Disclaimer: Yoshihiro Togashi
...
Precious Lie
Chapter 5: Kurapika's Beloved Ones
...
Warning: AU, OOC, femKura, maybe typo(s), feel free to read ;)
OoO
Sinar matahari menyeruak masuk dari celah tirai jendela. Bunyi burung berkicau terdengar pelan. Pagi telah datang.
Pria itu baru saja bangun, dan hal pertama yang ia lihat setelah membuka matanya adalah seorang sleeping beauty yang masih tidur dengan nyenyak dalam pelukannya. Beberapa helai rambut pirangnya jatuh menutupi wajah. Kuroro menyingkirkan helaian rambut pirang dari wajah gadis itu. Tidurnya pulas sekali, tidak ada kerisauan seakan seluruh dunia aman terkendali. Sinar matahari yang mencuri masuk menimpa rambut emasnya, membuat rambutnya tampak bersinar. Kuroro melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul setengah tujuh. Walaupun tak tega, namun ia harus membangunkan sleeping beauty yang tidur meringkuk di pelukannya ini.
"Kurapika..." panggilnya pelan.
Gadis itu masih mendengkur halus. Kuroro mengelus pipi Kurapika dengan lembut. "Kurapika, bangun."
Bulu mata gadis itu bergerak-gerak. Perlahan kedua mata itu terbuka, menampilkan sepasang bola mata biru yang indah. Pandangan matanya kosong. "Hmmm...?" gumamnya.
"Bangun, sudah jam setengah tujuh. Nanti kau terlambat ke sekolah," kata Kuroro.
Mata gadis itu langsung terbuka sepenuhnya, ia segera duduk.
"Gawat!" Kurapika cepat-cepat turun dari kasur. Gadis itu hendak berlari keluar kamar, namun kakaknya memanggilnya.
"Kurapika."
Gadis itu menoleh. Ia melihat kakak laki-lakinya yang bersandar di kasur tersenyum dengan tatapan jahilnya.
"Lihat ke cermin."
Kurapika melirik ke cermin yang berdiri di samping lemari. Gadis itu memekik kecil dan segera menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Cermin besar itu menampilkan refleksi diri Kurapika yang masih dengan gaun tidurnya. Namun rambut baru bangun tidurnya tampak berantakan, poninya mencuat kemana-mana.
Kuroro tertawa kecil melihat reaksi adiknya. Kurapika menatap tajam pada pria itu. Wajahnya memerah.
"Jangan tertawa!" Jeritnya.
Kuroro mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi senyuman mengejeknya masih terukir di wajah tampannya. Kurapika segera berlari ke arah pintu, kalau tidak cepat bisa-bisa dia terlambat sekolah. Sebelum menutup pintu ia berteriak pada Kuroro.
"Kakak jelek!"
Pintu ditutup dan meninggalkan Kuroro dengan tawanya yang meledak. Setelah puas ia kembali berbaring, ingin menikmati paginya dengan tenang yang jarang didapatkannya.
Gadis itu bergegas kembali ke kamarnya dan ke kamar mandi. Setelah mandi secepat yang ia bisa, gadis itu meraih seragamnya. Ia segera mengenakannya dengan rapi. Lalu ia ke meja rias, menabur bedak di wajahnya dan memberi lotion pada lengannya. Gadis itu meraih sisir dan mulai menyisir rambutnya.
Ugh, ayolah jangan kusut. Aku benci punya rambut panjang di saat seperti ini!
Kurapika menggerutu pada rambut pirangnya. Setelah ia merasa rambutnya sudah rapi, ia meletakkan sisir di meja dan meraih parfum lalu menyemprotkan cairan dalam botol kaca itu ke tubuhnya. Gadis itu beralih ke meja belajar, ia mengambil tas sekolahnya. Untunglah ia punya kebiasaan menata buku pelajaran pada malam sebelumnya. Ia melirik jam. Pukul tujuh lewat lima. Kelas dimulai pukul setengah delapan. Ia segera berlari keluar kamar. Seorang Kurapika Lucifer tidak pernah terlambat!
Gadis itu bergegas turun dari tangga menuju ruang makan. Ia melihat kakak laki-lakinya telah duduk dengan santai di kursi menikmati secangkir teh.
"Kakak, aku berangkat!" Seru gadis itu.
"Kurapika, kemari," kata Kuroro.
Gadis itu mau tidak mau berjalan menghampiri kakaknya. "Apa? Aku sudah terlambat!"
"Mana mantel dan sarung tanganmu?"
Mata Kurapika membulat. Saking buru-burunya ia lupa membawa mantel dan sarung tangannya. Tidak memakai mantel di luar pada bulan November sama saja cari penyakit. Kurapika hendak berbalik dan berlari ke atas ketika lengannya ditahan oleh Kuroro.
"Kau duduk disitu, biar Mary yang mengambilkan untukmu."
Pelayan bernama Mary tersenyum dan mengangguk, wanita itu segera pergi menjalankan perintah.
Kurapika duduk di kursi dekat kakaknya dengan perasaan tidak tenang. Kakinya bergerak gelisah.
"Sarapan dulu, mau belajar harus ada energi," kata pria itu sambil menyodorkan sepiring sandwich.
Kurapika menggeleng. "Nanti saja."
"Makan."
"Kakak, aku sudah mau telat!"
Kuroro menghela napas. "Ann, masukkan sandwich ini ke kotak bekal. Tuangkan juga teh ke dalam termos minum Kurapika."
Seorang pelayan wanita paruh baya segera melakukan perintah majikannya. Dalam sekejap sebuah kotak bekal dan termos sesuai pesanan sudah dimasukkan ke dalam tas kecil dan siap dibawa.
"Kalau tidak mau makan sekarang, makan di mobil dalam perjalanan. Sebelum sampai di sekolah sudah harus habis," ujar Kuroro pada adiknya. Kurapika menatap sepasang bola mata hitam kelam itu, saat nada bicara kakaknya sudah seperti itu berarti sudah tidak boleh ditawar lagi.
Mary datang membawa mantel seragam sekolah Kurapika yang berwarna biru dongker dan sarung tangan berwarna cream. Kurapika segera mengambil mantel dan sarung tangannya, memakainya dan mengucapkan terima kasih pada Mary. Gadis itu meraih tas kecil berisi sarapannya dan mengecup pipi kakak laki-lakinya.
"Aku pergi!" Pamitnya.
Tangan pria itu baru saja mau mengelus kepala Kurapika, namun gadis itu secepat kilat sudah berlari ke luar rumah.
Ann tertawa kecil. "Nona Kurapika kalau sudah mau terlambat pasti panik sekali. Dengan berlari selincah itu, kurasa kakinya yang tersiram air panas semalam sudah baik-baik saja."
Kuroro menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar. Pria itu meraih koran yang tergeletak di meja makan, membacanya dan melanjutkan sarapannya yang tertunda dengan tenang.
Senritsu, dengan segenap hatinya, mencoba memberanikan diri mengungkapkan apa yang selama ini ada di benaknya. Ketika itu siang hari di sekolah, jam istirahat makan siang. Dirinya dan Kurapika sedang menyantap makan siang mereka di kafeteria sekolah.
"Kurapika…" panggil Senritsu.
Gadis berambut pirang yang sedang asyik mengunyah itu balas menatap sahabatnya. Karena mulutnya penuh dengan makanan ia hanya merespon dengan memiringkan kepalanya.
"Aku mau bertanya sesuatu…"
Kurapika menelan makanan di mulutnya. "Tanya apa, Senritsu?"
"Ehm…" Senritsu sedikit meragu, tapi dia kembali memberanikan dirinya. "Kakakmu… maksudku, kakak laki-lakimu itu…"
"Kak Kuroro? Kenapa dengannya?" tanya Kurapika.
"Begini… kita sudah lama berteman, kan? "
"Tentu saja, Senritsu. Sudah dari kelas 1 SMP," jawab gadis berambut pirang itu dengan riang. Ia masih ingat ketika ia dan Senritsu bertemu di perpustakaan sekolah pada hari pertama masuk sekolah. Rupanya mereka sekelas dan persahabatan mereka berlanjut semenjak saat itu. Namun, sepertinya bukan itu yang ingin dibahas Senritsu. "Lalu kenapa?"
"Aku… mau bertanya kalau… kuharap kau tidak tersinggung. Sungguh, aku…"
"Senritsu," potong Kurapika. "Ayolah, tanyakan saja. Kita sudah lama kenal, tanyakan saja apapun padaku."
Senritsu meletakkan sendok dan garpunya di piring, lalu membetulkan posisi duduknya. Wajahnya tampak serius. "Kurapika… apakah keluargamu… hanya berdua dengan kakakmu?" tanyanya. Akhirnya.
Kurapika diam sejenak. "Hmm… ya. Kau tahu, sebelum masuk SMP aku mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuaku. Mereka berdua meninggal di tempat. Jadi sekarang aku tinggal berdua dengan kakakku. Aku yakin aku sudah menceritakan hal ini padamu."
"Iya, aku tahu itu… tapi…" Senritsu memberi jeda. Butuh keberanian yang lebih besar untuk menanyakan pertanyaan berikutnya. "Kurapika, apa kau ingat kedua orang tuamu?"
Gadis berambut pirang itu terdiam. Kedua bola mata birunya menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Senritsu… mungkin aku belum pernah mengatakan bagian ini kalau…" Kurapika memelankan suaranya, memastikan bahwa hanya dirinya dan Senritsu yang mendengar percakapan mereka di kafeteria yang ramai itu. "…aku, setelah kecelakaan itu, mengalami luka parah. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa, yang kuingat hanyalah hidupku sudah tinggal berdua dengan kakakku. Aku diceritakan oleh kakakku tentang apa yang telah terjadi, bahwa aku mengalami koma berhari-hari dan gegar otak," ungkapnya.
Senritsu serius mendengarkan fakta yang baru diketahuinya itu.
"Maaf, Kurapika. Boleh aku bertanya lagi?"
Gadis itu tidak terlalu suka membahas masa lalunya, namun karena ini sahabatnya, jadi ia membiarkannya saja. "Tentu."
"Apa kau dan kakakmu itu… sungguh-sungguh kakak-adik?"
Hening sejenak.
Senritsu menatap Kurapika dengan cemas. Takut pertanyaannya itu menyinggung perasaan sahabatnya, namun ia merasa bahwa hal ini benar-benar perlu diklarifikasi.
Beberapa saat kemudian gadis berambut pirang itu tertawa. "Aku mengerti kalau kami sama sekali tidak mirip. Mata dan rambut kakakku bewarna hitam, sementara aku berambut pirang dan mataku berwarna biru. Hidung, mulut, raut wajah kami juga tidak ada yang mirip. Bahkan kau yang sahabatku saja meragukannya!" Kurapika tertawa lagi. Secara fisik, ia mengakui kalau dia dan kakak laki-lakinya itu sangat berbeda.
"Tapi, kuharap kau tidak perlu mengkhawatirkannya," lanjut Kurapika. "Golongan darah kami sama, yah, meskipun mungkin tidak bisa dijadikan bukti paling efektif. Tapi akte kelahiranku, kartu keluarga kami, jelas-jelas menunjukkan bahwa aku dan dia adalah keluarga. Kurasa tidak perlu repot-repot melakukan tes DNA, memangnya ini semacam kisah drama?" Gadis berambut pirang itu tertawa kecil, lalu menggenggam tangan sahabatnya. Meyakinkannya.
"Aku tahu, Senritsu. Kau tidak terlalu menyukai kakakku itu. Tapi kami memang bersaudara, dan kakakku tidak pernah melakukan hal-hal yang dapat menyakitiku. Aku paham kau khawatir, tapi yakinlah bahwa kakakku itu sayang padaku. Aku juga menyayanginya." Kurapika melepaskan genggamannya dan duduk bersandar di kursinya. Berharap percakapan ini segera berakhir.
"Kurapika, kau… kau adalah sahabatku yang terbaik. Kau percaya bahwa aku mampu mendengar irama jantung, sesuatu yang sangat tidak logis. Bahkan aku bisa dianggap tidak waras, tapi kau mempercayainya dan tidak menganggapnya lawakan. Meskipun kemampuanku itu sangat samar, tapi aku yakin. Dan… dan kurasa… ada yang salah dengan… dengan kakak laki-lakimu itu…" Senritsu berkata dengan terbata-bata di akhir, perasaannya semakin gusar.
"Salah bagaimana, Senritsu?"
"Mungkin… mungkin saja kalau, ini hanya misalnya… misalnya Mister Kuroro bukan kakakmu dan… dan mungkin saja dia mengarang semua cerita itu…"
"Senritsu!" Kurapika memotong dengan suara meninggi. Namun untungnya, tidak cukup keras untuk menarik perhatian seisi kafeteria. Bola mata birunya mengilat.
"Kau sahabatku, Senritsu… tapi…" Kurapika menggigit bibirnya menahan amarah. "Aku tetap tidak suka. Tidak boleh… tidak seorangpun boleh mengatakan hal buruk tentang orang yang kusayangi!"
Kemudian gadis berambut pirang itu berdiri, secepat mungkin meninggalkan mejanya dan keluar dari kafeteria sekolah. Tidak sedikitpun ia menggubris panggilan Senritsu yang mengejar di belakangnya. Bel masuk pun berbunyi. Kurapika telah sampai duluan di kelas dan duduk di bangkunya. Ketika Senritsu mencapai pintu kelas dan hendak langsung menuju ke bangku sahabatnya, guru telah datang. Terpaksa Senritsu mengurungkan niatnya dengan kecewa.
Bel pulang sekolah berdentang nyaring. Tanpa banyak basa-basi guru yang sedang mengajar menyudahi pelajaran sejarah hari itu, dan keluar kelas setelah memberikan tugas rumah untuk para muridnya. Gadis berambut merah itu segera membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Namun ketika gadis itu telah selesai, sahabatnya sudah tidak ada di bangkunya. Ia segera beranjak dan keluar dari kelas.
Senritsu mencari-cari sosok gadis berambut pirang itu, lalu ia menemukan gadis itu di ujung lorong, hendak menuruni tangga. Senritsu langsung mengejarnya.
Kurapika terus berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Ia sengaja memilih jalur memutar dan jarang dilewati orang untuk sampai ke gerbang depan. Sekolahnya cukup luas untuk melakukan itu. Jika seandainya Senritsu mengejarnya, maka ia berharap sahabatnya itu tidak menemukannya. Ia sedang kesal, sangat kesal.
"Kurapika!"
Dugaannya meleset. Senritsu berhasil mengejarnya dan menangkap tangannya, menahan Kurapika berjalan lebih jauh. Nafas gadis berambut merah itu terengah-engah.
"Kurapika… aku…"
Kurapika melepaskan tangannya dari cengkraman Senritsu. Sedikitpun ia tidak menoleh ketika bertanya,
"Ada apa?"
"Kurapika… lihat aku."
"Katakan saja apa maumu."
"Kurapika, kumohon lihat aku!"
"Tidak! Aku pergi sekarang!"
Belum sempat Kurapika melangkah, Senritsu sudah berlari ke hadapannya dan memeluknya dengan erat.
"Kurapika! Kumohon dengarkan aku!" Senritsu berkata dengan suara seperti menahan tangis.
"Aku… aku tidak bermaksud membuatmu kesal… tapi… tapi aku tadi hanya… hanya menyatakan apa yang selama ini mengganggu pikiranku… kupikir kita sahabat dan seharusnya aku tidak menyimpannya… aku tidak mau menyakitimu. Makanya… aku minta maaf, aku sungguh-sungguh… minta maaf…" isak Senritsu.
Kurapika diam mendengarkan penjelasan sahabatnya. Dengan Senritsu yang memeluk dirinya dan mendengar isakannya, luluh sudah hatinya. Mencair sudah semua amarahnya. Bagaimanapun, Senritsu adalah sahabatnya dan dia takkan tega melihat gadis itu menangis. Senritsu juga termasuk orang yang sangat disayanginya.
Pelan-pelan ia balas memeluk Senritsu. Sejenak kemudian mereka berdua sudah berpelukan erat.
"Tidak apa-apa," kata Kurapika. "Seharusnya aku tidak marah padamu, kau sudah jujur padaku. Maafkan aku…"
"Tidak, Kurapika. Sudahlah. Kita lupakan saja semua ini, ya?" tanya Senritsu.
Gadis berambut pirang itu mengangguk. Keduanya mempererat pelukan mereka, lalu melepaskannya. Kedua gadis itu saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain.
"Sahabat selamanya?"
"Sahabat selamanya!"
Lalu kedua sahabat itu tertawa bersama.
Hujan masih betah di awan. Tidak sedikitpun rintiknya jatuh di kota London malam itu. Api dari perapian berkobar hangat. Sebuah cara yang cukup tradisional untuk menghangatkan diri di malam yang cukup dingin itu. Lampu besar di ruangan itu mati, meninggalkan suasana yang redup hanya diterangi oleh api dan lampu baca.
Di sebuah kursi malas yang empuk, duduklah seorang pria tampan berambut hitam. Hari yang cukup santai baginya, masuk kerja pukul sembilan pagi dan pulang pukul lima sore. Tanpa ada rapat hingga larut malam, proyek yang menyita waktu, ataupun undangan makan malam. Mata onyx-nya menulusuri lembar demi lembar buku yang sedang dibacanya. Sesekali ia memandang ke bawah, dekat dengan perapian, di atas karpet tebal berbulu itu ada seorang gadis manis duduk tenang dengan bersandarkan bantal-bantal besar. Diterangi oleh cahaya api, rambut pirang panjangnya terlihat sedikit kemerahan. Mata birunya serius membaca buku di tangannya. Malam yang santai dan menyenangkan.
Bunyi ponsel berdering.
Kuroro mengambil benda elektronik yang bergetar di meja kecil di dekatnya, lalu beranjak dari kursi untuk menjawab telepon.
Gadis berambut pirang itu memberi batas pada buku dan menutupnya. Ia melirik kakak laki-lakinya yang sedang berdiri agak jauh darinya, menjawab telepon entah dari siapa. Lalu ia berpaling memandangi perapian. Melihat api yang memercik. Tiba-tiba gadis itu teringat dengan percakapan dengan kokinya, Mark, tadi sore sepulang dari sekolah.
"Mark, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu, nona."
"Api di kompor semalam itu… apakah membesar?"
"Maksud nona?"
"Api di kompor semalam, setelah aku menjatuhkan ceretnya, apakah api itu membesar dan berkobar?"
"Tidak, nona. Apinya biasa saja. Lagipula setelah nona menjatuhkan ceret, saya secepat mungkin mematikan api di kompor itu. Ada apa, nona?"
"Oh, tidak. Aku hanya bertanya. Hmmm… Mark? Apa rumah ini pernah kebakaran?"
"Setahu saya tidak, sejauh saya bekerja di rumah ini."
"Begitu, ya… baiklah, terima kasih, Mark. Maaf pertanyaanku aneh."
"Tidak, nona. Tidak apa-apa."
Gadis itu masih termenung dalam lamunannya. Api di perapian itu lebih besar daripada api di kompor. Tapi entah kenapa dia tidak merasakan apa-apa. Tidak seperti apa yang dirasakannya semalam. Perasaan aneh, rasa panas, rasa takut dan kengerian itu… ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Namun, ia terus memandangi perapian. Melihat api yang berkobar di depan matanya itu, rasanya ada sesuatu yang terlupakan.
"Kurapika."
Gadis itu menoleh. Kakak laki-lakinya tengah berjalan kembali ke kursi malas.
"Kau melamun?" tanyanya.
Kurapika hanya menggeleng lalu tersenyum. "Dari siapa, kak?"
Kuroro meletakkan ponsel ke atas meja. "Kantor," jawabnya singkat. Pria itu duduk di kursi malasnya lagi dan meraih bukunya.
Kedua mata biru Kurapika terpaku pada kakak laki-lakinya. Menyadari hal itu, Kuroro bertanya, "Ada apa, Kurapika?"
Merasa dipergoki, Kurapika menggelengkan kepalanya salah tingkah. Ia mencoba mengalihkan perhatian tapi percuma, pria itu diam menunggu dirinya mengatakan hal yang sebenarnya.
"Ehm… kakak?" kata gadis itu ragu-ragu.
"Ya?"
"Boleh aku bertanya?"
"Apa?"
Kurapika memberi jeda sejenak. "Kak… Ayah dan Ibu kita… seperti apa?"
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Tidak biasanya adik perempuannya ini menanyakan tentang orang tua mereka. Terakhir kali ia mengingat Kurapika menanyakannya adalah ketika gadis itu masih kecil, tidak lama setelah ia sembuh dari luka parah karena kecelakaan.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang ini?"
"Aku…" Kurapika kebingungan memilih alasan. "…hanya ingin tahu."
Diam sejenak, barulah Kuroro membalas dengan pertanyaan baru. "Kurapika, kau merindukan mereka?"
Hening lagi. Gadis itu terdiam memandangi kakaknya, tepat di kedua bola mata onyx-nya yang tenang. Rindu? Selama ini yang ada dalam ingatannya adalah ia tinggal berdua dengan kakaknya. Kakak laki-lakinya itu telah memberikan semua yang ia butuhkan, kasih sayang, perhatian, makanan, pakaian, sekolah, buku, semuanya. Namun, barangkali Kurapika, tanpa disadarinya tetap tidak akan mampu melupakan bahwa ada orang tua yang melahirkannya ke dunia.
"Mungkin," jawab gadis itu.
Kedua bola mata onyx itu tetap tenang dan dalam. Kurapika tidak bisa menebak apa yang ada di dalamnya. Gadis itu diam menunggu. Lalu Kuroro berkata,
"Kurapika, apakah aku saja tidak cukup untukmu?"
Deg.
Hati gadis itu serasa mencelos. Tidak pernah sekalipun ia mendengar kakak laki-laki yang sangat disayanginya itu berucap dengan nada sesedih itu. Terdengar sangat berat dan getir. Kurapika terdiam beberapa saat. Ia merasa telah membuat kesalahan paling buruk yang pernah ia lakukan. Oh, apa yang telah ia katakan? Kakaknya telah mengurusinya sendirian bertahun-tahun semenjak kecelakaan itu terjadi. Dia dan kakaknya sama-sama kehilangan orang tua mereka, biar begitu kakaknya tetap tegar bahkan membiayai kehidupan mereka berdua tanpa kurang satu apapun.
Dan kini Kurapika menanyakan tentang orang tua mereka, mungkinkah itu membuka luka lama?
Kurapika sungguh merasa sangat bersalah. Ia beranjak dan berlari memeluk kakaknya dengan erat.
"Kakak adalah semua yang kuperlukan," katanya. "Maaf…"
Kuroro membalas pelukan erat itu, lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Ini sudah malam. Saatnya kau tidur," kata Kuroro.
Kemudian pria itu melepaskan pelukan adiknya dan berdiri. Kurapika mengikuti kakaknya yang berjalan menuju kamar di lantai atas. Ketika telah sampai di depan pintu kamar Kurapika, Kuroro hanya mengusap kepala gadis itu sekilas dan berkata,
"Selamat tidur."
Lalu pria itu lanjut berjalan menuju kamarnya yang berdekatan dengan kamar Kurapika. Gadis itu hanya diam menatap punggung sang kakak yang menghilang di balik pintu kamarnya. Tidak biasanya Kuroro tidak menemani Kurapika masuk ke dalam kamar dan memastikan gadis itu telah berbaring dengan nyaman di kasur. Kurapika masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan sedih. Sementara malam itu, dalam kelam matanya dan dingin raut wajahnya, Kuroro menyimpan kegusaran di hatinya.
OoO
A/N
yuhuuuu i'm back with a new chapter!
agak produktif ya akhir2 ini hahaha
ini balesan untuk reviewerku tercintah :*
Roya Chan : hehehe iya nih kemaren lama ya update-nya. uuups rahasia perusahaan :p ntar pelan-pelan terungkap semua deh seiring ceritanya berjalan hehehe :D iya doakan saja wb itu jauh2 dari hidupku!
rodessalorenzo : i'm sorry, i'm not sure this fanfic could be translated in the future or not. because now i'm focusing on finishing this story first. i dunno if maybe there's someone out there wanna be a volunteer to translate this fic :s let's hope together this fic could have an english version someday :D
aeon zealot lucifer : noooo kuroro hanya mau manjain kurapika :x hihihi. iyaaaa semangaaaat!
makasih makasih makasiiih banget yg uda review, kalian energi buat aku lanjutin cerita ini :D
yosh, author sudah mengantuks. tidak bisa ngebacot lebih banyak lagi hahahahahaha /udahtidursana.
see you in the next chapter!
eits, wait, leave any review maybe? :D
