Disclaimer : Bunda J.K. Rowling like always :v Kecuali si OC dan cerita dan ide punya saya asli
Pairing : DraMione, HarMione, HInny
Rated : T
Warning : OOC (banget), typo (maybe), alur gaje, cerita apalagi, EYD berantakan, etc
Note : Tulisan gaya italic (miring) adalah isi buku yang dibaca Draco.
(Chapter 6) Last chapter
The Dark Curse Bracelet
Gelang Kutukan Sihir Hitam
The Dark Curse Bracelete diciptakan oleh penyihir hitam terkenal pada abad ke-17 yang bernama Helena R Dawson. Helena adalah seorang Immortal. Sampai saat ini, usianya sudah mencapai 500 tahun. Ia tinggal di sebuah desa kecil bernama St. Holly di balik bukit Catchpole.
"Lalu?" Ron mengangkat sebelah alisnya, "hanya itu?"
"Tunggu sebentar, tulisannya sudah memudar, jadi susah diterjemahkan." Kata Draco dengan ketus. "Aha.."
Helena terkenal sebagai penyihir hitam yang gemar menciptakan benda-benda terkutuk, sebagai contoh, The Dark Curse Bracelet ini. Gelang ini terbuat dari amarah, dendam, nafsu, darah sang empunya, dan 1000 jiwa orang yang hidup penuh dengan cinta.
Ron bergidik ngeri, "1000? Apa dia gila?" ucap Ron dengan histeris, Draco mendelik menatap Ron menyuruhnya diam, kemudian melanjutkan membaca.
Jika Anda memakaikan gelang terkutuk ini kepada seseorang yang Anda cintai, niscaya orang itu akan menjadi milik Anda seutuhnya. Tetapi bayarannya sungguh mahal, Anda harus membuat janji dengan iblis untuk menjual jiwa seseorang yang hidup penuh dengan cinta. Kemudian, Anda harus menyebutkan nama seseorang yang sedang dekat dengan orang yang Anda cintai, supaya sang iblis dapat menyingkirkan orang itu dari orang yang Anda cintai selamanya.
Draco terdiam. "Tersingkirkan—selamanya? Great, Potter." Gumamnya dengan gigi mengeretak.
"Tetapi jiwa siapa yang Harry korbankan untuk gelang ini?" tanya Ron dengan ngeri, "apa mungkin—aku?" ia mendelik dengan ngeri.
Draco menatap Ron, "Hey, jangan bicara begitu, belum tentu kau korbannya. Jangan menakuti dirimu sendiri, Weasley." Tukasnya dengan datar. Ron hanya manggut-manggut. Draco menelusuri tulisan demi tulisan, tetapi raut wajahnya terlihat sangat kecewa. "Yeah, hanya sampai sini. Kau lihat, ada seseorang yang sengaja menghapus cara menangkalnya." Draco menunjuk halaman kosong yang sepertinya memang sengaja dihapus oleh seseorang.
"Apa mungkin Mr Borgin menghapusnya?" Ron bertanya.
"Tidak, tidak mungkin." Sanggah Draco. draco memijat keningnya mencoba mencari cara untuk mengetahui penangkalnya. "Mungkin ini bisa, tapi aku tak yakin." Ucap Draco disertai helaan nafas. Ia mencabut tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke arah halaman yang kosong. "Aparecium." Ucapnya dengan lantang, namun tetap tak terjadi apa-apa. "Sudah kubilang ini tak akan berhasil." Draco menunduk sedih.
Ron memandang langit-langit tenda sambil berfikir. "Aku tahu, Malfoy." Ujar Ron tiba-tiba, Draco sampai tersentak kaget. "Kita temui saja—siapa tadi namanya?"
"Helena."
"Ya—kita temui saja dia. Bagaimana?" Ron menaik-turunkan alisnya.
Draco berfikir sejenak, "Baiklah, aku setuju dengan idemu, Weasley. Ternyata kau punya otak juga." Ejek Draco seraya menyeringai. Ron memukul wajahnya dengan bantal dan langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Draco mengucapkan sumpah-serapah sambil menunjuk-nunjuk Ron yang tertawa terbahak-bahak.
TAR! Draco dan Ron baru saja ber-Apparate dan sampai di Bukit Catchpole. Mereka memutuskan berjalan menuju desa meskipun jaraknya agak jauh.
Orang-orang di desa itu sungguh aneh, mereka seperti mayat hidup. Ekspresinya kosong dan hampa, kulit mereka pucat seperti mayat hidup, dan tidak ada satupun yang saling berinteraksi layaknya penduduk desa pada umumnya. Ron memegangi tengkuknya yang terasa merinding.
"Malfoy, apa kau menyadari bahwa orang-orang desa ini sangat aneh?" bisik Ron sambil mengerling ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya di teras rumah.
"Ya, aku juga berfikir seperti itu. Kita terus jalan saja, jangan hiraukan mereka. Siapkan saja tongkatmu." Bisik Draco.
Ron mengangguk. Mereka memegangi tongkat masing-masing dengan siaga. Langit di desa ini gelap dan suram, padahal seharusnya matahari bersinar terik di atas. Tetapi kenapa suasananya dingin seperti waktu senja? Hawanya juga cukup dingin, asap halus keluar dari lubang hidung dan mulut Draco dan Ron menandakan bahwa kedua pemuda ini kedinginan.
"Kita tanya kepada nenek itu saja dimana rumah Helena." Saran Draco.
Ron mendelik dengan ngeri, "Bloody hell, Malfoy. Ide buruk, menurutku."
"Lalu bagaimana caranya kita bisa tahu dimana rumah Helena jika tidak bertanya kepada orang-orang disini, bodoh." Desis Draco. Mau tak mau, Ron menuruti apa kata Draco saja. Daripada bertengkar di tengah jalan desa dikelilingi orang-orang aneh ini. Draco berjalan mendekati seorang nenek yang sedang duduk sambil merajut di teras rumah. "Uhm—permisi, Nek. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Draco berusaha lembut.
Sang Nenek hanya mengangkat kepalanya memandang Draco dan Ron tanpa ekspresi. Draco menganggap itu sebagai jawaban iya, ia melanjutkan bertanya. "Boleh kutahu dimana rumah Helena Dawson?"
Nenek itu terdiam sebentar dan tanpa berkata apa-apa langsung menunjuk ke arah sebuah rumah tua yang berada di ujung pertigaan tidak jauh dari tempat Draco dan Ron berada. Draco dan Ron mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Mereka berdua bergegas berjalan menuju rumah Helena.
TOK! TOK! TOK! Ron mengetuk pintu rumah tua itu yang terbuat dari kayu. Tetapi tak ada jawaban atau tanda-tanda seseorang yang hendak membuka pintu. Draco mengetuknya lebih keras, tetapi tetap tak ada jawaban. Mereka sudah merasa lelah dan frustasi, apa benar ini rumah Helena? Jika iya, kenapa tidak ada seseorang yang membukakan pintu? Namun, ketika Ron dan Draco menyerah hendak pergi, seorang wanita cantik, berkulit putih, bertubuh langsing, dan berambut hitam legam yang memakai gaun zaman dahulu membukakan pintu.
"Ya, Tuan-tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan lembut dan tersenyum manis. Ron ternganga dan tidak berkedip sama-sekali karena terpesona oleh kecantikan wanita itu, tetapi Draco tidak.
"Ya, Nona. Apa benar ini rumah Helena Dawson?" tanya Draco dengan nada angkuh khasnya.
"Ya, Tuan. Benar. Ada perlu apa Anda mencari Helena?"
"Aku ingin bertemu dengannya."
"Baiklah, silahkan masuk dulu." Wanita itu membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Draco dan Ron memasuki rumah.
Ron berjalan duluan dan Draco mengikutinya. Rumah itu kecil, hanya terdiri dari beberapa ruangan, berbau kayu basah, tetapi terlihat nyaman. Draco dan Ron duduk di sebuah sofa hitam panjang dan wanita itu duduk di hadapan mereka di sebuah kursi berlengan berwarna merah darah yang sudah berjamur.
"Kami ingin mencari Helena karena ada yang perlu kami tanyakan kepadanya." Ucap Draco membuka pembicaraan.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya, "Kalau boleh tau, anda ingin menanyakan apa?"
"Tentang The Dark Curse Bracelet—Gelang Kutukan Sihir Hitam." Ucap Ron akhirnya membuka mulut setelah sekian lama memandang wanita itu dengan muka bodoh.
Senyum yang sedari tadi terpampang di wajahnya yang cantik tiba-tiba sirna setelah mendengar ucapan Ron. Ekspresinya berubah menjadi datar, "Untuk apa kalian menanyakan gelang terkutuk itu?"
Draco merasa curiga dengan perubahan mendadak dari gadis itu, "Kami membutuhkan penangkalnya untuk menyembuhkan—uhm—" Draco mengerling Ron, "teman kami."
"Temanmu? Kenapa gelang itu bisa berada di tangan temanmu?" tanya gadis itu dengan ekspresi yang mengerikan.
Draco mengerutkan dahinya heran, "Untuk apa kau bertanya terus kepada kami? Kami hanya ingin bertemu Helena Dawson untuk mencari penangkalnya." Ujar Draco dengan nada sedikit meninggi. Ia mencengkeram tongkatnya semakin kuat di balik jas hitamnya.
Tiba-tiba wanita itu tertawa, semakin lama semakin keras dan menyeramkan. Draco dan Ron menatapnya dengan bingung sekaligus waspada, "Tak akan kuberitahukan apa penangkal itu kepada kalian. Aku tidak akan memberitahukannya." Desisnya dengan suara berbahaya. Tawanya sungguh menyeramkan.
Ron mengangkat sebelah alisnya heran, "Tunggu, Aku? Apa maksudnya dengan Aku?" tanya Ron. Tiba-tiba matanya terbelalak, "Ja-Jangan bilang—kau adalah—"
"Ya, anak-anak. Aku adalah Helena Dawson."
Hermione berlari menuju Menara Astronomi untuk menjauhkan diri dari orang-orang. Ia tak ingin kejadian Ernie terulang lagi. Ia bingung harus melakukan apa. Tanpa terasa, air mata mengalir membasahi pipinya yang mulus. Sesampainya di Menara Astronomi, ia langsung masuk dan mengunci pintunya. Ia berlari ke arah pagar Menara dan duduk bersandar di lantai Menara yang dingin. Bagaimana keadaan Draco? Apa dia baik-baik saja? Ia juga tidak melihat Ron sama sekali, kemana perginya Ron? Hermione merasa sendiri, orang-orang yang ia cintai seperti menghilang begitu saja meninggalkannya sendirian. Ia memegangi miniatur merpati pemberian Draco dan menciuminya.
"I-I miss You, Draco Malfoy. Semoga kau baik-baik saja. Ferret bodoh, apa kau tahu kalau aku sangat mencintaimu? Aku sangat mencintaimu, Draco." ucap Hermione dengan terisak.
Draco dan Ron terbelalak memandang wanita muda itu yang ternyata adalah Helena R Dawson, orang yang selama ini mereka cari. Tetapi—tunggu, bukannya Helena berumur lebih dari 5 abad? Kenapa Helena yang dihadapannya ini terlihat sangat muda seperti wanita seusia mereka.
"Kau—Kau pasti bercanda. Kau tak mungkin Helena." Ucap Draco berdiri, Ron mengikutinya berdiri.
"Tidak, Tampan. Aku tidak bohong. Aku adalah Helena Dawson, penyihir hitam terhebat yang pernah ada." Ucapnya dengan nada berpuas diri. Dengan cepat, ia berdiri menghadap Draco dan memegang dagu runcing Draco. "Kau pemuda yang tampan. Seperti suamiku, tetapi sayangnya dia lebih memilih wanita jelek daripada aku."
Draco menepis tangan Helena, "Suamimu cukup cerdik, Dawson. Ia bisa membedakan antara penjahat dan orang baik." Ujarnya dengan menantang. Ron hanya bergidik ngeri.
Senyum di wajah Helena sirna, "Tampan, tetapi angkuh. Aku suka pria sepertimu." Helena mengelus pipi Draco.
"Avada Kedavra." Ucap Draco tiba-tiba. Sasarannya mengenai perut Helena dan wanita itu jatuh terjerembap. Draco menarik tangan Ron untuk pergi. Mereka berlari keluar.
Namun ketika mereka sampai di jalan desa, suara wanita yang dingin dan menyeramkan bergema memenuhi desa. "Jika kalian sudah datang, kalian juga tidak akan pernah bisa kembali." Tiba-tiba sesosok wanita terbang dan berdiri menghadang jalan Draco dan Ron.
"Mau kemana, Anak-anak? Melarikan diri, eh? Hahahaha... berlarilah sejauh kalian bisa, Sayang. Dan, apa kalian tidak pernah tau bahwa aku Immortal? Tidak? Oh, pantas. Asal kalian tahu, mantra Avada tidak pernah bisa menyentuh kulitku, bahkan membunuhku." ujar Helena. Ia merentangkan tangannya, dan secara misterius, penduduk-penduduk desa itu berjalan mendekat. "BUNUH MEREKA." Raung Helena. Para penduduk pun mendekat dan mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Draco dan Ron.
Draco dan Ron mengarahkan tongkat sihirnya ke segala arah untuk menyingkirkan para penduduk yang berjalan seperti Zombie. Sangat menyeramkan. Namun, ternyata para Zombie itu bertambah banyak. Draco dan Ron sudah kewalahan menangani mereka yang semakin lama semakin banyak, tubuh mereka basah oleh keringat. Helena tertawa melengking.
Ketika Ron lengah, salah satu Zombie menangkapnya. Ron berteriak-teriak memanggil Draco meminta pertolongan. Namun Draco tidak bisa menolongnya, dirinya sendiri sedang berkutat dengan banyak Zombie.
"Malfoy—di dalam tasku—Topi Seleksi." Teriak Ron sambil meronta-ronta mencoba melepaskan cengkraman Zombie yang menangkapnya.
Draco mengangguk dan merogoh tas Ron untuk mengeluarkan Topi Seleksi tua. Ia melemparkannya kepada Ron, Ron menangkapnya. Dengan tiba-tiba, Ron mengeluarkan sebilah pedang bertatahkan batu permata—Pedang Godric Gryffindor dari dalam Topi Seleksi. Ia menusukkan pedang itu ke jantung para Zombie yang langsung hangus terbakar.
"TIDAAKK.." terdengar raungan marah Helena. Wanita itu terbang menghampiri Ron dengan cepat dan Ron jatuh terlentang. Pedang Godric Gryffindor terlempar ke arah Draco. Helena mencekik leher Ron dengan kuat.
Draco hendak menghampiri Ron, tetapi salah satu Zombie menarik ranselnya hingga robek. Isinya berhamburan, termasuk buku tentang gelang terkutuk itu. Draco meraih buku itu dan memeganginya. Ia berlari untuk menyelamatkan Ron dari genggaman Helena.
Helena menepis udara dan Draco terjatuh. Bukunya terjatuh dan membuka tepat di halaman yang kosong, yang sebenarnya berisi keterangan cara penangkalnya. Helena menghampiri Draco dan Draco mengarahkan pedangnya ke udara. Lengan Helena tergores sedikit, darah berwarna hitam-pekat keluar dari luka Helena dan membasahi halaman buku.
Betapa terkejutnya Draco, halaman itu yang semula kosong langsung bercahaya, menampilakn simbol-simbol aneh dan huruf Rune Kuno. Draco tersenyum gembira. Ia bangkit berdiri dan mengarahkan pedangnya tepat dijantung Helena. Helena menjerit kesakitan. Tangannya mencengkeram dadanya yang mengeluarkan banyak darah. Draco terus menusukkan pedang itu hingga akhirnya Helena jatuh dan mati, benar-benar mati. Zombie-zombie tadi tiba-tiba hangus terbakar dengan sendirinya dan berubah menjadi abu.
Nafas Draco terengah-engah. Ia jatuh terduduk dan meraih buku tua itu. Ron menghampirinya dan mendudukkan diri di sebelah Draco.
"Kau hebat. Bagaimana kau bisa membawa Topi Seleksi itu, Ron?" tanya Draco yang mulai memanggil nama depan Ron.
Ron tersenyum menatap Draco, "Aku hanya mengingatkan diriku sendiri bahwa Topi Seleksi sangat membantu, Draco." jawab Ron dengan memanggil nama depan Draco.
Mereka tersenyum bersama. Akhirnya mereka menjadi teman, atau bahkan mungkin sahabat. Entah, siapa yang tahu?
"Ayo, Draco. Cepat baca petunjuknya." Kata Ron.
Draco mengangguk dan membacanya.
Jika Anda hendak menangkal kutukan gelang itu, Anda harus membunuh dan mengambil darah Helena yang keluar tepat dari jantungnya. Namun tidak mudah untuk melakukannya, mengingat Helena Dawson adalah seorang Immortal—
"Tidak juga, malahan ini adalah tugas termudah bagi kita. Ya kan, Draco?" ucap Ron dengan terkekeh. Draco membalas tersenyum.
Ambil darah Helena Dawson dan siram gelang itu dengan darah Helena.
"Sudah jelas, kan? Kita harus mengambil darah Helena." Ujar Draco sambil berdiri. Ia mengambil satu tabung kaca kecil yang tergeletak di jalan karena ikut terjatuh ketika tasnya robek. Ia mengambil darah Helena dan menutup tabung kecil itu dengan penutup dari gabus. "Baiklah, Ron. Misi kita sudah selesai. Kita pulang sekarang?"
"Yeah tentu, aku tak mau berada di desa ini lagi." Ujar Ron cepat-cepat.
Mereka berdua memperbaiki tas Draco dan mengembalikan barang-baranya ke dalam tas. Setelah semua beres, mereka ber-Apparate menuju sekolah Hogwarts.
TAR! Akhirnya, mereka berdua, Draco dan Ron, sampai di pagar Hogwarts. Mereka memasuki kastil dengan keadaan kotor, dan Draco, bajunya dipenuhi oleh darah Helena. Namun, mereka tetap tersenyum senang. Lega karena dapat melakukan tugas dan kembali ke kastil dengan selamat. Namun di tengah jalan, mereka dicegat oleh Harry. Tangan kanannya memegang sebilah pisau pemberian Sirius dan tangan yang satunya memegang tongkat sihir dengan erat.
"Halo, Malfoy, Weasley." Desisnya.
Ron dan Draco berhenti dan mengawasi Harry, "Apa maumu, Potter?" tanya Draco dengan ketus.
Harry tertawa, "Aku sudah mendengar tentang petualangan hebat kalian." Harry bertepuk tangan, "Bravo, kalian berhasil." Ucapnya sambil tertawa licik. "Dan—pastinya kalian sudah tau semua tentang gelang yang kuberikan kepada Hermione, kan? Dari buku tua yang diberikan tua bangka, si Borgin itu, kepada kalian. Iya, kan?" Harry tertawa lagi, "aku sudah membunuh si penghianat Borgin."
Draco dan Ron terbelalak, "Kau—Kau membunuhnya, Potter?" tanya Ron tak menyangka.
"Ya, Weasley. Kenapa? Terkejut?" Harry tertawa lagi, "bagaimana kalau aku membuat kejutan yang lain untukmu, eh? Bagaimana? Apa kau sudah siap?" tanpa menunggu jawaban Ron, Harry mengangkat tongkat sihirnya. Tak lama kemudian, seseorang melayang, sepertinya seorang wanita, mendekat dengan posisi tertidur.
Ginny.
"GINNY." Teriak Ron, "apa yang kau lakukan terhadap adikku, Potter?" bentak Ron dengan amarah yang meluap-luap.
"Oh—Ginny? Tenang, Weasley. Ia hanya tertidur sementara, tetapi sebentar lagi, ia akan tertidur untuk selamanya. Karena aku sudah mengorbankan jiwa Ginny demi gelang itu." Ujar Harry dengan licik.
"Kau—tega-teganya kau." Ron mengacungkan tongkat sihirnya dan meluncurkan mantra non-verbal yang langsung ditepis Harry.
Harry tertawa licik, "Apa kau lupa, Weasley? Kau berhadapan dengan aku, pahlawan perang, penyihir yang pernah mengalahkan Voldemort. Apa kau lupa, eh?"
"CUKUP." Raung Draco. ia mencengkeram tongkatnya, "Aku menantangmu untuk duel, Potter." Tantang Draco.
Harry tertawa mengejek, "Kau? Pria lemah macam kau menantangku, eh?"
"Jangan besar kepala, Potter. Lawan saja aku." Draco mengacungkan tongkat sihirnya dan hendak mengucapkan mantra. Tetapi Harry terlalu cepat, ia mengarahkan tongkat sihirnya kepada Draco dan men-Crucio pemuda itu. Draco jatuh berdebam ke lantai sambil menggeliat kesakitan. Harry tertawa terbahak-bahak melihat itu semua. Ia terus-menerus men-Crucio Draco.
"DRACO..." panggil Hermione yang muncul tiba-tiba. Ia berlari mendekati Draco, mengabaikan rasa sakit di pergelangan tangannya.
Harry menghentikan serangannya. Draco menatap Hermione dengan mata berair, "Her-Her-mione.." ucap Draco terbata-bata. Ia mengulurkan tangannya ke arah Hermione. Hermione memeluk Draco dan menangis. "Her-Hermione—ta-tanganmu—jangan—jangan de-dekat-dekat de-ngan-denganku. Ka-Kau sak-sakit—"
"Bicara apa kau, Draco? aku tidak pernah merasa sakit bila berada di dekatmu. Tenang—" ucap Hermione meyakinkan Draco. Memang, rasa sakitnya sungguh luar biasa. Tetapi Hermione tak ingin Draco khawatir melihat keadaannya.
Tubuh Draco bergetar hebat akibat kutukan Cruciatus yang diluncurkan Harry berulang kali kepadanya. Hermione menoleh memandang Harry, "Siapa kau sebenarnya? Kau bukanlah Harry yang kukenal dulu. Kau adalah iblis." Desis Hermione sambil terus memeluk Draco.
Harry tertawa, "Aku Harry, Herrmione. Aku Harry, ayolah—"
"TIDAK." Teriak Hermione. Ia mulai menangis, "Kau bukan Harry. Kau bukan Harry." Sangkalnya. Ia menoleh memandang Draco, menatap wajahnya yang pucat. Mata Draco terpejam akibat kesakitan. Hermione mencium bibir Draco yang mulai memucat dengan lembut sambil menangis.
"Please, don't—cr-cry, Sweet—Sweetheart." Ucap Draco sambil mengelus rambut Hermione.
Ron yang sedari tadi diam terharu memandang Draco dan Hermione, menoleh menatap Harry. "Kau adalah manusia paling kejam yang pernah kulihat, Potter. Aku salah menilaimu selama ini." Ujar Ron.
Harry menyeringai, "Ini belum seberapa, Weasley. Akan kutunjukkan apa arti kejam menurutmu." Harry menghampiri tubuh Ginny yang melayang di udara dalam keadaan entah tidur atau pingsan. Harry mengarahkan pisaunya ke leher Ginny.
"TIDAK." Teriak Ron.
Draco mengambil tabung kecil berisi darah Helena dari dalam saku celananya dan menyiram gelang yang berada di tangan Hermione dengan darah hitam itu. Hermione diam saja, ia tahu apa yang Draco lakukan. Tiba-tiba gelang itu berkeretak dan mengeluarkan asap hitam tipis. Hermione menjerit kesakitan, Harry berdiri mematung tak percaya. Dan tak lama kemudian, gelang itu hancur dan menghilang dengan misterius. Harry jatuh pingsan di lantai, bekas luka Hermione hilang tanpa bekas dan tak ada rasa sakit sama sekali. Ia menangis bahagia dan langsung memeluk Draco sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Draco tersenyum lemah di pelukan Hermione.
Ron mendesah lega dan mendekati Ginny, "Gin, bangun. Ayo bangun." Ron mengguncang tubuh Ginny. Ginny mengerjapkan matanya dan bangun. Ia langsung memeluk Ron sambil menangis, "Ron, Ron, Harry—"
"Shhtt... sudahlah. Semuanya sudah selesai."
"Aku takut, aku takut." Ujar Ginny berulang kali. Ron membelai punggung adiknya itu berusaha menenangkan.
Draco melepas pelukan Hermione dan tersenyum. Ia berdiri dan berjalan menghampiri tubuh Harry dengan kaki gemetar. Ia membalik tubuh Harry dan memeriksanya.
"Death." Ucap Draco pelan. "Harry meninggal."
.
.
.
Ada tulisan yang terlewat oleh Draco dan Ron, yaitu : Jika Anda gagal mengorbankan jiwa seseorang yang hidup penuh cinta, kematian akan menjemputmu saat bulan purnama.
Dan malam ini adalah bulan purnama.
~FINISH~
Huuffftt... Last chapter. Alurnya kecepetan ya? Ceritanya kurang memuaskan ya?
Maafin author newbie ini ya.. Maklum masih belajar T~T
Thanks ya buat readers yang setia membaca chap pertama sampai terakhir
Thanks juga yang sudah setia review ^_^
RnR please...
Tunggu fanfic selanjutnya dari saya ^_^
/Kissbye :*
