Tittle : "LOVE LOVE LOVE"
Author : Desta Soo~
Main Cast :
-Do Kyungsoo (Girl)
-Kim Jongin / Kim Kai
Support Cast :
-Oh Sehun / Kai's Friend
-Luhan / Kai's eks Girlfriend
-Lee Jongkook / Kyungsoo's Friend
-Han Minyoung (OC) / Kyungsoo's Eomma
-Do Minjoon (OC) / Kyungsoo's Appa
-Kim Jonghyuk (OC) / Jongin's Appa
-Yoo Innah (OC) / Jongin's Eomma
-And Other! (Seiring berjalannya cerita maka cast akan bertambah!)
Genre : Fluffly, Romance, Familly, Little Hurt
Length : Chaptered!
Disclaimer : "FF ini murni hasil pemikiran Desta Soo. Jika ada kesamaan dalam alur maupun cerita dengan milik orang lain, mohon beritahu Desta Soo lewat kolom Review!"
Summary : "Do Kyungsoo adalah siswi 'beasiswa' di sekolah XO HIGH SCHOOL yang sangat membenci kata 'Pem-bully-an'. Tapi, 'Pembully' nomor 1 dikelasnya membantu Ia ketika dirinya sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya rumah sakit sang Ibu. Namun sayang dibalik itu semua, ternyata sang pembully memiliki 'alasan' tertentu saat membantunya!"
.
.
THIS IS KAISOO GS FANFICTION... IF YOU DON'T LIKE IT, I HOPE YOU GO AWAY FROM HERE !
.
.
.
WARNING !
DON'T LIKE 'SUMMARY', DON'T READ THE 'STORY' !
.
.
.
SORRY FOR TYPO !
.
.
.
.
NO SIDERS !
.
.
.
.
ENJOY !
.
.
.
.
CHAPTER 6
.
.
.
.
*0* === HAPPY READING === *0*
.
.
Kyungsoo telah siap berangkat ke sekolahnya dengan seragam XO High School yang melekat ditubuh rampingnya dengan pas disertai tas punggung berwarna hitam yang berada dibalik punggung sempitnya dengan sepatu putih yang melapisi kedua kakinya dibawah sana. Ia melangkah menuju halte bis terdekat dari rumahnya untuk menunggu bis yang mengarah ke sekolahnya datang.
Saat menunggu kedatangan bis yang akan Ia naikki menuju sekolahnya, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat didepan halte bis yang hanya Kyungsoo sendirian menunggu bis disana yang dipandangi Kyungsoo dengan kernyitan didahinya. Pintu kaca mobil bagian belakang diturunkan oleh pemiliknya yang mana dapat Kyungsoo lihat Lee Jongkook temannyalah yang berada didalam sana.
"Kyungsoo-ya.." panggil pria berkacamata itu pada Kyungsoo seraya tersenyum pada temannya itu.
"Oh.. Jongkook-ah.." ucap Kyungsoo sambil berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan menghampiri Jongkook yang masih berada didalam mobil itu.
"Kau akan berangkat ke sekolah, kan?" tanya Jongkook. Kyungsoo mengangguk. "-Ayo.. Pergi bersama ku saja." sambungnya.
Kyungsoo menggeleng pelan. "Tidak usah Jongkook-ah, aku naik bis yang mengarah ke sekolah kita saja. Aku tidak ingin merepotkan mu." ucap Kyungsoo lalu tersenyum pada Jongkook.
"Kau teman ku kan?" tanya Jongkook.
"Eh? Tentu saja aku teman mu, Jongkook-ah.." jawab Kyungsoo.
"Kalau begitu ayo naik. Kita berangkat ke sekolah bersama." ajak Jongkook. Kyungsoo hendak menolaknya lagi namun Jongkook segera membukakan pintu mobil itu lalu menggeser tubuhnya kesamping untuk memberi ruang Kyungsoo untuk duduk disampingnya.
Kyungsoo ragu, tapi setelah melihat Jongkook tersenyum padanya Ia pun memilih untuk masuk kedalam mobil dan duduk disamping Jongkook.
"Kita berangkat Paman.." kata Jongkook pada supir pribadi keluarganya. Laki-laki yang berada dibalik kemudi supir itu mengangguk lalu melajukan mobil hitam itu menuju sekolah anak majikannya.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo dan Jongkook keluar dari mobil hitam mewah itu setelah tiba didepan pagar sekolah mereka. Kyungsoo kembali mengucapkan terima kasih kepada Jongkook yang sudah mengajaknya untuk pergi kesekolah bersama tanpa terlambat sedikitpun.
Mereka berjalan masuk kedalam bangunan XO High School menuju kelas masing-masing sebelum berpisah saat keduanya sudah sampai dikelas 2-C dimana kelas Jongkook berada.
Kyungsoo melangkah menuju kelasnya lalu mendudukkan diri dikursi miliknya. Setelah mengeluarkan buku tulis miliknya untuk pelajaran pertama, Kyungsoo menoleh kebelakang tepatnya kearah kursi milik Kai yang terlihat kosong tanpa ada tas atau apapun peralatan lainnya diatas meja itu.
"Apa dia tidak sekolah?" tanya Kyungsoo dalam hati saat mendapati meja paling sudut belakang ruang kelasnya kosong tanpa ada Kai duduk disana.
Kyungsoo kembali menghadap kedepan tepatnya rombongan teman kelasnya masuk dengan langkah terbirit-birit karena dibelakang meraka Jung sonsaengnim tengah berjalan memasuki kelas mereka.
"Kalian ini.. Bukannya belajar karena sebentar lagi kalian akan ulangan semester pertama tapi kalian malah keluyuran keluar kelas saat jam pelajaran sudah tiba." ucap Jung sonsaengnim dengan wajah kesalnya menatap satu-persatu siswa-siswi kelas 2-A yang baru masuk kelas berbarengan denganya tadi.
"Sekarang keluarkan buku pelajaran kalian. Kita mulai belajarnya!" seru Jung sonsaengnim.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Kai merasa terusik dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden kamarnya yang membuat Ia mau tak mau harus membuka matanya dengan tangan yang menghalau cahaya matahari mengenai wajahnya.
"Eugh... Jam berapa ini?" tanya Kai entah pada siapa. Ia membalik tubuhnya lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya dari atas kepala sampai kakinya berniat untuk melanjutkan tidur tampannya.
TOK TOK TOK
"Tuan muda, Nyonya ingin bertemu dengan anda sekarang." ucap salah satu pelayan wanita yang bekerja dirumah Kai yang berdiri didepan pintu kamar Kai untuk membangunkannya..
Kai tidak bergerak. Ia masih tetap pada posisinya meskipun Ia mendengar ketukan pintu dan suara dari pelayannya itu dari luar kamar yang mengatakan bahwa ibunya ingin bertemu dengannya sekarang.
"Tuan muda.." pelayan itu kembali mengetuk pintu dengan memanggil tuan mudanya itu berharap sang tuan muda segera bangun dari tidurnya.
"Apa Jongin belum bangun?" tanya Yoo Innah -ibunya Kai- yang baru saja berjalan menghampiri pelayan itu didepan kamar Kai.
"Maafkan saya, Nyonnya.. Sepertinya Tuan muda masih tidur sekarang." kata pelayan itu yang tak mendapatkan hasil saat disuruh membangunkan Kai yang masih tertidur didalam kamarnya padahal sekarang sudah jam sebelas lebih.
"Kau kembalilah bekerja. Biar aku yang membangunkan Jongin.." ucap Innah pada pelayan itu. Pelayan tadi membungkuk sebentar lalu meninggalkan majikannya yang berdiri didepan kamar putera semata wayangnya untuk kembali bekerja.
TOK TOK TOK
"Jongin... Ini ibu nak. Apa kau sudah bangun?" tanya Innah masih didepan pintu kamar Kai.
"Ibu masuk ya, nak..!" serunya saat tak mendapat sahutan dari dalam sana. Innah membuka pintu kamar puteranya yang disambut dengan keadaan remang-remang karena memang gorden kamar itu masih tertutup rapat tanpa berniat mengajak cahaya matahari masuk untuk menerangi kamar itu.
Innah menggelengkan kepalanya saat mendapati selimut tebal itu menutupi seluruh tubuh Kai dari atas kepala hingga kaki ketika Ia menolehkan pandangannya keatas ranjang. Ia berjalan menuju jendela kamar Kai untuk membuka gordennya, lalu...
Srekkk... Srekkk...
Cahaya matahari yang sudah menyinari seluruh penjuru kata Seoul akhirnya masuk juga kedalam kamar Kai untuk berbagi sinarnya.
Tubuh yang tertutup oleh selimut tebal itu perlahan bergerak-gerak setelah merasakan panas dari arah belakangnya. Kai mengeluarkan kepalanya sedikit untuk menoleh kebelakang punggungnya dimana gorden jendelanya yang sudah terbuka lebar menampakkan cahaya cerah dari matahari yang besinar.
"Ah ibu... Tutup kembali gordennya. Aku masih mengantuk, bu." ucap Kai saat mendapati ibunya berdiri disana.
"Ayolah Jongin.. Ini sudah jam sebelas, nak. Kau sudah tidak bersekolah hari ini, dan sekarang kau masih ingin menyambung tidur mu itu, huh?" tanya ibunya seraya berjalan mengampiri Kai yang masih berada diatas ranjang dengan selimut yang kembali menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku mengantuk bu, jam sebelas juga masih terlalu pagi untuk ku bangun.. Biarkan aku tidur lagi bu.." ucap Kai dari balik selimut itu yang entah bisa didengar oleh Innah atau tidak karena suara Kai terlalu kecil saat mengucapkan itu.
"Bangunlah nak.. Ibu bisa memakmlumi jika kau tidak bersekolah hari ini, tapi setidaknya kau harus bangun sekarang, Jongin.." ucap ibunya. Innah menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu yang mana juga ditarik langsung oleh Kai karena dia masih ingin tidur sekarang.
"Biarkan aku tidur, bu.. Semalam aku baru tidur jam dua pagi. Jadi sekarang biarkan aku tidur bu.." rengek Kai pada ibunya.
Innah berhenti menarik selimut itu yang digantinya dengan pukulan pada lengan kanan Kai.
PLAKK
"Bangun sekarang, Jongin! Siapa suruh kau semalam tidur jam dua, huh? Itu salah mu sendiri karena kau baru pulang jam seperti itu kerumah ini. Memangnya kau kemana semalaman, hah?" tanya Innah dengan kedua tangannya yang berada dipinggangnya.
"Aku ke apartemen Luhan, bu. Luhan baru kembali ke Seoul dan Ia meminta ku untuk menemaninya sampai Ia tertidur. Kami juga melepas rindu kami semalam." ucap Kai.
PLAKK
Sekali lagi Innah memukul lengan kanan Kai yang mana membuat pria berkulit tan itu langsung bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk dan mengadu kesakitan pada ibunya.
"Sakit, bu..." ucap Kai sambil mengusap lengannya yang dipukul Innah.
"Kau itu masih kecil Jongin! Kau tidak meng'iya-iya'kan Luhan semalam, bukan?" tanya Innah.
"Yaampun ibu... Maksud ku 'melepas rindu kami semalam' itu bukan berbuat yang tidak-tidak. Aku dan Luhan hanya duduk sambil bercerita tentang kejadian-kejadian yang kami alami setelah kami berpisah lima bulan yang lalu. Tidak lebih." jelas Kai.
Innah memicingkan matanya menatap Kai dengan curiga.
"Kau bersungguh-sungguhkan, Jongin?" tanya Innah kembali. Kai menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Ibu percaya pada mu. Tapi sekarang kau tetap harus bangun, Jongin! Sedari tadi pagi kami menunggu mu untuk sarapan bersama, tapi kau tidak bangun-bangun malah lebih memilih tidur dari pada sarapan bersama kami dan pergi ke sekolah."
"Sekolah?" gumam Kai. Ia segera menolehkan pandangannya kepada jam kecil yang berada dinakas samping tempat tidurnya lalu segera bangun dari ranjang setelah melihat angka pada jam itu yang menunjukkan jam sebelas lewat sepuluh menit disana.
"Ibu aku harus sekolah... Kenapa ibu tidak membangunkan ku dari tadi.." ucap Kai menyalahkan ibunya karena tidak dibangunkan pagi-pagi untuk pergi ke sekolah.
"Ada tiga pelayan dirumah ini yang sedari jam enam tadi mengetuk pintu kamar mu untuk membangunkan mu, tapi kau tidak bangun-bangun Jongin. Bukankah kau tadi mengatakan bahwa jam sebelas juga masih terlalu pagi untuk mu bangun, heum? Kenapa kau menyalahkan ibu jika kau tidak sekolah hari ini, eoh!" ucap Innah dengan intonasi suara yang kesal disana. Ia heran pada putera semata wayangnya ini kenapa suka sekali tidur padahal hari ini Ia harus sekolah.
Kai terdiam sebentar lalu bergumam 'Kyungsoo' pelan sebelum berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap pergi kesekolah.
Innah menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh putera satu-satunya itu sebelum keluar dari kamar Kai menuju ruang tengah dibawah sana untuk menonton acara favoritnya ditelevisi.
.
.
.
.
.
.
Kai menuruni tangga dengan terburu-buru sambil memasang kancing pada seragam luar sekolahnya. Ia sudah rapi dan berniat pergi ke sekolah sekarang. Belum sampai Kai dipintu utama rumah mewah itu untuk keluar menuju sekolahnya, Innah memanggil Kai yang mana membuat pemuda yang mengambil langkah besar menuju pintu itu berhenti seketika.
"Jongin!" panggil Innah. "-Kau mau kemana nak? Ke sekolah, huh? Ini sudah jam berapa, Kim Jongin..?" Inna menolehkan kepalanya kebelakang sofa yang Ia duduki untuk melihat kearah Kai yang berjalan menuju pintu rumahnya.
"Aku harus sekolah, bu... Lebih baik terlambat dari pada tidak masuk sama sekali, kan?"
Innah terkekeh mendengar ucapan anaknya itu. "'Terlambat' kata mu? Ini sudah siang Jongin dan kau ingin datang kesekolah dengan alasan 'terlambat'?" tanya Innah. Kai mengangguk.
"Ayolah boy... Kau tidak usah sekolah dulu hari ini. Temani ibu menonton televisi saja seharian ini." ucap Innah.
"Tidak mau! Aku ingin pergi ke sekolah sekarang. Aku pamit bu..." Kai berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi pada ibunya yang berteriak memanggil namanya.
"Sial! Kenapa aku bisa kesiangan seperti ini? Aish! Menyusahkan saja." rutuk Kai pada dirinya sendirinya saat Ia baru masuk kedalam mobil sportnya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan siap untuk berangkat ke sekolah jika saja ponsel yang berada dikursi sebelah kanannya tidak bergetar menandakan adanya pesan masuk dibenda berwarna hitam itu.
"Aku ingin bertemu dengan mu sekarang. Datanglah ke apartemen ku. Ada yang ingin aku tunjukkan pada mu."
Kai membaca pesan dari Luhan dan segera melajukan mobil sportnya menuju apartemen mantan kekasihnya itu.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo berjalan menuju kelas 2-D dimana kelas Sehun -sahabat Kai- berada untuk menanyakan mengenai keberadaan Kai saat ini. Ia sudah bertekad untuk segera membayarkan hutangnya pada Kai agar Ia tidak berhubungan lagi dengan pemuda berkulit tan itu yang teryata hanya ingin mempermainkannya saja ketika Ia meminjamkan uang miliknya beberapa minggu yang lalu sebagai biaya operasi ibu Kyungsoo.
Setibanya didepan pintu bertuliskan kelas 2-D diatas sana, Kyungsoo segera menengokkan kepalanya kedalam kelas yang mana sudah kosong tidak ada seorangpun disana karena memang saat ini adalah waktu istirahat pertama sekolah mereka.
Tak mendapati Sehun dikelasnya, Kyungsoo berjalan menuju kantin yang mana Ia fikir Sehun pasti berada disana.
Melangkahkan kakinya menuju kantin, Kyungsoo segera menolehkan pandangannya keseluruh penjuru kantin ketika Ia sudah berada didepan pintu masuk kantin untuk mencari Sehun.
"Disana!" ucap Kyungsoo saat mendapati posisi Sehun yang duduk sendirian disalah satu kursi disebelah kanan kantin luas ini. Ia berjalan menuju meja dimana Sehun berada tanpa memperhatikan bahwa ada salah satu siswi yang sudah menyiapkan kaki sebelah kanannya untuk menghalang langkah kaki Kyungsoo dan membuatnya jatuh kelantai ketika Ia berjalan melewati meja yang dihuni oleh dua wanita cantik itu.
BUGHH
Kyungsoo jatuh tersungkur dilantai dengan posisi duduk yang cukup memalukan yang membuat semua pasang mata yang ada dikantin menatap dirinya.
"Woah... Siswi 'beasiswa' kita datang kekantin hari ini. Apa dia akan makan disini? Atau hanya meminta makanan sisa didapur kantin pada bibi penjual untuk makan siangnya?" ucap siswi yang memangkah kaki Kyungsoo sehingga Kyungsoo jatuh tadi dengan nada mengejek.
Kyungsoo menghembuskan nafasnya pelan berusah mengontrol emosinya agar tidak mudah tersulut oleh ucapan dan kelakuan wanita itu yang membuat Ia terjatuh seperti ini. Kyungsoo berdiri dengan sedikit menepuk-nepuk pakaiannya yang sempat menyentuh lantai saat Ia terjatuh tadi sebelum menatap wanita yang memangkahnya tadi dengan senyum manisnya.
"Maafkan aku Boomi-ssi.. Aku terlalu terburu-buru tadi jadi tidak melihat jika ada kaki mu dibawah sana. Maaf.." ucap Kyungsoo. Ia tersenyum pada Boomi si pelaku yang membuat Ia jatuh tadi.
Boomi tersenyum miring. Ia melangkah mendekati Kyungsoo untuk menatap wanita bermata bulat itu dengan pandangan meremehkan.
"Menjijikkan!" desis Boomi. "-Kenapa harus gadis miskin seperti mu yang mendapat beasiswa dan harus bersekolah disini, eoh? Semenjak kau masuk ke sekolah ini semuanya berubah. Terutama Kai yang selalu berpihak kepada mu!" ucap Boomi yang merendahkan nada bicaranya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Maafkan aku." ucap Kyungsoo. Bukan untuk meminta maaf setelah mendengar ucapan Boomi tadi tapi karena Ia tidak ingin beradu mulut dengan Boomi dan teman satunya lagi yang bernama Hayoung yang sepertinya sudah siap untuk ikut membully dirinya.
Kyungsoo membalik tubuhnya untuk menghampiri Sehun yang masih duduk disana sendirian tapi baru selangkah Ia berjalan maju Boomi sudah menarik rambutnya yang membuat Kyungsoo berucap kesakitan.
"Akh! Yak! Apa yang kau lakukan, eoh! Akh! Sakit Boomi-ssi.. Lepaskan aku!" Kyungsoo berucap sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Boomi dari rambut hitam panjangnya yang membuat Ia kesakitan.
"Rasakan ini Do Kyungsoo! Ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan kepada kami!" Boomi semakin menarik rambut Kyungsoo dengan kuatnya yang membuat seluruh pasang mata yang ada disana menatap wajah kesakitan Kyungsoo dengan pandangan ingin menolong.
BRAAKKKK
Meja disudut sebelah kanan kantin terbalik bergitu saja setelah Sehun menendang tiang penyanggahnya dengan kaki kanan miliknya lalu berdiri dari posisi duduknya. Semua siswa-siswi yang berada disana menatap wajah dingin Sehun yang berjalan menghampiri Boomi dan Kyungsoo dengan pandangan bertanya.
"Lepaskan tangan mu!" ucap Sehun dingin setelah Ia berdiri dihadapan Boomi dan Kyungsoo.
Boomi melepaskan tangannya dari rambut Kyungsoo lalu menundukkan kepalanya takut saat matanya bertemu pandang dengan mata Sehun yang meskipun terlihat dingin tapi Boomi tau mata itu menyiratkan amarah yang ditahan.
Kyungsoo mengusap kepalanya yang kesakitan akibat tarikan jambakan Boomi pada rambutnya tadi. Ia merapikan sebentar rambutnya lalu menatap Sehun yang berdiri dihadapannya.
"A-ada yang i-ngin aku tanyakan padamu.. -S-sehun-ssi." kata Kyungsoo gugup saat melihat wajah Sehun dihadapannya.
Sehun mengalihkan tatapannyaa dari Boomi menjadi pada Kyungsoo.
"B-bisa kita bicara sebentar?" tanya Kyungsoo.
Sehun mengedipkan kedua matanya sekali sebelum berjalan keluar dari kantin tanpa mengatakan apapun. Kyungsoo melihat Sehun yang berjalan keluar kantin langsung menyusul pemuda berkulit putih itu.
.
.
.
.
.
"Apa yang ingin kau tanyakankan?" tanya Sehun langsung saat keduanya sudah berada dilorong kelas dilantai dua.
Kyungsoo memainkan jari-jari tangannya. Ia bingung harus memulai bertanya kepada pemuda dihadapannya ini bagaimana.
"Hey!" seru Sehun.
"Ish! Tidak Kai tidak Sehun mereka sama saja tidak pernah menyebutkan namaku ketika berbicara!" kata Kyungsoo dalam hati.
"A-aku... A-apa kau tau kenapa Kai tidak masuk hari ini?" tanya Kyungsoo pelan sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Sehun.
"Ada apa?" bukannya menjawab Sehun balik bertanya pada Kyungsoo.
"Aku memiliki hal yang harus disampaikan padanya." ucap Kyungsoo seraya menurunkan pandangannya dari wajah Sehun menatap lantai yang mereka pijak.
"Bicaralah denganya besok. Mungkin Kai masuk kembali esok hari." ucapnya. Setelah mengucapkan itu Sehun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Kyungsoo untuk berjalan menuju kelasnya.
Kyungsoo hanya menghembuskan nafasnya pelan saat melihat Sehun yang berjalan menjauh meninggalkannya. Ia juga melangkah menuju kelasnya sendiri bersiap untuk mengikuti pelajaran berikutnya meskipun waktu istirahat masih lima belas menit lagi untuk berakhir.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Kai berjalan menyusuri lorong apartemen yang terletak di daerah Gangnam tempat dimana apartemen milik Luhan berada. Ia tiba didepan pintu apartemen Luhan dan langsung menekan bel yang tersedia disana untuk memberitau bahwa Ia telah sampai.
Luhan membuka pintu apartemennya dan tersenyum manis kepada Kai sambil mengajak pemuda berkulit tan itu untuk masuk.
"Apa kau membolos demi ku, Kai?" tanya Luhan saat melihat pakaian yang dipakai Kai saat itu adalah seragam sekolah XO High School.
Kai mengamati arah mata Luhan yang menatap tubuhnya -lebih tepatnya menatap pakaiannya.
"Oh! Ini... Aku-"
"Apa kau masih mencintai ku?" tanya Luhan memotong ucapan Kai. Ia menatap mata Kai penuh.
Kai balas menatap mata mantan kekasihnya itu dengan bibir yang terkatup rapat.
"Apa kau masih mencinta ku, Kai?" ulang Luhan.
"A-aku..."
Luhan menanti jawaban dari Kai.
"Aku..."
Drrttt... Drrttt...
Ponsel milik Luhan bergetar yang mana membuat pemiliknya langsung mengambil benda berwarna pink itu untuk mengangkat panggilan dari ibunya dengan sedikit menjauh dari posisi Kai berdiri memasuki kamarnya.
Kai melihat Luhan meninggalkannya memasuki kamar. Ia mengalihkan pandangannya menatap lantai putih apartemen Luhan dengan pandangan kosong.
"Apa aku masih mencintainya?" tanya Kai dalam hati. "-Apa aku masih mencintai Luhan saat ini?" Kai melamun memikirkan hatinya sendiri.
Luhan kembali berdiri dihadapan Kai setelah mengatakan pada ibunya bahwa Ia sudah berada di Seoul saat ini. Ia menatap wajah Kai yang melamun lalu membuka suara membuat Kai sedikit tersentak dari acara melamunnya.
"Ayo duduk!" seru Luhan. Kai mengikuti Luhan duduk disofa ruang tengah apartemennya.
"Apa yang ingin kau tunjukkan pada ku, Han?" tanya Kai pada Luhan yang menyuruhnya untuk datang ke apartemen wanita bermata rusa itu.
Luhan tersenyum lalu mengangkat telapak tangan kanannya untuk ditunjukkan kepada Kai.
"Tara... Kau lihat itu? Cantik bukan?" tanya Luhan pada Kai dengan senyum senangnya.
Kai mengamati benda yang melingkar dijari manis tangan kanan Luhan. "Bukankah itu...?" Ia mengalihkan pandangannya dari benda dijari manis Luhan untuk menatap wanita itu.
"Itu..." Luhan menganggukkan kepalanya.
"Iya... Ini cincin yang kau beri pada ku saat pertama kali kita berkencan. Aku masih menyimpanya Kai." kata Luhan yang sekarang juga memandangi cincin emas putih berdesain elegant dengan permata berukuran sedang ditengah cincin yang berada dijari manisnya.
"Kau masih menyimpannya?" tanya Kai lagi. Luhan menganggukan kepalanya. "Kenapa?"
"Karena aku masih mencintai mu." jawab Luhan cepat.
Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain untuk beberapa detik lamanya. Luhan perlahan mendekatkan wajahnya pada Kai dengan mata yang tertutup untuk mencium pria itu. Sedangkan Kai hanya memandangi wajah Luhan dengan mata terpejam yang perlahan mendekat kearah wajahnya sebelum Ia membuang wajahnya menghindari bibir Luhan yang akhirnya hanya mencium pipinya.
"Kenapa?" tanya Luhan setelah Ia menjauhkan bibirnya dari pipi Kai.
Kai tidak menjawab. Ia tetap menatap layar televisi yang berada dihadapanya tanpa berniat menatap Luhan sedikitpun.
"Apa sudah ada wanita lain yang berhasil mengganti posisi ku dihati mu?"
Kai langsung menolehkan wajahnya untuk menatap Luhan.
"Apa maksud mu?"
"Lupakan!" ucap Luhan dengan wajahnya yang sudah terlihat bad mood saat ini.
.
.
.
.
.
.
Jongkook berdiri didepan kelasnya menunggu Kyungsoo keluar dari kelas 2-A. Ia sesekali membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun lalu kembali menatap kearah pintu kelas Kyungsoo saat melihat temannya itu keluar dari sana.
"Kyungsoo!" seru Jongkook.
Kyungsoo segera menghampiri Jongkook lalu bertanya, "Jongkook-ah, ada apa?"
Jongkook tersenyum manis pada Kyungsoo. "Kau mau pulang, kan?" tanyanya. Kyungsoo mengangguk. "-Ayo.. Kita pulang bersama." ucap Jongkook.
"Eh? Oh.. Tidak usah Jongkook-ah, aku bisa naik bis nanti. Kau tidak usah mengantar ku lagi." tolak Kyungsoo halus karena dia tidak ingin merepotkan Jongkook lain.
"Aku teman mu, bukan?"
Kembali Jongkook mengajukan pertanyaan yang membuat Kyungsoo akhirnya mengalah juga.
Mereka berdua berjalan menuju gerbang sekolah dilantai bawah yang mana sudah menampakkan laki-laki yang tadi Kyungsoo ketahui adalah supir pribadi keluarga Lee.
Keduanya langsung masuk kedalam mobil hitam itu untuk mengantar Kyungsoo terlebih dahulu barulah Jongkook pulang kerumahnya.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Kyungsoo berjalan menuju kelasnya dengan hati yang berdo'a semoga Kai hari ini masuk ke sekolah dan Ia bisa cepat membayar hutangnya pada pemuda itu agar Ia bisa bebas dan tidak merasa berhutang budi pada Kai lagi. Ia memasuki kelasnya dan mendapati meja Kai kosong seperti kemarin tanpa ada apapun diatas sana yang membuat Kyungsoo mendesah lesu setelahnya.
"Kenapa kau tidak masuk, Kai? Datanglah ke sekolah agar aku bisa membayar hutang ku pada mu." kata Kyungso dalam hati.
Kyungsoo duduk dikursi dengan wajah lesunya, tak lama setelah itu kelas menjadi penuh karena siswa-siswi yang tadinya berada diluar kelas berjalan masuk kedalam kelas saat melihat Choi sonsaengnim memasuki kelas mereka.
.
.
.
.
.
.
Istirahat tiba. Kyungsoo masih mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Choi sonsaengnim tadi sebagai pekerjaan rumah mereka. Ia tidak membawa bekal hari ini jadilah waktu istirahat seperti saat ini digunakannya untuk mengerjakan tugas, -bermaksud untuk mengalihkan rasa laparnya.
Saat sedang mengerjakan soal-soal itu salah satu teman sekelas Kyungsoo menegur wanita bermata bulat itu untuk mengajaknya kekantin.
"Kyungsoo-ya.. Ayo ke kantin." ajak siswi berambut hitam pendek itu yang bernama Joohyun.
"Ah.. Terima kasih Joohyun-ah, tapi aku tidak ke kantin. Aku mengerjakan soal-soal ini saja. Silahkan kau kekantin bersama yang lainnya." balas Kyungsoo pada teman sekelasnya itu sambil tersenyum.
"Oh.. Baiklah kalau begitu. Aku ke kantin ya.." Joohyun melambaikan tangannya pada Kyungsoo lalu berjalan keluar kelas menuju kantin.
Krruukk... Krruukk...
Perut datar Kyungsoo berbunyi. Wanita cantik bermata bulat itu memegangi perutnya lalu berkata, "Maaf... Aku tidak membawa bekal hari ini, jika harus ke kantin maka aku akan membuang uang ku percuma.. Kita tahan bersama sampai waktu pulang sekolah tiba, oke? Lalu setelah itu akan makan banyak saat tiba dirumah nanti." kata Kyungsoo pada perutnya yang keroncongan berusaha mengajak kompromi. Ia kembali mengerjakan soal-soal didepannya dengan sesekali memegangi perutnya yang berbunyi karena lapar.
Memang mulai dari kemarin Kyungsoo sudah mulai menghemat biaya pengeluaran jajannya karena ingin dikumpulkan untuk memudahkan Ia dalam membayar hutang pada Paman Minjoo, -ayahnya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Kyungsoo segera mengemasi peralatan belajarnya dan segera keluar sekolah untuk mencari pekerjaan paruh waktu yang cukup memberinya uang untuk membayar hutangnya pada Paman Minjoon -ayahnya- dan juga untuk biaya makan dirinya beserta sang ibu sehari-hari.
Ia kesana kemari memasuki kedai satu ke kedai lainnya maupun toko satu ke toko lainnya yang difikirnya membutuhkan tenaga kerja bantuan. Ketika Ia memasuki salah satu toko yang menjual berbagai macam jenis kue, Ia ditolak karena memang toko itu sedang tidak mencari karyawan baru ataupun pekerja paruh waktu.
Kyungsoo tidak menyerah. Ia kembali memasuki toko-toko lainya seperti toko penjual permen, coklat, hingga toko-toko baju yang Ia fikir sedang memerlukan pekerja paruh waktu. Namun nihil. Semua toko-toko itu tidak sedang memerlukan pekerja paruh waktu satupun.
Ketika Ia berjalan melewati sebuah kedai rumah makan Ia melihat sebuah lowongan pekerjaan yang tertempel dikaca pintu masuk kedai itu.
"Dapat!" gumam Kyungsoo.
Kyungsoo mendapatkan pekerjaan paruh waktunya di rumah makan itu sebagai pencuci piring. Ia langsung bekerja hari itu juga karena uang yang akan diberikan oleh rumah makan itu cukup menggiurkan dengan balasan Ia harus mencuci piring kotor yang sangat banyak karena memang rumah makan itu adalah rumah makan pinggir jalan yang menjadi favorit dikalangan warga menengah kebawah.
Sesekali Kyungsoo mengelap peluh didahinya dan kembali mencuci piring-piring kotor didepannya dengan senyum semangat miliknya. Satu piring bersih maka piring-piring kotor lainnya akan datang untuk dicuci oleh Kyungsoo.
Ketika semua piring yang kotor telah Ia cuci bersih, pemilik rumah makan itu segera menghampiri Kyungsoo dan memberikan uang duapuluh ribu won kepadanya.
"Kerja mu cepat juga nak, ini upah mu hari ini." kata wanita itu seraya mengulurkan uang duapuluh ribu won untuk Kyungsoo.
Kyungsoo menerimanya dengan senyum senang lalu menatap wanita didepannya itu kemudian berucap, "Terima kasih, bibi..." ucapnya.
Wanita itu mengangguk lalu berkata kembali, "Bisakah besok kau datang kembali kesini? Aku sangat memerlukan bantuan mu untuk mencuci piring-piring kotor disini."
"Benarkah aku boleh bekerja disini kembali besok, bibi?" wanita itu mengangguk.
"Tentu." jawabnya.
"Ah.. Terima kasih banyak bibi. Iya, aku akan datang kemari lagi besok untuk mencuci piring-piring kotor disini. Terima kasih banyak bibi." ucap Kyungsoo sambil membungkuk beberapa kali hingga pemilik kedai itu meninggalkannya untuk masuk kedalam dan melayani para pembeli dikedai miliknya itu.
Kyungsoo berjalan meninggalkan kedai rumah makan itu untuk mencari pekerjaan paruh waktu lainnya.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Jum'at berganti hari menjadi Sabtu. Hari ini Kai sudah kembali bersekolah seperti biasanya. Ia masuk kedalam kelas dengan wajah dingin seperti biasanya lalu mendudukan dirinya dikursi paling belakang yang menjadi tempat duduknya.
Kyungsoo yang kebetulan baru datang langsung masuk kedalam kelas dan melihat Kai yang sudah duduk dikursinya dengan kepala yang diletakkan diatas meja menghadap dinding. Ia tersenyum tipis lalu segera mendudukkan dirinya dikursinya sendiri karena sebentar lagi pelajaran Victoria saem akan dimulai.
.
.
.
.
.
Kyungsoo menghampiri Victoria saem saat guru cantik itu baru selesai merapikan peralatan mengajarnya diatas meja dan bersiap untuk keluar dari kelas 2-A membiarkan murid-muridnya beristirahat.
"Saem.." panggil Kyungsoo.
"Oh, Kyungsoo... Ada apa?" tanya Victoria ramah.
"Ada yang ingin aku katakan pada mu, saem... Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.
"Baiklah.. Ayo kita keruangan ku. Kita bicara disana saja." ajak Victoria.
.
.
.
.
.
"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan, Kyungsoo-ya?" tanya Victoria setelah Ia mendudukkan dirinya dikursi ruang guru miliknya dengan Kyungsoo yang duduk dihadapannya.
"Begini saem... Aku tahu jika aku bersekolah disini baru satu bulan lebih, itupun karena beasiswa yang diberikan oleh pemilik sekolah ini kepada ku."
"Lalu?" tanya Victoria yang sepertinya tidak sabar mendengar maksud Kyungsoo padanya.
"Aku ingin berhenti bersekolah disini, saem." ucapnya. Victoria langsung menatap Kyungsoo dengan wajah terkejutnya.
"Kenapa? Apa kau tidak betah bersekolah disini?"
"Bukan seperti itu, saem.." Kyungsoo segera menanggapi pertanyaan Victoria. "-Aku... Aku hanya tidak mampu untuk membayar biaya sekolah disini, saem.." sambung Kyungsoo.
"Tapi kau mendapatkan beasiswa, Kyungsoo-ya... Kau bersekolah disini secara gratis sampai hari kelulusan mu tiba nanti."
"Aku mengerti, saem.. Tapi aku tidak bisa bersekolah disini... Aku memiliki alasan sendiri, saem.." Kyungsoo menundukkan kepalanya. "Maafkan aku.." ucapnya.
"Ada apa, hm? Ceritalah pada ku, aku harap bisa membantu mu Kyungsoo-ya.." kata Victoria lembut berusaha membujuk Kyungsoo untuk tetap bersekolah disini.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan. "Maafkan aku saem tapi aku tidak bisa menceritakannya pada mu.." Kyungsoo mengatakan itu dengan suara yang bergetar lalu Ia mengeluarkan amplop dari saku blazer seragam sekolahnya kemudian diletakkannya diatas meja yang memisahkan tubuhnya dan tubuh Victoria.
"Apa itu?" tanya Victoria pada Kyungsoo.
"Itu adalah uang ganti rugi ku untuk seragam yang aku pakai selama bersekolah disini, saem. Aku tahu uang itu tidak cukup untuk membayar biaya seragam sekolah ini tapi setidaknya biarkan aku melakukan ini saem." ucap Kyungsoo.
"Tidak Kyungsoo, seragam sekolah itu memang disediakan untuk siswa-siswi yang bersekolah disini. Kau tidak harus membayar uang seragam mu itu." tolak Victoria.
"Jika memang seperti itu, anggap saja ini sebagai biaya selama aku bersekolah disini."
"Itu juga tidak bisa Kyungsoo."
"Kalu begitu... Anggap saja itu adalah biaya ujian semester satu yang dua bulan lagi akan berlangsung, saem.."
"Kyungsoo.."
"Terima kasih, saem..." potong Kyungsoo. "-Aku senang memiliki walikelas seperti diri mu yang menyayangi anak muridnya." Kyungsoo tersenyum pada Victoria dengan mata yang berkaca-kaca.
Victoria segera menggenggam kedua tangan Kyungsoo yang masih berada diatas mejanya.
"Aku tidak akan menganggap mu pernah berhenti dari sekolah ini. Kau murid didikan ku. Aku anggap kau hanya cuti belajar karena suatu alasan. Kapanpun kau ingin kembali kesini, kami masih menerima mu Kyungsoo-ya.. Karena kau adalah murid berprestasi yang harus kami pertahankan untuk bersekolah disini." ucap Victoria tersenyum pada Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum haru didepan walikelasnya itu lalu menganggukan kepalanya setelah mendengar ucapan Victoria padanya.
"Terima kasih banyak, saem.." ucap Kyungsoo. Ia berdiri dari kursi itu lalu membungkuk hormat pada Victoria dan berjalan keluar dari ruang guru.
Kyungsoo mengetikkan beberapa kata diponsel hitam miliknya untuk seseorang diseberang sana yang sangat ingin Ia temui sedari kemarin-kemarin.
.
.
.
.
.
.
Kai berjalan masuk kedalam ruangan khusus untuk dirinya dan Sehun dengan langkah malas disertai wajah lesunya. Sehun yang sudah duduk disofa berwarna marun itu menatap wajah Kai dengan pandangan bertanya.
"Ada apa dengan mu?" tanya Sehun sesaat setelah Kai duduk dihadapannya.
Kai tidak menjawab pertanyaan Sehun, Ia lebih memilih membaringkan dirinya disofa panjang itu dengan posisi memunggungi Sehun.
"Hey! Kai! Ada apa dengan mu, eoh?" tanya Sehun lagi. Kembali Kai mengabaikan Sehun. Ia tidak menjawab ataupun memberi gerakan pada Sehun. Sedangkan Sehun hanya mendengus kesal karena sahabatnya itu mengabaikannya.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Getaran ponsel itu membuat Sehun segera merogoh saku celananya untuk mengecek ponsel miliknya. Bukan. Bukan ponselnya yang bergetar tadi.
Ia mengalihkan pandangannya pada Kai yang masih berbaring memunggunginya.
"Hey Kim Kai, ponsel mu bergetar." ucap Sehun cuek. Kai tidak bergerak sama sekali. Ia lebih memilih untuk tidur dari pada menanggapi pesan masuk didalam ponselnya.
"Aku harap itu bukan dari Kyungsoo yang mengirimi mu pesan masuk disana!" kata Sehun.
Kai membuka matanya saat mendengar Sehun menyebut nama 'Kyungsoo' dalam perkataannya tadi. Ia langsung duduk disofa marun itu menatap Sehun sebentar sebelum mengambil ponsel hitam yang berada disaku celana seragamnya.
'Temui aku ditaman halaman bawah sekarang. -Kyungsoo'
Kai membaca pesan masuk pada ponselnya yang mana ternyata adalah pesan dari Kyungsoo yang mengajaknya untuk bertemu ditaman halaman bawah sekolah mereka.
"Aku yang memberikan nomor ponsel mu padanya karena sedari kemarin-kemarin Ia terus mencari mu." ucap Sehun tanpa menatap Kai.
Kai segera bangkit dari posisi duduknya dan langsung berjalan keluar untuk menemui Kyungsoo ditaman halaman bawah sekolah mereka.
.
.
.
.
.
.
Kai berhenti berlari saat dirinya sudah tiba ditaman sekolah mereka dan melihat Kyungsoo yang duduk dengan kepala menunduk dikursi putih tak jauh darinya berdiri. Ia mengatur nafasnya untuk tidak terdengar tersenggal-senggal karena memang setelah mendapat pesan dari Kyungsoo tadi Ia segera berlari dengan langkah panjang untuk cepat sampai ditaman halaman bawah dan bertemu dengan Kyungsoo.
Ia berdehem sebentar sambil merapikan pakaiannya lalu mulai melangkah menghampiri Kyungsoo dengan wajah dingin seperti biasanya disertai salah satu tangannya yang masuk kedalam saku celana seragam siswa miliknya.
"Ekhem!"
Kyungsoo mengangkat kepalanya dan langsung menoleh kearah kiri dimana sumber suara tadi berasal.
"Kau sudah datang?" tanya Kyungsoo. Ia kemudian berdiri untuk berhadapan langsung dengan Kai.
"Hm. Ada apa kau mengajak ku bertemu disini?" tanya Kai dengan rasa gugup yang luar biasa. Entahlah, Ia hanya merasakan sesuatu yang tidak enak sebentar lagi akan datang menghampirinya. Dan benar saja, setelah Kai bertanya tadi Kyungsoo segera mengeluarkan amplop tebal dari saku blazernya untuk diserahkan kepada Kai.
"Ini..." Kyungsoo mengulurkan amplop yang berisi uang itu untuk diterima oleh Kai. Kai menerimanya dengan tangan kanannya tanpa mengetahui bahwa didalam itu berisi uang tujuh juta won.
"Aku mengembalikan uang mu yang sempat kau pinjamkan pada ku untuk biaya operasi ibu ku waktu itu." ucap Kyungsoo. Kai langsung mengalihkan tatapannya dari amplop yang Ia pegang menjadi pada wajah Kyungsoo.
"Terima kasih karena sudah mau membantu ku waktu itu, Kai-ssi.." tambah Kyungsoo.
"Dari mana kau mendapatkan uang ini?" tanya Kai. Ia tidak menampakkan ekspresi apapun diwajahnya ketika bertanya pada Kyungsoo.
"Kau tenang saja... Uang itu aku dapatkan dengan cara yang bersih, tidak dengan cara jahat sama sekali.." Kyungsoo tersenyum pada Kai. "Maaf jika aku terlalu lama mengembalikan uang mu itu, Kai-ssi... Sekali lagi terima kasih." tambah Kyungsoo. Ia membungkukkan kepalanya sebentar pada Kai lalu mulai melangkah meninggalkan Kai sendiri di taman sekolah mereka untuk menuju kelas.
Sepeninggalan Kyungsoo yang sudah berjalan menuju kelas, Kai menatap amplop yang berada ditangan kanannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Kyungsoo berjalan dilorong rumah sakit menuju ruangan dimana ibunya masih dirawat dirumah sakit ini. Setibanya Ia didepan pintu ruangan Kyungsoo tidak langsung masuk, Ia memandangi wajah ibunya yang tengah duduk diatas ranjang sambil mengunyah buah apel yang Ia beli kemarin.
Air mata Kyungsoo jatuh begitu saja saat melihat wajah ibunya yang masih terlihat sakit itu. Ia menghapus air matanya yang sempat jatuh lalu menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan sebelum mendorong pintu putih itu untuk dibuka dan berjalan masuk menghampiri ibunya.
"Ibu..." panggil Kyungsoo.
"Kyunggie.. Kau datang nak?" tanya ibunya. Kyungsoo megangguk lalu memeluk tubuh ibunya sebentar.
"Bagaimana kabar ibu? Apa ibu sudah sehat?" tanya Kyungsoo.
"Tubuh ibu masih sakit, nak.. Tapi setidaknya itu sudah lebih baik dari keadaan kemarin-kemarin." ucap sang ibu sambil tersenyum pada Kyungsoo.
"Ibu... Bagaimana kalau kita pulang kerumah hari ini? Uang Kyunggie tidak banyak lagi untuk membayar biaya rumah sakit ini." kata Kyungsoo pelan takut menyinggung perasaan sang ibu.
"Ibu sangat menyusahkan mu ya, nak? Maafkan ibu..." ucap Minyoung.
Kyungsoo segera menggelengkan kepalanya. "Bukan sepeti itu bu... Kyunggie hanya ingin selalu dekat dengan ibu, itu saja.. Jika ibu dirumah maka Kyunggie akan menjaga ibu sebaik mungkin dan mengawasi ibu setiap saatnya.. Kyunggie hanya tidak ingin jauh-jauh dari ibu..." air mata Kyungsoo jatuh begitu saja tanpa perlu dikomando terlebih dahulu.
Minyoung menghapus airmata puterinya itu lalu menganggukan kepalanya setuju. "Iya... Ibu juga tidak ingin jauh-jauh dari puteri kesayangan ibu.." ucapnya. Air mata juga jatuh begitu saja dari kedua mata indah wanita bermarga Han itu.
Kyungsoo segera memeluk ibunya dengan erat. "Kyunggie menyayangi ibu... Sangat menyayangi ibu.." katanya.
Minyoung mengusap punggung Kyungsoo bermaksud untuk menenangkan puterinya itu.
Kyungsoo menghapus air matanya lalu melepaskan pelukannya. "Ibu jangan menangis... Itu akan membuat ibu bertambah sakitnya.." ucap Kyungsoo dengan tangan yang menghapus air mata sang ibu. Minyoung mengangguk, setuju untuk tidak terlalu lama menangis.
Suster yang menjaga ibu Kyungsoo masuk kedalam ruangan itu untuk mengecek kondisi pasiennya.
"Suster... Bisakah anda membantu ibu ku bersiap-siap? Aku akan mengajaknya pulang kerumah hari ini karena kondisi tubuh ibu ku sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku akan kebagian administrasi sebentar untuk membayar obat-obat yang diperlukan ibu ku selama proses penyembuhannya masih berlangsung." jelas Kyungsoo.
Suster cantik itu tersenyum ramah. "Tentu nona.. Aku anak membantu Nyonya Minyoung untuk bersiap-siap sekarang." katanya.
Kyungsoo tersenyum pada suster itu lalu tersenyum pada ibunya sebelum melangkah keluar kamar ini menuju bagian administrasi untuk membayar obat-obatan bagi ibunya.
.
.
.
.
.
.
"Sudah selesai, bu?" tanya Kyungsoo ketika Ia kembali masuk kedalam ruangan ibunya dengan sekantong obat-obatan ditangan kanannya. Minyoung menganggukan kepala.
"Terima kasih banyak suster karena sudah merawat ibu ku dengan baik selama Ia menjadi pasien dirumah sakit ini.." ucap Kyungsoo pada suster itu.
"Sama-sama nona... Kesehatan pasien adalah prioritas utama rumah sakit ini." balas suster cantik itu.
"Ayo bu... Kita pulang sekarang." ajak Kyungsoo. Ia membawa tas yang berisi pakaian ibunya itu ditangan sebelah kirinya lalu mendorong kursi roda yang diduduki ibunya untuk keluar dari rumah sakit ini. Setibanya diluar rumah sakit Kyungsoo segera menyetopkan taxi yang akan mengantar mereka sampai dirumah sederhana mereka.
.
.
.
.
.
Dikediaman keluarga Kim pengusaha sukses nomor satu di Korea, Kai menghempaskan tasnya yang disusul oleh tubuh atletisnya diatas ranjang kamarnya sambil menghela nafas kasar. Ia mengeluarkan amplop yang diberikan Kyungsoo padanya tadi kemudian menatap amplop itu lama.
"Aku mengembalikan uang mu yang sempat kau pinjamkan pada ku untuk biaya operasi ibu ku waktu itu."
Kai teringat ucapan Kyungsoo siang tadi padanya.
"Kau tenang saja... Uang itu aku dapatkan dengan cara yang bersih, tidak dengan cara jahat sama sekali."
"Dari mana kau mendapatkan uang ini Kyungsoo-ya? Apa ini uang dari Jonghyun?" tanya Kai dalam hati dengan pandangan mata yang memandang amplop berisi uang tujuh juta won ditangannya itu.
Kai melempar amplom berisi uang itu sembarangan lalu melipat kedua tangannya untuk dijadikan bantal bagi kepalanya ketika Ia menatap langit-langit kamarnya.
"Do Kyungsoo... Apa mungkin saat ini aku mulai menyukai mu?" gumam Kai sambil memandang langit-langit kamarnya yang terdapat wajah cantik Kyungsoo yang tengah tersenyum manis kepadanya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue ...
.
.
.
Maaf jika updatenya kelamaan karena memang Desta Soo sangat sibuk dengan pekerjaan yang Desta Soo lakukan akhir-akhir ini, dan maaf juga jika chapter ini pendek dan kurang memuaskan untuk dibaca oleh kalian para Readers yang Desta Soo sayangi.. T.T
Terima kasih banyak untuk yang sudah REVIEW, FAVORIT, serta FOLLOW FF ini ataupun Desta Soo sebagai Authornya, terima kasih banyak, Guys! #LOVE
Berkenan untuk memberikan REVIEW, Guys ? Ayo silahkan isi kolom dibawah ini dengan perasaan kalian setelah kalian membaca Chapter 6 ini tentunya ^^
Akhir kata... Sampai jumpa di chapter 7 mendatang, Readers sayang~ :* #KISSANDHUG
BYE~ BYE~
.
.
Desta Soo
25-01-2015
