Tahukah kamu tentang 'Necroxirmus Project', yaitu proyek percobaan untuk membuat manusia berkuatan ganda yang gagal 200 tahun yang lalu? Proyek itu tidak gagal, melainkan ditindaklanjutkan di masa depan 800 tahun kemudian dan berhasil. Proyek itu kini melahirkan seorang 'manusia brutal' ke masa sekarang.―


SPECIAL THANKS

Iva. Reini, Meiko Bluebell, Royal Paladin, Elsa Onore, Yukiharu Hime, Iruyo, AichiMarron Ver, Gum Kenta Yumiya, Riikagi Fujiyama, Kanata Fushimi, Sakuyanomia Requephia, Ryudou Ai, Yun Mei Ho, Noaru, Guest, and YOU who reading this story now :D


.

.

Necroxirmus

.

Necro Capitel 6.

.

Made By © IllushaCerbeast.

.

Cardfight! Vanguard © Not Ours.

.

Rate: M (maybe).

.

Pairing: KaiPsyAichi, minor DaigoLeon, RenAichi, and another pairing (still secret).

.

Genre(s): Romance, Mistery, Crime, A bits Humor.

.

WARNING(s): OOC, AU, Non-Canon, Misstypo, Fail Romance, Little Lime, Yaoi, Shounen-Ai, and all.

.

.


Sesosok pria berambut coklat tua mendengus malas, ia menatap pintu otomatis ruangannya dengan harapan agar tunangannya cepat datang. Ia sudah menunggu sampai lima belas menit, tapi sosok berambut pirang itu tak kunjung datang sejak diijinkannya untuk berbicara dengan salah satu peserta ujian tadi. Daigo mulai mengetuk-ngetuk jarinya di meja bewarna coklat pinus itu dengan malas. Ya, enak, sih sebagai guru baru malah mendapat ruangan pribadi seperti ini, tapi ia menjadi tidak nyaman kalau tidak ada orang lain menemaninya. Kesepian, tapi rasa sepi itu hilang begitu...

Whiiinggg...!

"Maaf lama, Daigo-san," ujar Leon yang baru memasuki ruangan Daigo dengan membawa setumpuk lembar hasil test tadi. Raut wajahnya tampak lesuh, walau 90% tatapannya tetap stoic. Daigo tersenyum gembira melihat sosok itu mendekatinya dan meletakan kumpulan soal tadi di meja besarnya.

"Heeh, memang apa saja yang kau bicarakan padanya, sih, dear? Aku menunggumu lama sekali," sunggut Daigo sembari mengambil kertas-kertas hasil test itu lalu memandangnya satu-satu. Ya, sebagai guru baru, ia pun mendapat tugas ringan, yaitu mengawasi dan mengecek ulang jawaban-jawaban itu hari ini. Leon hanya memejamkan matanya lalu berdiri tepat di samping meja kerja Daigo.

"Yah, tidak ada masalah penting, hanya urusan test saja," jawabnya penuh dusta. Ia tidak mau mengungkit-ngungkit masalah barunya ini pada orang macam Daigo, yang seenaknya saja menjadikannya tunangan lalu mengambil ahli pekerjaannya. Namun Daigo yang sudah dibutahi cinta pun percaya-percaya saja padanya.

"Okay, baiklah! Kalau begitu aku akan mulai mengecek hasil pekerjaan mereka! Bantu aku, ya, dear," pria berstylist modern itu pun mulai meraih pulpen bewarna merah dan kunci jawaban dari soal olimpiade yang susahnya bukan main itu. Leon mengangguk tanpa ekspresi, ia tetap berdiri di samping meja kecoklatan itu sembari meraih bagiannya. Tadinya Daigo sudah selesai mengoreksi 2-3 lembar kerja, namun tiba-tiba ia terhenti. Dipandanginya Leon yang sibuk mengerjakan tugasnya dengan baik.

"Hei, kenapa kau tidak duduk, dear? Nanti kakimu kelelahan. Ayo duduk," ujarnya dengan nada penuh rasa khawatir. Leon hanya memejamkan matanya singkat lalu menjawab,

"Tidak ada asisten duduk di ruangan bosnya, Daigo-san." Jawabnya dengan nada yang dingin seperti biasa. Mendengar itu, Daigo tertawa kecil, sosok di hadapannya ini memang kosisten dalam melaksanakan tugas. Sekalipun jabatannya turun, ia tidak membangkang atau bertingkah. Itulah salah satu sifat Leon yang sangat disukai oleh Daigo. Lalu dengan jahil ia meraih lengan anak itu dan menarik Leon sampai terduduk di pangkuannya. Si pirang tersentak kaget,

"Ck, baka, apa yang kau lakukan!? Ini di sekolah jadi kerjakan tugasmu―" belum sempat si violet menegurnya, dengan cepat Daigo kembali membungkam Leon dengan bibirnya. Tangan Daigo yang menganggur pun meraih belakang kepala anak itu dan menekannya, agar ciuman keduanya semakin dalam dan penuh kenikmatan tersendiri.

"..." Leon hanya diam begitu bibir keduanya terlepas, memandang Daigo tanpa ekspresi. Namun tangan si honey-brown kini beralih pada pipi putih mulusnya. Ia mengelus pipi itu lalu berkata,

"Tenang saja, dear, aku akan tetap melakukan tugasku. Aku hanya ingin mengajakmu melakukan sebuah permainan," bisiknya sembari mengacungkan telunjuknya di depan wajah si pirang. Anak berjas putih itu memiringkan kepalanya bingung.

"Permainan?"

"Yup, kau cek soal ini sambil menanyakan pertanyaannya padaku. Seperti quiz, bagaimana? Kalau aku berhasil menjawab, aku boleh menciummu satu kali," mendengar itu membuat Leon mengkerutkan dahinya nggak suka, ia pun membuang muka sembari melipat kedua tangannya angkuh.

"Nggak mau." Tolaknya dengan tegas.

"H-Hei, hei, jangan begitu, dong, dear. Kau boleh menentukan syaratnya, deh, kalau aku tidak bisa menjawab nanti mau kau apakan, biar permainannya seimbang, ya?" bujuknya sembari menggoyang-goyang pelan bahu mungil sosok di hadapannya. Mendengar itu Leon membuka matanya, kembali menatap Daigo dengan serius.

"Kalau kau tidak bisa menjawab, aku akan menjambakmu."

"A-APA!? Kau sudah gila, dear! Tega sekali, masa ciuman seimbang dengan jambak―" belum sempat Daigo protes, si pirang kembali membuang muka. Sepertinya Leon tidak mau ada toleransi. Ia sebal kalau bibirnya yang terus dimangsa oleh Daigo, sedangkan pria itu tidak mendapat balasan setimpal.

"Kalau nggak mau, ya, sudah. Aku kerjakan semua ini sendiri, lalu nanti kau dipecat dan dikeluarkan dari―" belum sempat Leon menyelesaikan bicaranya, Daigo cepat-cepat membungkam mulut anak itu. Iris honey-brown dan violet keduanya bertemu dan saling tatap untuk mendealkan permainan mereka ini.

"Fine, fine, kau boleh menjambakku. Kita jadi main, oke?" akhirnya Daigo mengalah. Leon pun mengangguk tanda sanggup mengikuti permainan aneh buatan tunangannya itu. Sebelum permainan dimulai, Daigo pun mengunci pintu otomatis mereka dengan remote, agar nantinya ia tidak perlu kepergok berciuman maupun dijambak oleh guru atau murid lain. Leon mulai mengambil salah satu lembar kerja peserta. Ia mengoreksi soal itu sekaligus bertanya jawab pada Daigo. Ya, anak ini tidak perlu kunci jawaban, karena semua jawaban dan soal ini tersimpan permanent di otaknya.

"Mulai?" Leon memberi aba-aba. Daigo mengangguk sembari tersenyum lebar.

"Tapi sebelum itu..." dengan tiba-tiba Daigo mencengkram bahu Leon dan menciumi anak itu di bibir. Leon tersentak kaget dan berusaha untuk memberontak minta lepas. Ini tidak sesuai perjanjian, padahal permainan belum mulai tapi bibir mungilnya yang dipertaruhkan di permainan ini sudah dijajah duluan. Posisinya yang masih duduk di pangkuan Daigo menyulitkannya untuk lepas dari cengkraman pria itu.

"―U-ukh! D-Daigo―!" si pirang akhirnya terdiam, ia tidak bisa melawan kekuatan Daigo. Menyadari itu, pria berambut kecoklatan itu pun tersenyum puas dalam hati dan kembali menciumi anak itu di bibir sampai puas.

"Hehehe, hanya tes saja, kok..." ujar Daigo santai tanpa dosa begitu ciuman keduanya terlepas. Sedangkan Leon hanya terengah-engah sembari mengusap-usap bibirnya yang lembab. Ia mengerinyit dahinya kesal, lalu dengan kasar ia langsung menjambak Daigo keras-keras.

"AAAKH! SA-SAKIT! LEPASKAN!" cengkraman Leon pada helaian rambut coklat itu begitu kuat, bahkan tidak peduli kalau kepala itu harus botak nantinya. Kesabarannya benar-benar habis.

"Hanya tes," balasnya begitu puas menjambak Daigo sampai beberapa helaian rambutnya rontok. Sadis, itulah penilaian si honey-brown pada sosok tunangannya. Ya, salah sendiri, sih. Dia yang memulai perkara duluan, tapi sepertinya rasa sakit di kulit kepalanya ini tidak akan menggeser rasa cintanya pada Leon. Ia tetap mencintai si pirang seutuhnya.


NECROXIRMUS


DING DONG DING DONG~

Setelah berjam-jam jenuh dengan rumus-rumus Kimia, akhirnya sepercik harapan muncul. Bel tanda pelajaran kedua usai berbunyi serta tanda jam istirahat berlangsung, membuat para siswa-siswa Nethelbell bersorak ria dalam hati, terkecuali Kai. Setelah memberi hormat pada guru Kimia yang kemudian berlalu, beberapa murid dari kelas Kai pun mulai menunjukan rasa lega mereka. Ada yang merenggangkan otot mereka, ada juga yang langsung keluar kelas pergi ke kantin sekolah. Berbeda dengan Kai yang tetap diam, masih konsentrasi pada suatu persamaan rumus Kimia yang membuatnya tertantang.

Jari-jari tangannya sibuk mengetik jawaban di laptop sekolah miliknya. Di laptop itu, bahkan sudah seperti tanya jawab, jadi salah atau benar jawaban tidak perlu ditanya ke guru lagi, Kai bisa mengetahui hasilnya salah atau benar dari reaksi laptopnya. Canggih, bukan? Tadinya Kai masih sibuk berkutak-katik, namun ia tiba-tiba terdiam begitu merasakan sebuah firasat. Firasat bahwa ada yang menunggunya di depan pintu kelas. Diliriknya pintu kelas tanpa ekspresi, kemudian ia menemukan sosok Aichi disana.

"Kai-kun~" serunya dengan senyum lebar lalu menghampiri Kai yang langsung menutup lembar kerjanya di laptop dan mematikan alat praktis tersebut. Tanpa sadar si emerald menjadi semangat sendiri mendapati sosok berambut biru lembut itu datang. Dikiranya Aichi sudah pulang tadi, karena Kai memang memesannya untuk pulang kalau ia bosan menunggu.

"Bagaimana tes-nya, Aichi?" tanya Kai berbasa-basi lalu mengisyaratkan Aichi untuk duduk di pangkuannya. Ya, tentu saja Aichi mengerti hal itu, duduk mesra di pangkuan sang 'kekasih' lalu merangkul leher Kai. Murid-murid lain yang masih stay di kelas sontak melongo tak berkedip memandangi pemandangan 'kelewatan mesra' itu.

"Soalnya mudah sekali, Kai-kun! Aku yakin aku bisa lulus dan bersekolah disini~" Kai tersenyum tipis mendapati jawaban yang memuaskan dari Aichi, dielusnya rambut biru itu dengan lembut. Namun sesaat kemudian, tatapan Kai kembali datar, dan itu memang pribadi Kai dari dulu.

"Baguslah, bearti sekarang... tinggal mencari tahu soal kakakmu?" tanya Kai dengan suara berbisik, tatapannya pada Aichi terdengar serius. Dikiranya Aichi bakal tertunduk lesuh mengingat kembarannya itu, tapi si bluenette malah tersenyum lebar dan tanpa ragu mencium pipi dingin Kai.

"Tadi aku menemukannya, lho, Kai-kun! Ternyata tidak susah menemukan Xirmus disini!" jawab Aichi juga dengan berbisik, membuat Kai sedikit tersedak mendengarnya. Aichi sudah menemukannya?

"Be-benarkah?" tanya Kai dengan rasa penasaran yang menyelimutinya, dan langsung saja disambut anggukan manis dari Aichi.

"Hu-um, kebetulan dia membantu guru yang mengawas di laboratorium tempatku menjalankan tes, hehehe," sambung Aichi lalu memeluk erat Kai tanda ia sangat berbahagia. Mendengar itu, Kai pun menghela nafas lega. Namun, rasa penasaran masih saja menyeruak di hatinya, kemudian ia bertanya lagi pada Aichi,

"Lalu kenapa tidak kau ajak kesini? Dan seperti apa sosoknya?" tanya Kai tanpa ekspresi yang bearti di wajahnya. Mendengar itu, Aichi melepas pelukannya dan terdiam sesaat. Ia memainkan telunjuknya di dagu mungilnya sesaat,

"Hm, dia tidak mau ikut denganku..." jawab Aichi serta merta tertunduk lesuh. Ia pun bersandar di dada bidang sang kekasih merajuk manja. "Walaupun dia juga mengenalku... Tapi sepertinya dia tidak berniat untuk tinggal bersamaku, Kai-kun..." lanjutnya sembari memejamkan kedua iris birunya yang indah.

"Dia tidak merindukanmu?" Pertanyaan itu langsung disambut gelengan pelan dari Aichi.

"Sepertinya begitu," jawab Aichi singkat yang langsung disambut helaan nafas dari si brunet. Kemudian Kai jadi teringat keinginannya untuk bertemu dengan guru mudanya, Leon, untuk bertanya soal 'Necroxirmus'. Ia masih tidak bisa tenang kalau belum mendapat penjelasan yang dimengerti 100% dalam hal apapun, termasuk masalah ini juga. Yang ia permasalahkan adalah, mengapa Leon bilang bahwa hanya satu rangka tersisa? Padahal kenyataan jelas-jelas berkata bahwa Necroxirmus ada dua. Dan salah satunya resmi menjabat menjadi kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Aichi.

Kemudian Kai mengelus helaian rambut Aichi, mengisyaratkannya untuk berhenti bermanja dengannya, "Aku ingin pergi menemui seorang guru sebentar." Ujarnya lalu bangkit berdiri.

"Eh, aku mau ikut! Boleh, ya?" dengan cepat Aichi langsung merangkul lengan Kai dan menyeringai lebar. "Aku masih ingin memperkuat sandiwara kita..." lanjutnya dengan senyum iblis khasnya yang langsung membuat si brunet sedikit bergidik. Mungkin baginya seringaian anak itu lebih menyeramkan daripada hantu. Tapi sesaat kemudian, dengan dinginnya ia menggenggam erat pergelangan tangan Aichi.

"Jangan sebut itu sandiwara lagi..." bisiknya dengan nada mengancam, yang langsung disambut anggukan mantap dari si bluenette. Mereka pun melangkah keluar kelas dengan Aichi yang merangkul mesra lengan kekasihnya, membuat murid-murid lain yang masih betah memperhatikan mereka malah iri tanpa sadar.


NECROXIRMUS


"Eh, eh, lihat anak yang ada disamping Kai. Dia, 'kan, yang membuat Erika menangis waktu itu?"

"Iya, katanya itu kekasih jauh Kai yang datang bersekolah disini, kalau dilihat-lihat cantik juga, ya..."

"...Hahaha, jarang ada yang seperti itu, tuh!"

Si brunet hanya menghela nafas begitu dirinya beserta Aichi masih menjadi bahan gosipan hangat di satu sekolah. Persetan wanita yang waktu itu memaksanya untuk berpacaran malah menyebar berita ini. Tapi ia masa bodoh saja, selama ada Aichi di sampingnya, ia terhindar dari cewek-cewek nggak jelas yang bersikeras menjadi pacarnya. Aichi bagaikan tameng mutlak yang akan menghalau segala gangguan, dan Kai sangat menyukai itu. Belum lagi perlahan-lahan ia malah memedam rasa pada anak ini. Lagipula ibunya juga sudah setuju. Apa lagi yang perlu dipermasalahkan?

CKIT

"Eh?" Aichi menyadari suatu firasat. Yang tadinya ia masih bermanja-manja pada Kai langsung menengok ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari suatu firasat yang tadi ia rasakan. Begitu sadar firasat apa itu, ia sedikit tersenyum kecil.

"Kai-kun, aku tidak jadi ikut, ya! Aku ingin mencari Xirmus lagi dan bermain!" bisik Aichi dengan bersemangat. Rupanya firasat yang ia rasakan adalah keberadaan kakak kembarnya. Ya, biasanya kalau ada sesuatu yang penting seperti ini, ia bisa mendeteksi sebuah firasat, atau mungkin bisa dibilang telepati secara sepihak? Kai bukanlah tipe kekasih yang overprotektif, jadi ia pun mengangguk ringan.

"Hati-hati dan jangan tersesat, kalau ada apa-apa, langsung saja ke kelasku atau tidak hubungi aku. Mama sudah memberimu ponsel, 'kan?" Aichi langsung mengeluarkan ponsel bewarna biru yang diberikan mama Kai untuk alat telekomunikasinya di sekolah. Kai pun tersenyum kecil lalu mencium keningnya singkat, sempat membuat beberapa siswa yang melihat mereka menjerit tertahan.

"Da da, Kai-kun!" dengan itu Aichi berjalan, ah, tidak. Atau lebih tepatnya berjingkrat-jingkrat menambah kesan manis tersendiri. Ia pergi ke arah yang berlawanan dari jalan Kai yang menuju ruang guru. Menghela nafas singkat, Kai pun kembali berjalan menuju tujuannya, ruang guru, untuk mencari Leon.

WHIING

Dapat Kai rasakan ruang guru begitu ramai, lebih tepatnya dipadati murid-murid. Mungkin ada yang sebagian belum menyesaikan administrasi uang sekolah, ataupun mempermasalahkan nilai mereka yang salah cetak. Tapi Kai tidak peduli soal itu, diliriknya meja guru yang biasanya ditempati oleh pemuda Souryuu itu. Tapi ternyata tempat itu ditempati guru lain. Hal itu sedikit membuatnya bingung. Atau mungkin tempat guru juga kenal dengan istilah 'tukar tempat duduk'?

"Oh, Kai, ada keperluan apa kemari?" belum sempat berpikir, Kai langsung disambut ramah oleh guru berkacamata yang tersenyum ramah padanya.

"Shin-sensei, bolehkah aku tahu dimana Leon-sensei? Dia masih mengajar disini, bukan?" tanya Kai memastikan. Ia pun baru teringat kalau guru aneh kemarin―Daigo― sempat mengatakan nama Leon. Oh, iya! Kai baru connect. Bukannya Leon sudah diganti jabatannya oleh Daigo? Persetan pada otaknya yang malah melupakan hal tersebut.

"Ya, dia asisten Daigo-sensei, guru baru disini yang sangat berbakat. Tapi ruang Daigo-sensei tidak disini, ia mendapat ruang guru pribadi yang tepat berada di sebelah perpustakaan sekolah," jelas guru bernama Shin itu dengan senang hati. Dia memang slah satu guru teramah yang pernah Kai ketahui. Tapi masalahnya bukan itu,

"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Saya permisi dulu," dengan itu pun Kai berlalu dari ruang guru dan mencari perpustakaan sekolah. Karena patokan penting pada ruang guru pribadi tempat Leon berada adalah perpustakaan, seperti apa yang dijelaskan Shin tadi.


NECROXIRMUS


Aichi berjingkrat riang menuju taman belakang sekolah. Ya, walaupun sekolah Nethelbell dibilang sangat luas, bahkan dapat menyaingi besarnya pusat pembelanjaan sekalipun, sepertinya ia tidak takut tersesat. Dengan kemampuan 'Necroxirmus' yang dimilikinya, ia memiliki alat pendeteksi tersendiri atau alat telepati di dalam dirinya. Ia bisa tahu dimana letak Kai berada, karena anak itu sudah menandai Kai yang dilihatnya pertama kali di zaman ini di memori telepatinya.

Karena itu tidak heran tadi ia bisa memanggil Kai secara tidak langsung untuk menengoknya di pintu kelas. Apa hal tersebut disebut hebat? Atau gaib? Entahlah...

...Yang jelas hal ini berlaku pula kepada saudara kembarnya. Tentu saja ia tidak mungkin dengan bodohnya untuk lupa menandai orang penting macam saudaranya itu ke dalam memori telepatinya. Seperti sekarang, ia bisa mendeteksi keberadaan saudaranya dan mencarinya dengan mudah. Aichi melirik ke kiri dan ke kanan, merasa firasatnya akan keberadaan saudara kembarnya itu semakin kuat. Taman belakang sekolah Nethelbell berdekatan dengan toilet dan gedung aula, dan bisa dibilang taman itu tak kalah elitnya dari taman-taman London.

"Hee, kemana dia, ya? Padahal aku merasa dia di dekat sini," sunggut Aichi lalu berhenti berjingkrat. Ia pun berdiri di posisi yang tepat kalau-kalau nanti saudara kembarnya muncul dari aula atau tidak toilet, dia bisa dengan mudah melihatnya dan menyapanya. Tanpa ia tahu, beberapa pasang mata sedang memandanginya dengan tatapan tidak suka. Seperti iri, atau cemburu. Yang jelas yang menatapnya adalah kaum hawa.

"Hei, bajingan!" Aichi hanya menengok ringan begitu suara kasar seorang wanita tampang memanggilnya dengan sebutan yang rendah. Dan ia sedikit tersenyum manis begitu sesosok murid sekolah yang familiar baginya tengah mendekatinya dengan tatapan tidak bersahabat. Bahkan ada sampai empat atau lima temannya yang mengikutinya di belakang―dengan tatapan sama.

"Aku?" tanya Aichi berbasa-basi. Padahal ia mengenal betul siapa gadis berperawakan sok manis itu, gadis yang beberapa hari lalu ditolak Kai mentah-mentah. Ya, mau bagaimana lagi, begitu Aichi tiba di zaman ini, Kai adalah orang pertama yang dilihatnya, dan ia dapat mendeteksi masalah dalam hati pemuda brunet itu. Dan rupanya gadis inilah penyebab masalah...

"Ya, siapa lagi kalau bukan kau, brengsek! Akan kubalas kau karena waktu itu seenaknya saja mempermalukanku!" sergahnya dengan tatapan tajam. Namun hati Aichi sama sekali tidak tercekat dengan bentakan penuh amarah itu. Ia terkekeh kecil membuat kerutan di dahi gadis itu semakin lebar saja―atau lebih tepatnya semakin naik pitam.

"Oh, kamu. Hm, kalau tidak salah namamu Erika, 'kan? Hihi, penampilanmu tidak semanis namamu," ledek Aichi dengan nada santai, sadar tak sadar ucapannya semakin membuat emosi gadis itu meninggi. "...Orang sepertimu tidak pantas bersama Kai-kun," lanjutnya sembari menyeringai penuh kemenangan.

"A-Apa? Keterlaluan kau, gadis jalang! Jangan berani dengan Erika-sama, ya! Erika-sama adalah wanita paling cantik seangkatannya, sialan!"

"Mungkin Kai buta karena lebih memilihmu ketimbang Erika-sama, dia pasti akan menyesal!"

"Siapa yang berani melawan, dia akan ditindas! Itulah hukum wanita di sekolah ini! Ayo, Erika-sama, tunggu apa lagi!"

Entah teman-teman gadis bernama Erika itu iblis penghasut atau apa, yang jelas kata demi kata yang mereka lontarkan semakin memotivasi Erika untuk memukuli 'gadis' berambut bluenette itu tanpa ragu-ragu. Ia menggertakan tangannya penuh amarah, seiring gertakan rahang giginya bagaikan serigala buas yang siap memangsa buruannya.

"Aku akan memberimu pelajaran! Sekalipun kau melapor kepada Kai, aku tidak takut!" teriaknya tanpa pikir kalau aksinya mengundang perhatian sekitar. Namun murid-murid lain tidak berani menghentikan Erika berserta teman-temannya, seakan-akan Erika punya kuasa. Gadis itu siap melayangkan tonjokan, sedangkan teman-teman lainnya malah menyiapkan pemukul baseball untuk penyerangan selanjutnya kepada Aichi. Sungguhkan mereka adalah wanita?

Kepalan tangan gadis itu terayun siap menghantam keras rahang Aichi. Tadinya Aichi ingin melawan, atau lebih baik menghindar. Namun kemampuan telapatinya kembali mendeteksi sebuah firasat, firasat yang mengundangnya sampai kemari. Dan firasat itu datang mendekat ke arahnya. Menyadari itu, Aichi hanya tersenyum meledek tanpa melakukan perlawanan.

GREP!

"Ck, jangan menghentikanku, breng―!"

"Hukum 10 sekolah Nethelbell, dilarang melakukan kekerasan antar siswa-siswi di sekolah Nethelbell. Apa kau masih mengingatnya?" Erika tercekat, kepalan tangannya yang tinggal beberapa milimeter mengenai pipi Aichi dihentikan sebuah tangan yang menggenggam erat pergelangan tangannya. Dengan takut-takut ia menengok, dan mendapati sesosok figur yang ditakutinya di sekolah ini.

"Le... Leon-sensei..." tubuh Erika serasa lemah, segala bentuk emosi yang tadi merasuki tubuhnya seakan diserap suatu lubang gelap. Ia memandang takut pada sesosok berambut pirang yang mungkin sama tingginya dengan Aichi. Sangat takut, sampai-sampai teman-teman lainnya pun buru-buru menyembunyikan alat yang niat digunakan untuk memukul Aichi tadi.

"Aku mendapat laporan bahwa kau seenaknya membuat peraturan dan berkibar sekenanmu di sekolah ini. Dan hal itu sama sekali tidak bisa berlaku, sekalipun kau menyuap pihak yayasan sekolah. Tsubushi Erika, Nanami Osawa, Mei Fukatsu, Haruka Shinji, Fujisaki Yoko, dan Iruka Harashi, cepat menghadap kepada kepala sekolah sekarang." Dan penjelasan panjang lebar itu seakan membuat Erika membatu, ia jatuh tersungkur dengan wajah pucat dan tertunduk. Ia tahu persis kalau sekali berhubungan dengan guru pirang itu, ia tidak akan bisa hidup di sekolah ini lagi.

Teman-teman Erika pun sama, bahkan salah satu dari mereka memasang raut wajah hampir menangis. Namun hal itu sama sekali tidak mempan pada si pirang yang menjunjung tinggi otoritas dan keadilan hukum. Ia akan menjatuhkan siapa saja yang melanggar peraturan yang berlaku baginya. Mereka pun mau tidak mau segera melangkah masuk menuju salah satu gedung Nethelbell, menuju ke tempat kepala sekolah.

Tanpa sadar, Aichi menyeringai iblis. Memandang gadis-gadis yang hilang harapan itu penuh kemenangan. Sepertinya ia sedang beruntung hari ini, begitu pikirnya.

"Apa kau tidak apa-apa?" Tidak mempedulikan siswi-siswi yang sepertinya minta dikasihani itu, Leon kini melirik ke arah Aichi, melihat dari atas sampai ke bawah, memastikan bahwa tidak ada goresan luka menempel pada anak itu. Aichi tersenyum manis dan menggeleng.

"Sama sekali tidak, terima kasih, Leon-sensei~" Si bluenette sengaja menekan kata '-sensei' seakan menggoda sosok yang bisa dibilang kembarannya itu. Ya, kembarannya. Sosok Xirmus. Si pirang beriris violet, serta memiliki jambul kembar tiga ini, adalah Xirmus yang dimaksudnya. Si pirang hanya menghela nafas datar mendengarnya. Ia menarik Aichi menjauh dari gadis-gadis tadi.

"Kau sengaja mencariku?" Tanyanya to the point. Kemudian kembali melirik siswi-siswi tadi memastikan mereka betul-betul mendatangi ruang kepala sekolah.

"Hu-um! Ngomong-ngomong..." kemudian giliran Aichi yang menatap figur kembarannya dari atas ke bawah. Dan ia menyadari sesuatu, lalu Aichi tersenyum meledek, "...Bibirmu sedikit kemerahan, sepertinya ada orang yang kecanduan bibirmu, heh, Xirmus?" bisik Aichi dengan seringai menyeramkan khasnya. Sedangkan sosok Xirmus hanya terbelalak kaget,

"A-apa maksudmu, jangan bergurau―"

"...Aku bisa tahu semuanya, apapun. Tentang apa yang terjadi sebelumnya, alasan mengapa bibirmu bisa demikian, ataupun pikiranmu. Aku bisa membaca semuanya..." potong Aichi sembari melentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Biasanya Leon akan langsung menghukum murid yang memotong ucapannya. Tapi ini berbeda, Aichi saudara kembarnya sendiri. Mereka sama-sama anak yang bernasib sempit, yang harus menjadi bahan percobaan yang sungguh ingin dilupakannya jauh-jauh.

Namun...

Bekas itu tidak bisa hilang.

Bekas? Bekas apa? Ya, tentu saja bekas bahwa mereka adalah manusia hasil uji coba profesor ilegal, kenyataan yang menyedihkan memang. Tapi mau tidak mau ia harus menerima takdir itu. Kemudian Leon berusaha mengingatnya...

Kenyataan menyedihkan itu...

Tapi ia tidak bisa mengingat banyak. Saat itu ia direndamkan ke dalam tabung berisi cairan aneh yang tidak dikenalinya, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Beruntung selang oksigen masih menyambung di hidungnya, sehingga ia masih bisa bernafas di rendaman tabung itu. Kabel-kabel asing menusuk beberapa bagian tubuhnya. Dan...

...seseorang bernasib sama ada di hadapannya. Saat itu, Aichi juga diuji-cobakan di waktu yang sama. Sehingga Leon dapat melihat Aichi yang berkondisi sama sepertinya di tabung seberang. Sama-sama polos, nafas bergantung pada selang oksigen, dan kabel-kabel yang melilit dan menusuk organ tubuhnya.

Ia pikir ia akan mati...

...Sama seperti kedelapan manusia percobaan lainnya yang sudah membusuk di tungku mayat. Namun hatinya berkata ia harus kuat, ia harus hidup. Dan keajaiban pun terjadi...

"Apa... itu kemampuanmu sebagai 'Necroxirmus', Aichi?" Aichi sedikit mendapat pencerahan begitu sosok kakaknya itu mulai memanggil nama yang dibuat Leon untuknya. 'Aichi'. Dan ia memanggilnya dengan nada bicaranya yang khas, sungguh si bluenette sangat merinduhkan namanya dipanggil oleh kakaknya itu.

"Bingo! Kau tepat sekali!" Aichi tampak gembira lalu tanpa sadar malah merangkul sosok itu. Tanpa peduli kalau jam masih menandakan waktu istirahat di sekolah Nethelbell, dan pada jam sekian, daerah taman belakang Nethelbell masih cukup ramai. "...Bagaimana denganmu, Xirmus?" bisiknya ditengah pelukan eratnya, berharap Leon tidak memberontak dan melepasnya.

"...Tidak sehebat yang kau pikirkan," jawabnya niat tak niat. "Aku hanya bisa menghafal apapun yang kulihat dan kubaca. Dan semua tersimpan di otakku secara permanen. Setidaknya kemampuan ini bisa kupakai untuk bekerja," lanjutnya sembari memejamkan matanya.

Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata sedang mengamati mereka. Ya, tentunya dengan artian yang berbeda dari tiap pasang mata. Dan artian itu sulit untuk dimaknakan kedalam kata-kata...


NECROXIRMUS


Kepada Necro, dari Mitsusada Kenji.

Kalimat depan surat itu membuat si empunya mengerinyit dahinya, rasa kesal dan penasaran berkecamuk dalam hatinya. Aichi memandang surat kecil yang sudah tak rapi bentuknya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sekarang ia sedang diam di koridor sekolah yang sepi―karena sedang berlangsung proses belajar-mengajar―. Tentunya ia belum bisa mengikuti kegiatan belajar dan mengajar tersebut karena ia belum resmi menjadi murid disana, walau sudah memakai seragamnya.

Karena tidak berniat mengganggu kegiatan belajar 'kekasih'nya, ia pun memutuskan untuk berputar-putar di sekolah besar itu. Namun nyatanya berkeliling di sekolah besar pun tak bisa mengusik rasa bosan di hatinya, atau lebih tepatnya tidak ada kerjaan. Membaca buku di perpustakaan? Ayolah, ia sangat bertolak-belakang dengan kembarannya itu. Jadi jelas tidak mungkin. Bermain di taman? Hah, siapa pun pasti mengiranya gila jingkrat-jingkratan sendiri di taman, nanti nama Kai pun ikut tercemar. Masa pacaran dengan orang sinting? Jadi itu juga tidak mungkin. Nongkrong di kantin sekolah? Dia tidak suka makanan manusia, atau lebih tepatnya tidak bisa makan semua makanan manusia. Sebagai manusia percobaan sepertinya, ia harus memilah makanannya sendiri. Siapa tahu jajanan kantin nggak sehat, bagaimana kalau tiba-tiba tubuhnya ambruk hanya karena sebatang es dari kantin sekolah?

Setelah keliling tanpa arah, tiba-tiba ia jadi teringat sesuatu. Ia pun merogoh saku rok hitamnya dan mengambil surat itu. Surat yang didapatinya dari salah satu peserta ujian tadi, Mitsusada Kenji. Aichi menjadi gunda hati tanpa sadar, bagaimana bisa manusia zaman sekarang ternyata tahu berita 'Necroxirmus' yang seharusnya sangat tertutup dari publik itu. Tapi bagaimana bisa pria beriris kehijauan itu tahu nama aslinya? Necro. Ya, itu nama aslinya. Sepotong kata dari nama asli percobaan gelap itu. Bagaimana Kenji bisa tahu?

Tanpa sadar, tangan lentik Aichi bergerak untuk membuka sepotong surat itu. Rasa penasaran yang semakin menyelimutinya bahkan sampai mengambil ahli kendali tangannya untuk membuka surat itu. Satu-dua lipatan terbuka, tapi potongan surat itu tetap saja tidak besar. Pintar juga pria bertampang easy-going itu, seperti membuat contekan saja, pikir Aichi.

Kini jarinya tertahan di kepala surat, agar ia bisa melihat isinya dengan jelas. Dan matanya membulat begitu membaca satu per satu kata yang tertera disana. Tidak banyak memang. Bahkan hanya satu kalimat di dalam isi surat itu. Tapi satu kalimat itu sanggup membuat Aichi terpaku di tempatnya berdiri―koridor sekolah. Nafasnya terasa berhenti, peredaran darahnya serasa tercekat. Ya, kira-kira seperti itulah yang ia rasakan begitu kalimat itu sukses dibacanya dengan hati sesak.

"Kh, tidak..." bisiknya sembari meremat kertas itu kuat-kuat, semakin memperburuk bentuknya, tapi Aichi tidak peduli. Isi surat itu, isi surat itu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Serasa dihantam benda tumpul, dan rasanya tidak kalah sakit dari luka fisik. Sangat sakit. Juga perih. Ia tidak mengerti.

"Hm, kalau tidak salah kau peserta bernama Aichi, ya?" belum sempat Aichi menghilangkan rasa sakit di hatinya, ia dikejutkan suara seseorang. Ternyata masih ada orang yang berlalu lalang di koridor sepi itu, padahal jam pulang sekolah masih lama. Tak perlu dipungkiri si bluenette langsung menengok ke arah belakang ia berdiri. Dan disana betul-betul berdiri sesosok figur...

"...Siapa kau?" tanya Aichi dengan nada datar tanpa rasa ketertarikan. Tapi setidaknya sosok berambut pirang itu bisa menghentikan rasa sakit di hatinya untuk beberapa saat. Iris silver sosok itu sedikit membulat, kemudian ia tersenyum ramah―Ah, tidak, kalau bisa dikata senyuman yang sulit untuk diartikan.

"Ehm, aku Taishi Miwa," sahutnya kemudian sembari mengumpat kedua tangannya di balik punggungnya. Aichi menatap sosok itu dengan seksama, ia tidak memakai seragam. Bearti bukan murid di sekolah inikah? "...Kita mengobrol sebentar, yuk!" lanjutnya sembari memiringkan kepalanya ramah.


TO BE CONTINUED


A/N (illushaCerbeast): Halo, minna-san! :DD Ini dia chapter 6, maaf ya kalau tidak memuaskan atau apa, hehehe. Fic ini pas update bersamaan dengan fic kami dari fandom seberang. Well, ada yang mau saranin kiranya fic ini tamat chapter berapaan? XD Dan, arigatou ya yang sudah review di chapter" kemarin, honto ni arigatou atas dukungan kalian! u.u *terharu* Sekali lagi maaf belum bisa balas review, ya, jadwal sangat padat. Tapi semoga dengan update-nya chapter 6 ini bisa menghibur minna-san sekalian, ya! And by the way, boleh tahu pairing kesukaan minna, tuh, apa saja? Rencananya saya kan mau masukin multi-pairing lain, siapa tahu pairing kesukaan minna masuk, hehehe *ga janji lho*. Oke, sekian. Monggo review-nya, ya! Semakin banyak review, update kilat jangan ditanya lagi XD Kalau reviewnya dikit update ngendet, lho *ngancem* /diketokpanci/ Jaa nee! XDD