Buonanotte~!

Aku datang lagi~

Terima kasih untuk yang sudah me-review kemarin ya, ada: Just 'Monta –YukiYovi, riidinaffa, Iin cka you-nii, Michiyo Yoshikuni, sudah kubalas lewat PM :DD

Juga:

Arumru-tyasoang: yosh! Terima kasih untuk partisipasinya! xD

Margareth eleanor: terima kasih review dan partisipasinya, untuk let's ask character ngantri dulu ya :D

Hiruma Enma 01: hahahaha makasih banyak yaa, ditunggu juga reviewnya :)

Chopiezu: SETUJU. Saya jadi ngeri sendiri, ih. Yap, tentu saja! Makasih RnR-nya :DD

Aither: salam kenal! Tentu saja boleh! Hahaha, benar sekali itu. Nggak gaje koook, makasih pertanyaannya, ngantri dulu ya... :D

Yuki kineshi: iya, aku tahu itu dari anime, hehehe. Yap, thanks reviewnya!


"Eh, Nagisa, ada apa?" nada suaranya berubah lebih santai setelah marah-marah tadi.

Ia menendang kerikil di depannya sambil mendengarkan Nagisa.

"Mau minta tolong? Boleh saja, memang kenapa?" ia bertanya lagi.

Juumonji berhenti di depan vending machine dan melihat-lihat minuman yang dijual—sembari mendengarkan jawaban Nagisa.

Ketika Nagisa selesai bicara, Juumonji melotot kaget.

"APA?"

Side-story from Grow Up, Flowers!

Love Labyrinth

Chapter 6: Sara Meets Hana

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Written by: undine-yaha

Writer's assistant: chopiezu

KLENENG KLENENG

Hana yang sedang membersihkan mulut Kiseki dan menyimpan teether-nya menoleh ke pintu.

"Ira—"

Ia mengernyit melihat siapa yang datang.

"Juumonji?"

"JIJIIII!" panggil Kiseki senang karena Juumonji datang lagi.

"I-iya, ini aku," jawab Juumonji dengan wajah panik dan ngeri. Ia menghampiri Hana.

"Ngapain kamu balik lagi?" tanya Hana heran.

"Hana, kau harus membantuku, harus!" kata Juumonji, mengabaikan pertanyaan Hana.

"Membantu apa?" Hana membuang tisu basah bekas Kiseki ke tempat sampah.

"Nagisa, barusan dia meneleponku," cerita Juumonji, "dia bilang, minggu depan SMP-nya akan mengadakan reuni…"

"Terus?"

"Dia memintaku untuk menemaninya datang ke acara itu," jawab Juumonji.

"Ya sudah, temani sajaa," sahut Hana santai.

"Masalahnya adalah," wajah Juumonji terlihat panik lagi, "acara itu acara resmi. Kau tahu? Para wanita akan memakai gaun mereka dan para pria akan memakai… jas."

"Waah, bagus dong berarti!" Hana menepukkan tangannya senang. Kiseki ikutan tepuk tangan.

"BAGUS APANYA?" teriak Juumonji, "itu berarti aku harus pakai pakaian resmi! Aku tidak terbiasa dengan pakaian seperti itu! Aku takut… salah kostum." Ia melengos di akhir.

Hana tersenyum. "Masa? Kalau ke kampus kau sering pakai kemeja 'kan?"

Sarjana hukum itu nyengir. "Kadang-kadang saja sih."

Hana berpikir sejenak.

"Saat kau dan teman-teman ke kasino di Las Vegas, apa yang kaupakai?" tanyanya.

Juumonji tercenung. "Setelan," jawabnya. Setelan—kemeja, jas, dan celana panjang.

"Ya suudaaah, pakai saja itu," Hana mengeluarkan buku catatan tokonya.

"Hm, iya juga ya," Juumonji mulai lega, "mungkin aku akan beli celana panjang lagi, soalnya yang dulu itu sudah kependekan."

"Bissa, bissaaaa," sahut Hana, mengangguk-angguk.

"Tapi kenapa ya?" Juumonji melipat tangan di dada, "rasanya tetap saja khawatir."

"Begini saja deh," Hana berhenti mencatat di bukunya sejenak, "minggu depan, sebelum kau berangkat ke rumah Nagisa untuk menjemputnya, mampirlah ke sini. Aku akan menilai apakah tampilanmu sudah pas atau belum."

Juumonji berbinar. "Ide bagus! Eh? Menjemput Nagisa?"

Hana berdecak, "Ck! Ya iyalaah! Bawa mobilmu dan jemput Nagisa. Antar dia ke acara reuni itu!"

"Hmmm, ya, baiklah," jawab Juumonji.

"Kau benar-benar menyukai Nagisa ya? Sampai panik begitu," sindir Hana.

Juumonji mengalihkan wajahnya yang terlihat malu, "Jangan meledekku!"

"Ooh, berarti benar suka, ya," kata Hana lagi, lalu tertawa lepas. Masih gengsi aja sih, Juumonji ini, pikirnya.

"Jii, jii," Kiseki mengulurkan tangannya, minta digendong.

"Hei, sudah sembuh ya? Syukurlah," katanya, mengangkat Kiseki dari keretanya.

"Semua orang khawatir," katanya lagi pada Kiseki.

Hana asyik mencatat di bukunya. Juumonji juga hanya diam setelah itu. Hanya terdengar celotehan tidak jelas milik Kiseki.

Juumonji jadi merasa tidak enak. Tahu-tahu datang, marah-marah, angkat kaki, eh, datang lagi. Tapi Hana terlihat biasa saja—hanya heran di awal dan setelah itu ia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.

Apakah ia memang tidak peduli, atau seperti itukah agen rahasia? Pandai berpura-pura?

"Emm, Hana," Juumonji memberanikan diri memanggil, "aku minta maaf… untuk yang tadi."

Hana melirik sebentar. Dua detik kemudian, dia tertawa terbahak-bahak.

"Kok ketawa sih?" protes Juumonji, "aku ini minta maaf!"

"Justru itulah," kata Hana, masih tergelak, "karena kau minta maaf, makanya lucu! HAHAHA!"

Juumonji memasang wajah kesal. Padahal dia berjuang keras untuk bisa mengatakan itu.

"Gomen ne," kali ini Hana yang meminta maaf. "Sudah, nggak usah kaupikirkan. Aku yang harusnya minta maaf. Aku terlalu berlebihan."

Juumonji menggeleng. "Nggak juga, kau benar kok. Aku hanya terlalu kesal untuk mengakuinya."

"Kalau sekarang, kau belum bisa merasakannya," kata Hana, "nanti deh, kalau kau sudah jadian dengan Nagisa, kau pasti merasakan apa yang kumaksud."

"Siapa juga yang mau jadian?" sentak Juumonji, lagi-lagi, gengsi.

"Papa gaga mumu jijan?" tiru Kiseki seadanya.

Merasa posisinya mulai tidak aman, Juumonji menaruh lagi Kiseki di keretanya. "Aku pamit dulu. Daah, Kiseki," pamitnya. Ia ingin segera kabur sebelum Hana mulai meledek hubungannya lagi dengan Nagisa.

"Dadaaah," Kiseki melambaikan tangan.

"Hari ini giliran jaga Taki bersaudara 'kan? Salam saja deh buat mereka," kata Juumonji, "mata ne."

"Mata aimashou," Hana melambaikan tangan sambil cekikikan.

~GrowUp!~

Taki bersaudara yang dimaksud datang tepat setelah Juumonji keluar dari toko.

"Ahahaaaa, Mademoiselle Hana, selamat pagiii!" sapa Taki dengan putarannya.

"Selamat pagi, Monsieur," sahut Hana riang.

BRAK!

"Ao-chan!" Suzuna langsung menggebrak meja kasir dan memelototi Hana, "tadi kami bertemu Monjii! Ngapain dia ke sinii?"

Hana melongo.

"Hei! Kok bengong?" Suzuna menjentikkan jarinya di depan wajah Hana.

Hana mengerjapkan matanya. "Aku kaget tahu!" protesnya, "iya, dia baru saja mampir, memang kenapa sih?"

Suzuna memasang tampang sangsi. Sementara itu, Taki sedang main dengan Kiseki.

"Mencurigakan," kata Suzuna. Hana menyihir sebuah kursi untuknya supaya ia bisa duduk.

"Kau ingat waktu Monjii dan Musha-syan bilang akan mengantarmu secara bersamaan?" lanjut Suzuna antusias, "mereka berdua mencurigakan!"

Hana melengos. "Mencurigakan apaaan?"

"Ao-chan, apa kau tidak berpikir kalau mereka berdua begitu perhatian padamu?" tanya Suzuna.

"Soalnya kita berteman, teman itu saling membantu," jawab Hana santai, mengulang kalimat seseorang.

"Begitukah?" Suzuna mengerutkan dahi sementara antena rambutnya bergerak-gerak.

Akhirnya Hana menceritakan semua yang terjadi barusan. Suzuna heboh sekali saat mendengarkannya. Percakapan mereka sempat terpotong sewaktu ada seorang bapak yang membeli mawar untuk istrinya.

"Syukurlah kalau kalian sudah bermaafan," Suzuna berkomentar ketika Hana mengakhiri ceritanya, "aku penasaran sama yang namanya Nagisa!"

"Dia sangat manis dan ceria," cerita Hana, "yang terpenting, dia menyukai Juumonji dengan tulus. Juumonji juga tertarik padanya. Jarang-jarang 'kan?"

Suzuna mengangguk, "Kalau begitu masalah Monjii beres. Dan, kau tahu tidak, aku punya hot issue."

Hana berbinar. "Tell me!"

Entah kenapa wanita sangat suka bergosip.

"Musha-shan akan segera jadian dengan kakak kelasmu di Deimon a.k.a. sahabatnya Mamo-nee: Sara-nee!" cerita Suzuna heboh.

Hana berpikir sejenak. "Sara-nee? Hmmm, Fujiwara Sara?"

"TING TONG! Anda benaaar!" Suzuna bertepuk tangan. Kiseki ikutan. Taki ikutan.

"SERIUS?" Hana benar-benar terlihat gembira, "itu bagus! Seingatku, Kak Sara itu baik dan kalem—setipe dengan Kak Mamori lah, minus cerewetnya. Hehehe. Mereka cocoook!"

"YA~! Aku juga sangat merestui hubungan mereka," kata Suzuna, seakan dia itu orang tua Sara atau Musashi, "yah, semoga saja Musha-shan yang pasif itu bisa membahagiakan Sara-nee."

"Huuu, menghina tuh," sahut Hana, "aku yakin kalau Kak Musashi juga menyukainya, dia pasti bisa bertindak sesuatu untuk perasaannya."

Suzuna tersenyum. "Mmm, aku ingin bertanya padamu, Ao-chan. Tanpa maksud menuduh apapun."

"Eh? Mau tanya apa?" Hana penasaran, lalu melirik Taki dan Kiseki. Terlihat baik-baik saja. Taki kelihatan seperti badut yang menghibur di mata Kiseki.

"Kalau Ao-chan sendiri, bagaimana perasaanmu terhadap mereka berdua?"

Wajah Hana yang tadinya ceria berubah drastis menjadi muram.

Tapi wanita itu me -recover wajahnya dengan cepat, lalu tersenyum. "Aku hanya menganggap mereka sebagai teman. Mereka baik, that's all. Nggak ada yang spesial."

Suzuna mengangguk. "Iya, maaf ya membuatmu kaget. Aku hanya ingin tahu pendapatmu."

"Kau tahu siapa yang kucintai, Suzuna," Hana menerawang, menatap langit di luar pintu tokonya, "kau tak perlu meragukan perasaanku padanya."

"AHAHAA! Little Mademoiselle menggigit jarikuuu!" jerit Taki.

"YA~! Ao-chibi lapar yaa? Ayo makan bubuuuur!" Suzuna berdiri dari kursinya dengan semangat.

Hana tersenyum. "Jangan banyak-banyak yaa, nanti tidak habis!"

Mata hitamnya kembali menerawang.

"Hei," gumamnya, entah pada siapa, "kau sudah makan belum?"

~GrowUp!~

Beberapa hari terakhir Kuroki, Toganou, dan Musashi benar-benar tidak bisa diganggu. Sebentar lagi proyek mereka selesai dan gedungnya akan diresmikan. Sementara itu, giliran jaga terus dilanjutkan. Yukimitsu, Doburoku, dan teman-teman yang lain datang untuk membantu, meskipun saat itu bukan giliran mereka.

Hari ini, tiga baris ruko baru akan diresmikan di pertokoan Deimon.

~GrowUp!~

Suzuna sedang memberikan susu pada Kiseki. Hana mencuci di belakang. Monta mengelap perabotan dan Sena mengepel.

Intro lagu Flower dari Back-On terdengar. Hana berlari dari belakang ke meja TV untuk mengangkat telepon.

"HIEEE! Lantai yang sebelah situ baru saja kupel!" protes Sena.

"Hontou ni gomenasai!" sahut Hana, lalu segera mengangkat telepon, "Kuroki! Ada apa?"

"Hei, Hana!" sahut Kuroki, "ayo ke tempat proyek! Acara peresmiannya baru saja selesai, dan kami sedang makan-makan nih! Ajak si Sena, Suzuna, sama si Monyet yaa!"

"Eeeh?" Hana terkejut, "memangnya nggak apa mengajak kami?"

"Nggak pa-pa!" jawab Kuroki, "yang lain juga ngajak teman kok! Ini ada Riku, Marco dan pacarnya juga datang. Mereka bilang mau melihat Chibi, kangen katanya!"

Sena, Suzuna, dan Monta mendekat ke Hana karena penasaran, mencoba menguping pembicaraannya.

"Kau sudah izin ke Kak Musashi belum?" tanya Hana, masih ragu dan sungkan.

"Sudah! Buruan ke sini! Kalian belum makan siang 'kan? Kami tunggu!" cerocos Kuroki, "sudah ya, pulsaku nanti habis!"

Tut tut tut.

"Kenapa?" tanya Monta.

"Kita diajak makan siang di tempat proyek," jawab Hana.

"Mau MAAAX! Kerjaan mengelap-ngelap ini membuatku lapar!" Monta berteriak girang.

"YA~! Baiklah, tapi selesaikan dulu kerjaan beres-beres kita!" kata Suzuna.

"YOSH!"

~GrowUp!~

Sekali lagi, Kiseki jadi idola. Dia diperebutkan, setiap orang ingin menggendongnya.

Hana hanya menonton sambil duduk dengan sebuah cream puff di tangan. Tiba-tiba Musashi duduk di sebelahnya.

"Kiseki jadi rebutan," ia berkomentar sambil melipat tangan di depan dada.

"Itu cucunya Kak Onihei, ya!" terdengar celetukan Kuroki yang disambut tawa semuanya ketika Onihei menggendong Kiseki.

"Emmm, iyah, hahaha," sahut Hana kagok. Ngapain dia duduk di sebelahku?

"Hei Aoihoshi, aku ingin menanyakan sesuatu," kata Musashi lagi. Rupanya yang tadi itu hanya basa-basi. "Ini rahasia. Kau agen rahasia, kan? Jadi kurasa… kau bisa menjaga kerahasiaan pembicaraan ini."

Hana tertawa kecil. "Wah, serius sekali. Begini ya, sejauh ini aku sudah mencapai level keamanan ketujuh dari sepuluh level yang ada. Rahasiamu aman padaku."

"Soalnya, pertanyaanku ini agak aneh," Musashi menatap dengan datar Marco yang sedang merayu Himuro, "wanita itu… lebih suka diajak makan pagi, siang, atau malam?"

Hana memelototi mantan kakak kelasnya itu. HERAN.

Musashi mendengus. "Sudah kubilang ini pertanyaan yang aneh. Jangan melihatku seperti itu, mata besar."

"Err, baiklah, baik," Hana menenangkan diri, bersikap seperti profesional, "kalau menurutku sih, dari sisi romantis, lebih suka makan malam. Apalagi kalau di restoran, dengan musik jazz atau bossa nova, wuaaaah…." Dia jadi membayangkannya berlebihan.

"Hm? Ngapain Ao-chan dan Musha-shan?" Suzuna mengamati dari jauh.

"Ya lagi ngobrol laah, masa lagi pukul-pukulan," sahut Monta ngawur.

"Begitu ya?" Musashi tersenyum simpul, "baiklah. Konsultasi selesai, sekali lagi, jangan biarkan pihak luar tahu pembicaraan ini."

Hana melahap potongan terakhir cream puff-nya sambil menghormat. "Roger, Boss."

~GrowUp!~

Makan malam.

Sara baru saja menerima SMS dari Musashi kalau ia diajak makan malam. Bukan malam ini, tapi tetap saja…

Hal itu membuat hati Sara berbunga-bunga.

"Kyaaa, aku senang sekali," pekiknya pelan. Jangan sampai terlalu keras, bisa-bisa orang sekantor langsung melihat ke arahnya.

"Sekarang ia mungkin sedang makan siang di gedung yang baru diresmikan itu," gumam Sara, "aku akan ke sana sebentar dan mengejutkannya!"

"Aku keluar makan siang dulu yaaa!" pamitnya riang pada teman di cubicle sebelah.

Wanita itu cepat-cepat keluar dari kantor dan berjalan kaki ke pertokoan Deimon.

Matahari bersinar cemerlang, membuatnya sedikit memicingkan mata karena silau. Setelah dua kali menyeberangi persimpangan, sampailah ia di tempat yang dituju.

Banyak orang terlihat di halaman gedung. Mereka berkelompok-kelompok, saling berbicara dan tertawa. Beberapa memegang gelas yang berembun, berisi minuman dingin. Sara memasuki halaman dengan agak sungkan dan bersyukur tak ada yang memerhatikannya.

Matanya mulai mencari-cari sosok pria kekar dengan wajah yang biasanya datar itu.

"Ah, itu dia Gen-kun!" Sara berucap pada dirinya dengan penuh kelegaan. Ia melangkah mendekati sosok itu—yang ternyata sedang tersenyum.

Musashi sedang tersenyum pada orang-orang yang tak dikenal Sara. Mereka asyik mencari perhatian pada seorang bayi yang sedang digendong seorang wanita.

Nah, kalau yang itu, Sara mengenalnya dengan pasti.

Sedikit gelisah dengan keberadaan Hana, Sara memutuskan untuk tetap maju.

"Gen-kun, Konnichiwa!" sapanya sambil melambaikan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang satchel bag warna krem yang senada dengan sepatunya.

Hana berbinar. Rasa penasarannya hampir terjawab. Senyum Musashi hilang, ia terkejut.

"Kenapa, kaget ya?" Sara menunjuk wajah terkejut itu, "gantian, sekarang aku yang memberimu kejutan!"

Kuroki dan Toganou yang belum pernah melihat Sara langsung cengo.

"Hei, jangan pasang wajah bodoh seperti itu ah," tegur Onihei.

"I-itu… wanita itu… siapanya Bos?" tanya Kuroki.

Onihei tersenyum jahil. "Hmmm, kau belum tahu ya? Menurut perkiraanku sih, dia pacarnya Bos."

"NANI?" Kuroki dan Toganou berteriak kaget.

"Yare, yare…," keluh Kid, melihat tingkah teman-temannya, "itu hanya perkiraan. Perkiraan!"

Perkiraan Onihei biasanya salah lho.

"Egh, kau ini," Musashi menggaruk kepalanya yang tidak gatal—mulai salah tingkah, "benar-benar membuatku kaget."

Sara tertawa kecil, lalu melihat Hana. Hana juga melihatnya dengan wajah ramah.

Musashi melihat pada siapa pandangan Sara ditujukan, lalu melihat ke Sara lagi.

"Oh, ya, aku belum mengenalkannya padamu," Musashi berkata, "ini Aoihoshi Hana. Aoihoshi, ini Fujiwara Sara."

"Yoroshiku onegaishimasu, Kak Sara," Hana menganggukkan kepalanya.

"Yoroshiku," sahut Sara, membungkukkan badannya. Ia memperhatikan Hana sejenak—seharusnya aku mengenal dia, dia adik kelasku! Tapi sekeras apapun Sara mencoba mengingat, tak ada hasilnya.

Hana tidak terlihat seperti orang jahat. Ia juga bersikap biasa saja di dekat Musashi. Sara jadi tidak bisa membencinya—terlepas dari peristiwa siapa yang barangnya diperbaiki duluan oleh Mr. Takekura.

"Dan ini… Aoihoshi Kiseki," Musashi tersenyum lagi ketika memperkenalkan Kiseki.

"Halo, Kiseki-chan!" sapa Sara, melambaikan tangannya di depan Kiseki.

Kiseki hanya melihat Sara dengan penasaran. Ia mau menghafal satu wajah baru lagi. Sara tersenyum. Musashi pernah bercerita soal giliran menjaga bayi itu. Pagi-malam-siang-sore sepertinya direlakan untuk datang dan membantu. Mengapa sampai seperti itu? Apa memang karena ia sayang pada Aoihoshi Kiseki atau Aoihoshi yang satunya?

"Kau sudah makan?" tanya Musashi, membuyarkan pikiran Sara yang berkelana—hampir panas gara-gara cemburu (lagi).

"Err, belum sih. Sebenarnya aku ingin ke sini untuk say hello saja, lalu pergi makan siang," jawab Sara.

Musashi, lagi-lagi, merasa bersalah. Ia menjawab ya dengan santainya ketika Kuroki berkata kalau ia akan mengajak Sena, Suzuna, Monta, dan Hana ke acara pembukaan. Ia sama sekali tidak kepikiran mengajak Sara juga.

Akhir-akhir ini Musashi merasa kalau Sara sudah menjadi bagian hidupnya.

"Ayo makan," Musashi berjalan dan mengayunkan tangannya, mengajak Sara ke tempat makanan dan minuman disajikan.

Sara berkedip dua kali. "Eh? I-iya!" ia mengikuti langkah Musashi.

"Weitssss, Kak Musashi langsung mengajak Kak Sara makan dan memisahkan diri dari kita," Hana berkomentar, menahan diri untuk menyoraki mereka berdua.

"YA~! Mereka terlihat cocok, bukaaan?" Suzuna menyahut, antenanya aktif.

"CURANG! Bahkan Juumonji juga sedang PDKT dengan Nagisa-chan! Sekarang, Bos juga sudah punya gebetan! CURAAAANG!" si jomblo, Kuroki, berteriak-teriak nggak jelas.

"Nggak nyangka, ada juga yang suka dengan wajah oom-oom seperti itu," Toganou berkomentar—setengah menghina.

"Aku juga mau punya pacaaaar," Monta ikut-ikutan, memasang wajah memelas melihat Musashi dan Sara.

"Kalau tingkah kalian seperti itu, nggak akan menarik perhatian wanita," Onihei memberi nasihat.

Kuroki menghela napas panjang. Ia memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.

Marco dan Himuro.

Sena dan Suzuna.

Kiseki sempat melintas dalam pandangannya karena orang-orang masih bergantian menggendongnya. Sampai-sampai Kisekinya bingung.

Agak jauh di sana, Musashi dan Sara.

Sementara dalam bayangannya: ada Juumonji dan Nagisa.

"Hati memang terasa sepi tanpa cinta," Marco angkat suara, mengeluarkan statement puitis.

"Hahaha, Marco-san ada-ada saja," Sena ketawa garing.

Tetsuma yang sedari tadi berdiri di belakang Kid hanya berwajah datar.

"Kalau Aoihoshi?" Kid memanggil Hana, tersenyum sopan, "kenapa datang sendirian saja? Jangan-jangan belum punya pacar juga."

"Eh?" Hana kaget karena Kid bertanya padanya, tumben. "Ehehe, sudah Kak, aku sudah punya pacar, kok."

"Kalaupun dia jomblo aku juga nggak mau," cibir Kuroki. Hana memelototinya dengan sadis.

"Berisik, gondrong cerewet," balas Hana.

Suzuna jadi teringat kejadian mencurigakan yang tadi dilihatnya.

"Ao-chan," panggilnya, "tadi kau sempat bicara dengan Musha-syan, membicarakan apa?"

"Waduh," Hana mengambil Kiseki dari Himuro, "itu rahasia. Yang jelas, bukan hal yang khusus kok!"

"Fufufu, aku percaya padamu kok, Ao-chaaan," Suzuna tertawa jahil.

~GrowUp!~

Sepulang kuliah, Juumonji sengaja melewati pertokoan Deimon sebelum pulang ke rumah. Ia ingin ke Son Son untuk membeli minuman dingin.

Atau lebih tepatnya, menemui Nagisa.

Pintu kaca otomatis itu membuka. Juumonji melangkah masuk dan melirik kasir di sebelah kanan.

"Ternyata benar mau ke sini," kasir itu, Nagisa, tersenyum senang, "Irasshai!"

Juumonji nyengir. "Butuh refreshing setelah ceramah dosen entah-apa-itu tadi."

Pria itu melangkah ke rak minuman dingin dan mengambil cola. Ia segera ke kasir lagi.

"Cuma ini saja?" tanya Nagisa. Juumonji mengangguk.

"Tidak usah pakai kantung. Mau langsung kuminum," katanya lagi.

"Iya, ini," Nagisa menyerahkan kaleng itu, "terima kasih. Datang kembali."

Juumonji tersenyum. Tapi Nagisa terlihat resah. Ia lalu mengayunkan tangannya, meminta Juumonji mendekat.

"Apa?" tanya Juumonji heran, mendekat ke Nagisa supaya ia bisa membisikinya. Pembicaraan rahasia, lagi?

"Ada hal yang mengganggu pikiranku," ucap Nagisa, "kalau Kakak sudah sampai rumah, SMS aku ya? Akan kuceritakan."

Juumonji mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah."

Nagisa tersenyum lega. "Kakak nggak mampir ke rumah Kak Hana?"

"Haah? Nggak, di sana sudah ada banyak orang yang membantunya. Lagian aku bosan melihat wajah Hana terus," jawab Juumonji.

"Ooh," Nagisa mengangguk, "kalau Kiseki-chan? Bosan tidak?"

Juumonji berpikir sejenak, lalu tertawa kecil. "Hahaha. Kalau Chibi sih berapa kalipun dilihat nggak bikin bosan. Baiklah, aku pulang dulu ya!" ia berpamitan.

"Hati-hati di jalan!" sahut Nagisa.

~GrowUp!~

Cklek! Juumonji memasuki rumahnya. Gelap. Ayahnya belum pulang rupanya.

Juumonji ingin sekali bisa punya tempat tinggal sendiri seperti Kuroki dan Toganou, tapi entah mengapa ia merasa rumah ini lebih nyaman. Apalagi hubungannya dengan sang ayah semakin hari semakin baik. Jadi ia lebih betah di rumah orang tuanya.

Sebelum masuk ke kamar, ia sempatkan mengambil segelas air dingin—masih haus rupanya. Setelah itu ia segera ganti pakaian dan mengistirahatkan diri di tempat tidur.

Hatinya jadi sedikit berdebar. Apa yang ingin Nagisa ceritakan?

Juumonji: Hei, ada apa? Aku sdh di rumah.

Nagisa: Hei, iya Kak! Emm, aku sedang resah karena aku akan segera memasuki semester akhir… T_T

Juumonji tersenyum memaklumi. Dulu dia juga pernah mengalaminya.

Juumonji: Terus kenapa? Masa' mau kuliah terus n gak lulus2…

Nagisa: iya, aku cuma kurang yakin dengan skripsiku. Bisa selesai g ya?

Juumonji: nanti akan ada dosen pembimbing skripsi. Rajin2lah konsultasi dengannya.

Nagisa: hehehe, iya ya. Kalau dosennya jutek dan g mau bantu? O.O"

Juumonji: ck. Bilang padaku yg mana orgnya dan akan kupukul dia.

Juumonji mengetik pesan barusan dengan sungguh-sungguh. Nagisa yang menerima pesan itu langsung tertawa. Jiwa premannya Juumonji kumat!

Nagisa: hiyaa, Kakak! Jgn dipukul! Ng, itu saja yg ingin kusampaikan. Kakak sedang apa?

Juumonji: di kamar. Istirahat.

Nagisa tersenyum senang. Juumonji bisa menenangkan perasaannya, sekaligus ia merasa menjadi wanita paling beruntung yang bisa berada dalam perlindungan Juumonji.

Nagisa: um, kalau gitu, selamat beristirahat ya… :D

Sekarang Juumonji yang tersenyum. Semakin nyaman saja rasanya untuk segera tidur setelah perkuliahan tadi.

Juumonji: yosh, ja ne!

Nagisa: iya! Sampai bertemu di acara reuni besok!

Sambil menghela nafas, Juumonji meletakkan ponselnya di meja dekat tempat tidur dan berbaring lagi, memejamkan mata.

Sampai bertemu di acara reuni besok!

Reuni?

Besok?

Juumonji sontak bangun dan duduk.

"ASTAGA! Reuni SMP-nya Nagisa! BESOK!" teriaknya panik.

Sepertinya ia tidak jadi tidur.

[bersambung…]

*LET'S ASK CHARACTERS!*

Yo-ho! Kali ini pertanyaan dari arumru-tyasoang. Arumru-san meminta Musashi yang melakukan penyelidikan, tapi sepertinya Musashi susah banget disuruh, jadi Undine saja ya? Hehehehe. Yang pertama menjawab adalah Musashi, dan yang selanjutnya kupilih secara random.

-Apa yang pertama kaulakukan setelah bangun tidur?

Takekura Gen: ke kamar mandi untuk mandi dan bercukur—meski berapa kalipun kucukur, jambangnya tumbuh lagi dengan cepat. Hn.*pasrah*

Kobayakawa Sena: Merapikan dan menggulung kasurku lalu disimpan di lemari. :D

Toganou Shozo: begitu bangun tidur, aku langsung melanjutkan membaca Jump.

Niwa Masato: menelepon Hana. :)

Yukimitsu Manabu: minum air putih! Supaya tubuh sehat dan segar :D

Next! Pertanyaan dari riidinaffa!

-Maukah kalian bertukar tempat? Juumonji dengan Hiruma, Kurita dengan Kuroki, dan Musashi dengan Toganou?

Hiruma: GUE jadi kakak pertama tiga saudara sialan itu? KEEKEKEKEKE!*ngakak sambil nembak sana-sini* MUSTAHIL!

Kurita: uwaaah, jadi Kuroki-kun yang suka main game? Kalau begitu aku akan main game tentang makanan! xD

Musashi: kalau aku jadi Toganou, mungkin aku akan bisa menggambar sendiri bangunan yang akan kubuat. :)

Juumonji: Hah? OGAH JADI SETAN.

Kuroki: Haah? OGAH JADI GENDUT.

Toganou: Haaah? OGAH JADI TUA.


Untuk pertanyaan yang lain, tunggu giliran yaaa, pasti akan dijawab satu persatu :DD

Sekian ceritanya. Makasih banyak sudah membaca dan maaf kalau ada kesalahan,ya. Review please~ kritik, saran, tanggapan, anonymous, semua boleh!

See ya soon!