Loveina CruelWorld Chap.6

Title : Love in a Cruel World

Author : Putri ChanBaek26

Casts :

- Byun Baekhyun - Park Chanyeol

- And All EXO members

Pairing : ChanBaek

Genre : Shounen-ai! Yaoi! BoyXBoy! Yang gak suka BoyxBoy mending kembali..

Summary : Baekhyun membuat iklan keperjakaannya disalah satu situs xxx karena ia harus membayar uang sekolah secepatnya. Apa jadinya jika ternyata ia menerima penawaran dari namja yang ia cintai sekaligus membenci dirinya? Apa yang akan terjadi?

"Tidak! Kita tidak bisa." Ucap Baekhyun pelan.

"Kenapa?"

"Bukankah kau sudah tau? Sejak awal kita memang tidak akan pernah ditakdirkan bersama. Sekuat apapun kita berusaha, kita tidak akan mungkin bersama. Karena aku bukan jodohmu."

Happy Reading

Chap. 6

"Tidak Baekhyun~ah! Walaupun kau bukan jodohku, aku tidak peduli! Yang penting kita harus bersama!" Teriak Chanyeol sambil memeluk Baekhyun lagi.

"Yeollie.."

Chanyeol yang semula memeluk Baekhyun dengan erat langsung melepaskan pelukannya saat mendengar panggilan yang telah lama ia rindukan.

"Apa yang baru kau ucapkan Baekhyun~ah?" Tanyanya menatap tidak percaya.

"Yeollie." Lirih Baekhyun.

Chanyeol tersenyum, air matanya semakin deras saat mendengar perkataan Baekhyun itu.

"Baekkie."

Baekhyun juga ikut tersenyum. Ia yang kini berbalik memeluk Chanyeol. Ia membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Chanyeol. Menghirup dalam - dalam aroma tubuh namja yang sangat ia cintai tersebut.

"Untuk saat ini kita memang tidak mungkin bersama. Tapi yakinlah, jika waktunya tiba, dan jika Tuhan mengijinkan kita pasti akan bersama Yeollie." Kata Baekhyun pelan.

Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya, ia juga mengecup puncak kepala Baekhyun berkali - kali.

"Kapan itu Baekkie?" Tanyanya serak karena menahan rasa sesak didadanya.

"Tidak tahu. Mungkin saat hari akhir datang." Jawab Baekhyun sambil terisak.

"Jangan menangis.. Aku butuh kepastian Baekkie."

Baekhyun menghapus air matanya, kemudian ia mendongak untuk menatap wajah tampan Chanyeol.

"Mungkin saat kau sudah bisa menjadi seorang namja yang bertanggung jawab. Seorang namja yang mampu mempertahankan ku sampai akhir."

Mendengar itu Chanyeol memenjamkan matanya. Baekhyun benar, ia memang hanyalah seorang namja yang sangat labil. Ia pun sadar akan hal itu. Mungkin wajar, karena ia baru menginjakkan usia 20 tahun. Masih terlalu muda untuk memikirkan keseriusan dalam hal percintaan.

"Baiklah, kalau aku sudah bisa menjadi namja yang seperti itu, apa kau mau menikah denganku?" Tanya Chanyeol lagi - lagi. Kali ini keseriusan menghiasi wajah tampannya.

"Ya, aku janji Yeollie."

Keduanya pun tersenyum satu sama lain. Kemudian kedua wajah itu menyatu dalam suatu ciuman tanpa nafsu.

Cinta dalam dunia yang kejam memang sangat menyakitkan. Kekuatan cinta pun bahkan tidak mampu melewatinya. Namun pada akhirnya, semua pasti akan indah pada waktunya.

-oOo-

Baekhyun memenjamkan matanya dengan kuat, kedua tangannya ia angkat keudara. Ia terlihat menghirup udara pagi itu dengan kuat, seolah - olah ia tidak akan mampu menghirup udara itu lagi di hari esok. Setelah itu ia menghembuskan napasnya dengan kasar.

Sepertinya ia butuh banyak waktu untuk istirahat. Karena lihatlah wajahnya yang putih pucat, bibir kering yang juga terlihat pucat, dan kantung mata yang menghitam dibawah matanya. Sepertinya ia kurang tidur, atau mungkin karena ia menangis semalaman? Entahlah, kita hanya bisa menebak.

Sosoknya yang sekarang benar - benar terlihat menyedihkan, orang - orang yang melihat pun pasti akan kasihan padanya. Ia terlihat seperti mayat hidup.

Ketika ia masih sibuk berolahraga disekitar taman, ia kemudian dikejutkan suara dering ponselnya. Dengan malas ia pun mengangkat telepon dari nomor yang tidak ia kenal itu.

"Hallo?" Ucapnya.

Terdengar suara seorang namja dari ujung sana. Ia mengernyit saat mendengar suara pria itu. Ia merasa seperti mengenal suara orang itu.

"Kau siapa?" Tanyanya.

Mungkin terdengar kasar, tapi ia mengucapkannya dengan sangat lembut.

"Aku Kai." Jawab suara diseberang itu.

Baekhyun menganggukkan kepalanya.

"Oh, ada apa Kai?"

Hening beberapa saat, hingga suara Kai kembali terdengar.

"Aku ingin minta maaf."

"Minta maaf untuk apa?" Bingung Baekhyun, ia tidak mengerti kenapa Kai minta maaf padanya.

"Aku minta maaf karena membuatmu dan Sehun putus. Dan juga karena membuatmu kehilangan pekerjaan. Semua itu karena aku. Aku yang memberitahukan semuanya pada Luhan hyung."

Mendengar itu dada Baekhyun menjadi sesak. Ia tidak menyangka Kai tega berbuat seperti itu.

"Oh."

"Maafkan aku. Aku tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini." Ucap Kai memelas. Ia benar - benar merasa bersalah saat mendengar suara kekecewaan Baekhyun.

"Tidak apa – apa. Semua sudah terjadi Kai."

"Apa kau memaafkanku?"

"Ya, aku memaafkanmu Kai."

Kai tersenyum mendengar itu, ia merasa melihat malaikat pada sosok Baekhyun.

"Baekhyun~ah?"

"Hmm?"

"Luhan hyung juga minta maaf padamu. Ia merasa sangat menyesal telah bersikap kasar padamu."

Baekhyun menunduk, ia cukup sedih mengingat saat Luhan bersikap kasar padanya. Karena Luhan sudah ia anggap sebagai hyungnya sendiri.

"Ya, aku sudah memaafkan Luhan hyung kok."

"Ah, syukurlah."

"Baekhyun~ah.." Panggil Kai lagi.

"Ya?"

"Baekhyun~ah, apa tidak lebih baik kalau kau jujur dengan orang terdekatmu?"

"Maksudmu?"

"Maksudku, kau gay. Dan pasti orang - orang yang menyayangimu tidak tau hal itu. Tapi aku yakin suatu saat mereka akan tau, dan apabila saat itu tiba mereka pasti akan kecewa padamu."

"Ya aku tau itu, lalu?" Tanya Baekhyun heran.

"Lebih baik sekarang kau jujur saja, daripada nantinya mereka tau dari orang lain. Maksudku mengatakan seperti ini adalah agar kau mengetahui siapa sebenarnya orang - orang yang menyayangimu. Siapa orang - orang yang menerima kekuranganmu. Kalau hanya karena hal itu mereka menjauhimu, kau pasti bisa menebak bahwa mereka tidak menerimamu."

Baekhyun terdiam, mencoba merenungkan setiap perkataan Kai barusan. Memang ada benarnya, tapi ia takut membuat Eommanya kecewa. Benar - benar takut.

"Aku takut Kai~ah."

"Takut kenapa? Kalau mereka menyayangimu pasti mereka akan menerimamu."

"Aku takut Eommaku kecewa."

"Sejak awal memang kau sudah mengecewakan Eommamu. Jadi stop semua sandiwaramu Baekhyun~ah. Aku berbicara seperti ini karena aku peduli padamu."

Baekhyun mati - matian menahan tangisannya. Ia tidak mau menangis lagi. Sungguh ia sangat menyayangi Eommanya, jadi ia tidak mau Eommanya akan kecewa karenanya.

"Akan ku pertimbangkan Kai."

-oOo-

"Baekhyun~ah." Sapa Sehun sembari tersenyum. Mereka berada didepan gerbang kampus sekarang.

"Hai Sehun~ah." Balas Baekhyun sedikit canggung.

Sehun berjalan mendekat, kemudian ia langsung merangkul Baekhyun.

"Luhan hyung ingin agar kau kembali bekerja Baekhyun~ah." Kata Sehun yang langsung membuat Baekhyun membelalakkan matanya.

"Benarkah?"

"Ya."

"Maaf, tapi aku tidak bisa." Kata Baekhyun menunduk.

"Kenapa?"

"Aku ingin kembali kejalan yang benar Sehun~ah."

Sehun terdiam. Ia menatap Baekhyun sendu.

"Syukur kalau begitu. Tapi kalau suatu saat nanti kau tidak bisa kembali kejalan yang benar. Aku bersedia menikahimu."

"Bodoh!" Ucap Baekhyun sembari berjalan mendahului Sehun.

"Yak! Aku serius!"

-oOo-

Terlihat seorang namja sedang bersenandung kecil disudut ruangan kelas itu. Sesekali ia memenjamkan matanya yang sipit. Saat ia tengah menikmati music dari earphone nya, sebuah tangan tiba - tiba memeluknya. Hampir saja ia marah, tetapi tidak jadi saat melihat siapa orang yang memeluknya.

"Baekkie." Ucap orang itu.

Baekhyun hanya diam, ia tidak menjawab dan tidak melepaskan pelukan orang itu.

"Aku mencintaimu." Ucap orang itu lagi hingga membuat Baekhyun hampir tidak bisa bernapas.

"Chanyeol!"

"Eum?"

"Berhenti bertingkah seperti itu!" Kata Baekhyun ketus.

Chanyeol menghela napas singkat. Kemudian ia melepaskan pelukannya.

"Maaf." Lirihnya sedih. Ternyata Baekhyun tetap akan pendiriannya yang hanya akan menerima Chanyeol saat ia telah menjadi namja yang lebih dewasa.

"Pergilah."

-oOo-

Seorang namja mungil yang sedang memakai baju abu - abu itu terlihat mondar mandir didepan pintu sebuah kamar, wajahnya tampak tegang. Entah karena apa.

"Baekhyun~ah, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya seorang namja yang tak kalah kecil, kepada namja kecil satu lagi yang ternyata adalah Baekhyun. Ia baru saja keluar dari kamarnya, rambutnya masih basah. Mungkin ia baru selesai mandi.

"Aku ingin membicarakan sesuatu Suho hyung." Jawab Baekhyun sambil ikut duduk disamping Suho.

"Apa itu?"

"Mm.. Apa hyung menyayangiku?"

Suho tertawa mendengar pertanyaan Baekhyun itu.

"Pertanyaan konyol macam apa itu? Tentu saja hyung menyayangimu."

"Apa hyung tetap menyayangiku meski aku punya banyak kekurangan?"

"Aigoo~ Tentu saja."

"Kalau aku gay apa hyung menerimaku?"

Suho terdiam. Ia pun mengerutkan dahinya.

"Tidak lucu Baekhyun~ah. Itu hal sangat menjijikkan kau tau? Katakan saja apa yang ingin kau katakan."

Baekhyun menundukkan kepalanya dengan sedih, kemudian ia menggenggam kedua tangannya yang sedikit bergetar.

"Menjijikkan ya?" Tanyanya mencoba memastikan.

"Ya! Tentu saja. Mereka itu kaum yang pantas dimusnahkan." Jawab Suho dengan sedikit kesal.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia benar - benar takut saat melihat respon Suho tersebut.

"Aku gay hyung!"

"APA?!"

"Dan selama ini aku bekerja sebagai model untuk majalah gay." Aku Baekhyun.

"APA? Kau jangan bercanda Byun Baekhyun!"

"Aku serius hyung." Kata Baekhyun mencoba meyakinkan.

Suho berdiri dari duduknya, ia mengusap wajahnya kasar. Wajahnya memerah menahan amarah. Emosinya benar - benar berada dipuncak.

"Berani sekali kau membohongi hyung Baekhyun!" Teriak Suho marah.

"Maaf hyung." Baekhyun sudah terisak. Suho benar - benar mengerikan ketika marah.

"Hyung kecewa padamu!"

"Maaf, maaf hyung!" Baekhyun sudah berlutut dan memeluk kaki Suho. Suho yang emosinya berada dipuncak hanya bisa berusaha melepaskan kakinya dari pelukan Baekhyun.

"Lepaskan!"

"Tidak! Sebelum hyung memaafkan ku."

"Lepas!"

"Hiks.. Hyung ku mohon.."

Bruk!

Suho menghempaskan tubuh Baekhyun hingga mengenai meja. Sakit memang, tapi Baekhyun tidak perduli. Ia berlari mengejar Suho yang juga sudah berlari keluar apartemen.

"Hyung! Maaf!" Isak nya. Tak ia perdulikan tatapan aneh dari penghuni apartemen lain yang ditujukan padanya.

Suho juga tidak perduli, ia tetap berlari hingga tidak terlihat lagi.

Merasa kehilangan jejak, Baekhyun pun kemudian duduk dilantai lorong apartemen mereka. Tak ia hiraukan dinginnya lantai yang langsung menyergapnya. Ia tetap menangis hingga terisak, ya menangisi segala hal yang telah terjadi padanya.

"Maaf telah membuatmu kecewa hyung."

.

.

.

Baekhyun menyeret koper besar yang berada dihadapannya.

Koper itu bahkan lebih besar dari tubuhnya. Ia cukup sadar diri untuk keluar dari apartemen Suho, walaupun Suho sama sekali tidak mengusirnya. Tapi dengan mendiaminya, tentu Suho tidak mengharapkan keberadaannya bukan? Jadi jalan yang terbaik adalah keluar dari apartemen itu.

Ia kemudian menaiki bus yang akan membawanya menuju kota dimana Eomma nya berada. Ya, satu - satunya tujuan yang harus didatanginya. Ia merindukan eommanya, sekaligus untuk jujur kepada Eomma yang sudah melahirkannya itu. Ia tidak peduli jika nanti Eommanya akan bersikap sama seperti Suho. Karena yang ingin ia lakukan hanyalah ingin jujur kepada orang yang amat ia sayang itu, ia tidak mau menyesal seumur hidup dengan berbohong kepada eommanya.

-oOo-

Baekhyun berdiri didepan sebuah rumah mungil tapi terlihat sangat nyaman. Tangannya bergetar saat mengetuk pintu rumah yang bercat putih itu.

Setelah agak lama, seorang wanita paruh baya membuka pintu. Senyum seketika menghiasi wajah yeoja yang walaupun sudah tua tapi masih terlihat cantik itu.

"Baekhyun~ah!" Pekik wanita itu senang.

"Eomma." Ucap Baekhyun sembari tersenyum.

Tidak buang - buang waktu karena wanita yang dipanggil Eomma itu langsung memeluknya.

"Eomma merindukanmu."

"Aku juga Eomma"

-oOo-

"Jadi apa yang ingin kau katakan Baekhyun~ah?" Tanya Eomma ketika ia dan Baekhyun selesai makan malam.

Baekhyun terdiam sebentar, namun tekadnya sudah kuat. Ia harus memberitahukan kepada Eommanya apapun yang terjadi.

"Mm.. Eomma?"

"Ya?"

"Maaf karena selama ini aku belum pernah membahagiakan Eomma."

"Kau bicara apa Baekhyun~ah? Semenjak kau lahir, kau adalah kebahagiaan terbesar bagi Eomma. Jadi jangan berbicara seperti itu nak."

Baekhyun menunduk, alangkah sakitnya perasaan Eommanya kalau tau hal yang sebenarnya nanti.

"Eomma, aku.. Aku ini gay Eomma. Dan selama ini aku bekerja sebagai model majalah gay Eomma."

Ctar!

Bagai tersambar petir rasanya saat Eomma mendengar perkataan Baekhyun tersebut.

Eomma menutup mulutnya karena shock, tak terasa air mata juga sudah lolos dari mata indah yeoja cantik itu.

"A-Apa yang kau katakan Baekhyun~ah?"

"Maaf Eomma." Ucap Baekhyun yang juga sudah terisak.

"Kenapa bisa seperti itu nak?"

"A-Aku tidak tau Eomma. Semua terjadi begitu saja. Maaf."

"Eomma telah gagal membesarkanmu."

"Jangan bicara seperti itu Eomma. Aku yang telah gagal menjadi anak yang baik. Maaf Eomma. Maaf telah membuatmu kecewa. Hiks."

Ibu dan anak itu pun saling berpelukan. Saling meluapkan perasaan masing – masing. Perasaan sedih, kecewa, dan menyesal.

"Eomma sudah memaafkan mu. Kau tidak salah nak. Eomma yang tidak memperhatikan perkembanganmu dulu. Eomma terlalu sibuk bekerja. Maafkan Eomma."

"Tidak. Eomma ti—"

"Stt.."

Eomma semakin mengeratkan pelukannya. Ia sangat sayang kepada anak satu – satunya itu. Ia bahkan tidak mau membuat anaknya itu merasa bersalah. Walaupun ia kecewa tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Yang ia pikirkan sekarang adalah kebahagiaan anaknya. Lagi pula ia sudah dewasa, ia yang tau mana yang baik dan mana yang tidak bagi dirinya. Ia tidak mau terlalu mengekang, karena itu tidak baik. Apalagi ia sering melihat di berita tentang anak yang bunuh diri karena sikap keras orang tuanya. Ia tidak mau kalau hal itu sampai terjadi kepada Baekhyun.

"Apa Eomma menerima ku?" Tanya Baekhyun takut – takut.

Eomma mengangguk sambil tersenyum.

"Eomma menerima apapun keputusanmu nak. Kau yang sudah memutuskan jalan mana yang akan kau pilih." Kata Eomma bijak.

"Terima kasih Eomma."

Eomma hanya tersenyum sembari mengusap sayang rambut Baekhyun.

"Aku mencintai seseorang Eomma."

"Benarkah? Siapa namanya?"

"Namanya Park Chanyeol, dia sangat tampan."

-oOo-

Yeoja setengah baya itu tersenyum sambil membuka tirai kamar di mana Baekhyun tidur.

Mencoba melupakan sejenak yang terjadi tadi malam. Kemudian dengan lembut ia memanggil Baekhyun.

"Baekhyun~ah, bangun lah. Ini sudah pagi nak."

Tetapi Baekhyun tak kunjung menyahut, membuat sang Eomma mengernyitkan dahinya.

"Baekhyun~ah?!"

-oOo-

"Sudah seminggu Baekhyun tidak kuliah. Nomornya juga tidak aktif, kira – kira dia kemana ya?" Tanya Sehun seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Hmm.. Tidak tau, terakhir kali aku menghubunginya juga sekitar seminggu yang lalu." Kata Kai sambil menguyah makanannya. Mereka sedang berada dikantin.

"Untuk apa kau menghubunginya?" Tanya Chanyeol heran.

"Mm.. I-itu.. Aku.."

"APA?!" Kejut Chanyeol dan Sehun berbarengan setelah Kai menceritakan hal tersebut.

Sementara Kai hanya bisa menggaruk – garuk kepalanya yang sangat gatal.

"Siapa yang menyuruhmu untuk mengatakan hal itu padanya? Aishh!" Kata Chanyeol emosi.

"Dasar kau ini sok bijak!" Ejek Sehun.

Mendengar itu Kai pun mempoutkan bibirnya, membuat siapa saja yang melihat pasti akan merinding.

"Aku berkata seperti itu kepadanya karena aku sayang padanya." Kai berusaha membela diri.

"Aish. Sudahlah. Sekarang kita harus mencari tau keberadaannya." Kata Chanyeol masih dengan tampang kesal.

"Aku akan coba bertanya pada Luhan hyung. Mungkin saja dia tau dimana Baekhyun tinggal." Ucap Sehun akhirnya.

-oOo-

Terlihat tiga orang namja sedang berdiri didepan sebuah apartemen, yang paling tinggi berkali – kali memencet tombol bell apartemen itu tidak sabaran. Sementara dua lagi terlihat lebih tenang.

Tak berapa lama keluarlah seorang namja pendek dari dalam apartemen itu, sepertinya ia baru bangun tidur.

"Siapa?" Tanya orang itu heran.

"Apa disini ada Baekhyun?" Chanyeol balik bertanya, ia sepertinya tidak mau berbasa basi.

Orang itu mengernyit. Kemudian ia menatap bingung.

"Kalian siapa?"

"Tidak per—"

"Kami teman Baekhyun." Kata Sehun memotong perkataan Chanyeol. Ia tau Chanyeol tidak mau berbasa basi.

"Oh, tapi Baekhyun tidak ada."

"Kemana dia?" Tanya Kai yang mendorong Sehun kebelakangnya.

"Aku tidak tau." Kata namja itu sambil menunduk.

"Apa? Bagaimana mungkin kau tidak tahu?" Chanyeol menatap namja itu kesal, ia pikir namja pendek yang berada dihadapannya ini sungguh tidak bertanggung jawab.

"Dia pergi begitu saja."

"Apa?" Pekik Kai. Sehun dan Chanyeol hanya memberikan death glare padanya.

"Bagaimana bisa?" Tanya Sehun heran.

Namja itu menghela napas panjang sebelum berujar.

"Aku salah padanya. Waktu itu aku belum bisa menerima keadaannya yang seperti itu. Tapi saat ia telah pergi, aku malah menyesal telah menyakitinya. Aku benar - benar egois."

Ketiga namja tampan itu saling berpandangan, tanda tidak mengerti dengan apa yang namja itu katakan.

"Maksudku, Baekhyun telah jujur tentang jati dirinya. Tapi waktu itu aku marah dan mendiamkannya, membuat ia pergi dari apartemen ini." Kata namja pendek itu menjelaskan.

Sehun dan Kai mengangguk tanda mengerti, sementara Chanyeol sudah berlalu dari hadapan mereka. Sepertinya ia kesal karena Baekhyun nya telah terluka lagi.

"Ah begitu. Apa anda tau kira – kira Baekhyun pergi kemana?" Sehun mencoba tak menghiraukan kepergian Chanyeol.

"Aku tidak tau. Satu – satu nya tempat yang mungkin ia kunjungi ya Eomma nya."

"Eomma nya tinggal di mana?"

"Di Busan."

-oOo-

Lagi – lagi terlihat tiga orang namja sedang berjalan kesana kemari, mereka bertanya kepada siapa saja yang mereka temui dijalan. Yah, mereka memang tidak tau seluk beluk kota Busan.

Setelah sampai pada tujuan mereka, rumah mungil yang tampak asri itu. Ketiganya pun langsung mengetuk pintu rumah itu.

Tak sampai 3 menit, seorang yeoja paruh baya keluar dengan mata sembab.

"Annyeonghaseyo." Sapa mereka bertiga berusaha bersikap ramah.

"Annyeong." Balas yeoja itu dengan sedikit bingung karena tidak mengenali 3 namja tampan yang berada dihadapannya.

"Apakah anda Eomma Baekhyun?" Tanya Sehun ramah.

Yeoja itu mengangguk.

"Ya, kalian siapa?"

"Ah, kami teman Baekhyun, aku Sehun, yang ini Kai, dan dia Chanyeol." Kata Sehun memperkenalkan diri sambil menunjuk temannya satu persatu.

"Park Chanyeol?" Tanya Eomma Baekhyun membuat ketiganya bingung karena Eomma Baekhyun tau marga dari namja bermarga Park itu.

"Ya." Kata Chanyeol mengangguk.

"Apa Baekhyun bersamamu?" Tanya Eomma Baekhyun lagi.

Ketiganya semakin terkejut, karena kedatangan mereka kesini adalah untuk mencari Baekhyun, tapi kenapa Eomma Baekhyun malah bertanya apakah Baekhyun bersama Chanyeol atau tidak.

"T-tidak, justru kami kesini untuk mencari Baekhyun." Jawab Chanyeol gugup.

"Apa?" Eomma Baekhyun terlihat menatap kecewa. Karena ia pikir anak satu – satunya itu telah kembali kepada namja yang ia cintai, Park Chanyeol.

"Ia menghilang sejak seminggu yang lalu. Aku pikir Baekhyun kembali padamu Chanyeol. Ternyata tidak." Kata Eomma Baekhyun menangis.

Ketiga namja itu saling berpandangan, tidak tau harus melakukan apa.

"Ia bilang ia mencintaimu Park Chanyeol."

'Deg~

Ada perasaan bahagia dihati Chanyeol saat mendengar itu. Namun, kemanakah pergi Baekhyunnya?

"Aku juga mencintainya ahjumma. Aku pasti akan menemukannya dan membawanya kehadapan ahjumma." Ucap Chanyeol berjanji.

"Ahjumma tunggu janjimu Park Chanyeol."

-oOo-

'Baekkie, kau dimana?'

.

.

.

TBC