warn: crell kelepasan pake bahasa lo gue di sini wkwk maaf yaa ntar diremake deh

.:xxx:.

"Jongin, ke sini sebentar."

Junmyeon tiba-tiba saja masuk ke pondok Jongin tanpa mengetuk pintu. Si jaguar yang sudah selesai menempelkan obat-obat herbal ke muka Yixing dibantu Zitao langsung menoleh. Tampaknya larangan dominan untuk masuk ke pondok submisif tidak berlaku sebaliknya.

Zitao menatap Jongin sejenak, sebelum kemudian meletakkan mangkuk keramik yang ia bawa dan beranjak ke luar.

"Kenapa, Ma?" Jongin mengambilkan kursi agar Junmyeon bisa duduk. Tapi si submisif malah menahannya agar tidak berdiri.

"Mau ngobrol sebentar. Kamu duduk juga."

Jongin agak bingung.

Junmyeon menelan ludah. Sebagai tetua submisif yang baik, ia harus segera meluruskan masalah ini. Dominan diciptakan untuk bersama dengan submisif, tidak untuk bersanding dengan dominan lain. Curhatan dari Kyungsoo kemarin membuatnya merasa perlu untuk meluruskan masalah ini sebelum dua dominan terbaiknya jatuh ke jurang kesesatan.

"Jongi—"

"Ma bukan aku yang habisin daging banteng waktu itu," Jongin tiba-tiba bersujud di kakinya. "Zitao yang habisin! Aku cuma... cuma... nyomot dikit!"

Lah. Junmyeon memutar bola mata.

"Dua kilo itu dikit, Jongin?"

"Kok Junma tahu?"

"Jongin, kita bukan mau ngobrol soal kamu dan Zitao yang nyolong jatah daging punya Baekhyun. Kalau masalah itu, aku sudah lama tahu."

"Eh, hehe,?" Jongin sok malu-malu kucing, lalu duduk lagi. "Terus mau ngobrolin apa, Ma?"

"Ini soal kamu, Chanyeol, dan Kyungsoo. Kalian—"

"Ma," Jongin tiba-tiba jadi defensif. Sama seperti Kyungsoo. "Bisa kita nggak bicarain ini? Ini... Bukannya aku udah pernah bilang kalau nggak mau masalah ini diungkit-ungkit lagi? Kami udah... udah nggak ada apa-apa..."

"Tapi Jong—"

"Kyungsoo itu suka sama Chanyeol, Ma. Masa nggak tahu? Udah jelas banget, dari cara dia ngelihat Chanyeol," si macan kumbang menggigit bibir bawahnya. Matanya tidak berani menatap ke Junmyeon, dan ekor hitamnya sudah bergerak-gerak tidak nyaman seraya ia bangkit dari kursinya. "Kalau saingannya seberat Chanyeol, aku nggak bisa apa-apa, Ma. Udah, aku pergi dulu."

Lalu Jongin pergi. Begitu saja. Peduli amat dikata durhaka.

Junmyeon duduk diam di kursinya. Berpikir. Tapi tidak butuh waktu lama sampai satu dan satu klik dan ia akhirnya sadar duduk permasalahannya.

Kyungsoo bilang Jongin suka Chanyeol.

Jongin bilang Kyungsoo suka Chanyeol.

Junmyeon terkekeh sendiri menyadari kenaifan anak-anaknya.

"Dasar anak-anak idiot."

.:xxx:.

Hutan itu ternyata lebih luas dari yang mereka kira. Sulur-sulur yang menjulur sudah ditebas paksa, dan bahkan sampai mereka terjungkal dalam kubangan rawa berkali-kali, tiga manusia itu belum juga menemukan apa yang mereka cari.

"Kapten, seriusan kaki gue udah pegel ini!" Salah seorang dari mereka yang membawa ransel berseru dari belakang.

"Berisik lo Kasper! Tadi kan kita baru istirahat, hah?!" yang paling depan, yang barang bawaannya paling sedikit, membalas.

"Tapi, kapten," yang diteriaki Kasper tadi meneruskan. "Kita udah masuk hutan ini dari pagi tadi. Sekarang hampir tengah hari, yang dicari bos Willis juga nggak ada tanda-tanda!"

Di tangan ketiganya adalah senapan laras panjang. Yang belum mereka pakai selain untuk berburu rusa kemarin malam.

"Kapten, coba cek lagi deh ke Boss Willis." Taeil, yang kedua, yang berada di tengah-tengah, menambahkan. "Jangan-jangan kita kesasar, lagi?"

Si kapten, yang tampaknya juga sama kelelahannya seperti dua orang anteknya, mempertimbangkan saran itu. Ia akhirnya memberi isyarat agar mereka berhenti dulu di bawah sebuah pohon besar. Kasper dan Taeil segera meletakkan ransel mereka dengan napas lega, lalu menjatuhkan diri di atas lapisan lumut yang lembab. Sialan kapten mereka yang hanya membawa senjata.

"Memangnya ada sinyal di tengah hutan?" Kasper menoleh, melihat kapten mereka yang sedang berjalan menjauh sambil membawa alat komunikasinya.

"Kalau sinyal hp ga ada, tapi sinyal HT kayanya ada," Taeil bangkit dan melempar botol air yang mereka bawa. Kasper menangkapnya dan dengan legawa menenggak isinya.

Sang kapten sendiri baru menemukan secercah sinyal setelah berjalan agak jauh. Dan dari suara keresak yang lumayan bising, ia bisa mendengar jelas suara dingin bossnya.

"I assume you've done your job that you have guts to call me, Johnny?"

Johnny, si kapten, rupanya masih belum bisa tidak merinding acapkali mendengar suara sang boss.

"Boss, we've been walking nonstop for, like, three hours already. Yet we havent seen any cat-tailed men—"

"Go deeper," potong si bos tajam. "They are somewhere in that forest. I paid you a large sum of money not to listen your bluffy ass whining about it to me," Lalu dengan intonasi yang lebih berbahaya. "Or am i mistaken?"

"Boss, I'm sorry—"

"I expect you to finish the easy task I gave you. Now get lost."

Usaha keras untuk menghubungi kantor pusat itu diputus paksa.

.:xxx:.

"Kamu harus jenguk mereka, Baek. Mau gimana-gimana, itu kan karena kebegoanmu mereka sampai saling hajar begitu."

Baekhyun yang sedang tidur-tiduran di atas kasurnya melongok ke arah Kyungsoo yang sedang mengiris daging. Kepala kucing kecil itu terjulur jatuh dari ranjang, surai kecokelatannya yang lembut ikut terjuntai ke bawah sementara kakinya naik-naik kebosanan.

"Baekkie nggak begooo," si kucing merengek. "Baekkie cuma maluu. Kemarin kan Baekkie habis... habis... ungnyaaah!" Lalu si kucing berguling-guling kesetanan sambil menutupi mukanya yang merah. Mengingat-ingat bagaimana bisa kemarin ia dengan ngawurnya menungging dan mendesah di depan Yixing-nya yang ganteng rupawan.

"Baek?"

"Uu maluu nyaaaa."

Cring-cring-cring.

"Ya tapi kamu tetap harus jenguk mereka. Sungkan, kan? Kamu udah bikin sedesa gempar."

Kyungsoo begini, nih, kalau sudah punya satu permintaan yang tidak dipenuhi. Dia terus akan membicarakannya, pokoknya sampai orang yang ia pepet muak.

Dan itu Baekhyun sekarang. Kyungsoo terus-terusan merongrongnya untuk minta maaf sejak pagi.

"Baek!"

Seperti tidak ada topik lain.

"Nggak mauuu!" Baekhyun menarik sprei kasur dan bergulung di dalamnya seperti kepompong. Peduli amat berantakan, nanti juga Kyungsoo yang membereskan.

"Kalau kamu nggak minta maaf, hari ini kamu makan tanah aja sana!"

Si kucing memekik kecil mendengarnya, kepala menyembul dari kepompong yang ia buat. "Soonyah kok jahat?!"

"Makanya sana minta maaf!"

Kyungsoo akhirnya bernapas lega saat Baekhyun akhirnya turun juga dari ranjang, rambut acak-acakan, dan masih memakai kaus putih lengan panjang yang entah kenapa ia punya banyak sekali. Kyungsoo memberinya tumis daging masakan rumah untuk diberikan sebagai oleh-oleh, karena siapa sih yang tidak suka masakan Kyungsoo.

"Kamu mau ke mana, Baek? Chanyeol dipindah ke pondoknya Jongin." Seru Kyungsoo saat tahu Baekhyun berjalan melewati pondok Jongin.

"Biarin, orang Baekkie mau jenguk Yixing!"

Si lynx menepuk jidat. Ekornya bergerak pelan.

Memang susah berurusan dengan yang seperti Baekhyun.

.:xxx:.

"Yixingnya lagi tidur, dedek Baekkie. Baru aja tidur habis tadi diminumin obat sama Junma."

Baekhyun menunduk sedih di depan Zitao yang sedang malas-malasan di depan pondok Chanyeol—yang di dalamnya ada Yixing.

"Eh, tidur, ya..." Kuping Baekhyun layu di atas rambutnya. Ekornya berhenti melambai dan menjuntai lemas. "Kalau tidur berarti nggak bangun, ya?"

Zitao berdecak gemas dan mencubit dua pipinya. "Dedek Baekkieee."

"Aduuuh Zitao nyaahh," si kucing geleng-geleng kepala, mengehentakkan kaki kesal seperti anak kecil. Zitao tertawa dan melepasnya. "Padahal Baekkie sudah bawa tumis dagingnya Soonyah..."

OH MAKANAN.

Pantas dari tadi hidungnya si puma gatal.

"Titipin ke aku aja." Zitao sok yes. Pasang muka seperti kurir terpercaya. "Nanti biar Zitao kasihin Yixing kalau udah bangun. Dedek udah jenguk Chanyeol belum?"

"Nya? Chanyeol? Kenapa Baekkie harus jenguk Chanyeol?"

"Kamu gimana, sih." Zitao diam-diam kasihan ke Chanyeol. "Kan mereka ribut gara-gara kamu. Kalau Chanyeol sampai tahu kamu jenguk Yixing tapi nggak ngejenguk dia, Chanyeol pasti ribut lagi. Kamu mau mereka tonjok-tonjokan lagi kaya kemarin?"

Lalu Baekhyun sepertinya baru sadar.

Oh iya, iya... Kemarin yang berkelahi bukan Chanyeol saja...

Kalau Yixing sampai terluka begitu, tidak mungkin Chanyeol baik-baik saja, kan?

"Tapi... Chanyeol..."

"Lagian," Zitao menambahkan, sok-sokan sendu seolah baru menjanda ditinggal mati suaminya. "Luka-lukanya lebih parah punya Chanyeol, lho. Kasian banget Chanyeol... Belum sempat kawin, udah mau modar aja... Kamu nggak kasihan sama dia?"

Cring-cring-cring.

Lukanya parah?

Ya ampun... Padahal Baekhyun ketusuk serpih kayu saja nangisnya sudah seperti digenjot beramai-ramai... eh kenapa narasinya jadi mesum juga.

Baekhyun jadi agak cemas. Agak. Cemas.

"Te-terus sekarang Chan di mana?"

"Yifan hukum dia buat metikin beri di selatan."

Baekhyun tidak bilang apa-apa tapi langsung melesat ke arah yang ditunjuk. Meninggalkan Zitao dan sebungkus daun pisang tumis daging sapi buatan Kyungsoo yang bisa membuat musibah kelaparan satu benua tertuntaskan.

Lebay.

"Pokoknya habis ini lo kudu kasih gue reward, Yeol. Huehehe."

.:xxx:.

Di selatan memang ada semak-semak beri liar yang banyak sekali. Biasanya para submisif (kecuali Baekhyun, karena si kucing merengek keranjangnya berat padahal Jisoo kecil saja kuat mengangkatnya) suka mengumpulkannya, untuk kemudian diolah jadi kue atau minuman atau cemilan. Kenapa Chanyeol mau-mau saja dihukum memetik beri? Itu kan pekerjaan yang submisif sekali.

Baekhyun rasanya sudah berkeliling ke semua semak. Tapi tidak ada Chanyeol. Si kucing cemberut, menghentakkan kaki kesal, merasa dikerjai. Dan ia sudah akan lari pulang ke desa kalau saja punggungnya tidak menabrak sesuatu.

Baekhyun berbalik.

"Huwaaaa!"

Si kucing berteriak kaget, membuat orang yang ada di depannya ikut terkejut. Di depannya berdiri Chanyeol, tegak kekar, kepalanya diperban separuh dan mukanya ada empat bekas cakar panjang, di tangannya ia membawa sebuah keranjang berpita merah muda.

Kombinasi yang aneh.

Baekhyun segera mengatur napasnya, deg-degan setelah dikira ia menabrak sesuatu yang lain. Lalu si kucing menatap mata si harimau putih yang hanya melihatnya dingin.

"Huweeee! Baekkie kageeet!"

Baekhyun tersedu, matanya merah dan bibirnya bergetar. Baekhyun paling tidak suka dibuat kaget. Kalau kaget, ia bisa menangis karena kesal.

Chanyeol sudah pasti akan langsung berusaha menenangkan si kucing, entah dengan mengelus rambutnya atau meremas bokongnya. Chanyeol sudah akan melakukan itu. Tapi tangannya terhenti saat percakapannya tadi dengan Jongin terlintas.

.

.

.

.

"Bro, lo ogeb banget sumpah. Kalo habis ini Baekhyun makin takut sama lo gimana, hah?"

"Lah terus gue kudu diem aja gitu liat dia nungging di depan si bajingan, heh? Kalo gue tega aja tuh kemaren udah gue penggal si bangsat pake kapak lo terus gue perkaos si Baekhyun di sana."

"Eanjir lo. Gue voyeur dong."

"Biarin. Biar semua orang di desa nonton gue ngentotin Baekhyun."

"EASEMMM MULUT ELO YEOL PANTESAN SI BAEK LEBIH MILIH YIXING. OGEB LO JANGAN DIPUPUK GEBLEK."

"AH COEG LO."

.

.

"Ngapain lo di sini?"

Chanyeol lalu memasang muka dingin, dan kata-katanya juga tidak kalah membekukan.

Baekhyun tidak jadi menangis. Malah sepertinya ia beku untuk beberapa saat sebelum kemudian mendongak. Pipinya yang gembil sudah memerah, dan matanya berkaca-kaca. Tapi dari ekspresinya, Baekhyun kelihatan bingung.

.

.

"Terus gimana Jong? Gue kudu gimana habis ini?"

"YA MANA GUE TAU SOMPLAK. SALAH ELO SENDIRI, MAMAM TUH TENONET."

"Apaan sih lo."

"..."

"..."

"Eh, Yeol."

"Penting ga elo ngomongnya? Kalo cuma bacot mending diem."

"Gue ada ide."

"Oke, ide apa, Sayang?"

"Najes. Gimana kalo lo pura-pura jutek ke dia setelah ini? Guilt tripping gitu, bro, biar dia ngerasa bersalah."

.

.

"Gue tanya, ngapain elo di sini?"

Mata Chanyeol tidak seramah biasanya. Kalau biasanya mata lebar si dominan itu berkilat tiap melihatnya atau malah setengah tertutup sayu, kali ini Chanyeol justru melihatnya seolah Baekhyun itu kutu karpet.

Baekhyun jadi bingung.

Ch-Chanyeol kok jadi beginiii?

"Kalo ga ada urusan, pulang sana. Gangguin aja."

.

.

"Kalo dia ga ngerasa salah gimana? Lo tau sendiri itu bocah semok satu ga ada peka-pekaannya."

"Baekhyun itu tipe yang kalo ngeliat Zitao hanyut di sungai terus ga bisa nolongin, dia bakal minta maaf ke semua orang di desa."

"Ya itu wajar, coeg."

"Eh serius, Yeol. Lagian elo ga ngaca? Lo liat muke lo, gih. Ancur gitu. Dijamin walaupun Baekhyun itu hatinya sekeras anu lo pas ngaceng, dia pasti bakal ngerasa salah, lah. Terus dia bakal nyangka kalo lo marah ke dia."

"Tapi gue ga marah. Ya kesel sih, tapi ga gitu amat—"

"Elo kudu akting sok marah gitu, Yeol. Pasti nanti doi bakal berusaha gimanapun caranya biar elo bisa maafin dia. Nah, ntar pasti itu kucing bakal merepet merepet ke elo, apapun pokoknya dia elo maafin. Nah, di kesempatan itu—"

"TERUS LANGSUNG GENJOT GITU YA?! SSHH AHH NGHH MANTAP JIWA GUE PUNYA SOHIB KAYA ELO. OKE GUE BERANGKAT METIKIN BERI DULU YAK"

"... gue benci punya temen engasan kaya elo."

.

.

"Chan, tunggu!" Entah dapat keberanian dari mana, Baekhyun menahan Chanyeol yang sudah melengos pergi dengan memeluk lengannya. "M-m-masih sakit, Chan?" tanya si kucing takut-takut.

Dipeluk begitu oleh submisif idaman membuat Chanyeol seperti disetrum. Tapi ia buru-buru menahan napas, lalu menarik lengannya lepas.

Padahal pingin dipeluk. Bajingan lo Jong.

Huft.

"Menurut lo?" Chanyeol melirik sadis, lalu pergi lagi.

"Chan... k-kok ngomongnya jadi dikit-dikit ke Baekkie..."

Baekhyun jadi gugup sendiri. Tidak pernah tahu kalau Chanyeol punya sisi dingin seperti ini.

"Lo beruntung gue masih mau ngomong ke elo."

Rasanya seperti ditampar.

"N-nya..."

Baekhyun merintih. Padahal tidak berdarah. Kenapa sakit, ya.

"Chan ja-jangan gitu..." Si kucing merengek pelan. Buntutnya jadi lemas, kupingnya menempel di atas kepala. "Baekkie jadi takut..."

Chanyeol hanya melirik.

Kalau memandang nanti ia takut kelepasan. Dan rencananya bisa gagal total.

Sejauh ini, ia bisa melihat rencana Jongin bekerja sempurna, sih. Kapan lagi ada Baekhyun yang mau nangis gara-gara tidak ia perhatikan? Yang ada sebelumnya Baekhyun selalu nangis karena ia kejar-kejar.

"Chan, ma-maaf ya... Gara-gara yang k-kemarin, nya..." si kucing mencicit lagi. "B-Baekkie nggak maksud bikin kalian b-bertengkar..."

"Ga usah minta maaf." Chanyeol memotong. Asik juga rupanya sok-sokan cuek. "Ga ngaruh apa-apa juga."

Serius, kalau dibeginikan lagi, Baekhyun bisa nangis.

"Chan m-marah ke Baekkie?" Baekhyun mengikuti di belakangnya, seperti ekor kedua. Jalannya agak ragu, tapi Baekhyun lebih takut. "Chan?"

Chanyeol tidak menjawab. Sibuk sok fokus memetik beri-beri matang.

"Chan?"

"Chaan."

"Chanyeool..."

"Chaan, nyaah..."

"BERISIK LO!"

Baekhyun sampai melompat kaget saat Chanyeol tiba-tiba meraung, lalu melempar buah beri dalam genggamannya ke arah Baekhyun.

Si kucing terdiam, mematung. Buah-buah buni itu jatuh menuruni tubuhnya, berserakan di atas tanah. Di depannya, Chanyeol menampakkan taring-taringnya dengan bengis, napasnya terengah. Dengan wajahnya yang terluka begitu, ia jadi lebih mengerikan.

Lutut Baekhyun bergetar. Takut. Aroma Chanyeol menakutkan.

"Lo mulai sekarang jangan gangguin gue lagi, deh!" Raung Chanyeol keras. "Enyah lo dari sini!"

Baekhyun maunya menggeleng. Tapi ia malah jatuh tersimpuh. Tidak kuat dengan aroma Chanyeol dan rasa takutnya.

"Oke, kalo gitu gue yang pergi!"

Hybrid harimau putih itu tidak tunggu lama untuk angkat kaki dari tempat itu. Meninggalkan Baekhyun yang masih membulatkan mata. Kaget, takut, lemas, sedih, kecewa...

"Cha-Chan... Mau ke mana?"

Baekhyun baru merengek saat Chanyeol sudah hilang dari pandangan.

"Chan! Hiks..." tangisannya makin kencang saja. Air matanya sudah membasahi total pipi gembilnya. "Channieee! Hiks... Baekkie takut sendirii... Hiks... Channieee!"

.:xxx:.

Chanyeol berhenti dari aktingnya beberapa ratus meter dari tempat semak beri tadi. Setelah mengatur napas, ia mengusak poninya ke belakang.

Kasihan, sih. Tapi kalau tidak begitu, Baekhyun tidak akan sadar. Iya, kan?

"Gue terlalu lebay, ya?" Ia melirik ke belakang. Untung si kucing tidak mengikutinya. "Biarin, ah. Biar kapok."

Chanyeol mengangkat bahu, lalu lanjut menuju desa.

Sampai kemudian ia mendengar suara itu.

DOR!

.

.

.

.

[tbc]

AN:

Masih ga mood, tapi kudu bacot =(

Maaf kalau aku masih ga bisa pastiin ini akan berakhir Chan atau Xing x Baek, ya. Ntar kalau dipastiin ga seru doong wkwk

Mau jelasin bentar yaaa soal au di fic ini.

Jadi di sini ada dua masa kawin:

masa birahi (heat) yang khusus dialamin submisif aja, itu enam bulan sekali dan biasanya mulai sejak si submisif usia 16-18. Rentang waktu normalnya cuma tiga hari. Masa ini bakal terus berulang sampai kira-kira usia 50, dan ini satu-satunya kesempatan buat submisif untuk bisa hamil. Submisif bakal jadi semacem bitch yang ga puas-puas digagahin model apapun.

Masa kawin (rut) yang khusus dialamin dominan aja, itu tiga bulan sekali dan sudah dimulai sejak si dominan usia 5. Masa ini bakal terulang sampai mati. Di masa ini para dominan bakal jadi lebih liar dari biasanya, dan bakal lebih protektif buat yang udah punya mate, atau lebih agresif buat yang lagi nyari mate.

Perbedaan utamanya pertama ada di waktu, pihak yang mengalami, dan kesempatan hamil yang cuma ada di masa birahi. Karena secara kerja, dua masa ini saling imbal balik. Kalau si submisif lagi heat, pasti dominannya bakal engas juga. Sama kaya masa kawin.

Buat masa kehamilannya, cuma empat bulan doang. Karena gen mereka udah nyampur sama gen hewan, anak-anak mereka juga tumbuhnya cepet banget—bahkan bisa tiga kali lipat kecepatan tumbuh kembang anak manusia. Ga usah dipikir kenapa, ini biar latar waktu ffnya ga terlalu lama aja hehe /dibuang

Kalau mau list umur mereka:

Chanyeol: 23

Yixing: 24

Baekhyun: 18

Kyungsoo: 20

Jongin: 19

Zitao: 20

Yifan: 28

Junmyeon: 27

Jisoo & Chaeyoung: 6

Eh btw ini bukan ff terjemahan wkwk soalnya ada yang nanya. Ini asle mah dari tangan saya yang suka nulis smut spontan wkwk

Akun wattpad ada kok! Tapi crell cuma pake buat baca aja, rencana pindahin ff ke sana masih setengah-setengah hehe /gak niat/. Usernamenya xCrell, kadang crell ngepost ff yang udah dihapus di ffn ini ke wp hehe.

Nas Ne Dagoniat sendiri lagunya Tatu, artinya seriusan gue lupa wkwk I'll Show You atau Tell You gitu hehe ketauan deh authornya males browsing

Kali ini shoutoutnya buat rekmooi yang serius gue nungguin satu-satu kelanjutan reviewnya secara real time wkwk review lagi yaaa /plak

Reviewnya, boleh?