Previous Chapter :
"Hinata, kau dari mana saja?".
"A-aku hanya m-menyelesaikan urusan, Sakura-chan". Hinata merespon pertanyaan Sakura sembari memperhatikannya. "K-ku dengar k-kau semalam b-bersama S-sasuke-senpai d-di kedai?". Hinata menautkan alisnya kepada Sakura. Sedangkan gadis berambut pink ini terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan Hinata.
"Kau mengetahuinya dari mana, Hinata?. Semalam aku tak melihatmu di kedai". Sakura yang semula membulatkan kedua manik emeraldnya, kini tertunduk lesu dengan nada suara yang pelan dan tak bisa di dengar oleh Tenten juga Ino di depannya.
"A-aku mengetahuinya d-dari N-Naruto-kun, Sakura-chan". Hinata tetap memandang gadis berambut pink seperti permen karet yang tertunduk lesu itu. "B-bolehkah aku m-mengetahui alasanmu p-pergi b-bersama Sasuke-senpai s-semalam?". Hinata mengeluarkan pertanyaan yang terdengar rumit untuk Sakura karena ini adalah rahasianya dengan senpai tersebut. "Etto, G-gomen k-kalau aku l-lancang, Sakura-chan". Gadis berambut indigo panjang ini kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan yang semakin ramai karena pertandingan basket sudah di mulai.
"Tidak apa, Hinata. Itu memang benar. Tapi, bukan berarti semalam aku dan senpai itu dinner sebagai pasangan kekasih. Aku dan dia hanya melakukan rencananya". Sakura memfokuskan pandangannya kepada pertandingan basket di hadapannya. Hinata yang semula memasang wajah takut, membalikkan kembali arah pandangannya kepada Sakura.
"K-kalau begitu, c-ceritakanlah, Sakura-chan. A-aku ingin m-mendengarnya l-langsung darimu". Tangan mungil Hinata menghampiri tangan Sakura. Gadis ini menggenggam tangan Sakura yang masih setia berada di depan Sakura.
"Baiklah. Akan ku jelaskan padamu". Sakura memperlihatkan wajahnya kepada Hinata dengan pandangan sayu. Hatinya merasa dilema. Di satu sisi, ia harus menjaga rahasia dengan Sasuke. Namun disisi lain, ia tak ingin membuat Hinata dan Naruto yang merupakan sahabatnya menjadi salah paham karena ulahnya.
JUST FOR ME
Disclamer © Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke X Hyuuga Hinata, Haruno Sakura X Uzumaki Naruto
Rated : T
Genre : Drama, Friendship, Romance, and Hurt/Comfort
Warning : OOC, Typo's everywhere, cerita pasaran, AU, Gaje, DLL
Flashback Sakura ~
"T-tunggu, Sasuke-senpai. Lepaskan tanganku. K-kita akan kemana?". Sakura sedikit meronta saat tangan mungilnya di tarik paksa oleh Sasuke, Senpai idolanya. Mendengar permohonan dan perlawanan Sakura, Sasuke menghentikan langkahnya di lorong menuju ruang medis dan lapangan basket tersebut.
"Baiklah. Aku sengaja membawamu kemari, kohai. Ini mungkin terdengar aneh, tapi aku ingin meminta bantuanmu". Sasuke melepas tangan Sakura yang tadinya masih setia melingkar dalam genggamannya. Lalu, ia membalikkan badannya kepada Sakura yang berada di belakangnya.
"T-tolong?. Tentang apa, senpai?". Dengan sedikit malu, Sakura memberanikan dirinya untuk mempertanyakan kemauan sang senpai.
"Kau dekat dengan Hinata bukan?". Sasuke langsung mengatakan alasannya kepada Sakura tentang tujuannya 'menculik' paksa Sakura.
"I-iya. Dia sahabatku, senpai. Memangnya ada apa?". Sakura mulai menghilangkan rasa malunya karena rasa selidiknya yang sangat tinggi yang sulit ia bendung lagi mendengar nama sahabatnya di sebut oleh senpai ini. Ia memberanikan diri mempertanyakan lebih jauh kepada Sasuke.
"Hn. Dengar. Nanti malam aku akan mengajakmu pergi bersama. Dan kau harus mau melakukannya untukku karena aku tak menerima penolakan dalam bentuk apapun".
"Apa?. Apa-apaan ini maksudnya?. Maaf senpai. Walau aku ini juga salah satu penggemarmu, namun kau tak bisa semudah itu menyuruhku menemanimu malam ini. Sekali lagi maaf, jika itu tujuanmu. Aku bukan wanita murahan yang bisa seenaknya kau ajak lalu kau tinggalkan begitu saja seperti barang tak terpakai, senpai". Sakura sedikit terbakar emosi saat Sasuke memintanya menjadi 'teman malam' untuk menemaninya keluar malam nanti. Gadis manis ini merasa di rendahkan oleh senpainya.
Sasuke menaikkan alisnya mendengar penolakan keras dari Sakura. Ia tak mengerti mengapa Sakura menolak ajakanya -yang tak pernah ia tujukan kepada semua fansgrilnya- walau raut wajah Sakura masih terlihat menahan rona malunya. Namun, itulah kesalahan terbesar Sakura karena masih mempertahankan rona di wajahnya. Sasuke justru mendekatkan tubuhnya kepada Sakura. Membuat Sakura melangkahkan kakinya mundur dengan maksud menghindari Sasuke. Sayangnya, tindakan yang Sakura lakukan tersebut membuatnya semakin terkurung pada tindakan Sasuke. Punggung Sakura menabrak dinding yang berada di belakangnya, membuat ia tak bisa lolos dari himpitan Sasuke.
"Begitukah?. Kau mau menolaknya, kohai?". Sasuke mendekatkan wajahnya kepada wajah manis Sakura. Membuat gadis ini semakin sempurna mengeluarkan semburat merah di kedua pipinya.
"Dengar. Jika kau berani menolak kemauanku, sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Hinata dan juga rekanmu yang lain. Semua pilihan berada di tanganmu, kohai. Memilih pergi denganku malam ini, atau sesuatu yang tak kau inginkan terjadi pada sahabatmu". Sasuke semakin membuat Sakura tak berkutik karenanya. "Aku tak akan menjadikanmu kekasihku ataupun simpananku. Karena aku membutuhkan beberapa informasi yang ku rasa hanya kau yang mengetahui semuanya". Tangan kanan Sasuke bertengger di sebelah kanan wajah Sakura dan menyentuh dinding di belakang gadis ini. Sakura tak bisa lagi menolak permintaan keras Sasuke padanya. Ia tak ingin sesuatu yang buruk tersebut terjadi pada temannya yang lain. Sungguh tersudutkan.
"Jadi begitulah. Kau bersedia kan?". Sasuke menaikkan alis sebelahnya. Ia terlihat memeriksa wajah Sakura yang sudah merona karena terlalu dekat dengannya. "Hei, kau tak apa kan?". Sasuke melihat kedua manik emerald Sakura. Sakura, sang gadis berambut pink tersebut hanya mengangguk lemah kepada Sasuke.
"Hn. Baiklah, nanti aku akan menjemputmu jam 19.00 malam tepat. Kau mengerti?". Sasuke semakin melancarkan aksinya yang seolah memerintah Sakura. Ia tak memberikan jarak untuk menolak kepada kohai-nya ini.
"Baik. S-sa-su-ke-senpai". Tak bisa ia tutupi lagi kegugupannya saat Sasuke mengajaknya berbicara seperti ini di lorong menuju lapangan basket tersebut.
"Kau memang baik, Kohai -?". Sasuke menggantungkan pembicaraannya mencoba mengingat nama kohai yang ia 'culik' paksa tersebut.
"Sakura. Haruno Sakura". Sakura menyunggingkan senyuman hangatnya kepada Sasuke. Sasuke hanya menatapnya dingin kemudian pergi meninggalkan gadis itu tanpa mengucapkan terima kasih.
'Bahkan dia tak mengucapkan terima kasih padaku?. Ishh dingin sekali sifatnya. Tapi mengapa aku bisa mengaguminya?'. Sakura menggumamkan kepergian Sasuke dari hadapannya tanpa berbasa-basi lagi. Namun, gadis itu justru terlihat merona mengingat Sasuke yang menarik tangannya. Seperti mimpi. Itu yang gadis ini rasakan sekarang.
. . . . . .
"Sakura". Suara Sasuke membuat lamunan Sakura yang setia melihat punggung Naruto berlalu dari kedai ini pecah.
"Y-ya". Sakura sedikit terkejut dengan panggilan senpai idolanya tersebut.
"Kau mengenalnya?". Sasuke mempertanyakan kepergian Naruto yang rupanya membuat wajah teman dinnernya ini berubah menjadi sedih. Sakura hanya mengangguk lemah dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Sasuke. Senpai ini bisa dengan mudah mengajak Sakura pergi seperti Naruto yang mengajak gadis ini pergi. Wajah Sakura di selimuti rasa bersalah sejak kepergian Naruto tersebut.
"Ku harap kau ingat rahasia dan tujuan kita". Pria bermata onyx ini melanjutkan pembicaraan dinginnya kepada Sakura. Ia tak mengucapkan kata apapun lagi dan menikmati ramen yang sudah tersaji di depannya.
Mereka berdua menikmati ramen yang sudah tersaji. Sasuke benar-benar tak memperhatikan Sakura yang terlihat menahan air matanya. Tangan Sakura gemetar, bukan karena menahan malu karena harus berhadapan lagi dengannya. Melainkan karena ia melihat Naruto yang tak mengindahkannya lagi ataupun menanyakan kedatangannya dengan Sasuke.
"Sakura, apa kau bersahabat baik dengan Hinata?". Sasuke menyelesaikan suapannya dan meminum air mineral yang menemani ramennya. Kemudian, matanya menatap Sakura serius yang berusaha memasukkan suapan ramen kedalam mulutnya.
"Ya, Sasuke-senpai. Dia teman baikku sejak kami di SMA dulu". Suara Sakura terdengar sedikit parau seperti baru saja menangis. Sakura juga menatap manik onyx Sasuke yang dengan tajam menatapnya. "Memangnya ada apa senpai menanyakannya sampai harus membawaku kesini?". Gadis ini menguyah ramen yang Sasuke pesan tadi. Sambil tetap memperhatikan senpai yang sudah menghentikan kegiatan makannya.
"Beritahu aku semua tentang Hinata. Semuanya tanpa terkecuali. Itu tujuanku mengajakmu keluar malam ini ". Senpai Sakura ini benar-benar sedingin kutub utara. Sakura sedikit terkejut dengan perintah dari senpai aneh ini. Ia terlihat mencoba memahami maksud dari Sasuke yang memintanya menjelaskan identitas Hinata.
"Eh?. Untuk apa, senpai?. Ada apa de-".
"Cepat katakan padaku, Sakura. Aku tak punya banyak waktu hanya untuk berbicara denganmu. Jika tidak kau katakan, sesuatu terjadi padamu. Dan ku pastikan itu hal buruk". Sasuke memotong pertanyaan Sakura. "Oh ya, aku tau siapa keluargamu. Dia pemilik kedai ini, bukan?. Itu sangat mudah untukku". Pria berambut raven ini terus saja memperhatikan Sakura dan mengancamnya tanpa memberi jeda untuk menyela dari perintah dan tatapan matanya.
Sakura terlihat menelan ludahnya dalam-dalam. Ini lebih buruk dari ancamannya tadi saat di kampus. Sesaat kemudian, ia membuang nafasnya dengan pelan. Dengan sangat terpaksa, ia menjelaskan semuanya tentang Hinata kepada Sasuke.
'Hn. Akhirnya ku tau siapa kau, Hinata. Ck, kenapa kau membuatku tertarik dan penasaran seperti ini?. Itu salahmu, Hinata'. Sasuke menyunggingkan senyuman tipisnya yang tak di sadari oleh Sakura saat menjelaskan sosok sahabatnya yang berambut indigo itu.
End Flashback Sakura ~
.
.
.
.
.
"J-jadi senpai i-itu m-memaksamu hanya u-untuk m-mencari tau s-siapa a-aku, Sakura-chan?". Kedua mata Hinata membulat sempurna. Ia tak menyangka jika Sasuke mengancam Sakura dan membuat sahabatnya ini tersudutkan. Sungguh ini di luar dugaannya. "T-tapi, a-apa s-salahku p-padanya?". Mata Hinata menjadi sayu. Seumur hidupnya, ia tak ingin bermasalah dengan siapapun termasuk Sasuke.
"Ntahlah, Hinata. Dia hanya mengatakan jika ia ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Tapi tenang saja, identitas aslimu sebagai penerus klan Hyuuga di Konoha masih ku tutup rapat. Dia belum mengetahuinya seluruhnya". Sakura mengelus punggung rapuh Hinata dengan penuh kelembutan. Gadis ini mengetahui semua tentang Hinata karena mereka tinggal di desa yang sama.
Priiittttt
Pertandingan basket tersebut berakhir juga. Hinata merasa lega karena ia tak perlu duduk terlalu lama di kursi penonton. Ia tidak begitu menyukai pertunjukkan bola yang di perebutkan banyak orang tersebut.
"Ano. Arigatou, Sakura-chan. K-kau masih m-merahasiakan i-identitasku asliku d-darinya". Hinata berusaha tersenyum diantara ketakutan hatinya dengan cerita Sakura.
"Tapi, aku tak menjamin rahasiamu masih tertutup rapi jika Sasuke-senpai dekat dengan Naruto. Dia kan yang mengetahuimu lebih rinci, Hinata". Sakura menatap pelan kedua manik Hinata yang sudah sayu dan berusaha menahan senyuman. Respon berlawanan justru tergambar pada wajah Hinata. Ia kembali membulatkan kedua bola matanya. Pertanda jika ia baru menyadari bahwa ia meminta Sasuke mendekati Naruto untuk meluruskan kesalah pahaman antara Naruto, Sasuke, dan Sakura.
Sakura menyadari reaksi Hinata. Gadis ini sedikit menarik ujung alisnya dan terlihat mencari ide agar Hinata tak terlalu ketakutan dengan ucapannya. "Ehm, Hinata. Ku lihat kau begitu serasi dengan Naruto". Ia mencoba memperhatikan Hinata dengan senyum yang sangat ia paksakan. Ntah apa yang membisikkan telinganya agar menanyakan hal itu dan membuat topik yang semula ia bicarakan dengan Hinata tergantikan.
"E-eh. T-tidak, Sakura-chan. K-kau salah p-paham soal itu. K-kami tadi h-hanya b-bercerita bersama k-karena kami a-adalah s-sahabat sejak k-kecil".Gadis cantik ini terlihat kebingungan dan terkejut saat pertanyaan menggelikan itu terlontar dari mulut Sakura. "K-kau tau, N-naruto-kun sebenarnya s-sangat mencintaimu. D-dia cemburu s-saat m-melihat Sakura-chan s-semalam b-bersama Sasuke-senpai". Hinata membuka rahasia Naruto kepada Sakura. Sakura terkejut namun akhirnya ia tersenyum manis kepada Hinata.
.
.
.
.
.
ENAM
Pertandingan basket sudah mencapai batas waktu akhir. Team Sasuke selaku team tuan rumah memenangkan pertandingan yang melawan team Gaara tersebut. Poin yang sangat berbeda tipis, karena kedua team memiliki kemampuan bertanding yang sama kuat. Gaara, selaku ketua team lawan dari team Sasuke menghampiri Sasuke untuk berjabat tangan. Team Garaa juga merupakan salah satu mahasiswa unggulan dari Universitas lain yang juga terkenal di Tokyo.
Seusai pertandingan, anggota dari kedua team berpisah begitu saja. Termasuk Sasuke. Namun, langkahnya terhenti karena ia teringat akan janjinya kepada Hinata sebelum pertandingan tadi.
"Naruto". Suara Sasuke yang berada di belakang Naruto membuat langkahnya terhenti. Ia mengalihkan wajahnya kepada sumber suara yang membuat langkah kakinya terhenti.
"Senpai. Ada apa?". Naruto menjawab panggilan Sasuke.
" Aku ingin berbicara denganmu". Sasuke membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Naruto. Ia seolah memberi isyarat kepada Naruto agar mau mengikutinya yang berjalan menuju taman belakang Universitasnya. Dan benar saja, Naruto mengikuti sang senpai karena rasa penasarannya yang menggebu di pikirannya untuk mengetahui maksud Sasuke.
Lorong demi lorong di lalui oleh Sasuke dan Naruto. Jarak Naruto yang tak terlalu dekat dengan Sasuke membuat kesan jika Naruto mengintai senpai Uchiha ini. Hingga akhirnya, Sasuke duduk di bangku taman yang berada di belakang kampusnya. Tidak ada hal yang menarik di sekitar sini. Hanya saja disini sangat sejuk dan asri jika musim semi atau musim panas sedang menghampiri. Namun kali ini berbeda, semua berubah menjadi seputih salju. Naruto melihat Sasuke yang sudah duduk santai di bangku taman seorang diri. Ia menghadapkan badannya kepada Sasuke.
"Duduklah, Naruto. Aku ingin berbicara padamu". Dengan pandangan tetap kedepan melihat tempat gucuran air yang kini tak berfungsi karena cuaca tersebut, ia memerintah Naruto sesuka hatinya.
"Huh?. Ada apa, senpai?. Sepertinya serius sekali". Naruto duduk disebelah Sasuke selayaknya pasangan kekasih yang sudah lama tak bertemu. Ya, mereka hanya berdua. Akan tetapi, Sasuke pastikan tak akan ada yang mengetahui hal yang ia lakukan sekarang karena ia yakin jika seluruh penghuni Universitas ini sejak usainya pertandingan tersebut berhamburan kembali pada aktivitas masing-masing.
.
.
.
.
.
Hinata, Ino, Tenten, Sai, dan Sakura berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Hinata terus saja menampakkan wajah cemas dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya semakin sayu. Sedangkan Tenten, Ino dan Sai terus bercengkrama soal pertandingannya tadi. Sakura lebih memilih menemani Hinata yang berdiri di belakang tiga rekannya.
"Hinata. Apa kau baik-baik saja?". Sakura mencoba mengajak gadis imut ini berbicara ringan. Sakura terlihat khawatir dengan keadaan Hinata saat ini.
"I-iya, Sakura-chan. A-aku tak apa". Hinata tak memperlihatkan wajahnya kepada Sakura. Ia masih terlihat khawatir dengan satu hal.
"Apa kau yakin dengan ceritamu tadi jika Naruto benar-benar mencintaiku?". Sakura melihat Hinata dengan ekor matanya. Alisnya yang naik sebelah seolah mempertanyakan kepastian dari ucapan Hinata tadi.
"Y-ya. I-itu benar, Sakura-chan. J-jadi k-kumohon. B-berikan dia k-kesempatan". Wajah Hinata kini sepenuhnya menghadap kepada manik emerald Sakura yang berada di ujung ekor matanya. Sakura tersenyum tipis. Ia percaya dengan gadis di sampingnya ini.
"Hinata. Asal kau tau saja, aku juga menyukainya. Hanya saja, aku tak mau menampakkan itu padanya". Sakura semakin menampakkan senyum manisnya. "Aku hanya kagum pada Sasuke senpai. Hanya kagum. Karena aku sudah menaruh perasaan yang lebih indah dari rasa kagumku pada Sasuke-senpai ini pada Naruto. Ah, sudahlah. Aku masuk kelas dulu. Jaa~".
Sakura melambaikan tangannya kepada Hinata. Kemudian, Sakura memasukkan dirinya ke dalam kelas medis yang di ikuti oleh Ino. Hinata hanya menyunggingkan senyumannya sambil terus berjalan dengan Tenten dan Sai sampai mereka bertiga tiba di kelasnya.
'Aku akan menyatukan kalian berdua. Apapun caranya. Itu semua janjiku pada Menma-kun'. Hinata berbicara sendiri kepada batinnya. Kemudian, Tenten menarik tangannya untuk memasuki kelas karena sudah ada Kakashi didalamnya.
.
.
.
.
.
***ENAM***
"Jadi, kau mengira aku dan Sakura adalah sepasang kekasih?". Sasuke melirik Naruto yang berada disampingnya dengan ekor matanya.
"Bukankah memang seperti itu, Senpai?". Naruto justru tak membalas lirikan mata Sasuke. Ia terlihat serius mengamati tumpukan salju yang sudah menutupi tempat gucuran air seperti Sasuke tadi.
"Hn. Kau cemburu rupanya, Naruto. Jadi semua yang dikatakan Hinata itu benar adanya". Sasuke berbicara pelan dengan maksud agar Naruto tak mendengarnya.
"Eh?. Hinata?. Apa maksudmu, Senpai?". Naruto menaikkan alisnya dan sekarang memperlihatkan wajahnya kepada Sasuke yang duduk tegap di sampingnya.
"Kau mendengarnya. Ya, tadi sebelum kita bertanding dan saat Hinata menarik tanganku untuk keluar dari markas team, ia mengajakku berbicara dan membiarkanmu bergabung dengan team. Namun dengan satu persyaratan yang harus ku lakukan". Sasuke menjelaskan alasan Hinata membiarkan Sai dan Naruto ikut bergabung dalam teamnya.
"Syarat?. Apa yang ia katakan padamu, Senpai?".
"Dia ingin aku ikut membantunya. Ia ingin menyatukanmu dengan Sakura. Menyebalkan. Aku menjadi team menjodohkan orang sekarang". Sasuke tersenyum tipis merutuki kesialannya yang harus menuruti kemauan Hinata demi kesuksesan team basketnya tadi.
"Uh, Hinata. Kenapa selalu seperti ini?". Naruto mengacak rambutnya kasar. Ia merasa bersalah karena sudah mengeluarkan isi hatinya tentang Sakura kepada Hinata.
"Apa kau sudah lama mengenalnya?". Sasuke melirik lagi Naruto.
"Iya, Senpai. Dia teman kecilku. Kami selalu bersama. Tunggu, bagaimana bisa senpai dan Hinata saling mengenal dan akrab begitu saja?. Bagaimana mungkin?". Naruto mempersingkat penjelasannya karena ia tau jika Sasuke tidak suka dengan orang yang banyak bicara. Namun, ia juga mempertanyakan kedekatan antara Hinata dan senpai ini terjalin. Ia sangat paham jika Hinata memiliki anti sosial tinggi yang membuatnya susah untuk beradaptasi dengan orang baru.
"Begitu?. Ya, aku mengenalnya. Ntah lah, aku juga susah untuk menjabarkannya. Kembali lagi dengan alasanku mengajak Sakura semalam ke kedai hanya berdua. Aku yang memaksanya agar ia mau ikut denganku dengan mengancamnya. Aku sedang mengamati percobaanku dan kurasa hanya kohai itu yang mengetahuinya". Sasuke kembali menjelaskan alasan versinya kepada Naruto. "Oh iya, semalam Sakura begitu terpukul dan sedih saat kau berjalan begitu saja melewati meja kami. Jangan terlalu cepat menyimpulkan jika dinner semalam adalah dinner sebagai pasangan kekasih. Dan bisa aku jamin jika diantara aku dan Sakura tak ada perasaan istimewa apapun". Sasuke kini menatap penuh Naruto yang sejak tadi melihatnya tanpa jeda.
"Tapi di-".
"Soal baju yang ia kenakan. Itu juga permintaanku agar tak ada satu orang pun dari mata-mata keluargaku yang curiga jika aku membawa gadis sembarangan. Itu adalah ketetapan yang di terapkan keluargaku sejak dulu dari leluhurku, Madara". Pria bersurai raven tersebut memotong pembicaraan Naruto karena ia sudah mengerti dengan arah pembicaraan Naruto.
Setelah mendengar penjelasan dari Sasuke tadi, ntah mengapa Naruto langsung mengubah posisinya menjadi berdiri sempurna. "Yosh.Kali ini aku harus benar-benar mengejarnya". Naruto sangat bersemangat saat ini setelah mendengar cerita dari Sasuke.
"Ya. Cepatlah kau nyatakan perasaanmu sebelum ia jatuh ke dalam pelukan pria lain hanya karena ulahmu sendiri". Sasuke justru menyemangati Naruto agar ia segera menyatakan perasaannya kepada Sakura.
"Terima kasih banyak, Sasuke-senpai". Naruto meninggalkan Sasuke seorang diri yang masih setia duduk di bangku taman itu. Sasuke hanya tersenyum saat Naruto meninggalkannya.
'Misi yang kau berikan sudah ku lakukan dengan sangat berhasil, Hime. Sekarang saatnya kau yang membayarnya kepadaku'.
Bel panjang berbunyi, pertanda seluruh kegiatan yang sedang berlangsung di Universitas megah tersebut harus terhenti. Waktu pulang menghampiri, itu lebih tepatnya.
"Baiklah. Sampai disini dulu materi medis hari ini. Kalian di perkenankan membuka pakaian putih kalian dan simpan kembali di almari tempat pakaian itu semula tersimpan". Tsunade, guru utama di kelas medis sekaligus orangtua angkat Naruto ini mengakhiri jam mengajarnya. Semua mahasiswa dan mahasiswi membuka pakaian putih panjang mereka yang biasa mereka kenakan saat di kelas medis.
Seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kelas medis ini menghamburkan dirinya dari ruang kelas mereka. Termasuk juga Sakura dan Ino. Mereka berdua selalu bersama. Kini mereka menghampiri gerbang kampus tempat seperti biasa mereka berkumpul menunggu Hinata, Tenten dan yang lainnya berkumpul untuk pulang bersama.
.
.
.
.
.
"Hinata, ikut aku". Naruto menarik tangan Hinata yang baru saja menampakkan dirinya yang keluar bersama Tenten dari kelas Management Bussines ini.
"N-naruto-kun. K-kita mau k-kemana?". Ekspresi bingung dan terkejut menghiasi wajah lembut Hinata.
"Naruto!. Jangan seenaknya kau membawa Hinata. Aku harus ikut!". Tenten ikut berlari dan menyusul kepergian Naruto dan Hinata yang berlari di depannya.
TO BE CONTINUE . . . . . .
Yosh, akhirnya FF abal saya ini berhasil saya lanjutkan. Maaf baru bisa post sekarang. Happy reading and thanks for review and always waiting my FF :D
A/N : Maaf tidak bisa membalas satu persatu review. Mungkin di next chapter akan saya usahakan membalasnya :). Saya juga minta maaf karena alur cerita yang acak dan sedikit membingungkan. Maksud hati ingin membuat review dan readers semakin penasaran, apa daya ternyata tidak sedikit yang membuli. Sekali lagi maaf jika mengecewakan dan tidak menarik perhatian. Terima kasih sudah review. Sudah saya utarakan alasan kenapa di chapter ini dan chapter sebelumnya NaruHina sama SakuSasu mendominasi :) :( See you soon on chapter 7 :)
