You and I
Author : KeiLee
Main Pair : Meanie (Kim Mingyu x Jeon Wonwoo)
Other Pair : SoonHoon (Kwon Soonyoung x Lee Jihoon), SeungHan (Choi Seungcheol x Yoon Junghan), and Other.
Genre : Romance, Friendship, School Life
Rate : T,gue masih polos kk..
Warning : YAOI. BxB. Typo(s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit. DLDR. Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuaisamaidupgueT-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh.
Okelah, seperti biasa. Gue pan cool make banget jadi ngga banyak bacot.
So, Check It Out..
Previous Story
"Ah! Mingyu-ya, Wonwoo-ya.. kemarin di pesawat.." belum sempat Soonyoung menyelesaikan kalimatnya, dia kaget ketika Wonwoo yang tengah minum susu kotak tersedak dan terbatuk-batuk membuat Mingyu menutup bukunya dan mengelus pelan punggungnya.
"Toilet." Ujar namja tiang itu begitu batuk Wonwoo mereda. Melihat kepergian Mingyu, Wonwoo juga ikut beranjak dia mengangkat buku yang dibawanya ketika Woozi menanyakan tujuannya.
"Aneh. Padahal aku hanya ingin menanyakan apa mereka merasakan turbulensi kemarin saat kita di pesawat." Gumam Soonyoung. Jihoon hanya menepuk lengan teman sebangkunya itu pelan.
Wonwoo dan Mingyu kembali ke kelas dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya benar-benar canggung. Bahkan hanya dengan menatap mata Mingyu, wajah Wonwoo akan memerah dengan sendirinya. Begitu mereka berdua duduk dibangku masing-masing, Park Ssaem masuk kedalam kelas.
"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru lagi. Ssaem harap kalian bisa menerima teman baru kalian seperti kalian menerima Wonwoo." Siswa kelas XI-1 menjawab 'iya' bersamaan, "Bagus. Haksaeng, silahkan masuk."
.
.
.
"Annyeong haseyo, Chou Tzuyu imnida. Bangapseumnida." Ujarnya dengan senyum manis.
Deg!
~ Start Story ~
Saat istirahat banyak namja dan yeoja yang mengerubungi Tzuyu di meja paling pojok – karena hanya meja itu yang tersisa -. Dia kesal duduk ditempat yang –menurutnya – lebih pantas digunakan oleh anak nerd ditambah lagi di harus duduk sendirian tapi dia terpaksa menahannya karena statusnya sebagai siswa baru. Jadi dia hanya menampilkan senyum manisnya berusaha menunjukkan image tanpa cela.
"Tzuyu-ssi, kenapa kau pindah kemari? Bukankah di JYP SHS lebih bebas?" tanya Minkyung penasaran.
"Ani. Aku ingin mendapat pendidikan yang lebih baik jadi aku pindah kesini. Bukankah Pledis SHS adalah sekolah paling bagus di Korea?" jawab Tzuyu masih dengan senyum. Sandara yang ada di sebelah Tzuyu mengernyitkan kening tidak suka ketika menyadari Tzuyu terus-terusan melirik kearah Mingyu yang duduk di bangku nomer dua berjarak dua baris dari bangkunya. Seolah ingin menarik perhatian anak pemilik sekolah itu.
"Kalau kau tau kenapa kau baru masuk ke sekolah ini? Kenapa tidak dari dulu?" tanya Sandara dengan nada lumayan sinis. Tzuyu yang ditanya seperti itu sedikit terkejut tapi dia berhasil menutupinya dengan senyum.
"Orang tuaku yang meminta." Jawabnya.
"Ahh... bukankah Wonwoo juga dari JYP SHS? Apa kalian saling kenal?" tanya Seokjin.
Tzuyu melirik kearah Wonwoo yang duduk diam disebelah Mingyu sembari membaca bukunya, "Ne. Aku sering melihatnya dulu. Tapi aku tidak tahu dia pindah kesekolah ini apalagi masuk kelas khusus ini."
Sandara makin mengerut tidak suka kearah Tzuyu. Dia melirik kvarah Chaerin yang menampilkan ekspresi tidak jauh berbeda dengannya. "Tentu saja Wonwoo akan masuk kelas ini. Dia sangat pantas disini." Ujarnya, "Chaerin-ah.. kantin?" ajaknya yang disetujui oleh yeoja berwajah tegas itu.
Di bangkunya, Wonwoo bisa mendengar semua percakapan antara Tzuyu dan teman-teman sekelasnya. Tangannya sedikit meremat buku yang dipegannya. Matanya memang tertuju pada buku ditangannya tapi pikirannya melayang kemana-mana membuatnya gelisah.
Mingyu melirik kearah Wonwoo dan menyadari teman sebangkunya itu tengah gelisah, "Ada apa?" tanyanya pelan. Wonwoo menoleh kearah Mingyu dengan tatapan datarnya, "Kau gelisah."
Wonwoo menunduk sembari mengernyitkan keningnya. Merasa heran kenapa namja disebelahnya itu bisa menyadari kegelisahannya padahal dia yakin tidak menunjukkannya dengan jelas.
"Semuanya sangat jelas dimataku." Ujar Mingyu membuat Wonwoo kembali menatapnya. Entah dorongan dari mana, tangan Mingyu bergerak menggenggam tangan kurus Wonwoo, "Tenanglah. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi."
Wonwoo menatap Mingyu dalam. Dia juga ingat Mingyu mengatakan itu untuk menenangkannya saat dirinya dilempar ke laut. Entah kenapa mendengar itu membuat Wonwoo merasa terlindungi. Dia menyukai bagaimana Mingyu menenangkannya dan bagaimana tangan Mingyu yang hangat menggenggam tangannya lembut. Dia juga ingat bagaimana Mingyu menenangkannya saat dirinya ketakutan di dalam pesawat.
Blusshh...
Wajah Wonwoo merona tipis saat otaknya mengingat kejadian di pesawat tanpa seijinnya. Mingyu yang melihat wajah merona Wonwoo kembali merasa ditarik menuju dasar pesona Wonwoo. Dia hampir saja menyentuh pipi merona itu jika Wonwoo tidak bangkit dan melepaskan genggaman tangannya kemudian pergi keluar kelas. Mingyu mengikuti tiap langkah Wonwoo tanpa berniat mengejarnya. Tanpa sengaja netranya melihat kearah Tzuyu yang tersenyum manis kearahnya. Mingyu memutus kontak mereka tanpa membalas senyuman gadis itu. Tzuyu yang mendapat perlakuan seperti itu merasa geram. Dia mengepalkan tangannya kesal.
"Permisi. Aku ingin ke toilet." Ijin Tzuyu masih dengan senyum manisnya.
"Apa perlu kuantar?" tanya Sohye.
"Aniyo. Aku tahu tempatnya." Jawab gadis itu sebelum berjalan keluar kelas.
Wonwoo kembali ke kelas beberapa saat kemudian. Dia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih setengah jam lagi sebelum jam berikutnya dimulai. Jam istirahat di Pledis SHS memang dibuat lama – satu jam – dengan alasan agar siswanya tidak bosan dan diharapkan lebih serius mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga senja. Namja emo itu menghela nafas. Dia meraih bukunya tapi beberapa saat kemudan dia menutupnya kembali. Kalau boleh jujur, dia lapar sekarang. Dia hanya sarapan susu karena uang gajinya belum turun. Sebenarnya dia punya simpanan uang, tapi dia adalah orang yang berkomitmen jika dia tidak akan menggunakan uang yang sudah disimpannya.
Mingyu yang menyadari tingkah Wonwoo akhirnya juga ikut menutup buku yang dibacanya. Dia baru saja hendak bicara pada Wonwoo jika dia tidak merasakan tepukan d pundaknya. Dia menoleh dan menemukan Tzuyu yang tersenyum manis kearahnya. Namja tampan itu hanya menatap datar kearah Tzuyu memberi isyarat untuk segera bicara dan pergi dari hadapannya tapi sepertinya Tzuyu tidak menangkap isyarat itu. Yeoja itu menarik kursi dari meja sebelah Mingyu dan mendudukkan dirinya di meja Mingyu.
"Annyeong haseyo, Chou Tzuyu imnida." Ujarnya. Mingyu masih menatapnya datar seolah berkata dia sudah tahu. Tapi lagi-lagi Tzuyu tidak menangkap maksud dari ekspresi Mingyu. "Kudengar kau anak dari pemilik sekolah ini. Kim Mingyu. Aku benar bukan?" tanyanya. Mingyu hanya mengangguk.
"Wah.. suatu kehormatan bagiku dapat mengenal anak dari pengusaha terbesar di Korea." Ujarnya membuat Mingyu mengernyit tidak suka. Bukankah pernah kukatakan siswa XI-1 tidak suka ada orang yang mengungkit status mereka? Hal ini juga berlaku untuk Mingyu. Mingyu menjawab dengan menundukkan kepalanya sopan kemudian berdiri sembari menarik tangan Wonwoo.
Wonwoo yang merasa ditarik hanya menatap datar kearah Mingyu. "Kantin." Ujar namja yang lebih tinggi kemudian menarik namja yang lebih pendek keluar kelas. Tzuyu yang merasa diacuhkan oleh Mingyu menatap penuh kebencian kearah namja yang ditarik oleh Mingyu. Jeon Wonwoo. Apa yang dilakukannya itu tidak luput dari perhatian Jihoon yang duduk tepat didepan Mingyu dan Wonwoo.
"Soonyoung-ah..." panggilnya.
"Ne. Aku juga menyadarinya." Jawab Soonyoung sebelum Jihoon menyelesaikan kalimatnya. Sepertinya berlama-lama dengan Mingyu dan Wonwoo membuat tingkat kepekaan Soonyoung meningkat. "Kajja ke kantin. Aku lapar." Ajaknya yang disetujui Jihoon.
...
Wonwoo berjalan perlahan di sepanjang koridor kelas XI. Dia sengaja berangkat pagi hari ini karena tidak perlu mengantar koran atau susu. Bukan. Dia tidak dipecat. Bosnya hanya memberi cuti karena dia bekerja dengan baik selama ini. Dia bahkan diberi bonus. Memang tidak besar tapi cukup berarti untuk Wonwoo.
Baru saja dia duduk di kursi dan membuka bukunya, seseorang menggebrak mejanya. Dia mendongak dan memasang wajah datar andalannya melihat siapa yang ada di depannya. Chou Tzuyu, siswi baru dikelasnya. 'Teman lama' nya.
"Aku akan duduk dengan Mingyu." Ujar gadis itu arogan. Wonwoo mengalihkan perhatiannya kembali pada bukunya berusaha mengabaikan permintaan aneh Tzuyu. Melihat respon yang diberikan Wonwoo berhasil membuat tzuyu kesal dan menggebrak mejanya sekali lagi.
"Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan? Aku yang akan duduk dengan Mingyu mulai hari ini dan itu berarti kau harus pindah, Jeon!" titah Tzuyu lagi. Wonwoo masih berusaha mengabaikan gadis yang masih bersemangat mengusirnya itu.
Tzuyu menggeram marah kemudian seringaian muncul di bibir tipisnya, "Kau mengabaikanku? Apa kau ingin kejadian dulu terulang kembali, Jeon?" ancamnya membuat Wonwoo sedikit meremat buku ditangannya, "Kau hanya perlu pindah jika tidak ingin itu terjadi. Lagipula tempat itu lebih cocok untuk namja nerd sepertimu dibanding yeoja terhormat sepertiku." Ujarnya sembari melirik tempatnya sendiri.
Tanpa berkata apapun, Wonwoo membawa tasnya menuju meja yang kemarin ditempati Tzuyu dan kembali meneruskan kegiatan membacanya disana. Meskipun terlihat tidak peduli, sebenarnya hatinya tengah dilanda kegelisahan luar biasa. Dia berharap Tzuyu benar-benar menjaga janjinya untuk tidak melakukan hal aneh dan membuatnya harus mengalami kejadian seperti saat dia d JYP SHS. Ditambah lagi ada sebagian hatinya yang tidak rela tempat duduknya diambil Tzuyu. Lebih tepatnya dia tidak rela membiarkan Tzuyu - yang jelas-jelas menyukai Mingyu – duduk didekat Mingyu.
"... Kau gila!" ujar Chaerin geram pada Sandara yang tertawa terbahak-bahak di sebelahnya. Tzuyu yang mendengar tawa Sandara merasa risih. Baginya hal seperti itu tidak sesuai bagi mereka yang merupakan keluarga terhormat.
"Annyeong, Dara-ya, Chaerin-ah..." sapanya begitu Sandara dan Chaerin duduk di meja yang bersebelahan dengan mejanya – meja Mingyu dan Wonwoo-.
Sandara dan Chaerin sontak menoleh kearahnya dengan ekspresi kaget. Terutama Sandara, "Kenapa kau disana? Bukankah itu tempat Wonwoo?" tanyanya penuh selidik. Sorot matanya menatap sedikit tidak suka kearah Tzuyu.
"Ne, arayo. Tapi Wonwoo minta bertukar kursi denganku. Aku juga tidak tahu kenapa." Jawab Tzuyu –sok- polos.
"Jinjjayo?" tanya Sandara setengah tidak percaya. Tzuyu mengangguk mengiyakan. Sandara menatap sinis kearah Tzuyu yang kini tengah sibuk dengan ponselnya kemudian beranjak menuju meja yang dtempati Wonwoo. Dia mendudukkan dirinya di sebelah namja emo itu.
"Wonwoo-ya, kenapa kau duduk disini? Apa kau ada masalah dengan Mingyu?" tanyanya. Wonwoo menggeleng tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku ditangannya.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Sandara hati-hati mengingat dia duduk bersebelahan dengan Wonwoo meskipun berjarak sekitar dua langkah. Wonwoo mengangkat wajahnya dan menatap Sandara datar.
"Ani." Jawabnya singkat, padat dan jelas.
"Syukurlah. Tapi kalau kau ada masalah jangan sungkan bercerita padaku atau anak yang lain. Kami akan membantumu." Wonwoo mengangguk masih dengan wajah datarnya kemudian kembali membaca buku ditangannya. Melihat Wonwoo yang mulai tidak bisa diganggu, Sandara memutuskan untuk beranjak pergi namun sebelum itu dia mendekatkan wajahnya kearah Wonwoo dan berbisik di telinganya, "Aku tidak menyukai gadis itu. Kau lebih pantas duduk disebelah Mingyu."
Wonwoo menatap Sandara yang mengedip sembari tersenyum kearahnya. Wonwoo kembali mengalihkan fokusnya pada buku yang dibacanya berusaha mengabaikan kalimat Sandara yang entah kenapa membuatnya malu.
Tak berapa setelah itu, Mingyu datang dan keningnya seketika mengernyit tipis melihat Tzuyu duduk di mejanya dengan senyum dibibirnya alih-alih Wonwoo. Da berjalan dengan wajah datarnya menuju tempat duduknya kemudian meletakkan tasnya disana.
"Annyeong, Mingyu-ya..." sapa Tzuyu yang diabaikan Mingyu. Namja tampan itu memilih menatap ke pojok kelas. Tepatnya kearah namja yang duduk sembari membaca bukunya dengan tenang.
Tzuyu yang diabaikan mengikuti arah pandang Mingyu dan raut wajah tidak suka tergambar di wajahnya menyadari objek yang dipandangi Mingyu. Tangannya terkepal erat.
"Tzuyu-ssi, kenapa kau duduk disini?" tanya Soonyoung yang baru datang bersama Jihoon. Sontak Tzuyu menoleh kearah Soonyoung tidak lupa mengganti raut wajahnya menjadi ramah.
"Ne?"
"Itu kursi Wonwoo." Ujar Jihoon. Jika kalian peka sedikit, maka kalian bisa menyadari sedikit nada tidak suka disana.
"Ahh... ne. Wonwoo tiba-tiba meminta bertukar kursi denganku." Jawab Tzuyu dengan senyum manisnya. Jihoon hendak protes jika saja suara Kim ssaem tidak mengganggunya. Mingyu yang sedari tadi menatap datar kearah Wonwoo akhirnya mengalihkan perhatiannya mengerahkan semua konsentrasinya untuk mendengarkan pejelasan Kim Ssaem meskipun sesekali matanya melirik kearah Wonwoo yang fokus membuat catatan. Tzuyu yang terus mengoceh disebelahnya benar-benar diabaikan olehnya.
Jihoon yang tidak tahan mendengar segala ocehan Tzuyu akhirnya menoleh dengan wajah kesal, "Tzuyu-ssi, bisakah kau diam? Suaramu menghancurkan konsetrasi semua orang!" ujarnya geram. Tzuyu yang mendengar protesan dari namja mungil didepannya hanya mendengus kesal kemudian memilih memainkan handphonenya alih-alih mendengarkan penjelasan Kim Ssaem.
Jam Istirahat...
Soonyoung menggeliatkan tubuhnya yang kaku karena duduk lebih dari 4 jam. "Ahh.. aku tidak akan bisa menari lagi jika aku terus seperti ini." Keluhnya sebelum menghadapkan dirinya kebelakang.
"Mingyu-ya, Wonwoo-ya.. ah.. Mianhae." Soonyoung menggaruk tengkuknya. Dia lupa Wonwoo tidak duduk bersama Mingyu hari ini, "Kantin?" Mingyu mengangguk mendengar tawaran Soonyoung.
"Aku boleh ikut?" tanya Tzuyu tiba-tiba.
"Terserah. Kau juga membayar sekolah disini." Jawab Jihoon acuh. Dia dan Soonyoung berjalan beriringan keluar kelas dan menunggu Mingyu yang menghampiri Wonwoo disana.
Wonwoo yang merasa diperhatikan menoleh kesamping dan menemukan Mingyu yang menatapnya datar. Dia balas menatap datar kearah Mingyu seolah tidak peduli tapi tangannya bergerak menutup buku ditangannya. Setelah beberapa saat saling tatap akhirnya Wonwoo berdiri dan berjalan mengikuti Mingyu menuju kantin.
"Hei..." kelima siswa kelas XI-1 yang baru masuk kantin sontak mencari sumber suara yang akrab di telinga mereka itu. Disana Sandara, Chaerin, Jinyoung, Chunji dan L-Joe tengah makan bersama di meja yang cukup besar. Kelima anak muda itu akhirnya berjalan menuju mereka. Wonwoo mendudukkan dirinya disebelah Sandara berhadapan dengan Mingyu yang duduk diantara Jinyoung dan Tzuyu.
"Kajja pesan makanan." Sandara baru saja membuka menu di depannya ketika Tzuyu merebut menu ditangannya. "Wae?" tanyanya sedikit tidak suka.
"Aku yang akan memesan makanan untuk kalian semua. Aku juga yang akan membayar semuanya. Anggap saja ini hadiah perkenalan dariku." Ujar Tzuyu yang dijawab dengan sorakan –kecuali Wonwoo, Mingyu, Jihoon dan Sandara-. Tzuyu mengangkat tangannya dan mulai menunjuk makanan yang ada di menu.
Wonwoo menatap makanan di depannya datar. Piring di depannya masih sangat bersih. Sedari tadi hanya jus jeruk yang masuk ke dalam pencernaannya.
"Wonwoo-ya. Kau tidak makan?" tanya Sandara sambil memasukkan udang goreng kedalam mulutnya. Dia memang tidak menyukai Tzuyu tapi dia tidak bisa mengabaikan rezeki yang datang menghampiri. Wonwoo menoleh kearah Sandara kemudian menggeleng.
"Aku..." Wonwoo tidak jadi melanjutkan perkataannya dan menoleh kearah Mingyu yang tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Mingyu-ya, kau mau memesan makanan lagi? Aku tidak menyangka kau makan sebanyak itu." Goda Tzuyu yang tidak ditanggapi Mingyu. Namja tampan itu kini tengah membolak-balik buku menu kemudian menunjuk satu menu ketika seorang pelayan kantin datang.
"Ahh... ne." Seru Soonyoung tiba-tiba membuat semua yang disana menatap kearah namja bermata sipit itu.
"Wae, Kwon?" tanya Sandara sinis. Dia hampir tersedak udang karena kaget mendengar seruan Soonyoung.
"Aku lupa kalau Wonwoo alergi seafood. Pantas saja dia tidak makan." Ujarnya membuat Sandara menoleh kearah Wonwoo yang entah sejak kapan dianggapnya anak.
"Jinjjayo?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Wonwoo, "Aish.. akan kupesankan makanan." Sandara baru saja meraih buku menu di depan Mingyu tapi tangan Wonwoo menahannya.
"Ani." Larangnya.
"Geunde..." Sandara menahan segala kalimat protesnya ketika melihat pelayan membawa makanan yang dipesan Mingyu.
"Satu porsi sup daging." Mingyu meraih makanan di nampan pelayan itu kemudian menyerahkannya pada Wonwoo.
"Mokgo!" titahnya. Dia kembali melanjutkan makannya begitu melihat Wonwoo menyuapkan satu sendok sup kedalam mulutnya.
Sandara membelalakkan matanya melihat apa yang terjadi di depannya namun sejurus kemudian seringaian menggoda terlukis di bibirnya.
"Ahh.. pantas kau menolak. Aku lupa ada pangeran yang setia memperhatikanmu.."
Mendengar perkataan Sandara, Wonwoo sukses tersedak sup yang baru ditelannya. Melihat itu dengan sigap Mingyu menyodorkan minuman miliknya yang segera dihabiskan Wonwoo.
"Omoo... indirect kiss..!" pekik Sandara tanpa bisa dikendalikan. Mingyu dan Wonwoo hanya mengabaikan teriakan fujoshi Sandara dan melanjutkan makan mereka dalam diam. Meskipun tidak dapat dipungkiri jantung mereka berdetak diluar kendali.
Sandara dan yang lainnya tengah sibuk menggoda Wonwoo dan Mingyu yang hanya diam tidak peduli. Mereka mengabaikan satu makhluk yang ada bersama mereka sejak tadi. Seorang yeoja yang kini tengah menatap benci kearah namja yang duduk tepat di depan Mingyu. Chou Tzuyu kini hanya bisa dia menahan kekesalannya dengan mengepalkan tangannya erat dibawah meja.
Skip Time
"Yeoreobun.. ada pengumuman menyenangkan untuk kita semua. Hari ini kelas Jang Sonsaengnim kosong. Beliau tengah rapat dengan kepala sekolah." Kabar yang dibawa oleh Yunho itu sontak membuat penghuni kelas bersorak ria layaknya baru menang lotre keliling dunia gratis. "Ingat! Kalian boleh melakukan apapun disini tapi tidak berkeliaran di luar kelas kecuali ke UKS, Perpustakaan dan toilet. Arrachi?!" para siswa sontak berteriak mengiyakan kemudian mulai membuat keonaran yang membuat kepala yang melihatnya pening.
Tzuyu menatap risih pada teman-teman sekelasnya. Dia ragu mereka adalah anak pengusaha paling sukses di Korea melihat tingkah bar-bar mereka. Lihat saja. Beberapa diantara mereka kini ada yang duduk diatas meja sembari tertawa terbahak-bahak, menari tidak jelas, berlarian sembari berteriak aneh, dan mencoret-coret papan tulis dengan karikatur-karikatur absurd. Dia merasa dialah yang paling normal saat ini. Dia tersenyum manis melihat Mingyu yang duduk diam ditempatnya.
'Mingyu pasti tidak suka manusia bar-bar seperti mereka. Itu sebabnya dia hanya duduk disini. Atau mungkin karena dia ingin dekat denganku?' batin Tzuyu. Yakin dengan pemikirannya yang terakhir, dia memutuskan untuk mengajak namja tampan nan tinggi disebelahnya itu bicara.
"Mingyu-ya, kau tidak bergabung dengan mereka?" tanyanya basa-basi yang tidak dihiraukan oleh Mingyu. Namja tampan itu tetap fokus pada bukunya. Tidak menyerah dengan ketidak pedulian Mingyu, yeoja itu kembali bersuara, "Aku tahu. Kau pasti risih dengan kelakukan mereka."
Mingyu menghembuskan nafasnya pelan mendengar segala ocehan tidak berguna yeoja disebelahnya. Tapi dia memilih diam dan mengabaikan anak baru yang bahkan tidak dia ingat namanya.
"Wonwoo-ya.."
"Mingyu-ya.." Tzuyu menyunggingkan senyum kemenangan ketika dia melihat Mingyu mengangkat wajahnya. Namun perlahan senyuman itu menghilang menyadari bukan panggilannyalah yang membuat perhatian Mingyu teralihkan melainkan seseorang yang namanya diserukan oleh Sandara.
"Eodiga?" tanya gadis baby face itu. Wonwoo hanya mengangkat buku yang dibawanya kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kau tidak mengikuti anakmu?" ledek Chaerin. Sandara menggeleng sambil menunjukkan barisan giginya yang rapi. Kemudian melemparkan gumpalan kertas ditangannya kearah Minhyuk yang menelungkupkan kepalanya diatas meja membuat namja tampan itu kaget dan balas melempar Sandara dengan pensil Yoojung yang duduk disebelahnya. Kesimpulan yang bisa kita ambil dari ini adalah kelas unggulan itu benar-benar berisik.
Wonwoo berjalan perlahan menuju perpustakaan. Letak perpustakaan memang tidak terlalu jauh dari kelasnya. Sebenarnya kelasnya bisa dibilang tempat strategis yang dekat dengan tempat-tempat penting seperti perpustakaan, kantin, UKS dan toilet di lantai itu. Dia membuka pintu perpustakaan dan membungkuk sopan kearah Sonsaengnim yang bertugas menjaga perpustakaan. Dia menyerahkan buku yang baru saja selesai dibacanya kepada yeoja paruh baya di depannya. Wonwoo memang lebih suka mengembalikan buku langsung daripada menggunakan mesin. Bukan karena dia tidak tahu cara menggunakannya, tapi karena itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Pinjam lagi?" tanya yeoja itu dibalas anggukan Wonwoo. Namja emo itu kembali membungkuk sopan kemudian kaki kurusnya melangkah menuju barisan novel fiksi yang letaknya agak di ujung. Dia berniat mencari lanjutan dari novel yang baru dikembalikannya. Dia berjalan perlahan menyusuri rak buku hingga dua kali tapi tidak menemukan buku yang menjadi incarannya. Dia hampir saja menyerah sebelum mata tajamnya melihat buku incarannya berada di rak paling atas.
Namja berkulit pucat itu berjinjit berusaha mengambil buku itu. Dia tinggi tapi tidak cukup tinggi untuk meraih buku itu –hanya ujung jarinya yang menyentuh buku- hingga sekuat apapun dia mencoba yang didapatnya hanya tangan dan kakinya yang pegal karena terlalu lama direntangkan. Dia baru saja menurunkan tangannya ketika seseorang menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil buku incarannya. Dia terkesiap. Pasalnya orang itu tidak menyuruhnya menyingkir melainkan langsung menghimpitnya ke rak di depannya. Dia bisa merasakan dada orang itu menyentuh punggungnya. Ditambah tangan kiri orang itu mengungkung tubuh Wonwoo membuat namja emo itu tidak dapat bergerak.
Wonwoo yang merasa tidak nyaman akhirnya berbalik hendak mendorong orang itu. Tapi dia dibuat tidak bisa bicara ketika melihat siapa orang itu. Mata sipitnya sedikit membulat dan pipinya sedikit memerah. Di depannya Kim Mingyu tengah tersenyum manis dengan tangan yang masih betah mengurung tubuh Wonwoo.
"Permisi." Wonwoo mendorong tubuh Mingyu dengan tatapan lurus kearah dada Mingyu tapi namja yang lebih tinggi tidak bergeming. Mingyu mengulurkan buku incaran Wonwoo yang langsung dterima Wonwoo dengan harapan Mingyu akan segera menjauh darinya. Tapi Mingyu malah menaikkan buku itu membuat Wonwoo juga ikut mendongak. Dan apa yang dilakukan Mingyu selanjutnya membuat Wonwoo makin terbelalak. Namja berkulit tan itu kini tengah menempelkan bibirnya dengan bibir Wonwoo. Sontak namja yang lebih pendek mengingat kejadian di pesawat. Tapi Wonwoo sadar ciuman kali ini berbeda. Ketika di pesawat bibir mereka hanya bersentuhan tapi kali ini bibir Mingyu bergerak melumat bibir Wonwoo perlahan. Mingyu melesakkan buku ditangannya ke tangan Wonwoo ketika bibirnya masih bergerak aktif melumat bibir merah milik namja yang lebih pendek.
Wonwoo segera berlari ketika Mingyu menyelesaikan kegitannya mengabaikan namja tampan yang kini menatapnya dengan senyuman yang tidak pernah ditunjukkannya pada orang lain bahkan kedua orang tuanya.
"Kau mengagumkan." Gumam Mingyu perlahan.
"Wonwoo-ya, kau.. eh? Ada apa dengan wajahmu? Kau sakit?" tanya penjaga perpustakaan melihat wajah Wonwoo yang memerah. Wonwoo menggeleng dan menyerahkan buku yang hendak dipinjamnya meminta cap peminjaman. Song Ssaem yang melihat keadaan Wonwoo segera memberi stampel pada buku Wonwoo. Dia berpikir Wonwoo tengah sakit dan butuh segera ke UKS oleh karena itu Wonwoo buru-buru. "Istirahatlah. Kau tidak terlihat baik." Pesan Song Ssaem. Wonwoo mengangguk kemudian membungkuk hormat sebentar sebelum pergi keluar.
"Wonwoo-ya.. kau harus bergabung dengan kami." Soonyoung menarik tangan Wonwoo begitu namja itu sampai di kelas. Wonwoo menatap datar para teman sekelasnya yang kini berdiri membentuk lingkaran. Dan entah sejak kapan kursi dan meja di kelasnya mulai berjejer di pinggir kelas.
"Kita akan bermain zombie." Wonwoo meghela nafas. Dia tidak ingin bergabung tapi dia sudah berdiri disini jadi tidak ada alasan untuk menolak. Para anak orang kaya ini tidak terbiasa dengan penolakan.
"Kajja kita undi." Wonwoo mengambil asal undian yang disodorkan Sandara dan dia benar-benar ingin mengutuk yeoja itu ketika kertas ditangannya menunjukkan huruf X besar yang berarti dialah yang menjadi Zombie pertama. Dia diam saja ketika Soonyoung menutup matanya dengan dasi milik Minhyuk.
"Dalam hitungan ketiga kau bisa mulai mencari. Satu, Dua,... Tiga!" sontak ruangan kelas itu mulai hening. Wonwoo mulai melangkahkan kakinya perlahan dengan tangan yang terulur kedepan. Dia terus melangkah lurus tanpa menyadari apa yang ada di sekitarnya. Hingga tanpa bisa dicegah namja emo itu tersandung dan beruntung baginya ada seseorang yang menangkapnya. Wonwoo segera membuka penutup matanya dan dia ingin menyumpah begitu melihat siapa yang ada di depannya. Kim Mingyu yang baru saja kembali dari perpustakaan.
Namja berkulit putih itu sontak berdiri tegap kemudan menyerahkan penutup mata di tangannya kepada Mingyu. Dia sendiri melesat keluar menuju toilet sekolah mengabaikan teriakan histeris Sandara dan ocehan menggoda temannya yang lain. Tapi ada satu pasang mata yang melihatnya dengan tatapan benci. Chou Tzuyu yang baru saja kembali dari toilet melihat kejadian itu dengan amat sangat jelas.
Wonwoo menatap kaca di depannya datar. Dia bisa melihat pipinya masih merona tipis. Dia menggigit kecil bibirnya merasa kesal kenapa otaknya sangat sulit diatur jika dia bersama dengan Kim Mingyu. Hal ini benar-benar membuat harga dirinya jatuh –menurutnya-. Dia menunduk mencuci wajahnya berharap apa yang dilakukannya itu dapat membuat otaknya berhenti berpikiran aneh. Dia terkesiap sekilas ketika melihat seorang yeoja berdiri dibelakangnya begitu dia mengangkat wajah.
Yeoja itu perlahan mendekat kearah Wonwoo yang hanya dia sembari mengamati pergerakan yeoja itu dari cermin. Yeoja yang ternyata adalah siswi baru di kelasnya itu berhenti dua langkah di belakangnya. Dari pantulan kaca Wonwoo dapat melihat senyuman –atau seringaian – tidak suka yang ditunjukkan gadis itu. Senyum yang berbeda dengan yang ditunjukkannya pada teman sekelasnya.
"Kita bertemu lagi, Jeon Wonwoo. Maaf baru meyapamu dengan baik setelah dua hari aku disini." Sapanya sinis. Wonwoo berbalik menghadap gadis itu masih dengan wajah datarnya yang biasa. Tidak ingin berlama-lama dengan 'teman lama'-nya itu, dia memilih berjalan pergi.
"Apa hubunganmu dengan Mingyu?" tanya Tzuyu begitu Wonwoo berada di sampingnya.
"Bukan urusanmu." Jawab Wonwoo datar. Dia akan meanjutkan langkahnya jika saja tanganya tidak ditahan oleh Tzuyu.
"Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan perkataanku, kan?" ujar yeoja itu dengan seringaian di bibirnya, "Apa kau ingin semuanya terulang? Kau ingin kembali dihujat, dihina, dipandang rendah, dan parahnya kau akan dibenci oleh Kim Mingyu yang merasa jijik padamu. Kau mau itu terjadi?"
Tangan Wonwoo terkepal erat, kemudian dia pergi meninggalkan Tzuyu yang tengah meyeringa puas.
"Oh.. Tzuyu-ya? Apa yang kau lakukan di toilet pria?" tanya Yunho yang baru masuk toilet.
"Ah.. ani. Aku salah masuk tadi. Mian. Jja. Aku pergi kekelas dulu." Jawab dan pamit Tzuyu dengan senyum diwajahnya.
Yunho melihat kepergian Tzuyu dalam diam kemudian mengedikkan bahunya tidak peduli. Dia lebih memilih melakukan tujuannya datang ke kamar mandi.
...
Sudah satu minggu Minyu merasa Wonwoo menjauh darinya. Namja emo itu memang dingin dan tidak ramah padanya tapi Wonwoo tidak pernah mengabaikannya. Ketika istirahat namja emo itu biasanya akan ikut ke kantin bersamanya dan yang lain tapi sekarang namja emo itu akan menghilang segera setelah bel berbunyi. Tentu ini membuat Mingyu sedikit frustasi.
Dan hari ini adalah puncaknya. Mingyu sudah tidak tahan.
"Rumah Mingyu?" usul Soonyoung. Sandara, Chaerin, Jihoon, Yunho, Jaejoong dan Tzuyu yang ada disana mengangguk mengiyakan. Apalagi Tzuyu yang kini tengah memasanh wajah sumringahnya. Dia tidak sabar datang ke rumah –yang menurutnya- masa depannya. Mereka kini tengah berdiskusi mengenai dimana mereka akan mengerjakan tugas kelompok Seni mereka.
"Wonwoo-ya!" seru Sandara begitu melihat Wonwoo yang masuk kelas entah darimana. Wonwoo yang dari tadi menunduk kaget menyadari masih ada orang lain disana apalagi salah satu dari mereka adalah orang yang dihindarinya dan satu lagi adalah orang yang bertujuan menghancurkan hidupnya.
Sandara berjalan kearahnya dengan senyum ramah dibibirnya. "Kau kemana saja? Kami baru saja mendiskusikan dimana kita akan mengerjakan tugas. Rumah Mingyu hari Sabtu pagi. Kau harus datang." Ujarnya membuat Wonwoo sedikit gelisah.
"Kau tidak bisa. Beri aku tugas yang bisa kukerjakan sendiri di rumah." Jawabnya. Dia berjalan menjauhi Sandara dan memasukkan buku-bukunya yang masih berserakan di meja. Dia berdiri sambil menggendong (?) tasnya.
"Wae?" tanya Sandara murung, "Ini tugas kelompok, Wonwoo-ya. Kita harus mengerjakannya bersama." Sandara berusaha membujuk namja emo itu.
"Tapi aku tidak bisa datang kerumahnya. Mian." Ujarnya sebelum berjalan melewati Sandara yang mencebikkan bibirnya. Mingyu mendengus kemudian bangkit sembari menggebrak mejanya kemudian berjalan setengah berlari menyusul Wonwoo. Tangan tannya menangkap pergelangan tangan Wonwoo dan menariknya membuat namja yang lebih pendek darinya berbalik menghadapanya.
"Wae?" tanya Mingyu datar. Wonwoo hanya membalasnya dengan tatapan tidak kalah datar, "Kau menjauhiku."
"Kenapa aku harus?" balas Wonwoo datar, "Lepaskan tanganku!" dia berusaha menyentak tangannya tapi genggaman Mingyu makin mengerat.
Mingyu menutup matanya menahan kesal. Namja di depannya itu sudah bersikap menyebalkan seperti ini selama satu minggu, "Kau akan datang."
"Kenapa kau memaksaku? Kau bukan siapa-siapa bagiku!" semua yang disana kaget mendengar Wonwoo yang selama ini selalu diam kini bicara dengan suara yang bisa dibilang keras.
Mingyu menarik tangan Wonwoo lagi membuat namja berkulit pucat itu makin dekat dengannya. "Kau akan datang. Mau tidak mau kau akan datang! Dan berhenti menjauhiku." Mingyu sedikit melunakkan nada bicaranya di akhir kalimatnya.
Wonwoo menyentak tangannya dari genggaman Mingyu hingga terlepas, "Aku menjauh atau mendekat padamu itu bukan urusanmu!" ujarnya sebelum pergi dari sana. Mingyu menatap kepergian Wonwoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menghela nafasnya sekali sebelum berbalik mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
"Apa mereka ada masalah?" tanya Sandara pelan.
"Aku tidak tahu. Tapi kalau memang ada, kurasa itu masalah besar." Ujar Yunho berspekulasi. Jaejoong disebelahnya mengangguk mengiyakan.
"Aku setuju. Melihat bagaimana mereka menatap satu sama lain. Itu berbeda dari biasanya." Ujar namja cantik itu.
"Mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya." Gumam Sandara cukup keras. Yeoja itu melirik kearah yeoja lain yang duduk di kursi lama Wonwoo. Dia bisa melihat seringaian tipis di bibir yeoja itu.
'Chou Tzuyu... ini pasti ada hubungannya denganmu.' Ujarnya dalam hati.
...
Pagi itu Wonwoo baru saja keluar dari tempatnya biasa mengambil koran untuk disebarkan ketika mobil hitam mewah menghadang langkahnya. Dia menghela nafas berat ketika melihat siapa yang keluar dari kursi penumpang.
'Mingyu-ya, kenapa kau membuat semuanya makin rumit?' tanyanya dalam hati. Tangannya sedikit meremat koran ditangannya ketika Mingyu berjalan mendekat kearahnya.
Namja tampan itu merebut tumpukan koran ditangan Wonwoo kemudian menyerahkannya pada pengawal dibelakangnya, "Lakukan seperti dulu." Titahnya.
"Baik, Tuan Muda." Wonwoo bisa melihat ahjusshi yang dulu membantunya mengantar koran mulai bersiap diatas motor. Dia hampir saja mengeluarkan protes ketika tangannya ditarik dan dipaksa masuk kedalam mobil disusul oleh Mingyu.
"Kediaman Kim." Titahnya pada supir pribadinya.
"Baik, Tuan Muda." Uajr supir itu sopan kemudian mulai menjalankan mobil Mercedes Benz S 500 L milik keluarga Mingyu.
"Wonwoo- ya, kau datang?" Sandara berlari menyambut Wonwoo yang berjalan di belakang Mingyu. Yeoja itu menarik tangan Wonwoo untuk duduk di sebelahnya.
"Annyeong.. mian aku terlambat. Aku sedikit tersesat tadi. Seharusnya aku hanya tinggal mencari rumah paling besar disini. Iya, kan, Mingyu-ya?" ujar Tzuyu sembari berjalan mendekat kearah Mingyu. Matanya membelalak begitu melihat siapa yang duduk di sebelah Sandara. "Kau disini?"
"Ne. Dia di jemput langsung oleh Kim Mingyu." Ujar Sandara membuat Tzuyu menggemeretakkan giginya erat.
Mereka sudah berkumpul disana lebih dari satu jam tapi belum menemukan ide apa yang harus mereka buat.
"Haaaahh... kalau terus begini kita tidak akan mendapat apa-apa." Rutuk Jaejoong.
Tzuyu tersenyum kemudian makin medekatkan dudukknya kearah Mingyu, "Mingyu-ya, tadi aku melihat ada festival tidak jauh dari perumahanmu. Bagaimana kalau kita bermain kesana untuk menyegarkan pikiran? Mungkin kita bisa mendapat inspirasi." Usulan Tzuyu ditanggapi oleh Sandara yang langsung berdiri karena mati bosan disana.
"Kajja!" ajaknya membuat yang lain segera berdiri.
"Yun, aku dan Jihoonie ikut denganmu." Yunho mengangguk.
"Mingyu-ya.. boleh aku ikut denganmu? Supirku sudah pulang." Rengek Tzuyu. Mingyu menatapnya datar kemudian mengangguk. Namja itu menyerahkan kunci mobil ke salah satu pengawalnya dan beberapa saat kemudian mobil Mercedes Benz C 250 Cabrio berhenti di depannya. Tzuyu tanpa diperintah langsung masuk dan duduk disebelah kursi pengemudi.
"Kenapa kau duduk disana?" tanya Chaerin.
"Wae? Kalau aku duduk dibelakang maka Mingyu akan terlihat seperti supirku."
"Ada aku dan WONWOO yang bisa duduk disana." Ujar Sandara dengan penekanan pada nama Wonwoo. Tapi Tzuyu hanya membalas dengan wajah sok polosnya membuat Sandara makin kesal dan menutup pintu mobil Mingyu keras-keras.
Setelah selesai memarkirkan mobil mereka, Jaejoong, Yunho, Soonyoung dan Jihoon memilih berjalan kearah kanan dan sisanya kearah kiri. Mereka berjalan menyusuri stand-stand yang berjajar menjual berbagai macam hal. Selama itu Tzuyu terus menarik tangan Mingyu membuat Sandara menggeram kesal.
"Untuk sekarang aku setuju kau menerkamnya, Dara-ya." Rutuk Chaerin yang terlanjur kesal dengan tingkah Tzuyu.
"Mingyu-ya, bukankah ini lucu?" tanya Tzuyu sembari memasang bando telinga kelinci di telinganya. Mingyu hanya menatapnya datar seperti biasa.
Wonwoo yang ikut dengan rombongan itu berusaha sebisa mungkin tidak melihat interaksi antara Tzuyu dan Mingyu. Dia sedikit menyesal tidak menyetujui ajakan Jihoon untuk bergabung dengannya, Soonyoung, Yunho, dan Jaejoong. Matanya mengamati sekitar dan perhatiannya tertuju pada beanie baby blue yang tergantung tidak jauh dari Mingyu. Dia berjalan mendekat dan mengamati beanie itu. Jujur dia menyukainya.
Mingyu yang merasa ada orang disebelahnya menoleh dan menemukan Wonwoo yang menatap salah satu beanie dengan mata berbinar. Bahkan tangan putih namja itu sesekali menyentuhnya. Tanpa sadar Mingyu meraih beanie baby blue itu dan memakaikannya di kepala Wonwoo. Dua namja itu saling menatap dengan tatapan yang Sandara dan Chaerin kenal betul.
"Ahjumma, aku beli ini." Ujar Mingyu.
"Ah.. itu 37.000 won, anak muda." Mingyu mengulurkan selembar uang 50.000 won kearah ahjumma itu. Dan mengangkat tangannya memberi isyarat dia tidak butuh uang kembalian, "Gamsahamnida." Ujar ahjumma itu.
Mingyu menahan tangan Wonwoo yang hendak membuka beanie di kepalanya, "Pakailah. Itu terlihat pas untukmu." Ujarnya dengan senyum tipis.
"Catat semua. Akan kuganti." Ujar Wonwoo sebelum berlalu dari sana diikuti Sandara yang memasang senyum menggoda kearahnya. Setelah itu Mingyu menyusul tiga temannya itu meninggalkan Tzuyu yang meremat bando telinga kelinci ditangannya.
"Hei, anak muda! Kau bisa merusaknya! Letakkan jika kau tidak ingn membeli!" ujar ahjumma itu. Tzuyu menatap kesal kearah ahjumma itu.
"Cih! Aku bahkan bisa membeli semua sampah ini!" bentaknya sembari membanting bando ditangannya dan berlalu menyusul Mingyu dan yang lainnya.
"Aigoo.. gadis yang cantik tapi benar-benar tidak sopan." Rutuk ahjumma itu sembari mengelus dadanya pelan.
Tzuyu menatap benci kearah Wonwoo. Tangannya terkepal disisi tubuhnya.
'Kau pikir aku main-main, Jeon? Kau pikir aku hanya menggertak?' geramnya dalam hati, 'Akan kutunjukkan padamu apa yang bisa kulakukan. Kau yang memaksaku melakukannya. Bersiaplah kembali diinjak, Jeon Wonwoo.' Yeoja itu menyeringai seram membuat anak kecil yang tanpa sengaja melihatnya menangis keras.
.
.
TBC
.
.
Annyeong…. Apa kabar para readerku tertjintah?
Lama, ya? Emang sengaja biar kalian makin penasaran.. ahahahahaha #dicekek
Gimana Chap ini? Memuaskan? Ataukah memuakkan?
Haha.. sebenernya chap ini udah jadi sejak lama.. sebulan yang lalu kalo ngga salah, tapi gue males publish sampe kemaren ada reader (eonnie) yang PM gue nyuruh gue publish segera. Dan akhirnya…. Jererenggggggg #apaini? FF INI UPDATE PEMIRSAH!
Sebenernya kecepatan update bisa ditentuin sama banyaknya review yang masuk. Makin banyak review makin semangat gue nulis, makin dikit review, makin gede keinginan gue buat discontinued ini FF. #inigueserius.
Dan lagi bagi yang haus FF meanie, bisa follow IG gue (IG baru, Followersnya masih dikit banget TT) kl_zxzyn. Disana gue publish FF oendek Meanie yang gue update sesuka hati gue. Tapi biasanya ngga lama. Palingan Cuma satu minggu paling lama.
Buat yang review chap kemaren makasih atas partisipasi kalian (elaaahhh…) dan udah ngeluangin waktu buat baca ini FF kaga jelas. Neomu neomu gamsahamnida #bow.. review lagi buat chap ini, oke? Review kalian adalah tiket untuk kelanjutan FF kesayangan kita ini #taboked
Oh ya, Kemaren ada yang nanya kenapa yang jadi temen Meanie itu Yunho, Sandara dll? kan kesannya jadi aneh soalnya mereka ketuaan.
Jawabannya adalah KARENA GUE SUKA MEREKA! TERUTAMA YUNJAE.. jadi itu alasannya. Terima kasih.
Dan akhirnya gue Keilee yang super duper cool ini pamit dulu. Gue ngga suka banyak bacot, sih. Jadi sorry.
Makasih buat semua yang udah review sekali lagi. Maaf ngga bisa bales satu-satu. Yang mau kenal lebih deket silahkan PM atau follow my IG.
At least but no least..
Mind to RNR..?
Annyeong.. ppyong!
