Luhan menjadi assistant Steffy untuk mengawasi dan merubah pribadi dari sosok menyebalkan, berandal, dan 'player' bernama Sehun. Apakah Luhan berhasil mengubah sifat lelaki itu?
-LUssistant-
HunHan story. Steffy Oh (OC). Find other cast by yourself.
GS
M rated
Short Fic (10 Chapter)
...
DLDR! Be careful! Typo(s) are detected.
.
.
.
Berhubung 8 bulan dianggurin, Kalo udah lupa sama jalan ceritanya, bisa intip previous chapter ^^v
...
Luhan tidak bisa memikirkan apapun selain pikiran buruk yang menguasai otaknya. Berkali-kali ia berusaha berpikiran positif, berkali-kali pula ia gagal dan berujung menggigit bibir gelisah. Lalu saat ia berusaha menelepon di nomor yang sama, nomor yang memperdengarkan suara Seolhyun sebelumnya, Luhan tidak menemukan jawaban apapun selain operator yang berbicara bahwa nomor itu mereject panggilannya.
Luhan telah mencapai tempat itu. Tangannya yang berkeringat dingin, menekan bel di ujung pintu sebelah kanan. Jantungnya berdebar saat mendengar seseorang membuka pintu untuknya.
"Luhan-ssi?"
Itu Jongin. Berdiri melongo memandang Luhan yang terlihat gelisah.
"Apa Sehun di dalam? Bolehkah aku menengoknya?"
"Darimana kau tahu Sehun ada disini?", tanya lelaki itu yang dianggap Luhan sebagai sebuah kalimat usiran halus untuknya.
Untuk seseorang yang tidak diharapkan sejak pertama kali mereka bertemu.
Tapi Luhan berusaha tidak terpengaruh dan dengan cepat mengetahui apa yang terjadi pada Sehun dan kenapa Seolhyun harus mengancamnya untuk datang.
"Seolhyun-ssi meneleponku."
"Seolhyun?" Alis Jongin menukik saat nama Seolhyun tersebut. Satu hal yang ada dipikirannya adalah, kenapa Seolhyun membuang-buang waktu menghubungi Luhan yang menjadi musuh nomor satu diantara mereka?
"Ya, aku yang memintanya kemari."
Dibalik daun pintu yang kini terbuka lebar, Luhan menemukan sosok Seolhyun tengah berdiri melipat tangannya di dada. Seperti biasa, ia akan memasang wajah paling tidak bersahabat jika berurusan dengan Luhan.
"Untuk apa? Kau sendiri yang bilang kalau keadaan Sehun sekarat gara-gara dia!"
"S-sekarat? Jongin-ssi, kumohon jelaskan padaku apa yang terjadi pada Sehun? Apa Sehun-ssi pingsan? Apa Sehun-ssi sakit lagi?", tanya Luhan bertubi-tubi. Ekpsresinya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa namun tidak menunjukkan kelemahan layaknya seorang perempuan.
"Aku ingin bicara denganmu.", ucap Seolhyun menginterupsi. "Empat mata", tambahnya membuat Jongin memutar bola mata, beranjak pergi setelah menyadari jika Seolhyun memintanya untuk pergi.
Jongin kembali masuk, meninggalkan dua perempuan dengan ekspresi yang sulit ditebak diwajah masing-masing di depan pintu.
"Kumohon jawab pertanyaanku, apa yang terjadi pada Sehun?"
Plak!
Bukan jawaban yang Luhan dapatkan, melainkan sebuah tamparan keras di pipi sebelah kirinya. Ia mendesis, refleks memegang pipinya yang terasa panas akibat luapan amarah sosok gadis didepannya.
Keterkejutannya hanya berlangsung beberapa detik, sebelum Luhan kembali berbicara santai seolah tidak ada yang terjadi kepadanya meskipun bekas merah tamparan menjelaskan semuanya. "Kau menyuruhku kesini hanya agar bisa menamparku? Wow!"
"Tutup mulutmu, jalang!" Emosi Seolhyun nampaknya semakin menjadi-jadi setelah ia tidak berhasil membuat Luhan ketakutan karenanya.
"Jalang?" Mata rusa Luhan menyipit. "Jelaskan padaku, bagian mana dari diriku yang bisa kau sebut jalang? Kau tahu, ucapanmu sungguh tidak sopan untuk ukuran orang yang tidak mengenalku, Seolhyun-ssi."
Seolhyun menyeringai jahat. Matanya menelusuri tubuh mungil Luhan dari atas ke bawah dengan tatapan jijik yang kentara. "Tidak ada. Dimataku kau tetap jalang yang suka mencari perhatian mangsa-nya."
Luhan menghembuskan nafas kasar, berharap amarah dalam dirinya tidak berkobar untuk sekarang. Ia pantang menyerang seorang perempuan. Ia cukup mengerti, menyerang perempuan sama saja akan memperpanjang masalah.
"Aku tidak punya waktu banyak. Cepat katakan apa maumu dan biarkan aku melihat kondisi Sehun."
"Jauhi Sehun!", perintah Seolhyun membuat Luhan mendecih malas. Ia sudah kebal dengan perintah yang sama dari teman dekat Sehun yang lain. Dan jika mereka memintanya untuk menjauhi Sehun, maka, Luhan punya jawaban yang sama pula. Ia tidak akan menjauhi Sehun sebelum permintaan Steffy berhasil ia kabulkan dan masa perjanjiannya dan Sehun-pun belum habis.
"Itu tidak ada urusannya denganmu."
"Kau hanya bisa membuatnya menderita, jalang! Sehun sakit karena kau terlalu memaksanya!" Oh, sepertinya Luhan harus membiasakan diri dengan panggilan jalang yang ditujukan untuknya. Walaupun sebenarnya, Luhan tidak mengerti mengapa Seolhyun memberi panggilan sekasar itu untuknya. Itu terlalu kasar, sungguh. Mungkin jika Luhan tidak memiliki pemikiran masa bodoh, ia tidak akan tinggal diam dan menuntutnya di pengadilan. Oke, itu terlalu berlebihan. "Jauhi Sehun dan aku akan meminta Steffy eonni untuk memecatmu!", sambung Seolhyun.
"Silahkan saja kalau bisa." Luhan mengangkat bahunya singkat. "Bahkan Steffy eonni sendiri yang memohon kepadaku untuk menjadi asistennya mengawasi Sehun."
Entah salah siapa, Luhan memang ditakdirkan terlahir menjadi seorang gadis berwatak keras dan tidak mudah terpengaruh oleh orang-orang disekitarnya. Gadis itu memiliki prinsip untuk tetap bertahan, tidak perduli seberapa kuat orang-orang mencoba menyeret paksa dirinya untuk melepaskan sesuatu yang ada didalam genggamannya, Ia akan tetap mempertahankan hingga keadaan yang memaksanya.
Dan kini, sesuatu itu adalah Sehun.
Lagipula itu bukan semata keinginan Luhan, melainkan ia memiliki tujuan lain yang menyangkut masa depan Oh Sehun.
"Aku akan bertanggungjawab atas kondisi Oh Sehun.", ucap Luhan mengalah, akhirnya, setelah mencoba berpikir keras mencari jalan agar Seolhyun lebih lunak dan tidak berujung dengan munculnya keributan.
"Cih! Bertanggungjawab kau bilang? Apa yang akan kau pertanggungjawabkan jika ada sesuatu yang buruk pada Sehun?" Seolhyun tidak berhenti untuk mengintimidasi Luhan. Gerak tubuh dan ekspresi wajahnya sungguh mencerminkan kebencian pada Luhan dengan jumlah yang tidak sedikit.
Seolhyun kepalang kesal dengan sifat keras kepala Luhan.
"Kau tahu, Sehun tiba-tiba pingsan ketika keluar dari kelas. Sebenarnya aku sudah mengetahui wajah pucatnya sejak awal. Tapi Sehun mengelak dan berkata baik-baik saja. Lalu aku ingat satu hal, jika kau mengantar Sehun dengan mobilnya. Kau yang memaksanya, kan? KAU, KAN?!"
Nafas Seolhyun terdengar bersahutan. Emosinya meledak tanpa terkendali dan Luhan-pun pasrah seandainya Seolhyun berbuat kasar kepadanya.
Ya, Luhan tercengang mendengar penuturan Seolhyun mengenai Sehun. Ia tidak menduga jika keputusannya untuk membawa Sehun ke kampusnya bukanlah pilihan yang bagus.
Lelaki itu belum sembuh benar. Semalam ia terlihat kesakitan dan seharusnya Luhan menyadarinya lebih awal. Sehun tidak mungkin langsung sembuh hanya dalam waktu semalam, kan?
"Oke, aku minta maaf untuk itu.", ungkap Luhan, menyadari kesalahannya yang tidak memeriksa kondisi Sehun lebih jauh dan membiarkan saja Sehun pergi kuliah. Toh sebenarnya jika Sehun memaksa, Luhan masih bisa memaksanya pula. Tapi bodohnya ia tidak melakukan itu.
"Jadi kau sudah menyadari kesalahanmu?" Mendadak suara Seolhyun terdengar lebih rendah dan seringaian menghiasi sudut kiri bibirnya. Luhan menghembuskan nafas kasar. Sungguh, Luhan tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk. Toh ia memang sangat menyadari kebodohannya.
"Ya, aku akan bertanggungjawab dengan menelepon rumah sakit-"
"Aku sudah memanggil dokter pribadiku.", putus Seolhyun.
"Kalau begitu aku akan membuatkannya makan-"
"Tidak perlu, kau pergi saja. Itu adalah ide yang paling bagus."
"Oke."
"Lalu? Tunggu apalagi?"
Luhan menyerahkan kunci mobil Sehun kepada Seolhyun. "Kunci mobil Sehun. Kau bisa mengantarnya pulang dengan ini kalau Sehun-ssi sudah sadar. Aku akan pulang sendiri."
"Cepat pergi!", usir Seolhyun pedas. Sungguh, ia sangat muak melihat sosok Luhan lebih lama lagi. Ingin rasanya ia segera masuk dan menutup pintu dengan keras.
"Ah ya, Seolhyun-ssi. Aku mohon untuk mengantarkan Sehun-ssi pulang. Steffy eonni pasti sangat mencemaskannya."
"Hmm,"
Brak!
Pintu tertutup.
"Cepatlah sembuh, Oh Sehun-ssi.", gumamnya sebelum Luhan berbalik, menjauhi unit apartment yang sering dikatakan sebagai basement itu tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
…
"Kau sudah bangun?", tanya Seolhyun lalu cepat cepat meletakkan kunci mobil dalam genggamannya di atas meja nakas.
Sehun terbangun. Tepat saat pintu kamar terbuka dan Seolhyun muncul lalu duduk disampingnya. Ah, sebenarnya Sehun tidak tertidur, hanya saja kepalanya yang berdenyut membuatnya mau tidak mau memejamkan mata dan terlihat seperti orang tidur bagi teman-temannya. Efek kantuk dari obat yang ia telan sepertinya hanya sedikit bereaksi. Rasa pusing masih menderanya meskipun kini sedikit berkurang.
"Kau bicara dengan siapa?", tanya Sehun, memposisikan tubuhnya untuk duduk bersandar pada bantal.
"Huh? Kapan?" Seolhyun balik bertanya. Sangat berharap jika Sehun tidak mendengar apapun mengenai tadi, termasuk dirinya yang keceplosan berteriak.
Unit apartment ini lumayan kecil. Tidak ada peredam suara dan jarak per ruangannya tidak terlalu jauh. Termasuk jarak satu kamar yang saat ini Sehun tempati dengan pintu utama. Sebenarnya Sehun bisa membeli apartment yang lebih layak untuk berkumpul dengan sahabatnya, tetapi ia sudah terlanjur nyaman di tempat ini, begitu pula Jongin dan Chanyeol.
"Barusan. Kau terdengar seperti berteriak dan-"
"Ah itu!" Seolhyun menyela. "A-aku bicara dengan Jongin. Aku berbicara dengannya tapi dia memakai headset. Yah, tentu aku marah dan tidak sadar berteriak. Maaf, mengganggu tidurmu."
Sehun mengangguk paham. Ia tidak bertanya lebih jauh membuat Seolhyun bernafas lega. 'Jangan sampai Sehun tahu kalau gadis jalang itu kemari!', ucapnya dalam hati. Ia hanya tidak mau Sehun memikirkan gadis itu.
Egois? Seolhyun tidak perduli. Sudah cukup ia berpura-pura menjadi teman siaga bagi Sehun, tatkala hatinya berbohong dan berteriak memintanya untuk jujur pada perasaannya untuk Sehun yang menganggapnya lebih dari teman biasa.
Memangnya siapa yang tahan hanya berteman dengan Oh Sehun? Apalagi lelaki itu terkenal dengan 'bakat'-nya membuat wanita menjerit keenakan. Seolhyun tidak akan sabar menunggu waktu tiba kepada dirinya. dengan senang hati, Seolhyun akan menyerahkan tubuhnya hingga pingsan sekalipun.
"Hmm."
"Tunggulah disini. Aku akan mengambilkan bubur untukmu."
Seolhyun kembali pergi, dalam hati bersyukur karena Sehun tidak bertanya lebih jauh lagi. Sehun juga kembali menyamankan tubuhnya, membiarkan kepalanya tidak beralaskan bantal bermaksud untuk mengurangi pusingnya.
Sehun memejamkan mata sejenak, sebelum mata tajamnya kembali terbuka sepersekian detik berikutnya. Berterimakasihlah pada otak Sehun yang masih bisa berfungsi di samping rasa pusing yang menyebalkan. Karena saat Sehun melihat sesuatu yang tidak asing dimatanya, ia langsung menatap sesuatu itu.
Kunci mobilku?
Dan Sehun hanya merasa pusing, bukan amnesia yang membuatnya lupa kenyataan bahwa itu memang kunci mobil kesayangannya dan ia tidak membawa mobil hari ini. Tentu ia masih ingat bahwa Luhanlah yang menyetir mobilnya tadi pagi, dan setelah itu pergi dengan membawa mobilnya pula.
Lalu kenapa sekarang ada di atas meja?
"Apa gadis itu datang kemari?", gumam Sehun, lalu tanpa sadar mengelus puncak kepalanya seolah ingin memastikan sesuatu yang penting.
"Kurasa tidak.", imbuhnya, masih tidak sadar dengan kelakuan bodoh yang ia lakukan. Mencoba memastikan bahwa tidak ada sentuhan tangan hangat Luhan yang ia dapat siang ini seperti tadi malam.
Sehun mengendikkan bahu. Ia tidak ambil pusing dengan kunci mobilnya karena kepalanya memang sudah pusing sejak awal. Ia tidak mau menambah beban pikiran pada otaknya oleh sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.
…
ARGGHH! Kau bodoh, Xi Luhan!
Kepalanya menjadi sasaran pukulan tangannya sendiri. Sakit? Tentu saja tidak. Luhan tidak mungkin menyakiti dirinya sendiri dan membuat kepalanya berdarah. Bisa panjang urusannya jika Luhan tiba-tiba pingsan dan tidak ada satupun yang mengenal dirinya.
Masih ingat dengan phobianya terhadap darah, bukan?
Luhan baru saja turun dari bis umum. Beruntung ia masih membawa beberapa lembar won di dalam saku celana, sebab dompetnya tertinggal di mobil Sehun. Untuk kali ini saja, Luhan ingin mangkir dari pekerjaannya mengikuti Sehun. Toh, pihak yang diikuti juga tidak berada dalam jangkauan matanya.
Sebenarnya ia tidak yakin kemana tujuannya, tetapi ia memilih berjalan-jalan saja, hitung-hitung, mengingat kembali kenangan menyenangkan yang pernah dialaminya di Seoul.
Hanya kenangan menyenangkan, sedangkan ia berusaha menendang jauh memori menyakitkan yang juga pernah dialaminya.
Luhan menduduki sebuah bangku panjang dengan suasana sekitarnya yang cukup sepi. Dedaunan mulai menguning dan beberapa diantaranya berjatuhan, menandakan jika musim gugur akan datang tidak lama lagi. Naungan sebuah pohon besar membuat Luhan tidak merasakan sengatan panas dikulitnya. Ia merogoh headset di saku kemejanya dan memakaikan kabel berwarna putih itu di kedua daun telinganya. Sebuah keberuntungan ketika Luhan tidak lupa mengikutsertakan headset kemanapun ia pergi. Sebuah kebiasaan yang ia lakukan selama mengekori Sehun, bagaimanapun, ia akan bosan tanpa melakukan apapun dan mendengarkan musik adalah salah satu solusinya.
Dan kini, lagu dari Zion.T berjudul The Song mengalun dari ponselnya.
"LEPASKAN AKU!"
Luhan tersentak. Mata rusanya terbuka lebar dan ia menolehkan kepalanya kesana kemari, mencari asal suara perempuan yang terdengar oleh telinganya. Matanya menajam, memfokuskan pandangannya pada dua orang lelaki dan seorang perempuan yang lokasinya cukup jauh dari tempat Luhan. Alhasil Luhan tidak bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan disana.
"Apa dia yang barusan berteriak?", tanya Luhan pada dirinya sendiri. Ia melepaskan sebelah headsetnya dan memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Lepas atau aku akan berteriak!"
Oh shit! Luhan tidak salah dengar. Itu memang suara perempuan dan mendengar kalimatnya, Luhan tahu perempuan itu sedang dalam bahaya. Tapi, dimana asal suara itu?
Insting tajamnya membuat Luhan bergegas menghampiri dua lelaki dan satu perempuan yang sempat dilihatnya tadi. Ia tidak ingin berprasangka buruk, tapi insting setajam hewan buas miliknya tidak pernah salah.
Memang perempuan itu yang berteriak. Tengah berusaha mempertahankan tasnya yang ditarik oleh salah satu lelaki yang bersamanya.
"HEY BRENGSEK! LEPASKAN GADIS ITU!"
Luhan tahu ini menggelikan. Tapi ia tidak bisa menghentikan langkahnya untuk menghampiri mereka. Ia kini tak ubahnya seorang pahlawan yang datang karena ada seseorang yang meminta pertolongan. Namun bedanya, ia adalah perempuan yang tidak perlu di elu-elukan dan perbedaan yang paling terlihat adalah ketika respon dua lelaki itu. Justru tertawa dan tidak takut sama sekali.
"Siapa kau? Mau berusaha menjadi pahlawan, huh?", tanya salah seorang lelaki itu dengan tingkah sombongnya.
"Ahjussi! Cepat kembalikan tas Nona ini!"
"Huh? Bahasa Koreamu sangat aneh. Apa kau seorang imigran gelap? Haha!"
"Ck! Berhenti mengulur waktu! Cepat berikan atau aku akan…"
"Akan apa? Akan menendang selangkanganku dengan tulang kecilmu itu? Haha!"
Sejenis tawa yang memuakkan. Luhan berdecih sebelum ia menangkap basah salah satu lelaki itu mengambil dompet dari tas gadis tadi dengan diam-diam.
"JAUHKAN TANGANMU DARI TAS ITU, KEPARAT!"
"Aku tidak melakukan apapu-"
BUGH!
"AKH!"
"KAU FIKIR AKU TIDAK PUNYA MATA, HUH?!"
Luhan mengayunkan kepalan tangannya tepat di rahang si lelaki. Kepalan tangannya memang sekecil batu sungai, namun kekuatannya sekeras batu karang, berhasil membuat darah segar mengalir di sudut bibir si lelaki, dan mungkin menyebabkan rahangnya sedikit bergeser.
Kejadian itu hanya berlalu sekian detik. Teman si lelaki masih terbengong, mengetahui temannya tersungkur di atas tanah kering dan mengaduh kesakitan. Detik itu pula, Luhan meraih tangan gadis yang menjadi korban dan melarikan diri sejauh mungkin dari dua lelaki itu.
Setelah cukup jauh, Luhan dan gadis itu berhenti. Nafas mereka terengah-engah, tapi setidaknya bisa sedikit bernafas lega karena sekitarnya sudah cukup ramai. Dua lelaki itu tidak akan menyerangnya di tempat keramaian kan?
"Kau baik?", tanya Luhan pada si gadis. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana dengan isi tasmu?", tanya Luhan lagi.
Gadis itu lalu membuka tasnya dan mengaduk isinya. Semuanya lengkap, tidak ada satupun yang dibawa oleh para lelaki itu.
"Para lelaki itu belum mengambil barangku."
"Syukurlah." Setidaknya Luhan tidak perlu mendatangi lelaki itu agar mengembalikan apa yang dicurinya. Luhan tidak ingin berurusan lebih jauh dengan penjahat dan sejenisnya. Well, dia disini bukan untuk menghajar penjahat dan berakhir di kantor polisi untuk dimintai keterangan, oke?
"Terima kasih banyak, Eonni. Ugh! Aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada Eonni. Mungkin aku akan menangis selama seminggu untuk meratapi tugas akhirku yang kandas di dalam laptop ini.", ucap gadis itu dengan mata sipitnya yang berbinar lucu. Matanya terlihat seperti puppy dan Luhan menyukainya. Ia sebenarnya cukup bosan dengan mata rusanya.
Well, jangan dihiraukan pikiran bodoh Luhan.
"Jangan berlebihan. Aku hanya kebetulan melihatmu di ganggu lelaki itu."
"Tapi tetap saja Eonni penyelamatku!" Gadis itu berseru nyaring, membuat Luhan terkejut dengan suaranya yang melengking. Pantas saja, teriakannya tadi terdengar jelas oleh Luhan meskipun telinga Luhan tersumpal headset.
"O-oke. Sama-sama kalau begitu."
"Ngomong-ngomong, siapa nama Eonni? Namaku Baekhyun, Byun Baekhyun."
Si gadis bernama Baekhyun itu mengulurkan tangannya dan Luhan membalasnya beberapa detik kemudian. "Luhan."
"Eonni bukan orang Korea ya?"
Darimana dia bisa tahu? "Ya. Aku orang China."
Baekhyun menganggukkan kepalanya berulang kali. "Pantas saja. Aksen bicara Eonni sedikit aneh. Hihi,"
"A-ah benarkah?" Luhan menggaruk tengkuknya malu. Apa terlihat jelas bahwa dirinya bukan orang Korea? Toh, memang benar sih.
"Dan aku sangat penasaran, bagaimana caranya Eonni bisa membuat pria itu ambruk dengan satu kali pukulan?"
"Aku pernah berlatih Taekwondo. Jadi, aku sedikit menggunakannya tadi."
Sebenarnya bukan hanya 'pernah', tapi juga sudah cukup ahli di bidang seni bela diri itu.
"Whooaa!" Gadis itu berdecak kagum. Hal yang selalu Luhan dapatkan saat menolong gadis-gadis kesusahan saat di Beijing. Luhan hanya memberi senyuman paksanya. Well, dia tidak suka mendapat reaksi seperti itu. Terlalu berlebihan, katanya.
"Eonni, karena Eonni telah menyelamatkan hidupku dan tugas skripsiku, sekarang aku akan menraktir Eonni. Eonni belum pernah mencoba patbingsu di seberang jalan kan?"
"A-ah, tidak perlu. Aku tulus menolong, kok!", tolak Luhan merasa tidak enak, toh dia hanya sedikit menolong gadis itu hanya karena tidak sengaja. Tapi sepertinya Luhan tidak memiliki pilihan lain, sebab gadis itu sudah menyeret lengannya untuk berjalan menuju tempat yang gadis itu inginkan.
"No no! Aku tidak menerima penolakan!" Baekhyun dengan keras memaksa. Oh, sepertinya gadis itu memiliki tingkat kekeraskepalaan yang akut. Alhasil Luhan hanya pasrah saat di seret, tanpa tahu bagaimana cara menolaknya.
"O-oke."
…
Luhan pulang saat hari sudah gelap. Ia mengucapkan terima kasih pada Baekhyun yang mengantarnya pulang dengan mengendarai mobil. Awalnya Luhan menolak, tapi lagi-lagi ia tidak memiliki pilihan saat Baekhyun memaksa dengan menunjukkan puppy eyes-nya yang Luhan sukai. Seharian penuh mereka menghabiskan waktu di kedai patbingsu, menghabiskan bermangkuk-mangkuk makanan dingin yang serta merta menjadi menu favorit Luhan itu. Bercerita apapun seolah mereka saling mengenal, meskipun sebenarnya tidak sedekat itu.
Tapi anehnya Luhan tidak keberatan sedikitpun. Ia merasa nyaman berbincang dengan Baekhyun yang memang memiliki sifat ramah dan mudah bergaul. Dan satu hal lagi, ternyata ia dan Baekhyun memiliki nasib yang sama.
Aku tidak punya banyak teman. Mereka hanya datang saat membutuhkanku. Kekasihku-pun terlalu sibuk dengan teman-temannya hingga tidak bisa menemaniku yang suntuk oleh tugas akhir. Terima kasih Eonni telah menemaniku.
Sama-sama tidak memiliki banyak teman. Cuma bedanya, Luhan tidak memiliki kekasih. Itu saja.
Luhan memasuki kediaman keluarga Oh yang terlihat sepi. Apa aku pulang terlalu larut?, gumam Luhan dalam hati. Ia lalu melewati ruang tengah, menemukan Sehun duduk di sofa menghadap layar TV.
"Darimana saja kau?", tanya lelaki itu membuat Luhan tersentak.
"Bukan urusanmu.", jawabnya singkat.
"Dasar pemakan gaji buta!"
"Aku belum makan dan siapa yang menyuruhku 'libur' hari ini?"
"Aku tidak menyuruhmu."
"Menyuruh teman-temanmu, lebih tepatnya."
"Apa yang kau bicarakan?"
Luhan mendengus. Memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke kamarnya di lantai atas. Sebenarnya tangannya gatal untuk mengecek suhu tubuh Sehun, tapi melihat lelaki itu yang terlihat baik-baik saja, Luhan akhirnya tidak perduli.
"Istirahatlah. Kau perlu tidur yang cukup untuk kembali berkuliah besok.", ucap Luhan dengan suara sedikit keras agar Sehun bisa mendengarnya.
"Aku tidak kuliah besok."
Langkah Luhan kontan berhenti. Ia berbalik namun tetap berdiri di anak tangga ketiga.
"Tetap saja kau harus tidur untuk mengembalikan kondisi tubuhmu."
"Aku sudah tidak sakit."
Luhan mengangkat alisnya bingung. "Lalu kenapa kau bilang membolos?"
"Aku tidak bilang kalau aku membolos karena sakit."
"Apa kau bilang?" Dengan langkah lebar, Luhan menghampiri Sehun. Hal yang sudah ditebak oleh Sehun jika gadis itu pasti tidak akan membiarkannya membolos.
"Aku ingin bolos besok. Bolos dari kuliah dan aktivitas menjenuhkan lainnya. Aku ingin berlibur."
"Apa?!" Mata rusa Luhan membola. "Oh Sehun-ssi, kau ingat dengan kesepakatan kita, kan?" Sehun mengangguk dan Luhan berdecak. "Lalu kenapa kau malah memperpanjang masa aktif-ku disini?
"Steffy sudah mengizinkanku berlibur selama lima hari."
Luhan menaikkan sebelah alisnya. "Semudah itu?"
"Yeah, mungkin dia merasa bersalah karena membuatku harus dipaksa olehmu setiap hari." Luhan memutar bola mata mendengar sindiran Sehun. "Meskipun dengan satu syarat, yaitu mengajakmu. Ck! Lalu apa bedanya aku disini dan berlibur jika tetap diekori olehmu?"
"Mengajakku?" Awalnya Luhan kebingungan, namun tidak lama ia mengangguk mengerti. "Ah tentu saja! Steffy eonni tidak akan membiarkanmu libur seperti yang kau pikirkan. Berlibur dengan wanita-wanita seksi, misalnya?"
"Aku tidak berfikir seperti itu."
"Wajah mesummu sudah menjelaskan semuanya.", ucap Luhan tidak perduli. "Dan, kapan kita akan berangkat?"
"Kita? Cih, berani sekali kau menyebut kita? Kau bahkan bukan siapa-siapaku!"
Luhan kembali memutar bola matanya. Tidak habis fikir mengapa Sehun selalu mempermasalahkan soal kecil yang bahkan tidak Luhan sengaja. "Ya ya ya. Maaf. Jadi intinya kapan Eonni memberimu waktu berlibur?"
"Besok."
"Besok? Kemana?"
"Pulau Jeju."
"Jeju?! Kau gila? Bahkan kau belum sembuh benar dan juga belum membeli tiket pesawat dan-"
"Steffy sudah menyiapkan semuanya.", potong Sehun sebelum mendesah kesal. "Dan dia bersemangat memesan tiket pesawat hanya karena aku memenuhi syaratnya untuk mengajakmu, meskipun tanpa bertanya aku sudah sembuh atau belum."
"Makanya kau harus jadi anak yang baik." Sehun mendelik dan Luhan tertawa lepas. Beberapa saat kemudian, Luhan menghampiri Sehun dan mengecek kening lelaki itu dengan punggung tangannya. Refleks Sehun berjengit, tidak menyangka bahwa Luhan kembali menyentuh dahinya.
Dan seperti sebelum-sebelumnya, niat untuk menghempaskan tangan –yang sebenarnya menurut Sehun tidak sopan- itu tidak ada sama sekali. Sehun justru menikmati tangan lembut dan nyaman itu meski sedikit dingin.
"Sepertinya demammu benar-benar sembuh. Teman-temanmu memang merawatmu lebih baik."
Sehun tanpa sadar mengerang saat Luhan melepaskan sentuhannya. Beruntung, ekspresi datarnya mampu menjadi penyelamat.
"Minggir! Aku mau ke kamar!"
"Haruskah aku membawa banyak pakaian?"
"Terserah.", tukas Sehun singkat, lalu melangkah menuju kamarnya di lantai atas yang berhadapan dengan kamar Luhan. Luhan-pun mengekorinya tanpa bicara lebih banyak. Dalam hati ia tersenyum lega, Sehun memang benar-benar sudah sembuh.
"Yak! Oh Sehun!", panggil Luhan sebelum benar-benar masuk ke kamarnya. Sehun hanya menoleh, menunggu gadis itu agar bicara. "Kau akan mati jika membohongiku."
Sehun berdecak kesal lalu masuk kamarnya tanpa mengucap apapun.
Hell, mau bohong atau tidak, mana mungkin gadis itu bisa membunuh dengan lengan kecil itu?
Itulah yang Sehun pikirkan.
…
Ternyata, Oh Sehun sama sekali tidak berbohong. Pagi itu Luhan baru saja menuntaskan mimpinya, sampai tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak terbuka dan Steffy masuk dengan ketukan heels yang menggema.
"Luhan-ah,", panggil Steffy dengan suara tertahan. Jujur saja, ia tidak tega membangunkan Luhan yang masih tertidur pulas. Bahkan kamarnya masih gelap sebelum Steffy menyalakan lampu.
Tak lama, Luhan terbangun. Ia mengucek matanya sebentar dan terkejut melihat Steffy sudah duduk di sisi ranjangnya. "Eonni?" -dan ia juga langsung terduduk.
"Maaf Lu, Eonni harus membangunkanmu. Tapi kau harus segera bersiap-siap."
Huh? Bersiap-siap? Luhan menggaruk kepalanya linglung. Apa dia melupakan sesuatu? Apa kemarin ia dan Steffy membuat janji? Tapi sepertinya tidak.
"Pesawatnya akan take off jam delapan. Kita harus segera ke Airport."
Huh? Airport? Luhan masih berusaha mengingat, sampai kemudian satu ingatan muncul dan seketika membuat matanya melotot.
"E-eonni, jadi liburan itu benar?", tanya Luhan tidak percaya. Ah, tidak. Sebenarnya ia percaya dengan ucapan Sehun tadi malam, tetapi ia tidak tahu jika jadwal keberangkatannya akan sepagi ini.
"Tentu, Sehun terus memaksaku kemarin. Aku tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya, dan tentunya dengan syarat kau harus ikut. Yeah, setidaknya bocah itu mulai ada kemajuan untuk belajar karenamu."
"Lalu, Eonni tidak ikut?"
Steffy terkekeh dan menggeleng. "Aku seorang wanita sibuk, Luhan-ah. Aku tidak mungkin meninggalkan kesibukanku hanya karena bocah itu meminta."
Luhan mengangguk paham dan melirik jam weker berbentuk kepala rusa di sampingnya. Tunggu! Tadi Steffy mengatakan pesawatnya akan berangkat jam 8, dan sekarang sudah pukul enam lebih tujuh belas menit. Bukankah itu berarti waktunya kurang dari dua jam lagi?
"Celaka! Kita akan terlambat, Eonni!", seru Luhan, mulai bangkit dari tempat tidurnya dan menyambar handuk di dalam lemari.
"Aaah kenapa Eonni tidak membangunkanku dari tadi?"
Steffy tertawa kecil melihat tingkah Luhan yang sangat menggemaskan. Siapa sangka dibalik tingkah dan wajahnya yang polos, ia menyimpan sebuah kekuatan yang mampu meretakkan tulang? "Sekarang, bersiap-siaplah. Eonni akan mengintip bocah itu sebentar."
"Heum!"
"Kau sudah menyiapkan barangmu, kan?"
Untungnya, sudah. Tadi malam Luhan sudah menyiapkan barang yang perlu ia bawa selama di Pulau Jeju. Walaupun jumlahnya hanya sedikit dan ia masukkan ke dalam ransel biru tuanya.
Luhan mengangguk dan berhambur memasuki kamar mandi dalam kamarnya.
Steffy yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Benar-benar terhibur dengan keberadaan Luhan.
Lebih tepatnya, keberadaan seorang adik perempuan yang ia harapkan bisa menjadi adiknya selamanya.
…
Suasana bandara ramai seperti biasanya. Banyak orang berlalu lalang dan sibuk dengan dunia masing-masing. Mungkin diantara lautan manusia itu, hanya Luhan yang tidak menemukan suatu kesibukan yang berarti selain menggigiti ujung kuku jemarinya.
Gadis itu tampil casual di perjalanannya kali ini. Celana pendek selutut, sepatu converse, dan sweater tipis berwarna coklat kopi yang sempat menjadi bahan ejekan Sehun. Hanya manusia aneh yang menggunakan sweater di musim panas seperti sekarang- menurut Sehun-, meskipun bahan sweater itu cukup tipis. Bicara tentang Sehun, lelaki itu juga berpenampilan tak kalah casual. Kemeja putih lengan panjang semi transparan yang sengaja ia buka tiga kancing teratasnya, riped jeans, topi hitam, dan jangan lupakan kacamata hitam yang menambah kesan cool dari dirinya. Walaupun kacamata hitamnya menjadi sasaran Luhan balas dendam, dengan mengatakan bahwa ia mirip dengan orang buta.
"Ingat, Oh Sehun, jangan sampai kau melakukan hal-hal buruk pada Luhan. Aku sudah memesan kamar di salah satu resort untuk kalian masing-masing. Ah ya, jangan membawa wanita malam ke dalam kamar karena aku tidak akan segan untuk mengatakannya pada Ayah!", titah Steffy kepada adik lelakinya. Tidak perduli dimana ia mengomel saat ini, diantara ratusan orang yang memadati bandara. Siapa perduli? Toh orang-orang itu tidak akan perduli dengan omelan Steffy.
Sama seperti Sehun yang memutar bola mata malas. "Ya, ya, ya.", sahutnya tidak perduli.
"Sepertinya aku harus pergi. Luhan, kau bisa jaga diri, kan?", ucap Steffy setelah melihat jarum jam tangannya. Ia ada janji dengan pelanggannya pagi hari ini.
"Hm. Pergilah, Eonni. Aku akan baik-baik saja."
"Arasseo." Tatapan Steffy berubah menegas saat menatap Sehun. "Kau sudah janji, Oh Sehun."
Sehun hanya mengendikkan bahu. Benar-benar jengah dengan perilaku sang kakak yang selalu menganggapnya sebagai bocah nakal yang perlu di bina.
"Sana, pergi!", usir Sehun, seketika mendapat delikan tajam dari Steffy dan ditambah sikutan keras di pinggangnya –Luhan pelakunya. Sehun mengabaikan delikan Steffy dan justru fokus pada pinggangnya yang sedikit nyeri. Ternyata siku gadis itu tajam juga.
"Dah~"
Steffy beranjak pergi sementara Luhan melambaikan tangan. Begitu Steffy menghilang ditelan ratusan manusia, Luhan beralih menatap tajam Sehun dengan mata rusanya.
"Apa?", tanya Sehun ketus.
"Bisa tidak kau lebih sopan pada Steffy Eonni. Dia kakak kandungmu kalau kau lupa!"
Sehun berdecak. "Memangnya kau tahu dia kakak kandungku? Bisa saja ayah dan ibuku menemukannya di depan teras dan memungutnya."
"Yak!" Tanpa ragu Luhan memberikan sikutan di pinggang Sehun untuk kedua kalinya.
"Ouch!" –yang membuat Sehun kembali mendelik. Tidak terima dengan perlakuan Luhan yang super menyebalkan. Ugh! Kalau begini caranya, kalaupun ia terlepas dari perilaku semena-mena Steffy, tetap saja ia mendapatkan siksaan di tubuhnya.
"Berhenti bicara sembarangan! Sudah waktunya kita takeoff!" Luhan berjalan meninggalkan Sehun yang mengumpat di belakang. Baru dua langkah, Luhan berbalik. "Toh kalaupun Steffy Eonni bukan kakak kandungmu, aku lebih percaya jika kau-lah yang ditemukan oleh paman Oh di depan teras dan dipungut. Sifatmu benar-benar berbeda dari mereka!"
"Yak!"
...
Luhan terbangun saat angin pantai membuka tirainya dengan begitu kencang. Ia mendudukkan tubuh, mengernyit sebelum menyalakan ponsel untuk melihat pukul berapa sekarang.
Pukul dua belas siang.
Luhan menguap lebar dan menjatuhkan kembali tubuhnya. Dia tertidur nyaris dua jam sejak ia mendarat di pulau Jeju dengan selamat dan langsung ke resort. Phobianya pada ketinggian rupanya masih berpengaruh besar, tubuhnya menjadi lemas setelah mendarat dengan sempurna di bandara. Karena itu, ia langsung masuk ke kamarnya dan mengabaikan Sehun yang tentunya senang bukan main karena Luhan tidak lagi mengekori liburannya. Luhan tidak masalah, toh, ia bisa kembali mengawasi Sehun setelah phobianya membaik.
Lagi-lagi Luhan menyalakan ponselnya. Ia tidak menemukan pesan ataupun panggilan dari Sehun. Ia memang sempat memberitahu Sehun untuk menghubunginya jika memerlukan sesuatu. Dan tentu saja, Sehun tidak membutuhkan Luhan. Alhasil kali ini Luhan berinisiatif untuk menghubungi Sehun terlebih dahulu dan mengetahui dimana lelaki itu sekarang.
"Neo eodiga?", tanya Luhan begitu sambungannya terhubung.
Terdengar suara decakan kesal di seberang telepon. "Bukan urusanmu."
"Tentu urusanku karena kau adalah tanggungjawabku saat ini."
"Aku tidak perlu dipertanggungjawabkan."
"Ayolah, Sehun-ssi..." Luhan berpura-pura memohon. "Mari kita bekerja sama. Aku janji tidak akan mengganggu liburanmu. Aku hanya ingin tahu dimana kau sekarang. Aku yakin kau tidak akan beristirahat terlebih dulu sepertiku."
"Kau serius tidak akan menggangguku?"
"Tergantung, sih. Kalau kau berniat berpesta alkohol dengan wanita berbikini, maka aku akan menyeretmu pulang."
"Seperti bisa menyeretku saja."
"Oh, ayolah. Itu tidak penting. Jadi, sekarang kau dimana?"
"Pantai."
"Pantai?" Luhan menghambur ke jendela besar yang langsung menyuguhkan pantai dengan keindahan pasir putih yang halus dan ombak kecil. Pantai sepi yang sangat cocok untuk berjemur atau sekedar bermain air asin.
Lagi-lagi Luhan tidak kuasa menghitung berapa banyak uang yang Steffy keluarkan untuk mem-booking resort mewah pinggir pantai ini.
"Maksudmu di dekat resort kita?"
"Entahlah."
KLIK!
"Ya! Oh Sehun!"
Telepon tertutup begitu saja. Luhan hanya mendecih malas, sudah hafal dengan kebiasaan Oh Sehun yang suka memutuskan sambungan telepon tiba-tiba.
Merenggangkan otot sejenak, Luhan lalu berlari kecil ke depan sebuah cermin besar untuk memperhatikan penampilannya. Lebih tepatnya, memperhatikan kuncir rambutnya yang tidak lagi rapi dan memperbaikinya dengan cepat.
Secepat kilat Luhan menyambar tas selempang kesayangannya, lalu melesat keluar kamar untuk menyusul Sehun sebelum lelaki itu berbuat bodoh dengan otak player-nya.
Dilain tempat, Sehun seolah menemukan kembali dunianya yang sempat dirampas oleh Luhan. Matanya teredar di sekitar tempat yang ia pijaki, bibirnya bersiul kecil menggoda wanita-wanita berbikini seksi yang kebetulan melintas didepannya. Pantai musim panas memang terbaik!
Sementara itu Sehun belum berniat memamerkan tubuhnya yang super menggoda, ia menutupi otot perutnya dengan kaus polo navy, tapi wajah rupawan nan panas miliknya membuat Sehun tetap menjadi bahan pembicaraan wanita-wanita berpakaian minim yang sempat melintas disekitar Sehun.
Bukannya Sehun melewatkan kesempatan, ia hanya sedikit butuh pemanasan untuk matanya yang cukup buram setelah melihat huruf-huruf di laptop dan buku penelitiannya. Baru setelah itu, ia akan menyeret salah satu wanita itu ke dalam kamar hotel yang berbeda dari tempat yang dipesan Steffy. Ia bisa memilih salah satu wanita itu untuk ia ajak menghabiskan waktu bersama atau dengan kata lain, one night stand.
Masa bodoh dengan Xi Luhan, gadis itu tidak akan bisa menemukannya-
"Ya! Oh Sehun!"
-tapi Sehun seratus persen salah.
Sehun menggeram dan mengumpati Luhan dalam hati. Ia sangat berterima kasih jika gadis itu akan tersapu ombak dari kejauhan dan tidak akan mendatangi Sehun untuk menghancurkan segala rencana Sehun untuk hari ini dan malam nanti. Tapi gerakan kecil langkah Luhan yang semakin mendekat telah memberitahu Sehun jika rencananya benar-benar hancur.
Sehun tidak bisa bersembunyi lagi. Padahal awalnya ia sudah berniat kabur sebelum Luhan kembali mengekorinya.
"Darimana kau tahu aku ada disini?"
Nafas Luhan masih terengah, namun Sehun tidak perduli dan memilih menyuarakan pertanyaan dalam kepalanya. Lagipula, Sehun memang cukup heran, darimana gadis itu tahu jika dirinya ada disini, sedangkan pantai ini berbeda dari pantai di depan resort mereka. Jaraknya-pun cukup jauh.
"Insting. Kau sedang di pantai, sedangkan pantai di resort kita sangat sepi. Insting-ku mengatakan bahwa kau lebih memilih pantai dengan ombak besar dan ramai oleh wanita-wanita berbikini daripada pantai yang sepi. Aku benar, kan?"
Seratus persen benar, dan Sehun membenci kenyataan itu. Kenapa insting gadis itu bisa sangat tepat?
"Dan aku sempat bertanya pada sopir taksi yang mengatakan bahwa pantai ini adalah surga dari para lelaki yang lapar sepertimu."
Sehun ingin membalas, namun ia tidak memiliki kosa kata untuk membalas mulut pedas dan tepat gadis mungil di depannya itu.
"Ngomong-ngomong, aneh melihatmu tidak melakukan apapun sementara wanita-wanita itu terus melihatmu."
Alis Sehun menukik. "Memangnya kau ingin aku melakukan apa?"
Luhan hanya mengendikkan bahu. Ia memandang sekitar dan begitu takjub dengan pemandangan pantai disekitarnya. Sial! Karena terlalu sibuk mencari Sehun, Luhan menjadi lupa jika ia menginjakkan kaki di pulau Jeju dan salah satu pantainya.
Mendadak senyum Luhan terbit saat sebuah ide melintas di kepalanya. Ia menatap Sehun dan pantai bergantian berulangkali, membuat Sehun sedikit jengah karena kelakuan Luhan mengganggu konsentrasinya menatap bokong besar wanita berkulit eksotis yang baru saja lewat.
"Oh Sehun-ssi..."
"Apa?", tanya Sehun ketus.
"Ayo berjalan-jalan!" Luhan merogoh isi tas selempangnya dan menemukan sebuah kamera digital berwarna putih. Ia mengayunkannya di depan wajah Sehun yang nampak datar, mungkin ia kembali menertawai nasibnya yang begitu sial.
Hey! Bukan itu yang dimaksud Sehun dengan 'liburan'. Bukan bermain, berjalan-jalan, ataupun berfoto seperti remaja belasan tahun yang mengikuti study tour.
Pandangan Sehun tentang liburan sebelum ia merengek kepada Steffy luntur seketika. Ia tidak mungkin mendapatkan liburan yang berkualitas –alkohol, musik DJ, dan wanita seksi- jika Luhan terus mengganggu dengan berada disampingnya.
"Kau bisa mendapatkan udara segar untuk me-refresh pikiranmu."
"Aku tidak tertarik!"
"Terkadang liburan menyenangkan itu tidak hanya diisi dengan pesta atau wanita berbikini."
Sebelah alis Sehun menukik -lagi.
Tetapi ia tidak bisa menolak saat Luhan menarik tangannya dan berlari kecil diatas pasir laut yang lembut. "Ayo!"
Tangan mungil dan hangat itu... Sehun kembali terperdaya olehnya.
"Aku mendapatkan peta pulau Jeju dari sopir taksi tadi." Luhan menunjukkan lembaran kertas dengan gambar peta lokasi-lokasi bagus untuk dikunjungi turis. "Kita harus mulai dari tempat yang paling dekat. Ayo!"
Dan celotehan Luhan terdengar buram di telinga Sehun. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan mengutuk langkah kakinya yang berjalan searah dengan kaki kecil Luhan.
Mengapa ia harus mengikuti keinginan gadis itu?
...
Matahari mulai menyelesaikan tugasnya di hari ini. Goresan oranye mulai terbentuk di langit, angin sore semakin kencang dan pantai berombak kecil itu semakin sepi.
"Hah! Melelahkan!", keluh Sehun sembari mendudukkan tubuhnya di atas pasir yang halus dan kering. Ucapannya sedikit berbeda dengan keadaan sebenarnya. Ia jauh merasa bosan daripada lelah.
Bosan karena ia tidak henti diseret oleh Luhan ke tempat-tempat yang tidak membuat Sehun tertarik. Sudah kubilang kan, jika hal yang Sehun sukai bukan berkunjung ke spot terbaik di Jeju, walaupun keindahan alam pulau itu tidak bisa dianggap remeh.
"Tapi menyenangkan, kan?" Luhan ikut bergabung untuk duduk di atas pasir. Gadis mungil itu iseng mengubur kakinya dengan pasir lalu menggoyangkannya hingga kakinya kembali bersih. Sebuah tingkah yang membuatnya mirip gadis kecil di mata Sehun yang melirik diam-diam.
"Menyenangkan pantatmu! –ouch!"
"Berhenti bicara jorok, Oh Sehun-ssi!"
Sehun berdecak tidak habis fikir. Sejak kapan kata umpatan berubah menjadi omongan jorok?
"Apa kau sungguh tidak senang?", tanya Luhan menggigit bibirnya. Bahunya melunglai dan ia mengalihkan pandangannya pada deburan ombak kecil. Hal yang membuat alis Sehun naik sebelah.
"Kesenangan versiku dan versimu berbeda. Aku menyukai kesenangan yang dewasa, sedangkan kau-" Sehun memberi pandangan remeh. "-lebih seperti bocah kecil yang berlibur. Kekanakan."
"Apa?!" Luhan tidak bisa untuk tidak menunjukkan wajah sengitnya. Padahal ia kira Sehun telah berubah menjadi sedikit normal, tetapi Oh Sehun tetaplah Oh Sehun dengan mulut menyebalkan dan tidak tahu aturan. "Kau-"
"Sehun-ah!"
Luhan mengurungkan segala niatannya untuk membalas ucapan Sehun. Pandangannya dan Sehun serempak beralih ke arah kiri, dimana dua tubuh menjulang berdiri di sana dan salah satunya melambaikan tangan.
Bahu Luhan kembali melemas saat ia tahu siapa pemilik tubuh itu. Ah, pasti setelah ini pekerjaan-nya akan semakin berat.
Sehun and the gang. Pasti sulit menghentikan rencana mereka untuk melakukan kesenangan yang dimaksud Sehun. Mereka pasti akan membela Sehun bagaimanapun caranya. Dan Luhan akan kalah telak jika harus berdebat melawan mereka.
"Ah, kalian sudah datang?", ucap Sehun dengan ekspresi yang seolah berkata 'selamatkan-aku-dari-liburan-menyebalkan-ini' kepada teman-temannya.
"Kenapa kalian lama sekali? Membuatku harus mengikuti keinginan gadis ini untuk berjalan-jalan. Benar-benar melelahkan."
Ketiga manusia itu kompak menoleh ke Luhan. Gadis itu tidak membuka mulut, memilih bungkam dengan otak yang berfikir keras untuk mencari cara agar ketakutannya tidak terjadi.
"Kenapa dia ikut?" Telunjuk Jongin mengarah pada wajah Luhan yang langsung Luhan tepis. Sangat tidak sopan.
Sehun hanya mengendikkan bahu. "Kau tahu alasannya."
"Pasti Steffy Eonni yang menyuruhnya." Tatapan Seolhyun kepada Luhan tidak pernah berubah. Selalu ada kilatan marah pada mata bergores eyeliner itu. Dan Luhan bukannya tidak memahami arti tatapan itu, ia hanya berusaha tidak perduli dengan Seolhyun ataupun ucapan pedas yang pernah gadis itu lontarkan.
Luhan cukup menyembunyikan sakit hatinya.
"Itu benar. Ngomong-ngomong, dimana Chanyeol?", tanya Sehun, menyadari jika satu sahabatnya lagi tidak ada batang hidungnya. Chanyeol tidak mungkin absen karena Sehun telah membelikan tiket pesawat untuk tiga orang, secara diam-diam tentu saja.
"Baekhyun tahu tentang rencana ini dan dia memaksa ikut. Kurasa karena perempuan cerewet itu tidak ingin Chanyeol menghabiskan waktu dengan wanita berbikini seksi. Alhasil Chanyeol harus membatalkan tiket pesawatmu agar bisa satu tempat duduk bersama kekasih hatinya.", jelas Jongin panjang lebar –dengan sedikit dongkol karena iri-. Tidak lama kemudian, lelaki berkulit eksotis itu lalu tersenyum lebar saat matanya menangkap pandangan tubuh menjulang Chanyeol dan seorang perempuan bertubuh mungil disampingnya.
"Ah, itu dia!"
Semuanya kompak menoleh ke arah yang dilihat Jongin. Tampak seorang lelaki bertubuh menjulang tengah berjalan bersama gadis cantik nan mungil berkacamata disampingnya. Mereka tampak serasi meskipun tinggi badan cukup kontras.
Lainnya fokus pada kedatangan Chanyeol, namun Luhan justru salah fokus pada gadis disamping Chanyeol yang diduga sebagai kekasihnya. Ingatan Luhan sangat baik, terbukti saat gadis mungil tadi datang, ia langsung tersenyum lebar nan ramah.
"Baekhyun!"
"Hoah! Luhan Eonni!" Baekhyun bersorak heboh. Mungkin merasa senang bukan main karena ia tidak harus berdiam diri di tengah Chanyeol dan kedua sahabat lelakinya. Ada seseorang yang ia kenali dengan baik.
"Kau mengenalnya, sayang?", tanya Chanyeol sembari berbisik. Ia melirik Luhan dan Baekhyun dengan pandangan heran. Bagaimana keduanya bisa saling mengenal?
Baekhyun mengangguk semangat. "Kau ingat kan kemarin aku bercerita tentang diriku yang nyaris dirampok? Luhan Eonni-lah yang menolongku!"
"Menolongmu?" Chanyeol melirik Luhan lagi, kali ini dengan pandangan tidak percaya. Apa benar gadis mungil itu yang menolong kekasihnya dari perampok? Kenapa sulit dipercaya?
"Kau yakin tubuh sekurus itu bisa menolongmu dari perampok?" Rupanya tidak hanya Chanyeol yang heran, namun juga Jongin, atau mungkin Sehun yang hanya terdiam.
"Ugh! Aku yakin! Buktinya Luhan Eonni langsung mengingatku. Kami juga telah menghabiskan waktu dengan memakan bermangkuk-mangkuk patbingsu setelah kejadian itu. Benar kan, Eonni?"
Luhan hanya mengangguk kikuk. Ia tidak menyangka rahasianya akan terbongkar begitu saja. Setelah ini ia yakin, ketiga lelaki itu ataupun Seolhyun pasti akan memandangnya dengan cara berbeda.
"Mungkin saja itu keberuntungan." Akhirnya Sehun bersuara. Rupanya ia tidak terlalu memikirkan bagaimana bisa gadis mungil bernama Xi Luhan itu mampu melawan perampok.
"Entahlah." Sesaat kemudian Baekhyun melebarkan pupil matanya saat ia mengingat sesuatu. "Eonni, kenapa kau bisa berada disini dengan mereka?"
"Ah, sial!", gumam Luhan tanpa sadar. Padahal rencananya ia tidak ingin bercerita apapun yang berhubungan dengan Sehun, namun sepertinya ia harus jujur pada Baekhyun. "Aku... ah, bagaimana cara menjelaskannya?"
"Tenang eonni, kita masih punya banyak waktu. Bagaimana kalau sambil meminum orange juice?"
"B-boleh. Tapi..." –tapi aku memiliki tugas lain untuk mengawasi Oh Sehun and the gang.
"Chanyeol dan kalian harus ikut. Aku yang traktir!"
Oh, sepertinya keberadaan Luhan dan Baekhyun yang memiliki pola pikir sejenis akan membuat liburan menyenangkan yang direncanakan matang-matang akan gagal total.
...
_TBC_
...
Soal Jeju dan segala yang Rae tulis, itu hanya sekedar imajinasi. Heol, Rae belum pernah kesana dan males googling ditengah sinyal internet yang ilang timbul kayak ABS sehun.
Sekali lagi maaf atas keterlambatan yang super terlambat (?) /deep bow/
