Author's note : Hai readers! Maaf banget ya baru update skrg,sbnrnya udh pengen update ff ini dr kmrn2 tp krn selalu sibuk akhirnya baru sempet sekarang._. maaf yaa buat yang nungguin kelanjutan ff ini, ok deh skrg happy reading chap 6 nya ya, dan terima kasih buat read/review chapter2 sebelumnya! :)


Chapter 6

Suatu hari, ketika Myungsoo baru saja selesai bekerja. Hari sudah sore menuju malam. Ia membereskan barang-barangnya lalu beranjak keluar dari kantornya. Perutnya lapar, namun ia sedang malas untuk memasak makan malamnya sendiri. Maka ia memutuskan untuk mengendarai mobilnya menuju salah satu mall, untuk makan malam dan sekalian mencuci mata.

Myungsoo berjalan-jalan sendiri di dalam mall itu. Ketika ia melewati toko busana pengantin, matanya menangkap sosok namja cantik yang sangat dikenalnya. Myungsoo pun menghentikan langkahnya lalu berhenti di depan etalase toko sambil mengawasi namja itu.

Namja manis nan cantik itu sedang duduk di dalam toko sambil melihat-lihat baju pengantin. Dan begitu namja itu menolehkan kepalanya – bingo! Tebakan Myungsoo benar. Namja itu Sungjong.

Sungjong yang tengah asyik melihat-lihat baju pengantin – tanpa sengaja ia menolehkan kepalanya kearah luar toko dan matanya menangkap sosok Myungsoo yang tengah memandanginya dari kaca etalase. Sungjong pun tersenyum senang. Sudah hampir 2 minggu ini dia tidak bertemu dengan Myungsoo, dan kalau tidak salah – sama sekali tidak berkomunikasi dengannya. Ia pun melambaikan tangannya kearah Myungsoo, mengajaknya masuk.

Myungsoo tersenyum melihat lambaian tangan Sungjong. Ia pun hendak memasuki toko, namun ia membatalkan niatnya begitu melihat sosok Hoya, yang kini berada di sebelah Sungjong – dan membicarakan sesuatu sambil menunjuk beberapa baju pengantin.

Senyum diwajah Myungsoo memudar digantikan rasa cemburu dihatinya. Aish ya! Pabo ya Kim Myungsoo! Tentu saja Sungjong bersama Hoya di toko busana pengantin itu – kan mereka akan menikah sebentar lagi, pasti sekarang mereka di dalam sedang membeli baju untuk pernikahan mereka!

Myungsoo tersenyum miris melihat pemandangan dihadapannya, ia pun membatalkan niatnya untuk masuk dan menemui Sungjong, dan mulai berjalan kearah lain.

Sungjong yang menyadari kepergian Myungsoo, buru-buru mengarahkan kursi rodanya keluar toko dan menghampiri Myungsoo. Ditariknya ujung baju Myungsoo, yang membuat si empunya baju menoleh kaget.

"Loh, Sungjongie! Kenapa disini?!" kata Myungsoo kaget.

Sungjong nyengir, ia lalu menggerakkan tangannya, berbicara bahasa isyarat. "habis kau pergi begitu saja sih! Kenapa tiba-tiba pergi seperti itu? Kau melihatku kan tadi di dalam? Kenapa tidak masuk?"

Myungsoo baru saja hendak membuka mulut untuk berbicara, namun tak jadi karena keburu terpotong oleh suara "Sungjongie! Astagaaaa, aku kaget sekali, kenapa kau pergi tiba-tiba begitu sih?!"

Sungjong dan Myungsoo pun menoleh, dilihatnya seorang namja yang berlari-lari kecil kearah mereka.

"Lain kali bilang dulu kalau mau keluar, jangan asal meninggalkanku seperti itu chagi," lanjut Hoya sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Sungjong.

Sungjong pun menjelaskan dengan bahasa isyaratnya, "tadi aku bertemu dengan Myungsoo, makanya aku langsung keluar untuk menghampirinya."

Hoya pun menoleh kearah Myungsoo.

"Ah ya, kau pasti Kim Myungsoo kan? Ah – kita belum berkenalan secara formal ya? Aku Lee Howon, tapi aku biasa dipanggil Hoya, tunangan Sungjong. Salam kenal."

Myungsoo memaksakan senyum diwajahnya walaupun hatinya sakit lalu menyambut uluran tangan Hoya,

"Ya. Aku Kim Myungsoo. Salam kenal."

Sungjong menarik-narik baju Hoya, lalu berbicara menggunakan bahasa isyaratnya lagi. Hoya mengangguk mengiyakan perkataan Sungjong.

"Ah Myungsoo, Sungjong barusan bilang, bagaimana kalau kau ikut dengan kami? Sesudah dari toko busana pengantin itu, kami berencana makan malam. Gimana? Ikut ya? Kita makan malam bersama." ajak Hoya pada Myungsoo.

Semula Myungsoo hendak menolak, tapi Sungjong keburu menarik-narik bajunya dan melempar pandangan tajam memaksanya untuk ikut. Hoya pun terus-terusan membujuknya, akhirnya ia pun memenuhi ajakan mereka.

"Naaah gitu dong! Kalau gitu, ikut kami sebentar ke toko yang tadi dulu ya, Sungjong belum mendapatkan baju pengantin yang cocok nih. Sehabis itu kita langsung makan malam." kata Hoya yang disertai anggukan Sungjong.

Myungsoo hanya meringis. Ia pun mengikuti Hoya yang tengah mendorong kursi roda Sungjong kembali ke toko busana pengantin tersebut.

Berkali-kali Hoya mencoba menawarkan berbagai macam model baju pada Sungjong, namun tak ada satu pun yang cocok dengan keinginan Sungjong. Hoya terus menerus membongkar baju-baju pengantin yang ada di toko itu sedangkan Sungjong duduk manis di kursi rodanya sambil menonton pekerjaan sang calon suami.

Karena mulai bosan, Sungjong pun mengarahkan kursi rodanya menuju ke sofa yang diduduki Myungsoo yang sedari tadi menunggunya sambil menonton ia dan Hoya yang sibuk memilih-milih baju dan mulai menatap Myungsoo.

Myungsoo yang merasa ditatap Sungjong pun menoleh, "Ada apa?"

Sungjong sedikit cemberut. Ia menoleh kearah Hoya sebentar, lalu mulai menggerakkan tangannya "aku bosan. Daritadi tak ada baju yang cocok denganku."

Myungsoo tersenyum kecil melihatnya lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke Sungjong.

"Mau aku bantu carikan? Baju yang cocok denganmu?"

Sungjong mengangguk. Myungsoo tersenyum lalu mengacak rambut Sungjong sedikit dan berdiri dari duduknya, lalu mulai melihat-lihat baju-baju pengantin di sekitarnya.

"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Myungsoo sambil mengambil salah satu baju dan menyodorkannya pada Sungjong.

Sungjong mengambil baju itu lalu mengepaskannya ke tubuhnya. Ia mendongak kearah Myungsoo, baru saja hendak mengutarakan sesuatu tetapi dihentikan oleh sebuah suara, "Ah! Baju itu pas sekali denganmu tuan!"

Sungjong dan Myungsoo menoleh, terlihat seorang pramuniaga yeoja menghampiri mereka.

"Baju nya cocok sekali denganmu. Anda jadi terlihat sangat manis, tuan. Eh ya, apakah ini calon pasangan anda? Kalian serasi sekali!" puji pramuniaga itu sambil menatap Sungjong dan Myungsoo bergantian.

Wajah Sungjong memerah mendengar perkataan sang pramuniaga. Ia menunduk untuk menutupi wajahnya yang memerah. Sedangkan Myungsoo hanya tersenyum mendengar pujian itu.

"Ah ya. Baju itu memang manis sekali bukan untuk nya? Tapi sayangnya, aku bukan pasangannya." kata Myungsoo.

"Loh….jadi yang calon mempelainya siapa dong?" tanya pramuniaga itu kaget. "Saya kira anda, kalian berdua terlihat serasi sekali sih."

Myungsoo hanya tersenyum getir mendengarnya.

"Bukan, saya hanya temannya. Yang akan menikah dia, dengan….."

"Dengan saya." tiba-tiba Hoya sudah muncul di belakang mereka.

Myungsoo menoleh kaget melihat kedatangan Hoya, ia merasa tidak enak dengan Hoya.

"Oooh….maaf tuan, saya kira tuan ini akan menikah dengan dia," kata si pramuniaga sambil menunjuk Sungjong dan Myungsoo bergantian.

Hoya tersenyum.

"Tidak apa. Kenapa memangnya? Saya tidak cocok ya dengan dia?" tanya Hoya sambil merangkul Sungjong.

"Bu…bukan begitu….maaf tuan, saya jadi tidak enak."

Pramuniaga itu pun membungkuk minta maaf.

"Tidak apa-apa."sahut Hoya. Lalu ia menoleh ke Sungjong,

"Bagaimana chagi? Sudah ketemu baju yang cocok?"

Sungjong mengangguk. Ia menyodorkan baju yang tadi dipilihkan oleh Myungsoo untuknya.

"Hmmm…..bagus. Kau menemukannya sendiri?" Hoya memperhatikan baju itu.

"Myungsoo yang memilihkannya untukku." kata Sungjong dalam bahasa isyaratnya.

Hoya sedikit mengerutkan keningnya, namun ia pun kembali tersenyum. "Ah, kurasa seleramu dan Myungsoo sama ya? Tahu gitu minta Myungsoo saja tadi yang memilihkannya."

Myungsoo meringis kecil. Dia menjadi tidak enak. Ia merasa kata-kata Hoya agak menyindirnya, belum lagi perkataan pramuniaga tadi. Katanya ia cocok dengan Sungjong – aishh jujur saja dia senang ada yang beranggapan seperti itu, tapi ia jadi tidak enak dengan Hoya apalagi Hoya tadi mendengarnya langsung. Lagi-lagi kini ia hanya bisa menyesali diri karena dua tahun yang lalu membatalkan pernikahannya dengan Sungjong.

Setelah membayar belanjaan, mereka bertiga pun melanjutkan untuk makan malam.


-Siang hari, kantor Myungsoo-

Tok tok tok!

"Siapa ya? Masuk."

Pintu ruangan kerja Myungsoo terbuka dan masuklah seorang namja bertubuh atletis. Ia menutup kembali pintunya, tepat ketika Myungsoo mendongak dari layar laptopnya untuk melihat siapa yang datang.

"K-kau…Hoya?"

Namja itu tersenyum.

"Ya. Apa kabar Myungsoo? Apa aku mengganggu mu?"

Myungsoo cepat-cepat menggeleng. "Ah tidak. Aku baik, ah ya silahkan duduk!"

Hoya mengangguk lalu duduk di sofa diikuti oleh Myungsoo.

"Jadi, ada keperluan apa kau kesini?"

"Apa kau ada waktu sekarang? Ada yang ingin kubicarakan." jawab Hoya.

Myungsoo mengangguk.

"Sekarang sudah jam makan siang bukan? Bagaimana kalau kita bicarakan sambil makan saja?"

"Mmm…baiklah. Kita makan di café di lantai bawah saja." ajak Myungsoo sambil berdiri yang diikuti Hoya dibelakangnya.


-Café-

Myungsoo dan Hoya mulai menyantap makan siang mereka. Sambil makan, Hoya memulai pembicaraan. "Bagaimana dengan Jepang, Myungsoo? Sudah kerasan disini?"

Myungsoo mendongak dan mengangguk.

"Ya, sudah tiga bulan lebih aku disini, sudah mulai terbiasa. Kau sendiri? Kau asli Korea kan? Kenapa pindah kesini?"

"Ya, aku memang asli Korea. Tapi aku sedang mendapat jatah tugas di Jepang, kurang lebih sama seperti mu lah."

"Ooohh….lalu? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Sepulang dari mall waktu itu, Sungjong terlihat senang sekali."

Myungsoo terdiam sejenak. "Ya, tentu saja….dia habis mendapatkan baju pengantinnya kan."

"Tapi tidak biasanya dia seceria itu."

"Mungkin….ia senang karena bisa jalan denganmu."

"Bukan hanya waktu di mall saja, belakangan ini dia berubah. Lebih ceria daripada biasanya."

"Lalu?"

"Kurasa dia berubah seceria itu karena seseorang."

Myungsoo hanya diam. Ia yakin orang yang dimaksud Hoya adalah dirinya.

"Dan kurasa, benar kata pramuniaga di toko baju pengantin waktu itu. Kau dan Sungjong cocok."

Myungsoo tersentak mendengar perkataan Hoya. "Ma…maksudmu..?"

"Jujur, aku tidak begitu tahu tentangmu. Yang aku tahu, kau adalah mantan tunangan Sungjong. Hanya itu. Tapi aku tidak mengetahui kenapa kalian batal menikah, dan yah…bisakah kau ceritakan padaku?"

Myungsoo menelan ludah. Ia bingung kearah mana pembicaraan Hoya. Namun ia pun mengangguk menyanggupinya.

"Yeah….memang benar, aku mantan tunangan Sungjong. Jadi…"

Myungsoo pun menceritakan semuanya dari awal. Termasuk tentang Sungjong yang bisu dan lumpuh karena ulahnya secara tak langsung.

Hoya menatap keluar jendela sambil mendengarkan cerita Myungsoo. "Oh, jadi….begitu."

Myungsoo mengangguk mengakhiri ceritanya. "Ya. Tapi kau tenang saja, sekarang aku…."

Hoya mengabaikan kata-kata Myungsoo dan mulai berbicara.

"Kalau aku, aku adalah dokter. Orang Korea yang tinggal di Jepang karena ditugaskan di salah satu rumah sakit disini. Disini, aku berkenalan dengan Woohyun – kakak Sungjong. Kami berkenalan secara tak sengaja, sewaktu itu aku masih kuliah kedokteran, dan aku bertemu dengannya di kampus. Begitu mengetahui aku orang Korea, kami pun berkenalan. Dia satu-satunya teman Korea ku disini. Kami bersahabat, dan tempat tinggal kami pun tidak terlalu jauh."

Myungsoo membatalkan niatnya untuk berbicara dan mendengarkan cerita Hoya.

"Lalu dua tahun yang lalu, Woohyun pulang ke Korea. Katanya, dia akan menghadiri pernikahan adiknya yang bernama Lee Sungjong itu, dan sehabis pernikahan itu ia akan pulang kembali ke Tokyo. Tapi beberapa bulan kemudian, dia baru kembali lagi kesini. Dan dia tak sendiri. Dia membawa adiknya, Sungjong ikut serta."

"Aku heran melihatnya. Woohyun pun menjelaskan bahwa adiknya batal menikah dan tertimpa musibah kecelakaan. Adiknya jadi lumpuh dan bisu, dan saat itu kondisinya masih lemah sekali. Masih belum sembuh benar. Maka, dia meminta ku untuk merawat adiknya. Sungjong pun dimasukkan ke rumah sakit tempatku bekerja dan kutangani dia sampai dia sembuh benar."

"Memang sih, aku tidak berhasil membuat Sungjong kembali berbicara dan berjalan. Namun setelah kutangani, dia menjadi jauh lebih baik, dan semangat hidupnya kembali. Karena keterbatasan untuk berbicara, selama ini ia hanya bisa berkomunikasi dengan Woohyun, aku, dan pembantu khusus dirumahnya. Ia menolak jika harus berkomunikasi dengan orang lain. Maka, walaupun dia sudah keluar dari rumah sakit, aku tetap mengunjungi dia setiap hari. Aku mengajaknya mengobrol, dan Woohyun pun memintaku untuk menjadi dokter pribadi Sungjong. Aku menyanggupinya, makanya sampai sekarang aku dekat dengannya. Hubungan kami pun menjadi dekat. Sungjong senang sekali jika bersamaku. Dan perlahan-lahan aku menyukainya."

Hoya terdiam sejenak lalu melirik Myungsoo, melihat ekspresi wajah Myungsoo yang sedikit cemburu.

"Begitu Woohyun tahu aku menyukai Sungjong, ia malah mendukungku. Ia membantu menjodohkan kami, dan jadilah akhirnya aku bertunangan dengan Sungjong. Sungjong memang selalu senang jika aku datang atau berada didekatnya. Tapi jujur, selama dua tahun aku mengenalnya aku belum pernah melihatnya sebahagia beberapa bulan terakhir ini."

"Dan akhirnya, aku tahu alasannya mengapa Sungjong menjadi sebahagia itu. Bukan karena rencana pernikahan kami tapi…namja yang ada dihadapanku ini lah penyebabnya."

Hoya menatap Myungsoo dalam, dan Myungsoo tersentak kaget. "Ma-maksudmu…"

"Apalagi kemarin. Dia senang sekali begitu mendapat baju yang dipilihkan olehmu, dan pramuniaga di toko itu memuji kau serasi dengannya."

"Hoya, i-itu…."

"Jawab yang jujur. Kau masih menyukai Sungjong?" tanya Hoya tegas.

"A-aku….."

"Cukup jawab ya atau tidak, Kim Myungsoo."

Myungsoo menunduk. Mana mungkin dia akan mengakui kalau masih menyukai Sungjong di depan calon suami Sungjong sendiri?

"Apa kau menyesal, telah menyakiti Sungjong?"

Myungsoo mendongak. Ia mengangguk perlahan. Ya, ia jujur – ia sangat menyesal karena meninggal kan Sungjong begitu saja.

"Kenapa kau menyesal?"

Kenapa dia menyesal? Sejujurnya, karena ia masih menyukai Sungjong. Ah tidak, bukan menyukai tapi mencintai Sungjong.

Hoya menatap Myungsoo lekat-lekat.

"Kau menyesal, itu artinya kau masih mencintainya kan? Tidak mungkin kau menyesal jika kau tidak menyukainya lagi."

Myungsoo terperanjat kaget. Kini ia pasrah, jika Hoya mengetahui perasaannya yang sebenarnya pada Sungjong.

"Sudah kuduga. Kau masih menyukai Lee Sungjong – ah aku salah – maksudku mencintai Lee Sungjong. Ya kan?" desak Hoya.

"Ho-Hoya,…mi-mianhae…"

Hoya menarik nafas.

"Ternyata benar kata orang-orang. Kalian berdua itu serasi. Kau dan Sungjong. Bukan aku dan Sungjong."

"Itu tidak benar, Hoya-sshi!"

Hoya mengangkat tangannya, meminta Myungsoo berhenti berbicara.

"Aku mengerti. Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang, walaupun dia sudah berstatus milik orang lain. Sekarang aku lega, ternyata ada seseorang yang mencintai Sungjong sama seperti aku mencintainya."

Hoya memejamkan matanya sejenak.

"Kini aku tenang mengetahuinya. Myungsoo, kau memang serasi sekali dengan Sungjong. Kalian cocok. Berjanjilah padaku,"

Myungsoo menelan ludah, "Apa?"

"Jangan menyakiti Sungjong untuk yang kedua kalinya. Jika ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu dulu, lakukanlah. Dan…aku titip Sungjong padamu. Jika suatu saat nanti aku tidak bisa berada disisinya lagi, gantikanlah posisiku dan ingat, jangan pernah menyia-nyiakannya. Aku tak segan-segan menghabisimu jika kau melakukan kesalahan lagi padanya." kata Hoya tegas sambil menatap langsung kedalam mata Myungsoo.

Myungsoo terkejut. "Kau…apa yang kau bicarakan, Hoya-sshi?"

"Berjanjilah dulu padaku." desak Hoya.

"Ba-baiklah….aku berjanji."

"Terima kasih," ujar Hoya sambil tersenyum. "Ah ya, ini untukmu."

Myungsoo mengambil amplop bersampul plastik yang disodorkan Hoya. "Apa ini?"

"Undangan pernikahanku dengan Sungjong. Lusa. Kau tidak lupa kan? Kau harus menghadirinya."

Mata Myungsoo melebar mendengar perkataan Hoya. "Lu…lusa?"

"Ya. Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus datang."

"Ta-tapi Ho-…."

"Apapun yang terjadi, kau harus datang ke undangan itu. Oke? Ah ya – aku tidak bisa lama-lama lagi, aku harus pergi sekarang. Ada jadwal praktek, sampai jumpa lusa, Kim Myungsoo."

Hoya pun langsung berdiri dan keluar dari café itu, meninggalkan Myungsoo yang masih terpaku di meja.

-to be continue-

readers, minta review/kritik/saran nya yaa, terimakasih! see you in next chap :)


balesan review chapter 5 :

1.) NavyDilla : ih myungsoo mah jangan dikasihani...wkwk

2.) ajib4ff : gomawo! sudah diupdate nih maaf menunggu lamaa

3.) Kira is Jung Dabin Naepoppo : hayoo tebak kira2 di chap berikutnya siapa yang bakal nikah? hihi see u in next chap!

4.) MJKTS : maaf ya menunggu lama, tp ini udh diupdate lg kok ._. hojong moment? bikin myungsoo nyesek? tunggu tanggal mainnya ya ;;)

5.) diyas : sudah dilanjut! maaf ya nunggu lama ._.

6.) blacklemon : sembuhin gak ya? ntar abis dong ceritanyaa

7.) neshiaaa96 : terus kl gak begitu sungjong nya aku apain doong? maaf ya rada menyiksa sungjong .

8.) LKIMohLKIM : kok malah seneng sungjong nikah sama hoya? myungsoo aja langsung galau tuh pdhl wkwkwk