Chapter sebelumnya;
"H-hey, Sasuke. Tenanglah, oke? Ini semua hanya kesalahpahaman. Kami tidak bermaksud melakukann-"
"Kalau saja.."
"Huh?"
Sasuke menghentikan ucapannya. Raut wajahnya kembali menyendu. Kedua matanya sayu. Sasuke terlihat seperti ingin menangis. Tapi, dia kembali menyunggingkan senyumannya. Senyuman palsu untuk mencegahnya mengeluarkan air mata.
"Kalau saja kalian tidak melakukan itu, dia pasti masih hidup. Kenapa kalian melakukannya? Sementara aku masih hidup. Kalau saja posisi kami dibalik, apa kalian akan melakukan hal yang sama padanya?" Sasuke menyindir. Senyumannya masih terpatri di wajahnya.
"Sasuke-kun, kami-"
"Tidak." Sasuke memotong cepat. "Kalian tidak akan melakukanya. Kalian akan melakukan segala cara untuk menyelamatkanku dan membiarkannya begitu saja. Bahkan jika aku hanya mual pun kalian semua akan sigap untuk menolongku. Kalian.."
Shikamaru, Sakura, Kiba, dan Shino menatap Sasuke dengan tatapan takut dan penuh penyesalan. Dalam hati mereka yang terdalam, mereka mengiyakan apa yang diucapkan Sasuke. Mereka semua hanya fokus pada Sasuke, hingga membuat mereka mengabaikan orang yang sangat disayanginya.
"Munafik."
Drrrtt. Drrrrt. Drrrrt.
Tepat setelah Sasuke mengucapkannya, ponsel mereka semua bergetar pertanda pesan masuk. Satu per satu dari mereka mengecek ponselnya, kecuali Sasuke. Dia sudah tahu siapa yang mengirimkan pesan itu dan apa yang dikirimnya.
"ARGH!"
"UGH! APA INI?!"
"T-T-TIDAK!"
Kletak.
Ponsel Sakura terjatuh. Tubuh Sakura merosot, membuatnya bersimpuh di lantai. Layar ponsel Sakura menunjukkan isi pesan itu. Sebuah pesan dengan sebuah foto yang mengerikan.
[ Surprise, orang-orang munafik! ]
[ ( Foto Tenten dengan mulut yang digunting dari ujung ke ujung. Sebuah gunting menancap di lehernya. ) ]
"TENTEN!"
Kamar Naruto seketika menjadi gaduh dengan teriakan-teriakan histeris keempat murid itu. Sasuke hanya diam. Dia menatap layar ponsel Sakura yang tergeletak di lantai dengan datar. Dia kembali menyunggingkan senyumnya. Ya, dia kembali menyunggingkan senyum palsunya. Sangat sakit melihat teman-temannya meninggal satu per satu. Meski begitu, mereka memang harus membayarnya.
Sasuke melangkahkan kedua kakinya, hendak meninggalkan kamar Naruto. "Aku akan membiarkan kalian menenangkan diri." ucapnya sembari berjalan meninggalkan kamar Naruto. 'Aku….' batin Sasuke.
'Aku juga sakit.'
Aku ingin jujur. Tapi aku tidak bisa.
©Characters; Masashi Kishimoto
©Story; coldheather
Pagi itu sekolah masih tampak tenang. Sepertinya kabar mengenai kematian Tenten belum disebar sampai ke seluruh sekolah. Saat itu pelajaran mulai diadakan. Pihak sekolah tidak mau menghentikan kegiatan belajar-mengajar lebih lama lagi. Seorang guru perempuan berambut hitam ikal memasukki ruang kelas. Pelajaran sejarah.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat murid-murid di kelas itu mau belajar. Mereka masih trauma akibat kejadian mengerikan yang terjadi berturut-turut itu.
Kali itu hanya Shikamaru, Kiba, dan Shino saja yang masuk. Sedangkan Sakura tidak. Ketiga murid laki-laki itu yakin alasan Sakura tidak masuk adalah karena foto yang dikirimkan tadi malam itu. Entah siapa yang mengirimkannya. Ya, entah SIAPA yang mengirimkan foto itu. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.
Shikamaru yang setengah tertidur dikejutkan dengan seseorang yang menendang-nendang pelan bangkunya. Dia kemudian bersandar dengan malas, membuat tubuhnya lebih dekat dengan orang yang menendang bangkunya. "Ada apa?" tanyanya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh guru mereka.
"Apa kau pikir ada yang aneh dengan Sasuke?" tanya Kiba, murid yang duduk di belakang Shikamaru.
"Hm?" Shikamaru mendehum pelan. Dia sadar dengan keanehan Sasuke sejak kematian Neji. Hanya, dia masih belum pasti. "Ya, kupikir juga begitu." jawabnya.
"Dengar." ucap Kiba setengah berbisik. "Aku yakin dialah orang yang melakukan pembunuhan ini. Kau dengar ucapannya kemarin? Dia mempunyai alasan yang kuat untuk melakukannya."
"Kita tidak mempunyai bukti." ucap Shikamaru. "Kita tidak bisa mengatakan kalau dia adalah pembunuhnya tanpa bukti. Selain itu, dia berada bersama dengan kita saat foto itu dikirimkan." lanjut Shikamaru, menyinggung tentang foto Tenten tadi malam.
"Hhhhh. Kau benar." Kiba kembali berpikir. "Atau jangan-jangan pembunuhnya 2 orang?"
"Itu alasan yang masuk akal. Tapi saat ini kita belum punya bukti. Lebih baik kita menghindari Sasuke demi keselamatan kita."
"Kita tidak bisa seperti itu. Kalau kita menghindarinya, maka akan semakin banyak korban. Aku tidak mau teman-teman kita menjadi korbannya." Kiba menatap sekelilingnya. Guru mereka sedang menulis di papan tulis, sehingga Kiba masih mempunyai waktu untuk mengatakan isi pikirannya.
"Lalu kau mau apa?" tanya Shikamaru.
"Aku ingin kita mengatakannya langsung pada Sasuke. Kita akan memintanya untuk menghentikan semua perbuatannya." jawab Kiba. "Dan menyerahkan diri ke polisi."
Shikamaru terdiam mendengar ucapan Kiba. Kiba tidak sedang main-main. Dia serius dengan ucapannya. Shikamaru berpikir sejenak. Apakah akan segampang itu meminta Sasuke untuk menghentikan perbuatannya setelah apa yang dialaminya? Selain itu, itu pun kalau Sasuke benar-benar melakukannya.
"Pokoknya kita akan memaksanya, mau tidak mau." ucap Kiba tegas.
Sementara itu, Sasuke sadar jika dirinya dibicarakan oleh kedua temannya itu. Dia hanya duduk di bangkunya dengan tenang, dengan kedua manik hitam kelam tajamnya menatap dingin punggung kedua temannya itu.
Sementara itu, di kediaman Hyuga. Hinata meringkuk di kamarnya. Hari itu dia memilih untuk tidak masuk sekolah. Dia masih ingin beristirahat. Di atas mejanya ada sebuah nampan berisi sarapan paginya yang belum tersentuh.
Kriek.
Suara engsel jendela yang dibuka perlahan. Seseorang memasukki kamar Hinata melalui jendela itu. Tidak ada teriakan. Gadis berambut indigo itu hanya diam dan tetap meringkuk. Dia tahu siapa orang yang memasukki kamarnya meski dia tidak menatapnya.
"Kau tahu itu palsu, 'kan?" ucap orang itu. Dia tersenyum lebar, sebuah senyum yang terlihat tulus meski sebenarnya sangat menusuk.
Hinata mengangkat kepalanya, menatap sosok laki-laki berjaket biru dongker yang bertengger di jendelanya.
"Kau itu lemah sekali, ya. Selalu pingsan saat melihat mayat." ejek orang itu.
Hinata kembali menenggelamkan kepalanya di antara kedua pahanya. Dia tidak mau mendengar ocehan-ocehan laki-laki itu.
Laki-laki itu turun dari jendela. Dia melangkah mendekati tempat tidur Hinata. "Kenapa kau tidak masuk? Aku membutuhkan bantuanmu." ucapnya.
Hinata mengabaikannya. Lebih tepatnya, dia tidak mau mendengarkannya. Hinata tidak mau menjadi jahat.
Laki-laki itu duduk di tepi tempat tidur Hinata. Dia membuka tudung yang menutupi kepalanya. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan." ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Hentikan.." ucap Hinata tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hm? Apa yang kau katakan?" tanya laki-laki itu.
"T-tolong hentikan.." Hinata mengulang ucapannya. Kali ini nadanya terdengar takut.
Senyuman di wajah laki-laki itu memudar, digantikan dengan ekspresi serius yang membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri. "Apa kau tidak menyesali ucapanmu?" nada laki-laki itu datar. Dia seperti pembunuh berdarah dingin yang siap menghabisi nyawa gadis itu dalam sekali serang.
Hinata mengangkat kepalanya. Air mata sudah mengalir dari kedua manik amethyst indahnya. "A-aku tidak mau." isaknya. "Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau menjadi pembunuh."
"Hinata." ucap laki-laki itu pelan. "Kau tahu alasan kenapa kau masih hidup sampai saat ini adalah karena aku masih membutuhkanmu?"
Hinata terdiam. Benar. Laki-laki itu masih membiarkannya hidup karena masih membutuhkannya. Jika dia sudah tidak membutuhkannya, maka dia akan menghabisinya seperti dia menghabisi teman-temannya.
"Kau berubah." ucap Hinata. "Aku tidak suka kau yang sekarang. Aku ingin kau yang dulu. Kau dulunya adalah laki-laki yang baik. Tapi sekarang, kau jauh dari kata baik."
Kali ini laki-laki itu yang terdiam. Dia sendiri sadar dengan perubahan dirinya. Hanya saja..
"Aku sudah melupakan diriku yang lama." ucap laki-laki itu datar. "Mereka membunuh sahabatku."
"Tidak! Mereka tidak membunuhnya!" tepis Hinata.
"Kalau tidak membunuh lalu apa?"
"Mereka.. Umh.. Mereka tidak sengaja. Aku yakin mereka berniat menolongnya. Tapi mereka menolongnya dengan cara yang salah."
"Aku tidak peduli. Sahabatku meninggal. Hanya itu yang kupedulikan."
"Kau harus tahu kejadian sebenarnya. Mereka juga tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Kau tahu apa, Hinata? Mereka hanyalah sekumpulan orang-orang munafik. Lagipula, Shikamaru bukan orang bodoh. Dia tahu kalau apa yang mereka lakukan akan membahayakan nyawa sahabatku. Tapi apa? Dia tetap membiarkan mereka melakukannya!"
"Mereka hanya panik!" Hinata mencoba menenangkan laki-laki itu.
"Panik, huh? Aku juga panik! Tapi aku tahu apa yang harus kulakukan tanpa membuat sahabatku kehilangan nyawanya! Kau MENGERTI itu, Hinata?!" seru laki-laki itu. Nada suaranya meninggi.
Suara langkah kaki terdengar dari luar. "Nona Hinata, apa nona baik-baik saja?!" tanya para pelayan Hyuga dengan khawatir.
Laki-laki itu kembali memakai tudungnya, lalu beranjak pergi. Sebelum langkahnya menjauh, laki-laki itu berhenti sejenak. "Aku tidak peduli apa alasanmu. Aku ingin kau melakukannya. Kalau tidak…" laki-laki itu menoleh, menatap lurus ke dalam dua manik amethyst milik Hinata. "Kau yang akan menggantikannya."
Setelah selesai mengucapkan kata-katanya, laki-laki itu segera pergi dari kamar Hinata. Hinata menatap kepergian laki-laki itu dengan sedih. Banyak hal yang membuatnya sedih. Dia takut, khawatir, sedih, marah. Semua bercampur menjadi satu. Hinata tidak bisa berpikir jernih. Dia hanya ingin menangis dan meluapkan segala kesedihannya.
"Nona Hinata? Apa nona baik-baik saja? Tolong jawab kami, nona!"
"Aku baik-baik saja." jawab Hinata dari dalam kamar. "Jangan khawatirkan aku. Aku ingin beristirahat lagi." lanjutnya yang kembali meringkuk.
Hinata bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mungkin melakukan apa yang diinginkan oleh laki-laki itu. Dia tidak ingin berubah sepertinya, dan juga Sasuke. Dia hanya ingin hidup damai seperti saat sahabat laki-laki itu yang sekaligus orang yang sangat disayangi Sasuke masih hidup.
Hinata mengambil ponselnya. Dia mengetikkan pesan untuk seseorang yang menjadi satu-satunya harapan yang dia punya.
Laki-laki berjaket biru dongker itu mengeluarkan ponselnya. Dia sedang berjalan di sekitaran distrik Tokyo yang sedang ramai. Laki-laki itu tampak kesal. Dia menatap ke arah pembuangan sampah. Seorang petugas sampah tengah mengambil sampah-sampah itu untuk di letakkan di truk sampah. Saat membuka tutup sampah itu..
"ARGH!" petugas itu berteriak histeris hingga terjatuh.
"Hey! Ada apa?!" tanya petugas lainnya dari jok kemudi.
"K-K-KEPALA! ADA KEPALA!" seru petugas itu, masih histeris.
"Mana? Mana kepalanya?" petugas yang berada di jok kemudi itu turun dari truk yang dikemudinya. Dia berjalan mendekati tempat sampah itu sambil menutup rapat-rapat hidungnya, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati kepala gadis berambut merah yang sudah busuk di dalam tempat sampah itu. Sontak kedua petugas sampah itu menjerit histeris dan segera pergi meninggalkan tempat itu untuk melapor.
Laki-laki itu tersenyum kecil. Setelah cukup puas dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. 'Aku sudah mengembalikan kepalamu yang kupinjam. Selamat tinggal untuk selamanya, Karin.'
Jam istirahat. Sasuke sedang berada di taman sekolah sendirian. Dia hanya duduk di kursi taman sambil melempar pandangannya lurus ke depan. Shikamar, Kiba, dan Shino berada tak jauh darinya. Mereka hendak menanyakan sesuatu pada Sasuke.
"Siapa yang akan bertanya?" tanya Shino.
"Aku." jawab Shikamaru.
"Kita mulai sekarang?" tanya Kiba.
"Ya, kapan lagi."
Ketiga murid itu melangkah mendekati Sasuke. Mereka cukup gugup, mengingat orang yang akan mereka tanyakan itu bukan orang sembarangan. Orang itu cukup berbahaya.
"Sasuke-kun." panggil Shikamaru pada Sasuke.
"Hm? Ada apa memanggilku seperti itu?" tanya Sasuke.
"Terus terang saja, ada sesuatu yang kami ingin bicarakan denganmu."
"Oh? Apa itu?"
"Tentang kejadian yang akhir-akhir ini terjadi." ucap Shikamaru berhati-hati. "Apa kau yang melakukannya?"
Sasuke terdiam sejenak. Dia menatap berpasang-pasang mata yang saat itu menatapnya tajam, menunggunya untuk menjawab pertanyaan mereka.
Sebuah senyum tipis terulas di wajah Sasuke. "Ya, aku terlibat." jawabnya tenang, tapi berhasil membuat ketiga murid itu bergidik ngeri, "Sama seperti keterlibatan kalian dalam kematiannya."
Deg!
Jantung ketiga murid laki-laki itu berdegup cepat. Ucapan Sasuke kembali menghujam dada mereka seperti ribuan pisau.
"Sasuke, dengar. Kami ingin kau menghentikan perbuatanmu ini. Apa kau tidak sadar? Kau bisa dipenjara dengan apa yang kau perbuat!" seru Shikamaru dengan suara pelan agar murid-murid lainnya tidak dengar.
"Apa aku terlihat peduli?" sindir Sasuke, lengkap dengan senyum tipisnya. "Lagipula, kalian semua juga akan dipenjara kalau aku menceritakan pada polisi tentang apa yang telah kalian lakukan."
"Sasuke, kami tidak akan menyerahkanmu pada polisi. Sebagai gantinya, bisakah kau menghentikan perbuatanmu? Kami mohon."
"Apa jika aku berhenti maka dia akan kembali hidup? Jawab aku, Shikamaru. Kaulah yang terpintar diantara kalian semua."
"Tidak bisakah kau merelakannya? Kejadian ini sudah lama." Kiba ikut bersuara.
"!" Shino menyikut lengan Kiba. "Jangan ucapkan hal itu. Kenapa? Karena kau memperkeruh suasana."
"Tck!" decak Kiba sambil mengusap-usap lengannya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Shikamaru.
"Aku menolak." jawab Sasuke.
"Sasuke, kumohon dengarkan kami."
"Aku sudah mendengarkan kalian. Dan aku menolaknya."
"Apa yang membuatmu seperti ini? Ah, maksudku, apa yang harus kami lakukan agar kau mau menghentikan perbuatanmu?" tanya Shikamaru.
"Kembalikan dia." jawab Sasuke singkat dengan senyum tipisnya. "Kembalikan dia dari tempat peristirahatnya."
Ketiga murid itu terhenyak. Mereka tidak mungkin mengabulkan permintaan Sasuke yang mustahil itu. Mereka bukan Tuhan yang bisa menghidupkan orang meninggal jika Dia mau. Mereka bertiga hanyalah seorang manusia.
Drrrrt. Drrrrt. Drrrrt.
Ponsel Sasuke bergetar. Sebuah pesan masuk. Sasuke mengeluarkan ponselnya, lalu membacanya. Ekspresinya yang semula tenang kini sedikit serius.
[ Aku akan melakukannya untukmu. Jangan pernah melakukan apa yang aku lakukan. ]
Send to Hinata.
Sasuke memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Apa sudah selesai?" tanyanya.
"Kami tidak akan selesai sampai kau mau menerima permohonan kami." ucap Shikamaru.
"Tck. Permohonan." sinis Kiba.
"Diam." ucap Shino.
"Ya, ya. Terserah."
"Aku sudah bilang aku menolaknya. Apa masih kurang jelas?" tanya Sasuke dengan nada menyindir.
"Sasuke, kami tidak ingin kehilangan teman-teman kami lagi." ucap Shikamaru menjelaskan.
"Aku tidak peduli." ucap Sasuke. "Lagipula kalian juga tidak peduli saat aku kehilangan saudaraku."
"Sasuke." Shikamaru menatap Sasuke intens. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kami akan mendengarkanmu."
"Tidak perlu." ucap Sasuke.
"Kita teman, bukan?"
Sasuke mengerutkan dahinya, tidak percaya dengan ucapan Shikamaru. "Teman, katamu?" ucap Sasuke dengan penekanan pada kata 'teman'.
Shikamaru mengangguk mengiyakan. "Ya. Kita semua teman, bukan?"
Sasuke beranjak dari duduknya. "Tidak." jawabnya sambil memalingkan wajahnya. "Kita bukan teman. Kita tidak pernah berteman." lanjutnya lalu pergi meninggalkan ketiga murid laki-laki itu.
"Sasuke, tunggu!" seru Shikamaru, tapi yang diserukan tidak mempedulikannya.
"Cukup susah untuk membuatnya mengerti." ucap Shino.
"Kita harus mencegahnya sebelum dia mengulangi perbuatannya!" ucap Shikamaru. Setelah berkata demikian, Shikamaru tiba-tiba teringat dengan buku kejiwaan yang dia temukan di UKS kemarin. Shikamaru mulai berpikir jika Sasuke membaca buku itu karena merasa kejiwaannya mulai terganggu. Apa itu benar? Shikamaru harus melakukan pendekatan dulu sebelum tahu jawabannya.
"Apa kita masih punya harapan?" tanya Kiba.
"Ya." jawab Shikamaru singkat. "Mungkin."
Sasuke berjalan menelusuri lorong sekolah. Saat itu pukul 5 sore. Sekolah sudah sepi. Para murid sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang tersisa hanyalah beberapa guru, petugas keamanan, dan petugas kebersihan. Dan mungkin, beberapa anggota OSIS.
Kedua kaki jenjang Sasuke membawanya menuju sebuah taman kecil yang berada di ujung lorong dekat ruang olah raga. Disana seorang gadis pirang berkuncir empat telah menunggunya.
"Ini." ucap Temari sambil memberikan sebuah tas belanjaan yang feminin pada Sasuke. Dilihat dari desainnya yang berwarna merah muda dan brandnya, bisa dipastikan jika isi dari tas belanjaan itu adalah produk kecantikan.
"Terima kasih." ucap Sasuke sambil menerima tas itu. Entah untuk apa seorang laki-laki normal seperti Sasuke membutuhkan produk kecantikan.
Sasuke melangkahkan kakinya, hendak meninggalkan tempatnya bertemu dengan Temari. Tapi, langkahnya terhenti saat Temari menarik ujung seragamnya.
"Hm?" Sasuke memberikan tatapan penuh tanya pada gadis pirang itu.
"Kau.." ucap Temari dengan ekspresi yang sedikit iba. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya perhatian.
Sasuke terdiam sejenak, sebelum menyunggingkan senyum tipisnya. "Apa aku terlihat buruk?"
"YA." jawab Temari cepat. Setelah sadar dengan apa yang diucapkannya, gadis itu menggeleng cepat. "Tidak. Bukan itu maksudku. Maksudku.."
Temari menatap Sasuke. Murid Uchiha itu memberikan tatapan yang seolah-olah menunggu Temari untuk menyelesaikan ucapannya.
"Maksudku, ugh." Temari berdecak. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan maksudnya. "Maksudku, kau tidak lagi bersikap sepertinya." ucap Temari yang akhirnya mampu menjelaskan maksudnya. "Kau bersikap seperti dirimu sendiri. Apa kau tidak menyadarinya, Sasuke?"
Sasuke memalingkan wajahnya. Dia terdiam untuk beberapa saat sebelum kembali menyunggingkan senyum tipisnya. "Aku sadar. Dan aku tidak peduli." ucapnya lalu menghentakkan lengannya, membuat pegangan gadis itu terlepas. "Lagipula, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya."
Saat Sasuke hendak melangkahkan kakinya, Temari kembali menghentikannya. "Apa kau tidak lelah? Apa kau tidak sakit?" tanya Temari perhatian. "Kau menanggung beban yang berat."
"Aku tidak peduli." ucap Sasuke dingin. "Aku yang memilihnya. Dan aku siap dengan segala konsekuensinya." lanjutnya. "Aku tidak bisa diam ketika kematiannya dianggap sebagai sesuatu yang tidak pernah ada. Karena itu, aku mengiyakannya."
Suara Sasuke terdengar bergetar. Meski dia berusaha untuk mengucapkannya dengan lantang, tapi ada sesuatu yang membuat suaranya terdengar ragu.
"Sasuke.."
Sasuke hanya diam. Dia menyunggingkan senyum palsunya, seperti orang yang menyembunyikan rasa sakit.
"Sebaiknya kau hentikan. Berpura-pura itu menyakitkan, Sasuke."
"Kau pasti sudah tahu bagaimana orang-orang ini menganggapmu, 'kan?"
"Ya. Aku tahu."
"Lalu, kenapa masih melakukannya?"
"Aku tidak bisa."
"Tidak bisa apa?"
"Aku tidak bisa berhenti." Sasuke membalikkan tubuhnya menghadap Temari.
Temari memberi Sasuke tatapan bingung. "Kenapa tidak bisa berhenti?"
Sasuke terdiam. Nafasnya tampak tak teratur. Dia berusaha menyunggingkan senyum palsunya lagi, tapi kali ini dia tidak bisa. "Aku.." Sasuke sedikit menunduk.
"Aku.."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Kurasa, jiwaku sakit."
TBC
[ Author's note;
Next chapter ditunggu ya. ]
