Taehyung & CO. [REMAKE NOVEL]
Desclaimer : seluruh cast milik Tuhan, Orang tua, dan agensi.
Lockwood&Co. milik Jonathan Stroud
Friendship, Mysteri, and Horror.
Friendship VminKook with little bit vkook bl.
Typo(s), EYD, Etc.
.
.
.
Kim Taehyung as Anthony Lockwood
Park Jimin as George Cubins
Jeon Jungkook as Lucy Carlyle
.
.
Summary:
Selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Korea Selatan.
.
Jeon Jungkook, penyelidik paranormal yang masih muda, menginginkan karier cemerlang. Namun, kenyataannya ia malah bergabung dengan agensi pembasmi hantu paling kecil dan kumuh di ibu kota Korea Selatan. Di pimpin oleh Kim Taehyung yang karismatis dan misterius.
.
Ketika salah satu kasus mereka berakhir dengan kekacauan fatal, Taehyung & Co. Memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Namun sayangnya, itu berarti mereka harus menginap di rumah paling berhantu di korea selatan.
.
.
.
CHAPTER 5
.
.
Aku terbangun, entah pukul berapa di tengah malam dalam keadaan kamar yang gelap gulita serta seluruh tubuhku yang terasa nyeri. Aku berbaring telentang dengan sedikit mengarah ke jendela.
Luka-lukaku terasa perih, lebam-lebamku berdenyut-denyut; sehari penuh setelah terjatuh, otot-ototku sedang dalam proses menjadi kaku. Aku tahu seharusnya aku bangkit untuk minum aspirin, tetapi obat itu ada di dapur yang berada jauh di bawah. Aku terlalu malas untuk bangun dan mengambilnya. Aku tidak ingin bergerak. Tubuhku pegal, udara terlalu dingin, dan tempat tidur ini hangat. Tentu saja kasur adalah pilihan terbaik yang akan aku pilih.
Besok... Meski wajah Taehyung menunjukkan ketabahan, kelihatannya tidak banyak hari esok untuk kami. Empat minggu.. Empat minggu untuk mencari uang dalam jumlah yang mustahil. Dan akulah yang memaksa kami tetap bertahan di rumah itu setelah serangan pertama si gadis hantu.
Aku mengambil keputusan yang salah, seperti di rumah penggilingan. Saat itu aku tidak mematuhi insting. Kali ini aku mengikuti insting, dan instingku salah. Bagaimana pun, saat terjadi krisis, hasilnya tetap sama. Aku mengacau, dan malapetaka menyusul.
Aku masih tidak bergerak. Aku berharap bisa menipu benakku untuk kembali terlelap. Tetapi sepertinya percuma, aku terlalu pegal, terlalu terjaga, terlalu merasa bersalah─dan juga terlalu merasa kedinginan. Aku butuh selimut baru dari lemari di kamar mandi bawah.
Terlalu dingin...
Jantungku sedikit berdebar saat aku berbaring di tempat tidur.
Ini benar-benar terlalu dingin.
Dingin yang membuat napasmu menimbulkan kepulan kabut sementara kau tidur. Dingin yang menyebabkan jaringan kristal es terbentuk di bagian dalam ambang jendela. Dingin yang menyebar, membuat kebas, membekukan paru-paru, dan aku sangat mengenalnya.
Aku membuka mataku lebar-lebar.
Aku tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tapi aku tahu.
Bahwa aku tidak lagi sendirian di kamar ini.
Bangun. Buka pintu. Lari ke bawah... Lakukan sesuatu Jungkook!
Sebersit ingatan dingin memberitahuku bahwa lari ke pintu bukanlah pilihan yang bijaksana. Karena aku melihat.. apa yang tadi kulihat?
Mataku melihat ke arah pintu.
Ya. Di sana. Kursi dan tumpukkan pakaian. Membentuk gempulan hitam tanpa bentuk, tapi lebih tinggi daripada biasanya, jauh lebih tinggi daripada seharusnya.
Kalau aku mengambil semua pakaian yang kumiliki dan menumpuknya di sana, tetap saja tidak akan setinggi itu─atau sekurus sosok yang berdiri hampir tanpa kentara di tempat gelap dekat pintu.
Sosok itu tidak bergerak. Tidak perlu bergerak. Aku menatapnya selama tiga puluh detik, berbaring membeku di tempat tidur. Dan aku juga merasa beku. Kuncian-hantu menyergapku dengan begitu halus, begitu sembunyi-sembunyi, sehingga aku tidak menyadarinya sampai sekarang.
Aku menggigit bibir, berkonsentrasi penuh, menyingkirkan perasaan tidak berdaya dari benakku. Aku memaksa otot untuk beraksi, melemparkan selimut dari tubuh. Aku mendorong diri ke samping, mendarat di lantai.
Aku berbaring tidak bergerak.
Semua ototku berdenyut nyeri; tindakan mendadak itu sama sekali tidak bagus untuk jahitan-jahitan lukaku. Namun sekarang tempat tidur berada di antara diriku dan pintu, serta makhluk di sebelahnya, dan itu bagus. Hanya ini yang terpenting sekarang.
Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan diri, menajamkan telinga untuk mendengarkan.
Namun hal yang mudah dilakukan saat berpakaian dan membawa persenjataan lengkap, dengan membawa rapier di sisi tubuh, sungguh tidak mudah dilakukan jika hanya mengenakan kaos oblong sambil terkapar di lantai. Hal yang wajar dilakukan saat memasuki rumah berhantu dalam urusan agensi, tidak bisa dilakukan dengan baik saat berada di dalam kamar sendiri. Di tambah lagi kau baru saja melihat sesuatu yang sudah mati berdiri satu atau dua meter jauhnya dari dirimu. Itulah sebabnya aku tidak mendengar suara supernatural sama sekali. Karena apa? Aku malah mendengar kegiatan vital organ tubuhku sendiri─debaran jantung, paru-paru yang memompa udara.
Bagaimana dia bisa masuk? Ada besi di jendela. Bagaimana dia bisa naik ke sini?
Tenanglah Jungkook! Pikir. Apakah aku punya senjata di kamar apa saja yang bisa kugunakan?
Tidak. Sabuk kerjaku ada di meja dapur, dua lantai di bawah. Dua lantai! Sama saja seperti berada di cina bagiku sekarang. Seperti rapier-ku, hilang di Dobong-gu, terbakar dan melebur dalam api. Semua rapier cadangan ada di ruang bawah tanah, dan itu tiga lantai di bawah!
Aku sama sekali tidak memiliki pertahanan. Mungkin banyak perlengkapan tersebar di lokasi yang lebih dekat, tapi tidak juga ada gunanya, karena makhluk itu melayang-layang dekat pintu.
Dengan posisi tengkurap di lantai, aku tidak bisa menaikkan kepala terlalu jauh tanpa harus bertumpu dengan tangan. Aku hanya bisa melihat kaki tempat tidur terdekat, kelabu dan berurat, sulur-sulur kabut-hantu putih kehijauan, dan dinding.
Punggungku menghadap ruang terbuka. Sesuatu bisa saja mengendap-endap di belakangku saat ini juga, dan aku tidak akan tahu.
Gelap atau tidak, aku harus melihat sekarang. Beruntung pendar cahaya rembulan sedikit membantuku saat ini. Aku menguatkan diri, bersiap-siap bangkit.
Aku meluruskan lengan, mendongakkan kepala, mengintip melalui tepi kasur..
Dan merasakan jantungku nyaris berhenti berdetak saking ketakutannya. Sosok itu sudah tidak ada lagi di dekat pintu. Tidak. Dia sudah bergerak, pelan-pelan, diam-diam, dan sekarang sedang melayang di atas tempat tidur.
Dia mengambang di sana dan merunduk dalam posisi mencari-cari, sulur-sulur plasma menyentuh kasur. Jemarinya yang panjang dan gelap meraih tanpa melihat ke titik hangat pada seprai tempat aku berbaring tadi.
Jika dia mengulurkan jari ke tepi, dia akan menyentuhku.
Aku segera merunduk lagi.
Aku tidak tahu apakah aku merangkak atau berguling; aku tidak tahu apa yang ku remukkan atau ku rusak. Kurasa kepalaku terantuk, dan pasti plester di lengan bawahku terlepas, karena belakangan aku menemukannya, dengan darah masih menempel di karpet.
Sedetik saja, atau mungkin dua; hanya ini yang kubutuhkan untuk melesat melalui kolong tempat tidur butut─yang merupakan satu-satunya keuntungan bagiku: tidak ada laci terpasang di bawahnya seperti tempat tidur modern─dan keluar dari sisi lain.
Begitu muncul, aku disergap oleh sesuatu yang dingin.
Sesuatu itu besar dan empuk, menelungkupku dari atas. Selama sepersekian detik aku meronta ketakutan kemudian tersadar benda itu hanya selimut yang melorot dari tepi tempat tidur.
Aku menyingkirkannya, berjuang untuk berdiri. Di belakangku, di tempat tidur, sinar-gaib memancar marah. Gumpalan kegelapan menjadi jelas: sosok pucat dan kurus melayang mengejarku dengan kedua lengan terentang.
Aku melompat ke pintu, membukanya sampai terbanting dan melontarkan diri dengan kalut ke tangga. Turun ke landasan pertama, menabrak birai, sulur-sulur udara dingin mencengkram leherku.
"Hyung!" aku berteriak.
"Tae-hyung! Jimin hyung!"
Pintu kamar Taehyung ada di sebelah kiri. Cahaya samar mengintip melalui celah di bawahnya. Aku menyambar gagang pintu. Menoleh melalui bahu ke pendar pucat yang bergerak cepat menuruni tangga.
Gagang pintu naik-turun sia-sia; pintu terkunci, tidak mau terbuka. Aku mengangkat kepalan tangan putus asa dan menggedor keras. Di pojok tangga jemari menggapai, tangan bercahaya terulur...
Pintu terbuka; cahaya lampu kuning lembut nyaris membutakanku.
Taehyung berdiri di sana, mengenakan piama bergaris-garis dan mantel kamar panjang berwarna gelap.
"Jungkook?"
Aku melesat melewatinya, masuk ke kamar.
"Hantu, hyung! Di kamarku! Dia datang!"
Rambut Taehyung agak kusut, wajahnya yang lebam tampak letih dan suram. Tapi dia tangkas seperti biasanya. Dia tidak bertanya apa-apa, tapi melangkah mundur, wajah tetap mengarah ke ambang pintu yang gelap.
Taehyung mengeluarkan benda dari kayu bertali kusut dengan gantungan-gantungan besi. Bagian-bagian dari besi berbentuk hewan dan burung. Taehyung mencengkram tangkai kayunya dan mulai mengurai tali-temali yang kusut.
Aku menatap benda tersebut.
"Cuma itu yang kau punya?" kataku.
"Rapier-ku ada di bawah."
"Benda apa ini?"
"Mainan bayi. Milikku waktu masih kecil. Dipegang di sini, dan hewan-hewannya menggelantung dari roda yang berputar. Ada bunyi-bunyian lucu juga. Favoritku si singa yang tersenyum."
Aku melirik pintu yang terbuka.
"Yah, itu bagus sekali, hyung tapi─"
"Ini terbuat dari besi, Kook. Nah, apa yang terjadi? Lututmu berdarah."
"Penampakan, hyung. Mula-mula hanya aura gelap, tapi sekarang sinar-gaib semakin terang. Efek sekunder kuncian-hantu, kabut dan pendinginan. Dia mengikutiku menuruni tangga."
Taehyung tampaknya puas menggunakan senjata mainan bayi, ketika dia mengangkatnya dan memutar pergelangan tangan, lingkaran kecil tempat hewan-hewan besi tersemat mulai berputar mulus.
"Matikan lampu di sebelah tempat tidur."
Aku melakukannya, kami tenggelam dalam kegelapan. Namun, tidak ada pendar hantu yang tampak di landasan.
"Percayalah, hyung. Dia ada di luar sana." Kataku.
"Baik, kita ke pintu. Saat kau melewati tempat tidur, ambil sepatu bot."
Kami mengendap-endap ke pintu, sementara mainan bayi itu diulurkan di depan kami, dan mengintip dengan hati-hati di landasan atau di tangga.
"Sudah ambil sepatu botnya?"
"Sudah, hyung."
"Lemparkan ke pintu Jimin."
Dengan segenap tenaga yang mampu kukerahkan, aku melemparkannya ke seberang landasan. Sepatu membentur pintu di seberang dengan suara gedebuk dramatis. Kami menunggu, mengamati kegelapan.
"Dia mengikuti menuruni tangga, hyung." Kataku.
"Aku tahu. Kau kan sudah bilang. Lekaslah muncul, Jimin..."
"Seharusnya dia sudah terbangun karena mendengar suara ributku."
"Yah, kalau dia tidak tidur seperti kerbau. Dia sulit sekali untuk bangun, bahkan bukan saat tidur saja. Ah, itu dia."
Akhirnya Jimin terhuyung keluar dari kamarnya, mengerjap dan menyipitkan mata seperti tikus mondok rabun. Dia mengenakan celana piyama biru kedodoran bermotif kapal ruang angkasa dan pesawat terbang yang norak sekali.
"Jim, Jungkook bilang dia melihat Pengunjung, di dalam rumah." Taehyung berseru.
"Aku memang melihatnya, hyung." Aku menukas.
"Kau ada besi di kamar? Kita perlu memeriksa, Jim."
Jimin mengucek mata; dia berkutat dengan tali pinggang celana, berusaha menahan agar tidak semakin melorot.
"Entahlah, mungkin.. Tunggu."
Dia berbalik dan masuk. Hening sejenak, kemudian terdengar bunyi mengaduk-aduk. Beberapa saat kemudian Jimin kembali, mengenakan sabuk bahu model gaucho yang penuh suar magnesium, Bom-Garam, dan wadah-wadah besi. Kotak kaca-perak kosong digantungkan dengan tali di bawahnya. Dia membawa segulung rantai, rapier panjang dengan gagang berornamen, dan senter menyembul santai dari pinggang piamanya. Kakinya mengenakan sepatu bot raksasa. Taehyung dan aku melongo menatapnya.
"Wae?" kata Jimin. "Ini hanya sedikit perlengkapan yang kusimpan di dekat tempat tidur. Lebih baik selalu siap. Kau boleh meminjam bom garam kalau mau, Tae."
Taehyung mengayunkan mainan bayi yang berdenting dengan pasrah.
"Tidak, tidak. Aku sudah punya ini."
"Terserah. Jadi, di mana penampakan ini?"
Dengan kata-kata singkat dan tegang aku memberitahu mereka. Taehyung memberi perintah. Kami mulai mendaki undakan.
Dengan terkejut aku mendapati jalan ke atas kosong. Setiap beberapa langkah sekali kami berhenti berjalan untuk mengamati dan mendengarkan, tapi tidak ada apa-apa.
Rasa dingin mencekam sudah lenyap; kabut-hantu juga sudah tidak ada lagi, dan aku tidak mendengar apa-apa di telinga batinku. Taehyung dan Jimin juga tidak mendeteksi apa-apa. Satu-satunya bahaya adalah celana piyama Jimin, karena dengan berat perlengkapannya, celana itu terancam melorot.
"Tidak ada apa-apa di sini, Kook. Kau yakin?" Tanya Jimin saat kami sudah memasuki kamarku yang berantakan─selimut kusut yang tergeletak di sebelah tempat tidur, serta pakaian di kursi yang tercecer di lantai karena pasti tersenggol olehku saat aku berlari ke luar tadi.
"Tentu saja aku yakin!" aku membentak. Dengan langkah cepat aku menyebrangi kamar menuju jendela, melongok ke jalanan di bawah.
"Tapi harus kuakui, aku tidak merasakan kehadirannya sekarang."
Taehyung berlutut, mengintip ke kolong tempat tidur.
"Dari ceritamu tadi, hantu itu pasti lemah bergerak lamban, tidak terlalu menyadari suasana sekitar, karena jika bukan seperti itu dia sudah menangkapmu. Mungkin energinya sudah terkuras, kembali ke Sumber-nya."
"Dan apa sumber itu?" kata Jimin. "Di mana ada sumber baru yang secara misterius muncul di kamar Jungkook? Rumah ini berpengamanan ketat. Tidak ada yang bisa masuk." Dia menatap lemari pakaian, rapier siap di tangan.
"Aku bilang, aku melihat hantu, Jimin. Memangnya menurutmu aku sudah buta?"
"Tidak, menurutku kau delusional. Dan tolong gunakan hyung."
"Dengar hyu─"
"Ini tidak masuk akal." Taehyung menyala.
"Kecuali jika Jungkook membawa salah satu artefak psikis ke sini. Kau tidak melakukan itu, kan, Jungkook? Kau tidak membawa tangan perompak untuk diamati lebih dekat, misalnya, dan lupa memasukkannya kembali ke kotak?"
Aku berseru marah. "Jangan tolol, hyung! Tentu saja aku tidak melakukan itu. Aku tidak akan berpikir untuk membawa apa-apa yang tidak benar-benar.. tidak benar-benar aman... Oh."
"Yah, seperti Jimin selalu membawa wadah itu ke mana-mana..." Taehyung menyadari perubahan ekspresiku.
"Jungkook?"
"Hyung..."
"Ada apa? Kau mengambil sesuatu?"
Aku menatapnya. "Ne," kataku dengan suara yang lirih.
"Ne, kurasa begitu, hyung..."
Jimin dan Taehyung menatapku, punggung menghadap lemari dan tebaran pakaian di lantai. Saat mereka mulai bicara pendar pucat melebar pada dinding. Sebuah sosok muncul dari lantai belakang mereka.
Aku melihat lengan dan tungkai yang sangat, sangat kurus, gaun bermotif bungan jingga, rambut pirang panjang melebur menjadi sulur-sulur kabut, wajah berkerut penuh kemurkaan.. Aku memekik.
Kedua pemuda di depanku memutar tubuh cepat-cepat, persis ketika jemari berkuku tajam meraih leher mereka. Jimin mengayunkan pedang, menancapkannya ke sudut lemari pakaian. Taehyung menyodok dengan kalut menggunakan mainan bayi.
Terjadi denyut hantaman besi ketika mencapai sasaran; si gadis hantu lenyap. Gelombang udara dingin menerpa ruangan, membuat kaos yang ku pakai melekat erat di tungkai.
Kamar loteng senyap kembali.
Seseorang terbatuk. Jimin menarik gagang rapier, berusaha melepaskannya.
"Jungkook.." suara Taehyung sangat lirih, "Bukankah itu tadi─"
"Ne, hyung. Memang dia. Mianhae."
Jimin menarik kuat-kuat, pedangnya terlepas. Dia terhuyung canggung ke samping dan, ketika melakukannya, ada bunyi berderak keras di bawah sepatu botnya.
Dia mengerutkan kening, membungkuk, memungut sesuatu dari antara tebaran pakaian di sebelah kami.
"Aw! Dingin sekali." Serunya.
Taehyung mengambil senter dan mengarahkannya pada benda yang menggelantung di jemari Jimin. Sebuah liontin, agak remuk akibat terinjak, memantulkan cahaya selagi berputar-putar pada rantai emasnya yang halus.
Taehyung dan Jimin menatap benda tersebut. Mereka menoleh menatapku. Jimin membuka kotak kaca-perak dari sabuknya dan memasukkan kalung itu ke sana. Dia menutupnya sampai menimbulkan suara ceklik memuaskan.
Pelan-pelan Taehyung menaikkan senter sampai aku terpapar sinar hening yang menuduh.
"Mm, ya.. Kalung gadis itu.. Mm, kau tahu, aku berniat ingin bercerita kepadamu tentang itu, hyung." Berdiri dengan kaos oblong kusut, dalam keadaan kucel dan penuh perban, aku berusaha keras tersenyum semanis mungkin.
.
.
.
.
Hari berikutnya cerah dan jernih. Cahaya matahari yang pucat menembus melalui jendela dapur dan memancar dengan ceria pada suasana sarapan yang berantakan seperti biasa. Udara terasa hangat dan dipenuhi aroma teh, roti panggang, dan daging goreng.
Tetapi aku sama sekali tidak menikmatinya.
"Kenapa, Jungkook?" Suara Taehyung dalam dan mendesak.
"Aku tidak mengerti! Kook, kau tahu seorang agen harus melaporkan semua artefak yang ditemukannya. Terutama yang berhubungan erat dengan pengunjung. Benda-benda seperti itu harus diamankan dengan benar."
"Aku tahu, hyung."
"Benda-benda seperti itu harus dimasukan dalam kotak besi atau kaca-perak sampai bisa dipelajari atau dimusnahkan."
"Ne,"
"Tapi kau memasukkannya begitu saja ke saku, dan tidak memberitahuku atau Jimin!"
"Ne, hyung. Aku menyesal sekali! Aku belum pernah melakukan hal seperti itu."
"Jadi kenapa kau lakukan sekarang?"
Aku menarik napas panjang. Kepalaku kutundukkan selama beberapa menit, sementara aku dimarahi habis-habisan oleh Taehyung, aku mencoret-coret di taplak berpikir. Aku menggambar seorang gadis; gadis kurus dalam gaun musim panas model kuno. Aku menekan pena kuat-kuat, mungkin sampai menggores permukaan meja di bawah taplak.
"Aku tidak tahu, hyung," gumamku, "Semuanya terjadi begitu cepat. Mungkin akibat kebakaran─mungkin aku hanya ingin menyelamatkan sesuatu tentang dirinya, agar dia tidak benar-benar terlupakan.." Aku menggambar bunga matahari hitam besar di tengah-tengah gaun.
"Sejujurnya, aku hampir tidak berpikir. Dan setelah itu... aku lupa."
"Sebaiknya jangan bilang apa-apa pada Chanyeol tentang ini," komentar Jimin. "Atau dia akan mengamuk kalau tahu kau tanpa sadar membawa-bawa hantu berbahaya mengitari Seoul tanpa penangkal. Itu akan memberinya satu alasan lagi unutk menutup agensi kita."
"Kau lupa? Hanya itu? Hanya itukah alasanmu?" Kata Taehyung.
Kejengkelanku meledak; aku mendongak dan menatapnya tajam, "Ne! Dan kalau kau ingin tahu kenapa, pertama-tama aku terlalu sibuk dirawat di rumah sakit, dan setelah itu terlalu sibuk mencemaskanmu, hyung. Tapi sebenarnya, jika dipikir-pikir, aku tidak punya alasan menganggap benda itu berbahaya, ya, kan? Karena kita sudah mengamankan Sumber-nya."
"Tidak, Jungkook." Taehyung menghujamkan jari tangannya yang tidak terluka ke taplak.
"Itu dia! Kita mengira sudah mengamankan Sumber, tapi ternyata belum! Kita tidak mengamankan Sumber-nya, Jungkook, karena jelas sekali Sumber-nya ada di sana."
Taehyung menunjuk kotak kaca-perak kecil yang terletak di antara mentega dan poci teh. Benda itu berkilauan tertimpa cahaya matahari. Di dalamnya, kami bisa melihat kalung emas.
"Tapi, hyung! Bagaimana mungkin ini Sumber-nya!" seruku. "Seharusnya Sumber adalah tulang-berulangnya."
Taehyung menggeleng-geleng sedih. "Hanya terlihat seperti itu karena si hantu lenyap begitu kau menyelubungi tubuhnya dengan jaring perak. Tapi jelas sekali kau juga menyelubungi kalung itu pada saat yang sama, dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengamankannya. Kemudian, saat kau mencuri kalung─"
Aku memelototinya. "Aku tidak mencuri!"
"─kau langsung memasukkannya ke saku mantel, yang penuh serutan besi dan kantong-kantong garam, dan benda-benda kecil agensi lainnya. Lebih dari cukup untuk mengurung si hantu sepanjang malam itu. Tapi hari berikutnya, kau melemparkan mantel ke kursi dan kalung itu terjatuh. Kemudian tumpukan pakaian menutupinya sampai hari gelap, saat si hantu bisa kembali."
"Satu-satunya yang membingungkan adalah dia tidak secepat atau sekuat malam sebelumnya. Dari keteranganmu, dia hampir lamban saat kau melarikan diri dari kamar." Kata Jimin.
"Alasan paling masuk akal adalah serbuk besi dan garam juga tumpah dari saku mantel, bersamaan dengan kalung." Kata Taehyung. "Cukup untuk membuat si hantu menjadi lemah, dan dia tidak mampu mempertahankan sosok dalam jangka waktu yang lama. Mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa mengikutimu turun, dan tidak bisa muncul kembali dengan cepat sampai kita naik."
"Kalau begitu, beruntung bagi kita." Kata Jimin sambil bergidik. Menggigit roti untuk menenangkan diri.
Aku mengangkat tangan agar mereka berhenti bicara.
"Ara, ara. Aku mengerti semua itu. tapi bukan itu maksudku, hyung. Yang ingin kukatakan adalah, Sumber seharusnya berupa benda yang terikat pada si Pengunjung, kan? Yang dianggapnya paling berharga. Jadi seharusnya adalah tulang-berulangnya," Aku menyambar tali kotak kaca dan memutar-mutarnya di jemari, sehingga liontin dan rantai di dalamnya meluncur ke sana ke mari.
"Tapi ternyata Sumber-nya adalah ini. Kalung ini lebih berharga bagi Kim Hyorin daripada jasadnya sendiri. Bukankah ini sedikit ganjil, hyung?"
"Tidak ada bedanya dengan si pengendara motor yang pernah kita jumpai dulu." Jimin mengingatkan.
"Benar, tapi─"
"Kuharap kau sedang tidak berusaha mengubah topik pembicaraan, Jungkook. Aku daritadi ingin sekali menendangmu." Taehyung berbicara dengan nada dingin.
Aku meletakkan kotak kembali, "Mian.."
"Aku juga masih belum selesai. Jauh dari selesai. Masih banyak yang ingin kuucapkan." Lanjutnya.
Terjadi keheningan berlarut-larut. Taehyung menatap galak kepadaku, kemudian mengalihkan tatapan ke jendela. Akhirnya dia berseru putus asa.
"Aku lupa apa yang mau kukatakan. Intinya adalah; jangan lakukan itu lagi. Aku sangat kecewa padamu. Saat kau bergabung dengan agensi aku sudah bilang aku tidak peduli tentang apa yang kau sembunyikan di masa lalu. Ini tetap berlaku. Tetapi merahasiakan sesuatu yang terjadi sekarang, itu berbeda. Kita satu tim dan kita harus bekerja sama."
Aku mengangguk. Menatap taplak. Wajahku terasa dingin dan panas pada saat bersamaan.
"Kau juga bisa melupakan keingintahuanmu tentang kalung ini. Aku akan membawanya ke tungku pembakaran Homme hari ini untuk mengkremasinya. Selamat tinggal Sumber. Selamat tinggal Kim Hyorin. Selamat tinggal untuk semua urusan ini." Taehyung memberengut ke mugnya.
"Dan sekarang tehku sudah dingin."
.
.
.
Kejadian malam ini memang tidak menguntungkan, tapi suasana hati Taehyung sedang buruk akibat dari berbagai alasan lain juga. Tangannya yang terkena sentuhan-hantu membuatnya tidak nyaman. Kabar dari Chanyeol sangat membebani pikirannya. Dan yang paling buruk, berita tentang malapekataka di Dobong-gu mulai tersebar. Dengan ngeri Taehyung mendapati kabar kebakaran Dobong-gu diulas di surat kabar pagi itu.
Di halaman Masalah, tempat kasus-kasus terkemuka diulas setiap hari, sebuah artikel berjudul AGENSI INDEPENDEN: PERLU KENDALI LEBIH KETAT? menjabarkan bagaimana sebuah investigasi yang dilakukan Taehyung & Co. ('kelompok independen yang dijalankan remaja') berakhir dengan kebakaran berbahaya yang mengakibatkan kerusakan parah.
Dan pada akhir artikel, juru bicara wanita dari agensi Homme dikutip. Dia menyarankan adanya 'penyelia dewasa' bagi hampir semua investigasi psikis.
Sarapan kami diakhiri dalam keheningan canggung. Taehyung duduk di seberangku, memegang mug teh yang sudah dingin. Menggerak-gerakkan jemarinya yang terluka. Darah sudah kembali mengalir di tangannya, tapi kulitnya masih bersemu biru. Jimin berkeliaran di sekitar dapur, mengumpulkan piring-piring dan menumpukkan semuanya di bak cuci.
Kemarahan Taehyung memang wajar, dan itu membuatku merasa bersalah. Anehnya meski aku tahu aku bersalah, karena mengambil kalung dan melupakannya, anehnya aku tidak benar-benar menyesali perbuatanku.
Malam itu di Dobong-gu, aku mendengar suara seorang gadis yang dibunuh. Aku juga melihatnya baik sosok semasa dia masih hidup dulu, maupun sebagai benda keriput menyedihkan kemudian.
Dan meski hantu itu menguarkan ketakutan dan kemurkaan, meski hantu itu bertindak jahat dan mendendam, aku tidak mampu menyingkirkan kenangan tentangnya. Karena tubuhnya sudah menjadi abu, hanya kalung inilah sisa-sisa dirinya; sisa-sisa gadis bernama Kim Hyorin, tentang kehidupan serta kematiannya, tentang seluruh kisahnya yang misterius.
Dan kami akan membakar kalung itu juga.
Bagiku rasanya seperti tidak benar.
Aku mengangkat kotak mendekat ke mata, menatap melalui kacanya.
"Taehyung hyung, bisakah kukeluarkan kalung ini?" Tanyaku ragu.
Dia mendesah. "Kurasa begitu. Sekarang sudah siang, cukup aman."
Kalungnya terbuat dari rangkaian mata rantai berpuntir dari emas, bersih dan cerah kecuali di beberapa bagian tempat sesuatu berwarna hitam menyumbat lubang-lubang mata rantai. Liontinnya sendiri berbentuk agak oval, kira-kira seukuran buah kenari. Berkat sepatu bot Jimin yang dijejakkan sembarangan, liontin itu jadi agak penyok. Dulu bagian luarnya pasti cantik sekali. Tepinya dihiasi lusinan potogan kecil cangkang, kerang-putih merah jambu dan berkilauan. Tapi banyak potongan itu yang sudah copot dan, sama seperti rantainya, di sebagian permukaannya banyak bintik-bintik hitam jelek.
Tapi yang lebih menarik dari semua itu adalah simbol berbentuk hati yang sedikit menonjol agak di bawah permukaan depan liontin. Di sini pola samar tipis menandai emasnya.
"Oh! Ada tulisan di sini." Kataku.
Aku mengangkat liontin itu agar terkena cahaya, kemudian menelusuri jari pada huruf-hurufnya. Ketika melakukan itu, mendadak aku menangkap suara-suara seorang lelaki dan perempuan sedang bicara, kemudian si perempuan tertawa, tinggi dan melengking.
Aku mengerjap; sensasi itu lenyap. Aku menatap objek di tanganku. Keingintahuanku menular kepada yang lain. Meski seharusnya masih kesal, Taehyung berdiri dan melangkah mengitari meja. Jimin meninggalkan cucian piring sambil mengibaskan serbet teh, mengintip melalui bahuku dari sisi lain.
Empat kata. Kami menatap tanpa bicara selama beberapa saat.
Tormentum meum
Laetitia mea
Aku tidak mengerti sama sekali.
"Tormentum... kedengarannya ceria sekali." Akhirnya Jimin berbicara.
"Bahasa latin, bukankah kita memiliki kamus bahasa latin di sini?" Taehyung berkata.
"Ini adalah pesan dari lelaki yang memberikan kalung ini kepadanya." kataku. "Lelaki yang dicintainya.."
Gaung suara kedua orang itu masih memantul di benakku.
"Bagaimana kau tahu yang memberikannya lelaki?" Tanya Jimin. "Bisa saja teman perempuan, atau barangkali ibunya."
"Tidak mungkin. Lihat simbolnya. Lagi pula, perempuan mengenakan benda-benda seperti ini agar pesan seseorang yang dicintainya bisa berada dekat di hatinya."
"Memangnya kau tahu apa tentang itu?" Tanya Jimin.
"Memangnya kau lebih tahu?"
"Coba kita lihat," kata Taehyung. Dia duduk di kursi sebelahku dan mengambil kalung dari tanganku. Dia mengamatinya dari dekat, kemudian dahinya berkerut.
"Frasa latin, hadiah dari orang tercinta, gadis yang lama menghilang..." Jimin menyampirkan serbet teh lembap ke bahunya lalu melangkah ke bak cuci. "Misteri yang eksotis.."
"Benarkah?" Kata Taehyung, "Benarkah begitu?"
Kami menatap Taehyung. Matanya berkilauan; mendadak dia duduk tegak. Kemurungan yang menyelimutinya sepanjang pagi tiba-tiba menguap seperti awan putih terbawa angin kencang.
"Jim, kau ingat kasus terkenal yang ditangani SM, satu atau dua tahun yang lalu? Tentang dua kerangka yang saling bertautan?"
"Kasus Pohon Melolong? Tentu saja. Mereka mendapat penghargaan untuk itu."
"Ne! Dan publikasi besar. Sebabnya adalah mereka mengetahui identitas para Pengunjung itu, bukan? Mereka menemukan jepitan dasi berlian di salah satu kerangka dan melacaknya sampai ke ahli permata yang membuatnya, yang memberitahu mereka bahwa pemiliknya adalah─"
"─Raja Wang Jackson," kataku. "Yang menghilang sejak abad kesembilan belas. Semua mengira dia kabur ke luar negeri. Tapi ternyata dia ada di sana, dikubur di taman keluarga, tempat dia diletakkan oleh adik lelakinya, agar si adik bisa mewarisi rumah keluarga."
Keheningan terjadi; aku menatap mereka berdua. "Kenapa terkejut? Aku juga baca True Hautings."
"Baiklah." Kata Taehyung. "Dan kau memang benar. Intinya, itu berita besar, dan dengan memecahkan misteri tua itu, agensi SM laku keras. Mereka menjadi lebih mahsyur; sekarang mereka adalah agensi terbesar keempat di Seoul. Nah, aku ingin tahu.." suaranya lenyap, matanya terpaku pada liontin di tangannya.
"Apakah Kim Hyorin bisa melakukan hal yang sama pada kita?" kata Jimin. "Taehyung, kau tahu ada berapa banyak hantu di Seoul? Di seluruh negeri? Ini wabah. Orang-orang tidak peduli pada kisah di baliknya. Mereka hanya ingin para hantu menyingkir."
"Kau bisa berkata begitu Jim, tapi kasus-kasus besar akan jadi tajuk utama. Dan kasus kita ini bisa jadi besar. Pikirkanlah, seorang gadis glamor dibunuh secara brutal dan lenyap selama berpuluh-puluh tahun, sepasang kekasih tragis, agensi kecil yang berkembang mengungkapkan kebenaran dibalik pembunuhan tersebut..." Taehyung nyengir lebar kepada kami.
"Ya, jika kita memainkan ini dengan benar, kita bisa terciprat ketenaran. Kita bisa memutarbalikkan keadaan menjadi keuntungan kita. Tapi kita harus bergerak cepat. Jimin kamus latin ada di landasan lantai satu, sepertinya. Mau mengambilkannya sekarang? Gomawo! Dan Jungkook," Taehyung melanjutnya sementara Jimin melenggang pergi.
"Barangkali, kau juga bisa membantu."
.
.
.
TBC
.
.
.
GLOSARIUM
Agensi : Bisnis yang dikhususkan untuk menahan dan menghancurkan hantu.
Ektoplasma : substansi aneh dan bervariasi yang membentuk hantu.
Lavendel : aroma kuat dan manis, tanaman ini diperkirakan mampu menghalau roh jahat.
Rapier : senjata resmi semua agen investigasi cenayang. Ujung pedang terbuat dari besi kadang-kadang dilapisi perak.
Garam : proteksi umum yang digunakan untuk melawan hantu (kurang aktif dibandingkan besi dan perak).
Besi : proteksi penting terhadap hantu dalam berbagai jenis (penangkal hantu).
Perak : penangkal hantu dalam bentuk perhiasan.
Kaca-perak : kaca 'anti hantu' untuk mengurung Sumber.
Bom-garam : senjata bagi agensi berbentuk bola-lempar berukuran kecil yang diisi garam. Pecah jika menghantam dan garam akan menyebar ke segala arah.
Suar magnesium : Senjata penting bagi agensi untuk melawan hantu, berbentuk tabung logam dengan tutup kaca yang bisa dipecahkan, berisi magnesium, besi garam, bubuk mesiu.
Tipe Satu : kelas hantu yang paling umum, paling lemah, dan paling tidak berbahaya.
Tipe Dua : kelas hantu paling berbahaya yang paling sering ditemui. Tipe Dua lebih kuat daripada Tipe Satu, dan memiliki sejenis kecerdasan residual. Mereka menyadari kehadiran manusia yang masih hidup, dan kadang-kadang berusaha melukai.
Tipe Tiga : kelas hantu paling langka. Di katakan bahwa Tipe Tiga mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup.
Spactre : Hantu tipe dua yang paling sering ditemukan. Spectre selalu memiliki penampakan yang jelas dan detail. Biasanya menggunakan gema visual akurat dari orang yang sudah meninggal. Sebagian besar bersikap netral kepada manusia yang masih hidup. Tetapi meski demikian beberapa Spectre gemar melakukan kekerasan, dan menginginkan kontak dengan manusia.
Phantasm : Hantu tipa dua mana saja yang memiliki sosok ringan, rapuh, dan tembus pandang. Phantasm bisa saja hampir tidak kasatmata, selain garis tubuh yang samar dan beberapa detail berkabut dari wajah fiturnya.
Poltergeist : Jenis kuat dan perusak hantu tipe dua. Poltergeist melepaskan semburan energi supernatural kuat yang mampu mengangkat objek ke udara. Mereka tidak melakukan penampakan
Malaise : Perasaan lunglai dan sedih yang sering dialami ketika sesosok hantu menghampiri. Malaise bisa semakin parah atau dapat dikatakan menjadi kuncian-hantu (otot-otot memberat, yang terkena ini merasa tidak mampu lagi berpikir atau bergerak bebas; mematung) yang berbahaya.
Miasma : atmosfer yang tidak nyaman, sering diiringi rasa dan bau tidak enak.
DEPRAC : Departement of Psychical and Control (Departemen Riset dan Kendali Cenayang)
Phantom : Nama lain untuk hantu
Pengunjung : Nama lain untuk hantu
