Declaimer Always Mashasi Kishimoto

And, Vampire Diaries belong to L.J Smith While Twiligh belong to Stephanie Mayer.

But, this story always mine.

WARNING : OOC, AU, ETC.

Rate : T+

Pair : SasuSaku

Diserendio

By Selenavella

Episode 6 : Alasan.

.

"Apa yang kalian bicarakan?"

Mata hijaunya menatap punggung kedua lelaki itu satu persatu, ia ingin meminta penjelasan kepada mereka. Atau setidaknya salah satu dari mereka. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berniat membuka mulutnya –hell menoleh saja tidak. Kedua orang itu terlihat tengah berpikir.

"Jadi ingin menjelaskan sesuatu atau tidak?" ujar Sakura dengan tidak sabar.

Sasuke hanya memegangi stir mobil dengan lebih kencang, buku-buku jarinya mulai memutih. Sasuke sudah tahu jelas, bahwa cepat atau lambat Sakura akan mengetahui tentang hal ini. Tapi, entah mengapa dirinya merasa belum siap menjelaskan apapun bagi Sakura. Mereka berhenti 100 meter sebelum rumah Sakura. Cahaya remang-remang menerangi mobil yang mereka tumpangi, baik Sakura, Kakashi, maupun Sasuke tidak ada yang angkat bicara.

"Tidak sekarang," gumam Sasuke. Ia melajukan kembali mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Sakura. "Lebih baik kau pulang dulu, Ibumu pasti khawatir Sakura."

"Kalau begitu, berjanjilah kalau kau akan menjelaskannya, nanti."

"Aa."

"Dan, Sakura. Kurasa bukan hal yang bijaksana memberitahu Mebuki tentang ini semua kau tahu," ujar Kakashi seraya menoleh kearahnya, di balik maskernya Sakura tahu gurunya itu tengah tersenyum lembut. "Kita tidak mau membuatnya terkena serangan jantung bukan?"

"Ya, aku tidak akan memberitahu Mom sementara ini setidaknya," Sakura tersenyum simpul. "Kalau begitu, permisi Mr.Hatake."

"Kakashi, kalau kau tidak keberatan tentunya."

Sakura mengangguk, "Ya Kakashi. Terima kasih tumpangannya juga. Dan," gadis itu menatap Sasuke dengan pandangan menyipit. "Ingat dengan janjimu tuan."

"Hn," Sasuke mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.

Sakura mendengus jengkel dengan kelakuan Uchiha itu. Ia lalu melambaikan tangannya dan membuka pintunya. "Kalau begitu, selamat malam."

Dan pintu mobil itupun tertutup rapat.

.

.

Naruto tengah melemparkan bola ke dalam ring basket ketika mendengar suara deru mobil mulai mendekati mansionnya. Ia mengerutkan alisnya ketika mendengar suara bantingan pintu mobil. Lebih jelasnya, pintu mobilnya. Mata biru langitnyamelihat Kakashi dengan Sasuke turun, wajah keduanya terlihat tidak begitu baik.

"Hei mate, kabar buruk?"

Sasuke mengangguk. "Aa, Mochleuv berulah."

"Korbannya? Manusia atau Nephilim?"

"Sakura," gumam Sasuke. Lelaki itu lalu dengan cepat melewati Naruto dan masuk ke dalam rumah tanpa mendengarkan teriakan Naruto.

Kakashi tertawa kecil. Ia terkekeh pelan, melihat kelakuan murid lelakinya. Dengan ringan ia melemparkan kunci mobil Naruto pada lelaki itu, lalu ia berjalan ke dalam mansion. "Trims mobilnya Naruto."

"Dia kenapa sih? Sedang datang bulan ya?" gerutu Naruto. Lelaki itu lalu mengikuti Kakashi ke dalam rumah. "Hei Kakashi, memangnya Mochleuv itu melakukan apa sih pada Sakura? Sampai teme terlihat kesal begitu?"

"Menurutmu, Mochleuv yang biasanya mengejar nephilim untuk apa?"

"Menyerap kekuatan pedang kita, lalu? Sakurakan belum punya pedang!"

"Ya, tuan muda yang terhormat itu meminjamkan jaketnya pada Sakura, dan tanpa sengaja svärd Sasuke tertinggal di jaket yang di pinjamkannya itu " Kakashi menggantung mantelnya. Ia lalu masuk ke dalam mansion. "Dan mochleuv itu menyerang karena energi yang menguar dari pedang Sasuke, tahukan bagaimana kuatnya aura svärd Sasuke itu."

"Ah! Jadi si teme itu menyalahkan dirinya sendiri?" tanya Naruto, lelaki pirang itu lalu mengangguk-anggukan kepalanya pelan. "Seperti biasa bukan kejadiannya, dia menjadi tuan-semua-yang-terjadi-itu-salah-ku lagi ya…"

Kakashi hanya tertawa mendengar ocehan Naruto, ia yang kini berada di dalam dapur mulai menuangkan kopi ke dalam gelas yang sudah ia ambil dari lemari, "jadi ada perkembangan Mayor Uzumaki?"

"Tidak ada, para Vanishee belum mengatakan ada pergerakan lagi, jadi kita tidak di minta bekerja lebih cepat," Naruto nyengir. "Tapi, Kakashi kenapa si teme memberikan jaketnya pada Sakura? Jangan-jangan…"

"Buat apa kau bertanya hal yang sudah kau tahu hah?" Kakashi terkekeh pelan lalu meminum kopinya sedikit. "Kau seperti tidak tahu Sasuke saja."

"Haaa, Sakura hebat sekali bisa menaklukan teme ya," Naruto tertawa kencang. "Aku tidak pernah bisa membayangkan teme bertekuk lutut pada siapapun, kukira teme akan selamanya sendiri, kan dia itu cowok paling gak punya perasaan di muka bumi ini."

"Di banding memikirkan Sasuke, kemana Neji sekarang Naruto?"

"Dia juga sedang berkencan, orang-orang yang dingin sepertinya sekarang sedang beruntung dalam soal asmara ya," Naruto melemparkan kayu ke dalam perapian. Ia mengerucutkan bibirnya. "Cih, kenapa sih cewek jaman sekarang lebih suka cowok dengan tipe dingin begitu! Kan lebih baik yang ceria seperti aku ini."

"Tenang saja nak, ada seorang yang akan menyukaimu walau seluruh kaum hawa di dunia menyukai lelaki dingin saja," lelaki bermasker itu mendudukan tubuhnya di kursi samping Naruto. "Jadi, kau jangan ketakutan."

"SIAPAAAAAAAAA?!" pekik Naruto.

"Yah," Kakashi mata Kakashi menampakan kalau ia tengah tersenyum, ia lalu menepuk-nepuk kepala Naruto. "Pertama kau harus periksa ke dokter apakah kau itu buta? Karena, jawabannya ada jelas di kota Niehlberv. Di rumah depanmu."

"Tempat Nephilim? Kenapa bisa di sana? Rumah depan? Itukan rumahnya –EH! Hey guru tuaaaaaaaaa! TUNGGU!" seru Naruto.

Kakashi berjalan menjauhi Naruto, ia mengangkat sebelah tangannya dan melambai tanpa menoleh sedikitpun. "Berpikirlah dulu sendiri ya, latih otakmu. Good Night boy."

Uzumaki muda itu melotot kesal. Ia nyaris saja merapalkan mantra, kalau saja ia tidak ingat bahwa ia merupakan penyihir. Cih, dia jadi berpikir di bandingkan menjadi seorang Nephilim mungkin lebih baik dia menjadi penyihir saja agar bisa memantrai Sasuke dan Kakashi jika mereka bersikap menyebalkan padanya.

Lucu juga membayangkan jika ia bisa menyihir Sasuke jadi ayam betulan.

.

.

Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia memandangi dirinya dalam cermin, ia menaikan bajunya sehingga menampakan bra hitamnya. Ia mengelus bagian tepat di bawah branya, tempat tulang rusuknya berada. Namun, ia tidak merasakan sakit.

'Aneh…,' pikir Sakura.

Padahal ia bersumpah tulang rusuknya pasti patah, atau setidaknya retak. Tadi saat melawan monster menyeramkan itu, tanpa sengaja dadanya menabrak ujung dinding, dan benturan keras itu menghantam rusuknya begitu keras.

Namun anehnya, ia tidak menemukan jejak bekas pertarungan. Tidak ada memar, tidak ada cakaran, dan hanya ada rambut gulalinya yang berantakan. Padahal Sakura yakin, kalau tadi monster itu mencakar bagian tubuhnya dan membantingnya keras-keras. Sakura menggelengkan pikirannya, mungkin ia kebanyakan pikiran jadinya pikirannya kacau begini.

Mungkin, karena ketakutan, pikirannya jadi kemana-mana dan ia hanya bersugesti tadi itu.

Ia berjalan menjauhi cermin. Celana kamisolnya yang kepanjangan membuat Sakura nyaris tersandung dalam perjalanan menuju ranjangnya.

Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Menghela nafas panjang, pikirannya kembali berputar pada kejadian di perpustakaan tadi. Ia bergidik ngeri. Rasanya semuanya bagaikan film yang terus-terusan berputar di dalam kepalanya.

Pertama, ia masih ingat bahwa ia tengah berada di kursinya dan duduk manis mencari tahu tentang makhluk aneh yang mungkin adalah Sasuke. Tiba-tiba ia mendengarkan suara jeritan dari arah depan perpustakaan tempat penjaga perpustakaan.

Sakura yang memang dasarnya adalah orang yang tidak bisa di tinggalkan penasaran seketika berlari ke sana untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Jika ini adalah kartun, mungkin matanya sudah meloncat keluar dari tempatnya. Tempat bersih yang merupakan perpustakaan itu menjadi hancur. Berkas-berkas penting bertebaran di udara, dan bau darah tiba-tiba tercium begitu kuat di indra penciuman Sakura, lantai kayunya banyak yang hancur. Perut Sakura yang sejak awal memang tidak tahan dengan bau darah makin mual ketika mendapati sesosok makhluk yang tengah menggigiti tangan penjaga perpustakaan itu.

Makhluk bertubuh abu-abu dengan bulu putih di tubuhnya itu tengah memakan tangan kanan penjaga perpustakaan itu. Giginya yang adalah taring semua membuat Sakura makin ketakutan, darah menetes dari bibir monster itu. Tulang-tulang mencuat yang berada di kanan dan kiri bahu makhluk itu membuat penampilannya tidak jauh lebih baik. Mata berwarna oranye itu tiba-tiba mendelik kearah Sakura.

Dan, ia tahu sesuatu yang buruk akan menimpanya.

Ia langsung berlari menjauhi monster itu. Dibelakangnya ia mendengar beberapa rak tengah berjatuhan, mungkin monster itu tanpa sengaja menyenggolnya dan membuat keadaan makin ricuh. Sakura tidak pernah setakut itu sebelumnya. Ia berlari tanpa tujuan, berusaha bersembunyi.

Tiba-tiba saja tubuhnya terlempar menghantam tembok, tangan kanannya terasa begitu sakit, kuku tajam monster itu melukai tangannya. Kepalanya terasa berkunang-kunang, dan ia merasakan bahwa rusuknya mungkin retak. Atau paling parahnya patah.

Jeritan ketakutan melesak keluar dari tenggorokan gadis itu. Ia memundurkan tubuhnya, berusaha menghindari ayunan ekor berduri monster itu. Ia merasakan nyawanya tengah di ujung tanduk! Sakura mengguling ke samping begitu monster itu hendak menyerangnya kembali.

"Yum… Aroma svärdnya begitu menggoda… Darah… Ah… Berapa banyak makhluk bayangan yang kau bunuh nak?"

Suara menggeram rendah keluar dari mulut monster itu, air liurnya mulai menetes. Dan, monster itu langsung meloncat kearahnya dan mengekangnya dengan posisi kedua tangan monster itu yang menutup arah geraknya. Sakura tahu ia tidak akan bisa kemana-mana lagi.

Tangan monster itu teracung kearahnya, hendak mencabik-cabik dirinya. Sakura sudah pasrah saat itu, ia tahu ia pasti akan menjadi hidangan utama monster itu. Tapi, saat ia mengangkat tangannya rasa panas mengenai panggul kirinya. Panas yang berasal dari saku jaket pemuda itu membuat dirinya terasa terbakar.

Dan, semuanya terasa gelap.

Tapi, ia bisa mendengarkan seseorang tengah menggumamkan sesuatu dalam bahasa latin. Tak memakan waktu lama hingga Sakura sadar bahwa ialah orang yang bersenandung dalam bahasa latin itu. Rasa panas yang berada di panggulnya tiba-tiba tergantikan dengan rasa dingin yang menjalari tubuhnya hingga ke tangannya. Dan, tangannya terasa begitu beku.

Ia mendengar seseorang meneriakan namanya sebelum semuanya gelap.

"Apa yang terjadi…," gumam Sakura.

Ia memejamkan matanya. Berusaha berpikir, apakah yang terjadi sebenarnya.

Sakura benar-benar tidak mengerti apa yang menyebabkan monster itu mengerjarnya. Dan, apa itu svärd? Ia tidak pernah tahu ada benda bernama svärd. Ia tahu beberapa kasus penyerangan pada gadis muda belakangan, tapi ia tahu makhluk itulah ternyata perlakunya. Makhluk menyeramkan itu seperti mengincar sesuatu dari dirinya.

Itu adalah keanehan pertama. Sementara keanehan kedua, adalah jati diri Sasuke.

Ia pernah menyangka bahwa Sasuke mungkin adalah seorang vampir. Ia sangat tampan, dan mempesona. Namun, pada kenyataannya pemuda itu adalah seorang nephilim. Setengah malaikat, setengah manusia. Namun, rupanya memang nyaris mirip dengan malaikat. Ia tahu ini sama sekali tidak benar, begitu absurd… Dan rasanya ia belum bisa menerima kenyataan ini. Semua ini terasa begitu… tidak masuk akal.

Nephilim yang ia baca adalah seorang keturunan malaikat dan manusia. Namun, ada juga legenda yang mengatakan bahwa Nephilim adalah malaikat yang dibuang dari surga.

Berarti Sasuke bisa juga merupakan keturunan malaikat bukan? Tidak heran lelaki sialan itu begitu mempesona.

Sakura bangkit berjalan kearah jendelanya. Ia memandangi bulan sabit yang menggantung sendirian di langit gelap sana. Haruno muda itu lalu menyanggakan kepalanya pada jendela. Ia menatap menerawang bulan disana.

Tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa berdebar kencang.

"…Sasuke."

.

.

Sementara itu, jauh di sana sesosok pemuda tampan tengah berada di atas tebing yang menghadap langsung ke kota di bawahnya, ia menekukan sebelah lututnya. Kepalanya bersandar di atas lututnya. Mata merahnya memandangi langit di atasnya. Ia menatap dengan datar langit di atasnya. Tidak ada apapun disana kecuali bulan.

Sendirian, persis seperti dirinya.

Ia menggerak-gerakan telunjuknya , orkestra alam begitu menyejukan pikirannya. Ia yang terus-terusan berpikir keras belakangan merasa lebih tenang kali ini. Tekanan dan cemo'ohan dari berbagai orang-orang di kaumnya yang belakangan semakin menggila membuat dirinya kacau.

Sejak kecil, ia selalu di manja oleh orang tuanya, di sanjung-sanjung oleh orang-orang di sekitarnya. Bagaimanapun juga tidak pernah sekalipun terbesit di pikirannya bahwa suatu hari ia akan ada di posisi ini. Menjadi orang terasing di kaumnya. Ia tahu jelas tak ada satu orangpun yang akan berani merendahkan dirinya tepat di depan wajahnya, tapi setidaknya orang-orang itu pasti mencibirnya di belakang punggungnya.

'Cih, dasar nephilim-nephilim rendahan.'

Ia memandang jauh ke langit dan mendapati bulan berbentuk sabit mengarah padanya. Bulan sabit itu membentuk senyuman. Dan senyuman itu membuat dirinya ingat akan seseorang. Gadis dengan senyuman malu-malunya itu.

Si gadis musim semi.

Ia menghela nafasnya dan mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak boleh kacau seperti itu. Tidak ada yang boleh menghalangi dirinya untuk membereskan misinya kali ini. Tidak juga bahkan untuk gadis itu. Gadis itu tidak boleh mengacaukan pikirannya lagi.

Dulu sekali, ia pernah kehilangan hampir segalanya hanya akibat seorang wanita. Kali ini, ia tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Tidak akan ada satu orangpun yang bisa menghentikannya, walaupun orang itu adalah sang gadis yang perlahan mencuri perhatiannya belakangan ini.

Dia adalah penghalang.

"Ala*," gumam laki-laki itu.

Sepasang sayap berwarna hitam meluncur dengan mulus keluar dari punggungnya. Ia menghela nafasnya, ia tahu ia tidak seharusnya merasakan perasaan aneh macam itu. Ia harus beronsentrasi. Ia tidak boleh gagal kali ini.

Karena…

Ia bangkit berdiri dan sayapnya mulai mengembang. Mata merahnya tertutup, sebuah helaan nafas keluar dari mulutnya sebelum tubuhnya terangkat ke udara dan terbang di dalam kelamnya malam. Kakinya terasa tidak menapaki bumi.

"Sakura…"

Taruhannya adalah hidupnya.

.

.

Sakura menyenderkan tubuhnya di loker miliknya, ia memegangi buku ekonomi yang tebal di depan dadanya. Sesekali ia melirik jam tangannya, berharap lelaki itu datang lebih cepat. Ia tahu ia tiba lebih awal 15 menit sebelum waktu yang di janjikan, tapi ia benar-benat tidak bisa menahan dirinya. Rasa penasaran memenuhi rongga pikirannyai. Dari kemarin ia sudah menebak-nebak akan apa yang akan di sampaikan Sasuke.

Tapi, ia tidak bisa menebak apapun. Lelaki itu begitu sulit di tebak.

lebih tepatnya sangat sulit di tebak.

"Hei."

Sakura menolehkan kepalanya begitu mendengar suara husky itu. ia hapal betul dengan suara orang yang seringkali ada di pikirannya belakangan ini Sakura tersenyum manis sebelum melambaikan tangannya.

"Jadi kita bicara dimana?"

Lelaki itu mengeratkan pegangannya pada tas di bahunya. "Tidak di sini."

"Lalu dimana?"

.

.

"Apakah benar-benar tidak apa-apa aku kemari?"

Lelaki itu menekat alarm mobilnya. Ia mengangkat bahunya. "Aa. Yang lain juga ingin berbicara denganmu."

"Baiklah," Sakura berdeham lalu ia mengikuti langkah Sasuke ke dalam rumahnya –atau lebih tepat disebut mansion. Ia menundukan kepalanya malu-malu, pertama kalinya ia datang kedalam rumah seorang cowok. Sendirian pula.

"Aku tidak bertanggung jawab jika kau menabrak."

"Ah ya," gumam Sakura mengerti maksud lelaki itu. Wajahnya memerah. Oh, ia pasti di sangka sebagai orang idiot oleh Sasuke!

Gadis itu seketika langsung mengangkat wajahnya, mata hijaunya langsung melihat sekelilingnya. Rumah Sasuke hampir sama dengan tipikal rumah-rumah di sekitar sini, hanya terlihat lebih tua dan lebih luas. Halamannya yang luas terlihat asri, terdapat pohon willow dan sebuah ring basket.

Sasuke menekan bel rumahnya. Butuh beberapa detik sebelum pintu itu terbuka dan menampakan sosok ceria dengan cengiran khas di wajahnya. Jeritan memekakan teling membuat gadis muda itu langsung menutup telinganya serta merta.

"SAKURAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !"

Dan, suara pukulanpun terdengar.

"Teme! JANGAN SEMBARANGAN MENINJU ORANG!"

.

.

"Cih, cemburuan dasar."

Sakura hanya mengikik mendengarkan Naruto menggerutu terus menerus. Sementara Sasuke melemparkan es dengan kasar pada Naruto.

"Jangan berbicara sembarangan, bodoh," Sasuke melotot kearahnya. Pemuda Uchiha itu lalu melemparkan tubuhnya kearah sofa di samping Kakashi.

Haruno muda itu tersenyum lebar, ia sedikit geli melihat hubungan erat dua orang itu. Dua orang dengan kepribadian saling bertolak belakang itu rasanya selalu bertengkar tiap kali ia melihatnya. Tapi, ia bisa merasakan ikatan erat diantara kedua orang itu.

Mata emerald gadis itu tanpa sengaja jatuh pada lambang perisai di atas perapian itu. Ruangan yang di dominasi warna perak dan merah itu terlihat begitu indah. Sofa empuk dengan ukiran kuno, perapian yang menyala terang, dan banyak hiasan dari abad ke-18 di sekelilingnya membuat Sakura merasakan bahwa ia tengah berada di jaman dulu.

"Berhentilah bertengkar, kalian membuat Sakura melihat sifat bodoh kalian berdua tahu."

Neji yang mengingatkan mereka berdua seolah-olah membuat baik Sasuke ataupun Naruto terdiam. Naruto lalu nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehehe, maaf yaa Sakura! Salahkan si teme nih yang membuatku kesal jadi saja tidak terlihat keren di depanmu!"

"Tidak apa-apa Naruto, tenang saja."

Keheningan diantara merekapun pecah oleh suara Neji.

"Jadi," Neji berdeham. "Kau sudah tahu semuanya?"

Sakura menggigit bibir bawahnya. "Aku hanya tahu kalau Sasuke nephilim, itu saja."

"Kau benar-benar tidak tahu apapun? Benar?"

"Apa yang harus aku ketahui memang?" Sakura tertawa garing. "Aku bahkan bukan makhluk seperti kalian –maksudku kalian juga nephilimkan?"

"Ya kami memang adalah nephilim," Kakashi yang sedari tadi diam saja langsung angkat bicara. Lelaki setengah baya itu memandangi Sakura dengan intens. "Kau benar-benar tidak tahu apapun?"

"Aku bahkan baru tahu tentang nephilim saja dari Sasuke dan Kau, Kakashi. Kenapa aku harus tahu tentang nephilim memangnya?" tanya Sakura heran.

"Kita tidak salah orangkan?" Naruto mengerutkan keningnya. Ia menatap Kakashi dengan heran. "Maksudku, dia benar-benar Sakura Haruno yang kita carikan? Ada banyak orang yang bernama Sakura Haruno juga di luar sana mate."

"Aa," Sasuke menganggukan kepalanya. "Ya, dia orang yang kita cari."

"Tapi…," Naruto mengidentifikasi Sakura dari atas sampai bawah. "Dia tidak seperti nephilim, dia bahkan tidak memiliki tanda kenephilimannya. Dia seperti manusia normal loh teme."

"Kita tidak mungkin salah Naruto," Sasuke menekankan perkataannya. Mata hitamnya tanpa sengaja bertemu dengan mata Sakura. "Kau kidal bukan?"

"Ya aku kidal, tapi dari mana kau tahu? Kau tidak…, tunggu apa yang kalian bicarakan sih!" protes Sakura.

"Kurasa ada yang aneh dengan dirinya…" Kakashi mengelus dagunya seolah tengah berpikir. "Apakah kau memiliki tanda di tubuhmu yang berbentuk aneh Sakura?"

"Kalau yang kau maksud adalah tanda lahir, ya aku punya tanda lahir di tengkukku. Tapi –"

"Itu mungkin tanda Piever. Mungkin ingatannya terkunci," timpal Neji. "Para gipsy itu terlalu ikut campur. Untuk apa mengunci ingatan Sakura?"

"Hei, kalian –"

"Dan, dia tidak ingat apapun tentang hal ini? Kupikir dia di bawa kabur pada umur 6 tahun, iyakan teme?" tanya Naruto.

"Aa, aku pernah bertemu dulu, tapi aku tak pernah melihatnya lagi" ujar Sasuke tenang. "Kau tidak ingat apa-apa?"

"IYA!" teriak Sakura. Ia melotot ketiap orang, mata hijau hutannya melemparkan tatapan mengancam pada tiap orang. "Dan jangan potong perkataanku terus!"

"Waaah, Sakura ternyata bisa marah juga," bibir Naruto membulat berbentuk huruf o. "Kau kelihatan seram Sakura."

"Ya Tuhan! Berkatalah dengan pelan-pelan! Apa yang kalian bicarakan! Aku tak mengerti," desah Sakura. "Jangan berkata hal-hal yang tidak aku mengerti."

"Sakura, tidakkah kau penasaran mengapa kau bisa menggumamkan kalimat latin itu?"

"Itu… Mulutku bergerak sendiri…," gumam Sakura.

"Tidakkah kau penasaran apa yang kau katakan?" Sasuke mulai ikut bertanya.

"Memangnya apa yang aku katakan?"

Kakashi berjalan kearah perapian, api di dalam perapian yang mulai mengecil membuat lelaki itu berinisiatif memasukan lagi kayu bakar kedalam perapian itu. "Orationis legebatur otarion ad umbram saeculi semen tuum et semen exterminabitur angeli scram scram scram."

"Wow, bahasa latin? Kupikir aku hanya bisa bahasa spanyol."

"Itu bukan sembarang bahasa Sakura," Naruto terlihat lebih tenang kali ini. Ia menatap Sakura dengan ragu. "Itu…, adalah salah satu mantra para nephilim."

"Apa maksudmu?"

"Tahukah kau artinya?" Neji bertanya, lelaki itu tidak menunggu jawaban dari Sakura. "Makhluk dunia bayangan kubacakan doa suci ini doa, dari para keturunan malaikat dan kau akan lenyap, enyahlah enyahlah enyahlah!"

"Darimana kau tahu mantra itu?" tanya Naruto.

"…"

"Dan, kemarin tulang rusukmu retak. Dan, Kakashi menyembuhkannya. Mantra kami tidak akan mempan kepada manusia biasa. Manusia biasa tidak akan kuat menahan mantra nephilim," jelas Sasuke.

"Maksud kalian adalah…"

Keheningan menyelimuti mereka semua, Sakura bahkan tidak berani menarik nafasnya. Semua orang di dalam ruangan itu menahan nafasnya. Sakura memandangi mereka satu persatu hingga akhirnya tatapannya jatuh pada mata kelam Sasuke.

Mata hitam itu masih terlihat tenang, tapi seolah-olah ada sedikit keraguan di matanya.

"–ya kau seperti kami Sakura, kau adalah… nephilim."

Dan, dunianya seakan makin runyam.

.

.

"–kalian bercandakan?"

.

.

To Be Continue.

.

.

*Ala : Sayap (Bahasa Latin)

*Orationis legebatur otarion ad umbram saeculi semen tuum et semen exterminabitur angeli scram scram scram! (Makhluk dunia bayangan kubacakan doa suci ini doa dari para keturunan malaikat dan kau akan lenyap, enyahlah enyahlah enyahlah!) : Bahasa latin (gapercaya? Baca google translate hohoho)

.

.

Author Note's:

Banyak yang tertipukaaaaaaan? Hohohoho.

Dan, wow… Diserendio nyaris masuk ke polling IFA 2012, dan ada di posisi 6. Sayang sekaliiiiii kurang sedikit lagi huhuhuhu… Btw, kenapa traffic viewnya banyak sementara reviewnya sedikit ya -_- review yuuk review! #promosi #ditendang

Eh, ada yang mau baca tidak fanfic saya yang baru? Judulnya book one : destiny we choose ( s/8716892/1/Book-One-Destiny-We-Choose) #promosi #ditendang

Dan, ini jawaban untuk beberapa pertanyaan ya ^^

.

Q1 : Nephilim itu apa ka?

A1 : Nephilim itu banyak legendanya. Ada yang bilang, Nephilim itu anak dari Malaikat dengan Manusia, ada yang bilang juga malaikat yang di buang dari surga. Dan ada yang bilang, dia itu manusia setengah malaikat yang di buat dari darah malaikat hehehe. Saya sendiri ambil Nephilim di sini sebagai campuran dari semua legendnya.

Q2 : Sasuke udah suka belum sama Sakura?

A2 : Belum, baru mulai-mulai tertarik aja. Hehehe.

Q3 : Tambahin dong, Sasuke jadi incubus, demon, dll!

A3 : Wah kan Sasuke di sini ceritanya sebagai nephilim, masa iya berubah -_- Tapi, mungkin nanti kalau saya senggang saya bikin one/two/three shoot tentang Sasuke jadi yang jahat-jahat gitu ya hehehe. Tapi, nanti disini, ada kok incubus, demon, dll, soalnyakan ini fantasy. Tapi, yang jadi incubus, demon atau yang lainnya itu orang lain ^^

Q4 : Sakura makhluk apa sih?

A4 : Sudah terjawabkan di chapter ini? Hehehe

Q5 : Dapat ide dari mana?

A5 : Dari banyak hal sih… Soalnya sayakan tertarik sama hal-hal berbau fantasy gitu… Dan, saya dapet dari buku-buku yang saya baca, juga film-film yang di tonton hehehe.

.

Hohoho, yasudahlah! Jadi mohon review lagi yaa ^^

.

SPECIAL THANKIES

Gin Kazaha ; skyesphantom; Hikari 'ShiChi' ndychan; akasuna no ei-chan; Pudding-tan; Tsurugi De Lelouch; idjahdije; SakuraChiha93; Baby Kim; sasusakulovers; gita Zahra; Ucucubi; Sami haruchi 2; Baka Iya SS; Aika Yuki-chan; Alisya-chan; Yoruichi Shihouin Kuchiki; namikaze yakona; Rannada Youichi; Anka-Chan; Fufu; Sakakibara mei; Trancy Anafeloz

.

.

Salam,

.

Selena.