kalender meja yang tergeletak diatas meja belajar Minho.

"Sekarang 7 Februari. Minggu depan adalah Valentine. Kuberi kau waktu satu minggu untuk menarik perhatian Lee Taemin."

"Kalau aku berhasil?"

"Kalau kau berhasil, maka..."

"Apa?"

Seungcheol terdiam, sebenarnya ia sendiri bingung dengan alasan yang melintas begitu saja dikepalanya saat ini.

"...Maka kau harus menjaganya baik-baik. Ini memang terdengar aneh tapi... Entahlah. Aku hanya merasa jika Lee Taemin adalah orang yang sangat berharga dan harus dilindungi."

Kali ini, Minho benar-benar kehilangan alasan untuk tetap fokus pada bukunya. Matanya teralih untuk menatap sembarang titik di ruangan ini dan mulai memikirkan sesuatu tentang perkataan Seungcheol.

"Sudah malam. Lebih baik aku kembali kekamarku sekarang. Selamat malam, hyung."

.

.

.

Siang harinya, Minho dan Taemin mendatangi kantor polisi setelah mendengar kabar jika pelaku penculikan sudah diketahui identitasnya.

"Kau kenal orang ini, Tuan Choi?"

Sersan Park menunjukkan selembar foto dengan siluet pria yang terpampang disana.

"Kim Junmyeon..."

"Ya, Kim Junmyeon. Seorang pengusaha kayu ilegal terkaya di Korea Selatan yang sempat kau muat beritanya di koran harian milikmu."

Polisi berpangkat tinggi itu menautkan jari-jarinya diatas meja, kemudian merubah posisi duduk untuk bicara lebih intens dengan Minho.

"Kemungkinan besar motifnya adalah balas dendam."

"Ta-tapi... Kenapa..."

"Untuk seseorang yang berpengaruh seperti kau dan keluargamu, bencana bisa datang kapan saja, Tuan Choi..."

Tapi kenapa mereka juga membawa Jeonghan?

Hal itu yang masih menjadi tanda tanya besar dikepala Minho.

.

.

.

"Jeonghan-ah..."

Seungcheol memanggil nama itu entah untuk yang keberapa kali. Tangannya sudah tak lagi terikat, mengingat pintu besi itu sudah terkunci rapat dan tak ada jalan lain untuk kabur. Ia memainkan jarinya diatas helaian poni Jeonghan yang panjang, menyisirnya lembut sambil menanti datangnya kesadaran di diri pemuda yang kini terbaring diatas matras tipis disebelahnya.

"Maafkan aku, Cheonsa..."

Seungcheol mulai bicara terbata-bata. Tubuhnya masih setia berbaring disamping Jeonghan. Tanpa sadar, ia telah membasahi matras yang ditidurinya dengan aliran air mata. Seungcheol terlalu takut untuk memikirkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Jeonghan; bagaimana reaksinya saat terbangun nanti, bagaimana Jeonghan menghadapi kenyataan bahwa mereka telah menjadi tawanan, dan bagaimana ia bisa melindungi Jeonghan dan membuat pemuda itu merasa aman didekatnya.

"Seungcheol-ah..."

Dalam pejaman matanya dan nafas yang berhembus satu-satu, Jeonghan menggumamkan nama Seungcheol untuk pertama kalinya. Seungcheol lantas menegakkan kepalanya dan menatap Jeonghan dengan penuh harap, bersyukur karena Tuhan telah mendengarkan doanya kali ini.

Pelan-pelan, Jeonghan mulai mencoba membuka matanya. Sinar lampu yang sedikit redup masih terasa begitu terang menusuk penglihatannya, membuat Jeonghan mengerjap beberapa kali. Pusing dikepalanya masih enggan pergi dan membuat Jeonghan meringis kesakitan saat ia hendak bergerak.

"J-Jeonghan... Jangan bergerak dulu. Kau masih belum sepenuhnya pulih."

Suara seseorang yang sangat familiar ditelinganya menggema dan membuat Jeonghan menoleh kearah sosok itu.

"Seungcheol..."

"Ya, aku disini, Cheonsa. Kau tidak sendirian..."

Seungcheol mengusap kening Jeonghan beberapa kali untuk membuat pemuda itu yakin dengan keberadaannya sekarang yang selalu setia disini.

"Kita...dimana..."

Jeonghan terbatuk setelah menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah. Seungcheol mulai khawatir. Ia harus memberi Jeonghan air untuk diminum. Dimana ia bisa mendapatkannya?

"Kau tunggu disini, ya. Aku akan memanggil orang-orang brengsek itu untuk mengambilkanmu minum."

"Tidak..usah. Tetaplah disini..."

Semampu yang ia bisa, Jeonghan menahan tangan Seungcheol yang hendak beranjak mendekati pintu.

"Jeonghan... Kau membuatku hampir mati melihatmu seperti ini..."

"Maafkan aku..."

Jeonghan tersenyum lemah. Ia tidak tahu mengapa setelah mendengar kata-kata Seungcheol barusan membuatnya merasa hangat dan bahagia.

"Kau membuatku merasa aman disini... Aku merindukan caramu membelai rambut dan keningku seperti tadi..."

Seungcheol membeku. Ia tidak tahu harus bereaksi apa saat Jeonghan memiringkan posisi tidurnya dan menyurukkan kepala didada bidang Seungcheol.

Tangannya terhenti diudara. Ia ragu, apakah harus meletakkannya ditubuh Jeonghan dan memeluk pemuda itu didalam dekapannya, ataukah tetap diam seperti ini seperti seorang idiot. Namun yang lebih penting, ia ingin segera menjauhkan dadanya dari jangkauan Jeonghan, agar pemuda itu tak mendengar betapa kencang jantungnya bekerja didalam sana saat ini.

"Aku merindukanmu, Seungcheol..."

Seungcheol seperti orang kehilangan nyawa untuk sesaat. Ia tak peduli soal egonya. Saat ini, satu-satunya hal yang ingin dilakukannya adalah memeluk Jeonghan dalam dekapannya yang hangat sepanjang malam. Dan jika Tuhan mengizinkan, sampai waktu yang tak ada batasnya...

.

.

.

To Be Continue

A/N: Sorry for late update. I've trouble in university so I go get home about 8 pm. Friday is always be a though day.

And now, my right eye seems in pain now. It got so red and a bit irritated. I hardly open my right eye so this is the worst period I had for writing in this kind of situation. Hiks... What should I do now? It is so hurt I swear for goodness' sake :'(