Previous Chapter
"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Sehun membalik tubuh Jongin—sahabatnya. Jongin mengangkat bahunya dan berjejak meninggalkan Sehun.
"Kim Jong—"
"Chanyeol selingkuh! Kau puas?"
Chapter 6
"Kali ini apa yang kau perbuat? Kau semakin membuat Kyungsoo membencimu, Kim Jongin!" Joonmyeon menekan luka lebam di ujung bibir Jongin.
"Hyung! Sakit, jangan tekan itu!" Ringkis Jongin. Joonmyeon menghela napas dan kembali mengobati luka Jongin lembut.
"Lalu apa yang membuatmu berkelahi dengan Chanyeol?"
"Sesuatu hal yang kau sendiri tak akan kuberitahu." Jongin bangkit dari berbaring di atas paha Joonmyeon. Menyambar tasnya yang tergeletak di atas lantai.
"Ya! Setidaknya berterimakasih padaku!"
"Gomawo."
"Ya! Kim Jongin!"
Jongin tak memperdulikannya. Tangannya menyentuh wajahnya yang terasa amat sakit. Kakinya sendiri berjejak menuju kamarnya di lantai dua. Jongin memutar kenop pintu, masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya lagi sedikit keras.
Jongin meraih ponselnya dari saku celana panjangnya. Membuka folder gambar di dalamnya. Tangannya bergerak mencari gambar yang didapatkannya kemarin malam. Foto dimana Chanyeol berciuman dengan seorang pemuda di sebuah taman. Dan Jongin yakin itu bukan Kyungsoo. Jongin mengirim foto itu pada Kyungsoo melalui e-mail.
To: Kyungsoo hyung
Subject: The truth
Massage: Aku hanya ingin memberitahukan ini hyung. Jika hyung tidak percaya, tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin kau jatuh semakin dalam hyung.
Jongin mengirimnya bersamaan dengan foto Chanyeol berciuman. Entah apa yang akan Kyungsoo jawab. Yang penting, Jongin sudah memberitahukan kebenarannya bukan?
.
.
.
"Kyung, pelan-pelan, itu sangat sakit," ujar Chanyeol lirih saat Kyungsoo mengompres luka ungu di wajah Chanyeol. Kyungsoo hanya diam, membiarkan Chanyeol mengeluarkan keluhannya. Chanyeol menghentikan pergerakan tangan Kyungsoo. "Itu sakit Kyungsoo, kau bisa lebih pelan?" Kyungsoo mengangguk dan mulai berhati-hati mengompres luka Chanyeol.
"Kenapa berkelahi?"
"Entahlah, dia memukulku lebih dulu saat berlatih basket." Kyungsoo menghela napas, mengangkat kepala Chanyeol dan meletakkannya di atas bantal. Kyungsoo beranjak dari duduknya di atas ranjang Chanyeol. Kyungsoo berhenti melangkah saat Chanyeol menahan tangannya.
"Angry?"
"No."
Kyungsoo keluar kamar, meletakkan baskom berisi air kompres Chanyeol di tempat pencucian piring. Ia menghela napas berat dan kembali menangis. Dadanya serasa sesak semenjak beberapa menit yang lalu menerima e-mail dari Jongin yang berisi foto disana. Dimana Chanyeol mencium seseorang disana.
"Kau marah?" Kyungsoo tersentak saat Chanyeol memeluk tubuhnya dari belakang. Kyungsoo menghapus air matanya, kemudian melepaskan pelukan Chanyeol dan berbalik menatap kekasihnya.
"Duduklah, aku akan membuat spaghetti untuk makan malam," ucap Kyungsoo. Senyum kecil mengembang di sudut bibir Kyungsoo saat Chanyeol berkerut kening. Kyungsoo menolak saat Chanyeol hendak mencium bibirnya. Dengan alasan luka-lukanya cukup parah. Chanyeol hanya pasrah.
Setelah Kyungsoo selesai membuat makan malam, mereka makan bersama, di ruang tengah ditemani dengan televisi. Kyungsoo lebih memilih diam seraya memikirkan tentang apa yang Jongin kirimkan padanya tadi. Chanyeol, berselingkuh. Tidak, ia harus menunggu Chanyeol hingga pemuda itu yang jujur padanya.
"Kau melamun, Kyung?" Tanya Chanyeol. Kyungsoo tersadar dan segera menatap Chanyeol. Ia menggeleng dan memakan sesuap spaghetti terakhirnya. Setelah menegak habis air mineralnya, Kyungsoo meletakkan peralatan makan yang ia dan Chanyeol kenakan di tempat cucian piring. Saat ia kembali ke ruang tengah, ia mendapati Chanyeol sedang berbincang dengan seseorang melalui telfon genggamnya.
Kyungsoo bisa melihat kekasihnya itu tersenyum, tertawa bahkan berkata dengan sangat lembut dengan seseorang yang Kyungsoo sendiri tidak tahu siapa. Kyungsoo duduk di samping Chanyeol, mengambil alih remote televisi dan mengganti channelnya agar bisa di tonton oleh Kyungsoo.
"Baiklah, aku tahu. Selamat malam Baekie." Chanyeol memutus sambungan telfon itu dan beralih pada Kyungsoo yang menonton televisi dengan wajah datar. Kyungsoo yang sadar bahwa Chanyeol menatapnya pun menolehkan wajahnya. Dan tepat saat itu Chanyeol mencium bibirnya.
"Chan," panggil lirih Kyungsoo setelah mendorong dada Chanyeol. Kening Chanyeol kembali berkerut mendapat perlakuan berbeda dengan Kyungsoo.
"Wae?" Tanya Chanyeol dingin. Kyungsoo menggeleng dan hendak berdiri, namun Chanyeol menahan tangannya dan menarik Kyungsoo, hingga pemuda bermata deo itu terbaring di atas sofa. Chanyeol menahan kedua bahu Kyungsoo membuat sang empu kesakitan.
"Chanyeol lepaskan, sakit Chanyeol," lirih Kyungsoo. Ia mencoba mendorong tubuh Chanyeol, namun tenaganya yang jauh dibanding dengan Chanyeol, hingga Kyungsoo tak bisa berkutik.
Kyungsoo memukul punggung Chanyeol saat pemuda itu menciuminya kasar. Kyungsoo tidak suka ini, ia semakin menghujani Chanyeol dengan pukulan pada punggungnya. Namun Chanyeol semakin kasar menciuminya. Bahkan bibir Chanyeol beralih pada leher putihnya. Menghisap, menggigit, meninggalkan bekas warna ungu di leher Kyungsoo.
"Chanyeol, hiks hentikan," ujar Kyungsoo. Air matanya sudah meleleh sejak tadi. Kedua tangannya ia biarkan terkulai di samping tubuhnya. Matanya tertutup, namun ia masih menangis. Chanyeol tertegun kemudian menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Kyungsoo. Kyungsoo bangkit, menyeka air matanya walaupun ia tahu air matanya belum bisa berhenti.
Kyungsoo masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Ia menangis dalam diam dengan memeluk lututnya diatas ranjang. "Kyungsoo, aku minta maaf. A-aku—"
"Tidurlah Chan, aku tahu kau lelah," ujar Kyungsoo dengan suara bergetarnya. Kyungsoo mematikan lampu kamar dan berbaring, menyelimuti tubuhnya dengan selimut sebatas leher. "Maafkan aku Kyung." Kalimat itu hanya menjadi kata terakhir malam ini bagi Kyungsoo.
-Life-
Chanyeol diam di meja makan, menatap nanar Kyungsoo yang memakan sarapannya. Kyungsoo sendiri menyadari kekasihnya tengah memperhatikannya. Ia hanya acuh dan memakan sarapannya.
"Hari ini aku pulang malam, beberapa hari yang lalu aku melamar pekerjaan di salah satu kafe, jadi setelah kuliah aku akan—"
"Kenapa melamar pekerjaan?" Kyungsoo mendongak mendapati tatapan mata Chanyeol sedikit tajam. Kyungsoo menghela napas berdiri dari duduknya. Mengambil tas ransel yang berada di atas meja makan.
"Kau menghindar, Kyungsoo." Kyungsoo menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Chanyeol yang menunduk. Kyungsoo mendekatinya, mengusak kepala Chanyeol lembut. Seulas senyum mengembang di sudut bibir Kyungsoo, ia beralih mencium bibir Chanyeol lama.
"Masak ramen saja jika lapar, ok. Aku mencintaimu," ujar Kyungsoo lagi lalu berjejak keluar dari appartemennya.
.
.
.
"Kau ada masalah dengan kekasihmu ya?" Kyungsoo mendongak memperhatikan Yixing yang menghampirinya. Pemuda berdimple itu baru saja selesai berlatih. Kyungsoo berada di ruangan dance menemani Yixing karena Kyungsoo sedang tidak punya jadwal.
"Tidak," jawab Kyungsoo ketika Yixing itu membersihkan wajahnya dari keringat dengan handuk putih kecil. Sedangkan Kyungsoo mengerjakan tugasnya.
Semenjak Joonmyeon mengenalkan Kyungsoo pada kekasihnya, Kyungsoo sering terlihat bersama dengan Yixing. Mereka bersahabat sejak itu. Yixing yang sering cerita tentang hubungannya dengan Joonmyeon, atau Yixing yang mengeluh karena Joonmyeon terlalu sibuk, atau Yixing yang mengeluh karena Joonmyeon yang suka sekali melakukan skin ship di depan umum.
"Lalu kenapa kau sejak tadi diam? Ada sesuatu yang menjadi bebanmu?" Kyungsoo menghela napas dan menutup bukunya yang ia baca. Kyungsoo memijat pelipisnya.
"Entahlah, aku tidak tahu ini bisa dikatakan masalah atau bukan," ujar Kyungsoo.
Yixing duduk di hadapan Kyungsoo, masih dengan handuk yang terkalung di lehernya. "Tell me, why?"
"Jongin mengatakan padaku bahwa Chanyeol berselingkuh. Ia juga mengirimkan fotonya padaku." Kyungsoo mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang Jongin kirimkan pada Yixing. "Entahlah aku harus percaya dengan Jongin atau tidak. Pasalnya Jongin mengatakan setelah mereka berkelahi."
"Kau tidak bertanya pada Chanyeol?"
"Tidak, untuk apa? Aku kekasihnya, bukan polisi yang bisa mengintrogasinya."
"Setidaknya untuk kebaikan hubungan kalian."
Kyungsoo menggeleng dan menyimpan ponselnya di dalam saku celana panjangnya. "Itu bukan tipeku yang suka mengintrogasi orang. Aku lebih suka menunggu orang itu jujur padaku," kata Kyungsoo dengan seulas senyum di bibirnya.
.
.
.
Jongin menggerakkan tubuhnya sesuai irama lagu yang menggema di ruang latihan dancenya. Peluh sudah bercucuran di sekujur tubuhnya. Ia tak henti-hentinya menari sejak memasuki ruang dance. Jam yang bertengger di atas cermin besar sudah menunjukkan jam 3 sore. Dan Jongin enggan beranjak dari sana.
"Kau masih disini?" Yixing masuk ke dalam ruang dance sendiri. Membawa dua botol air mineral dan memberikan salah satunya pada Jongin.
"Membolos lagi?" Jongin mengangguk.
"Kenapa?" Jonging menggeleng.
"Menyebalkan."
"Terimakasih."
Jongin duduk di samping Yixing setelah mengusap peluhnya. Dadanya bergerak naik turun mencari pasokan oksigen lebih banyak.
"Aku sudah mendengarnya dari Kyungsoo. Tentang Chanyeol berselingkuh."
"Lalu?"
"Itu bukan rencanamu kan?"
Jongin mengalihkan perhatiannya pada Yixing. Melihat tatapan mata Yixing yang seolah mencari tahu kebenaran di dalam matanya.
"Aku memang bodoh hyung, tapi aku tidak sebodoh itu. Memberikan sesuatu yang palsu hanya untuk mendapatkan Kyungsoo hyung. Itu terlihat menjijikkan." Jongin beralih kembali membawa tubuhnya untuk bergerak. Menyalakan musik di earphone yang mulai ia pasang di telinganya.
Badannya kembali meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Ditempat duduknya, Yixing hanya memperhatikan Jongin. Sudah lama mereka saling kenal. Dan baru kali ini Yixing melihat Jongin yang begitu serius menyukai seseorang.
"Aku mencarimu sejak tadi, Xing." Yixing menoleh, mendapati Joonmyeon berdiri di depan pintu ruangan dance yang terbuka lebar. Yixing melambaikan tangannya, meminta Joonmyeon untuk datang mendekat, dan Joonmyeon melakukannya.
"Maaf, aku terlalu khawatir pada adikmu, ge," ucap Yixing polos. Arah matanya masih pada Jongin yang semakin beringas menggerakkan tubuhnya. Joonmnyeon menghela napas, mendaratkan kepalanya pada pundak kiri Yixing. "Kenapa kau khawatir padanya?" Tanya Joonmyeon.
"Aku hanya tidak ingin Jongin salah mengambil jalan. Aku takut Jongin membuat sesorang menjadi menderita." Yixing menghela napas. "Kyungsoo menceritakan padaku bahwa Jongin memberitahukannya jika Chanyeol berselingkuh. Aku hanya takut itu semua akal bulus Jongin untuk mendapatkan Kyungsoo." Joonmyeon menarik kepalanya dari pundak Yixing, dan kini kepala Yixing yang bertengger di pundaknya.
"Kau sudah bertanya padanya, Xing?" Yixing mengangguk, memejamkan matanya menikamati usapan halus tangan Joonmyeon di kepalanya.
"Dan ia berkata tidak," ucap Yixing sebagai jawaban.
"Berarti itu tidak. Aku mengenal adikku, Xing. Ia tidak pernah berbohong dengan ucapannya. Apalagi menyangkut hal percintaan. Ia tak akan pernah bermain-main di dalamnya."
-Life-
Sudah satu bulan Kyungsoo bekerja di salah satu kafe. Hubungannya dengan Chanyeol juga berjalan dengan lancar. Jongin juga tidak pernah mengganggunya. Ia juga sudah menganggap Jongin temannya. Walaupun kadang Chanyeol sering marah melihat Kyungsoo dengan Jongin. Kyungsoo akan memberi Chanyeol sebuah ciuman jika kekasihnya itu sedang marah.
Kyungsoo berada di meja kasir, melayani beberapa pelanggan yang membayar pesanan mereka. Seorang pemuda menghampirinya dengan ponsel di telinganya. Kyungsoo tersenyum saat pemuda itu menunjukkan dimana tempat duduknya.
"Park Chanyeol sayang, dengarkan aku. Aku akan baik-baik saja di appartemenku." Kyungsoo terdiam sejenak mendengar pemuda itu menyebut nama yang mirip dengan kekasihnya. Atau itu memang kekasihnya?
"Hey, appartemenku hanya berbeda tiga blok dari appartemenmu." Kyungsoo melanjutkan apa yang seharusnya ia kerjakan.
"Inha University bukan? Iya, appartemenku dekat dengan sana. Baekie, Chanie. Panggil aku Baekie." Kyungsoo membeku. Nama itu, nama yang pernah Chanyeol panggil di sambungan telfon.
"Bakilah, aku juga mencintaimu Park Chanyeolku." Kyungsoo langsung tersadar saat pemuda itu memutuskan sambungan telfon.
"Kau terdengar mesrah sekali dengan kekasihmu," goda Kyungsoo. Pemuda itu merona dan tersenyum kecil, memperlihatkan eye smilenya.
"Ya, kami baru berkencan dua bulan yang lalu," jelas pemuda itu terang-terangan. Kyungsoo tertawa kecil.
"Byun Baekhyun, kau?" Pemuda itu mengulurkan tangannya. Kyungsoo mengangkat alisnya. Sedetik kemudian ia tersadar dan menjabat tangan Baekhyun. "Do Kyungsoo."
serius aku pingin update cepet. soalnya banyak partnya. aku usahakan part selanjutnya lebih panjang. maafkan aku readers kalo terlalu pendek *bow* urusan kuliah belum kelar nih :D jangan lupa review ndee :)
gamsahamnida *bow with Chan*
