Chapter 6 Up

.

.

.

ENJOY

.

.

.


~ナルトはサスケへ~

Hari menjelang pukul 08.00 pagi ketika Naruto masih tidur lelap sambil bermimpi sedang berjemur di pantai dikelilingi makanan dan minuman mewah, berlagak bak bangsawan yang menghamburkan uang ditangannya ketika handphone sialannya berbunyi.

Bunyi dering ketiga barulah dengan berat hati Naruto menjawab.

"...Nggnnn... Moshi-moshi..." Jawabnya setengah menguap tanpa melihat layar handphone.

"Ini aku.." Jeda sejenak, "Jangan bilang kau belum bangun tidur?"

"Aku siapa? Siapa kamu berani-beraninya membuat uang dalam mimpiku hilang dalam sekejap?" Celoteh Naruto semakin absurd.

Terdengar dengusan kasar dari seberang telepon. "Aku Sasuke, usuratonkachi... Apa kau terlalu dobe hanya untuk mengingat suaraku ini? Kenapa kau selalu begini?! Lalu Uang? Itu cuma dalam mimpimu, jadi cepat bangun sebelum aku membuat mata birumu itu menjadi terang, dobe..."

"Oh... Sasuke teme, ya?" Naruto berdecak lidah, "Kau pengganggu brengsek! Jangan sebut aku bodoh tiga kali dalam satu kalimat, teme. Kenapa kau selalu mengganggu tidurku? Dan bagaimana mungkin kau bisa membangunkanku sedang kau berada dijauh?" Naruto berkata malas sambil menguap dan tidak menyadari kalau dia juga menyebut Sasuke dengan sebutan brengsek sebanyak tiga kali dalam satu kalimat.

"Kau meremehkanku?"

"Coba saja. Bahkan teriakan ibuku tidak bisa membangunkanku..." Tantang Naruto semakin berani.

"Jangan menyesal, dobe..."

Dari nada suara itu membuat Naruto merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Baiklah... Kalau begitu, mau ku ingatkan tentang ciuman kita?"

"Ya... Ingatkan ak-...UHUK!" Mata biru langsung melotot terang, dengan segera badannya duduk tegak dan ia tersedak ludah sendiri dengan tidak elitnya. "Ka-kau?! Ki-kita apa, brengsek? Kapan kita berciu-... Kamisamaaaa... Kau bicara apa, hah?! Jangan mengada-ada, temeee!"

Kekehan dari seberang telepon membuat Naruto semakin meremas handphone-nya, perpaduan antara kesal dan untuk menyalurkan rasa malunya yang sudah sampai ubun-ubun.

"Aku sudah memperingatimu, dobe. Kau sendiri yang menantangku dan aku tidak mengada-ada. Kita memang pernah berciu-..."

"Kita tidak, temee..." Naruto memotong cepat ucapan Sasuke sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Naruto terlalu malu untuk mendengar kata yang menurutnya tabu itu.

"Kita... Iya..."

Jawaban itu terlalu menyakinkan.

"Kita tidak..." Dengusan kesal Naruto terdengar setelah ia berhasil menarik nafas untuk menghilangkan semburat merahnya. "Itu hanya dalam mimpimu..." Lanjutnya dengan tawa meremehkan.

"Aku tidak sedang bermimpi, dobe... Kita melakukannya dengan kesadaran penuh dan jangan meremehkanku..."

Oke! Sip... Terima kasih...

Terima kasih untuk Uchiha Sasuke si brengsek yang berhasil mengembalikan semburat merah tomat busuk diwajah Naruto plus jantungnya yang berdetak cepat mengalahkan kecepatan mobil balap.

Lalu demi apa kalimat itu terdengar sangat ambigu?!

"Ka-kapan kita me-..." Tegukan ludah keras terdengar. "-Lakukannya dengan sadar?" Lanjut Naruto dengan suara semakin mengecil diujung kalimat. Merasa malu karena pertanyaannya juga terkesan ambigu seolah-olah melakukan sesuatu dalam keadaan tidak sadar juga. Bahkan ia sempat menggigit lidahnya setelah selesai bertanya.

Tapi, dipikirkan seperti apapun ia tidak bisa menebak kapan kejadian itu terjadi. Waktu pulang dari kedai ramen pun mereka hanya terdiam sepanjang perjalanan Sasuke mengantarnya pulang. Bahkan saking sunyi-nya Naruto sempat tertidur dan Sasuke bilang mereka melakukannya dengan sadar. Jadi, kapan sebenarnya hal itu terjadi? Maka akhirnya Naruto memberanikan diri untuk bertanya meski dengan suara mengecil diujung kalimat.

"Kau tidak ingat?"

Naruto menggeleng kepala.

"Jangan menggelengkan kepalamu, dobe. Aku tidak bisa melihat."

Naruto mengangguk.

"Mengangguk pun aku tidak bisa melihat." Kekehan Sasuke terdengar.

Naruto merasa ada yang tidak beres dengan otaknya karena merasa ia mulai menyukai suara kekehan Sasuke.

"Kalau begitu aku ingatkan..."

Ada sedikit jeda dengan hembusan nafas Sasuke dan Naruto semakin merapatkan handphone ketelinganya.

Sungguh jika Sasuke tidak bercerita, Naruto merasa akan mati penasaran.

"Jadi waktu kita di kedai ramen, sewaktu kau menyuapi aku menggunakan sumpit yang sama dengan yang kau pakai... Sumpit, dari mulut ke mulut dan saat itulah kita berciuman..."

Angin dingin berhembus...

Otak Naruto berusaha me-loading data seperti pentium komputer ciptaan pertama.

Sangat lambat sampai-

"Itu indirect kiss, brengsek! Bagaimana bisa kau sebut itu ciuman, ttebayo?!" Raung Naruto kesal, tidak habis pikir dengan yang ada diotak Sasuke.

"Ada kata kiss-nya, kan? Lalu apa beda-..."

Naruto langsung menekan icon merah untuk memutuskan panggilan dan membuang handphone itu dengan keras di atas kasur.

Sasuke Uchiha memang sangat brengsek!

Brengsek karena membuat jantungnya berdetak tak normal,

Brengsek karena membuat ia memerah berulang kali pagi ini,

Brengsek karena membuatnya sempat memikirkan tentang ciuman tidak nyata mereka,

Dan...

Bunyi dering tanda pesan masuk membuat membuat Naruto segera meraih handphone untuk membaca pesan tersebut.

From : Temee bastard Sasuke

Jangan lupa pertandinganku dimulai jam 9.30. Aku akan menjemputmu.

*Indirect kiss*

Mata biru itu membola, mulutnya terbuka tertutup tanpa ada suara lalu mencabut baterai handphone dengan kasar.

Arggghhh! Naruto meraung dalam hati sambil menjambak rambut pirangnya frustasi dan menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas tempat tidur dan berteriak kencang dibantalnya.

Uchiha Sasuke brengsek!

Brengsek karena Naruto jadi merona dan tidak bisa mengelak akan rasa sukanya lagi.

~ナルトはサスケへ~


.

.

.

From Tennis With Love

Disclaimer :

Naruto, Masashi Kishimoto

Story :

Punya saya, semua karakter dipinjam dari punya om MK

Genre : Friendship, Romance, Drama & Humor

Rating : T

M for language

Pairing : SasuNaru (Sasuke X Naruto)

Warning : AU, One Shoot, Typos, OOC, Mild Language, Boys Love Sasuke X Naruto [SasuNaru], Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't like it. I've warned you already.

.

.

.

~ナルトはサスケへ~


Hari ini, hari pertandingan Sasuke kelima artinya sudah babak quarter final dan sekali lagi pertandingan untuk sampai pertandingan final dan semalam karena rasa penasaran Naruto yang tinggi terhadap lawan Sasuke diperempatan final, akhirnya Naruto mem-browsing data pemain itu dan menyadari kalau lawan Sasuke kali ini lebih diunggulkan dari pada Sasuke. Biar bagaimanapun Sasuke masih petenis muda jelas kalah pengalaman dibanding lawannya dibabak ini. Hal ini juga salah satu alasan yang membuat Naruto tidur larut dan masih menikmati tidurnya ketika Sasuke membangunkan dengan cara menelepon berkali-kali. Gara-gara Sasuke dan telepon sialan itu, kualitas tidur terbaik Naruto terganggu.

Terkutuklah Uchiha Sasuke yang sanggup membuat Naruto bangun terlampau pagi dihari liburnya dan karena perkataan absurd yang sanggup membuat pikiran Naruto jadi kacau!

Naruto menggerutu.

Kesialannya tidak sampai disitu saja. Hari ini Kiba dan Gaara tidak ada jadwal menjadi ball person. Bertepatan dengan itu, Kiba membawa akamaru ke dokter hewan ditemani Shikamaru.

Cih! Mereka berdua sudah baikan ternyata dan mulai bertingkah seperti pasangan kekasih yang cinta nya sedang bersemi dengan bunga-bunga bertebaran dimana-mana.

Menyebalkan! Salahnya juga sih karena penasaran mau mendengar langsung ceritanya dari Kiba yang terjebak semobil dan diantar pulang oleh Shikamaru.

Beda alasan dengan Kiba yang jelas sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan dengan cara merengek pada Shikamaru agar menemani ke dokter hewan padahal biasanya juga pergi sendiri, Gaara punya alasan realistis yaitu mengajak Temari, kakaknya yang tinggal di Sunagakure dan sedang berkunjung untuk jalan-jalan di Konoha. Jadi, tidak ada yang bisa mengantar Naruto ke lapangan Konoha dan Naruto harus berjalan sekitar lima ratus meter untuk sampai distasiun bus terdekat.

Dammit!

Naruto keluar dari kos-kosannya lebih awal selain karena tidak mau terlambat, sekalian ingin menghindari pahlawan kesiangan Sasuke yang ingin menjemputnya.

Karena puja kerang ajaib kartun favoritnya!

Naruto yakin Sasuke itu punya kepribadian ganda! Awal pertemuan saja yang kelihatan dingin, susah bercanda, tidak ada ekspresi, gesture tubuhnya menunjukkan arogansi yang tinggi. Lalu memiliki tatapan setajam elang dan jangan lupa tampan...

Errr sampai sekarang masih tampan, sih...

Eh?! Tunggu apa yang barusan ia pikirkan?

Naruto langsung menggelengkan kepala dan mengangkat tangan untuk mengusir kabut imajiner yang memikirkan tentang kadar tampan Sasuke yang tidak masuk akal.

Okey, fokus Naruto... Fokus! Naruto memperingati diri sendiri.

Lalu, coba bandingkan dengan Sasuke yang sekarang, setelah Naruto mengenalnya?

Kepercayaan diri melewati tingkat dewa, bicaranya memang terkadang masih tajam, tapi ternyata Sasuke itu suka menggoda tanpa rasa bersalah dan sifat implusif percaya diri yang tinggi namun manis tidak bisa Naruto pungkiri kalau ia menyukainya.

Tunggu?

Apa barusan Naruto bilang ia menyukai sifat Sasuke?

Screw that!

Untuk kedua kalinya Naruto mengangkat tangan untuk mengusir pikiran imajinernya.

Bunyi klakson mobil sontak membuat Naruto melonjak dan memegang jantungnya. Naruto lalu menatap nyalang pemilik mobil yang mengagetkannya dan mulai menurunkan kaca mobil perlahan.

"Kenapa membunyikan klaksonmu, sialan! Kau tidak lihat aku sudah berjalan dijalur pejalan ka-..." Ucapan Naruto terhenti begitu menyadari kalau ia memang berjalan persis di tengah jalan, jalurnya kendaraan bukan jalur pejalan kaki.

Terbatuk pelan Naruto bergeser tiga langkah secara menyamping ke pinggiran jalan, "Tsk! Bukan salahku juga... Ini kan jalan lingkungan dan tidak ada jalur pejalan kaki. Jadi, suka-suka aku kan mau jalan dimana saja, di tengah jalan pun tak masalah." Ucap Naruto ringan, seolah-olah berjalan di tengah jalan raya yang tidak ada jalur pejalan kakinya adalah tindakan yang benar.

Naruto jelas tidak mau mengaku kesalahan.

"...Dobe..." Bunyi suara bersamaan dengan menepinya mobil tersebut tepat disamping Naruto.

"Sasukeee..." Desis Naruto, sebenarnya tanpa menoleh pun Naruto tahu hanya satu orang terbrengsek se-konoha yang memanggilnya dengan sebutan 'dobe' dan orang itu sudah pasti Sasuke.

"-Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Naruto lanjut dengan ekspresi jengkel yang dibuat-buat. Bukannya dijawab, Sasuke hanya mengangkat bahunya ringan dan keluar dari mobil.

"Orang yang bertanya itu seharusnya aku.-" Tangan Sasuke terlipat didada. "-Kenapa kau seperti orang gila, mengusir sesuatu yang tidak bisa dilihat. Kepalamu terbentur sesuatu?" Sindir Sasuke sambil melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala Naruto lalu mengulangi lagi.

"Kau yang membenturkan kepalaku." Dengan dirimu yang menghantuiku. Lanjut Naruto dalam hati dan berusaha untuk tetap berbicara dengan nada ketus.

"Apa aku begitu merasuki pikiranmu sehingga kau berkhayal aku yang membenturkan kepalamu?" Tebak Sasuke asal.

Benarkan rasa percaya diri Sasuke itu tingginya melebihi akal sehat?

Mulut Naruto terbuka tertutup. Rasanya ia ingin membantah, tapi mulut sialannya tidak bisa diajak kerja sama. Seringaian Sasuke melebar ketika melihat Naruto yang tidak bisa mengeluarkan kata-kata bantahan.

Jarang-jarang kan Naruto tidak membalas ucapannya?

"Kenapa dobe, tidak bisa membalas karena ucapanku benar?" Masih dengan tangan didada, Sasuke mendorong kepalanya sampai jarak wajahnya dengan wajah Naruto sangat dekat, seolah-olah mereka bertukar oksigen dengan hembusan nafas mereka.

Sontak Naruto menutup matanya merasa tidak sanggup melihat langsung mata malam Sasuke dengan jarak sedekat ini.

"-Apa benar tadi kau sedang memikirkanku atau jangan-jangan kau sering memikirkanku, hm?" Suara Sasuke lebih terdengar seperti bisikkan.

Naruto terdiam menikmati hembusan nafas Sasuke sampai kepalanya merasa ada palu imajiner yang menghantam keras. "Aku-..." Ucapan Naruto terhenti, mata biru membuka cepat dan secepat itu pula matanya membola, kepalanya refleks mundur.

Demi kolor kitsune-ku! Kenapa wajah Sasuke bisa sedekat ini?! Jiwa imajiner Naruto berteriak heboh.

"Aku tidak memikirkanmu. Kenapa yakin sekali?" Dengusan kasar Naruto, kepalanya dipalingkan kekiri. Berusaha menghindari agar mata mereka tidak bertemu.

"Kau iya... Jika tidak, jangan berpaling. Lihatlah mataku, Naruto."

Okey! Naruto merasa kakinya mulai melemah. Efek dari deep voice Sasuke yang menyebut namanya.

"Aku..." Jeda Naruto, terlihat sedikit ragu. "Aku tidak memikirkanmu..." Naruto sedikit mencuri pandang pada adam apple milik Sasuke.

Aihhh... Kenapa pemuda di depannya bisa begini seksi? Tersadar, Naruto langsung menampar diri sendiri untuk menyadarkan pikirannya yang terpesona oleh Sasuke diwaktu yang salah.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke heran ketika melihat Naruto yang menampar pipi kanannya dengan keras. Alis Sasuke bertaut, kepalanya sedikit menjauh untuk melihat keseluruhan wajah Naruto.

Akhirnya dia menjauh juga... Imajiner Naruto bersorak lega.

"Tadi ada nyamuk dipipiku... Jadi aku memukulnya..." Naruto memberi alasan yang terlintas begitu saja diotak sangat mungilnya.

"Kau bisa melihat nyamuk dipipimu sendiri?" Tanya Sasuke ragu dengan kedua alisnya bertaut.

Naruto bungkam. Dalam hati mulai merutuki jawaban spontan yang diberikan tanpa memikirkan apa alasannya masuk akal atau tidak.

Shit! Seharusnya dia satu kelas saja dengan Gaara agar otaknya bisa sedikit tertular kejeniusan Gaara. Ini akibat ia berteman lebih lama dengan Kiba dan berakhir otak mereka sama-sama berbicara lebih cepat dari otak yang berpikir.

Intinya sama-sama jongkok.

Sasuke tertawa melihat wajah kelabakan Naruto. Mencari alasan lain yang mungkin tidak masuk akal juga.

Naruto tersihir. Ia yakin ia akan mudah mengakui perasaannya jika sering melihat Sasuke tertawa seperti ini. Meski tawa itu bukan tawa lebar yang sama dengan milik orang lain yang dilihatnya setiap hari.

Tawa itu terlihat lebih elegan, indah dan menyihir diwaktu yang sama.

Apa jadinya jika fans Sasuke melihat tawa barusan? Pasti fans Sasuke semakin bertambah dan Naruto yakin seandainya pun ia salah satu fans, maka Sasuke pasti tidak menyadari keberadaannya.

Naruto jadi meringgis. Merasa kalah terlebih dahulu.

"Apa yang kau lamunkan, hm? Ayo dobe... Masuk mobil, kita bisa terlambat dan aku juga harus pemanasan sebelum bertanding, bukan?" Sasuke menyentuh kening Naruto dengan jari telunjuknya berusaha menyadarkan Naruto yang terlihat termenung itu.

Merasakan sentuhan hangat dikeningnya membuat Naruto tersadar dan kembali merutuki jantungnya yang kini sedang bermain drum solo seolah mengolok dirinya yang menyukai perlakuan manis Sasuke seperti barusan, padahal hanya sekedar sentuhan ringan dan itu pun hanya pada kening. Tidak lebih.

"Ka-kau... Errr... men-menjemputku?" Tanya Naruto sedikit terbata ketika rasa hangat jemari Sasuke meninggalkan keningnya saat pemuda itu berbalik untuk segera masuk ke mobil.

Langkah Sasuke terhenti, matanya menatap kearah Naruto. "Memangnya aku kesini untuk menjemput tetanggamu yang tidak kukenal?!" Jawab Sasuke sarkatis disambut cibiran Naruto. "Aku kan sudah mengirimi pesan untuk menjemputmu? Kau lupa huh, dobe?!"

Mata biru Naruto memutar jengah, Sasuke dan sikap ketusnya muncul kembali setelah beberapa menit lalu besikap manis. Naruto semakin meyakini dugaannya jika Sasuke memiliki kepribadian ganda itu, benar.

Emosi Sasuke itu tidak bisa ditebak, apalagi ditambah wajah datar papan setrikanya. Sebentar ketus, sebentar manis dan sebentar lagi percaya diri melebihi tingkat dewa.

Benar-benar labil! Membuat Naruto susah menebak keinginan teme satu ini.

"Kenapa masih berdiri disitu? Ayo cepat masuk. Kita tidak akan sampai jika kau terus memandangiku, dobe..."

Benarkan? Rasa percaya dirinya Sasuke itu berlebihan?

Untuk kedua kalinya, Naruto memutar mata jengah. "Iyaaa... Aku masuk nih, temeee… Kenapa kau cerewet sekali, sih!" Jawab Naruto ketus sambil berjalan dengan menghentakkan kakinya dan masuk kemobil dengan pintu dibanting keras. Tidak sadar diri kalau ia cuma penumpang dimobil orang lain.

Melihat tingkah Naruto yang berjalan sambil menghentakkan kaki dan masuk dengan pintu dibanting keras, membuat Sasuke tidak bisa menahan senyuman diwajahnya.

"Naru-dobe ku..." Bisik Sasuke berusaha untuk tidak terdengar dan menyungging senyuman yang semakin lebar sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dengan wajah kembali datar.

~ナルトはサスケへ~

Jika bertanya, apa hal yang paling tidak bisa Naruto tahan adalah keheningan. Ayolah dia berteman baik dengak Kiba dan mereka berdua itu sering bicara non stop bahkan lebih sering berebutan siapa yang bicara terlebih dahulu.

Lalu sekarang?

Sepanjang perjalanan ke lapangan Konoha, Sasuke memilih diam bahkan tidak melirik sedikitpun. Bukannya bagaimana, tapi hell! Naruto kan mau dianggap ada, bukan cuma pajangan dan sekarang pun seperti itu, Sasuke sibuk pemanasan.

Merasa kesal, Naruto mulai melipat dan meletakkan pakaian ganti Sasuke dengan asal-asalan dalam tas.

"Naruto-kun... Jika kau meletakkan asal-asalan seperti itu Sasuke bisa memarahimu..." Tegur Kakashi yang memperhatikan tingkah Naruto yang bekerja asal dengan mulut berkomat-kamit.

"Biar saja Kakashi-san... Aku sedang kesal dengan Sasuke..."

"Kenapa?" Tanya Kakashi penasaran.

"Dia..." Naruto menjeda, bimbang apa ia harus bilang kesal karena didiamkan Sasuke pada Kakashi. "...Dia bertingkah menyebalkan dan aneh..." Lanjut Naruto dengan nada ketus, masa bodoh kalau yang terlihat bermasalahan disini adalah Sasuke bukan dirinya.

"Dia memang bocah tengik yang menyebalkan." Kepala Kakashi mengangguk membenarkan. "-Tapi jika aneh..." Giliran Kakashi yang menjeda kalimatnya. "-...Dia hanya akan bersifat aneh dengan orang yang dianggap dekat oleh dirinya sendiri." Kakashi tersenyum misterius dan Naruto merasa senyuman Kakashi itu, aneh.

"Sudah sejauh mana kedekatan kalian?" Alis Kakashi turun naik menggoda. Naruto mendesah sudah menduga kalau senyuman Kakashi memang tidak beres.

"Kami tidak dekat seperti yang Kakashi-san bayang-..."

"-Kami tidak sedekat yang kau bayangkan, tapi lebih dari yang kau bayangkan, Kakashi..." Potong Sasuke cepat yang sudah berdiri tepat disamping Naruto.

"Kau memberikan jawaban yang salah, teme... Orang bisa saja salah paham!" Protes Naruto.

Sasuke mengangkat bahu seolah tidak peduli dengan jawaban Naruto. "Berikan handuk... Aku berkeringat..." Nada suara itu terdengar lebih memerintah dari pada meminta.

Naruto mendengus kesal tapi, tetap mengambil handuk dan menyodorkan pada Sasuke.

Sekilas Sasuke melirik kearah tas tenisnya yang terlihat berantakan, tapi ia hanya menatap cepat dan kemudian kembali menatap Naruto.

"Keringkan wajahku..." Perintahnya lagi sambil memajukan wajah mendekat agar mempermudah Naruto untuk menghapus jejak keringatnya. "-Aku tidak bisa mengeringkannya." Ujarnya sok polos sambil mengangkat tangan kirinya yang memegang bola tenis dan tangan kanan yang memegang raket ketika melihat Naruto yang menatapnya dengan kedua alis bertaut.

Berbuat seolah-olah kedua tangannya sedang sibuk dan tidak bisa mengelap keringat wajah sendiri.

Mendengar alasan itu, bibir Naruto mengerucut kemudian berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Sebenarnya ia ingin protes tapi diurungkan karena telinganya yang mulai rusak atau nada perintah Sasuke terselip nada manja juga?

Tidak jauh berbeda dengan Kakashi yang terlupakan oleh dua pemuda di depannya. Kalau saja masker diwajahnya itu dilepas, maka terlihat jelas pria berambut perak itu sedang mengangga, mulutnya terbuka lebar.

Kakashi Speechless ini benar Sasuke si mulut tajam, tak berperasaan, suka memerintah dan arogan yang selama ini dia kenal atau ini alien yang menyamar menjadi Sasuke?

Ini Sasuke yang selalu berkata ketus dan tidak mentolelir jika Kakashi tidak meletakkan dengan rapi isi tas tenis? Lalu ini benar Sasuke yang baru saja melantunkan nada manja?

Kakashi yakin mungkin tadi Sasuke sempat terbentur benda keras makanya bisa bersifat seperti orang asing bagi Kakashi. Tapi, Kakashi memilih diam dan terus menonton drama picisan gratis yang masih ditawarkan dua pemuda berbeda warna rambut di depannya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Naruto ketika menyadari ada beberapa guratan letih diwajah putih Sasuke. "Apa kau berlatih semalam suntuk sampai bisa sepucat ini? Benar-benar bodoh." Kata Naruto dengan nada menyindir untuk menyembunyikan rasa kuatir.

Mata malam Sasuke yang menutup karena menikmati sentuhan Naruto yang menghapus jejak keringat diwajahnya terbuka karena pertanyaan pemuda manis itu.

"Bisa dibilang baik, bisa juga dibilang tidak." Jawab Sasuke sambil menatap wajah Naruto dengan teliti.

Wow! Apa barusan Sasuke sedang curhat?! Itu suara iner Kakashi yang sudah menjadi penonton setia drama Sasuke dan Naruto.

"Jangan kuatir kau akan menang juga kali ini..." Ujar Naruto seolah menyadari kalau Sasuke cukup kuatir dengan hasil pertandingan ini.

Alis Sasuke bertaut, "Kau menyadari kekuatiranku?" Tanyanya ragu. "Lalu apa yang kau lakukan jika aku kalah?"

"Kok, apa yang aku lakukan sih, temmee?!" Suara Naruto naik satu oktaf, "Kalau kalah atau menang pun, itu bukan urusanku... Kenapa malah mengaitkan urusanmu dengan urusanku?" Sembur Naruto kesal sambil menekan keras wajah Sasuke yang masih tersisa keringatnya dengan handuk.

"Seharusnya ada!" Suara Sasuke sedikit terdengar memprotes.

"Kenapaaaaa?" Protes Naruto juga dengan suara semakin nyaring.

Tangan Naruto yang hendak turun ditangkap dengan cepat oleh Sasuke. "Ada karena saat aku menang di final-…" Sasuke menjeda hanya untuk mendekatkan mulutnya ditelinga Naruto. "-…Saat itu juga kau akan menjadi milikku!" Tandas Sasuke sedikit berbisik dengan suara tanpa ragu.

"Aku... Keluar dulu sebentar. Nikmati waktu berdua kalian..." Itu suara Kakashi menginterupsi adegan romantis Sasuke dan Naruto karena merasa sudah menjadi obat nyamuk bahkan pipinya juga sudah ikut memerah.

Sial! Ia juga harus segera mencari kekasih sebelum Sasuke yang jauh lebih muda darinya mencuri start. Sepertinya ia harus sedikit meluangkan waktu agar mendapat kekasih dibandingkan menghabiskan seluruh waktunya untuk buku mesum bersampul orange yang sering dibacanya itu.

Mendengar suara Kakashi, Naruto sontak mendorong Sasuke jauh dengan keras. Ia sedikit menunduk dan menarik nafas dalam untuk menetralkan jantungnya yang kembali bermain drum solo bahkan kali ini dengan iringan double pedal dan pipinya yang sudah terbakar malu.

"Itu yang harus kau lakukan sedari tadi, Kakashi..." Tukas Sasuke cepat tanpa melirik Kakashi. Sedikit merasa kesal karena usahanya diganggu. "Kami berdua butuh banyak waktu untuk bersama."

Kakashi berdecak kesal lalu segera meninggalkan ruangan dan Naruto langsung memukul keras wajah Sasuke dengan handuk yang dipakai untuk mengeringkan wajah pemuda pucat itu karena sifat tidak sopannya pada Kakashi yang jelas berumur lebih tua atau mungkin pukulan itu lebih dimaksudkan agar otak Sasuke bisa sadar karena perkataan barusan dikatakan dalam keadaan tidak sadar.

~ナルトはサスケへ~

Pertandingan sudah dimulai dan berlangsung sangat sengit. Terlihat dari peluh yang membasahi seluruh badan kedua pemain, nafas yang naik turun tidak konstan dan waktu pertandingan yang memakan waktu cukup lama. Hampir dua jam lebih tiga puluh menit.

Sepanjang pertandingan pun Naruto tidak bisa tenang, ia gelisah meski ekspresi diwajah dan gesture tubuhnya tidak begitu terlihat. Biar bagaimanapun Naruto harus bersifat profesional dan tidak mengacaukan pertandingan seperti sebelumnya.

Sasuke nafasnya lebih terengah-engah dibandingkan lawannya. Beberapa kali juga Sasuke memberi poin percuma bagi lawannya karena service-nya tidak melewati net. Dibabak pertama, Sasuke memang memenangkan pertandingan dengan tie break* yang cukup panjang dan skor 6-7(10). Lalu untuk pertandingan kedua, lawannya berhasil menang dengan skor 7-5. Saat ini sedang berlangsung babak ketiga, babak penentuan dan Sasuke masih tertinggal satu poin dengan skor sementara 5-4. Naruto sangat berharap Sasuke menang, karena Naruto yakin Sasuke berlatih sama kerasnya dengan pemain senior.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto sedikit berbisik ketika Sasuke meminta ijin pada wasit agar menyeka keringatnya. Naruto berbisik karena tidak mau ketahuan jika sedang berbicara dengan pemain, bisa-bisa ia didenda.

Sasuke hanya tersenyum tanpa satu patah katapun keluar untuk menjawab pertanyaan Naruto dan itu membuat Naruto semakin kuatir. Akan lebih baik jika saja Sasuke menjawab meski itu adalah 'Aku tidak baik-baik saja.' Sasuke lalu mengganti baju tenisnya yang sudah basah kuyup oleh keringat dan langsung disambut teriakan histeris fans-nya. Kalau saja dalam keadaan biasa, Naruto pasti sudah ikut-ikutan berteriak dalam hatinya, tapi Naruto lebih berfokus pada bahu terlatih Sasuke yang naik turun tidak beraturan karena nafas lelah dan wajah kelelahan yang sangat kentara itu.

Naruto akhirnya hanya bisa menatap punggung Sasuke yang kembali masuk lapangan untuk melanjutkan pertandingan dan sepanjang pertandingan Naruto berulang kali menahan nafas ketika kedua pemain bermain dengan jangka waktu yang cukup lama hanya untuk satu poin atau jika saat Sasuke melakukan service, Naruto takut jika bola tidak bisa melewati net.

Lagi-lagi set ketiga berlangsung dengan tie break meski Sasuke menang dengan skor 6-7, tapi masih butuh satu poin dari tie break barulah Sasuke menang. Naruto mengigit bibirnya keras ketika lawan Sasuke yang melakukan service. Ia takut jika Sasuke tidak bisa mengembalikan dan pertandingan akan lebih panjang lagi.

Sasuke memang berhasil mengembalikan service itu, tapi rupanya si lawan cukup jeli melihat kalau Sasuke sudah mulai kepayahan. Jadi, lawan tersebut memukul bola kearah yang sulit dijangkau dan itu membuat Sasuke berlari dari satu sudut lapangan ke sudut lapangan lain berulang kali. Tentu saja itu semakin membuat energi Sasuke terkuras.

Satu pukulan disudut yang sulit dijangkau, membuat Sasuke refleks berlari lebih cepat untuk meraih bola tersebut. Napas Naruto tercekat saat melihat Sasuke tergelincir secara slow motion. Sasuke berhasil mendapatkan poin kemenangan saat bola itu bergulir melewati net dan jatuh dilapangan lawan tanpa sanggup dijangkau karena bola itu memang tidak diprediksi bisa dikembalikan oleh Sasuke.

Lapangan hening untuk beberapa saat seolah tidak percaya dengan berhasilnya Sasuke mendapat poin kemenangannya sebelum akhirnya gemuruh teriakan dan tepuk tangan meriah menyambut kemenangan Sasuke bahkan sebagian besar penonton sampai berdiri.

Sasuke berhasil meraih kemenangan dengan skor 6-7(7).

Senyuman Naruto melebar awalnya berganti dengan alis yang bertaut ketika Sasuke sedikit kesulitan berdiri bahkan menumpu beban tubuhnya saat berdiri diraket-nya. Mungkin karena kelelahan. Naruto berpikir positif. Tapi, kenapa Sasuke sedikit meringis sambil menyentuh pergelangan kakinya? Iris Naruto menatap lekat Sasuke yang memberi salam pada lawan tersebut sampai berdiri di depannya saat sambutan riuh mereda dan lapangan mulai ditinggalkan masa.

"Aku menang, dobe..." Sasuke berbisik sambil tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya untuk meraih handuk yang disodorkan Naruto.

"Aku lihat, teme…" Naruto terkekeh, tapi tidak membiarkan Sasuke untuk meraih handuk, malah menyeka keringat diwajah lelah Sasuke. "Nah ayo masuk, teme. Ada yang ingin aku bicarakan." Nada Naruto sedikit berbeda. Sasuke menyadari nada yg berbeda tersebut. Saat Sasuke hendak membantu mengangkat tas pun Naruto menepis tangan putihnya dengan sedikit kasar.

Sasuke hanya menatap punggung Naruto yang menjauh dengan tatapan takjub.

~ナルトはサスケへ~

Jika biasanya Sasuke yang banyak diamn, maka kali ini berbeda. Naruto yang berdiam diri sepanjang perjalanan mereka bahkan saat sampai diruangan ganti pemain. Sasuke jadi bingung sendiri, biasanya Naruto yang mulai bertingkah lalu Sasuke menimpali, tapi kali ini Sasuke bahkan tidak bisa membuka percakapan terlebih dahulu.

Naruto tadi sempat keluar sebelum masuk kembali dengan kantong ditangannya.

"Duduk!" Perintahnya mutlak.

Sasuke sedikit tersentak. Ini pertama kalinya Naruto menggunakan nada serius dan tak terbantahkan. Mau tidak mau Sasuke duduk, menurut tanpa ada bantahan. Begitu Sasuke duduk dikursi, Naruto langsung duduk berjongkok di depan Sasuke, membuka sepatu sport bercorak putih biru dan menurunkan kaos kaki Sasuke sampai ditelapak kaki.

"Apa sesuatu terjadi dengan kakimu?" Tanya Naruto dengan nada kuatir yang sudah tidak bisa disembunyikannya lagi ketika melihat pergelangan kaki Sasuke sedikit membiru.

Sasuke memilih menutup mulut lalu berpura-pura menyibukan diri dengan memperbaiki handband-nya.

"Sasuke?" Naruto memanggil Sasuke dengan suara perlahan. Namun yang dipanggil tidak mempedulikan, semakin sibuk memperbaiki handband ditangannya.

"Sasuke?" Pemuda bersurai pirang ini mencoba memanggil sekali lagi dan masih nihil. Kedutan muncul di pelipis Naruto, bibirnya mengerucut. Sasuke menyadari ekspresi kesal Naruto karena sempat melirik sekilas, tapi kembali menyibukan diri. Kali ini menaikkan kembali kaos kaki yang sempat diturunkan Naruto.

Iris biru milik Naruto mengikuti aktifitas Sasuke. Ia menghembuskan nafas lalu menepis tangan yang berusaha memperbaiki kaos kaki dan memukul pergelangan kaki yang membiru itu dengan sedikit tekanan.

Sasuke langsung mendesis tertahan, rasa sakit seketika menjalar keseluruh bagian kakinya. Matanya menatap galak kearah Naruto.

"Apa?!" Naruto ikut menatap Sasuke galak. "Ternyata kau terkilir, teme! Bagaimana mungkin tidak ada yang menyadari?"

"Bukan urusanmu, dobe." Sasuke menarik kakinya sedikit kasar. "-Bukankah yang penting aku menang?"

"Tsk keras kepala, huh? Kau menangpun tidak ada gunanya jika terjadi hal yang buruk, ttebayo!" Berdecih pelan, Naruto membuka plastik yang dibawanya, lalu menyodorkan ke Sasuke. "Ini kubawakan es batu, kompreslah agar nyerinya sedikit reda."

Sasuke menatap Naruto dalam, tak mengeluarkan sepatah katapun.

"Apa lagi, teme?!" Surai pirang miliknya diacak frustasi. "Apa aku juga yang harus mengompres lalu membalutnya?"

"Lakukan."

"Tsk... 'lakukan' suaramu datar sekali, seharusnya kau tambahkan kata 'tolong' temee... Kau menyebalkan." Mulut Naruto mulai berkomat-kamit tidak jelas, hanya menggulang kata 'lakukan' dan 'tolong', tapi tetap mengambil es dalam plastik dan mulai mengompres pergelangan kaki yang mulai membengkak itu.

Sejak Naruto mulai mengompres sampai membalut pergelangan kakinya, Sasuke tidak pernah melepas pandangan sedikitpun dari pemuda yang terlihat sangat telaten membalut kakinya itu.

"Kenapa...?" Sasuke berbisik hampir tak terdengar.

"Hm?" Jawab Naruto tanpa memandangi Sasuke, masih sibuk mempererat balutannya.

"...Kenapa... Kenapa kau menyadarinya?"

"Apanya?" Sejenak Naruto berhenti lalu memandang Sasuke, kemudian ia terkekeh pelan. "Soal terkilir? Entahlah-" Naruto mempererat ikatan balutan Sasuke, kemudian menepuk-nepuk perlahan.

"-Aku juga tidak tahu, ekspresimu datar seperti biasa, bahkan saat berdiri pasca terjatuh. Tapi, cara bangkit berdiri dengan raket sebagai topangan lalu caramu menatap pergelangan kaki bagiku terasa berbeda. Seperti sedang menahan sakit" Naruto tertawa renyah.

Sasuke terdiam lalu kembali menatap Naruto yang sedang menggosok tengkuknya. Pelahan tubuh Sasuke sedikit membungkuk agar wajah mereka bisa sejajar. Sebelah tangannya menyentuh tangan Naruto yang masih memegang balutan tadi.

"Kalau ini... Ada yang terasa berbeda?" Iris malam Sasuke menatap Naruto intens.

Mendadak tawa Naruto berhenti, matanya berkedip bingung. "Apanya yang beda?" Kepala Naruto dimiringkan, merasa aneh dengan kelakuan Sasuke.

"Ketika aku menyentuh dan menatapmu seperti saat ini?" Sasuke sedikit memberi tekanan pada genggamannya.

Mata Naruto berkedip beberapa kali. "Kau aneh, teme. Kenapa bertanya seperti itu? Cara menyentuh dan menatapmu biasa saja, tidak seperti waktu menatap pergelangan kakimu." Alis Naruto saling bertaut, kelihatan kebingungan.

"Dobee... Kenapa tidak menyadarinya, huh?" Gigi Sasuke bergemelutuk, merasa gemas, "Bereskan perlengkapanku segera. Aku ingin pulang." Sasuke bergegas berdiri lalu memukul keras kepala Naruto dengan gulungan buku yang entah didapat dari mana.

"-Dan keringkan air bekas es yang mencair dilantai!" Pemuda itu beranjak lalu menutup pintu ruangannya keras.

"Cih! Kenapa dia jadi emosi begitu?" Bibir Naruto kembali mengerucut, "Dasar teme kejam... Berkepribadian ganda!"

Pintu kembali terbuka, Naruto terlonjak memegang jantung, sumpah serapah mulai dikeluar dari mulutnya.

"Aku dengar itu, dobe." Sasuke menatap Naruto kesal, tangannya bersedekap didada. "Cepat bereskan dan aku tunggu dimobil!"

Pintu kembali ditutup keras.

"Temeee... Aku benci kau, ttebayo!" Naruto berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya.

"-Bagaimana bisa aku tidak menyadari tatapan dan caramu menyentuh tanganku? Aku hanya ingin kau fokus dulu dipertandingan ini. Kerja kerasmu lebih penting, Sasu-teme…" Gumam Naruto tidak lagi berteriak melainkan sedikit berbisik. "Setidaknya sampai kau masuk final..."

"Naru-Dobe..." Sasuke bergumam dari balik pintu. "Sejak kapan kau menyadari tentang perasaanku?" Tanya Sasuke lebih bergumam agar tidak terdengar oleh Naruto.

Naruto tidak sadar jika gumamannya cukup keras untuk didengar Sasuke.

"Sejak kapan aku menyadari kau menyukaiku? Aku tidak tahu. Lebih tepatnya aku tidak yakin kau menyukaiku..." Naruto berbicara pada udara kosong tanpa sadar menjawab pertanyaan Sasuke. "-Kalau aku mungkin karena karma dari keterpesonaan dan denial-ku padamu sejak awal... Tapi aku berharap lebih saat kau tanpa sadar bertindak manis di kedai ramen. Lalu mungkin saat melihat wallpaper fotoku di-handphone mu, Sasuke." Naruto tersenyum kecut lalu mulai bergerak untuk membereskan peralatan pel. "Tapi menangkan pertandingan dulu, setidaknya wujudkan kemenangan jika itu memang impianmu..."

Dibalik pintu Sasuke tersenyum lebar sebelum akhirnya hampir menjatuhkan rahang.

Tunggu!

Naruto tahu soal wallpaper handphoneku? Damn it! Imajiner Sasuke berteriak tidak percaya. Semacam terkena shock.

"Yosh! Saatnya pulang..." Teriak Naruto kencang dalam ruangan. "Tsk! Aku harus bergegas ke mobil sebelum si teme brengsek kelebihan rasa percaya diri itu mulai mengomel dan menguras kadar kesabaranku."

Mendengar langkah kaki Naruto mendekat, Sasuke jadi gelagapan sendiri lalu memilih untuk melangkah menjauh. Tapi, baru berapa langkah ia sadar kalau jarak itu masih kurang jauh dan bisa membuat Naruto curiga kalau ia sempat menguping tadi. Akhirnya Sasuke milih untuk berlari sekencang mungkin. Lagi-lagi baru berapa langkah dan Sasuke terjatuh sambil terduduk. Meringgis karena rasa sakit dipergelangan kakinya yang luar biasa menyengat.

Sial!

Ia lupa kakinya sedang terkilir.

"Loh, Sasuke? Kenapa masih disini? Bukankah kau sudah harus berada dalam mobil?"

Oh, double shit!

Kenapa Naruto sudah keluar? Dan lebih parah melihat posisinya yang sedang absurd begini?

Ini tidak keren.

Benar. Benar. Tidak. Keren!

Mau taruh dimana imej keren, tampan, sempurna dan cool-nya selama ini? Di depan Naruto pula?

Sasuke berbalik perlahan sambil berdehem. "Aku sedang memperbaiki tali sepatuku..." Sasuke mencari alasan, tapi segera merutuki diri sendiri karena kebodohannya. Kakinya sedang terkilir dan diperban bagaimana mungkin bisa muat disepatu? Bukankah sudah jelas, sekarang dia sedang memakai sandal?

"Maksudku..." Sasuke berdehem untuk kedua kali. "-Maksudku... Apa kau bodoh tidak melihat aku sedang memungut kunci mobil, huh?!" Buru-buru ia merogoh kunci mobil, meletakkan dilantai dan berbuat seolah-olah baru saja memungut kunci itu.

"Ooohhhh..." Jawab Naruto tidak tertarik dengan alasan Sasuke. "Aku pikir kau punya obsesi aneh dengan lantai sampai menempel erat seperti itu." Kali ini Naruto mencibir lalu mendekat kearah Sasuke dan meraih pergelangan tangan pucat itu.

"-Sini aku bantu berdiri..." Naruto menarik Sasuke perlahan sampai pemuda itu berdiri sempurna. "Aku sudah minta tolong Kakashi-san...Biar dia yang menyetir saja." Naruto memapah Sasuke berjalan meski tidak begitu terlihat sedang pincang. Pipi Sasuke bersemu dan tanpa Naruto sadar, Sasuke merapatkan tubuh mereka sambil mengulum senyuman manis.

.

.

.

To be continued

.

.

.


Note :

*Sistem tie break digunakan untuk mencegah jumlah set yang terlalu banyak dengan menggunakan sistem 12 poin, jadi jika game mencapai 6-6. Pemain pertama yang unggul poinnya harus meraih 7 poin dalam tie break dengan selisih 2 poin di atas lawan untuk memenangkan set dan berakhir dengan skor 7-6. Jumlah poin tie break biasanya ditulis dalam tanda kurung dan umumnya pertandingan internasional memainkan 3 set.

Untuk chapter ini saya berfokus soal berawalnya konflik SasuNaru untuk ch depan dan tidak dimunculkan pairing yang lain, sedang ch depan akan sampai klimaks dan status hubungan mereka. Setelah itu, fic ini akan sampai kata tamat. Mohon bersabar untuk kelanjutan hubungan SasuNaru dan pairs lainnya yang akan segera terjawab. Awalnya mau dibuat sampai ch tentang pertandingan semi final, tapi karena kepanjangan jadi saya putuskan untuk membahas tentang quarter final saja.

Semoga ch ini tidak membosankan.

.

.

.

Q & A


Q : alinshapire

A : Gaara belum memiliki perasaan lebih buat Neji. Mungkin Neji harus disemangati lagi dulu, hehehe...

Q : Neechan

A : Sayangnya pairing-nya lebih berat ke NejiGaa :/

Q : cheonsa19

A : Untuk ch ini masih fokus SasuNaru dulu. Mungkin ch depan pairing lain muncul.

Q : Habibah794

A : Hii! Salam kenal juga... Sabar ya, NejiGaa akan muncul kok~

Q : Jasmine DaisynoYuki

A : Pasangan NejiGaa akan muncul di chapter-chapter depan.

Q : liaajahfujo

A : Gimana Sasuke masih kurang romantis ke Naru, kah?

Q : acca1

A : saya malah lebih berharap jika ada Baruto 2, filmnya lebih banyak fokus ke hubungan ambigay SasuNaru *ngarep*

Q : Revhanaslowfujosh

A : Bagaimana, sudah cukup memuaskan kah kadar romantis Sasuke?

Q : Ame Pan

A : Hahaha inspirasi saya soal "Mother knows best." itu memang dari salah satu animasi disney...

Q : URuRuBaek

A : Sudah terjawab rasa penasarannya?

.

.

.

Special Thanks For Reviewers:

Guest (1), alinshapire, Nira Namikaze, saphire always for onyx, ikatriplesblingers, Nikeisha Farras, michhazz, Neechan, ima, cheonsa19, versetta, Habibah794, Jasmine DaisynoYuki, liaajahfujo, dwi. yuliani. 562, Arthena Yuu, Arum Junnie, acca1, L. casei shirota strain, SapphireOnyx Namiuchimaki, Avanrio11, Harpaairiry, kazekageashainuzukaasharoyani, URuRuBaek, k-i-d4y, gyumin4ever, Revhanaslowfujosh, shiraishi connan, KJhwang, Guest (2), Grey378, yassir2374, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Aiko Vallery, shin. sakura. 11 dan Mary chan.

Mudah-mudahan tidak ada yang terlewat...

Dan Sampai jumpa di chapter depan~ Jangan bosan untuk RnR...

And the least not the last,,,

Our Ship Doesn't Need A Canon For It To Sail!

~19/03/2016~