Annyeong readers! Sudah menunggu lama kah? Mian, sya lagi ada ksibukan dg bisnis kcil2an. Jdi d sela-sela jadwal kliah yang pdat n istirahat dg ksibukan sya, akhirnya bisa nulis fanfic ini sedikit demi sedikit *Jdi bukit XD

Oh ya, sya hmpir smua readers mncoba tebak-tebak apa yang akan trjadi di FF ini. Bnarkah ssuai tbakan pra readers? Lngsung bca aja oke! Have a good time~

.

.

.

.

.

.

Tittle : Fly To The Sky

Genre : Comedy Romance

Rating : T

Main Cast :

Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Choi Siwon as Choi Siwon

Other Cast :

Shim Changmin as Shim Changmin

Lee Donghae as Cho Donghae

Kim Jungmyeon as Choi Suho

Choi Minho as Choi Minho

Kim Heechul as Cho Heechul *Genderswitch

Park Jungsoo as Choi Jungsoo *Genderswitch

Tan Hangeng as Cho Hankyung

Lee Hyukjae as Lee Hyukjae

.

.

.

.

.

Flashback

.

Author POV

CTAAR!

"Aaaakh...hiks...hiks..."

Dikediaman keluarga Cho, terdengar tangis yang teredam suara hujan deras disertai petir. Putra bungsu keluarga Cho yang berusia empat tahun menangis ketakutan karena hal itu. Dia benar takut pada petir, membuatnya terus menangis. Heechul dan Hankyung sudah berusaha membujuknya untuk berhenti menangis, namun tidak berhasil. Setiap petir datang, Kyuhyun akan langsung berteriak dan kemudian menangis.

Heechul yang emosinya selalu labil tampak berusaha menahan amarahnya melihat tingkah putranya itu. Ini sudah tengah malam dan waktunya untuk tidur. Dia tak begitu perduli jika dirinya yang tidak tidur, tapi yang terpenting adalah suaminya. Besok Hankyung harus pergi bekerja, dia tak mau suaminya kelelahan. Untung putra sulungnya tidak bertingkah seperti Kyuhyun. Donghae sudah tertidur di kamarnya tanpa terganggu sama sekali.

"Hannie, kau tidur saja. Biar aku yang bujuk Kyuhyun." Kata Heechul membujuk Hankyung yang terus menggendong Kyuhyun yang menangis.

Hankyung tersenyum tipis, "Gwenchana, Heenim. Kyuhyun akan sulit dilepas dariku jika sudah begini." Jawabnya.

Mendengar jawab suaminya membuat Heechul menghela napas panjang, diperhatikannya Kyuhyun yang masih menangis meski tidak sekeras tadi. Dia juga sedih melihat Kyuhyun setakut itu pada petir. Jika sudah begini dia akan sulit lepas dari Hankyung, anaknya itu sangat manja pada Appanya.

"Kyunie tidur di kamar Eomma dan Appa, ne? Gwenchana, eoh?" pujuk Heechul sambil mengelus rambut Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng dan menyembunyikan wajahnya di dada Hankyung.

Heechul mulai kehabisan kesabaran. "Eomma akan marah jika kau begini terus, Cho Kyuhyun!"

"Heenim..." tegur Hankyung pelan.

CTAR!

"Aaaaakh! Huwaaaaa...Appa!" Kyuhyun kembali menangis keras ketika suara petir kembali terdengar. Hankyung memeluk Kyuhyun sambil menimangnya, berharap putra kecilnya akan tenang.

Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Kyuhyun. Heechul segera membukanya dan terkejut ketika melihat siapa yang berada di depan pintu. Pelayannya dan Choi Siwon―tetangga di depan rumah mereka dengan rambut dan sebagian tubuh yang basah. Dia tahu Siwon pasti terbangun mendengar suara petir dan segera kemari karena tahu Kyuhyun sangat penakut pada petir. Tapi Heechul tak menyangka Siwon rela melewati hujan deras seperti ini.

"Chullie Eomma, aku kesini karena Kyuhyun pasti menangis. Boleh aku tidur dan menemaninya?"

Heechul masih terperangah sesaat sebelum kemudian tersadar. "G-geurom. Eomma akan mengambil pakaian kering untukmu."

Siwon pun mengangguk dan segera menghampiri Kyuhyun. "Kyunie..."

Kyuhyun menoleh sedikit sambil sesegukan. Ia langsung membalik tubuhnya ketika tahu itu Siwon. "Ciwon-hyung...hiks...hiks..."

"Ne, ini hyung Kyunie..." kata Siwon sambil merentangkan tangannya. Dan tanpa berpikir dua kali Kyuhyun langsung beralih memeluk Siwon dengan erat, meski sesekali isakan kecil masih terdengar.

Heechul agak lega karena sudah ada Siwon. Setidaknya Kyuhyun akan terlepas dari Hankyung dan suaminya itu bisa beristirahat. Tapi sepertinya ia harus memasangkan piyama baru untuk Kyuhyun, bajunya basah karena memeluk dapat dipastikan Siwon akan tidur bersama Kyuhyun, karena putranya itu tak akan bisa jauh-jauh dari anak laki-laki itu sampai pagi menjelang.

Sejak kecil semua orang yang mengenalku tahu tentang betapa rapuhnya aku. Tapi dengan keberadaanmu aku tahu, kau mampu menjadi kekuatan dan pelindungku. Menutupi kerapuhanku...

Flashback End

.

.

.

Beijing-China

.

.

Pagi menjelang, sinar masuk melalui jendela yang tirainya hanya tertutup separuh. Kyuhyun terbangun dan mengerang pelan karena wajahnya terkena sinar matahari pagi itu. Perlahan ia membuka matanya sambil merenggangkan badannya dan menguap lebar. Pemuda itu diam beberapa saat, mengumpulkan kesadarannya.

Diliriknya kearah sebelahnya, sudah tidak ada Siwon yang tidur disana. Ia kemudian melihat kearah jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi, dan tanpa sadar melihat kearah Siwon menaruh travel bagnya semalam. Dan benda itu masih ada disana, membuatnya mendengus pelan.

"Dia belum pergi, ya?" gumamnya kemudian bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dan menaruh pasta gigi diatas sikat gigi. Ia berjalan keluar kamar sambil menggosok giginya. Kebiasaan, Kyuhyun biasa melakukan itu.

Sejak kecil kedua orangtuanya kesusahan menyuruhnya gosok gigi, ia hanya mau menggosok giginya jika di gendong oleh Ayahnya dan berjalan-jalan menyusuri rumah mereka. Meskipun sekarang sudah tidak perlu digendong lagi, Kyuhyun masih punya kebiasaan itu. Menggosok gigi sambil berjalan.

Dilihatnya Henry sedang sibuk memasak di dapur, sementara Zhoumi duduk di meja makan sambil membaca koran. Henry lah yang lebih dulu menyadari keberadaan Kyuhyun. Pemuda manis itu tersenyum. "Good morning, twenty minutes before breakfast." Katanya sambil memotong sesuatu berwarna hijau yang membuat Kyuhyun bergidik ngeri. Dia benci sayur.

"Kyu, gosok gigimu dikamar mandi." Tegur Zhoumi tanpa melirik keponakannya itu sama sekali.

"Affa Omha shaha hihak herhah hehehuh! (Appa Eomma saja tidak mengeluh)," jawab Kyuhyun yang lebih mirip gumaman aneh yang sulit diartikan. Henry terkekeh mendengarnya.

Zhoumi hanya menghela napas sambil melanjutkan aktifitasnya, membaca koran. Kyuhyun berjalan menuju westafel, berkumur dan mencuci mulutnya. Ia terkejut melihat embun yang membuat jendela menjadi buram. Hujankah semalam?

"Semalam hujan ya?" tanya Kyuhyun pada Henry.

Henry mengangguk, "Semalam hujan deras, bahkan ada petir. Kau tidak mendengar?"

"Ani." Jawabnya singkat. Pemuda itu tampak berpikir, heran karena ia tidak tahu kalau semalam hujan. Apalagi Henry bilang kalau ada petir, Kyuhyun sensitif dengan suara petir. Biasanya dia akan terbangun meski sebelumnya ia tidur dengan nyenyak.

"Apa karena aku kelelahan, ya?" gumam Kyuhyun pelan.

"Kau bilang apa, Kyu?" tanya Henry, kurang mendengar apa yang Kyuhyun gumamkan.

Kyuhyun menggeleng dan menuju kulkas, mengambil botol air mineral dan meminumnya. Dan basa-basi ia kemudian bertanya, "Dimana si Kapten Choi?"

Tanpa sadar Henry tersenyum, "Siwon-ssi? Dia bangun pagi-pagi sekali hari ini. Katanya mau jogging. Waeyo?"

Kyuhyun mengangguk saja tanpa menjawab. Ia kemudian berjalan menuju sofa di depan TV dan mulai menonton. Sementara itu Henry dan Zhoumi saling berpandangan, tersenyum penuh arti.

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

"Selamat pagi para pendengar. Bagaimana pagi anda semua? Semoga baik ya. Apalagi disuasana yang sejuk setelah hujan deras semalam. Udara Beijing sangat sejuk di musim panas. Ternyata perubahan cuaca yang berubah-ubah karena efek Global Warming ini memberi sedikit keuntungan, benar?"

Siwon tersenyum tipis ketika mendengar kata-kata penyiar radio yang ia dengarkan. Ia menguasai bahasa Mandarin, jadi dia mengerti apa yang ia dengar. Sambil jogging di taman yang cukup dekat dari rumah Zhoumi, Siwon mendengarkan salah satu siaran radio dari ponselnya menggunakan headset. Apalagi ketika mendengar kata hujan, senyumnya terkembang tanpa bisa di tahan.

Ia teringat kejadian semalam. Kejadian yang membuatnya memiliki harapan...

.

Flashback

.

CTAR!

"Ngghhh..."

Siwon membuka pelan matanya yang terasa berat ketika mendengar suara gemuruh petir dan rintihan pelan. Ia masih belum benar-benar terbangun karena mengantuk.

"Ngghhh...Siwon-hyung..."

Matanya langsung terbuka lebar dan ia sadar sepenuhnya. Dipandangnya pemuda yang merintih di sampingnya. Kyuhyun tidur dengan raut wajah yang tampak ketakutan, tubuhnya bergetar samar. Ia dapat melihat itu karena Kyuhyun tidur menghadap kearahnya.

"Ne, ini hyung Kyunie..." ucap Siwon perlahan mengelus punggung pemuda yang dicintainya itu.

Perlahan rintihan itu tak terdengar, tubuh Kyuhyun sudah tidak gemetar. Pemuda itu merapatkan tubuhnya dalam pelukan Siwon. Siwon membiarkannya, dan balas memeluk Kyuhyun, berusaha membuat Kyuhyun merasa nyaman.

Siwon melirik kearah jendela, kilat dan gemuruh petir serta rintikan hujan dapat terlihat. Melihat itu Siwon jadi teringat masa kecilnya. Saat kecil, Kyuhyun takut sekali pada petir. Dan hanya akan diam jika Hankyung dan dirinya lah yang membujuk Kyuhyun. Sepertinya Kyuhyun masih memiliki ketakutan pada petir meski tidak seperti dulu.

"Kyunie...biarkan hyung seperti dulu, ksatria pelindungmu dari petir..." gumamnya sambil terus mengelus punggung Kyuhyun. Dikecupnya pelan dan cukup lama pucuk kepala pemuda itu. Dan kali ini cukup lama ia baru tertidur. Ketika ia benar-benar merasa Kyuhyun aman...

Aman dalam pelukannya...

.

Flashback End

.

Ya, kejadian semalam mampu membuat Siwon sangat bersemangat. Ia bangun dengan tubuh yang segar, mencium pipi Kyuhyun sekilas sebelum kemudian pergi. Dia tahu, akan ada teriakan dan pukulan jika Kyuhyun tahu kalau Siwon memeluk dan menciumnya semalam.

Setelah merasa sudah cukup jogging ditaman, ia memutuskan untuk kembali ke rumah Zhoumi. Tak lama berjalan, dia sampai dan melihat kearahruang tengah yang menyatu dengan dapur. Henry sedang sibuk menata makanan diatas meja, Zhoumi sibuk membaca koran, dan Kyuhyun tampak sibuk memainkan PSPnya. Pemuda itu memang tidak bisa lepas dari game.

"Siwon-ssi, pergilah mandi. Setelah itu ikut sarapan bersama kami, eoh?" kata Henry.

Siwon tersenyum dan mengangguk, melirik kearah Kyuhyun yang ia ketahui pemuda itu belum mandi. Lihat, dia masih memakai pakaiannya semalam dengan rambut yang masih acak-acakan. Zhoumi yang melipat korannya melihat kearah yang dilihat Siwon dan mendesah kesal.

"YA! Cho Kyuhyun! Kau belum mandi, eoh? Kau mau mandi jam berapa? Cepat mandi dan ikut sarapan." Omel Zhoumi.

Bukannya takut, Kyuhyun malah terkesan tak peduli. Ia masih sibuk bermain game dan berkata, "Dia mau pakai kamar mandinya. Aku nanti saja. Tidak penting aku sudah mandi atau tidak, gadis-gadis tetap mencintaiku."

Siwon hampir saja tertawa, tapi ia menahannya. Apa-apaan itu? Entah kenapa Kyuhyun bisa begitu pede dengan wajah ukenya itu. "Gadis-gadis mana? Apa ada gadis yang menyukai pria berwajah uke sepertimu." Ejeknya.

Kyuhyun menghentikan aktifitasnya bermain game dan mendelik tajam pada Siwon. "Kau berniat menambah luka diwajahmu, eoh?"

Siwon memperlihatkan smirknya, "May be yes, may be..."

Kyuhyun berdecak mendengarnya. Pemuda itu segera beranjak dari sofa dan pergi ke kamar.

BRAK!

Dibantingnya pintu kamar, membuat kaget Henry dan Zhoumi. Siwon hanya tersenyum tipis melihat tingkah Kyuhyun. Pemuda itu belum terlalu terpancing untuk bertengkar lagi dengannya.

Zhoumi hanya menghela napas. "Sampai kapan kau mau melakukan ini?" tanyanya pada Siwon.

Siwon hanya tersenyum tipis dan berkata, "Sampai...dia kembali pada Choi Siwon."

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Kyuhyun POV

"Menyebalkan! Dia pikir siapa dirinya! Choi sialan!"

Tiada hari tanpa mengeluh, rasanya mengeluh menjadi kebiasaanku sekarang. Apa ada yang marah jika aku mengeluh? Akan kupukul orangnya. Dia tidak tahu betapa menderitanya aku belakangan ini karena semua perubahan drastis ini. Hah...hidupku yang penuh kesenangan hilang karena Eomma! Dasar Ratu Iblis! Memang dialah yang perlu disalahkan atas semua kesialan yang menimpaku ini.

Aish! Rasanya badanku tetap saja panas meski diguyur air dingin begini. Padahal jadwal penerbanganku jam empat sore nanti, dan syukurlah kali ini aku tidak akan satu pesawat dengan pria sialan itu. Setelah selesai mandi aku dengan cepat memakai bathrobe dan berdiri di depan closet, memakai krim wajah.

Wajah baby faceku ini butuh perawatan ekstra. Kulihat pantulan diriku di cermin, hah...lagi-lagi aku hanya menghela napas. Aku dapat merasakan wajahku sangat lusuh. Stress membuatku jadi begini. Dan lagi-lagi Ratu Iblis lah yang membuat ini terjadi, dan bagai sedang menyanyikan lagu sountrack Eommaku yang gila melakukan featuring dengan si Choi bodoh. Mengacaukan hidupku bahkan di Korea sekalipun.

CKLEK!

Seseorang masuk ke kamar mandi, membuatku menoleh dan melotot melihat siapa yang masuk. Si Choi itu masuk ke kamar mandi dengan tidak berdosanya.

"Yak! Apa-apaan kau! Masuk ke kamar mandi saat aku ada disini!?" teriakku kesal.

Tapi dia hanya menaikkan sebelah alisnya, "Waeyo? Kau sendiri yang tidak mengunci pintunya." Jawabnya.

Benarkah? Tapi tetap saja tidak seharusnya dia masuk. Tadi kan dia tahu kalau aku pergi mandi. "Hajiman, kau tau aku tadi hendak mandi. Setidaknya ketuk pintunya dulu! Babo!"

Siwon hanya memutar bola matanya malas, kemudian berkata, "Okay, I'm sorry. Cepatlah, aku harus berangkat ke bandara."

Ia akan berbalik tapi kemudian malah melihat kearahku lagi, membuatku berkacak pinggang kesal. Dia maunya apa sih!?

"Apa lagi, Choi?" tanyaku, lebih mirip ancaman.

Siwon berdehem pelan, "Kau harus memakai bathrobemu dengan benar." Jawabnya sebelum kemudian menutup pintu kamar mandi.

Aku tergelak heran sebelum kemudian memandang ke bawah, dan kaget setengah mati. Bathrobeku tidak terpasang sepenuhnya, sebelah nippleku terlihat. Sontak aku dapat merasakan wajahku memanas yang kuyakini sudah merah. Aish, memalukan!

"Cho Kyuhyun...aish, neo jinja baboya..." desisku sambil membenarkan bathrobeku dan berusaha melupakan kejadian memalukan ini. Choi Siwon melihat nippleku...Aish! Brengs*k!

Kyuhyun POV End

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Author POV

"Yak! Cho Kyuhyun! Lihat cara makanmu. Aish..."

Siwon melirik kearah Kyuhyun ketika Zhoumi meringis kesal melihat cara makan pemuda itu. Lagi-lagi Siwon hampir tertawa ketika melihat Kyuhyun makan belepotan. Ada beberapa butir nasi di pinggir bibirnya, membuatnya terlihat lucu.

Tapi dengan cepat Siwon mengendalikan dirinya dan memasang wajah datar. "Sebenarnya berapa umurmu?" tanyanya dengan nada mengejek.

Kyuhyun mendelik kesal. "Mhehangha hehafa!? Afa uhuhanha hehanhu? (Memangnya kenapa!? Apa urusannya denganmu?)" jawab Kyuhyun dengan mulut penuh nasi.

Zhoumi memandang jijik keponakannya ini dan langsung melempar serbet kearah Kyuhyun. "Telan dulu makananmu baru bicara. Aish, terlalu lama tinggal di negeri orang barat kau tidak punya sopan santun!" omelnya.

"Aku lahir di Kanada, jadi aku juga tidak punya santun?" Semuanya menoleh kearah Henry yang memasang wajah sedih, matanya berair. Zhoumi merasa bersalah karena mengatakan itu segera menggenggam tangan istrinya. Siwon dan Kyuhyun menahan tawa, dan langsung menyadari kalau mereka melakukannya bersamaan. Kyuhyun mendelik kesal sementara Siwon menaikkan bahu tanda tak peduli.

"Henry-ah, bukan begitu. Aku hanya membicarakan Kyuhyun, bukan kau sayang..." ujar Zhoumi.

Wajah Henry berubah cerah, "Jinja?"

"Ne, aku hanya mengatai keponakanku ini." Kata Zhoumi lagi.

Mendengar perkataan Zhoumi, membuat Kyuhyun hanya menghela napas kesal. Dan menyuap mulutnya dengan nasi hingga penuh, mengunyah dan menelannya dengan kesal.

"Uhuk! Uhuk!" Dan karena ulahnya sendiri ia tersedak, tentu saja. Menjejal mulut dengan banyak nasi bukan hal baik.

Kyuhyun memukul dadanya karena tersedak ketika Siwon menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya pada pemuda itu. Sesaat Kyuhyun hanya melirik gelas yang disodorkan pria itu, tapi tidak ada waktu untuk berpikir karena ia kesulitan bernapas. Dengan segera ia menerima sodoran gelas itu dan meminumnya hingga tandas.

"Gomawo." Ucap Kyuhyun. Sebenci apapun ia pada Siwon, pemuda itu merasa adalah kewajiban baginya untuk berterima kasih pada orang yang menolongnya.

Siwon menatap pemuda itu dan mengangguk sekilas, sebelum kemudian melanjutkan sarapannya. Dan tanpa keduanya sadari, Zhoury Couple tersenyum melihat interaksi mereka. Tapi senyum mereka memudar ketika kemudian Kyuhyun berkata, "Kau akan pergi setelah sarapan, kan? Aku muak melihat wajahmu."

"Ya, aku tidak mau berlama-lama. Ada iblis kecil yang selalu memasang mata tajam kearahku." Jawab Siwon tenang.

BRAK!

"Yak!" Kyuhyun menggebrak meja dan berteriak kesal. Iblis kecil? Yang benar saja, batinnya.

"Terima kasih atas sarapannya, Henry-ssi. Masakanmu enak sekali." Kata Siwon tanpa memperdulikan Kyuhyun.

Henry hanya tersenyum canggung karena dia dipuji saat situasi sedang mencekam. Kyuhyun benar-benar memasang wajah seram sekarang.

"Zhoumi, gomawo. Aku akan bersiap ke bandara sekarang." Ujar Siwon sebelum kemudian mengelap mulutnya dengan serbet dan beranjak dari kursinya.

"Geurae! Pergi yang jauh brengs*k!" kata Kyuhyun kesal.

"Kyunie, mulutmu benar-benar..." desis Zhoumi.

Henry hanya menghela napas pasrah melihat tingkah keponakannya itu. "Kau benar-benar mirip Heechul eonni, Kyunie. Mulutmu lebih pedas dari cabe Caroline Reaper."

*(Caroline Reaper adalah cabe terpedas di dunia versi Guiness Record)

Zhoumi mengerjap bingung melihat istrinya. "Apa itu cabe Carro...cabe apa?"

"Carroline Reaper. Itu cabe terpedas di dunia, ge." Jawab Henry lagi-lagi dengan polosnya, "Aku pernah mencicipnya. Rasanya enak tapi pedasnya luar biasa, mulutku hampir terbakar rasanya."

"Wah...kau benar. Heechul Noona dan Kyunie memang punya mulut seperti cabe itu." Jawab Zhoumi takjub.

Sementara itu Kyuhyun yang masih kesal dengan tingkah Siwon tadi mendelik kesal pada keduanya, sebelum kemudian memasang wajah sedih. "Kalian berdua jahat sekali..." keluhnya.

"Kyunie...mianhae." kata Henry merasa bersalah.

Tapi berbanding terbalik dengan Zhoumi yang malah tersenyum senang. "Menyenangkan mengejekmu keponakanku yang seorang uke manis."

Dan lagi-lagi wajah Kyuhyun kembali kesal dan berteriak dengan sangat keras. "DASAR CINA KURANG AJAR!"

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Siwon merapikan barang-barangnya ketika Kyuhyun masuk. Pemuda itu hendak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia berjalan acuh melewati Siwon dan dengan sengaja menyenggol paper bag Siwon hingga jatuh.

"Ups! Sorry..." kata Kyuhyun dengan nada mengejek. Ia kemudian berbaring diatas tempat tidur sambil mengecek ponselnya.

Siwon melirik Kyuhyun sebelum kemudian mengambil barang-barang yang jatuh dari dalam paper bag. "Hah...Cho Kyuhyun benar-benar kehilangan matanya." Ejek Siwon.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari ponsel dan mendelik tajam. "Apa kau bilang?"

"Selain kehilangan matanya, dia juga kehilangan telinga." Kata Siwon lagi.

"Yak!"

"Kapan ya dia kehilangan mulutnya?" ucap Siwon, lebih mirip pengharapan dari pada pertanyaan.

Kyuhyun tampak sangat kesal. Awalnya dia mau mengerjai Siwon karena sudah melihat sesuatu yang tidak pantas saat ia di kamar mandi. Tapi ternyata Siwon malah mengerjainya balik. Aish! Dia bukan lawan yang mudah! Batin Kyuhyun.

"Yak, Choi Siwon." Panggil Kyuhyun.

Siwon menoleh, "Waeyo?"

"Kau salah makan obat ya? Kenapa sejak kemarin kau bersikap aneh sekali?" tanya Kyuhyun.

Ya, ketika pertama kali bertemu setelah sekian lama, Siwon tampak sangat merasa bersalah pada Kyuhyun. Tapi sekarang dia malah memusuhinya. Siwon itu melakukan kesalahan besar padanya, harusnya dia meminta maaf.

Siwon mengernyitkan alisnya, "Bersikap aneh apa maksudmu?"

"Ya...aneh saja." Kyuhyun terlalu gengsi untuk mengatakan apa yang ada dibenaknya sekarang.

"Aku bukan peramal, Kyuhyun. Jika kau tak mengatakannya, aku tak akan pernah tahu." Ujar Siwon kemudian menutup travel bagnya dan bersiap pergi.

"Kau tak mau mengatakannya?" tanya Siwon kemudian.

Kyuhyun menatap datar pria itu cukup lama. "Think by yourself, Napeun namja." Ucapnya.

Beberapa saat tak ada kata yang mampu keluar dari mulut Siwon. Pria itu berjalan kearah Kyuhyun dan menyentuh pelan keningnya, dan entah bagaimana Kyuhyun tidak bergerak sama sekali. Mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti sesaat.

"Hahahaha...Kau tidak demam. Kendalikan dirimu, Kyu. Kau mulai gila." Kata Siwon dengan nada mengejek.

Kyuhyun langsung memasang wajah kesal dan melempar Siwon dengan bantal. "Yak!"

"Kau perlu ke dokter Kyu! Periksakan jiwamu yang aneh itu hahahaha!" kata Siwon sebelum kemudian mengambil barang-barangnya dan keluar.

"Taksi yang kau pesan sudah datang." Kata Zhoumi ketika Siwon keluar dari kamar.

Siwon mengangguk dan menepuk pelan bahu temannya itu. "Ne, gomawo sudah membiarkanku menginap." Ujarnya.

Zhoumi tersenyum, "Aish...jangan berterima kasih. Lain kali datang lah bersama putramu. Aku ingin melihatnya."

"Aku akan menyiapkan banyak hadiah untuk Suho jika dia datang kemari." Kata Henry sambil merangkul pinggang Zhoumi.

"Ne, annyeong." Kata Siwon kemudian melirik kearah pintu. Kyuhyun berdiri disana sambil berkacak pinggang dan memasang wajah marah. "Sampai bertemu, Cho Iblis." Ejeknya sebelum kemudian pergi.

"Cih! Dia tetap melawanku sampai akhir..." desis Kyuhyun sambil berjalan kearah Henry dan memeluk bibinya itu. "Imo, aku mau chesse cake. Bisakah kita membelinya?" pinta Kyuhyun manja.

"Ne, kau boleh beli apapun asal tidak menguras uang belanja bulananku." Kata Henry mengelus pelan pipi Kyuhyun.

"Kau baru memanggil Henry begitu jika sedang meminta. Dasar." Kata Zhoumi kemudian mengacak rambut Kyuhyun.

"Aish, jangan memperlakukan aku seperti anak kecil." Keluh Kyuhyun kemudian berlalri ke kamarnya. "Aku akan bersiap sekarang, Imo~" katanya sebelum kemudian menutup pintu.

Zhoumi tertawa melihatnya. "Henry-ah, bukankah dia malah seperti anak-anak? Dia pasti tertawa riang karena kau mengajaknya pergi."

Henry terkekeh pelan, "Ne, Kyunie memang masih anak-anak."

Tanpa mereka sadari, Kyuhyun duduk diam di dalam kamar. Matanya melihat kearah jendela, melihat taksi yang berjalan menjauhi rumah Zhoumi.

"Andwae...Cho Kyuhyun. Sadarkan dirimu..." gumamnya pelan.

Author POV End

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Incheon-South Korea

.

.

Siwon POV

"Jinja!? Wah...daebak."

Aku hanya tersenyum melihat reaksi Donghae. Ya, aku baru sampai di Korea sekitar satu jam yang lalu. Berhubung aku sampai bertepatan dengan jam makan siang, aku dan Donghae pun memutuskan untuk makan siang bersama di salah satu restoran yang berada dalam lingkungan bandara. Dan aku baru saja memberitahunya tentang apa yang terjadi semalam.

"Beruntunglah kau karena Zhoumi tinggal disana. Jika tidak, kau mungkin tidak akan tahu apa yang Kyuhyun rasakan. Bahkan kalian tidur berdua." Kata Donghae kemudian menyantap makan siangnya.

"Ne, Zhoumi dan Henry sangat membantu." Ujarku.

"Geuraeseo, apa rencanamu sekarang?" tanya Donghae.

Aku berpikir sejenak. "Mungkin...aku akan meminta Shindong-ssi memperbanyak jadwal terbangku bersama Kyuhyun. Aku...ingin memperbaiki hubungan kami secara perlahan. Ya berawal dari permusuhan, tapi aku ingin itu berubah nantinya. Setelah kejadian semalam, aku benar-benar bertekad untuk meraihnya lagi." Jawabku terus terang.

Donghae tersenyum mendengar jawabanku. "Kyuhyun itu seperti Eomma. Berpura-pura kuat padahal mereka butuh dengan orang lain. Mereka berdua sama-sama rapuh..." ujarnya kemudian memandangku serius, "Kau benar-benar harus menjaga dongsaengku, Siwon-ah."

Aku mengangguk paham. Aku akan berusaha agar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Meskipun mungkin jalannya tidak mulus, aku akan berusaha sampai akhir. Ya, sampai akhir...

"Good luck my bro. I know you can do it." Kata Donghae lagi.

Kami kemudian menyantap makan siang kami, dan Donghae harus kembali bekerja. Sementara aku akan kembali ke rumah. Aku sudah merindukan putraku yang manis.

Siwon POV End

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Beijing-China

.

.

Author POV

Kyuhyun tiba di Beijing International Airport sekitar pukul tiga sore, bersiap melakukan briefing. Dilihatnya di ponsel, siapa yang akan menjadi partnernya nanti. Kapten Lee Sungmin, seorang wanita. Kyuhyun tersenyum tipis, dia tahu penerbangan kali ini akan menyenangkan. Mengingat kaptennya seorang wanita, dan dia adalah penakhluk wanita.

Kyuhyun berjalan menuju kantor Maskapai Korean Airlines ketika―Bruk! Travelbag dinasnya tidak sengaja menyenggol tas seprang pria dan membuatnya jatuh.

"I'm sorry, sir." Kyuhyun segera meminta maaf dan membantu pria itu mengangkat tasnya. Saat itulah tanpa sengaja tangan mereka bersentuha, membuat Kyuhyun langsung melepaskan tangannya.

Pria itu tersenyum, "No, problem. Thank you." Jawabnya sebelum kemudian pergi berlalu.

Kyuhyun pun juga tersenyum dan melanjutkan perjalanannya, tapi langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang, melihat punggung pria yang ditabraknya tadi. Alisnya berkerut, dia merasa pernah melihat pria itu. Entahlah, apa dia mengenalnya? Tapi inikan Beijing.

"Mungkin hanya perasaanku saja." Gumamnya sebelum kemudian melanjutkan langkahnya.

Begitu sampai di kantor maskapai, ia menyapa beberapa cabin crew yang tentu saja adalah wanita. Dan seperti biasa teriakan tertahan dari wanita-wanita itu selalu di dengar Kyuhyun.

"Oh ya, boleh aku bertanya. Dimana Kapten Lee Sungmin?" tanya Kyuhyun pada Sunny, salah satu pramugari.

"Kapten Lee? Dia belum datang, mungkin sebentar lagi." Ujar Sunny.

Kyuhyun sedikit penasaran karena belum pernah melihat partnernya itu. Sebenarnya ia juga belum banyak mengenal seluruh Kapten-Kapten di maskapai ini.

"Ah, itu Kapten Lee."

Kyuhyun segera menoleh dan melihat kearah pintu. Seorang wanita dengan seragam pilotnya, tubuhnya sangat proposional dengan tinggi kira-kira 168 cm, kakinya sangat jenjang dan slim. Lingkar pinggangnya sekitar 46 cm, dan payudara ukuran A. Sangat pas dengan berat badan 56 kg. Bagaimana ia bisa mengetahuinya? Kyuhyun sudah bertahun-tahun dikelilingi wanita cantik, tentu sudah sangat mengetahui detail seorang wanita hanya dengan sekali lihat.

"Annyeonghaseyo, Kapten Lee. Cho Kyuhyun imnida, mohon kerjasamanya." Kyuhyun memperkenalkan dirinya dan menyodorkan tangannya.

Lee Sungmin, melirik Kyuhyun kemudian tersenyum tipis. "Aku sudah mengenalmu, kau putra Cho Sajangnim. Kemarin kau membuat masalah dengan Kapten Choi, kan?" ujar Sungmin santai, lebih terkesan datar. Dia menerima jabatan tangan Kyuhyun.

"Ne, aku harap hubungan kita tidak seperti hubunganku dengan Kapten Choi." Jawab Kyuhyun, ada sedikit nada menggoda. Meskipun dia sedikit kesal karena Sungmin mengungkit masalahnya kemarin, tapi dia tetap harus profesional. Lagipula wanita ini terlalu menarik untuk tidak digoda.

Sungmin melepas topinya dan berkata, "Aku juga harap begitu, jangan membawa masalah pribadi ke Kokpit."

"Ayo, kita bersiap untuk briefing." Perintah Sungmin.

"Ne." Jawab seluruh cabin crew, mereka pun bersiap menuju pesawat.

Sungmin dan Kyuhyun berjalan paling belakang. Kyuhyun tersenyum melihat Sungmin mengikat rambut panjangnya. "Sepertinya anda perlu tatanan rambut baru, Kapten. Rambut pendek mungkin lebih cantik."

"Terima kasih untuk sarannya, tapi aku lebih suka tatanan rambutku sekarang." Jawab Sungmin dengan senyum singkat.

Hmmm...inilah yang Kyuhyun cari, wanita ini menarik karena 'Dia tampak tak tertarik pada Cho Kyuhyun'. Kyuhyun pun tersenyum mendengarnya. "Ya, anda memang akan tampak cantik dengan gaya rambut apapun."

"Jadi aku akan tetap cantik dengan rambut yang acak-acakan." Kata Sungmin. Mereka masih berjalan berdampingan.

Kyuhyun memperlihatkan smirknya. "Tentu saja, apa lagi jika rambut acak-acakan itu ada karena..."

"Tidur dengan seorang pria..." Inilah trik Kyuhyun, berbisik di telinga wanita yang menjadi targetnya. Sengaja menghembuskan napas perlahan, menggoda wanita itu. Sungmin tersenyum dengan tingkah Kyuhyun ini.

Mereka tiba di depan pintu lapangan terbang, Kyuhyun dan Sungmin pun memperlihatkan ID Card pilot mereka. Dan begitu tiba di depan pintu pesawat, Sungmin menghentikan langkahnya. Ia memandang Kyuhyun dengan senyum. Tentu Kyuhyun merasa sangat senang karena hal itu, Sungmin sudah masuk perangkapnya.

Tapi ternyata―Bruk!

"Aakh!"

Kyuhyun merasakan sakit yang luar biasa ketika Sungmin menendang tulang kering kakinya, membuat pemuda itu melompat kesakitan. Dan bersyukurlah Kyuhyun karena seluruh cabin crew sudah masuk ke pesawat, jadi tidak ada yang tahu kejadian barusan.

"Dengarkan ini, co-pilot Cho. Jika kau berani menggodaku lagi, bukan hanya kakimu yang sakit. Akan kupastikan seluruh tubuhmu kesakitan. Dan saat itu terjadi kau hanya perlu bersiap melepaskan seragammu. Karena...aku adalah salah satu tim penguji tes simulasi akhir bulan ini." kata Sungmin sebelum kemudian kembali melangkah, tapi baru dua lagkah wanita itu kembali berhenti. Ia berbalik dan melihat Kyuhyun masih meringis kesakitan.

"Satu hal lagi. Aku sudah punya suami." Ujarnya dengan senyum manis yang bagi Kyuhyun sangat mengerikan sekarang.

"Aish! Shit!" umpat Kyuhyun kesal. Tangannya sibuk memijat pelan kaki kirinya yang ditendang Sungmin.

Ia menyesal karena menggoda wanita cantik yang ternyata istri orang. Sepertinya lain kali dia perlu melihat latar belakang wanita-wanita di maskapai ini sebelum menggodanya. Kyuhyun benar-benar akan berhati-hati kali ini untuk menjalankan hobinya.

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

"Anak-anak, masuk ke pesawat dengan tertib. Kalian mengerti?"

"Ne, Songsaengnim!"

Pria yang dipanggil Songsaengnim itu―Choi Minho, tampak tampan dengan kacamata yang membingkai matanya yang cukup besar dan indah, wajahnya kecil dan mulus, tubuhnya tinggi tegap dibalut kemeja putih dan celana warna navy yang sangat pas. Dia benar-benar idola para wanita.

Minho adalah seorang Psikolog yang sedang menjadi pemandu siswa-siswi SM High School yang sedang berdarmawisata ke Beijing. Dia memang sedang dalam tugas meneliti perkembangan pergaulan anak di sekolah dan melakukan beberapa penyuluhan.

Dan sudah sebulan ia bekerja, seluruh siswa-siswi sangat menyukainya. Membuat pekerjaannya setidaknya lebih baik.

"Songsaengnim, apa anda tidak akan datang ke sekolah lagi setelah darmawisata ini berakhir?" tanya salah seorang siswi dengan wajah sedih.

Minho tersenyum dan berkata, "Ne, tapi kalian boleh datang ke tempat praktekku jika sedang tidak banyak pasien. Kalian mengerti?"

"Ne, Songsaengnim!" jawab siswi itu dengan senang. Minho mengelus pelan rambut anak itu, membuat siswi lain berseru kesal karena iri.

"Sudah, sebaiknya kita masuk ke pesawat. Kajja!" kata Minho. Ia dan beberapa guru membimbing anak-anak masuk ke pesawat dan langsung di sambut dengan para pramugari. Pesawat ini tentu akan riuh dengan siswa-siswi yang tentu saja sangat aktraktif.

Hyeoyon, salah satu guru menyenggol pelan bahu Minho. "Anda benar-benar sangat membantu, Minho-ssi. Andai saja anda benar-benar seorang guru, anda akan menjadi idola para siswi." Ujarnya menggoda pria itu.

Minho tersenyum mendengar pujian itu dan berkata, "Hyeoyon songsaengnim juga sangat cantik. Anda juga idola para siswa."

Hyeoyon tersenyum malu, "Anda bisa saja." Ucapnya sebelum kemudian masuk ke pesawat dan mengatur anak-anak agar duduk di kursi mereka masih-masing.

Minho pun duduk di kursinya. Seorang pramugari menghampirinya dan membantunya menaruh tasnya ke dalam bagasi. Dan dengan genit pramugari itu mengedipkan matanya pada Minho, membuat pria itu hanya tersenyum maklum. Selain karena dia adalah seorang psikolog, dia memang bukan orang yang mudah terpancing dengan tatapan manis dan genit para wanita. Jadi dia hanya menanggapi mereka dengan senyum saja.

"Yak! Berhenti memotret pramugari!"

Minho menoleh ketika mendengar teriakan kesal. Tak berapa jauh dari tempat duduknya, seorang pilot sedang memarahi siswa-siswa yang ketahuan memotret salah satu pramugari. Pramugari yang dipotret itu berdiri di belakang si pilot dan menuduk malu.

"Kalian masih kecil tapi sudah berlaku tidak sopan! Berikan ponsel itu sekarang!" teriak pilot itu.

Minho langsung bertindak, ia bangkit dari kursinya dan menghampiri siswa-siswa yang sedang dimarahi itu. "Jeoseonghamnida. Aku penanggung jawab mereka, akan kupastikan mereka menghampus fotonya." Kata Minho sopan.

Pilot itu tampak tak suka pada Minho dan berkata, "Kau penanggung jawab mereka? Bagus, tolong kau berikan contoh yang baik pada mereka. Kalau perlu kau yang memegang ponsel mereka sampai pesawat turun. Kau tidak mau siswa-siswa ini bermasalah dengan pihak maskapai, bukan?"

"Ne, algeseumnika. Tapi hendaknya anda memberitahu mereka dengan pelan, tanpa perlu berteriak." Kata Minho memberi saran. Diliriknya nametag di seragam pilot itu. Cho Kyuhyun.

"Aku sudah menghadapi anak-anak yang lebih nakal dari ini. Dan mereka tidak bisa diberitahu pelan-pelan. Kau tidak tahu? Yang mereka lakukan tadi sudah termasuk pelecehan!" jawab Kyuhyun kesal.

"Kyuhyun-ssi, tenangkan dirimu. Kau mengganggu ketenangan di cabin." Kata salah satu pramugari. Ia kemudian membungkuk hormat pada Minho. "Maaf atas ketidaknyamanan ini. Anda bisa kembali ke tempat duduk anda. Anak-anak, tolong matikan ponsel kalian sekarang." Kata pramugari itu dengan sopan. "Sunny-ssi, lanjutkan pekerjaanmu." Lanjutnya pada pramugari yang dipotret tadi. Pramugari itu mengangguk paham dan pergi.

Sementara itu Kyuhyun masih berdiri disana dan wajahnya masih sangat kesal. Ia memandang Minho sekilas sebelum kemudian kembali ke Kokpit. Sementara itu Minho masih berdiri disana beberapa saat, memperhatikan punggung pilot itu. Dia merasa pernah melihatnya, tapi kapan? Entahlah.

"Cepat hapus fotonya dan matikan ponsel kalian, arrachi?" kata Minho pada siswa-siswa tadi. Mereka pun segera menghampus foto tadi dan menyimpan ponsel mereka.

Dan Minho kemudian memutuskan kembali ke tempat duduknya, memasang sitbelt dan duduk tenang. Hyeyon yang duduk di sebelahnya berkata, "Pilot tadi ekstrim sekali ya? Harusnya dia memaklumi tingkah laku anak-anak."

Minho tersenyum, "Memang sedikit berlebihan, tapi yang dia katakan benar. Anak-anak bisa dapat masalah jika melakukan hal tadi. Sepertinya aku harus memberi nasehat pada anak-anak itu nanti." Ujarnya.

Hyeyon mengangguk dan menghela napas pelan. "Apa jadinya perjalanan ini tanpa anda, Minho-ssi. Anda sangat hebat mengatur anak-anak."

"Bukan mengatur, songsaengnim. Aku hanya mengarahkan mereka pada hal-hal baik." Kata Minho sambil memasang kembali sitbealtnya.

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

"Apa-apaan itu tadi!? Sejak kecil sudah punya otak yadong!" omel Kyuhyun ketika memasuki Kokpit. Ia kemudian duduk di kursi kemudi disamping Sungmin.

Sungmin melirik pemuda itu sebentar dan bertanya, "Waegeurae?"

"Ani, hanya ada siswa SMU yang ketahuan memotret salah satu pramugari." Jawab Kyuhyun sambil memasang Aviation headset dan mulai melakukan pengecekan.

"Bukan mereka sama denganmu? Lakukan konfirmasi penumpang dengan cabin crew." Kata Sungmin acuh sambil memasang kacamata hitamnya.

Kyuhyun mendelik kesal sebelum kemudian berkata dalam hati, kapan aku bisa bertemu dengan Kapten yang tidak menyebalkan!

Ia memasang kacamata hitamnya kemudian membaca daftar nama penumpang. Dan matanya tertuju pada nama Choi Minho. Hah...entah siapa pria itu. Tapi dia jadi benci sekali dengan semua orang yang bermarga Choi. Aneh, kebencian tanpa alasan. Kyuhyun menyadari itu, tapi ia tak peduli.

"Konfirmasi 340 penumpang selesai." Kata Kyuhyun. "Apa aku harus mengumumkan take off sekarang?" tanyanya pada Sungmin.

"Ne, you have."

"Yes, I have." Jawab Kyuhyun kemudian melakukan pengumuman take off pada petugas menara di Incheon Airport. "Incheon delievery, this is Korean Airlines 524. Requesting ATC clearance to Incheon."

"Yes, Korean Airlines 524. Diizinkan terbang melalui runway (Landasan terbang) sebelah kanan. Ingat Cho Kyuhyun, sebelah kanan."

Hah? Kyuhyun mengernyitkan alisnya bingung. Aneh, kenapa pihak ATC memanggil namanya. Kyuhyun baru saja mau bertanya ketika pihak ATC itu berkata, "Ini aku caramel machiato. Kau berhutang penjelasan padaku nanti, arraseo?"

Barulah Kyuhyun tahu kalau itu adalah si tiang listrik, Shim Changmin. Kyuhyun melirik kearah Sungmin yang tentu saja dapat mendengar pembicaraan mereka. Tapi Sungmin tampak santai-santai saja dan sibuk dengan pekerjaannya.

"Aku tak tahu apa yang kau maksud! Nanti saja, annyeong." Jawab Kyuhyun setengah berbisik dan mematikan sambungan.

"Sudah selesai? Kita harus take off sekarang." Ujar Sungmin.

Kyuhyun mengangguk canggung, "Ne, Kapten."

Dan bersiaplah Changmin yang sudah mempermalukannya di depan Sungmin. Kyuhyun akan membalasnya tanpa ampun!

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Kyuhyun tiba di rumahnya setelah malam hari. Begitu tiba dua orang maid menyambutnya. Membawakan travel bag dan paper bag berisi seragamnya. Kyuhyun sudah berganti pakaian sebelum ke rumah tadi. Dia mendengar suara tawa dari ruang keluarga, membuatnya memutuskan kesana. Kyuhyun baru berada di depan pintu ketika melihat Suho tertawa riang dalam pelukan Ayahnya. Hankyung tampak sangat asyik bermain dengan Suho. Sementara itu Heechul dan Jungsoo sedang sibuk membicarakan produk di majalah. Dan di sudut lain ruang keluarga tampak Siwon dan Donghae sedang bermain catur sambil bicara masalah pekerjaan.

"Hahahaha...Halabeoji, janganhahaha kelitiki Cuho telus!"

"Lihatlah pakaian ini, Eonni. Bukankah ini sangat bagus?"

"Aku akan bersiap membeli Boeng 737X7000. Bagaimana menurutmu?"

"Bagus, berapa unit yang akan dibeli?"

Melihat pemandangan itu, membuat Kyuhyun mematung. Ada perasaan aneh di hatinya yang memang selalu menganggunya sejak dia kembali. Entahlah, Kyuhyun tidak benar-benar tahu perasaan apa itu. Lebih tepatnya ia tak mau tahu perasaan apa itu.

"Kyunie? Kau sudah pulang?"

Kyuhyun tersadar ketika Hankyung memanggilnya. Semuanya langsung menyadari keberadaan Kyuhyun dan menoleh.

"Kau sudah makan, Kyu? Eomma akan meminta maid untuk memanaskan supnya." Kata Heechul.

"T-tidak usah, Eomma. Aku sudah makan." Jawab Kyuhyun bohong. Ia kemudian tersenyum pada Jungsoo dan berkata, "Lama tidak bertemu, Jungsoo Eomma."

Jungsoo tersenyum dan bangkit dari tempat duduk, menghampiri Kyuhyun dan memeluknya. "Aku sangat merindukanmu Kyunie. Aigoo, kau sudah besar sekarang." Kata Jungsoo.

Kyuhyun berusaha untuk tersenyum. "Kudengar Eomma semakin melakukan banyak kegiatan sosial. Eomma pasti sangat sibuk, ne?"

"Ne, saat libur bekerja ikutlah bersama Eomma. Kita pergi ke tempat amal setelah itu shopping. Sudah lama sekali sejak kita tidak melakukan banyak hal bersama." Ujar Jungsoo.

Kyuhyun mengangguk, "Eomma, aku naik keatas dulu ne? Aku mau mandi, badanku terasa lengket."

Jungsoo mengangguk paham. Kyuhyun pun segera pergi ke kamarnya, meninggalkan mereka semua. Donghae melihat kearah Siwon yang diam. "Ada apa denganmu?" tanyanya.

Siwon menggeleng, "Ayo lanjutkan." Ucapnya. Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka, bermain catur.

Author POV End

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Kyuhyun POV

"Aish! Kenapa aku tidak bisa tidur!?"

Sudah yang kesekian kalinya aku mencoba memejamkan mataku. Gagal, itulah yang terjadi. Entah apa yang membuat mataku ini tidak bisa tidur. Aku sudah mencoba bermain PSP saja, tapi aku tidak bisa konsentrasi dan akhirnya menyerah untuk bermain dengan benda kesayanganku itu.

Dan sekarang aku hanya berguling-guling di kasur tanpa bisa menutup mata. Jika aku tidak bisa tidur karena minum kopi, itu beda lagi ceritanya. Tapi ini aku tidak minum kopi dan aku benar-benar tidak bisa tidur! Aish! Padahal aku ada jadwal terbang besok!

"Apa aku minum susu coklat saja ya?" gumamku pelan. Aku kemudian langsung turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Rumah sudah sepi, tentu saja jam segini kan waktunya tidur. Kulihat meja ruang keluarga, penuh dengan majalah dan sebuah papan catur.

Rumahku ramai sekali tadi, ada Jungsoo Eomma, si Choi brengs*k dan anaknya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi sejak aku pergi. Sepertinya mereka memang sering berkunjung, mengingat Suho kelihatan akrab sekali dengan Appa, Eomma dan Fishie-hyung. Tapi selalu ada yang ganjal dari keluarga mereka. Dimana istri si Choi brengs*k itu? Aish! Kenapa aku memikirkan mereka sih!

Aku berjalan menuju dapur, membuat susu coklat. Setelah selesai, aku membawa cangkir berisi susu coklatku dan menaiki tangga. Hmmm...sepertinya enak jika minumnya sambil duduk di balkon. Aku pun membuka pintu balkon. Udara tidak terlalu dingin, jadi aku pun duduk bersandar di salah satu kursi. Saat musim panas, bintang cukup banyak di langit.

"Hangatnya..." gumamku setelah meminum sedikit susu coklat. Setidaknya aku merasa lebih baik sekarang. Kalau begini aku jadi ingat saat masih kecil. Dulu aku selalu membangunkan Fishie-hyung saat tidak bisa tidur, mengajaknya ke balkon dan menghitung bintang. Menyenangkan sekali.

Aku sedang sibuk menghitung bintang ketika suara jendela yang dibuka, kulihat kearah rumah di seberang rumahku. Salah satu jendelanya terbuka, jendela kamar Siwon. Lampunya tidak menyala, namun aku dapat melihat Siwon sedang berjalan di dalam kamarnya. Entah apa yang dia lakukan.

Tak lama kemudian ia bersandar di jendela, dan memandang keatas. Sepertinya dia melihat bintang. Dan tiba-tiba saja kenangan masa kecilku muncul.

"Hana, dul..." saat itu aku sedang menghitung bintang ketika terdengar suara yang memanggilku.

"Kyunie!"

Aku menoleh dan tersenyum senang. Di seberang kamarku, Siwon sedang melambaikan tangannya padaku dengan senyum lebar. Umurku sepuluh tahun saat itu, dan Siwon berumur tujuh belas tahun. Siwon tumbuh menjadi pemuda yang diidolakan para gadis. Tampan, pintar dan baik hati. Semua orang selalu mengelukan namanya.

"Siwon hyung belum tidur?" aku ingat bagaimana dulu aku memanggilnya.

"Aku ingin ikut menghitung dengan Kyunie. Bolehkah?" Pertanyaan bodoh, itu yang kupikirkan saat ini. Tapi dulu, aku sangat bahagia mendengarnya mengatakan itu. Jantungku berdebar-berdebar, cinta pertama yang berawal bahagia. Sangat bahagia...

"Kyunie?"

Aku tersadar dari lamunanku. Siwon melihat kearahku, membuatku tersadar bahwa tadi aku sedang memikirkannya! Aish! Entah bagaimana aku malah mengingat kenangan kecil dengan si Brengs*k ini!

"Kau buta ya? Tentu saja ini aku." Jawabku ketus. Aku kemudian meminum susu coklatku dan melihatnya tersenyum. Apa-apaan senyum itu?

"Ingat waktu kita kecil? Kau selalu suka menghitung bintang." Kata Siwon tiba-tiba. Dia masih ingat ya?

Aku berdehem pelan, "Aku sudah tidak suka menghitung bintang sekarang!"

"Waeyo?" Pertanyaan apa itu. Terserah aku!

"Jangan tanya kenapa. Aku tak mau menjawabnya." Jawabku. Bisakah dia pergi? Aku mau menikmati susu coklatku dengan tenang!

Dan dia hanya diam, memandang kearah langit. Jangan pedulikan dia Cho Kyuhyun. Minum saja susu coklatmu. Aku pun sibuk menghabiskan susu coklatku.

"Butuh waktu lama ya untuk melupakanku?"

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Kulihat Siwon memandangku dengan...sendu? Tatapan apa itu?

"Haruskah aku menjawabnya?" jawabku sinis.

Deg! Deg! Deg! Aish! Kenapa jantung ini berdetak aneh?

"Nado...neomu apa..."

Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Kenapa dia bicara seperti itu? C-choi brengs*k ini kenapa bersikap aneh sekali?

"B-berhentilah mengatakan hal aneh! Kau mabuk ya?" omelku. Aku segera beranjak dari kursi dan menaruh gelas berisi susu coklat yang tinggal sedikit di atas kursi itu. Kututup pintu balkon dan kemudian masuk ke kamar.

Deg! Deg! Deg! Tubuhku terasa gemetar. Aish! Aku kenapa sih? Dadaku terasa sangat sesak. Perasaan ini sangat tidak enak...terasa sakit...

"Kau gila Cho Kyuhyun...sadarkan dirimu..." gumamku terus menerus. Kupejamkan mataku, berusaha untuk tidur.

Kyuhyun POV End

.

.

.

~Wonkyu~

.

.

.

Author POV

Siwon diam melihat kearah pintu balkon yang ditutup. Dilihatnya kearah jendela Kyuhyun yang lampunya sudah mati. Hening...tak ada kata yang mampu dia ucapkan. Siwon benar-benar merasakan sesak di dadanya saat melihat Kyuhyun berdiri mematung di depan pintu ruang keluarga tadi. Dia tahu, ada penolakan dalam hati pemuda itu. Menolak kenyataan yang ia lihat, kenyataan bahwa keluarga mereka berhubungan baik. Dia tahu, Kyuhyun ingin setidaknya ada yang mendukungnya. Ada yang memberinya dukungan untuk membenci Siwon. Tapi, semua orang malah beranggapan lain. Dan itu...baru Siwon sadari. Kyuhyun merasakan sakit...

"Mianhae...kyu. Jeongmal mianhae..."

Entah bagaimana, tiba-tiba Siwon merasa mengambil langkah yang salah. Mendapat dukungan dari semua orang adalah kesalahan. Karena dia adalah tersangkanya...dan Kyuhyun adalah korban...

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Gimana readers? Maaf jika chapter ini kayak gado2. Ada kocaknya, tapi di ending malah jdi mellow drama. Tapi disini saya cuma mau memperlihatkan sedikit demi sedikit apa yang sebenarnya ada di hati Kyuhyun. Yang sebenarnya bahkan ia tidak ketahui atau mungkin tidak ingin ia ketahui. Banyak yang saranin sya buat Siwon menderita jg. Dan ini...awalnya. Chapter depan akan sya perlihatkan sisi brbeda dri cerita ini. Kmren jg ad yg tny lwat PM, nma Minho ada di dftar, tpi kok ga' kliatan. Nah, sudah sya ksih lhat. Bgaimana hubungan sebenarnya Minho dengan semua pemeran di FF ini? Tnggu d chapter depan ya! Annyeong~