Crying,

You don't even know what for


.

.

Onion

Haikyuu © Furudate Haruichi

.::.

Kageyama x Hinata

College AU, Adulthood, Aged-up Characters

.::.

Warnings: Beberapa kejadian boleh jadi terlalu surreal | Kemungkinan besar ada beberapa fakta menyeleweng | May be typo(s) |

Double warning, karena ada lime ringan di chapter ini. Itu belum ngapa-ngapain sih kalo bagi saya (yang pervert), tapi saya hanya memperingatkan.

Apakah saya sempet memperingatkan kalo grepe-grepenya datang dengan angst? Dan kenapa penggalan lirik untuk chapter ini pas sekali dengan ceritanya? /garuk pipi

Enjoy!

.

.


Sixth Layer: Alcohol


Kehidupan Hinata belakangan ini semakin keras.

Turnamen nasional berada di depan mata. Semua anggota dipaksa jumpalitan. Dituntut mendorong kapasibilitas hingga batas maksimal, mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga dalam latihan dengan resimen yang dilipatgandakan. Tiada ampun bagi pecundang dan mereka yang kalah dalam Chuo; prinsip itu masih dianggap sakral dan dijunjung tinggi.

Terlepas dari semua itu, yang paling menyita tenaga dan pikiran dari tubuh kecil Hinata adalah, tentu saja, masalah keuangan. Akhir-akhir ini Kageyama semakin sulit menyelundupkan uang dari orang tuanya. Hinata menyebutnya menyelundupkan, karena Kageyama bahkan tak meminta izin sebelum memberikan uang itu pada Hinata, berkelit dengan alasan bahwa segala uang di rumahnya adalah uangnya juga. Bisa jadi Kageyama kepergok mengambili uang dalam jumlah banyak, dan orang tuanya tidak setuju. Bukannya Hinata tidak memperingatkan, tapi pemuda yang bersangkutan terlalu keras kepala untuk memberinya uang. Harga diri membuat pendirian kokoh, bahwa kata-katanya dulu harus ditepati.

Hinata mulai berpikir untuk mengambil satu atau dua pekerjaan tambahan di sela-sela waktu luang. Tentunya itu tidak akan mengganggu rutinitas. Hinata berjanji pada dirinya untuk tak senekat dulu. Kali ini akan dia cari jam kerja yang bisa ditolerir. Dan jika dia menempuh jarak menuju tempat kerja dengan lari kecil, itu sudah terhitung sebagai olahraga. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.

Pikirnya, tak baik terus menerus bergantung pada Kageyama. Terlebih ketika uang yang diberikannya pada Hinata selama ini adalah hasil sabetan tangan secara diam-diam. Tanpa persetujuan orang tuanya, Hinata jadi semakin tidak enak.

"Babak penyisihan turnamen nasional adalah tiga hari mulai sekarang." Suara pelatih melumuri atmosfer dengan keseriusan. Dia mengumpulkan semua anggota tim voli di hadapannya, sebuah papan berlampir beberapa lembar kertas di satu tangannya. "Sekarang juga, aku akan mengumumkan posisi tim inti yang sudah pasti. Pertama, wing spiker…"

Daftar nama yang dia bacakan terus berjalan. Nama ke nama diselingi anggukan mantap dari pemain yang dipanggil.

"Setter. Kageyama Tobio."

Tatkala Kageyama mengangguk penuh rekognisi, semua kepala segera menoleh ke arahnya. Ketegangan di sekitar mereka bisa Hinata endus tanpa usaha keras. Masih ada kilatan ketakutan dan kebencian yang sama, tapi mereka tak menyuarakannya keras-keras. Keputusan pelatih adalah mutlak, dan mereka menaruh kepercayaan bahwa bimbingan beliau bisa membawa tim kepada kemenangan. Sekalipun mereka harus bermain sekali lagi bersama Ou-sama yang mereka kutuk itu.

"Selanjutnya adalah pemain cadangan yang sudah kupilih secara khusus. Mereka akan segera menggantikan pemain inti bila dibutuhkan. Pertama adalah…"

Bahu Hinata terangkat ke atas. Napas terhenti dan mata terpejam penuh harap. Ini kesempatan yang tersisa untuknya. Apabila Hinata belum dapat mengamankan posisi bergengsi tim inti, setidaknya dia ingin berada dalam pemain cadangan andalan pelatih.

Kumohonkumohonkumohon—

"…dan Terushima Yuuji. Pastikan kalian menjaga kondisi tubuh. Jangan melakukan olahraga yang terlalu berat. Jaga nutrisi dan pola makan. Kita sebagai wakil Universitas Chuo harus menang. Kalian paham?"

Namanya tidak disinggung-singgung sedikit saja.

Hinata tergugu. Dia gagal masuk tim inti, dan menjadi cadangan pilihan pun dia masih belum mampu? Lengan yang memeluk tubuhnya sendiri mengerat, seperti berniat untuk meremukkan tubuhnya sendiri. Kuku-kuku menancap pada dagingnya, memberi bekas berbentuk bulan sabit.

Tapi kenapa?

Bagian hati Hinata yang keras kepala menyangkal. Dia sudah berlatih keras selama ini, jadi kenapa? Apakah semua itu belum cukup?

Sorakan kompak yang menyanggupi permintaan pelatih jatuh kaku di atas telinga Hinata sebagai dengungan bisu. Kelopak mata terangkat seperti tirai merah teater sebelum dimulainya pertunjukan drama kolosal. Hinata mendongak, mengarahkan mata yang membola pada sosok pelatih yang berbalik cuek. Tubuh-tubuh tinggi yang berseliweran menghalangi pandangan tak dia indahkan. Dia bahkan tak sadar mereka sudah dibubarkan.

Kageyama sudah beranjak sambil memutar pergelangan bahu. Menyadari Hinata yang masih bergeming seperti patung hidup, dia mengangkat satu alis. "Kau kenapa?"

Hinata menggigiti bibir bawahnya. Katakan bahwa dia adalah teman yang buruk, tapi keberadaan Kageyama di sana justru berakibat menyakitkan. Dia seperti ditampar keras-keras untuk menghadapi realita yang ada.

Bahwa dirinya lemah. Jauh lebih lemah dari Kageyama. Tertinggal di belakangnya. Jauh, jauh sekali.

Mata Hinata memanas. Cepat-cepat dia tundukkan kepala, menghindari tatapan meneliti dari Kageyama. "Aku akan menetap di sini sebentar lagi."

"Pelatih bilang—"

"Sudahlah, cepat pulang!" Nada Hinata meninggi, bergetar, dan retak. "Bersihkan meja makan dulu atau apalah. Aku tidak akan lama."

Kageyama terdiam cukup lama. Lalu menggumam setengah menggerutu, "Kalau itu maumu."

Satu ekshalasi udara dari rongga dada kemudian, Hinata mendengar langkah Kageyama menjauh. Sekujur tubuh melemas seperti jelly. Dia tak tahu eksistensi Kageyama di sampingnya begitu menyita energi. Biasanya memang tak demikian. Hinata terkenal karena dia adalah bocah yang paling sering jatuh-bangun. Tak kenal menyerah walau tubuh dan hatinya babak belur dan kesakitan.

Tapi sekarang, dia tak begitu yakin dirinya setangguh itu. Inferioritas menggerogoti jiwa dengan sensasi yang lebih menyakitkan dari apapun. Penyakit itu mendatangkan emosi negatif lain; iri hati, amarah, kecemburuan, pengkhianatan. Mencoba menekan semua itu membuatnya lebih menderita.

Hinata memaksa tubuhnya yang lemas, letih lahir batin, untuk berdiri. Melangkah mendekati punggung pria paruh baya yang berjalan didampingi asisten. Menghentakkan kaki ketika dia berhenti di belakangnya, decit sepatunya mengumumkan keberadaannya di sana.

"Coach," Hinata memulai. Tangan membentuk bola-bola di samping tubuh. "Kenapa… Kenapa nama saya tidak muncul pada daftar Anda? Kenapa saya tidak dianggap layak untuk menjadi pemain unggulan di mata Anda?"

Pria itu bahkan tidak menoleh. Tiga detik berlalu, sebelum lirikan tajam diarahkan pada bocah dengan kepala menunduk di belakangnya. "Hinata-kun, ya? Ketahuilah, kau tidak ada apa-apanya jika tidak bersama Kageyama Tobio."

Diucapkan seringin kapas, tapi berbobot seberat tumpukan baja pada situs konstruksi. Dada Hinata mencelos, memanggil tangannya untuk merambat ke atas. Memegangi bagian tubuhnya yang terasa sakit. Perih, perih, perih.

"Kau mau pulang tidak, Hinata?" Futakuchi yang mendapat giliran mengunci gimnasium melongok dari pintu, hendak mematikan lampu. Kunci perak diputar-putar pada jari telunjuk. Pelatih dan asistennya telah lama menghilang.

"Aku…" Napas Hinata menderu. "Aku ingin tinggal di sini sebentar lagi."

Futakuchi memandanginya dengan heran, tapi memberinya privasi. Dia tak bertanya-tanya, dan bertindak di luar karakter karena biasanya dia tidak sebaik itu. "Oke. Kuserahkan kuncinya padamu. Tangkap, Chibi."

Hinata belum sempat memprotes nama panggilan laknat itu—kemungkinan Kuroo menyebarkannya ke semua teman-temannya—karena benda keperakan itu telah mendarat di atas hidung dengan menyakitkan, lalu jatuh di atas lantai dengan suara gemerincing pelan.

"Wow. Maaf." Futakuchi terdengar tidak merasa bersalah. "Kalau begitu, aku duluan. Hati-hati di sana. Jangan sampai diculik atau semacamnya."

Ejekan implisit terhadap tinggi badannya—dia disangka calon korban penculikan anak-anak rupanya. Hinata tidak membalas karena terlalu sibuk mengatur emosi.

Setelah seniornya itu pergi, Hinata sendiri di sana. Harusnya tak masalah jika dia meruntuhkan harga diri dan menunjukkan kelemahan—menangis. Matanya mulai berair. Tapi dia menahannya. Hinata merasa bahwa dia sedang bertarung melawan dirinya sendiri yang pecundang. Jika menangis, berarti dia kalah dan tunduk pada dirinya yang lemah.

"Sialan." Hinata mengadu gigi-gigi di dalam mulut. Penglihatannya memburam karena darah di ubun-ubun mendidih panas. "Sialan!"

Pandangan jatuh pada pintu ruang penyimpanan. Sadar tak sadar, seakan ada sesuatu di balik sana yang memanggilnya, dia berjalan mendekat. Pintu itu dibukanya dengan suara menjeblak, sebagai bentuk pelampiasan frustasi yang menumpuk. Tubuhnya secara otomatis mendekat pada kotak biru yang menjadi wadah bola voli, seakan dia dan benda itu saling menarik seperti magnet.

Sebuah bola voli diangkat, berpindah pada cengkeraman kedua tangan. Hinata menautkan kedua alis. Jika dirinya yang normal akan merasakan hasrat menggebu-gebu untuk bermain voli, saat itu bagian dalamnya panas dingin. Ada kekesalan yang masih setia menempel di balik pikiran seperti permen karet melekat di tembok selama bertahun-tahun.

Dia tidak membenci pelatih. Apa yang dia katakan memang apa adanya. Hinata memang lemah, dan di luar melakukan spike, dia tidak sebagus itu. Mungkin memang benar bahwa dia tidak bisa apa-apa tanpa setter jenius di sisinya. Baru disadarinya bahwa selama ini Kageyama yang mengatur toss-nya, membuatnya senyaman mungkin untuk dipukul. Jika Hinata berhasil memukulnya, itu bukan karena usahanya sendiri. Tapi karena Kageyama dan kelihaiannya.

Telapak tangan menekan voli itu kuat-kuat seperti ingin meledakkannya. Kemudian, membutuhkan sesuatu untuk meringkankan belenggu menyakitkan dalam lubuk hati,

Hinata berjalan kembali pada lapangan. Melakukan serve asal-asalan, memukulnya keras-keras hingga bunyi bola yang menampar lantai dan dinding menggema keras. Ketika amarah semakin menggumpal karena dirinya gagal serve berkali-kali, Hinata memegang opsi untuk melempar bola itu sembarang. Asal ada bunyi keras. Asal ada sesuatu yang mendistraksinya. Karena Hinata tak tahan dengan keheningan yang mencekiknya. Saat dia sendiri, pikirannya semakin bertambah liar.

Hinata berteriak keras. Sengau, tak indah didengar, dan bisa disangka orang tidak waras. Tapi dia tidak peduli. Dia mengambil keranjang bola dari dalam ruang penyimpanan. Melempar semuanya ke lantai, dinding, langit-langit. Menjeritkan udara dari paru-paru. Melepaskan rasa sakit dari luka menganga dalam benak.

Saat tak ada lagi bola voli di dalam keranjang, barulah Hinata merosot di atas lantai dingin. Menyandarkan tubuh pada dinding. Memeluk kedua lutut karena merasa dirinya begitu rapuh.

Kalau telinganya tak menangkap langkah kaki seseorang, dia pasti sudah menangis dalam diam.

"Shouyou, kau di sana?"

Hinata mendongak lemah. Penglihatan terfokus pada rambut puding yang khas. Kozume Kenma menampakkan diri di ambang pintu. Dia adalah salah satu sahabat akrab Hinata walaupun satu tahun lebih tua darinya. Pertemanan berawal dari Hinata yang menemukan Kozume bermain game di pinggir jalan seperti anak hilang, sedang menghindari Kuroo yang berniat mengerjainya dan membawanya ke toko-toko aneh.

Senyum getir tertarik secara paksa. "Kenma. Kenapa kau ada di sini?"

Menganggap respon Hinata sebagai izin untuk mendekat, Kozume memasuki gimnasium dengan konsol PSP di satu tangannya. Tudung jaket berlengan pendek yang memelihara kepala dari udara malam dia turunkan. Mengambil tempat duduk di sebelah Hinata, Kozume menyalakan kembali PSP biru dalam tangannya. "Kuroo mencemaskanmu, jadi dia mengirimku untuk melihat keadaanmu. Kau tidak apa-apa?"

Dari semua orang, justru Kuroo yang menyadari bahwa suasana hati Hinata sedang memburuk. Dia lebih peka dari yang Hinata kira.

"Tidak terlalu," jawab Hinata jujur, setengah tertawa. "Maaf sudah membuatmu repot-repot datang kemari."

"Tidak masalah." Musik pembuka game mengalun pelan. Kozume menekan tombol untuk melewatinya. "Aku baru selesai dengan kelas malam. Tidak ada salahnya berhenti di sini sebentar."

"Oh."

Kelereng mata menyerupai kucing melirik Hinata dari sudut mata. "Kau sedang terganggu dengan sesuatu."

"Yah… itu benar." Hinata mengangkat bahu. "Bukan sesuatu yang besar. Hanya masalah sepele. Nanti juga baikan lagi."

"Untuk sebuah 'hanya', kau bersikap impulsif sekali." Kozume menunjuk bola-bola yang tercecer di seluruh gimnasium.

"Soalnya… entahlah. Aku belum pernah merasa sekecil ini sebelumnya." Kedua kaki yang menekuk diluruskan dengan rileks. Berkontemplasi di dalam pikiran, memilih kata-kata untuk dikeluarkan. "Tadi. Pelatih mengumumkan pemain inti dan cadangan pilihan. Dan aku tidak masuk dalam kedua-duanya. Aku hanya menjadi pembawa minuman dan pasukan cheerleader di atas bench."

Kozume menggumam paham. "Kau terganggu karena itu? Bukan seperti dirimu."

"Tidak begitu, sih… Ngh. Oke. Sebenarnya iya, aku terganggu. Aku merasa ada sesuatu yang meledak-ledak di dalam dadaku. Marah, mungkin. Tapi rasanya, perasaan itu lebih ditujukan kepada diriku sendiri. Tiba-tiba saja segalanya terasa…" Hinata mengulurkan tangan ke depan. Matanya yang sedikit basah menerawang. "Terasa jauh."

"Kau merasa minder." Suara tenang Kozume sedikit naik. Kalimat itu menjadi ambigu, setengah pertanyaan setengah tidak.

Hinata mengiyakan dengan anggukan pelan. "Aku juga tidak tahu kenapa. Selama ini aku memantapkan hati untuk tidak pernah menyerah, karena aku sudah datang sejauh ini setelah… kau tahu, masalah SMA. Tapi setelah hari ini, melihat semua orang bermain dengan hebat, berkembang sementara aku tetap begini, dan mendengar secara langsung dari mulut pelatih bahwa aku bukan siapa-siapa, rasanya… lebih mengesalkan dan menyakitkan dari yang kuduga. Seperti… selama ini aku sedang berjalan di atas awan, lalu tiba-tiba ada awan yang bolong sehingga aku terhempas jatuh ke atas bumi dengan brutal."

Terbayang punggung Kageyama di depannya. Berjalan, berjalan. Menjauh. Tak tergapai. Hinata menggeleng keras.

"Aku jadi berpikir dua kali…" Kepalan tangan mendarat di atas kaki dengan lesu. "Apakah aku benar-benar bisa menggapai mimpiku. Apakah takdir mengizinkanku meraihnya. Apakah aku pantas untuk mendapatkannya—apakah aku mampu."

"Kau ingin menyerah?" Kozume sedang menghadapi boss. Dia asyik menekan tombol PSP.

Bersama desahan panjang dan rambut yang diacak, Hinata menggeliat pelan. Bingung dengan perasaannya sendiri. "Tentu saja tidak! Aku… Aku sudah berjanji untuk mengalahkan Kageyama. Untuk jadi Little Giant. Tapi, entahlah."

Mata Kozume meneliti Hinata sekali lagi. "Menurutku kau hanya lelah, Shouyou." Atensi sang sahabat berhasil dirampas. Kepala oranye itu mengarah padanya. "Berada dalam lingkungan orang hebat terus menerus memang kadang bisa membuatmu jengah. Aku bisa mengerti sedikit-sedikit. Kau perlu menghirup napas walau sebentar saja."

"Menghirup napas?" tanya Hinata ragu. Sadar bahwa ada beragam makna di balik kalimat tersebut. Dia meminta elaborasi.

"Misalnya, menjauh sebentar dari voli. Atau dari kuliah secara keseluruhan. Liburan ke suatu tempat, atau melampiaskan ke dalam suatu kegiatan. Hal-hal seperti itu." Bahu Kozume terangkat. "Kau bebas mau melakukan apa. Sebagai contoh buruk, pelampiasan Kuroo ketika sedang stres adalah minuman beralkohol, dan dia bersikap menyebalkan setiap mabuk. Jadi kalau kau tidak ingin merepotkan orang lain, sebaiknya jangan contoh dia."

"Tipikal Kuroo-san," dengus Hinata. Sabar sekali Kozume menjadi teman dekat orang itu. Menilik fakta bahwa mereka adalah teman masa kecil—berita yang membuat semua orang jungkir balik saking kagetnya—tidak heran bahwa Kozume mendapatkan kesabarannya dari waktu yang mereka habiskan bersama selama sekian tahun.

"Pelampiasan?" Kepala oranye Hinata lantas tertunduk, tangannya memegangi dagu dengan dahi terlipat. "Apa yang sebaiknya kulakukan, ya? Ini membingungkan."

"Yah. Masa kuliahmu yang masih panjang bisa kau gunakan untuk mencoba hal baru. Melompat dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Mencari apa yang cocok dengan dirimu," tambah Kozume mencoba membantu.

Hal baru. Sesuatu yang belum pernah dia coba sebelumnya. Kalau tidak salah, Kozume menyebutkan bahwa Kuroo suka mabuk…

Kira-kira bagaimana rasanya mabuk? Bagaimana rasanya meminum alkohol?

Manik cokelat membulat. Jika dipikir lebih lanjut, Hinata memang belum pernah meminum apapun kecuali air putih, susu, dan minuman isotonik. Dia belum pernah menenggak likuid lain, terbiasa hidup sederhana sejak lama. Vending machine jarang dia hampiri, terlebih sesuatu yang tabu seperti minuman beralkohol.

Hinata menggeleng. Tidak, tidak. Mana mungkin dia mau mencoba-coba alkohol. Dia tidak ingin ketergantungan. Selain itu, jika Kageyama mendapati dirinya mabuk-mabukan, dia pasti tidak akan membiarkan Hinata pergi tanpa marah-marah, lalu berceramah singkat—sambil mengumpat—mengenai kesehatan tubuh seorang atlet.

Masih ada banyak hal yang bisa dia lakukan selain itu. Entah mengapa, Hinata berfirasat bahwa dirinya dan alkohol tidak akan menjadi teman akrab.

"Hei, Kenma. Sambil sekalian menggerakkan badan… Kau mau membantu aku memberesi semua bola ini?"

Tawaran Hinata ditolak mentah-mentah.

XOXO

Keesokan harinya, Hinata mendatangi toko bunga beberapa langkah dari restoran milik Sugawara.

Disuruh mencari pelampiasan emosi yang sudah mengakar hingga ke ubun-ubun dan membuatnya sensi bukan main, yang pertama kali terlintas dalam pikiran Hinata adalah bekerja. Bahkan setelah mendapat petuah dari Kageyama untuk tidak membuat dirinya lelah dengan banyak pekerjaan, sikap workaholic tetap ada seperti noda bandel.

Bagi Hinata, bekerja adalah kegiatan untuk melupakan segala masalah. Ada sensasi tertentu yang selalu dia dapatkan hanya dari bekerja. Rasa lelah yang dia dapatkan setelah pulang, bahu dan punggung yang pegal dan kaku, baju yang menempel pada badannya yang berkeringat, dan kepuasan karena janji diberi upah. Bukannya bertambah penat, Hinata merasa seperti terlahir kembali—terkecuali dia memaksakan diri dengan segunung pekerjaan hingga jatuh sakit seperti kemarin silam.

Bersamaan dengan penyelundupan uang dari Kageyama yang semakin sulit—meski Hinata semakin lega karena tak lagi harus merepotkan orang—Hinata memutuskan untuk mengambil satu lagi pekerjaan. Dia memilih tempat yang belum pernah dia jamah sebelumnya.

Toko bunga.

Setidaknya, dia harap, berada dalam suatu tempat yang dikelilingi bunga-bunga cantik bisa membuatnya sedikit rileks.

Hinata mendorong pintu kaca dengan papan kecil bertuliskan 'Open'. Tak ada bunyi gemerincing bel seperti pada kebanyakan toko lain. Toko tersebut berukuran sedang. Lantainya dibangun dari kayu mengkilat yang masih kokoh. Lemari-lemari berwarna krem halus ditata sejajar membentuk barisan-barisan. Berbagai tanaman disusun di dalamnya, dan beberapa lagi digantung atau dipajang di depan toko. Sebuah meja lonjong dengan dekorasi karangan bunga berwarna merah dan putih di atasnya ditempatkan di dekat dinding kaca yang menjadi pembatas dengan jalanan di luar. Dua buah sofa ungu muda diletakkan tak jauh dari meja, pada sudut ruangan, ditata saling menghadap dengan sebuah lampu berdiri di antaranya.

Hinata sibuk mengamati, tak menyadari entitas lain yang sedang duduk pada kursi tanpa punggung di depan konter. "Oh—HEY, AKAASHI! ADA TAMU!"

Suaranya menggelegar seperti petir. Bumi seperti sedang berguncang, terutama bagi Hinata yang terkaget-kaget. Kepalanya menoleh cepat pada sang biang kerok, dan hal pertama yang dia sadari adalah rambut putihnya yang melawan gravitasi.

"AKAASHI—"

"Aku mendengarmu, Bokuto-san." Sosok yang dipanggil sebagai Akaashi menampakkan diri dari balik sebuah pintu. Fiturnya secara keseluruhan mencerminkan bahwa dia adalah orang kalem, dengan kulit pucat, rambut keriting hitam, dan mata bergaris sipit. Celemek berlogo vas bunga warna biru langit yang dia kenakan menandakan bahwa sosok itu adalah pekerja di sana. Hinata yakin sekali dia adalah pemilik tempat itu.

Akaashi berjalan menghampiri Hinata, menempatkan diri secara profesional di balik konter. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"

"Eh. Um…" Hinata memainkan kedua jari telunjuk dengan gugup, merasakan mata burung hantu si rambut jabrik—Bokuto—menatapnya dengan penasaran tinggi. "Aku dengar Anda sedang butuh karyawan. Dan aku ingin… mendaftar."

"Baiklah." Akaashi mengulas senyuman tipis yang mengingatkan Hinata kepada Sugawara. Keduanya sama-sama menenangkan. Perbedaannya hanya terletak pada aura yang mereka keluarkan. Punya Sugawara lebih meletup-letup, mungkin karena dia lebih pecicilan. Maaf, Suga-san. "Kami sedang kekurangan staff, jadi tenaga keja manapun sangat kami butuhkan. Kita bisa duduk sambil membicarakannya. Dan tolong hilangkan saja formalitasnya. Kutebak kau kuliah di sekitar sini, benar? Kalau begitu, kita hampir seumuran. Aku hanya setahun lebih tua darimu."

"Kekurangan staff katamu. Padahal kau adalah satu-satunya staff di sini," Bokuto di sebelah Hinata menyeletuk. "Aku jadi sering dipaksa membantumu dan jauh-jauh datang dari Osaka. Dasar, tempat ini sepi sekali! Kenapa semua orang lebih tertarik bekerja pada tempat yang mengharuskan mereka memakai kostum?"

"Jangan mengomel di depan calon karyawan, Bokuto-san," tegur Akaashi dengan wajah datar. Sepertinya dia sudah cukup lama mengenal pria nyentrik itu dan terbiasa menjadi pemomong yang baik. Hinata menyebutnya pemomong, karena Bokuto ini secara keseluruhan terlihat seperti… bayi besar. Seperti Kageyama, harus terus diawasi atau dia akan berbuat hal-hal bodoh. Bedanya, kepribadian mereka bertolak belakang seperti dua permukaan dalam sebuah koin.

Akaashi mengulurkan tangan. "Sebelumnya, perkenalkan. Aku Akaashi Keiji, pemilik toko ini."

"Dan aku—"

"Dia Bokuto Koutarou, temanku. Seperti yang kau dengar darinya, kadang-kadang dia membantu di sekitar sini."

Hinata menjabat tangan Akaashi. Berkedip, mengagumi dinamik kedua orang itu yang unik dan menarik. "Ah. Aku Hinata Shouyou. Salam kenal, Akaashi-san, Bokuto-san."

Bokuto manyun. Kakinya menendang-nendang tidak terima. "Hei, Akaashi! Jangan memotong perkenalan kerenku. Padahal aku baru ingin tebar… tebar apa itu kata Kuroo? Tebar pesona!"

Hinata kontan mendelik. "Kau mengenal Kuroo-san?"

Bola keemasan mengerjap. Mulutnya sedikit membuka. "Eh? Yah, kita teman lama sejak SMA. Dulu, tim voli SMA kita bersaing sengit. Kudengar dia sekolah di daerah ini sekarang. Kau sendiri mengenalnya, Chibi?"

Bahkan cara mereka memanggil Hinata secara insting juga sama. Demi kesan pertama yang bagus di hadapan calon bosnya, Hinata menahan diri untuk mengamuk seperti banteng. "Um, ya. Kita sama-sama bermain voli di Chuo."

"Oh, dia masih bermain ya?" Bokuto mencondongkan tubuhnya pada Hinata. Kedua tangannya memegangi bagian depan kursi beralas bulat dari kayu itu. "Bagaimana kabarnya? Apa block-nya masih bagus? Apa dia masih bermain dengan bagus!? Argh, aku jadi ingin bertanding dengannya sekali lagi! Sudah lama sekali rasanya!"

Diajak berdiskusi dalam hal voli, Hinata mendadak bersemangat. "Dia sangat baik-baik saja! Kuroo-san paling terkenal di dalam tim karena block-nya yang paling bagus, lho! Bahkan mantan pemain voli di SMA Datekou juga belum bisa menyaingi tekniknya! Kalau ada spiker, dia langsung melompat, lalu whoosh! Dan blam! Saat melihatnya mematikan spike dengan seringai jahatnya itu, rasanya guwaaah sekali!"

"Oooh, hebat sekali, si Kuroo itu! Kalau Chuo bertemu dengan sekolahku di turnamen besok, aku tidak akan menahan diri, lho!"

Hinata megap-megap. "Bokuto-san juga ada di tim voli sekarang!?"

"Begitulah! Bisa dibilang, aku adalah tulang punggung mereka." Bokuto terkekeh laknat mendengar decak kagum dari bocah di hadapannya. "Kau harus mempertemukannya denganku kapan-kapan! Kita bisa bermain voli dengan santai, atau jalan-jalan. Kalau kau ada waktu luang, akan kuajari salah satu teknik jituku dalam melakukan spike!"

Hinata mengerjap penuh harap. "Eh? Benarkah tidak apa-apa?"

"Tentu! Kau sudah kunyatakan pantas sebagai ahli waris." Bokuto menyeringai senang, seperti seorang ayah yang bangga pada anaknya. Padahal baru beberapa menit mereka bertemu. "Ah, Akaashi di sini juga dulu bermain voli denganku di SMA! Dia jadi setter—"

Akaashi ikut duduk di atas kursi dari balik kounter. Menghembuskan napas, tapi tidak ada sebersit amarah di dalamnya. "Maaf menyela diskusi kalian, tapi Hinata-san akan kuambil alih selama beberapa menit ke depan. Bisa menunggu sebentar, Bokuto-san?"

"Eeeh?" Kerlap-kerlip imajiner di sekitar tubuh Bokuto meredup. "Akaashi, kau jahat."

"Baikah, Hinata-san. Ini tidak akan lama. Aku hanya perlu tahu kapan kau bisa meluangkan waktu dan menjelaskan bagaimana dasar-dasar bekerja di sini."

Dipanggil secara terhormat membuat Hinata menegakkan punggung seperti prajurit militer, menghadap lurus pada calon bosnya. "Ah, baik! Akaashi-san!"

Akaashi menggeleng setengah tersenyum. "Kau jadi tertular Bokuto-san. Ini tanda-tanda buruk."

"Tung—apa maksudnya itu, Akaashi!?"

Pencarian lowongan kerja paruh waktu berujung baik. Hasil yang dia peroleh hari itu: pekerjaan di toko bunga yang damai dan dua orang teman baru sesama penyuka voli.

XOXO

Hinata pulang dua jam kemudian, menenteng sekantung plastik berisi yakisoba dari Akaashi. Hati gembira, segala kegelisahan menguap oleh radiasi yang dipancarkan Bokuto yang energik dan Akaashi yang menenangkan. Dia telah menemukan tempat kerja yang tepat.

Sampai di asrama, dia mendapati ruangan yang gelap gulita. Lampu dibiarkan mati, membuat tempat itu terlihat seperti gua. Sepasang sepatu milik Kageyama telah ditata rapi di atas rak, menandakan keberadaan rekan sekamarnya.

Tidak biasanya suasana begini sunyi. Di hari lain saat Hinata ada urusan lain setelah latihan voli, dia pulang ke asrama dengan disambut oleh sosok Kageyama yang menguasai sofa, menonton televisi dengan khidmat. Setidak-tidaknya, akan ada suara dari benda elektronik tersebut secara samar, atau bunyi kulkas dibuka, atau bunyi dentingan perabot makan yang sedang Kageyama cuci—dan ya, dia bisa mencuci sekarang.

Hinata melangkah masuk dengan ragu. Atmosfer yang terbentuk oleh kegelapan ruangan begitu tidak mengenakkan. Dia menyalakan lampu dan menahan napas ketika tidak ada sedikit pun cahaya yang terkonfirmasi oleh indra penglihatan. Mati listrik? Atau memang lampunya rusak?

Keluh kesah halus terhembus dari mulutnya. Perlahan, masih dengan perasaan mengganjal yang sama, Hinata berjalan menuju ruang tengah di mana Kageyama biasanya bermarkas.

Televisi dibiarkan menyala, sedang menayangkan film tembak-tembakan. Berarti hanya lampunya yang mati. Hinata mencatat agar dia melaporkan kepada kepala asrama besok.

Pencahayaan yang tak seberapa menimpa seonggok daging bernapas di atas sofa. Dengkuran halus terdengar dari manusia terkapar itu. Hinata baru saja akan membangunkannya dengan berteriak di telinganya, membawa kabar baik bahwa dia baru saja diberi makanan gratis.

Sebelum itu terjadi, matanya jatuh pada kaleng-kaleng kosong di atas meja yang mengelilingi ponsel lima inchi milik Kageyama. Hinata mengernyitkan kening. Tidak biasanya Kageyama meminum sesuatu selain air putih dalam jumlah banyak. Dia tipe yang takut gemuk, katanya atlet yang baik harus menjaga nutrisi yang masuk ke tubuh.

Hinata memungut kaleng itu. Bau samar alkohol menguar dari sana. Hanya dengan pencahayaan minim dari televisi, dia menyipitkan mata, berusaha membaca label minuman.

Dan sebentar kemudian, pegangannya pada kaleng mengendur. Kerongkongan tanpa sadar berkontraksi, meneguk ludah kering.

Bunyi gesekan antarfabrik di belakangnya membuat kaleng itu merosot dari genggaman Hinata. Dia menoleh, mendapati Kageyama yang sedang mengusap mata sambil menguap.

Tanpa menunggu lama, Hinata segera menembakinya dengan rentetan pertanyaan.

"Kageyama, kau mabuk!? Ini bir, kan? Kau menghabiskan sebanyak ini? Hei, apa yang terjadi padamu sampai kau mabuk-mabukan begini? Kenapa kau tidak memberitahuku!? Apa yang terjadi selama aku pergi—"

"Berisik, Hinata-boke." Suara berat Kageyama terdengar berbeda. Lebih serak dan diseret—seolah mengeluarkan suara saja butuh konsentrasi besar. Hinata melipat kulit hidungnya ketika bau alkohol yang sama menguar dari tubuh sang setter. "Kenapa baru pulang sekarang. Kenapa kau meninggalkanku di gimnasium. Katanya kau tidak akan pernah pergi dariku."

"Eh? Kenapa kau bilang begitu? Bukankah tadi kau yang paling semangat saat pelatih bilang akan melatih kalian—grup superhero tim voli Chuo—secara khusus?" Nada Hinata sarkas—luka karena ditolak pelatih belum sepenuhnya menutup. "Karena rupanya aku belum pantas untuk masuk gerombolan pemain unggulan, aku meninggalkanmu yang sedang berlatih untuk mencari pekerjaan sampingan baru. Memangnya ada apa sampai kau… mabuk begini?"

Kageyama menggumam tidak jelas, menguap sekali lagi. "Aku tidak mabuk."

"Iya, kau jelas-jelas mabuk." Hinata memberi Kageyama tatapan tidak setuju. Bukan berarti yang bersangkutan peka dan sadar diri, dia malah berusaha mengambil satu kaleng baru dari atas meja—dan menyerah karena terlalu malas. "Apa yang harus kulakukan pada orang mabuk? Oh iya, kau butuh air minum? Atau obat sakit kepala? Akan kuambilkan."

"Tidak. Tidak…" Kageyama menggeleng lambat. "Aku tidak butuh apapun. Aku hanya butuh Hinata."

Seolah itu adalah hal paling natural untuk dilakukan, Kageyama melingkarkan kedua tangannya di sekitar pinggang Hinata. Membenamkan kepala dan menghembuskan napas hangat pada lehernya. Bulu kuduk Hinata menari-nari.

"Kageyama? Apa yang kau lakukan?" Hinata menggeliat tidak nyaman. Firasatnya buruk. Kageyama sedang mabuk saat ini, otaknya memperingatkan berkali-kali. Dia tidak memiliki seluruh kesadarannya. "Ugh—Kau bau alkohol! Lepaskan, Kageyama!"

"Kau lucu." Bibir Kageyama berlarian di atas telinga yang memerah. Mulut terbuka, memamerkan deretan gigi, dan menggigit pelan. Aksi kecil itu memercikkan aliran listrik. Hinata tersengat hingga ke ubun-ubun. "Aku jadi ingin memakanmu, Hinata. Kau tidak akan menolakku, kan? Kau sudah berjanji."

"A-Apa yang… ah!"

Tubuh Hinata ditarik paksa. Kekuatan orang mabuk yang menginginkan sesuatu berkali-kali lipat lebih besar dari normalnya. Dorongan dan rontaan Hinata tidak berefek. Dalam waktu singkat, dia sudah duduk manis di atas pangkuan Kageyama, wajah mereka hanya terpisah dua jengkal.

Hinata mendadak sekaku boneka, bingung harus bagaimana. Takut bergerak karena dia tidak ingin menyenggol benda sakral milik Kageyama di balik retsleting horizontal, sekian senti di bawah pantatnya sendiri. Tapi semakin takut untuk berdiam diri karena mata Kageyama terlihat berbahaya. Sangat berbahaya. Seperti elang yang bersiap menikam tikus, atau pemburu yang mengarahkan moncong senjata apinya pada rusa hutan.

"Hinata. Kau pernah mabuk?" Kageyama mengusapkan pipinya pada leher Hinata.

"B-Belum," jawab Hinata tidak nyaman. Mencoba menarik dirinya mundur, tapi tangan Kageyama terlalu kuat seperti semen yang mengeras di atas tubuhnya.

"Kau harus mencobanya. Rasanya nikmat. Kau jadi bisa mengatakan, 'Persetan dengan dunia dan orang-orang!' setelah kau meminumnya."

Tangan Kageyama terjulur, meraih sesuatu di balik punggung sang middle blocker; sebuah kaleng bir yang masih utuh. Jari telunjuk membuka tutup dengan mudah. Bunyi besi yang terbuka beriringan dengan busa-busa yang membumbung naik menuju lubang kaleng, menumpahi sedikit tangan Kageyama. Dia menenggak minuman itu seperti orang kekeringan di padang pasir. Jakunnya bergerak-gerak dengan menggoda. Hinata memindahkan pandangannya ke arah lain, berusaha memberontak dengan hati-hati.

"Eng. Aku dapat dua porsi yakisoba dari bosku. B-Bagaimana kalau kita makan saja?"

Persuasi diabaikan. Kageyama membuang kaleng yang terkosongkan dalam waktu setengah menit itu ke sembarang arah. Telapak tangan menggerayangi belakang leher Hinata, di mana anak-anak rambut berada. Dia menarik helai-helai itu pelan, lalu bergerak naik. Kepala belakang Hinata sudah menjadi teritori baru tangan Kageyama yang sibuk menjamah, menyisir, menjambak.

Lalu wajahnya mendekat, dan tangan pada kepala Hinata mendorongnya maju. Kepala Hinata membunyikan sirine darurat.

"Hentikan, Kageya—mmph!"

Mulutnya yang setengah terbuka disegel oleh sepasang bibir lain yang licin. Bir yang masih mendekam dalam mulut Kageyama mengalir tanpa halangan menuju rongga mulut Hinata. Beberapa mengalir dari sudut mulut, mengotori wajah. Segera, sensasi panas dan pahit likuid beralkohol itu menyerang indra pengecap. Hinata tidak menyukai rasanya, atau mungkin hanya tidak terbiasa. Dia ingin terbatuk, memuntahkannya, tapi Kageyama persisten tak ingin melepaskan kuncian mulutnya.

Minuman fermentasi dalam mulut yang berpindah ke kerongkongan digantikan oleh organ liat dan basah yang bergerilya ke dalam mulut; lidah Kageyama. Seperti tiada hari esok, dia menyapu seluruh rongga mulut, mengabsen deretan gigi, menghisap lidah Hinata dan mengajaknya dalam sebuah pergulatan kecil. Cairan alkoholik di sekitar bibir digantikan oleh saliva yang menganak sungai.

Hinata bergidik. Saliva mereka telah bercampur. Napas saling bertukar. Kedua lututnya gemetar dan dia tak tahu harus apa. Bibir yang terpisah hanya berlangsung sedetik-sedetik, karena sebentar kemudian Kageyama akan kembali mengejar bibirnya. Mengecup dan terus mengecup, lagi dan lagi. Melumat rakus.

Hinata merasakan matanya berair. Sesak dalam dada dan panas dalam mulut, serta realita krusial bahwa Kageyama baru saja menciumnya lah yang membawanya begitu emosional.

Sekujur tubuh Hinata bergetar pelan. Syok berat dicampur kekurangan udara, pandangannya jadi mengabur. Bahunya merosot ke depan dan kepala tertunduk. Jantungnya sedang maraton dalam tempatnya pada rongga dada, dan dia tak membantu dalam menenangkan Hinata.

"Kenapa…" Hinata menendang-nendang lemah. Masih belum ada hasil. Air mata menuruni pipi yang menyepuh merah. "Kenapa kau melakukan ini, Kageyama? Hentikan…"

"Hinata." Kageyama menangkap dagu Hinata dengan kasar. Memaksanya menatap mata biru yang menggelap karena sesuatu—Hinata tahu itu adalah nafsu. Dirinya semakin gemetar. Lidah basah menyapu lelehan air asin dari wajah Hinata. "Kau cantik, Hinata. Menangislah lebih banyak."

Hinata menggeleng tanpa daya. "Kumohon, hentikan…"

Pegangan di sekitar pinggang mengerat. Hinata dipeluk semakin kuat. Permohonan sia-sianya ditelan oleh satu lagi ciuman panas. Deretan gigi menggigiti bibir ranum yang bengkak. Menghisapnya kuat, mengajak Hinata dalam buaian hasrat terpendam.

"Ngh… Kageyama! Hentikan! Kubilang henti—mmn!" Hinata mencakari punggung Kageyama. Pemuda itu seperti mendadak memiliki tubuh dari baja, dia seolah tidak merasa sakit. Dia terus membabi buta dalam menciumi Hinata, mengecup basah bibir perawan yang baru dia curi ciuman pertamanya.

Kemudian Hinata merasakannya. Sepasang tangan yang menuruni pinggang, memberi sentuhan halus, dan berakhir pada kedua daging kenyalnya di bawah sana. Hinata mengejang, merasakan betapa asingnya disentuh di bagian seperti itu. Dia meronta lebih ganas, mengamuk, merasa takut lebih dari apapun.

"Tch. Kau ini dari tadi berisik. Diam sebentar. Akan kubuat kau keenakan setelah ini. Ah. Sial. Hinata, kau gemuk sekali di bawah sana." Kedua tangan menekan daging itu. Lalu meremas, mula-mula eksperimental dan berakhir kuat karena gemas. Selang beberapa detik, dia akan menggantinya dengan pijatan sensual, memperlakukan kedua belahan daging Hinata seperti dada wanita atau adonan kue, menguleni tanpa ampun. Geletar-geletar aneh merasuki seluruh saraf Hinata, memberi informasi impuls berupa rasa nikmat.

"Hng—Henti… ah, hentikan." Hinata memejamkan mata. Jangan rasakan apapun. Jangan terbuai. "Kageyama, berhenti menyentuhku. Ini semua salah."

"Apanya yang salah." Mulut Kageyama berjalan-jalan, dari bibir merah Hinata, menuju rahang dengan kontur halus, daun telinga yang sensitif, dan berakhir pada leher tanpa cacat. "Bukankah kau selalu memimpikan ini. Kau mau melakukannya denganku, kan. Seks."

Seks. Kata tabu yang sering ditutup-tutupi di masyarakat, disamarkan secara halus. Selama ini Hinata hanya mengenal sinonim dari kata itu, belajar untuk menggunakannya daripada kata aslinya. Mendeskiripsikan aktivitas tersebut dengan banyak kata 'anu' dan 'itu' secara samar. Tapi Kageyama mengatakannya dengan begitu gamblang. Tanpa rasa malu, tanpa ada keraguan.

Hinata menggigil hebat mengingat perkataan Kageyama sebelumnya. Dia tak sanggup membayangkan situasi dirinya dan Kageyama bercengkerama di atas ranjang, sekalipun itu adalah hipotetikal—situasi 'andaikata' dan 'bagaimana kalau misalnya', bukan kenyataan.

Ini salah, pikiran rasionalnya memperingatkan. Kageyama adalah temanku. Teman kuliah, teman sekamar, teman satu tim. Bukan sepasang kekasih yang bisa melakukan sentuh menyentuh penuh hasrat buta seperti ini.

"T-Tidak! Aku tidak mau melakukannya, Kageyama. Tidak bisa. Kau adalah temanku—haaah!" Hinata membulatkan mata, lalu memejamkannya lagi ketika perpotongan leher dan bahunya digigit kuat. Rasa sakit mengambil alih. Mulut Kageyama yang terbuka menempel sepenuhnya, melumeri kulit Hinata dengan saliva. Lidah lincah menari-nari di atas tanda gigitan, menghisap tanpa ampun, dan menggigit-gigit lagi dengan lebih pelan. Hinata semakin kesulitan membentuk kata-kata.

"Bukankah selama ini kau bertanya-tanya. Bagaimana rasanya menyentuh orang lain. Bagaimana rasanya klimaks bukan karena mengawini tangan sendiri, tapi karena orang lain. Bagaimana rasanya memasuki atau dimasuki. Menggairahkan. Kau pasti sama denganku. Aku telah menanti-nantikannya sejak Kuroo-san memberitahuku bahwa seks itu hebat." Tangan Kageyama meremas daging Hinata dengan keras. Pekikan aneh lolos dari mulut Hinata. "Kau lelah, dan kau ingin pelarian. Ini adalah pelarian paling tepat untukmu, untuk kita. Tidakkah kau sadar, Hinata."

Jemari ramping bekerja sigap melepas sabuk Hinata. Menurunkan retsleting, dan menyusuri karet celana dalamnya. Naik lagi ke punggung, menancapkan kuku di sana, lalu turun lagi beberapa senti di atas pantatnya. Merasa terdorong akan napas Hinata yang menderu, jejari dingin itu mulai nekat, menelusup masuk di balik celana dalam, menuju lipatan di antara kedua belahan.

Hinata menarik napas karena kaget. Mendadak dia mengamuk, meninju dan menendang dan mencakar. "Tidak! Hentikan, Kageyama! Aku tidak mau! Lepaskan!"

Kageyama mendecakkan lidah. "Kenapa kau tidak mengerti!? Apa aku harus membuktikannya dengan aksi? Atau membuatmu tunduk secara paksa?"

Hinata diangkat dari pangkuan. Didorong hingga dia terbaring di atas sofa. Kedua pergelangan tangan ditawan di atas kepala oranyenya dengan tangan yang lebih kuat. Kakinya dibuka lebar, memberi banyak ruang bagi Kageyama untuk merangkak di atasnya, mendominasi dan menindih.

"Tidak!" Hinata menendang percuma. "Jangan! Lepaskan aku! Kumohon, jangan lakukan ini, Kageyama…"

"Aku menginginkanmu, Hinata." Dagu runcing diangkat. Manik cokelat dipaksa bertemu dengan bola biru dalam yang nampak tersesat, putus asa. Untuk pertama kalinya sejak dimabuk alkohol, ekspresi paling pedih merambati wajah Kageyama. Kedua alis terkekuk halus, kening terlipat, dan mata berkilat basah seakan dia bisa menangis saat itu juga.

Hinata berhenti memberontak. Hatinya teriris. Entah mabuk atau tidak, wajah Kageyama yang dirundung duka membuatnya ikut bersedih.

"Hinata…" bisiknya penuh afeksi. Telapak tangan yang lebar membelai pipi Hinata. Mengusap lembut, dan segala aksi kasarnya bersembunyi untuk sementara. "Aku menyukaimu, Hinata."

Mata cokelat melebar penuh. Udara dari paru-paru terhembus kasar, seakan dadanya sedang ditinju dengan menyakitkan. "A… Apa?"

Apa kata Kageyama barusan?

Hinata mencoba membebaskan kedua tangannya. Kekuatan Kageyama tidak mengendur selama dia berubah sentimental. Umpatan lirih mengucur dari mulut bengkak Hinata. "K-Kau salah, Kageyama. Kau tidak mengatakan itu dengan sepenuh hati. Kau sedang mabuk. Kau hanya bernafsu padaku sesaat—"

Kageyama memaksa ibu jarinya melewati kedua belah bibir Hinata, melesak ke dalam rongga mulut hangatnya. Jari itu menekan-nekan lidah Hinata, bergerak-gerak lincah maju mundur, dan hampir membuat si kepala oranye muntah karena Kageyama memasukkannya terlalu dalam. Saliva membanjiri area bibir sekali lagi. Saat jari itu ditarik, Hinata sibuk terbatuk tanpa bisa mengucapkan sumpah serapah.

"Hinata. Hinatahinatahinata—" Kageyama membungkuk, meraup bibir Hinata sekali lagi dalam ciuman dalam. "Aku menginginkanmu. Aku ingin melakukannya denganmu. Aku ingin memilikimu."

Keganasan yang sempat menghilang kembali hadir begitu saja. Dia menaikkan ujung kaus merah bergambar maskot aneh yang Hinata kenakan, terus naik hingga fabrik itu terlipat di bawah tulang selangka. Jemari yang terawat menjamah seluruh jengkal kulit yang terekspos. Pinggang ramping, perut dengan lekukan otot yang pas, tulang rusuk kokoh di bawah daging, dan bagian tengah dadanya yang terasa sesak. Mata biru tajamnya ikut menelanjangi bagian yang tak tampak, membuat bulu roma Hinata meremang.

Saat jari-jari itu mendarat di atas salah satu tonjolan pada dadanya, kepala Hinata mendengingkan alarm keras.

"Sudah cukup! Hentikan sekarang juga, Kage—"

"Diam dan biarkan aku melakukannya!" Kageyama membentak, kesabaran hilang ditelan amarah setelah berkali-kali ditolak. Tanpa mempedulikan tubuh di bawahnya yang meliuk tak mau diam, Kageyama menunduk.

Sepasang mata memudar. Kulit wajah memucat. Pergerakan Kageyama seakan sepuluh kali lebih lambat.

Tidak. Hentikan. Kageyama, jangan lakukan ini.

Mulutnya menjelajahi dada Hinata, memberi ciuman basah di atas kulit yang mengencang karena geli. Sekali, dua kali, belasan kali.

Tidak. Tidaktidaktidak.

Dia berhenti menggoda, mulai gusar dan tak sabar. Berpindah langsung ke atas puting yang mengeras sensitif, membungkus bagian itu dengan mulut hangat, dan—

"Tidak!"

Jeritan keras membelah kesunyian. Biner cokelat memerah, basah oleh air mata, dan bergetar rapuh. Mata yang sama memandangi Kageyama dengan pandangan membakar—panas. Meneriakkan perasaan yang mendesak-desak dalam hati rapuhnya; sakit, pedih, dan rasa terkhianati.

Segala restriksi yang Kageyama lakukan padanya mengendur. Dia sibuk mematung, menatap balik sorot penuh benci dari mata sewarna daun pohon kering yang biasanya bersahabat dan memaafkan. Mata itu selalu berhasil membuat harinya lebih baik. Memberinya harapan hidup, menuntunnya dari keterpurukan.

Sosok personifikasi matahari yang selalu cerah, optimis dan menyebalkan itu meredup. Seluruh otot dalam tubuhnya tremor selagi dia memeluk dirinya sendiri. Air mata menetes-netes dari ujung dagu. Mata Kageyama mengikuti arah alirannya dalam diam.

Ketika sebuah tangan mendekati pundak ringkih itu, bermaksud meminta maaf, memberi penenangan, Hinata menepisnya keras-keras.

"Jangan…" Hinata menggertakkan gigi. Membuang muka seperti tak sudi menatap Kageyama. "Jangan sentuh aku."

Kageyama membeku. Membiarkan tubuhnya didorong oleh Hinata. Menatap tidak mengerti pada sosok mungil yang berguling ke samping, berlari menuju kamarnya sendiri dan menutup pintunya dengan keras. Bunyi debaman itu menyisakan realisasi pahit yang dirasakan Kageyama.

Di dalam kamarnya, Hinata tertidur karena lelah menangis.

TO BE CONTINUED


Aww, you messed things up, Kags. D:

Dua atau tiga chapter lagi menuju lemon. Tapi omongan saya jangan terlalu dipercaya karena sekali lagi, saya sering berubah pikiran dengan cepat. Sorry. Orz

Percaya nggak percaya, saya menulis chapter ini sambil ndengerin Battle OST di game Xenoblade karangan Sawano Hiroyuki. Komposer favorit yay~ (ceritanya promosi) Padahal fik ini tentang slice of life, dan ga ada action atau battle-battle-annya. Tapi begitu saya coba dengerin lagu yang slow, malah ga mood. Aneh. XD

Oh iya, Hinata di sini memang lebih gampang menyerah. Kalau di chapter terbaru Haikyuu (awas spoiler) Hinata terus usaha walo merasa ditinggal Kageyama dan mendapat kata-kata jleb dari pak tua (yang ga perlu saya sebut siapa), di fik ini Hinata masih harus ragu. Soalnya, well, dia ada masalah berat di SMA dan pernah kehilangan mimpinya sekali. Jadi dia takut kesempatan itu hilang lagi.

Soal apa yang terjadi pada Kageyama pas Hinata pergi ke toko Akaashi sampe dia mabuk begitu, mungkin akan dijelaskan secara implisit di chapter depan.

Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir membaca, review, fav, atau follow. Tanpa kalian, fik ini tidak akan bisa saya selesaikan.

Terima kasih juga bagi reviewers tidak login/guest yang sudah repot-repot meninggalkan feedback. Untuk I-Gia-san, ada satu-dua karakter yang ada di tim lawan, kok. Di chapter ini juga ada. Tapi ga akan banyak pengaruh ke angst dan alurnya, sih. Just saying. X)

Oke, hint untuk next chapter, mungkin ada karakter baru. Dan nyesek-nyesek (semoga saya tega menulis angst buat OTP /sobs). Your feel train is going to depart soon, ladies and gentlemen, get ready!

See you in the next chapter!