Disclaimer © Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

Dandelion

By

Ann

Warning : Au, Ooc, typo(s).

Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.

and

Selamat membaca!

Aku mencoba, tetapi sepertinya aku gagal. Kau dan segalanya tentangmu membuatku makin terseret dalam perasaan yang tak bisa aku definisikan.

...

Bab VI

I Try My Best

...

"Rukia-chan, itu ide yang sangat bagus!" Isshin bersandar di kursinya di meja makan sembari menatap Rukia dengan sorot kagum. "Kenapa tak satu pun dari kami yang punya pemikiran seperti itu?"

Sabtu siang. Isshin mengundang Ukitake, Gin, dan Rukia beserta Nao, juga putra sulungnya, Ichigo, ke rumahnya untuk makan siang sekaligus mengadakan rapat kecil tentang klinik. Sambil menyantap hidangan yang disediakan Masaki, mereka membicarakan ide Rukia mengenai klinik kesehatan anak. Semua orang menganggap ide itu sangat bagus dan sepakat untuk segera mewujudkannya.

"Ceramah macam apa yang kausarankan, Rukia?" tanya Ukitake. "Hal-hal yang menyangkut masalah anak, seperti masa-masa tumbuh gigi?"

"Yah, itu juga bisa...," jawab Rukia ragu-ragu, sementara Ichigo menatapnya dengan sorot menyelidik.

"Tetapi kau punya ide yang lebih baik?"

"Masalahnya ceramah seperti itu hanya akan menarik para ibu yang memang sudah termotivasi dan tertarik. Menurutku, kita harus mencakup isu-isu seperti itu meski juga, kalau bisa, lebih memperluas pada topik-topik yang lebih umum dan ringan." Rukia menyadari semua orang memandangnya, itu membuatnya tak nyaman karena tidak biasa menjadi pusat perhatian. "Mungkin kita bisa mencakup topik yang sifatnya lebih personal."

"Contohnya?"

"Kita bisa membahas tentang olahraga," ujar Rukia. Mata-mata yang mengarah padanya terlihat bingung. "Maksudku, kita bisa memanggil seorang instruktur kebugaran, dan dia akan memberi pengarahan tentang berolahraga bagi para ibu yang punya anak kecil." Rukia bertanya-tanya dalam hati apakah idenya ini ide yang kedengaran tolol. "Begini, para ibu yang memiliki batita sering tidak punya waktu pergi berolahraga ke luar. Jadi memberitahu mereka tentang olahraga yang dapat mereka lakukan di rumah akan sangat berguna bagi mereka. Selain itu kita juga bisa memberi ceramah tentang fashion, make-up, cara mendekorasi ruangan, atau cara membuat camilan yang sehat dan disukai anak-anak."

"Ah, semua yang berkaitan dengan wanita," celetuk Karin.

Rukia mengangguk. Masaki tersenyum lebar kepadanya. "Itu sangat bagus, Rukia. Para ibu akan datang untuk bergosip sekaligus belajar sesuatu, dan sementara mereka di sana kita bisa ajak mereka membahas tentang imunisasi."

"Benar," tambah Yuzu. "Wanita cenderung akan lebih memilih datang ke acara yang memungkinkannya untuk bergosip."

"Wanita memang selalu suka bergosip," Isshin menimpali.

"Memang begitu adanya," ujar Masaki, lalu ia berpaling ke arah Rukia dan memujinya, "Aku tidak mengerti kenapa aku tidak pernah memikirkan ide seperti itu. Kau benar-benar hebat."

Rukia menggeleng sementara pipinya perlahan dirayapi rona merah. "Jika kalian setuju, aku akan membicarakan hal ini dengan Nanao," ujarnya.

"Kita harus mengadakan rapat kecil bertiga," Ichigo menambahkan.

"Tentu saja. Kita bisa mulai membicarakannya pada hari Senin."

"Kita perlu membuat poster dan spanduk untuk mempromosikan acara ini, selain undangan langsung untuk para ibu tentunya," ujar Gin.

"Aku punya seorang kenalan yang bisa membantu mendesain poster dan spanduk untuk kita," sahut Ichigo.

"Kenalan?" ujar Gin.

"Seorang teman lama yang dua tahun terakhir membuka usaha percetakan," jelas Ichigo. "Namanya Iba."

"Ah, aku kenal dia. Pekerjaannya bagus," Ukitake berpendapat.

"Lalu, hari apa acara ini dijadwalkan?"

"Kamis," jawab Ichigo seketika. "Waktunya harus cocok dengan jam kerja klinik lainnya dan sepertinya itu waktu yang tepat. Kita adakan acara ini setiap hari kamis saat jam makan siang."

Mereka lalu membahas dengan lebih terperinci dan Rukia mendapati dirinya mulai merasa nyaman dan membaur dalam perbincangan itu, menikmati alur percakapan dan ide-ide yang muncul.

"Kaa-san." Suara kecil Nao menyela pembicaraan mereka. "Kapan kita pulang?"

Rukia merona tersipu, tetapi Ichigo malah terbahak.

"Maaf, Jagoan. Kami pasti membuatmu bosan, tapi karena kau begitu diam dan tidak nakal kami semua jadi lupa padamu."

"Anak malang," ujar Masaki seraya berdiri. Tetapi Ichigo sudah berdiri mendahuluinya dan menghampiri Nao.

"Ayo ikut bersamaku sebentar, dan kita lihat apa yang bisa kita temukan di lemariku."

"Memangnya ada apa di lemari, Ichi-nii?" tanya Karin.

"Sesuatu yang para gadis tidak boleh tahu," jawab Ichigo, tetapi matanya menatap Rukia. "Tenang saja, aku tidak akan meracuni anakmu dengan hal-hal aneh."

Nao turun dari kursi dan mengikuti langkah Ichigo keluar ruangan.

"Aku tidak tahu kalau Ichigo suka anak-anak." Gin menyeringai ke arah Rukia, dan Rukia hanya bisa tertunduk malu. "Kau harus hati-hati bocah itu punya maksud terselubung."

"Bocah?" tatapan Rukia kembali ke arah Gin. Ia tahu yang dimaksud Gin adalah Ichigo, tetapi ia tak bisa membayangkan pria tinggi berbadan atletis itu pernah menjadi bocah laki-laki seperti Nao.

"Dia dulu bocah yang sangat manis, ya kan Masaki?" ujar Gin.

Masaki mengangguk penuh antusias. "Sangat manis, bahkan dulu waktu masih kecil dia sangat cengeng. Aku ingat hari pertamaku mengantarnya ke taman kanak-kanak, dia memelukku sambil menangis karena tidak mau kutinggalkan." Senyum terkembang di wajah wanita cantik itu saat mengenang masa lalu.

"Apa kau mau melihat foto-foto Ichi-nii waktu kecil?" Yuzu menawarkan. "Ichi-nii benar-benar imut loh."

Rukia menggeleng tepat saat Isshin berbicara. "Rukia-chan tidak mau melihat itu, Sayang, dia kemari untuk rapat ingat? Jangan mempersulitnya."

"Mempersulit siapa?" Ichigo muncul kembali bersama Nao yang mendekap sebuah wadah plastik transparan yang diisi lego.

"Kaa-san, lihat apa yang diberikan dokter Ichigopadaku." Nao berlari ke arah Rukia dengan wajah ceria.

Rukia tersenyum. Rasanya menyenangkan melihat putranya bahagia. Tetapi... ia mengangkat mata ke arah Ichigo.

"Terima kasih, tapi—"

"Sama-sama," potong Ichigo. "Nah, jagoan. Kau bisa bermain di sini." Ia membimbing Nao ke sudut ruangan, dan membiarkan anak itu bermain di atas karpet persegi di sana.

"Jadi, adakah yang mau menjawab pertanyaanku tadi?" ujar Ichigo setelah bergabung kembali di meja makan.

"Yang mana?" tanya Karin berpura-pura.

"Kau tahu yang mana, kau hanya tidak mau memberitahuku," ujar Ichigo sembari mengacak rambut adiknya.

"Aku memang tidak mau memberitahu Ichi-nii," sahut Karin.

"Hu-um, Ichi-nii tidak perlu tahu," Yuzu menambahkan.

"Kalian..."

Rukia memerhatikan interaksi itu dalam diam. Berpikir akan sangat menyenangkan jika memiliki saudara seperti itu. Ah, dia juga punya saudara, tetapi hubungan mereka tidak seperti itu. Dan Nao... Ia menoleh ke arah putranya. Akan sangat baik jika putranya memiliki saudara, entah itu perempuan atau laki-laki, mereka akan bermain dan belajar, memenuhi rumah dengan suara tawa dan keceriaan.

.*.

Seketika itu juga muncul bayangan Nao duduk bersila di sebuah ruangan, bersamanya ada dua anak yang lebih kecil satu perempuan dan satu lagi laki-laki, ketiganya asyik bermain. Lalu Rukia datang membawakan gelas-gelas berisi susu dan piring berisi kue untuk mereka.

"Asyik, susu!" Si gadis kecil berteriak. Melompat kegirangan ke arah Rukia.

"Aku mau biskuit!" Si anak laki-laki—yang merupakan kembaran gadis kecil itu—tak mau kalah, ia juga bergegas bangkit dan berlari. Sedang Nao hanya mengikuti dengan gerak lebih lambat, sengaja membiarkan anak-anak yang lebih muda itu mengambil jatah lebih dulu.

"Nao," Rukia memanggil dan anak itu segera mendekat. "Masih mau minum susu, kan?" Nao meraih gelas susu yang diberikan ibunya, meminum cairan berwarna putih itu dengan senang hati.

Bel pintu berbunyi saat mereka berempat asyik bercengkerama. Anak-anak segera meletakkan gelas mereka dan berlari ke pintu.

"Tou-san pulang!" mereka berteriak.

Pintu terbuka, menampilkan sosok tinggi yang mereka panggil ayah. Sosok tinggi bermata madu dengan rambut sewarna matahari senja.

.*.

Tring!

Tak sengaja Rukia menjatuhkan sendok yang dipegangnya, mengundang semua mata mengarah padanya.

"Kau tak apa?" Ichigo segera bangkit menghampirinya.

"Tidak. A-aku..." Rukia terbata. "Maaf... sepertinya aku harus segera pulang," ujarnya buru-buru seraya melipat serbet dan meletakkannya kembali ke meja. "Hei, ada apa?" Ichigo memegang tangannya. "Ada sesuatu yang salah?"

Rukia menggeleng. "Aku hanya... aku..."

"Kaa-san?"

Suara Nao membuat Rukia menoleh. Dan ia melihat anak itu memandangnya dengan sorot khawatir.

"Tenanglah, atau kau juga akan membuat Nao panik," Ichigo berbisik.

"Kaa-san tidak apa-apa, Nao. Kembalilah bermain," ujar Rukia sambil memaksakan sebuah senyum di wajahnya.

"Tenang... Tarik napas pelan... Keluarkan..." Rukia menuruti intruksi yang diberikan Ichigo, sementara tangan besar pria itu meremas pelan bahunya. Entah kenapa perlakuan itu membuat Rukia semakin rileks.

"Terima kasih," ujar Rukia, "dan maaf..."

"Tak apa," Ichigo menepuk bahunya pelan lalu beranjak kembali ke kursinya dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Rukia.

"Maafkan aku, tadi aku..."

"Kami mengerti, Sayang. Jangan paksakan dirimu," ujar Masaki.

"Mungkin sebaiknya kami pulang, aku butuh menenangkan diri," kata Rukia.

"Maukah kau tinggal sebentar lagi?" pinta Yuzu. "Aku membuat puding untuk kalian, kuharap kau mau tinggal lebih lama untuk mencicipinya."

Rukia melirik Nao yang masih asyik bermain, mengajaknya pulang sekarang tidak adil untuk Nao karena anak itu baru mulai bersenang-senang. "Baiklah," jawabnya pada Yuzu.

Yuzu tersenyum cerah dan segera berdiri. "Aku jamin kalian akan menyukainya," ujarnya sebelum menghilang ke dapur.

Mereka melewatkan sisa sore itu dengan mengobrol riang sembari makan sementara Nao menghibur diri sendiri dengan mainan yang diberikan Ichigo untuknya.

Meski begitu, lambat laun waktu pulang pun tiba, dan saat mereka berkendara pulang menuju arah pelabuhan Nao tertidur di bangku belakang mobil Ichigo.

Ichigo mengangkat bocah yang terlelap itu dan membopongnya keluar dari mobil, terus ke atas ke apartemen Rukia.

"Kamar tidurnya di sebelah sana..." Rukia memberi isyarat ke arah lorong dan Ichigo mendorng pintu hingga terbuka dengan bahunya dan membaringkan Nao di tempat tidur.

Rukia langsung bergerak melepas sepatu putranya dan menyelubungin Nao dengan selimut tebal yang lembut, menjaga putra semata wayangnya tetap hangat. Setelah selesai ia menegakkan tubuh dan menoleh, mendapati Ichigo tengah bersandar di pintu, mata madu pria itu tengah mengamati gerak-geriknya. "Dia tadi sangat bersenang-senang, terima kasih."

"Sama-sama," Ichigo menjawab tak acuh.

"Kau mau kopi?" Rukia menawarkan.

Ichigo mengangguk sebagai jawaban.

Rukia berjalan melewati Ichigo, mencoba mengabaikan keberadaan Ichigo yang memenuhi ambang pintu kamar Nao—terlihat nyaman bersandar di sana—ia melangkah terus menuju dapur mengambil cerek dan mengisinya dengan air keran hingga terisi tiga perempatnya, lalu ia meletakkannya di atas kompor dan menyalakan api.

"Rukia..."

Rukia memutar tubuhnya, menghadap Ichigo yang mengikutinya hingga ke dapur, menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya. Namun setelah selang beberapa detik Ichigo tak kunjung membuka mulutnya. "Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rukia.

"Tadi kau kenapa?" ujar Ichigo.

"Bisakah kau lebih spesifik soal waktunya?" Rukia membalik pertanyaan, meski sebenarnya ia tahu kapan tepatnya "tadi" yang dimaksud Ichigo.

"Saat makan siang tadi, kau tiba-tiba membeku seolah tersadar tentang sesuatu, lalu berkata ingin pulang," jelas Ichigo.

"Aku tidak ingin membahasnya. Maaf...," ujar Rukia.

Mata madu Ichigo menatap Rukia untuk sesaat. "Baiklah," ujarnya kemudian tepat saat cerek yang dipanaskan Rukia berbunyi nyaring, penanda air di dalamnya sudah mendidih.

Rukia segera mematikan api, lalu beranjak mengambil dua buah mug dari lemari. "Kau suka kopi apa?" ia bertanya pada Ichigo dari balik bahunya.

"Apa yang kau punya?" Ichigo melangkah mendekati Rukia.

Jantung Rukia memacu saat Ichigo berdiri tepat di belakangnya. Ia menelan ludah, berusaha menghilangkan kegugupan yang muncul secara tiba-tiba. "H-hanya kopi sachet sebenarnya. Aku tidak menyimpan biji kopi karena kami tidak punya coffee maker," ujarnya dengan agak tersendat di bagian awal kalimat. Ia mengeluarkan tiga bungkus kopi instan dengan rasa yang berbeda dari lemari. "Kau mau latte, kopi hitam, atau kopi susu?"

"Hm..." Ichigo memerhatikan ketiga bungkus kopi instan itu dari balik bahu Rukia. Wangi lembut memasuki indera penciumannya saat ia berada begitu dekat dengan wanita itu. Manis, seperti adanya wanita itu. Rasanya ia ingin melingkarkan lengan di sekeliling pinggang Rukia dan menariknya hingga bersandar di dadanya. Tetapi itu tidak mungkin bukan? Seorang teman tidak akan melakukan hal seperti itu terhadap temannya.

Ah, semua ini semakin menjadi tak mudah. Sulit bagi Ichigo untuk menjauhkan tangannya dari Rukia. Setiap kali bersama Rukia ia harus mengingatkan dirinya jika mereka hanya berteman.

"Kopi hitam," Ichigo menjawab dan segera menjauh dari Rukia. Menjaga jarak dari kemungkinan melakukan sesuatu yang akan ia sesali dikemudian hari.

"Tambah gula?"

"Jangan!" Ichigo berseru, membuat Rukia memandangnya dengan sebelah alis terangkat. "Maaf," ujar Ichigo sambil menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya.

Rukia hanya mengangguk sambil menuang bubuk kopi ke dalam gelas, lalu menambahkan air panas.

Aroma kopi menguar, memenuhi dapur kecil apartemen Rukia. Dua gelas kopi tersaji di meja makan, kopi hitam untuk Ichigo dan latte untuk Rukia.

"Menurutku..." ujar Ichigo lambat-lambat, "pergi keluar bagus untuk kalian."

Rukia hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit sebagai tanggapan, mungkin dimaksudkan sebagai sebuah senyuman, tapi terlalu kaku dan tanggung.

"Kau lihat Nao tadi, dia kelihatan senang sekali," Ichigo menambahkan.

"Terima kasih kepadamu untuk itu," ujar Rukia tulus. "Kau bahkan membiarkannya membawa pulang mainanmu."

"Aku memberikannya," ralat Ichigo. "Lagipula aku sudah terlalu besar untuk bermain." Ia menyeringai. "Kecuali permainan tertentu."

"Nah, kenapa aku menangkap sesuatu dari kalimatmu itu ya."

"Sesuatu apa?" Ichigo berujar polos.

"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya," sahut Rukia.

"Hei, ayolah... aku penasaran." Ichigo menggodanya.

Rukia memberengut. "Kau menyebalkan," sahutnya.

"Dan kau terlalu sinis, Rukia," ujar Ichigo. "Cobalah lebih santai, nikmati hidup. Keluarlah, berkenalan, temui banyak orang, dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kau datangi."

Rukia menelengkan kepala. "Mungkin kau lupa, Ichigo," ujarnya. "Aku bukan wanita single. Aku janda dengan seorang anak yang menderita asma, dan berpenghasilan pas-pasan. Bahkan aku dapat tinggal di apartemen yang bagus ini karena kebaikan orang tuamu. Aku dan Nao mungkin akan berakhir di rumah petak yang kecil dan kumuh, jika mereka tidak membantu kami."

"Makanya kubilang kau itu terlalu sinis, Rukia." Ichigo menatap Rukia—yang tampak tidak senang karena ia sudah dua kali mengatai wanita itu sinis—dari seberang meja. "Coba kau berpikir begini, kau wanita single yang memiliki seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang sangat hebat—bagiku Nao bocah yang hebat, Rukia. Meski tidak berpenghasilan bak artis Hollywood, kau masih bisa hidup berkecukupan. Dan kau sangat beruntung bertemu sepasang suami-istri baik hati yang menyukaimu serta anakmu, sehingga mereka memberikan sebuah apartemen untuk kalian berdua tinggali," ujar Ichigo panjang-lebar. "Cobalah berpikir seperti itu, Rukia. Kau memang pernah menjalani kehidupan yang tidak menyenangkan sebelum ini, tetapi bukan berarti kau harus membuat masa depanmu sama tidak menyenangkannya, bukan? Hiburlah dirimu, hiburlah Nao."

Rukia menelan ludah. "Aku tahu, tapi—"

"Kapan terakhir kali kau bersenang-senang?" tembak Ichigo.

Rukia mematung. Ia tidak ingat. Mungkin setahun atau satu setengah tahun yang lalu. Yang jelas sudah lama sekali sejak terakhir kali ia pergi keluar untuk bersenang-senang.

"Cobalah keluar," Ichigo berkata lagi.

"Ke mana?"

"Piknik denganku?"

Pandang Rukia langsung tertuju pada Ichigo dan jantungnya berdetak cepat. "Kau memintaku pergi piknik bersamamu?"

Ichigo mengangguk. "Dan Nao juga," ia menambahkan. "Kau berhutang satu makan siang denganku, ingat? Besok kita pergi jalan-jalan lalu makan siang bersama."

"Lalu apa yang akan orang-orang katakan?"

"Memangnya apa?" Ichigo mengendikkan bahu, jelas-jelas bingung memahami kaitan masuk akal dari ucapannya dan pertanyaan Rukia.

"Mereka akan bergosip." Rukia mencoba memberi penjelasan singkat, namun Ichigo tampak belum bisa mengerti. "Kau pergi dengan seorang janda dan anaknya, orang-orang akan berpikir kalau kau sedang mendekatiku," ujarnya dengan lebih gamblang.

Ichigo teringat keluarganya dan orang-orang lain di sekitarnya yang sering menasehatinya tentang hal yang baru saja Rukia katakan, dan itu membuatnya kesal. "Jangan pikirkan mereka. Kita yang menjalani ini, Rukia, bukan mereka," sahutnya.

Rukia menggeleng pelan. "Dan apa yang sedang kita jalani?"

"Pertemanan. Bukankah itu yang kauinginkan ada di antara kita?"

Rukia terdiam. Mata violetnya masih terarah lurus pada Ichigo.

"Ayolah, Rukia. Kita pergi sebagai teman, kau, Nao, dan aku. Pergi bersenang-senang selama sehari. Aku akan memperlihatkan pada kalian keindahan kota Karakura pada kalian. Kita akan pergi ke bukit di bagian barat kota, naik kereta gantung, dan menikmati pemandangan Karakura dari atas bukit. Pemandangan awal musim dingin dari atas bukit sangat indah, kalian tidak akan pernah menyesal pergi ke sana, bahkan aku jamin kalian akan ketagihan."

Mendadak perasaan Rukia terasa begitu ringan daripada yang pernah ia rasakan selama ini.

Sehari bersama Ichigo kedengarannya menyenangkan.

"Baiklah." Rukia menatap Ichigo, masih belum percaya bahwa ia baru saja mengatakan ya. "Tapi jangan salahkan kami bila nanti kau bosan dengan kami."

Ichigo menyeringai sembari meraih kopinya. "Aku orang yang sabar kok."

Rukia mengawasi Ichigo berjalan keluar dari dapur dan bertanya-tanya untuk apa tadi ia menjawab ya.

Satu hari menyenangkan, itu saja, batinnya pada diri sendiri dengan tegas.

Ichigo benar. Sudah lama sekali ia tidak pernah bersenang-senang.

...

Rukia menyambut pagi keesokan harinya dengan perasaan riang, seperti seorang gadis muda yang menunggu kekasihnya menjemput untuk kencan pertama. Ini aneh. Bahkan dulu saat akan pergi dengan Renji—mantan suaminya—ia tidak pernah seriang ini. Tidak pernah menanti dengan jantung berdebar di balik pintu rumahnya.

Hati-hati Rukia. Hati-hati...!

Di benaknya berulang kali menggema peringatan.

Jangan sampai kau jatuh cinta pada Ichigo Kurosaki!

Rukia tidak sedang jatuh cinta, dan tidak akan jatuh cinta pada Ichigo Kurosaki. Ia hanya sedang mencoba membuka diri untuk berteman, memberi dirinya kesempatan memulai kehidupan baru, di tempat yang baru, bersama orang-orang baru.

Lalu kenapa kau begitu gelisah? Mengapa jantungmu berdebar tak karuan menunggu kedatangannya?

Rukia gelisah karena ini pertama kalinya ia pergi berjalan-jalan keluar setelah sekian lama. Dan ia jantungnya berdebar penuh antisipasi sebab ia menantikan pengalaman apa yang akan ia—terutama Nao dapatkan hari ini.

Oh ya? Mengakulah, kau memang mulai suka padanya, bukan? Ichigo sangat tampan, mapan, dan sepertinya dia juga suka padamu. Wanita mana yang tidak akan tergoda padanya? Dan kau, Rukia Kuchiki adalah salah satu wanita yang akan takluk dalam pesona Ichigo Kurosaki.

"Berhenti!" Rukia berteriak.

"Kaa-san?" Nao yang semenjak tadi menunggu bersama Rukia di ruang tamu sambil bermain lego menatapnya dengan pandangan khawatir. Kejiwaan bocah itu memang masih sangat rentan, sedikit teriakan saja—apalagi datang dari orang terdekatnya—akan membuatnya khawatir dan cemas.

"Maaf, Nao. Kaa-san hanya sedikit pusing." Rukia memberi sebuah senyum menenangkan pada Nao.

"Kita tidak jadi pergi?" Raut wajah Nao terlihat kecewa.

"Jadi kok," ujar Rukia cepat-cepat. "Tetapi kita harus menunggu Ich— dulu."

Wajah Nao kembali ceria. Semenjak diberitahu bahwa mereka akan pergi hari ini Nao memang terlihat sangat antusias. Ia begitu bersemangat—sesuatu yang jarang Rukia lihat setahun terakhir. Mungkin mengajak Nao keluar adalah keputusan yang benar.

Bel berbunyi beberapa saat kemudian. Nao segera melompat berdiri dan berlari ke pintu.

"Nao, hati-hati," ujar Rukia.

Tetapi si gesit Nao tidak mendengar peringatan dari ibunya. Anak itu sudah berhasil mencapai pintu dan membukanya dengan cepat.

"Selamat pagi, Jagoan."

Rukia dapat mendengar suara Ichigo saat ia menyusul di belakang Nao.

"Selamat pagi, Ichigo-jii*."

Ichigo berjongkok hingga matanya sejajar dengan Nao. "Sudah siap pergi?"

Nao mengangguk penuh antusias. "Kita akan ke mana?"

Ichigo melirik Rukia, bertanya dalam diam apakah Rukia sudah memberitahu Nao tentang tujuan mereka. Dan gelengan Rukia memberinya jawaban.

"Kita akan melakukan perjalanan misterius."

"Benarkah?" Wajah Nao berseri-seri mendengar jawaban Ichigo.

Ichigo mengangguk mantap.

"Ke mana?"

"Kalau aku katakan, itu jadi tidak misterius lagi, ya kan? Ikut saja dan kau akan mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan."

"Aku ambil tasku dulu," ujar Nao sebelum berlari masuk ke dalam dengan kecepatan penuh.

Ichigo menegakkan tubuh, dan kini pria itu berhadapan dengan Rukia. "Dan selamat pagi, Rukia," sapanya disertai sebuah senyuman yang terlihat begitu seksi di mata Rukia.

Hati-hati...

Terlambat! Senyuman itu sudah menaklukan Rukia. Merobohkan dinding beton pertahanan diri Rukia. Rukia mulai jatuh cinta. Jatuh hati pada seorang dokter muda tampan, baik hati, tetapi juga terkenal sebagai seorang playboy.

...

bersambung...

...

Catatan kecil:

*paman Ichigo

...

Review's review:

Starlight
Makasih sudah mampir di fic saya.

Terkesan dewasa ya? Jujur saya ga ngerasa, saya cuma mencoba mendalami karakter seorang single mom, yang harus menjalani kehidupan ganda setiap harinya—pekerjaan dan rumah tangga.

Yup. Saya sependapat. Cinta memang sebuah misteri. Tak tahu kapan, di mana dan bagaimana datangnya.

Ichigo awalnya memang hanya terpesona pada fisik Rukia, tetapi lama-kelamaan dia akan menemukan bahwa Rukia adalah wanita yang berharga untuk diperjuangkan.

Istilah medisnya masih ada yang belum dimengerti kah? Mungkin penjelasan kecil yang saya berikan belum terlalu jelas ya. Nanti saya akan berusaha lebih detail lagi supaya pembaca tidak bingung.

Dialognya udah dibanyakin kok, dan chap depan mungkin bakal lebih banyak lagi.

Udah saya update nih. *-*

Louis

Hola, Louis. Makasih dah mampir. Ga papa. *udah biasa dipanggil kakak sekarang. :3*

Ga apa, saya senang kalo ada yang baca dan suka fic buatan saya, dan kalo dikasih bonus review makin senang lagi.

Wah, untuk porsi dialog yang lebih banyak daripada deskripsi itu memang sudah "gaya penulisan" saya, tetapi akan saya usahakan untuk lebih mengembangkan deskripsi saya. *Saya masih harus banyak belajar tentang deskripsi*

Thank you.

Damai

Halo, salam kenal juga. Makasih dah mampir di fic saya. Dan senang rasanya kalo kamu suka.

Saya usahakan ya ;)

Darries

Makasih dah mampir Darries.

Yup. Konflik sempurna. Bikin greget, sampai pengen gigit bantal. *Oi, apa itu?*

Hum... kalo alasan spesifik tidak ada, hanya permasalah pria lajang yang masih amat sangat menyukai kebebasan.

Udah update neh.

Lucya Namikaze

Makasih dah mampir, Lucya.

Iya, nikahnya sama Renji. Kok bisa mikir sama Kaien? O.o

Oche. ;)

Guest1

Hola, makasih dah RnR ya.

Wah, makasih lagi.

Maaf, saya ga bisa update cepat.

Guest2

Makasih ya dah RnR.

Udah saya update nih, maaf lama.

Makasih juga udah baca karya-karya saya yang lain.

Guest3

Udah di update, Sayang. Maaf ya, lama.

Guest4

Makasih dah RnR ya.

Udah dilanjutin ini, maaf lama.

Umm... seperti yang saya bilang di bab sebelumnya, Renji ga akan saya munculin.

...

Bab IV! Maaf lama, maklum saya lagi sibuk mencari "penghidupan" di dunia nyata jadi waktu untuk ngetik fic sekarang lebih sedikit, dan kemungkinan bab-bab lanjutan dari fic ini akan memerlukan waktu yang cukup lama karena alasan yang tadi.

Maaf saya mengecewakan para pembaca sekalian. Saya pengennya juga update cepat, paling ga seminggu sekali, tapi nyatanya saya memiliki "keterbatasan" sehingga tidak bisa melakukannya.

Akhir kata, terima kasih sudah mampir, baca, review, fav, dan follow fic ini. Sampai jumpa di bab selanjutnya.

Sign,

Ann *-*

...