Author: Athiya064

Title: { CHaptered} Boss! Part 5

Genre: Yaoi, Romantic, Drama, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

Cast:

Zhang Yi Xing (Exo M Lay)

Kim JoonMyeon (Exo K Suho)

Other cast:

Victoria Song Qian

EXO 's Other Member

SM's Member

Cari sendiri

Ps: Yeah this is SULAY! SULAY YAOIII! Setelah Trust Me, I'm Sorry. Banyak yang bilang part SuLay nya sangat manis._.v wkwk yaudah ini bikin ffnya. Enjoy ya :)lestarikan SuLay! Mereka official, biar gaada KrisHo, Kray, dll. Gasuka crack couple ;A;

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

1. fb: athiya almas

2. wp: .com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading

Suho menatap ponsel layar sentuh miliknya, disana ada sebuah foto lelaki. Lelaki dengan wajah tegas namun memiliki pandangan yang begitu polos seolah-olah ia adalah anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa. Suho biasanya tak terlalu pintar menilai seseorang, namun entahlah foto itu diambil dengan begitu jelas. Seolah-olah sang fotografer menyalurkan perasaannya ketika ia mengambil foto itu, membuat orang lain yang melihat foto itu mengerti akan perasaannya.

"Foto ini secara jelas diambil oleh Kris." Gumam Suho. "Huang Zi Tao, aku tak tahu apa yang ada pada dirimu sehingga Kris jadi sebegitu mencintaimu." Suho memutuskan untuk menyimpan gambar Tao yang ada di salah satu akun jejaring sosial milik Kris. "Aku tahu semua ini dari Lay, dan ia tahu Kris lebih dari aku sepupunya sendiri. Tapi tunggu, untuk apa Lay mencari hal ini sebegitu rinci?"

. . .

Kyungsoo langsung menyalakan pemanas di mobil dengan tingkat suhu yang cukup tinggi, mengarahkan pemanas ruangan itu ke arah Kai. Kai melepaskan jaket hitamnya, dan kaos tubuhnya hingga hanya tersisa sebuah kaos dalam berwarna putih yang melekat di tubuh atletisnya. "Maaf gara-gara aku kau jadi kebasahan seperti ini." Kyungsoo meminta maaf, namun tak dapat jawaban dari Kai.

"Kai?" panggil Kyungsoo, dan Kai menampilkan telapak tangan kanannya mengisyaratkan agar Kyungsoo berhenti. "Ahh.. Hahh.. akk.." Kyungsoo menatap Kai bingung, Kai memegangi dadanya. Dada Kai naik turun dengan tidak wajar dan berulang-ulang, nafas keluar dengan berat dari hidung Kai. Lelaki itu menyenderkan kepalanya di pintu mobil.

"Kai?! Kai astaga kau punya asma? Ya Tuhan, apa kau bawa oksigen? Atau obatmu mungkin?" Kyungsoo panik, Kai menunjuk dashboard mobilnya sambil terus berusaha mengatasi dirinya sendiri. Kyungsoo mengacak-acak dashboard tersebut hingga menemukan botol berbentu spray kecil. Kyungsoo mengambil alat itu dan memasangkannya di hidung Kai, sehingga Kai bisa menghirup sedikit oksigen dari sana.

"Kau akan baik-baik saja Kai," Kyungsoo berkata pelan. Kai memegangi tangan Kyungsoo dan menghirup obatnya, selang beberapa detik kemudian nafas Kai mulai normal. "Gwaenchana?" tanya Kyungsoo berusaha memastikan. Kai mengangguk, "Gumawo hyung, maaf merepotkan. Asmaku selalu kambuh ketika aku kelelahan,"

"Seharusnya kau bilang padaku kalau kau punya asma, aku benar-benar merasa bersalah." Kai tersenyum lalu mengacak rambut Kyungsoo pelan. "Tidak apa-apa, kau tahu tindakanku tadi diluar kendaliku. Aku hanya bergerak sesuai instingku saja bahwa aku ingin melindungimu, aku bahkan tak merasa bahwa ternyata aku sebasah ini."

"Kau orang baik." Gumam Kyungsoo, Kai hanya diam dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Kyungsoo menatap Kai lekat-lekat, "Kai.. apa kau yakin bisa menyetir dan mengantarku pulang?" tanya Kyungsoo ragu. "Tentu saja hyungie, aku hanya asma itu berarti aku masih bisa selamat sampai di rumah. Jangan khawatir.." Kyungsoo pun mengangguk dan mobil itu berjalan pelan.

Fairy's side

"Unnie-ya, hentikan hujan buatanmu ini. Aish, aku jadi ikut kebasahan kan." Gerutu seorang gadis dengan rambut sebahunya. "Ups, mianhae Sulli. Aku keterusan, tapi hujan yang kuturunkan hari ini membuat banyak kejadian mengejutkan. Benar kan?"

"Geurae, aku bisa melihat warna tabir auraku yang merah muda sedang menyinari banyak tempat di sekitar sini. Artinya banyak cinta yang timbul dimana-mana, termasuk di mobil sedan hitam tadi." Tambah seorang gadis bernama Luna. "Mereka romantis sekali, dan.. aku bisa merasakan bagaimana ketulusan mereka." Sulli, Victoria dan Luna mengangguk mendengar perkataan Amber.

"Chankamman, dimana Krystal?" Victoria menoleh memeriksa maknaenya. "Dia tidur, dia lupa waktu dengan pekerjaannya. Biarkan saja Onew oppa memarahinya karena lalai lagi." Jawab Sulli santai, ia sudah hafal dengan tingkah teman sekamarnya itu.

"Ya sudahlah, kalau begitu kita tidak ikut-ikutan kalau ia dapat hukuman kekeke.. dan ngomong-ngomong, dua hari lagi kita harus segera meninggalkan cafe ini. Dan mulai mencari orang baik dan orang buruk yang butuh pengarahan dari kita, ah rasanya menyebalkan harus meninggalkan tempat dengan aura ramah seperti ini." Victoria menatap pintu kaca cafe yang telah tutup. "Um, tapi aku akan tetap bekerja di cafe ini." Luna tersenyum.

"Wait, kenapa kita harus berhenti bekerja ketika aku dan Sulli baru saja bergabung bersama misi kalian?" Amber protes, Victoria dan Luna tertawa kecil.

. . .

Suho memarkirkan mobil mewahnya di dekat gerbang Universitas Seoul. Ia duduk di balik kemudi, dan matanya memandang ke arah gerbang universitas terkemuka tersebut. Ia melirik jam, menurut informasi Lay sebentar lagi kelas Tao berakhir dan Tao selalu pulang menggunakan bis jadi ia pasti akan berjalan ke halte terlebih dahulu.

Suho menatap gerbang universitas tersebut dengan pandangan lekat, seolah ketika sedetik saja ia berkedip ia akan kehilangan 'buruannya' baiklah Tao bukan buruan. Suho memakai headset miliknya dan mendengarkan lagu dari ponselnya, mencoba membunuh rasa bosan menunggu yang mulai menyergap.

Tapi untunglah, sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya. Suho menangkap seorang lelaki tinggi sedang berjalan sambil memegang beberapa buku di tangannya. Namja itu berpenampilan cukup nyentrik dengan rambut abu-abu dan beberapa piercing di telinganya. "Ini yang membuat aku yakin kalau Kris tidak akan menyukai Yi Xing, dia tidak akan suka dengan lelaki berpenampilan terlalu feminim. Well, aku tak mungkin menyalahkan cinta yang membuat Kris jatuh hati pada seseorang berpenampilan gangster seperti itu."

Suho menyalakan mesin mobilnya, membuntuti Tao ia sendiri tak mengerti apa alasan sesungguhnya ia berlaku bagai penguntit hari ini. Tao mengayunkan kaki-kaki jenjangnya menyusuri trotoar untuk tiba di halte bis terdekat, Suho terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah hingga ia menemukan waktu untuk mencegat Tao. Ia memberhentikan mobilnya di samping Tao dan buru-buru keluar dari mobil itu lalu berhenti di hadapannya.

Tao menghentikan langkahnya, "Chogiyo, aku mau lewat." Gulp! Suho menelan liurnya karena terkejut, ia hampir saja terbatuk-batuk. 'Astaga, aku tidak menyangka ia akan berbicara dengan nada suara seimut itu.' Batin Suho, ia kira Tao akan berbicara dengan nada kasar atau dingin tapi ternyata suara Tao lebih mirip anak SMA kelas satu.

"Uhm, Tao-ssi." Panggil Suho, ia memegang lengan Tao. "Ne?" tanya Tao, karena perbedaan tinggi badan yang mencolok antara keduanya Tao menunduk agar bisa menatap Suho dengan mata pandanya lekat-lekat, Suho mundur selangkah. 'Wajahnya memang garang, tapi kedua mata dan kantung matanya terlihat lucu. Dan astaga, aku tidak tahu ada orang yang bisa menatapku dengan pandangan sepolos itu.'

"Maaf, anda kenapa?" tanya Tao berusaha sopan, Suho membiasakan telinganya untuk mendengar suara Tao yang imut dan disertai aksen Korea yang buruk. "T-Tidak apa-apa, err.. bisakah kau ikut aku? Ayo masuk ke mobilku dan aku akan membawamu ke suatu tempat." Suho tersenyum, Tao melepaskan pegangan tangan Suho di lengannya. Pandangan polosnya berubah seratus delapan puluh derajat dan berganti dengan pandangan kejam yang sesuai dengan raut wajahnya sekarang.

"Uhm, Tao-ssi?" panggil Suho ragu. "KAU! Dasar orang jahat!"

BRUKK!

Suho limbung dan jatuh ke tepi trotoar, baru kali ini ia ditendang seseorang dengan postur tubuh yang lebih besar darinya. Suho memegang lehernya yang berdenyut-denyut sakit setelah sneakers Tao menghantamnya. "W-WAE?!" tanya Suho naik pitam, ia bingung mengapa Tao menendangnya dan mengatainya orang jahat padahal niatnya baik –menurutnya-

"Wae katamu? Aku tahu kau orang jahat, fyuh untung akhir-akhir ini aku selalu aktif latihan Wushu. Dan terima kasih ya, kau adalah orang pertama yang merasakan jurus terbaru yang kupelajari. Selamat tinggal, jangan ganggu orang-orang lagi!" Tao mencerca Suho dengan campuran dua bahasa –kebanyakan adalah Mandarin- Suho sweatdrop dan menatap punggung Tao yang menjauh dengan bingung.

"Yak! Tao-ssi! Tao-ssi! Argh!" Suho memegangi lehernya lagi, ia bersumpah rasa keras akibat tendangan Tao tak berkurang sedikitpun, ia yakin memar akan tercetak dengan jelas di leher putihnya esok hari. "Kris! Kau harus bertanggung jawab atas apa yang mantanmu lakukan padaku, dasar anak panda sialan!" Suho memaki-maki, ia pun masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti Tao lagi.

Ketika ia menemukan Tao, Suho dan beruntung karena tak ada seorangpun disekitarnya dan Tao. Suho memutuskan menarik tubuh Tao yang lebih tinggi darinya, dan memasukkan Tao dengan paksa ke kursi penumpang. "HEI! Apa yang kau lakukan?! Kau mau aku menendangmu lagi?" Tao protes, ia mengepalkan kedua tangannya mencoba melayangkan beberapa pukulan.

"Hei kau, diamlah. Aku tak bermaksud jahat, kalau kau memukulku lagi aku akan menelpon polisi dan melaporkanmu atas dasar tindak penganiayaan! Kau mau mendekam di penjara Seoul hah?" Suho tiba-tiba emosi, entahlah mengapa. "Bohong! Kau pasti orang jahat kan? Kau pasti akan menculikku, akan kulaporkan kau lebih dahulu ke polisi!"

"Ck, kau bahkan tak punya bukti apakah aku akan menculikmu atau tidak." Balas Suho dingin, ia memasang seatbelt nya lagi. Ia mendengar Tao menggumam 'Benar juga.' Kemudian Suho tertawa kecil. "Kalau begitu kau pasti akan memperkosaku? Kemudian kau menjualku sebagai pemuas nafsu? Tidak! LEPASKAN AKU!" Suho menggeram, ingin betul rasanya ia benar-benar menculik Tao dan memasang lakban di mulut lelaki itu agar ia tak berteriak.

"Cih, tidak bakal. Aku pastikan itu! Lagipula siapa yang akan nafsu dengan anak panda sepertimu?" Suho tertawa meremehkan, lalu menjalankan mobilnya. Ia beruntung Tao tak berontak, "NE? Kau bilang aku anak panda? Ya ya ya, kau benar kenalkan namaku adalah romantic Kungfu Panda, AB-style Tao imnida! Dan kau tahu, aku adalah panda terindah yang pernah ada! Tidak ada orang yang menolak pesonaku tahu!"

"Aku tak butuh perkenalan konyolmu itu, lebih baik kau kursus bahasa Korea secepatnya. Pelafalanmu terdengar sangat mengganggu telingaku. Dan aku ragu, karena kau sama sekali tak mempesona dihadapanku." Suho melirik Tao, lelaki tinggi itu menggeram dan menekuk wajahnya. Suho bisa liat bagaimana Tao mengerucutkan bibirnya, sebenarnya Suho tak benar-benar serius ketika menghina Tao. Lagipula Tao itu tampan untuk ukuran laki-laki, hanya saja Suho tak menyangka tingkahnya akan se-kekanakan ini.

"AKU SUDAH BELAJAR MATI-MATIAN DENGAN BAHASA KOREA TAHU! Aku bahkan sudah mempelajari jondaetmal maupun yaja! Jangan seenaknya kau mengejekku, dan satu hal lagi mungkin matamu saja yang bermasalah, semua orang akan tertarik padaku! Bahkan mantanku pun menyukaiku pertama kali karena wajahku!"

"Maksudmu Kris?" Tao terdiam, Suho terkekeh pelan. "B-Bagaimana kau tahu tentang Kris gege? Jangan-jangan kau benar-benar ingin menculikku lalu meminta tebusan pada Kris gege? Jangan! Aku dan dia sama sekali tak ada hubungan saat ini, ya meski aku masih mencintainya. Tapi jangan merepotkan dia, kumohon!" Tao menatap Suho dengan pandangan memelas, yang ditatap hanya balas menatap balik dengan tatapan malas.

"Kau, sudah kubilang jangan underestimate denganku! Apa wajahku terlihat seperti orang jahat huh?" Suho memutar stir mobilnya, membelok ke suatu arah. "Memang kau tak terlihat bagai orang jahat sih, tapi.. i've a big doubt about you." Gumam Tao.

"Baiklah, aku sepupu Kris." Ucap Suho pada akhirnya. "MWO? Bohong, Kris gege tak lahir di Korea. Dan setahuku, Kris gege tinggi. Mama dan papa nya juga tinggi, tapi kau pen- err.. maksudku tak terlalu tinggi sepertinya." Tao memelankan suaranya di akhir kalimat, Suho memutar bola matanya malas. "Bisa dibilang aku sepupu jauh, ayah Kris adalah orang Kanada kan? Ayahnya adalah adik dari ayahku, tetapi berbeda ibu. Jadi kami satu keturunan tetapi dari nenek yang berbeda, apa kau paham? Aku tahu kau pasti tak terlalu paham. Kalau kau tak percaya tentangku apa kau ingin kutunjukkan foto keluarga besar kami?"

"Sial, aku memahami kata-katamu tau. Aku tak perlu fotomu dan Baiklah, kau sudah tau namaku kan? Namaku Tao!" Tao menjulurkan telapak tangan kanannya. "Apa kau akan mengajakku berjabat tangan ketika aku mengemudi? Namaku Kim Joonmyeon, dan aku lebih tua darimu."

"J-Jun.. Man? Jun Mahun? Jun.. Ma Hao? Maafkan aku namamu terlalu susah untuk dilafalkan." Suho berdecak kecil 'Apa semua orang China susah sekali untuk melafalkan Joonmyeon dengan benar? Bahkan Lay saja dulu menganggap namaku menggelikan.' Batin Suho miris. "Baiklah, kalau itu menyusahkan kau bisa panggil aku Suho hyung. Dan Tao, keluarlah kita sudah sampai."

Tao menatap tempat yang dikunjunginya bersama Suho dari balik kaca mobil. Restauran China, salah satu restauran favorit Suho –yang juga jadi tempat pertama Suho makan siang bersama Lay- "Restauran? Kau akan mentraktirku makan? Asyik! Ayam asam manis Beijing aku datang~" Tao membuka pintu mobil Suho dan berlari meninggalkan Suho yang berdecak kesal.

. . .

"Jadi Suho hyung, ada alasan apa sebenarnya kau menculikku?" Suho menatap Tao yang kembali menyuapkan potongan ayam dengan sumpit ke mulut mungilnya sendiri. "Berhenti berkata aku menculikmu, orang-orang akan memandangiku curiga. Dan satu lagi, kalau aku menculikmu aku tak mungkin membawa anak panda sepertimu makan di tempat sebagus ini."

"Huh, dasar tidak ikhlas." Suho mendelik, Tao pura-pura tak mengetahui dan melanjutkan makannya. "Kau bilang, kau masih mencintai Kris?" tanya Suho, Tao mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya tanda ia menyetujui ucapan Suho. "Lalu kenapa kalian mengakhiri hubungan kalian?" tanya Suho sambil memijat lehernya lagi, lehernya masih berdenyut hebat akibat tendangan Tao.

"Em.. itu masalah privasiku." Jawab Tao, "Ck.. apa anak panda sepertimu punya rahasia? Sudahlah, toh aku melakukannya demi dirimu sendiri. Jawab saja, satu jawaban akan menguntungkan dirimu sebenarnya." Terang Suho. "Berhenti memanggilku anak panda! Aku.. aku tak punya alasan signifikan untuk menjawab hal itu sebenarnya. Aku hanya mengakhirinya secara tiba-tiba, tiga bulan lalu aku akan memasuki masa sidang skripsi. Kemudian hari-hariku juga disibukkan untuk membuat skripsi, dan aku tak mungkin tega menggantungkan Kris gege terus. Hampir setiap saat aku menolak ajakan kencannya, aku bahkan tak memperdulikan ia menjemputku di kampus dan memilih naik bis. Padahal ia sudah susah-susah meninggalkan pekerjaannya di kantor yang katanya super sibuk itu."

"Hm, pantas saja pemasaran kue dari cafe tiga bulan lalu benar-benar anjlok. Kepala pemasarannya ternyata sedang patah hati dan kau yang membuatku hampir gulung tikar anak panda." Tao menatap Suho sinis. "Tau apa kau?" lelaki itu bersungut kesal. "Aku ini bos Kris, cafe itu milik keluargaku. Dan aku sebagai anak satu-satunya yang melanjutkan usaha itu jadi bos diumur semuda ini." Tao menganga,'Jadi lelaki ini adalah bos Kris gege?' batinnya.

"Lalu?" tanya Suho lagi. "Ya setelah itu, aku merasa aku tak cukup pantas bersamanya. Aku tak ingin membuat Kris gege menderita, karena menurutku rasa cintaku padanya lebih daripada rasa cintaku pada diriku sendiri. Ini memang konyol, tapi kenyataan membuktikan hal ini benar. Setiap hari, setiap saat dia adalah hal pertama yang muncul dalam pikiranku. Kemudian aku sadar, bahwa aku dan Kris gege sepertinya tak ditakdirkan untuk bersama. Ia pasti bisa menemukan orang yang lebih baik daripada aku, yang bisa menjaga dan ada untuknya setiap waktu. Bukannya orang yang harus ia jaga dan menyusahkannya setiap waktu seperti.. aku." Jelas Tao panjang lebar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Kata-katamu indah sekali anak panda, tapi menurutku kau hanya menuruti rasa egois dalam dirimu sendiri. Mungkin kau memang merasa kau melakukan yang terbaik untuk Kris, tapi apakah kau pernah memikirkan perasaan Kris? Apa kau tahu, di tiga bulan kalian putus ini betapa sengsaranya Kris karena kau enggan menghubunginya dan kau menolak seluruh pesan-pesan Kris? Apa kau tahu, meski dibalik wajah angkuhnya itu ia menjalani satu bulan pertama tanpamu dengan begitu berat? Aku dengar dari para karyawan karena kebetulan aku tak ada di Korea saat itu, tapi kau tahu Kris seperti bukan Kris yang dulu. Dan setelah putus, kau bahkan bersikap seolah-olah kau tak mengenalnya kan? Kris menyimpan kenangan tentang dirimu dan data-datamu dengan apik di blognya. Kadang ketika kau berpikir dirimu tak berarti untuk orang lain, orang lain malah lebih membutuhkanmu daripada yang kau bayangkan. Dan kau tak sedikitpun memikirkannya kan?"

"Ne. Dan aku sangat menyesal, kau tahu hyung.. aku ingin kembali dan merajut hubunganku dengannya kembali. Tapi rasanya semua ini sudah terlambat, dan aku tahu dengan pasti Kris gege takkan menoleh kebelakang lagi untuk menatapku. Ia selalu bilang, 'masa lalu tak untuk disesali, tapi untuk dipelajari.' Dan aku yakin ia akan belajar berhati-hati untuk tidak mencintai orang yang salah lagi sepertiku." Tao menangis, ia mengambil tisu dan mulai menyeka air matanya. "Cobalah menghubunginya lagi, kau tahu terkadang berharap itu tak ada salahnya lho. Siapa tau nanti harapanmu akan terwujud, kau harus menghubunginya secepat mungkin sebelum kau keduluan orang lain."

"Maksudmu?" tanya Tao. "Well yeah, Kris sedang dekat dengan seseorang. Salah satu pattisier di kantorku. Apa kau mau ia menjadi bertambah dekat dengan orang lain dan benar-benar melupakanmu?" tanya Suho, ia mulai menyusun rencana.

"TIDAAAKKKK!" Suho menutup telinganya, rencana yang ia susun hancur karena teriakan Tao. "Ya! Hei anak panda bisakah kau tidak berisik? Dasar, bagus kalau begitu kau harus membantuku memisahkan Kris dengan pattisierku itu. Kau mau kan?" tanya Suho sambil meremas tangan Tao. "Em, baiklah akan kuusahakan. Ngomong-ngomong pattisier itu pacarmu? Atau orang yang kau cintai?"

Dug!

Suho kaget karena Tao menebak dengan tepat, "Ah.. itu.. err aku memang.. Lay.." Suho menjawab terbata-bata. "Lay? Yi Xing? Pegawai sahabat baik Kris ge? Aku memang tak tahu dengan pasti tapi aku kerap mendapati mereka berdua bersama. Ya Tuhan, bagaimana kalau Kris gege benar-benar jatuh cinta?" Tao panik, Suho ikut panik.

"Baiklah, baiklah! Kita susun rencana, kita harus mengikuti segala aktifitas mereka berdua mulai besok!" Tao mengangguk. Mereka pun menyelesaikan makan dan mulai melaju lagi. Tao memandang jalan dan hatinya kalut, ia bahkan tak mengatakan pada Suho dimana rumahnya karena sibuk memikirkan bayang-bayang Kris. Ia memutuskan mengusir Kris dari pikirannya sekarang dan memilih menatap jalan dengan pandangan intense.

"WHOA! Suho hyung! Bisakah kita berhenti? Ada panda! Aku mau foto dengan panda itu!" Suho memberhentikan mobilnya, ia menoleh menatap kebun binatang dengan patung panda di gerbang masuknya. "Dasar anak panda! Baiklah cepat! Kalau kita tak masuk dalam mobil lima menit setelahnya kau akan kutinggalkan di kebun binatang ini sendiri. Arasseo?!" Tao mengangguk dan berjanji melakukannya dalam lima menit.

. . .

Tokk.. tokk..

Dengan hati-hati Lay membuka pintu ruang kerja Suho, ia beruntung melihat Suho sedang duduk sambil menatap komputer berlayar datar di hadapannya. "Sajangnim, ini teh anda dan kue hari ini. Maaf aku memberikannya se-sore ini, tadi pagi sajangnim tak ada di ruangan." Suho menatap Lay, kemudian menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore. "Gumawo, letakkan saja di mejaku. Dan aku memang tadi pagi pergi jadi baru datang saat selesai jam makan siang." Lay mengangguk, Suho baru saja akan meraih teh yang dibuatkan Lay sebagai pengganti kopi tapi kemudian ia mengerang kecil. "Argh, leherku." Suho memijat lehernya pelan.

"Hyung gwaenchana?" tanya Lay panik. "Sebenarnya tidak terlalu." Suho memiringkan kepalanya, lalu menunjukkan lehernya yang memar ke arah Lay. "Omona! Tunggu di sini sebentar hyung, aku akan mengambilkan air hangat untuk mengompres memarmu." Lay melesat meninggalkan Suho, dengan pelan Suho meraih cangkir berisi teh di hadapannya.

'Teh hijau ini membuatku lebih nyaman.' Batin Suho, tak lama kemudian ia melihat Lay datang. Lay berdiri di samping Suho dengan ragu, "Kau kenapa Yi Xing?" tanya Suho. "Ehm annio. Apa hyung mau mengompres memar itu sendiri?" tanya Lay lalu meletakkan baskom berisi air hangat di meja Suho.

"Bisa kau membantuku? Sekarang rasanya leherku memar dan susah untuk digerakkan." Lay mengangguk, lalu memeras handuk kecil di dalam air hangat dan menempelkannya pelan-pelan di leher Suho. Suho sedikit berjengit karena rasa perih yang tiba-tiba menyapa. "Mengapa bisa sampai memar begini hyung? Apa hyung terjatuh dari tangga?"

"Tidak juga, ini hanya sebuah kecelakaan." Lay menaikkan sebelah alisnya tak tahu makna 'kecelakaan' yang dimaksud Suho dengan benar. "Hyung kecelakaan? Dimana? Apa baik-baik saja? Atau ada bagian tubuh lain yang terluka?" tanya Lay panik.

"Eh, bukan kecelakaan seperti itu. Kecelakaan ini disebabkan oleh manusia bodoh itu, hah.. kalau saja anak panda itu tak menendangku dengan kekuatan penuh pasti leherku takkan seburuk ini." Gerutu Suho, Lay memandang Suho bingung. "Anak panda? Nugu?" Lay kaget, karena baru saja ia memikirkan pertanyaan yang sama tapi seseorang telah lebih dahulu menyuarakan pikirannya.

"Kris? Mengapa kau tak mengetuk pintu terlebih dahulu?" Lay menoleh, ternyata ada Kris di depan pintu dan setumpuk berkas-berkas. "Maaf, aku lupa. Hei Joonmyeon, siapa anak panda yang kau maksud? Dan.. menendang?" tanya Kris, Suho merasa kaget dan salah tingkah. 'Kris tak boleh tau kalau aku baru saja bertemu dengan Tao siang tadi. Ini bisa jadi masalah!'

"A-Annio, bukan siapa-siapa. Maksudku err, aku tadi ke kebun binatang dan bertemu salah seorang mascot panda. Aku tak sengaja menabrak orang berpakaian panda tersebut dan ia menendangku." Jawab Suho berusaha menyakinkan. "Benarkah?" tanya Kris, Suho mengangguk yakin. "Memang kau kira ada panda yang bisa menendangku? Haha."

"Bukan panda asli yang kupikirkan," Lay menatap Suho, Suho menatap Lay balik karena seolah-olah Lay mengatakan 'Bukankah-itu-Tao-yang-dimaksud?' melalui tatapan matanya. Suho mengangkat bahu kemudian, 'Lay juga tak boleh tau kalau aku menemui Tao.' Batin Suho lagi.

"Baiklah, aku izin keluar sebentar. Ini tolong kau tanda tangani semua berkas ini," Suho mengangguk, dan Kris meninggalkan ruangannya. "Fyuh~" Suho menghembus nafas lega. "Ehm, hyung maukah kau memakai ini?" tanya Lay, Suho menatap pelindung leher di tangan Lay.

"Apakah harus? Bukankah itu untuk orang yang patah tulang lehernya?" tanya Suho. "Entahlah, tapi aku takut tulangmu retak. Pakai saja untuk berjaga-jaga, apa kau mau?" Suho mengangguk, dan membiarkan Lay memasangkan pelindung leher itu di lehernya. "Baiklah hyung, aku kembali bekerja dulu."

"Yi Xing tunggu!" Lay menoleh menatap Suho, Suho menghela nafas lagi –berusaha menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang- "Apakah kau mau pergi bersamaku hari ini? Aku akan mengantarmu pulang ke flatmu nanti." Tanya Suho, Lay tersenyum.

"Baiklah, memang hyung mau kemana?" tanya Lay. "Aku akan mengajakmu ke festival di Seoul, katanya disana banyak hiburan." Lay berbinar-binar, "Baiklah nanti hyung bilang saja kalau sudah pulang. Sudah lama aku ingin ke festival hehehe." Suho tersenyum melihat Lay dengan raut wajah bahagianya.

"Baiklah, sekarang kembalilah bekerja dahulu."

. . .

"Whoa, lampionnya indah sekali~" Suho tersenyum, Lay mengulurkan tangan kanannya. Di hadapan mereka ada jalan dengan pohon sakura di sisi kiri dan kanannya, dan di tiap-tiap pohon sakura itu digantung beberapa lampion sehingga warna merah muda dari pohon sakuranya terlihat jelas. "Festival ini diadakan untuk memperingati hari anak, dan setiap malam lampionnya selalu dinyalakan." Terang Suho, Lay mengangguk.

"Kau mau makan kue beras?" tanya Suho, Lay menatap Suho bingung. 'Sejak kapan dia bisa merakyat seperti ini?' batin Lay. "Em baiklah, ayo kita beli satu." Mereka pun berjalan ke arah salah satu kedai, kemudian membeli kopi hangat karena cuaca mulai dingin di malam seperti ini.

"Sepertinya di sana ada pertunjukan tari tradisional!" Lay menunjuk suatu tempat yang dikerumuni banyak orang, Suho mengikuti langkah Lay. Mereka menerobos beberapa orang hingga tiba di barisan terdepan, Suho menggandeng tangan Lay. Mereka menikmati tari yang dibawakan oleh beberapa remaja itu, Lay bahkan mengeluarkan ponselnya untuk merekam.

"Semenjak aku pindah dari Changsha tiga tahun lalu, aku tak pernah lagi datang ke festival. Padahal dulu, di China aku selalu menikmati setiap festival bersama nenek, ibu, maupun saudara-saudaraku." Kata Lay. "Benarkah?" tanya Suho, Lay mengangguk.

"Kalau begitu harusnya aku beruntung jadi orang pertama yang mengajakmu kemari kan?" Lay menaikkan satu alisnya. "Mengapa jadi hyung yang beruntung? Bukankah harusnya aku yang beruntung?" tanya Lay bingung. "Aku juga berhak merasa beruntung karena aku telah jadi orang pertama yang mengajakmu dalam festival seperti ini, entah mengapa melihatmu menyukai festival malam ini membuat hatiku bahagia."

Lay merasakan pipinya memerah, "Aigoo hyung, kau membuatku malu kekeke." Setelah pertunjukan tari tadi berakhir, mereka berjalan-jalan memutari festival itu. "Hyung, apa lehermu masih sakit?" tanya Lay khawatir, sedari tadi Suho selalu memegangi lehernya. "Hng, sedikit. Mungkin nanti kalau pulang aku akan beristirahat dan pasti akan cepat sembuh, jangan khawatir." Suho mengacak rambut Lay pelan, Lay hanya tersenyum kecil.

"Junmyeon?" Suho menoleh, Lay ikut-ikut menoleh. Mereka menatap pada gadis cantik dengan rambut hitam kelam sepunggung sedang berdiri di antara mereka, "Nana-chan?" sapa Junmyeon balik. Kemudian gadis yang dipanggil oleh Nana itu menyapa Suho dan mengajak lelaki itu mengobrol, Lay menatap mereka bingung karena sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Suho dan Nana –Lay sama sekali tak menguasai bahasa Jepang-

'Tapi Nana-chan? Bukankah itu berarti Suho sangat dekat dengan orang bernama Nana itu?' batin Lay, entah mengapa hatinya merasa sedikit sesak. Lay menatap dua orang yang kini mulai berjalan meninggalkannya, dua orang itu pergi menemui ke keramaian. Dan Lay takkan berani menyusul mereka, ia tak mungkin berada di belakang mereka bagaikan pengawal atau takkan mungkin pergi berjalan-jalan sendiri karena keterbatasan bahasa dan Lay tak tahu bagaimana cara untuk pulang dari festival ini.

Lay menundukkan kepalanya, menatap ke arah sepasang sepatu kets berwarna putih yang ia pakai. 'Mungkin Suho hyung sedang sibuk,' pikirnya. Begitu ia mendongakkan kepala, jejak kaki Suho maupun orang bernama Nana itu telah hilang. "Eottokhajji? Apa aku harus menelpon hyung?" Lay pun mengambil ponsel berwarna putihnya dan menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.

'Maaf, pulsa anda tidak mencukupi. Silahkan lakukan pengisian pulsa..'

"Mwoya? Ah sial sekali aku hari ini, aku bahkan tak tahu kalau aku tak punya pulsa. Kurasa aku akan menunggu dekat tempat parkir mobil saja, siapa tahu nanti Suho hyung akan lewat." Lay melangkahkan kakinya ke hamparan rumput dekat parkiran mobil, lalu memilih duduk di atas rerumputan itu.

"Suho hyung, memang tak lagi menyebalkan seperti dahulu. Tapi semenjak aku terluka dan masuk rumah sakit, entahlah ada sesuatu yang berbeda. Tapi sesuatu yang berbeda itu apa ya? Dan sejujurnya aku tak tahu kalau kepribadiannya jauh lebih baik daripada yang aku bayangkan." Gumam Lay.

Ia menatap ponselnya, Suho tak menghubunginya sedikitpun. Ia menggumam pasrah, mungkin ia akan pulang naik bis atau taksi. Lay memandang langit yang awalnya bertabur bintang mulai diselimuti oleh awan gelap, ia takut hujan akan datang sebelum ia masuk ke dalam kendaraan yang bisa membawanya pulang.

"Yi Xing?!" Lay menoleh, Suho berlari ke arahnya. "Hei, kenapa tadi kau pergi?" Lay tersenyum kecil, diam-diam ia lega karena Suho tak meninggalkannya pulang. "Aku tak pergi hyung, aku tadi ketinggalan jejakmu dan temanmu. Jadi aku memutuskan menunggu disini," terang Lay.

"Apa kau lama? Maafkan aku, aku sama sekali tak bermaksud meninggalkanmu. Aku kira kau tadi di belakangku, dan Nana membuatku lupa waktu. Ketika aku berbalik, aku tak menemukanmu. Aku begitu panik, aku tahu kau takkan mengerti jalan pulang, untunglah kau ada disini." Suho berbicara dengan cepat, Lay yang tak mencerna sepenuhnya hanya mengangguk. "Ini, kebetulan disana ada yang jual bubble tea. Apa kau pernah mencobanya? Temanku Luhan merekomendasikan minuman ini padaku, mungkin awalnya sedikit aneh tapi ketika kau benar-benar merasakannya pasti akan enak."

Lay menerima gelas plastik berisi bubble tea, "Sepertinya ini enak." Kemudian setelah memasukkan sedotan ke dalam gelas itu, Lay meminum teh itu perlahan-lahan. "Hyung, Nana tadi teman dekatmu ya? Kalian begitu akrab, gadis Jepang memang biasanya sangat rupawan." Lay menatap Suho, "Ya ia teman dekatku sewaktu di Amerika dulu. Aku tak menyangka kalau ia datang ke Korea, ia semakin cantik dari waktu ke waktu."

"Hm, geurae." Jawab Lay sekenanya, ia terlihat bagai menekuk wajahnya. "Hei Yi Xing, kau kenapa?" Lay menggeleng pelan, Suho memegang telapak tangan Lay. Lay menatap Suho bingung, "Kau mau tahu apa yang kubicarakan dengan Nana? Ia membicarakan hal yang sangat seru hingga membuatku lupa waktu. Ia bilang, ia telah jatuh cinta pada seseorang, dan orang itu.."

"Hyung?" tanya Lay spontan, Suho tertawa. "Bukan, orang itu sahabatku. Aku hidup di antara mereka bertiga, dan selalu terabaikan kekeke. Tapi mereka tak pernah jujur pada perasaan masing-masing dan menutupi perasaan mereka dengan bertengkar dari waktu ke waktu, tapi semua itu berubah ketika sahabatku menyatakan perasaannya pada Nana. Dan tadi ia menyampaikan kabar gembira bahwa dia bilang ia dan kekasihnya itu akan melaksanakan pernikahan secepatnya di bulan depan, aku tak menyangka mereka benar-benar meninggalkanku secepat itu. Hm, kisah cinta itu indah ya?"

"Benarkah? Ah aku kira orang itu hyung, aku turut berbahagia untuk sahabatmu itu hyung." Suho mengangguk, "Itu tak mungkin menjadi aku, aku mengenal Nana sebagai seorang sahabat. Dan kemudian Nana tahu kalau aku err... tak menyukai perempuan. Hm, ya begitulah. Dan Nana bilang, ia memintaku menjadi pembawa acara di pesta pernikahannya nanti. Keren kan?"

"Keren." Lay tersenyum sambil menampilkan dua ibu jarinya, Suho menggenggam tangan Lay lagi. "Yi Xing.." panggil Suho lembut, Lay menatap Suho. "Aku.. entahlah ada apa denganku." Gumam Suho, Lay makin menatap Suho ingin tahu.

Suho memejamkan matanya, kemudian tangannya beralih pada kedua pipi tirus Lay. Ia menarik wajah Lay mendekat dan mencium bibir Lay lembut. Lay membelalakkan matanya, tapi entah mengapa ia tak bisa menolak. Ia diam dan membiarkan dirinya larut dalam ciuman lembut milik Suho, lelaki itu memperlakukan Lay seolah-olah Lay adalah hal paling berharga di dunia dan bila ia melakukan satu saja gerakan salah maka ia akan kehilangan hal berharga itu selama-lamanya.

Suho menarik tengkuk Lay mendekat, lalu melumat bibir bawah Lay sekilas. Kemudian perlahan-lahan mengakhiri ciuman itu dengan manis pula, Suho menempelkan dahinya dan dahi Lay. "Yi Xing.." panggil Suho lembut, nafas hangat Suho terasa menggelitik bagi Lay.

Tesss!

Lay menarik tubuhnya menjauh, kemudian menatap langit mendung. Detik itu gerimis mulai turun, tapi Lay tak terlalu perduli. Ia menatap wajah tampan Suho, yang juga balas menatapnya dengan pandangan paling lembut yang pernah Lay lihat. "Em, hyung.. gerimis sudah mulai turun, apa bisa kita pulang?" entah mengapa Lay yakin ia mendengar Suho mendesahkan nafas pelan, tampak seperti... kecewa?

Suho mengajak Lay duduk di dalam mobilnya, Suho menyalakan mesin mobil dan memanaskan mobilnya lebih dahulu. "Yi Xing-ah, mianhae.. aku tak sengaja, m-maksudku bukan tak sengaja. Aku hanya.. mencintaimu secara tiba-tiba." Kata Suho pelan sambil memegang lengan Lay. "Hyung, gwaenchana. Mengapa kau terlihat sangat menyesal?"

"Aku tak menyesal." Suho menggeleng, "Kau membenciku? Maaf, aku tak memberi kenangan baik di awal pertemuan kita dan tiba-tiba berlaku seperti tadi." Lay mengusap bahu Suho, "Hyung, gwaenchana. Aku tak membencimu, bahkan mungkin aku.. mencintaimu?"

"Benarkah?"

. . .

"Haruskah aku terus membuat hujan buatan sebagai latar yang manis untuk cerita cinta mereka?" Victoria mengeluh, ia menatap langit dan menampung beberapa tetes air hujan dengan telapak tangannya. "Karena memang cuaca romantis yang cocok saat ini adalah hujan, karena kalau kau menurunkan salju di tengah musim semi ini akan aneh dan mencolok." Gumam Krystal.

"Benar juga," Victoria menggumam, ia menatap langit kemudian langit berubah menjadi lebih mendung dan bersamaan dengan angin berhembus hujan yang turun semakin deras. "Unnie, dua jam lagi akan memasuki hari ketiga masa kutukan Suho-ssi." Sulli mengingatkan.

"Aku tahu, hm.. kita lihat saja besok. Bukan begitu Luna?" Luna mengedipkan sebelah matanya tanda setuju. "Hei, apa yang kalian sembunyikan dari kami huh?" Amber menggerutu, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Victoria maupun Luna.

TBC._.

Makin aneh hewhewhew, tapi di chapt depan kayanya abis. Dan hell ini panjang banget. Jangan bosen ya ;-;

Last, review?^^~