Hai minna^_^/ Ai balikkk *terus*. Chapter 6 sudah beres nih. Makasih banyak untuk yang sudah review di chapter kemarin ya! Ai senang sekali. Dan kemarin banyak yang bilang terlalu pendek, gomen. Sebenernya, dari pengalaman pribadi saya, kalau fanficnya panjang, saya capek bacanya. Jadi saya takut itu terjadi pada kalian, akhirnya saya buat ringkas. Mungkin terlalu ringkas ya. Baik, saya panjangin. Besarin sekalian(?). Happy reading ya^^
LONG KISS GOODBYE
CHAPTER 6
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATING : T
MAIN CHARA : NAMIKAZE NARUTO, HYUUGA HINATA
Story begin..
Naruto masih terkejut melihat siapa yang berdiri disana.
Uchiha Sasuke. Orang terakhir di dunia ini yang ingin ia beritahu soal penyakitnya.
"Hyuuga, suruh Kotetsu-san menjemput lewat pintu belakang. Aku akan bawa Naruto lewat sana. Jika lewat pintu depan, masih banyak orang," perintah Sasuke sembari mendekati Naruto, dan memapah kawannya itu. Hinata mengangguk, dan berlari keluar taman.
"Aku tak tahu alasanmu menyembunyikan hal yang aku juga tak mengerti. Namun, jika orang barbar sepertimu menyembunyikan sesuatu, itu pasti hal penting. Kau, berhutang penjelasan padaku," Uchiha muda itu berbicara panjang lebar. Naruto mengangguk pasrah. Masih untung Sasuke mau menyembunyikannya. Sasuke memapah Naruto keluar taman. Setelah melihat keadaan, Sasuke membawa Naruto menuju pintu belakang sekolah.
Di belakang, Kotetsu dan Hinata telah menunggu. Sasuke memasukkan kawannya ke kursi belakang, dan duduk disebelahnya. Hinata duduk di kursi depan, dan mobil pun menuju rumah sakit. Lagi.
-Rumah Sakit Konoha-
Naruto berada di dalam kamar rawat. Suasana canggung menyelimuti Sasuke dan Hinata yang berada di ruang tunggu. Keduanya sama sama pendiam, tak ada yang memulai pembicaraan.
Pintu kamar rawat Naruto terbuka, membuat Sasuke dan Hinata menoleh.
"Namikaze-san baik baik saja. Ada orangtuanya? Dokter Kabuto ingin bicara," seorang perawat berbicara pada mereka.
"Se-sedang perjalanan kemari. Bo-bolehkah kami masuk?" tanya Hinata. Ia meremas remas tangannya sendiri. Khawatir mendominasi perasaannya.
"Silahkan," perawat tersebut membukakan pintu. Hinata dan Sasuke masuk. Mendapati Naruto yang nyengir tanpa rasa bersalah.
"Na-naruto-kun!" Hinata sedikit berlari ke arah Naruto. Naruto tersenyum.
"Aku tidak apa apa kok, Hinata-chan," Naruto mem-pukpuk kepala Hinata lembut. Hinata menangis.
"A-aku panik," ujar Hinata menahan sesenggukan. Naruto terus menepuk-nepuk kepala gadis itu, berusaha menenangkannya.
"Sudah sejak kapan kalian pacaran, hah?" interupsi Sasuke yang sedari tadi sudah tak sabar ingin mengintrogasi sahabat sejak SMP-nya ini.
Tangis Hinata berhenti, berubah jadi wajah merah yang malu. Begitu pula Naruto.
"Bodoh. Kau bicara apa sih," Naruto menatap Sasuke kesal. Sasuke memutar bola matanya.
"Cepat jelaskan. Apa yang terjadi padamu selama ini, Dobe? Apa yang telah kau sembunyikan dariku berbulan-bulan ini?"
Sasuke menahan amarahnya yang sebetulnya sangat ingin ia ledakkan. Walau dingin dan kasar, ia betul betul menganggap Naruto sahabatnya.
Naruto menghela nafas. Kemudian, ia menceritakan seluruhnya pada Sasuke. Apa yang telah ia sembunyikan selama ini.
Sasuke terdiam. Tak sanggup berkata apapun. Ia tak menyangka, beban seberat itu ditanggung dan dilewati Naruto dengan sangat biasa.
"Maaf, aku tak ingin siapapun tau," Naruto menunduk. Sasuke segera mengendalikan dirinya.
"Naruto," Sasuke berujar dingin.
"Kau keterlaluan, menyembunyikan ini dariku. Dari Sakura. Kau ingin mati dalam diam katamu? Sempat itu terjadi, aku yang akan menghantuimu," ujar Sasuke tenang, namun menusuk.
"Maaf,"
"Aku akan beritahu Sakura. Hanya Sakura, aku janji,"
Naruto mengangguk. Biarlah, Sakura juga mengetahuinya. Hampir setengah tahun, ia menutup-nutupinya dari sahabat SMP-nya. Mungkin sudah saatnya….
-Kabuto's Room-
"Maaf, memanggil kalian lagi. Apa kalian sedang sibuk di kantor?" tanya Kabuto pada Kushina dan Minato.
"Tidak. Hari ini, memang setengah hari. Ada apa lagi dengan anakku?" tanya Minato tak sabar. Kabuto memutar kursinya, dan menyalakan lampu khusus untuk membaca hasil rontgen.
"Ini tulang belakangnya, sudah tertutup semua," ujar Kabuto. Kushina tau, kabar buruklah yang akan didengarnya. Wanita itu kembali menangis.
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" Minato frustasi. Kabuto menghela nafas.
"Kursi roda. Selain tak bisa berjalan lagi, ia akan mulai hilang keseimbangan,"
-Naruto's Room-
"Naruto-kun, belum habis," Hinata masih menyodorkan makanan ke mulut Naruto. Naruto memajukan bibirnya lagi.
"Kenyang, Hinata-chan. Kau saja yang makan. Kau belum makan siang kan?"
Hinata menghela nafas.
Sasuke telah kembali ke sekolah untuk mengambil motornya. Tersisalah, Hinata dan Naruto yang tak mau makan.
"Naruto-kun ti-tidak mau diinfus. Ta-tapi tidak mau makan juga," Hinata menatap piring penuh nasi itu. Wajahnya menahan tangis. Oh, oke. Kau menemukan kelemahan pemuda ini, Hinata.
"Baiklaaah~ aku akan makan semuanya," Naruto mengambil piring tersebut dari tangan Hinata, kemudian memakan makanannya.
"Jwangwan nwangis," ujar Naruto dengan mulut penuh nasi. Hinata terkekeh. Hinata menyeka matanya.
"Iya, tidak kok, Naruto-kun,"
Naruto menelan makanannya. Tak sengaja, ia menoleh ke arah jendela, dan melihat kedua muda mudi tengah bergandengan tangan, berjalan bersama di sore yang indah.
Ia membayangkan, itu adalah dirinya dan….
Hinata.
Naruto tersenyum pilu. Sejujurnya, pemuda ini telah jatuh hati pada gadis disebelahnya. Gadis pertama yang berhasil mencuri perhatiannya. Ia jatuh hati pada seluruh hal yang ada dalam gadis ini. Wajahnya, sifatnya, kebaikan hatinya.
Namun, gadis ini lemah. Harus ada seseorang yang kuat untuk melindunginya dan juga membahagiakannya. Dan Naruto sadar, seseorang itu bukan dirinya. Berjalan saja rasanya ia lelah, bagaimana melindungi gadis ini? Membahagiakan diri sendiri saja tak bisa, bagaimana membahagiakan gadis ini?
Apakah jatuh cinta dan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang merupakan kebahagian di masa remaja, harus direbut juga? Tak cukupkah hanya masa depan cerahnya sebagai atlet basket yang direbut penyakitnya?
"Na-naruto-kun?" suara lembut itu membuyarkan lamunan pilu Naruto. Naruto menoleh
"Ya? ada apa?"
"Habiskan.." Hinata menatap Naruto memelas. Naruto tersenyum.
"Iya iya," Naruto melahap makanannya. Membuat Hinata ikut tersenyum.
Kenapa dua pasang hati yang saling jatuh hati ini, tak engkau satukan, Kami-sama?
Beberapa menit kemudian, pintu kamar Naruto terbuka. Kushina dan Minato pun masuk. Hinata segera berdiri, dan menundukkan badannya.
"K-konbanwa, obaasan, ojiisan," sapa Hinata. Kushina terkekeh.
"Hinata-chan, tak usah terlalu formal," Kushina menepuk bahu Hinata.
"Hai sayang. Apa kabarmu?" Kushina beralih pada Naruto.
"Baik, Kaasan. Kalian tidak kerja? Ayolah, tak perlu tinggalkan kantor setiap aku kambuh. Aku tidak apa apa kok," Naruto kasihan melihat kedua orangtuanya yang bolak-balik kantor dan rumah sakit, setiap dirinya kambuh.
"Hari ini, setengah hari kok," jawab Minato. Minato mendekati Naruto dari sisi ranjang yang lain.
"Naruto. Tousan ingin bicara. Namun, tousan mohon, jangan mengamuk," Minato berbicara to the point. Naruto terdiam, kemudian mengangguk.
"Dokter Kabuto bilang, kau harus pakai kursi roda. Karena selain kakimu tak dapat bergerak lagi, kau akan mulai kehilangan keseimbangan," Minato berkata dengan suara berat. Jika tidak ingat ialah sumber kekuatan keluarga ini, ia juga akan menangis.
Naruto menunduk. Seperti sudah paham, apa yang terjadi pada tubuhnya. Naruto mengangguk.
"Memang betul, Tousan. Aku bahkan tak bisa menggerakkan jemari kakiku," Naruto tersenyum. Kushina mulai menangis.
"Ternyata, perkiraan seminggu itu meleset. Kurang dari 24 jam saja, itu terjadi," sambung Naruto sambil menatap kakinya, yang sudah tak dapat digerakkannya lagi. Kushina menangis sambil memeluk anaknya.
"Naruto-kun, jangan tinggalkan Kaasan. Kaasan mohon. Katakan, Kaasan harus apa supaya kau tetap disini bersama Kaasan?" ujar Kushina putus asa sambil menangis. Ini berat. Begitu berat untuknya.
"Kaasan. Jangan menangis," Naruto memeluk ibunya. Sungguh, ia ingin mati saja jika harus melihat ibunya menangisinya.
Mata Hinata mulai berkaca kaca, siap menangis. Naruto menghela nafas melihatnya.
"Ayolah Hinata. Aku sedang memeluk Kaasan-ku. Aku tak bisa memeluk kalian berdua sekaligus," canda Naruto. Hinata menggeleng.
Minato menatap keluarganya sedih. Naruto, sepertinya mulai bisa menerima apa yang terjadi padanya. Dan semakin mengerti, jika orangtuanya telah mengupayakan segala cara. Dan memang, tak ada jalan.
Minato keluar kamar. Pria itu duduk di kursi tunggu. Dan..
Menangis.
Ayah mana yang tak menangis, jika tau anaknya akan segera pergi?
Kami-sama, kapan kau hentikan airmata di keluarga ini?
-Rumah Sakit Konoha, kamar Naruto, 19.30-
"Iya, Neji-nii. Aku tidak pulang hari ini. Aku punya baju ganti. A-ah, iya aku sudah makan," Hinata berbicara di telfon dengan kakaknya, Hyuuga Neji. Meminta izin tidak kembali kerumah malam ini.
"Arigatou, Neji-nii," Hinata mengakhiri telefonnya.
"Hinata-chan.. kau serius ingin menemaniku disini? Disini bau obat, ada kamar mayat, nanti ada hantu. Hiiy seram. Kau pulang saja ya?" Naruto sudah hampir lelah membujuk gadis ini agar pulang kerumahnya. Namun, gadis ini bisa kepala batu juga.
"Naruto-kun, besok sabtu. Aku tidak apa-apa. Lagipula, Naruto-kun bilang bosan kalau disini, kan?" Hinata kembali menjawab dengan tenang. Naruto menghela nafas.
"Kau, manis tapi kepala batu ya," Naruto terkekeh. Hinata memerah.
"Keluar yuk? Bintangnya banyak," ajak Naruto. Hinata mengangguk. Kemudian mengambil kursi roda yang sudah disiapkan di sudut ruangan.
Naruto berusaha memindahkan dirinya ke kursi roda. Dan berhasil.
Hinata mendorong kursi roda keluar kamar.
"Kita kemana, Naruto-kun?" tanya Hinata.
"Taman belakang yuk," jawab Naruto girang. Senang rasanya akan melihat bintang bersama gadis pujaannya.
Hinata tersenyum. Gadis pemalu ini menjadi banyak tersenyum, jika bersama pemuda yang tengah didorongnya ini. Ia mendorong Naruto ke taman tujuan. Sesampainya di taman, kedua manusia itu menengadah. Dan betul saja, bintang begitu banyak, dan indah.
"Indah kan, Hinata?" tanya Naruto sambil menoleh ke belakang. Hinata mengangguk.
"Naruto-kun senang?" tanya Hinata balik.
"Senang, karena aku bersama dengan seseorang penting bagiku," jawab Naruto tanpa beban. Hinata sedikit terkejut.
Beberapa menit mereka tenggelam menatap indahnya langit malam itu.
"Hinata, apa arti cium untukmu?" tanya Naruto tiba-tiba. Hinata agak kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Gadis itu teringat dahinya, yang sudah tidak perawan.
"E-entahlah. A-aku tidak pernah memikirkannya," jawab Hinata
Naruto mengangguk-angguk kecil, tak mengalihkan pandangan dari langit.
"Kau tahu tidak, arti cium untukku? Baik itu mencium bibir, pipi atau dahi?" tanya Naruto lagi.
"Ti-tidak. Me-memangnya apa?" tanya Hinata gugup.
"Aku mencintai orang yang aku cium itu," jawab Naruto pelan, namun tegas dan jelas.
Jantung Hinata terasa berhenti sejenak. Apa artinya? Apakah itu berarti Naruto mencintainya? Apa terlalu cepat menyimpulkan hal itu?
"Me-memang, si-siapa saja yang pernah Naruto-kun cium?" Hinata malah melontarkan pertanyaan. Andaikan ada nama perempuan lain yang Naruto sebut, Hinata siap menanggung kecewa.
Naruto tersenyum.
"Ibuku, dan…"
"Kau, Hyuuga Hinata,"
Hinata menatap Naruto tak percaya. Ia berpegangan erat pada kursi roda Naruto. Berharap tidak pingsan. Hei, perasaannya baru saja terbalas. Ini bukan mimpinya!
"Sudahlah. Tidak mungkin kan, kau juga mencintai orang yang akan mati sebentar lagi?" Naruto kembali tersenyum pilu. Ia telah menyatakan perasaannya. Namun sama sekali tak mengharap balas. Ia hanya takut, tidur malam nanti, akan menjadi tidurnya untuk selamanya. Ia takut, perasaannya tak sampai hingga ia pergi sebentar lagi.
"Aku boleh saran tidak? Carilah dan cintailah lelaki kuat untuk melindungimu ya. Untuk melindungimu dari hal seperti hari pertama kita bertemu. Dan untuk membahagiakanmu juga. Yaa, walau Kiba juga bisa sih. Tapi dia playboy, Hm, Sai juga boleh sih. Dan-"
"Ji-jika yang aku cintai i-itu Na-naruto-kun, bagaimana?" sela Hinata dengan keberanian penuh yang jarang didapatnya. Naruto sangat terkejut. Kemudian ia menunduk dalam.
"Tidak. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku,"
TBC
CAPEEEEEEEEEK KAMI-SAMA. Pegell hiks. Pijitin dong(?). Hehe, yang penting aku sudah lunasi ceritanya agak dipanjangin ya. SAATNYA BALAS RIPYUH.
SatryoBudi26 : Nih udah apdet lagi. Udah panjang nih/?
Dinayashii7 : Udah lanjut dong~ makasih reviewnya
Fury F: Waduh. Mainnya dukun. Selem/?
: Iyap kamu betulll yey(?) ini sudah lanjutt
IndigoRasengan23 : Sudah lanjut~!
Geenndu : 100 deh buat kamu/?
Kimimaru-chan : Iya udah dipanjangin nih. Enjoy ya~
Mifta cinya : Waa cerdas. Kamu betul. Iya ini sudah lanjutt
Akuma no arman : udah panjang, udah kilat. Kamu puas gak(?). Enjoy yaa
Dsakura2 : Udah dipanjangin nihh. Enjoy yaa
Virgo24 : Hehe tuntutan cerita. Terimakasih reviewnya
Durarawr : Iya, kabarin aja aku ya. lewat pm atau review juga boleh /plakk/. Sad ending ga yaa/?
Yudi : Yah tbc lagi nih hehe. Semoga kamu tetep ngikutin yaa~
: udah lanjut dongg
Mao-chan : benarrr~! Yey
Yukiruki-chan : selamat datang di ffn, iya itu sasu. Yeey kamu bener
Rosichi : ih pinternya/? Sudah lanjutt
YES SEE U DI CH 7. AI FEGEL MAU FIJID DULU(?)
