Kalau diibaratkan warna, Jumat hari ini kelabu.

Tanizaki tidak masuk. Ia kena diare. Katanya kemarin sore ia penasaran dengan minuman yakult soda yang dijual di cafe dekat rumah. Minuma laknat itu membuatnya mulas sepanjang malam. Tachihara mau modusin gebetannya, jadi ia memilih menghampiri Teruko ke kelasnya. Ranpo, jangan ditanya. Karena ia punya pacar, tentu saja ia lebih pilih pacaran.

Atsushi ditinggal sendirian. Karena Kenji hari ini sudah janji mau main badminton ganda dengan teman sekelasnya di aula olahraga sekolah. Ia dirundung mood yang super jelek. Mau apa coba hari ini? Gitaran sendirian mana seru? Mending gitaran di pinggir jalan dengan tambahan kaleng kosong. Iseng-iseng berhadiah itu, kan.

"Haaah..."

JREEENGGG!

Atsushi cuma memainkan melodi secara asal. Ia duduk sendirian di atap sekolah. Hampir tidak ada yang kesini karena 3 hal. Panas, tidak ada pemandangan yang menarik karena terhalang drum-drum raksasa penampung air dan tidak ada tempat duduk. Atsushi duduk di lantai atap sekolah begitu saja. Toh dia pakai celana. Duduknya sembarangan pun tidak kelihatan apa-apa.

JRENG TING TING TING TRING JREEENG TING TING TING TING TRIING

Ame ga gareki no machi futteru

Chirabaru garasu o fumi nagara kimi to iku

Kigi wa moe daichi wa hibiware

Aruji wo nakushita kai-inu ga naiteru

Souzou shite sonna yoru wo

Heiwa no kasa o naku shite

Inochi no housou naki sekai de

Hitori de ikite ikeru ka ka o, ima

Atsushi memainkan bagian reff-nya beberapa kali agar suara dan gitarnya seirama. Maklum, ia bukan vokalis. Tenggorokannya kadang tidak semerdu jari-jarinya dalam melantunkan nada.

Kimi no kodo ga wakaru kurai ni

Hieta karada mo dakishimeru no

Kimi no seimon ga shimon ga joumyaku ga kousai ga sono sonzai ga

Asu e no tobira no rokku o toku sain nan da yo

Atsushi terus memainkan kuncinya tanpa menyanyi. Masih ada satu verse dan satu bridge yang ia lupa liriknya. Lantunan gitarnya kini kembali lagi ke reff.

Kimi no kodo ga wakaru kurai ni

Hieta karada mo dakishimeru no

Kimi no seimon ga shimon ga joumyaku ga kousai ga sono sonzai ga

Asu e no tobira no rokku o toku sain nan da yo

TING TING TING JRENG JRENG JRENG

Verse ketiga. Dan brigde yang lagi-lagi ia lupa liriknya. Peduli setan. Kuncinya masih sama. Atsushi masih fasih bermain sampai lagunya kembali lagi ke reff. Ia menyanyikan lagi reffnya lalu terdiam sesaat. Ada yang salah.

Kimi no seimon ga shimon ga joumyaku ga kousai ga sono sonzai ga.

Kokoro no rimitta o hazushite ku

Kuroi ame ga hoho o nurashite mo

Michi ga zetsubou ni shizumou tomo, ooh

Kimi ga yubi o karame me o mitsumete yonda namae ga

Mune ni hi o tomosu pasuwaado da

Aishiteru yo...

PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK

Atsushi menoleh. Akutagawa berdiri di pintu atap sekolah dengan tepuk tangan monoton yang terdengar tidak ikhlas.

"Mau apa kau kesini?" Tanya Atsushi pedas.

"Penasaran." Jawab Akutagawa. "Suaramu kedengaran sampai bawah."

"Kheh." Atsushi terkesiap. "Go, gomen...bagus, nggak?"

"Bagus." Jawabnya dengan senyum.

Atsushi dibuat berdebar dengan senyum tipis itu. "Do...doumo."

"Main gitarmu, bukan suaramu." Senyum Akutagawa memudar seketika. "Suaramu kayak gagak sekarat."

"Brengsek." Rutuk Atsushi. Menyesal sudah dibuat tinggi lalu dihempas kenyataan.

"Main lagi, lah." Bujuk Akutagawa.

"Kau mau lagu apa?" Tanya Atsushi menantang.

"Apa saja boleh, yang kau bisa nyanyikan juga." Akutagawa duduk di palang pembatas tak jauh dari Atsushi.

"Tumben nggak basket hari Jumat."

"Rehat." Jawab Akutagawa singkat. "Aku nggak mau pakai inhaler di tengah lapangan lagi."

Atsushi melongo. "Akutagawa-san, kau yakin nggak kesurupan?"

"Kulempar kau kebawah kalau nanya begitu lagi."

Atsushi menciut. "Galak banget, elah. Padahal nanya doang..."

"Bulan depan sudah ada talent scouting. Aku bakal fokus belajar dulu." Katanya.

"Memang kau sudah tahu mau jadi apa selain atlet basket?" Tanya Atsushi sambil memeluk gitarnya.

"Tahu."

"Wuih...jadi apa?"

"PNS."

Atsushi melongo.

"Apa-apaan mukamu itu, Jinko?" Hardik Akutagawa.

"Itu pemikiran orang tahun 80an. Nggak ada cita-cita yang lebih bombastis, gitu?"

"Contohnya?"

"Pilot. Model. Chef. Selebgram. Youtuber. Idol. Artis bokep. Pengacara." Atsushi menjawab asal.

"Bukan masalah pekerjaannya." Ucap Akutagawa. "Tapi uangnya."

"Kalau mau uang banyak, kan ada kerjaan lain." Atsushi membalas. "Bisnis, sih."

"Bisnis apa yang bagus?"

"Prostitusi. Jadi yakuza. Bandar judi. Pengedar narkoba. Money laundry. Trading organ dalam. Jual beli tuyul."

Senyum jahat Akutagawa merekah. "Omoshiroi..."

"Woy, aku bercanda! Jangan pasang muka serius gitu, dong!" Serunya panik.

"Wakkateru yo. Aku nggak sebodoh itu, Jinko." Akutagawa mendengus kesal.

"Kirain." Atsushi kembali memetik gitarnya. "Mau lagu apa? Inggris aja nggak apa-apa, kan?"

"Boleh."

Atsushi berpikir sejenak. Jemarinya mulai memetik nada-nada. Lagu yang terdengar statis, namun secara magis menenangkan dan sejalan dengan cuaca yang cerah namun terasa begitu sendu.

I had a thought, dear

However scary

About that night, the bugs and the dirt

Why were you digging?

What did you bury?

Before those hands pulled me from the earth

I will not ask you where you came from

I will not ask you neither should you

Honey just put your sweet lips in my lips

We should just kiss like real people do

Atsushi tak hanya memetik, namun menggenjreng dan mengentuk badan gitarnya bergantian dengan harmoni yang begitu ringkih. Suara humming lembut yang dilantunkannya juga menambah keindahan lagu yang dimainkannya.

I knew that look dear

Eyes always seeking

There is someone

That dug long ago

So I will not ask you

Why you were creeping

In some sad way I already know

So I will not ask you where you came from

I will not ask you neither would you

So honey just put your sweet lips in my lips

We should just kiss like real people do

I could not ask you where you came from

I could not ask you neither could you

Honey just put your sweet lips on my lips

We should just kissed like real people do

Alunan gitar dan suara alto Atsushi terdengar lebih baik dari lagu yang sebelumnya. Akutagawa terdiam beberapa saat sebelum menyadari bahwa lagunya sudah selesai. Langit malam bertumbuk dengan lembayung keemasan. Keduanya berpandangan tanpa arti, lalu Akutagawa menerawang langit biru.

"Jinko..."

"Hmm?"

Ia terdiam sejenak. "Kalau aku lulus nanti, apa aku masih bisa main basket denganmu?"

"Tergantung. Kalau kau jadi PNS, kau bakalan masuk Institut Pendidikan, kan? Karena kau dikarantina, hal tersebut bakalan makin susah."

"Sou desu ne..."

"Kenapa?"

Ia menggeleng. "Nande mo nai."

"Nadamu seakan-akan kayak mau mati saja, Akutagawa-san."

"Ini bukan sinetron, nggak usah drama." Balas Akutagawa.

"Harusnya aku yang bilang begitu." Atsushi menyahut. "Rumah kita berdekatan. Kau juga punya hape, kan? Kalau mau main bareng tinggal DM."

Akutagawa mendecih. "Dasar nggak peka."

"Hah?"

Akutagawa menumbuk lembut pundak Atsushi dengan sisi tinjunya. "Nggak. Aku duluan."

"Ah? Uhm."


"Atsushi mau rasa apa?"

"Blueberry."

Meski hari ini dinamakan Jumat Kelabu, awan badai telah tertiup angin. Matahari bersinar cerah menghangati bumi yang sendu dan kesepian. Ungkapan tersebut sudah cukup puitis untuk menggambarkan bagaimana keadaan hati Atsushi saat ini. Silakan saja teman-teman band-nya sibuk sendiri. Selama ada Dazai semuanya akan baik-baik saja.

Kencan manis hari ini dilakukan di gerai es krim dekat stasiun Sakuragicho. Nama tokonya Lavender. Mereka membuat sendiri semua eskrimnya. Atsushi yang sebetulnya tidak terlalu fanatik es krim cukup pesan satu rasa sementara Dazai memesan sejenis parfait yang banyak topping dan eskrimnya seperti yang sering muncul di film-film. Keduanya sempat dijeda hening karena menikmati es krim masing-masing.

"Dazai-san, sebentar lagi talent scouting, kan?" Tanya Atsushi.

Talent scouting adalah pembinaan yang dilakukan khusus untuk kelas 12 oleh guru BK mengenai rencana apa yang hendak diambil selanjutnya. Biasanya, jika para siswa sudah menentukan target, guru BK juga memberikan mereka pembekalan pelajaran tambahan dan pemantapan materi sesuai jurusan atau pilihan yang mereka tuju. Hal ini bisa berbeda bagi setiap orang, namun dari tahun ke tahun nama talent scouting selalu terdengar sama menyeramkannya seperti hantu sadako yang merangkak keluar dari televisi

"Aku suda tahu kok, mau jadi apa." Jawab Dazai santai.

"Betulan?"

"Aku mau masuk Waseda." Katanya mantap. "Disana ada jurusan teater."

"Tapi..." Atsushi menyuap es krim, lalu berjengit karena kena brain freeze. "Kalau sekolah teater paling jadi aktor, pemain teater, penulis naskah dan semacam itu, kan?"

"Bisa jadi stage crew di konser atau creative team di stasiun televisi juga." Tambah Dazai.

"Cita-citamu sugoi..." Atsushi berbinar.

"Biasa aja, kali. Chuuya yang paling gila dari kita semua di kelas." Balas Dazai. "Waktu pembinaan wali kelas, dia dengan pedenya teriak dia mau jadi sommelier. Satu kelas tidak ada yang tahu itu pekerjaan macam apa. Bahkan wali kelas kami. Jadi dia harus menjelaskan dari awal."

"Som-apa?"

"Sommelier." Dazai mengulangi. "Secara garis besar, dia spesialis wine. Sekolahnya mahal dan susah. Meskipun di beberapa negara ada, yang paling bagus dan terpercaya tetap harus ke Perancis. Gajinya gila-gilaan. Enaknya gitu sih, kalau kerja di hospitality."

"Aku nggak menyangka kalau Nakahara-senpai tertarik ke dunia perhotelan. Maksudku...kalau dari perangainya sekilas dia mungkin ingin jadi polisi, pemadam kebakaran atau atlet. Pokoknya pekerjaan yang banyak tantangannya."

"Dia sih memang sudah atlet. Sabuk hitam taekwondo." Dazai menambahkan. "Ayah-ibunya di Dubai. Kerja di hotel juga. Ibunya Chuuya kayak ayahnya Atsushi, GRO juga. Ayahnya manajer restoran, kalau tidak salah. Sedikit-banyak, kayaknya cita-cita itu tercetus karena ia tertarik dengan pekerjaan orangtuanya."

"Oh, iya?" Atsushi terperangah. "Sugoi yo..."

"Kalau aku pasti nggak bakalan betah kerja di hotel. Kebanyakan aturan." Dazai menggelosor. "Atsushi sudah ada bayangan?"

"Belum." Jawabnya sederhana. "Lagipula aku masih kelas 11."

"Uh-uhm."

Dazai mengambil secuil es krim dari cup milik Atsushi dengan sendoknya. Lembayung keemasan itu terpana ketika Dazai dengan lembut menyuapinya makan. Setelah beberapa sendok, ia meletakkan sendok panjang tersebut. Jemari lentiknya mengusap sisi wajah Atsushi, memainkan helai rambutnya dengan penuh kasih, dan bibir indahnya berucap dengan nada yang halus dan penuh makna.

"Atsushi, daisuki..."

Atsushi kelu. Tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

"...Dazai-san..." katanya. "Katakan sekali lagi."

"...daisuki..." Dazai mengusap ujung dagu Atsushi. "Aku akan mengatakannya ratusan, ribuan, dan jutaan kali sampai kau percaya."

Uh la la...

Atsushi senang bukan kepalang. Tentu saja, Dazai adalah pilihan yang terlalu surealis baginya. Tetapi sosok yang nyaris sempurna itu datang padanya dengan segala keunikannya, lalu mereka menghabiskan waktu bersama dan hasilnya seperti ini. Bisa dikatakan ini sukses besar. Kalau seluruh Warhammer diberi tahu kalau Dazai 'menembak' Atsushi, mungkin mereka bisa gelar pesta tiga hari tiga malam saking senangnya.

Tunggu,

Sebersit keraguan terlintas di hati Atsushi. Dazai Osamu ini ikemen kelas kakap. Husbando sejuta umat kalau ibarat karakter di komik. Sementara Atsushi cuma gitaris band sekolahan. Tidak terlalu cantik atau tenar selain karena siswi tapi pakai celana, dan ayahnya ekspatriat Taiwan. Semua terasa begitu picisan.

Way too good to be true, kalau kata Tanizaki.

"Naa, Dazai-san.." katanya. "Apa yang membuatmu suka padaku?"

"Apa, ya..." Dazai menerawang. "Aku bisa jadi diriku sendiri kalau sama Atsushi. Nggak usah pakai gengsi. Aku nggak malu bertingkah begajulan. Yah, aku tahu kadang sikapku memang malu-maluin. Tapi...aku nyaman denganmu."

"Nyaman mana sama kasurmu?"

Dazai melengos. "Jangan gitulah. Beda presepsi."

Atsushi terkekeh garing.

"Tidak usah buru-buru." Dazai menggenggam tangannya dengan hati-hati. "Pikirkanlah baik-baik."

Atsushi mengangguk canggung. Mereka kembali menikmati es krim dalam diam, saling menggenggam tangan. Tangan Dazai lentik dan panjang, halus mulus tidak seperti tangan Atsushi yang ujung jemarinya kapalan semua karena bermain gitar, dan telapaknya kasar tebal sebab semasa SMP ia cukup serius bermain basket. Dazai mengedip genit dan sukses membuat Atsushi jadi salah tingkah.

"Kupikir Dazai-san orang yang sudah punya pacar." Ucap Atsushi memecah hening.

"Kan aku sudah bilang kalau aku ini jomblo." Jawab Dazai.

"Atau..." Atsushi menggantung kalimatnya. Ia menepis anggapan yang sempat timbul di benaknya. "Kenapa...Dazai-san tidak punya pacar? Kau tampan dan kaya. Pasti gampang kan dapat pacar?"

Dazai merenung sejenak. Jemarinya bermain di telapak Atsushi. "Mungkin lebih tepatnya nggak kepikiran. Aku sudah pusing dengan urusan sekolah. Lagipula, temanku banyak. Tidak terpikir untuk punya pacar sampai akhirnya aku ketemu denganmu."

"Eh? Aku?"

"Dari kau kelas 10 aku sudah tahu tentang Atsushi, sebenarnya." Dazai mengakui. "Waktu ujian kenaikan, aku duduk di depanmu dulu, kan? Kau duduk dengan Kunikida. Aku tidak sengaja membaca namamu di absen. Huruf kanji margamu sama persis dengan papan nama Weiguang-dono. Waktu itu kau masih diolok-olok soal 'memangnya bakatsushi bisa bahasa Jepang? Ayo kita semua bantu dia di ujian Sastra Jepang Klasik!"

"Bisa jadi ada ratusan anak yang marganya sama persis denganku." Atsushi membuang muka. Dazai bahkan hafal mati bagaimana kelakar menyakitkan teman-teman Atsushi semasa kelas 10 kala itu.

"Tidak, aku yakin tidak akan salah. Soalnya ininya sama." Dazai mencolek ujung hidung Atsushi. "Ininya juga." Lalu turun membelai garis rahangnya.

Atsushi mengulum senyum. Tatapan kasih dari mata Dazai membelai jiwanya dengan teduh. Si senpai tampan itu mencium lembut tangan Atsushi dan menggesekkannya ke pipi. Meski wajah Atsushi terlihat tidak terlalu ekspresif, dalam hati kokoro-nya porak poranda. Pulang nanti ia akan buat group call dengan Tachihara dan Tanizaki, minta diajari jurus tahan dihujat kaum netizen milenial wanita dibawah 19 tahun. Meski ia memang cukup tahan banting masalah bully-bully-an, kalau musuhnya sama-sama perempuan Atsushi pasti kalah perasaan.

"...shi..."

"...tsushi..."

"Atsushi!" Dazai menyentak. Tangannya menggamit dagu Atsushi dan mengangkatnya agar carnelian dan amethyst bersua dalam pandangan penuh arti.

"...ha..hai?" Atsushi tergugu.

"Punyamu sudah habis. Kenapa masih dikorek-korek?"

Atsushi melirik cup eskrim miliknya yang memang sudah tandas. Mungkin karena tadi ia melamun, tanpa sadar ia masih menyendok meski hanya ada sisa tetesan ungu muda leleh yang tak lagi enak. Dazai mengulas senyum tipis manis sementara Atsushi cuma menunduk. Apakah si kakak kelas tampan itu selalu se"cerah" ini atau memang cuma Atsushi yang kikuk bukan main?

"Kok bengong? Aku ngebosenin, ya?" Dazai memasang ekspresi sendu.

"Ah, nggak. Aku..." Atsushi kehabisan kata-kata. Tatapan Dazai sudah membuat sebagian jiwanya luruh di alam mimpi. "Aku malah takutnya aku yang membosankan."

"Nggak, lagi." Dazai menggerling. "Kapan-kapan, aku mau dong dinyanyiin pake gitar. Aneh sih dengernya, kan harusnya cowok yang main gitar buat ceweknya. Tapi aku cuma bisa nyanyi."

"Kita bikin video cover lagu kan bisa." Jawab Atsushi. "Habis aku nggak banyak tahu soal Dazai-san. Kalau ngobrolin musik terus takutnya jenuh."

"Sou, Atsushi merhatiin aku banget. Terharu jadinya..." Dazai mengisak palsu. "Bulan depan nikah, yuk!"

"Hah?!" Atsushi memekik panik. "Kau bercanda kan, Dazai-san?"

"Guyon, kali. Bisa digantung papamu nanti kalo beneran." Dazai tertawa riang. "Habis aku suka banget denganmu. Aku pasti bahagiaaaaa banget kalau kita jadian."

"Kalau?" Atsushi menaikkan alis. Ia menopang dagu, nampak menimbang angan. Lalu, ragu-ragu ia lontarkan prasangkanya. "Misalkan aku tidak terima Dazai-san, aku nggak mau pacaran sama Dazai-san, gitu. Dazai-san mau bagaimana?"

Hening.

Atsushi bersumpah ia melihat sudut bibir Dazai berkedut sejenak.

"...sonna..." Raut wajahnya mendadak mendung. "...jadi...aku ditolak?"

"Kan 'kalau'." Imbuhnya. "Aku suka laki-laki yang independen. Yang pendiriannya teguh."

"Jadi..." Dazai menggantung kalimatnya "Atsushi suka cowok yang agak maksa, ya?"

Dazai bangkit, berpindah duduk semula dari hadapan Atsushi kini berganti menjadi di sampingnya. Tangan lentik itu menjegal sisi wajah Atsushi dan mendekatkannya, cukup dekat sampai ia mengira Dazai bakal menciumnya secara paksa.

"Kalau Atsushi sukanya gitu, ya sudah." Bisik Dazai lirih. Nadanya membuat seluruh bulu kuduk Atsushi meremang. "Aku tinggal menyerangmu gila-gilaan sampai kau tunduk berlutut, kan?"

Perlahan-lahan, Dazai melepaskannya. Jemarinya menggamit sejumput rambut panjang Atsushi dan mengecupnya lembut, membiarkan helai-helainya jatuh alami dan lolos dari jangkauannya. Wajah Atsushi terasa panas. Ia berdebar. Perasaannya campur aduk-malu, penasaran, takut. Carnelian penuh teka-teki itu berkilat samar, dan Dazai memberi jarak. Atsushi mengemas barang-barangnya dengan tergesa, lalu berlari keluar tanpa pamit. Dazai memanggilnya, bahkan mengejar. Namun Atsushi peduli setan. Ia berlari lebih cepat lagi, saking cepatnya sampai ia tersandung trotoar dan jatuh tersungkur. Lututnya terparut, namun alam bawah sadarnya memerintahkan untuk lari. Ia berlari lebih jauh lagi sampai akhirnya berhenti karena kehabisan nafas. Dazai tidak mengikutinya. Atsushi mengurut dadanya yang terasa ngilu. Kini lututnya juga terasa ngilu. Ada sobekan di celananya, dan dari sobekan itu terasa perih dan hangat aliran darah yang sebelumnya tidak ia sadari. Atsushi menggosok matanya, berusaha menahan sakit yang kini baru terasa.

"Ukh..." rintihnya. "Ini dimana, coba?"

Atsushi menoleh ke segala arah. Ia kenal daerah ini. Sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri terdapat sebuah konbini. Seorang lelaki muda berusia 20an memasuki konbini, dan wajahnya familiar. Tanpa berpikir, Atsushi berjalan cepat memasuki konbini dan mengejar lelaki muda itu.

"Su...sumimasen..." gumamnya gugup. "Tachihara-san!"

Lelaki muda itu menoleh, lalu raut wajahnya mendadak bingung. Ia menatap Atsushi dengan pandangan menyelidik. Ia tinggi dengan rambut hitam terpangkas rapi. Wajahnya serupa dengan bassist-nya Warhammer, hanya saja dengan versi yang lebih tampan.

"Siapa kau?" Katanya ketus. "Kenapa cewek pakai seragam cowok?"

"A...aku Nakajima Atsushi. Aku teman sekelasnya Michizou." Kata Atsushi.

Lelaki itu, yang sebenarnya adalah kakak lelakinya Tachihara, cuma memasang tampang 'oh, iya. Aku mengerti.' Sayangnya, Tachihara senior cuma mengangguk acuh dan kembali menyusuri rak konbini, mencari kebutuhannya.

"A...ano..." Atsushi memanggil lagi.

"Hah? Ada perlu apa?"

Atsushi terkesiap. Otaknya mulai merangkai kebohongan kecil. "Boleh aku tahu alamat rumah Anda? Aku dan Michizou satu kelas. Kami ada proyek kelompok. Aku sudah dalam perjalanan tapi baterai ponselku habis."

Tachihara senior nampak bimbang. Lalu ia menatap Atsushi sebentar sebelum merogoh ponselnya dan menelpon seseorang.

"Oy, bakayaro. Aku ketemu teman sekolahmu. Dia bilang dia mencarimu. Hah? Kawaii? Nggak. Dia bongsor. Rambutnya panjang. Pakai seragam cowok. Katanya teman sekelasmu. Hah?! Uhm. Uhm. Tidak usah, sebenarnya. Uhm. Aku bisa jalan dengannya. Dia pacarmu? Oh, bukan. Ya sudah, dah."

Atsushi sudah dag-dig-dug. Tachihara senior memutus telepon. Raut wajah lelaki muda itu melunak sedikit.

"Gomenne, aku tidak tahu kalau kau teman ngeband adikku." Katanya.

"Daijobu." Balas Atsushi hangat.

"Siapa namamu."

"Nakajima Atsushi."

Alis Tachihara senior menukik karena ragu, lalu ia menggedikkan bahunya cuek. "Ayo, kita bisa jalan denganku ke rumah kami. Adikku ada di rumah."


"Atsushi?! Ada perlu apa sampai kemari?!"

Tachihara Michizou tengah rebahan santai di kasurnya, telanjang dada dan berlapis hanya sehelai boxer ketika kakak lelakinya mengantar Atsushi ke kamar adiknya. Alunan musik rock terdengar pelan dari speaker mini diujung kamar. Tachihara buru-buru mencabut sehelai kaos dan mengenakkannya saat Atsushi melangkah masuk dan duduk dengan sopan di sofa tunggal di dekat pintu. Kakaknya berteriak 'main yang rapi, ya!' dengan nada ambigu. Sang adik menyumpah kesal sebelum menutup pintu.

"Kenapa kau kerumahku?" Tanya Tachihara bingung.

"Aku kabur dari Dazai-san. Kami makan es krim di dekat Sakuragicho. Lalu di konbini aku ketemu kakakmu." Jelas Atsushi.

"Kakakku?" Tachihara menggumam paham.

Ia dan Atsushi sudah dua tahun satu kelas. Selain Tachihara selalu memamerkan dan menceritakan kakaknya pada anak-anak Warhammer, Atsushi pernah ke rumah Tachihara sekali bersama teman-teman sekelas yang lain saat kelas 10, lupa karena alasan apa. Ia melihat kakaknya Tachihara ada di rumah saat itu, namun si kakak nampak tidak peduli pada teman-teman adiknya tersebut.

"Terus, kenapa kau kabur dari Dazai?" Tanya Tachihara bingung.

"Sebelum itu..." Atsushi menggulung sebelah celananya sampai lutut. "Pinjam obat untuk luka, dong. Tadi aku jatuh sampai begini."

"Heee..." Tachihara beranjak bangun. "Tunggu sebentar."

Tachihara memberikan Atsushi kotak plastik kecil berisi peralatan P3K. Atsushi membersihkan dan mengobati baret lututnya sendiri sementara Tachihara kembali lagi membawa dua kaleng soda. Selesai memplester lukanya, Atsushi bercerita mengenai bagaimana Dazai dan dirinya menjalani kencan manis yang tiba-tiba berubah menjadi ancaman seram (bagi Atsushi) hanya karena Atsushi berandai-andai bagaimana kalau ia menolak Dazai.

"Udah ditembak, di kabedon, terus kau malah nolak...terus lari," Tachihara merengut. "Kau ini goblok apa bodoh sih, Atsushi?"

"Habis..." Atsushi menunduk, menatap plester di lututnya. "Aku ragu. Kenapa segampang itu? Aku..aku..."

"Iya, sih. Dia ganteng dan populer. Nggak mungkin jomblo." Tachihara mengangguk. "Tapi dia sudah resmi menembakmu?"

"Sudah." Atsushi mengkonfirmasi. "Tapi...dia bilang aku boleh pikir-pikir dulu."

"Oh. Kalau kau suka banget, terima saja." Tachihara menjawab diplomatis. "Tapi, saranku lebih baik kau siap mental. Pasti hujatannya berat."

"Itu dia." Atsushi makin menunduk. "Aku takut tidak kuat..."

Tachihara menghela nafas. "Aku kurang paham perasaan perempuan, sih."

"Tidak apa. Aku tidak punya teman perempuan yang dekat, soalnya." Balas Atsushi. "Terima kasih mau mendengar curhatanku."

"Sudahlah, aku juga malas menanggapi kegalauanmu." Tachihara menarik sebuah kotak gitar dari kolong kasurnya. "Mumpung kau disini, aku mau buat video cover. Untuk ulang tahunnya Teruko. Bantuin, yuk."

"Mau main lagu apa?"

"Banyak, satu album." Tachihara terkekeh. "Aku mau main rythm aja biar ganteng, ya."

"Aku nggak mau ada adegan R18, ya!"

Tachihara memberengut. "Nggak gitu mainnya, setan! Kita bikin cover lagu, bukan video bokep!"

Atsushi terkekeh. Ia mengeluarkan gitarnya sendiri, menuruti keingian Tachihara untuk syuting cover lagu akustik dadakan untuk si gebetan. Tachihara bernyanyi, dan Atsushi berada di layar bersamanya, bermain gitar melodi. Si bassist itu sebenarnya punya suara bass serak yang merdu, hanya saja ia tidak cukup pede untuk jadi vokalis. Karena kamera tidak hanya fokus kepada Tachihara seorang, Atsushi khawatir tentang apakah Teruko akan cemburu atau tidak. Setelah take sekitar 3 lagu, Tachihara memutuskan rehat. Atsushi memeluk gitarnya dan mendesah lega.

"Naa, Tachihara..." kata Atsushi. "Kalau Teruko ternyata punya pacar tanpa sepengetahuanmu, gimana?"

"Kau menyumpahiku gagal jadian, Atsushi?" Tanyanya pedas.

"Nggak, seandainya saja." Atsushi mengoreksi.

Tachihara diam sejenak. "Aku akan tanya baik-baik. Kalau dia pilih aku, puji Tuhan. Silahkan. Kalau dia pilih pacarnya, kubuat dia memilihku."

"Kalau dia tidak mau keduanya, atau mau kalian berdua?"

Tachihara menyeringai. "Aku punya kesempatan bersaing, kan?"

"Tapi, itu namanya nikung, kan? Apa kau tidak apa-apa soal itu?"

"Gini, ya..." Tachihara bersidekap. "Aku suka sama Teruko. Sayang. Karena sayang, aku berjuang mendapatkannya. Karena perasaanku padanya, jika harus merebut Teruko dari pacarnya yang sekarang akan kulakukan."

"Karena kau yakin, kalau kau bisa membuat Teruko lebih bahagia?"

"Iyalah."

Atsushi menghela nafas. Tachihara memang teman baiknya, namun dia juga laki-laki. Apakah laki-laki semua seperti itu? Mereka mengejar perempuan yang mereka suka seperti predator memburu mangsa? Apapun akan dilakukan asal si mangsa tertangkap?

Perasaan itu yang tadi mendera Atsushi.

Perasaan diburu.

Ia ingin punya pacar agar merasa nyaman. Agar merasa disayang. Bukan untuk dikejar-kejar dan dibuat tidak berdaya karena mabuk cinta. Bukan untuk diterkam dan dimakan mentah-mentah. Keraguan di hati Atsushi kembali timbul. Melihat raut wajah sahabatnya, Tachihara memetik gitarnya, bermain intro Lost Heaven dari L-Arc-en-ciel.

"Ranpo-san menjodohkanmu dengan Dazai. Itu hebat. Tapi kalau kau tidak sreg, setidaknya kau harus jujur dengan dirimu sendiri." Katanya. "Kalau aku, jelas aku suka dengan Teruko. Makanya dia kukejar mati-matian. Tapi, maaf-maaf saja. Dalam kasusmu kayaknya kau tidak sesuka itu dengan Dazai, Atsushi."

"Aku tidak pernah benar-benar suka dengan cowok sebelumnya." Gumam Atsushi. "Aku bingung."

"Hoh," Tachihara menggeram singkat. "Aku mau mandi dulu. Setelah itu, kuantar kau pulang."

"Sankyuu. Harusnya nggak usah repot."

"Santai, santai."


rashomon: [oy, jinko. Aku mau ngomong sesuatu]

Atsushi terdiam. Selepas ia mandi dan berpakaian, ia mendapat DM yang begitu tiba-tiba dari Akutagawa.

[Mau ngomong apa?] Balasnya santai.

rashomon: [dirumah sendirian?]

[Iya. Ayahku belum pulang]

rashomon: [nggak penakut, kan?]

[Nggak]

rashomon: [oke. Pindah rating, ya]

rashomon send a link

Tautan. Tanpa curiga Atsushi membuka tautan kiriman si kakak kelas ceking ultra judes itu.

CARA MEMBUAT KELINCI KESURUPAN.

"Bangsat, ini apa, coba?!"

Atsushi dibuat kesal dengan judulnya. Ia pikir, Akutagawa akan mengatakan sesuatu yang lebih serius. Mana kepikiran bahwa si kakak kelas ringkih itu bakal mengirimkan video bagaimana membuat seekor kelinci mengalami trance atau kesurupan hanya dengan membaringkannya telentang ditambah sedikit trik. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa apakah kelinci peliharaan terluka atau tidak. Ini merupakan tindakan berbahaya dan harus dilakukan secara profesional karena resikonya besar, dan bisa saja menyebabkan kematian. Meski Atsushi kesal, ia menonton video tersebut sampai habis karena terlanjur penasaran.

[Sialan! Kembalikan 4.50 menitku!]

rashomon: [seram. Kalau saat belum sadar kelincimu malah kemasukan setan gimana?]

rashomon: [kayak di film Pet Semetery]

[Buat apa cari video begituan, sih?]

rashomon: [nggak sengaja]

rashomon: [gara-gara nonton Everlasting Sunshine]

Everlasting Sunshine adalah serial dorama yang menceritakan sepasang suami istri di daerah Hokkaido yang membuka semacam peternakan dan perkebunan untuk tujuan wisata. Tokoh utamanya adalah si suami yang bernama Akira-dokter hewan esentrik dan istrinya Tsukino-petani serba bisa yang selalu kelaparan. Alurnya drama komedi, namun ratingnya bagus. Banyak dibumbui tips dan trik berkebun di rumah dan cara merawat hewan peliharaan dengan baik dan benar sesuai anjuran dokter hewan. Atsushi juga nonton dorama itu.

[Akutagawa-san nonton itu juga?] Balas Atsushi dalam ketikan DM.

rashomon: [semenjak masuk SMA aku hampir tidak pernah nonton tv]

rashomon: [internetan terus]

rashomon: [itu bagus]

[Nonton series amerika, nggak?]

rashomon: [beberapa nonton]

rashomon: [GOT, terus Handmaiden's Tale]

rashomon: [Hannibal]

rashomon: [American Horror Story]

rashomon: [The Haunting of Hill House]

rashomon: [aku suka horror sih]

[Aku sukanya action. Tahu Marvel Agent of S.H.I.E.L.D?]

rashomon: [itu lumayan. Aku nonton tapi drop sampai season 3]

rashomon: [yang seram lebih menantang]

rashomon: [ada cerita seram, nggak? Cerita, dong]

[Nggak mau. Udah malam.]

rashomon: [katanya nggak penakut. Dasar lemah]

[Aku malas ngetik, tahu]

rashomon: [add kontak LINE ku. Disana bisa pakai voice note]

rashomon: [akutagawa]

rashomon: [buruan]

[Idih, maksa. Jadi anak kelas 12 bukannya belajar malah malak cerita seram]

rashomon: [GAUSAH NGELES. BURUAN JINKO]

Ugh, full capslock. Ngegas banget balasannya. Atsushi berpikir mungkin saja Akutagawa sedang senggang karena terus menerus menerornya seperti itu. Akhirnya, setelah berteman di LINE, mereka berpindah ruang. Atsushi bercerita bahwa ia tidak suka daerah pegunungan karena saat SD, ia pernah dititipkan di rumah keluarga teman ayahnya yang tinggal di Miyagi. Disana ada mitos kalau malam jendela tidak ditutup, akan ada yamauba (semacam setan gunung) yang masuk ke rumah dan menculik anak-anak untuk dimakan. Kala itu musim panas, dan di rumah tersebut tidak ada AC atau kipas angin. Setengah mengantuk dan kepanasan, Atsushi terbangun di tengah malam. Ia dengan polos membuka jendela lebar-lebar. Di balik jendela, ada sosok wanita tua kurus yang rahangnya menjuntai kotor. Rambutnya putih, matanya kuning menyala, kukunya panjang hingga melengkung dan lidahnya panjang. Atsushi kecil berteriak ketakutan, menangis sampai mengompol. Orang-orang dewasa yang menjaganya membantu meredam ketakutan dengan memindahkan kamar tidur Atsushi. Ia selalu tidur dengan orang dewasa setelahnya. Namun, setiap malam ia mendengar suara kaca jendela diketuk, dan sosok mengerikan yamauba terlihat jelas di baliknya. Atsushi mulai bisa melupakan ketakutannya setelah kembali lagi ke Yokohama.

akutagawa: [seram]

Nakaatsushi: [kau punya cerita seram juga?]

akutagawa: [ada]

akutagawa send a voice note.

Wow, 3 menit. Cerita seram macam apa yang membuatnya sepanjang itu? Atsushi mengambil headset dan siap mendengarkan.

"Jadi, dulu waktu SMP aku tidak sengaja melihat kecelakaan. Tabrakan beruntun. Sebuah bus, mobil sedan dan truk air. Karena mobilnya ditengah, semua penumpang mobil tewas. Yang di bus dan truk luka-luka. Aku ada di dekat TKP dan cuma diam menonton ketika polisi datang dan berusaha mengeluarkan korban dari dalam mobil. Isinya tiga orang wanita dan seorang bocah laki-laki. Aku lihat wajah mati si bocah laki-laki. Kosong terkejut kaku gitu. Kepalanya terkulai dengan bagian sobek di leher dan darahnya muncrat-muncrat, seakan-akan kepalanya dipelintir. Karena takut aku berlari pulang. Tapi pemandangan itu membuatku tidak bisa tidur berhari-hari. Sampai pada suatu malam, aku terbangun karena ketiduran sejak sore. Aku berjalan ke dapur dan ambil minum. Lalu aku melihat sosok anak kecil di depan rumah, jongkok sambil menangis. Lalu anak kecil itu menoleh dan terisak-isak berkata 'kenapa? Kenapa aku ada disini? Okaa-san dimana?' Lalu karena aku sangat takut, aku berteriak dan membangunkan ibuku. Aku tidur dengan ibu dan adikku, lalu besoknya ibuku cerita kalau ada kecelakaan, lebih baik kau cepat-cepat pergi karena bisa jadi ada arwah yang mengikutimu. Ibuku mencari segala potong pakaian yang kukenakan hari itu dan membakarnya di tempat yang jauh-termasuk sepatu dan kaos kaki. Aku tidak pernah melihat sosok itu lagi setelah itu."

Atsushi terdiam. Cerita itu seram sekaligus sedih. Mengingat bahwa korbannya adalah anak kecil, dan fakta bahwa Akutagawa kini sebatang kara.

akutagawa: [aku ada lagi. Lanjut, nggak?]

Nakaatsushi: [gaslah. Jangan kasih kendor]

akutagawa: [giliranmu. Aku nggak mau jadi radio]

Nakaatsushi send a voice note.

"Ini cerita dari ayahku sih. Beliau kan selalu kerja malam. Jadi beliau pernah naik kereta sore, dan duduk di sebelah wanita muda yang cantik. Tapi ia kelihatan lusuh, seperti beberapa hari tidak mandi atau ganti baju. Wanita itu tidak lama menangis. Ia bilang pada ayahku kalau dia dari Aomori, mencari suaminya yang lama tidak pulang setelah mencari kerja ke kota. Ia tersasar dan cuma memberikan alamat kalau suaminya kerja di dekat daerah Nakajujo. Ayahku kerja di Tokyo, tapi karena kasihan ia menemaninya naik kereta sambil gandengan dari Hamamatsucho sampai ke arah Kawaguchi, yang berarti ayahku bahkan sudah kelewatan tempat kerjanya sendiri jauh sekali. Sampai di tujuan yakni stasiun Higashi-Jujo, ayahku hendak mengantar perempuan itu ke pos polisi setempat. Tetapi anehnya, perempuan yang awalnya berjalan digandeng ayahku mendadak lenyap, ia kabur dari ayahku begitu saja. Saat polisi bertanya bagaimana ciri-cirinya, polisi tersebut sangat terkejut. Ia diinterogasi panjang namun ayahku tidak kenal dan tidak tahu apapun soal wanita itu selain dari apa yang diceritakan kepadanya. Kemudian ayahku diperlihatkan berita tiga hari yang lalu bahwa ada seorang perempuan yang ditemukan tewas di dekat stasiun Hamamatsucho, ciri-cirinya dan asal usulnya sama persis. Wanita itu tewas gantung diri di salah satu toilet di stasiun. Ayahku lalu pulang ke rumah, mengajakku makan di luar di tempat yang agak jauh lalu menceritakan hal itu. Aku agak takut memang, sampai akhirnya aku berakhir tidur pelukan dengan ayahku."

Akutagawa tidak membalas. Atsushi sudah bergelung dalam selimut ketika Akutagawa menyampaikan balasan.

akutagawa: [oh aku tahu cerita itu]

akutagawa: [sempat ramai di internet]

akutagawa: [kayaknya ayahmu bukan korban pertama]

akutagawa: [yang diajak naik kereta jauh]

akutagawa: [soalnya rutenya persis dari Hamamatsucho ke Higashi-Jujo]

[Oh, iya? Seram banget!]

[Giliranmu, Akutawawa-san]

akutagawa: [hah?]

akutagawa: [kau salah ketik atau tidak bisa baca, jinko?]

Menyadari balasannya, Atsushi mengecek kembali apa yang dia ketik. Hal itu murni kecelakaan. Jempolnya sering mengkhianati kalau masalah ketik-mengetik di ponsel. Karena malu, Atsushi cuma meminta maaf melalui stiker gemas. Lalu si senpai judes membalasnya dengan stiker bergambar pinguin cemberut. Pesan suara berbobot cerita seram berganti menjadi perang stiker. Satu hal yang lucu dan mengejutkan adalah karena meski ia kelihatan ketus, sangar dan berpotensi suka sesuatu yang bernuanasa gelap seperti hal-hal bertema gothic dan emo, nyatanya Akutagawa ternyata punya banyak koleksi stiker LINE lucu dan ada juga yang edisinya terbatas.

Nakaatsushi: [akutagawa-san, apa kau beli semua stiker itu?]

akutagawa: [hah? Mana ada]

akutagawa: [aku ngegame di LINE]

akutagawa: [sering dapat hadiah stiker]

akutagawa: [atau koin yang bisa ditukar]

Atsushi tidak ingat apa yang ia ketik. Ia jatuh dalam kantuk dan bantalnya yang empuk. Jempolnya kembali mengkhianati karena dalam keadaan setengah sadar, ia kembali mengirim balasan.

Nakaatsushi: [chatting denganmu seru ya, Akutagawa-san. Jarimu baik, tidak sejahat mulutmu]


songs:

-Burnout Syndrome, SIGN

-Hozier, Real People Do


Halo readers, balik lagi dengan author di chapter 6!

Maaf banget atas kengaretan updatenya karena Author baru saja balik lagi ke Indo untuk liburan singkat! Padahal udah hampir seminggu pulang, tapi karena kebanyakan main jadinya baru bisa sempet toel-toel ffn lagi. Setelah dipindahin ke dokumen dan diedit, well this is the longest chapter so far in this series. Author berharap kalian tetap pantengin dan nggak bosan. Terima kasih sudah baca sampai chapter ini dan setia scroll down hingga bacotan author. See you in the next chapter okeh okeh bye byee~~~~~