Astaga demi apapun akhirnya fanfic ini berlanjut juga setelah 4 tahun berlalu. Jujur aja saya mengalami stuck di fanfiksi ini. Saya kehabisan ide tentang bagaimana kelanjutan dari cerita Ore No Hana ini. Saya terharu karena masih ada yang mau menunggu kelanjutan cerita ini...
Terima kasih karena sudah mau menunggu... :D
Lots love for you all~~ aishiteru minna~~
Akhir kata, selamat menikmati!
Chapter 5 Preview:
"Kau tahu kan tentang status Sakura sebagai pewaris tunggal kekayaan Haruno corp?"
"Ya. Aku tahu." Sasuke menghentikan perkataannya sejenak. "Tapi bukankah ada atau tidaknya Sakura tidak mempengaruhi kejatuhan Haruno corp? Buktinya saat Sakura dianggap telah meninggal tetap tidak ada orang yang dapat mengklaim aset dan saham milik Haruno corp." Kedua alisnya bertaut.
"Ya. Kupikir juga begitu." Shizune menautkan jemarinya di atas meja. "Tapi… sepertinya ada pihak lain yang menginginkan Sakura, dan mereka tahu bahwa Sakura masih hidup."
"…?"
"Kau pasti tahu kan apa yang dibutuhkan untuk mengesahkan surat kuasa?" Shizune menyandarkan kepalanya di kursinya. Matanya masih menatap lurus Sasuke. "Tanda tangan dan cap jari pewaris tunggal."
DEG
"Jadi mereka mereka mengincar Sakura karena menginginkan tanda tangan dan cap jari untuk mengesahkan surat kuasa? Dan setelah mereka mendapatkannya mereka akan benar-benar menghilangkan Sakura dari dunia ini?" Sasuke mencengkram kemejanya kesal.
"Ya. Dengan kata lain. Nyawa Sakura terancam. Itulah sebabnya mengapa keberadaannya harus dirahasiakan." Shizune menatap balik Sasuke. "Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Sakura. Tapi feelingku mengatakan kau lah orang yang dapat mengungkap misteri ini."
"Tadinya, aku khawatir jika keberadaan Sakura diketahui olehmu. Itulah sebabnya mengapa aku begitu tegang tadi." Senyum tipis tersungging di bibir Shizune. "Tapi sepertinya kau bukan orang jahat."
Mata onyx Sasuke membulat. Ia membalas senyum Shizune.
"Hn… Serahkan padaku sensei…"
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Angst
Rating: T
Pairing: SasuSaku
Alternate Universe, Non Uchiha Massacre, OOC (Sasuke)
Sasuke: 22 thn
Sakura: 20 thn
Otanoshimi yonde kudasai ne minna!
Ore No Hana
Story by: Akina Takahashi
Chapter 6: I'll Protect You
Naruto menatap langit-langit kamarnya, ia mengacak rambut blondenya gusar. Beberapa kali ia mengubah posisi tidurnya agar ia dapat memejamkan matanya dengan benar. Namun, sepertinya usahanya hanya sia-sia belaka. Hingga saat ini Uzumaki Naruto belum merasa mengantuk sama sekali.
Haa… Sial.
Apa sih yang terjadi padaku? Tidak biasanya aku insomnia seperti ini.
TOK TOK
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Naruto. Ia memalingkan pandangannya ke pintu sebelum mempersilakan si pengetuk untuk masuk.
"Masuk saja. Pintunya tidak dikunci."
KRIETT
Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sesosok gadis berambut pink di baliknya. Gadis itu mengenakan kaus oranye dan celana putih pendek selutut miliknya. Pipi Naruto memerah, entah kenapa ia merasa malu melihat Sakura-channya mengenakan baju miliknya.
"Naruto-niichan…" mata emerald Sakura terlihat memelas. "Izinkan aku tidur bersamamu." Sakura memegang bantal guling yang dibawa dari kamarnya erat.
"HA?!" Naruto terlonjak kaget mendengar permohonan adik kecilnya itu. Sedikit tidak percaya ia mengulangi perkataan Sakura tadi. "Kau ingin tidur bersamaku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh.
"Ha… habisnya… aku takut tidur sendirian." Sakura menundukkan kepalanya. "Tidak boleh?" Sebuah serangan puppy eyes ditujukan pada Naruto.
"Err… bukannya tidak boleh." Naruto terlihat salah tingkah. Oh astaga, sepertinya tidur seranjang dengan gadis yang disukainya benar-benar bukan hal yang bijaksana. Siapa tahu saja ia lepas kendali. Yah, walau bagaimanapun juga Naruto adalah seorang pria normal kan?
"Jadi kenapa?" Sakura sama sekali tidak mengerti sikap Naruto yang seperti ini.
"Begini ya Saki-chan…" Naruto berusaha menjelaskan. "Tidak baik bagi seorang pria dan wanita tidur dalam satu tempat tidur."
"Kenapa tidak baik?" tanya Sakura polos. Mata emeraldnya memancarkan rasa penasaran yang besar.
Aah, Naruto kau ini benar-benar bodoh. Gadis yang ada di hadapanmu ini walaupun tubuhnya adalah tubuh gadis dewasa tapi pikirannya masihlah pikiran anak perempuan yang masih berumur 10 tahun. Tentu saja dia belum mengetahui hal-hal seperti itu kan?
"A… itu…" wajah Naruto memerah.
"Aku mengerti. Aku akan kembali ke kamarku." Sakura merasa kecewa. Ia menunduk lesu, kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Namun sesaat sebelum pintu tertutup. Naruto memanggil gadis pink itu.
"Saki-chan."
Kelihatannya ia tidak tega membiarkan Sakura tidur sendirian. Ia tahu Sakura paling takut kesepian. Jadi untuk saat ini, ia akan menahan dirinya sebisa mungkin.
Sakura menghentikan langkahnya. "Ada apa Naruto-niichan?"
"Sini, sini." Naruto menepuk-nepuk bantal yang ada di sebelahnya. Senyum lebar mengembang di bibirnya. "Hari ini aku mengizinkanmu."
Seketika tawa kecil muncul dari mulut Sakura. "Aah… hahaha." Ia melempar bantal guling yang dipegangnya ke lantai. Ia berlari sekuat tenaga ke arah Naruto, memeluk pria blonde itu erat hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Naruto.
"Sa, Saki-chan…" kali ini wajah Naruto sudah bagaikan udang rebus. Posisi Sakura yang berada diatasnya benar-benar membuatnya salah tingkah. Wajah Sakura yang hanya berada beberapa centimeter dari wajahnya membuatnya hampir tidak bisa bernapas.
"Aku senang sekali oniichan." Senyum lebar terkembang di bibir Sakura. Mata emeraldnya berhadapan langsung dengan mata cerulean Naruto. "Kupikir oniichan akan tega membiarkanku sendirian lagi."
"…" Naruto tak dapat berkata-kata. Posisi mereka saat ini benar-benar membuatnya membeku."Sa…"
"Peluk aku oniichan." Sakura membenamkan kepalanya di dada Naruto. Tangannya mencengkram piyama pemuda blonde itu seolah mengharapkan perlindungan. "Aku takut sendirian."
Mata cerulean Naruto melebar. Ia tahu benar bagaimana penderitaan yang dialami gadis yang ada di dekapannya ini. Ia tahu, gadis itu selalu sendirian. Gadis pink ini tidak punya siapa-siapa selain dirinya. Kedua tangan Naruto bergerak menyusuri punggung Sakura. Memeluknya erat. "Jangan takut. Aku akan melindungimu." Bisiknya pelan."Kau tidak akan sendirian lagi."
Senyum tipis mengembang di bibir Sakura. "Arigatou…"
"Hm…" Naruto mengusap rambut pink Sakura dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih mendekap gadis itu erat. "Tidurlah."
"Ya…" Sakura mengangguk kecil. Ia menutup mata emeraldnya perlahan. Merasa nyaman dengan kehangatan yang diberikan pemuda blonde itu.
.
.
.
Matahari bersinar cerah, menampakkan sinarnya ke seluruh bumi pagi hari ini. Seorang pria berambut raven dan bermata onyx berlari menaiki tangga menuju ke lantai tiga. Tempat dimana apartemen Naruto berada.
Sial.
Enak saja si dobe itu!
Kenapa Tsunade si nenek tua itu mengizinkan Sakura tinggal bersama Naruto?
Ia mengamati papan nama bertuliskan Uzumaki Naruto di pintu yang ada di hadapannya. Menekan belnya dengan tidak sabar.
TING TONG
TING TONG
TING
KRIETT
Kegiatan memencet belnya seketika terhenti ketika pintu itu terbuka menampakkan seorang gadis berambut pink di hadapannya.
"Sasuke-niisan!" seru gadis itu ceria. Ia berlari memeluk Sasuke dengan semangat. Tawa kecil keluar dari bibirnya.
Sasuke yang masih shock akibat pelukan tiba-tiba itu hanya terdiam sebelum akhirnya ia membalas pelukan gadis itu.
"Aku kangen!" Sakura melepaskan pelukannya. Mata emeraldnya bertemu dengan mata obsidian Sasuke. Pemuda raven itu hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Ahem" tiba-tiba saja Naruto muncul dari balik pintu.
"Naruto-niichan! Lihat siapa yang datang!" seru Sakura semangat.
"Naruto…"
"Aa ohayou. Ada perlu apa kau datang pagi-pagi begini?" Naruto menguap beberapa kali. Tangannya mengacak rambut pirangnya.
Sasuke tidak segera menjawab. Matanya melebar sesaat ketika ia melihat Sakura mengenakan baju milik Naruto yang ukurannya kebesaran itu. "Saki-chan, semalam kau tidur dimana?" bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke malah mengubah topik pembicaraan. Entah kenapa ia merasa tidak enak melihat Sakura mengenakan baju milik Naruto. Akan lebih baik jika Sakura mengenakan baju miliknya saja.
Ah tunggu! Apakah ini yang namanya cemburu?
"Oi kau belum jawab pertanyaanku!" Naruto terlihat kesal karena merasa tidak dipedulikan oleh Sasuke.
"Aku tidur di kamar Naruto-niichan!" jawab Sakura lantang. "Kami tidur bersama." Jelasnya.
Death Glare!
Seketika Naruto merasa lemas ketika Sasuke memberikan serangan death glare padanya.
"Apa yang kau lakukan dobe?!" Sasuke merasakan emosinya meluap.
"Hei, itu tidak seperti yang kau pikirkan teme." Naruto mencoba menjelaskan. "Aku hanya menemaninya tidur. Itu saja. Tidak lebih."
Sasuke hanya memicingkan matanya. Masih tidak percaya pada si dobe yang ada di depannya ini.
"Ah! Semalaman Naruto-niichan memelukku." Tiba-tiba saja Sakura angkat bicara.
"Ah, tidak. Itu, bukan…" Naruto kehabisan kata-kata ketika melihat Sasuke yang terbakar emosi. Seolah-olah terlihat ada api besar yang mengelilingi pemuda itu.
"NARUTO!"
BUAG
BRAKK
Kasihan sekali nasib Uzumaki Naruto yang telah membuat cemburu si pangeran es, Uchiha Sasuke.
"Ouch! Sakit, teme!" gerutu Naruto sambil memegangi kepalanya yang benjol akibat pukulan Sasuke.
"Itu hukuman buat orang mesum sepertimu." Sasuke melipat tangannya di dada. "Saki-chan, ayo kita pergi!" Sasuke segera menarik pergelangan tangan Sakura.
"Kemana?" tanya Sakura heran.
"Tentu saja membeli baju dan peralatan lainnya untukmu. Apa kau mau memakai baju norak seperti itu selamanya?" nada bicara Sasuke masih terdengar kesal.
"Hei! Baju siapa yang norak hah?" Naruto sedikit marah mendengar baju oranye kesayangannya dibilang norak oleh Sasuke.
"Sebelum pergi pakai ini dulu, Saki-chan." Sasuke tidak mengacuhkan Naruto. Tangannya memakaikan wig panjang berwarna hitam pada Sakura.
"Kenapa harus pakai ini?"
"Sudahlah pakai saja." Sasuke menolak memberikan alasan yang sebenarnya pada gadis itu. Tidak mungkin ia bilang kalau nyawa Sakura sedang dalam bahaya jika berkeliaran tanpa menyamar.
"Baik." Sakura membetulkan wig hitam yang dipakaikan Sasuke padanya tadi. "Bagaimana niisan? Bagus tidak?" tanyanya.
Naruto dan Sasuke terpana melihat Sakura dalam penampilan barunya. Ternyata warna hijau emerald jernih mata Sakura sangat pas dipadupadankan dengan warna rambut hitam. Ia terlihat lebih dewasa dan lebih anggun.
"Bagus sekali." Puji Sasuke.
"Kau cantik sekali." Naruto menambahkan.
"Nah, ayo kita pergi bersama-sama!" Sakura menarik tangan Sasuke dan Naruto dengan ceria.
"Siapa bilang aku mau pergi bersama si dobe pirang bodoh itu?" ujar Sasuke sinis. Matanya menyipit karena kehadiran Naruto akan merusak acara "kencan"nya dengan Sakura. Ya, tentu saja jika Naruto ikut maka ini tidak bisa dibilang kencan kan?
.
.
.
"Saki-chan! Lihat ada baju yang cocok sekali untukmu!" Naruto menarik Sakura mendekati baju baby doll berwarna pink yang terpajang di display toko.
"Huf… kenapa si Naruto bodoh ini jadi ikut sih?" Sasuke menghela napas. Memegang kepalanya yang pusing karena mendengar teriakan Naruto sejak tadi.
"Hmph! Siapa yang bodoh? Kupikir kau jauh lebih bodoh dariku Sasuke." Naruto mengomentari gumaman Sasuke dengan kesal. "Lagipula Saki-chan ingin pergi bersamaku."
"Cih. Itu kan karena kau memaksa!"
"Ano…" Seketika Sasuke dan Naruto merasakan tarikan kecil di baju bagian belakang mereka. Percakapan mereka terhenti ketika mereka melihat mata emerald Sakura berkaca-kaca. "Naruto-niisan dan Sasuke-niisan bertengkar karena aku?"
Merasa salah tingkah karena melihat Sakura hampir menangis Naruto segera mengelus kepala gadis itu lembut. "Kami tidak bertengkar kok."
"Benarkah?" tanya Sakura polos.
"Tentu saja. Ya kan Sasuke?" mata cerulean Naruto menatap tajam mata obsidian Sasuke seolah berusaha memaksanya untuk membantunya menenangkan Sakura.
"Hn. Tentu saja." Jawab Sasuke singkat.
"Yokatta!" Sakura segera mengelap kedua matanya yang basah dengan tangannya. Seketika ia tersenyum manis sehingga sukses membuat kedua pemuda yang ada di hadapannya memblushing.
Ia merangkul lengan kanan Sasuke dan lengan kiri Naruto secara bersamaan. "Ayo kita jalan-jalan lagi!" serunya riang. Tak menyadari debaran jantung kedua pemuda itu yang semakin menggila karena aksinya yang tiba-tiba.
"Woaah!" gumam Sakura. "Cantiknya…" Ia mengangkat shortdress yang dihiasi renda biru muda yang baru saja dibelikan Sasuke untuknya. "Seperti boneka barbie." Celoteh Sakura riang.
"Hn. Itu hadiah dariku untukmu." Ujar Sasuke yang ditanggapi dengan sebuah pelukan dari Sakura yang sedikit membuat pemuda berambut hitam itu salah tingkah. "Terima kasih onii-san!"
"Kau sudah membeli lebih dari 20 model dress yang bertipe sama." Mata Naruto menyipit. "Tak kusangka kau memiliki fetish terhadap boneka barbie, Sasuke."
BLUSH
Seketika wajah Sasuke memerah. Ia memang suka melihat Sakura mengenakan gaun berenda seperti yang dikenakan princess yang ada di buku cerita ataupun gaun yang dikenakan oleh boneka-boneka barbie yang dijual dipasaran.
"Kalau Saki menyukainya, apa boleh buat?" Sasuke mengangkat bahunya.
"Aku menyukainya kok Naruto-niisan." Senyuman manis Sakura hampir saja membuat KO pemuda yang ada di hadapannya.
Naruto hanya menggerutu. "Hmph, kalau begitu coba model yang ini Sakura!" ia menyerahkan sehelai gaun tidur sutra berwarna merah yang terlihat seksi pada Sakura. Gaun itu memiliki belahan dada yang sangat rendah dan panjangnya mungkin hanya mencapai setengah paha Sakura.
Wajah Sasuke memerah ketika membayangkan Sakura mengenakannya. Ia segera mengambil gaun itu dari genggaman Sakura dan menatap tajam ke arah Naruto."Kau itu gila apa? Menyuruh Saki mengenakan gaun seperti itu sama saja dengan…" Sasuke tak mampu lagi melanjutkan perkataannya. Wajahnya memerah tak karuan. "Agh! Pokoknya kau tidak boleh mengenakannya!" Sasuke melarang Sakura mengenakan gaun itu.
"Kenapa oniisan? Padahal aku menyukai gaun itu." Sakura terlihat kecewa.
"Kau tinggal berdua saja dengan si bodoh itu, dan jika kau mengenakan gaun itu…" Sasuke sama sekali tidak bisa memikirkan kata-kata yang mudah dimengerti bagi Sakura. "Pokoknya tidak boleh! Jangan tanya kenapa. Mengerti?"
"Hiks hiks…." Tiba-tiba saja Sakura menangis. "Tapi aku mau gaun itu Sasuke-niii" rengeknya.
"Tuh kan, berikan sajalah Sasuke… itu kan dia yang mau." Naruto menyeringai. "Lagipula apa kau tidak penasaran bagaimana penampilan Sakura jika mengenakannya Sasuke?"
"Kau!" Sasuke men-death glare Naruto. "Kau itu sama saja menjadikannya kesenangan visualmu semata. Lagipula siapa yang tahu jika kau bisa saja bertindak diluar kendali ketika melihatnya nanti."
"Ah, benar juga." Naruto sedikit merasa bersalah. "Gomen."
"Huff…" Sasuke menghela napas panjang. "Aku akan menelepon seseorang yang bisa membantu kita."
"Hah? Untuk apa? Kita kan bisa melakukannya sendiri."
Sasuke mengerutkan keningnya. Pemuda pirang yang ada di hadapannya ini benar-benar membuat emosinya naik. "Tentu saja untuk membantu Saki berbelanja pakaian dalam, bodoh! Kau pikir kita berdua akan masuk ke toko pakaian dalam khusus wanita?" Kata-kata Sasuke sukses membuat wajah Naruto memerah. Benar juga. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya yang membantu memilihkan pakaian dalam untuk Sakura. Bisa-bisa ia mati di tempat akibat mimisan.
"Berhenti berpikiran mesum dobe!" Gerutu Sasuke. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan mengecek daftar kontaknya. "Ah, ini dia." Ia menghubungi orang yang namanya tertera di ponselnya.
"Moshi-moshi, Hinata. Ini aku, Sasuke. Apakah kau bisa menemuiku sekarang?"
"Ada apa Sasuke-kun?" terdengar suara seorang gadis yang malu-malu dari ponsel Sasuke.
"Temui aku di depan stasiun Shibuya jam 1 siang ini. Jangan biarkan aku menunggu lama."
"Aa… aku akan segera menuju kesana." Suara gadis itu terdengar gugup. "Sampai jumpa Sasuke-kun."
Sasuke mematikan sambungan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Galak sekali kau pada wanita." Komentar Naruto setelah mendengar percakapan Sasuke dan Hinata tadi. Pemuda blonde itu mengangkat bahunya. "Aku heran kenapa masih ada saja yang mau berteman denganmu."
"Berisik kau dobe." Gerutu Sasuke.
"Memangnya dia itu siapa, Sasuke? Pacarmu?" tanya Naruto. Si blonde ini sedikit penasaran seperti apa wanita yang tahan pacaran dengan pemuda es ini.
"Tunanganku." Dan jawaban singkat Sasuke sukses membuat Naruto terperanjat kaget.
"Teme! Kau ini kurang ajar sekali ya! Sudah bertunangan tapi masih saja mendekati Saki-chan. Jangan pikir aku tidak tahu ya kalau kau juga menyukai Saki-chan." Naruto berteriak kesal. "Aku tidak akan menyerahkan Saki-chan pada playboy sepertimu! Dasar brengsek!"
Sasuke memutar matanya bosan. "Terserah apa katamu dobe." Ia mengangkat bahunya. "Ini hanya penyatuan bisnis keluarga, bukan pertunangan yang sebenarnya. Lagipula aku sama sekali tak punya perasaan apapun pada Hinata."
"Tapi tetap saja kau sudah bertunangan bastard!"
"Tutup mulut besarmu itu Naruto." Suara dingin Sasuke berhasil membuat Naruto terdiam.
"Ayo kita pergi Saki-chan." Sasuke menarik tangan kanan Sakura. Sakura yang tersentak kaget hanya menuruti pemuda itu dan mengikuti langkahnya menjauhi Naruto.
"Eh Sasuke-bastard tunggu aku dasar sialaan!" Naruto berlari menyusul Sasuke dan Sakura yang telah lebih dulu meninggalkannya.
.
.
.
Shibuya Station, Sunday, 1:03 pm
"Maaf apa k-kau me-menunggu lama, Sasuke-kun?" terlihat sesosok gadis cantik berambut hitam panjang yang berlari menuju kearah Sasuke. Gadis itu kehabisan napas karena sepertinya ia sangat terburu-buru tadi.
"Hn." Sasuke melihat jam tangannya. "Kau terlambat tiga menit."
Wajah Hinata kembali memerah ia terlihat merasa bersalah pada pemuda bermata onyx itu. "Gomen… aku-" kata-katanya terpotong saat Naruto tiba-tiba saja menyelanya.
"Sasuke-bastard! Kau benar-benar tidak berperasaan!" Naruto tiba-tiba saja menyela pembicaraan mereka berdua. "Jangan pedulikan si manusia es ini nona! Kami juga baru saja sampai kok." Naruto berusaha menenangkan gadis pemalu di depannya.
Hinata tersenyum lembut pada Naruto. "Terima kasih…"
"BLUSH"
Naruto seketika merasakan wajahnya memerah ketika melihat gadis manis yang ada di hadapannya tersenyum. "Ehehehe itu bukan apa-apa kok." Ia mengacak rambut pirangnya malu-malu.
"Ah, salam kenal." Ia menjabat tangan Hinata. "Namaku Uzumaki Naruto."
"Hyuuga Hinata, douzo yoroshiku onegaishimasu." Hinata membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Naruto dengan anggun layaknya seorang putri bangsawan.
"Naruto-niichan!" suara nyaring Sakura menganggu momen romantis antara Naruto dan Hinata. "Ayo cepat! Nanti kutinggal loh!" Sakura berteriak sambil melambaikan tangannya pada Naruto, menyuruhnya untuk segera mengikutinya. Di sebelahnya Uchiha Sasuke terlihat tidak sabar lagi menunggu. "Biarkan saja dia."
Naruto yang menyadari sosok Sasuke dan Sakura yang telah berjalan meninggalkannya terlihat panik. "Oii teme! Tunggu aku! Sialaann!"
"Ayo, Hinata-chan!" Ia menarik lengan Hinata dan membawanya berlari kecil menuju ke tempat Sasuke dan Sakura berdiri. HInata yang sempat kaget segera tersenyum membalas perkataan Naruto dengan anggukan. "Un."
.
.
.
Ore No Hana
.
.
.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Kabuto?" Seorang pria berwajah pucat dan memiliki bentuk wajah mirip dengan ular tersenyum licik ketika menatap Kabuto yang tengah duduk di meja kerjanya.
"Aa… Orochimaru-sama." Pria yang bernama Kabuto segera mengangkat kepalanya menatap Orochimaru. "Saya sudah menemukan Sakura…" Kabuto tersenyum puas. "Tak lama lagi semuanya akan jadi milik kita."
"Hmm…" Suara dingin yang dikeluarkan Orochimaru membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri. "Kau masih terobsesi pada gadis itu? Tak kusangka kau obsesif sekali. Aku kasihan pada gadis itu."
Seulas senyum licik mengembang di wajah pemuda berkacamata itu. "Tidak ada yang bisa lari dari saya. Tidak setelah ia menggagalkan rencana terbesar saya sebelumnya."
Orochimaru berjalan mendekati Kabuto. Ia tertawa jahat. "Oh astaga kau benar-benar mengerikan Kabuto…"
"Terima kasih atas pujiannya Orochimaru-sama."
"Hahaha." Pria paruh baya itu tertawa. "Kurasa kau harus membuat rencana yang sempurna kali ini."
"Tentu saja." Kabuto menaikkan kacamatanya. "Saya tidak akan gagal. Semua ini demi keberlangsungan organisasi kita. Dan tentu saja, proyek penelitian yang telah kita rencanakan sejak beberapa tahun yang lalu."
"Aku heran kenapa kau hanya terobsesi pada Haruno. Padahal banyak pengusaha lain yang memiliki aset lebih besar." Orochimaru mengangkat bahunya.
"Yah, bisa dibilang ini adalah dendam pribadi." Mata hitam Kabuto berkilat. "Haruno Kizashi telah membunuh kedua orang tua saya."
"Bukankah kau telah membunuh Haruno Kizashi, Haruno Mebuki, dan ratusan penumpang lain yang berada di pesawat yang sama dengan mereka?"
Kabuto menatap Orochimaru dengan tatapan serius. "Kematian tidak cukup untuk membalas semuanya. Saya akan memastikan semua keturunan Haruno akan mengalami penderitaan yang lebih berat daripada saya."
"Oh astaga, rupanya ini alasanmu." Orochimaru kembali tertawa kecil. "Baiklah aku mengerti."
"Saya akan membalasnya berkali-kali lipat." Kabuto tersenyum. "Saya akan menyiksanya hingga ia memohon pada saya agar saya membunuhnya. Baru kemudian saya akan membunuh dan menjadikan tubuhnya sebagai bahan eksperimen."
"Dengan kata lain kau akan menyiksanya, membunuhnya, dan menghidupkannya kembali begitu?" Orochimaru menjilat bibir atasnya dengan lidahnya yang terlihat seperti lidah ular. "Kau luar biasa Kabuto!"
"Aku bangga padamu."
"Semua ini demi proyek Edo Tensei kita."
"Hmm…"
Menghidupkan kembali orang mati...
Benar-benar hal yang sangat menarik...
.
Tentu saja, aku akan melakukan apapun demi perkembangan ilmu pengetahuan. Ini tak ada hubungannya dengan dendam bodohmu itu Kabuto.
.
-TSUZUKU-
Whew akhirnya Kabuto muncuul! Sedikit demi sedikit bakal terungkap deh seperti apa hubungan Sakura dan Kabuto dulu dan kenapa alasan Kabuto bisa jadi orang psycho seperti ini.
Apa sebenarnya Edo Tensei? kenapa mereka terobsesi soal itu?
Apakah Sakura akan kembali seperti semula? Apakah ingatannya akan kembali? ataukah ia akan tetap menjadi sosok gadis kecil berumur sepuluh tahun?
Siapa sebenarnya Haruno Sakura? benarkah Haruno Kizashi telah membunuh kedua orang tua Yakushi Kabuto?
dan yang paling penting...
Pada siapa hati Sakura akan berlabuh? Sasuke si pangeran es yang selalu memperhatikannya ataukah Naruto sosok kakak yang selalu melindunginya?
semua pertanyaan tersebut akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya... jadi... jangan lewatkan kelanjutannya yaa~~
Review berupa saran, kritik, komentar, flame, atau apapun saya terima dengan senang hati... Saya menetapkan batasan kuota review per chapter sebagai penentu apakah saya akan melanjutkan fanfiksi ini atau tidak. Saya akan langsung mengupdate chapter selanjutnya jika jumlah minimal telah tercapai. Hehehe tentu saja bila tak ada gangguan bagi saya untuk menulis ya.
Sekali lagi terima kasih semuanyaa~~!
With Love,
Akina Takahashi
QA Sections:
Riato Kid chapter 5 . Mar 24
Q: Selang 4th fanfic ini, apakah tidak ada niatan untuk dilanjutkan? Padahal sayang sekali.. Mengingat cerita ini bagus sekali :)
A: Ada kok. Ini sudah saya lanjutkan :D, terima kasih sudah mau menunggu yaa.
jessica-chan chapter 6 . Oct 20, 2013
Q:bagus! bagus! bagus! akan lebih bagus, kalau cepat update..
A: Iya akan saya usahakan updatenya supaya lebih cepat deh
zhaErza chapter 1 . Sep 6, 2013
Q: Sebelumnya salam kenal Akina-san. Hehe aq suka banget ma ni ff. Ceritanya beber2 buat aq penasaran. Jadi plisss akina-san lanjut ff ini. Hehehe Ditunggu lo. Ganbatte :D
A: Terima kasih karena sudah mau membaca fanfiksi-fanfiksi saya zhaerza-san~ Hahaha penasaran ya? makanya ikuti terus kelanjutan Ore No Hana yaa~
sone uchiha chapter 6 . Jul 13, 2013
Q: nanti enggak ada antagonisnya juga? cewe yang ceritanya engga suka sama sakura gituu hehee
A: Ada kok peran antagonisnya. Kabuto, Orochimaru dan seluruh anggota Oto, corp. dark organization yang diketuai Orochimaru. Saya ga berniat membuat tokoh antagonis cewek. :)
Kim Yui Rie chapter 6 . Mar 21, 2013
Q: cepet up date yee... semangat.. wat lanjutin ff ne... klo bisa tentg kabuto lebh lnjut donk hegegehe
A: Okay, terima kasih buat semangatnya :) Dua chapter kedepan sepertinya saya akan fokus pada masa lalu Sakura dan Kabuto.
skyesphantom chapter 6 . Feb 8, 2013
Q: Halo kak! Menarik, temanya psikologi lagi ... dan kelainan Saku itu ... kasian._. Penulisannya enak, typo sih ngga ada seliat saya. EyD-nya sih udah cukup rapi, keren! Karakterisasinya ... suka. Walau Naru jadi agaknya over-protective sama Saku, dan keadaan Saku yang gitu, ah sulit dijelaskan, kasian yang jelas._. Sasu-nya emang agak OOC, tapi ngga masalaah. Ditunangin sama Hinata? Wah, gimana kelanjutan SasuSaku-nya...
A: Ahaha terima kasih atas pujiannya... saya sebenarnya ga ngerti apa-apa soal psikologi karena itu memang bukan bidang saya. Jadi mohon maaf ya kalau ada yang salah atau aneh soal kelainannya Saku. Sasuke memang OOC banget kalau dibandingin sama karakter yang dibikin Masashi-sama. Yah, dalam fanfiksi ini kan dia hidup dalam keluarga bahagia dan ga mengalami berbagai tekanan kaya di cerita aslinya. Tapi semoga kadar OOCnya masih dapat diterima ya...
Hmm endingnya SasuSaku atau NaruSaku masih belum saya putuskan... silakan lihat bagaimana kelanjutannya nanti yaa
rizukauchiha29 chapter 6 . Apr 16, 2011
Q: mm.. Ri boleh nanya sesuatu? maaf, ri masih belum ngerti sakura kena penyakit psikologi apa? Multiple personality disorder kah? Atau justru tingkat skizofrenia?
A: Hahaha jujur aja saya ga punya pikiran apapun waktu bikin chapter pertama fic ini. Apa nama penyakit yang diderita Sakura, jenisnya, atau bahkan seperti apa gejala dan penanggulangannya saya ga tahu. Ini bukan bidang saya. Ya, salah saya sih karena saya ga mencoba mencari tahu dan seengganya belajar dikit deh tentang ini. Gomeen~ tapi mungkin menurut pendapat saya, Sakura lebih cenderung ke multiple personality disorder kayanya. soalnya saat ini dia balik jadi sosok anak kecil berumur 10 tahun yang belum ngerti apa-apa. Tapi ga tau juga sih. Silakan tanya ke yang lebih ahli soal ini :)
Kagami Reinka chapter 6 . Jul 29, 2010
Q: Tolong banyakin tentang pelajaran-pelajaran kuliah atau gak sekedar nama-nama nya aja! Saya suka kuliah! DX
A: Waw baru kali ini saya dengar ada yang bilang "saya suka kuliah!" Haha. Luar biasa semangatnyaa! Salut saya. He pelajaran-pelajaran kuliah yang seperti apa yang Reinka-san mau? psikologi dan sosial science bukan bidang saya jadi saya kurang mengerti soal itu. Saya berencana membuat fanfiksi baru yang akan membahas tentang kehidupan perkuliahan di bidang teknik. Mungkin saya akan mencoba membuat fanfiksi yang memiliki nilai edukasi dan beda dari biasanya (fanfik saya kan nyaris galau semua temanya haha). Tapi itu juga belum saya tentukan kapannya.
aahh chapter 5 . Jul 1, 2010
Q: Terlalu banyak bahasa jepangnya, jadi pusing bacanya. Sebenernya km dsini cuma minjem karakter kan? Tp knapa minjem bhasa juga?
A: Wah, iya ya? habisnya saya ingin membawa suasana jepangnya juga ke dalam fanfiksi ini. Okay kalau begitu di chapter-chapter selanjutnya akan saya kurangi deh. Terima kasih atas pemberitahuannya!
Terima kasih buat
Fuyu no MiyuHana,
NarumiAria,
hanazono karin,
Sindi 'Kucing Pink,
arisu sashura,
Rin Tsubaki,
Anisa IcHaruno,
sheila,
Nadeshiko Hime-chan,
Reiko Motoharu,
FIYUI-CHAN,
Kikyo,
So Won20,
Guest,
shawol21bangs,
kimjoohyun6,
MisakiMichiko,
Lhylia Kiryu,
lorist angela,
rizukauchiha29,
uchiha violetz,
aoi satsuki uzumaki,
Niigata Rine,
yuki chan haruno uchiha,
syeakarim,
anynomus,
Angel,
Kazama Sakura,
Pytha,
Reader ajjah,
Hoshi Ana,
Mizuira Kumiko,
Mamehatsuki,
Kagami Reinka,
Mayuura,
takarisma,
4ntk4-ch4n,
Kira Desuke,
Rieiolanthe,
Je-jess,
Arzhetty,
Ay,
SasuChiha LowVeRezZ,
Ah iya ini sedikit spoiler mengenai fanfiksi baru yang akan saya publish. Yah, mumpung saya sedang berniat menulis dan memiliki ide di kepala saya saat ini hehe.
Ada dua tema yang ingin sekali saya buat fanfiksinya. Yaitu Education dan Time Shifting.
1. Fanfiksi bertema edukasi
Jujur saja sejak lama saya ingin sekali membuat fanfiksi yang beda dari yang lain. Fanfiksi yang berisi nilai-nilai pendidikan dan pengetahuan yang ga cuma berisi romance galau seperti yang biasa saya buat, tapi saya takut tanggapan pembaca mungkin kurang bagus karena mungkin banyak beranggapan fanfiksi edukasi akan membosankan atau gimana. Hmm saya mungkin akan menjelaskan tentang garis besar ceritanya saja.
Genre fanfiksi ini mungkin bisa dibilang slice of life karena fanfiksi ini akan menceritakan kehidupan perkuliahan Haruno Sakura sebagai satu-satunya mahasiswi di jurusan Teknik Sipil (yang lainnya mahasiswa maksudnya). Saya akan mencoba menjelaskan mengenai bagaimana rasanya berkuliah di jurusan teknik yang jumlah perbandingan cewek dan cowoknya amat ga berimbang (unik loh rasanya serius, hahaha), cewek yang berkuliah di jurusan teknik mesin dan teknik pertambangan juga pasti mengalami hal yang sama dengan saya haha. Saya juga akan menjelaskan apa itu teknik sipil, bidang kerjanya, dan hubungan dengan jurusan lain seperti apa. Oh, dan juga mungkin saya akan menjelaskan tentang bagaimana tugas seorang engineer (atau bahasa Indonesianya adalah rekayasawan atau insinyur) di kehidupan sehari-hari.
Tapi tenang saja, saya akan berusaha menyampaikannya dengan menarik! jauh dari kata membosankan.
Title: Civil Engineering
Rated: T (sebenernya K juga bisa sih, tapi saya takutnya bahasannya terlalu rumit buat anak-anak)
Characters: Haruno Sakura (main character), Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto, Hatake Kakashi, semua anggota rookie 12, dan masih banyak lagi.
Genre: Slice of life / Humor / Romance / Education
.
2. Fanfiksi bertema time shifting
Dari pertama kali saya membaca manga Naruto, saya pengen banget mengubah sikap Sakura yang sangat annoying itu jadi lebih kalem. Dia sempat jadi karakter yang paling saya benci dulu. Selain lemah, dia juga suka ngomong seenaknya ke Naruto dan tanpa sadar nyakitin hatinya. Belum lagi sikap fangirling dia yang berlebihan ke Sasuke. Yah, sayang banget padahal. Mungkin kalau dia ga gitu, hubungan dia dan Sasuke ga akan jadi seperti sekarang. Tapi begitu saya ngelihat usaha dia untuk berubah dan kesetiaan dia sama Sasuke yang luar biasa, saya langsung ngefans sama karakter yang satu ini.
Yah intinya fanfiksi ini akan menceritakan bagaimana yang terjadi jika Sakura mendapatkan kesempatan kedua untuk mengubah segalanya. dia akan kembali pada waktu tim tujuh pertama kali terbentuk. Seperti biasa akan banyak adegan heartache di fanfiksi ini. Ya, saya kebiasaan membuat fanfiksi angst galau soalnya haha.
Title: Rewrite
Rated: T / M (masih belum saya putuskan apakah akan ada adegan dewasa atau tidak)
Characters: Team Seven
Genre: Angst / Drama / Hurt / Comfort
Well, gimana tanggapan kalian? yang mana yang sebaiknya saya publish terlebih dahulu? saya mohon masukan dan sarannya yaa~~
Terima kasih!
Next update!
Kimi No Sei chapter 8
Love Story that Has No Beginning Chapter 3
PS: Sorry untuk beberapa kesalahan fatal yang ada di fanfiksi ini. Saya baru sadar ternyata nama ayah Sakura di chapter-chapter sebelumnya berbeda dengan yang sekarang. Maaaff.. Ini karena saya udah lama banget ga update. Sepertinya waktu saya bikin chapter awal Masashi Kishimoto belum ngereveal tentang orang tua Sakura. Ya, Kishi-san baru memperjelas tentang seperti apa orang tua Sakura di canon pada Naruto Road To Ninja yang mungkin belum beredar semaktu saya dulu mulai menulis fanfiksi ini. Sekali lagi maaf ya... Terima kasih buat reviewer yang sudah mengingatkan.
