PRANG!

Suara kaca pecah dari lantai atas. Soonyoung, Seokmin dan Mingyu serempak mendongak keatas. Mereka membelalakkan mata ketika melihat kaca jendela dilantai 3 pecah dan mulai berjatuhan kebawah. Dan posisi Wonwoo masih sibuk mengaitkan tali sepatunya. Soonyoung menatap terkejut ketika tau Wonwoo akan terluka jika pecahan kaca itu mengenai dirinya.

Dengan sigap dan cepat Soonyoung berlari kearah Wonwoo dan memeluknya. Melindungi Wonwoo dari pecahan kaca yang akan melukainya

"Wonwoo Hyung"

"Soonyoung sunbae"

Teriak Mingyu dan Seokmin secara bersamaan.

SOONWOO TWINS

Author : Jung Minwoo96

Nilai: ? (Dinilai sendiri saja ya... karena Author pun ndak tahu berapa yang harus dinilai untuk FF ini. hehehehehehe)

Cast:

Wonwoo

Soonyoung

Mingyu

Seokmin

Kibum

Donghae

Jun

Woozi

Cast yang lain menyusul tergantung jalan cerita!

Disclaimer : Semua Cast hanya milik Tuhan YME dan orang tua mereka. saya hanya menggunakan nama mereka karena saya sangat menyukai mereka. Cerita murni dari saya pribadi, tapi Inspirasinya dari berbagai macam – macam Author favorit, ff favorit saya, manga jepang favorite, Drakor, Drama jepang dan lain - lain.

Genre: Romantis, Brothership, Friendship, Family

Warning : BL/YAOI, jika ada Typo's atau GJ mohon dimakhlumi karena ini karya pertama saya sebagai penulis, hehehehehe.

Happy Reading!

Chapter6

Soonyoung berusaha melindungi tubuh Wonwoo. Dalam hati dia terus berharap jangan sampai pecahan kaca mengenai Wonwoo walaupun hanya mengoresnya sedikit saja. Soonyoung merasa heran ketika tidak merasakan sakit dipunggungnya. Jika pecahan kaca itu mengenai dirinya maka dia akan merasakan sakit. Tapi sekarang yang dia rasakan adalah kehangatan yang menjalar diseluruh tubuhnya.

Soonyoung menolehkan kepalanya kebelakang, mencoba melihat hal apa yang membuat dia tidak merasakan sakit. Soonyoung membelalakkan matanya ketika melihat Seokmin dan Mingyu tengah melindunginya dan Wonwoo dari pecahan kaca itu.

"Sunbae, kau baik – baik saja?" tanya Seokmin sambil melepaskan pelukannya, begitu pula dengan Mingyu.

"Wonwoo hyung kau baik – baik saja?"

Soonyoung terkejut dalam diam sedangkan Wonwoo nampak masih blank atas kejadiaan yang baru saja terjadi. Wonwoo melihat pecahan kaca berserakan disekitar mereka.

"Kau baik – baik saja?" Seokmin mengulang pertanyaannya sambil mengguncang pelan bahu Soonyoung. Soonyoung tersadar dari keterkejutannya

"Ah, Ne. Gwencana"

Soonyoung menatap Wonwoo, meneliti setiap Inci dari tubuh Wonwoo. Memastikan jika Wonwoo tidak terluka.

"Gwencana?" tatap Soonyoung khawatir.

"Apa yang terjadi?"

"Kenapa kau diam saja disini ketika pacahan kaca hampir mengenaimu?" Soonyoung sedikit menyentak Wonwoo.

"Aku tidak tau. Aku hanya tahu kau berlari kearahku dan memelukku. Sebelum itu aku tidak tau apa yang terjadi"

Sooyoung membuang nafasnya kasar, jika tadi dia tidak melihat Wonwoo pasti Wonwoo akan terkena pecahan kaca itu dan terluka. Sooyoung beralih menatap Mingyu dan Seokmin

"Kalian baik – baik saja?" tanya Sooyoung

"Ah, Ne. Aku baik – baik saja" jawab Mingyu, sedangkan Seokmin melihat apakah Mingyu benar – benar baik –baik saja, Seokmin memutar bola matanya malas melihat punggung Mingyu ada seikit darahnya begitu pula dengan dia, dia merasakan sedikit perih dibagian punggungnya.

"Apanya yang baik – baik saja?" ujar Seokmin sambil menepuk punggung Mingyu dengan keras

"Aww. Sakit bodoh." Pekik Mingyu sambil merintih kesakitan

Mendengar pekikan Mingyu, Wonwoo melihat keadaan Mingyu dan terkejut melihat punggung Mingyu ada darah dan sedikit pecahan kaca yang menancap dipunggungnya.

"Ommo. Mingyu... kau berdarah." Jerit Wonwoo

"Iya hyung, berdarah. Tapi aku baik – baik saja."

"Ayo ke ruang kesehatan. Kita obati lukamu di sana." Ajak Wonwoo sambil menggandeng tangan Mingyu. Mingyu hanya diam mengikuti langkah Wonwoo. Jantungnya berdetak dengan cepat ketika Wonwoo menggandeng tangannya.

"Kau juga harus diobati." Ucap Sooyoung pada Seokmin.

"Tidak usah. Aku baik – baik saja"

Mendengar jawaban Seokmin, Sooyoung sudah ingin bersiap memukul punggung Seokmin

"Ne...Ne...Ne... kita keruang kesehatan." Seokmin berusaha menghindar sebelum Sooyoung benar – benar akan memperparah luka dipunggungnya.

"Kau keruang kesehatan. Aku akan melihat di lantai 3 apa yang terjadi sehingga kaca jendela itu pecah."

"Ah, Ne."

"Boleh aku minta tolong padamu?" tanya Sooyoung sebelum meninggalkan Seokmin

"Hm, Mwoga?"

"Bisa kau jaga Wonwoo sampai aku kembali. Jangan biarkan dia sendirian di ruang kesehatan jika teman tiang mu itu pergi dari ruang kesehatan"

"Tapi Mingyu tidak akan pergi meninggalkan Wonwoo sunbae. Aku jamin itu"

"Aku percaya. Tapi aku hanya ingin memastikan saja, bahwa Wonwoo tidak sendiri selama aku tidak ada."

"Baiklah. Aku akan menjaganya"

"Gomawo"

Sooyoung bergegas menuju kelantai tiga tempat kaca jendela yang pecah, sedangkan Seokmin masih diam melihat punggung Sooyoung yang semakin menjauh

"Kenapa kau begitu mengkhawatirkannya? Kenapa kau memberikan tanggung jawab itu padaku? Tidakkah kau tau itu sangat menyakitkan untuk ku. Kau selalu ingin melindunginya tanpa mempedulikan dirimu sendiri. Aku juga ingin melindungimu dan menjagamu" pemikiran itu terus berkecamuk di pikiran Seokmin.

***SOONWOO TWINS***

"Sial. Rencana Jihyo gagal."

JongUp menendang kursi yang ada disamping Pintu. Tindakan itu membuat teman – temannya terperanjat kaget.

"Tidak mungkin rencanaku gagal. Aku sudah merencanakannya dengan matang - matang" protes Jihyo

"Apa kita ketahuan oleh Sooyoung?" Hwayoung sedikit khawatir mendengar ucapan JongUp

"Tidak. Kita tidak ketahuan. Kau tau sendiri bagaimana aku bermain kan. Aku menyuruh seseorang untuk memecahkan kaca dan orang itu harus berpura – pura pingsan atau terluka. Jadi jika Sooyoung menemukaannya maka dia akan beranggapan jika itu hanya kecelakaan bukan kesengajaan. Kau tau sendiri bagaimana sifat Sooyoung. Dia akan mencari tahu siapa yang berniat melukai Wonwoo"

"Wow. Daebak. Kau benar – benar licik" puji Jingyu

"Kau ingin menghancurkan Sooyoung tapi tidak mau tanganmu kotor. Lembar batu sembunyi tangan, eoh! Sangat licik" Hyeonjin menggelengkan kepalanya kagum.

"Kalau kau mempunyai ini" ucap JongUp sambil menunjuk pelipisnya "Gunakan secara maksimal. Maka kau akan mendapatkan apa yang kau mau" JongUp menyeringai lebar.

"Lalu bagian mana rencana Jihyo yang gagal?" tanya Hwayoung heran

"Ada dua Hoobae sok pahlawan melindungi mereka. Sebenarnya aku berniat hanya melukai Wonwoo tapi diluar dugaan Sooyoung menuju tempat dimana Wonwoo berada. Lalu ada dua hoobae yang ada ditempat itu, dan dua orang itu diluar perhitunganku. Mereka datang menyelamatkan Sooyoung dan Wonwoo"

"Bukankah tadi kau sudah menahan Sooyoung, Jihyo-ah?" tanya JongUp sambil menatap satu – satunya gadis digroup mereka

"Hm. Tadi aku sudah berniat ingin mengajak Sooyoung berdebat. Tapi ada hoobae yang membuat perdebatan itu berhenti dan membuat Sooyoung pergi ditempat Wonwoo berada. Benar kata JongUp, para hoobae itu diluar perhitungan kita." Ujar Jihyo sedikit kesal mengingat bagaimana hoobae tadi membawa Soonyoung pergi darinya.

"Lalu bagaimana nasib orang memecahkan kaca atas suruhanmu?" tanya Hwayoung penasaran, bagaimana nasib orang itu. Mengingat bagaimana bahaya seorang Jeon Soonyoung jika tahu kejadian itu sengaja dibuat untuk melukai Wonwoo

"Tenang saja. Aku sudah memilih orang yang paling pintar akting dari kelas Akting di tingkat pertama." Jawab JongUp sambil tersenyum sinis

"Nugu?"

"Zuho"

"Zuho? Anak tingkat pertama yang berhasil ditawari oleh perusahan Entertainment sebelum dia masuk ke sekolah ini?" pekik Jingyu tidak percaya

"Tepat sekali. Karena bakat aktingnya itu lah dia ditawari masuk perusahaan itu, tanpa harus bersusah payah audisi dan dia langsung mendapatkan peran utama."

"Wow. Daebak! Tapi bagaimana jika dia ketahuan oleh Sooyoung?" Hyeonjin masih mempertanyakan hal yang dikhawatirkan

"Tidak! Aku jamin itu."

"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Jihyo

"Kau akan tau nanti. Aku masih punya rencana untuk menghancurkannya" JongUp mengeluarkan Smirknya yang mengerikan

***SOONWOO TWINS***

Soonyoung tengah memapah Zuho menuju keruang kesehatan

"Jika tadi Sunbae tidak melihat dilantai tiga aku tidak tahu nasib ku bagaimana jadinya. Pasti aku seharian akan ditempat itu terus karena lantai itu tidak digunakan sama sekali" ucap Zuho sesekali meringis sakit dibagian kakinya yang terkilir dan ada darah dibagian telapak tangannya.

Mendengar itu Soonyoung hanya tersenyum lembut

"Bagaimana kau bisa disana?"

"Aku dihukum dan dikeluarkan dari kelas karena aku tidak mengerjakan tugas. Dan hukumannya membersihkan lantai tiga yang tidak terpakai itu. Saat membersihkan tanpa sengaja aku terpeleset dan gagang pel yang ku pegang mengenai kaca."

"Apakah hanya kau sediri yang tidak mengerjakan tugas?" tanya Soonyoung sambil sesekali membenarkan tangan Zuho yang ada dibahunya

"Ne, aku sibuk karena harus syuting. Dan aku melupakan tugasku. Aku benar – benar minta maaf padamu Sunbae. Gara – gara kecerobohanku kaca itu hampir melukaimu dan Wonwoo Sunbae."

"Gwencana. Aku baik – baik saja. Wonwoo juga baik – baik saja. Tadi aku mengatakan bahwa kacanya hampir mengenaiku dan Wonwoo itu hanya memberitahumu agar lebih hati - hati lagi."

"Ne, Sunbae. Mianhae"

"Sekarang kau yang harus memperhatikan lukamu. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam ditelapak tanganmu. Dan kakimu akan membaik jika dikompres dengan air hangat."

"Ne" jawab Zuho sambil tersenyum canggung, tanpa sepengetahuan Soonyoung, Zuho tersenyum sinis.

Sesampainya di ruang kesehatan, Soonyoung melihat Wonwoo tengah memperhatikan Mingyu yang sedang tertidur menyamping. Soonyoung juga melihat Seokmin duduk disofa tunggu ruang kesehatan.

"Kau tunggu disini. Aku akan memanggil petugas kesehatannya" ucap Soonyoung setelah mendudukan Zuho di samping ranjang sebelah ranjang Mingyu.

"Wonwoo, dimana Yoona Noona?" tanya Soonyoung sambil berdiri disamping Wonwoo, Wonwoo menunjuk kearah ruang kerja dibelakangnya. Soonyoung pergi memanggil petugasnya dan beberapa saat kemudian seorang wanita cantik keluar.

"Yoona Noona dia terluka, sepertinya terkena pecahan kaca ditelapak tangannya. Dan lagi kakinya terkilir" jelas Soonyoung tentang keadaan Zuho.

"Ada lagi yang terluka? Bagaimana ceritanya?" Yoona mengerutkan keningnya heran

"Dia dihukum membersihkan ruang dilantai tiga yang tidak terpakai. Dan tanpa sadar terpeleset ketika sedang membersihkan. Gagang pel yang digunakan untuk membersihkan tidak sengaja mengenai kaca dan kaca jatuh tepat diatas Wonwoo."

"Ya baiklah. Aku akan mengobatinya. Kau baik – baik saja?" tanya Yoona sambil melihat keadaan Soonyoung

"Ne, aku baik – baik saja Noona. Bagaimana keadaan Mingyu dan Seokmin?"

"Mingyu baik – baik saja. Ia sedang istirahat karena aku baru saja memberikan obat bius saat mengobati lukanya. Sedangkan Seokmin juga sudah diobati, dia duduk disofa dan ternyata sekarang tertidur. Aku menyuruhnya berbaring,tapi dia tidak mau."

"Apakah Luka mereka parah?" Soonyoung tampak khawatir

"Ani. Lukanya tidak parah, tapi cukup membuat mereka kesakitan" kekeh Yoona.

"Kamsahamida, Noona"

Soonyoung menghampiri Wonwoo yang sedang duduk sambil menatap Mingyu yang tengah tertidur

"Ada apa Wonie? Kenapa kau memandangnya seperti itu?" tanya Soonyoung lirih takut membangunkan Mingyu

"Entah kenapa ketika melihat wajah tidur Mingyu, Aku teringat pada Minggoo. Aku tiba – tiba jadi merindukannya" ucap Wonwoo sambil membelai lembut puncak rambut Mingyu.

"Tapi Mingyu bukan Minggoo, Wonie. Ingat itu? Aku tidak mau kau menyakiti perasaannya dengan mengatakan jika dia mengingatkanmu dengan kenangan masa kecilmu"

"Hm, Arra. Tapi entah kenapa aku merasa seperti itu Soonyoung-ah"

"Aku hanya mengingatkan. Aku akan melihat keadaan Seokmin dulu."

"Ne"

Soonyoung menghampiri Seokmin yang tertidur sambil duduk disofa, Soonyoung duduk disamping Seokmin.

"Kenapa kau dan Mingyu menyelamatkan ku dan Wonwoo?" Batin Soonyoung sambil memandang Seokmin, Soonyoung menghembuskan nafasnya kasar

"Ya, sudah lah. Aku tidak mau memikirkan itu" batin Soonyoung sambil memandang kearah Zuho yang tengah mengompres kakinya yang terkilir tadi. Yoona sudah mengobati luka ditelapak tangan Zuho dan membalutnya dengan perban. Melihat Zuho tengah sibuk mengompres lukanya membuat Soonyoung tergerak ingin membantu.

Saat Soonyoung akan beranjak dari tempat duduknya, tiba – tiba tangannya ditahan dan merasakan beban dipundaknya.

"Kau tidak tidur?" tanya Soonyoung terkejut melihat Seokmin menyandarkan kepalanya dengan nyaman dibahu Soonyoung. Soonyoung sudah ingin menghindar, tapi Seokmin tidak membiarkannya begitu saja.

"Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku lelah. Jebal" pinta Seokmin lirih, mendengar nada lirih Seokmin membuat Soonyoung diam. Tidak bergerak. Membiarkan Seokmin tertidur dengan nyaman dibahunya.

"Ya, hitung – hitung sebagai tanda terimakasih" ucap Soonyoung cuek. Sedangkan Seokmin yang mendengar itu terkekeh pelan. Seokmin menumpukan dagunya dipundak Soonyoung. memandang Soonyoung dari dekat seperti ini membuat jantungnya berdetak dengan cepat, dia sangat mengagumi ciptaan Tuhan yang ada disampingnya ini.

"Soonyoung sunbae" panggil Seokmin lirih

"Hm" Soonyoung menolehkan kepalanya kesamping dan...

CUP

Satu kecupan lembut mendarat dibibirnya. Soonyoung sangat terkejut. Dia membelalakkan mata sipitnya lebar. Wajahnya memerah sampai telinga. Dengan perlahan Seokmin melepaskan kecupannya dan tersenyum jahil

"Itu yang dinamakan tanda terimakasih Soonyoung Sunbae"

Sedangkan Soonyoung masih blank dengan kejadian barusan. Wajahnya masih merah. Dengan santainya Seokmin menyandarkan kepalanya kembali dibahu Soonyoung. Seokmin tertidur dengan nyaman sambil tersenyum.

**SOONWOO TWINS***

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Wonwoo pada Mingyu saat mereka berjalan dikoridor sekolah. Bel sekolah sudah berbunyi ketika mereka ada diruang kesehatan. Akhirnya mereka melewatkan jam pelajaran terakhir.

"Aku baik – baik saja hyung. Hanya butuh perawatan saja."

"Kalau masih merasakan sakit. Datang saja pada Yoona Noona, dia akan segera mengobatimu "

"Aku tidak mau datang pada Yoona Noona" Jawab Mingyu sambil tersenyum jahil

Wonwoo yang tidak mengerti mengerutkan keningnya bingung "Waeyo? Kalau kau tidak datang pada Yoona Noona, siapa yang akan mngobatimu?"

"Kau" jawab Mingyu singkat sambil menunjuk Wonwoo

"Aku?" Wonwoo menunjuk diri sendiri dengan ekspresi wajah yang imut dan itu sukses membuat Mingyu menahannya untuk tidak mencubit pipi Wonwoo

"Aku bukan dokter seperti Yoona Noona atau perawat, bagaimana aku bisa merawatmu"

"Tapi aku maunya kau yang merawatku" Mingyu bersikeras pada pendiriannya

"Shireo! aku bukan dokter atau perawat. Bagaimana jika aku malah memperparah lukanya? Bagaimana jika aku malah membuat luka lagi saat aku merawatmu? Bagaimana jika malah infeksi? Bagaimana jika..."

Mingyu langsung membekap mulut Wonwoo dengan tangannya agar Wonwoo tidak bicara lagi. Wonwoo menatap bingung kearah Mingyu kenapa ucapannya dihentikan.

"Diamlah Hyung, kau cerewet sekali. Aku hanya bercanda" Mingyu terkekeh pelan, Wonwoo melepaskan bekapan tangan Mingyu sambil merengut lucu. Demi Tuhan bagi Mingyu wajah merengut Wonwoo sangat manis.

"Astaga dia manis sekali" teriak Mingyu dalam hati

"Kau benar – benar bercandakan? Kau tidak menyuruhku untuk merawat luka mu kan? Kau tidak..."

"Iya, Wonie hyung" potong Mingyu dengan nada yang gemas "Aku hanya bercanda. Aku hanya menggodamu saja" cengir Mingyu

"Kau jahat sekali!" Wonwoo merengut lucu

"Aigo! Kau manis sekali" ujar Mingyu sambil mengacak – acak rambut Wonwoo

Soonyoung dan Seokmin hanya diam menyaksikan perdebatan kecil dua orang yang berjalan didepannya ini. Selama perjalanan, Soonyoung dan Seokmin hanya diam saja.

Soonyoung masih malu menatap Seokmin, karena jika menatap Seokmin dia akan teringat kejadian di ruang kesehatan tadi dan itu membuat muka memerah. Sedang kan Seokmin hanya diam sambil sesekali memperhatikan makhluk manis yang ada disampingnya ini sambil tersenyum lembut.

"Soonyoung-ah" panggil Wonwoo tiba – tiba sambil menoleh kebelakang, membuat Soonyoung terkejut.

"N..Ne. Waeyo?" ucap Soonyoung sedikit tergagap, jujur saja Soonyoung sekarang sedang gugup ketika melihat Seokmin tengah menatapnya.

"Kau kenapa? Gwencana?" tanya Wonwoo khawatir sambil meraba kening Soonyoung

"Aku baik – baik saja, Wonie" Soonyoung tersenyum sambil menyingkirkan tangan Wonwoo dari keningnya.

"Apa sekarang kita semua kerumah Seungkwan?" tanya Soonyoung mengalihkan pembicaraan

"Tentu saja. Mereka sudah menunggu ditempat parkir bawah. Hanya kita saja yang belum pulang." Wonwoo menggenggam tangan Soonyoung, Wonwoo yang semula berjalan disamping Mingyu sekarang berjalan di samping Soonyoung

"Baiklah. Kita segera menyusul mereka ditempat parkir"

Mereka berempat berjalan beriringan ketempat parkir, tindakan Wonwoo yang menggenggam tangan Soonyoung berhasil membuat dua orang yang ada dibelakang mereka merasakan sesuatu yang tidak enak didalam perutnya. Merasakan gemuruh didalam dadanya. Mingyu dan Seokmin saling bertatapan. Karena sekarang mereka merasakan hal yang sama di dalam hati mereka yaitu cemburu.

"Kalian baru datang? Kami sudah lama menunggu disini" tegur Woozi ketika melihat keempat orang yang ditunggu akhirnya muncul

"Mianhae, kami baru saja dari ruang kesehatan." Sesal Soonyoung

"Dari ruang kesehatan? Siapa yang sakit?" tanya Jun menanggapi

"Mereka berdua. Sebelum bel sekolah berbunyi ada suatu kejadian yang membuat mereka harus ada diruang kesehatan." Jawab Wonwoo

"Kejadian apa hyung?" tanya Seungkwan sambil mengerutkan keningnya

"Sudahlah. Jangan membahas lagi. Ayo kerumahmu." Jawab Mingyu dengan nada dingin. Dia sudah sangat kesal sekarang melihat tangan Wonwoo yang tetap menggenggam tangan Soonyoung. Semua orang yang berada disitu mengerutkan keningnya mendengar nada bicara Mingyu. Tidak biasanya Mingyu seperti itu.

"Ada apa dengan bocah ini?" batin Jun heran, tapi keheranan Jun terjawab ketika melihat arah pandang Mingyu kearah tangan Wonwoo dan Soonyoung. Jun hanya bisa tersenyum geli melihat bukan hanya Mingyu yang kesal namun juga Seokmin. Wajah keduanya terlihat sangat tidak baik dibelakang sahabat kembarnya itu.

Tanpa sadar Jun terkekeh sendiri, membuat Woozi dan yang lainnya mengalihkan pandangannya pada namja china ini.

"Waeyo?" tanya Woozi, Jun menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya yang kapan saja keluar

"Waeyo Jun? Ada yang aneh? Kenapa kau seolah – olah ingin tertawa?" tanya Wonwoo heran, melihat sahabatnya ini ingin tertawa tapi ditahan

"Ani, Wonie. Aku hanya mengingat salah satu adegan dalam drama yang aku tonton saja."

"Adegan apa? Tumben kau nonton drama. Biasanya kau tidak tertarik sama sekali dengan drama?" Soonyoung menimpali

"Adegan tentang seseorang yang cemburu tanpa tahu kebenarannya. Dia tidak mau bertanya secara langsung pada orang yang bersangkutan, sehingga mengakibatkan dia mengambil kesimpulan sendiri tentang apa yang dia lihat. Karena dia pengecut"

Jun terkekeh pelan melihat Seokmin dan Mingyu mendelik kearahnya. Seokmin dan Mingyu juga tahu jika Jun tengah menyindir mereka berdua. Woozi yang paham akan situasi itu menyadari arah pembicaraan Jun. Woozi melihat tangan Wonwoo yang menggenggam tangan Soonyoung dan melihat kedua Hoobae mereka yang ada dibelakang sahabat kembarnya itu. Melihat bagaimana raut kedua hoobae tersebut membuat Woozi tersenyum simpul.

"Ada – ada saja" batin Woozi sambil menggelengkan kepalanya

"Kita kerumah Seungkwan sekarang. Aku sudah menghubungi Appa dan Eomma" ujar Seokmin mengalihkan pembicaraan. Agar Jun tidak menyindirnya lagi

"Aku juga sudah menghubungi Appa dan Eomma" ucap Woozi

"Nado" Jun menimpali "Kalian bagaimana?" Jun bertanya pada Soonyoung dan Wonwoo

"Nado" jawab Soonyoung dan Wonwoo kompak

"Lalu bagaimana kita berangkat kerumah Seungkwan?" tanya Mingyu datar, jujur saja sekarang Mingyu masih sangat kesal karena tautan tangan Wonwoo dan Soonyoung belum terlepas.

"Semua ikut mobilku saja!" usul Jun

"Hyung pikir muat! Kalau kita semua menaiki satu mobil" jawab Mingyu dingin, Jun yang mendapat jawab dingin dari Mingyu hanya bisa memutar bola matanya malas.

"Inilah akibat jika jatuh cinta. Jika cemberu pada orang yang dicintai maka yang kena imbas kekesalnya adalah orang lain" batin Jun sambil menghelai nafas

"Baiklah, jadi bagaimana kita berangkat?" Jun mencoba untuk meredakan hawa dua orang yang sedang dibakar api cemburu. Cemburu pada orang yang salah. eoh. Orang yang dicemburui adalah saudara kembarnya sendiri. Lucu sekali! Batin Jun

"Kita bagi dua saja. Ada yang ikut Mobil Jun hyung dan ada yang ikut mobilku." Usul Mingyu

"Lalu bagaimana dengan sepedaku? Apa aku harus meninggalkannya di sekolah? Kalau aku meninggalkannya di sekolah bagaimana aku dan Wonwoo berangkat besok?" Soonyoung menemukan permasalahan dan itu membuat Mingyu sedikit tidak senang.

Mingyu berdecak tidak suka.

"Sunbae bisa berangkat bersama dengan Jun hyung atau Seokmin sedangkan Wonwoo hyung bisa ku jemput besok" jawab Mingyu datar

"Mwo? Kenapa aku dan Wonwoo harus berangkat sendiri – sendiri? Dan kenapa juga harus kau yang menjemput Wonwoo?" Soonyoung sedikit kesal dengan nada bicara Mingyu, dari tadi semua orang berbicara dengan biasa tapi hanya Mingyu yang berbicara dengan nada dingin dan datar.

Mingyu sudah ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Soonyoung.

"Hentikan! Sudah cukup. Jangan berdebat lagi. Jika kita berdebat terus, kita tidak akan pergi kerumah Seungkwan. Kalian tidak kasihan pada Appa dan Eomma yang sedang menunggu, eoh?" Woozi menghentikan perdebatan itu yang akan berubah menjadi pertengkaran.

Dia tahu sekarang Mingyu sedang dalam keadaan yang tidak baik. Sedangkan Soonyoung akan tersulut emosi jika itu menyangkut Wonwoo.

"Kita berangkat masing – masing. Tidak ada yang akan ikut mobil siapa – siapa. Kita berangkat sendiri – sendiri. Kita bertemu dirumah Seungkwan" Woozi memberikan keputusan dengan adil tanpa memihak siapapun.

Mingyu menghembuskan nafasnya frustasi, dia ingin mengajak Wonwoo untuk satu mobil dengannya tapi karena perdebatan dengan Soonyoung, keinginan itu pupus sudah.

Mingyu dan Seokmin menuju mobil. Sedangkan Soonyoung mengambil sepedanya diikuti Wonwoo.

Jun dan Woozi menghelai nafasnya lega

"Mereka benar – benar membuat ku pusing" keluh Jun

"Jatuh cinta itu memang indah tapi kalau sudah cemburu, maka itu akan menjadi sangat menyebalkan. Mereka sepertinya belum bertanya tentang status hubungan Soonyoung dan Wonwoo."

"Karena mereka takut mendengar jawabannya. Padahal jawabannya bukan sesuatu yang membuat mereka harus ketakutan seperti itu. Mereka membuat kesimpulan jika Soonyoung dan Wonwoo adalah pasangan kekasih. Dasar pengecut." Keluh Jun frustasi

"Mereka cemburu pada orang yang salah" Woozi membenarkan ucapan Jun

"Sebenarnya yang kalian bicarakan dari tadi apa hyung?" suara Seungkwan dari belakang membuat Jun dan Woozi terjengkit kaget. Seungkwan yang dari tadi hanya mendengarkan hanya heran mendengar arah bicara Jun dan Woozi yang ia tidak mengerti.

"Bukan apa – apa. Ayo sekarang kita kerumahmu. Kasihan Appa dan Eomma menunggu."

Jun, Woozi dan Seungkwan mulai memasuki mobil. Jun menjalankan mobilnya menuju rumah Seungkwan.

***SOONWOO TWINS***

Mobil Mingyu dan mobil Jun sudah sampai didepan rumah Seungkwan. Sesampainya didepan rumah mereka disambut oleh para orang tua kecuali orang tua Seokmin dan Mingyu. Mereka saling memperkenalkan diri dan saling memeluk satu sama lain karena sudah lama tidak bertemu.

"Dimana dua malaikatku?" tanya Donghae ketika tidak melihat anak kembarnya bersama dengan yang lain.

"Mereka masih dalam perjalanan, Eomma. Soonyoung dan Wonwoo kan naik sepeda. Jadi mereka akan lebih lama sampainya dari pada kami" jawab Jun

"Kita tunggu saja mereka ditaman belakang. Aku sudah menyiapkan daging dan sayuran agar kalian bisa membuat BBQ sendiri" ucap Ryeowook sambil menggiring mereka masuk kedalam.

"Huwaaa... aku sudah tidak sabar untuk makan." Ujar Seungkwan

"Ryeowook Eomma, jangan biarkan Seungkwan menghabiskan dagingnya malam ini. Kalau dia makan terlalu banyak maka berat badannya akan bertambah lagi dan dia akan semakin gemuk" celetuk Jun

"Ya, Jun Hyung. Aku tidak gemuk." Rajuk Seungkwan

"Sudahlah, Ayo segeralah memasak makanannya" ujar Yesung melerai perdebatan kecil, jika ditanggapi Seungkwan akan semakin merajuk.

"Zhoumi Appa, Eomma dan Appa belum datang?" tanya Seokmin ketika tidak melihat kedua orang tuanya tidak ada. Padahal tadi setelah Mingyu memberitahu jika akan berkumpul dirumah Sungkwan, Seokmin sudah memberikan pesan singkat pada Appa dan Eommanya.

"Tadi mereka memberitahu jika akan sedikit terlambat karena ada rapat mendadak" jawab Henry yang berdiri disamping Zhoumi.

"Arraseo" Seokmin menyusul teman – temannya ditaman belakang.

"Woozi-ah, Wonwoo dan Soonyoung sudah berbaikan?" bisik Kibum pada Woozi

"Ne, Appa. Mereka sudah berbaikan. Appa mengenal mereka dengan baik kan. Soonyoung ataupun Wonwoo tidak akan bisa jauh satu sama lain." Kekeh Woozi

"Syukurlah mereka sudah berbaikan lagi" Kibum menghelai nafasnya lega.

SKIP TIME

"Wonie, berikan itu padaku!" teriakan Soonyoung membuat semua orang yang ada ditaman belakang mengalihkan perhatiannya pada pintu taman belakang . Terlihat Wonwoo memasuki taman belakang sambil berlari dan dibelakangnya Soonyoung tengah mengejarnya. Wonwoo tengah mengindari kejaran Soonyoung dan berusaha menjauhkan benda dari tangannya agar tidak direbut Soonyoung.

Semua orang yang melihat itu hanya tersenyum, kecuali Seokmin dan Mingyu tentunya.

"Berikan Wonie. Berikan itu padaku" Soonyoung berhenti sejenak mengatur nafasnya yang terengah – engah.

"Andwe. Aku tidak akan memberikannya" tolak Wonwoo sambil menyembunyikan benda yang menjadi rebutan itu dibelakang punggungnya

"Kau sudah mampir menghabiskannya. Sekarang berikan itu padaku" Soonyoung menegadahkan tangannya

"Tidak!"

"Wonie"

"Andwe"

"Berikan Es krim ini padaku" pekik Soonyoung sambil menghentakan kakinya kesal.

Soonyoung mengejar Wonwoo dan berusaha mengambil es Krim yang ada ditangan Wonwoo. Semua orang hanya terkekeh melihat tingkah laku Soonyoung yang tidak seperti biasanya.

Sedangkan Mingyu masih memasang wajah datarnya, Seokmin mengerjapkan matanya takjub karena melihat sisi lain dari Soonyoung. Manis sekali, batin Seokmin

"Kau yang salah. Kenapa tidak membeli dua. Kenapa hanya satu?" ujar Wonwoo ketika Soonyoung berhasil menangkapnya dan ingin merebut es krim yang tengah ia bawa.

"Kalau aku membeli es krim dua maka kita tidak bisa berbagi" ucap Soonyoung kesal sambil terus berusaha untuk mengambilnya dari tangan Wonwoo, tapi Wonwoo terus menjauhkan tangannya.

"Jadi kau membeli satu agar bisa berbagi bersamaku?" Wonwoo membelalakkan matanya mendengar penjelasan Soonyoung. Sedangkan Kibum hanya tersenyum lembut memandang kedua anak kembarnya itu.

"Hm." Jawab Soonyoung singkat, karena Soonyoung sudah lelah merebut es krim itu

"Baiklah. Mianhae. Ini makanlah" Wonwoo menyodorkan es krim yang ia sembunyikan

"Tidak. Aku sudah tidak berminat lagi" Soonyoung melepaskan pelukannya lalu pergi meninggalkan taman belakang, sedangkan Wonwoo melongo melihat dia ditinggalkan begitu saja oleh Soonyoung.

"Kibum-ah, Soonyoung tidak berubah. Sama sepertimu dulu. Yang sangat suka menggoda Donghae Hyung" bisik Ryeowook pada Kibum yang ada disampingnya, Kibum hanya terkekeh pelan.

"Eomma, Soonyoung marah lagi." Rengek Wonwoo sambil menghampiri Donghae yang duduk bersama sungmin. Donghae terkekeh lalu mencubit hidup Wonwoo.

"Aigo. Kalian manis sekali" Donghae mengelus rambut hitam Wonwoo ketika Wonwoo duduk dibawah dan menyandarkan kepalanya dipaha Donghae.

"Soonyoung tidak akan marah padamu. Eomma jamin" Donghae menyakinkan Wonwoo yang cemberut karena ditinggalkan oleh Soonyoung.

"Maaf kami datang terlambat" suara Eunhyuk menggema ditaman belakang

"Oh, Selamat datang Eunhyukie. Siwon-ah" sambut Yesung. Eunhyuk dan Siwon datang bersama Soonyoung yang dipelukannya. .

"Eomma dan Appa kenapa lama sekali?" tanya Seokmin setelah menghampiri Eunhyuk dan Siwon. Soonyoung yang mendengar ucapan Seokmin membelalakkan matanya terkejut.

"Appa? Jadi Siwon Ssaem ini adalah Appamu?" pekik Soonyoung

"Ne, dia Appaku. Juga guru Taekwondomu di Klub Sekolah" jawab Seokmin tersenyum bangga

"Tidak mungkin. Kenapa kau tidak pernah bilang jika Siwon Ssaem dan Eunhyuk Ssaem adalah orang tuamu?"

"Kau tidak pernah tanya" mendengar jawaban Seokmin membuat Soonyoung melayangkan pukulannya, sehingga tanpa sadar pukulan Soonyoung mengenai punggungnya yang terluka.

"AW" ringis Seokmin, menyadari kesalahannya Soonyoung gelagapan

"Mianhae. Mian. Apa sangat sakit?" Soonyoung memeriksa kondisi luka Seokmin

"Gwencana Sunbae. Aku baik – baik saja" ucap Seokmin menenangkan

"Apa yang terjadi, Seokmin-ah. Kenapa punggungmu dibalut perban?" tanya Eunhyuk ketika melihat perban melingkar dipunggung anaknya.

"Tidak apa – apa Eomma. Tadi ada kecelakaan kecil disekolah"

"Mianhae, Eunhyuk Ssaem. Seokmin terluka karena menyelamatkan aku dan Wonwoo"

Mendengar ucapan Soonyoung semua orang terkejut, sontak saja Kibum dan Donghae memeriksa keadaan kedua anaknya.

"Menyelamatkan?" Siwon mengerutkan keningnya terkejut

"Bukan hanya Seokmin tapi juga Mingyu" tambah Wonwoo

"Apa yang terjadi Wonie?" tanya Donghae sedikit khawatir karena baru kemarin dia mendapati Wonwoo pulang kerumah dengan wajah babak belur dan pergelangan tangan terluka

"Ada kecelakaan sedikit, sehingga kaca jendela dilantai 3 pecah. Pecahan kaca itu hampir mengenai Wonwoo, aku berusaha melindunginya tapi ternyata Seokmin dan Mingyu juga melindungiku dan Wonwoo" jelas Soonyoung.

Kibum menghampiri Mingyu yang berdiri memasak BBQ bersama Jun dan Woozi

"Terimakasih. Sudah menyelamatkan mereka berdua." Ucap Kibum sambil tersenyum lembut pada Mingyu

"N..Ne." Jawab Mingyu sedikit gugup berhadapan dengan Kibum.

"Apa kau baik – baik saja sekarang? Atau ada yang sakit?" tanya Kibum sambil memeriksa keadaan Mingyu dan melihat ada perban yang sama seperti perban Seokmin.

"Ne, Ajjushi. Aku sekarang baik - baik saja. Sudah tidak sakit lagi"

"Aigo. Jangan memanggilku Ajjushi. Sedikit aneh mendengar teman – teman anakku memanggil dengan sebutan itu. Panggil saja Appa. Semua yang ada disini memanggil Appa dan Eomma. Tidak usah takut atau canggung pada kami." Kibum membelai lembut rambut Mingyu.

Mingyu yang menerima perlakukan selembut itu dari seorang Appa merasakan kehangatan yang menjalar dalam hatinya. Sudah lama sekali dia tidak mendapatkan belaian kasih sayang dari keluarganya. Disini dia mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari semua para orang tua.

"Tapi aku tidak menyangka bahwa Appa dan Eomma kenal dengan orang tua disini?" tanya Seokmin mengalihkan pembicaraan

"Tentu saja. Kami adalah teman semasa saat SMA." Jawab Eunhyuk sambil tersenyum melihat teman – temannya berkumpul, kecuali satu orang. Satu orang yang sudah tidak bersama merka lagi sejak ada suatu kejadian.

"Tapi kenapa kita tidak bertemu?" tanya Seokmin lagi, dia benar – benar penasaran. Bagaimana Appa dan Eommanya kenal dengan para orang tua disini

"Karena kesibuk masing – masing jadi kita tidak pernah bertemu lagi. Tapi kita dipertemukan kembali melalui anak – anak. Kecuali Kibum. Appa dan Eomma bisa bekerja disekolahmu karena rekomendasi dari Kibum" Siwon menjelaskan keingintahuan Seokmin.

"Ayo kita makan. Daging dan sayurnya sudah matang" ajak Ryeowook sambil menyiapakan dimeja hidangan.

Semua makan dengan tenang dan nikmat. Sambil sesekali bercanda. Dan memuji masakan Ryeowook sangat enak.

"Eomma, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Wonwoo disela – sela makannya, Donghae yang tengah memasukkan daging kedalam mulutnya hanya menganggukkan kepalanya.

"Rasanya first Kiss itu bagaimana?" tanya Wonwoo dengan mulut penuh dengan makanan

UHUK!

Bukan hanya Donghae yang tersedak, tapi Mingyu, Jun dan Woozi.

BUHH!

Sedangkan Soonyoung menyemburkan air minum yang tengah diminumnya kearah Seokmin yang ada didepannya. Soonyoung yang melihat bahwa air semburannya mengenai wajah Seokmin segera mengambil tisu dan membersihkannya.

Mereka terkejut mendengar pertanyaan dari Wonwoo yang tiba – tiba itu. Sedangkan yang lain hanya bisa heran melihat tingkah mereka yang tersedak. Masalahnya pertanyaan Wonwoo hanyalah pertanyaan biasa saja. Bukan sesuatu yang aneh.

"Kenapa Wonie menanyakan itu?" tanya Kyuhyun yang tersenyum simpul

"Ani Appa. Aku hanya penasaran saja sih. Soalnya kemarin saat aku tidur diruang kesehatan aku mimpi dicium oleh seseorang. Tapi wajahnya tidak jelas" jawab Wonwoo ketika mengingat mimpinya saat dia tertidur diruang kesehatan.

Mingyu, Jun, dan Woozi hanya menelan air liurnya kasar.

"Gawat. Jangan sampai Wonwoo hyung tahu jika kau yang menciumnya" doa Mingyu dalam hati

"Itu bukan Mimpi Wonie, itu kenyataan. Mingyu yang menciummu" pekik Jun dan Woozi dalam hati.

Sedangkan Soonyoung yang mendengar ucapan Wonwoo hanya menunduk malu. Wajahnya sudah memerah sampai telinga, mengingat tadi diruang kesehatan Seokmin menciumnya. Mencuri ciuman pertamanya.

"Soonyoung, kau baik – baik saja? Mukamu merah?" tanya Sungmin sambil mengecek suhu badan Soonyoung

"A..Aku baik – baik saja Eomma." Ucap Soonyoung gugup.

"Yakin kau baik – baik saja. Jika sakit biar Zhoumi gege yang akan memeriksanya" timpal Henry

"Ne, Eomma. Aku baik - baik saja" Soonyoung tersenyum, sambil memakan lagi makanannya.

"Eomma bagaimana rasanya? Eomma belum menjawabnya?" regek Wonwoo ketika Donghae terlihat sibuk memilih makanan yang ada dipanggangan.

"Rasanya..." Kibum mencoba menjelaskan pada Wonwoo, ketika ingin menjelaskan tiba – tiba ia melihat Soonyoung berlari keluar dari taman belakang sambil membekap mulutnya.

"Ada apa dengan Soonyoung?" tanya Wonwoo ketika melihat saudaranya itu pergi tiba – tiba dari taman belakang

"Appa akan menyusulnya. Mungkin Soonyoung ke toilet" Kibum bergegas menyusul Soonyoung.

Kibum mendapati Soonyoung ada di depan wastafel kamar mandi. Memuntahkan makanan yang tadi dia makan. Soonyoung berpegangan pada pinggiran wastafel karena tiba – tiba tubuhnya lemas. Kibum menghampiri Soonyoung dan menekan tengkuknya secara perlahan.

"Tadi kau makan apa Soonyoung? apa rasa makanannya terlalu berasa?" tanya Kibum sambil memijat tengkuk Soonyoung. Soonyoung tidak menjawab dia terus memuntahkan makanan yang tadi masuk dalam perutnya.

Soonyoung sudah tidak kuat menopang tubuhnya lagi hampir saja dia jatuh terduduk jika Kibum tidak menahannya agar tubuh anaknya itu tidak menyentuh lantai. Dengan sigap Kibum mengangkatnya –Bridal style- menuju ruang tamu rumah Yesung. Kibum mendudukkan diri disofa dan menyandarkan kepala Soonyoung yang terkulai lemas.

"Soonyoung-ah, Appa akan membawamu kerumah sakit, Ne?." Ujar Kibum khawatir sekarang, dia menghapus keringat yang ada didahi Soonyoung. Soonyoung menggelengkan kepalanya pelan.

"Ani. Appa. Jangan membawaku kesana. Aku tidak mau Wonwoo sampai tahu. Aku tidak ingin membuatnya khawatir."

"Tapi Soonyoung..."

"Jebal Appa!" lirih Soonyoung

"Baiklah, tapi kau harus diperiksa Zhoumi Appa, eoh?" tawar Kibum

"Hm, tapi jangan sampai Wonwoo dan yang lainnya tahu." Bisik Soonyoung

"Appa tahu."

Kibum mengambil Handphonenya dan mengetikkan pesan untuk Zhoumi, tapi sebelum pesan itu terkirim Zhoumi tiba – tiba ada diruang tamu.

"Ommo, Soon.." pekik Zhoumi terkejut tapi sebelum pekikan Zhoumi terdengar sampai taman belakang, Kibum meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Mengisyaratkan Zhoumi untuk tidak berteriak.

Zhoumi segera menghampiri Kibum dan Soonyoung yang tengah duduk diruang tamu.

"Waegere?" tanya Zhoumi sambil berbisik

"Bisa kau memeriksanya" bisik Kibum, Zhoumi mengangguk lalu memeriksa denyut nadi Soonyoung.

"Soonyoung-ah, apa kau pernah cedera akhir – akhir ini?" tanya Zhoumi, Soonyoung menggelengkan kepalanya

"Ani, Zhoumi Appa. Aku memang Atlit taekwondo tapi aku tidak pernah memaksimalkan kekuatanku dan berlatih gerakan dasar."

"Kau makan teratur?"

"Ne" jawab Soonyoung singkat

"Kau makan sesuatu yang asin? Atau yang berprotein tinggi?"

"Baru saja. Makanya tadi aku langsung muntah – muntah, Appa. Aku tidak tahu jika Ryeowook Eomma membumbuhinya dengan sangat tajam" jawab Soonyoung sambil menyamankan posisinya dipundak Appanya.

"Apa akhir – akhir ini kau pernah Pingsan?"

"Ne. Beberapa hari yang lalu karena Stress."

"Kau rutin cek setiap tahun?"

"Ne, tapi yang tahun ini belum"

Zhoumi menghembuskan nafasnya, lalu memandang Kibum

"Besok kau harus mengajak Soonyoung cek darah dirumah sakit. Aku akan memeriksa hasilnya di Lab"

"Andwe!" Soonyoung menolak dengan tegas

"Waeyo Soonyoung-ah? Kau harus diperiksa lagi agar Appa bisa memantau perkembangan kesehatanmu"

"Andwe, Zhoumi Appa. Aku mohon! Aku tidak mau Wonwoo sampai tahu. Dia akan curiga jika aku pergi kerumah sakit"

"Tidak akan jika kau pergi secara diam – diam"

"Bagaimana Appa bisa menjamin itu. Aku sudah hampir ketahuan olehnya beberapa tahun yang lalu. Dan lagi aku dan Wonwoo selalu berangkat dan pulang bersama saat sekolah. Dan jika aku bolos, maka dia akan semakin curiga" Soonyoung benar – benar memohon pada Zhoumi.

"Appa akan mengantar dan menjemput Wonwoo nanti, kau tenang saja" Kibum memberikan solusi.

"Appa tahu bagaimana Wonwoo kan. Bagaimana jika dia bertanya yang macam – macam? Rasa ingin tahunya sangat tinggi" Soonyoung berusaha untuk tidak kerumah sakit bagaimanapun caranya

"Tapi kau harus tetap dicek Soonyoung-ah"

"Jika cek darah. Appa bisa mengambil darahku sekarang. Appa membawa peralatan dokter kan ke sini? Jadi ambil darahku sekarang saja"

"Tidak bisa. Kau juga harus diperiksa secara keseluruhan!" Zhoumi tetap pada pendiriannya

"Zhoumi Appa" regek Soonyoung, walaupun tubuhnya masih lemas, tapi jika sudah masalah berdebat Soonyoung tidak mau kalah.

"Begini saja. Kita kerumah sakit ketika jam pelajaran sekolahmu, jika kita kembali sebelum istirahat maka Wonwoo tidak akan tahu. Bagaimana?" saran Kibum yang membuat Soonyoung berfikir ulang. Kibum mengangkat alisnya menunggu jawaban dari Soonyoung

Soonyoung menghembuskan nafasnya keras "Baiklah. Besok aku akan kerumah sakit"

"Appa akan menjemputmu"

"Tapi lewat pintu belakang sekolah"

Kibum tersenyum lalu membelai lembut pipi chubby Soonyoung

"Baiklah. Appa akan menjemputmu melalui pintu belakang sekolah. Kau puas?"

Soonyoung menjawab dengan senyuman manisnya.

"Sekarang istirahatlah. Kau mau kekamar tamu? Tadi Yesung Appa menawarkan Appa untuk istirahat disana."

Soonyoung menggeleng

"Aku disini aja. Aku ingin dekat dengan Appa. Sudah lama sekali Aku tidak sedekat ini dengan Appa"

Mendengar ucapan Soonyoung, Kibum tersenyum manis

"Mianhae. Appa terlalu sibuk. Jadi tidak bisa selalu bersamamu, Wonwoo dan Eomma"

Soonyoung merebahkan kepalanya di paha Kibum dengan nyaman. Sedangkan Kibum membelai rambut hitam Soonyoung dengan perlahan, hingga Soonyoung tertidur. Kibum dapat merasakan nafas teratur dari Soonyoung.

"Soonyoung sangat kuat Kibum-ah. Sudah hampir 12 tahun sejak saat itu."

"Hm. Dia sangat kuat. Dia kuat karena Wonwoo."

"Tapi sekuat – kuatnya Soonyoung, tidak dipungkiri tubuhnya tidak bisa mengiringi semangatnya itu. Tubuh Soonyoung juga punya batasan. Dan sekarang adalah batas kekuatan tubuh Soonyoung"

"Kita harus melakukan sesuatu pada Soonyoung. apapun itu, Hyung."

"Ne, Aku tahu. Makanya besok aku menyuruhmu dan Soonyoung untuk cek."

"Soonyoung-ah" suara Wonwoo sampai terdengar keruang tamu, sepertinya Wonwoo tengah mencari Soonyoung. sedangkan Kibum dan Zhoumi cepat – cepat mengalihkan topik pembicaraan mereka. Wonwoo sampai diruang tamu dan mendapati Soonyoung tengah tertidur dipangkuan Appa-nya.

"Sssttt" Kibum meletakkan telunjuknya didepan Bibirnya, Wonwoo langsung membekap mulutnya sendiri

"Soonyoung tidur?" bisik Wonwoo, Kibum mengangguk sambil tersenyum.

"Kau sudah selesai makan?"

Wonwoo mengangguk

"Biarkan Soonyoung istirahat, kita kembali berkumpul dengan yang lainnya saja." Kibum perlahan memindahkan kepala Soonyoung dan memberikannya bantal sofa, mengambil jasnya lalu menyelimuti tubuh Soonyoung.

Kibum, Wonwoo dan Zhoumi akhirnya meinggalkan Soonyoung yang sedang istirahat dan bergabung dengan yang lain.

Para orang tua berkumpul sendiri dimeja sebelah kanan, sedangkan para anak – anak disebelah kiri tapi agak jauh jaraknya agar perbincangan para orang tua tidak diketahui oleh anak – anak mereka.

Mingyu yang duduk disamping Wonwoo hanya memperhatikan namja manis ini sedang membuat sketsa lukisan dikertas putihnya. Mingyu yang penasaran akhinya sedikit mengintip sketsa Wonwoo. Wonwoo yang sadar sedang diintip oleh Mingyu berusaha menyingkirkan sketsanya dari pandangan Mingyu.

"Apa yang kau gambar hyung?" tanya Mingyu penasaran, sambil berusaha mengintip kertas yang tengah didekap Wonwoo

"Rahasia. Sketsa ini akan ku berikan untukmu. Tapi apa dan bagaimana jadinya sketsa ini menjadi rahasia dulu." Wonwoo tersenyum jahil kearah Mingyu.

"Benarkah? Itu untukku?" pekik Mingyu dengan berbinar – binar.

"Tentu saja. Sebagai rasa terimakasih karena telah menyelamatkan aku tadi."

"Tapi Hyung, bukannya kau sedang menyelesaikan sketsa anak kecil yang menangis beberapa hari yang lalu?" tanya Mingyu kembali mengingat sketsa yang dibuat Wonwoo beberapa hari yang lalu

"Itu sudah ku selesaikan."

"Lalu kapan Sketsa itu diberikan padaku?" tanya Mingyu dengan antusias

"Ini belum selesai. Aku masih menggambar polanya saja. Mungkin sekitar 1 minggu."

"1 Minggu?" Mingyu terkejut

"Aku juga harus membuatnya terlihat bagus dan menarik."

"Tapi tidak apa – apa aku akan menunggunya" cengir Mingyu

"Wonwoo sunbae, dimana Soonyoung sunbae?" tanya Seokmin yang dari tadi tidak melihat keberadaan Soonyoung.

"Ada diruang tamu. Sedang istirahat. Dan jangan panggil aku sunbae lagi, panggil saja hyung. Kau juga harus memanggil Soonyoung dengan hyung jangan memanggilnya sunbae lagi."

"Ne, hyung. Aku akan keruang tamu melihat Soonyoung hyung" ujar Seokmin sambil berlalu menuju keruang tamu.

Ketika sampai ruang tamu, Soekmin melihat Soonyoung tengah tertidur lelap. Seokmin mensejajarkan tingginya dengan wajah Soonyoung. dia tersenyum melihat wajah damai Soonyoung yang tertidur.

"Bisakah aku memilikimu?" batin Seokmin, tidak lama setelah itu Soonyoung bergerak dan perlahan membuka matanya.

Ketika membuka matanya, Soonyoung terkejut mendapati wajah Seokmin ada didepannya sambil tersenyum. Hal itu sukses membuat wajah Soonyoung memerah, apalagi ingatan Soonyoung mengingat kejadian diruang kesehatan tadi. Sontak saja Soonyoung bangun dari tidurnya. Kemudian Seokmin duduk disamping Soonyoung.

"Sudah bangun, Soonyoung hyung?" tanya Seokmin, Soonyoung melebarkan matanya ketika mendengar Seokmin memanggilnya 'Hyung' bukan 'Sunbae' lagi.

"Bolehkah aku memanggilmu sedang sebutan 'hyung'?" harap Seokmin, Soonyoung menganggukkan kepalanya

"Benarkah? Aku bisa memanggilmu 'hyung'?" tanya Seokmin memastikan

"Hm" Soonyoung menjawab dengan sebuah deheman.

"Hyung, besok sekolah mengadakan festival musim dingin. Kau mau pergi bersamaku?" ajak Seokmin sedikit antusias. Seokmin benar – benar berharap dia bisa pergi berdua dengan Soonyoung. hitung – hitung kencan.

Soonyoung belum menjawab ajakan Seokmin, sedangkan Seokmin sudah sangat cemas sekarang. Apakah dia akan ditolak atau Soonyoung mau pergi bersama dengannya? Batin Seokmin.

"Hm, baiklah."

"Benarkah?"

"Ne."

***SOONWOO TWINS***

Mingyu melepas sepatunya ketika sampai didepan pintu masuk , Mingyu melihat hyungnya itu duduk sambil menonton TV dengan Kyungsoo hyung –namjachigu-

"Dari mana saja kau?" tanya Jongin ketika Mingyu lewat dibelakangnya

"Dari rumah teman." Jawab Mingyu datar

"Kau pikir sekarang jam berapa? Jangan berbohong" sentak Jongin sambil berdiri dihadapan Mingyu, sedangkan Kyungsoo mencoba menenangkan Jongin yang sudah mulai marah menatap dongsaengnya ini.

"Hyung, tidak percaya padaku?" tanya Mingyu sambil menatap sendu kearah Jongin "Apapun yang aku katakan hyung tidak akan pernah percaya. Mau jujur atau bohong, hyung tidak akan pernah percaya padaku. Lagi pula apa pedulimu"

"Kim Mingyu!" geram Jongin

"Hyung tidak pernah peduli padaku. Bahkan sampai sekarang aku tidak pernah tahu alasan atau kesalahanku yang membuat hyung begitu membenciku" ucap Mingyu sambil menatap mata Jongin

"Kau begitu ingin tahu?" tantang Jongin, Mingyu tetap menatap hyungnya ini

"Ne, aku ingin tahu apa alasan hyung membenciku" jawab Mingyu mantap

"Karena kau lahir" jawaban Jongin membuat Mingyu melebarkan matanya terkejut

"M..Mwo?"

"Karena kelahiranmu, impianku memiliki keluarga lengkap menjadi sirna. Karena kau lahir Appa menjadi pindah ke China. Karena kau lahir Appa dan Eomma bercerai. Karena kau lahir ketenangan dirumah ini menjadi hilang. Karena kau lahir..."

"CUKUP!" teriak Mingyu sambil menutup telinganya. Tanpa sadar Mingyu meneteskan air mata "Cukup hyung. Cukup." Mingyu sudah tidak sanggup mendengar lagi alasan yang diberikan Jongin

"Kau ingin tahu kebenarannya kan. Aku ingin memberitahu yang sebenarnya bahwa kau adalah anak hasil perselingkuhan Eomma"

Bagai tersambar petir disiang hari, perkataan Jongin menohok perasaan Mingyu. Mingyu begitu terkejut dengan kebenaran yang baru saja Jongin katakan.

"Tidak mungkin" ucap Mingyu lirih

"Itulah keberannya Kim Mingyu" ucap Jongin dengan suara yang menyeramkan

"ITU TIDAK BENAR!" tiba – tiba suara seseorang dari pintu masuk mengagetkan mereka bertiga. Mingyu, Jongin dan Kyungsoo terkejut melihat Heechul berdiri didepan pintu bersama seseorang yang sangat Mingyu kenal.

"Wonwoo Hyung" panggil Mingyu tanpa suara. Mingyu dapat melihat Wonwoo membawa jas sekolah ditangannya. Mingyu baru sadar jika dirinya tidak memakai jas sekolahnya setelah dari ruang kesehatan sekolah. Sepertinya jas sekolahnya dibawa oleh Wonwoo.

"Itu tidak benar, Jongin. Itu tidak benar. Kau salah." Heechul menghampiri kedua anaknya secara perlahan.

"Tapi Eomma dulu pernah bilang pada Appa bahwa Eomma sedang hamil anak dari namja itu" Jongin kembali mengingatkan ucapan Eommanya saat dia berumur 5 tahun

"Tidak Jongin. Waktu itu Eomma hanya ingin mengakui jika anak yang Eomma kandung adalah anak dari namja itu. Bukan anak dari Appa kalian. karena Eomma tidak bisa melupakannya walaupun Eomma sudah menikah dan punya kau."

"Lalu Appa?"

"Appa mu sudah mengetahuinya saat kami sudah bercerai dan memastikan dengan hasil tes DNA. Apakah benar Mingyu anak namja itu? Tapi tes DNA membuktikan bahwa Mingyu adalah anaknya. Eomma sudah menjelaskan semua alasannya pada Appa kalian. Appa kalian mengerti semua dan memahami maksud Eomma. Tapi kita tidak bisa menjadi satu keluarga lagi karena Eomma tidak bisa hidup dengan Appa kalian dan Eomma tidak ingin menyakiti namja baik sepertinya."

"Jadi selama ini... Mingyu... adalah..." ucap Jongin masih terkejut dengan penuturan sang Eomma

"Mingyu darah daging Appa dan Eomma. Dia dongsaengmu. Dongsaeng kandungmu. Bukan anak dari namja itu."

Jongin terkejut begitu pula dengan Mingyu yang masih syok dengan penjelasan Eommanya tentang masa lalu Eommanya dan semua keberanan yang membuat hyungnya salah paham selama ini. Mingyu berjalan mundur ingin meninggalkan rumahnya tapi Wonwoo menghalangi jalannya. Wonwoo tersenyum lalu mengusap lembut air mata yang ada dipipi Mingyu. Mengusap lembut rambut hitamnya.

Pertahanan Mingyu runtuh melihat Wonwoo tersenyum begitu menenangkan dihadapannya. Membuat Mingyu langsung memeluknya erat dan menangis dengan keras. Wonwoo tersenyum sambil mengelus lembut punggung Mingyu.

"Menangislah Mingyu. Menangislah. Keluarkan air matamu yang sudah lama terpendam. Jika air mata kesedihan itu sudah keluar maka kebahagiaanmu akan datang" bisik Wonwoo ditelingan Mingyu, membuat Mingyu semakin mengeratkan pelukannya.

Jongin dan Heechul menghampiri Mingyu yang sedang memeluk Wonwoo. Jongin mengelus pelan rambut hitam Mingyu.

"Mianhae, Mingyu-ah. Mianhae"

"Eomma juga minta maaf padamu, Mingyu. Karena Eomma terlambat mengungkap keberanannya dan membuat hyung mu sendiri membencimu." Ucap Heechul sambil mendekap Mingyu yang ada sedang memeluk Wonwoo begitu pula dengan Jongin, dia juga memeluk Mingyu dengan sangat erat.

Mingyu yang mendapatkan perlakukan tersebut dari Eomma dan hyungnya membuatnya menangis semakin keras, hal itu membuat Wonwoo terkekeh pelan sambil membelai lembut rambut Mingyu.

***SOONWOO TWINS***

Festival musim dingin sekolah Pledis Art Hight School tengah berlangsung dan banyak dari siswa – siswinya tengah sibuk menyiapkan stand makanan jajanan khas dan juga pernak – pernik benda yang menarik. Tidak terkecuali Soonyoung, Wonwo dan yang lainnya. Sekarang mereka tengah menyiapkan berbagai hal untuk keperluan festival. Festival dilaksanakan setelah jam istirahat jadi jam sebelum istirahat siswa – siswi tetap menerima ilmu seperti biasanya.

"Soonyoung-ah tadi kau kemana?" tanya Woozi sambil memiindahkan kardus – kardus yang berisi pernak – pernik yang akan dijual dari kelas mereka

"Ada kepentingan dengan Appa. Kau sudah janji padaku tidak akan bertanya lagi. Dan tidak akan memberitahu Wonwoo jika tadi aku keluar."

"Iya... iya... aku mengerti. Aku hanya penasaran saja."

Soonyoung melihat Wonwoo tengah mengangkut kardus berisi makanan yang akan dijual di stan kelasnya. Wonwoo hampir menjatuhkan kardusnya karena ia tersenggol oleh salah satu siswi, tapi kardus itu tidak jatuh karena tiba – tiba Mingyu datang dan menahannya.

"Kau baik – baik saja hyung?" tanya Mingyu khawatir.

"Ne. Aku baik – baik saja." Jawab Wonwoo sambil membenarkan letak kardus yang dibawanya.

"Apakah berat? Perlu kubantu?" tawar Mingyu

"Tidak. Ini tidak berat. Hanya saja tidak sengaja ada yang menyenggolnya jadi hampir jatuh"

"Sini, kemarikan kardusnya biar aku yang membawakannya ke stan penjualan di kelasmu, Hyung" Mingyu mengambil alih kardus yang ada ditangan Wonwoo, Wonwoo hendak menolakknya tapi Mingyu mencegahnya.

Soonyoung yang melihat itu hanya tersenyum, Soonyoung dapat melihat bagaimana peduli Mingyu pada Wonwoo

"Setelah ini, kau akan menggantikanku melindungi Wonwoo, Mingyu-ah" batin Soonyoung sambil terus memperhatikan kedua orang itu yang sedang berjalan ke stan penjualan dikelas Wonwoo.

"Wonwoo, bisakah kau mengambilkan kardus satu lagi diruang kelas kita? Ada satu yang tertinggal dikelas." Ujar Yongjae sambil membuka kardus yang tadi dibawa Mingyu.

"Ne, aku akan mengambilnya" Wonwoo bergegas meninggalkan stan kelasnya.

"Aku akan memanimu hyung" ucap Mingyu sambil mengikuti Wonwoo. Wonwoo mengangguk.

"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik dari sebelumnya?" tanya Wonwoo ketika mengingat kejadian tadi malam.

"Sudah. Aku sangat jauh lebih baik. Hari ini Jongin hyung yang menyiapkan sarapan untukku"

"Kau bahagia?"

"Tentu saja aku bahagia. Hyung aku sayangi menyayangiku juga sekarang" jawab Mingyu dengan nada ceria "Aku lebih bahagia lagi karena kau ada disaat aku membutuhkanmu kemarin" tambah Mingyu dalam hati

Tapi ditengah jalan Mingyu dan Wonwoo dihadang oleh teman sekelas Mingyu

"Ya. Kim Mingyu. Kau tega sekali. Aku bekerja di Stan sendirian." Ucap namja bermuka Bunny –Jungkook- kesal.

"Ayolah Jungkook. Banyak teman – teman yang lainnya. Bukan hanya aku saja. Aku harus menemani Wonwoo hyung"

"Tidak apa – apa Mingyu. Aku akan mengambilnya sendiri. Kau harus membantu kelasmu juga." Wonwoo memberikan pengertian pada Mingyu

"Tapi hyung..."

"Aku hanya sebentar" potong Wonwoo.

"Baiklah. Aku akan membantu di Stan kelasku." Jawab Mingyu pasrah, lalu melirik tajam kearah Jungkook yang dibalas dengan tatapan malas dari Jungkook.

Wonwoo bergegas ke kelasnya ditingkat dua, ketika sampai dikelasnya Wonwoo tidak menemukan kardus yang Youngjae katakan. Wonwoo mengambil handphonenya dan menekan nomor Youngjae

"Yongjae-ah, Dimana kardusnya?"

"..."

"Oh, Ne. Coba aku cari disitu" Wonwoo berjalan ke bawah meja guru

"..."

"Ne, Aku nememukannya. Aku akan kesana..."

Sebelum Wonwoo menyelesaikan kalimanya tiba – tiba mulutnya dibekap dari belakang dengan sangat kuat.

"Hmmmmmm" Wonwoo berusaha memberontak tapi orang yang membekapnya sangat kuat. Wonwoo diseret secara paksa.

Tanpa sadar Wonwoo menjatuhkan Handphonenya dalam keadaan masih tersambung pada Youngjae. Koridor sangat sepi tidak ada satupun siswa – siswi yang berlalu lalang, karena semuanya sibuk menyiapkan festival.

Yang sekarang Wonwoo tahu adalah dia diseret dan dibawa digudang bawah tangga lantai satu. Sesampainya di gudang Wonwoo dilempar kelantai. Sekarang Wonwoo dapat melihat orang yang membekapnya dan menyeretnya ketempat ini.

Orang yang bertubuh besar dan kekar. Seperti model seorang bodyguard. Berpakaian serba hitam dan wajahnya ditutupi masker dan kaca mata hitam

"Saya sudah membawanya Nona Tzuyu" orang tadi membungkuk hormat pada seorang gadis cantik yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya.

Wonwoo mengerutkan keningnya melihat gadis bernama Tzuyu itu. Bukankan gadis ini yang menyenggolnya tadi dan membuatnya hampir menjatuhkan kardus yang tengah ia bawa tadi. Batin Wonwoo.

"Hai Wonwoo Sunbae" sapanya sambil tersenyum manis

"Apa maumu?" tanya Wonwoo dengan wajah datarnya

"Wah, kau tidak sabaran rupanya?" Tzuyu tersenyum sinis

"Ya tapi aku memang bukan orang yang senang bertele – tele. Jauhi Kim Mingyu. Itu mauku" ucap Tzuyu dengan nada yang menyeramkan. Wonwoo tersenyum meremehkan

"Apa hak mu melarangku untuk dekat dengan dia?" tanya Wonwoo menatang dan itu membuat amarah Tzuyu memuncak, dia memberikan isyarat pada Bodyguardnya. Dan dengan sigap orang yang menyeret Wonwoo dan dari belakang Wonwoo lalu mengunci pergerakan Wonwoo.

Tzuyu maju dan mengapit dagu Wonwoo dengan keras, membuahkan ringisan kecil dari Wonwoo

"Aku mendengar pembicaraan Seokmin dan Mingyu dikoridor tadi pagi jika kau ingin memberikan Sketsa lukisanmu pada Mingyu. Apa tujuanmu memberikan itu pada Mingyu?"

"Bukan urusanmu" jawab Wonwoo ketus, dan itu membuat Tzuyu semakin marah pada Namja yang ada dihadapannya ini.

"Ulurkan tangannya" perintah Tzuyu pada bodyguardnya.

Dengan kasar orang itu mengulurkan tangan Wonwoo

"Buka telapak tangannya"

Dengan sigap telapak tangan Wonwoo sudah terbuka dengan paksa. Tzuyu mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Rokok yang menyala itu diletakkan secara mengambang ditelapak tangan Wonwoo. Wonwoo dapat merasakan hawa panas dari rokok tersebut.

"Jika kau tidak ingin kehilangan tangan berhargamu ini. Maka jauhi Kim Mingyu. Bukankah kau seorang pelukis? Tangan bagi seorang pelukis adalah sebuah aset yang berharga kan"

Satu abu rokok sudah jatuh ke telapak tangan Wonwoo. Dan membuat Wonwoo meringis kesakitan.

"Aku tidak kan menjauhi Mingyu. Apapun yang terjadi."

"Kau tidak ingin menjaga aset berhargamu ini?" nada suara Tzuyu menggeram menahan amarah. Wonwoo begitu keras kepala

"Aku tidak peduli. Aku akan merelakan apapun agar aku dapat bersama dengan Mingyu. Karena aku mencintai Mingyu" ucap Wonwoo tanpa sadar. Wonwoo tertegun mendengar pengakuannya sendiri. Dia tidak sadar jika selama ini tanpa sadar sudah jatuh cinta pada Mingyu.

"Kalau Kau kehilangan tanganmu kau tidak akan bisa melukis lagi" Tzuyu berusaha memperingatkan Wonwoo. Agar Wonwoo tidak keras kepala.

"Aku tidak peduli" jawab Wonwoo tegas

"Baiklah. Kalau itu mau mu, sunbae" Tzuyu membuang rokok itu dan menginjaknya. Sebagai gantinya Tzuyu mengambil tongkat bisbol dan mengarahkannya ke tangan Wonwoo.

"Letakkan tangannya dimeja"

Orang itu secara paksa menarik tangan Wonwoo dan meletakkannya dimeja disamping Tzuyu

"Aku memperingatkanmu sekali lagi. Jauhi Kim Mingyu atau kau kehilangan tanganmu ini. Aku akan menghancurkan tanganmu ini. Agar kau tidak bisa melukis lagi" Tzuyu meletakkan tongkat bisbol ketelapak tangan Wonwoo yang dibuka secara paksa.

"Aku tidak peduli. Walau kau menghancurkan tangan kananku. Aku bisa menggunakan tangan kiriku untuk melukis. Jika kau menghancurkan tangan kiriku, aku bisa menggunakan kaki kananku untuk memegang pensil. Jika kau menghancurkan kaki kananku, aku bisa menggunakan kaki kiriku untuk memegang kuas. Jika kau menghancurkan kaki kiriku aku bisa menggunakan mulutku untuk menyelesaikan sketsa yang ku janjikan pada Mingyu."

Tzuyu tidak percaya mendengar ucapan Wonwoo, Wonwoo rela mengorbankan apapun untuk memenuhi janjinya pada Mingyu.

"Kau ini benar – benar..." Tzuyu mengayunkan tongkat bisbol dengan sekuat tenaga kearah tangan Wonwoo.

Wonwoo menutup matanya dengan sangat erat saat tongkat itu sudah hampir dekat dengan tangannya. Disaat itu hanya wajah tersenyum Mingyu yang ada dibenaknya saat ini.

"Mingyu, maafkan aku jika Sketsa itu tidak sempurna lagi" gumam Wonwoo lirih sambil menangis

BRAK!

***TBC***

Kyaaaaa... Apa yang sebenarnya terjadi? #teriak dengan histeris#

Lama ndak updatenya? Wkwkwkkwkwkwk. Aku berusaha untuk kilat lhoooo

Bagaimana chapter 6 ini? Memuaskan kah?

Bagaimana Brothershipnya?

Moment Meanienya?

Seoksoonnya?

Author kembali lagiiiiii...#lambai2tangan#

Pemberitahuan : Untuk Updatenya mungkin sekitar 2 atau 3 Minggu sekali ya...tapi aku usahakan tidak sampai 1 bulan koq. Jika aku berubah pikiran bisa juga 1 Minggu dah Update tapi itupun tergantung Sikonnya dan review yang masuk. hehehehehe

Salsha6104 : Moment yang mana yang bagus menurut kamu? Gimana moment brothershipnya dan couplenya? Bagian mana yang bikin baper?

Hehehehhee,untuk membongkat hubungan Soonwoo yang sebenarnya yang sabar aja ya... mungkin chapter selanjutnya. Pokoknya ditunggu deh... makasih dah suka sama ceritaku. Makasih juga dah direview

JaeminNanana : iya itu Jihyo Twince. Hehehehe maaf jika kau menistakan bias mu. Siapa bapaknya Seokmin? Udah terjawab dichapter ini kan? Gimana? Masih penasarankah? Pokoknya dipantengin terus deh siapa tahu aku updatenya cepat wkwkwkkwkw. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

reminie : biar bikin penasaran wkwkwkwkwkkwkwk. Si pembuat onar emang sudah beraksi. Dan bagaimana keadaan SOONWOO? Sudah terjawab kan dichapter ini? Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Park RinHyun-Uchiha : Ini mesin waktunya dah diupdate nih? Tpi kenapa koq nangis (TT) apa bikin baper? Bagian mana? Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

hyemilee3 : Mianhae jika aku jahat. Tapi kalau ndak gitu kan ndak seru. Wkwkwkkwkwkwkwk Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Han265 : bagaimana Skip SoonWoo nya? Dah banyak kah dichapter ini? BTW ini dah tak panjangin lhooo... gimna kepanjangan ndak? Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

JeonCarmy : udah di Next nih! Bagian mana yang Wonwoo Kiyowo? Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

oreki29 : Benarkah? Waaaaahhh Seneng banget aku kalau ceritaku ini menurutmu bagus. Makasih banget ya... aku ndak nyangka karya pertamaku bikin kamu baca ulang – ulang terus. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Jww : kasih tahu ndak ya? Masih rahasia wkwkwkwkwkwk biar bikin penasaran. Makanya dipantengin terus. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Wonu : kasih tahu ndak ya? Masih rahasia wkwkwkwkwkwk biar bikin penasaran. Kenapa bukan Wonwoo? Hm Hm...(Pasang mode berfikir) Rahasia! #tertawa nista#Makanya dipantengin terus. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Guest : Udah dilanjut nih. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

itsmevv : kasih tahu ndak ya? Masih rahasia wkwkwkwkwkwk biar bikin penasaran. Makanya dipantengin terus. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Guest : Makasih dah Puas sama chapter 5. Makasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Alwayztora : Bagian mana yang bikin gemes? Iya ini juga semangat koq mau nglajutin chapter selanjutnya. Yang penting harus banyak didukung. Biar aku semangat meneruskan cerita ini. heheheheheheheeMakasih dah direview. Gmn chapter ini? Bagus ndak?

Untuk para reader yang sudah review chapter 5, makasih banget yaaaaa...responnya, suka ketawa sendiri waktu baca komentar para reader yang lucu-lucu#plak#ditabok reader#.

Di chapter 6 ini aku berusaha untuk memperbaikinya. Kalau masih ada Typo/GJ tolong dimaklumi karena author hanya manusia biasa. hehehehehe

Dan mohon para pembaca tercinta tolong tinggalkan review nya ya untuk chapter 6 ini, untuk perbaikan di next chapter.

Dan mohon maaf jika dichapter 5 kemarin ada huruf yang Bold. Aku juga ndak tau kenapa bisa terjadi. Padahal aku nulis huruf tebalnya Cuma beberapa kata saja. Pas waktu diupdate koq tiba – tiba seperti itu. Padahal aku ndak mengetik seperti itu dan kayak gitu. Itu bukan unsur kesengajaan. Aku bener – bener ndak tau.

Sekali lagi terimakasih buat reader yang sudah mau review. Makasih banyak. Gomawo. Kamsahamida. Arigato. Thank You.

Terimakasih yang sudah baca cerita saya dan meluangkan waktunya untuk membaca! #Tebar kiss bye#

PPYONG!