LOVE IN PROBLEM

Pairing = [TAEIL X DOYOUNG] [HANSOL X YUTA] [JOHNNY X TEN] [JAEHYUN X TAEYONG] [MARK X DONGHYUCK] [JENO X JAEMIN] + JISUNG

Support Cast = Koeun, yumin(oc), etc.

Genre = Romance, Hurt/Comfort

Warning = YAOI, TYPO, AU, TIDAK SESUAI EYD, MPREG! TRANSGENDER!

.

BY Johntenny


Mark termenung sendirian di sebuah ruangan dengan penuh benda yang sudah tak terpakai. Tubuhnya terduduk dengan bersender pada tembok putih dibelakangnya. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

Gudang sekolah, ini pertama kalinya ia bisa merasa nyaman berada di tempat yang kumuh. Walaupun ia bukan pecinta kebersihan seperti Taeyong, namun ia juga tidak suka dengan tempat yang terlalu kotor seperti gudang.

Tapi kali ini berbeda, selain karena tidak ada orang, tempat ini juga yang menjadi pilihannya untuk menghindar dari Donghyuck. Bukan, Mark tidak marah ataupun membencinya. Tapi ini demi kebaikan Donghyuck.

Mark tidak ingin Donghyuck disakiti, baginya lebih baik dia yang sakit dari pada Donghyuck. Dia hanya ingin melihat Donghyuck bahagia. Tanpa ada kesedihan apalagi airmata, dia hanya ingin melihat Donghyuck terus tersenyum. Bahkan dia rela mati hanya untuk Donghyuck.

Mark kembali teringat dengan obrolannya bersama sang ayah kemarin di Cafe.

Flashback

Dengan gugup, Mark membuka pintu Cafe. Bersamaan dengan pintu terbuka, lonceng di atas Cafe ikut berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk. Mark mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Hingga matanya bertubrukkan dengan mata setajam elang milik seorang namja paruh baya yang masih terlihat fresh.

Mark melangkah dengan sedikit gemetar dan mendekati namja paruh baya yang sudah pasti ayahnya sendiri. Sampai di depan namja paruh baya itu, Mark sedikit menunduk menunjukkan sopan santunnya.

Namja itu terkekeh dan mempersilahkan Mark untuk duduk. "Hi Son. Rupanya budaya Korea sudah melekat dalam dirimu." Ucapnya. Mark duduk bersebrangan dengan sang ayah. "Hi Dad. Senang dapat bertemu kembali denganmu." Jawab Mark sedikit canggung.

"Santai saja, Mark. Aku kesini memang untuk bertemu denganmu dan membicarakan masa depanmu." Ujarnya sambil menekan kata 'masa depan' dan menatap tajam pada sang anak. Mark yang di tatap seperti itu, semakin gugup. Namun ia berusaha menutupinya agar tak ketahuan oleh sang ayah.

Mark tidak mengerti kenapa ayahnya mau berbicara mengenai masa depannya. Bukankah sudah jelas Mark akan menjadi seorang Idol seperti apa yang dia impikan? Dan juga bukankah ayahnya juga sudah merelakannya? Lalu apa lagi yang harus dibahas?

"Masa depan? Apa?" tanyanya tak mengerti. Mr. Lee tersenyum miring sekilas. "Umurmu sudah memasuki 15 tahun atau 16 tahun di Korea. Biasanya anak seusiamu sudah mengenal apa itu cinta. Entah itu cinta monyet atau cinta sejati." Ujar sang ayah sambil menatap dalam sang ayah.

Mark menggigit bibir bawahnya dan menunduk. "Dan Mark, apa kau sudah merasakan jatuh cinta?" tanya sang ayah lagi. Mark mengangguk lirih. Jantungnya berdebar kencang. Tentu saja ia sudah pernah jatuh cinta. Dia sudah merasakannya, walau ia tidak tahu ini cintanya yang seperti apa.

"Siapa yeoja yang beruntung itu?" tanya sang ayah lagi. Mark menatap mata tajam sang ayah. Dia tidak bisa menjawab. Yeoja? Tapi dia jatuh cinta pada pesona Donghyuck, dan Donghyuck adalah namja. Apa yang harus ia jawab?

"Kenapa kau tidak menjawab?" ujar sang ayah lagi dengan tatapan yang semakin tajam. "Atau jangan-jangan..." Mark semakin berdebar, tangannya menggenggam bagian bawah kaosnya dengan kencang. Tubuhnya berkeringat dingin.

"Aku tidak menyangka anakku tidak normal." Lanjutnya dengan intonasi yang menusuk. Mark menunduk dan tak berani menatap mata ayahnya. "Kau tidak boleh mencintainya!" tegas sang ayah. Mark menegakkan kepalanya, "D-daddy, ak-aku... tidak bisa!" balas Mark sedikit meninggikan nada bicaranya.

"Heol! Apa-apaan ini!" gumamnya meremehkan. Ayah Mark terus menatap Mark dengan tatapan tajamnya. "Kau tahu aku memiliki perusahaan besar yang bahkan sudah menguasai dunia di Kanada. Kau adalah anakku satu-satunya. Aku sudah membiarkanmu memilih mimpimu untuk menjadi seorang idol di Korea. Namun ini kah balasanmu?!" bentaknya.

"Kalau sampai publik tahu kau ini menyimpang, apa semua orang disini mau menerimamu menjadi publik figure? Bagaimana dengan rekan-rekanku yang mengetahui anakku seorang penyimpang? Kau bisa merusak apa yang sudah susah payah kubangun! Kau juga bisa menghancurkan mimpimu sendiri! Jangankan dengan 'sesama' dengan yeoja saja, akan banyak skandal yang mendatangimu." Ucap sang ayah panjang lebar.

Mark diam seribu bahasa. Semua yang dikatakan ayahnya memang benar. Semuanya tidak benar. Ia memang menyimpang. Tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Sampai detik ini, jantungnya masih berdetak untuk Donghyuck. Dia tidak pernah merasakan sensasi ini selain dengan Donghyuck. Bahkan tidak juga dengan teman-teman yeojanya. Perasaannya ini bukan kemauannya, hati kecilnya lah yang bekerja.

Tiba-tiba ayahnya menyodorkan sebuah foto namja manis padanya. Mark membulatkan matanya tak percaya dan menatap mata ayahnya. "Dia kah orang itu?" tanyanya. Mark tergagap dan tak bisa menjawab.

Dimata sang ayah, keterdiamannya adalah jawaban 'iya'. Dia menatap Mark dengan pandangan serius. "Lee Donghyuck." Gumam sang ayah lagi. "Aku memberimu beberapa pilihan Mark, dan kuharap kau bisa memilih yang terbaik." Mark menatap mata ayahnya dengan mata memerah.

"Kau bisa menjauhinya dan melepaskan cintamu padanya, jika tidak, aku yang akan bertindak sendiri. Kau tahu Mark, aku bisa melakukan apapun pada namja yang kau cintai ini!" ancamnya. Mark tidak berkutik, tapi dalam hati ia berteriak 'Tidak! Dia tidak mau melepaskan Donghyuck!'.

"Atau jika kau gagal melupakan cintamu pada namjamu, lebih baik kau di Kanada menjadi pewaris yang selama ini aku impikan. Dengan begitu kau bisa melupakannya." Lanjutnya. Mark diam, pilihannya benar-benar mengerikan.

"Daddy, aku tidak bisa menjauhinya!" jawab Mark lantang. Dia ingin membela Donghyuck. "Kau bisa kembali ke Kanada kalau begitu." Ucap sang ayah dengan nada santai. Mark menggeleng. "Daddy, aku juga masih ingin menjadi seorang Idol." Jawab Mark lagi. Kepalanya pening dan ia bisa merasakan perasaanya campur aduk.

"Kalau begitu jauhi Lee Donghyuck!" ucap sang ayah lagi. "Aku bisa melakukan apa saja untuk membuatnya menderita, Mark!" ancamnya lagi. Mark menggeleng keras. "Aniya! Dad please, jangan sakiti Donghyuck!" Mark menangis. Tidak! Dia tidak bisa melihat Donghyuck menderita apalagi karena dirinya, lebih baik dia yang mengalah.

"Baiklah, aku akan menjauhi Donghyuck dan menghilangkan perasaan ini padanya. Tapi Daddy juga harus berjanji agar tidak menyakitinya." Ujar Mark menatap ayahnya putus asa. Ayahnya mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan.

"Jika hanya itu, aku akan pergi karena aku masih memiliki jadwal lain hari ini." Ucap Mark sambil menghapus airmatanya kasar menggunakan lengannya. "Kau boleh pergi." Ucap sang ayah. Mark pergi begitu saja tanpa memikirkan sopan santun. Sungguh dia merasa muak melihat wajah ayahnya.

Tanpa Mark ketahui, Mr. Lee tersenyum misterius sambil menatap punggung anaknya yang sudah menghilang di balik pintu Cafe.

Flashback off

Itulah alasannya dia mulai menjauhi Donghyuck. Donghyuck sendiri sepertinya belum menyadari tingkahnya, karena anak itu juga sedang sibuk-sibuknya bersama Jeno dan Jaemin membahas bahan ulangan karena mereka satu angkatan, mereka kelas sebelas sedangkan Mark kelas dua belas.

Saat mendengar bel masuk, Mark mendesah berat dan dengan malas melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas.


Sudah dua hari Doyoung masih menetap di apartement Gongmyoung. Beruntungnya, Doyoung tidak lagi menahan Gongmyoung untuk pergi. Gongmyoung sedikit merasa lega karenanya. Namun, Doyoung masih tetap tidak aktif seperti kemarin-kemarin.

Doyoung bangkit berdiri dari posisi tidurnya. Dia melangkahkan kakinya ke sebuah cermin. Bokongnya sudah tidak sesakit kemarin karena sudah diobati olehnya. Doyoung memandang cermin yang ada dihadapannya, lebih tepatnya bayangan dirinya sendiri.

Doyoung meraba lehernya yang masih terdapat kissmark, hanya saja kissmark itu sudah mulai memudar. Doyoung menatap kosong pada bayangan tubuhnya yang ringkih, dia menggeleng. Tak habis pikir kenapa dirinya sangat lemah.

Doyoung hanya takut, kejadian itu akan membuatnya hancur. Masalahnya hanya satu, dia adalah yeoja, dia bukan namja tulen yang seperti dilihat orang lain. Tidak hanya Doyoung, namun ini juga ditakutkan oleh Gongmyoung.

Gongmyoung takut terjadi sesuatu pada adiknya setelah kejadian itu. dia takut namja Moon itu menghancurkan adiknya walau kenyataannya sudah terjadi. Tapi dia hanya tidak ingin adiknya lebih hancur lagi.

Gongmyoung menghampiri Doyoung, "Kapan kau akan kembali? Banyak membermu yang menanyakan dirimu, namun aku tidak membalasnya. Mereka mengkhawatirkanmu Doyoung-ah." Ujarnya pada sang adik hati-hati.

Doyoung menundukkan kepalanya. "Molla, hyung. Aku belum atau bahkan tidak siap. Aku tidak mau bertemu dengannya." Jawab Doyoung. Gongmyoung mengerti perasaan adiknya. "Kalau begitu, balaslah pesan mereka agar mereka tidak khawatir." Jawab Gongmyoung.

"Akan ku balas nanti hyung." Ujar Doyoung. "Baiklah, kalau begitu segeralah turun. Aku sudah memasakkan sup rumput laut untukmu." Ajak Gongmyoung. Doyoung mengangguk, "Ne, nanti aku akan turun." Jawabnya dan mengambil ponselnya yang tidak aktif semenjak dua hari yang lalu.

Gongmyoung yang mengerti segera turun ke bawah menunggu Doyoung. Doyoung mengaktifkan ponselnya dan melihat satu-persatu pesan yang masuk dari member SMROOKIES.

From = Youngho Hyung

Ya! Kelinci liar. Neo eoddiga? Jangan membuat kami khawatir. Balas pesanku!

Doyoung seketika cemberut membaca pesan dari hyung Amerikanya itu. Apa-apaan Johnny, menghinanya kelinci liar!

To = Youngho Hyung

Tidak perlu memanggilku kelinci liar, Tiang! Aku di apartement Gongmyoung hyung, jangan khawatir.

Doyoung membukan pesan yang kali ini dari Taeyong.

From = LTY

Doyoung, kau dimana? Sudah dua hari kau tidak pulang. Balas pesanku!

Doyoung tersenyum ketika membaca semua pesan yang masuk dari member lain mengkhawatirkannya. Dia membalas semua pertanyaan member yang menanyakan keberadaannya dengan jawaban yang sama. Tinggal satu pesan yang belum ia jawab, dan itu dari orang yang dihindarinya. Doyoung tidak tahu harus menjawab atau tidak. Namun panggilan dari Gongmyoung mengalihkannya.

"Doyoung, makan dulu." Teriak Gongmyoung. "Ne!" jawab Doyoung lalu menuju ruang makan dan meninggalkan ponselnya.

From = Taeil Hyung

Doyoung-ah, kau dimana? Kenapa kau tidak pernah datang ke tempat latihan dua hari ini? Kenapa kau tidak pulang juga ke dorm? Aku sangat mengkhawatirkanmu, dongsaengie. Pulanglah dan tolong jangan abaikan pesan hyung


"Jadi kapan orang yang kau bilang akan datang itu tiba, Ji Hansol?" tanya seorang namja paruh baya pada seorang namja tampan yang bernama Ji Hansol. Hansol menatap ayahnya sambil tersenyum kecil. "Itu mereka datang." Ujar Hansol.

Dia menunjuk pada tiga orang dewasa yang baru saja memasuki restorant yang sudah ia pesan. Dua orang paruh baya dengan berbeda gender dan seorang yeoja cantik. Mereka tampak anggun dan elegan.

Ketiga orang itu menghampiri keluarga Ji. Hansol menyambut hangat kedatangan keluarga Lim. "Maaf membuat kalian menunggu lama, apa kau Ji Hansol?" ujar sang namja paruh baya sambil menatap Hansol.

Hansol tersenyum dan menjawab, "Ya, saya Ji Hansol. Dan paman Lim, ini kedua orang tua saya." Ujar Hansol sambil memperkenalkan kedua orang tuanya pada orang tua Koeun. "Annyeonghaseyo. Saya Lim Jeonhyung, ini istri saya Lim HyunAe dan ini putri saya Lim Koeun." Ucap Mr. Lim dan memperkenalkan istri dan anaknya kepada keluarga Ji.

"Annyeonghaseyo." Sapa Mrs. Lim dan Koeun bareng sambil membungkukkan kedua badannya tanda hormat. Keluarga Ji tersenyum. "Annyeong, Saya Ji Hyansung dan istri saya Ji Cheongshin, sepertinya anda sudah mengenal anak saya Ji Hansol. Senang bertemu kalian." Ujar Mr. Ji dengan senyum ramahnya.

Dua keluarga itu duduk bersama saling berhadapan. Hansol duduk disebelah Koeun dan kedua orang tua mereka duduk terpisah dengan mereka. "Jadi ada apa kalian mengumpulkan kami?" tanya Mr. Ji. Semua mata menatap Koeun dan Hansol dengan penasaran.

"Begini, sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada keluargaku dan juga keluarga Lim. Sebelumnya tolong jangan ada yang memotong perkataanku." Ujar Hansol sambil berdehem setelahnya. "Aku dan Koeun sudah berteman sejak lama." Koeun menoleh pada Hansol dengan pandangan tak terima.

Sebelum Koeun memprotes, Hansol kembali melanjutkan perkataannya. "Sejak lama, aku sudah menganggap Koeun adalah adikku, dan tidak lebih." Hansol sengaja menekankan setiap perkataannya. "Namun aku tidak pernah menyadari kalau Koeun mempunyai perasaan yang lebih padaku. Hingga suatu kejadian yang membuatku tersadar, kalau Koeun ingin memilikiku." Ujar Hansol datar.

"Oppa, apa-apaan ini?" tanya Koeun tak mengerti dengan perkataan Hansol yang melenceng dari topik yang sudah direncanakannya. Hansol tidak menanggapi Koeun dan melanjutkan perkataannya. "Sekitar tiga bulan yang lalu, Koeun mengatakan kalau dia hamil anakku." Aku Hansol. Tak ayal membuat kedua belah pihak terkejut setengah mati.

BRAKK

Paman Lim menggebrak meja dan menatap Hansol tajam. Tapi sebelum namja paruh baya itu mengucapkan sepatah kata pun dia melanjutkan ucapannya. "Jujur saja paman Lim, saat tiga bulan yang lalu, aku tidak sedang bersama putrimu, aku bersama kekasihku. Jadi aku juga tidak mengerti kenapa putrimu mengatakan hal itu sebulan lalu dan menuntutku untuk menikahinya." Ujar Hansol menahan seringaiannya.

"KAU! MAKSUDMU KAU MENGHINA ANAKKU INI JALANG?!" ujar Mr. Lim dengan pandangan tak terima pada Hansol. Hansol menatap wajah Mr. Lim dengan pandangan santai. "Aku tidak bilang begitu." Ujar Hansol santai.

"Aku menjawab aku akan menikahinya, tetapi saat bayi itu sudah lahir. Aku akan melakukan tes DNA dengannya." Ujar Hansol. "Hansol! Kenapa kau seperti ini?! Bukankah kau mengatakan akan menikahiku secepatnya?!" bentak Koeun tak terima.

"Aku tidak percaya dengan anak yang dalam kandungan ini adalah anakku. Aku hanya ingin memastikan itu!" ujar Hansol dengan nada tinggi. "Kenapa harus nanti? Kau bisa melakukan tes sekarang Hansol-ah." Ujar sang ayah yang menatapnya marah.

"Tidak ayah. Aku ingin mencari aman saja jika bayi itu benar-benar anakku. Banyak yang tidak kupercayai disini." Ujar Hansol dingin. Keluarga Lim menatap Hansol bengis, "Kau mengatakan seolah kami pihak yang jahat." Ujar Mr. Lim tak kalah dingin.

Hansol tertawa kecil. "Pada akhirnya memang akan seperti itu." ujar Hansol misterius. Keluarga Lim langsung pergi membawa Koeun yang menangis tak terima dengan pernyataan Hansol, mereka sudah sangat panas karena merasa Hansol mencoreng nama baik keluarga mereka.

Mr. Ji memandang Hansol sangsi. "Kau benar-benar tidak menghamili yeoja itu Ji Hansol?" tanyanya. Hansol memandang kedua orangtuanya lembut. "Ayah, Ibu, kalian tidak mungkin berfikir aku melakukan hal yang tidak senonoh pada seorang yeoja kan? Aku tidak mungkin melakukannya pada orang yang tak ada ikatan apapun denganku." Ujar Hansol jujur.

Melihat tatapan Hansol, mereka tahu putra mereka tidak mungkin berani membohongi mereka. "Lalu, siapa ayah dari anak yang dikandung Koeun?" tanya sang ibu. Hansol hanya tersenyum misterius pada kedua orangtuanya.


PLAKK

PLAKK

Dua tamparan telak diterima oleh pipi mulus Koeun. Koeun kini bersujud di bawah kaki sang ayah. Sang ayah menatap marah sekaligus kecewa pada putri yang sudah dibesarkannya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan sang ibu hanya bisa terdiam sambi menangis melihat keadaan putrinya.

"SEBENARNYA APA YANG KAU LAKUKAN DILUAR SANA?! KENAPA BISA KAU HAMIL DAN MEMPERMALUKANKU?!" Mr. Lim benar-benar kalap. "Ampun Appa! Mianhae...hiks...mian..." isak Koeun sambil memeluk kaki Appanya.

"APA YANG KURANG DARIMU LIM KOEUN?! SEMUA HARTA ATAUPUN PERMINTAAN YANG KAU INGINKAN SELALU TERPENUHI, LALU APA INI BALASANMU?!"

"Appa...hiks...tolong ampuni aku. Appa aku hanya ingin menjadi Idol...hiks...tapi namja Ji itu...hiks menghancurkan semuanya... Appa percayalah padaku...hiks" Ujar Koeun dengan memohon ampun padanya.

"Cih! Lebih baik kau masuk ke dalam kamarmu. Aku benar-benar muak melihatmu saat ini." Setelahnya Mr. Lim segera meninggalkan Koeun di ruang tamu dan membiarkan maid menyeret tubuh putrinya ke dalam kamarnya. Sedangkan Mrs. Lim menatap tubuh putrinya dengan pandangan tak tega. "Yeobo-"

"Jangan membelanya. Sudah cukup kita selalu memanjakannya." Sela Mr. Lim lalu meninggalkan istrinya yang memandangnya kecewa.

Di dalam kamar Koeun menjerit dan memancarkan kilatan kebencian. "INI SEMUA PASTI KARENA NAKAMOTO YUTA! AWAS KAU NAMJA JALANG!"


Pasir putih yang lembut dan air laut yang berwarna biru cerah serta matahari yang mulai menampakkan senyumanannya menyapa seorang namja manis yang kini tengah berada di sebuah pantai terkenal di Osaka. Yaitu pantai Nishikinohama.

Yuta mengelus perutnya yang mulai membuncit itu dengan senyuman yang begitu miris. Janin dalam rahimnya sudah hidup selama empat bulan, dan ia benar-benar tidak sabar menunggu kelahiran buah hatinya bersama Hansol, yang artinya ia masih harus berjuang untuk 5 bulan ke depan.

"Aegi-ya... mianhae Eomma, Eomma pasti sering membuatmu sering tersiksa di dalam sana... Eomma bukan Eomma yang baik untukmu,ne..." lirih Yuta sedih. Dia ingat saat dua bulan lalu dia pernah masuk rumah sakit dan hampir saja kehilangan bayinya.

"Yuta Eomma yang terbaik kok. Buktinya dia kuat sampai sekarang, benarkan baby?" ucap seseorang yang tiba-tiba berada di samping Yuta. Yuta sedikit tersentak dengan kehadiran namja itu. "Aigoo, kau mengangetkanku Hinata-kun." Yuta mengerucutkan bibirnya.

Hinata yang gemas pun mencubit pipi Yuta yang semakin chubby seiring dengan kehamilannya yang berkembang. "Aduh~ ada baby yang sedang mengandung baby..." goda Hinata. "Ya! Aku bukan baby!" protes Yuta sambil memukuli lengan Hinata.

"Ok! Ok! Gomen Yuta Eomma." Ujar Hinata dan Yuta menghentikan serangannya pada Hinata. Hinata berdehem dan mengalihkan pandangannya pada pantai yang masih sepi dihadapannya ini. "Ini sudah masuk bulan ke – empat kehamilanmu, Yuta. Kau tidak menginginkan apapun?" tanya Hinata.

Yuta menggeleng pelan. "Aniya, aku tidak menginginkan apapun. Mungkin Aegi mengerti kalau Eommanya sedang susah..." jawab Yuta tersenyum. Memang iya, Yuta tidak pernah meminta yang aneh-aneh selama masa ngidamnya, justrus Yuta semakin manis dan keibuan selama satu bulan setelah kejadian pengusiran itu.

Keinginan Yuta tidak muluk-muluk, mungkin hanya makanan kesukaannya seperti daging dan Takoyaki saja yang berkurang jadinya. Selama hamil Yuta tidak pernah menyentuh dua makanan itu. Dan sekarang Yuta juga tidak lagi mengalami morning sick. Yuta juga semakin rajin meminum vitamin dan susunya. Hanya saja Yuta kadang mengeluh pegal di punggung dan pinggang serta nyeri di dada walaupun dia tidak melakukan pekerjaan apapun.

Kenapa Hinata dan Yuta berani berkeliaran tanpa alat penyamaran dan tanpa takut diketahui keberadaannya sama fans? Tentu saja karena ada perubahan bentuk pada fisik Yuta. Fisik Yuta sekarang benar-benar seperti Yeoja normal.

Tubuh berisi pinggul Yuta juga sedikit melebar. Dan itu cukup sexy bagi semua namja yang memperhatikan dengan detail, dan satu lagi, entah perasaannya saja atau apa, tapi dada Yuta yang rata kini mulai berisi. Oh oh, Hinata tidak berani lagi memperhatikan tubuh Yuta lebih jauh sebelum ia yang kena masalah.

Kembali pada perasaan Yuta, Hinata tahu, Yuta sangat merindukan Hansol. Diam-diam menangis dimalam hari, sungguh membuat Hinata tidak tega. Lagi, mana ada orang hamil yang kuat jika harus berpisah dengan ayah dari anaknya. Setiap orang hamil membutuhkan pasangannya disampingnya.

Ngomong-ngomong, mengenai Hansol. Hinata sudah mendapatkan jawaban dari namja itu. dia setuju untuk bekerjasama dengannya. Hinata menawarkan kerja sama untuk membantu Hansol mencari Yuta. Hinata hanya dapat memberitahukan dimana keberadaan Yuta saja, dia belum berani mengungkap kehamilan Yuta pada Hansol.

Dia tidak mau menambah masalah, dia takut Hansol salah paham. Bagaimana jika Hansol mengira Yuta sengaja menyembunyikan kehamilannya? Atau yang lebih parah, bagaimana jika Hansol malah mengira Yuta berselingkuh dengannya?

Lagian dia sudah berjanji dengan Yuta, agar namja itu saja yang memberitahunya entah kapan. "Hinata-kun..." panggilan Yuta menyadarkan Hinata dari lamunannya. "Y-ye?" jawabnya. "Kau memikirkan apa?" tanya Yuta.

Hinata menggeleng. Dia menatap Yuta dengan senyuman manisnya. "Siang ini, kau mau memriksa kandunganmu tidak? Kau kan tidak pernah memeriksanya." Tawar Hinata. Mata Yuta berbinar mendengar tawaran Hinata. "Benarkah boleh?" tanya Yuta.

Hinata mengacak surai coklat Yuta yang mulai memanjang hampir menyentuh bahu. "Tentu saja boleh. Aku kan juga ingin melihat keponakanku." Jawab Hinata. Yuta tersenyum cerah. "Gomawo Hinata-kun..." ujar Yuta.

Satu hal lagi, Yuta sudah mulai melupakan kesedihannya karena orangtuanya.


"Doyoung hyung!" teriak minirookies heboh dipagi hari yang cerah karena mendapati hyung kelinci mereka di depan pintu. Donghyuck yang langsung menabrak tubuh mungil Doyoung dengan pelukannya diikuti dengan minirookies lainnya.

Member lain yang mendengar teriakan minirookies, langsung berkumpul di ruang tengah. Mereka menghembuskan nafas lega ketika melihat namja yang mereka rindukan berada di pelukan minirookies.

"Hyung, kau darimana saja? Kenapa sampai sebulan kau tidak pulang?" tanya Jaehyun. Doyoung tersenyum kecil melihat semua orang yang mengkhawatirkan dirinya, dia mendudukkan dirinya di sofa setelah minirookies melepaskan pelukannya.

"Maaf, aku ngaret ya." Jawab Doyoung sambil nyengir lucu. "Ya! Kau malah nyengir, kami mengkhawatirkanmu kelinci pabboya!" ujar Taeyong sambil mengapit kepala Doyoung di keteknya dan mengusak kasar surai madu Doyoung.

Doyoung meringis dan melepas kepalanya dari apitan Taeyong dengan kasar. "Ish! Sakit Lee menyebalkan Taeyong!" ujar Doyoung sebal. Jaehyun tertawa saja melihat kekasihnya dan Doyoung yang dari dulu seperti Tom&Jerry.

"Sudah-sudah, yang panting sekarang Doyoung kan sudah pulang. Nah Doyoung, bisa jelaskan kenapa kau pergi selama satu bulan tanpa alasan?" tanya Hansol. Doyoung menoleh pada Hansol, namun tatapannya malah jatuh pada namja yang berdiri di samping Hansol. Namja yang berusaha ia lupakan karena kejadian sebulan yang bulan.

Tatapan keduanya terkunci, hati Doyoung seperti ditusuk ribuan jarum kala matanya bertemu kembali dengan mata itu. Kilasan malam itu kembali terngiang membuatnya merinding. Keringat dingin membanjiri pelipis Doyoung.

Namja itu, Taeil, kenapa dia malah diam saja? Apa Taeil menyadari mengenai malam itu? apa yang akan Taeil lakukan jika dia mengingatnya? Doyoung mengalihkan tatapannya dari Taeil. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, dan reflek dia mengurut pelipisnya.

Member lain yang menangkap perubahan pada Doyoung pun menatap namja manis itu khawatir. "Doyoungie, gwaenchana?" tanya Johnny khawatir yang melihat wajah Doyoung memucat. "Sepertinya dia sakit, lebih baik dia istirahat saja." Ucap Taeil menghampiri Doyoung bermaksud untuk membantu namja itu untuk istirahat di kamarnya.

Tapi respon yang diberikan Doyoung berhasil membuat semua orang disana membeku. "Jangan menyentuhku!" ucapan dingin Doyoung seiring dengan tepisan kasarnya yang ia layangkan pada Taeil yang berniat membantunya.

Tak hanya itu, mata Doyoung yang menyiratkan banyak arti dan sorot dinginnya membuat semua orang disana terdiam seribu bahasa. Bukankah sebelumnya Doyoung baik-baik saja? Namun ketika Taeil menghampirinya kenapa reaksi Doyoung berubah 360 derajat?

Doyoung bangkit dan segera menghilang dibalik pintu kamarnya dan Taeyong. Suara pintu yang ditutup dengan cara di banting mengagetkan semua member. "Tadi itu..." Ten tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

"Ada apa dengannya?" gumam Taeil heran. Hansol berdehem, "Sudahlah mungkin dia hanya kelelahan. BTW, aku ada kabar mengenai Yuta dari Hinata itu." ucapan Hansol berhasil menarik kembali eksistensi member lain.

"Dia memberitahuku kalau Yuta kini berada di Jepang." Ucap Hansol dengan berbinar.


Yuta duduk dibangku bersama beberapa wanita hamil lainnya. Dia menunggu Hinata yang sedang mengurus administrasinya. Ternyata Hinata menepati ucapannya untuk membawa Yuta kerumah sakit untuk memeriksa kandungan. Jujur saja, Yuta sangat exited. Setelah mengurus adiminstasi pendaftaran, Hinata duduk di sebelah Yuta dan menggenggam tangan namja manis itu yang sedikit dingin, sepertinya dia gugup.

Sampai beberapa saat kemudian, Yuta benar-benar di panggil ke dalam. Yuta masuk di temani Hinata. Yuta duduk dihadapan seorang dokter yeoja yang masih muda, mungkin dia seusia Yuta. "Selamat siang, dengan pasien siapa?" tanyanya dengan senyum ramah.

Yuta tersenyum, "Siang Dokter, saya Nakamoto Yuta." Jawab Yuta. Dokter itu mempertahankan senyumnya. "Jadi apa ada keluhan? Atau hanya ingin sekedar menchek-up? Ah ya berapa usia kehamilan anda Yuta-san?" tanya sang Dokter beruntun.

"Usia kandungan saya 4 bulan, Dok. Keluhan, saya sering mengalami pegal-pegal dibagian pinggang dan punggung padahal saya tidak melakukan pekerjaan berat, dan saya mengalami nyeri di dada." Ujar Yuta.

"Saya tebak, ini adalah kehamilan pertama anda? Jadi keluhan anda itu adalah hal yang normal bagi wanita hamil, mungkin karena tubuh anda membawa beban dan belum terbiasa, untuk dada yang nyeri itu karena pembentukkan ASI jadi tenang saja. Apa ada lagi?" tanya sang Dokter.

"A-anu.. saya wanita yang transgender laki-laki, apa itu tidak beresiko Dok?" tanya Yuta sedikit canggung. Dokter itu sempat terdiam sebentar. "Ah, jadi anda wanita yang sekarang menjadi laki-laki?" tanyanya memastikan. "Tapi seluruh alat reproduksi saya tidak di ambil Dok, hanya penambahan hormon laki-laki dan alat vitalnya." Jelas Yuta.

"Menurut saya, tidak akan ada masalah. Karena tubuh asli anda adalah wanita." Jawab sang Dokter. Yuta tersenyum dan sedikit tenang. "Saya ingin melakukan pemeriksaan, Dok." Ucap Yuta. Dokter tersenyum. "Silahkan berbaring di kasur." Ujarnya.

Hinata yang sedari tadi diam hanya mengikuti langkah keduanya. Yuta berbaring di kasur putih itu, sementara sang dokter menurunkan monitor yang langsung berhadapan dengan Yuta yang berbaring. Disebelah kanannya sang dokter juga menyiapkan berbagai alat yang hampir sama seperti komputer.

Dokter itu memeriksan denyut jantung Yuta menggunakan stetoskopnya, juga tensi darah Yuta. "Detak jantung dan Tensi darah anda normal Yuta-san ini pertanda bagus." Ucapnya. "Maaf sebelumnya, untuk melihat janin anda harus membuka baju anda sebatas perut." Izin sang Dokter.

Yuta mengangguk dan membiarkan dokter itu menyingkap kaus birunya sebatas bawah dada. Perutnya yang mulai membuncit kini terlihat jelas. Dokter itu mengoleskan gel pada permukaan perut Yuta, Yuta meringis karena gel itu sangat dingin menurutnya.

Tak lama muncul warna hitam putih di monitor, tapi setelah sang Dokter menempelkan alat Transduser dan menekannya sedikit pada perut Yuta, terdapat sebuah gambar disana. Yuta tertegun, "Nah, lihatlah Yuta-san, bayi anda sudah memiliki organ tubuh yang lengkap di usia ke 4 bulan. Anda bisa melihatnya bukan?" sang Dokter tersenyum.

Setetes airmata jatuh dari mata cantiknya. Itu anaknya, 'Hansol hyung, igeo uri aegi...' batin Yuta bahagia. Yuta mengernyit ketika mendengar suara aneh. "Itu suara apa?" tanya Yuta. "Ah ini suara detak jantung bayi anda yang berasal dari transduser." Jawabnya.

Yuta semakin terdiam dan tak bisa mengungkapkan kebahagiaannya. Dia sangat bahagia, "Dokter, apa bayiku sehat?" tanya Yuta. "Yang saya dengar dari detak jantungnya, dia sehat, dan yang saya perhatikan dari monitor juga tidak ada yang aneh. Saya pastikan bayi anda sangat sehat sehat. Kalo masalah jenis kelamin belum terlalu sempurna untuk memastikan." Ujarnya.

Yuta tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih Dokter." Ujar Yuta. Sang dokter mematikan alat USG sedangkan Yuta bangkit –sebelum perutnya sudah dibersihkan dari gel- dibantu Hinata.

"Jadi Yuta-san, untuk saat ini kandungan anda normal-nomal saja. Jaga pola makan anda dan pastikan anda tidak terlalu banyak pikiran atau stress karena itu dapat mengguncang janin anda. Dan anda bisa menghubungi saya jika terdapat keluhan." Ucap sang dokter sambil menyerahkan sebuah kartu nama.

"Dokter bagaimana untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di dada karena nyerinya?" tanya Yuta lagi. "Anda bisa memijitnya agar menghilangkan nyeri, tapi anda tidak perlu khawatir karena seiring dengan usia kandungan anda rasa sakitnya akan menghilang." Jawab sang Dokter.

"Dokter Yuta akan melahirkan secara apa?" tanya Hinata tiba-tiba. Yuta menatap Hinata bingung. "Yuta bilang, dia tidak melepaskan organ vital perempuannya bukan? Berarti Yuta juga bisa melahirkan secara normal." Jawab sang Dokter.

"Apa sakit Dok?" tanya Yuta meringis. Sang Dokter menggenggam tangan Yuta, mencoba menenangkan pasiennya. "Memang sakit di awal, tapi saat anak anda sudah keluar nanti, sakitnya akan hilang tanpa bekas dan yang anda rasakan hanya kebagiaan." Jawabnya perlahan.

"Lalu bagaimana dengan caesar?" tanya Hinata lagi. "Justru Caesar lah yang jauh lebih sakit. Mungkin saat melahirkan anda tidak merasakan sakitnya, tapi saat selesai operasi rasa sakit akibat sayatan akan terasa saat bius menghilang. Dan sakitnya bisa dirasakan hingga bertahun-tahun lamanya, anda juga dibatasi dalam bekerja." Jelas sang Dokter lagi.

"Kalau begitu saya ingin normal saja." Jawab Yuta, jelas saja, kalau caesar sampai serumit itu, menurutnya dia akan sedikit susah mengimbangi dengan jadwal-jadwalnya nanti. Apalagi kalau masa promosi, itu adalah masa dengan padatnya jadwal.

"Kalau begitu tolong jaga kesehatan fisik ataupun batin anda dan juga tensi anda tidak boleh naik ataupun turun. Kalau bisa lakukan senam pagi dan banyak-banyak lah bergerak saat usia kandungan sudah menua." Ujar Dokter itu lagi.

"Baiklah Dok, terimakasih." Yuta dna Hinata membungkuk sopan sebelum meninggalkan ruangan. "Sama-sama, selamat atas kehamilan anda, dan semoga calon anak kalian selalu sehat." Balas sang Dokter.

Mendengar ucapan sang Dokter, keduanya tertawa canggung. Pasti Dokter muda tadi mengira Yuta dan Hinata adalah pasangan. Hinata mengambil resep vitamin yang diberikan oleh Dokter saat di Korea waktu itu, dan beruntung di rumah sakit Jepang ternyata ada juga.

Yuta menatap sebuah foto hasil USG anaknya dengan pandangan haru. Ingin rasanya dia menghambur dalam pelukan Hansolnya dan berujar senang kalau anak mereka baik-baik saja. Tapi itu hanyalah ekspetasi Yuta saja. Karena mana mungkin Hansol tahu mengenai bayinya yang sudah terbentuk sempurna. Mengenai kehamilannya saja Hansol tidak tahu.

"Kajja Yuta, kita akan kemana hari ini?" tanya Hinata lalu berjalan keluar rumah sakit bersama Yuta. "Aku ingin ke taman bermain." Jawab Yuta mata berbinar. "Baiklah, kita akan ke sana." Jawab Hinata. Yuta terlonjak senang, dia berjalan mendahului Hinata, dan tak sengaja menyenggol orang hingga dia terjatuh. Tentu saja karena tubuh orang itu jauh lebih besar dari Yuta.

Hinata yang melihatnya langsung menolong Yuta berdiri. "Yuta Gwaenchana?" tanya Hinata memastikan. Tuhan... mereka baru saja habis pemeriksaan dan Hinata tidak mau terjadi sesuatu. "Gwaenchana. Tuan maaf saya tidak melihat-lihat saat jalan." Ujar Yuta lalu membungkuk berulang kali.

Orang itu yang memakai pakaian serba hitam, coat hitam, topi hitam, masker hitam juga matanya yang tertutup kacamata hitam. Tak ayal membuat Hinata curiga. Orang itu hanya mengangguk dan berlalu menjauhi Yuta.

Yuta yang sedikit merasakan firasat tak enak segera pergi bersama Hinata. Setelah Yuta dan Hinata pergi, orang yang diketahui pria itu membuka maskernya. Bibirnya menyunggingkan seringaian. Dia menelpon seseorang. Tak lama terdengar suara seseorang dari seberang.

"Nakamoto Yuta, aku sudah menemukannya!" tegas orang itu sambil menatap selembar foto dengan senyum seringainya yang tak pernah hilang.


Kepulangan Doyoung ke dorm memang mmebuat member lain lega, apalagi dengan keberadaan Yuta yang sudah diketahui oleh mereka. Tapi keanehan tetap saja dirasakan oleh mereka karena tingkah laku namja manis yang sangat mirip dengan kelinci itu.

Tingkah Doyoung yang sedikit pendiam dan sinar matanya yang meredup tak dapat membohongi orang-orang terdekatnya, meski dia berusaha berlaku seperti biasa. Apalagi sikap dingin Doyoung terhadap hyung tertua mereka, Taeil.

Bahkan selama ini Doyoung itu sangat manja dengan Taeil. Namun sekarang, sikapnya berubah 360 derajat. Di dalam keadaan apapun, Doyoung selalu berusaha menjauh dari Taeil, setiap Taeil berbicara padanya pun tak ditanggapi. Keberadaan Taeil tidak lagi dianggap oleh Doyoung.

Tidak hanya Doyoung, namun Mark juga, akhir-akhir ini anak itu juga lebih diam dan seperti sedang menjauhi Donghyuck. Mark tidak lagi bercanda dengan Donghyuck, padahal anak itu selalu bersama Donghyuck. Bahkan Mark pernah membentak Donghyuck yang bermanja padanya.

Karena itu juga berimbas pada sang korban. Taeil frustasi, karena dia tidak mengerti kenapa Doyoung yang pulang dari apartement kakaknya menjadi bertingkah seperti itu padanya. Apa otak Doyoung habis dicuci seseorang? Sedangkan Donghyuck, dia merasa sedih karena merasa dipermainkan oleh Mark.

Sebulan lalu Mark mengatakan kalau dia mencintai Donghycuck, namun keesokan harinya sikap Mark berubah padanya seolah membencinya. Donghyuck tidak mengerti apa yang terjadi pada Mark. Apa Mark hanya mempermainkannya?

Apa yang Donghyuck takuti itu terulang kembali? Teman masa kecilnya yang meninggalkannya begitu saja tanpa salam. Padahal Donghyuck sangat mencintai namja itu, walau saat itu Donghyuck tidak mengerti apa itu cinta, namun Donghyuck merasa sangat nyaman dengan namja tampannya itu.

Dan dia sangat kecewa ketika temannya telah pergi meninggalkannya begitu saja di taman. Bahkan selama sebulan Donghyuck pernah menunggu namja itu untuk datang lagi ke taman, namun tetap saja, namjanya tidak pernah datang.

Sampai ia tahu kabar dari ibunya kalau teman masa kecilnya itu pindah keluar negeri lebih tepatnya Kanada. Dan ternyata temannya menitipkan sebuah kalung putih yang berinisial LMH pada ibunya. Sampai sekarang hanya itu yang ia punya dari teman masa kecilnya.

Donghyuck menatap sebuah kalung yang sudah bisa menjadi gelang itu dengan senyuman kecilnya. Kalung itu selalu ia simpan dengan baik. Donghyuck bangkit dari posisi berbaringnya. Dia berjalan menuju meja belajarnya yang bersebelahan dengan Mark.

Dia membuka membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kotak persegi. Memasukkan kalung itu ke dalam dan selalu ia simpan. Saat Donghyuck kembali mendorong lacinya, ternyata sangat susah karena macet. Donghyuck mengeluarkan sedikit tenaganya dan lacinya berhasil kembali masuk. Namun lengan kanannya menyenggol sebuah kotak milik Mark.

BRAK

Kotak itu terjatuh dan isinya berhamburan. Isinya adalah alat tulis dan ada sebuah gelang. Saat Donghyuck mengambil gelang itu, mata Donghyuck melebar. Gelang milik Mark sama persis dengan kalungnya.

Hanya saja warnanya hitam dan mempunyai huruf LDH. Donghyuck terus memperhatikan gelang itu hingga sebuah suara dengan intonasi dingin menyapa indra pendengarnya.

"Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku?"


"Aigoo Jaehyunie, aku pusing sekali dengan kelakuan para member yang akhir-akhir ini menjadi aneh. Doyoung yang menjadi lebih diam dan Mark yang menjadi dingin yah walaupun hanya pada Donghyuck. Taeil hyung dan Donghyuck yang menjadi korban. Ck ck ck kasihan mereka." Keluh Taeyong sambil mengaduk adonan kuenya ditemani Jaehyun yang sedang membuat cream vanilla.

Saat ini mereka sedang membuat sebuah kue coklat atas permintaa Doyoung yang berjam-jam merengek pada mereka untuk diabuatkan Cake. Entah kerasukan apa namja itu sampai segila itu merengeknya pada Taeyong yang padahal sudah dianggap musuhnya.

Taeyong yang tak tahan dengan segala rengekkan Doyoung pun akhirnya menyerah. Sambil merutuki Doyoung yang mengganggunya bersama Jaehyun. Dan lagi namja kelinci itu malah pergi menganggu kencan pasangan Johnten.

Memang semakin aneh si kelinci itu. "Sudahlah hyung, bukankah kita juga mempunyai waktu berdua saat ini. Lagi pula kita juga sedikit beruntung karena Doyoung hyung tidak mmeperlakukan kita seperti Taeil hyung." Jawab Jaehyun sambil terkekeh melihat kekasih manisnya yang merajuk karena hyung kelincinya itu.

Jaehyun meletakkan cream vanilla yang sudah ia buat untuk diberikan nanti saat kue yang dibuat Taeyong sudah jadi. Taeyong sendiri mengukus adonannya dan membersihkan dapur bersama Jaehyun.

Taeyong dan Jaehyun membuka appron yang melekat di tubuh masing-masing. Setelah dapur sudah bersih, mereka duduk di sofa ruang tamu. Keduanya menghela nafas, Jaehyun memeluk Taeyong dari samping. Dan Taeyong melihat Jaehyun yang kini bermanja padanya hanya tersenyum.

"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Taeyong sambil menyalakan TV. Jujur mereka sedikit bosan karena hampir seluruh penghuni dorm sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Taeil dan Hansol ada latihan vokal, JohnTenYoung jalan-jalan, Jeno, Jaemin, dan Jisung sedang di perpustakaan. Mungkin Mark dan Donghyuck juga ikut dengan mereka. Dan dorm benar-benar sunyi seperti tidak berpenghuni.

"Bagaimana jika kita...?" Jaehyun menatap Taeyong dengan senyum menggoda. Taeyong mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Masih belum mengerti dengan maksud Jaehyun. Jaehyun menggerak-gerakkan alisnya dan menyeringai. Taeyong yang akhirnya sadar pun memukul kepala Jaehyun.

"Jangan memanfaatkan keadaan Jung Byuntae Jaehyun!" Taeyong melarikan dirinya dari Jaehyun menuju dapur, meninggalkan Jaehyun yang cekikikkan karena melihat wajah Taeyong yang memerah. Sudah sepuluh menit, dan Steam Choco Lava Cake yang ia buat sudah jadi. Taeyong memberikan tambahan vanila cream yang sudah dibuat Jaehyun.

Setelah dirasa cukup, Taeyong memasukkan cake-nya ke dalam kulkas agar Doyoung dapat memakannya nanti. Taeyong kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelah Jaehyun. "Hyung, bagaimana jika kita Movie Marathon?" tawaran Jaehyun.

Taeyong mengangguk setuju dan mengambil satu paket popcorn berukuran besar di laci meja counter dapur lalu membuat dua gelas coca cola untuknya dan Jaehyun. Dia melihat Jaehyun yang sudah fokus ke TV. "Jadi film apa?" tanya Taeyong dan menyenderkan tubuhnya di dada Jaehyun.

"Kita mulai dari Twiligh dulu." Jawab Jaehyun sambil menghirup aroma strawberry di surai hitam Taeyong. Aroma Taeyong selalu membuatnya nyaman. Taeyong mencebik pada Jaehyun. "Aku kan tidak suka film horor Jaehyun!"

"Ayolah hyung, lagipula kau juga bisa memelukku saat Vampirenya datang nanti." Jawab Jaehyun sambil mengecup bibir Taeyong sekilas. Taeyong memerah saat mata tajam Jaehyun menatapnya dengan pandangan lembut. "Dasar modus!"

Jaehyun hanya terkekeh dan menempelkan tubuh keduanya. Selama film di putar, Taeyong terus-terusan menempeli Jaehyun apalagi saat Vampire mulai beraksi. Jaehyun menahan tawa saat melihat Taeyong yang gugup dan meremat tangannya.

Kekasihnya ini lucu sekali, Jaehyun senyum-senyum seperti orang gila saat Taeyong memeluk erar tubuhnya. Jaehyun kehilangan fokus pada filmnya dan membiarkan Taeyong memeluknya erat seperti bayi koala.


Ten dan Johnny melongo seperti orang bodoh melihat teman kelinci mereka yang makan seperti orang kelaparan selama tiga bulan. Bahkan mereka kenyang duluan melihat cara makan anak itu. Ten tak habis pikir, acara jalan-jalannya bersama Johnny harus ditunda lagi karena Doyoung merengek ingin ikut.

Tadinya Ten dan Johnny tak mengizinkan, namun saat Doyoung yang sudah akan menangis seperti anak kecil membuat mereka mau tidak mau mengajak namja kelinci itu. setelah puas shopping, Ten dan Johnny memilih makan siang di restorant.

Mereka memesan beberapa makanan, tapi Doyoung memesan makanan tak kira-kira. Nafsu makan Doyoung benar-benar besar sepertinya, terbukti dengan tiga piring nasi yang sudah dihabiskan Doyoung.

Ten dan Johnny saling pandang dan menatap tak percaya. Doyoung menyeruput minumnya dan menepuk pelan perutnya. "Akh~ kenyangnya~" ujarnya riang. "Jadi, siapa yang akan membayar semua ini?" tanya Ten menggaruk tengkuknya canggung.

Johnny menelan ludahnya susah payah, awalnya ini memang rencananya untuk mentraktir Ten. Makadari itu Ten sendiri tidak membawa uang sepeser pun. Dan Doyoung dengan nada polos mengatakan kalau ia juga tidak punya uang dan mengatakan bukankah ini traktiran Johnny.

Johnny mengeluarkan dompetnya dan membayar makanan yang cukup mahal itu. Doyoung hanya nyengir menatap keduanya. "Loh? Loh? Mau kemana?" tanya Doyoung bingung saat melihat dua orang dihadapannya berdiri.

"Tentu saja pergi, bukankah kau sudah selesai makan?" tanya Johnny. "Kalian tidak makan?" tanya Doyoung. "Ani! Kami sudah kenyang." Kompak keduanya.

Doyoung yang menangkap ekspresi malas keduanya menjadi merasa bersalah. Doyoung menundukkan kepalanya merasa tak enak hati. Johnny dan Ten lagi-lagi merasa bersalah. "Sudahlah Doyoungie, kau tidak salah. Ayo jalan lagi, kita akan ke tempat permainan kali ini." Ujar Ten membujuk Doyoung.

Doyoung menoleh pada Johnny menunggu persetujuan dari namja tampan itu. johnny mengangguk mantap pada Doyoung membuat namja manis itu tersenyum lucu. "Baiklah kajja." Ten menarik lengan Doyoung semangat dan disambut namja manis itu tak kalah semangat.

Johnny hanya bisa tersenyum melihat kedua adiknya yang begitu lucu. Rasanya ia seperti seorang ayah yang sedang menjaga kedua anaknya bermain di mall.

.

.

Ketiganya sedang bermain di dalam sebuah wahana permainan yang dipenuhi anak-anak. Ketiganya mencoba bermain basket dan saling memperebutkan skor tertinggi. Ten dan Johnny yang memang ahli basket mendapat skor tinggi, sedangkan Doyoung mendapatkan skor terendah.

Lalu mereka mencoba bermain pump, kali ini Doyoung membiarkan Ten dan Johnny adu keunggulan dalam dance. Tapi menurut Doyoung tentu saja Ten yang menang, secara Ten itu paling ahli dengan yang namanya dance.

Tapi mata Doyoung memincing saat ia melihat Johnny yang tiba-tiba mencium Ten di bibir ketika sang namja mungil itu bermain. Tentu saja Ten seketika langsung membeku. Sedangkan Johnny tersenyum penuh kemenangan dan berakhir memenangkan permainnya. Johnny melonjak kegirangan semenatara Doyoung mendelik melihat kecurangan Johnny. Ten yang terima memukul kepala Johnny.

"Johnny!" sebuah suara yang menyerukan nama Johnny membuat ketiganya menoleh. Dan ketiganya mendapati seorang yeoja cantik berwajah western melambai pada mereka lebih tepatnya Johnny.

Yeoja itu menghampiri JohnTenYoung. "Hi Kate!" ujar Johnny sambil tersenyum. Tanpa mereka duga, Kate menghambur dalam dekapan Johnny. "Kita bertemu lagi, Seo!" ujar Kate dan melepaskan pelukan Johnny.

"Ya Kate. Kau sedang apa disini? Berbelanja?" tanya Johnny. Kate mengangguk dan mengangkat sekatung paper bag di tangan kanannya. Kate melirik ke dua orang di sebelah Johnny. Johnny mengangguk mengerti. "Kate, perkenalkan si kecil ini Ten dan kelinci ini Doyoung temanku." Ujar Johnny santai.

Ten dan Doyoung sontak mendelik pada Johnny. Kate mengulurkan tangannya pada Ten dan Doyoung. "Senang bertemu dengan kalian, namaku Katelyn Blake." Ramah Kate pada keduanya.

"Doyoung." Doyoung menerima uluran tangan Kate dengan senyum hangatnya.

"Ten." Sedangkan Ten memberikan kesan sedikit malas pada Kate dan tidak disadari oleh yeoja cantik itu. johnny menatap Ten merasa bersalah. Sudah Doyoung, sekarang ditambah oleh Kate. Johnny merasa bersalah sekarang.

"Apa kalian sedang bermain disini?" tanya Kate. Johnny menganggukkan kepalanya. "Bagaimana jika kita bermain bombomcar? Sepertinya seru." Ujar Kate lagi.

Ten baru saja akan menyela, harus menelan kembali ucapannya. Johnny sudah lebih dulu ditarik oleh Kate dan mau tidak mau ia dan Doyoung mengikuti Kate dan Johnny. Dengan wajah sumpek, Ten dan Doyoung bermain bombomcar dengan mobil yang sama. Dan membiarkan Johnny dan Kate satu mobil juga.

Kate dan Johnny terlihat senang sekali, bahkan mereka tertawa lepas. Ten menatap punggung Johnny dengan pandangan menusuk. Doyoung yang berada di samping Ten bergidik ketika namja mungil itu mengeluarkan aura membunuhnya.


Taeyong dan Jaehyun menatap layar theater di hadapan mereka dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Entah kenapa, rasanya cepat sekali, mereka sudah sampai tahap Edward dan Bella melakukan ritual malam pertama.

Tubuh keduanya kaku, melihat adegan di hadapan mereka tentu saja membuat mereka terpancing. Taeyong melirik Jaehyun, lebih tepatnya adik Jaehyun. Benar saja, bagian bawah Jaehyun sudah menggembung.

Jantung Taeyong seakan mau melompat saat mata tajam Jaehyun menatap intens manik coklatnya. Perlahan Jaehyun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Taeyong. Taeyong sendiri sudah merebahkan dirinya di sofa dan berada dalam kukungan tubuh besar jaehyun.

"Hyung, bagaimana jika kita melakukan hal yang sama seperti Edward dan Bella?" bisik Jaehyun didepan bibir tipis Taeyong. Taeyong hanya meneguk ludahnya susah payah saat melihat Jaehyun yang begitu sexy dimatanya.

Tanpa aba-aba, Jaehyun langsung melumat kasar bibir Taeyong. Menyesap bibir bawah dan atas Taeyong yang terasa manis. Taeyong sendiri hanya menerima perlakuan bibir Jaehyun dan sesekali mengerang.

Taeyong melingkarkan kedua lengannya di leher Jaehyun, meremas rambut Jaehyun atas kenikmaatn yang diberikan Jaehyun. Tangan kanan Jaehyun sudah memasuki kaos longgar Taeyong, dan mencari sepasang nipple pink kesukaannya.

"Aahhh~"

Taeyong mendesah ketika Jaehyun langsung mencubit kedua nipplenya. Jaehyun melepaskan ciumannya ketika dirasa Taeyong kehabisan nafas. Jaehyun memuji kesempurnaan Taeyong saat ini. Wajah memerah dan dipenuhi keringat. Sepasang bibir merah merekah yang kini membengkak, sepasang netra yang menatapnya sayu.

BRAKK!

Jaehyun baru saja akan membuat tanda pada leher Taeyong sebelum sebuah dobrakan pintu sukses mengintrupsi kegiatan keduanya. Taeyong dengan cepat lari dari kukungan Jaehyun. Jaehyun menahan lengan Taeyong sebelumnya. "Hyung bagaimana dengan adikku...?" tanya Jaehyun nelangsa.

"Urus saja sendiri!" ujar Taeyong galak dan meninggalkan Jaehyun. Jaehyun mengerang frustasi, baru saja ia ingin marah pada orang yang seenaknya membanting pintu. Tapi ia langsung dibuat bungkam dengan tatapan tajam orang itu.

Ten masuk dengan wajah kusutnya dan dibelakangnya terdapat Johnny dan Doyoung yang menatapnya khawatir.


Yuta merebahkan dirinya di atas kasur singlenya. Hari ini cukup lelah menurutnya, sesudah pemeriksaan dari dokter tadi siang, dia bermain di taman bermain ditemani Hinata. Cukup puas ia bemain dengan anak-anak kecil yang sangat lucu.

Mereka sangat aktif dan polos. Yuta tersenyum mengingat hari ini dia diliputi kebahagian. Dia tidak bersedih hari ini. Yuta mengambil selembar foto di atas meja nakas. Mengusap lembaran foto itu dengan wajah penuh haru.

Foto janin berusia empat bulan. Bayinya sudah tumbuh dan berkembang, dia sangat bahagia mendengarnya. Yuta mencium lembar foto itu. "Aegi-ya, Eomma mencintaimu..." ujar Yuta penuh haru.

Yuta mengambil ponselnya dan mengaktifkannya. Sudah dua bulan ia tidak mengaktifkan ponselnya. Yuta terpaku pada sebuah nomor telpon dan dengan gemetar ia memutar panggilan pada nomor tersebut.

Terdengar suara sambungan membuat Yuta was-was. Sampai orang tersebut menjawab panggilannya, Yuta meneteskan airmatanya.

"Yobseyo Yuta-ya... aigoo kau kemana saja Chagiya. Aku sangat mengkhawatirkanmu, apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang diseberang dengan nada cemas yang begitu kentara.

Yuta menempelkan ponselnya pada perutnya sendiri. "Aegi-ya... dia Appamu..." lirih Yuta berusaha tak didengar oleh Hansol di sambungan.

"Hallo, Yuta-ya... kenapa kau diam saja sayang? Tolong katakan sesuatu... apa jangan-jangan terjadi sesuatu...?" tanya Hansol lagi.

Duk!

Tak pernah disangka, sebuah tendangan ia rasakan di perutnya saat Hansol yang berbicara didepan perutnya. Yuta meringis pelan dan mengelus perutnya. Bayinya menendang! Dan itu adalah tendangan pertamanya! Bayinya menendang saat Hansol berbicara.

"Yuta... tolong katakan sesuatu, sayang... jangan membuat hyung khawatir." Ujar Hansol lagi. Yuta memutuskan sambungannya sepihak. Dia menangis lagi, bahagia? Iya. Yuta bahagia bayinya peka dengan ayahnya.

Bayinya menyadari siapa ayahnya. Yuta mengelus permukaan perutnya dengan sayang. "Aegi-ya... kamu memang pintar ne... kau menegnali siapa Appamu..." ujar yuta dengan suara bergetar.

Duk!

Yuta kembali meringis saat tendangan kedua diluncurkan bayinya. Cukup sakit, namun sakit itu kalah dengan kebahagiaan yang membuncah di dadanya. "Kau tahu, Appamu itu orang yang sangat baik dan pintar. Dia sangat mencintai dan menyayangi Eomma. Kau jangan pernah mengatakan hal buruk tentangnnya ya... karena Eomma juga sangat mencintainya. Kami mencintaimu Aegi..." ujar Yuta dengan linangan airmata di pipinya.

Duk!

Bayinya kembali menendang, dan Yuta tersenyum lembut. Dia memandang foto namja tampan di ponselnya, dia sudah memakaikan mode pesawat pada ponselnya agar Hansol tidak kembali menelpon.

Jujur saja, hatinya menghangat mendengar suara Hansol tadi. Hansol benar-benar masih mencintainya. Dia juga mengkhawatirkan dirinya. Dalam hati ia menangis lagi. "Hansol hyung... mianhae... Bogoshippo..."

Yuta mengelus perutnya yang sepertinya sudah kembali tenang, dan bayinya sudah tidak menendang lagi. "Jaljayo Aegi-ya... Eomma menyayangimu... neo Appa do..." lirih Yuta. Dia menghapur airmata di pipinya sebelum memeluk foto janinnya.

Yuta menghela nafas dan tersenyum lembut, perlahan, dia menutup manik bulat cantiknya.

TBC

Hai, gimana sama chapter ini? kurang puas ya? apa kebanyakan konflik?

makasih buat yang mereview, fav,foll, sama sider. Aku harap gk ada yg kecewa sama chapter ini. pada dasarnya ini gk semua sesuai dengan kehidapn live mereka. aku mohon reviewnya ya...

salam, Johntenny