Cast: Hunhan

Genre: Drama/Romance

Rate: sedikit M

Warn! GS for uke. Typo bertebaran. DLDR!

NO PLAGIARISM - NO BASH!

.

.

.

.

.

Happy reading^^

.

.

.

.

Chapter 6

Sehun menghempaskan tubuhnya diranjang, helaan napas panjang terdengar keluar dari bibir tipisnya. Ia merasa sangat lelah hari ini. Bagaimana tidak. Banyak tugas perkuliahan yang ia mesti selesaikan. Belum lagi Irene yang selalu merengek memintanya untuk menemani berbelanja ataupun sekedar merasa risih sendiri. Berbeda dengan Luhan, jika Luhan yang meminta maka ia dengan senang hati melakukannya. Tapi Irene? Entahlah.. Sehun merasa dirinya tidak ikhlas.

Sehun berdiri dan berjalan menuju lemari, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Ia keluar kamar, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Diteguknya sampai habis.
Kemudian berlalu dari dapur, ketika akan menaiki tangga, ia melihat eomma sedang duduk diruang tengah dengan tv yang menyala menayangkan acara berita. Ia berbalik arah dan menuju eomma. Duduk disamping wanita itu.

"eomma" sapanya. Nyonya oh menoleh dan memberikan senyumannya

"eomma kenapa?" Tanya Sehun lagi yang melihat raut khawatir diwajah eommanya.

"Tidak apa-apa sayang" jawabnya sambil mengelus kepala sang anak

"Eomma tidak berbohong?" Tanya Sehun lagi sambil memicigkan matanya ke sang eomma

"Iya sayang, eomma tidak berbohong"

"bagaimana harimu?" nyonya oh mencoba untuk mengalihkan percakapan

"buruk"

"kenapa? Ada masalah?"

"eo, masalah dengan Irene. Aku benar-benar muak dengan tingkahnya eomma. Selalu minta ini dan itu. Menarikku kesana-kemari. Ketika aku berbicara dengan Kyungsoo pun ia tidak mengijinkannya. Katanya dia cemburu atau apalah. Astaga eomma, dia kan hanya sahabatku" jelas Sehun panjang lebar membuat eommanya terkikik geli

"kenapa eomma tertawa?" ucapnya sambil mengerucutkan sedikit bibirnya.

"Oh Tuhan, apa anakku yang tampan ini sedang merajuk eo? Maaf karena eomma tertawa, tapi baru kali ini eomma mendengarmu berbicara panjang lebar"

"Aku tidak merajuk ,okay?. Aku merasa tidak akan pernah bisa mencintai Irene eomma. " lirihnya diakhir kalimat

"ternyata kau begitu mencintai anakku"

"Iya. Aku sangat mencintai putrimu , eomma" Sehun memberikan senyuman kepada nyonya oh. Ia memegang tangan Sehun mengelusnya lembut.

"maafkan eomma, tidak bisa berbuat apa-apa sayang"

"Tidak apa-apa eomma. Ini kesalahanku juga. Karena aku tidak memperjuangkannya. Tapi aku punya alasan eomma."

"bisakah kau menceritakan alasanmu itu?" Sehun menghela napas sejenak kemudian mulai berkata"appa yang membuatku mengambil pilihan ini eomma"

"appa?" terkejut nyonya oh tidak percaya

"iya. Dia berkata jika aku tidak menerima perjodohan ini, maka Luhan akan dikirim keluar negeri dan semua informasi tentangnya akan diblok."

"eomma akan berbicara dengan appamu"

"jangan eomma. Aku tau seperti apa appaku. Dia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Yang aku inginkan adalah Luhan mendengarkan penjelasanku. Namun setiap aku menghubungi ia tidak pernah mau menerima telponku. Aku tidak bisa mengirim pesan, karena aku ingin langsung berbicara dengannya" jelas sehun

"mungkin Luhan masih kecewa dengan keputusanmu sayang. Mengertilah"

"aku selalu mengerti dia eomma. Disini aku yang salah. Jadi wajar jika ia marah maupun kecewa dengan ku"

"kau tau kan jika eomma menyetujui hubunganmu dengan anakku?" Sehun mengangguk dan bertanya "kenapa eomma menyetujuiku?"

"jadi kau ingin aku menarik kata-kataku?" Tanya nyonya oh kemabli sembari menaikkan satu alisnya

"Bu-bukan begitu eomma. Appa saja tidak menyetujuiku, jadi aku ingin tau alasannya"

"Tidak ada alasan yang spesifik. Kau dan Luhan bukanlah saudara sedarah, jadi menurut eomma, kalian tidak apa-apa menjalin hubungan. Eomma juga bahagia melihat Luhan selalu bahagia ketika denganmu. Kau berjanjilah kepada eomma selalu menjaga dan membagiakan putri eomma"

"tanpa diperintahpun aku akan melakukannya eomma. Percayalah kepadaku"

"terimakasi sayang. Eomma menyayangimu" nyonya oh menarik Sehun untuk memeluknya

"aku juga menyayangi eomma" sambil mengelus punggung nyonya oh

.

.

.

.

.

Ditempat lain, terlihat tuan oh dan tuan choi sedang berbicara serius mengenai perusahaan mereka. Sampai akhirnya tuan choi berkata "akan lebih bagus lagi jika anak-anak kita menikah. Aku akan menanamkan sahamku sebesar 50% diperusahaan yang akan Sehun pimpin nantinya"

Tuan oh tersenyum mendengarkannya "aku rasa kau benar. Anak-anak kita terlihat cocok bersama. Aku juga tidak sabar ingin menimang cucu" gelegar tawa pun terdengan diruang itu.

"iya kau benar. Aku merasa semakin hari semakin tua, sehingga mendambakan seorang cucu"

"silahkan diminum lagi" kata tuan oh, sambil meminum secangkir tehnya.

"bagaimana jika 2 bulan lagi mereka menikah?" Tanya tuan coi dengan raut wajah berharap

"aku rasa itu ide yang bagus. Toh walaupun Sehun tidak meneruskan kuliahnya ia tetap akan jadi pemimpin perusahaan. Anakku pintar, jadi tidak akan susah untuk memulainya"

"baiklah. Aku akan memberitau kabar baik ini pada keluargaku. Aku yakin Irene akan bahagia mendengarnya. Aku harap Sehun pun begitu"

"Iya, aku harap putraku menyetujuinya" jawab tuan oh sambil menaruh gelas tehnya diatas meja

"tapi aku yakin ia tidak akan menolak" lanjutnya lagi dengan penuh keyakinan.

.

.

.

.

Sehun tengah memakai sepatunya ketika ponselnya bergetar, menandakan adanya panggilan. Ia menarik dari saku jelana jean hitamnya. Menggeser tombol hijau

"hallo" ucapnya

"Sehun, hari ini tunggulah appa dirumah, ada yang appa bicarakan"

"Tapi aku ada janj-"

"Appa akan sampai 20 menit lagi!" Sehun berdecih. Panggilan telah diputus sepihak oleh appanya. Jika seperti ini appanya tidak bisa ditolak. Ia pun segera melepas sepatu dan mengirimkan pesan kepada Jongin jika ia tidak bisa datang ke kafe.

Sehun menunggu appanya sambil melihat acara kartun pororo. Ia tertawa cekikikan melihat pororo dan krong yang ia bayangkan sebagai sahabatnya, Kyungsoo dan Jongin.

"Sehun-ah" panggil seseorang yang ia kenap sebagai appanya. Sehunpun sedikit terkejut karena asyik dengan kartun tersebut. Ia mengecilkan volume televisi dan mengalihkan perhatian ke appanya.

"apa yang ingin appa katakan?"

"bagaimana hubunganmu dengan Irene?" Tanya tuan oh tanpa ekspresi

"tidak ada perkembangan. Kau tau jika aku tidak mencintainya"

"cobalah untuk mencintainya"

"bagaimana appa memaksaku untuk mencintai orang yang benar-benar tidak ku cinta, appa!" ucap Sehun tersulut emosi.

"Bagaimana jika aku menyuruhmu untuk mencintai orang lain, apakah kau bisa?" Tanya sehun sarkartis

"Dua bulan. Dua bulan lagi kau akan menikahi Irene" ucap tuan oh tanpa menjawab pertanyaan Sehun.

"Lihatlah! Kau bahkan tidak menjawab . Lakukan semaumu. Aku tidak peduli!" ucap Sehun sambil bangkit berdiri

"tuan choi berjanji untuk memberikan saham 50% diperusahaan yang akan kau pegang. Jika telah menikah dengan putrinya." Kata tuan oh tanpa melihat ke Sehun

"Apakah saham lebih penting dari perasaan putramu? Apakah jika aku ambil langkah mati maka kau akan membatalkannya? Lakukanlah. Aku sudah muak!" ucapnya marah sambil berlalu tanpa mendengar jawaban appanya.

Tuan oh mengeram menahan amarah. Bagaimanapun ia harus bisa mewujudkan pernikahan ini.

.

.

.

.

.

Hari ini nyonya oh berniat untuk berangkat ke China menemui Luhan, semenjak percakapan terakhirnya dua hari yang lalu, Luhan belum bisa dihubungi lagi. Sebagai ibu ia merasa sangat khawatir. Sebelumnya ia sudah meminta ijin kepada suaminya. Dan tuan oh mengijinkannya. Karena dari kemarin sore ia sudah terlebih dahulu berangkat menuju China urusan bisnisnya. Dan tuan oh berjanji akan menyusulnya ke rumah yang di China.

Setelah berkemas, ia menyeret kopernya, dan beberapa masakan makanan yang telah dibuatnya untuk Luhan.
"eomma" panggil Sehun

"Sehun-ah..eomma buru-buru sayang" ucap nyonya oh sambil menyeret koper dan berbagai barang lainnya keluar rumah.

"eomma akan kemana?"

"eomma ke China menyusul appamu"

"apakah eomma akan bertemu Luhan?" nyonya oh mengangguk

"titip salam ku eomma. Aku sangat merindukan dan mencintainya" nyonya oh mengangguk lagi sambil memeluk anaknya

"eomma berangkat." Setelah barang2 sudah dimasukkan kedalam bagasi mobil, supir pribadinya kemudian membukakan pintu penumpang.

"Hati-hati" ucap Sehun melambaikan tangan kearah mobil yang mulai melaju.

.

.

.

.

.

Luhan masih meringkuk dalam kamarnya. Hari ini ia sendiri. Karena Yixing sedang kuliah.

"aku ingin choco bubble tea " ucapnya

"aku rindu Sehunie. Nak, apa kau juga merindukan appamu?"

"Ia sedang apa? Apakah ia bahagia?" lirihnya. Tidak ingin terlarut dalam pikirannya tentang sehun. Ia mulai beranjak dan menuju dapur, membuat segelas susu khusus untuk ibu hamil. Meminumnya sampai habis. Ia mencoba menggoreng telur setengah matang kesukaannya. Setelah duduk diruang tengah melihat acara musik.
Tiba-tiba perutnya seperti diaduk-aduk. Luhan mulai mual lagi, tidak lama ia berlari ke wastafel dan memutar air kerannya. Tidak ada yang keluar kecuali air liurnya. Wajah nya mulai pucat. Ia lemas. Namun rasa mual belum juga berkurang.

Sampai seseorang yang memasuki rumahpun tidak Luhan sadari. "Oh Tuhan! Luhan! " pekik nyonya oh yang baru sampai di China, terkejut melihat keadaan putrinya

"eo-eomma" jawab Luhan sedikit terkejut

"kau tidak apa-apa sayang? Apa yang kau rasakan?" ucap nyonya oh sambil berlari kecil menuju putrinya yang akan muntah lagi. Ia memijit tengkuk Luhan.

"kau masuk angin?" Tanya nyonya oh

"apa perlu eomma panggil dokter?"

"jangan." Larang Luhan

"Tapi kau..."

"Aku tidak apa eomma. Aku hanya butuh istirahat" ucap Luhan sambil duduk dikursi makan. Nyonya oh duduk disamping anaknya.

"Kau pucat sayang. Eomma akan panggilkan dokter"

"eomma~" rengek Luhan

"Untuk apa eomma kemari?" Tanya Luhan

"apa eomma tidak boleh menjenguk putri eomma? Eomma mengkhawatirkanmu. Karena kau tiba-tiba memutuskan panggilan, dan tidak mengaktifkan ponselmu sampai hari ini" jelas eommanya

"Astaga. Maafkan aku eomma."

"Tidak apa-apa sayang. Toh eomma sudah disini."

"Eomma sendiri? Dimana appa?"

"appa akan menyusul sebentar lagi. Mungkin sudah dalam perjalanan. Appamu sudah diChina dari kemarin. Urusan bisnis." Luhan hanya mengangguk dan bangkit dari kursi dengan keadaan yang sedikit oleng. Nyonya oh dengan sigap menahan lengan dan pundak putrinya.

"kau mau kekamar?" Tanya nyonya oh yang semakin khawatir.

"Tidak. Aku hanya ingin membuat teh untukku dan eomma. Lidahku terasa pahit"

"eomma akan buatkan sayang. Tunggulah" Luhan pun menuruti eomma. Ia melihat eommanya bergerak kesana kemari mencari tempat teh dan gula.

"LUHAN! JELASKAN KEPADA EOMMA INI SUSU HAMIL MILIK SIAPA?" bentak nyonya oh

"i-itu pu-punya..." Luhan tergagap diselimuti perasaan takut dan cemas.

"jawab Luhan !"

"Luhan, eomma" jawabnya menunduk

"..."

"maafkan Luhan eomma. Hikss...maafkan luhan" ucap Luhan terisak

"siapa ayah bayimu" ucap nyonya oh datar

"Se-sehun"

"Demi Tuhan!" Ucap nyonya oh terkejut namun ia langsung memeluk putrinya menenangkan dari isakan

"maafkan lulu eomma"

"tidak, kau tidak salah sayang. Kalian saling mencintai"

"gugurkan!" marah tuan oh. Kedua wanita ini terdiam, terkejut melihat tuan oh sudah berada dirumah ini. Luhan memejamkan matanya mengetahui kemarahan ayahnya.

"yeobo!" teriak nyonya oh tidak terima

"Aku bilang gugurkan ya gugurkan! Aku tidak menerima penolakan!" jawab tuan oh dengan wajah yang memerah menahan marah. Sedangkan Luhan terduduk lemas dilantai, tanpa mengeluarkan kata apa-apa. Ia menangis, terisak menahan sesak didada. Pipi serta hidungnya sudah sangat memerah ditambah lagi dengan mata yang membengkak. Ia telah membuat orangtuanya bertengkar. Hanya karena dirinya.

"Yeobo! Dia cucu kita!" kata nyonya oh tidak kalah marahnya.

"Tidak. Aku tidak mengakuinya!"

Tes...tes... air mata nyonya oh keluar. Pun dengan luhan yang tambah terisak. Hatinya begitu teriris. Appanya saja tidak mengakuinya, lalu bagaimana dengan Sehun? Luhan meremas dadanya kuat.

"Kau bukan seperti suamiku. Suamiku tidak sekejam ini untuk menyuruh anaknya sendiri menggugurkan janin yang masih suci. Kau bukan suamiku" lirih nyonya oh.

"Dan kau Luhan! Kau tidak akan pernah bisa merusak hubungan Sehun dengan Irene. Ingat dia kakakmu! Dua bulan lagi mereka akan menikah"

"apa? Menikah? Kau belum membicarakan hal ini dengan ku!" teriak nyonya oh

"dan sekarang kau telah mengetahuinya" jawab tuan oh datar

"Dan Persetan dengan perintahmu! Luhan akan tetap menjaga anaknya. Aku akan membantu menjaganya" ucap nyonya oh sambil menatap tajam suaminya

PLAK!

Subuah tamparan yang tidak disangka-sangka melayang ke pipi nyonya oh. Tuan oh menamparnya dengan sangat keras. Sampai Luhan terkejut, matanya membelalak tidak percaya. Ia berusaha untuk berdiri.

"a-appa..jangan sakiti eomma" ucap Luhan memohon sambil mengusap pipi ibunya yang memerah.

"aku akan tetap menjaganya seperti kata eomma. Dan aku berjanji tidak akan meminta pertanggungjawaban kepada Sehun ,appa." Ucapnya lagi dengan suara yang tercekat

"keluarlah!" suruh nyonya oh tanpa memandang suaminya

"Jangan kemari lagi. Kami tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Berbahagialah." Lanjutnya sambil melangkah menuju kamar diikuti oleh Luhan.

"aku akan mengirimkanmu surat perceraian ." kemudian berlalu. Tuan oh terdiam terpaku. Apakah ia keterlaluan? Tapi bagaimana dengan saham? Tuan oh pun berlalu dari kediaman luhan. Ia berpikir istrinya masih marah sehingga mengucapkan hal tersebut.

Astaga tuan oh? Apa lebih penting saham daripada putrimu sendiri? Baiklah.

.

.

.

.

TBC or END nih guys?

guys... aku bertanyaaaaa : Menurut kalian ini incest ya? Walaupun mereka ga sedarah itu incest kah? Soalnya aku bingung, aku taunya incest itu yang saudara sedarah, atau hubungan anak dengan ibu/bpk/sodara kandung.
Anggap aja nanti ini ga incest yah . hehe

Fanfic ini ringan masalah kok. Ga berat-berat. Soalnya ga bisa bikin yang berat-berat hehehe..

Masih ada yang nungguin kan? Jangan lupa direview yah... Maaf kalo masih banyak kesalahan penulisan :D

OH ya! Selamat ulangtahun Ayaaaaah "OH SEHUN" /prokprok/ hehe mau update pas dy ultah, tapi blm kelar nulisnya kkkkk. Katanya bunda Lulu bakal ke Korea buat syuting RM ya? I'M SO EXCITED, SERIOUSLY ! ^^ HOPE THEY CAN MEET N CELEBRATE LU's BDAY TGT ^^ !

Seperti biasanya aku berterima kasih sama yang . .rev.

SARANGAHAE~~~~

Mind to review ?