Deep in Your Heart
(summerchii)
.
.
warn: bxb! incest! otw menjerumus!(masih otw) kim!family. absurd, gaje, bisa menyebabkan sesak napas, pening dan mual
.
.
.
Sejatinya, sosok itu tidak bisa dia miliki.
06:
"Jadi, man, sebenarnya kau itu mau jalan seperti apa?"
Namja berambut pirang itu mengacak jambulnya, mengigit long chicken burgernya kasar dan menatap sang kawan yang sedang mabuk soda didepan dia. Mata Hoseok yang biasa jelalatan ke wanita atau pria-pria cantik di tempat umum mendadak kosong, memandang tidak nafsu pada sedotan.
"Jalan layang saja kalau bisa. Aku pusing, dimana-mana macet-"
"Fuck off, dude. Aku serius! Kau ini bagaimana?! Kemarin itu mendekati Jinnie, lalu hari ini membuat pesan tersirat kalau kau benci padanya! Lalu itu maksudnya apa?! Dia tanya banyak hal padaku yang aku juga bingung jawabnya! Dia tanya kita itu siapa, kenapa kemarin bantu dia, lalu kenapa hari ini jemput dia, lalu kenapa kau aneh sekali sementara dia memandangku dengan tatapan geli seakan aku ini om om hidung belang yang suka lihat-lihat belahan pantat! Kau tidak tahu apa-apa karena langsung kabur-"
"AARGH BERISIK!"
Saluru penjuru resto cepat saji itu langsung menoleh pada mereka berdua, membuat Jackson melotot dan langsung berdiri, meminta maaf pada pelanggan lain yang mengganggu sembari men-sleding kepala Hoseok keras-keras.
"Bangsat kau! Tahu malu dong!"
"Bicara pada dirimu, si bawel yang sinting sekali omongannya!"
Jackson mencibir setelah bokongnya menyentuh bantalan empuk lagi, menggeleng kepalanya yang pening dan menggigit burgernya lagi.
Kepala mereka berdua sedang tidak ada yang dingin, dan tidak baik jika percakapan dilanjutkan. Hari ini mereka hanya pergi berdua saja karena kebetulan yang lain absen dan rapat penting ini lebih baik dibicarakan secara privasi.
Hening mengambil alih, membiarkan dua insan heboh itu mengambil nafas dan menenangkan kepala mereka dengan roti panjang dengan selada dua lapis dan empat gelas soda. Memang tidak sehat, mereka tahu. Juga bisa membuat mereka cepat mati, mereka juga tau. Tapi apa peduli? Terlalu banyak stress juga membuat cepat mati.
"Aku membencinya. Dari semua keluarga Kim, kau tahu aku paling benci dia."
Jackson menghentikan kunyahannya. Melirik Hoseok yang menatap lurus kedepan, kosong tapi tajam. Benar menunjukkan keseriusan dari ucapannya.
Tapi bibirnya digigit.
Jackson tersenyum penuh ejek, membungkus burgernya yang sisa tiga gigit. Tiba-tiba nafsu makannya hilang karena melihat temannya bimbang begitu. Hoseok tidak pernah begini. Tidak pernah, kalau tidak berurusan dengan keluarga Kim.
"Aku tahu kau bohong."
"Aku benar membenci dia, Jackson sialan. Kau tidak tahu soal keluarga mereka-"
"Persetan. Sekarang begini, hatimu maunya bagaimana? Jangan setengah-setengah. Kau muncul baik-baik lalu sekarang tiba-tiba begitu. Kau mau dekat dengannya tapi malah membatasi diri. Tidak punya pendirian, tau! Apa kau pikir bagaimana perasaannya kalau dia tertarik padamu? Kenapa kau tidak jelas begini? Kalau memang benci ya jangan didekati, kalau memang mau dengannya ya hajar terus sampai dapat, bodoh!"
"Oke, oke! Aku tegaskan sekarang! Aku membencinya!"
"Tapi kemarin kau lari pontang-panting padanya dan lapor ke Yoongi-hyung masalah sunbae-sunbae mesum sampai mereka diskors! Itu apa namanya kalau bukan pendekatan? Kalau bukan suka? Kau itu aneh! Kau suka- STOP! JANGAN TERIAK!"
Jackson memukul bibir Hoseok kasar dan mendapat pukulan keras di kepalanya. Mereka saling memelototi satu sama lain, siap saling cakar kalau tidak ingat mereka ada di tempat umum.
Diam disana selama beberapa menit, sebelum Hoseok menempelkan kepalanya ke meja, melipat tangannya sebagai tumpuan dan menggeleng diatas sana. Jackson menggaruk tengkuknya gatal, menepuk panggulnya kuat supaya dia bangun dan tidak menampilkan kecurigaan pada orang-orang.
"Yang tegas, Hoseok. Kejar atau menyesal. Ikuti saja kata hatimu, egois sedikit tidak apa-"
"Kalau aku bilang Namjoon ada rasa padanya, bagaimana?"
Jackson bungkam. Tangannya langsung kaku mendengar penuturan Hoseok yang ambigu. Namja itu menahan napas, mencari penjelasan dari manik gelap temannya.
"Hah? Kau gila?"
Hoseok mengacak rambutnya, menghela napas dalam dan mengubur wajahnya. Terdiam selama beberapa detik sebelum muncul kembali. Merenggut pepsi Jackson yang masih penuh dan menelantarkan empat gelas es batu lainnya.
"Iya. Aku gila. Jangan anggap serius. Aku sedang mabuk, Jackson. Biarkan aku berpikir."
Mabuk soda, atau mungkin Hoseok sedang mabuk cinta. Cinta yang sedih, yang membuat kepalanya bergelembung seperti soda di gelas.
"Aku membencinya. Itu saja. Kalau Namjoon tidak memohon pada kita untuk memperhatikannya, aku mungkin tidak akan simpatik seperti ini sama orang itu."
"Hobi-"
"Aku tidak akan membelot, Jackson. Aku bukan orang macam itu."
Biarlah saja mereka menganggapnya anak kecil yang naif. Hoseok tidak peduli. Seokjin hanyalah bagian kecil dari dunia yang merusak hal penting dalam hidupnya, yang menyusup masuk kedalam rongga yang dikeruk karena kehilangan dan empatinya. Mengendap dalam di dasar jurangnya.
Dia hanya berharap endapan itu bisa menguap.
XXX
"Makan."
Seokjin nyaris mati terjungkal di ayunan saat mendapati tangan seputih salju itu menyodorkan sebungkus roti padanya. Dia kira itu tangan setan. Tapi ternyata yang hadir malah manusia albino, si pucat galak tukang silat lidah itu. Ditangannya yang lain terdapat satu kantung plastik dari minimarket disebrang jalan, dan dompet di saku celananya.
Udara sore mulai menusuk pipinya. Kelasnya sudah bubar dua jam lalu, hari ini syukurnya selesai lebih awal karena ada persiapan untuk acara sekolah tahunan besok hari-yang menyibukkan tim-tim panitia dan harusnya, ketua kedisiplinan.
Tapi orang itu sekarang disini, berdiri didepannya. Sekantung belanjaan dan sebungkus roti isi disodorkan didepan wajah Seokjin.
"Aku tidak bisa taruh racun atau obat tidur di roti isi yang masih disegel. Makan."
Nadanya entah memerintah atau memberitakan, Seokjin tidak tahu. Yang memberi hanya datar saja menatap yang lebih tua sambil tetap mempertahankan tangannya. Tidak enak, Seokjin meraih roti itu dan membawanya pada genggaman tangan besarnya.
"G-gomawo.."
Dan anak itu hanya mengangguk, beralih pada ayunan disebelah Seokjin dan membuka kantungnya. Seokjin terbelalak melihat banyak susu pisang disana. Ada snack berukuran besar juga. Dia mengambil kopinya satu, membukanya dan menegaknya kasar.
"Itu-"
"Buat anak-anak, tadi. Mereka lembur hari ini tapi aku tidak bisa ikut, jadi... yah, seperti sogokan? Sisanya masih banyak. Mau bawa pulang?"
Namja pucat itu tertawa kecil, membuka kaleng kopinya dan menegak minuman itu tanpa peduli jawaban Seokjin. Menyesapi tiap rasa pahit-manis dan menikmatinya. Seokjin hanya diam saja ditempatnya. Bingung mau bicara apa pada orang ini karena pada kenyataannya, dia tidak pernah dekat atau bahkan mengenal Min Yoongi selain sebagai ketua kedisiplinan.
Apalagi melihat dia tertawa dan sok mengajak ngobrol seakan mereka dekat.
"Kau bertengkar dengan ayahmu makanya tidak mau pulang?"
Seokjin langsung tersedak hebat waktu Yoongi menampar hatinya dengan kasar. Namja pucat itu cuek saja, mengeluarkan botol air dan menaruhnya di bawah ayunan Seokjin. Yang lebih tinggi mengambilnya, meneguknya perlahan dan menatap si ketua kedisiplinan sekolahnya sangsi.
"A-aku hanya ingin menenangkan diri... bu..bukan kabur."
"Oh."
Lalu, hening. Tidak ada seorangpun yang mau membuka topik. Seokjin tidak enak sebenarnya, tapi dia bingung harus bicara apa. Lagipula, dia tidak dekat dengan Yoongi. Seingat dia mereka bukan teman sekelas. Dia saja lupa, Yoongi itu seangkatannya atau adik kelasnya. Entahlah, dia tidak pernah tahu menahu dan tidak pernah mau tahu keadaan disekelilingnya. Apalagi, tidak ada hal yang baik padanya.
Tunggu.
Tidak ada yang baik padanya. Lalu Yoongi ini kenapa?
"Namjoon bagaimana?"
Seakan langsung mendapatkan jawaban, Seokjin menghela napas berat. Ya, benar. Apa lagi yang bisa diharapkan olehnya? Semuanya ini pasti ulah Namjoon. Entah anak itu mengutus penghiburan atau membuat ketua kedisiplinan jadi iba sama keluarga mereka, dia tidak tahu. Namjoon itu mudah sekali membuat hati orang-orang ada ditangannya.
"Entahlah... dia tidak pergi ke sekolah hari ini. Tapi tadi pagi keadaannya baik."
Seokjin memberikan laporan sejujur-jujurnya, menatap kosong matahari senja didepannya. Burung burung mulai terlihat pulang ke sarang mereka masing-masing, menghiasi senja jingga dengan siluet siluet anggun bulu kehitaman mereka. Membuat Seokjin iri betapa mereka bisa pergi bebas.
"Apa kau tahu keadaanya bisa berubah terbalik hanya dalam hitungan detik?"
Seokjin menerjapkan matanya bingung, sementara Yoongi menatapnya dengan mata memicing heran. Terheran dengan pertanyaan Seokjin yang entah maksudnya apa.
"Kau sungguh tidak tahu?"
Seokjin malah mengedipkan matanya bingung seperti alpaca kehilangan induk, membuat Yoongi berpikir keras. Bingung dan rumit. Dan harusnya dia tidak ikut-ikutan dalam masalah apapun itu.
Tapi mulutnya gatal untuk diam, otaknya mendidih karena ketidaktahuan orang yang disebut 'keluarga' oleh kawannya. Tragis, sadis. Kenapa bisa orang seperti Namjoon dapat 'keluarga' yang seperti ini?
"Kau serumah dengan dia tapi tidak tahu? Kau ini dungu apa jahat? Atau keduanya?"
Seokjin memicingkan matanya, menatap Yoongi yang menatap Seokjin adalah salah satu kenajisan dunia. Sial, dibalik rasa kesalnya, ada sedikit rasa aneh di dadanya saat Yoongi bilang begitu.
"Kurasa kau lebih baik tidak tahu."
Seokjin sempat mau protes, tapi Yoongi langsung mengangkat bokongnya dari ayunan dan melengang pergi begitu saja.
Dia ingin mengejar, namun matanya menangkap bayangan tinggi disebrang jalan. Sosok itu tersenyum, kemudian tertutup bus yang sedang berhenti.
XXX
Seokjin tidak tahu dia kenapa. Dia juga tidak tahu kena sambar apa sampai dia mau pulang dengan sekali ajakan dari anak yang lebih muda dua tahun darinya itu.
Bahkan tidak ada penolakan apapun. Bahkan dia tidak berontak. Bahkan dia diam saja waktu tangannya diraih dan ditarik supaya mau berjalan. Dia lupa semuanya. Semudah itu, dengan tarikan pelan saja. Dia lupa semua kesalnya. Menguap seenaknya saja.
Padahal Seokjin sudah berencana melancarkan serangan ngambek dan cuek, supaya tidak terpengaruh banyak-banyak oleh energi positif Namjoon. Lama-lama dia bisa lupa kalau ibunya dendam kesumat sama anak ini. Itu bisa gawat. Dia tidak mau dikutuk ibunya yang di surga.
Anggaplah dia seperti anak kecil. Tapi serius, saat terlalu lama dengan Namjoon dikepalanya terus bergema suara ibunya yang marah pada dia. Sampai dia sendiri bingung, harusnya dia memaafkan anak itu atau mendorongnya saja biar jatuh dari tangga.
Tapi dia juga tidak yakin anak itu bisa mati gara-gara jatuh dari tangga. Nyawanya selalu di /re-stock/ oleh Tuhan. Dan akhirnya dia jadi samsak tinju ayahnya karena berbuat nakal.
Jika ingin di deskripsikan, hati dan kepala Seokjin kuranglebih seperti bolu marmer.
"Hyung, kau ikut acara sekolah besok?"
Seokjin mengangkat kepalanya dan memandang yang lebih tinggi, yang tepat melihat dia. Sejenak dia terbengong sebentar sebelum menggeleng pelan dan menghela napas kasar.
"Acara begitu tidak penting. Lebih-"
"Kalau begitu, besok kau tidak pergi kemana-mana dan pergi tanpa arah seperti biasa kan?"
Seokjin mau menggampar atau meninju, jika ini bukan tempat umum. Sinis sekali anak itu padanya.
"Terserahku dong mau-"
"Kalau begitu besok pergi denganku saja! Ada satu hal yang ingin sekali kucoba!"
"Lalu apa-"
"Kau pasti suka, hyung! Daripada kau jalan sendirian tanpa teman tanpa arah kan?! Makin lama kau kelihatan makin menyedihkan kalau begitu, nanti kau dikira orang gila-"
"DONGSAENG KURANG AJAR! JANGAN POTONG OMONGANKU!"
Namjoon langsung terpaku ditempat waktu Seokjin berteriak keras dan memukul kepalanya yang lebih tinggi. Matanya terbelalak- antara kaget dan bingung kenapa dia dipukul sementara orang-orang lain menatap mereka geli. Seokjin langsung memerah malu karena kekehan orang-orang, dan batal memarahi Namjoon karena mereka dilihat seperti pertunjukan lucu oleh ibu-ibu.
"M-mian... aku terlalu antusias jadi.."
"Sudah. Lupakan. Jangan membuatku kesal."
Lalu hening menyelimuti mereka yang menunggu bus datang. Namjoon diam saja sambil celingukkan melihat jalanan hari ini. Entah dia sial atau beruntung karena busnya lama datang.
Sementara anak itu diam, Seokjin pusing sendiri dengan hatinya. Dia takut makin terputar dalam lingkaran Namjoon. Tapi juga merasa nyaman didalamnya.
"Hyung, tapi pokoknya kau besok harus ikut aku."
Seokjin langsung menyeritkan dahinya kesal, ingin protes. Tapi Namjoon langsung menghadap dia dan mencubit kedua belah bibirnya jadi rapat. Membuat Seokjin merasa dadanya mau meledak saat itu juga.
"Kau akan merasa sangat puas dan keenakan."
XXX
Besoknya, Seokjin malah minggat. Itu pagi buta sekali saat Seokjin angkat kaki dari rumahnya.
Menaiki kereta paling pagi ke Anyang, mendaki gunung yang sudah dia lupakan tiga tahun lamanya. Sesekali menghela napas, ragu ingin berbalik pulang dan menangis. Tapi dia mantapkan lagi kakinya naik ke atas, melewati ribuan helai rumput dan gundukan batu dibawah-perlahan, tapi pasti. Memasukkan tangannya kedalam saku sweater coklat kebesaran yang dia pakai hari ini sambil melepas topinya.
Ketika sepatu lusuhnya memijak pada tangga-entah tangga urutan keberapa, dia berhenti, menatap ukiran diatas marmer itu sembari mengatupkan mata. Berdoa.
Memandang nisan ibunya kemudian, dan meletakkan sebuket lili putih yang cantik disana. Makamnya masih bersih, dan jujur saja Seokjin kagum akan itu. Entah kenapa bisa marmernya masih mengkilat dan-bahkan Seokjin bisa melihat tempat sembahyangnya bersih dari batang hio yang bertumpuk sembarangan. Padahal seingat dia, dia terakhir kali mengunjungi makam ini tiga tahun lalu.
Sedikit rasa bersalah karena tidak pernah berkunjung menohok hatinya. Duh, dia sudah jadi anak durhaka sepertinya.
"Ma, mianhae aku tidak pernah berkunjung rutin... Aku.."
Aku sedikit banyak mulai melupakanmu, ma.
Seokjin rasa dia tidak pernah bisa mengucapkan kata itu didepan nisan sosok ini. Tapi jelas, dia juga tidak bisa membohongi dirinya. Makanya, dia merasa sudah jadi anak durhaka sekarang. Dia butuh tempat untuk cerita akan banyak hal- tentang si brengsek yang dia panggil ayah dan juga tentang si bangsat adiknya yang pelan-pelan berubah.
Dia jadi banyak pikiran gara-gara Namjoon. Bukan pikiran bunuh diri, pikiran keheranan malahan. Habisnya, anak itu selalu membuat dia pusing sendiri. Jujur saja, dia merasa agak tidak enak dengan anak itu dalam berbagai hal. Namjoon anak yang baik, dia tahu dari dulu soal itu. Tapi ibunya tidak punya hubungan baik dengan mamanya, begitu pula anaknya.
Yah. seperti yang orang bilang. Yang namanya luka masa lalu juga diwariskan melalui darah. Itu yang terjadi pada dia. Dia merasa dia wajar dan patut membenci si jangkung itu, tapi tidak tahu alasannya. Disisi lain, dia merasa bersalah karena membenci Namjoon. Apalagi keadaan sudah berubah sekarang. Entah, dia merasa Namjoon mulai memihak dia.
Bukannya tidak suka. Tapi, aneh saja. Anak itu terlalu penurut pada ayahnya sejak dulu, dan ayahnya selalu bilang untuk tidak ikut-ikutan menyusahkan seperti dia. Padahal Seokjin bingung juga, kenapa dia dianggap sampah sama ayahnya sendiri gara-gara bersikap buruk pada tikus yang menggerogoti ikatan keluarga mereka?
Hal itu yang membuat Seokjin kadang jengah dan merasa bersama ibunya akan terasa lebih baik.
"Nak, tumben sekali kau datang lagi? Bukankah bulan lalu- Oh?"
Seokjin menoleh kekiri, mendapati bibi paruh baya yang sedang membawa sapu dan air di ember menghampiri dia. Penjaga makam, sepertinya.
"A-anyeonghaseo, ahjumma."
"Ne, ne. Anyeong. Um, apa kau kerabatnya?" tanyanya dengan senyum cerah sembari meletakkan ember berisi air disamping nisan dan mengizinkan Seokjin membersihkannya. Seokjin tersenyum miris. Selama itu dia tidak pernah muncul disini sampai bibi penjaga makam ini tidak tahu siapa dia. Ya, sepertinya memang bibi ini orang baru. Jelas saja dia tidak mengenal Seokjin.
"Aku anaknya.. ahjumma. Sudah lama aku tidak berkunjung, mungkin karena itu kau tidak mengenalku. Terimakasih selalu menjaga makam mama-ku bersih, aku sangat senang melihatnya."
Seokjin membungkuk hormat setelah selesai menyiram pekarangannya dengan air. Bibi itu terlihat bingung sebentar sambil memandangi Seokjin dari atas kebawah, sebelum wajahnya jadi cerah lagi seakan dia mengingat sesuatu.
"Ah! Kau kakaknya ya? Jin-ie kan? Aigoo, akhirnya kau datang juga!"
Seokjin agak sedikit kaget saat ahjumma itu memukul lengannya cukup keras dan langsung duduk diatas batu disamping kubur ibunya. Menghela napas sebentar sebelum memeluk sapunya.
"Tidak pergi sama anak itu? Wae? Aish. Kau jahat sekali padanya! Kasihan sekali anak itu. Dan kau! Kau malah tidak membantunya sama sekali untuk bawa barang? Hah, anak zaman sekarang!"
Seokjin mengerutkan dahi. Membuat bibi itu berdecak dan memukul pantatnya.
"W-WAE?!"
Seokjin cuma bisa memelotot kaget sembari menerjapkan matanya heran. Sementara bibi berambut ikal disampingnya malah gemas dan berniat memukulnya lagi.
"Ya! Bocah sialan! Bantu adikmu membersihkan makam dan jangan malas-malasan dirumah! Apa susahnya tiap dua bulan sekali berkunjung? Eomma-mu juga makin senang kalau kalian berdua datang sama-sama, pabo!"
Seokjin memproses satu demi satu perkataan bibi yang mengoceh didepannya terus menerus, memarahi Seokjin kadang-kadang sambil menghela napas lelah.
"S-seingatku-"
Seingatku aku tidak punya dongsaeng.
Seokjin baru ingin mengatakan itu, namun tiba-tiba saja wajah bodoh Taehyung dan Namjoon muncul dikepalanya. Mereka berdua kemari? Mustahil. Taehyung tidak tahu apa-apa soal keluarga mereka yang rumit ini. Yang tahu hanya Seokjin, orangtua mereka.
Dan Namjoon, tentunya.
"Lagipula, tega sekali ayahmu. Sudah tahu anaknya punya riwayat jantung. Makam ibunya malah di bukit paling atas. Naik saja dia susah setengah mati, tidak ada yang menemani pula. Kalian sekeluarga jahat sekali padanya."
Wajah Seokjin langsung berubah datar. Dadanya terasa diremas kuat-kuat seperti ingin dikeringkan, sementara dia merasa punggungnya makin berat.
Seokjin teringat luka di dada adiknya.
Sungguh. Dia tidak berharap ini semua perbuatan Namjoon. Tapi jika memang iya...
"Ahjumma... apa saja yang dia lakukan saat kemari?"
XXX
"A-aah... Shh.."
Seokjin hanya bisa memejamkan matanya, membiarkan airmatanya membanjir di pelupuk mata sampai matanya merah. Rasanya sangat perih. Dia tidak tahan lagi jika harus melewati cobaan ini terus-menerus.
Jemarinya meremat erat telapak tangan besar dihadapannya, sesekali memukul lengannya sebagai bentuk pelampiasan rasa sakit yang merajarela atasnya. Peluh sudah mulai merembes keluar dari semua pori-pori kulitnya, berganti jadi keringat banjir yang membuatnya merasa lengket. Padahal AC ruangan sudah ada di titik terendah dan keadaan didepan masih hujan, namun dia tetap kepanasan luar biasa.
"Ssh... sial! Ah!"
Seokjin mengelengkan kepalanya sementara kakinya terus bergerak tidak sabar. Dihadapannya, Namjoon masih menatap dengan tatapan setengah geli-setengah kasihan. Rambut mereka berdua sudah sama lepek, Sama juga dengan bibir yang sudah sama bengkak dan badan yang sudah kegerahan sendiri. Hanya, bedanya ada pada Namjoon yang menikmati dan Seokjin yang berisik.
"D-dasar gila... aish! Oh Tuhan! AAAAAH!"
Namjoon jadi orang pertama yang tertawa penuh kemenangan saat Seokjin meminum semua cairan itu sampai habis. Masih menjulurkan lidahnya kepedihan dan mengipasi wajahnya yang sudah seperti orang lari marathon lima kilometer. Sementara Namjoon masih tenang menyuap jiggae neraka itu dan menikmati gigitan-gigitan manja di papilanya.
"Wajahmu merah, hyung. Apa kau sudah merasakan nikmatnya?"
Seokjin sangat ingin melempar mangkuk hot-potnya pada si sombong didepan dia. Kalau saja dia lupa ini punya restoran, mungkin mangkuk itu sudah berlayar ke kepala Namjoon sampai bocor. Dia tidak mengerti apakah lidah Namjoon mempunyai daya tahan seperti badak atau terlalu pandai beradaptasi seperti kadal. Yang jelas, bisa-bisanya dia makan makanan sepedas ini dan sebanyak itu.
"Sialan... shh, pedas! Bajingan! Kau bisa-bisanya mengajakku kemari!"
Namja manis itu marah-marah sendiri. Efek kepedasan membuat marahnya lebih cepat naik ke tiitk didih. Dan Namjoon menikmati saat dia dimarahi dan dimaki-maki karena berhasil menemukan kedai sepedas ini, dan mengajak dia pula. Dia tidak tahu lagi harus menangis atau tertawa, karena hyungnya sangat lucu sekarang dan Namjoon tidak bisa melepaskan mata barang sedetik dari Seokjin yang sedang mengumpat amatir, lalu menyambar teh miliknya yang masih setengah gelas.
"Katanya kau bisa makan apapun... hyung?"
Seokjin mengangkat sendoknya tinggi-tinggi. Siap memarahi Namjoon kalau saja lidahnya tidak kebas. Namja yang lebih muda menutup matanya dan sedikit mengelak dari serangan kuah yang muncrat dari sendok kakaknya.
Seokjin diam selama hampir sepuluh menit, memandangi Namjoon yang masih dengan kuatnya melahap jiggae neraka pelaku yang membuat bibirnya bengkak. Pikirannya mengambang antara umpatan kepedasan dan perkataan bibi penjaga makam subuh tadi.
Masih tergiang jelas di kepalanya, soal si adik yang datang rutin dua bulan sekali ke makam ibunya.
"Namjoon-ah,"
Yang dipanggil langsung mengangkat kepalanya, menatap Seokjin tepat dimata, masih mengunyah nasinya pelan. Yang lebih tua masih memandangnya diam, sendok dingin di bibirnya yang bengkak dan tissue ditempelkan di dahinya yang basah.
"Kau sering berkunjung ke makam eomma-ku?"
Dan anak itu langsung diam. Menghentikan aktivitasnya dan menerjap. Tersenyum tipis dan memyandarkan punggungnya kebelakang.
Ciri khasnya kalau mau berkelit.
"Tidak-"
"Song-ahjumma yang mengatakan itu. Dia juga bilang, kau... memanggil eommaku mama?" Lanjutnya. Membuat Namjoon meraih gelasnya dan minum, menelan semua makanan yang ada dalam mulutnya sebelum bicara.
"Mian. Aku hanya ingin-"
"Minta maaf? Dan menceritakan padanya tentang diriku?"
Namja iti terdiam, mengigit bibir dalamnya dan mengangguk takut-takut. Membuat Seokjin tertawa sinis tidak habis pikir. Namjoon merasa Seokjin akan berpikir tentang pencitraan yang sedang dia buat. Ya, mau bagaimana lagi? Hyungnya selalu menganggap dia melakukan banyak kepura-puraan (dan memang pada kenyataannya, ya.) Tapi jika menyangkut masalah orang mati, Namjoon sama sekali tidak berpikir kearah sana.
Tapi terserahlah. Dia juga tahu dia tidak akan menang melawan Seokjin.
"Kenapa?"
Namja yang lebih muda menelan ludahnya. Mencondongkan tubuhnya kedepan dan menyengir kaku.
"K-karena kau sendiri punya dua eomma, a-aku juga harusnya sama-"
"Bukan. Kenapa kau begitu niatnya mendatangi eommaku?"
Namjoon menggaruk kepalanya menghela napas dalam dan mengusap wajahnya.
"Sebelumnya, maaf lancang dan aku terkesan seperti orang aneh. Aku-"
"Padahal kau merasa sakit kalau jalan sejauh itu ... kan?"
Namjoon terdiam mendengarnya. Seokjin belum berhenti. Dia meremat sendoknya kuat-kuat. Tidak mau berakhir menangis menginterogasi dongsaengnya sendiri.
"Bibi itu bilang, appa jahat karena membuat makam mama ada di blok teratas, sementara tahu anaknya jantungan. Tapi kau begitu niat naik keatas, membawa kue beras, teh, dan sembahyang pagi-pagi, tidak peduli tangganya licin atau kering. Bahkan tremor tanganmu sampai gemetar karena dipaksa membawa banyak bahan sembahyang dan bunga. Dia bilang kau terlalu memaksakan diri sampai sanggup minum obat tanpa air, bahkan membuat takut mereka yang disana kalau-kalau kau kumat sementara keluargamu tidak ada yang tahu."
Namjoon meringis sendiri mendengarnya. Ibu-ibu memang tidak bisa diandalkan. Mereka dengan seenaknya membicarakan orang lain tanpa peduli kepada siapa dan kenapa.
"Kau minta maaf pada mama-ku karena sudah membuatku tersudut. Padahal aku membuatmu tersiksa batin. Kenapa?"
Lanjutnya. Seokjin siap meledak tangisnya kapan saja. Tapi Namjoon melayangkan sehelai tissue padanya dan tersenyum seperti orang bodoh.
"Aduh, hyung. Kau akan tertawa mendengar alasanku."
"Jangan bercanda."
Nada serius Seokjin dan kepalan ditangannya membuat Namjoon kehilangan lesung pipinya dalam dua detik. Menatap dalam iris coklat gelap hyungnya seakan menghisap jiwanya, menautkan jemarinya yang basah erat-erat.
"Aku hanya mau mati tenang."
Seokjin tercekat. Sementara Namjoon menatapnya cuek seakan dia tidak mengatakan suatu hal yang berat. Seokjin bahkan tidak sanggup bernapas waktu Namjoon mengatakannya dengan gamblang.
"Kalau masalah jantung, kau tidak perlu khawatir. Katanya itu efek samping operasi dulu. Jadi, karena aku hidup dibiayai appa yang dulu suaminya, setidaknya aku ingin minta maaf pada eommamu sampai tidak sanggup. Aku sungguh merasa bersalah karena jadi orang yang menghancurkan keluargamu. Karena itu, mau kau apakan saja aku tidak apa-apa. Setidaknya kalau kau puas membuatku sakit, aku merasa kita impas. Tapi kalau sampai kau bunuh diri, lebih baik aku mati duluan."
Seokjin sampai membatu mendengarnya. matanya sudah basah dan pipinya sudsh jadi lengket. Punggungnya meremang mendengar suara berat Namjoon yang terlampau tenang, cuek saja mengatakan hal seperti itu terang-terangan.
"Dicap pembunuh itu sakit. Sekali saja sudah cukup, hyung."
Dan dia tertawa, seakan semuanya adalah omongan manis tentang perjalanan hidupnya. Tentang kisah bahagia yang dulu pernah dia lalui bersama keluarganya.
Seokjin jadi tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Di satu sisi, dia masih mengingat jelas bagaimana Namjoon pasrah akan apapun yang dia lakukan. Di sisi lain, dia mengingat anak itu yang diam saja menyaksikan ibunya gantung diri. Dia terlalu bimbang. Dia merasa jahat apapun yang dia lakukan.
Karena mereka berdua ternyata sama menyedihkan.
Dia, anak yang tidak dipandang ayahnya sama sekali. Padahal jelas-jelas dia bibit unggul pria itu. Yang lahir dari pernikahan sah. Terlepas dari seburuk apapun ibunya. Sementara Namjoon, terlalu lama hidup dalam kubangan yang namanya tekanan sampai pola pikirnya berhenti disana, akan apa yang dipikirkan orang terhadapnya. Mengatur hidupnya seenak Tuhan menanam dan mengambil nyawa hanya karena dia dianggap penjahat.
"Hyung, jangan menangis..."
Seokjin mengusap matanya, kembali menyuap nasi kedalam mulutnya yang terasa pahit dan memasukkan jiggaenya. Berharap pedasnya dapat menghapus pahit yang mencekik lehernya.
"Hyung?"
Namjoon mengangkat sendoknya dan memoleskannya dengan jorok ke hidung Seokjin yang sedikit memerah. Namja manis itu langsung memekik kepedasan dan memukul kepala Namjoon refleks keras-keras. Melihat wajah marahnya, namja itu kembali tersenyum bodoh.
"Kau lebih baik marah daripada menangis, hyung," kekehnya sampai menyipit. Seokjin masih memerah satu muka, sampai matanya yang berairpun juga.
"Bajingan, Kim Namjoon! Aku menangis kepedasan!"
Pedasnya sampai batin.
Setelah ini, izinkan Seokjin menata ulang kepalanya dan merenungkan hidupnya sekali lagi. Mungkin benar kata albino. Dia makhluk dungu yang juga merangkap orang jahat.
a/n
fik saya kembali setelah balada UTS terlambat. yang lain udh mau uas, sayateh baru selesai uts!!!
maaf dosa saya jadi long last gini... mind to review? hehehe, ditunggu ya kritik dan sarannya~
