Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Aisu Kurimu © Aoi Haruno

Warning: AU, CRACK, OC, OOC, TYPO(S), sinetron banget, lebay, gaje, bahasa berantakan, bahasa tidak baku.

Bicara langsung: "Blablabla"

Bicara dalam hati: 'Blablabla'

Tidak menggunakan Japanese honorifics

Gaara, Shikamaru, Karin: 24-25 tahun

Hinata, Kiba, Lee: 23-24 tahun

Sakura: 21-22

Hanabi, Naruto, Chōji: 20-21 tahun

Hōbi: 2-3 tahun

.

.

.

Dindahatake, Sora Hinase, Sanada, harunaru chan muach, Hina bee lover, Reita, Rufa Kha, Ind, demikooo, Vany Rama-Kun, kana seiran, Nerazzuri, Merai Alixya Kudo, Mieko luna-chan sasori, Kouro Ryuki, Zoroute, Moe chan, OraRi HinaRa, yuuaja, Doglover, mayraa, gasaku, DN, kimichi-kun, sabaku, Kurosaki Kuchiki, ouchan mori

Terima kasih banyak untuk semuanya…

.

.

.

Sebelumnya:

"Kami boleh membantu?" Suara nyaring dari pintu dapur membuat Naruto dan Hinata melihat siapa yang datang.

Tanpa menoleh pun sebenarnya Hinata tahu siapa yang datang. Saat mendengar 'kami', Hinata sudah bisa menduga siapa yang seorang lagi.

"Sakura?" pekik Naruto yang terlihat terkejut dengan kedatangan perempuan berambut pink itu.

"Naruto?" Sakura terlihat lebih terkejut daripada Naruto. "Jadi, selama ini kau bekerja di sini?" tanyanya sambil mendekat pada Naruto yang berdiri di dekat Hinata.

"Iya," jawab Naruto singkat saat Sakura sudah ada di sampingnya.

"Hinata, apa Hōbi sudah tidur?" tanya Gaara yang belum beranjak dari ambang pintu dapur.

"Sudah, Kak," jawab Hinata seraya mendekat pada Gaara. Entah kenapa ia jadi merasa tidak enak pada Naruto. "Kakak akan menginap di sini?" tanya Hinata yang membuat Gaara sedikit terkejut. Hinata menghiraukan keterkejutan Gaara dan segera menariknya pelan keluar dapur, dan pada saat itu Naruto terus memandang kepergian Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan.

.

.

.

~Aisu Kurimu~

-6-

.

.

.

Sakura dan Naruto masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah cerah. Sakura duduk di belakang kemudi, dan Naruto duduk di sampingnya.

"Suaminya tadi mendengar pernyataan cintamu ke Hinata." Sakura mendahului percakapan saat Naruto memasang sabuk pengaman.

Naruto sedikit mengerutkan keningnya. "Perasaan… aku mengungkapkannya dengan sangat pelan deh," gumamnya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Cuma perasaanmu, 'kan…" Sakura menyipitkan matanya. "Kalian berdiri di dekat pintu dapur. Jelas kami yang baru masuk bisa mendengarnya."

Naruto menghela nafas panjang sambil memandang keluar jendela.

"Kau tinggal dimana selama kabur? Aku akan mengantarkanmu."

"Antarkan aku ke rumah," gumam Naruto.

Sakura tersenyum senang mendengarnya.

"Sekarang, pasti ada pesta malam Natal…" Naruto memperhatikan Sakura yang terlihat manis karena dibalut gaun selutut yang sewarna rambutnya. "Aku yakin kalau kau memang berniat menjemputku."

Sakura tertawa kecil karena yang dikatakan Naruto memang benar. Naruto tersenyum melihatnya, lalu mengalihkan pandangannya ke depan.

.

.

.

"Tadi kau tidak serius, 'kan?" tanya Gaara sambil memandangi Hinata yang duduk bersebelahan dengannya di pojok café.

Hinata terlihat berusaha keras untuk mengucapkan sesuatu. Tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Gaara terlihat kecewa. "Sepertinya kau hanya ingin lari dari pemuda pirang itu."

Tiba-tiba Hinata tersenyum geli. "Pemuda? Terdengar seperti ucapan kakek-kakek. Padahal Kak Gaara belum tua." Hinata tertawa kecil setelah mengatakannya. "Menurutku, Kak Gaara juga masih pantas disebut pemuda," tambahnya seraya mengangguk-angguk sok serius.

"Aku bukan pemuda. Aku pria."

Sepertinya Gaara kurang senang dengan apa yang dikatakan Hinata, padahal Hinata hanya berniat menggodanya. Hinata tertawa karena melihat Gaara yang menunjukkan ekspresi serius. Gaara malah menjadi bingung, dan berubah shock ketika Hinata mendadak mendekatkan wajahnya.

"Pria?" gumam Hinata dengan nada meledek. "Kak Gaara itu bapak-bapak." Hinata tertawa lagi.

Gaara benar-benar tidak mau melewatkan kesempatan. Ia tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup Hinata dengan lembut. Lembut dan singkat. "Itu balasan karena berani menggodaku," gumamnya setelah menjauhkan wajahnya yang sedikit memerah.

Wajah Hinata bahkan lebih memerah daripada Gaara. Hinata terlihat salah tingkah setelahnya, sedangkan Gaara masih bisa mengontrol dirinya. Keadaan ini mengingatkan mereka pada saat awal 'jadian', dan tentunya juga… ciuman pertama. Karena yang baru saja adalah yang pertama setelah beberapa tahun mereka terpisah.

Terdengar dering telepon café. Bukan hanya Gaara yang bisa memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Hinata menggunakan kesempatan ini untuk mengurangi kegugupannya, yaitu dengan meninggalkan Gaara ke counter café. Ia segera mengangkat telepon berwarna hitam itu. Belum sempat ia mengeluarkan suara, tapi seseorang di seberang sana sudah mendahuluinya.

"Tertawalah sepuasnya selagi kau bisa." Terdengar tawa angkuh setelahnya.

Hinata tidak mungkin lupa dengan suara wanita yang sering menerornya sejak beberapa tahun yang lalu itu. Hinata melihat keluar café berharap akan menemukan Karin atau petunjuk tentang kehadirannya. Tidak ada siapa-siapa di depan café yang pintu kacanya sedang terbuka itu. Tapi ia merasa kalau Karin sedang berada di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Pengunjung di malam Natal kebanyakan langsung pulang setelah membeli cake. Hanya ada para pekerja yang berdiri di sampingnya dan sedang melayani pelanggan.

Kenapa Karin seolah memiliki mata dimana-mana? Kenapa Karin selalu tahu saat Gaara berada di dekatnya?

"Tunggu hadiah ulang tahunmu dariku."

Mengingat apa saja yang dulu telah dilakukan Karin kepadanya, Hinata merasakan kakinya melemas. Ia meletakkan gagang telepon dengan tangan yang gemetaran.

"Kenapa?" Gaara yang menyusul ke counter, khawatir saat melihat Hinata yang mendadak berwajah pucat.

Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat. Setelah itu, ia berlari dengan cepat ke dalam rumah dan membanting pintunya. Ia benar-benar merasa takut. Perasaan yang sering didapatkannya setelah bertemu Karin atau hanya karena mendengar suaranya. Karin benar-benar berhasil menciptakan trauma untuknya.

Gaara ingin menyusul Hinata. Tetapi, tiba-tiba saja Hanabi menahan lengannya dan menggelengkan kepalanya pelan. "Ada apa?"

Setahu Hanabi, Hinata bersikap seperti itu setelah mengalami kejadian yang berhubungan dengan Karin. Hanabi tidak ingin menjawabnya karena ia sedikit ragu. "Sebaiknya Kak Gaara pulang…" Walaupun tidak tega, Hanabi harus tetap mengatakannya.

.

.

.

"Bunda…!"

Hinata yang sedang bersih-bersih rumah, tiba-tiba mendengar teriakan Hōbi yang disertai isak tangis dari luar rumahnya. Perasaannya mendadak tidak enak. Hinata bergegas keluar rumah. Kakinya serasa lemas saat menemukan Hōbi yang terjatuh di halaman rumahnya dalam posisi tengkurap. Hinata segera menghampiri Hōbi dan membawanya ke dalam gendongannya. Ia seolah merasakan sakit saat melihat darah yang mengalir di kedua lutut dan kedua siku Hōbi.

"Bunda…!" Tangis Hōbi semakin keras.

"Cup cup…" Tidak terasa air mata Hinata ikut menetes saat melihat Hōbi meraung kesakitan. "Sudah Bunda bilang, 'kan… Pakai sweater dan celana panjang dulu… Di luar dingin…" Hinata menepuk-nepuk punggung Hōbi yang ada dalam gendongannya. "Hōbi juga kurang hati-hati sih…"

"Hōbi didolong…"

Hinata membulatkan matanya. Didorong? Jantung Hinata mendadak berdegup kencang saat mengingat ancaman Karin kepadanya. Jika ini memang perbuatan Karin, berarti wanita berambut merah itu memang tidak main-main dengan apa yang diucapkannya.

Inikah hadiah dari Karin di hari ulang tahun Hinata yang ke dua puluh empat?

"Hanabi…!" Karena panik melihat Hōbi yang belum mau menghentikan tangisannya, Hinata berteriak memanggil Hanabi yang ada di dalam café. Ia tidak peduli dengan pandangan para pekerja dan pengunjung café. Ia hanya ingin Hanabi mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Hinata benar-benar takut jika ada tulang Hōbi yang retak atau patah.

Hōbi memang sering terjatuh, tetapi biasanya tidak sampai menghasilkan luka yang menyebabkan darahnya mengalir banyak seperti luka yang baru saja didapatkannya. Biasanya Hōbi juga akan berhenti menangis tidak lama setelah terjatuh. Setelah itu, Hinata yang akan mengobati sendiri luka Hōbi. Tapi sekarang, Hinata tidak tega melihat luka Hōbi. Bahkan, ia takut untuk mengobatinya.

Hanabi terlihat shock saat melihat pakaian Hinata yang bernoda darah. Ia yakin kalau darah itu berasal dari luka yang baru didapatkan oleh Hōbi.

"Kenapa Hōbi bisa jatuh?" tanya Hanabi yang ikut panik.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya. Hinata sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Saat ini ia merasa tidak becus menjadi seorang ibu. Mengurus satu anak kecil saja bisa luput dari pengawasannya…

Hanabi tidak bertanya lagi setelah itu. Dengan wajah khawatir, ia menggandeng Hinata ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumah mereka. Mereka berjalan cepat ke sana. Dua perempuan kakak beradik itu tidak bisa menghentikan jemarinya yang gemetaran. Apalagi karena melihat Hōbi yang masih menangis karena kesakitan. Mereka tidak henti-hentinya memanjatkan doa dalam hati.

.

.

.

"Ayah…" gumam Hōbi yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kedua lututnya dibungkus perban. Siku kanannya juga diperban, sedangkan tangan kirinya di gips karena tulang siku tangan kirinya retak. Satu tulang rusuknya patah karena terbentur batu saat ia terjatuh. Karena itu ia terlihat kesakitan dan kesulitan saat bernafas, sehingga di hidungnya dipasang selang oksigen. Bibirnya bergetar. Pandangan matanya kosong dan tampak berkaca-kaca. Wajahnya pucat dan masih basah karena air mata, walaupun Hanabi yang di sampingnya sudah menghapusnya beberapa kali. "Ayah…" gumamnya lagi.

Hanabi tidak tega melihat Hōbi yang terus-terusan memanggil ayahnya. Ia ingin menyuruh Gaara datang, tapi ia takut kalau tidak mendapat persetujuan dari Hinata. "Kak, kita harus menghubungi Kak Gaara," kata Hanabi saat Hinata kembali dari ruang dokter.

"Tidak perlu," jawab Hinata lirih. Matanya masih terlihat sembab, dan pandangannya sayu saat melihat keadaan Hōbi. Ia mendekat pada ranjang dan membelai rambut Hōbi. Lagi-lagi air matanya jatuh tanpa bisa ditahannya. 'Tuhan… biarkan aku yang menggantikan putraku merasakan sakitnya…' Kenapa ada pepatah yang mengatakan bahwa surga berada di telapak kaki ibu? Salah satunya, karena seorang ibu rela mengorbankan dirinya sendiri demi melihat putra-putrinya bahagia dan tertawa.

Hanabi belum mengerti dengan apa yang dipikirkan Hinata. Bukankah hubungannya dengan Gaara sudah membaik? Kenapa saat Hōbi membutuhkan ayahnya, Hinata malah melarang Hanabi untuk mempertemukan mereka?

"Kenapa?" tanya Hanabi pelan.

"Karin," jawab Hinata tak kalah pelannya. Ia terlihat gemetaran saat menyebut nama itu.

Hanabi tidak begitu terkejut saat mendengar nama yang diucapkan Hinata. Ia tahu dan mengerti bagaimana wanita berkaca mata itu sering datang menemui Hinata, dan melakukan perbuatan semena-mena saat Gaara pergi ke luar negeri. Ia bahkan pernah mendorong Hinata, dan hampir membunuh Hōbi yang masih ada di dalam kandungan.

"Semua salahku. Aku tidak bisa menjaga Hōbi. Aku juga salah karena masih dekat dengan Kak Gaara—"

"Karena itu Kakak berusaha menghindari Kak Gaara?" potong Hanabi.

Hinata hanya mengangguk lemah.

Hanabi meneteskan air matanya. "A..akan kuambilkan pakaian ganti," katanya sambil mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya.

Hinata mengangguk sekali lagi, dengan pandangan yang belum beralih dari Hōbi.

Hanabi keluar dari ruang rawat Hōbi dan menangis karena mengingat kembali bagaimana Hinata berjuang untuk membiayai hidup mereka saat orang tua mereka tidak ada lagi di dunia. Hanabi tidak mungkin lupa dengan apa saja yang dikorbankan Hinata untuknya. Hinata sering mengalah, ia sering tidak makan dan memberikan persediaan nasi terakhir untuk Hanabi. Hinata bekerja part time untuk membiayai sekolahnya sendiri dan sekolah Hanabi. Bahkan, Hinata mengaku berumur lebih tua dari umurnya yang seharusnya agar bisa bekerja paruh waktu di malam hari. Alasannya, karena bekerja di malam hari bisa mendapatkan gaji yang lebih tinggi.

Waktu itu mereka sering kehabisan uang, sampai Gaara datang dan menyewa salah satu kamar yang ada di lantai dua rumah mereka. Setahu mereka, Gaara yang waktu itu hanyalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya. Karena itu, mereka tidak mematok biaya sewa yang tinggi untuk kamar yang disewanya. Setidaknya uang dari kamar yang disewakan itu bisa membantu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Sejak saat itu, mereka menganggap Gaara sebagai anugerah untuk mereka.

Hanabi tahu, kalau Hinata merasa bahagia saat Gaara berada di dekatnya…

"Biarkan Kakak bahagia…" gumam Hanabi lirih.

.

.

.

"Kiba, kenapa rumah kosong?"

Kiba yang berdiri di belakang counter café kesulitan untuk menjawab pertanyaan Gaara. Ia yang tampak sedang berpikir keras itu terlihat mencurigakan di mata Gaara. Kiba berkeringat dingin saat Gaara memberikan tatapan mengintimidasi.

"Mu..mungkin ke playgroup…?"

Gaara semakin curiga saat melihat Kiba yang gugup, dan seperti tidak yakin dengan apa yang diucapkannya. Tunggu. Playgroup? Kiba ketahuan kalau berbohong. Hōbi belum masuk playgroup. Lagi pula, untuk apa malam-malam begini masih di playgroup?

"Ada yang kau sembunyikan?"

Kiba merasa seperti sedang diinterogasi polisi. Kalau di tubuhnya terpasang alat pendeteksi kebohongan, pasti sekarang sudah bergerak tak beraturan karena detak jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi.

"Me..memangnya apa yang aku sem..sembunyikan?"

Kiba yang biasanya cerewet, sekarang mendadak menjadi gagap. Mencurigakan sekali. Kiba menutupi kegugupannya dengan menunjukkan senyum lebarnya pada Gaara. Kiba melirik ke arah Lee dan Shikamaru. Mereka sepertinya enggan untuk membantu Kiba, dan langsung kabur ke dapur café. Poor Kiba. Kenapa harus dirinya yang mendapatkan pertanyaan dari Gaara?

Gaara masih menunggu di depan counter dengan wajah dingin dan tatapan tajam yang diarahkan pada Kiba.

Kiba menelan ludahnya. "Hōbi…" Ia mulai berani membuka mulutnya lagi. "Nggak jadi deh. Nanti Hanabi marah kalau aku membocorkannya padamu…" Kiba merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol kalimat yang diucapkannya.

Kiba terlihat semakin mencurigakan. Gaara yakin kalau terjadi sesuatu pada Hinata, Hanabi, atau Hōbi. Tidak. Mungkin hanya Hōbi, karena yang disebutkan Kiba hanya nama itu.

"Ada apa dengan Hōbi?" tanya Gaara datar. "Kau tidak perlu menjawabnya jika ingin menjadi musuhku."

.

.

.

"Kak Gaara?"

Hinata yang memperhatikan Hōbi yang terlelap, sedikit terkejut saat mendengar suara Hanabi dari luar ruang rawat Hōbi. Tidak lama kemudian, ia mendengar pintu di belakangnya terbuka dan ia sudah bisa menduga siapa yang membukanya tanpa harus melihat ke belakang.

"Kenapa tidak memberitahuku?"

Tidak ada jawaban. Hinata yang duduk di kursi dekat ranjang Hōbi, hanya berwajah datar dan memusatkan perhatian pada Hōbi.

Gaara mendekat pada ranjang Hōbi dan mendadak berwajah sendu. "Apa yang dikatakan dokter?"

Hinata masih belum mau mengeluarkan suaranya. Entah apa yang memenuhi pikirannya.

Gaara melihat bergantian selang-selang yang dihubungkan ke tubuh mungil Hōbi. Selang infus dan selang oksigen. "Kenapa Hōbi bisa seperti ini?"

Belum ada tanda-tanda kalau Hinata akan membuka mulutnya. Gaara memandang Hinata yang ada di sampingnya dengan tatapan tak mengerti. Hinata membelai Hōbi yang terlihat damai dalam tidurnya. Sepertinya Hinata tidak menganggap keberadaan Gaara di dekatnya.

"Hinata…" panggil Gaara. Ia tersenyum miris saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari Hinata. "Baiklah kalau kau tidak ingin menjawabnya. Aku bisa bertanya pada Hanabi."

Sebelum keluar dari ruang rawat Hōbi, Gaara berbalik sejenak dan hanya bisa memandang sayu Hinata yang tiba-tiba kembali bersikap dingin kepadanya.

Saat Hinata mendengar suara pintu ditutup, Hinata tersenyum dan berbisik pada Hōbi, "Ayah sudah datang menjenguk Hōbi. Hōbi senang, 'kan…" Bibir Hinata tampak bergetar dan matanya berkaca-kaca. Tidak lama kemudian, air bening mengalir di pipinya. Dengan cepat Hinata menghapus air matanya. Terlihat sekali kalau ia sedang menahan tangisnya.

"Karin sialan!"

Hinata yakin kalau yang baru di dengarnya adalah suara Gaara dari luar ruangan. Sejak mengenal Gaara, baru kali ini Hinata mendengar umpatan Gaara.

Hanabi yang berada di luar ruangan, mencoba untuk menenangkan Gaara. Ia menepuk pelan pundak Gaara, sambil sesekali memelototi Kiba yang berdiri di sudut koridor dan menatapnya dengan takut.

"She's a rotten egg! She turns my stomach!"

Hanabi sedikit takut karena ini pertama kalinya ia melihat Gaara yang sedang marah. Ia memperhatikan pintu ruangan tempat Hōbi dirawat. Ia tidak bisa menduga apa yang dilakukan Hinata di dalam sana. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Hinata saat mengabaikan suaminya, Gaara.

"She totally disgusts me!"

Gaara tampak sekuat tenaga menahan emosinya. Ia juga menahan agar tidak keluar umpatan yang lebih kasar dari sebelumnya. Rahangnya tampak mengeras, dan giginya saling menekan. Ia merogoh ponsel touch di saku celananya dan mencari sebuah nama di contacts list. Setelah menemukan dan menekannya, ia mendekatkan ponselnya ke telinganya.

"Paman, aku sudah siap mengambil alih posisi Karin di hotel," kata Gaara dingin.

Terdengar tawa kecil di seberang sana. "Saya sudah menunggu lama untuk ini. Besok, saya akan menjemput Anda."

.

.

.

~To Be Continued~

.

.

.

She's a rotten egg = She's a thoroughly evil person.

.

.

.

~Go Koui~

~Arigatou Gozaimashita~

.

.

.

~Review Please~

.

.

.