Uzushiuogakure adalah sebuah desa yang menutup dirinya dari desa desa lain di dunia Shinobi. Mereka hanya membuka ikatan dengan desa kerabat mereka, yakni Konohagakure. Namun hal tersebut berubah ketika seorang Uzukage (pemimpin desa Uzu) muda naik menjabat menjadi yang keempat. Anak muda yang beru berusia 24 tahun tersebut adalah seorang prodigy Uzumaki yang terkenal dengan penguasaan sepuluh Sumi-kyō dan keahlian Fuinjutsu yang hebat. Yondaime Uzukage muda yang memiliki kharisma tinggi, tenang, ramah, baik terhadap semua orang serta dikenal sangat pandai dalam bertarung itu bernama Uzumaki Naruto.

Naiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta memprediksikan kematian seseorang. Naruto yang mengunjungi Negara tersebut pertama kali langsung jatuh hati begitu bertemu dengan sang Ratu dalam sebuah jamuan yang mewah. Pertemuan dua hati yang suci pun terjadi, dengan hidupnya gerbang Saiken yang berada di wilayah barat Uzushiogakure, sang Uzukage pun datang melamar Ratu dari Negara Iblis, dan lamaran tersebut diterima dengan rasa cinta yang besar.

Dua pemimpin menyatu, namun kekuatan keduanya yang besar membuat takut desa desa Shinobi lainnya, dan akan menjadi awal dari sebuah bencana untuk Uzushiogakure..

Uzushiogakure telah hancur, namun sang Uzukage tetap berusaha bangkit demi kebangkitan desa dan cinta sucinya. Uzumaki Naruto secara heroic menaklukkan 5 desa besar, mengumpulkan orang-orangnya dan kembali memeluk istrinya dalam kehangatan.

Kedua pemimpin itu kembali bersatu, dan kekuatan keduanya mengalahkan desa desa Shinobi lainnya, dan menjadi awal dari kebangkitan untuk Uzushiogakure!

Naruto by Masashi Kishimoto

The Uzukage Hiden: Princess from Land of Snow by Doni Ren and Icha Ren

(Based The Uzukage main story)

This Story for Naruto Lovers, and for Anella Gathra

Pairing : NaruShion

Rate : T+

Genre : Adventure, Romance

Warning : Typo, Abal abal, Gajeness, Kacau, Tata Kata Aneh Aneh, OOC, DLL

Normal POV

Strong n Smart!Naru

Older!Naru

Older!Shion

.

.

.

Summary: Shion mendapatkan dua tiket untuk menonton Film The Adventure of Princess Gale secara mengejutkan. Mengajak suaminya, Yondaime Uzukage, keduanya menonton serial Film terfavorit di Negera Api tersebut dengan artis terkenal Fujikaze Yukie. Keduanya tidak tahu akan terbawa konflik Negeri Salju, sebuah negeri yang menantikan musim semi namun tak kunjung datang.

Cerita ini bersetting 1 tahun 5 bulan pasca insiden penghancuran Uzu 17 Oktober lalu.

Chapter 6: Akimichi Chouza

Ibukota Yuki no Kuni dikelilingi oleh 7 pegunungan salju dimana celah antara Gunung Shimiri dan Gunung Akimori yang besar menjadi gerbang masuk ibukota tersebut. Seperti Ibukota sebuah negeri kecil, Ibukota Yuki no Kuni memiliki perekonomian menengah ke atas. Komoditas utama dari negeri ini adalah wisata dan pertambangan. Sebagai negeri yang selalu dilingkupi musim salju, negeri Yuki membuat orang-orang dari Negara lainnya tertarik datang ke Yuki untuk melihatnya secara langsung. Pertambangan perak dan berlian menjadi komoditas utama negeri ini, selain bijih nikel yang berada di desa tersembunyi Yuki sendiri. Pertambangan perak berpusat pada sisi barat Gunung Shimiri sedangkan pertambangan berlian tersebar di luar pegunungan yang mengelilingi ibukota. Hal tersebut menjadikan pemerintahan Yuki no Kuni memiliki simpanan sumber daya alam yang luar biasa untuk mengembangkan teknologi mereka. Tidak salah hal tersebut menjadi salah satu alasan Dotou ingin merebut kekuasaan abangnya. Glory and Gold…hal itu membuat Dotou rela membunuh saudaranya sendiri. Namun dia belum puas…isu tentang kalung hexagonal yang dititipkan Sotetsu kepada anaknya dan adanya meja dengan lubang hexagonal di belakang kastil membuat Dotou ingin mendapatkan lebih harta serta kekuasaan.

Naruto-istrinya bersama ninja Konoha dan kru Film Princess Gale memasuki ibukota melalui jalur yang berbeda. Para pasukan dan warga yang masih setia kepada Sotetsu-sama membuat jalur terowongan di sepanjang bawah pinggiran ibukota dan ujung terowongan itu sampai di gudang penyimpanan bar.

Bar tersebut milik salah satu warga yang masih setia kepada Sotetsu dan bar tersebut menjadi markas para pejuang penggulingan Dotou untuk menyusun rencana mereka. Bar tersebut cukup besar, bangunan dua tingkat yang terbuat dari papan serta terletak di dekat Gunung Dekino, gunung sebelah tenggara ibukota. Jalanan di depan bar ini cukup sepi dan hanya ada beberapa rumah warga saja. Rata-rata warga di dekat bar tersebut adalah pengikut setia Sotetsu dan masih tetap berharap kedatangan anak Sotetsu-sama sebagai pewaris sah penguasa Yuki no Kuni.

"Selamat datang di Bar Shiro Yuki. Saya dengar dari Sandayuu bahwa Yondaime Uzukage akan membantu kami menggulingkan rezim Dotou. Jujur…saya sangat senang mendengarnya," seorang pria tua dengan kepala botak dan kumis tipis menyambut mereka sambil tersenyum ramah. Dia berada di meja bar memakai kemeja putih, dasi kupu-kupu berwarna hitam dan celana kain hitam rapi. Kemeja putihnya ia masukkan ke celana hitamnya dan memakai ikat pinggang berkepala kotak berwarna perak. Dia sedang mengelap bibir gelas menggunakan kain putih bersih.

"Saya Hoshino Ro, panggil saja Ro-san. Saya pemilik bar ini. Senang berkenalan dengan anda…" Ro membungkukkan badannya kepada Naruto, lalu ninja-ninja Konoha "Dan suatu rasa terima kasih besar bahwa ninja-ninja Konoha masih mau membantu kami walaupun permintaan Sandayuu adalah hanya menjaga Koyuki-sama sebagai Fujikaze Yukie."

"Selain kami harus menyelamatkan teman kami Obito," Asuma duduk di kursi yang berada di depan meja panjang dan mengambil sekotak rokok dari kantong rompinya "Koyuki-sama juga sudah menjadi teman kami."

Ro tidak dapat untuk menahan rasa senangnya. Gai mengacungkan jempol dan menunjukkan kecemerlangan giginya, sementara Chouza ikutan duduk di samping Asuma sambil mengeluarkan sebungkus keripik kentang. Ro memandang Shion dan membungkuk sopan. Dia menebak wanita cantik di hadapannya ini adalah istri Yondaime Uzukage, dan Shion membalas ojigi ramah itu dengan sedikit menundukkan kepalanya tanpa ekspresi.

Suasana di bar begitu menyenangkan. Tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Semua yang ada di bar adalah para pejuang serta warga yang setia kepada Kazahana Sotetsu. Beberapa wanita segera menuju lantai atas bar untuk merawat pejuang yang terluka. Masing-masing orang membicarakan permasalahan ibukota, celah untuk menggulingkan pemerintahan Dotou, celah untuk membunuh Dotou dan celah untuk menguasai ibukota Yuki no Kuni. Semua pembicaraan tersebut mengingatkan Naruto akan sesuatu…

"Seperti Rebellion ya? Ah…aku jadi teringat saat berpetualang di Kiri." Gumam Yondaime Uzukage sambil menjetikkan gelas kacanya yang berisi jus jeruk soda tanpa es. Yondaime Uzukage tidak terlalu suka minum sake ataupun minuman beralkohol lainnya, dia menganggap bahwa minuman beralkohol bisa membuat fokusnya hilang dan dirinya tidak terlalu menyukai hal tersebut.

"Jadi, bisa ceritakan tentang situasi ibukota Yuki no Kuni dan kastilnya, Ro-san?" tanya Asuma sambil menjetikkan abu rokoknya ke asbak. Chouza dan Naruto menganggukkan kepala. Sementara Shion yang duduk di samping suaminya hanya memandang datar ke depan. Gai bersama Pak Makino menceritakan tentang Koyuki di sudut ruangan, dimana keduanya dikeliling para warga yang setia kepada ayah Koyuki dengan perasaan ingin tahu.

Ro menutup matanya dan meletakkan gelas kacanya ke meja. Dia melipat kedua tangannya di dada dengan wajah serius "Belasan tahun yang lalu ketika Sotetsu-sama berhasil dibunuh oleh Dotou, keseimbangan politik-sosial-ekonomi di Yuki no Kuni menjadi terguncang. Kekalahan Sotetsu-sama tentu saja karena Dotou yang menyewa ninja-ninja Yukigakure dan mengiming-imingi mereka dengan kekayaan. Tidak bisa disalahkan, kehidupan Yukigakure sebagai desa ninja terpencil di Negara kecil membuat mereka menerima tawaran Dotou…para pasukan Sotetsu-sama banyak yang tewas, sisanya ditangkap dan dijebloskan ke penjara bawah tanah serta pasukan yang berhasil lari menyembunyikan identitas mereka hingga menjadikan bar ini markas utama…"

"Apa-krauukk-semua ninja Yukigakure berpihak-kraukk-pada Dotou?" tanya Chouza, tentu saja dengan mulut mengunyah. Ro menganggukkan kepala.

"Itu-lah yang membuat perjuangan kami selalu gagal, bahkan sangat susah untuk mencapai dinding kastil itu sendiri. Ibukota Yuki selalu dimonitoring para ninja serta pasukan pengkhianat tiap hari, desa tersembunyi Yuki berada sekitar 50 Kilometer dari ibukota. Semua ninja Yuki memihak kepada Dotou karena tiga pemimpin mereka, Rouga Nadare…Kakuyoku Fubuki…dan Fuyukama Mizore, ketiganya menjadi pengawal setia Dotou. Pengaruh ketiganya menjadi alasan besar kenapa ninja-ninja Yukigakure bergabung bersama Dotou."

"Bagaimana dengan warga lainnya?" tanya Naruto kembali. Dia menegak jus jeruk sodanya dan memikirkan bahwa dirinya seperti sedang melakukan wawancara.

"Orang-orang keparat yang haus akan harta menjadi pengikut Dotou…" Sandayuu ikut 'nimbrung' pembicaraan tersebut. Semuanya melirik ke arahnya, terkecuali Shion. Sandayuu duduk di samping Chouza dengan wajah letih.

"Mereka tidak tahu bahwa Sotetsu-sama berusaha menjaga harta alam Yuki no Kuni agar tidak habis dan bisa digunakan untuk generasi selanjutnya…tetapi Dotou hanya memberikan sedikit sumber daya alam Yuki no Kuni kepada rakyat dan memgambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi…keparat itu," Sandayuu menghempaskan gepalan tangan kanannya ke meja "Keparat itu benar-benar harus dibunuh!"

Greekk…Yondaime Uzukage berdiri dari kursinya dan memegang lembut tangan kanan istrinya. Naruto tersenyum dan menganggukkan kepala.

"Aku setuju. Besok aku berencana melakukan pengintaian sebelum kita menyusun rencana penyusupan…" Naruto memandang sekelilingnya ketika semua warga dan pasukan setia Sotetsu memandang Uzumaki berambut merah jabrik itu "…Walaupun sebenarnya ini adalah masalah internal negeri kalian, mendengar pemimpin memuakkan seperti itu membuat darahku berdesir…"

Naruto memandang Sandayuu dengan tatapan menenangkan.

"Percayalah bahwa bunga musim semi akan tumbuh di tanah salju ini."

.

.

.

"Pidato yang lucu sekali."

"KAU MENGATAKANNYA DENGAN WAJAH DATAR, ISTRIKU!"

Naruto membaringkan tubuhnya di ranjang dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Mata birunya menerawang ke langit-langit. Shion duduk di tepi ranjang dan meletakkan tas Koyuki di dekat sebuah lemari yang berada di samping ranjang. Mereka mendapatkan sebuah kamar di ujung kanan tingkat dua bar. Ada dua ranjang di sana. Sebuah lemari di antara dua ranjang putih bersih serta cahaya lampu berwarna jingga di atas lemari. Di depan kaki ranjang ada meja panjang dengan sebuah vas bunga berbentuk kotak. Ada dua lukisan di kamar tersebut. Pertama lukisan wajah Sotetsu dan kedua adalah lukisan kastil Yuki no Kuni. Naruto memandang wajah Sotetsu di lukisan tersebut dan menghela napas perlahan.

"Apa yang akan kau lakukan besok?"

"Melakukan hal yang ninja lakukan."

"Fuuh…kau memang ninja, Uzukage-sama."

Naruto tersenyum tipis. Dia memiringkan tubuhnya dan memandang punggung istrinya. Sang Uzukage mengelus punggung itu dan membuat Shion duduk tegak karena terkejut.

"A-apa yang kau sentuh?!"

"Punggungmu…"

"Apa maksudmu?!"

"Bukan kenapa-kenapa-"

"Jangan sentuh sembarangan!"

"Memang kenapa, kita kan suami-istri-"

"A-AKU BELUM SIAP!"

Dong…siap apa? Siap untuk apa? Naruto menaikkan alis kanannya dan tertawa kecil. Oh ya…siap untuk adegan ranjang kah? Wajah Shion tentu saja memerah dan dia berdiri lalu memandang marah suaminya. Tetap saja wajah merah padam itu seperti boneka lucu saat marah. Shion melompat ke ranjang dan menerjang wajah suaminya dengan kaki kanan, keduanya berguling-guling di ranjang dan jatuh ke lantai, dimana Naruto berada di atas dan Shion berada di bawah.

"I Have You, Baby…" gumam Naruto dengan suara berat seperti pria (sok) romantis. Wajah Shion memerah. Apa suaminya benar-benar tidak tahan untuk melakukan 'itu'?

"Hahahahaha…lihat wajah bonekamu Ratu, mana wajah angkuh yang selalu menaikkan dagunya ketika berbicara? Kau seperti anak kecil yang mau bermain gasing tetapi malu meminta izin kepada Kaa-sanmu, huahahaha-ADAWW KAU MENENDANG P-KUN LAGI SHION-SAMA! MASA DEPAN KITA, ANAK KITA, ANAK KITA!"

Beberapa menit kemudian,

Shion dan Naruto duduk di ranjang dengan wajah lelah. Mereka hanya melakukan pembicaraan yang tak bermakna. Naruto melirik ke arah istrinya dan tersenyum tipis. Walaupun dipenuhi pertarungan dan kesusahan, 'liburan berdua' mereka cukup asyik sekaligus menegangkan. Kalau bisa dikatakan, mereka sedang berbulan madu. Benar-benar bulan madu yang unik.

"Naruto…"

"Hm?"

"Entah kenapa akhir-akhir ini aku susah tidur."

"Kenapa?" Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. Tumben Ratu angkuh itu menceritakan tentang dirinya.

"Kyuubi di dalam tubuhku bereaksi."

Mata Naruto mendelik tajam. Dia memandang serius istrinya.

"Maksudmu Ratu?"

"Aku tidak tahu. Tetapi reaksi yang bergejolak di perutku terasa ketika malam penyusupan 5 ninja Yuki yang kau kalahkan sendiri. Aku sebenarnya tidak tergenjutsu malam itu…aku bahkan melepas genjutsu Koyuki saat itu."

"Koyuki sudah menceritakannya kepadaku."

"Kau tahu maksudnya apa?"

Naruto tidak langsung menjawab. Dia ingin menjawab tetapi kehatian-hatian dirinya dalam berkata membuatnya berpikir ulang untuk menjawab.

"Kyuubi menolongmu. Apa aku…salah?"

Shion menganggukkan kepala, meskipun kurang yakin.

"Pertanyaannya, kenapa dia mau mengacak chakraku saat aku tergenjutsu sehingga aku terlepas dari genjutsu ninja Yuki tersebut. Itu adalah dasar kebingunganku."

Naruto terdiam dan mengetuk bahu kirinya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya saat ia melipat dada. Tentu saja Yondaime Uzukage memikirkan hal tersebut.


Ibukota Yuki no Kuni tidak seperti ibukota Hi no Kuni. Tergambarkan dengan jelas bahwa kau akan melihat rumah-rumah yang dipenuhi salju pada atapnya, ataupun gedung-gedung yang tidak terlalu tinggi. Jalanan kota berwarna putih, hampir seluruh rumah…gedung…maupun toko dihiasi cerobong asap. Gunanya pasti untuk pembuangan asap dari tungku penghangat ruangan. Tidak ada yang namanya penjual es. Melihat setiap orang yang lalu-lalang di jalanan kota maupun para penjual itu sendiri, semuanya memakai jaket tebal, topi kupluk serta sarung tangan. Di setiap sudut kota tergambarkan dengan jelas pasukan pengawas Dotou yang membawa pedang di pinggang mereka, memasang wajah masam. Jangan lupakan di sudut-sudut atas atap rumah warga, para ninja Yuki berpatroli dalam kesunyian. Mereka mengawasi dengan gaya ninja mereka, melompat atap-atap rumah lalu berdiam sejenak sambil memandang sudut desa dengan teropong mereka.

"Jadi begini ya, Ibukota Yuki no Kuni…"

Dua orang pedagang memandang kota pusat negeri salju itu dengan antusias. Yang satunya memakai kain berwarna coklat tebal menutupi kepalanya, jaket coklat tua dan sarung tangan berwarna senada. Dia memakai celana biru tua yang terlihat kusam.

"Jadi di sana ya kastil Yuki no Kuni...sugoi, megahnya!" pedagang itu menarik gerobaknya yang beroda dua dengan wajah bersemangat. Temannya yang berjalan di samping kanan memiliki tubuh besar, berambut jingga dan memakai jaket tebal berwarna hitam. Dia memanggul kantong kain berwarna hijau bercorak putih di punggungnya. Keduanya sedikit menarik perhatian para pasukan pengawas yang mengawasi kota.

"Lihat Teno-san. Kedai teh hangat, bagaimana kalau kita mampir dulu?" pinta pedagang yang membawa gerobak sambil menunjuk kedai teh di sisi kiri jalan. Seorang pria keluar dari kedai itu sambil melambaikan tangan kepada temannya di dalam kedai. Pedagang bertubuh besar yang dipanggil Teno-san menganggukkan kepala.

"Aku setuju Yorizaki-san. Lagipula kita butuh istirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari Kirigakure…"

Keduanya memasuki kedai dan beristirahat di sana. Kedai itu cukup sederhana. Memiliki sepuluh bangku panjang dan meja panjang serta penghangat ruangan yang benar-benar membantu suhu tubuh menjadi lebih hangat. Ada sekitar belasan orang di kedai teh sambil membicarakan masalah mereka masing-masing. Yorizaki memesan dua teh panas dan delapan tusuk dango untuk mengisi perut mereka. Pemilik kedai menganggukkan kepala. Ketika menunggu pesanan mereka datang, dua pengawas kota datang dengan wajah penuh selidik. Mereka duduk di meja yang berada di samping meja Yorizaki dan Teno.

"Oy Baa Baa, kami pesan dua gelas teh panas. Ga pake lama!" teriak salah seorang pengawas dengan wajah angkuhnya. Kedatangan dua penjaga tadi sedikit menghentikan pembicaraan para pengunjung di sana. Mereka menatap tajam, cemas maupun sedikit ketakutan. Beberapa orang terlihat berdiri dan membayar pesanan mereka kepada pemilik kedai.

"Tunggu sebentar." Kata pemilik kedai. Kedua pengawas itu menyeringai tipis. Salah seorang dari mereka dengan angkuhnya meletakkan pedangnya di atas meja. Menunjukkan hak superioritas mereka di kota.

"Oy…kenapa buru-buru kawan? Kau sampai menabrak kakiku hm?!"

Seorang pengawas berdiri dan memegang kerah baju seorang warga yang tadi tidak sengaja menyenggol kaki pengawas tersebut. Warga itu menggelengkan kepalanya dengan wajah takut.

"Ma-maafkan saya. Saya tidak sengaja…"

"Cih. Perhatikan langkahmu kawan. Kau tahu, kami diberi hak oleh Dotou-sama untuk menjaga kota ini agar tetap tenang. Kalian yang sudah diberi kenyamanan harta dari Dotou-sama seharusnya berterima kasih kepada beliau dan juga kepada kami! Mengerti sialan?!"

Warga itu mengangguk dengan wajah ketakutan. Temannya yang meletakkan pedang di atas meja membuat tanda kepada pengawas itu untuk melepaskan warga tersebut. Pengawas itu mendecih pelan dan mendorong cukup kuat warga tadi.

"A-arigatou Tuan…"

"Cih! Jangan lakukan itu lagi…atau kupotong kau menjadi dadu-dadu kecil…" penjaga itu mengambil pedang kawannya di atas meja dan menarik pedang tersebut dari gagangnya. Dia menyeringai sadis. Warga tadi langsung membungkuk minta maaf lagi lalu berjalan cepat meninggalkan kedai dengan wajah pucat pasi. Yorizaki dan Teno hanya menatap datar kejadian tadi. Pesanan mereka datang dan keduanya menghabiskannya dalam waktu singkat.

Tindakan keduanya diawasi dua pengawas tadi dengan tatapan tajam.


"Yaahh, dango tadi benar-benar enak, kau setuju kan Teno-san?" Yorizaki bertanya kepada Teno dengan wajah ceria. Keduanya sudah keluar dari kedai teh dan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tidak bisa dibilang perjalanan karena keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Lebih tepat keduanya mencari lokasi yang cocok untuk mereka berjualan.

Teno mengangguk dan memandang sekeliling kota dengan wajah penuh ingin tahu. Bahkan di kota Yuki no Kuni terdapat hiburan seksual yang terpampang jelas, menampilakan foto wanita yang hanya memakai celana dalam berwarna hitam dan menentengkan payudaranya tanpa bra. Seorang pria tua dengan wajah brewokan tiba-tiba datang di depan foto wanita tersebut dan membuka resleting celananya. Dia sepertinya ingin melakukan *nani. Seorang pengawas kota menangkap pria tua itu dan menghempaskannya ke tanah bersalju. Beberapa warga kota memandang sebentar kejadian tadi dan kembali berjalan di jalanan kota dengan wajah cuek.

Tanpa sepengetahuan keduanya, dua pengawas yang tadi minum teh panas di kedai teh mengikuti mereka dari belakang. Sementara tiga pengawas yang sedang berbicara di depan sebuah toko pakaian berhenti mengobrol dan memandang dua pedagang tadi dengan tatapan tajam. Salah seorang dari mereka berjalan mendatangi dua temannya yang mengikuti dua pedagang tersebut.

"Ada apa? Kalian sepertinya mengikuti dua pedagang itu?"

"Kami sudah mengawasi mereka saat di kedai teh tadi. Kedua orang itu terlihat mencurigakan...aku tidak pernah melihat wajahnya."

"Apa maksudmu? Mereka orang luar?"

"Sepertinya begitu. Yang perlu dicurigai adalah sesuatu yang ada di gerobak itu. Mereka menutupnya dengan kain…cih, bagaimana keduanya bisa lolos pemeriksaan penjaga gerbang kota. Pastinya kita harus memeriksa isi dari gerobak tersebut."

"Bagaimana kalau itu hanya barang dagangan saja?"

"Bodoh, minta maaf saja. Kita adalah pengawas yang diberi amanah oleh Dotou-sama!"

"Boleh aku memotong keduanya menjadi dadu-dadu kecil?"

Kedua pengawas yang saling berbicara tadi memandang sweatdropped pengawas yang mengatakan soal "Dadu-dadu kecil" tersebut, tetapi ketiganya sudah memutuskan dengan bulat untuk memeriksa dua pedagang tadi. Salah seorang pengawas kota memberikan kode kepada dua temannya yang berdiri di depan toko pakaian untuk mencegat dua pedagang tadi. Keduanya mengangguk mengerti dan berjalan mendekati kedua pedagang tersebut.

"Lihat Teno-san. Kastil Yuki no Kuni itu memiliki 4 menara tinggi-besar di keempat sisi bangunan utamanya, aku jadi ingin pergi ke sana…" kata Yorizaki dengan nada bersemangat. Teno mengangguk menyetujui. Mereka tiba-tiba dicegat dua pengawas kota yang memasang tampang angkuh.

"Maaf, ada apa ini?"

"Kami pengawas yang diberi tugas untuk mengawasi kota ini. Kami akan memeriksa barang yang kalian bawa."

"Tetapi kami sudah memeriksakan barang dagangan kami di penjaga gerbang kota," Yorizaki membuat wajah kecewa "Kami bisa membawa gerobak ini karena isinya adalah barang dagangan…"

"Siapa yang tahu hm?"

Kedua pedagang itu menoleh ke belakang. Mata Teno menajam. Tiga pengawas Yuki no Kuni berjalan mendekati mereka dengan wajah sangar. Salah seorang dari mereka sudah memegang gagang pedangnya dan siap mencabut pedang itu jika terjadi hal di luar kendali. Teno memandang Yorizaki dan membuat isyarat kepada temannya untuk mempersilahkan pemeriksaan dari pengawas Yuki no Kuni. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya melirik sebentar dan tetap berjalan di jalanan kota.

"Haahh…baiklah jika Teno-san juga mengizinkannya. Silahkan kalian periksa." Yorizaki melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap bosan. Mereka digiring menuju salah satu sudut kota agar pemeriksaan barang itu tidak mengganggu aktifitas warga kota lainnya. Yorizaki bersandar di dinding sebuah hotel 'cinta' kota tersebut, sementara Teno meletakkan kantong kain yang dibawanya ke tanah bersalju dan mempersilahkan para pengawas kota memeriksa semua barang mereka.

"Hmm…kita lihat apa isinya." Salah seorang pengawas membuka kantong kain berwarna hijau yang dibawa Teno. Tidak ada yang mencurigakan, hanya sekumpulan boneka-boneka kecil berbentuk binatang di dalam kantong kain tersebut. Seorang pengawas tertawa mengejek barang dagang Teno dan Yorizaki.

"Boneka? Hahahaha…kuharap kalian tahu selera orang Negeri Yuki," Pengawas itu membuka penutup kain yang ada di gerobak dengan wajah sombong "Kami itu menyukai perak dan berli-" mata pengawas itu melebar. Di dalam gerobak, ketika kain itu terbuka, dua sosok manusia duduk di dalam gerobak dengan wajah mengejek.

"BOH!" teriak salah seorang yang ada di dalam gerobak dan membuat pengawas itu terjengkang ke belakang karena terkejut. Orang itu melompat ke atas dan berlari di dinding hotel menuju atap hotel. Dia memiliki rambut merah jabrik dan mata berwarna biru langit.

"Hohoho…kami ketahuan!" kata yang satunya sambil melompat salto depan. Seorang pengawas mencabut pedangnya namun perutnya langsung diterjang orang tersebut. Dia bertubuh besar dan memiliki tanda garis ungu di kedua pipinya. Orang itu berlari menuju jalanan kota, melompati sebuah toko dan berlari di atap.

"Tangkap mereka!" pengawas yang mengikuti Teno dan Yorizaki dari kedai teh secara spontan memberikan instruksi, "Mereka adalah ninja!" pengawas itu mendecih pelan, dia memandang temannya yang juga tadi mengikuti Yorizaki dan Teno lalu mengangguk bersama.

"Biar aku dan temanku yang menangani kedua pedagang ini. Kalian bertiga kejar keduanya dan beritahukan pengawas lainnya!"

"Baik, kami serahkan dua pedagang itu kepada kalian…" ketiga pengawas itu segera berlari ke jalanan kota dan meniup peluit yang ia keluarkan dari saku pakaiannya. Pengawas yang mendengar suara peluit itu langsung merespon dan mengerti bahwa ada kekacauan cukup besar yang harus ditangani.

"Hmm…penyusup ninja ya? Rambut merah…" para pengawas ninja berkumpul di satu titik dan memandang dua ninja penyusup itu dengan seringaian senang.

"Rambut merah, juga si gendut…apakah itu Yondaime Uzukage dan Pemimpin Tim Ninja Konoha yang mengawal Koyuki-hime? Seperti yang diberitahukan oleh Rouga-taicho…" ninja itu membuat kode dan ninja lainnya menyebar ke berbagai arah.

"Berita bagus jika kita bisa menghadiahkan Yondaime Uzukage kepada Rouga-taicho…khukhukhu…"

Pengejaran terhadap Uzumaki Naruto dan Akimichi Chouza dilakukan oleh pengawas kota dari pihak pasukan Dotou maupun ninja-ninja bayarannya. Sementara ibukota diributkan dengan kejadian itu, Teno dan Yorizaki, dua pedagang yang ketahuan menyembunyikan penyusup di dalam gerobaknya langsung digiring oleh dua pengawas tadi menuju kastil Yuki no Kuni.

"Kalian akan ditempatkan di penjara bawah tanah, selamat bersenang-senang di sana hahaha…" kata salah seorang pengawas dengan wajah mengejek. Keempatnya sampai di depan gerbang kastil Yuki no Kuni yang dijaga dua belas pasukan Dotou di Gerbang maupun di atas menara. Seorang penjaga yang menoropong ke arah dua pedagang tersebut tersenyum tipis lalu melanjutkan kegiatan menoropong ke arah ibukota, dimana para ninja dan para pengawas kota melakukan pengejaran terhadap Naruto-Chouza.

"Siapa mereka?" tanya kepala penjaga gerbang. Sesosok pria berbadan kekar dengan mata tajam dan wajah berbentuk segi empat. Dia memandang tajam dua pengawas kota tersebut.

"Mereka adalah dua pedagang yang menyembunyikan dua penyusup kota…kedua penyusup sekarang sedang dikejar pasukan pengawas dan para ninja."

Kepala penjaga gerbang menaikkan alisnya. Dia memandang Teno dan Yorizaki dengan pandangan menghina. Penjaga gerbang itu juga sudah mengetahui kabar bahwa dua ninja penyusup berhasil memasuki ibukota, dan indikasi penting bahwa dua ninja penyusup itu adalah rombongan Kazahana Koyuki yang memasuki negeri salju.

"Heh…bawa dua pedagang ini ke penjara bawah tanah. keputusan selanjutnya akan aku sampaikan…" kepala penjaga gerbang itu menyuruh anak buahnya membuka gerbang kastil. Penjaga menara menerima kode dari kepala penjaga dan memberikan kode kepada penjaga gerbang di dalam kastil untuk membuka gerbang dari dalam.

Mata Yorizaki dan Teno bergetar takjub. Gerbang besi setinggi 30 meter itu terbuka dengan suara "KRIEEET" yang besar. Yorizaki memandang sekeliling daerah kastil Yuki no Kuni. Jika dideskripsikan, kastil ini memiliki pertahanan yang sempurna.

Kastil Yuki no Kuni dikelilingi oleh sebuah parit raksasa dengan lebar sebesar 10 meter yang diisi oleh air mengalir dan memiliki suhu di bahwa 0 derajat celcius. Dinding kastil sangat tinggi dan tebal, terdiri atas Kristal-kristal dan besi yang membeku. Mata Yorizaki memandang sekeliling kastil.

"Tidak ada cara untuk lolos dari kastil ini ya, Tuan?" gumam Yorizaki dengan wajah tidak gentar. Tetap mempertahankan keceriaannya.

"Heh…" kepala penjaga itu menyeringai sadis "…Tentu saja!"

Sementara di pusat kota,

Swuushh! Sebuah kunai melesat cepat ke arah kepala belakang Yondaime Uzukage. Uzumaki Naruto melompat turun dari atap rumah warga, melakukan lompatan pantulan di antara dinding-dinding rumah warga lalu berlari cepat di antara gang-gang kecil ibukota. Chouza melompat turun dari sebuah toko dan berlari di samping kanan Yondaime Uzukage. Keduanya berlari menuju jalanan utama kota lalu memasuki sebuah kedai ramen.

"Jangan biarkan mereka kabur!" kata salah seorang pengawas. Semuanya mengelilingi kedai ramen dengan pedang teracung ke depan. Beberapa warga Ibukota Yuki no Kuni berlari menjauhi areal tersebut. Sementara ninja-ninja Yukigakure berdiri di atas atap toko-toko yang berada di sekitar kedai dengan shuriken dan kunai teracung.

"Hmm…apa yang dilakukan pasukan pengawas itu? Kenapa mereka tidak masuk?" kata pemimpin ninja pengawas ibukota yang sudah sampai di lokasi. Dia berdiri di atap toko yang berada di sisi timur kedai ramen. Dia memutar-mutar sebuah rantai yang bagian ujungnya terdapat bandul berduri.

"Ketika aku beri kode, kita semua langsung menyerbu kedai ini…" kata salah seorang pengawas dengan wajah tegang. Beberapa tetes keringat mengalir di wajahnya walaupun suhu ibukota Yuki no Kuni di bawah 10 derajat celcius. Dia maju beberapa langkah hingga berdiri di depan pintu kedai ramen. Seorang penjaga yang berada di belakang kedai sudah berada di belakang pintu belakang dan memberi kode kepada temannya bahwa dirinya siap masuk ke dalam kedai.

"Dalam hitungan ketiga…" pengawas itu memberikan isyarat ketika pengawas lain yang berada di belakang kedai siap "Satu…dua…"

"ADA YANG MELOMPAT KE ATAS!" teriak salah seorang pengawas. Dari dalam cerobong asap yang mengepulkan asap kehitaman, Yondaime Uzukage keluar dari sana dan melemparkan puluhan shuriken ke arah para ninja yang menunggu mereka keluar.

BRAK! Pintu depan kedai terpental dan menabrak pengawas yang berdiri di depannya. Akimichi Chouza berlari melewati dua pengawas yang terkejut dan menghindari sabetan seorang pengawas dengan cara menundukkan kepalanya. Dia melakukan sikutan tangan kanan ke punggung pengawas itu hingga dia tersungkur ke depan.

"Jangan biarkan mereka lolos!" kata pemimpin ninja pengawas dengan wajah gusar. Beberapa anak buahnya jatuh dari atap toko karena terkena lemparan shuriken tersebut. Dia memandang cepat ke depan, Yondaime Uzukage dan Chouza sudah menjauhi mereka dan melesat cepat menuju ke arah kastil Yuki no Kuni. Dia mendecih kesal.

'Apa aku harus memberitahukan kepada Rouga-taicho? Tidak! Ini adalah tanggung jawabku sebagai pemimipin ninja pengawas ibukota Yuki no Kuni…' dia melesat cepat melewati anak buahnya dan beberapa pasukan pengawas dan berteriak kencang,

"JANGAN SAMPAI MEREKA MENYENTUH GERBANG KASTIL!" teriaknya dengan nada gusar. Kini dia tidak lagi meremehkan Yondaime Uzukage dan ninja Konoha. Mereka memiliki skill yang mengesankan. Apalagi kabar bahwa Yondaime Uzukage berhasil mengalahkan 5 desa besar pasca desa Uzu hancur, dan dia mengalahkan 5 desa besar itu dimulai dari titik nol…

'Bahkan Uzukage keempat belum menunjukkan kemauan ingin bertarung. Menangkapnya saja sangat susah, apalagi jika kami bertarung dengannya…' pemimpin ninja pengawas ibukota itu mendecih pelan 'Apapun hasilnya, jangan sampai mereka mencapai kastil ibukota!'


Untuk menuju ruang bawah tanah Kastil Yuki no Kuni, anda harus melewati lorong panjang nan gelap yang hanya diterangi obor-obor kecil. Setelah itu sampai di suatu aula kecil dan menuruni tangga berputar sebanyak 18 kali. Ketika sampai pada putaran terakhir, maka kita akan diperlihatkan ruangan-ruangan penuh sel penjara dan orang-orang yang meringkuk di dalamnya. Ada juga ruangan torture atau penyiksaan. Dimulai dari ruangan cambuk, pemotongan jari tangan dan kaki, pencabutan kuku, penyiksaan kelamin hingga ruangan khusus pemerkosaan untuk mereduksi mental. Teno memandang sedikit takut ruangan bawah tanah yang sangat gelap dan hanya diterangi beberapa obor. Yorizaki juga sedikit ngeri melihat banyak sekali orang yang meringkuk di dalam sel penjara tersebut. beberapa dari mereka mengangkat wajah ketika mendengar tapak kaki dari Teno-Yorizaki dan dua orang penjaga sel yang memasuki daerah 'neraka dunia' tersebut.

DRENG! Seseorang tiba-tiba menabrakkan tubuhnya ke besi sel penjara dan menempelkan wajahnya di sana. Beberapa air liur jatuh dari bibirnya, matanya membulat dengan urat-urat mata kemerahan yang mengerikan. Dia memandang Teno dan Yorizaki dengan pandangan buas.

"Kalian pengikut Sotetsu-sama ya...? ayo kita bunuh Dotou, kita bunuh Dotou…"

Yorizaki bergidik ngeri. Salah seorang penjaga memukulkan pentungan besi ke sel tersebut sehingga orang tadi mundur ke belakang dengan teriakan marah. Dia mengutuk-ngutuk Dotou dan anak buahnya.

"MATIII!"

"HENTIKAAAAN!"

"ARRRGHHH!"

"JANGAN POTONG, JANGAN KULITI AKU!"

"SIALAAAAAN!"

Benar-benar penjara yang mengerikan. Suara orang di dalam sel yang berteriak sudah seperti penyanyi hard rock yang marah besar dengan nyanyiannya. Suara serak, penuh kemarahan, kesakitan, dan berbau kematian. Suara tetesan air di penjara juga menambah daftar suram dari penjara bawah tanah kastil Yuki no Kuni.

"Nah…kalian berdua akan berdiam di sini sementara," seorang penjaga membuka sel penjara dan yang lainnya mendorong tubuh Yorizaki dan Teno ke dalam penjara dengan kasar. Yorizaki sampai tersungkur ke depan dan kepalanya menabrak dinding sel penjara tersebut.

"Tunggu siksaan apa yang cocok untuk kalian, hahahaha…" kedua penjaga itu meninggalkan Yorizaki dan Teno dengan tawa jahat. Tawa mereka menggema dihiasi teriakan kemarahan para penghuni penjara bawah tanah Yuki no Kuni.

"Heh…di sini benar-benar bau," kata Yorizaki sambil menggosok hidungnya "Aku tak percaya Koyuki-hime tahan dengan situasi seperti ini," mata Yorizaki menajam. Dia membuat seringaian yang lebih menyeramkan dari orang-orang yang menyeringai kepadanya. Dia memegang pundak Teno dan keduanya menghilang dalam balutan cahaya keemasan yang indah.

Di ibukota,

Dhuaarhhh!

Bagian depan toko pakaian di sudut ibukota meledak ketika kunai berbalut kertas peledak berhasil dihindari Naruto. Kedua ninja itu berdiri di atas atap toko pakaian dengan gaya superior. Pemimpin ninja pengawas ibukota mendecih pelan. Dia melempar lima shuriken ke arah Naruto-Chouza dan menggerakkan segel tangan denga cepat.

"Suiton: Teppudama!"

Trang! Naruto menahan lima shuriken itu dengan mudah. Kelima shuriken itu terpental ke berbagai arah. Sementara Chouza meninju atap toko yang dipijaknya sehingga atap itu jebol dan Naruto-Chouza masuk ke dalam toko pakaian untuk menghindari serangan tembakan air pemimpin ninja pengawas Ibukota. Pemimpin ninja pengawas ibukota mendecih kembali. Para pengawas memasuki toko tanpa aba-aba lagi dan terjadi pertarungan di dalam toko.

Dhuaarhhh! Bagian dinding kanan toko meledak dan jebol. Seorang pengawas terlempar dari dalam toko dan menabrak dinding toko di sebelah toko pakaian. Beberapa ninja Yuki sudah mengelilingi toko pakaian tersebut. Bunyi kaca pecah menerpa gendang telinga mereka dan seorang pengawas terpental keluar dari dalam toko, menabrak kaca etalase toko pakaian tersebut dan terkapar di tanah yang berada di depan toko dihiasi pecahan kaca etalase. Naruto dan Chouza yang berada di dalam toko hanya memandang innoncence ke arah mereka.

"Dasar pasukan tak berguna, serang-"

"Biar aku saja…"

Mata pemimpin ninja pengawas Ibukota itu melebar. Sebuah tangan memberikan isyarat untuk menahan teriakannya dan suara yang mengatakan "Biar aku saja" itu begitu familiar. Dia memandang lebih fokus ke atas dan Rouga Nadare sudah berdiri di depannya dengan wajah senang.

"Yondaime Uzukage ada di sana ya? Ini benar-benar suatu keberuntungan!" Rouga berlari ke dalam toko pakaian, melompati jendela kaca toko yang pecah dan beradu kunai dengan Naruto. Sementara Chouza melompat ke kanan dan melempar dua shuriken ke arah ninja elit Dotou tersebut. Rouga melirik cepat ke arah kanannya.

"Dasar pengganggu!" Rouga melompat mundur ke belakang untuk menghindari lemparan shuriken Chouza. Dia melempar kunainya ke arah kepala Naruto dan Yondaime Uzukage hanya menghindarinya dengan cara membungkukkan badannya.

Tap.

Rouga berdiri di atas sebuah meja toko pakaian lalu menggerakkan segel tangan. Dia menyeringai senang.

"Hyouton: Nami no Jutsu!"

BROOOOAARRRHHHHH!

Getaran tanah disertai terjangan salju besar dari belakang toko menyeruak masuk ke dalam dan menyeret Naruto beserta Chouza ke arah depan. Rouga melompat ke belakang dan keluar dari dalam toko sambil melihat kumpulan salju yang bahkan menjebol pintu depan toko. Semuanya takjub dengan ninjutsu pria beriris hijau lumut tersebut.

"Tenggelamlah bersama gelarmu, Uzukage-sama hahahaha…sekarang aku telah menjadi ninja terkuat karena berhasil menyingkirkan Kage yang menggetarkan 5 desa besar, hahahaha! Aku telah menjadi lebih kuat!" Rouga tertawa senang. Tujuannya memang satu. Yakni membunuh Uzumaki Naruto…

Mendengar bahwa Naruto mampu membangkitkan desanya pasca insiden kehancuran Uzu membuat Rouga menjadi tertarik mencari berita tentang Uzukage keempat tersebut. Memang benar-benar luar biasa, Naruto berhasil mengembalikan nama klannya (Uzumaki) dan juga desanya (Uzushiogakure) menjadi klan dan desa yang pantas ditakuti oleh 5 desa besar. Jadi membunuh Uzukage yang ber'prestasi' tersebut adalah suatu prestisius sendiri bagi Rouga.

'Aku kuat…aku kuat…aku kuat AKU KUAT AKU KUAT AKU KUAT AKU KUAAAAT HAHAHAHA!' Rouga menundukkan kepalanya. Dia tersenyum senang dan tak sabar menyampaikan berita terkuburnya Yondaime Uzukage bersama pemimpin tim ninja dari Konoha kepada Dotou-sama.

Rouga tidak tahu, dua tubuh yang ditimbuni salju itu menghilang dengan kepulan asap.

Rouga lupa kenapa Yondaime Uzukage mampu mengalahkan 5 desa besar.

Ya…karena Yondaime Uzukage sulit dikalahkan.

.

.

.

"Akhirnya bintang utama datang juga…"

Yorizaki dan Teno berdiri di atas lantai Bar Shiro Yuki dengan wajah puas. Ro-san, pemilik bar sedang meletakkan dua botol sake di atas meja bartender dengan senyuman penuh semangat. Shion-sama duduk di salah satu meja pelanggan sambil meniup coklat panas yang masih mengepulkan asap. Matanya memandang dua pedagang itu dengan tatapan datar tanpa emosi.

"Terima kasih telah mengatakan kami bintang utama, Asuma…" Yorizaki memandang pengawas kota yang menyebutnya bintang utama tadi. Dua pengawas yang mengikuti Yorizaki dan Teno dari kedai teh hingga membawa kedua pedagang itu sampai di kastil Yuki no Kuni tertawa pelan. Keduanya menggerakkan segel tangan dan menghentikan jutsu perubahan.

Booof!

Kedua pengawas itu menjadi Sarutobi Asuma dan Maito Gai. Yorizaki dan Teno juga menggerakkan segel tangan dan menghentikan Henge no Jutsu atau jutsu perubahan mereka.

Boooof!

Keduanya menjadi Yondaime Uzukage yang berambut merah jabrik dan Akimichi Chouza yang berbadan besar. Sandayuu menghela napas lega. Akhirnya misi pengintaian sebelum misi penyusupan berhasil. Susunan rencana Yondaime Uzukage memang luar biasa…

Dan sekali lagi, epic moment!

Flashback

Semuanya berkumpul di depan meja bartender Bar Shiro Yuki dengan wajah serius pagi itu. Hari ini mereka akan melakukan pengintaian dulu sebelum melakukan penyusupan ke kastil Yuki no Kuni.

Bagi prinsip para ninja, penyusupan adalah salah satu satu dasar dari seni ninja itu sendiri. Menyusup tanpa ketahuan adalah esensi dari pekerjaan ninja sendiri. Namun sebelum melakukan penyusupan, alangkah lebih baiknya melakukan survey, atau dengan bahasa ninja-nya adalah pengintaian. Yondaime Uzukage bersama ninja Konoha lainnya mendapatkan informasi tentang Ibukota Yuki no Kuni dan kastilnya dari cerita-cerita para pejuang penggulingan Dotou yang merupakan mantan pasukan penjaga kastil. Juga cerita dari warga yang masih setia kepada Sotetsu soal keadaan Ibukota Yuki no Kuni, namun…

"Itu belum cukup. Makanya pagi ini kita akan melakukan pengintaian dan hasil dari pengintaian ini akan menjadi dasar kita membuat rencana untuk penyusupan," Naruto tersenyum misterius. Jujur saja, Shion sangat suka senyuman misterius nan angkuh dari suaminya tersebut. Benar-benar Uzukage keempat yang ia kenal. Keangkuhan Naruto selalu dibaluti aura kewibawaannya yang tinggi.

"Melihat dari ekspresi anda, sepertinya anda sudah punya rencana…Uzukage-sama?" Asuma bertanya dengan alis terangkat sebelah. Naruto menganggukkan kepala.

"Tujuan misi pengintaian ini mudah. Aku bisa masuk ke dalam penjara bawah kastil tanpa sepengetahuan penjaga. Nah…itulah tujuan utama misi pengintaian ini. Selain mengamati keadaan kastil, keadaan penjaga kastil, keadaan kota bahkan perilaku warga Yuki no Kuni…aku akan membuka jalan agar misi penyusupan yang kita lakukan menjadi lebih mudah," Naruto memiringkan kepalanya ke kanan, memandang semuanya dengan tatapan semangat namun tetap terjaga emosinya "Ketika aku berhasil masuk ke dalam penjara bawah tanah kastil, aku akan menandai lantai penjara menggunakan Fuin Hikari Sunshinku. Ketika kita melakukan misi penyusupan, maka satu persatu orang kita akan menyusup melalui penjara bawah tanah, sekaligus membebaskan Koyuki, Obito dan orang-orang yang ditawan Dotou di penjara tersebut…"

"Luar biasa," Gai memegang dagunya lalu mengelusnya pelan "Lalu, bagaimana caranya agar anda bisa masuk penjara tanpa sepengatahuan penjaga kastil, Uzukage-sama? Apa anda akan membuat keributan?"

"Aku akan meminta Chouza-san menemaniku dalam misi pengintaian ini, tidak keberatan kan Chouza-san?"

"Tidak sama-kraauukk-sekali, Uzukage-sama…" jawab Chouza sambil tetap mengunyah keripik kentangnya. Naruto mengangguk senang.

"Aku dan Chouza-san akan menyamar menjadi seorang pedagang. Nah…kami akan membawa sebuah gerobak dan kantong kain sebagai kamuflase serta penegasan bahwa kami berdua adalah pedagang. Kami akan memasuki kota lewat jalur tepi sehingga kami berdua seolah-olah pedagang yang baru datang dari gerbang ibukota. Di sini kami membutuhkan pertolongan anda berdua, Gai…Asuma…"

Gai dan Asuma saling berpandangan. Dimintai bantuan oleh Uzumaki Naruto memang suatu kebanggaan.

"Kalian berdua akan bersembunyi di dalam gerobak yang kubawa sembari menunggu dua pengawas kota yang akan kita lumpuhkan. Ketika kami berhasil melumpuhkan dua pengawas kota tersebut, Asuma dan Gai akan menjadi dua pengawas itu. Aku juga meminta tolong kepada anda, Asuma…bisa membuat dua Kagebunshin kan?"

Asuma mengangguk. Naruto cukup senang. Sekarang polesan terakhir dari pembeberan rencananya…

"Setelah melumpuhkan dua pengawas dan anda berdua menjadi dua pengawas tersebut, Asuma akan melakukan dua Kagebunshin yang berfungsi menyamar menjadi diriku dan Chouza untuk pengalihan. Kedua Kagebunshin itu akan bersembunyi di dalam gerobak dan menunggu waktu tepat untuk keluar. Kita akan melakukan drama sedikit yakni kalian berdua pura-pura mengikuti kami dari sebuah kedai di Ibukota nantinya hingga bertemu pengawas kota lainnya. Berpura-puralah bahwa kalian berdua mencurigai kami sehingga pengawas lainnya mau memeriksa kami. Ketika gerobak kami diperiksa dan Naruto-klon serta Chouza-klon ketahuan persembunyiannya, kalian harus bisa membuat pengawas-pengawas tadi mengejar dua Kagebunshin tersebut sedangkan kalian berdua mengantarkanku dan Chouza menuju kastil Yuki no Kuni untuk dibawa ke penjara bawah tanah karena melanggar aturan di negeri ini." Naruto menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan,

"Ada pertanyaan?"

Semuanya menggelengkan kepala. Sepertinya rencana Yondaime Uzukage sudah matang dan sangat jelas.

Flashback End

Naruto memandang semuanya dengan pandangan tenang. Pak sutradara duduk di kursi dengan wajah penuh semangat. Baru pertama kali dia merasakan atmosfir dunia ninja, dunia penuh tipu muslihat dan pertarungan asli…

"Rencana selanjutnya, Uzukage-sama?" tanya Pak Sutradara Makino sambil menggoyangkan speaker jingga di tangan kirinya dengan wajah penasaran.

"Tetap pada rencana awal…" Naruto tersenyum tipis "…Malam ini kita akan mengadakan penyusupan Kastil Yuki no Kuni! Dengarkan rencanaku dan persiapkan semua hal yang diperlukan sebelum matahari terbenam!" Naruto memandang istrinya yang masih meniup coklat panasnya tanpa ekspresi.

"Demi Negeri kalian, teman kalian dan idola istriku…mari kita gulingkan kesombongan Dotou dari tahta otoriternya!"

Saatnya beraksi!

TBC

AN:

Seperti biasa, salah satu kemampuan dari Uzumaki Naruto yang ditakuti 5 desa besar saat pengangkatannya menjadi Yondaime Uzukage. Kecerdasan Naruto dan penyusunan rencananya. Di chapter ini saya berusaha menggambarkan bagaimana Yondaime Uzukage bukan tipe orang yang suka bertindak tanpa melakukan rencana, walaupun kadang kala rencananya bisa jadi membahayakan orang-orang sekitarnya (sepertin di Arc Iwa-Suna yang menelan banyak korban).

Chapter depan kita akan memasuki cerita selanjutnya tentang misi penyusupan Yuki no Kuni sekaligus pertarungan di dalam kastil raksasa tersebut…oh ya, kemungkinan kalau bisa masuk ke alur cerita chapter depan, ane juga bisa masukkan sedikit kejutan di sana.

Tanpa banyak basa-basi, kita akan masuk ke sesi Questions and Answers…

Q: Siapa yang menyuruh tim Suna? Obito sudah membangkitkan MS atau belum?

A: Menyangkut 'yang menyuruh tim Suna' siapa? Saya belum bisa menjawabnya karena merupakan salah satu rahasia fic ini, tetapi perlu ane ingatkan Baki 'belum tentu' menjadi sekutu Yondaime Uzukage karena di chapter epilog fic The Uzukage sendiri dia bersama 4 Kage desa besar mencurigai Naruto adalah dalang pembunuhan 5 Kage sebelumnya. Untuk Obito dia belum membangkitkan MS-nya, Sharingannya masih tiga tomoe biasa.

Q: Kenapa Kakashi ga ikut misi ini?

A: Pertanyaan bagus. Kakashi di fic The Uzukage adalah Ketua Anbu Konoha, dan bisa kita ketahui apa yang dilakukannya sebagai pemimpin Anbu Konoha fufufu.

Q: Apa Madara ada kaitan tentang rencana Suna untuk menangkap Kyuubi?

A: Hohoho…kita lihat di next-next chapters gan, ane belum berani mengatakan "Iya" dan "Tidak".

Q: Ada yang tewas saat misi penyusupan? Kekuatan Uzukage sampai di sini saja?

A: Kita lihat saja gan untuk Death Chara-nya. Kekuatan Uzukage bisa bertambah, karena walaupun dia sudah berumur 24 tahun, tetapi banyak hal yang harus ia pelajari.

Q: Obito bangkitkan MS, biar greget

A: Hahaha, akan ane tampung sarannya.

Q: Berikan kami hentai-nya

A: Waduh…sabar gan, sabar…

Q: Saran jadikan mode Bijuu Shion punya telinga dan ekor Kurama biar Moe :v, kapan malam pertama NaruShion?

A: Hahaha, saran bagus. Ane akan tampung (bener juga ya wkwk). Untuk malam pertamanya, ditunggu saja bro wkwk.

Q: Saat Madara's Rebirth, bangkitkan Uzukage 1, 2, 3 untuk ngelawan Naruto?

A: Saran yang ekstrim, akan ane tampung gan. Apalagi Uzukage 1 adalah 'sang pembuat Fuin Universal' yang menjadi dasar fuinjutsu-fuinjutsu para Uzumaki sekarang.

Q: Target sampai berapa chapter?

A: Kurang dari 20-lah gan.

Q: Kenapa wordsnya Cuma 2k padahal TU yang dulu panjang?

A: Karena TU Hiden ini ane ketik langsung publish gan dan kesibukan di dunia nyata juga. Kalau TU Main story dulu sudah ane ketik beberapa chapter, tinggal memeriksa isinya kemudian publish saja. Seperti itu…

Q: Uzukage membutuhkan karakter yang kemunculannya sedikit/tiba-tiba namun dapat mengubah keadaan, seperti partnernya Uzukage mungkin? (Contohnya Uchiha Sasuke di The Last)

A: Saran yang bagus gan. untuk karakternya memang agak sulit ditentukan karena satu-satunya karakter yang cocok sebagai partner sebanding dengan Naruto adalah Sasuke sendiri…dan Sasuke di fic ini masih kecil, berbeda dengan Naruto yang sudah dewasa. Saran yang bagus dan akan ane tampung sambil memikirkan karakternya siapa, trims.

Q: Trio pengawal Naruto akan muncul?

A: Bisa jadi bisa jadi

OKEEEEY, sebelumnya terima kasih atas reviewsnya di chapter lalu yang membuat saya tetap bersemangat melanjutkan fic sederhana ini, tetap terus pantau cerita ini sampai kawan-kawan juga bisa menemukan arti 'Uzukage' dalam cerita ini.

Mohon kritik-sarannya untuk chapter ini agar kami bisa menjadi lebih baik lagi dalam dunia penulisan cerita fiktif.

So, see you in chapter 7!

Tertanda. Doni Ren