Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Semi Canon, OOC, Absurd, typo, etc.

A/n : Timeline beberapa bulan pasca invansi Pein dan untuk usia Chara disesuaikan (Author yang menentukan, bukan berpatok pada animanga). Dan satu lagi, Italic pertanda Flashback, Surat dari Ino untuk Naruto dan kata-kata dari bahasa asing.

Selamat membaca, semoga terhibur. ^^

Lazuardi masih terselimuti keabuan, matahari pun masih nyaman dalam selimutnya, enggan untuk menampakkan dirinya. Namun Ino sudahlah terjaga dari alam mimpinya bahkan ia telah anggun dalam baju awal musim gugur dan menyibukkan dirinya dengan beragam sayuran dan ikan di hadapannya. Ino memang bangun terlalu awal, jam baru menunjukkan pukul empat pagi, tetapi ia telah aktif berkutat dalam kegiatan memasaknya.

Ino terlihat mahir dengan pisaunya, ia memotong mentimun diiringi senandung lagu yang ia sukai. Sukses dengan mentimun yang terpotong panjang-panjang dan rapi, kini ia berkutat pada kubis. Ino memang hendak membuat salad sayuran dengan campuran yoghurt berperisa strawberry. Memang aneh jika membuat salad sayuran dengan bumbu yoghurt, apa lagi yoghurt berperisa strawberry bukan dengan mustard, sirup lemon, mayonnaise dan semacamnya, lagi pula yoghurt lebih identik dengan salad buah bukan sayuran. Itulah Ino, wanita atraktif ini memang paling aktif berkreasi, terutama terhadap makanan bahkan pasca-pernikahannya ia menjelma menjadi wanita yang gemar memasak.

Tidak memerlukan waktu lama, ia telah rapi memotong mentimun, kubis, wortel, dan tomat. Salad sayuran yang ia buat memang sangat sederhana hanya terdiri dari empat macam sayuran namun ada keistimewaan tersendiri dari salad buatannya, sayuran yang telah ia iris direndamnya pada larutan air lemon dengan tujuan memberi efek kesegaran pada sayuran. Selama proses perendaman ia menyiapkan sausnya, hanya yoghurt strawberry yang diaduk dengan dicampuri sedkit madu dan air lemon, lalu ia pun menyampuri saus tersebut dengan potongan cherry dan strawberry. Sampailah pada proses terakhir, sayuran ditiriskan dari rendaman air lemon dan diletakkan di kotak bekal juga di mangkuk bertinggi rendah, kemudian disiram dengan saus yang telah tersedia. Ino tersenyum lebar melihat karyanya, ia mengambilnya dan meletakannya di lemari pendingin.

Sukses dengan hidangan penutup kini ia menyiapkan sushi, alasan ia membuat sushi tentunya karena kepraktisan dan kemudahannya dalam mengkreasikan sushi agar lebih variatif. Ino mengaduk air, garam, gula juga cuka beras kemudian memasukkan nasi dan mengaduknya. Ino sangat bahagia hari ini, ia terus tersenyum tidak memperdulikan tatapan heran yang di arahkan Akira kepadanya, "Ino?"

Ino terus sibuk dengan kegiatannya, kini ia meletakkan nasi yang telah diaduk dengan cuka dan bumbu ke nori yang ia letakkan di atas tatakan penggulung. Setelahnya, Ino meletakan irisan telur dadar, ikan salmon yang telah dibumbuhi lada hitam juga telur ikan ke atas nasi kemudian menggulungnya. "Ibu senang melihat kau begitu semangat menyiapkan sarapan, tapi bukankah lebih enak jika memakan shabu-shabu ketimbang sushi di udara sedingin ini?"

Ino berjengit, ia sangat terkejut, "I … Ibu, sejak kapan?"

"Sejak kau menyelesaikan saladmu, mau Ibu bantu?" Ino tersenyum kemudian menggeleng. "Aa, apakah ini kau buat untuk suamimu?" Ino tersenyum malu-malu, Akira mengacak rambut putrinya, "Ayo semangat, buat dia ketagihan!"

Ino kembali melanjutkan pekerjaannya sementara ibunya sudah tidak berada di dapur lagi, dipotongnya sushi yang sudah tergulung. Keraguan melanda Ino, seharusnya ia tidak membuat sushi dan lebih baik membuat ramen yang cocok di udara sedingin ini. Apa lagi suaminya adalah penggila mie berkuah itu.

Bukan Ino namanya jika tidak memiliki segudang akal dan semudah itu menyerah, ia terus melanjutkan kegiatan membuat sushinya. Setelah makanan berat selesai dibuat, ia memutuskan membuat minuman hangat agar tetap cocok menjadi hidangan pembuka musim gugur. Jadi, tidak masalah walau yang ia buat adalah sushi bukan ramen atau makanan berkuah lainnya.

Jam menunjukkan pukul lima, ia sudah selesai dengan kegiatan memasak, membersihkan dapur pasca-memasaknya, juga menyiapkan sarapannya. Ino pun telah membungkus makanan yang akan ia bawa untuk suaminya.

"Ino, apa kau mau pergi? Kenapa tidak tunggu matahari terbit saja, udaranya sangat dingin, Ibu rasa suamimu pun masih terlelap."

Ino tersenyum, "Tidak apa Bu, aku sengaja, aku ingin membersihkan rumah terlebih dahulu. Lagi pula, aku ragu matahari akan terbit hari ini."

Akira memeluk putri tercintanya kemudian menalikan syalnya, "Kau sudah dewasa sayang, padahal baru kemarin Ibu melahirkanmu."

Ino mencium pipi ibu tercintanya, "Ino sayang Ibu."

.

.

.

Tidak memerlukan waktu lama, Ino telah sampai di rumahnya dan Naruto. Ino mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban. Ino berpikir Naruto masih tertidur lelap, ia pun mengetuk lagi meski dalam hatinya ia merasa tidak enak karena mengganggu suaminya yang tengah tertidur. "Mungkin tidak dikunci," benaknya.

Sayangnya pemikiran Ino salah, pintu terkunci dan jendela pun tertutup rapat, tidak ada celah sedikit pun untuk ia memasuki rumah itu. Udara semakin dingin, ia pun mengalami dilema untuk tetap menunggu Naruto terbangun atau pulang ke rumahnya. Ino bisa saja mengambil keputusan kedua dan untuk masalah makanan, ia bisa menitipkannya pada seseorang seperti kemarin, tetapi ia ingin menunaikan tugas lainnya sebagai seorang istri, membersihkan rumah.

Dua puluh menit telah berlalu tanpa ada suara apa pun dari dalam rumah, matahari pun tengah mengintip untuk menampakkan diri dari tidurnya, ia masih dalam posisi berdiri menyender pada pintu. Udara yang dingin membuatnya menggigil dan mati rasa karena terlalu lama berada di luar. Ino tidak mengira awal musim gugur akan sedingin ini, biasanya di awal musim masih ada kehangatan musim panas.

"Ah, Nyonya Hokage, sedang apa di sini?"

"Shizune-sensei …" Ino terjatuh, ia kehilangan kesadaran karena terlalu lama berada di luar ketika suhu begitu dingin juga keadaan perutnya yang belum terisi makanan apa pun sejak tadi.

Shizune terkejut melihat istri atasannya tergeletak tidak berdaya di halaman, ia langsung menyenderkan Ino pada pintu dengan posisi duduk kemudian ia mengalirkan chakra penyembuhnya untuk menyembuhkan Ino. Tidak membutuhkan waktu lama Ino telah kembali sadar. "Anda baik-baik saja?"

Ino mengangguk lemah, "Hanya sedikit pusing."

Shizune tersenyum, "Sebentar, saya bukakan pintu dulu." Shizune mengeluarkan kunci dari saku jaketnya dan membuka pintu kediaman Ino dan Naruto.

"Kenapa kunci itu kau yang pegang?"

Shizune tersenyum, "Nanti saya jelaskan." Shizune menyampirkan tangan kanan Ino ke bahu sebelah kirinya dan tangannya memeluk pinggang Ino. Shizune membantu memapah Ino ke dalam rumah.

"Lebih baik di kasur, apa Anda yakin tidak apa-apa duduk di sini?" Ino mengangguk dan tersenyum. Shizune menghela napas, "Baiklah. Nyonya belum makan ya, makanya pingsan, sebaiknya Nyonya makan saja makanan itu." Shizune mengarahkan matanya ke arah bingkisan yang Ino bawa.

"Jangan terlalu formal, Shizune-sensei. Oh iya, di mana Naruto, kenapa kunci rumah ini bisa ada padamu?"

"Anda tidak tahu?"

Ino memandang bingung Shizune, ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud gurunya ini, ia kan yang bertanya, kenapa harus ditanya balik. Shizune menghela napas, "Apa kalian ada masalah?"

Ino hanya diam, tidak berniat menjawab pertanyaan Shizune. "Hem, sepertinya kalian memang ada masalah. Maaf ya karena ada pertemuan penting para Pemimpin Desa, kalian jadi menunda bulan madu."

Shizune terlalu cepat mengambil kesimpulan namun setidaknya hal itu membuat Ino mengetahui ke mana perginya suaminya. "Sejak kapan dia pergi, Sensei?"

"Ah, kau bahkan tidak mengetahuinya Ino-chan? Em, kemarin sore ia pergi."

Kekecewaan membayangi Ino, seharusnya suaminya pamit terlebih dahulu kepadanya atau mungkin Naruto memang tidak menganggapnya sebagai seorang istri. Memikirkan hal itu membuatnya lemas. Ino menyenderkan kepalanya pada meja dan memejamkan matanya. Ino meresapi kehadiran suaminya dalam benaknya dan hal itu sukses meloloskan butiran bening dan membasahi kelopak matanya. Shizune memang tidak menyadari kalau Ino tengah menangis namun kelesuan Ino membuatnya merasa bersalah. "Maaf, Nyonya Hokage apa ada kata-kata saya yang salah? Saya tadi tidak bermaksud tidak formal, tetapi bukankah Anda yang menyuruh saya demikian. Ah, apa ini masalah bulan madu? Seharusnya waktu itu saya menghalangi Hokage-sama dan mewakilkannya dalam agenda itu."

Ino menjadi tidak enak hati dengan gurunya yang terlalu banyak menyimpulkan yang sayangnya kesimpulannya salah, ia menghapus lelehan air matanya dan menegakkan dirinya. "Ah, tidak Sensei, aku malah lebih suka kau memanggilku demikian, terlalu formal hanya membuat kaku. Aku tidak kecewa kok untuk masalah itu, justru sangat mendukungnya. Bagaimanapun juga suamiku tidak hanya bertanggung jawab untukku saja, tapi untuk semua masyarakat."

Shizune masih belum mempercayai seutuhnya perkataan Ino, ia menatap lagi istri pemimpinnya, "Benarkah?" Ino mengangguk mantap dan tersenyum lebar. Shizune menghela napas, "Jika ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku pamit dulu ya, jaga kesehatanmu. Jika kau sakit, Hokage-sama bisa membunuhku."

Ino mengantarkan guru ilmu medisnya sampai ke depan pintu. Setelah perpisahan dengan gurunya, Ino memilih masuk ke dalam kediaman bersamanya dengan Naruto. Rasa lapar menyerangnya, ia pun memakan makanan spesial yang sengaja ia buatkan untuk suaminya. Kesedihan melanda Ino saat memakan makanan itu, "Seharusnya kau yang memakan ini, Naruto."

Selesai makan, Ino membersihkan alat makannya dan setelahnya membersihkan rumah. Ino mengerucutkan bibirnya, "Kau jorok sekali sih," keluhnya. Namun Ino tetap telaten membersihkan rumah yang begitu kotor, padahal ia baru meninggalkannya kemarin. Hal yang paling membuat kotor adalah rempahan kue.

"Kenapa banyak sekali kue terbuang, dasar Baka!" Selesai dengan lantai penuh kue, Ino beranjak ke bupet sederhana yang letaknya di pusat ruang tamu, tepatnya di bawah foto Keluarga Namikaze. Ino membersihkan debu yang menumpuk di sana kemudian mengambil vas bunga dan hendak mengganti bunga dan air di dalamnya. Ino terkejut dengan isi vas bunga tersebut, ia tidak mendapati air melainkan selembar kertas, ia pun mengambilnya. Ino membaca surat tersebut yang ternyata memang ditunjukkan untuknya.

Terima kasih atas makanan yang kau berikan, rasanya sangat menyenangkan hingga membuat hatiku sejuk. Hehehe, aneh ya, kalo aku berusaha romantis? Intinya, aku sangat berterima kasih Ino-chan! ^^

Meski hanya pesan pendek namun hal itu sukses membuat mood Ino membaik, ia menggenggam kertas tersebut dan memeluknya, "Baka."

.

.

.

"Ketua, ada masalah."

"Mengenai Hokage kah?" Manusia bertopeng kucing itu mengangguk. "Katakan apa masalahnya?"

"Perjalanan Hokage terlamabat karena ada bencana alam yang tidak terprediksi sebelumnya …." Manusia bertopeng kucing, yang diketahui adalah seorang Anbu tidak sempat melanjutkan perkataannya karena tatapan tajam ketuanya. "Ada longsor di titik empat sebelum tempat pertemuan, ditambah hujan deras."

Shikamaru yang tidak memakai serangam anbunya menggangguk paham. "Saya akan kirim bantuan, bersabarlah."

"Baik, tapi Anda harus cepat di sana hanya ada seoang Anbu yang mengawasi dari jauh." Nada keraguan dan kekhawatiran menghampiri Anbu ini, tentunya ia masih ragu dengan ketua barunya. Meski ketuanya adalah seorang jenius namun ini adalah pengalaman pertamanya dalam menangani masalah dengan kategori serius sebagai Ketua Anbu. Terlebih lagi masalah yang dihadapi langsung berhubungan dengan Pemimpin Desa.

Shikamaru menyadari keraguan yang menimpa anak buahnya namun ia terlalu sibuk untuk mengurusi masalah itu. "Cepat kau susul temanmu."

Tidak ada pilihan selain mengikuti petunjuk ketuamu, bukan? Itulah hal yang dipikirkan manusia bertopeng kucing tersebut yang dengan lincah sudah melewati pohon-pohon dan meninggalkan Shikamaru yang masih berkutat dengan pikirannya.

Sebenarnya bukan perkara sulit untuk menugaskan seseorang, hanya saja kepergian Hokage adalah suatu rahasia dan hanya diketahui olehnya, Shizune, dan mungkin Ino karena ia adalah istri Naruto. Shikamaru mengalami dilema, jika ia menugaskan Anbu lagi itu terlalu sembrono karena Desa belum dalam keadaan stabil dan jika ia yang pergi, tentunya tidak mungkin. Bagaimanapun juga Shikamaru mendapat mandat untuk menggantikan kinerja Hokage bersama dengan Shizune selama kepergian Hokage. Shikamaru memejamkan matanya, ia tengah mengatur strategi dengan membayangkan langkah bidak-bidak caturnya adalah segala kemungkinan yang terjadi dari pilihan yang ia ambil.

Sekian menit Shikamaru merenung, ia mendapatkan petunjuk namun ia harus meminta persetujuan dari Shizune terlebih dahulu. Shikamaru benar-benar ingin mengutuk awal musim gugur yang sangat merepotkan ini.

.

.

.

Ino benar-benar lelah setelah membersihkan seluruh rumah, ditambah lagi cuaca yang dingin membuatnya sangat mengantuk, ia pun menggelar futonnya. Memang bukan futon besar selayaknya suami istri, hanya futon single namun cukup banyak memberinya kenangan selama beberapa minggu ini, kisah pernikahannya.

Ino hampir saja lelap dalam tidur namun rasa ketidak-nyamanan membatalkan niatnya untuk terlelap. Ino merasa aneh dengan bantalnya, yang tidak empuk seperti biasa, ia pun bangkit dari rebahannya dan menepuk-nepuk bantal tersebut. Ada yang aneh, setiap ia menepuk bantal itu, ada bunyi aneh yang keluar. Ino langsung melepaskan sarungnya dan mendapati sebuah kotak kecil, ia pun mengambilnya.

"Ini kotak apa? Sepertinya kotak ini yang membuat bantalku tidak nyaman dan menimbulkan bunyi aneh," gumamnya.

Ino terkejut dengan isi kotak itu, sebuah kalung indah terbuat dari emas putih dengan bandul kecil berbentuk huruf hiragana "NI" yang juga terbuat dari emas putih dan di atas huruf itu bertabur berlian-berlian kecil berwarna aquamarine dan safir. Namun Ino menyingkirkan tingkat kepercayaan-dirinya karena belum tentu kalung itu untuknya, ia pun meletakan kembali kalung itu ke dalam kotak. Saat Ino meletakannya ia melihat sepucuk surat, ia bimbang untuk membaca surat tersebut atau tidak. Di sisi hatinya menyuruh untuk membacanya namun logikanya mencegahnya, takut surat itu tidak ditujukan padanya dan tentunya ia tidak bisa bertindak sembarangan karena tidak sopan membaca suatu hal yang bukan untuknya.

Rasa penasaran terus mengusiknya, membuatnya tidak tenang. Sedari tadi wanita muda ini membuka dan menutup kotak tersebut, ia sangat penasaran. Ino menghembuskan napas dan menutup matanya seraya menyenderkan punggungnya pada tembok dengan harapan ia akan terbawa mimpi dan melupakan rasa penasarannya.

Tik

Tok

Tik

…. "Ah, aku penasaran!"

Ino-chaaaan, kau tega padaku! Kau pergi begitu saja dan meninggalkanku tanpa sebab.

Ino terkejut membaca surat itu. Jika memang surat itu diperuntukan padanya, artinya kalung itu juga untuknya. Ino merasa sangat bahagia sampai tawanya bercampur dengan tangis.

Terima kasih sudah sebulan menemaniku dan bersabar menghadapiku, maaf hanya itu kado yang bisa kuberikan padamu, semoga kau menyukainya.

"Terima kasih Naruto-kun, aku sangat menyukainya." Ino menggenggam kalung tersebut kemudian memakainya, "Aku janji akan menjaganya."

Satu bulan mungkin waktu yang singkat namun bagiku ini adalah waktu yang lama dan sulit. Selama sebulan ke belakang, aku selalu membuatmu terluka dan dalam keadaan sulit, maafkan aku …. Ino, aku memang tidak bisa menjawab suratmu dan memberi kejelasan tentang status kita, tapi aku juga bukan orang yang menganggap remeh sebuah pernikahan. Kau tahu jika aku meremehkan pernikahan dan menyakiti perempuan, aku bisa dicekik Ibu!

Oh iya, dalam satu bulan lamanya, akhirnya aku bisa mengerti kebiasaanmu dalam membersihkan rumah. Kau memulai dari meja makan, dapur, ruang tamu, dan kau tidak mungkin melupakan vas bunga, lalu kamar adalah tempat berikutnya yang kau singgahi saat bersih-bersih, benarkan? Jika prediksiku tepat, artinya kau telah membaca pesanku di vas, kan?"

Ino terpana membaca setiap kata yang ditulis Naruto, ia tidak pernah menyangka kalau suaminya memperhatikannya, ia sangat tersanjung.

Aduh, aku bingung mau nulis apa lagi! Tolong aku, Ino-chan, aku tidak pandai menyusun kata. Ah iya, aku punya satu keinginan untuk pernikahan ini, kuharap bisa terwujud.

Perasaan sedih kembali menghampirinya, Ino tidak sanggup membaca kelanjutan surat itu. Ino merebahkan dirinya dengan tangan yang memeluk surat itu. "Apa perceraian yang kau maksud?" Ino memejamkan matanya, meresapi setiap makna pernikahannya.

.

.

.

"Shikamaru-san, ada apa?"

"Apa saya mengganggumu, Shizune-san?"

"Ada masalah apa, Shikamaru-san, katakan saja."

Sejujurnya Shikamaru paling tidak biasa terjebak pada situasi di mana ia begitu dihormati, sayangnya Shizune adalah wanita yang menjunjung tinggi sopan santun, jadi mau tidak mau ia harus membiasakan diri. Beruntung panggilan Shizune terhadapnya jauh lebih baik dibandingkan waktu ia baru dilantik menjadi Ketua Anbu, yang mana ketika itu, Shizune memanggilnya menggunakan marganya ditambah embel-embel "sama". Entah kenapa mengingat suffix tersebut, hal itu mengingatkannya pada kejadian beberapa hari lalu antara dirinya dan Sakura. Walau hanya sebuah kegiatan saling meledek namun hal itu sangat membekas di hati Shikamaru, membuatnya larut pada pemikirannya sendiri sampai melupakan tujuan awal dirinya berada di sini —Kantor Hokage.

"Apakah ada masalah dengan pernikahan Hokage-sama, Shikamaru-san?"

Shikamaru membelalakan matanya, hatinya bertanya-tanya apakah Shizune telah mengetahui permasalahan yang dihadapi pasangan baru itu. "Aku jadi sangat tidak enak, seharusnya aku bersikukuh menggantikannya untuk pertemuan Kage. Bagaimanapun Hokage-sama belum pernah melaksanakan bulan madu dan kurasa mereka bertengkar karena masalah itu."

Shikamaru menghela napas, nampaknya ia telah salah terka. Shikamaru pun mencoba meluruskan permasalah, sebelum wanita muda di hadapannya semakin menerka-nerka hal yang sebenarnya bukan menjadi hal utama dari masalah yang ingin ia sampaikan. "Maaf Shizune-san, sepertinya Anda telah salah paham. Masalah yang ingin saya beritahukan …."

"Shikamaru-san, janganlah terlalu formal, bagaimanapun Anda adalah orang yang sangat saya hormati meskipun secara umur saya lebih tua."

"Baiklah, kau juga bersikap santai saja padaku Shizune-san."

Shizune tersenyum, "Oke. Lantas apa permasalahan yang ingin kau sampaikan?"

Shikamaru pun menjelaskan detail masalah mengenai bencana alam yang menghalangi perjalanan Naruto dan Kakashi. Shizune terdiam sesaat setelah mendengarkan penjelasan Shikamaru, juga saran yang Shikmaru anjurkan. Tidak berbeda dengan Shizune, Shikamaru pun hanya diam, menanti jawaban yang akan disampaikan Shizune.

Shizune bangun dari duduknya, ia menghampiri jendela dan memandang pemandangan yang tercipta dari jendela. "Ini memang keputusan yang sulit, kita tidak mungkin membuat kegemparan. Kau memang jenius Shikamaru-san, aku serahkan penyelesaian tugas ini padamu." Shizune membalikkan badannya dan melemparkan senyuman ke Shikamaru.

Shikamaru menganggukan kepalanya dan berjalan menghampiri Shizune, "Terima kasih atas kepercayaanmu."

.

.

.

"Lama tidak berjumpa Naruto, Kakashi … Sensei?"

Naruto terkejut melihat sosok pria di hadapannya, "Sasuke," lirihnya.

Sasuke memandang remeh Naruto yang tergeletak tidak berdaya di hadapannya, ia pun mendekatkan dirinya ke tempat rivalnya tergeletak. "Ah, kau menjadi Hokage kah?" Sasuke menarik jubah Hokage Naruto yang dipenuhi lumpur sementara kakinya menginjak dahan besar yang menindih kaki Naruto.

"Hokage!"

Naruto menyadari perubahan suara Kakashi yang sarat emosi namun ia tidak menginginkan Kakashi bertarung dengan Sasuke. "Sensei, cepat pergilah ke tempat seharusnya kita berada!" Naruto berteriak nyaring, tidak memperdulikan rasa sakit di kakinya yang membuat keseluruhan tubuhnya nyaris mati rasa.

"Tidak, aku akan melindungimu, kau adalah Pemimpin Desa yang harus terjamin keselamatannya."

Naruto menghela napas, menyadari kekeras-kepalaan Kakashi dari suaranya karena ia memang tidak melihat Kakashi namun dari arah suara gurunya, Naruto memprediksi Kakashi berada di belakangnya dan dengan kondisi yang sama sepertinya. Tentunya jika Kakashi baik-baik saja, dia akan menghampiri Sasuke dan mempersiapkan dirinya untuk bertarung dengan murid tersayangya. "Jangan keras kepala, Sensei, aku tahu kondisimu tidak berbeda jauh denganku, lebih baik kau berusaha menyelamatkan diri dan pergi ke tempat seharusnya kita berada!"

Sasuke menatap bosan dua orang keras kepala yang saling berteriak dengan makna kontradiktif, padahal kaki mereka tertahan runtuhan longsor, benar-benar menyedihkan. Sasuke yang merasa bosan memilih duduk di atas dahan yang menindih kedua kaki Naruto dan membuat rivalnya itu melenguh kesakitan.

Kakashi menatap tajam pandangan yang tercipta, ia ingin sekali menyelamatkan Naruto dari kesewenangan Sasuke namun kakinya tidak berdaya, selain itu dengan kondisinya yang kelelahan ia pun tidak mungkin menggunakan sharingan atau jurus-jurus tertentu untuk melawan Sasuke. Kakashi memandang langit yang masih senantiasa menurunkan air hujan, seolah tengah menangisi nasibnya dan Naruto, ia hanya bisa berdoa dalam hatinya agar Kami-sama memberikan kebaikan kepadanya dan Naruto. Dalam posisi seperti ini semua kenangan indah dan sedih berputar di benaknya dan ia pun tersiksa dengan beragam pemikiran terutama penyesalan karena tidak mengikuti saran Shizune untuk membawa pengawal.

Naruto benar-benar tidak memperkirakan pertemuannya dengan Sasuke dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Naruto menertawai dirinya dalam hati karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada sahabatnya untuk membawa Sasuke kembali ke Konoha bahkan ia pun tidak yakin akan memenuhi janjinya kepada istrinya untuk kembali dengan selamat.

"Cih, benar-benar lemah. Aku bingung kenapa pria bodoh sepertimu bisa menjadi Hokage." Sasuke yang sudah bangkit dari duduknya menendang perut Naruto dengan keras. Tidak terbayang lagi bagaimana sakitnya Naruto akibat perlakuan Sasuke namun Sasuke tidak memperdulikannya.

Dengan sisa tenaga yang Naruto miliki, ia berteriak denga lantang, "Kakashi jika kau selamat, cepatlah pergi ke tempat itu dan hentikan pertemuan yang terjadi karena situasi yang belum sepenuhnya kondusif. Selama kau pergi, aku akan menghalangi Sasuke agar tidak bertindak berlebihan dan kuharap kau jangan membantah! Jika kau khawatir Sasuke akan menyakitiku selama kondisiku seperti ini maka kau salah! Aku yakin seorang ninja sekelas Sasuke tidak akan melakukan kebodohan yang akan merendahkan derajatnya karena menyiksa lawannya yang terluka karena bencana alam."

Apa yang dikatakan Naruto memang benar, Sasuke tidak mungkin melakukan penyerangan terhadapnya karena itu hanya akan mempermalukan pria Uchiha tersebut, namun yang membuat Kakashi tidak bergerak adalah kebingungan untuk menyelamatkan diri. Secara kondisi, Kakashi lima puluh kali lebih baik dari Naruto karena hanya kaki kirinya yang tertindih dahan, hanya saja ia tidak bisa menjamin Sasuke tidak akan menyerangnya ketika ia berusaha melarikan diri. Kakashi pun hanya diam dan terus memikirkan jalan keluar yang baik bagi mereka.

"Sasuke, kau kemari untuk berduel denganku, kan?" Sasuke membuang mukanya dari Naruto dan mendengus. "Aku tahu Sasuke, kau kesal kan denganku yang bisa mendapatkan impianku? Aku yakin kau kemari bukan atas nama Akatsuki atau pun tim Hebi-mu melainkan untuk mengajakku berduel sebagai sahabat sekaligus rival, kan?"

Sasuke tertawa mengejek mendengar perkataan Naruto, "Kau pikir dirimu siapa, dasar bodoh. Tapi kuakui kau tidak sebodoh yang kukira karena atas nama apa pun aku akan tetap menghancurkanmu. Menghancurkan orang bodoh yang selalu berkata sahabat karena di dunia ini tidak ada yang namanya sahabat ataupun teman melainkan musuh dan orang yang bisa dimanfaatkan." Naruto memandang pilu sahabatnya yang mengatakan kata-kata yang begitu dingin dengan raut wajah datar.

"Kalian berdua selamatkan Kakashi, bawa dia menuju tempat pertemuan, pastikan dia selamat, dan jangan membantah." Kakashi baru teringat kalau dirinya dan Naruto tidak sepenuhnya seorang diri karena ada dua orang Anbu yang menjaga mereka dari kejauhan. "Sasuke, tujuanmu adalah aku, kan? Maka lepaskan Kakashi-Sensei."

Sasuke yang menggedikkan bahunya acuh tak acuh namun ia memang tidak melakukan gerakan apa pun atau memasang sharingan kala kedua Anbu tersebut keluar dari persembunyiannya. Kedua Anbu yang sejak tadi mengamati peristiwa yang terjadi berusaha menahan dirinya untuk melakukan penyerangan apa pun kepada Sasuke karena tidak ada perintah dari Hokage untuk melakukan hal itu. Mereka pun sangat memahami kondisi yang terjadi karena jika mereka tidak bertindak sesuai perintah dan kondisi yang ada, mereka hanya akan menyia-nyiakan jiwa Pemimpin mereka.

Kedua Anbu tersebut memindahkan dahan yang menindih salah satu kaki Kakashi, setelahnya mereka berdua membawa Kakashi dengan menggelayutkan tangannya pada salah satu bahu mereka. Kakashi tidak melakukan perlawanan apa pun, meski hatinya sangat berat untuk meninggalkan Naruto. Namun Kakashi percaya kedua muridnya sudah menjadi lebih kuat dan dewasa, khususnya Naruto, ia telah yakin dengan bakat memimpin Naruto dan caranya mengambil keputusan. Kakashi bersama kedua Anbu meninggalkan Naruto dan Sasuke di tempat yang penuh dengan lumpur dan reruntuhan pohon dengan sejuta harapan Naruto bisa memberikan hasil terbaik.

"Kini tinggal kita berdua. Kau memilih untuk menungguku perlahan-lahan mati atau hendak membuatku langsung mati?"

"Dengan luka seperti itu, mulut bawelmu masih berkicau ya?" Sasuke memandang remeh Naruto yang seolah mengatkan bahwa pemuda berambut pirang itu adalah sampah, namun Naruto justru menganggap kata-kata Sasuke sebagai bentuk kepedulian.

"Aku tidak menyangka kau sangat menghawatirkanku, Sasuke," Naruto memandang sahabatnya dengan cucuran air mata, seolah dirinya buta akan situasi yang sama sekali tidak bersahabat.

"Cih!"

.

.

.

Ino terbangun dari tidurnya karena mimpi yang tidak menyenangkan mengenai hubungannya dengan Naruto. "Seharusnya aku memang tidak usah mengaharapkan apa-apa, tapi kenapa aku merasa tersiksa seperti ini? Oh, Kami, apakah aku menyukainya?"

Ino bangun dari tidurnya dan merapikan futonnya, ia sudah lelah berspekulasi mengenai perasaannya. Lagi pula Ino sudah memutuskan untuk menerima dengan apa adanya semua keputusan Naruto nanti dengan lapang dada, jadi ia tidak mau terlalu larut dengan perasaannya, ia takut kekecewaan akan menyapanya ketika ia sudah sangat berharap.

Saat hendak meninggalkan kamarnya, Ino menginjak secarik kertas yang merupakan surat pemberian dari Naruto. Ino mengambil surat tersebut, ia memutuskan untuk menyelesaikan pembacaan surat tersebut karena terlalu lelah untuk menerka-nerka maksud Naruto memberinya kalung dan mengenai masa depan pernikahan mereka.

Ino masa depan adalah rahasia Kami-sama, begitu pula mengenai pernikahan kita ke depannya. Namun bolehkah aku berharap kita akan menjadi keluarga yang harmonis? Ino-chan, aku akui, aku masih menyanyangi Sakura namun aku tidak bisa melepasmu … jadi, aku mohon padamu, buat aku mencintaimu …. Itu pun kalau kau juga mencintaiku atau jika kau tidak mencintaiku, bagaimana kalau kita belajar saling mencintai?

Terima kasih telah membaca surat ini, selamat satu bulan pernikahan dan tunggu aku menyelesaikan misi ini. ^^

Detik itu juga, air mata Ino telah lolos, membanjiri pipi pualamnya. Di tengah kesunyian dan dinginnnya awal musim gugur, rasa hangat pun tercipta di hati Ino yang tidak sepi lagi ….

TBC

Bagaimana chapter ini, menarik kah? Terima kasih banyak atas review, fave dan follownya, aku sangat terharu. ^^ Semakin jaya aja NaruIno, hohoho.

Oh iya, ini balasan review unloginnya.

Minami22. Maaf, Minami-chan, aku updatenya molor banget ya? Maklumin aja ya, kemarin aku menghadapi UAS dan setelahnya malahb terserang WB. -_- Semoga ch ini kamu suka. ^^ Selamat membaca dan makasih banget sudah menantikan fancic ini. :D

N. Ini En-chan kah? Makasih sudah mereview, ini sudah lanjut. ^^

Agus Jumawi. Amin. Iya, menurutku, NaruIno sangat serasi dan aku juga sangat menyukai mereka. ^^ Terima kasih sudah mereview. :D

Guest. Iya, ini sudah dilanjutkan. ^^ Terima kasih.

Nara Hikari. Heheh, begitu ya? Apanya yang membingungkan ya? ^^ Terima kasih.

Hahaman. Oke Bro, ini sudah lanjut. ;) Terima kasih.

Guest. Makasih Kakak, ini sudah lanjut. ^^

Oke, sampai jumpa ya di chapter tujuh …

Salam penuh cinta di februari. 3

REVIEW?