Bukan berarti aku bisa meramal atau apapun itu. Aku hanya berlatih membaca perubahan angin dan suara.

Dari kemarin saat ia pulang dari markas Shinsengumi sampai hari ini, detik ini. Berubi-tubi gadis ini terkena kesialan.

Dari keleng minuman sampai dengan sampah yang tumpah ke seluruh tubuhnya. Dia kesal, benar-benar kesal. bukan karena latihan beratnya untuk menajamkan seluruh inderanya selain mata gagal namun karena remaja berambut coklat yang saat ini sedang berkunjung ke tokonya bersama gorila dan kepala gulali.

Kenapa kunjungannya selain membuat kesal tapi juga membuatnya sekarang harus terengah-engah sambil mengeluarkan keringat banyak seperti ini?

"waah...kau benar-benar menghindar" suara Sougo terdengar diikuti tepukan tangan "lebih baik kau terus menjadi perempuan Hijikata-san, kau lebih kuat dari pada sebelumnya"

"hei, kita harus mengembalikannya seperti semula Sougo" tegur Kondo sambil menepuk pelan pundak remaja itu

"..." sedangkan suara Gintoki tak terdengar. Mayoko yakin kalau samurai perak itu juga datang, tapi pasti pemuda itu hanya diam sambil tersenyum kaku.

Benar. Kali ini Mayoko tak akan mengumpatkan nama Sakata Gintoki,juga bukan gorila Kondo Isao. Karena sekarang yang ingin dihajarnya adalah remaja bernama Okita Sougo.

Tak ada selain bocah bengal itu, yang mengikat kedua tangannya ke belakang dan menutup matanya dengan kain seperti ini. Ia tak bisa melihat, maupun bergerak bebas karenanya, sedangkan remaja itu malah melemparinya dengan benda-benda.

Ukurannya berfariasi, dari kecil sampai besar. Bukan seperti kulkas atau barbel yang dibawa Zoro. Tapi tetap saja berbahaya. Itu ukuran, belum dengan ketajamannya. Baru saja anak itu melemparinya dengan pisau dapur. Kiranya Sebelumnya lagi ia melempar bakutou Gintoki, asbak, buku yang sangat tebal, sepatu, bahkan tempat bedak para gadis yang entah dia dapat darimana.

Mayoko susah payah menghindari semua serangan Sougo yang menurutnya brutal. Tak hanya satu yang dilempar namun lemparan bertubi-tubi.

"kau.." geram Mayoko tersenggal-senggal "kau sudah puas bukan? "

"mmm...satu lagi" jawab Sougo, ia tak bisa melihatnya tapi ia tahu, pengeran sadis itu sedang menyeringai sadis

"!"

Dengan instingnya, dengan cepat dan tangkas Mayoko meloncat mundur, menghindari benda paling mengerikan dari semua yang dilempar Sougo tadi

"HEI!, KAU MAU MEMBUNUHKU YA?" teriak Mayoko sambil setenga meloncat "kau melempar katana bukan? Katana bukan?"

"tenang, tenang" akhirnya suara Gintoki terdengar diikuti dengan langkah kaki yang mendekat "yang penting kau bisa menghindarinya bukan?" katanya lembut sekali sampai hampir berbisik

Berlahan, kain dimatanya terbuka dan bisa dilihat wajah tersenyum Gintoki yang lembut bercampur lega dan juga cemas. Jika saat ini Mayoko melihat wajahnya ia akan menampar dirinya. Saat ini ia benar-benar lega, ia tersenyum lega, bisa melihat wajah samurai perak yang diam-diam mulai ia kagumi. "Okita-kun kau keterlaluan bukan?" Gintoki menoleh ke belakang dimana Sougo duduk bersila malas di atas tatami di samping Kondo yang memucat karena tegang dengan kejadian katana tadi."kenapa tidak kau berikan dengannya dengan cara yang normal?"

"itu cara yang normal untuknya, Danna~" jawab Sougo masih dengan wajah dan suara yang malas. Hampir seperti tak menghargai

Memberiku? Memberiku apa? Tes konyol inkah? Dia orang paling menyebalkan setelah Sakata Gintoki (tentu karena berani menyentuh hatinya).

"tsk...kesialanku benar-benar sial hari ini" Mayoko mendecakkan lidahnya seraya menggosok pergelangan tangannya "bertemu dengan pangeran sadis sepertimu"

Sebelumnya hanya Gintoki satu-satunya orang luar yang mengetahui kemampuan barunya. Tapi kesialan tetaplah kesialan, tak ada latihan untuk menghindarinya.

Bagaimana bisa sampai ia terikat tadi ?

Sebelumnya, ia menghindari plus masih menangkap kereta bayi yang meluncur dengan cepat, tiba-tiba saja botol minuman terbang kearahnya dan dia menghindarinya tanpa perlu tahu arah asalnya, masih berkelud dengan burung yang tak sopan, ia juga menghindarinya tanpa payung, berhasil kabur dari stalker atau fans gelapnya. Dan itu semua diketahui oleh Sougo dan Kondo yang kebetulan melihatnya.

Sebelum menyapa Mayoko mereka bertemu dengan Gintoki yang mengamati semua kejadian sial gadis itu dari sisi lain. Dan tentu Gintoki menjelaskannnya.

Jika diberi penjelasan seperti itu masuk akal bukan? Kalau gadis itu bisa terkena sial dalam kurun waktu lima menit berturut-turut. Meski pada dasarnya penyebab kesialannya tersebut tak masuk akal.

Dan hal tersebut membuat Sougo penasaran dengan kemampuan Hijikata yang baru.

...

"katana ?" Mayoko mengerutkan dahinya pada sebilah pedang samurai "aku tidak membutuhkannya" katanya seraya membuka katana tersebut dan melihat ketajamannya "jangan berikan perempuan barang seperti ini dong"

"apalagi dengan cara seperti tadi" lanjutnya lalu menutup kembali pedang tersebut.

Katana tersebut milik Hijikata Toushiro . katana tajam dengan sarung berwarna merah dengan gagang yang berornamen bentuk wajik(bentuk layang2) yang mengkilat seperti emas. Benar-benar senjata seorang samurai.

"memangnya kau perempuan?" tanya para laki-laki tersebut dengan nada monotone

"yaa...sekarang kan aku perempuan" balas Mayoko santai, matanya masih tak lepas dari senjata tajam yang selalu ia impikan untuk ia punya dan gunakan. Ya, waktu kecil ia ingin menjadi samurai sejati. Tapi seiring waktu lamanya ia menjadi perempuan keinginannya itu telah pudar

Maka karna itu, ia lebih memilih bertarung dengan tangan kosong dan memanfaatkan tenaga pengancur lawannya untuk menghancurkan lawannya itu kembali.

"bahkan aku tidak tahu bagaimana cara memakainya" ia menyodorkannya ke Sougo " nih kukembalikan"

"tidak...itu bukan milikku" Sougo menghela nafas "itu milikmu..pastikan kau jaga baik-baik"

"...milikku ?"

"milik Hijikata" tambah Gintoki "jadi itu milikmu"

"kau selalu memakainya dengan brutal" Kondo tersenyum tipis "sudah berkali-kali kau mengantarnya ka tukang. Tapi itu selalu membantumu"

"..."

Mayoko menunduk. Ia termenung. Bagaimana mungkin mereka benar-benar percaya kalau dia adalah Hijikata yang mereka maksud? Ia bahkan tak mengenal mereka sebelumnya, apakah harus ia mempercayai penjelasan mereka. Mengenai dirinya dulu adalah bagian dari meraka? Lalu bagaimana dengan Miki? Siapa Miki kalau begitu?

"baiklah...meski aku tidak tahu bagaimana mengunakannya" ia tersenyum tipis pada katana yang di gengamnya "tapi...aku akan menjaganya"

"untuk apa kau jaga?" Sougo menyilangkan kedua lengannya "itu seharusnya kau gunakan"

"apa kau tidak mendengarku? Apa kau tuli ? aku tidak tahu bagaimana mengunakannya!" ketus Mayoko "bahkan aku tidak pernah melempar pisau dapur ke orang"

"kalau begitu..pelajari bukan?"

"pelajari ? jangan bercanda, aku tidak punya waktu untuk seni bela diri lebih dari ini"

"lebih baik bukan daripada menjadi pelacur? Sebaiknya kau kembali menjadi wakil komandan agar aku bisa kembali tidur siang"

"...bukannya kau ingin menjadi wakil komandan Sougo?" tanya Kondo bersweat drop

"aaah...kalau begitu jadilah asistenku agar aku bisa tidur siang"

"lakukan tugasmu dengan baik Okita-kun~"

"itu juga berlaku padamu Danna"

"akan kupastikan jika aku punya pekerjaan"

.

.

.

.

.

...

Semenjak tamu-tamu sudah pulang. Mayoko keluar dari ruang latihan dan pergi ke depan, ke tokonya. Hari ini tidak ada yang memanggilnya untuk minum ataupun menari, maka karna itu ia hanya duduk di meja kasir, menemani para pelayan setengah baya yang bertugas memberi kabar pada pelacur yang di panggil.

"Mayoko" Miki menghampirinya seraya tersenyum tipis menyapa Mayoko yang tengah sibuk dengan sempoanya "mereka sudah pergi?"

"begitulah" Mayoko mengangguk dan meletakkan sempoanya "mau sampai kapan mereka mengira aku Hijikata mereka?"

"hmm...bukannya bagus kalau mereka masih percaya kalau kau adalah bagian dari mereka?" Miki tersenyum geli "aku justru padamu" ia menutup matanya sambil menyelipkan rambutnya ke telinga, leher ramping nan putih Miki terlihat sangat jelas.

Mayoko bungkam. Mata biru gadis itu melebar melihat bercak merah pada kulit mulus Miki, dengan pelan dan penuh hato-hati ia mengulurkan tangannya lalu mengusap bercak tersebut

"auh...Mayo" rintih Miki memejamkan matanya karena perih "ini..." keringat mulai membasahi wajahnya saat melihat wajah cemas Mayoko "tidak...apa-apa ini hanya karena gatal..." jelasnya. Tapi dalam penjelasannya tatapan matanya itu tak menyinarkan kebenaran. Ya, Miki berusaha membohongi Mayoko.

"Miki" panggil Mayoko semakin cemas, malah sekarang hampir menangis "apa ada laki-laki yang menyiksamu di tengah melakukan itu?"

"mmm...ada beberapa laki-laki yang memang begitu Mayo" Miki tersenyum sebiasa mungkin sambil mengelus punggung Mayoko yang benar-benar mencemasakannya sekarang "tidak hanya aku yang pernah mengalaminya, gadis-gadis di sini juga pasti pernah mengalaminya" ia berusaha jujur sekarang, meski tak sepenuhnya.

"be,benarkah?" muka Mayoko semakin pucat "a,apa ini salahku?"

"ti,tidak ini bukan salahmu!" Miki semakin panik semenjak Mayoko benar-benar menunduk dan merenung sekarang "kau yang menghidupi kami, pada masa perang. Memang hanya inilah yang bisa dilakukan oleh para wanita. Kau membantu kami Mayoko" tutur Miki selembut-lembutnya "jadi jangan pernah menyesali tempat ini. Tempat ini benar-benar berharga bagi kami"

"tapi bukan berarti laki-laki bisa menyakiti perempuan disini" kali ini suara Mayoko menajam dengan amarah "siapa yang melakukannya Miki? Katakan! Aku akan mencoretnya dari daftar pelanggan sekarang"

"tidak akan pernah dia kuijinkan untuk menyentuh wanita sini!" *BRAAK* ie memukul meja di depannya sekeras-kerasnnya

"tenanglah Mayoko...jika kau seperti itu..kita semua yang akan susah" Miki mengusap kepala Mayoko "kita bisa hidup karena mereka, dan kita memuaskan mereka...jadi, tenang ya?"

Melihat Miki yang seolah memohon padanya untuk tidak mengambil pelanggannya yang setia karena memang faktor ekonomi. Mayoko hanya mengangguk setuju.

Tapi tetap saja, sebenarnya tidak. Ingin sekali ia mencari tahu siapa pelakunya dan menhajar laki-laki bejad tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue...