Baby, I'm Not A Monster..!

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuFemNaru, Gaafemnaru, ?femnaru

Genre: Romance& hurt/comfort

Rate: T

Warning: AU, OOC abis, typo, abal,tema dipertanyakan, gaje, don't like don't read. No flame please.

Baby, I'm Not A Monster..!

" Perkenalkan saya Naara Shikamaru." Ucap dokter itu, segera setelah ia membungkukkan badan, dokter tampan itu menegakkan badannya dan menyambut jabat tangan Sasuke. " Saya adalah kawan lama dari Nona Uzumaki Naruto, yoroshiku.."

" Yoroshiku. Saya Uchiha Sasuke, kekasih Naruto.." jawab Sasuke singkat.

'jadi ini kekasihnya?' batin Shikamaru miris. Sejenak ia memperhatikan penampilan Sasuke setelah melepaskan jabat tangannya. Kesan pertama yang muncul adalah berwibawa.

" Sasuke-san, salam kenal..."

" Ya, saya permisi dulu." Sasuke pamit dan segera meninggalkan ruangan Shikamaru.

Shikamaru menghela napas berat lalu kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja. Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya sesekali terdengar helaan napas Shikamaru yang tengah tertegun. Ya, ia memang tengah tertegun. Ia kembali teringat masa-masa kecilnya bersama Naruto, wanita yang diam-diam telah mencuri hatinya. Toh, semua terlembat, Naruto sudah bersama dengan laki-laki lain yang mungkin lebih hebat darinya.

Shikamaru masih teringat saat ia dan Naruto baru berusia delapan tahun dan mereka begitu akrab satu sama lain. Naruto pernah bilang bahwa ia ingin menikah dengan Shikamaru. Sekali lagi ia tersenyum, senyuman penuh kecewa dan rasa sakit yang ia pendam lama.

Jika saja ia tidak pindah dan meninggalkan Naruto, jika saja ia segera menyelesaikan studinya lebih cepat, mungkin ia tidak akan didahului oleh Sasuke.

Ia tahu dan ia yakin bahwa mungkin monster itulah yang akan menjadi pelindung Naruto nantinya.

0o0o0o0o0o0o0

Gaara tampak gelisah dibalik meja direkturnya, berkali-kali ia melirik ke arah sebuket bunga lili putih yang ia biarkan tergeletak di atas meja. Ia mendengus dan mengacak helaian merahnya kasar. Sudah hampir dua minggu Naruto terbaring koma di rumah sakit dan ia belum sekalipun menjenguk wanita pujaannya itu. Bukan karena tak peduli, bukan. Tetapi karena ia sedang mencari celah kelengahan dari Uchiha Sasuke. Ia sudah memikirkan kemungkinan apa saja yang terjadi jika ia bersikukuh tetap mendatangi Naruto tanpa pertimbangan yang matang. Ia tidak mau menanggung malu karena kedatangannya ditolak mentah-mentah oleh monster penjaga Naruto yang sejujurnya ia benci itu.

Tiba-tiba ia menyeringai. Dengan segera ia meraih sebuket bunga itu dan melangkah ringan keluar dari ruangannya.

'aku akan datang, tunggulah kitsune...'

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Karena Sasuke sudah hampir menyerah.

Sejak kata-kata dokter dimana ia harus menunggu. Menunggu dengan kecemasan yang membatu, ia merasa ribuan paku tertancap di ulu hatinya. Perasaan lelah seolah sedang menggerogoti keyakinannya untuk tetap bertahan dan teguh pada ideologinya. Ia tak mengenal anatomi tubuh manusia sebaik para dokter di sana. Tapi ia mengenal Naruto lebih dari yang orang-orang bayangkan. Terkadang ia mengutuk dirinya karena hampir melepas seluruh keyakinannya untuk mempertahankan rasanya pada Naruto.

Ia tak tahu bagaimana membuat Naruto membuka matanya. Yang ia tahu, ia harus menunggu dan terus menunggu. Menunggu kesadaran kekasihnya atau malah menuggu hal yang paling tidak ingin ia tunggu. Kematian Naruto. Karena Naruto kini hanya bagai seonggok daging yang dipaksa bernapas. Andai saja Sasuke tega mencabut satu saja alat medis yang menempel di tubuh Naruto, mungkin sepersekian detik kemudian ia akan melihat Kushina dan Minato meraung-raung memeluk tubuh dingin anaknya.

Tapi ia tidak begitu!

Tak peduli sekalipun semua orang memandangnya dengan tatapan menghakimi, ia tak peduli. Asalkan Naruto tak menjadi salah satu di antara mereka, ia akan tetap bertahan. Ia tak peduli sekalipun semua orang menyebutnya monster, hantu, iblis atau yang lebih parah sekalipun-dalam hal ini sejenis mahluk yang lebih jahat dari iblis-, sungguh Sasuke tak akan mendengarkannya. Ia bisa menjadi iblis yang mematikan bagi mereka, tetapi ia akan tetapa selalu berusaha menjadi malaikat yang baik bagi Naruto.

Seolah terjatuh dalam jurang tanpa dasar, Sasuke menggeram. Ia merasa beban berat jatuh menimpa punggungnya dan melesakkannya pada kepahitan yang tiada tara. Tapi ia rela jika harus menelan semua kepahitan demi kepahitan yang tercipta. Sekalipun ia harus menunggu kesembuhan Naruto sampai ia tak tahu sudah berapa lama ia telah menunggu, ia siap.

Mungkin jika Sasuke harus membayar kesembuhan Naruto dengan rasa cintanya ia akan menyerahkan itu. Sekalipun ia harus dibenci oleh Naruto, ia tak keberatan. Toh, semua ini berawal dari kesalahan-kesalahan individualnya. Ia rela menahan rasa sakit itu. Terkadang ia berfikir, mungkin di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang yang jahat dan hobi membalas dendam dan-ah jangan lupakan asumsi bahwa mungkin dulu dia adalah seorang penghianat.

Mungkin ia harus sedikit bersyukur karena semenjak Naruto masuk ke rumah sakit, kepala saus itu tak sekalipun pernah datang menjenguk . Ia harap orang itu sudah musnah atau paling tidak ia sudah jera terus-menerus mangganggu hubungannya dengan Naruto. Mungkin ia termasuk jahat karena sangat diskriminatif terhadap orang itu. Tapi, mungkin kau akan berfikir demikian jika kau berada dalam posisi Sasuke saat ini.

Jika saja Sasuke menganalogikan dirinya seperti sebuah lukisan, ia adalah sebuah masterpiece yang tak diharapkan. Lukisan yang menakjubkan, namun tak banyak orang yang mengerti makna di balik lukisan itu sendiri. Dan Sasuke mengalah untuk dibenci daripada berusaha menunjukkan keindahan yang hanya dijawab oleh cemoohan orang-orang yang sama sekali tak mengerti.

Hari itu, satu kelopak lili putih gugur menandakan empat belas hari sudah penderitaan merajamnya.

0o0o0o0o0o0o0o0

Laki-laki itu melangkah dengan tenang melewati para pasien maupun suster yang ia temui. Sesekali ia melirik ke kanan kiri memastikan bahwa ia bisa masuk ke dalam kamar dengan nomor 1619 dengan mudah. Ya, Gaara sudah memutuskan untuk tetap menjenguk Naruto, apapun resiko yang harus ia hadapi. Sekalipun nati ia harus kembali beradu jotos dengan pemuda Uchiha itu, ia sudah siap. Ia rasa, ia tidak terlalu buruk dalam hal bela diri. Hanya saja, mungkin ia lebih rendah dari tingkatan Uchiha. Lupakan.

Pintu geser ruang 1619 itu terbuka. Menampakkan Gaara dengan sebuket lili putih di genggaman tangan kanannya. Matanya membelalak begitu melihat tubuh lemah Naruto terbaring di atas tempat tidur dengan berbagai jenis alat medis yang mengelilinginya. Matanya beralih pada pemuda yang berdiri mematung di dekat jendela yang saat ini tengan menatap nyalang ke arahnya. Uchiha sialan itu lagi, batinnya. Keduanya saling menatap dan melemparkan tatapan penghinaan yang penuh untimidasi khas masing-masing. Gaara melangkah dengan angkuh menuju ke tempat tidur Naruto. Ia menyeringai ke arah Sasuke.

" Mau apa kau kesini?!" Tanya Sasuke berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.

" Tentu saja menjenguk sleeping beauty no kitsune-ku.." jawab Gaara ringan.

" Jangan sembarangan menyebut Naruto milikmu. Pergi dari sini!"

" Kau sungguh tidak sopan Uchiha, aku datang baik-baik untuk menjenguk dia, tapi kau malah mengusirku..."

" Naruto tak butuh kau jenguk...!" bentak Sasuke.

" Jangan bicara seolah-olah kau sudah memiliki Naruto sepenuhnya. Kau yang menyebabkan Naruto koma. Cih!"

" Ehm, maaf. Jangan buat keributan di sini, pasien bisa terganggu..." terdengar sebuah suara berat mengintrupsi percekcokkan antara Sasuke dangan Gaara. Serempak keduanya menoleh ke sumber suara. Mendapati Shikamaru tengah berdiri anggun di antara mereka berdua. Keduanya terdiam.

'siapa pemuda ini? Apa dia juga ada hubungannya dengan Naruto?' batin Shikamaru ingin tahu.

" Bisakah kau mengusir laki-laki brengsek ini dari sini? Aku muak melihat mukanya!" perintah Sasuke cepat dan dibalas dengan tatapan tajam dari Gaara.

" Aku bisa keluar tanpa kau usir brengsek! Lihat saja, aku akan buat kau menyesal karena berani menantang Sabaku No Gaara...!" ancam Gaara seraya melemparkan bunga lili yang tadi ia bawa ke arah Sasuke.

" Tcih...!" Sasuke berdecih dan melemparkan bunga lili itu ke dalam tong sampah.

" Maaf, saya akan melakukan pemeriksaan dan melakukan injeksi nutrisi. Tolong anda tunggu di luar." Pinta Shikamaru tenang, meskipun sebenarnya ia ingin sekali meninju wajah Sasuke yang menurutnya menyebalkan. Entah mengapa, melihat pertengkarang kekanakkan mereka berdua tadi, ia muak.

" Aku ingin di dalam...!"

" Ini sudah prosedur, Sasuke-san. Jadi tolong, demi kelancaran saya harap anda mematuhinya. Jadi sekarang anda saya mohon untuk tunggu di luar." Suara Shikamaru terdengar agak meninggi. Mati-matian ia menahan tangannya yang sudah terkepal yang ia sembunyikan di dalam saku jasnya.

" Segera lakukan..!" ucap Sasuke sebelum pergi dari hadapan Shikamaru yang diam-diam tersenyum puas karena bisa berdua dengan Naruto.

Perlahan ia mendekati tubuh Naruto. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut pirang Naruto. Ia patut bernapas lega karena seluruh tirai ruangan itu tertutup dan pintu tidak diberi kaca transparan. Andai saja ia ketahuan, mungkin ia sudah terjun bebas dari lantai tujuh rumah sakit ini mengingat ruangan ini berada di lantai tujuh.

Ia mengecup kening Naruto lembut. Setidaknya selama Naruto belum berstatus sebagai nyonya Uchiha, ia masih memiliki kesempatan untuk dapat mengecup kening wanita yang ia cintai sejak kecil.

" Dear, kau masih ingat panggilan itu kan? Kau dulu memanggilku dengan panggilan itu. Kenapa kau menepati kata-katamu? Kau bilang kau ingin menikah denganku. Tapi kenapa kau malah bersama monster itu? Dan kenapa kau sampai seperti ini? Apa yang ia lakukan padamu, Dear?" ujar Shikamaru lirih sembari mengelus punggung tangan Naruto.

" Aku akan lakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Tapi apa nanti jika kau sadar kembali kau mau menikah denganku dan menepati kata-katamu waktu itu? Aku takut tak bisa merelakanmu bersama orang itu. Aku takaut jika nanti aku menyimpan dendam padanya. Aku takut jika nanti aku seperti pemuda berambut merah itu jika kau memilih Sasuke. Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan, dear..."

" Aku mencintaimu, jauh sebelum aku mengenalmu..." ucapnya sambil mengecup tangan Naruto dan membawanya di pipinya. Ia memejamkan mata mencoba menahan air mata yang mendadak ingin melesat dari kedua pelupuk matanya.

Entahlah, ia takut jika nanti ia akan terobsesi pada Naruto, karena ia tahu, cinta dan obsesi sangatlah berbeda.

Shikamaru segera meraih alat-alat medisnya dan melakukan pemeriksaan rutin pada Naruto. ia sudah terlalu lama berkutat dengan emosinya. Jangan sampai Sasuke curiga dan yang lebih buruk lagi memergokinya. Jangan sampai. Tak sampai sepuluh menit, pemeriksaan sudah selesai.

" Nah Dear, beristirahatlah. Tapi segera bangun dan sambut kedatanganku untukmu. Aku merindukan suaramu..." Shikamaru mengecup kening Naruto dan melangkah pergi.

Shikamaru membuka pintu ruangan Naruto pelan dan ia menemukan Sasuke tengah tertidur di kursi tunggu. Ia tersenyum, sepertinya lelaki itu kurang tidur sehingga lingkaran ungu tampak kentara di sekeliling matanya.

Mungkin Shikamaru harus berfikir ribuan kali untuk menaruh dendam pada Sasuke jika kelak Naruto tak lagi menginginkannya untuk menjadi suaminya-

-karena mungkin sleeping beauty tak berjodoh dengan sleeping prince.

0o0o0o0o0o0o0

Sasuke mengerjabkan matanya beberapa kali begitu ia terbangun. Ia segera melirik arloji yang terpasang di tangannya. Ia menghela napas panjang. Ternyata hampir tiga jam ia tertidur di kursi tunggu. Hei! Kenapa dokter baru itu tidak membangunkannya? Dengusnya dalam hati. Apa kondisinya cukup mengenaskan untuk dibangunkan oleh seorang dokter sekalipun? Entahlah.

Kedua kakinya berjalan gontai. Dengan langkah yang agak sempoyongan dan beberapa kali terhuyung, ia berhasil membuka pintu geser kamar Naruto yang entah mengapa menjadi sulit dibuka dari pada sebelumnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Naruto dan membanting tubuhnya di kursi samping tempat tidur yang biasa ia tempati. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sesuatu di tangan Naruto. Ia tertegun mengamati tangan Naruto lekat.

Sejak kapan ada jejak air mata di punggung tangan Naruto?

0o0o0o0o0o0o0o0

Tanpa Sasuke sadari, sudah hampir satu bulan ia tersudut dalam penantian yang tak jua memiliki ujung. Selama itu ia terus berada di rumah sakit, selama itu ia menyerahkan control perusahaan pada kakaknya, dan selama itu ia terbenam dalam ketidak pastian yang menyesakkan.

Entah sudah berapa kali ia harus menerima pukulan dari Gaara karena melarang pemuda itu menjenguk Naruto. Entah sudah berapa kali ia dilerai oleh dokter bernama Shikamaru yang anehnya seolah hanya mengurusi satu pasien saja, Naruto.

Kau mungkin akan merasa aneh jika melihat seorang dokter yang hanya berputar-putar di sekitar kamar rawat kekasihmu. Mungkin kau akan merasa aneh jika kau tak pernah di ijinkan untuk menyaksikan pemeriksaan kekasihmu yang sedang koma, padahal seingatmu dokter lain memperbolehkan. Dan mungkin kau merasa aneh jika dokter yang selalu berputar-putar di sekitar kamar rawat kekasihmu tak pernah membengunkanmu jika kau tertidur di kursi tunggu akibat menunggu pemeriksaan pasien yang sangat lama.

Namun Sasuke selalu menampik perasaan aneh itu. Mungkin saja Shikamaru memang dokter khusus yang bertugas hanya merawat Naruto. mungkin Shikamaru memang dokter yang sangat patuh pada aturan, dan mungkin Shikamaru tak tega membangunkannya karena melihat Sasuke terlihat begitu lelah. Ia harap semua itu benar.

Jika saja Sasuke adalah seorang ilmuan, dia mungkin sudah membuat sebuah serum yang bisa memperbaiki sistem organ Naruto yang mengalami kerusakan. Atau jika ia adalah seorang ninja medis, mungkin ia sudah melakukan pengobatan sejak awal. Tapi semua itu tak ada, semua itu hanya ada di dalam kartun favorit Naruto yang anehnya pemeran utamanya memiliki nama yang sama dengan Naruto. Ia hanya mengenal kalkulus, ia hanya mengenal analisa saham. Jadi, mimpi yang bodoh jika ia berharap dapat membuat serum untuk menyembuhkan Naruto, dan suatu lelucon jika ia berharap dapat menjadi ninja medis yang dapat menyalurkan sesuatu-entahlah, Sasuke lupa apa itu namanya-ke dalam tubuh Naruto. Jadi, pilihan paling bijak adalah menunggu sampai ia tak ingat sudah berapa lama ia menunggu.

Terkadang perasaan rindu datang menyergapnya. Merongrong pertahanan akan perasaannya sendiri. Ia merindukan sosok Naruto yang selalu tersenyum dan ceria. Ia merindukan Naruto yang anggun dan mempesona. Bukan Naruto yang terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Lihatlah betapa kusam kulit wajah Naruto. Betapa kurus tubuh Naruto saat ini.

Melihat itu, rasanya Sasuke ingin mencekik lehernya sendiri.

0o0o0o0o0o0o0

Paduli setan dengan semua orang yang mengasihani dirinya!

Ia tidak menyukai tatapan penuh iba dari setiap orang yang datang menjenguk Naruto. Ia membenci tatapan itu. Tatapan itu seolah berkata bahwa ia harus merelakan Naruto pergi ke tempat lain. Seolah-olah memberinya isyarat bahwa ia telah kalah dari permainan takdir yang Tuhan mainkan padanya. Terkadang juga ia melihat tatapan penuh tuduhan dari teman-teman dekat Naruto. Seolah-olah tengah mengulitinya hidup-hidup dan tanpa ampun. Mereka pikir siapa mereka seenaknya melihat dengan mata seperti itu. Entah itu tatapan penuh kasihan, simpati, atau menghakimi sekalipun ia tak akan menghiraukannya. Ia hanya tahu bahwa ia harus menunggu sampai kepastian itu datang dengan sendirinya. Apapun itu. Dan Sasuke bersumpah, seandainya di Jepang tidak berlaku hukum, mungkin ia sudah menusuk-nusuk mata orang-orang itu dengan jarum suntik.

Ia tersenyum miris saat melihat refleksinya di kaca toilet. Seorang Uchiha Sasuke dengan tatanan semrawut. Lingkaran hitam di sekeliling mata entah kurang tidur atau akibat terlalu banyak memeras air mata. Wajah yang terlihat tyrus dan garis rahang yang semakin kentara. Ah, jangan lupakan tubuh yang terlihat kurus kering dan wajah pucat kekurangan sinar matahari. Ini baru berlangsung satu bulan lebih sedikit, bagaimana jika nanti Naruto tak kunjung sadar dan tertidur sangat lama?

Ia yakin, ketika bangun nanti, Naruto tak lagi mencintainya.

0o0o0o0o0o0o0

Semakin lama ia menunggu, semakin ia menyadari bahwa penantiannya hanya sia-sia. Kau pasti akan berfikir demikian jika elektrokardiograf yang terpasang di tubuh Naruto tak berubah angka sedikitpun. Tetap seperti itu, dan tetap dengan ketukan yang sama. Ketukan-ketukan dan bunyi alat-alat yang terpasang di tubuh Naruto seolah menjadi pewaktu tersendiri bagi Sasuke. Di kamar ini, ia sudah membuat peradabannya sendiri. Peradaban yang terpisah dari luar. Peradaban yang hanya di isi oleh dua orang manusia. Meskipun hanya satu yang terlihat masih hidup dan masih mau hidup.

Karena prioritasnya hanya Naruto, Naruto, dan Naruto seorang.

" Sasuke..." terdengar suara Minato memecah lamunan Sasuke.

" Ya, jii-san..."

" Berhentilah, berhentilah menyiksa dirimu seperti ini. Teruslah menjalani hidupmu dengan normal. Jangan mengurung duniamu di sini. Teruslah berjalan.." ucap Minato getir, terselip nada perih di sana.

" Maksud jii-san?

" Kau tampan, kau mapan, kau sukses dan kau sempurna. Lanjutkan hidupmu, Nak. Jangan mematri hidupmu di ruangan ini. Paman tak keberatan.."

" A-Aku tidak mengerti maksud jii-san..."

" Tak apa jika kau ingin meninggalkan Naruto, kami tak akan melarangmu. Pasti tak ada pemuda yang mau menunggui wanita yang koma seperti Naruto. Apalagi pemuda sesempurna kau..." Minato bertutur lirih, ia menahan air matanya yang hampir tumpah.

Sasuke mengepalkan tangannya. " Jii-san, aku baru menunggu Naruto hampir dua bulan. Semua ini tidak sebanding dengan semua usahaku untuk mendapatkannya. Jadi jangan minta aku untuk meninggalkan anakmu. Jii-san tahu, aku begitu mencintainya, jika aku harus menunggunya sampai ratusan tahun pun, aku tak masalah..."

" Seharusnya kau tahu dari awal, Sasuke. Bahwa harapan kesadaran Naruto hanya sepuluh persen..."

" A-Apa..?!"

Seketika Sasuke merasakan sebilah katana menembus lehernya.

To be continue

Minna...! akhirnya fictnya jadi juga. Aku Cuma bisa bikin segini doank. Punggung ku udah kaya ditimpa beton puluhan ton. Lagian otakku udah ngadat minna.

Wokeh, inilah chap 6, semoga tidak mengecewakan dan tidak membuat readers semua muntah berjamaah. Saya harap kalian mau mereview chap jelek ini. And makasih buat readers yang uda mau baca fic ini. Sungguh, saya berterimakasih.

Yang terakhir tunggu chap 7 dan...wassalam...

=review=