Chap 6
.
.
.
.
.
Enjoy~
.
.
.
.
.
Terdengar suara denting piring dan sendok yang beradu memenuhi ruangan megah nan nyaman yang digunakan hanya untuk menyantap makan pagi, siang, dan malam itu. Tidak ada percakapan sama sekali, seorang yeoja paruh baya sibuk memakan makanannya dengan tangan sebelah kiri yang sibuk mengotak atik sebuah karya dari kemajuan teknologi, sangat berbeda dengan dua orang namja berbeda generasi yang terlihat sangat fokus dengan makanannya.
"Ehem," suara bass terdengar seakan ingin memecah keheningan, terbukti dengan dua orang lain yang berada di meja makan langsung mengalihkan pandangannya.
"Jaejoong-ah, appa ingin membicarakan soal pernikahanmu dengan Yunho." Ucap Mr. Kim setelah menelan habis makanannya.
"Bicaralah," jawab Jaejoong sedikit tidak bersemangat.
"Mungkin dalam waktu dekat ini appa akan mempersiapkan pernikahan kalian, appa sudah membicarakannya dengann umma-mu dan dia setuju saja." Jaejoong langsung menoleh pada umma nya itu. Yeoja itu hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum kecut.
"Baiklah, appa segerelah beri tahu Yunho soal itu." Jaejoong mengusap bibirnya menggunakan serbet.
"Lebih baik kau yang memberi tahunya, agar kalian lebih de-"
"Tidak, aku tidak mau." Potong Jaejoong.
"Kenapa tidak?"
"Dengar appa, ini semua adalah rencana appa. Menikahkanku dengan pekerja appa yang sangat appa sukai itu. Maka seharusnya appalah yang mengurus segalanya, mau sampai kapan aku harus berkenalan dengan Yunho? Aku pikir appa sudah menyiapkan pernikahnnya, dan aku tinggal menikah dengan Yunho meskipun aku tidak benar – benar mengenalnya. Jika memang appa menginginkan aku menikah dengannya, maka cepat katakan padanya bahwa aku dan dia akan segera menikah." Mr dan Mrs Kim terkejut dengan apa yang Jaejoong katakan. Mereka berpikir bahwa Jaejoong benar – benar ingin menikah dengan Yunho.
"Baiklah, aku akan berbicara pada Yunho secepatnya kau tinggal menyiapkan mentalmu. Aku berjanji pernikahan ini akan tetap berjalan apapun yang terjadi, aku mempercayainya, aku merasa aku akan sangat berterima kasih padanya nanti."
.
.
.
Dua orang namja sedang asyik memandangi indahnya air mancur hasil karya arsitek yang cukup ternama itu, sesekali namja berwajah imut meniupkan gelembung yang dibelikan oleh namja tampan kesayangannya.
"Hyung, bagaimana kabar Jaejoong hyung?" tanya namja imut itu tiba – tiba.
"Huft, entahlah Junsu-ah. Mungkin ia marah padaku," senyum lirih nampak di wajah namja yang disebut hyung itu.
"Yunho-hyung ~~~ mengapa kau berpikiran seperti itu?"
"Di hari saat kita makan bersama, dia pulang begitu saja, pada malam harinya hyung terus menghubunginya tapi tidak ada jawaban sama sekali. Hyung tidak berani untuk datang ke rumahnya, meskipun hyung sangat ingin meminta maaf padanya. Sekarang sudah seminggu, ia masih belum menjawabnya."
Junsu mengusap usap lembut bahu Yunho. Ya, setelah kejadian itu mereka sudah tidak berhubungan lagi. Yunho pikir mungkin Jaejoong marah, atau ia akhirnya sadar bahwa Yunho bukanlah apa – apa dibanding dengannya dan meminta Mr. Kim untuk membatalkan pernikahnnya. Mengapa Yunho terlihat kecewa, bukankah sebenarnya itu yang dia inginkan. Entahlah...
"Hyung, mari kita bertemu Jaejoong-hyung!" ucap Junsu dengan semangat.
"Hahaha, bagaimana bisa. Hyung sudah menghubunginya beberapa kali tapi tidak mendapat balasan, itu artinya dia sudah membenci hyungmu ini." Yunho mencubit pipi Junsu gemas.
"Huft, hyung lihat saja nanti."
Junsu beranjak pergi meninggalkan Yunho. Yunho hanya menatapnya bingung, lihat apanya? Pikirnya.
.
.
4 days later
Tok Tok Tok
"Masuk," perintah seseorang di dalam. Seseorang yang diperintahkan untuk masuk itupun membuka pintu lalu menghampiri namja cantik yang sedang sibuk dengan dokumen di tangannya.
"Sajangnim, ada yang ingin menemui anda."
"Siapa?" tanyanya dan segera menyimpan dokumen tersebut di atas meja.
"Wajahnya sangat lucu, mungkin ia seorang pelajar SMA dan ia mengatakan namanya Jung Junsu."
Jaejoong membelalakan matanya, Junsu? Calon adik iparnya itu? Aish apa yang aku pikirkan, batin Jaejoong.
"Aku akan menemuinya sekarang, di mana dia menunggu?"
"Di lobi, Sajangnim" jawabnya sopan.
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang."
.
"Junsu-ah!"
"Hyuuung," Junsu yang tadinya sedang duduk di sofa lobi segera berlari menghampiri Jaejoong dan memeluknya.
Jaejoong tertawa kecil dan membalas pelukan Junsu sambil mengelus rambutnya lembut.
"Apa kabar adik kecil?" tanya Jaejoong setelah melepas pelukannya.
"Hyuung~ aku bukan adik kecil. Aku sangat merindukanmu hyung" Rajuk Junsu lucu, membuat Jaejoong gemas melihatnya.
"Aku juga adik kecil, ada apa menemuiku?"
"Aku hanya rindu padamu dan ingin bertemu dengan orang yang lebih cantik dari Jun Jihyun dan aku..." kalimat Junsu terpotong oleh suara perutnya sendiri yang terdengar bahwa ia sangat lapar.
"Hahaha, kau pasti belum makan siang kan?" Junsu mengangguk meng-iyakan, "Kalau begitu kita makan siang sekarang, hyung berjanji makanan di sana sangat enak." Lanjut Jaejoong.
"Eung!" Junsu mengangguk anggukan kepalanya.
Jaejoong merasa rasa lelahnya seakan hilang terbawa angin, Junsu memang moodbooster nya untuk saat ini. Yunho sangat beruntung memiliki Junsu. Aaah Yunho? Apa kabar namja tampan itu? Mungkin Jaejoong harus menanyakannya pada Junsu.
.
At Restaurant
"Hey anak kecil, bagaimana kau bisa tahu tempatku bekerja?" tanya Jaejoong dengan nada meledek.
"Ish, kau menyebalkan hyung. Aku menanyakannya pada Yoochun-hyung, hyung mengenalnya kan?"
"Park Yoochun maksudmu?" Junsu mengangguk sebagai jawaban, "Ah, ya aku mengenalnya." Lanjut Jaejoong.
"Tentu saja kalian saling kenal, kalian berdua adalah orang – orang hebat!" puji Junsu semangat.
"Kau juga orang hebat Junsu-ah, kau masih bisa seceria ini meskipun kau harus menderita penyakit menyebalkan itu."
Junsu tertawa mendengarnya, "Kau benar hyung, aku juga orang hebat. Tapi orang terhebat di dunia ini adalah Yunho-hyung, tidak ada yang bisa mengalahkannya."
Yunho Yunho Yunho, Junsu membuat Jaejoong memikirkan namja itu lagi.
"Kau benar hyung, makanan di sini sangat enak!" ucap Junsu dengan penuh semangat. Jaejoong yang sempat melamun langsung tersadar olehnya.
"Hahaha, mana mungkin hyung berbohong." Jaejoong mengacak rambut Junsu gemas.
"Suatu saat nanti, aku harus kemari dengan Yunho-hyung. Ia harus merasakan makanan enak di sini."
Jaejoong tertegun, Yunho. Ia harus menanyakan kabar Yunho, bisa dibilang Jaejoong merindukannya meskipun masih ada ego di dalam hatinya.
"Bagaimana kabar hyung mu Junsu-ah?" tanya Jaejoong.
"Dia sangat baik, tetapi dia sedang lelah akhir – akhir ini dan sepertinya terserang flu. Ini semua karena aku," Junsu menundukan wajahnya.
"Hey, apa maksudmu?"
"Yunho-hyung bekerja mati – matian selama seminggu ini untuk membayar cuci darah yang aku jalani. Aku memang menyusahkan," sesal Junsu.
"Kau tidak menyusahkan sama sekali, Yunho melakukan itu karena ia sangat sayang padamu Junsu-ah." Jaejoong mencoba menghibur Junsu.
"Aku harus membelikannya vitamin sebagai permintaan maaf,"
"Apakah flu nya sangat parah?" tanya Jaejoong.
Junsu berpikir sebentar sebelum senyum nakal terpancar di wajahnya.
"Ya, cukup parah. Semalam juga ia demam, aku ingin membawanya ke dokter tapi ia selalu menolak. Bantulah aku hyung," Junsu mengeluarkan jurus puppy eyes nya pada Jaejoong.
"Ne, kita ke sana sekarang. Kita kembali ke kantor lalu kita pulang ke flat mu, okay?"
"Aye aye captain!"
Junsu bisa melihat kekhawatiran terpancar di wajah Jaejoong, Junsu yakin sebenarnya mereka sudah tertarik satu sama lain tapi mereka masih terus mencoba menyangkalnya.
.
.
.
"Hyuuuung, aku pulaaaaaang!" ucap Junsu. Junsu tahu hyung nya itu sedang berada di dapur, terdengar dari suara minyak panas yang baru saja di masukan sesuatu.
"JUNG JUNSU," teriak Yunho dari dapur, ia tidak bisa meninggalkan masakannya. "Jung Junsu kau sudah berani membohongi hyung, kau bilang kau pergi mengunjungi Yoochun tapi hyung tadi melihat Yoochun sedang bertemu client nya. Sebenarnya kau pergi ke mana Jung Jun...su... Jaejoong-ah..." Yunho yang hendak menghampiri Junsu dan mengomelinya itu terkejut dengan kehadiran Jaejoong.
"Hi Yunho,"
"Eum, hi."
"Hihihihi, kalian sangat lucu seperti orang asing saja." Jaejoong dan Yunho tersenyum canggung mendengarnya.
"Junsu bilang kau sedang sakit?" tanya Jaejoong canggung.
"Ne, tapi aku sudah merasa lebih baik. Buktinya aku sudah memasak," jawab Yunho dengan senyum terpancar di wajahnya.
"A-ah syukurlah,"
"Eum, hyungdeul sebaiknya kalian duduk dan selesaikan masalah kalian."
Yunho dan Jaejoong menatap satu sama lain, sebenarnya ini bukan masalah besar. Tapi memang harus mereka selesaikan, ditambah Jaejoong harus menyampaikan pesan appanya untuk menyuruh Yunho menemuinya di kantor.
"Ayo, duduklah. Aku akan ambilkan kalian minum," lanjut Junsu.
Jaejoong dan Yunho duduk di sofa tua milik Yunho, keadaan cukup canggung mereka bingung harus memulainya bagaimana.
"Aku minta maaf Jaejoong-ah, mungkin kalimatku waktu itu tidak mengenakan untukmu."
"Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak bersalah Yunho, aku juga tidak tahu mengapa aku mengatakan seperti itu dan langsung pulang begitu saja." Jelas Jaejoong.
"Ah, kita lupakan saja." Yunho tertawa canggung.
"Melupakan perjodohannya?"
Yunho menatap Jaejoong kaget, "Tidak, maksudku soal kemarin."
"Jika kau ingin membatalkan perjodohan ini katakanlah pada appaku, beliau menyuruhku untuk memintamu menemuinya besok lusa. Tapi asal kau tahu Yunho, beliau sudah mempersiapkan segalanya."
Yunho terkejut bukan main, dari kalimat Jaejoong dan nadanya terdengar sangat jelas bahwa tidak seharusnya Yunho menolak perjodohan ini karena appanya sudah menyiapkan segalanya.
"Baiklah, aku akan menemui Presdir Kim."
"Tolong jangan mengecewakannya," pinta Jaejoong.
"Baiklah, tetapi berikan aku jawaban. Apakah kau menerima pernikahan ini karena kau mengasihaniku?"
"Tidak, tidak sama sekali. Aku adalah anak yang cukup pemberontak, aku bisa saja menolak, Yunho-ah. Rasanya aku tidak butuh pasangan hidup karena aku sudah sukses sekarang, artinya aku juga tidak butuh bantuan orangtuaku karena aku sukses karena hasil keringatku sendiri. Tetapi itu berubah, saat kau-orang lain yang tidak aku kenal, bukan keluargaku ataupun sahabatku memberikan perhatian padaku. Di situ aku mulai merasa bahwa aku membutuhkan pasangan hidup, yang akan terus ... mencintaiku." Jawab Jaejoong.
Yunho tertegun, keheningan melanda mereka berdua. Sampai...
"Apakah itu artinya, kau mencintaiku?"
"Aku belum bisa menjawabnya, tetapi aku tertarik padamu Yunho-ah. Kita bukan anak muda lagi yang membutuhkan waktu lama untuk yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk hidupmu. Lalu... bagaimana denganmu? Perasaanmu?" Jaejoong menatap Yunho yang terlihat bingung untuk menjawabnya.
"Kau benar, kita bukan anak muda lagi yang membutuhkan waktu lama untuk itu. Tapi tetap saja, kita memang tidak bisa melihat apakah orang itu pantas untuk kita dalam waktu singkat."
Jaejoong menatap Yunho sendu, tanpa Yunho beritahu pun ia sudah mengetahuinya.
"Tapi itu berbeda saat denganmu Jae. Aku mencintaimu."
TBC
A/N : maaf updatenya lama banget, karena aku newbie jadi masih selalu ilang mood dan ide yang pas buat nulis. Tapi aku gak akan ninggalin tanggung jawab, meskipun ficnya masih jelek aku masih pengen ada yang baca dan ngasih saran buat aku ^^ maaf juga chap kali ini sedikit, aku pengen setidaknya aku update dulu tapi aku janji nanti akan diperpanjang di next chapter. Aku juga bakal jelasin kenapa dan kapan Yunho mulai sadar dia suka sama uri umma. Makasih buat yang udah review dan ngasih kritik dan sarannya. Love you guys ~~~~ #curcol LOL
Special Thanks for littlecupcake noona yang udah nyadarin aku masih punya utang fics ^^ /bow/
