Disclaimer: 17 © Pledis Entertainment


.

.


Metaphorical Heart


.

.


6


"Kau tahu apa yang baru kusadari?" kata Hoshi Selasa sore.

Mereka sedang menyusun kursi-kursi setelah selesai membersihkan kelas. Hari itu tugas piket mereka berdua. Seokmin yang menunggui Hoshi duduk di kursi ujung dan mendengarkan.

"Apa?" tanya Wonwoo.

"Kau sangat mirip dengan Seulgi noona."

Wonwoo menekuk wajah. Moodnya kembali merosot hingga dasar begitu mendengar nama gadis itu. Kenapa di saat Wonwoo baru saja mulai melupakan apa yang terjadi, Hoshi lagi-lagi mengingatkannya dengan patah hatinya? Entah kenapa, ini seperti topik favorit yang selalu ingin dibicarakan oleh temannya itu. Segala sesuatu yang menyangkut Mingyu.

"Benar juga." Seokmin menimpali. Dia memperhatikan wajah Wonwoo seraya mengangguk setuju. "Pengamatan bagus hyung. Mereka memang benar-benar mirip."

"Iya kan?" Wajah Hoshi berbinar ceria begitu mendapat dukungan dari pacarnya. "Aku sendiri tidak sadar sampai aku berbicara dengan Seulgi noona kemarin. Waktu melihat wajahnya dari dekat, aku langsung berpikir kalau dia benar-benar mirip denganmu."

Wonwoo merotasikan matanya. "Ya terus?" tanyanya skeptis. "Apa itu seharusnya berarti sesuatu?" Wonwoo sebenarnya tahu apa yang sedang dicoba untuk disampaikan oleh Hoshi dan Seokmin. Mereka sedang mencoba membuka kemungkinan untuk menumbuhan harapan di hatinya. Dan semenggoda ide itu kedengarannya, Wonwoo takut untuk berharap. Dia tidak mau lagi membuat-buat sesuatu di dalam kepalanya. Terlalu takut bertemu kecewa lagi jika kenyataan tak sejalan dengan harapan.

"Kau ingat kalau Mingyu bilang 'versi lebih cantiknya Seulgi noona'?"

Wonwoo sudah menduga Hoshi akan mengatakan itu.

"Aku bukan versi lebih cantiknya 'Seulgi noona.'" Dia membentuk tanda kutip di udara untuk menekankan pernyataannnya.

"Ayolah Won. Kau harus optimis sedikit."

"Tunggu sebentar, jadi maksudnya Mingyu sebenarnya bermimpi tentang Wonwoo hyung karena dia adalah versi lebih cantiknya Seulgi noona?" Seokmin—yang nyaris dilupakan Wonwoo eksistensinya—bertanya dengan raut terkejut. Sama sekali tidak terpikir dengan kemungkinan seperti itu.

Kali ini Wonwoo mendengus. Mengulangi "Aku bukan versi lebih cantiknya Seulgi noona dan Mingyu tidak bermimpi tentangku."

"Yah menurut pendapat pribadiku sih kau memang tidak lebih cantik dari Seulgi noona," ujar Hoshi santai. Dia mendapat pelototan dari Wonwoo untuk itu. Sebagai balasan, Hoshi mengangkat tangan defensif. "Apa? Itu kan pendapat pribadiku. Tidak semua orang buta seperti Mingyu sampai bisa merasa kau lebih cantik dari cewek sesempurna itu."

Sambil menaikkan salah satu kursi ke atas meja, Wonwoo menjawab. "Aku tidak yakin apa aku harus tersinggung dengan itu atau tidak. Tapi berhenti mengatakannya seolah-olah itu adalah fakta."

"Yang mana? Soal kau tidak secantik Seulgi noona atau..."

"Soal Mingyu menganggapku versi lebih cantiknya."

"Aaw tapi itu kan memang fakta."

"Fakta di dunia paralel mungkin," jawab Wonwoo datar. Karena hal sebagus itu tidak mungkin benar-benar nyata, kan? Kan?

Hoshi menghela napas. "Baiklah, apa kau tahu kalau sikapmu mulai menggangguku Won?" katanya. Suaranya terdengar lebih tajam dari yang pernah Wonwoo dengar dan itu membuatnya tidak nyaman. Hoshi menaikkan kursi terakhir dan berjalan ke arah Wonwoo. Meletakkan kedua tangan di lengan kanan-kiri temannya lalu mengguncang-guncang tubuh kurus itu geram. "Berhenti memutuskan segala sesuatu untuknya dalam kepalamu."

Wonwoo bereaksi dengan melotot sengit. "Aku? Memutuskan segala sesuatu? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi aku tahu itu salah."

"Kau..." geram Hoshi. "Kau menarik kesimpulan dari apa pun yang Mingyu lakukan, dari setiap perkataannya tanpa mau bertanya. Itu sangat tidak adil untuk Mingyu."

"Emm kau berkata seperti itu karena kau tidak tahu apa saja yang dilakukannya."

"Kata siapa aku tidak tahu? Aku tahu semuanya. Kau menceritakan setiap detailnya padaku."

Pada poin ini, baik Wonwoo maupun Hoshi sama-sama terlihat kesal satu dengan yang lain. Seokmin menonton dengan sedikit gugup tidak jauh dari mereka. Tapi tidak berani melakukan apa-apa. Wonwoo menepis lengan Hoshi kasar. "Kalau begitu kau pasti mengerti kenapa aku jadi seperti ini."

"Itulah yang tidak kumengerti." Hoshi mengerang. Dia kembali mengencangkan cengkramannya di bahu Wonwoo. "Maksudku, awalnya aku mengerti, karena aku selalu melihat setiap kejadian itu dari perspektifmu. Tapi setelah semakin lama kupikirkan, itu sangat tidak adil untuk Mingyu. Kau selalu menarik kesimpulan dan menjadi sedih sendiri karena prasangka-prasangkamu untuknya. Kau tidak sekali pun memastikan kepadanya. Langsung menarik kesimpulan dan menganggap bahwa kesimpulan yang kau ambil itu kebenaran mutlak."

Tidak lagi berusaha melepaskan diri dengan sia-sia dari temannya, Wonwoo hanya memicingkan mata dan mendesis. "Kau juga akan bersikap sepertiku kalau Seokmin melakukan apa yang Mingyu lakukan. Maksudku, kau mendapatkannya dengan mudah. Seokmin menciummu, mengatakan kalau dia menyukaimu. Kau juga menyukainya dan kalian jadian. Selesai. Happy ending. Aku? Mingyu menciumku berkali-kali tanpa mengatakan apa-apa. Memangnya aku ini apa?" Emosinya seolah kembali memenuhi ubun-ubun setiap kali mengingat itu. Kebencian kepada Mingyu bertambah dalam hal volume dan ukuran.

Hoshi tidak akan mengerti perasaannya. Pembicaraan ini sia-sia.

Namun Hoshi berpikir sebaliknya. Dia lanjut bebricara, "Nah itulah masalahmu. Kau sendiri? Kau anggap dia apa? Tidak berniat menghancurkan egomu, tapi kau betul-betul butuh untuk dipukul di kepala supaya sedikit berpikir rasional. Karena hello. Kalian sama-sama laki-laki. Dan kau punya tenaga yang cukup besar untuk menolaknya setiap dia menciummu kalau." Hoshi berhenti sejenak. Matanya yang sipit semakin disipitkan hingga tidak terlihat. Menekankan, "Kalau kau tidak menginginkannya."

Selama sepersekian detik, Wonwoo ingin mengnterupsi. Rasanya ingin meninju senyum kemenangan di wajah temannya itu. Hoshi adalah temannya, tapi Wonwoo saat ini tidak bisa tidak merasa terkhianati. Kenapa Hoshi malah memihak Mingyu?

"Aku sama sekali tidak memihak Mingyu." Wonwoo menganga. "Ya, kau baru saja berbicara dengan keras. Dan aku tidak memihak siapa-siapa di sini. Percayalah. Hanya mencoba membuatmu berpikir."

Wonwoo membuka mulut hendak protes, tapi lagi-lagi Hoshi memotongnya.

"Coba pikirkan apa yang kau lakukan setiap kali Won! Apa kau pernah melawan? Tidak. Kau selalu pasrah membiarkannya melakukan apa pun yang diinginkannya. Lalu keesokan harinya kau mengeluh seperti bayi dan menyalahkan Mingyu untuk segala sesuatu. Maksudku, ya, memang aneh Mingyu tidak akan mengatakan apa-apa setelah menciummu. Tapi kau sendiri? Kau tidak sekali pun berusaha bertanya kan? Lalu setelah itu kau menjadi paranoid sendiri. Menarik banyak kesimpulan. Lalu menjauhinya seperti penyakit menular, tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan dirinya. Itu sangat sangat tidak adil. Karena bisa saja kau sebenarnya sudah mengambil kesimpulan yang salah."

Hoshi berhenti berbicara. Wonwoo menganggap kalau kali ini dia sudah diijinkan untuk mengutarakan isi kepalanya. Jadi dia berkata, "Bukankah sangat mudah untuk berbicara begitu?" seraya tersenyum sinis. "Kau mengatakannya karena bukan kau yang ada di posisiku. Mingyu..." Namun dia tidak diijinkan untuk berbicara terlalu banyak. Hoshi yang memegang kendali di sini.

Lagi-lagi sahabatnya itu memotong. "Won, kumohon. Kurasa Mingyu tidak seburuk itu. Bicaralah padanya. Sekali saja. Bukankah dia bersikap baik padamu beberapa hari yang lalu sesuai ceritamu?" Wonwoo—dengan sangat tidak ikhlas—mengangguk untuk membenarkan. "Kalau dia masih tidak bisa menjelaskan sesuai keinginanmu, maka kau boleh membencinya. Bahkan kau juga boleh membenciku dan Seokmin."

"Hei, aku kan tiak melakukan apa-apa"—Seokmin.

"Intinya, kalian harus berbicara dari hati ke hati. Jangan bermain kucing-kucingan terus seperti ini."

Wonwoo menghela napas. Menyerah. "Aku akan lihat apa yang bisa kulakukan."

"Bukan yang bisa tapi yang harus kau lakukan. Bicara dengannya. Mungkin dia sama bingungnya dengan dirimu."

"Iya, iya. Cerewet. Aku akan bicara. Puas?"

"Tidak, sebelum kulihat kalian jadian."

"Jangan terlalu berharap."

Tidak memedulikan kalimat terakhir Wonwoo, Hoshi tersenyum puas. Memandang Wonwoo seperti seorang ibu yang bangga pada anaknya. Dia tahu, sekali Wonwoo memberi kesempatan untuk mereka berdua membiacarakan masalah ini, semua akan baik-baik saja. Sungguh. Yang mereka butuhkan hanya satu kesempatan untuk terbuka mengenai perasaan mereka.

.


Malam itu Wonwoo berbaring di atas kasurnya jauh malam. Mencoba meluruskan benang kusut yang adalah prasangka-prasangka yang saling membelit dan mengacaukan seluruh isi kepalanya. Wonwoo mencoba berpikir tetapi rasanya terlalu pening untuk melakukan itu. Seakan-akan itu adalah tugas yang terlalu berat untuk dikerjakan otaknya. Mencoba menjernihkan kepala dengan menarik sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya, tetapi paru-parunya sudah terlalu penuh dengan kelopak bunga, hingga rasanya barang satu mili pun sudah tidak tersisa lagi ruang untuk ditempati oleh hal-hal yang kurang signifikan seperti udara. Ketika memejamkan kelopak mata untuk tidur, dalam gelap pandangannya muncul bayangan akan senyum Mingyu. Dan di tengah lengangnya suasana tengah malam itu, rasanya seolah dia bisa mendengar suara menenangkan Mingyu ketika memeluknya beberapa hari lalu.

Mereka tidak pernah membicarakannya—dia dan Mingyu—baik mengenai Sejeong, guru Jung, maupun sikap Wonwoo malam itu. Sejujurnya mereka tidak berbicara sama sekali. Ego dan harga diri Wonwoo yang terlalu tinggi memastikan Wonwoo bangun dan meniggalkan tempat tidur yang lebih muda di pagi hari, jauh sebelum Mingyu cukup sadar untuk menahannya—itu juga kalau Mingyu memang berniat begitu. Dia kembali ke rumah, mengabaikan raut khawatir ibu dan ayahnya, masuk ke kamar, bersiap ke sekolah dan sedikit mengumpat karena tugas sejarahnya sama sekali belum dijamah. Lalu dia pergi ke sekolah sendirian. Menumpang bus dan belajar di kelas seperti tidak ada yang terjadi. Mendapat hukuman karena tidak menyelesaikan tugas sejarah. Dan seandainya Hoshi tidak terlalu mengenalnya, maka tidak tidak satu kata pun mengenai peristiwa malam sebelumnya bocor ke telinga temannya itu. Tapi Hoshi sangat mengenal Wonwoo—tambahkan ekspresi terkejut di sini—dan Wonwoo berakhir menceritakan seluruh detailnya pada temannya itu. Mulai dari ketakutannya setelah mendengar cerita bunuh diri Guru Jung, pembicaraan dengan Sejeong, lalu kejatuhan mental super dramatis di hadapan Mingyu. Dan meski Wonwoo masih belum terlalu yakin yang mana, tapi satu bagian dalam cerita itu membuat Hoshi menjadi begitu gencar memarahi kemudian memaksanya untuk berbicara dengan Mingyu.

"Kalau kalkulasiku tidak salah, kau hanya bersikap seperti idiot," kata Hoshi. Itu sangat menyinggung dan tidak benar. Perasaan bukan bagian dari ilmu eksakta yang bisa Hoshi kalkulasi secara pasti. Lagi pula bukannya Hoshi pintar dalam urusan hitung menghitung.

Wonwoo memandang langit-langit kamar dalam cahaya remang. Sejujurnya sugesti Hoshi terdengar cukup menarik. Seiring setiap indikasi kalimat yang dia lontarkan, satu kelopak seperti bertumbuh di dalam dada Wonwoo. Mekar bunga-bunga yang mengandung harapan. Benarkah dia adalah versi lebih cantik dari Kang Seulgi yang melegenda itu? Tidak mungkin, seperti kata Hoshi. Lelaki normal dengan otak waras mana pun jika ditanya seperti itu akan menyangkalnya. Tapi ini adalah Mingyu. Dan ada sedikit kemungkinan bahwa dia bukan bagian dari 'lelaki normal' yang dibicarakan itu. Sejak dulu dia memiliki selera yang agak lain.

Namun lagi, sisi diri Wonwoo yang lain—yang begitu pesimis dan tidak bisa melihat sisi positif dari segala sesuatu—menolak mempercayainya. Jadi kenapa kalau itu adalah dia? Tidak merubah kenyataan kalau Mingyu hanya menginginkannya dengan cara seperti itu. Dulu dia yang memaksakan hal ini dan Hoshi menyangkalnya. Tapi sekarang Wonwoo yang akan melakukan penyangkalan itu. Mingyu tidak pernah mengatakan apa pun tentang mencintai si 'versi lebih cantik dari Seulgi noona ini'. Dia hanya memimpikannya. Dan jika Mingyu bermimpi tentang dirinya—wajah Wonwoo memanas memikirkan itu—maka kemungkinannya adalah Mingyu hanya remaja idiot dengan hormon yang tidak bisa dibendung (seolah-olah Wonwoo tidak begitu juga). Dan dia menggunakan Wonwoo untuk menyalurkan... hasratnya. Itu membuat Mingyu menjadi seribu kali lebih berengsek dari yang Wonwoo pikirkan sebelumnya. Lagi pula Mingyu sama sekali tidak datang mencarinya setelah pagi itu. Jadi apa artinya semua itu?

Hal seperti ini sudah terjadi selama beberapa hari. Wonwoo berpikir lalu tidak berpikir lalu berpikir lagi lalu tidak lagi bahwa dia tidak hanya sendiri dalam cinta ini. Bahwa Mingyu merasakan hal yang sama. Itu membuat Wonwoo kehilangan banyak istirahat, menyebabkan Wonwoo menghindari berkomunikasi dengan manusia lain terlalu banyak, menimbulkan emosi yang mudah pecah terutama ketika dia berada di sekitar Hoshi dan Seokmin. Karena mereka tidak berhenti mengingatkan Wonwoo bahwa kisah cintanya sangat payah dibandingkan dengan milik mereka.

Mudah saja bagi Hoshi berbicara seperti sore tadi. Tetapi itu adalah hal yang sulit bagi Wonwoo. Terlalu banyak resiko untuk berbicara dengan Mingyu. Skenario terbaiknya adalah Mingyu membalas perasaannya dan memiliki alasan rasional untuk apa yang sudah dia lakukan. Kemungkinan terburuk, Mingyu tidak punya ide tentang perasaan Wonwoo atau dia hanya tidak peduli atau dia menganggap ini semua hanya main-main dan sahabatnya sejak tujuh tahun itu hanyalah seorang bajingan. Kemungkinan terburuk itu—benar-benar sangat menakutkan—dia tidak siap menghadapinya.

Wonwoo meletakkan satu tangan di atas dadanya, tepat pada titik yang menyembunyikan organ inti seluruh peredaran darah di bawah kulitnya. Dia bisa merasakan detak tidak beraturannya, sangat kacau dan tanpa ritme. Sama seperti kepalanya. Rasanya syaraf-syaraf yang ada di antara pembuluh darahnya akan menuntun Wonwoo menuju kegilaan. Seperti arterinya berdetak tidak karuan dan akan pecah sewaktu-waktu. Ah betapa baiknya jika hal seperti itu terjadi. Jika arterinya pecah, maka napasnya akan berhenti. Jantungnya tidak akan memukul-mukul dadanya dengan menyakitkan lagi. Sesak di dalam paru-parunya akan menghilang karena oksigen yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup sudah tidak perlu berdesakan dengan kelopak-kelopak itu. Segala rasa sakitnya akan berhenti. Kulitnya mati rasa terhadap segala rasa sakit. Untuk beberapa detik yang benar-benar menakutkan, Wonwoo dikuasai keinginan untuk mati. Dia akan mati dan ketika orang-orang betanya, apa yang sudah membunuhnya, teman-temannya—Hoshi dan Seokmin—akan menjawab "patah hati". Itu sangat puitis dan romantis.

Berapa banyak pil tidur yang harus dia konsumsi untuk tidak pernah bangun lagi? Berapa dalam sayatan di pergelangan tangannya untuk mengeluarkan cukup darah sampai dia meregang nyawa? Apakah menggantung diri opsi yang cukup baik? Ah, sesak napas yang ditimbulkan ketika lehernya dijerat tali hanya akan semakin mengingatkannya pada sakit di dadanya. Coret opsi itu. Bagaimana jika Wonwoo melompat dari atap gedung?

Sama seperti Guru Jung.

Teringat akan gurunya, Wonwoo segera berpijak di bumi lagi. Bergidik di bawah selimut tebalnya. Apakah dia benar-benar ingin berakhir tragis seperti wanita itu? Jika ya, maka itu artinya dia kalah. Wonwoo bukan seorang pecundang meski mungkin dia berlaku demikian selama beberapa waktu terakhir.

Malam itu Wonwoo tertidur. Satu tangan di atas dada. Seperti tengah menjaga kelopak-kelopak bunga di bawah dadanya untuk tidak menggerogoti organ yang lain. Tapi memangnya siapa yang dia candai? Bunga-bunga itu sudah sejak lama mengambil alih kuasa akan seluruh dirinya. Bukan hanya satu atau dua organ tubuhnya. Tapi dia, secara keseluruhan.

.


Pada sore kelima, akhirnya Wonwoo memutuskan untuk berhenti bermain tebak-tebakan sendiri di dalam kepalanya. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan paksaan Hoshi yang semakin menjadi, Wonwoo menekankan dalam kepalanya. Hanya karena dia ingin menyelesaikan ini semua. Sekali untuk selamanya. Karena memang tidak ada yang lebih baik dari membicarakannya dengan baik, sampai tuntas. Sama seperti yang dia lakukan dengan Sejeong. Mungkin akan ada sedikit air mata, sakit hati, umpatan—tentu saja semua dari pihaknya dan bukan Mingyu—tapi mungkin itu akan lebih baik. Jika semua berakhir dengan baik, maka itu adalah sedikit bonus.

Jika ternyata Mingyu sama berengseknya dengan yang dipikirkan Wonwoo, maka dia akan membunuh Hoshi dan pacarnya. Tidak, itu hanya bercanda, untuk menghilangkan rasa gugup Wonwoo. Jika Mingyu memang hanya bajingan berengsek yang memanfaatkan sahabatnya sebagai penyalur nafsu tanpa perasaan, maka Mingyulah yang akan dia bunuh. Bercanda. Lagi. Kalau ternyata dia seperti itu, maka Wonwoo akan membencinya, benar-benar membencinya tanpa beban. Lalu move on dengan hidupnya. Tanpa Kim Mingyu. Ucapkan seamat tinggal untuk persahabatan sepuluh tahun.

Wonwoo mengumpulkan nyali yang sangat besar untuk menyeret kakinya ke depan rumah Mingyu. Lalu menyalurkan seluruh sisa-sisa keberanian menuju buku-buku jarinya untuk mengetuk pintu rumah keluarga Kim. Beberapa detik setelah mendengar suara ketukan yang berasal dari pertemuan jari dan pintu kayu, Wonwoo lagi-lagi merasa nyalinya menciut. Sama seperti pada malam dia kembali dari melayat gurunya, Wonwoo diserang rasa panik yang mengerikan.

Apa ini benar-benar ide baik? Memangnya apa yang akan kukatakan nanti? Aku benar-benar harus menyiapkan daftar pertanyaan sebelum bertemu Mingyu. Aku ingin pulang saja. Jika yang membuka pintu adalah Bibi atau Paman, maka aku akan buat pura-pura disuruh ibu untuk um meminta nasi? Tapi kalau Mingyu yang

"Wonwoo hyung?"

Hebat. Dari semua waktu, dia memilih hari ini untuk yang membuka pintu.

"Kau baik-baik saja?" Mingyu bertanya. Raut khawatir tergambar di wajahnya melihat Wonwoo yang tidak berhenti berkomat-kamit selayaknya tengah kerasukan.

"Ya, aku baik. Orang tuaku baik. Ke sini karena disuruh Ibu."

"Untuk?"

"Untuk... apa ya?" Wonwoo menggaruk lehernya seraya aktif menghindari mata Mingyu. "Kurasa aku akan kembali dan menanyakannya lagi lalu kembali ke sini." Atau tidak pernah kembali lagi.

Wonwoo berbalik untuk pulang, namun Mingyu bergerak lebih cepat untuk menahan bahunya. "Setelah kupikir-pikir lagi, ibuku membuat popsicle sendiri dan dia akan sangat senang kalau kau membantu menghabiskannya. Ya kan bu?" Mingyu berteriak ke arah dalam rumah.

"Apa Gyu?" Suara Nyonya Kim menyahuti dari dalam.

"Wonwoo ada di sini untuk membantu menghabiskan popsicle."

Tidak ada jawaban dari Ibu Mingyu. Wonwoo menggunakan kesempatan itu untuk membuat alasan pulang.

"Em, aku akan kembali lagi nanti untuk popsiclenya. Setelah aku bertanya pada Ibu..."

"Aaw, ayolah hyung. Bibi tidak menyuruhmu melakukan apa-apa." Mingyu tersenyum, kedua taringnya menyembul di balik senyumannya. Kulit di sekitar matanya mengerut dan pipinya sedikit terangkat. Membuat senyuman Mingyu terlihat sangat sangat sangat tidak bersalah. Seolah-olah tangannya tidak ditanam di atas bahu Wonwoo dengan sangat keras dan menyakiti yang lebih tua. Kemudian, masih sambil tersenyum—yang secara aneh malah membuatnya menakutkan—dia melanjutkan. "Lagi pula, kalau kau tidak datang barusan, aku baru akan ke tempatmu. Kita betul-betul harus bicara."

Oh.

Jadi dia juga berpikir untuk berbicara. Wonwoo pikir dia sama sekali tidak peduli. Di satu sisi itu sangat baik karena artinya Mingyu—meski hanya sedikit—peduli. Tapi itu juga menyeramkan. Karena Wonwoo tidak tahu apa yang akan dikatakan Mingyu. Apa dia marah? Meski tersenyum, wajahnya terlihat marah sekarang. Mungkin pembicaraan ini harus ditunda beberapa lama lagi. Wonwoo butuh persiapan.

"Aku tidak..."

"Oh, Wonwoo. Kau datang lagi." Wonwoo cepat-cepat menutup mulut dan mengerang dalam hati begitu melihat Nyonya Kim berdiri di sebelah anaknya. "Melihatmu dua kali dalam satu minggu adalah sesuatu yang jarang. Walaupun kau dulu datang hampir setiap hari." Nyonya Kim berkata ceria. Dia tersenyum, sama seperti Mingyu. Dan itu menambah kadar kengerian Wonwoo. Senyuman mereka, dari pada membuatnya merasa disambut, malah terasa mengancam. "Masuklah. Aku membuat popsicle tadi pagi. Kalian bisa menghabiskannya sebelum makan malam sambil mengobrol di kamar Mingyu. Bukankah dulu kalian selalu melakukan itu?"

Itu tidak terdengar seperti undangan. Itu adalah perintah.

Sepertinya sikap pemaksa memang mengalir dalam darah keluarga ini. Wonwoo curiga jangan-jangan Hoshi juga punya hubungan darah dengan Mingyu.

Wonwoo menghela napas menyerah. Lagi pula dia sendiri yang tadi berniat bicara dengan Mingyu, kenapa harus menundanya lama-lama? Ayo selesaikan ini sekarang. "Baiklah."

Tarikan di wajah dua Kim di depan Wonwoo otomatis melebar mendengar jawabannya.

Nyonya Kim menyingkir dari pintu untuk memberi celah pada Wonwoo masuk ke dalam rumah. Setelah pintu ditutup oleh Mingyu di belakangnya, Wonwoo tahu tidak ada lagi kata mundur.

Mereka segera masuk ke dalam kamar Mingyu. Wonwoo berdiri canggung di depan lemari sementara Mingyu merapikan tempat tidurnya kilat. Melipat selimut dan menyusun bantal-bantal. Nyonya Kim datang mengantar piring berisi popsicle merah buatannya sendiri. Wanita paruh baya itu berbasa-basi sedikit dengan ramah. Lalu segera menghilang di balik pintu ketika Mingyu mengeluh ibunya berbicara terlalu banyak.

"Ibuku tahu," adalah yang pertama diucapkan Mingyu setelah tinggal mereka berdua di dalam ruangan. Bunyi kunci diputar mengikuti kalimatnya. Setelah mengunci pintu, dia berbalik dan memandang Wonwoo canggung.

Wonwoo mengernyitkan kening bertanya. Tidak mengerti apa maksud Mingyu. Perhatiannya secara penuh tertuju pada popsicle di atas meja yang mengingatkannya dengan terlalu banyak hal bersama Mingyu.

Mingyu bilang itu adalah cinta di antara mereka. Duduk berdua, berbagi popsicle, mengobrol, menonton Home Alone berdua. Apakah setelah sekian banyak waktu berlalu, setelah semua yang terjadi, cinta masih sama?

Di saat seperti ini, di saat dia tidak tahu apakah orang yang berdiri di hadapannya sekarang akan mendekap hatinya erat atau malah menghancurkannya beberapa menit ke depan, Wonwoo tidak bisa memaksa dirinya mengambil popsicle buatan Nyonya Kim itu. Jika hari ini berakhir dengan buruk, maka mungkin Wonwoo tidak akan bisa memakan popsicle lagi seumur hidup. Karena itu akan membangkitkan kenangan menyakitkan.

"Hyung apa kau mendengarku?" Mingyu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Wonwoo. Membuat yang lebih tua tersadar dari lamunan.

"Kau tadi bilang apa?"

Mingyu merotasikan matanya malas. "Ibuku tahu. Makanya dia bersikap begitu," katanya. "Jangan sakit hati dengan sikapnya."

Wonwoo menaikkan alis. "Tidak kok. Memangnya tahu apa?"

"Kita."

Kita

Kita

Kita

Kata Mingyu 'kita'. Perut Wonwoo serasa berjumpalitan mendengar Mingyu mengatakan 'kita'. Seperti lambungnya dikocok, dengan cara yang menyenangkan—kalau memang ada cara yang menyenangkan untuk itu. Ini pertama kalinya dia tahu ada kata 'kita' di antara dia dan Mingyu. Dan itu mengalir keluar secara natural dari lidah Mingyu. Seketika membesarkan gelembung ego Wonwoo.

Namun kalaupun satu kata itu memberi efek kupu-kupu atau pelangi dan segala sesuatu yang menyenangkan dalam diri Wonwoo, dia tidak membiarkannya terlihat dalam wajahnya. Ekspresinya sedatar papan setrika. Sama sekali tidak memberi bocoran emosinya.

"Kita?"

Mingyu mengangguk seraya bergumam pelan. Dia berjalan ke arah ranjangnya dan melempar pantatnya untuk duduk di atas material empuk itu. Kemudian menepuk spasi kosong di sampingnya. Isyarat untuk Wonwoo bergabung.

"Tidak keberatan kalau popsiclenya ditunda beberapa menit kan?"

Sebagai balasan, Wonwoo mengedikkan bahu dan berjalan mendekat. Toh dia juga tidak berniat memakan popsiclenya. "Tidak masalah."

Mingyu tersenyum. "Bagus."

"Jadi... um apa yang Bibi tahu?" Tentang kita? Wonwoo menambahkan dengan kelewat gembira dalam hati.

"Semua."

"Semua seperti..."

"Kau menghindariku, Sejeong, Jeonghan, Hoshi..." Mingyu menyebut satu per satu. Lalu pada akhirnya dengan suara pelan dan kepala ditundukkan "Ciuman."

"Kau menceritakannya?"

"Dia bertanya."

"Dan kau membicarakan semua?" Nada suara Wonwoo terdengar menghakimi. Mingyu membicarakan semua dengan ibunya, tapi tidak sekali pun membicarakannya dengan seseorang yang seharusnya melakukan diskusi itu dengannya.

"Kau tahu bagaimana pemaksanya eomma kalau sudah ingin tahu." Mingyu berbicara sambil mengerucutkan bibir. Jelas-jelas tidak mau disalahkan untuk apa yang sudah dilakukannya. "Lagi pula kau datang seperti itu dan... dan... kita berbicara seperti itu dan kau menangis sangat kuat, ibu dan ayahku mendengarnya." Mingyu sengaja tidak menambahkan detail mengenai kedua orang tuanya yang menguping pembicaraan mereka malam itu. 'Karena kalian sudah terlalu lama bersikap aneh,' kata ibu Mingyu. "Lalu kita tidur seperti itu jadi..."

Mingyu berbicara terlalu cepat, matanya tidak mau dipertemukan dengan Wonwoo, dan dia terlalu banyak mengulang kata 'dan' dan 'seperti itu'. Wonwoo nyaris tidak mengerti apa yang dia katakan.

"Kau kan bisa mengarang apa saja," balas Wonwoo ngeri. Bayangan Ibu Mingyu sudah mengetahui apa yang mereka lakukan yang artinya Ibunya juga tahu—mustahil Nyonya Kim tidak memberi tahu ibunya—yang tidak menutup kemungkinan ayah mereka juga tahu. Wonwoo seketika bergidik. Jadi itukah alasan ibunya menghela napas tanpa henti sambil mengelus kepalanya akhir-akhir ini? Wonwoo sudah menduga ibunya tidak akan mungkin memeluknya terlalu sering sambil berkata 'anakku sudah besar' tanpa alasan. Jadi ini alasannya. Wonwoo mengerang keras. "Kau tidak seharusnya menceritakan itu."

"Berbohong akan memaksaku untuk memikirkan kebohongan lainnya berkali-kali. Lebih mudah menceritakan yang sebenarnya," jawab Mingyu acuh. Bahunya dinaikkan santai, seolah-olah itu bukan masalah besar.

Lagi pula, itu memang bukan masalah besar kan bagi Mingyu?

Wonwoo merasa darahnya mendidih ketika memikirkannya. "Gara-gara kau, sekarang ibuku pasti berpikir aku remaja konyol yang depresi hanya karena masalah sepele seperti cinta. Terima kasih."

"Kau mengatakannya seolah-olah itu buruk."

"Itu memang buruk." Wonwoo melotot pada Mingyu. "Dan memalukan. Sangat."

Mingyu membuka mulut hendak berargumen, tapi segera menelan kembali argumennya bahkan sebelum berhasil melewati kerongkongan. "Lupakan!" katanya. Mingyu tahu lebih baik tidak melawan Wonwoo sekarang. Menurutnya pribadi itu bukan hal yang memalukan. Jadi kenapa kalau mereka menjadi konyol karena cinta? Mereka masih remaja dan terlalu muda untuk mengetahui cara yang benar mengatasi emosi seperti itu. Lagi pula, cinta bukan masalah yang sepele. Tidak bagi Mingyu, dan dia tahu tidak juga bagi Wonwoo. Kalau itu memang sepele, Wonwoo tidak akan menjadi seemosional itu beberapa malam lalu di ruangan ini. Tapi Wonwoo bisa menjadi sangat keras kepala. Mingyu bisa membuat kliping, makalah, essai, beribu-ribu lembar ditambah slide presentasi hanya untuk membuktikan sikap Wonwoo itu.

"Jadi... kita mulai dari mana?" tanya Mingyu akhirnya.

Wonwoo menatap Mingyu kosong. Sama tersesatnya dengan yang lebih muda. Dia sama sekali tidak ada ide harus memulai pembicaraan ini dari mana. Dari mana yang Mingyu inginkan?

"Bagaimana kalau dari bagian..." Mingyu berhenti sejenak. Mendistraksi diri sendiri dengan memainkan seprainya. Jari-jarinya tidak berhenti mencubit seprai itu. Tapi matanya kali ini difokuskan ke wajah pemuda di hadapannya. "Kau datang menangis minggu lalu? Apa maksudnya ledakan tiba-tiba itu?"

Wonwoo merasakan pipinya memanas mengingat itu. Bisakah mereka tidak usah membicarakan bagian yang itu? Karena itu sangat memalukan bagi Wonwoo. "Atau bagian kau menyerangku setiap waktu?" balasnya.

Rahang Mingyu terjatuh—tidak secara literal. Nampak terluka. Kata-kata Wonwoo membuatnya terdengar seperti seorang mesum yang melakukan penyerangan berkala pada cewek-cewek di subway. Atau seorang pemerkosa. Dia berkata dengan putus asa "Aku tidak menyerangmu. Dan... aku..."

Melihat Mingyu terbata seolah-olah lidahnya terikat membuat Wonwoo menatap yang lebih muda semakin penasaran. Dia ingin tahu apa yang akan dikatakan Mingyu soal itu. Ini yang sudah selalu ingin didengarnya.

Tapi Mingyu malah kembali menyerang dengan berkata, "Kau menciumku lebih dulu."

Kali ini Wonwoo yang kehilangan kata. Tidak ada sangkalan untuk itu. Mingyu benar. Dia melakukannya lebih dulu dan membuat Mingyu berpikir kalau itu bukan masalah untuk mencium Wonwoo. Yang tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena Wonwoo sendiri menikmatinya—pada beberapa kesempatan pertama—tapi juga tidak benar karena Mingyu melakukannya berlebihan dan bagian terburuknya, dia mengunci mulutnya rapat setelah memaksa Wonwoo membuka miliknya untuk dia eksplorasi. "Itu karena kau sangat keras kepala. Kau tidak berhenti memaksaku."

"Yang kulakukan karena kau menghindariku tanpa alasan."

Huh. Itu juga tidak salah. Tapi juga tidak benar. Wonwoo menghindar karena Mingyu membuatnya sulit. Karena dia membuatnya menyakitkan. Seandainya dia tidak membuat Wonwoo berharap. Seandainya Mingyu tidak begitu sempurna. Seandainya bunga-bunga di dalam paru-paru berhenti mekar untuknya. Seandainya Mingyu tidak melakukan hal-hal yang membuat lebih banyak bunga tumbuh. Seandainya Mingyu membalas perasaannya. Seandainya dia tidak mengatakan tentang Seulgi dan siapa pun itu versi lebih cantiknya.

"Baiklah." Wonwoo menghela napas. Pembicaraan ini tidak akan melaju ke arah mana pun kalau tidak satu pun dari mereka mau memimpin jalannya. "Ayo kita mulai dari itu."

Mingyu memandangi Wonwoo dengan penasaran sementara sahabatnya itu melakukan inspirasi yang sangat kuat. Seakan butuh sangat banyak oksigen hanya untuk satu pernapasan baginya. Dan jika tebakan Mingyu benar, mungkin itu ada hubungannya dengan bunga-bunga di paru-paru Wonwoo. Karena memang begituah Wonwoo. Terlalu puitis. Terlalu romantis.

"Siapa itu versi lebih cantiknya Seulgi noona?"

Dan tentu saja Wonwoo akan memulai dari bagian paling memalukan. Mingyu terhenyak di atas kasurnya. Mencoba memecahkan kontak matanya dari Wonwoo. Tapi tatapan penuh harap, yang menuntut jawaban itu menahannya. Mingyu tidak bisa mengabaikannya sekarang. Dia sudah menghindarinya terlalu lama.

"Bisakah kita mulai dari bagian lain saja?"

Wonwoo membalas dengan dengusan. Melakukan gerakan rotasi dengan mata gelapnya. Namun jauh di bawah dadanya, di bawah lapisan-lapisan kulit yang dibalut ego, Wonwoo merasakan ada lebih banyak pucuk bunga yang tumbuh di batang paru-parunya. Dan secara mengejutkan itu sama sekali tidak menyakitinya. Seperti angin musim semi yang menyapu kulitnya. Sangat lemah lebut dan halus. Seperti rasa lega ketika gigitan pertama popsiclenya setelah hari yang melelahkan. Seperti pada kali pertama dia membiarkan hatinya berpikir untuk menikah dengan sahabatnya karena dialah yang paling tepat untuk itu. Rasanya sangat menyenangkan. Perasaan yang sudah sangat lama tidak Wonwoo rasakan di bawah dadanya.

"Baiklah kalau kau malu untuk menjawabnya. Kau hanya perlu untuk mengangguk atau menggeleng." Wonwoo berkata lagi setelah merasa dia sudah menunggu terlalu lama untuk jawaban Mingyu.

"Baiklah." Mingyu menjawab ragu.

Wonwoo merasakan perutnya seperti jumpalitan lagi. Karena melihat keadaan ini, melakukan pembicaraan ini, melihat Mingyu berusaha keras menahan malu dan mempertahankan kontak mata mereka meski itu menyiksanya, mungkin saja, mungkin Hoshi tidak sepenuhnya salah—atau dia bahkan tidak salah sama sekali.

"Versi lebih cantik Seulgi noona itu adalah aku. Ya atau tidak?"

Selama beberapa saat Mingyu menatapnya dengan wajah kosong. Untuk beberapa saat itu juga, Wonwoo merasakan panik internal. Rasa paranoidnya kembali berkuasa. Sudah menjadi kebiasaan buruk.

Tapi wajah Mingyu terbakar semakin merah. Dia akhirnya tidak bisa mempertahankan kontak mata itu lebih lama lagi. Dia menundukkan kepala menunjukkan penyesalan yang sangat dalam. Seperti seorang anak kecil tertangkap mencuri permen. Dan Mingyu memang mencuri, tetapi bukan permen, melainkan hati Wonwoo. Apakah dia sebaiknya dihukum untuk itu?

Beberapa detik kemudian, bukan hanya perut Wonwoo yang seperti jumpalitan. Jantungnya melonjak girang. Badai musim semi di dalam paru-parunya. Lambungnya mungkin sedang melakukan salto yang sangat berbahaya. Tapi tidak satu pun dari itu yang berarti.

Mingyu menunduk bukan karena ingin menyembunyikan wajah. Hanya melakukan anggukan pertama untuk beberapa anggukan yang dilakukannya berkali-kali untuk menjawab pertanyaan Wonwoo. "Ya."


kkeut


Terima Kasih Banyak:

meanieci, Justfor17, whiteplumm, Kyunie, dimanadansiapa, dibidiswoon, XiayuweLiu, Park RinHyun-Uchiha, Albus Convallaria majalis, Twelves, Yoshikuni Rie, kkokkoyah, Indukcupang, realwonwoo, Firdha858, CorvusOnyx, kkmyerim, ftzbhd, , pxv1314, aylopyu, Jjangmyeon, DevilPrince, k1mut, Kim Ve, loveyoumeanie, utsukushii02, Guest, ByunDiva, Hyuki, wonwoo, dxxsy, aishautami, jeondepp, WooMina, itsathenazi, tujuhbelas, Beanienim, SkyBlueAndWhite, cbesideb, KMaddict, MingHousewife, aigyuu, Honeylili, meanieslave


a.n Maaf maaf maaf maaf /.\ Aku ngepos chapter ini terlalu lama. Habis ngepos chapter kemarin, aku liburan. Seninnya langsung masuk kuliah dan gak sempat megang ff samsek. Hari pertama langsung nugas :)) Praktikum di depan mata :)) Aku jauh lebih stres daripada Wonu dalam ff ini /gak. ini becanda/ Perks of being an engineering major (*´Д`)=з

Aku sama butanya dengan Mingyu karena nganggep Wonu lebih syantieq dr Kak Seulgi. wkwkwkwk. Mereka sama2 cantik sih tp Wonu punya tempat spesial di hatiku, jadi yah ( ͡° ͜ʖ ͡°)

Anywaaaaaaay chapter depan bakal up sabtu atau minggu (kalau gak up, tagih aja lewat pm atau komen, krn aku bisa lupa ;-;).

Maaf gak sempat balas komen ;-; Dan btw thanks buat favs, komen, dan follownya ^^ You guys rock :* :* :*

Oh IYA. AGAK TELAt tapi Meanie akhir2 ini full of moment, aku bahagia banget. Percayalah aku lagi di bus balik dari Bali ke habitat asli pas Seventeen in Caratland dan Meanie piggyback dll dll. Pengen teriak bahagia HAHAHAHAHA. Pokoknya aku seneng Meanie gak tenggelam kayak kata orang2 T^T

Maap tadi salah upload wkwk