Zapretnaya Lyubov'

The Edge of Love

.


.

A/N: Makasih yang sudah review! Oh iya, panggil saya Maria aja. Jangan 'Author', rasanya gimana gitu xD

© J.K. Rowling for amazing story of Harry Potter

Warning: rate M for this chapter, typo, OOC, OC, etc.

Don't like, don't read!

.


.

"Draco?"

.

.

Chapter 6

Childhood Friend


"Kau mengenalnya?" desis Hermione dengan pelan, nyaris tak terdengar

Ueda sepertinya tidak mendengar, walaupun dengar, ia mungkin tak mau menjawab, karena ia langsung berlari dan memeluk Draco.

"Draco…Draco…Oh Duracchan! Aku merindukanmu!" Draco tampak agak risih dengan pelukan Kyouko. Namun bagaimanapun juga ia tak berusaha melepaskannya. Oh kalian pasti bisa membayangkan perasaan Hermione. Campur aduk antara rasa penasaran, kaget dan pastinya—cemburu, perasaan yang paling mendominasi dirinya. Hermione segera bisa menguasai dirinya, ia bersikap professional —seakan Draco hanyalah partner dan bukan pacarnya— dengan tersenyum simpul.

"Kita perlu bicara nanti, Draco. Tolong beritahu tempatnya beristirahat pada—temanmu ini," kata Hermione datar dan kemudian beranjak menuju kamarnya

Draco hanya memandang punggung Hermione penuh arti. Setelah yakin bahwa Hermione telah masuk kamar, ia melepaskan pelukan Kyouko dengan perlahan.

"Apa yang kaulakukan disini?" desis Draco tajam

"Eh? Aku—pertukaran pelajar! Tentu saja! Aku mati-matian ikut seleksi ini, aku ingin bertemu denganmu. Oh Duracchan!" Kyouko hampir memeluk Draco lagi, tapi laki-laki itu menahannya

"Oh, jadi tujuanmu untuk mencariku?" Draco menyipitkan matanya. "Memangnya ada apa sampai bela-belain datang?"

"Eh—ya, tapi aku tak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini. Aku kan datang untuk menagih janjimu, Duracchan."

"Janji?" Draco mengangkat sebelah alisnya. "Janji apa?"

Kyouko menyilangkan lengannya. "Janji untuk menikahiku."

"Menikahimu? Yang benar saja! Kapan aku berjanji, hah?" Draco terbelalak kaget

"Sesaat sebelum aku pindah ke Jepang. Kau ingat?"

"Duduklah, dan ceritakan padaku."

Ueda menceritakan kejadian itu pada Draco.

.

"Duracchan!" Kyouko usia 6 tahun berlari-lari mengayunkan kaki kecilnya menuju Draco sambil menangis

"Ada apa?" tanya Draco

"Aku mau berangkat. Duracchan tak mengantarku?" isak Kyouko

Draco tersenyum singkat. "Diantar kemana? Kyouko, kau dan orang tuamu kan berangkat ke Jepang tidak naik benda Muggle, kalian kan ber-Apparete. Nah, nanti kalau kau sudah besar dan cukup umur, kau bisa ber-Apparete sesukamu dan berkunjung kesini sesering mungkin,"

"Benarkah?" mata Kyouko yang masih berair tampak menggemaskan

"Iya, sekarang kau pergilah. Orang tuamu pasti sedang mencarimu sekarang. Ayo, akan kuantar kau ke sana."

Draco dan Kyouko pun berjalan menuju ruang tamu Malfoy Manor, tempat kedua orang tua Kyouko berpamitan dengan dengan orang tua Draco. Lucius Malfoy dan Ueda Hiro, dulu bekerja bersama di Departemen Kerjasama Sihir Internasional dan keduanya bersahabat baik. Tetapi kini, Mr. Ueda dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jepang dan menyekolahkan Kyouko di Mahoutokoro. Mereka sedang berkunjung ke Malfoy Manor untuk pamitan.

"Kau sudah bertemu Draco, Kyou-chan?" tanya Mrs. Ueda

Kyouko mengangguk.

"Nah, Lucius. Sudah saatnya kami pergi," pamit Mr. Ueda

Lucius mengangguk. "Sering-seringlah berkunjung kesini kalau ada waktu luang." Katanya sambil bersalaman dengan Mr. Ueda dan Mrs. Ueda

"Kami akan menunggumu," sambung Narcissa

"Kalian baik sekali. Ayo Kyou-chan." Ajak Mrs. Ueda pada Kyouko sambil berjalan menuju pintu rumah. Mrs. Ueda tampak sekali memegang Kyouko erat agar tak lepas saat ber-Apparete. Tepat setelah mereka menginjakkan kaki di teras Malfoy Manor, Kyouko menoleh sebentar.

"Duracchan!"

Draco mengernyit. "Ada apa?"

"Kalau sudah besar, menikahlah denganku!" teriak Kyouko dengan suaranya yang tercekat karena sambil menahan tangis. Draco hanya tersenyum simpul, itu kan hanya omongan anak berusia 6 tahun, makanya ia biarkan.

"Kau bahkan belum bersekolah tapi telah mengajak Draco menikah," kekeh Mr. Ueda. "Sampai jumpa, Lucius. Narcissa. Draco." Pamitnya. Setelah membungkuk, mereka bertiga ber-Apparete menuju suatu daerah di Jepang.

"Menikah, eh? Umurmu baru 7 tahun. Kau akan bertemu lebih banyak wanita cantik di sekolah nanti," kekeh Lucius sambil mengacak-ngacak rambut anaknya setelah ketiga Ueda itu menghilang dari pandangan.

"Aku tahu, Dad. Kyouko tak akan serius, aku tak yakin apakah kita akan bertemu lagi."

.

Draco ingat. Sebenarnya ia ingat secara jelas hari itu. Awalnya Draco santai, menganggap itu adalah omongan biasa anak umur 6 tahun. Tapi Draco agak risih setelah bertahun-tahun kemudian Kyouko menulis surat untuknya terus. Belakangan ini, ia jarang membalas suratnya, dan mungkin itu adalah salah satu faktor datangnya Kyouko kesini. Bahkan Draco pernah tidak pulang ke rumah saat liburan natal hanya karena menghindari kedatangan Kyouko. Ternyata ocehan anak kecil umur 6 tahun tersebut benar-benar serius dan masih diingatnya hingga sekarang. Oh Merlin, inilah sebabnya dia malas bertemu Kyouko, apalagi disaat ia telah memiliki Hermione. Draco berpikir cepat dan dia memutuskan untuk berpura-pura tidak ingat kejadian hari itu.

"Astaga, Kyouko! Itu pembicaraan kita 10 tahun yang lalu. Kita bahkan belum puber."

"Tapi aku menganggapnya serius, Duracchan!"

"Tapi aku tidak," jawab Draco enteng

"Tapi kau berjanji—"

"Kapan aku berjanji?" potong Draco. "Kapan aku berjanji menikahimu? Apakah aku mengatakannya?" tanyanya sinis

Kyouko tertunduk. Draco memang tak pernah mengatakannya.

"Tapi—aku—ingin—menika—"

"Dengar, Kyouko…" lagi-lagi Draco memotong perkataan Kyouko. "—apakah kau belum menemukan laki-laki yang kau cintai di sekolahmu?"

"Aku—pernah berpacaran beberapa kali. Saat kelas 3 dan 4. Tapi aku tetap tak bisa melupakanmu, Duracchan. Sorot matamu saat itu, aku—"

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau aku telah menemukan orang yang kucintai?

Kyouko tertunduk tak bisa menjawab. Draco menghela nafas.

"Kamarmu disana," tunjuknya pada suatu pintu di sebelah perapian. Sudah didekorasi, itu sebenarnya gudang kosong yang sudah diberi mantra-perluasan-tak-terdeteksi. Barang-barangmu sudah ada disana. Besok aku dan Hermione akan menjelaskan sekolah ini padamu. Sekarang, kau istirahatlah. Selamat malam." Draco beranjak pergi dan menghilang dari balik belokan yang menuju kamar dirinya. Tanpa pikir panjang, Kyouko langsung bernajak juga dan masuk ke kamarnya.

Sementara itu Draco berusaha mengetuk kamar Hermione. Ternyata Hermione belum tidur, dan menyuruhnya masuk ke kamar yang tak dikunci tersebut. Hermione sedang membaca koleksi bukunya yang entah sudah keberapa kali. Draco harus siap diinterogasi.

"Muffliato," Draco merapalkan mantra pada sekeliling kamar itu agar pembicaraan mereka tak terdengar dari luar—berjaga-jaga jika ternyata Kyouko menguping.

Draco duduk di samping tempat tidur Hermione, menatap dalam wajahnya. Sedangkan yang ditatap masih diam sambil membaca bukunya, seolah Draco tak ada di depannya. Ia terus membalik-balik halaman bukunya. Setelah bosan dengan keheningan yang tak ada artinya ini, Draco memulai pembicaraan dengan berdehem kecil.

"Apa?" sahut Hermione singkat dan datar tanpa repot-repot menatap Draco

"Kau marah?"

"Tidak,"

"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya,"

"Silahkan,"

"Tatap aku dong!" Draco yang tak tahan dengan kecuekan Hermione, menarik dagu Hermione sehingga gadis itu menatapnya.

"Baiklah," jawab Hermione sambil menutup bukunya dan menatap Draco dengan tatapan yang tak bisa dibaca

"Aku harus mulai darimana?" Draco menggaruk kepalanya—bingung

"Awal,"

"Hm, oke.. Kyouko itu teman masa kecilku. Ayahnya dulu bekerja di satu departemen dengan Dad. Kami sering main bersama, setidaknya sampai umurku 7 tahun, dia pindah ke Jepang. Tetapi sebelum pindah ke Jepang, dia mengatakan ingin menikahiku. Aku tak menanggapinya karena saat itu kami masih kecil. Sejak saat itu kami surat-menyurat," Draco melihat Hermione yang tak merubah ekspresinya—masih datar. Dengan buru-buru ia melanjutkan, "tapi sejak saat itu aku tak pernah bertemu dia lagi hingga sekarang. Aku selalu menghindarinya, aku bahkan tak membalas surat-suratnya setelah memilikimu." Draco sekarang puas melihat seulas senyum di bibir Hermione.

"Tapi Dad menyuruhku untuk mendekatinya, karena dia—"

"—darah murni. Aku tahu itu," potong Hermione. "Tapi dia tidak benci muggle-born kan?"

"Tidak," jawab Draco singkat. "Tapi keluarganya sangat menjunjung tinggi darah murni mereka,"

"Maksudmu?"

"Namanya Ueda Kyouko, Hermione. Ueda artinya sawah atas—orang-orang tinggi. Kyouko sendiri diambil dari Kiyoi, artinya murni. Oh iya, Kyouko juga turunan langsung dari Rowena Ravenclaw," jawab Draco

"Rowena Ravenclaw? Bagaimana bisa? Ravenclaw kan orang Inggris dan Ueda orang Jepang!"

"Rowena Ravenclaw hidup berabad-abad yang lalu. Bukannya tidak mungkin kan?" Draco menggelengkan kepalanya. "Dia pintar, Hermione. Bahkan sudah bisa merubah cacing menjadi ular di umur 6 tahun. Bisa menjadi salah satu bukti bahwa dia turunan Ravenclaw 'kan?"

"Wow. Aku bahkan belum tahu dunia sihir saat usia 6 tahun! Kau benar, Draco. Dia memang sepertinya begitu," Hermione sedikit merasa terkalahkan

"Tapi tak ada yang lebih pintar darimu, Hermione—" Draco tersenyum dan mendorong Hermione agar merebah ke belakang. Mulai mencium bibirnya lembut, dan kemudian berbisik di telinga Hermione.

"—terutama saat memuaskanku di tempat tidur,"

.

oOo

.

Hermione menyipitkan matanya, sinar matahari menembus tirai jendela kamar Hermione. Tangan Draco masih melingkar dengan mesra di pinggangnya, pakaian mereka masih berserakan di lantai. Hermione melirik laki-laki di sebelahnya yang masih terlelap. Setelah mengelus pipi dan mengecup pipi tersebut, Hermione dengan perlahan mengangkat tangan Draco dan menaruhnya lagi setelah dirinya membebaskan diri. Ia pun mengayunkan tongkatnya dan baju-baju yang bertebaran di lantai terlipat di atas tempat tidur, Hermione memakai miliknya dan segera menuju kamar mandi.

"Kau sudah bangun?" tanya Hermione saat kembali dari kamar mandi, mendapati Draco sudah memakai kembali pakaiannya.

"Kelihatannya?" Draco balas bertanya sambil menggaruk kepalanya dan menguap lebar-lebar. Alih-alih menjawab pertanyaan Draco, Hermione menyuruh Draco segera mandi dan bersiap-siap.

"Astaga, Hermione. Jam setengah 7!" Draco yang masih malas kembali meringkuk di tempat tidur

"Sepertinya kau lupa, Draco. Kita kedatangan tamu," balas Hermione datar

Setelah menghela nafas, Draco beranjak ke kamar mandi dengan malas. Sementara Draco mandi, Hermione turun ke bawah dan berniat membuat cokelat panas. Ternyata Kyouko sudah duduk dengan santai di depan perapian sambil membuka peta Hogwarts.

"Kau sudah mandi?" tanya Hermione kalem—berusaha melupakan apa yang terjadi tadi malam.

"Sudah, ah—tadi aku masuk ke salah satu pintu kamar yang terbuka dan aku tak melihat seorang pun tidur disana, padahal aku yakin benar hanya aku yang baru bangun. Apa kau tidur bersama Duracc—Draco?" tanya Kyouko dengan tatapan mata polos

"Eh—er—," Hermione gelagapan menjawabnya, "yeah—maksudku tidak—atau mungkin iya. Tadi malam kami mengerjakan tugas bersama dan—well, Draco ketiduran di kamarku. Tapi dia ketiduran di meja belajar dan—" belum sempat Hermione menyusuh naskah alasan yang amatir, Draco masuk. "Hermione, dear. Kenapa bantal ranjangmu tadi begitu keras sih? Aku—" Draco menghentikan kalimatnya karena melihat Hermione yang terpaku dan mulutnya masih terbuka.

"—aku memindahkannya ke ranjangku," desis Hermione lemah. Bukan itu yang sebenarnya akan dikatakannya pada Kyouko. Karena Draco datang dan menghancurkan segalanya, terpaksa ia mengakhiri cerita tersebut dengan inti hal yang sebenarnya—tidur bersama Draco.

"Duracchaaaaaaan!" teriak Kyouko dan langsung menghambur memeluk Draco, sepertinya tak peduli pada apa yang dikatakan Hermione. Hermione melihat hal itu dari balik pantry-nya dan berusaha cuek dengan memfokuskan dirinya pada 3 cangkir cokelat.

"Kyouko—hentikan." Draco berusaha melepaskan dirinya dari kekangan Kyouko

"Morning kiss-nya manaaaaaa," tanya Kyouko dengan manja dan bergelayut mesra di lengan Draco. Hermione sudah mulai muak. Dia menaruh 3 cangkir ke atas meja depan perapian.

Ketika Kyouko sudah mendekat ke Draco, dan Draco tak bisa mengelak, Hermione segera menarik Draco dengan paksa dan menciumnya di bibir. Setelah puas, Hermione tersenyum penuh kemenangan dan menatap Kyouko setengah sinis, "Mungkin ia adalah teman masa kecilmu. Tapi, dia pacarku sekarang dan hak morning kiss-nya ada di tanganku. Iya 'kan, Draco?" Draco langsung mengangguk mantap. Dengan sorot mata yang tak bisa di jawab, Kyouko ber-oh dan duduk sambil menyesap coklat hangatnya. Draco duduk di sebelahnya, dan Hermione di sebelah Draco. Fine, sesaat Draco merasa seperti James Bond—duduk dengan kerennya di antara 2 perempuan cantik. Tapi Draco merasa suasana perlu dicairkan.

"Jam pertama apa, eh?" tanyanya dengan ragu

"Transfigurasi," jawab Hermione singkat sambil menyeruput cokelatnya

"Masih 2 jam lagi ya? Kapan kita ke aula besar?" tanya Draco lagi

"Habis ini, kita kan harus mengantar—ehem—Miss Ueda untuk berjalan-jalan sebentar di Hogwarts," Hermione memberi sedikit penekanan pada 'Miss Ueda'

"Oh, kau benar."

Setelah menghabiskan cokelat dan membersihkan cangkir-cangkir tersebut, Hermione memanjat keluar dari lukisan Hogwarts ekstra-besar diikuti oleh Draco dan Kyouko. Hermione berjalan memimpin di depan dan membiarkan Draco yang menjelaskan kastil tersebut pada Kyouko. Benar dugaan Hermione, Kyouko menjadi Trending Topic pagi itu, mereka memandang mereka bertiga dengan pandangan kagum dan bertanya-tanya. Tentu, seragam Kyouko paling mencolok. Dia memakai seragam Mahoutokoro-nya. Blazer dengan rok di atas lutut berwarna lilac, dengan kulit kuning dan mata sipit, pasti menjadi sorotan. Tenang, keributan ini hanya akan berlangsung 1 bulan. Hermione tak boleh terganggu, seminggu setelah Kyouko pulang, ujian NEWT akan dimulai.

Mereka bertiga masuk ke aula dan Hermione dapat merasakan keheningan sesaat dan semua mata tertuju pada mereka selema 3 detik dan kemudian kembali pada kegiatan masing-masing. Hermione dengan setengah hati membiarkan Kyouko sarapan di meja Slytherin bersama Draco, ia percaya, teman-temannya di Slytherin tak akan membiarkan Kyouko macam-macam dengan Draco, sementara Hermione makan di meja Gryffindor.

"Mereka sudah akrab ya?" tanya Harry

"Er—mereka teman masa kecil," jawab Hermione ragu

"Teman masa kecil? Kok bisa?" Ginny yang ada di sebelah Harry ikutan nimbrung

"Jangan membuatku menceritakannya sekarang, Gin. Lain kali saja, aku sedang tidak mood," bibir Hermione sedikit maju ke depan

"Kau tak curiga pada Malfoy, eh?" sekarang gentian Ron yang bertanya—hanya dijawab dengan death glare dari Hermione.

"Aku makan," kata Hermione sambil memotong daging asap pertamanya.

.

oOo

.

"Hermione! Hey, Hermione!" panggil Parvati saat Hermione sedang menuruni tangga melingkar setelah pelajaran Ramalan di jam terakhir selesai.

"Ya?"

"Bisakah kau ke ruang rekreasi sebentar nanti? Ada yang ingin kubicarakan padamu. Ini tentang—ramalan,"

"Baiklah, setelah makan malam ya?"

Setelah diikuti anggukan oleh Parvati, Hermione bertanya-tanya dalam hati. Apa artinya ramalan ia saat itu, kemungkinan terbesarnya adalah—Ueda. Tapi bisa saja faktor lain kan? Hermione sudah terlalu menyayangi Draco, dan tak ingin bepisah dengannya. Ingin rasanya dia berlama-lama dan bermanja-manja dengan Draco di sisa waktunya ini. Ah—seandainya.

"Hey, Miss Granger," sapa seseorang

"Harry! Astaga, kau mengagetkanku."

"Habisnya, kau daritadi melamun. Ada apa?" tanya sahabatnya tersebut

"Bukan apa-apa, Harry." Hermione menggeleng

"Aku telah menjadi sahabatmu bertahun-tahun, Hermione. Jadi—kau cemburu pada anak Mahoutokoro itu ya?" Harry tersenyum simpul

"Bagaimana kau mengetahuinya? Ah—Harry. Kau memang sahabatku. Baiklah aku akan cerita, tapi janji jangan kau katakana pada Ron ya?" Hermione sedikit merendahkan suaranya. Harry mengangguk.

"Anak itu teman masa kecil Draco, dia pernah mengajak Draco menikah diumur 6 tahun, dan dia serius. Dia bahkan menagihnya sekarang, aku tak tahan dengan sifatnya yang manja dan berlebihan. Dia terus menerus bergelayut mesra dengan Draco—siapa yang tak cemburu coba? Apalagi tadi pagi dia meminta ciuman dari Draco, aku jijik," Hermione bergidik

"Well, Hermione. Aku hanya bisa memberitahumu satu nasihat,"

"Apa?"

"Percayailah Draco," kata Harry tersenyum lembut. Hermione tak menjawab, hanya mengangguk, dan ternyata mereka telah sampai di aula depan. Langsung saja mereka masuk ke aula besar dan duduk di meja Gryffindor. Hari ini Ueda tak mau ditemani Hermione, ia minta terus-menerus ditemani Draco, dan itu membuat waktu Hermione dengan Draco terbatas. Hermione benci ini.

Makan malam hari itu berlangsung biasa saja, tak ada kejadian yang jeboh atau menarik. Hanya saja hari ini meja Slytherin ramai dengan anak laki-laki dari berbagai asrama. Tentu —karena ada si perfect Ueda Kyouko disana, Draco tampak berkali-kali memandang Hermione, seperitnya menginginkan duduk di sebelah Hermione daripada di sebelah Ueda. Hermoine hanya bisa melempar senyum prihatin padanya.

"Jadi? Bagaimana Parvati?" tanya Hermione di ruang rekreasi mereka.

"Orang ketiga, Hermione. Akan muncul satu orang lagi diantara kalian,"

"Sudah kuduga. Sungguh model telenovela Muggle," bisik Hermione nyaris tak terdengar

"Sori, kau bilang apa, Hermione?" tanya Parvati yang hanya mendengar desisan Hermione

"Bukan apa-apa, Parvati. Hanya itu saja?"

"Tidak—orang tersebut akan memintamu melakukan suatu hal yang mustahil, tapi aku tak tahu apa itu."

"Hal yang mustahil kulakukan?" Hermione mengernyit. Apa yang ia mustahil lakukan?

"Benar, hanya itu saja yang bisa kubaca. Maafkan aku, Hermione,"

"Tak apa, terimakasih ya." Jawab Hermione sambil berdiri dan memanjat lukisan Nyonya Gemuk.

Hermione berjalan sepanjang koridor. Benar apa yang ada di dugaannya. Si Ueda Kyouko itu lah biangnya. Apa pun yang terjadi, ia tak akan menyerahkan Draco padanya. Lagipula, apa sesuatu yang mustahil dilakukan Hermione? Sedikit sekali yang tahu kelemahan Hermione. Ueda yang hanya anak pertukaran pelajar tak akan mengetahuinya.

Setelah mendengus sebal, ia masuk ke lukisan Hogwarts dan melihat pemandangan sungguh menjijikkan. Sepertinya Ueda sedang berusaha memperkosa Draco atau apa—karena posisi mereka yang tidak senonoh. Ueda seperti sedang menindih Draco sementara Draco tak berkutik, seperti diikat oleh mantra pengikat, dan mulutnya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Her—Herm," Draco megap-megap berusaha memanggil Hermione

Hermione yang langsung sadar dari ke-shock-annya langsung menghampiri Ueda, menjambak rambutnya, dan menariknya dari atas tubuh Draco. Ueda langsung merintih kesakitan karena rambutnya ditarik secara paksa.

PLAAAAK

Tamparan cukup keras menghantam pipi Ueda dari tangan kanan Hermione, sementara tangan kirinya masih menjambaknya. Hermione tahu—tindakannya akan membahayakan reputasinya di sekolah. Tapi jujur saja, ia sudah tak tahan lagi. Tanpa berkata sepatah-kata pun, ia melepaskan tangan kirinya dan langsung merapalkan mantra agar Draco tak tersiksa lagi. Dengan cepat, ia menarik Draco ke kamarnya.

Sementara itu Ueda masih meringis kesakitan di lantai. Memikirkan pembalasan apa yang setimpal untuk Hermione.

.

oOo

.

Hermione terbangun keesokan harinya, sementara Draco tertidur di sampingnya. Tidak—dia tidak melakukannya tadi malam. Dia masih kesal karena mendengar cerita Draco—Ueda menyerangnya saat Draco tertidur di depan perapian.

'Maniak sekali si Ueda itu,' pikir Hermione yang masih kesal. Tapi bagaimana pun, dia merasa bersalah atas perlakukan kasarnya itu tadi malam.

Berusaha tak membangunkan Draco, Hermione keluar kamarnya dan menuju depan perapian, ada Ueda di sana. Tatapannya kosong.

"Hey," sapa Hermione. "Maafkan aku tadi malam. Aku kelepasan, tolong jangan sebarkan ini— "

"Aku memaafkamu, Granger," potongnya "dan aku tak akan memberitahu siapa pun—jika saja kau mau melakukan sesuatu untukku."

'Ini dia!' hati Hermione mencelos

"Apa?" tanya Hermione takut-takut

"Draco—berikan Draco padaku. Jadikan Draco milikku—hanya untuk satu minggu,"

.

TBC

.

oOo

.

It took sooooo long! Maafkan saya karena updatenya lama :)

Saya sering malas melanjutkannya, karena sibuk belajar lah (halah) main musik, dan juga kegiatan rohani. Hahaha, sok padat banget ya, padahal ga gitu-gitu amat kok.

Thanks for reading, review please :D