Pair : SasuHina

Rate : T

Genre : Fantasy, Romance, Humor (maybe)

Warning : OC, OOC, Typos, etc


-Fantasia-The Realm of Thanos-

{Sasuhina Version}


-The Exiled Immortal 2-

Pada malam harinya Hinata dan Sasuke pergi ke taman bunga untuk memulai misi mereka. Dan seperti rencana mereka sebelumnya, mereka datang bersama dengan Sasuke yang akan bersembunyi tidak jauh dari tempat dimana Hinata dan Sasori akan bertemu untuk tetap bisa mengawasi dan mendengarkan percakapan mereka.

"Dia sudah datang, Kid… cepat hampiri dia…". Perintah Sasuke pada Hinata saat mereka tiba di taman bunga dan melihat siluet target mereka sudah ada di sana membelakangi mereka.

"Ha-hai". Hinata berjalan mendekat dan Sasuke mulai bersembunyi.

Sasori yang mendengar suara langkah kaki mendekatinya, dengan segera berbalik untuk melihat siapa yang datang. Dan ia langsung mengembangkan senyum yang tidak terlalu lebar saat melihat Hinata.

"A-apakah aku terlambat?". Tanya Hinata tidak enak hati karena sepertinya ia membuat Sasori menunggu lama.

"Sama sekali tidak… aku juga baru tiba".

Hinata melihat ke sekelilingnya mencari Sasuke. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Dan di sana ia merasa hanya ada mereka berdua berdiri di tengah-tengah hamparan taman bunga.

"Jadi… apa yang akan kita lakukan?". Tanya Sasori tiba-tiba.

"E-etto…". 'apa yang harus kulakukan?'. Hinata tidak tahu harus berbuat apa dan hanya memainkan jari-jarinya. Entah kenapa semua rencana yang sudah tersusun sempurna menjadi berantakan karenanya.

Sasori tersenyum dan tiba-tiba meraih tangan Hinata. "Kau tahu… aku sudah lama memperhatikanmu…"

'memperhatikanku?'. Hinata melihat tangannya sejenak. Jujur saja Ia merasa tidak nyaman dengan tangannya yang digenggam Sasori.

"Kau terlihat sering keluar dengan pria berambut raven itu…"

'dia tahu itu?'. Hinata mulai cemas.

"Apakah… apakah dia kekasihmu?". Tanya Sasori tiba-tiba yang membuat Hinata tersentak kaget mendengarnya.

"Ti-tidak, tapi… sepertinya hanya aku yang menyukainya".

"So-souka". Sasori terlihat sedikit kecewa mendengarnya. "Lalu kenapa kau memintaku bertemu? Kau seharusnya bersamanya…"

"Karena dia hanya umpan untuk menjebakmu". Tiba-tiba Sasuke muncul dan menarik tangan Hinata dari Sasori. Setelah itu ia mencengkram leher pemuda itu. "Sudah berani bersentuhan di hari pertama kencan huh?". Ejeknya sinis. "Sayang sekali kau tidak akan mengingat apa yang terjadi". Kemudian ia mulai mengucapkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang mengerti. "Xemnahort faas abis vaxe seeivu habx luna…".

Setelah mengucapkan mantra itu, bisa terlihat dengan jelas bahwa kekuatan dan ingatan Sasori masuk ke dalam tubuh Sasuke seperti jiwa yang terlepas dari tubuh seseorang dan masuk ke raga orang lain. Tubuh Sasori gemetar sangat hebat. Dia terlihat seperti sangat kesakitan. Beberapa kali Hinata memalingkan wajahnya tidak ingin melihat, karena itu sangat mengerikan baginya. Tapi ia tidak bisa tahan untuk terus memalingkan wajahnya. 'Apa yang harus kulakukan? Aku harus cepat memikirkan sesuatu'.

"Aaaaaaarrrgggghhhhhh! Tolong aku Hinataaaaa". Sasori terus berteriak meminta tolong.

"Ini adalah bola yang dapat menyerap ingatan seseorang atau kekuatan seseorang ke dalamnya dan juga bisa mengembalikan ingatan dan kekuatan itu kapanpun terserah keinginanmu"

Tiba-tiba Hinata mengingat tentang benda yang ia beli. 'jika aku menggunakannya sekarang, mungkin Sasori-san akan tetap memiliki sedikit kekuatan dan ingatannya…'. Hinata mengeluarkan benda kecil itu dari sakunya dan menyerap sedikit kekuatan dan ingatan Sasori tanpa Sasuke tahu.

"Argh… Tidaakkkk… Kaasaaannn… kumohon jangan membenciku…. Aku bukan monster… tidaaakkkk… aku janji aku akan jadi anak baik… kumohon sayangi aku… jangan membenciku… kaasaaannn… tousaaannn"

'Gomen ne Sasori-san… aku akan mengembalikan ingatanmu kembali nanti…'. Hinata tidak tahan mendengar Sasori yang terus berteriak dengan ingatan masa lalunya.

Setelah mengatakan kalimat-kalimat itu, Sasori kehilangan kesadarannya dan jatuh lemas. Hinata dengan cepat memasukkan kembali bola itu ke dalam sakunya saat Sasuke menoleh ke arahnya.

"Selesai… kita pergi". Sasuke menghampiri Hinata.

"Apakah tidak apa-apa meninggalkannya di sini?". Hinata nampak khawatir melihat Sasori yang tergeletak di atas hamparan bunga. Jujur saja ia ingin menghampirinya dan menolongnya. Tapi ia mengurungkan niatnya karena ada Sasuke yang memperhatikannya dengan tatapan tidak suka saat ia terus melihat ke arah Sasori.

"Tidak akan ada yang berani mencelakainya di sini". Kata Sasuke dingin.

"Ba-baiklah kalau kau bilang begitu…"

Sasuke dan Hinata kembali ke istana bawah tanah tanpa mengatakan suatu apapun. Itu seperti Sasuke mengerti bagaimana perasaan Hinata setelah melihat semua yang terjadi.

"Pengorbanan dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan… ingatlah itu, Kid". Kata Sasuke tiba-tiba menghentikan Hinata yang akan melangkah menuju kamarnya.

Hinata mencoba menenangkan dirinya sendiri agar Sasuke tidak merasa terganggu dengan guncangan jiwanya. Lalu ia berbalik ke arah Sasuke dan mencoba tersenyum. "Un… a-aku tahu itu".

"Hmm, kau melakukan pekerjaan bagus hari ini… sebagai imbalannya aku akan memberimu hadiah…"

"Hadiah?".

"Hn. Kau boleh melihat-lihat kamarku sekarang".

"Eh?".

"Kau boleh masuk ke kamarku dan mengambil beberapa buku di atas meja… tapi ingat, jangan melakukan hal-hal konyol di dalam"

"Buku? Untuk apa?".

"Kau tidak perlu tahu… lakukan saja apa yang kuperintahkan"

"Ha-hai".

Hinata berjalan ke arah kamar Sasuke. 'yang mana kamarnya?'. Ia melihat banyak sekali pintu. Dan dia tidak tahu pintu mana yang merupakan kamar Sasuke. 'pasti di sini'. Ia yakin karena pintunya berbeda dengan pintu yang lain. Pintu itu terlihat sangat besar dan tinggi.

-kreettttt-

Hinata membuka pintu dengan hati-hati. Setelah itu dengan cepat ia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ke sekelilingnya. Ia sangat terkejut karena kamar Sasuke sangat rapi dan bersih. Tidak seperti perkiraannya dimana biasanya kamar para pria selalu berantakan. Ia berhenti mengagumi kamar itu dan dengan segera mengambil beberapa buku dan dokumen-dokumen di atas meja kemudian keluar. Tapi sebelum ia melangkah keluar, ia mendengar suara seseorang yang terengah-engah dan menggeram frustasi di sudut ruangan yang paling gelap.

"Ma…ster…?".

Hinata mencoba mendekat ke sumber suara. Ia mendengar suara anak laki-laki. Tapi suaranya terdengar berat hampir seperti suara orang dewasa, dan itu datang dari suatu tempat di ruangan itu.

"Master…"

Membeku karena ketakutan, Hinata memilih diam dan melihat ke sekeliling kamar itu sekali lagi. Tapi tiba-tiba ia mendengar suara gemerincing rantai yang bergerak.

"Kau bukan Master… kau…siapa?".

Lalu pelan-pelan Hinata melihat siluet seseorang muncul dari kegelapan. Itu adalah seorang anak laki-laki dengan tatapan kosong dan ekspresi seperti mayat hidup. Hinata memperkirakan usia anak itu kira-kira lima tahun atau lebih. Ia mencoba mendekatinya dan terkejut melihat lingkaran sihir terukir di belakang anak itu. Ia juga melihat darah yang mengering di lantai dan juga di dinding. Darah itu keluar dari tubuh anak itu. 'apakah dia terluka? Kenapa dia di rantai?'.

"Sudah kubilang untuk tidak melakukan hal konyol di sini". Suara Sasuke mengejutkan Hinata.

"A-anak ini siapa?"

"Namanya Gaara… Dia iblis yang sangat langka…"

"Iblis?"

"Hn. Dia juga makhluk abadi sepertiku, tapi lebih lemah dari makhluk abadi yang lainnya… tapi dia adalah iblis yang paling bisa kuandalkan".

"….".

"Dia terlalu kuat untuk iblis seusianya… maksudku, dia sudah banyak membunuh dan usianya masih lima tahun lebih enam bulan"

"Siapa tadi namanya?"

"Gaara"

Hinata menatap anak itu lagi. "Kasihan sekali dia…"

"Dia hanya belum sempurna dan dia masih kecil… saat dewasa nanti dia akan tumbuh menjadi iblis yang kuat dan sempurna"

"Gaara-kun… apakah kau terluka?". Tanya Hinata berjalan mendekati anak itu.

"Un".

"Kenapa?"

"Karena aku menyakiti diriku sendiri".

"Tapi…"

"Aku tidak merasa kesakitan saat aku menyakiti diriku sendiri"

"Apakah kau mau makan sesuatu?"

"Tidak".

"Umm, apakah kau mau permen?". Hinata menawarkan beberapa permen padanya dan Gaara memakan semuanya dengan rakus. Ia bahkan hampir memakan jari Hinata.

"Kau hampir kehilangan jarimu… tinggalkan saja dia sendiri". Kata Sasuke malas.

"Aku tidak akan membunuhmu". Kata Gaara tiba-tiba dan tersenyum pada Hinata. "Kau adalah masterku juga"

"Ck. Cepat sekali dia menyukaimu… anak-anak jaman sekarang mudah sekali menyukai orang yang baru dikenalnya hanya karena permen bodoh". Sasuke terlihat kesal.

"Bukankah dia terlihat manis?". Tanya Hinata pada Sasuke.

"Ugh, kesabaranku sudah habis… cepat keluar dari sini, kau mengerti?". Geram Sasuke frustasi melihat kedekatan Hinata dan Gaara.

"Sampai jumpa lagi, Gaara-kun…"

"Un". Gaara mengangguk senang.

Setelah itu Hinata berjalan keluar kamar diikuti Sasuke di belakangnya.

"Aku harus menggunakan kekuatan baruku… dan mungkin akan menghabiskan waktu lama untuk itu… jadi, kau harus istirahat sekarang atau lakukan saja apapun yang kau inginkan".

"Apakah tidak apa-apa kalau aku berkeliling di sekitar sini?"

Sasuke menyeringai. "Kau yakin tidak akan takut dengan para iblis menakutkan yang menjadi pelayanku di sini?"

"MEREKA DI SINI?". Teriak Hinata tidak percaya.

"Tentu saja mereka di sini… ini adalah markasku, maksudku markas kita, kau ingat?"

"Kau mau kemana?"

"Ke pusat dari kerajaan… ada di lantai terbawah dari istana ini"

"…."

"Kenapa? Kau mau ikut? Tapi mungkin sebaiknya tidak… karena manusia biasa tidak diizinkan masuk ke dalam…"

"Kenapa?"

"Karena jika kau melakukannya… kau akan mati". Setelah mengatakan itu Sasuke menghilang dari hadapan Hinata.

"Mungkin aku akan melakukan hal yang lainnya…". Hinata mendesah bosan. 'lebih baik aku melihat keadaan Gaara-kun'. Ia dengan cepat masuk kembali ke dalam kamar Sasuke dan berjalan mendekati anak itu.

"Kaasan?"

'Kaasan? Apakah tadi dia memanggilku kaasan?'. Hinata berlutut di depan Gaara dan melihat darah di sekitar anak itu. Setelah ia benar-benar memperhatikannya, ternyata darah itu belum benar-benar kering. Bahkan masih ada darah baru yang keluar dari tubuhnya. "Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?". Tanyanya khawatir.

"Karena… aku membenci diriku sendiri…"

'Tidak seharusnya dia hidup seperti ini… Meskipun dia adalah iblis, dia seharusnya dibebaskan dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti anak-anak yang lainnya… kasihan sekali anak ini…'

"Kaasan…"

"Ya?"

"Apakah kaasan tahu sesuatu tentang kejadian di malam festival bintang jatuh? Master mengigau tentang itu saat dia tidur… dia juga mengigau tentang sepasang kekasih…"

'mengigau?'

"Sepasang kekasih itu apa?"

"Sepasang kekasih adalah dua orang yang saling mencintai dan selalu bersama dalam sedih, senang dan bahkan dalam penderitaan yang mereka alami, mereka akan selalu bersama dan saling menguatkan sama lain…"

"Lalu… apakah kaasan dan master adalah sepasang kekasih?"

"A-apa? Ti-tidak itu…". Hinata bingung menjelaskannya.

"Aku juga mendengar sepasang kekasih akan melahirkan sesuatu yang baru… apakah itu benar?"

"Ma-maksudmu anak? I-itu…umm… begini Gaara-kun… sepasang kekasih biasanya disatukan dalam suatu pernikahan… dan setelah itu mereka baru memiliki anak-anak dalam kehidupan mereka…"

"Apakah itu berarti orang tua kaasan adalah sepasang kekasih?"

"Un tentu saja… mereka saling mencintai dan bahkan mereka meninggal dengan… berpelukan…". Ucap Hinata lirih. Ia sedih mengingat kedua orangtuanya.

"Aku mungkin dilahirkan tanpa cinta… tapi aku penasaran, apakah aku akan mendapatkan kekasih suatu hari nanti… seseorang yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku… seperti kaasan dan master, seperti kedua orang tua kaasan…". Gaara terlihat antusias. "Lalu kami akan bermain petak umpet bersama…"

'Mungkin maksud anak ini adalah teman …tapi aku pikir tidak seharusnya aku menghancurkan kebahagiaannya sekarang…'. Hinata tersenyum melihat Gaara yang tertawa senang. "Tentu saja Gaara-kun… aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukannya…"

"Un… dan lebih baik kaasan segera tidur sekarang…"

"Baiklah…". 'Aku pikir aku harus tidur sekarang… akan sangat berbahaya jika aku terus berada di sekitar sini'. "Oyasumi Gaara-kun…"

"Oyasumi kaasan"

Setelah itu Hinata keluar dari kamar Sasuke dan kembali ke kamarnya. Ia segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan harus tidur saat itu juga. Tapi saat ia mencoba memejamkan mata, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Aku penasaran dengan gadis yang Sasuke sukai di kehidupannya sebelumnya… mungkin karena kegagalannya mendapatkan gadis itu hingga ia berubah menjadi seseorang yang kejam…". 'Kenapa? Aku sama sekali tidak mengerti…'. "Sebenarnya gadis itu siapa?". Tiba-tiba angin berhembus. Dan dalam waktu sekejab Hinata merasa sangat lelah dan membuatnya mengantuk. Dengan waktu singkat ia terlelap.

"Kau siapa?"

'apakah ini mimpi?'. "Si-siapa itu?". Ia tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap.

"Namaku Naruto… aku hanya sedang bosan, jadi mari kita bicara"

"A-apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kenapa kau memilih saudaraku?"

"Sa-saudara?"

"Hmm… ya, secara teknis Sasuke adalah saudaraku… kami mempunyai ikatan yang kuat… jika dia mati, aku akan mati juga… begitu pula sebaliknya"

"Mungkin karena aku merasakan sesuatu terhadapnya…"

"Merasakan apa?"

"Se-sepertinya a-aku… a-aku menyukainya…"

"Dan karena perasaan yang kau rasakan itu kau ingin tinggal di sini? Hah, makhluk hidup sepertimu benar-benar menyusahkan dan selalu membuat masalah…"

"…"

"Tapi mungkin itulah kenapa ada berbagai jenis makhluk hidup… karena mereka sangat mengganggu dan suka menyulitkan makhluk lainnya… aku lebih suka tinggal di sini memakan banyak jiwa sebanyak yang kuinginkan"

"…."

"Tapi banyak hal terjadi dan menjadi lebih hidup sejak kau di sini"

"A-apakah itu pujian?"

"Aku jarang memberikan pujian, kau tahu?"

"Tapi kenapa kau berencana mengambil alih dunia?"

"Aku? Itu… sebenarnya itu adalah tujuan utama Sasuke… dan aku hanya mendukungnya karena dia berjanji memberiku lebih banyak jiwa selama aku mematuhinya"

"…."

"Tapi pikiran makhluk abadi sangat kejam… dan makhluk hidup terlalu lezat, jadi kupikir aku tidak bisa berhenti menikmatinya…"

'Jadi, itu adalah kesalahan makhluk hidup juga? Ironis sekali…'

"Semoga beruntung dengan rencanamu menggoda saudaraku…"

"Eh?"

"Tapi aku ragu itu… sungguh… kau hanyalah manusia biasa…"

"Aku juga ragu kau adalah makhluk kegelapan… kau sepertinya sangat lugu, baik dan-"

"Karena aku sedang tidak lapar sekarang"

'apa?'

"Tapi sekarang aku penasaran dengan makhluk hidup… aku menginginkan sebuah tubuh sebagai wadah dan itulah kenapa aku harus mendapatkan banyak kekuatan"

'apa maksudnya?'

"Baiklah… sampai jumpa lagi…"

Beberapa saat kemudian, Hinata merasa seseorang mengguncang tubuhnya dan mencoba membangunkannya. Itu berhasil membuat Hinata membuka matanya perlahan. Saat ia benar-benar terbangun, ia terkejut melihat Hime-sama berdiri di samping tempat tidurnya. "Hi-Hime-sama? Ba-bagaimana Hime-sama bisa masuk ke sini?"

"Aku tidak mempunyai waktu banyak untuk menjelaskannya Hinata… aku datang kemari untuk memberitahumu sesuatu yang penting…"

"Sesuatu yang penting?"

"Ya, itu benar… apakah kau mau tahu tentang apa itu?"

Hinata mengangguk cepat dan dengan segera duduk di tepi ranjang.

"Itu tentang rasa sakit yang Sasuke rasakan… kau sungguh ingin mendengarnya?"

"Un… kumohon beritahu aku Hime-sama…"

Hime-sama segera menceritakan tentang masa lalu Sasuke. "Sasuke adalah makhluk abadi yang lahir dari salah satu perasaan utama manusia…. yaitu kebencian"

"…."

"Selain itu, ada dua makhluk abadi yang lainnya… salah satunya bernama Shion yang tercipta dari perasaan manusia, yaitu cinta… dan ada satu lagi bernama Itachi, ia tercipta dari kebaikan manusia itu sendiri…"

"…."

"Shion dan Itachi, mereka saling mencintai satu sama lain… dan Sasuke sendiri… dia juga mencintai Shion…"

'apa?'

"Sasuke tidak bisa menerima kenyataan itu… dan dia dikuasai dengan kebencian, karena dia tercipta dari kegelapan"

'Sedalam itukah Sasuke mencintainya?'

"Dan karena itulah dia… dia membunuh Itachi dan mencoba membunuh Shion juga"

"….."

"Dan dia menjadi lebih kejam dari sebelumnya"

"Heh... dia mati di tanganku? Cih… kau memang dewa yang bodoh"

"Sasuke, TIDAAKKK!"

"Hahahaha, sudah terlambat untuk menghentikanku sekarang!"

"Aku adalah Shion". Kata Hime-sama tiba-tiba membuat Hinata membulatkan mata tidak percaya. "Untuk menutupi rasa sakitnya, Sasuke mencoba mengambil alih dunia… aku sudah mengurungnya, tapi dia akhirnya bisa bebas… aku sudah berpura-pura mencintainya dan aku juga berpura-pura menjadi kekasihnya…"

'aku tidak bisa mendengarnya lagi…'

"Itachi bilang aku harus melakukannya… kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya… Dan Sasuke bersikap atas kehendaknya sendiri… pertama ia memusnahkan sesuatu terlebih dahulu baru ia akan berpikir"

"…."

"Setelah dia kembali dari kerajaan kegelapan, dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dan kemudian, dia menyadari bahwa aku hanya pura-pura mencintainya untuk mencegahnya agar tidak memusnahkan dunia yang Itachi dan aku ciptakan… itulah kenapa aku…".

"Hei, Kid. Apakah kau belum tid-".

Hinata melihat Sasuke masuk ke dalam kamarnya dan melihat Shion. Mereka saling menatap cukup lama.

"Aku… aku harus pergi dari sini". Kata Shion tiba-tiba.

"Tunggu, jangan pergi…". Sasuke menarik tangan Shion dan mencengkramnya erat.

Hinata bisa melihat air mata Shion yang jatuh dari matanya.

"Jangan pergi, Shion…"

'Entah kenapa hatiku sakit melihat ini'

"Aku tidak pernah mengira kau masih hidup…". Sasuke masih mencengram tangan Shion dengan kuat.

"Lepaskan aku… kita… kita sudah selesai… tidak ada yang perlu diungkit dari masa lalu…". Shion mencoba melepaskan tangan Sasuke dari tangannya. "Lupakan aku, dasar bodoh… aku adalah musuhmu sekarang…". Ia berhasil melepaskan cengkraman Sasuke, dan dengan cepat menghilang dengan menangis.

"Cih". Sasuke mengepalkan tangannya kuat.

'Jadi Hime-sama adalah gadis yang Sasuke sukai?'. "Jadi dia adalah gadis yang kau sukai di masa lalu?". Tanya Hinata memastikan. Matanya mulai berair.

"A-apa? Tidak… tentu saja tidak". Sasuke memalingkan wajahnya. "Sebenarnya… ya, dulu memang benar begitu".

"Tapi-"

"Kubilang dulu… dan sekarang tidak". Sasuke menatap mata Hinata. "Aku tidak lagi mencintainya, kau mengerti? Jadi, lupakan itu". Ia melangkah pergi.

Hinata meraih tangan Sasuke. 'Tidak, aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja'.

"Ada apa?". Sasuke mengerutkan kening bingung.

"Jangan…"

"Ck. Ada apa lagi, kid?"

'Jangan pernah mencintainya lagi… karena aku di sini, bersamamu…'. Hinata tidak bisa mengatakannya.

Sasuke melepaskan tangan Hinata dari tangannya dan memalingkan wajahnya. "Apa yang dia katakan padamu?"

"Dia memberitahuku tentang masa lalumu… tentang bagaimana kau pernah sangat mencintainya…"

"Dia hanya memberitahumu kisah dari versinya, dan itu bukan kisah yang lengkap"

"…."

"Aku akan memberitahumu kisah dari versiku, jadi kau bisa memberitahuku siapa yang benar dan siapa yang salah…"

Hinata mengangguk pelan.

"Ehh… darimana aku harus memulainya… umm… Fantasia tercipta dari tiga inti penting. Itu adalah kelahiran, kehidupan, dan kematian"

"….."

"Makhluk-makhluk abadi adalah bentuk padat dari tiga inti itu… dan kau bisa menyebut kami para dewa jika kau mau, tapi aku tidak suka itu"

"…."

"Aku tidak tahu bagaimana kami lahir dan kenapa kami bisa kembali ke dalam bentuk padat… tapi, itu dimulai dari penciptaan… dan saat inti itu kembali menjadi bentuk padat, kelahiran dari dunia ini dimulai…". Sasuke menatap Hinata dalam. "Shion, dia adalah inti dari kelahiran… dia menciptakan banyak kehidupan, seperti tumbuhan dan semua ras yang pernah kau lihat… tapi kekuatannya mempunyai batas, jadi dia tidak bisa menciptakan makhluk hidup yang banyak"

"Jadi… bagaimana jika ada seseorang yang mati?"

"Heh, tunggu sampai aku selesai, Kid… jangan bertanya untuk sekarang…"

"Ba-baiklah…"

"Itachi adalah inti dari kehidupan… Dia mengontrol kehidupan dan membagi semua ras menjadi peradaban yang berbeda… Dia mengawasi makhluk hidup dan menekan kekuatan mereka… jadi mereka tidak bisa menjadi lebih kuat dari yang mereka seharusnya…"

"…."

"Dan aku sendiri adalah inti dari kematian… aku adalah makhluk yang mengambil jiwa-jiwa makhluk hidup… aku mengontrol kerajaan kegelapan atau Realm of Thanos yang merupakan istana yang penuh dengan ingatan buruk dari kematian dan kebencian mereka… pekerjaan yang paling bagus"

"Tunggu sebentar… lalu Thanos itu apa? Kenapa istana di bawah tanah ini di sebut kerajaan kegelapan atau Realm of Thanos?"

"Karena Thanos di sini"

"Thanos?"

"Thanos terlahir saat aku memperoleh bentuk padatku… Dia tidak bisa bebas maupun mendapatkan bentuk padatnya"

"Apa?"

"Dia hampa dan bisa menyerap segalanya… energi negatif di dunia ini lebih besar dari energi positif, jadi dia menjadi satu dengan energi negatif… dan aku di sini untuk memastikan dia di bawah kendaliku… bahkan tanpa kepandaian, dia sudah sangat berbahaya… jika dia memakan terlalu banyak energi negatif dan mendapatkan bentuk padatnya, dia akan menjadi lebih berbahaya"

"Jadi kerajaan ini adalah Thanos itu sendiri?"

"Ya… jiwanya menyatu dengan istana bawah tanah ini dan istana ini menjadi hidup…"

"So-souka"

"Nama lain Thanos adalah Naruto".

"Eh?" Hinata terkejut mendengarnya.

"Hn. Sekarang pertanyaanmu sebelumnya adalah bagaimana jika ada seseorang yang mati, kan?"

"Un"

"Peraturannya sederhana, seseorang yang mati akan terlahir kembali, itu lebih mudah untuk Shion menjaga keseimbangan antara kehidupan dan kematian tanpa menciptakan sesuatu yang baru… tapi, kadang mereka tidak bisa hidup kembali untuk beberapa alasan… contohnya, hati mereka sudah diselimuti oleh kegelapan, atau mereka tewas seperti putri petani itu… mereka akan menjadi jiwa pengembara atau terlahir kembali menjadi iblis… itulah hubunganku dengan Shion… lingkaran kematian dan kelahiran tidak bisa terpisahkan, dan aku bertemu dengannya sesekali… terutama setelah perang"

"…."

"Itulah saat… dia mencoba memanipulasiku"

"Memanipulasi?"

"Saat itu aku lelah dengan para makhluk hidup dan pekerjaanku… makhluk-makhluk itu hanya melakukan apa yang mereka inginkan… perang, membunuh satu sama lain, merusak alam, menghancurkan keseimbangan antara kehidupan dan kematian… dan suatu hari Naruto kenyang akan kebencian… tidak ada seorangpun tahu apa yang terjadi jika dia terlalu banyak menyerap energi negatif… jadi aku berpikir, kenapa kita menciptakan mereka pertama kali? Kenapa tidak kita atur mereka, jadi mereka tidak bisa melakukan apapun yang mereka inginkan?"

"….."

"Terutama manusia… mereka melakukan segala hal yang mereka suka… Ck, aku lelah dengan para pecundang itu, aku lelah mencoba mencegah Thanos menyerap energi negatif, aku lelah pada mereka yang suka bicara tanpa berpikir… dan akan lebih baik jika aku memperbudak mereka atau menghancurkan mereka, lalu membuat makhluk hidup baru yang bisa kukendalikan… mereka pikir mereka pintar huh? Mereka pikir mereka bisa melakukan sesuatu? Hahaha, mereka tidak pernah melihatku… mereka tidak tahu jika aku ada…"

'Sasuke?'

"Makhluk hidup sebenarnya hanya diciptakan untuk melayani kami… bau mereka seperti kotoran, dan mereka pikir kekuatan mereka yang tidak seberapa bisa menguasai dunia ini? Mereka lebih lemah dari cacing tanah… mereka tidak bisa berdiri sendiri untuk melawanku"

'aku tidak tahu apa yang harus kukatakan'

"Aku menceritakannya pada mereka dan mereka tidak setuju padaku… tapi kemudian suatu malam, Shion pura-pura setuju dan aku mempercayainya… lalu… perasaanku mulai tumbuh lebih kuat padanya… itu adalah perasaan yang sama seperti yang kau percayai, dan kekuatan yang dia selalu katakan padaku "lebih kuatlah dari apapun di dunia ini", dan kupikir dia merasakan perasaan yang sama padaku"

"So-souka"

"Tapi aku akhirnya tahu jika itu semua kebohongannya… itu adalah rencana untuk menusukku dari belakang… Itachi dan Shion sebenarnya bersama, dan mereka berencana menghancurkanku sebelum aku membahayakan makhluk hidup yang bodoh itu… dan cerita lainnya sama seperti yang Shion katakan padamu… tapi semua omong kosong yang dia katakan padaku hanyalah kebohongan… kau tahu bagaimana rasanya, Kid? Semoga saja kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya"

"Tidak, aku…"

"Itulah kenapa… itulah kenapa kisah cinta adalah kisah yang bodoh… itu sama sekali tidak ada artinya, perasaan klise yang datang hanya sementara waktu, menyiksamu saat kau tidur dan kemudian menghilang begitu saja… seperti perasaanku di masa lalu"

"Sasuke, itu tidak benar… kau hanya tidak mengerti apa arti cinta yang sebenarnya…"

"Berhenti mencoba mengajariku! Aku sudah hidup lebih lama darimu dan merasakan segala hal di dunia ini… rasa sakit, kesedihan, bahkan cinta yang bodoh itu… jadi jangan pernah berpikir bahwa kau lebih baik dariku…". Kata Sasuke dingin. "Kalian makhluk hidup selalu berpikir bahwa kalian itu sempurna huh? Selalu berpikir bahwa kalian tahu segalanya… itulah kenapa aku lelah pada kalian!"

"Lalu kenapa kau tidak membunuhku? Ada banyak kesempatan untuk melakukannya"

"Dan melakukan semua pekerjaan kotor itu? Kau memang bodoh… jika kau tidak setuju denganku, kenapa kau tidak pergi saja dan mengejar orang-orang bodoh itu huh?"

"Itu karena… aku… aku… peduli padamu"

"Omong kosong lain huh? Wanita itu juga mengatakan hal yang sama… itu mungkin berhasil di masa lalu, tapi tidak untuk sekarang…"

"…."

"Sekarang kau tahu semuanya, kid… jadi kupikir kau akan setuju padaku… Tapi…kau membuatku kecewa"

"Aku tidak bermaksud begitu…"

Sasuke memalingkan wajahnya tanpa membalas perkataan Hinata. Sikapnya berbeda dari Sasuke yang biasanya selalu menggodanya dan penuh keyakinan. Sasuke yang Hinata lihat di depannya sekarang adalah dirinya yang sebenarnya. Seseorang yang sudah lama ditinggalkan dalam keputus-asaan oleh seseorang yang dia cintai, seseorang yang lelah dengan segala hal yang ada di dunia ini dan sedang mencari jawaban pasti dan juga seseorang yang tanpa alasan memberitahunya tentang semua kesedihan dan rasa sakitnya yang dia sembunyikan dalam seringaian khasnya.

"Itu karena kau juga makhluk hidup". Kata Sasuke kemudian.

"Itu tidak ada hubungannya dengan ini… Bahkan Shion-san adalah makhluk abadi… dia percaya dengan kekuatan dari cinta…"

"TUTUP MULUTMU ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA!". Teriak Sasuke mulai emosi.

"Lakukanlah…". Hinata sama sekali tidak takut.

"ARRRGGHHHH TUTUP MULUTMU DAN BERHENTILAH MENCOBA MEMBUATKU MENCINTAIMU, KAU MAKHLUK HIDUP BODOH…"

'Mencoba membuatnya mencintaiku?'

1 detik

2 detik

3 detik

Sasuke tiba-tiba pergi meninggalkan Hinata dalam emosi yang campur aduk. Wajahnya memerah dan terlihat depresi. Tidak ada seringaian dan tidak ada kata-kata yang biasanya ia ucapkan untuk menggoda Hinata. Dia kehilangan kata-katanya.

"Kau tahu Sasuke… aku mulai mencintaimu…". Gumam Hinata pelan saat Sasuke sudah menghilang dari hadapannya. Satu-satunya yang menjawabnya adalah suara hembusan angin yang tiba-tiba berhembus di depan wajahnya. "Aku mencintaimu, dan aku ingin kau mencintaiku juga…hiks apa itu salah?". Hinata beberapa saat terisak dan menangis. 'lebih baik aku berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan pikiranku…'. Ia keluar dari kamarnya. Tapi saat ia akan berjalan keluar, seseorang memanggilnya. Suaranya menggema lembut melalui dinding.

"Psstt, hei…"

"Naruto?"

"Jadi kau dan dia sedang bertengkar huh?"

"Mu-mungkin bisa dibilang begitu…"

"Dia memberitahumu bahwa keberadaanku akan menghancurkan keseimbangan dari blah blah blah, huh? Jadi dia peduli tentang keseimbangan itu semua dan dia pikir kalau aku berbahaya? Dan dia takut termakan olehku, huh?"

"Apakah kau merasa sakit hati disebut begitu?"

"Aku? Sama sekali tidak… aku tidak mempunyai perasaan apapun kecuali rasa lapar"

"Kau sangat aneh…"

"Karena aku hampa dan kosong"

"…."

"Aku hampir tidak merasakan apapun… seperti penderitaan, kesedihan, kebahagiaan atau bahkan kepuasan… aku tidak tahu bagaimana perasaan itu… jadi aku mengambil bentuk makhluk hidup… orang-orang biasanya melihatku sebagai seseorang yang mereka ingin lihat… dan aku menggunakan bentuk itu agar aku tahu bagaimana perasaan makhluk hidup dan bagaimana berinteraksi…"

"Dan kenapa kau ingin tahu tentang itu?"

"Itu karena aku bosan hanya tinggal di sini… jadi lebih baik melakukan hal itu dan merasakan kesenangan, meskipun aku belum mendapatkannya…"

"Aa, souka"

"Hinata… sebaiknya kau tidur sekarang… kita akan bicara lagi nanti…"

"U-un… Oyasumi, Naruto-kun"

Hinata kembali ke tempat tidurnya dan mencoba tidur. Tapi dia tidak bisa tidur sekeras apapun ia mencoba. Ia terus teringat akan sesuatu.

"Jangan pergi, Shion…"

'Dia masih mencintainya… aku bisa melihatnya dari kata-katanya dan juga matanya… bahkan jika dia mengaku bahwa dia sudah melupakannya, aku yakin kalau dia masih mempunyai perasaan terhadapnya, karena Shion adalah… cinta pertamanya…'. "Aku tidak punya banyak waktu… aku harus mengubah keputusannya agar tidak menghancurkan dunia ini… tapi apa yang harus kulakukan?". 'apakah aku harus melakukannya? Apakah aku harus membuatnya mencintaiku?'. Hinata meletakkan punggung tangannya untuk menutupi matanya. 'itu adalah satu-satunya cara'

-TBC-

Cheryl Nielsen = Hyuuga Hinata

Oswald Leingold = Uchiha Sasuke

Leon Xaverius = Akasuna no Sasori

Ian Vanguardion = Toneri Otsutsuki

Gil Rougknight = Hatake Kakashi

Cain Albaderon = Sabaku no Gaara

Vestoria Geneva = Shion

Aldius Tetraheilm = Uchiha Itachi

Thanos = Uzumaki Naruto