Petikan senar terakhir menciptakan riuh tepuk tangan dari penonton yang sedang menghabiskan malam di sana. Karamatsu menunduk hormat sebagai tanda terima kasih telah mendengarkan penampilannya. Pemuda itu sudah bercucur keringat dingin dari dahi hingga pergelangan tangan. Jujur saja, ia sangat gugup. Ini adalah penampilan pertamanya di café ini, café yang tak ia sangka tergolong mewah dan elegan, yang membuatnya jatuh hati pada pesona spektakuler hiasan dan pajangan yang ada. Pantas saja aura ittai Karamatsu terasa teredam. Di sekelilingnya hanya ada warna cokelat, krem, cokelat, krem. Kemeja biru Karamatsu seolah menjadi perusak.
Karamatsu turun dari panggung yang tidak terlalu tinggi, hanya ada tiga anak tangga kecil di ujung.
"Penampilan yang bagus, Matsuno-san," ucap salah satu pria berjas abu-abu yang memperhatikannya dari tadi—pria yang menawarkannya untuk mengisi penampilan di sini, dan rupanya adalah orang yang biasa mengatur acara di café ini.
Karamatsu tersipu. "Terima kasih, saya pikir yang tadi itu bukan seberapa." Ya, pemuda biru itu takut kalau tulang rusuk para penonton patah semua.
"Hehe," tawa pria itu. "Ada kesan menyakitkan di awal—itu unik, saya sendiri juga tidak tahu mengapa seperti itu. Tetapi, sisanya benar-benar bagus."
Awalnya terdiam, namun kemudian Karamatsu memasang senyuman kikuk. "Haha, begitu."
"Lain kali, cobalah berkolaborasi dengan yang lain." Kepala pria itu menoleh pada salah satu meja di sisi yang memang sudah disendirikan untuk pengisi acara. Ada dua grup yang sedang menikmati malam ini, bercampur antara perempuan dan lelaki. Ada yang sudah dewasa, ada yang masih remaja. Beberapa dari mereka melambaikan tangan pada Karamatsu, membuat pemuda itu semakin tersipu.
"Ba—Baik—tapi kalau untuk saat ini saya belum bisa … sepertinya." Karamatsu takut ia salah ucap.
"Baiklah." Pria itu menepuk pundak Karamatsu. "Nah, sekarang, coba berkenalan dulu dengan mereka sebelum pulang."
Karamatsu digiring ke salah satu meja dan mendudukkan diri di sana.
"Hai! Siapa namamu?" tanya seorang gadis yang duduk berserong dengan Karamatsu. Karamatsu masih belum bisa menghilangkan rasa canggung dalam dirinya.
"Karamatsu Matsuno."
Dan sang anak kedua Matsuno yang biasanya percaya diri dan kelewat narsis itu menghabiskan malamnya dengan lebih banyak diam karena dikelilingi orang-orang berkelas.
"Aku pulang." Karamatsu menggeser pintu rumah. Lampu sudah dimatikan, artinya seluruh penghuni sudah terlelap. Namun, ketika ia hendak ke kamar, ia mendengar suara berasal dari dapur.
"Sudah pulang, Karamatsu?"
Itu Osomatsu, sudah mengenakan piyama tidur sambil memegang secangkir teh yang asapnya mengepul.
"Osomatsu, kau belum tidur?" tanya Karamatsu.
"Tidak bisa tidur." Ia menyesap minumannya. "Mau langsung tidur?"
"Ah, tidak." Lalu, mereka berdua mendekam di ruang tengah, berhadapan. Senyap.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Osomatsu memulai pembicaraan.
"Menyenangkan." Ia melirik amplop yang baru saja didapatnya usai tampil tadi. Belum dibuka. Karamatsu harap jumlahnya sesuai dengan yang ia ekspektasikan.
"Sepertinya bakal betah, ya," ucap Osomatsu tanpa melihatnya.
Karamatsu tertawa pelan. "Aku hanya akan ke sana lagi ketika dipanggil, kok. Ini bukan pekerjaan tetap."
"Iya." Teh di cangkir Osomatsu sudah habis. Ia berdiri. "Makanya tak apa."
Osomatsu pergi ke dapur untuk meletakkan cangkirnya di wastafel cucian piring. Pandangan Karamatsu meredup. Pikirannya berusaha memaknai kalimat kakaknya barusan. Osomatsu berjalan melewatinya. Ia ikut berdiri, menyusul kakaknya ke kamar. Saat kakaknya membaringkan diri mencoba untuk tidur, Karamatsu mengganti pakaiannya dengan baju tidur dan berbaring di posisinya, melelapkan diri.
Ia tak tahu, Osomatsu sedari tadi hanya melirik ke arahnya sampai matanya lelah, baru ia tidur betulan.
Karamatsu terbangun dari tidurnya. Masih jam delapan. Masih terlalu pagi untuk pengangguran seperti dirinya—ya, ya, tidak sepenuhnya, sih. Soalnya, 'kan, kemarin dia sudah mendapat pekerjaan sampingan. Saudara-saudaranya masih berbaring di tempat masing-masing, beringsut sedikit dari posisi mereka. Selimut sudah tak selurus tadi malam. Posisi tangan apalagi kaki pun sudah tidak beraturan, ada yang menindih satu sama lain. Akan tetapi, Karamatsu merasa tempatnya lengang. Ketika ia melirik ke samping, ternyata setengah tubuh Ichimatsu sedang tertidur di lantai.
Ia mendudukkan dirinya, lantas meregangkan tangan ke atas. Setelah ia rasa tubuhnya terasa enakan, ia berdiri dan berhenti di hadapan Ichimatsu. Dirinya berjongkok, kemudian tangannya meraih tubuh Ichimatsu. Ia mengangkat badannya tak sampai selututnya, kemudian memindahkan adiknya itu kembali ke futon. Ichimatsu mengerang pelan, mungkin merasa tak nyaman. Karamatsu alih-alih takut seperti biasa, ia malah sudah siap mau diapakan oleh Ichimatsu kalau saja si ungu itu terbangun dan mendapati dirinya digendong oleh si menyakitkan.
Kali saja Karamatsu berpikir kalau ia mulai sekarang harus tegas dengan adiknya satu itu. Baik dan tegas, dua hal itu bisa dipisahkan, 'kan?
Karena sudah terlanjur bangun, Karamatsu turun menuju kamar mandi. Bangun lebih pagi sepertinya membuat dirinya terasa nyaman, karena kalau dipikir-pikir tak sekali atau dua kali mereka suka berebut masuk untuk membenahi diri. Saat melewati ruang tengah, setelah Karamatsu menyikat gigi dan merapikan rambutnya, ia melihat ibunya yang sedang menonton televisi.
"Karamatsu, sudah bangun?" Ibunya menatap heran.
"Iya, Bu." Karamatsu menghampiri ruang tengah dan duduk di dekat meja.
"Mau ibu buatkan sarapan?" ucap ibunya lembut. "Bahan untuk memasak sarapan ayahmu tadi masih ada."
"Ah, boleh." Karamatsu membalas biasa. Sang ibu berdiri dan berjalan menuju dapur. Karamatsu meraih remote yang tak jauh darinya dan mengganti saluran televisi.
Beberapa menit kemudian, Matsuyo sudah membawakan sup miso, tamagoyaki, dan semangkuk nasi putih di atas nampan dan meletakkannya di meja.
"Terima kasih, Bu," ucap Karamatsu ketika ibunya itu memberikan makanannya satu-satu. Terakhir, ia mengambil sumpit, lalu mengucap, "Selamat makan."
Karamatsu memakan sarapannya dengan tenang. Matsuyo mengambil remote di dekat Karamatsu dan mengganti saluran televisi lagi. Lelaki itu tak protes, membiarkan dirinya mengikuti kemauan sang ibu. Mata mereka terfokus pada acara lawak pada layar kecil itu, sambil sesekali Karamatsu melirik makanannya untuk disuap ke mulut.
"Oh, iya." Ibunya tak menoleh. "Kata Osomatsu kau sudah dapat pekerjaan?"
"Ah, itu." Ia menelan kunyahannya dahulu. "Bukan pekerjaan, Bu. Cuma job sampingan saja, mengisi acara di café."
"Iya, ibu tahu." Sekarang ia menoleh pada anaknya itu. "Tapi, kan, lumayan. Bisa buat pemasukanmu juga untuk membeli barang-barang yang kau inginkan."
Lelaki biru itu tertawa patah-patah, lama-lama menjadi pelan dan menghilang. Dia geli dalam hatinya. Kenapa, ya, ia merasa tersinggung? Padahal, kan, perkataan ibunya ada benarnya juga. Ia tahu ia harus berpikir bahwa dengan begitu ia sudah membantu orang tua, tetapi ia tak mengerti. Dadanya seolah ditusuk jarum. Sakitnya sesaat, tapi tetap sakit. Ia ingin tahu kira-kira sang ibu peka atau tidak dengan apa yang ia pikirkan. Hubungan batin antara anak dan ibu itu kuat katanya, 'kan?
Katanya.
"Jadi, bagaimana? Kau suka?" lanjut Matsuyo menatap anaknya.
Karamatsu tersenyum. "Suka, kok. Orang-orang di sana ramah. Kalau sudah terbiasa, nanti Kara bawa Ibu ke sana."
Matsuyo melirik curiga anaknya. Tumben anak ini memanggil namanya saat berbicara dengan dia. Ia pun kemudian tahu kalau kelakuan Karamatsu memang agak lain.
Apa, ya … rasanya dia jadi lebih lembut dan … aura menyakitkannya berkurang?
Ia baru menyadarinya karena ia memang termasuk jarang menghabiskan waktu dengan anak-anaknya—selain di meja makan untuk makan bersama atau liburan keluarga. Sudah berapa tahun silam pun mereka tidak pernah berlibur lagi.
Matsuyo masih bingung akan perasaan dan pikirannya sekarang. Karamatsu sudah menyelesaikan makannya, lalu mengucap terima kasih lagi.
"Aku yang cucikan, Bu?" tawar Karamatsu.
"Tidak usah. Ibu saja." Matsuyo segera membereskan peralatan makan sang anak dan membawanya ke wastafel cuci piring. Karamatsu berdiri, berniat untuk kembali ke kamar.
Ketika sudah memasuki kamar, ia melihat Choromatsu yang telah duduk, mengucek-ucek mata. Mata mereka bertemu.
"Oh, Karamatsu-niisan ?" Ia menguap. "Sudah bangun, ternyata."
"Pagi, Choromatsu," kata sang kakak yang sudah menghadap lemari hendak mengambil pakaian, menoleh padanya.
"Pagi." Mata Choromatsu masih terasa lengket. "Hari ini mau ngapain, ya …," gumamnya.
"Cari kerja?" Karamatsu merogoh tangannya untuk mengambil baju biru-putihnya, lalu memakainya.
"Iya, ya." Choromatsu melihat kakaknya. "Dasar curang." Lalu, ia tertawa.
"Hari ini aku nggak ada kerjaan, loh?" Karamatsu ikutan tertawa. "Secara keseluruhan aku ini masih pengangguran, Choromatsu."
"Tapi, lumayan, 'kan …." Adik hijaunya itu bernada jahil. "Kau terikat kontrak atau sekali tampil langsung diberi uang?"
"Langsung."
"Wah, berapa?"
Karamatsu teringat. "Aku belum buka amplopnya." Ia mencari-cari laci bagiannya, kemudian menariknya keluar dan mengambil amplop yang ia terima semalam. Ia segera duduk di sofa dan membuka amplop putih itu pelan-pelan.
Ada selembar kertas di dalamnya. Ia membuka lebih lebar lagi supaya cahaya dapat masuk dan dia dapat melihat nominalnya.
"Eh?"
Karamatsu tertegun. Ia meyakinkan dirinya tidak salah lihat. Ini benar bayarannya semalam? Karamatsu ingat ia bahkan tampil tidak sampai satu jam. Ini tidak masuk akal—atau café yang ia kunjungi memang semewah itu?
Karamatsu meragukan dirinya. Apa ia pantas berada di sana?
"Ada apa, Karamatsu-niisan?" tanya Choromatsu yang memasang wajah curiga. "Apa amplopnya kosong, Kak?"
"Tidak." Karamatsu menjawab cepat. "Uangnya …."
"Palsu?" tanya Choromatsu lagi. Seketika ia langsung mengeluarkan uang itu dan menilik hati-hati, membolak-balikkannya gusar.
"Ini asli, Choromatsu." Ia menoleh pada sang adik.
"Lalu, kenapa kau kaget begitu?" Lantas Choromatsu berdiri dan mendekati kakaknya. Napasnya pun terhenti tatkala ia melihat nominal uang kertas itu.
"Lima ribu ye—?" Choromatsu hampir saja berteriak membangunkan saudara yang lain. "Wah, Kak—wah …."
Karamatsu langsung menatap netra adiknya. "Maaf, Dik. Tapi, aku sudah punya niat lain untuk uang ini—"
"Enggak, Kak. Enggak." Choromatsu memajukan tangannya dengan gesture menolak. "Aku enggak minta uang Kakak."
Karamatsu tertegun sebentar. Tak lama, ia tersenyum tipis. "Terima kasih, Choromatsu."
Choromatsu membalas senyumnya. "Yosh. Kalau begitu aku bersiap-siap dulu."
"Ke Hello Work?"
"Tidak. Kemarin aku baru ke sana. Mau keliling saja."
"Aku ikut."
"Eh?" Choromatsu yang sedang berjalan keluar kamar itu pun menoleh pada kakaknya. Mereka saling tatap lagi, dan Karamatsu cuma memasang wajah lembut yang entah sejak kapan sudah ada, ia tak ingat.
"O-Oke." Ia berjalan menuruni tangga menuju kamar mandi, membersihkan diri, memakan sarapan yang sudah disediakan ibunya, naik ke kamar lagi, memakai baju hijau-putih yang bermodel sama, mengenakan celana dan melipat bagian bawahnya, lalu mengajak kakaknya untuk berangkat.
"Kami pulang," ucap Karamatsu dan Choromatsu bersamaan. Mereka memasuki ruang tengah dan langsung disambut hangat.
"Selamat datang," ucap Todomatsu dan Jyushimatsu yang berada di sana.
"Cuma kalian saja di rumah?" tanya Choromatsu pada mereka.
"Osomatsu-niisan ada di atas," jawab Todomatsu sambil menunjuk. Choromatsu ber-oh ria, sementara Karamatsu langsung keluar menaiki tangga. Tak ia sangka, di depan pintu ia menemui pria ber-hoodie merah-putih itu baru saja muncul dari kamarnya.
"Oi, Karamatsu," panggilnya.
"Osomatsu." Karamatsu membalas. "Kau ada waktu?"
Ia tahu kakak satu-satunya itu memang tidak pernah punya kerjaan—kalau … menghabiskan waktu untuk duduk-duduk santai sambil membaca majalah porno itu bukan kerjaan.
"Sekarang?" tanya Osomatsu.
"Iya." Karamatsu yakin matahari di luar tadi masih cukup terang. "Yakiniku."
Mata Osomatsu membulat. "Eh? Serius?"
"Iya," tegas Karamatsu, "tapi jangan beritahu yang lain." Ia bukannya pilih kasih, tapi ia ingin membahagiakan mereka pelan-pelan. Satu-satu. Semua akan kebagian.
"Wah, asyik, nih." Osomatsu menggosok bawah hidungnya. "Sepertinya kau dapat upah banyak, ya, Karamatsu." Lalu, ia tertawa.
"Sudah, ayo pergi. Aku juga keburu lapar." Karamatsu menuruni tangga dan Osomatsu mengekor. Saat melewati ruang tengah, ketiga saudara melihat mereka karena pintunya masih terbuka.
"Eh? Karamatsu-niisan mau ke mana lagi?" tanya Choromatsu heran.
"Aku ada urusan dengan Osomatsu, dan kami tidak makan malam di rumah," terang Karamatsu. Karena tak ingin berpikir jauh apa urusan kedua kakaknya itu, mereka pun hanya mengiyakan. Dua Matsuno tertua itu pun pamit keluar.
Osomatsu dan Karamatsu sudah mengambil bagiannya masing-masing, duduk di sisi yang agak ke sudut. Mereka makan dalam nikmat. Wajah Osomatsu benar-benar tampak senang ditraktir adiknya makanan mahal. Karamatsu ikut senang akan hal itu. Ya, ia benar-benar senang kalau yang ia perbuat bisa membahagiakan saudaranya.
"Terima kasih, ya, Karamatsu," kata sang kakak ketika mangkuk miliknya sudah bersih.
"Don't mind it, brother. Memang lagi ingin mentraktirmu, kok." Karamatsu memasang senyum lebar.
"Nanti kubalas, deh," ucap Osomatsu yang wajahnya mulai memerah akibat sake yang ia minum. Mereka diam cukup lama, sampai akhirnya Osomatsu kembali memulai pembicaraan. "Karamatsu."
"Hm?" Ia menyesap sake miliknya juga.
"Sebenarnya, aku memang ingin pergi berdua begini denganmu." Osomatsu menatap meja. Karamatsu hendak minum lagi, namun terhenti sebelum cairan beralkohol itu masuk ke mulutnya.
Osomatsu menyunggingkan senyum. "Belakangan ini kita juga jarang keluar berdua … hm. Terakhir kita ke pachinko kapan, ya?" Ia menopang sebelah pipinya dengan tangan. Karamatsu terdiam. Tidak tahu ingin merespons apa.
"Aku ingin kita menikmati waktu berdua sendiri bersama. Bukan sebagai yang tertua, tapi sebagai kita sendiri … hm? Bagaimana bilangnya, ya? Kata yang tepat? Aku tidak pandai merangkai kata-kata seperti dirimu, Karamatsu." Lalu, ia tergelak. Ia tak begitu sadar kalau wajah lawan bicaranya semakin memerah, lebih merah dari dirinya.
"Yah, aku sendiri juga bisa lelah dengan peran sebagai kakak tertua ini. Iya, aku tahu aku memang tidak pantas mengatakannya, tapi boleh, 'kan, aku bilang begitu? Dan aku ingin kau ada di sana, Karamatsu. Memberikan sandaran untukku ketika aku lelah." Kini, ia menatap adik pertamanya itu. "Aku juga, akan memberikan sandaran untukmu, karena kita berdua sudah bekerja keras untuk menjadi kakak yang baik untuk adik-adik kita. Jadi, sekali-sekali aku ingin lepas sejenak dari semua itu." Osomatsu tertawa lagi, tapi kali ini memelan, lesap bercampur udara yang mengiring berbagai macam zat padanya.
Karamatsu tersenyum haru. Kalau tidak terpikir olehnya bahwa ia adalah pria keren yang manly, ia hampir saja menitikkan air mata. "Iya," balasnya pada sang kakak. Senyum Osomatsu tak lekang dari wajahnya sampai ia berdiri dengan sedikit kesusahan.
"Kita pulang?" katanya senada bertanya.
"Whoa, brother. Sepertinya aku harus menuntunmu." Karamatsu mendekatinya dan merangkulkan tangan lelaki itu pada lehernya.
"Hehe. Boleh." Pemuda merah itu tertawa kecil. Karamatsu pun membantunya berjalan untuk membayar pada kasir, lalu keluar dari restoran.
Mereka lebih memilih jalan kaki, dengan Osomatsu masih merangkul Karamatsu.
"Karamatsu," panggilnya lagi setelah mereka sudah di luar.
"Ya?" Karamatsu menyahut kuat.
"Kalau ada apa-apa cerita saja," ucapnya. "Aku mungkin bukan pendengar yang baik dan bisa memberimu saran yang bagus, tapi setidaknya aku bersedia ada untukmu."
Karamatsu merasa tubuh kakaknya semakin berat.
"Dan jangan terlalu terbawa perasaan ketika kami semua cuek padamu, Karamatsu."—Kami sayang padamu. Kalimat yang ini tertahan di tenggorokan Osomatsu. Bukan, dia bukan tidak mau mengakuinya. Tentu saja dia menyayangi semua adik-adiknya. Hanya saja ….
Ia merasa tidak perlu boros kata untuk mengungkapkan itu.
"Baiklah," kata Karamatsu sepenuh hati. "Mau kugendong?"
Osomatsu tertawa lagi. "Tidak usah. Tuntun aku saja sampai ke rumah."
Karamatsu pun melakukannya sepenuh hati.
This is choukei for ya~ dan maaf kalau flow-nya terasa lambat hhhh.
NEXT ▶▶
