Dengan santai Uzunaru berjalan di lobi dan tentunya karyawan perempuan langsung teriak histeris saat melihatnya yah ini sudah setiap hari ia lihat sejak masuk kerja.
Lee berjalan menghampiri Naru dengan tergesa-gesa
"Eh Naru!" ujarnya.
"Iya ada apa?" sahut Naru sambil melirik Lee.
"Hari ini direktur akan datang kau harus siap-siap." ujar Lee mengingatkan.
"APA?!" teriak Naru kaget mendengar ucap Lee dan Lee hampir terkena serangan jantung mendengar teriak histeris Naru di telinganya.
"Kalau mau berteriak jangan tepat di telingaku bodoh memang kenapa?!" ketus Lee dengan tajam memandang Naru.
'Gawat bisa-bisa penyamaran ku gagal.' umpatnya dalam hati.
Naru berpikir keras agar dia tidak di lihat oleh ayah nya dan seperti ada bola lampu di atas kepalanya Naru pun mendapat sebuah ide dan tanpa sepengetahun Lee, Naru menyeringai licik.
"Akh perut ku sakit, kau saja yang pergi aku akan istirahat di ruang ganti." ucap Uzunaru berpura-pura kesakitan sambil memegang perut nya dengan kedua tangan nya.
"Ah kau ini ya sudahlah terserah kau mau apa aku juga bosan melihat wajah mu itu!" ketus Lee kemudian pergi meninggalkan Uzunaru yang kesakitan.
Setelah melihat kepergian Lee, Uzunaru menyeringai kemudian berjalan pergi ke tempat butik dan memilih bersembunyi disana karna ia berpikir ayah nya tidak mungkin ke butik.
Dan saat ia sampai di butik Naru melihat Hinata bersama seorang perempuan bercepol dua yang tengah memilih gaun pengantin.
"Yang ini cantik." ucap Tenten sambil memegang gaun yang di pajang di patung.
Tanpa pikir panjang ia pun melangkahkan kaki nya menghampiri Hinata
"Hi Hinata!" sapanya sambil menepuk pundak Hinata.
"Eh Naru!" balas Hinata sambil tersenyum.
"Siapa dia?" tanya Tenten.
"Ini teman ku kak namanya Naru." jawab Hinata.
"Oh begitu." ucap Tenten mengerti.
"Lagi cari gaun untuk siapa?" tanya Naru.
"Untuk kakak ku." jawab Hinata.
"Oh ikuti aku, aku tau tempat gaun yang bagus." ucap Naru.
"Benarkah baiklah." sahut Tenten.
"Ok!" ucap Naru dan Hinata bersamaan.
"Wahh,," ucap Tenten mendengar Naru dan Hinata mengatakan 'Ok!' bersamaan.
"Hehehe ikuti aku." ucap Naru kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang di tutup oleh pintu kayu yang berukiran lambang perusahaan Nami.
"Cklek."
Naru membuka pintu besar itu dengan lebar dan yang terlihat hanya kegelapan.
"Gelap sekali." ujar Tenten merinding.
"Iya." sahut Hinata.
"Silahkan masuk." ucap Naru mempersilahkan.
"Tapi,,," ucap Hinata ragu-ragu.
"Tak apa masuklah." ucap Naru. Mereka mengangguk kemudian masuk kedalam ruangan yang gelap itu.
"Blam!"
bunyi pintu yang tertutup.
"Naru gelap sekali kau tidak bercandakan?" ucap Hinata merinding. Matanya tak dapat melihat apa-apa karna gelap dan ia hanya dapat merasakan lengan nya di peluk oleh Tenten.
Tak lama lampu pun menyala membuat Tenten dan Hinata menutup mata karna silau.
"Taraa!" seru Naru bersemangat.
Tenten dan Hinata membuka matanya dengan perlahan kemudian terkejut memandang ruangan megah yang mereka masuki.
Yang mereka lihat adalah sebuah ruang yang megah dan bernuasa warna putih dan langit-langit ruangan berwarna biru muda serta sebuah lampu berhias kristal mengangantung di langit-langit.
Semua gaun pernikahan tertata rapi di dalam lemari kaca di sebelah kanan dan di sebelah kiri juga berjejer sepatu-sepatu kulit berwana hitam dan putih serta high heels dan di hadapan mereka terdapat kaca yang besar dan sofa berwarna putih.
"Keren!" ucap Tenten kagum memandang ruangan megah ini.
Naru berjalan ke arah lemari kaca dan membuka nya dan mengeluarkan sebuah gaun panjang berwarna putih polos kemudian membawanya ke hadapan Tenten dan Hinata.
"Coba yang ini." ujar Naruto lalu menyerahkan gaun ke Tenten.
"Iya." Tenten mengangguk dan mengambil gaun dari tangan Naru kemudian berjalan keruang ganti pakaian.
"Tempat ini bagus!" seru Hinata.
"Yah ruangan ini hanya untuk para tamu penting yang ingin mencari gaun pernikahan." sahut Naru kemudian duduk di sofa.
Hinata mengangguk mengerti kemudian melihat-lihat isi lemari kaca.
Naru tersenyum melihat tingkah Hinata apalagi saat Hinata melihat sebuah gaun yang di pajang pada sebuah patung ya sebuah gaun yang sederhana tapi berkesan mewah.
"Bagaimana." ucap Tenten yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Dan secara bersamaan Naru dan Hinata menoleh ke arah Tenten yang memakai gaun berlengan panjang dan di bagian bawah nya menyapu lantai dan itu telihat pas di tubuh Tenten.
"Bagus." ucap Hinata.
"Aku suka gaun ini." ucap Tenten sambil memandang pantulan dirinya di cermin.
"Cocok!" timpal Naru melihat Tenten.
"Aku ambil yang ini!" seru Tenten.
.
.
.
Dengan langkah kaki yang kecil Naru dan Hinata berjalan santai di belakang gedung perusahaan yang terdapat sebuah taman bunga kecil.
"Terimakasih untuk hari ini." ucap Hinata dengan tulus.
"Sama-sama." balas Naru sambil tersenyum.
Waktu terasa berhenti saat mereka berjalan burung-burung yang terbang berhenti bunga-bunga yang terbang pun ikut berhenti. Di dalam hati mereka ingin waktu berhenti agar dapat terus bersama seperti saat ini tapi sayang waktu terus berjalan tanpa kita sadari.
"Oh ya Hinata walaupun kita baru kenal tapi seperti nya aku menyukai mu." ujar Naru dengan wajah bersemu merah.
Hinata berhenti berjalan mendengar perkataan Naru barusan dan wajah nya pun bersemu merah.
"Em aku tidak tau." sahut Hinata malu-malu kemudian duduk di kursi panjang yang ada di dekatnya dan di ikuti Naru yang juga duduk disampingnya.
"Ya tidak apa." ucap Naru.
Dapat Hinata lihat wajah Naru yang tenang dan tampan yang tengah memejamkan mata. Merasa dirinya di perhatikan Naru membuka kedua matanya dan menatap Hinata.
"Kenapa?" tanya Naru.
"Tidak ada." jawab Hinata dan mengalihkan pandangan nya.
"Aku tau kau anak seorang direktur dan aku pelayan mana mungkin aku bisa berpacaran dengan mu karna kita tidak selevel maaf ya." ucap Naru.
"Aku tidak pernah membedakan kaya atau miskin dan aku tak mengenal level dalam berteman." jawab Hinata dan tersenyum tulus.
Naru tersenyum mendengar nya.
"Kau baik." ucap Naru.
"Tidak juga." sahut Hinata. Naru menoleh menatap Hinata dengan tanda tanya di pikirannya.
"Kenapa?" tanya Naru bingung.
"Ini tak pantas di bicarakan." jawab Hinata. Naru mengangguk mengerti.
Naru mengalihkan pandangan nya ke depan dan ia tekejut bukan main melihat kedatang beberapa orang termasuk Minato Namikaze.
"Hinata aku lupa kalau aku punya perkerjaan di butik aku pergi ya." ucap Naru berpamitan dan pergi sambil langsung berlari seperti di kejar anjing sedangkan Hinata masih bingung dengan sikap Naru dan ia pun hanya tersenyum geli melihatnya.
"Hinata sudah waktu nya kita pulang." ucap Neji yang sudah berdiri di hadapan Hinata.
"Iya kak!" seru Hinata.
"Selamat Neji." ucap Minato lalu mengulurkan tangan nya.
"Iya." balas Neji lalu mengulurkan tangan dan berjabat tangan dengan Minato.
"Oh ya kemana putra mu?" tanya Neji setelah melepas tangan nya.
"Oh dia masih di Korea Selatan mengurus saham yang ada disana." jawab Minato.
"Lalu kapan pernikahan adik ku dengan anak mu?" tanya Neji lagi.
"Mungkin tahun depan karna ia belum siap." jawab Minato yang mulai gugup dengan pertanyaan Neji tentang anak nya.
"Hn baiklah kalau begitu aku harus pulang." pamit Neji.
"Iya." ucap Minato.
.
.
..
Rencana Naruto pun dimulai. Naruto mulai sering mengunjungi Hinata di cafe dan mengantar jemput Hinata kerja walaupun hanya menaiki sepeda dan sudah sering Naruto di tegur oleh Hiashi ayah Hinata dan seperti saat ini Naruto mengantar Hinata pulang.
"Jaa ne Hinata-chan." ucap Naruto dengan tersenyum lima jari.
"Terimakasih Naru-kun." sahut Hinata malu-malu.
"Ehem!" Hiashi berdehem cukup keras.
"Oh hai paman!" sapa Naru aka Naruto ala anak muda sambil melambaikan tangan ke arah Hiashi dengan cengiran khas nya.
Hiashi sweatdrop melihat nya dan sungguh tidak sopan menyapa orang yang lebih tua dari nya dengan cara begitu.
"Ok aku mau pulang paman dah sore tolong jagain Hinata-chan jangan sampai terluka." ujar Naru dengan wajah tanpa dosa sambil melambaikan tangan kemudian mulai mengayu pedal sepeda nya sambil menahan tawa.
"Kurang ajar!" ketus Hiashi tajam menatap kepergian Naru dari hadapan nya.
"Huppft." Hinata menahan tawa melihat nya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hihihi dia menyenangkan dan lucu." ucap Hinata tepat di hadapan ayah nya kemudian melanjutkan jalan nya.
"Hm." sahut Hiashi dan menghela napas pasrah kemudian masuk ke dalam rumah.
Hari-hari terus berjalan dan rasa cinta dan sayang mulai mengisi ruang hati Naru dan Hinata.
Hinata mulai terbuka dengan Naru dan sering menceritakan masa lalu nya dan semua keluh kesah nya dan akhirnya Naru mengerti akan semua yang Hinata rasakan.
Dan ada sebuah tekad kuat dalam hatinya bahwa ia akan membahagiakan Hinata untuk selamanya.
.
.
.
.
Hidup memang sulit untuk di jalani tapi cobalah untuk tersenyum miskipun dunia tak ingin melihat nya tapi yakinlah dan berusaha lah agar suatu hari nanti dunia akan memandang mu dan menghargai mu.
Bersambung~
