Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto murni dan asli milik Om Kishi, saya cuma minjem
Rated M
Genre : Romance dengan sedikit bumbu crime
Warn : gender bender, ooc, typo dan kawan-kawan lainnya
.
Naruto : (15) x Sasuke (25)
Kyuubi : (18) x Itachi (27)
Deidara : (22) x Sasori (25)
.
.
"Neji, apalagi jadwal ku hari ini?" tanya Sasuke sambil menyandarkan punggungnya pada sofa. Satu tangan kanannya berusaha melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya dan tangan kirinya menyender pada sandaran sofa.
Neji yang tengah merapikan kertas-kertas diatas meja kerja Sasuke langsung menghentikan aktifitasnya lalu mendongak menatap Sasuke. "Hari ini cukup sampai disini, Sas, kau bisa beristirahat," katanya lalu kembali melanjutkan kegiatannya menata kertas-kertas.
"Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang," gumam Sasuke yang masih dapat di dengar oleh Neji.
"Ada apa?" tanya Neji sambil berjalan kearah Sasuke. Menaruh kertas yang telah dirapikannya diatas meja lalu menuang minuman dingin yang telah disediakan diatas meja.
"Aku masih belum mendapatkan jawaban dari Namikaze." Sasuke melirik Neji. Menilai bagaimana reaksi Neji.
Neji tercenung namun hanya sesaat lalu tersenyum. Bukan senyum baik jika kau sudah mengenalnya seperti Sasuke yang telah mengenal Neji. "Mungkin aku tak bisa banyak membantu mu untuk masalah itu tapi jika kau membutuhkan sesuatu..."
"Ya, Neji, aku membutuhkan sesuatu dari mu. Dan aku yakin hanya kau yang bisa membantu ku." selain aniki tentunya, imbuhnya dalam hati.
"Aku akan sangat senang sekali jika bisa membantu mu."
"Kau selalu membantu ku, Neji, dan aku puas dengan cara kerja mu."
"Ku lakukan yang terbaik untuk mu."
Dan Sasuke pun mulai mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Ia tidak mungkin tidak membuat rencana cadangan untuk mendapatkan permata Namikaze, apalagi setelah mengetahui bagaimana reaksi Namikaze Minato setelah ia mengutarakan keinginannya untuk memiliki Naruto. Reaksi yang ditunjukkan Minato sebenarnya sudah Sasuke perkirakan akan tetapi ia tetap saja merasa kaget mendengar penolakan dari Minato secara langsung. Minato langsung menolak ketika Sasuke meminta Naruto untuk ia jadikan kekasih tanpa berfikir dua kali.
# FLASHBACK #
Minato tersentak. Ditatapnya pemuda yang tengah duduk di depannya dengan perasaan campur aduk antara syok, bingung dan tak percaya jika pemuda itu ingin menjadikan putri bungsunya sebagai kekasihnya.
"Na-naruto?" tanyanya lagi memastikan.
"Ya, Namikaze-san, putri bungsu Anda. Bagaimana?"
"Ta-tapi...Naru masih kecil." Minato tertawa gugup, berusaha menutupi keterkejutannya yang sepertinya masih belum reda. "Lagipula saya merasa ini terlalu terburu-buru, bukan kah begitu Uchiha-san?"
Meninggalkan kesan santai yang sedari tadi ditunjukkannya, kini Sasuke mulai bersikap tegas. Meluruskan punggungnya, menatap lawan bicaranya tepat pada maniknya dengan tatapan tajam dan bertanya, "maksud Anda, Anda menolak saya?"
"Eh?" Minato kembali tersentak. Ditatapnya Sasuke dengan pandangan bingung. Anak ini, tidak pernah basa-basi ya? Batin Minato kesal karena sejak tadi Sasuke selalu membuatnya kaget. "Apakah Anda merasa saya menolak keinginan Anda untuk menjadikan Naru kekasih Anda?"
Sasuke mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya pada pria yang jauh lebih tua darinya. "Saya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi Namikaze-san, jadi bersediakah Anda memberikan putri Anda pada saya? Anda pasti sudah tahu siapa saya jadi saya meminta Anda untuk berfikir dengan matang sebelum memberikan jawaban yang dapat saya pastikan dapat merubah hidup Anda di masa depan," katanya dengan penuh tekanan.
Minato menatap onyx sasuke dengan tatapan menilai. Justru karena Minato sangat mengenal bagaimana tabiat keluarga Uchiha maka ia sangat tahu jawaban seperti apa yang harus ia berikan. Memilih memberikan restu untuknya atau tidak jelas akan merubah hidup keluarga Namikaze. Dan perubahan kehidupan keluarga Namikaze tergantung pada jawaban yang akan ia lontarkan. Minato mendesah lelah lalu menyandarkan punggungnya yang tanpa ia sadari sejak kedatangan Sasuke tadi ia terlihat begitu tegang, bahkan ketika punggungnya menyentuh sandaran sofa ia merasakan sakit yang langsung menjalar karena otot-ototnya yang terlalu tegang.
"Sumimasen Uchiha-san, saya tidak bisa menyerahkan putri saya kepada Anda."
Sasuke terbelalak kaget lalu buru-buru ia menutupinya dengan memejamkan matanya sebentar dan terkekeh pelan.
"Saya sudah menduga jawaban apa yang akan Anda berikan Namikaze-san, tapi saya tidak menyangka jika Anda akan langsung mengatakannya, bahkan saya masih belum selesai untuk merundingkan hal-hal apa saja yang akan saya berikan agar kehidupan keluarga Anda berubah jika Anda memberikan putri Anda pada saya."
Minato terdiam. Kepalanya tertunduk lesu dan postur tubuh yang ia perlihatkan persis seperti orang yang sudah kalah. Sasuke yang melihatnya tersenyum misterius lalu bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan Minato tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
BLAM
Setelah pintu tertutup, dengan pelan Minato mengangkat kepalanya dan matanya langsung memandang daun pintu yang baru saja ditutup oleh Sasuke. Ia telah menolak permintaan Sasuke dan ia tahu ia harus menanggung akibatnya meskipun ia harus mengorban kan segala-galanya. Baginya asal Naruto tidak jatuh pada tangan-tangan orang seperti Uchiha yang menakutkan, ambisius dan penuh dengan misteri.
Naru, ayah pasti akan menjaga mu, sumpah Minato.
# FLASHBACK END #
"Kau akan pulang ke rumah?" tanya Neji saat mereka berdua berjalan beriringan di lobby kantor. Suasana kantor sudah mulai sepi karena jam telah menunjukkan pukul lima sore meskipun begitu masih ada beberapa pegawai yang hilir mudik guna menuntaskan tugas mereka.
Sasuke mengedikkan bahu tak acuh. Sepertinya ia masih punya urusan yang harus dikerjakan tapi ia tak yakin urusan apa itu. Ia mengernyit. Tak biasanya ia seperti ini. Karena merasa ada yang aneh ia pun berhenti dan menatap Neji yang terus berjalan tanpa menyadari jika atasannya telah berhenti.
"Apa kau yakin hari ini jadwal ku sudah selesai?"
"Eh?" Neji berhenti lalu memutar tubuh menghadap Sasuke. "Aku yakin sekali. memangnya kenapa?"
"Tak apa," gumam Sasuke lalu kembali berjalan. Neji yang melihat tingkah aneh Sasuke hanya diam saja dan mengekor di belakangnya.
Tepat saat mereka akan keluar dari kantor seorang pegawai yang bertugas sebagai resepsionis menghampiri mereka dengan langkah tergesa. Mereka berhenti dan memandang resepsionis tersebut dengan pandangan datar.
"Ada apa?" tanya Neji.
"A-ano, ada yang ingin bertemu dengan Uchiha-sama."
"Siapa?" tanya Neji lagi kali ini diirinngi dengan kerutan yang muncul di keningnya. "Jika orang yang kau katakan itu belum membuat janji dengan Uchiha-san maka suruh dia pergi. Mari, Uchiha-san." Neji mulai menyentuh punggung Sasuke untuk melanjutkan lagkahnya namun terhenti ketika resepsionis tersebut memekik kaget.
"Sebenarnya ada apa dengan mu?! Sudah berapa lama kau kerja disini, hah? Kenapa tidak mengerti aturan juga?!" Bentak Neji dengan kesal.
"Sa-saya juga sudah mengatakan kepadanya jika ia tidak membuat janji lebih dulu maka tidak bisa menemui Uchiha-sama tapi gadis ini bersikeras akan menunggu Uchiha-sama. Sa-saya merasa kasihan, dia – "
"Jadi kau mau melanggar aturan dan rela dipecat hanya karena seorang gadis?" potong Neji dan langsung membuat si resepsionis tersebut menggeleng cepat kemudian menunduk ketakutan.
"A-akan saya katakan – "
"Tunggu!" kali ini giliran Sasuke yang memotong pembicaaan si resepsionis. "Kau bilang seorang gadis ingin bertemu dengan ku?"
"Be-benar Uchiha-sama."
"Bagaimana rupa dia?"
"Sas," geram Neji memperingatkan namun hanya dibalas dengan kibasan tangan tanda ia menyuruh Neji untuk diam.
"Berambut kuning – blonde, saya tidak yakin Uchiha-sama, tapi gadis itu masih bersekolah di SMA."
"SMA Tokyo?"
Si resepsionis mengangguk. "Sepertinya begitu. Seragamnya mirip dengan sekolah SMA Tokyo."
Sasuke tersenyum puas. Ia sudah pasti tahu siapa gadis yang dimaksud oleh si resepsionis tersebut. Dan tanpa membuang-buang waktu ia langsung berbalik arah menuju ruang tunggu. Dan disanalah ia. Duduk di sofa paling ujung dengan kedua lengan yang memeluk – entah apa itu – di dadanya. Iris sapphirenya yang mempesona berhasil menarik perhatian Sasuke, melirik ke kanan dan kiri dengan tatapan bingung. Sasuke berjalan kearah gadis yang telah berhasil menyita pikirannya dengan tenang.
"Naru?"
Dan gadis itu pun tersentak mendengar suara yang tak asing menyapa indera pendengarannya. Onyx bertemu sapphire. Dan benang merah pun mulai terjalin.
.
.
Hampir dua jam Naruto duduk di kursi ruang tunggu Uchiha Corp. dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan kedatangan Sasuke. Ia melirik jam berbetuk jeruk yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Menggigit bibir sambil mengerutkan kening ia menghela nafas.
Sudah pukul lima dan ia masih belum bisa bertemu dengan Sasuke, apa yang harus ia lakukan? Naruto kembali melirik ke kanan dan kiri, berpasang-pasang mata tak jarang menatap Naruto dengan tatapan penasaran tapi tak jarang pula menatap dengan tatapan mencemooh. Dan hal itu sukses membuat nyali Naruto menciut. Ia ingin cepat-cepat pulang. Ia tidak suka berada di tempat asing seperti ini.
Naruto kembali melirik ke kanan dan kiri. Jika sampai hitungan ke sepuluh ia masih tidak bisa bertemu dengan Sasuke maka ia berjanji ia akan –
"Naru?"
Naruto tersentak kaget. Hampir dua jam ia menunggu Sasuke dan tak seorang pun yang menyapanya dan kini tiba-tiba suara yang ia yakini milik seseorang yang ingin ia temui berhasil membuat perhatiannya teralih menuju seorang pria dewasa yang berdiri di hadapannya.
"Uchiha-san!" pekik Naruto dengan gembira. Dan tanpa ia sadari kakinya langsung berlari menuju Sasuke dan menghambur ke dalam pelukannya.
Sasuke terkekeh ringan, tak menyadari jika gadis yang selalu menyita pikirannya kini tengah berada di pelukkannya. Bahkan Sasuke tak menyadari jika ia dan Naruto sudah menarik perhatian para pegawainya yang lalu lalang di sekitar mereka. Bahkan Neji pun hanya bisa membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Si sulung Uchiha saja bahkan tidak pernah menyentuh Sasuke apalagi memeluk tubuh Sasuke dengan akrab seperti ini! Seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama tak berjumpa dan sekarang adalah saat-saat mereka melepas rindu.
Neji menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia harus berbuat sesuatu agar image Sasuke tidak jatuh di mata orang lain.
Neji berdehem tepat di belakang Sasuke. "Uchiha-san," panggilnya dengan nada berwibawa.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?" tanyanya masih dengan memeluk Naruto.
"Sepertinya kita harus pindah tempat." Neji berusha untuk tersenyum ramah namun yang terlihat dimata Sasuke justru senyuman kaku. Membuatnya terkekeh geli.
"Naru, ayo."
"Eh? Kemana?"
Sasuke tersenyum tipis. "Kita harus pindah ke tempat lain jika tidak ingin menjadi tontonan orang banyak."
"Ma-matte!" Naruto segera mengurai pelukkannya kemudian menyodorkan papper bag yang sedari tadi di pegangnya.
Kerutan tipis muncul di kening Sasuke. "Apa ini?"
Naruto tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapihnya. "Naru datang kemari hanya ingin mengembalikan ini."
"Jas?" Neji mengernyitkan kening ketikaa melirik isi papper bag tersebut.
Naruto mengangguk. "Naru kesini mau mengembalikan ini." Naruto tersipu malu. Entah kenapa ia merasa salah tingkah ketika ia berkata ingin mengembalikan jas yang dulu pernah dipinjamkan kepadanya.
"Kau tidak perlu repot-repot mengembalikannya padaku."
"Tapi Naru ingin mengembalikannya," gumam Naruto lirih yang masih dapat didengar jelas oleh Sasuke. "Lagipula jika Naru simpan di rumah Naru takut nee-chan atau kaa-chan dan tou-chan menemukannya dan menanyakan siapa pemiliknya," imbuhnya lagi.
"Hn, baiklah, aku terima." Sasuke mengambil papper bag yang masih di genggam Naruto kemudian tanpa aba-aba ia langsung memutar tubuh Naruto dan memeluk pinggang Naruto seraya berjalan keluar kantor.
"U-uchiha-san?!"
"Ssst, tenanglah."
Dan Naruto pun terdiam seketika. Ia dituntun untuk masuk ke dalam mobil mewah yang telah di parkir di halaman kantor Uchiha. Naruto mengernyitkan dahi bingung.
"Kita mau kemana? Naru tidak boleh lama-lama, nanti tou-chan dan kaa-chan khawatir."
"Memangnya kau tidak izin mereka untuk datang kemari, hm?"
Naruto menggeleng. "Kalau Naru izin sudah pasti kaa-chan dan tou-chan akan melarang Naru."
"Anak nakal," ucap Sasuke diiringi seringai kemenangan.
.
.
.
"Kushina, apa kau sudah menghubungi keluarga Hyuuga?" suara Minato yang berasal dari ruang tamu menyapa indera pendengaran Kushina yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah anata, Naru masih sibuk belajar di kamar Hinata. Aku baru saja menutup telfonnya."
Minato menganggukkan kepalanya tanpa menoleh.
"Apa ada masalah?" tanya Kushina yang telah duduk disamping Minato sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Lebih dari enam belas tahun menjalani kehidupan bersama tentunya membuat Kushina lebih bisa merasakan kegalauan hati yang tengah dihadapi Minato, meskipun Minato tak mengatakannya. Seperti sekarang ini yang tengah dirasakan Kushina, akhir-akhir ini Minato sering sekali melamun, apalagi semenjak perusahaan yang telah Minato bangun mulai dari nol mengalami gulung tikar. Minato lebih sensitif jika berurusan dengan masalah kecil meski begitu Kushina tetap bersyukur karena Minato tak sampai mengalami depresi. Bisa dibayangkan kan apabila Minato depresi krna kebangkrutan perusahaannya? Tak hanya bahtera rumah tangga mereka yang akan hancur tapi juga hati putri-putri kesayangan mereka yang jelas akan terluka.
"Kenapa bertanya seperti itu? Hidup pasti selalu ada masalah, Kushina." Minato membelai rambut istrinya dengan sayang.
"Kalau begitu bagi lah masalah mu dengan ku, jangan kau pikul sendiri semua masalah yang ada di keluarga kita."
Minato tersenyum simpul. "Siapa bilang aku memikul masalah? Lagipula masalah kita sudah selesai, Kushina. Perusahaan kita telah di pegang oleh orang yang lebih kompeten dari pada ku, anak-anak juga masih beraktivitas seperti biasanya. Jadi, apa yang membuat mu berfikir aku tengah memikul suatu masalah?"
"Sudah berapa lami kita menikah?" Kushina menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Hmm?"
"Sudah berapa lama kita menikah, Minato? Dan kenapa kau masih berpura-pura jika aku tak bisa memahami mu? Kau suami ku, Minato. Suami ku," ucap Kushina penuh kesedihan yang tersirat dari matanya. "Akhir-akhir ini kau sering sekali melamun, bahkan terkadang kau terlihat seperti pria linglung – " Minato mengangkat sebelah alisnya dan merasa telah menyinggung suaminya Kushina buru-buru mengoreksi, "kau sering lupa dengan pekerjaan yang kau kerjakan. Seperti tadi pagisaat aku memberikan mu ocha, kau hanya memgangnya tanpa meminumnya lebih dari setengah jam!"
Minato terbelalak tak percaya namun sedtik kemudian ia terkekeh dan tak membantah perkataan istrinya.
"Dan kemarin," Kushina menambahkan, "kau bahkan hampir berangkat ke kantor jika saja Deidara tidak mengingatkan ku untuk mengingatkan mu jika kita sudah tak punya kantor lagi." Kushina mengakhiri kalimatnya dengan pedih. Ia tak mengerti kenapa semua ini terjadi pada keluarganya! Salah apa keluarga mereka?!
Dan Minato merasakan seperti baru saja ditampar oleh sebuah kenyataan yang pahit. Kenyataan yang tengah ia – keluarga mereka – hadapi. Dengan erat ia memeluk istrinya yang entah sejak kapan telah meneteskan bulir-bulir air mata.
.
.
.
"A-ano, Uchiha-san – "
"Sasuke."
"Eh?"
"Panggil aku Sasuke, seperti yang kau lakukan disaat pesta keluarga Sabaku."
"T-tapi – "
"Ssst." Sasuke menyentuhkan jari telunjuknya tepat di tengah bibir Naruto guna menghentikan protes yang akan dilontarkannya. "Ucapkan Naruto," perintah Sasuke mutlak.
"Sa – " Naruto berhenti untuk berdehem. Entah kenapa ia merasa tenggorokannya sangat kering. "Sa-sasuke," ucap Naruto dengan lirih namun masih bisa didengar oleh Sasuke hingga membuat rona merah menjalar di kedua pipi chubby nya.
Sasuke tersenyum puas. Lalu ia menyenderkan punggungnya sambil menikmati rona merah yang sudah menyebar di wajah Naruto.
Tadi setelah Sasuke membawa – memaksa – Naruto masuk ke dalam mobilnya ia segera meminta sang supir untuk segera membawa mereka ke restoran yang masih menjadi anak cabang dari perusahaan yang tengah dipimpinnya. Tanpa menunggu persetujuan Naruto, Sasuke langsung menggandeng tangan mungil Naru memasuki ruang VVIP yang selalu siap untuk ia gunakan.
"A-ano, Sa-sasuke, euumm, Naru..."
"Hm?"
"Naru..." dengan menggigit bibir bawahnya, Naruto berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat untuk ia ungkapkan. Iris sapphirenya yang biru melirik gelisah ke arah jam yang terpasang di dinding belakang Sasuke. Sekarang sudah jam delapan malam dan ia harus segera pulang jika tidak ingin terlambat. Dan kereta akan berangkat dari stasiun tepat setengah sembilan.
"Naru harus segera pulang..."
"Kenapa?"
"Tou-san dan kaa-san nanti pasti khawatir kalau Naru tidak cepat-cepat pulang." Sekali lagi Naruto melirik jam dinding. Waktu terus berputar dan kekhawatiran Naruto pun semakin besar. Ia harus cepat-cepat pulang!
"Kau tenang saja, aku akan mengantar mu pulang jadi kau tidak akan terlambat pulang."
"Tapi – "
"Tidak apa-apa, percayalah pada ku." lalu tanpa menunggu Naruto membantah Sasuke segera memanggil pelayan dan memesan makan malam untuk mereka. Naruto yang awalnya ragu sedikit demi sedikit mencoba untuk tenang. Ia berusaha untuk menikmati makan malam yang entah kapan lagi bisa ia nikmati bersama Sasuke. Lagi pula Sasuke juga sudah berjanji akan mengantarnya pulang jadi tidak ada masalah sama sekali.
.
.
.
Tepat pukul enam pagi bel pintu berbunyi dengan nyaring hingga menghentikan aktifitas sarapan yang tengah di lakukan keluarga Namikaze. Semuanya terpaku di tempat duduk masing-masing karena selama kepindahan mereka ke rumah baru ini tak ada satu pun yang datang bertamu. Jadi jika ada yang bertamu sepagi ini pasti lah ia orang penting.
"Biar aku saja yang buka, kalian teruskan sarapannya," ucap Deidara sambil beranjak dari tempat duduknya.
Ketika berdiri tepat di depan pintu, Deidara tak langsung membuka pintunya. Ia justru menyibak sedikit korden yang menutupi jendela kaca, ingin tahu siapa gerangan yang datang ke rumah mereka di pagi hari seperti ini. Dan ketika ia melihat mobil yang terparkir di luar rumah, jantung nya pun sukses berdebar dengan kencang, matanya membulat tak percaya.
Tidak mungkin itu dia! teriak Deidara dalam hatinya. Dia tidak tahu kalau aku pindah rumah apalagi alamat rumah ini. Pasti ada yang tidak beres.
Kemudian ia segera menyibak korden hingga terbuka membiarkan cahaya masuk melalui celah-celah jendela menerangi ruang tamu.
Cklek cklek!
Pintu pun terbuka. Sesosok pria yang diyakini Deidara si pemilik mobil berdiri tepat di depannya dengan menggunakan pakaian kantiran. Deidara melongo. Pria ini benar-benar dia kan? Batinnya tak percaya.
"Apa aku mengganggu pagi mu?" pertanyaan yang di lontarkan dengan nada datar itu pun sukses membuat Deidara terkesiap. Ia segera menatap pria yang berdiri di hadapannya ini dengan bingung.
"O-oh, tidak, Senpai." Deidara tertawa kaku. Ia masih kaget dengan kedatangan pria yang akhir-akhir ini dekat dengannya.
"Kau akan membiarkan ku berdiri disini atau – "
"O-oh, tidak, Senpai, tidak!" Deidara semakin gugup. Ia segera mempersilahkan tamu nya untuk masuk dan memintanya untuk duduk. "Uhmm, Sasori senpai mau minum apa?"
Sasori menggeleng. "Aku kesini hanya untuk memastikan sesuatu," katanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Menilai bagaimana bentuk rumah yang di tinggali Deidara dan keluarganya.
Deidara pun yang melihat hal itu juga ikut-ikutan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu nya.
"Memastikan apa, senpai?"
Pandangan Sasori terhenti tepat di manik milik Deidara. Ia menatap Deidara dengan tatapan yang menurut Deidara adalah tatapan kosong lalu menelengkan kepalanya ke arah kiri.
"Memastikan bahwa apa yang di katakan oleh informan ku adalah benar," jawabnya dengan pandangan tak lepas dari Deidara.
Secara tak sadar, Deidara meremas-remas jari-jarinya yang saling bertautan. "Dan itu adalah?"
"Bahwa perusahaan keluarga mu telah gulung tikar dan sekarang kalian tinggal di rumah yang kecil."
Deidara tersentak. Ia tak percaya jika Sasori telah mengetahui semuanya. Ia jadi merasa rendah di hadapan Sasori meskipun Sasori mengucapkan pernyataan tersebut tanpa nada mengejek. Ia sudah terbiasa mendengar pernyataan semacam itu dari orang-orang di sekitarnya dan ia tak peduli sama sekali tapi entah kenapa ketika pernyataan itu keluar dari mulut Sasori membuatnya merasa kehilangan sesuatu. Entah apa itu ia tidak tahu. Tapi hal itu tersa sangat menyakitkan. Dan tanpa ia sadari tangannya menyentuh dada bagian kirinya.
"Kau tidak apa-apa?" tiba-tiba Sasori telah berdiri di depannya sambil menggenggam tangan Deidara dengan erat. "Apa kau sakit?" tanyanya lagi ketika tak mendapat jawaban.
Deidara terdiam. Manik miliknya terpaku pada manik milik Sasori dan ia merasa waktu tengah berhenti seolah-olah memberikan waktu yang tak terbatas untuknya menikmati moment saat ini. Tapi sungguh! Sepertinya moment saling pandang itu hanya berlangsung beberapa detik karena setelahnya mereka di kagetkan dengan suara deheman yang berasal dari samping mereka.
Deidara terlonjak ke belakang. Ia segera menoleh dan mendapati kedua orangtuanya dan juga ke dua adiknya tengah menatap ia dan Sasori dengan pandangan berbeda-beda. Mina-Kushi yang menatap dengan pandangan curiga, Kyuubi dengan pandangan malas dan Naruto dengan pandangan berbinar-binar. Sedangkan Sasori? Ia tetap berdiri di tempatnya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya.
"Tou san bertanya-tanya siapa tamu yang datang pagi-pagi ke rumah kita? Ternyata seorang pemuda yang tampan." Suara Minato yang berwibawa dan tenang berhasil menyedot perhatian.
"T-tou san," Deidara tersenyum ragu lalu ia memperkenalkan Sasori pada keluarganya. Mereka semua kaget mengetahui jika Deidara berteman akrab dengan Sasori yang berasal dari keluarga kalangan atas. Apalagi melihat tatapan Sasori yang sering kali di arahkan pada Deidara membuat Minato yakin jika hubungan mereka tidak hanya sekedar teman biasa.
"Kita bisa melanjutkan bincang-bincang kita lain hari, karena anak-anak harus berangkat sekolah. Bukan begitu, Sabaku san?" Minato menoleh pada Sasori dan di angguki oleh Sasori. Sasori tau jika Minato mengusirnya dengan cara halus tapi hal itu sama sekali tak menyinggungnya. Ia justru senang mendapat respon positif dari Minato yang mungkin bisa diartikannya sebagai jalan untuknya agar lebih dekat dengan Deidara.
"Baiklah kalau begitu. Jika Anda tidak keberatan, saya bisa mengantar Kyuubi dan Naruto pergi ke sekolahnya."
"Oh, tidak perlu. Aku tau arah tempat kalian belajar berlawanan arah, biar aku saja yang mengantar Kyuubi dan Naruto ke sekolah."
Sasori mengangguk mengerti lalu berpamitan kepada Kushina dan juga Kyuubi dan Naruto.
.
.
TBC
