Marry Me, Secretary Oh
KaiHun
Chaptered
T+
Disclaimer: Cast milik orang tua masing-masing. Cerita murni dari otak turun ke tangan.
Warning: BL, Typo
Gak suka gak sah baca eak!
.
.
.
.
Jongin terbatuk, sekali, duakali, makin nyaring. Tapi tidak ada yang pedulikan keadaannya. Khususnya seseorang yang tengah ia hadapi ini.
"Jadi menurut anda bagaimana ?"
Oktaf yang naik satu tingkat tidak dapat Jongin tahan saat menanyakan sederet kalimat tersebut. Pertanyaan biasa saja, namun penuh dengan makna menyindir. Ia tidak suka bersikap tidak profesional sejujurnya, tapi kalau yang dihadapi bersikap dua kali lebih tidak profesional, maka Jongin tidak bisa hanya diam anteng saja.
Iya, itu yang ia ingin jadikan sebagai alasan utama. Tapi nyatanya itu tidak sepenuhnya benar. Jongin tengah kesal bukan main, pertama memang karena ia merasa di abaikan yang membuat ia menuduh seseorang di hadapannya ini tidak profesional. Kedua, karena pandangan Wu Yifan tidak lepas sedikitpun dari Sehun yang tengah duduk lesehan di sampingnya, di salah satu ruang VIP restoran sushi ini.
Oke, agak sedikit berlebihan.
Wu Yifan hanya curi-curi pandang sekali dua kali, tapi tetap saja ia tidak terima, tidak terima diabaikan dan... ya tidak terima ia memandangi Sehun seperti itu. Jangan tanya kenapa.
"Menurutku.. lumayan"
Dua patah kata yang keluar dari mulut Yifan membuat Jongin nyaris emosi.
Lumayan ? Apanya yang lumayan ? Penjelasan panjang lebar Jongin sedari tadi hanya di hadiahi dengan kata Lumayan ? Baiklah, Jongin harus extra sabar dan cepat-cepat membuat kesepakatan lalu pulang. Tentu dengan membawa Sehun bersamanya.
Ia kembali dengan sabar menjelaskan, beberapa kali berdehem untuk benar-benar mendapat perhatian. Sial sekali, pria ini sedari tadi masih kekeh mencuri pandang pada Sehun yang ngomong-ngomomg hanya diam sambil sesekali menyomot sushi. Sungguh tidak peka.
"Baiklah, setelah mendengar semua penjelasan anda, saya tertarik untuk menjalin kerjasama. Ku rasa beberapa hari kedepan saya akan berkunjung bersama beberapa kolega untuk lebih resminya. Hari dan waktunya akan saya beritahukan nanti" Wu Yifan berkata dalam sekali tarikan nafas setelah dari tadi lebih banyak diam. Hanya seperti itu dan kesepakatanpun telah dibuat. Tinggal menunggu waktu kerjasama mereka akan terjalin secara resmi.
Seharusnya, Jongin senang, iya itu seharusnya, tapi ia tidak merasa begitu sama sekali. Jadi ia hanya mengulurkan tangan tanpa berkata apapun sebagai awal mula kesepakatan.
"Senang bertemu dengan anda... dan sekretaris anda" ucap Yifan menyambut tangan Jongin, lagi-lagi melirik pada Sehun. Memberi sedikit 'kode' saat menyebutkan kata sekretaris.
Jongin ikut melirik Sehun untuk melihat bagaimana reaksi tunangannya itu. Hanya tersenyum agak canggung yang membuat Jongin mengira-ngira apa sekiranya yang tengah ia pikirkan.
"Kalau begitu kami permisi, terimakasih atas waktunya, Tuan Wu"
Ucap Jongin final, menjadi orang pertama yang berdiri baru kemudian diikuti oleh Sehun. Ia sungguhan tidak ingin buang waktu lama-lama disini.
"Tunggu sebentar, bisakah saya berbicara berdua dengan sekretaris anda ?" Pinta Yifan, membuat Jongin berhenti bergerak dan memberi tatapan heran padanya
Ia lalu menoleh pada Sehun yang hanya membulatkan mata, memandangi Jongin dan Yifan bergantian dengan wajah kebingungan. Tampaknya Sehun sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Kalau begitu, biar Jongin yang memutuskan.
"Keperluan apa yang anda miliki hanya berdua dengannya ?" Tanya Jongin sengit, tidak mau melepas Sehun begitu saja untuk berduaan di ruangan ini.
Yifan tersenyum miring, lalu menggeleng pelan. "Bukan hal yang penting, hanya ingin berbincang dengan... kenalan lama"
Untuk kedua kalinya, Yifan sudah sukses membuat Jongin heran. Ia lagi-lagi memandangi Sehun meminta konfirmasi, dan anggukan pelan dari Sehun membuat Jongin tak dapat melakukan apapun lagi selain menghela nafas dan menjauh dari sana. Meninggalkan keduanya di dalam ruangan tersebut.
Ia bisa saja melarang, karena secara teknis, ia ini sudah berstatus tunangan Sehun. Tapi bukankah malah aneh jika ia melakukannya ? Mereka hanya bertunangan sebagai status dan tidak lebih. Jongin tidak mau Sehun akan berfikir macam-macam jika ia melakukan hal tersebut. Ia tidak mau sampai Sehun mengira Jongin memiliki perasaan khusus padanya. Karena pada kenyataannya, ia memang tidak memiliki perasaan apapun. Setidaknya itu yang Jongin yakini sampai saat ini.
Dua puluh menit Jongin menunggu di dalam mobil, Sehun akhirnya datang. Ia hanya diam dengan ekspresi yang sangat susah di tebak. Tapi Jongin yakin ia melihat kilat emosi di mata coklat bening milik Sehun.
"Apa yang kalian bicarakan ?" Tanya Jongin langsung, tidak membuang waktu banyak untuk segera menuntaskan rasa penasarannya. Tapi sayang, ia tidak mendapat jawaban memuaskan dari Sehun, melainkan hanya gelengan tanpa arti dan menyuruh Jongin segera menjalankan mobil untuk kembali ke kantor.
Jongin ingin mendesak, tapi tidak jadi ia lakukan melihat keadaan Sehun yang tampak tak ingin diganggu. Alhasil ia hanya diam dan menyetir dengan rasa penasaran yang belum tuntas sama sekali.
Shootdanonymous
Jongin berbaring telentang dengan lagi-lagi sebatang rokok ditangan. Ia memandang langit-langit kamarnya sambil menghembuskan kepulan asap tidak terlalu banyak dari mulut. Pikirannya terus berjalan, tidak bisa tidak ambil pusing atas apa yang baru saja terjadi tadi siang. Sempitnya, apa yang baru saja terjadi pada Sehun dan Yifan.
Ia tidak seharusnya penasaran, tapi tidak bisa. Seakan pikirannya bergerak sendiri untuk memikirkan hal tidak terlalu penting baginya itu.
Jongin mengangkat tubuh untuk bersandar pada sandaran kasur. Sambil menghisap rokok, ia memandangi sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk di pinggang.
"Kau belum mau bilang apapun padaku tentang Yifan ?" Tanya Jongin masam, memandang malas pada Sehun yang hanya mematung di depan pintu kamar mandi dengan wajah sengak.
"Itu bukan pertanyaan untuk orang yang baru saja mandi dirumahmu" Jawab Sehun jengah. Pasalnya sudah sedari ia sampai di rumah keluarga Kim ini, hanya pertanyaan itu itu saja yang terus Jongin lontarkan. Tidak lihatkah ada tamu yang baru saja selesai mandi ? Setidaknya, jadilah pemilik rumah baik hati dan tawarkan Sehun baju ganti.
Jongin memutarkan bola mata malas, kembali membaringkan kepala di atas bantal dan kembali memandangi langit-langit kamar. "Cari saja di lemari, pakai apapun yang kau mau" Ucapnya, kemudian memberi hisapan terakhir pada rokok yang sudah mau habis. "Tidak pakai apa-apa juga terserah"
Sehun menyerngit mendengar gumanan tak jelas dari seseorang di sebelah sana, tapi kemudian memilih untuk tak ambil pusing dan bergegas untuk mengobrak-abrik isi lemari Jongin. Ia mengambil kaos polos berwarna putih dan celana training abu-abu.
Sehun sebenarnya tidak punya rencana sama sekali untuk berada di posisi seperti ini, maksudnya berada di dalam kamar Kim Jongin dan bahkan habis numpang mandi, inginnya langsung pulang, tapi belum bisa karena orangtua Jongin terus melarang. Kesini saja harus di seret paksa oleh Jongin karena suruhan eomma nya. Katanya sih ia kesepian karena appa Jongin yang sedang ada urusan di luar kota. Setelah sampai pun di suruh pula untuk berduaan di kamar terlebih dulu selagi nyonya Kim menyiapkan makan malam. Mau tak mau harus Sehun lakukan, karena menantu mana sih yang bisa menolak keinginan mertua ? Yah, walaupun kasus mereka agak unik disini, tapi tetap saja di mata nyonya Kim, Sehun itu adalah menantunya yang paling sempurna.
"Kau tidak mandi ?"
Tanya Sehun di sela kegiatannya memakai kaos.
"Belum"
"Setidaknya lepas dulu sepatumu"
Sehun melirik sebentar pada Jongin, lalu kembali membenahkan baju kebesaran yang dipakainya, pasalnya keadaan pria itu saat ini sangat mirip dengan Sehun beberapa hari yang lalu, keadaan dimana Sehun tengah stres berat dan memilih berbaring di kasur tanpa melepas sepatu, bedanya Sehun minus rokok, karena ia bukan perokok seperti Jongin.
Jongin hanya diam, tetapi suara berdentum dua kali sudah cukup untuk menyakinkan Sehun bahwa pria itu melakukan yang ia ucapkan. Yaitu melepas sepatu, yah walaupun tingkat kemalasan melepas sepatu Jongin sudah sangat super dengan tanpa menggunakan tangan.
Sehun berjalan mendekati Jongin, duduk di tepi kasur lalu bersuka rela untuk menyingkirkan sepatu Jongin ke tempat yang lebih pantas.
"Cepatlah mandi, makan malam lalu antar aku pulang" suruh Sehun. Membuat Jongin menggeram malas namun akhirnya bangkit untuk duduk.
Posisinya yang duduk bersila dengan jarak yang cukup sempit antara keduanya membuat Sehun tak bisa santai. Ia menggeser sedikit pantatnya untuk sekedar membuat jarak.
"Akhir-akhir ini aku meragukan kepemimpinanku dimata mu" Keluh Jongin dengan wajah masamnya yang belum hilang-hilang. Memberi sindiran atas sikap Sehun yang suka seenaknya menyuruh. Makanya ia tak mau langsung pergi mandi seperti yang sudah disuruh Sehun, melainkan hanya duduk diam dengan pandangan tak bersemangat ke lantai.
Sehun tidak mengerti apa yang membuat Jongin sebegini lesunya, apa ini karena Sehun yang tidak cerita apa-apa tentang Yifan ? Entahlah, hanya saja ia tak yakin ceritanya sepenting itu untuk membuat Jongin bersikap layaknya orang mati segan hidup tak mau begini.
"Setidaknya jawab pertanyaan ku tentang siapa Kris" guman Jongin sebal. Membuat Sehun tertegun atas pengakuan Jongin yang membenarkan pemikirannya beberapa detik lalu.
"Kau sebegitu penasarannya, eh ?"
Sebenarnya Sehun serius bertanya tanpa ada maksud apapun, namun bagi Jongin yang tingkat harga dirinya lumayan tinggi, mendeteksi nada mengejek dari pertanyaan Sehun barusan.
"Aku tidak penasaran" decak Jongin tak terima. Ia mengalihkan pandangan dari Sehun dan berucap agak gelagapan. "Hanya... sedikit ingin tahu saja"
Walau Sehun seratus persen yakin tidak ada perbedaan sama sekali antara 'Penasaran' dan 'Ingin tahu', ia hanya mengangguk dan memilih untuk tak membuat wajah bosnya ini semakin masam dengan mengeluarkan pemikirannya.
"Baiklah, aku akan menjawab rasa, ingin tahu mu" desah Sehun dengan sedikit penekanan pada dua kata tersebut.
"Aku memang mengenal Yifan" mulai Sehun, mendapat perhatian dari Jongin yang langsung pasang telinga walau raut malas tetap ia pertahankan di wajah tampannya.
"Dan dia adalah mantan kekasihmu itu ?" tanya Jongin tanpa ragu. Membuat Sehun tidak langsung menjawab dan terus terdiam untuk beberapa detik.
"Tunggu.." alis Sehun mengkerut memandang lawan bicaranya. "Kenapa kau bisa berfikir begitu ?" tambah Sehun, curiga pada tuduhan tiba-tiba seperti ini.
"Entahlah, mungkin karena Kris tampak brengsek dimataku" jawab Jongin cuek. Mengangkat bahu.
Sehun lalu terkekeh, "Tentus saja bukan, astaga" ia bahkan tidak dapat membayangkan dirinya punya hubungan barang secuil dengan pria tinggi agak bule tersebut.
Kebagusan. Pikirnya.
Namun Jongin tak menemukan ada yang lucu dari pertanyaannya, karena keyakinan akan Yifan mantan Sehun sudah ia pikirkan sedari tadi dan tidak menyangka bahwa pemikirannya bisa meleset total. "Yang benar ?" gumannya, nyaris seperti kepada diri sendiri.
"Mm-hm, aku bahkan baru ingat setelah dia sendiri yang mengingatkan bahwa dia itu seninor ku semasa kuliah" lanjut Sehun mulai merasa nyaman untuk berbagi cerita.
Jongin mengangguk-angguk. Walau masih tidak mengira dugaannya bisa seratus persen salah.
"Dan yang mantan ku itu bukan dia..." Sehun berhenti bicara sejenak, mengingat percakapannya bersama dengan Yifan tadi siang.
-Flashback-
"Lama tidak jumpa, hm junior ?"
Sehun berkedip-kedip, berusaha yakin bahwa yang ditujukan sebagai 'junior' disini ialah memang dirinya.
"Aku ?"
Tunjuknya pada wajah sendiri, sedikit tidak sopan dalam berbicara karena sudah lebih dulu dibuat bingung orang didepannya ini.
Yifan tertawa kecil, lalu berbicara dengan nada geli. "Lucu sekali. Persis seperti yang diceritakannya padaku" ucapnya, seolah Sehun dapat mengerti dengan kata 'nya' yang baru saja ia ucapkan.
Andai saja pria bule ini bisa bicara normal tanpa menyimpan makna tersirat dalam kata-katanya barusan. Sehun pasti tidak perlu pasang tampang bodoh akan ketidaktahu menahuannya atas yang sedang pria ini bicarakan.
"Ah, kau pasti bingung. Maafkan aku"
Pria yang jauh lebih tinggi dari Sehun ini berdehem. Lalu membenahkan posisi duduknya agar lebuh santai. "Kau mungkin lupa siapa aku. Baiklah, langsung saja. Aku senior mu semasa kuliah, yah kita memang tidak sering menyapa jadi wajar kalau kau lupa. Yang jelas aku tidak mungkin lupa padamu" ucapnya ditambah senyuman manis di akhir kalimat.
Jika pria ini tidak punya wajah yang terlalu tampan, mungkin Sehun sudah berfikir macam-macam dengan mengira ia telah di stalker oleh pria bule tampan ini. Tapi tidak, Sehun tidak sebegitu kegeeran nya kok.
"Dan kenapa bisa begitu ?" Tanya Sehun berusaha bersikap biasa.
Yifan tersenyum lagi, menambah gurat tampan di wajahnya semakin menjadi. "Tentu saja karena kekasihmu semasa kuliah dulu itu yang selalu menceritakan segala hal tentang dirimu"
Telinga Sehun sigap saat mendengar rentetan kata 'kekasih semasa kuliah' yang di ucapkan Yifan. Ia menatap tajam pada Yifan yang tampaknya sadar akan perubahan raut Sehun.
"Ada hubungan apa dengannya ?" Sehun memasang wajah datar yang menjurus ke sinis. Sejujurnya ia ingin langsung minggat dari sini hanya dengan mendengar kalimat tersebut. Tapi tidak, rasa penasarannya lebih besar.
"Well, aku lumayan dekat dengannya, kami sepupu"
Sehun merenung. Merasa sial karena harus bertemu dengan orang terdekat mantan kekasihnya itu. Ah, kalau begini semua menjadi wajar untuk Sehun atas kemudahannya dalam mengadakan pertemuan. Karena tampaknya, Wu Yifan ingat betul dengan seseorang bernama Oh Sehun.
"Begitu" desah Sehun sekenanya. Ia ingin tidak tertarik, sialnya tidak bisa.
"Kau tidak ingin menanyakan kabarnya ?"
Sehun menggeleng. "Bukan urusanku lagi"
"Ah, sayang sekali. Padahal Chanyeol sangat ingin bertemu denganmu"
Sehun menggigit bibir. Merasakan emosi yang tiba-tiba menguasai dirinya saat mendengar kalimat kelewat santai yang diucapkan Yifan. Lebih-lebih nama seseorang yang paling tidak ingin ia dengar, walaupun jujur nama itu masih terbesit sekali dua kali dipikirannya.
"Maaf, saya harus pergi" tanpa menunggu atau bahkan melihat respon dari rekan kerja yang paling susah di dapatkan bosnya ini. Sehun keluar dari bilik VIP tersebut dengan langkah tergesa. Yifan tampak tidak mengejar atau bahkan sedikit menahan, ia biarkan pria manis itu langsung pergi begitu saja walau raut kecewa tidak terlewat dari wajahnya.
"Benar-benar sayang sekali" decihnya kesal.
-End of Flashback-
"Begitulah, jadi sekarang cepat kau mandi dan antar aku pulang"
Jongin menolak untuk bergerak dari tempat walau Sehun sudah mendoromg-dorong tubuh tinggi pria itu. "Tunggu, tunggu. Hanya segitu saja ?"
Agaknya ia tidak puas dengan cerita Sehun yang begitu singkat. "Kau bahkan tidak memberitahuku namanya"
Memang benar, Sehun tidak ingin menyebut nama 'Park Chanyeol' di depan tunangannya ini. Ia hanya tidak mau mengambil resiko akan kemungkinan Jongin yang mencari tahu tentang mantan kekasihnya tersebut. Maklum, Jongin ini walau luarnya tampak sangat cuek, ternyata didalam punya rasa kepo yang sangat tinggi.
"Tidak penting. Ayolah cepat saja mandi"
Jongin berdecak, walau masih belum puas akan jawaban Sehun. Ia memilih untuk mengikuti keinginan pria tersebut dan segera melesat ke kamar mandi.
Shootdanonymous
"Yakin tidak mau menginap ?"
Adalah pertanyaan sama yang terluang untuk ketiga kalinya malam ini. Yang menanyakan si calon mertua dan yang ditanyai si calon menantu. Sehun harus dengan penuh rasa kesabaran menolak tawaran dari ibu Jongin yang sangat baik hati ini. Semakin tidak enak hati karena sang calon mertua kerap kali menampakkan wajah kecewa. Mungkin, lain kali akan Sehun pertimbangkan untuk menginap. Tapi tidak malam ini. Belum.
Ia masih sensitif akan ide tidur berdua dengan si bos. Tidak setelah ketidaksengajaan yang terjadi beberapa hari lalu di apartment Jongin.
"Ah, sampai lupa" Sehun yang baru selesai meneguk segelas air putih menengok pada si calon mertua. Begitupun juga Jongin yang ternyata juga habis melakukan hal serupa. Sehun tak yakin kabar ini bagus melihat raut wajah wanita berumur itu yang agak gelisah.
"Eomma dapat kabar dari kakek, katanya ia ingin memajukan kedatangannya menjadi besok"
Jongin sukses tersedak air yang belum sepenuhnya masuk ke tenggorokan. Ia menatap sang eomma dengan tatapan tak percaya. "Serius eomma ?!"
Di balas anggukan dari ibunya.
Lihat kan, hari ini benar-benar sial. Sehun tidak yakin bisa tidur dengan nyenyak memikirkan kemungkinan untuk besok, belum lagi bayang-bayang Chanyeol yang ikut nimbrung dalam pikirannya yang sudah cukup stres ini.
Hah, Sehun jadi kepingin mati muda saja rasanya.
A/n: maaf ngaret buangett...
