I am back!

Hohoho..

Enjoyed!

Maaf bila tidak EYD!

Ditunggu reviewsnya, ya!? ^^

Deep Bow..

Ichi...

Ni...

San...

StorySix

2 July 20**

07.30 P.M, Gangnam, Seoul.

Di perumahan pinggiran Gangnam.

" Aku Pulang!," sapa Sungmin tak semangat saat memasuki rumah yang ia sewa dengan 2 orang chingu. Ia melepas high heels 12 cmnya. " Selamat datang…!," sambut Kibum senang, ia setengah berlari dari arah dapur sambil membawa sumpit. " Kau pulang juga Eonnie," ucapnya lega.

" Hah.. kau sudah pulang? Tumben?," Sungmin melenggang masuk diikuti Kibum dibelakangnya. " Ah.. sudah jangan banyak tanya! Cepat cuci muka dan tanganmu! Soup Ayam Gingseng dan Samgyetangnya akan keburu dingin," Kibum mendorong tubuh Sungmin menuju kamar mandi bawah sebelah ruang cuci dipojok dekat dapur.

" Aku menunggumu sambil menahan liurku.. aku sangat lapar!," racau Kibum dari meja makan dengan pipi yang digembungkan imut. Luntur imejnya sebagai princess ice.

" Shin Ahjummah yang mengirimkan makan-makanan itu?," tanya Sungmin dari dalam kamar mandi dengan sedikit berteriak. " Ne.. tadi dia menyuruh Raejoon kemari," balas Kibum yang menatap lapar makanan didepannya.

" Bummie.. apa kau sudah mengeluarkan sebagian isi walking clohtes Heechul Eonnie?," Sungmin langsung mengeringkan tangannya dan duduk berhadapan dengan Kibum di meja makan. " Baru sedikit! Aku menunggumu Eonnie! Aku tidak sanggup mengerjakannya sendiri," Kibum mengambilkan nasi kedalam mangkuk makannya dan Sungmin. " Kau sesiangan kemana? Sulit sekali menghubungimu?!," Kibum menyerahkan mangkuk nasi Sungmin. " Aku.. handphoneku titipkan pada Zhoumi. Dia juga memberitahuku kau menelepon terus," Sungmin menyendokkan kuah Soup Ayam Gingsengnya kemulut. " Haaah.. mashitaaaaaaaaaaaaa! Aku jadi merindukan rumah..!," Sungmin langsung menyantap makan malamnya dengan lahap.

" Lalu, kenapa tak balas menghubungiku?," tanya Kibum yang sama-sama sedang sibuk melepas daging ayam dari tulangnya. " Hehehehe.. mian Bummie! Aku tadi menelepon Abojiku, dia juga meneleponiku terus," balas Sungmin.

" Ahjusshi?," Kibum balik bertanya. Sungmin mengangguk dengan mulut penuh. " Makannya pelan-pelan saja!," Kibum memberikan segelas air putih dihadapan Sungmin, yeoja itu hampir tersedak. " Sehabis mandi.. kita harus segera mengosongkan walking closet itu! Sebelum Eonnie pulang tadi, Ahjummah memberi tahu bahwa anak itu sudah tiba dari Jepang siang tadi," Kibum menyampaikan pesan dari Shin Ahjummah.

Tiba-tiba Sungmin terdiam menghentikan makannya. Saat Kibum mengatakan Jepang, ia teringat dengan kejadian tadi siang yang menimpanya dan seorang namja muda, Cho Kyuhyun. Dia juga datang dari Jepang. Seulas senyum terukir diwajah manisnya, keningnya dicium oleh namja itu. Ya, walau tak sengaja. " Eonnie.. Gwaenchanayo?," Kibum melambai-lambaikan tangannya dimuka Sungmin. " Hah.. ne?! jeongmal anak itu sudah tiba? Lalu, eodiga?," Sungmin sadar dari lamunannya.

" Shin Ahjummah bilang.. bocah itu malam ini akan menginap dihotel dulu! Baru nanti pagi Shin Ahjusshi menjemputnya," Kibum meneruskan makan malamnya. Sungmin hanya merespin dengan ber-oh-ria.

" Dan Bummie.. kau sudah mendapatkan assisten? Berapa mahasiswa yang mendaftar menjadi assistenmu?," Sungmin merubah topic perbincangan. Sekarang giliran Kibum yang terdiam. " Ottokkhae keadaan kampus kita sekarang? Aku merindukan suasana universitas! Ah.. aku juga merindukan beberapa dosen kita. Prof. Ahn Joohui, Tuan Cha Byunhoon, Nyonya Kim Jaenna, Soo Inhae Seongsaenim.. dan para tutorku yang lain! Kyaaa..," ujar Sungmin penuh semangat.

Kibum masih belum merespon celotehan Sungmin yang menanyakan keadaan National University of Korea. " Bummie..! waeyo? Marhaebwa! Apa yang terjadi di kampus?," tegur Sungmin menatap saengnya. " Pelamarnya?," Sungmin mengulangg pertanyaan awalnya.

" Ah.. pelamarnya, ya?," Kibum kembali kealam sadarnya. " Itu! Map-map cokelat itu," tunjuk Kibum pada setumpuk map cokelat bertali yang tergeletak diatas meja diruang tivi. " Berapa pelamar?," Sungmin menatap map-map itu ingin tahu. " Tak banyak.. hanya 20 orang saja," jawab Kibum sekenanya. " 20 orang itu terbilang banyak," Sungmin tersenyum pada Kibum. Tapi, sepertinya uri Kibummie pikirannya masih melayang pada kejadian siang tadi. Sesuatu terjadi di kampus dan Kibum sengaja tak menceritakannya pada Sungmin. Ia sekilas tersenyum getir, saat sekilas bayangan namja itu melintas diotak pintarnya.

" Kau.. mau membantuku menyeleksi assisten tidak Eonnie?," Kibum memandang Sungmin penuh harap. " Mwo? Aku? Menyeleksi para pelamarmu?," Sungmin memastikan permintaan Kibum padanya. Kibum mengangguk membenarkan. " Ne! baiklah.. tapi, setelah kita selesai dengan walking closet Heechul Eonnie dulu? Ottokkhae?,".

" Baiklah.. kita harus cepat, karena housemate kita yang baru akan tiba besok. Tak mungkin kita membiarkannya tidur disofa ruang tivi bukan?," Kibum menyetujui usul Sungmin. Mereka melanjutkan acara makan malam mereka dengan diakhiri perebutan paha ayam terakhir dan perebutan potongan daging sapi terakhir oleh keduanya. Sama-sama tak ada yang mau mengalah.

KyuMin b(_)d

" Aaaaahhhhhh… segarnya sudah mandi! Berendam dengan air hangat itu yang terbaik! Aku akan tidur nyenyak kalau begitu," Sungmin sedikit melakukan peregangan didepan pintu kamar mandi, dengan sebuah handuk putih melingkar dilehernya.

" Kau sudah selesai mandinya Eon?," Kibum turun dengan membawa kardus terakhir dari walking closet Heechul yang telah kosong dan bersih. Sungmin tersenyum dan mengangguk pada Kibum. " Dan luka dilututmu itu sudah diobati?," tunjuknya pada lutut Sungmin. Lagi, hanya dijawab dengan anggukkan.

Lalu, " Itu yang terakhir?!," tunjuk Sungmin pada kardus abu-abu yang dibawa dari lantai atas. " Nde.. jawab Kibum yang langsung meletakkan kardus tersebut diruang tivi bersama barang-barang bermerk lainnya milik Heechul Eonnie. " Kau mandilah dulu Bummie!," perintah Sungmin seraya ia membuka kulkas dan menggambil susu vanilla.

" Sepertinya berendam air panas menyenangkan juga?!," Kibum menatap Sungmin dari atas sampai bawah yang tengah meminum susunya. " Kau benar! Cobalah.. kau akan merasa sangat dimanjakan!," ucap Sungmin agak berlebihan.

Kibum segera berlalu kekamarnya mengambil handuk dan piyamanya. " Eon, aku baru melihat kau mengenakan piyama itu lagi, sudah lama sekali..," Kibum menunjuk tubuh Sungmin yang berbalut piyama lengan panjang yang agak kebesaran berwarna baby blue bergaris vertical berwarna ungu pastel. " Ia.. tiba-tiba aku ingin memakainya," Sungmin mengaruk kepalanya gatal bercampur salah tingkah.

" Merindukan rumah, hah?," tanya Kibum tersenyum maklum pada Eonninya itu. " Pulanglah kalau ada kesempatan dan waktu.. Lee Ahjusshi pasti sangat merindukanmu," nasehat Kibum. " Sini biar aku foto kau dengan piyama yang diberikan Lee Ahjusshi sebagai hadiah ulang tahunmu saat ke 22!," Kibum segera mengambil kamera polaroidnya. " Kyaaaaaaaaaaa…! Andweeeeee.. Bummie!," jerit Sungmin histeris. Terjadilah aksi kejar-kejaran didalam rumah kecil tersebut, Kibum yang dianugrahi tubuh yang lebih tinggi dri Sungmin dan kaki jenjang, membuat langkahnya lebar untuk menghindari Sungmin yang berusaha merebut photo polaroid itu.

Keduannya tertawa dan saling mengolok satu sama lain, dua yeoja dewasa yang saat ini tengah bertingkah kekanak-kanakkan. Tak ada yang ingin mengalah sepertinya. Ya! Kibum dan Sungmin terbilang cukup akrab, karena keduanya berasal dari sekolah khusus yeoja yang sama pada saat High School. Kibum dengan otak pntar bisa aksel sehingga keduanya bisa satu angkatan. Sampai masa kuliah pun mereka satu kampus, hanya saja berbeda jurusan.

Keadaan rumah malam itu cukup berisik dengan pekikan cempreng Sungmin, ia mengerutu sebal pada Kibum yang mencoba menjajilinya. Kibum selalu sukses menghindar dari kejaran Sungmin, dan itu cukup membuat yeoja manis itu kesal. Dan mari kita tinggalkan dulu acara kejar-kejaran BumMin a.k.a Kibum Sungmin.

KyuMin~~ (^_*)v

Disebuah kamar hotel mewah dikawasan Distrik Gangnam. Jam dinding disana sudah menunjukkan pukul 22.30 kst. Tapi, itu tak membuat sang penghuni kamar segera pergi kealam mimpinya, Kyuhyun masih tengah disibukkan dengan dua buah laptop bermerk; hitam dan silver dan sebuah benda berbentuk candy bar, yang dinamakan PSP. Kyuhyun dan dunianya sendiri, begitulah orang-orang terdekatnya beropini. Termasuk Aboji dan Ahra Noona menyebut gadget-gadget canggih milik Kyuhyun sebagai; sahabat, selingkuhan, dan pelarian Kyuhyun dari kehidupan nyatanya.

Kyuhyun namja muda itu tengah asik dengan permainan virtualnya, ia tak merasa kesulitan saat memainkan lebih dari satu jenis permainan dari dua buah laptop dihapannya. Ia terus menyerang, menembak, menerobos, mengendalikan, dan mencetak point. Jari-jari kurus panjangnya lihai menari diatas keyboard. Matanya menatap bergantian layar laptopnya, sesekali ia mendecih sebal bahkan mengumpat kasar saat ia meleset, kalah tertembak lawan, atau gagal mendapatkan sesuatu. Seharian hingga tiba di Hotel Kyuhyun lupa diri, ia tak langsung membersihkan dirinya. Dia langsung tidur, dan saat bangun dia langsung menyalakan gadget-gadget tersebut, sampai-sampai ia belum mengisi perutnya dengan sesuatu yang mengenyangkan. Bekas soda, keripik, dan beberapa makan ringan lainnya tercecer dimana-mana. Aigo! Bocah ini. Jangankan makan, untuk meminum obatnya saja ia belum menelannya sebutir pun.

Hingga sebuah panggilan menyadarkannya dari Dunianya, ia segera bangkit dari duduk nyamanya, dan berjalan menuju nakas kayu yang ada disebelah kasur king sizenya. Smart phonenya bordering, wajahnya cerah saat mengetahui siapa yang menghubunginya disaat dia masih canggung dan tak tahu harus berbuat apa dengan Seoul. Nae Loveble Noona.

" Noona..", gumamnya, segera Kyuhyun mentouch tanda hijau dilayar smart phonenya. " Moshi-moshi! Yeobseo..!," sapanya girang. " Annyeong! Kyunnie..," balas lembut dari seberang sana. Kyuhyun segera mendudukkan dirinya dipinggir kasur, senyuman lebar tergantunng diwajah tampannya. " How Seoul?," Ahra mencoba mencari topik.

" Yah… tak ada yang istimewa! Aku merindukkan Shibuya.. Manikineko.. Tokyo.. Harajuku.. dan Shinjuku," Kyuhyun menatap sebal kearah jendela hotel yang menampakkan kehidupan malam Gangnam. " Bukannya tak ada yang istimewa! Kendeu.. belum! Pasti kau berbicara seperti itu karena kau belum berkeliling?," jawab Ahra terdengar dewasa dan sabar menghadapi namsaeng satu-satunya ini. " Tsk..! terserah sajalah.. apa katamu Noona," decih Kyuhyun sebal.

" Bagaimana flightmu? Otte?," Ahra mengalihkan pembicaraan. " Lancar," jawab Kyuhyun singkat. " Kau pasti bisa bertahan Kyu! Aboji berusaha melakukan yang terbaik," Ahra mencoba menasehati. " Ck.. baik untuknya! Tidak baik untukku," Kyuhyun menatap langit-langit kamar hotelnya, dan sebuah desahan pelan ia keluarkan. " Ayolah Kyu..! berhenti memusuhi Aboji, beri dia kesempatan. Jangan mempersulitnya sebagai orang tua tunggal," dengan nada penuh kesabaran Ahra mencoba menasehati saengnya tersebut, ia tak mau terlalu menekan atau memaksa apalagi kasar dengan Kyuhyun.

" Kau dibayar berapa olehnya untuk mengguruiku?!," tuduh Kyuhyun pedas. " Kyuuu..!," panggil Ahra yang berusaha menahan kesalnya mendengar perkataan Kyuhyun yang selalu negative tentang sang Ayah. " Dengar! Aku lelah harus berada diantara kalian terus, 2 minggu lagi aku akan pergi ke Dubai. Aku mengikuti Hyung Iparmu bertugas disana, tidak tahu akan sampai kapan.. yang jelas lebih dari 2-3 tahun," ungkap Ahra berusaha berhati-hati. Kyuhyun yang mendengar rencana Noonanya, sontak bangun dari sikap tidurnya, ia langsung duduk ditempat dengan wajah agak shock.

" Haah.. yang benar saja? Kau tidak boleh pergi! Lalu, pada siapa aku mengadu, bercerita, dan.. meminta tolong bila namja tua itu berulah?," rengek Kyuhyun egois. Diseberang sana Ahra mendesah bingung dan prihatin, atas sikap saengnya yang kelewat manja dan bergantung pada dirinya semenjak sang Eomma meninggal. " Kyuhyun-ah!.. dia Nampyeonku, kami sudah menikah. Aku tak bisa berjauhan darinya dan aku membutuhkannya, aku tak bisa membiarkannya hidup sendiri mengurus kebutuhannya seorang diri! Apa gunanya aku sebagai istri?,".

" Oh.. kalau.. kalau begitu, pergilah! Selamat bersenang-senang di Dubai! Jangan khawatirkan aku!,". " Aigooo…! Bocah ini..!," keluh Ahra jengkel. " Yaak! Siapa yang bersenang-senang? Dewasalah Kyu! Ah.. hanya buang-buang pulsaku berbicara denganmu!," protes Ahra yang sepertinya ingin segera mengakhiri sambungan telephonenya. Kyuhyun terdiam, dia tak tau harus berkata atau merengek apalagi agar Noonanya tidak pergi. Dia tidak ingin menghabiskan liburan Natal dan Tahun Barunya tahun ini hanya dengan Abojinya, gengsi harus tetap dipertahankan.

" Kyu! Kau masih disana? Huft.. aku akan meneleponmu lagi nanti, beristirahatlah! Aku dengar besok pagi Shin Ahjusshi akan menjemputmu, lalu membawamu ke Sekolah Barumu dan setelah itu kerumah yang akan kau tinggali. Jaga kesehatan, pola makan, belajarlah yang rajin, ubahlah sikap dan sifatmu.. Semuanya menyayangimu! Jaljayo Captain Cho~~~..," pesan Ahra sebelum benar-benar memutus teleponnya. " Satu lagi.. Saranghae Kyu~~!,".

" Tuuuut.. tuuut.. tuuut..!," suara dari akhir panggilan. " Nado.. Noona," ucap Kyuhyun lemah, belum sempat sang Noona mendengarnya. Kyuhyun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela besar, ia menggeser jendela kaca tersebut-langsung keluar menuju balkon-. Kyuhyun menghirup banyak-banyak udara malam Seoul, menyapukan pandangan keseluruh distrik Gangnam yang masihh hiruk pikuk dan tak terasa setetes air mata lolos dari sudut matanya yang menatap sendu.

" Eommaaa…! Nan bohoshipooo~~," lirihnya lemas. " Apa yang harus aku lakukan setelah malam ini di Negara asalmu? Aboji? Aku harus bagaimana terhadapnya? Begitu sangat kau mencintainya Eomma?," ujarnya pada udara dingin Gangnam. Sebuah sapuan lembut menyentuh wajah sendu Kyuhyun, bergerak ramah menyapa kulit pucatnya dan rambut ikal brunettenya yang berantakkan. Bukan angin dingin, tapi sebuah udara hangat yang Kyuhyun rindukan. Mungkinkah itu sentuhan sang Eomma?. Yang jelas itu sangat membuat nyaman Kyuhyun.

KyuMin v(˘_˘)Ґ

Perumahan Di Pinggiran Gangnam.

08.30 Pagi KST

" Bummieeeeeee…!," panggil Sungmin dari arah ruang tamu. " Ndeee..!," sahut Bummie yang berada di lantai dua. " Semuanya sudah rapi?!," tanya Sungmin. " Sudah! Beres!," teriak Bummie tak mau kalah dari teriakkan Sungmin. " Cepat turun kau!," perintah Sungmin pada Bummie. Ia menatap puas dengan keadaan ruang tamu mereka yang agak berantakkan dan penuh dengan belasan box plastic, kardus, gantungan besi, dan hal sejenisnya. Beberapa keranjang pakaian pun ada.

" Drap.. Draaap..!," suara langkah kaki Bummie menuruni tangga. " Tinggal menunggu Bibi Shin dan bocah tersebut," ujar Sungmin saat Bummie sudah diruang tamu.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi, dan seseorang tengah berbicara melalui intercom. Bummie dan Sungmin segera bergerak menuju layar intercom tersebut. Dan betapa kagetnya kedua yeoja tersebut, saat mengetahui siapa yang datang tiba-tiba diluar jadwal.

" Heechul Eonnieeee..!," seru keduanya bersamaan. Dan saling memandang horror. " Kenapa dia pulang? Ottokhae?..," risau Bummie yang salah tingkah. " Aigoo.. katanya baru minggu pulang?! Aiissh.. aku belum memikirkan alasan," sambung Sungmin memasang wajah berfikir. " Ayo! Berfikir..!," titah Sungmin pada otaknya sendiri. " Min Eonnie.. Apa yang harus kita lakukan?," Bummie balik bertanya, wajahnya sudah panic setengah mati. Dia belum siap meladeni kemurkaan sang Cinderella, apalagi orang yang seharusnya bertanggung jawab menjelaskan-Shin Ahjummah; pemilik rumah- belum datang bersama anak itu.

Sedangkan saat keduanya tengah berfikir, sang Cinderella menekan bel dengan tidak sabaran. Mengetuk-ngetuk pintu rumah dengan brutal, ia tak datang sendiri; datang bersama sang Manager sekaligus Assisten pribadinya Lee Hyukjae -yeoja yang bertubuh lebih kurus dan pendek darinya, berambut ungu pastel yang membuatnya terlihat manis-, tengah menunggu seseorang membukakan pintu. Dan masalahnya Heechul kita yang Agung tengah datang bulan ditambah dia masih mengalami jetlag, sebuah masalah besar jika membiarkannya menunggu.

" Yaaaaaaaaaakk…! Lee Sungmiiiiiiiiin…! Kim Kibuuuuuuuuuum…! Cepat buka pintunya!," teriak Heechul geram, Hyukkie yeoja itu hanya menutupi telinganya saking tingginya teriakkan Artisnya tersebut. " Aku tahu kalian didalam!," teriaknya lagi tanpa mengurangi sedikit pun oktafnya.

" Cepaaaaaaaaaaaatt!,". Hyukkie yang melihat tingkah Heechul hanya menggeleng bingung. " Kenapa dia tak membukanya sendiri saja, sih? Inikan rumahnya juga, dia pasti tau passwordnya.. aissh! Kim Heechul ini benar-benar," rutuknya dalam hati.

" Jangan coba-coba cari masalah denganku, yaaaa!," ancam Heechul tanpa ampun, Hyukkie yang mendengar dengan jelas ancaman tersebut langsung merinding. Dia dapat membayangkan nasib seperti apa yang akan menimpa dua yeoja manis tersebut jika tak segera membukaan pintu tersebut.

Sedangkan didalam rumah. " Bummie..! jangan panic.. kita pasti bisa menghadapi yeoja itu, seperti biasa kita pasti bisa melawan kata-katanya yang berbisa itu." Ucap Sungmin berusaha menenangkan dirinya sendiri dan Kibum. " Ya..! Nde.. kau benar, hal seperti ini sudah sering terjadi diantara kita bertiga. Bahkan ini bukanlah yang paling parah," Bummie menyetujui perkataan Sungmin. Ia segera menarik pergelangan Sungmin untuk menemaninya membuka pintu.

" Yaaa…! Chakkaman Eon…!," balas Bummie setengah teriak untuk membalas panggilan Heechul. Dengan tangan yang bergetar, Sungmin membuka tombol kunci, ia memasukkan password. Begitu juga lengan Bummie yang tak kalah bergetar dan berkeringat dingin saat akan memutar kenop pintu.

" Ya..! apa yang sedang kalian lakukan? Buka pintu lama sekali?," tanpa babibu ia melenggang masuk melewati Sungmin dan Bummie yang sedang berekspresi tak terbaca juga membiarkan Hyukkie didepan pintu sendirian dengan 1 koper besar dan 2 koper sedang miliknya dengen ekspresi mulut ternganga tak percaya dengan tingkah Heechul padanya. Sungmin yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi memilih membantu Hyukkie membawa masuk koper-koper tersebut, ketimbang mengikuti Bummie yang berjalan menyusul Heechul kedalam.

Tanpa perlu waktu lama. " YAAAAAAAAAAAAAAAKKK… IGEEEEE MWOYAAAAAA?!," teriak Heechul saat melihat barang-barangnya menumpuk dan tergeletak diruang tamu. Dengan kasar ia melepas kacamata hitamnya, mulutnya terbuka lebar dan mata besarnya melihat sekeliling. Dua housematenya belum ada yang buka suara untuk mejelaskan apa maksudnya ini.

" BARANG-BARANGKUUUUUUUUUUU~~!,"

" Wae? Wae? WAEYOOOOOOOOOO?.. BAGAIMANA BISA ADA DISINI?,"

Heechul segera menoleh, ia menatap tajam satu per satu pada rekannya sekaligus yeosaengnya itu. Sungmin dan Kibum yang dipandang keduanya malah saling melempar pandangan. " Wae? Ada apa ini? Lee Sungmin.. Kim Kibum?!," tanya Heechul tak sabaran dengan nada rendah tapi, mengintimidasi.

" Apa.. Shin Ahjummah mengusir kita?," ujar Heechul berspekulasi.

" Apa kalian belum bayar uang sewanya? Kalian menunggak? Haah!," nada bicara Heechul perlahan meninggi. Ia mendekati Sungmin dan Kibum, ia menatap penuh menuntut. Sungmin dan Kibum masih diam, kedua yeoja itu tidak tahu harus memulainya menjelaskannya dari mana.

" Yaaaaaak! Jangan diam saja!," tuntut Heechul. " Katakan sesuatu!,". Sungmin sudah siap untuk membuka mulutnya, tapi ia juga bingung harus berkata apa. " Kan, sudahku bilang pada kalian! Tolong kalian pinjamkan dulu uang kalian untuk menutupi pembayaranku.. aku akan membayarnya setelah pulang dari Nami! Aissh…," racaunya gusar. Heechul menghepaskan tubuhnya kasar keatas sofa di sebelah Eunhyuk yang terlebih dahulu sudah duduk tanpa dipersilahkan terlebih dulu.

Heechul melipat tangannya didada dan memandang sendu pada barang-barang mahalnya. " Kalau sudah.. diusir kita mau mencari sewa dimana lagi? Ini terlalu mendadak!," gumamnya yang sepertinya sudah agak tenang.

" Mmh.. anu! I-itu.. maksud kami.. kami bisa menjelaskannya," cicit Sungmin sambil memainkan ujung bajunya. " Menjelaskan apa?!," jawab Heechul ketus.

" Kau ini Eonnie! Datang-datang langsung berteriak, marah-marah..," tegur Kibum datar. " Yak! Bagaimana aku tidak teriak murka? Saat aku pulang semua barang-barang pribadiku sudah masuk kotak dan ditaruh diruang tamu? Haah..," elak Heechul tetap ego.

" Neo!," tunjuk Heechul tepat pada hidung mancung Sungmin dan Kibum, matanya menatap sengit kedua yeoja itu. Eunhyuk yang tengah duduk memandang bingung pada tumpukkan barang-barang Heechul.

" Jelaskan apa ini maksudnya, haah?," tuntunya tidak sabaran. Sungmin menelan air liurnya sulit, ia melirik Kibum. Yeoja itu tampak tenang dengan wajah poker facenya.

" Aigooo… baju-baju mahalku~~," keluhnya menatap iba pada pakaian-pakaian mahal itu. " Seharusnya mereka digantung! Tidak disatukan seperti ini!," sambungnya lirih.

" Apa yang terjadi, haah? Kalian sedang kerja bakti membersihkan rumah bukan?," nada suara Heechul kembali terdengar marah. Ia menatap penuh menuntut pada Sungmin dan Kibum yang masih bungkam. Eunhyuk memandang was-was keduanya.

" Be-begini.. Eo-eonnie," Sungmin gugup, mencoba menjelaskan. " Cepat jelaskan!," respon Heechul mulai merendahkan nada suaranya. " A-anu.. Mi-mianhae! Barang-barangmu ini~~," cicitnya sedikit menunduk takut-takut. " Aku belum butuh maafmu Lee Sungmin! Aku butuh penjelasan," salip Heechul menahan sabar pada yeoja manis ini.

Sekilas ia melirik Kibum yang masih terlihat datar, berbeda dengan Sungmin yang sudah pucat kebingungan bercampur rasa takut. " Se-sebenarnya.. kami punya penjelasan tentang ini," sambung Sungmin mencoba memberanikan diri.

" Kami.. kami mendapat penawaran dari.. Nyonya Shin," sambung Sungmin singkat. " Penawaran," Heechul berkerut bingung.

Kibum lalu maju selangkah mendekati Heechul yang tengah berdiri diantara box dan rak pakaiannya, saat Sungmin akan kembali membuka suara. " Kita tidak mempunyai pilihan lain, bila tidak ingin untung Eonnie,".

Heechul langsung memandang Kibum bingung bergantian pada Sungmin yang tengah memandang was-was Kibum. " Untung apa itu?," ada nada ketertarikkan didalamnya. Seulas seringai tipis langsung tercetak diwajah cantik Kibum mendengar Heechul.

" Kami membutuhkan salah satu ruanganmu, Eon! Karena menurut kami hanya tinggal itu yang bisa terpakai," jawab Kibum. " N-nde," Sungmin menggangguk membenarkan. " Hei! Kim Kibum jangan bertele-tele denganku! Katakan yang singkat," titah Heechul melunak.

" Kami mendapat penawaran yang sangat menarik dari Nari Ahjummah.. bukan begitu Sungmin Eonnie?," Kibum menoleh pada Sungmin sedang sebuah senyuman lebar tanpa beban pada Sungmin yang tengah bingung dan khawatir akan Heechul.

" Persekutuan apa yang kalian buat dengan Nyonya Shin itu, hah?!," Heechul mendekati Kibum. Kibum hanya tersenyum (lagi), " Mmmh.. kami tidak bisa menjelaskannya secara detail, sebentar lagi yang punya rumah akan datang dengan "keuntungan" kita," Kibum membuat gestrur tanda kutip saat mengatakan keutungan.

" Jadi itu alasannya kalian berdua sudah siang seperti ini masih berada dirumah?," Heechul menatap Sungmin dan Kibum bergantian dengan tatapan curiga. Sungmin mengangguk membenarkan, " Heechul Eonnie.. tenang saja, ini tidak akan mengecewakan," ujarnya dengan nada hati-hati.

Heechul melipat kedua lengannya didada dengan angkuh, ia masih menatap tajam Kibum dan Sungmin. Dan itu cukup membuatnya goose bumps. " Awas saja bila itu berita buruk.. dan bukan untung malah buntung Nona Kim dan Nona Lee!," ujarnya dalam, yang terdengar seperti sebuah peringatan.

" Hanya menitipkan seorang bocah saja," Kibum tersenyum singkat pada Heechul yang sedang memasang wajah waspada, kalau-kalau itu adalah kabar buruk. "MWOOOO!?," respon Heechul histeris.

" Menitipkan anak? Ka-kau gila Kim Kibum.. Lee Sungmin!," tunjuk Heechul dengan telunjuk lentiknya yang dinail art cantik dengan warna Pink tepat diwajah keduanya (Lagi). Dengan polosnya dan tampang manis, kedua yeoja itu mengangguk.

Heechul bertolak pinggang dan mendesah kasar, " Kalian pikir kita ini Nanny, haah? Panti social.. tempat penitipan anak? Dimana letak untungnya Kim Kibum.. Lee Sungmin?!," tuntutnya kesal. Kibum memutar matanya malas. " Kau tenang saja.. bukan anak biasa!," ujarnya singkat, semakin membuat Heechul penasaran.

" Bukan anak biasa? Lalu? Dia anak presiden? Perdana menteri? Seorang Pangeran? Putera Mahkota, haah?! Jangan bercanda dengankuuu!," dengan nada meremehkan. " Kita hanya dititipkan oleh seorang remaja saja! Jangan berlebihan, Eon!," ujar Kibum dengan nada sedikit membentak.

" Umur sekitar 18-19 tahun, Eonnie," cicit Sungmin menambahkan dengan nada hati-hati, tidak berani melihat Heechul.

Heechul memasang wajah setengah terkejut dan tidak habis pikir. Ya! Tidak habis pikir dengan pemikiran kedua Yeosaengnya itu. " Remaja? Dan berumur 18-19 tahunan?," ulangnya. (Lagi) Kibum dan Sungmin mengangguk.

" Aigooo! Oh.. Hyukkie-ah!," jerit Heechul, memanggil assistennya. Hyukkie yang merasa terpanggil namanya pun langsung menegakkan tubuhnya saat Heechul menatapnya seolah minta pertolongan. " Bantu aku berfikir! Apa keuntungan yang didapat dengan keberadaan seorang remaja tanggung dirumah ini, haah?!," ada nada mengejek didalam ucapan Heechul.

Yeoja bertubuh curve itu malah balik menatap kearah Kibum dan Sungmin bergantian. Yang ditatap langsung memutus kontak dengan Hyukkie. " Masa dimana jiwa pemberontak.. dan mencoba melanggar aturan," sambung Heechul tegas dan penuh penekanan.

Kibum hanya mampu mendengus sebal, jujur ia mulai kehabisan kata. " Itu, sih dirimu Heechul Eonnie.. rebel, menerobos aturan," ujar Kibum sekenanya.

Dan malah dihadiahi pelototan tajam. Sungmin dengan reflek langsung mengucapkan, " 60 persen!," pada Heechul. Heechul langsung bertolak pinggang dan mengalihkan tatapannya pada yeoja manis itu. " 60 persen, Mwo?!," tanyanya mulai bosan.

Sungmin langsung kebingungan dan mengigit bibir bawahnya gugup. " Engh..ng.. ya! Shin Ahjummah.. di-dia…," ucapnya terbata-bata. " Menawarkan 60 persen saja untuk pembayaran uang sewa rumah. Itu keuntungan kita, bila mau menerima anak itu," salip Kibum cepat, menatap santai Heechul yang raut wajahnya mulai menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik (semoga).

" Maksudmu.. bila kita menerima bocah itu disini, kita mendapatkan potongan sebesar 40 persen dari biasanya?," ujar Heechul dengan nada suara dibuat senormal mungkin, Kibum dan Sungmin mengangguk. Sungmin mengangguk antusias sambil tersenyum membenarkan.

" Aku.. maksudku, kita masing-masing hanya perlu membayar 20 persen saja setiap bulannya selama bocah itu tinggal bersama kita?!," ulang Heechul memastikan, ia tetap memasang sikap sok tenangnya untuk tidak terlalu senang, karena jujur ia masih sangat kesal dengan apa yang terjadi dengan walking closetnya.

Ada jeda cukup lama, Heechul malah menatap Hyukkie yang tengah menatapnya bingung. " Penawaran yang sangat menggiurkan! Tepat pada waktunya. Kendeu, kalau aku hanya membayar 20 persen.. berarti financialku akan sangat aman. Aigooo! Si monyet betina ini mendengarnya lagi, bias-bisa dia minta kenaikkan gaji.. Mianhae! Lee Hyukjae.. sepertinya kenaikkan gajimu aku tunda dulu, aku ingin menggunakannya untuk mengambil mobil baru," debat batin terjadi dalam dirinya. Sungmin melirik Kibum bingung, " Ottokhae?," ucapnya tanpa suara.

" Ah.. aku bisa minta kenaikkan gajiku secepatnya, sepertinya 20 persen adalah pertanda baik untukmu Lee Hyukjae.. kau tidak bisa beralasan lagi Tuan Puteri," batin lain ikut berbicara, Hyukkie menatap berbinar Heechul yang tengah memasang wajah berfikir. Dengan cepat senyum manis dan tulus langsung terlengkung diwajah Heechul.

" Hyukkie-ah~~," sapanya ramah. " Nde!," seru Hyukkie cepat, " Kau bias pulang sekarang! Bukankah kau lelah.. kau pasti mengalami jet lag, so! Pulang dan beristirahatlah. Kendeu, kau jangan lupa kemari jam 7 pagi, nde?!," titahnya bijak. Mata berbinar Hyukkie langsung luntur saat Artisnya sekaligus bosnya itu tiba-tiba menyuruhnya pulang begitu saja, tanpa mengucapkan apapun tentang gajianya yang sudah ia ajukan sejak 4 bulan yang lalu. Bahkan selama di Jeju saat dihotel Hyukkie mempertanyakannya lagi.

Kibum dan Sungmin hanya diam tidak tahu apa yang sedang terjadi antara assisten dan artisnya itu. " Pu-pulang?," ulang Hyukkie terbata, Heechul mengangguk mengiyakan. " Kau bias pulang sekarang," titahnya lagi.

" Kendeu..," cicit Hyukkie menatap memelas pada Heechul. Yeoja cantik itu langsung mengerti dengan maksud tatapan itu. Ia mendesah pasrah, " Huft~~!".

" Aku ingin istirahat.. dan ada yang harus membereskan kekacauan ini," Heechul beralasan. Dengan berat hati Hyukkie pun menurut dan langsung bangkit dari sofa sambil menggendong asal tasnya. Dan berlalu dari hadapan ketiga yeoja itu, " Aku pulang!," ucapnya sambil berlalu dan sesingkat mungkin. Tidak ada yang mengantar yeoja itu sampai pintu.

" Hati-hati dijalan! Hyukkie-ah!," hanya Sungmin yang respect dengan kepergian Hyukkie. " Gomawo!," sambungnya sebagai kata terakhir. Dan terdengar pintu tertutup.

" Sampai mana kita tadi?," Heechul membuka percakapan lagi. Ia tersenyum pada Kibum dan Sungmin. Senyum manis penuh arti, dimata dua yeoja itu. " Keuntungan 60 persen dan masing-masing dari kita hanya perlu membayar 20 persen," jawab Kibum.

Heechul mengangguk senang dengan mata besarnya yang berbinar cantik. " Ceritakan tentang anak itu!," Heechul langsung menarik pergelangan tangan Kibum dan Sungmin agar duduk di sofa bersamanya. Kibum menggendikkan bahunya tidak tahu pada Sungmin. Itu tanda agar dia saja yang menjelaskan pada Heechul.

" Dia seorang namja," Sungmin memulai dengan hati-hati, yang dihadiahi anggukkan Heechul yang masih setia memasang wajah ceria. " Mmh.. lalu!?," responnya.

" Dia berumur sekitar 18.. 19 tahunan," lanjut Sungmin. " Mmh.. Namja muda," gumam Heechul. " Lanjutkan!," titahnya lagi pada Sungmin.

" Dia.. berasal dari Jepang," sambung Sungmin (Lagi) menjelaskan yang ia ketahui. " Jepang?," beo Heechul setengah terkejut. Sungmin mengangguk lucu, " Dia masih senior high school.. dia murid pindahan,".

" Pindah ditengah semester seperti ini? Haah.. aneh sekali!," Heechul berpendapat, dahinya berkerut bingung. Ada yang aneh dengan kedatangan anak itu, pikirnya. Ini terlalu mendadak, sebentar lagi musim panas akan tiba.

" Dia pasti seorang troublemaker.. makanya dia dikirim ke Seoul," Heechul membuat kesimpulan, yang pada nyatanya itu benar. Mereka akan kedatangan si pembuat onar. Kibum dan Sungmin saling berpandangan mendengar ucapan si Cinderella.

" Eo-eonnie! Kau sok tahu," respon Sungmin yang langsung ditatap oleh Heechul. " Yak! Sekarang kalian pikir! Mana ada yang pindah sekolah ditengah semester seperti ini? Apalagi dia dipindahkan sampai Seoul? Ditambah sebentar lagi musim panas!," ujar Heechul menggebu.

" Apa namanya kalau dia bukan pembuat onar, haah? Pasti disekolah lamanya dia di drop out!," sambung Heechul belum puas membuat kesimpulan. " Yang semakin menguatkan kita akan kedatangan seorang pembuat keonaran adalah.. dia pindah hanya sendiri, tanpa keluarga.. orang tuanya!,".

Kibum lalu mengangguk, tidak lupa dengan wajahnya yang berubah serius menanggapi perkataan Heechul yang sebenarnya ada benarnya juga. " Nde.. Eonnie! Aku juga agak penasaran,". Sungmin menatap polos keduanya, bingung. " Akh! Kalian berlebihan.. pasti ada alasan kenapa anak itu pindah! Kita tanyakan saja nanti pada Shin Ahjusshi dan Shin Ahjummah saat mereka dating, kalau perlu kita tanyakan langsung pada anak itu," Sungmin memberikan saran.

" Shin Ahjummah tidak menjelaskan secara detail tentang anak itu, haaah~~," desah Kibum agak kecewa. Heechul langsung merapikan rambut Bob-nya dengan gerakkan angggun dan berdiri dari duduknya, Sungmin memperhatikannya.

" So! Akan kalian taruh mana barang-barangku ini?," Tanya Heechul menatap semua tumpukan kardus dan box. " Ya kamarmu!," jawab Kibum dan Sungmin serentak. Langsung tercetak jelas, ekspresi kaget dan tidak terima di wajah cantik si Cinderella.

" Ya! Apa yang kalian bilang? Dikamarku? Yang benar saja!," Heechul tidak terima. Ia menatap tidak suka Bummie dan Sungmin bergantian.

" Lalu.. mau ditaruh dimana lagi? Mau disatukan dengan ruang kerja kami," tawar Kibum dengan nada datar.

" Tidak akan cukup!," jawab Heechul cepat. " Nah.. eonnie tahu itu, So.. we don't have a choose," sambung Kibum santai.

Heechul kalah debat Kibum, ia langsung menatap nanar barang-barangnya. " Baiklah! Demi anak itu dan potongan 20 persen!," ucap Heechul mengalah dan dibuat dramatis. " Kalian berdua! Bawakan kembali barang-barang ini kekamarku! Bereskan semuanya!," sikap ditaktornya mulai muncul dan kalau sudah begitu tidak ada yang bias melawan.

Kibum dan Sungmin menelan air ludahnya kasar, " Eon.. hari ini aku akan sangat sibuk diruang kerjaku!," lirih Kibum mencoba menolak, Heechul memutar matanya malas. " Ada buku-buku baru yang harus aku terjemahkan," sambungnya dengan nada meminta.

" Kau tahu!? Kim Kibum.. aku tidak terima penolakkan, dan inikan ulah kalian juga!," sanggah Heechul telak. " Dan neo! Yeoja bermata foxy.. Lee Sungmin! Kau bereskan kekacauan ini!," tunjuk Heechul tepat pada wajahnya yang memasang wajah tertindas yang menggemaskan.

" Aku tunggu dikamar!," tegas Heechul final dengan anggun ia langsung menjijing postman bag merahnya yang mahal dan melenggang pergi menuju lantai dua meninggalkan kedua yeoja itu yang menatap sedih tumpukkan barang-barang fashion branded si Cinderella.

" Huft~~!," desah keduanya bersamaan. " Ottokhae?," tanya Sungmin lirih. " Jangan lupa koperku juga angkut keatas!," jerit Heechul dari lantai dua, tepat diambang pintu kamarnya.

Kibum dan Sungmin sontak menoleh pada dua koper besar berwarna shocking (Pink dan Merah) yang tergeletak didekat meja makan mereka. " Aigoooo! Kehidupan neraka akan segera dimulai kembali," gumam Kibum frustasi.

" Kajja! Kita selesaikan ini!," Sungmin langsung membawa koper besar berwarna pink itu, Kibum menatap malas Sungmin dan koper itu. " Memang kau tidak ke kantor?," tanyanya. " Kembali.. nanti saat jam makan siang," jawab Sungmin saat dia mulai menaikki tangga menuju kamar sang Cinderella. Kibum mengangguk mengerti dan langsung mengangkat dua box berukuran sedang mengikuti Sungmin.

" Taruh disebelah sana!," perintah si empunya koper pada Sungmin menunjuk kearah meja riasnya. Kibum dan Sungmin langsung melangkah masuk kedalam kamar yang merupakan paling besar dirumah itu.

" Boxnya?!," tanya Kibum. " Mmh.. itu letakkan saja disitu!," titah Heechul mengarahkan pada kursi kayu bercat putih bergaya vintage dekat rak kayu yang bercat sama dan bergaya sama, vintage. Kibum menurut.

Ddrrrrt!

Ddrrrrt!

Smartphone disaku trouser pants baby pink Sungmin bergetar. Sebuah pesan masuk, DAN Sungmin tahu dan sangat mengenal si pengirim; Donghae, sepupunya.

From : My Cousin Hae

Subject : Minnie-ah~~…

Cepat Kau ke kantor! Break Time dipercepat!

Palliiwaaaaaaaaaaaaa…! ^^9

Kami menunggumu!

Yeoja itu tersenyum kecil, lalu segera membalas pesan dari sepupu childish-nya itu. Kibum dan Heechul melirik sekilas pada Sungmin yang tengah sibuk dengan smartphonenya.

To : My Cousin Hae

Subject : Nde! ^^

Jeomsim Eodi?

Aku masih dirumah.. kau tahu hari ini Heechul Eonnie pulang!

Chakkaman!

" Nuguya?," tanya Kibum ingin tahu. " Donghae-ah!," jawab Sungmin cepat, Heechul dan Kibum mengangguk. " Iliwa! Urineun gyesog," ajak Sungmin pada Kibum, melangkah pergi keluar kamar terlebih dahulu.

Kibum menurut, ia pun langsung mengikuti Sungmin dibelakangnya. Kedua yeoja itu kembali mengangkut barang. Saat Sungmin akan mengangkat koper besar satunya, smartphonenya kembali bergetar. Mau tidak mau ia harus meletakkan kembali koper besar itu, Kibum memperhatikan Sungmin sambil memasukkan beberapa potong baju dan barang-barang kedalam satu kardus besar agar terangkut bersama.

From : My Cousin Hae

Subject : Omo! Jinjja? Aisshh..

Aku sarankan kau melarikan diri dari sana! Hehehe..

Tinggalkan saja dia! Kau tahu pekerjaan sudah banyak menumpuk..

Aku tidak sanggup mengerjakannya sendiri!

Harry Up! (_)9

" Wae?," tanya Kibum ingin tahu saat melihat ekspresi Sungmin yang tengah kebingungan menatap layar smartphonenya, reflek yeoja itu menoleh padanya dan ekspresinya berubah menjadi normal.

" Kau kenapa, Eon?," Sungmin tersenyum malu-malu, Kibum berkerut bingung. " Hehehe..," Sungmin terkekeh dan mendekat pada Kibum. " Ada apa, haah?," tanya Kibum curiga. Yeoja yang lebih tua darinya setahun itu belum menjawab, masih memasang wajah senyumnya yang sekarang tampak bodoh, bukan lagi menggemaskan seperti biasa.

" Mmh.. a-anu," ujarnya terbata salah tingkah. " Bummie~~ mianhae.. sebelumnya, Nde!," perkataan Sungmin membuat yeoja pintar itu semakin memasang wajah waspada dan curiga. Persaannya berkata ini pasti buruk.

" Sepertinya.. k-kau harus.. harus mengerjakan ini semua seorang diri! Aku.. aku harus segera kekantor," jelasnya dengan nada dan raut bersalah, diakhiri dengan senyuman kecut dari Sungmin. " Sudah kuduga! Aissshhhhhhhh.. Eonnie~~," respon Kibum kesal.

" Kau.. ini! Aigoo.. kau tahu, kan si Cinderella itu tidak suka berkeringat! Mana mau dia membantukku!," rengeknya sebal. Sungmin yang melihatnya hanya meringis bingung, dia ingin membantu, tapi pekerjaannya juga penting. " Pe-pelan saja.. kau mengerjakkannya," saran Sungmin berhati-hati, mencoba menyemangati.

Kibum hanya mendengus. " Jadi, aku dan Heechul Eonnie yang menyambut Shin Ahjummah dan Ahjusshi beserta Anak itu?,". Sungmin mengangguk, ia sedang memakai blazer kerjanya bermotif flower kecil-kecil berwarna hijau mint.

" Sampaikan salamku untuk mereka.. dan bertahu aku seperti apa anak itu, ne?!," titah Sungmin yang sudah siap pergi ke kantor. Kibum mengangguk lemah.

" Kau pulang jam berapa?," tanya Kibum yang mulai melunak. Sungmin menggeleng, " Entahlah.. aku usahakan pulang cepat! Tenang walaupun malam.. aku bawa kunci cadangan," jawab Sungmin sambil menyisir rambut panjangnya dengan jarinya asal-asal rapi-.

" Oh! Satu lagi.. beritahu Heechul Eonnie, minggu ini jatahnya yang pergi berbelanja, ne? aku berangkat!," pamit Sungmin sambil berlalu menuju pintu meninggalkan Kibum yang masih mengawasinya. " Pai! Bummie~~ saranghae nae yeosaeng..," teriak Sungmin bersamaan tertutupnya pintu.

Kibum kembali mendesah lemas memandang keadaan ruang tamu sekaligus ruang keluarga yang masih berantakkan. Suara derap langkah terdengar menuruni tangga, begitu cepat dan tegas. " Yak! Kemana Sungmin?!," tanya Heechul dari tangga, terdengar nada sebal didalamnya.

" Bekerja.. apalagi?," jawab Kibum santai dengan nada malas. " Lalu siapa.. yang akan merapikan ini semua?," sambung Heechul seenaknya. " Ya.. tentu aku, Eon! Siapa lagi, haah?," balas Kibum sambil mengangkat kardus dan menatap Heechul.

" Aigoo.. memang bias cepat hanya sendiri?," sindir Heechul. " Kalau begitu.. Eonnie, aku tidak menolak bantuanmu!," balas Kibum dengan nada innocent tapi, menyindir. " Kau.. jangan mimpi!," ujarnya jutek. Dan itu membuat Kibum tersenyum kecut dan sebal.

" Tahu yeoja itu kabur.. aku tidak akan menyuruhnya (Eunhyuk) pulang," gumamnya yang masih dapat didengar Kibum yang sudah menaiki tangga dan melewatinya. " Yasudah! Kerjakan dengan cepat!," titah Heechul dibelakang Kibum. Sedang Kibum yeoja itu tengah sibuk mengumpati sikap diktaktor Heechul.

" Bukankah sebentar lagi orang-orang itu akan datang?," Heechul memastikan. " Nde..," balas Kibum singkat. " Berarti malam ini anak itu akan tidur disini.. mmh! Dia akan tidur pakai apa? Kita tidak punya tempat tidur cadangan," balas Heechul mengingatkan.

" Berikan saja dia tempat tidur lipat," respon Kibum santai sambil memasuki kamar Heechul. Heechul terdiam sejenak ditangga, mencoba mencerna ucapan Kibum. Dan sebuah seringai tercetak diwajah cantiknya.

" Pinjami yang siapa?, " tanya Heechul menyusul Kibum. " Ini diletakkan dimana?," ujar Kibum tidak nyambung. " Ah! Letakkan dikursi riasku saja dulu," perintah Heechul diambang pintu kamarnya.

" Pinjami yang Sungmin Eonnie saja.. yang milikku sudah tipis," saran Kibum. Heechul mengangguk menyetujui, " Kau benar.. milik Sungmin masih bagus, sedangkan milikku sudahku buang," ujarnya enteng. " Bummie.. aku penasran siapa anak itu, ya? sehingga Shin Ahjummah berani memberikan potongan sebesar 40 persen pada kita?," celetuk Heechul dengan tampang serius bercampur rasa penasaran.

" Entahlah.. sepertinya dia bukan dari keluarga sembarangan," Kibum menyahuti perkataan Heechul. " Ah! terserah saja.. yang jelas aku bisa membeli mobil baru... huhuhuhu...!," serunya antusias. Kibum hanya mampu menggendikkan bahunya dan berlalu dari kamar Heechul. Akhirnya Kibum sendirilah yang merapikan barang-barang si Cinderella. Ya, tentunya dengan dimandori olehnya.

To Be Countinue

How?

Kependekkan, kah?

hehehe...

Kutunggu Reviewsnya... ;)

...

Special Thanks:

Guest, dewi. , abilhikmah, PaboGirl, Cho Adah Joyers, Parkhyun, dzubunny, n' MingKyuMingKyu ^^