Disclaimer : I do not own Akatsuki no Yona, but Hakuya and Yohime my Own.
.
Chapter 06 – Clash at The Cliff
.
Yona bertopang dagu dan melirik Haku "apa kau menemukan sesuatu, Haku?".
"tidak... dasar, bagaimana caranya menemukan seseorang yang hidup terpencil di area seluas ini?" gumam Haku.
Mengikuti saran Mundok, mereka bertiga mencari pendeta yang tinggal di suatu tempat yang ada di wilayah suku angin, dan kini mereka bertiga berada di pegunungan Utara.
Setelah Haku menceritakan sedikit tentang pendeta, Yohime melirik ke arah Yona yang terlihat memikirkan sesuatu "kenapa?".
"meski aku putri kerajaan Kouka, yang kutahu hanyalah istana Hiryuu... kedengaran bodoh sekali aku yang tak mengetahui apapun ini...".
"daripada memikirkan hal itu, lebih baik pikirkan jalan apa yang harus kau ambil dan apa yang bisa kau lakukan... saat ini kita bahkan mencoba untuk tetap hidup dengan apa yang tersisa dari semua yang kita miliki, kan?".
Haku memanggil mereka berdua "omong-omong, Hime-sama, Yohime-sama, jika kita harus mencari ke setiap sudut area ini, kita nanti harus tidur di luar... bagaimana?".
"tidur di luar? Aku sudah terbiasa" sahut Yona.
"tak seperti pegunungan di belakang istana, disini dingin sekali, terutama kau Yohime-sama, aku ragu tubuh lemahmu itu bisa tahan...".
"kalau begitu, aku cukup tidur dekat-dekat dengan kalian berdua agar tetap hangat, kan?" ujar Yohime.
Saking terkejutnya, Haku menjatuhkan Tsu Quan Dao dari genggamannya. Saat itulah Haku merasakan kedatangan musuh dan meminta keduanya untuk tetap berada di dekatnya. Setelah mengalahkan beberapa prajurit, pimpinan mereka muncul di hadapan mereka.
Yohime memicingkan mata saat menatap ke arah yang sama dengan Haku dan Yona "rupanya memang kau, Kan Tae Jun?".
"aku sudah menunggu saat-saat seperti ini, Son Haku Shogun, juga Yohime-sama dan Yona Hime-sama... aku, Kan Tae Jun dari suku api...".
"lihat, Hime-sama, Yohime-sama, pemandangan disana bagus sekali..." ujar Haku yang dibalas anggukan kepala Yohime dan Yona.
"APA?! kenapa kalian malah bersantai begitu saat aku sedang bicara?" pekik Tae Jun setengah menangis.
"oh, jadi kau mengajakku bicara? Aku sudah bukan Shogun atau Son lagi, maaf...".
"oh, tak apa, selama kau sudah mengerti... tunggu... apa!? kau bukan Shogun?!".
"benar, sekarang aku hanyalah pengelana, Haku... dengan kata lain, apapun yang kulakukan sekarang tak ada hubungannya dengan suku angin".
"jadi begitu, ya? yah, lagipula aku sudah tak peduli pada suku angin... aku akan menghabisi siapapun yang menghalangi urusanku dengan Yona Hime-sama dan Yohime-sama" ujar Tae Jun menggenggam pedangnya.
"tahan..." ujar Yohime mengarahkan telapak tangannya ke depan, maju selangkah dan meminta Haku tetap diam di samping Yona "sebelumnya... kau yang juga berkomplot dengan Soo Won pasti tahu... dimana Hakuya?".
Tae Jun menahan gerakan tangannya yang tadinya ingin mengangkat pedangnya "oh, si kakak dari pengawal kembar, Byakko no Kouka itu... untuk apa mencarinya, Yohime-sama?".
"memangnya ada yang salah jika aku mencari tunanganku sendiri?".
"...eh?" ujar Haku dan Yona yang bibir dan matanya membulat.
"tunggu, sejak kapan..." ujar Tae Jun menunjuk dengan tangan bergetar.
"tentu saja belum ada yang tahu... mendiang ayahanda saja baru membicarakan pertunangan kami di malam hari seminggu sebelum hari ulang tahunku dan Yona" ujar Yohime menghela napas, lalu menatap lurus Tae Jun "sekali lagi kutanya... dimana Hakuya?".
Seperti saat ia dihadapkan dengan Haku dan Yona, Tae Jun mengerutkan kening dan bertanya "Yohime-sama... kau... mencintai pria itu?".
"apa seorang putri kerajaan tak boleh mencintai pengawalnya sendiri? toh, mendiang ayahanda sudah merestui kami berdua bahkan mengizinkan kami menikah".
"sayang sekali, Yohime-sama... mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena pria itu sudah..." ujar Tae Jun menceritakan semuanya.
Malam itu, mereka menemukan Hakuya yang terluka dan mengurungnya di sel khusus setelah menangkapnya. Soo Won masih membiarkan Hakuya hidup, tapi saat Soo Won ingin bicara pasca meminta persetujuan perwakilan suku lain untuk mengangkat Soo Won sebagai raja, ia sudah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pasca disiksa, ia mati kehabisan darah setelah disiksa dan menggigit lidahnya sendiri sebelum dipaksa buka mulut dengan siksaan lebih.
"...apa buktinya kalau dia sudah mati? aku takkan semudah itu mempercayai ucapanmu sampai aku melihat mayatnya dengan mata kepalaku sendiri..." ujar Yohime dengan suara bergetar.
"saya sendiri yang diperintahkan membuang mayatnya ke laut, meskipun tadinya saya diminta untuk menguburkan ini di dekat Fuuga... mungkin lebih baik anda memegangnya..." ujar Tae Jun menyerahkan segenggam rambut berwarna coklat kehitaman beserta pita putih yang biasa mengikat rambut Hakuya.
Yohime terduduk lemas sambil memegangi segenggam rambut itu, menundukkan kepala dan tak menjawab panggilan Yona sama sekali, seolah tak bisa mendengar suara di sekitarnya sama sekali dan hanya diam, menangis dengan sorot mata yang kosong "ternyata rasa sakit itu... kau sedang memanggilku? kau memanggilku... tapi aku tak dapat membalas panggilanmu... dan kau pergi begitu saja meninggalkanku?".
"Yohime-sama, mundur... aku tak perlu menahan diri lagi... akan kubunuh mereka semua yang ada disini..." ujar Haku menatap mereka semua dengan penuh amarah, hawa membunuh yang keluar dari sekujur tubuhnya membuncah tak tertahan.
Yona hampir menangis karena ia tak pernah melihat Haku semarah itu dan Yohime menangis penuh rasa putus asa seperti itu.
Saat itu Yohime teringat kata-kata terakhir Hakuya padanya, janji yang ia buat bersama Hakuya "jangan menangis, jadilah kuat... sekuat mungkin dan kejutkan aku saat kita bertemu lagi...".
"eits, sayang sekali, Yohime-sama ada di tangan kami... sebaiknya jangan..." ujar Tae Jun yang menghunuskan pedangnya.
Lagi-lagi mereka dibuat terkejut, salah satu prajurit bawahan Tae Jun yang ditugaskan menahan Yohime berteriak kesakitan. Yohime menusuk tangan prajurit itu dengan belati yang tersimpan di balik bajunya, lalu menebas leher prajurit itu. Seorang prajurit di dekatnya yang terkejut dan marah melihat temannya terbunuh, mengayunkan pedangnya pada Yohime, setelah Yohime membungkukkan tubuh dan berhasil menghindari serangan pria itu, Yohime membunuh pria itu, menusuk dadanya dengan belatinya.
Yona terbelalak, hampir tak percaya atas apa yang ia lihat "kakak...".
Tatapan mata yang tertuju padanya kini dipenuhi berbagai emosi, terkejut, tak percaya, marah, heran dan takut.
"Haku, tetap jaga Yona... aku bisa mengatasi ini sendiri...".
"tapi..." ujar Haku terhenti saat Yohime yang wajahnya terkena cipratan darah prajurit suku api yang ia bunuh barusan, menatapnya sambil tersenyum meski air matanya berlinang.
"selama 3 tahun lebih sejak setelah ia menjadi pengawal pribadiku, aku telah memerintahkan Hakuya untuk melatihku 18 seni bela diri militer yang ia bisa... memanah, berpedang, tombak, kunai, seni bela diri dengan tangan kosong, termasuk teknik membunuh... lupakan Hime-sama yang lemah yang ada dalam ingatan kalian" ujar Yohime mendongakkan kepalanya, menatap langit biru sebelum ia kembali menatap Haku dan tersenyum "aku ingin tahu, apakah dia akan tersenyum melihatku menjadi begitu kuat? ini terlalu kejam jika ia yang telah seenaknya merebut hatiku sejak lama malah seenaknya meninggalkanku secepat ini, kan?".
"benar... sekarang, untuk sementara mari obati patah hatimu meskipun hanya sedikit dengan menghabisi mereka satu persatu... aku akan ikut denganmu, Yohime-sama... mari tunjukkan pada mereka bahwa yang ada disini bukan Hime-sama yang lemah" ujar Haku merenggangkan tubuhnya dan menyeringai, bersiap melakukan serangan.
Langit senja terasa menyilaukan, warna orange dari langit berpadu dengan warna merahnya darah yang menempel di tubuhnya.
Yohime merasa ada yang aneh dengannya, detak jantungnya terasa begitu cepat bahkan tubuhnya terasa begitu kuat, seolah tubuhnya yang dulu, yang ia ketahui selama ini begitu lemah bagai kaca yang bisa pecah kapan saja, seolah bukan tubuhnya sendiri. Ia menatap tangan dan bajunya yang berlumuran darah pasca pertarungan melawan para prajurit suku api, tanpa ada luka di tubuhnya. Para prajurit suku api telah diperintahkan Tae Jun untuk menangkap dan tak melukai dirinya dan Yona, ini malah bisa dimanfaatkan oleh Yohime agar ia bisa melawan mereka meski tentu saja, ia tak mau melakukan pembunuhan sia-sia. Para prajurit yang melawannya hanya ia lumpuhkan dengan cara ia lukai sampai tak bisa bergerak.
Merasa urusannya sudah selesai, ia mencari Yona dan Haku karena ia terpisah dari mereka di tengah pertempuran.
Yohime menemukan Yona tengah menghunuskan pedang ke arah salah satu dari dua prajurit yang ada di depan dan belakang Yona. Melihat prajurit di belakang Yona hendak menyerang, Yohime mengambil panah dan busur yang ada di dekat kakinya "semoga masih sempat?!".
"hentikan?! jangan melukai Hime-sama?!" teriak Tae Jun dari atas sehingga gerakan prajurit itu terhenti.
"tapi...!?" ujar prajurit di depan Yona terhenti karena teriakan temannya.
Ketika melihat prajurit di belakangnya tertusuk panah di bahunya, Yona menyadari itu ulah Yohime yang memanah dari atas "kakak?!".
Yohime berlari menghampirinya "perhatikan belakangmu, adik bodoh?! prajurit disitu, jangan coba-coba menyentuh adikku atau kau akan terima akibatnya?!".
Setelah prajurit itu mundur, Yona menancapkan pedang di tangannya ke tanah dan malah pergi ke tepi jurang, yang tak dimengerti Yohime saat ia melihat ke bawah dan berusaha menuruni lereng bukit adalah apa yang terjadi dengan rambut adiknya dan kenapa para prajurit itu hanya diam melihat Yona yang seperti sedang berusaha menarik sesuatu di tepi jurang?
"apa yang kalian lakukan?! Cepat bawa Hime-sama menjauh dari Haku?!".
Mendengar teriakan Tae Jun yang menuruni lereng di dekatnya, Yohime terkejut mengetahui Yona tengah berusaha menarik Haku, berlari secepatnya menghampiri Yona "mana mungkin kau bisa menariknya dengan perbedaan tinggi dan berat badan kalian?!".
Mereka terlambat selangkah. Saat Yona menoleh ke belakang, pijakan tepi tebing tempat Haku berpegangan runtuh sehingga Haku jatuh ke bawah jurang, Yona yang tidak mau melepaskan genggaman tangannya ikut terbawa. Lagi-lagi Yohime hanya bisa melihat saat orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya.
"cari mereka?! Cepat selamatkan Hime-sama?!".
Melihat Tae Jun yang berteriak dan berontak saat ditahan kedua prajuritnya, Yohime berdiri dan mengambil pedang yang tertancap di tanah "percuma saja, Kan Tae Jun... kau yang telah memojokkan kami, dan lihat hasil perbuatanmu... kau yang telah membunuhnya... puas kau sekarang?".
Melihat kedua prajurit itu mengarahkan pedangnya ke hadapannya, Yohime terkekeh "tenang saja, aku sudah tak ada niat melawan... sudah cukup...".
"kalau begitu, tolong turunkan pedang di tangan anda, Yohime-sama" pinta salah satu prajurit.
"ah, benar... aku akan segera menurunkannya setelah selesai menggunakannya..." ujar Yohime memotong rambutnya yang dikepang satu di belakang hingga rambutnya kini hanya sebahu, ia melemparkan potongan rambutnya ke hadapan Tae Jun dan mendongak ke atas "mungkin dia akan memarahiku karena datang ke tempatnya begitu cepat... tapi kalian bertiga hanya saksi... atas kematianku...".
Yohime mengiris urat nadi lehernya sendiri sebelum tubuhnya terjatuh ke bawah jurang, kedua mata ungu yang meneteskan air matanya menatap ketiga pria di hadapannya tanpa perasaan, tak terlihat perasaan apapun kecuali kesedihan.
"dengan begini... apa aku bisa menemuimu, Hakuya?".
"masih terlalu cepat untuk mati, kan?".
Yohime membuka matanya "suara itu...?!".
Soo Won yang didampingi Keishuk datang menghampiri Tae Jun "maaf, sudah membuatmu menunggu, Tae Jun-sama... apa yang membuatmu datang kemari?".
"maaf karena saya datang kemari sebelum hari penobatan anda... saya datang karena ada yang harus saya serahkan pada anda" ujar Tae Jun menyodorkan sebungkus kain.
Begitu Soo Won membuka bungkusan kain itu, ia terkejut melihat dua untaian rambut yang ia kenal betul warnanya, warna rambut milik Yona dan Yohime. Tae Jun menceritakan semuanya, apa yang terjadi di pegunungan Utara di perbatasan wilayah suku angin dan suku api, mulai dari tentang mereka yang memojokkan ketiganya dan hampir berhasil menangkap mereka "tapi setelah mereka berdua jatuh ke jurang, Yohime-sama bunuh diri dengan mengiris urat nadi di lehernya dan menjatuhkan diri ke bawah jurang...".
"Soo Won-sama telah memerintahkan untuk memberikan kabar jika mereka bertiga ditemukan, tapi kau tak hanya membuat Yona-Hime terbunuh bahkan membuat Yohime-sama bunuh diri? ini merupakan aksi pengkhianatan, Kan Tae Jun-sama!?" sahut Keishuk.
"benar, aku telah... membunuhnya... tolong berikan hukuman padaku..." pinta Tae Jun.
Setelah meminta Tae Jun menghadiri upacara penobatannya dan beristirahat di kastil, Soo Won pergi sambil membawa untaian rambut Yona dan Yohime. Terbayang di ingatannya, wajah ke-3 sahabatnya di masa lalu, ia genggam erat untaian rambut di tangannya "aku tahu tidak peduli sebesar apapun perasaanku padamu, aku takkan pernah bisa menggapaimu... tapi kenapa... dari semua jalan yang ada... kenapa kau malah memilih jalan yang sama dengan Hakuya, Yohime?".
Seorang anak laki-laki berambut sandy-blonde bermata biru cerah berjalan-jalan dan berhenti menyanyikan lagu, berhenti sambil menggigit apel di tangannya "merepotkan... ada orang mati...".
Ia menemukan tiga orang yang tak sadarkan diri dengan baju robek-robek, dimana Haku yang terluka parah memeluk Yona sedangkan tidak jauh dari situ, Yohime tergeletak dengan darah melumuri leher dan bajunya.
"padahal aku kemari karena ingin memeriksa apa yang kulihat, kukira ada burung yang jatuh meski ukurannya terlalu besar untuk sebuah burung" ujar Yun meminta Ik-Su membantunya.
