Hai, everyone!
Maaf ya lama nggak update. Anne lagi sibuk buat kue lebaran, takut nggak keburu kalau nggak cepat buat kue. Lagi niat banget buat kue lebaran sendiri. Kalau kalian? Bagaimana persiapan lebaran kalian? Oke deh, Anne sudah siapkan chapter ke 6. Prim akan tahu sesuatu di sini, apa itu?
Ninismsafitri : hahaha... jangan terlalu dibayangin mereka ciumannya, ingat puasa! Hehehe.. Apakah Al patah hati? Ikuti terus ceritanya, ya! Thanks :)
Kiru Kirua : *Peeta celingak-celinguk* hahaha.. thanks :D
La31 : hehehe ketahuan kalau nggak jago buat romance. Kamu akan tahu bagaimana Prim tahu jati diri Al sebenarnya sebentar lagi! Thanks :)
Agatha Gabriella Saputra : aaaaggghhh udah berusaha buat Al-Prim romantis, porsi Katniss sama Peeta dikurangi, ya. Ngalah sama yang muda. Iya, nih aku nunggu lanjutan fic kamu! Semangat, ya. Thanks :)
Oke, langsung saja..!
Happy reading!
Dua hari Prim tak bisa menemui Al. Keluarga Potter sedang tak ada di rumah.
"Kata Al, ia dan keluarganya ke rumah kakek dan neneknya. Ada pamannya yang berulang tahun, jadi dirayakan besar-besaran di sana," ujar Prim di dekat perapian. Ia sedang belajar merajut syal. Akhir-akhir ini ia ingin sekali membuat sesuatu untuk Al.
Prim tahu, Al suka sekali dengan fotografi. Yang Prim tahu, Al sering keluar di pagi hari hanya untuk mencari objek foto yang bagus di sekitar hutan. Terkadang, karena terlalu bersemangat, Al sering lupa memakai syal agar tak kedinginan. Udara pagi di Godric's Hollow sangatlah dingin. Prim sudah merasakan itu sejak pertama ia berburu di hutan.
Dengan syal itu, Prim berharap dapat menghangatkan Al di manapun Al berada..
Syal kombinasi abu-abu dan merah itu hampir selesai dengan panjang yang sudah ia perkiraan sebelumnya. Prim memeriksa sekali lagi apakah hasil rajutannya sudah cukup rapi. "Sempurna," katanya sambil membentangkan syal hasil rajutannya.
"Prim, tumben kau meninggalkan buku setebal ini di meja? Biasanya kau sangat menjaga buku-buku seperti ini di lemari bukumu?" Rye mendekat. Tangannya didekatkan ke sekitar perapian untuk menghangatkan badannya yang dingin di malam ini.
Sang kakak hanya melirik sebentar, melihat buku apa yang di maksud.
"Jangan sentuh buku itu, Rye. Itu bukan bukuku, aku saja belum membacanya,"
Peeta muncul dari lantai dua, tangannya menggenggam buku catatan kecil dengan tulisan 'bakery' di depannya. "Tidur, Prim. Ini sudah malam. Nanti matamu sakit kau paksa terus untuk merajut. Pergi tidur, sebelum Mom marah! Kau juga, Rye," pinta Peeta tegas.
Malam sudah semakin larut. Syal buatan Prim sudah hampir jadi.
"Sedikit lagi, Dad," sahut Prim berkonsentrasi. Menyatukan benang terakhir, memutarnya, dan mengikat pada tongkat rajutnya berlawanan. Tangannya sudah cekatan membuat pola-pola rajutan yang khusus ia buat untuk syal pertamanya itu.
Tak perlu sampai satu jam, Prim akhirnya menyelesaikan rajutannya.
Bip bip!
Suara dan getaran terasa bersamaan saat Prim melihat hasil akhir rajutannya. Ponsel Prim menyala. Ada nama Al muncul di layar 4" itu. Notifikasi pesan singkat dari Al.
"Selamat malam, Willow," isi pesan Al diakhiri dengan icon tersenyum.
Prim membacanya dengan wajah penuh kegembiraan. Akhirnya Al menghubunginya juga. Dua hari Al sama sekali tak mengubungi Prim. Gadis itu merasa kesepian luar biasa saat sehari saja ia tak bisa melihat wajah Al.
Tangan Prim menekan alfabet portable dari layar ponselnya, "selamat malam, Al. How dare you! Baru menghubungiku sekarang? Kau sekarat?" tulis Prim.
Beberapa detik kemudian muncul balasan, "kenapa tak sekalian tanya apa aku sudah mati? Pakai bilang aku sekarat! Sorry, aku tak sempat menghubungimu.. aku tak punya waktu untuk hanya sekedar bermain ponsel. Di sini ramai sekali! Aku baru bisa menghubungimu saat semuanya sudah tidur. Aku tak mau James melihatku terus bermain ponsel sampai akhirnya muncul banyak pertanyaan darinya yang mulai merasa curiga," kata pesan Al.
"Baiklah, aku maafkan. Berarti kau sekarang tetap bangun hanya untuk berkirim kabar untukku?"
"Ya iyalah, mana bisa orang berkirim pesan seperti ini dengan keadaan tidur?" balas Al cepat.
Prim membacanya sampai tertawa, "bisa dong, kalau yang kirim pesan adalah penyihir," balas Prim cepat. Sejenak, ia mengalihkan perhatiannya pada area sekeliling ruang tengah. Hanya ada dirinya sendiri di sana. Perapian masih menyala di depan Prim, meski hanya sedikit dengan arang kayu yang tetap memerah.
Peeta maupun Rye sudah tak nampak lagi. Mata Prim melirik ke arah jam di sudut ruangan. Pukul 11.45 pm. Jam digital itu terus berkedip menunjukkan pergerakan waktu malam ini.
"Sudah larut juga," batin Prim.
Belum ada balasan dari Al sampai hampir lima menit berselang. Prim takut Al sudah tidur, "atau pesan terakhirku menyinggung dirinya?" Prim membuka kembali ponselnya dan membaca pesan terakhir yang ia kirim pada Al.
"Ahh dia tak akan tersinggung kalau dia memang bukan penyihir. Nah, sebentar—" Prim terhenyak dengan perkataannya sendiri, "penyihir? Apa Al—"
Bip bip..!
Ponsel Prim berbunyi. Dari Al. "Maaf, James terbangun. Aku harus menunggu sampai dia tertidur kembali. Aah ini susahnya kalau aku terpaksa tidur sekamar dengannya. Dad sendiri butuh berpikir dua kali kalau mau menempatkan aku dalam satu kamar yang sama dengan James. Kau tahu sendiri kakakku itu seperti apa," pesan Al sedikit panjang dari sebelumnya.
Al mengklarifikasi perihal dirinya lama tak membalas Prim. Bukan karena ia tersinggung seperti perkiraan Prim, tapi hanya untuk menutupi acara pesan kangen mereka malam ini.
"Kakakmu itu memamng bencana kalau target bullynya ada di dekatnya, yaitu kamu! Hehehe!"
"Kau ini, kenapa malah menggodaku, sih! Ehh, Prim..," tulis Al dan langsung mengirimnya.
"APA?" balas Prim cepat.
Sedikit lebih lama saat Al kembali membalas, "I miss u,"
Prim terpesona. Ia seperti melihat wajah Al sedang tersenyum padanya dari layar ponsel pintarnya itu. "I miss u too. Aku tak tahu apa ini benar, Al," balas Prim.
"Benar? Apa yang perlu di salahan?"
"Perasaanku.. aahh tak bagus sekali perempuan menceritakannya duluan," ketik Prim dengan wajah merona memerah. Syukurlah Al tak bisa melihatnya.
"Menceritakan kalau kau juga merindukan aku? Tentang perasaan setelah pagi itu di bawah pohon willow? Aku paham Prim. Aku juga tak bisa menyembunyikan perasaan ini," ungkap Al dalam pesan terbarunya.
Tidak perlu menjelaskan secara jelas, Prim paham maksud pesan Al. Dirinya dan Al sama-sama merasakan sesuatu yang indah mulai tumbuh di hati mereka masing-masing. Sesuatu yang akan segera mereka sebut.. cinta.
"So.. aku bisa simpulkan bahwa hubungan kita sekarang sedang long-distance relationship. Rupanya seperti ini rasanya LDR! Berat sekali, Al!" ungkap Prim tampa harus berteriak menunjukkan wajahnya yang penuh dengan kerinduan kepada Al.
Cepat, Al membalas, "ow, sabarlah, Willow. Aku besok sudah pulang, Dad ada urusan mendadak. Dan.. aku punya sesuatu untukmu!" kata Al.
"Oh, God! Aku juga, Al. Oke, aku tunggu kau pulang esok. Istirahatlah! Jangan sampai James terbangun lagi,"
Diakhiri dengan ucapan saling rindu, Prim dan Al mengakhiri balas-membalas pesan mereka. Sudah lewat tengah malam, tapi Prim belum juga merasakan kantuk. "Apa karena Al? Oh Tuhan, apa ini yang dinamakan jatuh cinta?" Prim berbicara sendiri.
Setelah membereskan perlengkapan merajutnya, Prim bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Tak lupa ia lipat syal hasil karyanya dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. "Ahh hampir saja lupa," Prim menemukan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari Lily, adik Al.
Saat itu, Prim yang bosan dengan acara keluarganya di rumah keluarga Potter, memilih duduk menyendiri di bangku taman dekat pohon. Tempat Lily sedang sibuk dengan buku-buku yang sedang ia bubuhi sampul plastik cukup tebal. Prim melihat ada beberapa buku yang sudah pernah ia baca sebelumnya. Kecuali satu.
Tangan Prim meraih satu buku tebal dengan gambar kastil besar yang sebagian besar telah hancur. "Aku pinjam ini ya? Boleh?" tanya Prim pada Lily.
Tanpa melihat buku apa yang diinginankan Prim, Lily menjawab, "bawa saja, Prim. Kalau kau butuh yang lain bilang saja, akan aku antar kau ke perpustakaan keluarga kami," tawar Lily dengan senang hati.
"Battle of Hogwarts?" Prim membaca sampulnya pelan. Belum banyak yang ia baca, dan malam ini, ia berniat untuk membacanya sebelum tidur. Mumpung belum mengantuk.
Setelah berganti pakaian dengan piama, Prim meraih kembali buku itu. Ia mengamati sampul dan tulisan yang tercetak di sana.
Sejarah besar perjuangan di balik kastil Hogwarts, begitu tulisan yang tercetak di bawah judul utamanya. Prim mengamati betul gambar kastil yang hampir hancur itu dengan nama Hogwarts yang baru saja ia kenal.
"Apa itu nama kastilnya? Ini buku sejarah? Sepertinya aku baru tahu nama kastil ini," Prim kembali membaca kutipan endorsement dari beberapa orang yang ditulis di depan cover.
Mampu mengingatkan pada generasi selanjutnya tentang kelamnya masa kekuasaan sang raja kegelapan.. oleh seseorang dengan title profesor.
Kisah yang menggugah! Usia tak menghalangi perjuangan demi kedamaian dunia kita.. oleh seorang editor majalah yang belum pernah Prim tahu.
Dan kutipan-kutipan lain yang membuat Prim makin penasaran. "Buku apa ini? Siapa juga raja kegelapan?" batin Prim. Ia segera mencari tahu nama penulisnya, dan dengan cepat ia menemukan nama bertuliskan huruf kapital di paling bawah cover.
"Hermione Weasley? Seperti nama keluarga ibu Al? Apa penulisnya masih keluarga dengan Al?"
Sampul awal dibuka, mata Prim disambut dengan pengantar penulis yang menjabarkan tentang masa lalu. Susunan diksi yang diberikan membuat Prim cepat menilai bahwa sang penulis memiliki kecerdasan yang tinggi.
Prim sampai pada paragraf terakhir, buku ini bukan untuk membesarkan nama-nama kami yang telah berjuang dalam perang bertahun-tahun lalu. Buku ini hanyalah sisi lain sejarah yang mampu mengingatkan kepada kita, pada anak cucu kita, bahwa dunia sihir pernah dalam masa terpuruk sebelum 'DIA' dapat di kalahkan oleh para pejuang Hogwarts dibawah semangat keberanian sang 'Anak yang Bertahan Hidup'.
Dess.. kata sakral itu muncul lagi. Bukan dari isu yang sebelumnya Prim dapat, tapi ia membaca sendiri. "Dunia sihir? Jadi dunia itu ada? Lalu buku ini? Keluarga Al?"
Cepat-cepat, Prim membaca paragraf demi paragraf yang tetulis di dalamnya. Muncul nama Voldemort yang akhirnya diketahui oleh Prim nama itu sempat dilarang diucapkan bebas oleh para penyihir, kemudian nama Albus Dumbledor dan Severus Snape, mengingatkan Prim dengan nama Al. "Dua orang idola ayah Al yang disematkan pada diri Al. Albus dan Severus. Mereka adalah Kepala Sekolah Hogwarts—" baca Prim dengan dada sesak tak karuan.
Dengan cepat Prim membaca lembar demi lembar buku itu. Ia akhirnya menemukan nama Harry James Potter, anak dari keluarga Potter yang disebut sebagai nama pahlawan yang selalu disebut sebagai musuh bebuyutan sang raja kegelapan, anak yang bertahan hidup, lolos beberapa kali dari mantra pembunuh dan ia adalah.. "ayah Al? Jadi ini mengapa Al sangat dikenal oleh banyak warga Godric's Hollow? Karena ia anak dari Harry Potter, sang pahlawan dunia sihir,"
Dan benar saja, sang penulis buku itu, Hermione adalah salah satu dari trio emas selain ayah Al dan paman Al, Ronald Weasley, kakak dari ibu Al, Ginny.
Satu demi satu sejarah sihir Prim baca. Dan memang benar, desa tempatnya tinggal adalah desa pemukiman banyak penyihir, namun tak jarang beberapa Muggle ikut tinggal di sana. Salah satunya adalah dirinya.
"Jadi selama ini isu itu memang benar," air mata Prim jatuh. Ia baru tahu, Al menyembunyikan masalah besar ini darinya, "kau pengecut, Al," ucapnya.
Jauh dari rumah Prim, di kamar dengan perabotan yang terlihat miring, Al meringkuk di dekat jendela kamarnya. "Maafkan aku, Prim. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu," ucap Al. Ia tak takut orang lain mendengarnya, toh ia sendiri di kamar itu. Ya, ia tidur sendiri. James tak pernah diperbolehkan tidur dengannya.
Al kembali berbohong pada Prim.
- TBC -
#
Cerita Al sama Prim yang kirim pesan malam-malam terisnpirasi dari kejadian beberapa hari lalu saat Anne lagi kirim-kiriman pesan sama teman kampus Anne. Ya.. jadi dapat inspirasi dari dia. Buat Kiki, thanks ya! ^_^
Bagaimana kelanjutan kisah Al dan Prim?
Tunggu chapter selanjutnya. Anne tunggu review kalian juga, ya!
Thanks,
Anne x
