Im Ok! But He's Not!
Byun Baekhyun x Park Chanyeol
Other cast:
Kim Jongin - Xi Luhan - Oh Sehun - Do Kyungsoo
Warning Boys Love
Chapter 5
Nb: yang nanya masalah kaibaek ama cy baek jawabannya ada di chapt ini
.
.
Luhan dan Kyungsoo sibuk melirik ke seisi sekolah, bahkan saking kalutnya Luhan tak sadar sudah semenit menggigiti kukunya sambil terus bergumam dengan suara tak jelas karena teredam jarinya sendiri. Kyungsoo mengecek ponselnya dengan cemas. Sama sekali tak ada pemberitahuan apapun sejak semalam. Lepas saja mendapat telepon dari Luhan, Kyungsoo langsung tak bisa tidur. Dia masih ingat kalau namja cantik itu mengatakan Baekhyun pulang ke rumahnya saat itu. Namun, setelah Kyungsoo cek ke sana, bahkan jejak kaki di lantai tua itu pun tidak ada. Seketika namja bermata bulat itu mencoba menghubunginya, namun suara operator telepon yang justru dia dengar.
Lain dengan kedua namja itu, namja jangkung lainnya yang sedang berdiri di depan loker itu sama cemasnya dengan mereka. Lepas saja tak menemukan Baekhyun di sampingnya, Chanyeol langsung uring-uringan tak jelas. Bahkan dia terburu-buru datang ke sekolah hanya untuk memastikan kalau Baekhyun ada di tempat itu. Namun yang ditemukannya, justru wajah cemas Luhan dan raut tak enak dari Kyungsoo yang sedang berdiri di depan gerbang dengan pandangan tak lepas memandang ke depan sana.
Chanyeol hendak menghampiri keduanya, namun niat itu dia urungkan, mengingat bagaimana marahnya Luhan karena kejadian semalam. Chanyeol kembali merasa bersalah mengingat hal itu. Sungguh dia sama sekali tak tahu setan dari mana yang merasukinya, sampai dia tega memukul wajah Baekhyun. Dan sialnya lagi, namja mungil itu malah tak balas memukulnya, padahal dia pernah dipiting, ditendang bahkan diacungkan pisau olehnya, tapi kenapa saat itu Baekhyun justru terdiam menatapnya. Apa Chanyeol benar-benar sudah kelewatan sekali padanya? Sampai-sampai dia hanya dihadiahi tatapan sendu itu. Sial kuadrat! Chanyeol bisa mati saja memikirkan hal itu.
Kita biarkan Chanyeol dengan segala pemikiran dangkalnya. Balik ke depan sana, Luhan dan Kyungsoo masih betah menunggu entah sampai kapan, walaupun beberapa kali para siswa atau dewan guru memarahi mereka karena, kedua namja itu sungguh menganggu jalan mereka untuk lewat. Seperti tak terganggu oleh teriakan itu, Luhan malah balik menatap garang, membuat beberapa dari siswa yang meneriakinya berjalan cepat meninggalkan Luhan dan Kyungsoo yang sedang menggeram di tempat.
"Luhannie, Kyungie!"
Suara sialan itu membuat Luhan, Kyungsoo—kecuali Chanyeol yang masih sibuk dengan pikirannya jauh di belakang sana—serentak menolehkan kepala mereka mencari keberadaannya, sontak saja kedua namja itu buru-buru menghampiri Baekhyun yang berdiri sambil tersenyum manis di depan sana.
"Yaa! Kemana saja kau hah! Astaga aku benar-benar cemas, Baekhyun!" teriak Luhan kalut langsung memeluk erat Baekhyun. Sedang yang dipeluk hanya terkekeh geli, seraya mengelus lembut punggung Luhan agar namja cantik itu tenang dan tak menangisinya.
Luhan melepaskan pelukan, setelah dirasanya cukup, dia menatap tajam Baekhyun, yang lagi-lagi hanya di balas senyum bulan sabit namja di depannya. Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah namja berkacamata yang tatapannya sama dengan Luhan itu.
"Kau tidak mau memelukku, Kyung?" tanya Baekhyun langsung merentangkan tangannya.
Pletak!
Namun yang didapat namja manis itu justru jitakan super sayang dari Kyungsoo yang kembali membesarkan volume bola matanya supaya terlihat lebih besar dan menyeramkan. Baekhyun mendengus sebal sambil memegangi kepalanya yang habis dipukul oleh Kyungsoo itu.
"Kau sudah berani memukul Tuanmu, Kyung?" ujar Baekhyun menatap ke arah Kyungsoo yang masih saja memandangnya tanpa berkedip sama sekali.
"Bahkan aku bisa membunuhmu sekarang juga, Baek! Kau mau aku mati muda gara-gara dirimu, hah!" balas Kyungsoo sambil memukul kepala Baekhyun untuk yang kedua kalinya, namun setelahnya dia justru memeluk namja itu erat sekali. Melihat pemandangan mengharukan itu, Luhan mendadak ikut memeluk mereka berdua, sambil menenggelamkan kepalanya di sekitar leher Baekhyun.
Baekhyun menggeliat tak nyaman di dalam pelukan itu, pasalnya napas Luhan yang berhembus di sekitar lehernya membuat bulu kuduk Baekhyun meremang seketika. Dengan paksa, namja manis itu segera melepaskan diri, sebelum dia mati karena kegelian akibat perbuatan Luhan tadi.
"Kalian terlalu berlebihan!" seru Baekhyun.
Luhan menarik kepala namja itu, kemudian memeluk leher Baekhyun sangat erat. "Berlebihan katamu? Baiklah, akan kutunjukan apa yang namanya berlebihan," Luhan semakin mengeratkan tangannya, membuat Baekhyun menepuk kuat-kuat tangan Luhan agar segera melepaskan kepalanya. "Bagaimana rasanya hah!"
"Sakit, Lu! Aish, aku akan mati!" teriak Baekhyun kembali meronta-ronta.
Luhan melepaskan pitingannya. "Itulah yang aku dan Kyungsoo rasakan saat ini! Kau paham Tuan Byun!" seru Luhan kelewat kesal.
Baekhyun menunduk setelah mendengar ucapan Luhan barusan. Apa dia sudah kelewatan sampai membuat keduanya terlalu khawatir? Kyungsoo kembali menggeleng, dia mengelus pelan bahu Luhan yang entah kenapa beberapa pekan ini sering sekali dilihatnya namja cantik itu terbakar emosi tak tahu tempat dan waktu.
"Maafkan aku!"
Akhirnya Baekhyun mengucapkan kalimat itu sambil menatap ke arah Luhan yang masih melalukan ritual ajaran Kyungsoo ketika dia sedang tak bisa menahan emosinya lagi. Kyungsoo balas tersenyum kemudian menarik Baekhyun agar mendekat padanya, dan membisik-bisikkan sesuatu, membuat Baekhyun mengangguk ragu. Baekhyun berdehem, kemudian menyentuh lengan Luhan, membuat sang empunya mendongak dan menatap penuh tanya ke arah namja manis itu.
"Luhan, maafkan Baekkie, ne! Baekkie janji ini terakhir kali Baekkie merepotkan Luhan dan Kyungie, setelah ini Baekkie akan jadi anak yang baik!" ujar Baekhyun pelan.
Luhan mencibir, kemudian menggedikan bahu. "Aku tak salah dengarkan, kau mau jadi anak baik? Ck! Ngomong nih sama bokongku!" balas Luhan memperlihatkan bokongnya ke arah Baekhyun yang sedang merenggut kesal.
"Bahkan dia tak percaya denganku, Kyung! Aish!" Baekhyun melirik ke arah Kyungsoo dengan memelas meminta pertolongan, namun sayangnya Kyungsoo hanya mengangkat kepalan tangan kanannya ke arah Baekhyun.
"Kau dimana semalam hah? Kau bilang rindu dengan kasurmu, tapi apa, jejak kakimu saja tak Kyungsoo temukan di rumahmu," Luhan menaikkan alisnya ke arah Baekhyun.
Baekhyun mendekat. "Dia mendatangiku, dan mengatakan cinta padaku!" ujar Baekhyun kalem.
"APA!"/MWO!"
Teriakan Luhan dan Kyungsoo serentak terdengar di telinga Baekhyun, salahkan saja posisi mereka bertiga ini sedang berbisik. Baekhyun mengelus telinga mendengar respon berisik kedua sahabatnya itu. Luhan membulatkan matanya kaget setengah mati, sedang Kyungsoo antara tak percaya dengan apa yang Baekhyun katakan. Err, dia agak sedikit bingung sebenarnya.
"Lalu apa yang kau katakan?" tanya Kyungsoo penasaran.
Baekhyun menggedikan bahu acuh. "Aku menolaknya tentu saja. Kau tahu kan aku tidak menyukainya."
Kyungsoo dan Luhan menghela napas lega mendengar jawaban yang Baekhyun berikan. Namun tatatapan Luhan kembali tajam. "Jadi, kenapa kau tidak pulang ke rumahmu semalam?" tuntutnya.
"Setelahnya, Aku pergi ke rumah Chanyeol!" akunya pelan.
Mata Luhan kembali membesar bak ingin segera keluar dari tempatnya itu. Tatapan mematikan benar-benar dia hunuskan ke arah namja manis di depannya itu. "Apa? Kau bilang ke rumah, Chanyeol? Kenapa kau pergi ke rumah si sialan itu hah? Kau kan bisa balik ke rumahku lagi atau di rumah Kyungsoo yang terbuka lebar untukmu, Baek?" Luhan mengatakan kalimat itu dalam satu tarikan napas.
"Sabar, Lu! Astaga! Berhenti berteriak, kau mau tua sebelum umur?" ujar Kyungsoo yang lagi-lagi harus menenangkan rusa cina yang kadar emosi dalam dirinya perlahan meningkat lagi.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, lalu tatapannya bertemu dengan Luhan. "Aku sungkan denganmu, Lu. Kau sudah sangat baik padaku!"
"Lalu karena aku terlalu baik denganmu, kau justru pergi ke rumah orang jahat?!" suara Luhan kembali terdengar. Kyungsoo sudah menutup wajahnya kasar, dia lelah melihat tingkah berlebihan namja cantik itu. Dia jadi curiga kalau Baekhyun ini jangan-jangan memang benar anak kandung Luhan, lihatlah bagaimana cara dia memarahi Baekhyun, sangat jelas kalau keduanya ada hubungan darah. Kyungsoo merutuki otak bodohnya. Kau mikir apa sih, Kyung? Jelas-jelas Baekhyun itu anak Eomma dan Appa aslinya. Ck!
Baekhyun kaget setengah mati mendengar balasan Luhan itu. "Astaga! Chanyeol tidak jahat! Dia hanya tak sengaja saat itu, bahkan dia sudah mengobati lukaku, Lu! Kalau dia jahat tak mungkin aku kenyang semalam!" ujar Baekhyun mencoba menerangkan ke Luhan apa sebenarnya yang terjadi.
Luhan tak merubah ekspresinya sama sekali. "Aku tak peduli. Mulai sekarang tidak ada lagi yang namanya—"
"CHANYEOl!" Baekhyun berteriak keras sambil melambaikan tangannya ke arah belakang sana.
Luhan hendak menarik telinga namja manis itu kuat-kuat. Namun, tubuh Baekhyun sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya, dan Luhan berpikir dalam diam entah sejak kapan Baekhyun sudah berdiri di sebelah Chanyeol. Sedang pikiran Kyungsoo sendiri penasaran, sejak kapan juga namja tinggi itu ada di sana. "Yaa! Kenapa kau selalu memotong ucapanku sih!" Luhan berteriak berang dan langsung menyeret paksa Kyungsoo agar mengikutinya menghampiri kedua namja di belakang sana.
Chanyeol sendiri yang tadinya masih mematung, terlonjak kaget mendengar suara itu, matanya bergerak mencari di sekeliling, dan akhirnya menemukan seorang namja bersurai cokelat yang sedang berlari pelan ke arahnya sambil tersenyum manis. Chanyeol tak bisa menahan diri untuk tak balas tersenyum, namun mengingat bagaimana keadaan dia pagi-pagi buta, membuat tatapannya berubah menajam. Baekhyun baru sampai di sana, namun Chanyeol sudah menarik tangannya kuat.
Baekhyun terkejut saat Chanyeol tiba-tiba menariknya, namun tatapan namja itu benar-benar tak bisa di artikan. Marah? Khawatir? Dia sendiri bingung menebaknya. Chanyeol menatap tajam Baekhyun yang masih menunduk, cengkraman di tangannya sama sekali tak mengendur. Berbagai macam kalimat makian sudah menggantung di ujung lidahnya, bahkan tangan lainnya sudah terkepal keras. Baekhyun semakin menundukkan kepalanya, saat melihat suasana di sekitarnya mendadak berubah mencekam.
"Kau dimana saja! Kenapa kau pergi diam-diam hah? Astaga aku bahkan tak sempat sarapan, karena khawatir padamu!" Chanyeol langsung memeluk erat tubuh Baekhyun seolah tak ingin melepaskannya sama sekali. Baekhyun hanya bisa tersenyum dalam pelukan itu, dia mengelus lembut bahu namja jangkung itu, menenangkannya.
Namun, sayang sekali aksi peluk-memeluk itu terpaksa harus berakhir saat si Rusa cina dan Pinguin kutub datang secara bersekutu menghancurkan suasana romantis yang Baekhyun dan Chanyeol bangun, hanya dengan satu tarikan paksa. Chanyeol tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya, sedang Baekhyun, dia hanya diam di pelukan Kyungsoo. Luhan mengalihkan pandangan ke arah satu-satunya manusia tinggi di situ.
"Berani memeluknya, sama dengan Neraka!"
Memang hanya lima kata yang keluar dari mulut manis Xi Luhan, tapi sukses membuat namja jangkung itu meneguk ludah kasar. Dia hendak berlalu dari sana, namun tangan Baekhyun justru membuatnya batal untuk pergi. Namja manis itu diam menatapnya, Chanyeol menggerakan alisnya ke atas sambil melihat ke arah Baekhyun.
"Kau ingat besok kan?" tanyanya pelan.
Chanyeol terdiam mendengar pertanyaan itu. Oh sepertinya bukan hanya Chanyeol yang shock dengan hal itu. Lihatlah dua namja pendek di belakang sana. Luhan yang mendadak bersiul-siul tak jelas, diikuti oleh Kyungsoo yang tiba-tiba membuat gerakan seolah tengah berburu nyamuk. Padahal sama sekali tak ada makhluk penghisap darah itu di sana. Baekhyun memilih untuk tak menghiraukan kelakuan aneh dua manusia itu, tatapannya masih tertuju ke Chanyeol.
"Besok? Ah ya besok aku ada latihan Basket! Memangnya kenapa?"
"Bodoh!" umpat Baekhyun sambil menyentak kuat tangan Chanyeol dari genggamannya. Bibir namja manis itu mengerucut, dia mengalihkan pandangannya ke belakang sana. Dimana kedua sahabatnya itu masih saja bertingkah seperti orang aneh.
"Kurasa kalian juga tak mengingatnya! Ayolah, besok masa kalian lupa?" Baekhyun memaksa sambil menarik-narik tangan Luhan dan Kyungsoo.
"Besok aku kan harus membantu Eommaku, memangnya ada apa?" tanya Kyungsoo yang lagi-lagi membuat bibir Baekhyun maju beberapa senti, karena kesal mendengar jawaban yang tak sesuai dengan keinginannya itu.
"Jangan bilang kau lupa juga?" todong Baekhyun menatap ke arah Luhan.
Luhan menggedikan bahunya acuh. "Aku? Besok aku ada kencan dengan Sehun," balas Luhan santai seolah tak ada beban saat dia mengatakannya. Padahal Chanyeol sudah merutuk mulut Luhan yang suka bicara asal. Kalau dia latihan Basket, otomatis Sehun juga pasti ikut. Mereka berdua itukan tim inti sekolah.
"Tapi Chanyeol bilang dia ada latihan basket besok?"
Tuhkan! Chanyeol menutup wajah dengan kedua tangannya. Luhan tergagap sendiri mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Dia melirik ke arah Kyungsoo yang membuat gestur Jangan tanyakan aku! Salahkan mulutmu itu!
"Benarkah? Tapi Sehun bilang dia akan bolos besok karena kami akan kencan!" Alasan yang bagus Xi Luhan. Bagus bokongku! Aigoo tidak ada kah alasan yang lebih masuk akal, Xi Luhan! Erang Chanyeol frustrasi.
Baekhyun semakin menatap curiga ke arah namja cantik itu. "Tapi kupikir Sehun tak akan mau bolos hanya karena mau menemanimu. Dan kurasa karena kau adalah ketua kedisplinan, jadi tidak mungkin kau mau mengajari sesuatu yang tak baik..."
"Bisakah kau diam! Apapun yang Sehun dan aku lakukan itukan terserah padaku," potong Luhan tak santai.
Baekhyun mencibir namja itu. "Ck! Aku kan hanya bertanya. Lagipula kalian mau salto dari Namsan Tower juga aku tak peduli." ketus Baekhyun melipat tangan di depan dada.
"Ya sudah diamlah kalau tak mau peduli," Baekhyun menatap sinis ke arah Luhan. Chanyeol bernapas lega saat Baekhyun tak membahas soal besok lagi.
"Kalian jahat! Tidak ada satupun yang ingat!" bibirnya mengerucut lucu. Luhan, Kyungsoo, dan Chanyeol nyaris tak tahan untuk tak mencubit pipi namja manis itu. Namun masing-masing dari mereka, menyimpan sebuah rahasia yang hanya mereka ketahui, sehingga untuk merealisasikan semuanya, mereka memutuskan menahan diri untuk hari ini.
"Memangnya kami harus mengingat apa? Besok hari kamis kan. Tidak ada yang spesial besok," celetuk Kyungsoo tiba-tiba, membuat Baekhyun nyaris menjitak kepala namja bermata doe itu, kalau saja sebuah suara tak menginterupsi kegiatan mereka.
"Oy, sampai kapan kalian berempat akan berdiri di sana? Sampai ketampananku menyebar di seluruh Korea? Dan kau Rusa China, kita butuh bicara empat mata istirahat nanti!"
.
.
Baekhyun menatap tak berminat ke arah makanan yang dipesannya tadi, Kyungsoo tidak menemaninya, karena namja bermata doe itu sedang sibuk mengurus sesuatu di perpustakaan. Luhan sendiri, tak sempat mengatakan apapun padanya karena sejak saja bel istirahat berbunyi, Sehun langsung menariknya pergi entah kemana, Baekhyun juga tak mau ambil pusing. Kan sudah dia tekankan tadi, kalaupun sepasang kekasih itu berniat terjun ke jurang, dia sama sekali tak bakalan peduli. Chanyeol? Namja itu menghindari Baekhyun sejak insiden tadi pagi.
Jadi dia benar-benar seperti gembel di kantin, sudah ditinggal, tidak diingat hari spesial besoknya, dan sekarang tak ada siapapun yang menemaninya. Bahkan Yixing dan Jongdae saja muncul sebentar tadi, dan langsung pergi entah kemana. Baekhyun cemberut. Kenapa tiba-tiba semua orang jadi sangat sibuk hari ini. Sungguh aneh! pikirnya seraya menyumpit makanannya dengan wajah tertekuk hebat menahan kesal.
Karena tak ingin berlama-lama di tempat terkutuk itu, Baekhyun meninggalkan makanannya dan memutuskan kembali ke kelas. Namun, langkahnya terhenti saat tak sengaja matanya menangkap sesuatu di depan sana. Baekhyun tersenyum senang saat seseorang lewat di hadapannya dengan satu cup coffe dingin. Dengan entengnya, Baekhyun yang sengaja berjalan di belakang namja itu merebut paksa minuman itu dan mulai menegaknya habis. Sedang namja yang tadi berjalan itu seketika membulatkan matanya karena minumannya tiba-tiba raib tak bersisa.
"Baek, kenapa meminum milikku,"
Yeah. Orang itu adalah Kai. Baekhyun tak menjawab, dia langsung melemparkan asal ke wajah Kai, sampai wajah namja tan itu terkena bekas air yang masih tersisa di dalam cup. Nasib baik, dia membeli coffe dingin tadi, kalau tidak, dia tak bisa membayangkan kulit eksotisnya pasti melepuh karena kena kopi panas. Baekhyun menatap tajam ke arah Kai yang masih membersihkan noda kopi di wajahnya itu.
"Memangnya kenapa? Ada masalah dengan itu?"
Kai menggeleng. "Setidaknya kau minta baik-baik padaku, Baek. Kalau seperti tadi, kau sama saja mencuri." balas Kai selembut mungkin.
Baekhyun mendorong tubuh Kai sampai terduduk di lantai. Beberapa siswa mulai tertarik dan mendekati dua namja itu sambil memasang wajah penasaran, sekiranya apa yang terjadi di antara mereka. Baekhyun semakin menajamkan pandangannya. Pandangan kebencian yang selalu dia lihatkan hanya kepada namja bernama Kim Jongin itu. "Jadi kau menuduhku mencuri? Lalu bagaimana dengan kau? Bukankah kau juga mencuri milikku, Kim Jongin" desis Baekhyun dengan nada yang terselip amarah. Kai menegak ludah kasar.
Other Side.
"Jadi apa yang ingin kau lakukan besok?" tanya Sehun sambil melirik ke arah Luhan yang sedang menatap ke depan sana. Melihat pemandangan dua namja yang saling tatap.
"Tentu saja membuat pesta untuknya, kau harus temani aku belanja besok. Ah aku tak sabar menunggu esok hari. Dia pasti akan terkejut. Kuharap aku tak keterlaluan karena melupakan hari bahagianya." Luhan cemberut.
"Kitakan hanya berakting, Lu. Lagipula kita tak seketerlaluan sahabat dari pacarmu itu," sindir Kyungsoo pedas. Sehun hanya menggaruk tengkuknya gugup ditatap Kyungsoo setajam itu.
"Sudahlah, aku juga tak mau tahu dengan si sialan yang sudah tega memukul anakku itu. Aku muak melihat mukanya. Permainan seru sebentar lagi dimulai, ayo Kyung!" ajak Luhan seraya menggandeng lengan Kyungsoo, tak lupa mengecup singkat pipi Sehun, membuat Kyungsoo mual melihat kejadian live di depannya itu.
Setelah kepergian Kyungsoo dan Luhan, seorang namja jangkung muncul dan berdiri di sebelah Sehun. Sehun tak begitu peduli kedatangan namja itu, dia lalu menyentuh pundak Chanyeol, dan mengarahkan telunjuknya ke depan sana.
"Lihatlah, apa yang dilakukan suami mungilmu!" serunya datar.
Chanyeol mengalihkan pandangan ke arah telunjuk Sehun. Namja tinggi itu melotot saat melihat dua objek di depan sana, dimana salah satu namja, tepatnya yang bertubuh pendek itu sedang menarik kerah baju si namja tinggi yang sedang terduduk di lantai. Sementara dua namja pendek lainnya, hanya diam dengan tenang, seolah sedang menonton pertunjukkan drama gratis di depan mereka.
Chanyeol memijit kepalanya pusing. "Aish anak itu. Sudah berapa kali kukatakan jangan membully lagi, masih saja!" rutuk Chanyeol tak habis pikir.
"Ck! Lalu apa yang mau kau lakukan? Setidaknya bawa pergi dia dari sana," usul Sehun.
Namun Chanyeol justru diam dan menggeleng. "Aku ingin memainkan satu peran lagi," balasnya.
Sehun mulai tak bisa tenang mendengar ucapan Chanyeol, saat namja tinggi itu hendak berlalu dia langsung menahannya terlebih dahulu. "Jangan macam-macam, Chanyeol! Apa lagi yang kau mau hah! Berhenti mempermainkannya. Dia manusia seperti kita, bisa juga merasa sakit!" ujar Sehun tajam.
"Berisik kau, Sehun!" balas Chanyeol.
"Ck! Kau masih dendam padanya? Astaga! Demi Tuhan Chanyeol. Dia hanya tak sengaja menyobek majalah pornomu! Dan aku ada di sana kalau kau lupa." Sehun benar-benar frustrasi melihat tingkah Chanyeol, yang demi apapun membuatnya ingin membunuh lelaki itu sekarang juga.
Chanyeol mendengus. "Bisakah tidak usah kau sebut dengan jelas barang yang kau maksud itu. Asal kau tahu, aku membeli benda itu dengan uangku sendiri, makanya aku sangat menyayanginya!"
"Kau sudah gila! Kau bisa membelinya lagi. Ah aku bisa membunuhmu saat ini juga. Kejadian itu sudah lama sekali. Yaa!" Sehun sudah tak bisa menahan rasa kesalnya, kalau saja dia tak ingat membunuh orang itu dosa, sudah dia pastikan Chanyeol mendekam di neraka bersama saudara-saudaranya saat ini juga.
Chanyeol menghela napas. "Baiklah. Aku mengaku, aku tidak pernah dendam lagi padanya. Ayolah Hun, aku akan mengatakan semuanya besok, kau tau kan dia ulang tahun besok. Aku ingin memberinya kejutan!"
Sehun menggeleng. "Kuperingatkan sekali lagi. Jangan sampai kau menyesal, Chanyeol! Kau sudah membuatnya menderita selama ini. Aku tak akan ikut campur untuk kali ini!"
Sehun berlalu dari sana, dia mendadak mules dan berlari tergesa ke toilet sekolah. Chanyeol sendiri sudah berjalan santai ke depan sana.
"Permainan dimulai," pikirnya.
Baekhyun masih menatap tajam Kai yang ada di depannya. Baekhyun hendak memukul wajah mengesalkan namja tan itu, kalau saja Chanyeol tidak muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Dengan kata lain, dia kembali teralihkan oleh namja tampan itu.
"Berhenti, Baekhyun!" desis Chanyeol tajam.
Baekhyun mematung mendengar nada ketus itu. Seumur-umur, Chanyeol tak pernah sekalipun bicara seperti itu. Walau dia seringkali menggoda namja jangkung itu sampai kesal.
"Apa maumu! Kau tak ada urusan dengan kami," balas Baekhyun tak kalah ketus sambil mendorong Kai sampai terjatuh lagi dengan tidak elit.
"Berhenti membullynya, Baek! Kau sudah kelewatan padanya!" ujar Chanyeol pelan.
Baekhyun menggeleng kuat. "Kau pikir kau siapa melarangku!"
Chanyeol tersenyum smirk, ini saatnya. "Tentu saja, aku tak mau kau terus-terusan membully calon pacarku, Baek!" seru Chanyeol mantap.
"APA!"
Tidak, itu bukan suara Baekhyun. Melainkan milik Kyungsoo, Luhan dan Kai yang terkejut setengah mati mendengar ucapan namja jangkung itu. Baekhyun terdiam di tempatnya. Dia menatap dalam ke arah Chanyeol, seolah meminta penjelasan atas kalimatnya barusan. "Tapi, kupikir kau menyukaiku?" tanyanya pelan.
Chanyeol menggeleng. "Kau sudah kuanggap Adikku sendiri, Baek. Aku sama sekali tak punya perasaan padamu!"
Baekhyun merasa kakinya melemas, otaknya seketika blank mendengar ucapan keramat itu. Rasanya seperti kau naik Rollercoaster, tapi ketika sudah di atas, mendadak saja ada angin besar datang dan kau dihempaskan sejauh mungkin, dan berakhir mendarat di atas tanah. Iya. Rasanya sungguh sakit! Baekhyun benar-benar berharap semua ini mimpi. Sudah malu! Ditolak pula! Apalagi yang lebih memalukan dari hal ini?
Baekhyun tersenyum sendu. Dia mengangguk kemudian melirik ke arah Kai yang masih terdiam di sana. "Kim Jongin. Selamat. Kau benar-benar berhasil merampas milikku lagi!"
Tanpa pesan. Tanpa kata. Baekhyun berlari dari sana dengan perasaan kacau. Dia berlari dan terus berlari, entah kemana kakinya akan berhenti melangkah, yang jelas dia tak ingin menampakkan wajahnya dimanapun. Kyungsoo menatap tajam ke arah Kai yang masih tak mengerti apa yang terjadi. Luhan merasa amarahnya akan memuncak langsung mendelik tajam ke arah Chanyeol, dan mendorong kuat tubuh namja tinggi itu sampai membentur dinding, kemudian menarik Kyungsoo agar meninggalkan mereka berdua.
Sehun hanya bisa menghela napas lelah, perutnya mendadak sakit lagi karena sudah melihat kejadian tak mengenakan tadi.
"Kuharap semua rencanamu itu berjalan lancar, Chan!" isyarat Sehun dari jauh, sebelum tubuhnya menghilang lagi dibalik pintu toilet.
.
.
Baekhyun berjalan pelan, menyusuri jalan setapak yang sepi itu. Dia meremas kuat pegangan di tasnya. Namja manis itu berlari seperti anak kecil saat melihat gerbang kokoh yang tak terkunci di depan sana. Dia tersenyum senang, seakan melupakan kalau hatinya sungguh sakit saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, sebelum dirinya berakhir di tempat ini sambil membawa sebuket bunga.
Baekhyun melirik ke arah dua gundukan tanah di depannya itu. Dia berjongkok sambil menatap ke arah nisan yang sedang di pegangnya saat ini. Dia tersenyum kecil, lalu mulai membuang apapun yang sekiranya mengganggu penglihatannya. Entah itu rumput liar ataupun daun kering yang tersasar karena angin. Jujur saja, ini baru kali ketiga dia datang lagi ke tempat ini, setelah beberapa pekan berkutat dengan pelajaran di sekolahnya yang super sibuk.
"Halo Eomma, Appa! Lama tidak bertemu, ne? Hehe bagaimana kabar kalian di sana? Ah syukurlah kalau baik-baik saja. Aku? Aku juga baik. Lihatlah sekarang aku sudah bisa tersenyum kan. Maafkan Baekhyun, karena baru bisa datang lagi sekarang. Apa Eomma mencari Luhan dan Kyungsoo? Ah mereka sedang sibuk Eomma, entahlah aku juga tak tahu." Baekhyun berbicara sendiri seolah dia baru saja berinteraksi dengan orang yang sedang dia ajak bicara, sambil tangannya tak berhenti untuk mengusap batu nisan itu dengan penuh sayang.
"Eomma. Baekhyun rindu dengan Eomma dan Appa. Baekhyun rindu kita merayakan natal bersama. Baekhyun juga rindu dengan kue buatan Eomma. Yah, walau kue buatan Eomma Kyungsoo juga enak, tapi tak ada yang bisa menandingi kue buatan Eomma hehehe. Ah, Baekhyun jadi pengen kue jadinya." Baekhyun tertawa lirih mengingat kenangannya bersama sang Eomma di waktu kecil dulu.
Baekhyun menatap sendu makam di sampingnya itu. "Eomma ingatkan besok hari apa? Teman-temanku masa tidak ada satupun yang ingat. Aku sungguh kesal dengan mereka, tapi aku juga menyayangi mereka." Baekhyun menahan air matanya, dia jadi seperti orang tak waras yang bicara dengan sebuah makam. Baekhyun menunduk lalu bergumam pelan. "Eomma, Baekhyun boleh bercerita?"
Seolah mendapat jawaban, tiba-tiba saja entah angin dari mana yang membawa sebuah daun yang terjatuh tepat di hadapan Baekhyun. Namja manis itu tersenyum senang, setidaknya dengan cara ini dia masih bisa berinteraksi dengan kedua orang tuanya.
"Eomma tahu Chanyeol kan? Iya, dia namja yang Baekhyun suka. Maaf, baru bilang ke Eomma sekarang. Sebenarnya Baekhyun sudah lama menyukainya, dan Baekhyun pikir dia juga suka dengan Baekhyun. Tapi, ternyata selama ini dia sangat terganggu karena Baekhyun. Iya, dia tidak mencintai Baekhyun Eomma. Baekhyun kecewa sekali, apalagi dia lebih memilih orang yang membuat Eomma dan Appa jadi seperti ini! Baekhyun membenci dia sampai kapanpun!" Baekhyun merasakan kembali dadanya sesak mengingat kejadian di sekolah tadi.
"Hiks! Eomma. Tapi Baekhyun juga ingat apa yang Eomma ucapkan setiap kita bertemu di mimpi. Tapi Baekhyun tidak rela Eomma! Hikss! Baiklah, Baekhyun akan melakukan yang Eomma ucapkan." Entah dengan siapa dia bicara, seolah-olah Baekhyun baru saja bertemu dan bercakap pandang dengan Eommanya.
Baekhyun menghapus air matanya pelan. Dia menatap lebih dalam nisan Eomma dan Appanya yang bersebelahan. "Eomma, Baekhyun lelah hidup seperti ini. Tidak ada yang peduli dengan Baekhyun lagi. Apa tawaran Eomma saat itu masih berlaku? Iya Eomma, yang Eomma katakan waktu itu. Kalau Baekhyun lelah, Baekhyun boleh ikut dengan Eomma dan Appa. Sungguh, Baekhyun mau Eomma!" ujarnya parau menatap sedih ke depan sana.
Baekhyun bangkit dari duduknya, setelah dirasanya cukup sudah dia bercengkrama dengan Eommanya. Senja sudah mulai terlihat, Baekhyun merentangkan tangan dan menghapus bekas air mata yang mengering di kedua pipi gembilnya. Sebelum dia benar-benar meninggalkan tempat itu, dia berbisik pelan seakan mengucapkan salam perpisahan.
"Eomma, Baekhyun tak ingin minta hadiah apapun di hari ulang tahun Baekhyun besok. Satu yang Baekhyun mau, Baekhyun ingin bersama Eomma dan Appa!" lirihnya penuh harap. Kemudian angin kembali berhembus kencang menggelitik telinga namja manis itu.
"Di tempat itu? Baiklah, besok Baekhyun akan ke sana. Tapi Eomma janji ya, akan membawa Baekhyun bersama Eomma? Baiklah! Baekhyun sangat senang hehe. Sampai ketemu besok, Eomma, Appa!"
Kalimat itu menjadi penutup dari pertemuan Baekhyun di tempat itu, namja manis itu menyusuri jalan awal yang dia datangi tadi dengan wajah sumringah, sesekali dia tertawa bahagia sambil berlari-lari kecil menembus hujan rintik yang mulai menyapu jalanan tempat dia lewat.
.
.
"Ingat rencanaku besok kan Sehun? Awas kau sampai telat," Luhan menajamkan kata-katanya, namja itu beranjak mendekati jendela kaca, menarik kursi belajarnya, dan mendudukan bokongnya di sana sambil terus bergumam dengan orang di seberang sana.
"Aku tak pernah mengingkari janjiku, sayang!"
"Ck! Kau tidak cocok menggombal, Sehun. Lebih baik kau—Omo Baekhyun. Hun aku tutup yah teleponnya, Baekhyun sudah kembali aku akan meneleponmu lagi nanti. Aku menyayangimu!" Luhan melambaikan tangannya ke arah Baekhyun, yang hanya dibalas senyuman oleh yang lebih muda dari luar sana.
Luhan mematikan panggilan yang berdurasi 5 menit itu, kemudian melempar asal Ponselnya ke atas ranjang, dan berlari kecil untuk menghampiri Baekhyun di depan sana. Tanpa pernah tahu kalau orang yang dia hubungi tadi mendengus sebal dan tersenyum kecil dalam waktu bersamaan, saat mendengar ucapan terakhir Luhan. Aku juga menyayangimu, Lu! batin Sehun berucap, namja jangkung itu menjauhi ranjang, membawa kakinya masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.
Luhan tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia menarik Baekhyun dan memeluknya erat. Baekhyun tak menjawab dia hanya diam di pelukan namja cantik itu. Bahkan saat Luhan mengajaknya masuk ke dalam kamar, dia hanya diam dan mengikuti namja itu dengan tenang. Luhan menarik Baekhyun mendekat, kemudian kembali memeluknya dengan erat.
"Kau habis berteleponan dengan siapa?" tanya Baekhyun memecahkan suasana hening tadi.
Luhan melepaskan pelukannya. "Aku baru saja selesai menelepon, Sehun," balas Luhan tersenyum.
"Aigoo uri Luhannie ternyata sudah jatuh cinta dengan si muka datar itu. Aku pikir Sehun orang yang sangat tepat untuk seorang manja sepertimu, Lu. Karena aku yakin dia pasti bisa menjagamu kalau aku tak ada hehe," Baekhyun terkekeh pelan, namun dia sama sekali tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau namja manis itu sungguh sakit. Tidak. Tubuhnya tidak sakit, tapi Hatinya lah yang sakit.
Luhan menatap khawatir ke arah yang lebih muda. Dia mengelus pelan surai kecoklatan Baekhyun, dia paham sekali bagaimana perasaannya, lagipula dia sudah seringkali menasehati namja kepala batu itu, tapi dasarnya memang Baekhyun saja yang susah diatur. "Baek, berhenti menyakiti dirimu sendiri. Apa kau tak sadar, Chanyeol tidak menyukaimu!"" Luhan berucap penuh penekanan dengan tatapan tajamnya.
Baekhyun hanya bisa menunduk mendengar suara Luhan. Dia mendongak dan tersenyum miris "Kau benar, Lu. Dia memang tidak mencintaiku. Tidak seharusnya aku seperti ini," seru Baekhyun pelan.
"Aku sudah memperingatkanmu, Baek. Tapi kau terus saja menggodanya, mulai besok jangan melakukan hal itu lagi!" ucap Luhan final.
Baekhyun mengangguk patuh. Lalu menatap dalam ke arah Luhan. "Lu, sepertinya ini waktunya aku untuk mundur. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku menunggunya selama 6 tahun. Jadi selama ini apa kebaikannya itu hanya sebatas Kakak dan Adik?" aku Baekhyun. Membuat namja cantik di dekatnya hanya bisa mengasihani nasib sahabatnya itu.
"Lu?" panggil Baekhyun pelan, namja manis itu menggigit bibir bawahnya dengan bergetar, menahan tangis.
"Ada apa, Baek?" tanya Luhan sedikit khawatir melihat perubahan warna muka Baekhyun.
"Aku akan berhenti! Eommaku sering berkata kalau kami bertemu di mimpi, jangan pernah membenci dia, tapi aku tak bisa. Aku sudah lelah, Lu. Aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan meminta maaf dengannya. Setelah itu aku akan menemui Eomma." seru Baekhyun sambil tersenyum. Seketika Luhan bergidik mendengar ucapan Baekhyun itu, sebisa mungkin segala pikiran buruk dia enyahkan dari otaknya.
"Baek kenapa berkata seperti itu? Kalau kau lelah, Aku dan Kyungsoo selalu ada untukmu. Kau bisa mengandalkan kami," ujar Luhan sedikit memaksa. Pasalnya hatinya mendadak gelisah mendengar ucapan namja manis itu.
"Terima kasih, Lu. Kalian berdua memang sahabat terbaikku. Apapun yang terjadi setelah ini, jangan membenciku. Ah ya, terima kasih juga untuk semua yang kau berikan padaku. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa. Ucapkan terima kasihku juga pada Kyungsoo, karena sudah menemaniku dan mau menjadi pembantuku selama ini. Aku benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan apa. Aku rasa bahkan harga rumahku tak cukup untuk membayarnya," eluh Baekhyun menunduk. Luhan semakin berdebar mendengar ucapan namja manis di depannya.
"Tolong juga bilang ke Yixing Gege, jangan sering mengapel ke rumah Jun Hyung, karena kau tahu sendiri kalau mereka berdua sudah bertemu, besoknya Yixing pasti akan mengeluhkan bokongnya yang sakit. Bilang ke Jongdae juga, harus teratur minum obatnya, biar lukanya cepat sembuh dan jangan sering bergadang hanya untuk mendownload film hentai. Otaknya bisa rusak karena terlalu sering menonton film seperti itu. Bilang juga pada mereka terima kasih atas semuanya, aku akan merindukan mereka berdua!"
"Apa maksudmu, Baek. Jangan bicara yang tidak-tidak! Kami tak pernah meminta balasan apapun darimu!" oke Luhan sudah tak tahan, dia sedikit membentak namja manis itu, sementara Baekhyun sama sekali tak terkejut dengan nada marah yang terselip di antara ucapan Luhan.
Baekhyun hanya tersenyum lagi. "Hiduplah dengan tenang bersama Sehun setelah ini. Kau tahu sendiri, si datar itu tak akan peduli apapun dengan dirinya sendiri. Aku harap Sehun akan menjagamu. Ingatkan juga sahabat pinguin kita agar tak usah sering bergadang untuk mencoba resep baru, dia bisa lelah nantinya!" seru Baekhyun tenang.
Luhan semakin bergidik dan menatap marah ke arah Baekhyun. "Kau membuatku takut, Baek! Ada apa denganmu! Hiks!" bentak Luhan lagi, kali ini air matanya sukses keluar deras dari atas sana. Dia sungguh tak mengerti dengan Baekhyun, sebenarnya apa yang salah dengan otaknya itu. Baekhyun memeluk erat tubuh namja cantik itu sambil mengelus pelan bahu Luhan.
"Aku baik, Lu. Sangat baik!" bisik Baekhyun sambil terus menenangkan namja yang sedang tersedu-sedu di pelukannya itu.
"Hikss. Jangan berkata seperti itu. Kau menakutiku, Baekhyun!" seru Luhan menangis di pundak yang dia rengkuh.
"Tidak akan. Jangan menangis lagi," bisik Baekhyun yang terdengar merdu di telinga Luhan.
"Baek, aku punya satu permintaan untukmu!" ujar Luhan melepaskan pelukannya dan menatap dalam ke arah Baekhyun.
"Katakan. Aku pasti mengabulkannya," jawab Baekhyun mantap.
"Menginaplah di rumahku hari ini, Baek. Jangan pergi kemana-manapun tanpa seizinku," Luhan berseru dan langsung memeluk namja itu.
"Baiklah. Tapi aku harus menemui seseorang dulu," seru Baekhyun balas memeluk Luhan.
"Tidak boleh! Kau pasti akan kabur lagi seperti hari itu!" Luhan melipat tangan di dadanya sambil cemberut, mengundang tawa dari namja manis di depannya yang mendadak tergelak.
"Aku tak akan kabur, Lu. Karena ini terakhir kali aku menginap di rumahmu. Setelah ini aku akan pulang ke rumah, dan hidup bersama Eomma dan Appaku,"
Kata-kata terakhir itu benar-benar membuat Luhan tak bisa berpikir jernih, jantungnya pasti berdebar setiap kali melihat pergerakan kecil apapun dari Baekhyun. Dia mendadak menjadi seperti robot pengawas 24 jam, yang mengawasi kemanapun Baekhyun pergi. Bahkan dia rela menunggu namja manis itu di depan pintu masuk rumahnya, ketika Baekhyun pamit pergi untuk menemui seseorang terlebih dahulu.
.
.
Baekhyun mengeratkan mantel biru milik Luhan yang namja itu pinjamkan padanya, ya saat ini cuaca malam begitu dingin, jadi karena dia bilang akan mematuhi semua ucapan Luhan, jadilah mantel itu kini melekat pas di tubuh pendeknya. Baekhyun membawa langkahnya menuju sebuah rumah yang cukup besar di depan sana. Tubuhnya bergetar antara menahan dingin dan tangis. Setelah sekian lama, akhirnya dia baru menginjakkam kaki di tempat ini lagi. Baekhyun berhenti sebentar, ada sedikit perasaan ragu dalam hatinya, namun dengan segala tekad yang kuat, dia melangkah pelan dan mulai mengetuk pintu dengan keras.
Ceklek!
Pintu terbuka. Muncullah sosok namja jangkung berkulit tan itu. Kai nyaris memekik melihat orang yang paling membencinya itu tiba-tiba datang ke rumahnya. Kai melebarkan matanya, melirik dari atas sampai ke bawah tubuh namja manis di depannya itu, memastikan kalau orang yang dia lihat ini, benar manusia biasa, sama sepertinya. Baekhyun sama sekali tak bergerak, maupun bersuara, setelah Kai berdehem pelan untuk mencairkan suasana, barulah namja manis itu mendongak dan memandang Kai dengan tatapan sendu, sontak saja namja tan itu merasa jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Tatapan yang sama, yang dilihatnya beberapa tahun lalu. Tatapan putus asa, yang selalu menghantuinya sampai sekarang.
"Baek ada apa? Apa yang terjadi!" seru Kai mulai panik dan menyentuh pundak Baekhyun dengan tangan bergetar.
Baekhyun menggeleng. "Maaf. Maaf. Maaf." ujarnya pelan.
Kai melebarkan volume bola matanya mendengar jawaban itu. Apa-apaan ini. "Baek sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Kai memaksa, dia benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang.
"Maafkan aku, Kai! Kau tenanglah, aku tak akan membullymu lagi setelah ini. Belajarlah yang benar setelah ini, bukankah kau pernah bilang ingin jadi Dokter. Kupikir tubuhmu juga cocok jika memakai jas putih. Kuharap cita-citamu itu tercapai."
Tidak. Kai menggeleng kuat. Matanya memanas tanpa sebab. Kakinya serasa tak bisa berpijak lagi di tanah. Namja tan itu jatuh terduduk, sementara Baekhyun masih berdiri di depannya dengan tatapan kosong. Kai menengadah, memandang wajah manis Baekhyun, yang justru membuat dadanya semakin sesak. Kai ingin mengatakan banyak hal, tapi bahkan lidahnya sama sekali tak bisa digerakkan sama sekali.
"Baiklah. Sampai ketemu lagi, Kai. Jangan sampai terlambat ke sekolah, besok!"
Bahkan Kai tak bisa sekedar untuk menahan namja manis yang sudah menjauh dari hadapannya itu. Yang dilakukan namja tan itu hanya diam memandang ke arah depan, dimana punggung Baekhyun semakin menghilang di telan tikungan jalan.
Sementara itu di salah satu sudut kota, tepatnya di dalam sebuah ruangan luas, seorang namja jangkung sedang menutup matanya erat sambil bergumam tak terlalu jelas.
"Eungh Shhh Baekhh!"
Namja jangkung itu begitu bernapsu untuk menyesap leher namja pendek yang ada di bawah kendalinya. Sampai-sampai dia tak segan meninggalkan banyak sekali hickey di leher putih yang lebih pendek. Seolah menandai namja itu, kalau dia adalah mutlak miliknya.
"Eungh Channhh,"
Namja jangkung itu menggeram di tempat saat melihat penampakan namja manis yang ada di kungkungannya. Mata tertutup, dengan mulut setengah terbuka. Sial sekali! Dia benar-benar tak bisa menahan dirinya. Dengan gerakan tergesa, dia melepaskan pakaian yang melekat di tubuh namja itu dan mulai menyesap dada mulusnya dengan ganas. Tak lupa untuk meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Chanhhh Aahh!"
"Chanyeol!"
BRAK!
"AKH!"
Suara itu terdengar bersahut-sahutan di dalam sebuah ruangan yang hanya terisi sofa besar dan Tv layar datar di dalamnya. Chanyeol mengusap wajahnya yang mencium lantai. Chanyeol mengernyit saat mengusap matanya. Sebentar. Apa dia baru saja menyentuh lantai? Lalu, hal tadi itu mimpi? Jadi Chanyeol sedang bermimpi? Namja jangkung itu melirik ke sekelilingnya, dan tak menemukan siapapun di sana selain seorang namja tinggi yang sedang kebingungan sambil duduk di atas lantai. Chanyeol melirik ke bawah sana, kemudian meringis ngilu mengingat mimpi sialnya tadi.
"Chanyeol?"
Chanyeol membeku di tempatnya. Suara itu seperti nyata. Tapi Chanyeol juga sudah meyakinkan diri seratus persen kalau dia tadi sedang bermimpi. Buktinya tidak ada apa-apa di sini, selain dirinya. "Astaga! Apa aku begitu bernapsu dengannya. Sampai-sampai berhalusinasi seperti ini," gumamnya sambil memukul kepala.
"Chanyeol! Kau di dalam?"
Sial kuadrat. Chanyeol buru-buru bangkit dari duduknya, melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan angka 10 lewat waktu setempat. Chanyeol berjalan pelan ke arah pintu apartemennya. Dia yakin itu suara Baekhyun. Dengan wajah dibuat sedatar dan seangkuh mungkin, Chanyeol membuka pintu di depannya. Menatap diam ke arah Baekhyun. Seolah lupa, kalau tadi dia mendesah-desahkan nama namja itu di dalam mimpinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Chanyeol memaki mulutnya diam-diam, bagaimana dia bisa begitu tega mengatakan kalimat kasar itu kepada Baekhyun. Namun karena tak ingin rencananya hancur begitu saja, dia memutuskan untuk terus mempertahankan wajah itu. Baekhyun sendiri tak begitu terkejut mendengar sapaan tidak bersahabat dari orang yang disayanginya itu. Namja jangkung itu mau merespon kedatangannya saja, dia sudah cukup senang.
"Maafkan aku," lirih Baekhyun pelan sama sekali tak berani untuk menatap ke wajah Chanyeol. Dia hanya tak mau kejadian tadi kembali terulang di dalam otaknya.
Chanyeol menghela napas. Sungguh dia tak tega sekali. Tapi mau bagaimama lagi, semua ini harus berjalan sukses. Dan besok hari dia akan menebus semua kesalahannya selama ini. Jadi akhirnya Chanyeol menarik napas dan mulai memasang tatapan seperti tadi. "Aku kecewa padamu, Baek!" desisnya.
"Aku tau. Karena itulah aku mau minta maaf sekarang. Maaf karena sudah menyusahkanmu selama ini. Kau tak usah cemas, setelah ini kau bisa hidup dengan tenang. Selamat tinggal Chanyeol!"
Baekhyun mengecup kilat bibir namja jangkung yang masih termenung di tempatnya itu. Tak mendapat balasan, Baekhyun melangkah mundur perlahan, dan segera berlari menjauh tanpa mau menoleh ke belakang lagi. Dia sudah melepas Chanyeol. Dia juga sudah minta maaf pada Kai. Dia sudah tenang sekarang. Baekhyun berlari dengan aliran sungai yang mengucur deras dari kedua matanya. Hatinya sakit sekali, ingin rasanya dia kembali dan memeluk Chanyeol, tapi dia tak seberani itu.
Chanyeol tersadar dan memegang bibirnya pelan. Dia menggeleng kuat, tidak seharusnya seperti ini. Dia tak mau mendengar kalimat itu keluar dari mulut Baekhyun. Dia menatap sendu ke arah depan sana, dimana hanya ada kegelapan yang mendominasi seluruh jalan. Tak ada apapun di sana,hanya ada suara binatang malam yang saling bersahutan lirih, serta angin yang mendadak berhembus kencang menerpa wajah tampan Chanyeol.
"Tunggu aku besok, Baek! Jangan pergi dariku! Aku akan mengakhiri semua sandiwara ini besok. Maaf membuatmu menunggu lama." ujar Chanyeol lirih. Lalu namja itu kembali berbisik pada dirinya sendiri. "Selamat Ulang Tahun, Park Baekhyun!"
TBC
Chapter depan ending yah.
