Under The Sky [Ch. 6]
AU, Adventure, Family,
Rated T
Warn : Typos, OOC, No Pair
Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.
Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona
Just for Fun!
.
.
Taufan mengajak ketiganya ke tempat tinggalnya. Dalam perjalanan, mereka mengobrol kecil hingga sapai di depan sebuah gerbang besar yang didalamnya terdapat sebuah kastil.
Gempa dan Ochobot menjatuhkan rahangnya melihat bangunan megah di hadapan mereka. Halilintar tampak biasa saja karena pernah ke tempat itu sebelumnya.
"Ini rumahmu, Taufan?" tanya Gempa.
"Yap." Jawab Taufan sambil membuka gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.
"Waw." Komentar Ochobot.
Taufan berjalan mendahului mereka menuju pintu ganda besar bagian depan kastil, dan membuka pintunya.
"Aku pulaang~" ucap Taufan riang.
Seorang gadis tampak berdiri di atas tangga, tangannya bertolak pinggang dan memandang Taufan layaknya nona muda yang angkuh.
"Aku tidak suka kau kembali." Ucapnya.
"Ah, jangan begitu dong, Lotty~ lihat! Aku membawa tamu." Sahut Taufan sambil tersenyum cerah.
Gadis yang dipanggil 'Lotty' itu mendegus dan berjalan turun kearah mereka. Gempa dan Ochobot terdiam.
"Lotty, ini Gempa, Ochobot, dan Halilintar, saudara-saaudaraku." Ucap Taufan memperkenalkan ketiganya pada Lotty.
"Ini Lotty, dia anak perempuan Mom Anna. Dan… aku… saudara tirinya." Lanjut Taufan.
"Aku tidak pernah menganggapmu saudara, saudara tiri pun tidak." Sahut Lotty cepat.
"Eeh.. jadi selama ini kau menganggapku apa?" tanya Taufan sedih.
"Budak." Jawab Lotty.
Taufan berjalan mundur dan berlari dengan lebay, "Lotty jahaaat~"
Lotty tidak peduli dan menoleh pada ketiganya, "Salam kenal.." ucapnya.
"Hm… ya, salam kenal. Ibumu?" tanya Gempa.
"Mom? Dia sedang bekerja, tunggu saja paling-paling Taufan memanggilnya, untuk sekarang ikuti aku." Jawab Lotty dan berjalan menuju ruang tamu dan mempersilahkan mereka duduk.
Lotty pun pergi dan ruangan hening seketika.
"Gadis itu cepat sekali berubah perilakunya.." ucap Ochobot.
Gempa dan Halilintar mengangguk. Tak lama kemudian, Taufan mendatangi mereka dengan membawa seseorang yang berjalan di belakangnya.
"Aku kembali…" ucap Taufan, ia lalu menunjukkan seorang wanita di belakangnya, "Gempa, Ochobot, ini Mom Anna…" lanjutnya.
Wanita itu terlihat berseri, "Wah… jadi ini Boboiboy Gempa?!" tanyanya sambil menghampiri Gempa, Gempa mengangguk.
"Kau tampak seperti Taufan!" serunya, "Bagaimana keadaan Mirajane?" tanyanya.
"Emm.. ya, Bibi Mira sehat…" jawab Gempa tersenyum.
Anna lalu beralih pada Ochobot, "Kau keponakan Mirajane, benar?" tanyanya.
"Kenapa anda bisa tahu?" tanya Ochobot.
"Karena kau memakai sesuatu yang serba kuning! Mirajane selalu berkata begitu!" jawabnya.
Ochobot tertawa kecil, Anna lalu menoleh kearah Halilintar.
"Halilintar~! Lama tak bertemu~!" seru Anna.
Halilintar mengangguk, "Selamat sore, bibi."
Seorang pelayan masuk dan membawa troller berisi lima cangkir teh dan beberapa potong kue, permen, dan makanan ringan lainnya. Lalu pelayan itu menaruhnya di atas meja.
"Silahkan dinikmati…" ucap Anna sembari duduk diatas kursi, diikuti Taufan.
"Ada acara apa kalian datang kemari?" tanya Anna.
"Mereka mengajakku pergi, Mom." Jawab Taufan.
Anna melebarkan matanya, "Benarkah? Dan kau mau?" tanya Anna.
Taufan mengangguk senang.
"Whaa… padahal rasanya baru saja kemarin aku membawamu kesini dan mengangkatmu menjadi anak, sekarang kau sudah mau pergi. Waktu itu cepat sekali ya berlalu." Ucap Anna dengan wajah sedih.
Gempa, Ochobot, Halilintar terdiam dengan wajah datar melihat keduanya.
"Maaf, Bibi, Taufan itu kesehariannya gimana?" tanya Gempa merasa tertarik.
Anna tersenyum lebar, "Lotty selalu membully-nya." Jawabnya.
"Hee…"
"Dan kau tahu? Pertama kali aku membawanya kesini, Lotty benar-benar tidak suka dan mengucapkan beberapa kata-kata pedas padanya, karena waktu itu Taufan lagi shock, begitu dia dikatai langsung nangis super keras!" seru Anna, "Susah sekali menenangkannya waktu itu.." lanjutnya.
Taufan tersenyum kecil, Gempa dan Ochobot melongo, Halilintar ketiduran.
"Lalu, saat mereka berumur sepuluh tahun, beberapa kali Lotty membully-nya dengan mengajaknya main Cinderella! Dan Lotty memaksa Taufan untuk mengenakan gaun biru langit milik Lotty yang kebesaran!"
"Heee…." Gempa dan Ochobot mulai membayangkan bagaimana sosok Taufan saat itu.
"Jangan di bayangkan!" seru Taufan sambil memukul kepala mereka dengan bantal.
Anna terkekeh.
"Jadi, mau beristirahat disini dulu sampai besok? Lihat, Halilintar sudah tertidur." Ucap Anna.
Gempa dan Ochobot segera melihat kearah Halilintar, lalu keduanya saling berpandangan.
"Maaf, merepotkan…"
"Ah… tenang saja.. tidak apa kok.."
.
.
=CoffeyMilk=
.
Selesai makan malam, Gempa keluar dari ruang makan sambil mengelap bibirnya dengan selembar tisu. Ia mendapati Taufan berdiri di beranda dengan wajah menghadap langit, diam-diam Gempa medekatinya dan melakukan hal yang sama.
"Langitnya indah ya?" tanya Gempa.
Langit saat itu memang indah, bulan bersinar keemasan dan disekelilingnya bertaburan bintang yang tak terhitung jumlahnya.
"Ya, kau benar." Jawab Taufan, matanya tak lepas dari langit di atas mereka.
Gempa tersenyum, "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
"Mereka indah," jawab Taufan.
"Bukan itu maksudku—"
"Mereka indah sepertiku." Lanjut Taufan lalu tertawa.
Gempa tersenyum kecil, Taufan sejak dulu selalu ceria, ia masih ingat saat ulang tahun mereka yang keempat, Taufan menari begitu riang dan mengajak beberapa gadis remaja ikut dengannya, dia pangeran kecil yang periang.
"Aku menanyakan tentang apa yang kau pikirkan tentang ajakan ku." Ucap Gempa kemudian.
"Aku sudah menjawabnya, bukan?" tanya Taufan sambil mengerjapkan matanya, "Aku mau." Lanjutnya.
"Kau serius?" tanya Gempa balik.
Taufan mengangguk.
"Kau tak sedih meninggalkan tempat ini?" tanya Gempa.
Taufan tertawa lepas, "Untuk apa aku sedih?" tanya Taufan.
"Hmm… karena kau sudah tinggal disini lama sekali?" jawab Gempa setengah bertanya.
Taufan merangkulnya, "Aku bahkan lebih sedih jika aku terpisah dengan kakak-adikku." Ucapnya.
Gempa terdiam mendengarnya.
"Waktu siang saat aku dikerubungi tadi aku sudah melihatmu dan Halilintar, aku senang sekali. Dan waktu kau mengajakku aku benar-benar tidak menyangka, aku tidak pernah merasa sesenang itu selama ini." Curhat Taufan.
Gempa termangu.
"Jadi tentu saja aku ingin ikut! Lalu, kapan kalian akan melanjutkan perjalanan?" tanya Taufan.
"Kalau kau mau, secepatnya." Jawab Gempa.
"Okey!"
.
.
.
"Jadi kau akan pergi?" tanya Lotty saat keempatnya bersiap untuk pergi.
"Ya! Jangan merindukanku ya, Lotty!" seru Taufan riang.
Gadis itu mendengus, "Hah? kau ingin di piting?" tanyanya sambil mendelik.
Taufan tertawa takut, "Tidak, hehe…" lalu berjalan mundur dan membentur kusen pintu.
Anna datang sambil membawa sebuah syal bewarna biru muda dan mengalungkannya di leher Taufan.
"Jaga diri ya.." ucap Anna.
Senyum Taufan merekah, seseorang pelayan datang sambil membawakan empat kotak bekal untuk mereka berempat.
"Terimakasih Bibi." Ucap Gempa.
Anna tersenyum, "Tidak, tidak apa-apa. Pastikan kalian hati-hati di jalan ya!" ucapnya.
Keempatnya mengangguk.
"Oh ya, Bibi tau sesuatu tentang Tuan Li Xiao?" tanya Gempa kemudian.
"Xiao?" Anna beusaha mengingat-ingat, "Oh, Xiao. Tentu saja aku tau! Kami satu divisi dulu! Tapi aku tidak akan memberi tau banyak, itu tugas kalian sendiri, tapi carilah kediaman Klan Li! Mirajane memberikanmu peta bukan?" tanyanya.
Gempa mengangguk dan mengeluarkan petanya, sedikit terkejut saat melihat lingkaran yang dibentuk Mirajane melingkupi dua kota.
"Tapi kenapa Bibi Mira melingkari dua kota?" tanya Gempa heran.
"Mana?" tanya Anna, lalu melihat peta, kemudian tersenyum tipis, "Itu tugas kalian untuk menemukannya!" katanya kemudian.
Gempa merengut mendengarnya, "Oh, ayolah bibi~" ucap Gempa.
"Hahaha! Tidak bisa."
Gempa menatapnya memohon.
"Tenang saja, lagi pula Taufan sudah pernah ke kedua kota itu, kalian akan menemukannya dengan mudah." Ucap Anna kemudian.
Gempa, Halilintar dan Ochobot segera menoleh kearah Taufan yang tersenyum tidak mengerti apapun. Gempa menghela napas.
"Baiklah, ayo kita pergi.." ucapnya kemudian.
Halilintar dan Ochobot mengangguk, Taufan terkejut.
"Tunggu! Tidak memakai kendaraan?" tanya Taufan.
"Jalan kaki lah." Jawab Ochobot.
"Hah? mau sampai sana berapa hari? Jauh lho!" seru Taufan.
Namun ketiga orang yang sudah berjalan di depannya tidak peduli, Taufan menatap Anna dan Lotty.
"Tidak apa, Taufan. Sesekali kau harus mencobanya, seru lho!" ucap Anna.
"Dan jangan kembali kesini lagi." ucap Lotty tajam.
"Hee?! Jahat! Baiklah, aku pergi dulu!"
"Hati-hati~" ucap Anna sambil melambaikan tangan padanya.
.
.
.
"Kenapa kau menanyakan tentang Li Xiao? Belum tentu kita akan bertemu dengannya setelah ini." Ucap Ochobot saat mereka berjalan menaiki bukit, melewati kebun penduduk.
"Aku hanya lupa satu orang lagi.." jawab Gempa sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tapi Bibi Anna tadi tidak menyanggah daerahnya tadi, berarti memang benar Li Xiao ada disana." Ucap Ochobot kemudian.
"Syukurlah kalau begitu." Gempa tersenyum.
"Haaa~ aku capek woy… berhenti sebentar bisa?" tanya Taufan.
Gempa dan Ochobot menoleh, "Kami juga capek, Fan, tapi kalau berhenti melulu kita akan lebih lama sampai." Ucap Gempa.
Taufan memajukan mulutnya.
"Heh, dasar anak mami." Ucap Halilintar setengah mengejek dan langsung mendapat hadiah berupa sikutan d pinggang, berakhir dengan keduanya yang saling sikut-menyikut.
.
Taufan menghentikan aksi sikut menyikutnya dengan Halilintar saat merasakan setetes air jatuh di tangannya. Taufan mendongak, mendapati langit terlihat mendung dan gerimis mulai turun.
"Gempa, gerimis." Ucapnya.
Gempa mendongak, ia merasakan tetesan air jatuh ke wajahnya, "Kita harus mencari tempat berlindung." Ucap Gempa.
Mereka lalu mempercepat langkah mereka dan mencari-cari sebuah tempat yang bisa di gunakan untuk berlindung. Gerimis mulai menderas.
"Sepertinya tidak ada—mungkin kita harus hujan-hujanan." Ucap Gempa.
"Gempa aku menemukannya!" seru Ochobot saat melihat sebuah gubuk tua beberapa meter disebelahnya.
Mereka segera berjalan ke gubuk itu, "Hey, apa gubuk itua ada pemiliknya?" tanya Taufan.
"Hmm… ntahlah, tapi ini kebun penduduk, mungkin gubuk ini Cuma tempat untuk istirahat, atau… mungkin ada pemiliknya di dalam." Jawab Ochobot.
Keempatnya memasuki teras gubuk itu, hujan mulai deras.
"Kita keburu," ucap Gempa.
Taufan mengetuk pintu gubuk di depannya, "Per..misi?" ucapnya.
Tak ada jawaban, Taufan mengetuk pintu itu lagi, "Permisi?"
Masih tak ada jawaban, "Permisi…."
"Sepertinya gubuk ini tidak ada penghuninya." Ucap Ochobot.
Taufan menatap Ochobot, tapi tangannya masih tertahan di atas pintu dan tanpa sengaja menekannya hingga pintu tiba-tiba terbuka.
Suara derit pintu yang bergesekan dengan lantai membuat Taufan menoleh, agak terkejut saat pintu di hadapannya terbuka. Di dalam gubuk terlihat gelap, ia memberanikan diri untuk masuk kedalamnya. Matanya celingukan dengan perasaan was-was menjelajahi seisi ruangan.
Taufan merasakan tubuhnya bagai tersengat listrik saat sesuatu menyentuh kakinya dan mulai naik keatas pingganggnya, terbata ia menunduk dan mendapati sepasang mata menatapnya dengan pandagan tajam.
"GYYYYAAAAAAAA….!"
Gempa, Ochobot, dan Halilintar menoleh saat mendengar teriakan Taufan yang membahana. Ketiganya lalu melihat kedalam ruangan tepat saat Taufan jatuh terjengkang dan pingsan.
"Taufan?" Gempa memanggilnya.
Sosok di atas Taufan bangkit, Gempa berjengit kaget melihatnya. Halilintar mengambil sebatang lilin dan korek api dari dalam tasnya lalu menyalakannya. Mereka kemudian masuk kedalam ruangan dengan penerangan lewat lilin, dan mendapati seorang nenek yang terlihat kurus dan pucat turun dari atas tubuh Taufan.
"Ma…..kaaannn…" ucap nenek itu lirih.
Gempa menghampiri nenek itu dan menyingkirkan Taufan, "Nenek tidak apa?" tanyanya.
"Ma…kaaaann…" ucap nenek itu.
Ochobot mengeluarkan dua potong roti dan memberikannya kepada nenek itu. Sang nenek segera mengambilnya dan memakannya dengan rakus.
Gempa tertawa kecil, "Nenek sangat kelaparan ya?" tanya Gempa, "pelan-pelan saja, nenek. Nanti tersedak." Lanjutnya.
Ochobot mengeluarkan kantung minum dan gelas, lalu memberikan segelas air minum pada nenek itu. Si nenek menerimanya dan meminum air itu.
Gempa dan Ochobot tersenyum, Halilintar menyalakan sebatang lilin lagi dan menaruhnya diatas tempat lilin yang ia temukan diruangan itu.
"Terimakasih, nak…" ucap sang nenek kemudian.
"Oh, tidak apa-apa, nenek. Kami juga senang dapat membantu!" ucap Gempa.
"Apa teman kalian tidak apa? Maafkan aku mengejutkannya." Ucap nenek itu.
"Dia baik-baik saja, nenek. Jangan khawatir." Ucap Halilintar, sedikit bergurau.
Si nenek mengangguk, "Oh, baiklah… apa yang bisa kulakukan sebagai tanda terimakasih?" tanya nenek itu.
Ochobot tersenyum, "Bolehkah kami menumpang sebentar di sini sampai hujan reda?" pintanya.
"Baiklah.." jawab neneknya.
"Nenek terlihat kehabisan bahan makanan." ucap Gempa.
Si nenek mengangguk, "Ya, karena itu nenek kelaparan. Tubuh nenek sudah tidak cukup kuat untuk mengambil beberapa bahan makanan di kebun, sedangkan cucu nenek belum pulang.." cerita nenek itu.
Gempa mengangguk, "Bagaimana kalau nanti kita bantu untuk mengambil bahan makanan dari kebun?" tanyanya.
Si nenek tersenyum, "Terimakasih, nak…"
.
.
.
Taufan berjalan memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, ruangan yang seingat dia selalu di pakai Anna untuk mengadakan pesta. Taufan pernah ingat ia berdansa dengan beberapa gadis pula di ruangan itu. Taufan tersenyum, namun ia tersadar.
Kenapa ia berada di kastil? Bukannya ia sudah pergi dan mengikuti perjalanan dengan Gempa, Ochobot, dan Halilintar? Batinnya.
Tiba-tiba ruangan berubah menjadi gelap gulita, Taufan tersentak, ia tak bisa melihat apa-apa. Ia mencoba berjalan ke segala arah, mencari-cari jalan keluar dari ruangan itu. Tapi, seperti ruangan itu tak ada ujungnya membuat Taufan heran, ia cukup hapal sudut-sudut ruangan itu. Lantas dimana ia?
Taufan merasakan tubuhnya merinding saat angin semilir dingin menusuk pori-pori kulitnya, dan berjengit saat merasakan sebuah tangan dingin memegang kakinya, disertai suara-suara yang memanggil namanya.
"Taaa…uu..faaaan…"
Dengan takut-takut Taufan menunduk dan menatap horor pemandangan di kakinya, seorang wanita bersimbah darah yang menatapnya dengan tatapan tajam yang siap memangsanya. Taufan merasakan perutnya serasa di aduk, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia memberontak, tapi pegangan di kakinya berubah menjadi cengkraman. Taufan tak bisa menahan diri lagi dan berniat untuk melarikan diri.
"HWAAAAAAAAHHHHHH!"
.
.
"HWAAAAAAAAHHHHHH!" Taufan terbangun dan terduduk, wajahnya pucat pasi, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Gempa yang nampak khawatir.
"HH—HAA!" teriaknya sambil bergerak mundur dan membentur dinding kayu dibelakangnya.
"Mimpi buruk ya?" tanya Ochobot terkekeh, ia tampak sedang memasak sesuatu dalam sebuah kuali.
Taufan mengatur pernapasannya, ia lalu melihat Halilintar yang tertawa mengejek kearahnya dan ia memperhatikan sekelilingnya, berikutnya ia menutup wajahnya, malu.
Gempa menyodorkan segelas air minum pada Taufan, Taufan menerimanya.
"Sejak kapan aku…" ucap Taufan.
"Kau pingsan, ingat?" tanya Gempa sambil tertawa.
Taufan terdiam untuk merespon apa yang dikatakan Gempa. Semenit, dua menit, tiga menit Gempa menunggu. Taufan menghela napas, ia ingat.
"Ah… apa yang aku lakukan…" lirihnya dan menunduk dalam-dalam.
Gempa tertawa, "Sudah-sudah, oh ya, Taufan. Ini Nenek Yun, pemilik gubuk ini." Ucap Gempa sambil menunjuk si nenek yang sudah duduk disampingnya.
"Maaf ya, nak… sudah mengagetkanmu…" ucap nenek itu.
Taufan menelan ludahnya kasar dan mengangguk.
"Hujannya sudah berhenti Taufan, sebentar lagi kita akan berangkat, tapi sebelum itu ayo makan dulu." Ucap Gempa.
Taufan mengangguk lagi dan meminum air dari gelas yang sedari tadi ia pegang.
Mereka kemudian berkumpul didepan tungku dimana sebuah kuali berisi sup sayur yang Ochobot masak sudah matang. Ochobot menuangkan sup dalam lima mangkuk kayu dan memberikannya satu kepada setiap orang yang berada di tempat itu.
.
"Terimakasih banyak, nenek!" ucap Gempa.
Nenek itu mengangguk, "Sama-sama nak… berhati-hatilah di perjalanan, tanah masih lincin sehabis hujan…" pesannya.
Keempatnya mengangguk, lalu mulai berjalan.
"Kami akan mengunjungi nenek lain kali...!" ucap Gempa kemudian, di balas anggukan oleh si nenek.
Tanah masih licin dan lembek karena hujan, keempatnya berjalan pelan hingga keluar dari kebun. Dan sepetak padang rumput menyambut penglihatan mereka.
Ochobot menatap langit cerah diatas mereka dan tersenyum lebar saat melihat biasan warna-warni di langit, "Lihat, ada pelangi!"
Tiga kembar menghentikan langkahnya lalu menatap langit dan terpana melihat pelangi yang terlihat jelas, terlihat begitu indah.
"Waw.." komentar Gempa dan Halilintar bersamaan.
"Pelangi itu indah, sepertiku.." ucap Taufan lirih sambil tersenyum lebar.
Gempa dan Halilintar langsung menoleh dengan pandangan datar, Taufan terkejut.
"A—Apa?"
Ochobot terkekeh, lalu keempatnya melanjutkan langkah mereka. Mereka melintasi hutan kecil setelah padang rumput yang mereka lewati tadi. Taufan bersenandung selama perjalanan mereka, mengikuti beberapa suara kicauan burung yang ia dengar di hutan. Jalan setapak di hutan semakin menurun dan Taufan menghentikan langkahnya saat ia mengingat sesuatu.
"Taufan, ada apa?" tanya Ochobot saat melihat Taufan termangu.
Taufan tersentak, lalu menggeleng dan tersenyum,"Tidak." Jawabnya kemudian melanjutkan langkahnya.
Keempatnya berhenti saat keluar dari hutan dan mendapati mereka berdiri diatas tebing dan di bawah sana terdapat sungai yang aliran airnya cukup deras.
"Bagaimana ini?" tanya Ochobot.
"Seingatku disini ada jembatan." Jawab Taufan, lalu mencari-cari jembatan di sekitar mereka.
Taufan berjalan sedikit, ia terkejut saat mendapati jembatan yang ia maksud sudah putus.
"Jembatannya putus," ucap Taufan lalu berjalan kembali kearah ketiganya.
"Walah, bagaimana ini…" desah Gempa.
Taufan terdiam, ia teringat hal yang baru saja ia pikirkan tadi.
"Hei, aku ingin memberitahu ini, sebetulnya daerah ini—" ucap Taufan.
Ochobot melihat seseorang berdiri di belakang Gempa dan memukul tengkuk pemuda itu kuat membuatnya pingsan, "GEMPA!" teriak Ochobot.
"—rawan perampokan." Perkataan Taufan terpotong, ia terbelalak saat melihat adiknya jatuh pingsan di hadapannya.
Ochobot berniat untuk menghampiri Gempa, namun ia terdiam saat sebuah benda tajam nan dingin menusuk perutnya. Ochobot melebarkan matanya, ia merasakan darah mengalir dari perutnya saat benda itu tercabut. Pandangan Ochobot mengabur, lalu tubuhnya ambruk.
Taufan tidak dapat berkata apapun dan segera melempar bumerang miliknya dan tepat mengenai kepala orang yang menusuk Ochobot hingga orang itu tak sadarkan diri, lalu menangkap kembali bumerangnya.
Halilintar mencabut pedangnya, ia menyerang orang yang membuat Gempa pingsan. Ia terlihat marah melihat adiknya dan Ochobot tumbang di hadapannya. Orang itu pun jatuh tersungkur setelah Halilintar membuat sebuah luka dalam di tubuhnya. Beberap orang menghadang mereka lagi, Halilintar segera menyerang mereka satu persatu dengan cepat.
Taufan berkali-kali melemparkan bumerangnya kearah musuh, lalu menangkapnya. Usahanya membuahkan hasil dengan beberapa orang yang jatuh tak sadarkan diri. Taufan melangkah kedepan dan melempar kembali bumerangnya, disaat itu pula seorang musuh beralari mendekatinya dan melayangkan tinju kearahnya.
Taufan dengan cepat menghindar dari serangan tinju musuh, namun ia melupakan tentang tanah yang ia pijak masih licin akibat hujan. Kakinya tergelincir dan Taufan merasakan tubuhnya melayang jatuh, ia menoleh ke belakangnya dengan takut dan mendapati sungai dengan aliran air yang deras tepat beberapa meter di bawahnya. Taufan merasakan tubuhnya membeku dan jantungnya berdentum kencang.
"AAAAHHHHHH!"
"Ta—Taufaaaann!"
.
.
TBC (HUAHUAHUAHAHAHA)/dipatok
Oke, pertama maafkan saya karena sejak dimulainya chapter ini sampai akhirnya Taufan kena sial mulu. Jangan lempar saya dengan kaleng, please, para fans Taufan. Dan ini juga sudah saya panjangin, maaf ya kemarin pendek.
Oh ya, btw saya punya pertanyaan. Gaya penulisan saya memburuk apa tidak ya? Atau dari awal udah buruk, atau gimana? Soalnya kalau saya baca ulang setelah nulis buat ngedit itu pasti slalu ada yg salah, amburadul atau kadang gak nyambung. Tolong dijawab ya, Thanks.
Thanks juga uda baca chap ini sama yang udah review kemarin~ dan sekarang saya mau balas review lagi :
Dari Onozuka Mikado(karena banyak, gak saya cantumin)
Buat komentarnya, iya disini Taufan gak ada konfliknya, soal kenapa teman-temannya gak ikut bantu-bantu entar malah kebanyakan orang, saya juga nulisnya bakal bingung. Buat kritiknya, tenang saja saya bakal rambahin konfliknya kok, tapi kalau sampai ada yang mati kayaknya pikir-pikir dulu… Buat pertanyaannya, Orang tua mereka gimana? Menurutmu gimana? Sepertinya sih sudah meninggal ._. Review lagi ya! :D
.
Dari Another Guest Tidak apa-apa kok. BTW terima kasih sudah membalas review saya! Saya tetap menanti chapter selanjutnya! Masuk ke pertanyaan saya. Kenapa Taufan mudah sekali untuk diajak? Lalu, siapa Boboiboy yang selanjutnya? Dan kan Gopal dan Yaya sudah muncul, Bagaimana dgn Ying dan Fang? Dan apakah Tok Aba juga akan muncul di cerita ini? Mohon dibalas ya!
Thanks juga uda review :3 untuk pertanyaannya alasan Taufan mudah untuk diajak uda ada dicerita ya… untuk Bbb yg bakalan muncul selanjutnya itu rahasia, kan gak asik kalo diberitahu duluan. Untuk Ying sama Fang nya bakal muncul sebentar lagi, mungkin satu atau dua chapter lagi, tapi Tok Aba gak saya masukin. Review lagi ya!
.
Dari Anissa AT Kepada author yang terhormat (#lebay), abis Taufan nyari siapa lg? trus kenapa si taufan lari pas ada Yaya? apakah karena biskuitnya yang luar-binasa rasanya itu? #ditendang_yaya. Semangat trus ya author dan lanjutkan chapter ini secepat mungkin!
Rahasia dong ya. Iya, dia lari karena biskuit Yaya/ikutditendangjuga. Oke ini udah lanjut, thanks. Review lagi ya!
.
Dari Hikmah Nanti chapter ke lima ny api yaaaaa
Eh, tapi chapter lima kan udah lewat?
.
Dari Guest air kapan muncul?
Kapan ya? Maunya kapan?
.
Dari Azure Ak... akhirnyaa! Taufan muncul jugaa... XD Tp... Taufan, kenapa kau jd playboy gitu? Aku kecewa sama kamu... #nyodorin Yaya yg pegang biskuitnya ke Taufan He? Bumerang?#speechless... Ah! Buatkan pertarungan Hali vs Taufan, ya! petarung jarak dekat vs petarung jarak jauh. Mana yg menang, ya? Ok, lha. Kali ini gak terlalu panjang. Next chap!
Jangan tanya ke saya, tanya langsung ke orangnya/plak. Iyap, bumerang tapi ada yang lain juga. Untuk peratarungan Hali vs Taufan kayaknya belum bisa, untuk buat itu saya harus nyari refrensi dulu, tapi akhir2 ini saya kena sindrom malas/curhat, kapan2 ya~ review lagi~
Oke, selesai. Untuk chapter ini, jangan lupa review lagi ya! Komen, kritik, saya tunggu!
Adios!
