Jimin menggeliat tak nyaman di alam mimpinya. Perlahan, ia mulai membuka kedua kelopak matanya dan menyesuaikan dengan pancaran sinar matahari yang menelusup ke indera penglihatannya. Jimin mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya, ia bergumam merasa jika ruang yang ia tempati sekarang bukanlah kamarnya, kamarnya tidak bernuansa putih dan tidak pula terdapat jendela kaca besar.
Semenit kemudian Jimin tersadar jika saat ini ia sedang tidak berada di kamarnya, ya dia ada di rumah sakit. Kenapa ia bisa lupa? Jimin mendengus saat ia baru sadar jika ia hanya sendiri. Ia benar-benar merasa seperti tidak memiliki keluarga ataupun orang terdekat di dunia ini. Hampa, begitulah perasaannya. Jimin menarik nafas, ini sudah pukul delapan pagi kenapa tidak ada perawat yang masuk? Sekali lagi, Jimin mengedarkan pandangannya seharusnya ia menyadari jika ada perubahan di dalam kamar inapnya itu.
"Pasti mereka sudah membersihkannya tapi, aku saja yang tidak menyadarinya!" gumamnya. Kemudian, Jimin meraih ponselnya yang berada di atas nakas ia membuka lock-screen dan melihat ada sekitar 11 pesan dari Jungkook.
From : Kookies
7.30pm, 17/5/23
Ah begitu, lalu? Apa sekarang mereka sudah datang hyung-ie?
From : Kookies
7.35pm, 17/5/23
Hyung kenapa tidak membalas pesanku? Apa kau sedang makan?
From : Kookies
7.38pm, 17/5/23
Ah, hyung kau sedang apa? Sampai melupakanku?
From : Kookies
7.41pm, 17/5/23
Hyung-ie aku menunggu balasanmu lhoo..
From : Kookies
7.44pm, 17/5/23
Hyung apa kau sudah tidur? Kau sudah makan atau belum? Jangan lupakan makan malammu. Aku tidak ingin kau lama-lama disana.
From : Kookies
7.47pm, 17/5/23
Hyung-ie apa jangan-jangan kau sudah tidur ya?
From : Kookies
7.50pm, 17/5/23
Ah, hyung! Kau sungguh sudah tidur?
From : Kookies
7.52pm, 17/5/23
Sungguh hyung, aku benar-benar menunggu balasanmu.
From : Kookies
7.55pm, 17/5/23
Hyung, kau sedang apa sih? Padahal aku masih ingin mengirim pesan padamu. Tapi, kenapa kau tak juga membalas pesanku?
From : Kookies
8.00pm, 17/5/23
Hyung kau tahu aku sangat senang bisa mengenalmu. Entah kenapa aku merasa nyaman denganmu. Jadi, maukah kau berteman denganku selama mungkin hyung-ie?
From : Kookies
8.15pm, 17/5/23
Baiklah hyung, jika kau sudah tidur. Istirahatlah! Dan cepat sembuh. Tunggu kehadiranku besok-nde...
Jalja hyung-ie...
Jimin tersenyum kecil. Awalnya ia tidak menyukai Jungkook tapi, entah kenapa ia menyukai sifat-sifat kekanakan dari bocah itu. Jimin memutuskan untuk mengetik balasan kepada Jungkook. ini baru pukul 8 pagi, jika Jungkook sudah sekolah setidaknya akan dibaca pemuda bocah itu nanti.
To : Kookies
8.25am, 17/5/24
Mianhae, Kookie...
Semalam hyung ketiduran dan tidak mendengar notifikasi pesan darimu. Hyung harap kau tidak marah-nde...
Arra, hyung akan menunggu kedatanganmu. Datanglah setelah sekolahmu selesai. Belajar yang rajin, eoh? Hwaiting!
Jimin menyentuh tombol sent pada ponsel pintarnya. Kemudian, ia kembali meletakkan ponselnya itu diatas nakas tempatnya semula. Jimin mencoba untuk menyamankan posisi tidurnya. Ia bergerak perlahan meskipun ia merasakan sedikit perih di bagian luka lambungnya. Jimin mendengus. Ia kesepian dan merasa bosan. Ia ingin keluar, tapi keadaannya tidak memungkinkan.
Jimin tersentak saat tiba-tiba saja pintu kamar inapnya terbuka. Jimin menunggu semenit sampai orang yang membuka pintu itu muncul dari balik pintu dan masuk ke kamarnya. Jimin terdiam melihat sosok yang sudah lama tidak dijumpainya, kini berdiri dihadapannya. Sosok itu berjalan mendekati Jimin dan tersenyum tulus. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun.
"Hyung~" lirih Jimin hampir terisak bahkan entah kenapa ia merasa suaranya hampir tenggelam. Sosok itu tersenyum dan mengelus surai Jimin lembut, menyalurkan kasih sayang dan kerinduan melalui sentuhan-sentuhannya.
"Aku sangat merindukanmu, Jim!" lirihnya menatap kedua iris Jimin. Jimin tersenyum. "Dan, juga mianhae!" sesalnya tak bisa lagi menahan bendungan air mata yang sedari tadi ia tahan. "Aku tidak bisa menjagamu. Aku tidak bisa memenuhi janjiku pada halmoni!" Jimin menggeleng.
"Tidak hyung! Itu tidak benar! Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Kau sudah banyak membantuku! Justru, aku yang harus meminta maaf padamu!" Jimin menunduk dan memandang kedua mata teduh itu. "Aku sudah memberikan jarak antara kau dan keluargamu. Maafkan aku hyung!"
"Tidak Jimin! Itu bukan salahmu! Itu keputusanku, lagi pula aku juga tidak mau menjadi bagian dari keluarga pembunuh!"
"Tapi, hyung~tidakkah kau memikirkan perasaan adikmu? Dia sangat tertekan dan banyak berubah!"
"Hoseok baik-baik saja!"
"Hyung, jangan membohongi dirimu sendiri! Aku tahu kau merindukan adikmu! Aku tahu kau sangat menyayanginya! Tapi, apakah kau membiarkannya jika ia masuk ke dalam perangkap yang dibuat orang tuamu, hyung? Apa kau tidak tahu bagaimana perasaannya jika ia mengetahui semuanya?" Sosok itu diam dan hanya menatap Jimin.
"Tidak kau tahu jika Hoseok memiliki perasaan padamu?"
"Perasaan itu hanya dendam hyung! Maka dari itu, aku selalu menolaknya. Tidak masalah jika pada akhirnya aku sendiri yang merasa tersakiti tapi dia? Dia juga merasakan sakitnya!" Jimin menarik satu nafasnya. "Tidak kah kau tahu hyung? Bagaimana tatapannya saat dia selalu berencana membunuhku? Tapi, selalu berakhir dengan aku dan dirinya yang bertengkar? Aku tahu di balik matanya yang penuh dendam itu dia sebenarnya merasakan luka yang teramat dalam. Dia membutuhkan seseorang hyung! Kau! Dia membutuhkanmu! Dia membutuhkan tompangan dan dorongan, dia membutuhkan penerang. Apakah kau ingin, dia terus berada di jalan yang salah?" sosok itu tersenyum kecil.
"Hoseok akan sangat menyesal jika ia pernah berfikir untuk memusuhimu!"
"Tidak hyung! Itu tidak benar, dia sebenarnya sangat menyayangiku. Seperti dia menyayangi Jungkook!" seketika sosok itu terdiam saat mendengar sebuah nama yang dikenal lama olehnya. "Sejak tujuh tahun di China, apa kau sudah bertemu dengan Jungkook, hyung?" tanya Jimin. Sosok itu terdiam. "Taekwoon hyung?" panggil Jimin, menarik tangan sosok itu lembut. Lamunan pemuda yang bernama Taekwoon itu buyar, ia mengalihkan pandangannya pada Jimin dan menatapnya gugup. "Ada apa? Ekspresimu berubah saat aku bicara soal Jungkook!" Taekwoon menggeleng.
"Aku akan menemuinya nanti!"
"Kalau begitu kau tunggu saja disini! Nanti siang dia akan kemari menjengukku!"
"Be-benarkah? Baguslah!" Jimin memincingkan matanya curiga.
"Sebenarnya ada apa? Apa ada yang kau sembunyikan dariku mengenai Jungkook?" Taekwoon menahan nafas, ia meneguk ludahnya kasar.
"Boleh aku sarankan?" Taekwoon menarik nafasnya perlahan. "Untuk tidak terlalu dekat dengan Jungkook?"
"Apa?"
.
.
.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Cha Young Wook, selaku asisten ketua detektif kepolisian Gangnam.
"Aku rasa tinggal Taekwoon dan Yoongi yang belum juga datang!" jawab Seung Hyun saat melihat rekannya satu persatu.
"Dimana mereka berdua?" tanya Young Wook.
"Yoongi hyung sedang perjalanan kemari hyung!" Namjoon menjawab.
"Lalu, Taekwoon?"
"Mungkin dia juga sedang ada di jalan!" Seung Hyun menimpali.
"Kita tunggu mereka lima menit!" Namjoon, Seung Hyun, dan Baekhyun mengangguk mematuhi apa yang dikatakan Young Wook pada mereka.
Keempat pemuda itu duduk mengitari meja rapat dengan kursi kosong sebanyak tiga kursi. Satu berada di samping kiri Seung Hyun, satu di samping kanan Namjoon dan satu di samping kanan Young Wook. Sementara Baekhyun duduk di samping kanan Seung Hyun.
Keempatnya menoleh secara bersamaan saat pintu ruang rapat mereka terbuka dan muncullah sosok salah seorang yang sedari tadi mereka tunggu kedatangannya.
"Maaf, jika aku datang terlambat!" cicitnya dan beralih duduk di samping Namjoon.
"Gwenchana, Yoongi-ya. Lagi pula kami juga belum memulai rapatnya. Apa kau tidak bertemu Taekwoon?" Yoongi hanya menggeleng. "Arra, kita tunggu tiga menit!" putus Young Wook yang hanya ditanggapi keheningan dari mereka semua.
Tiga menit berlalu, tapi Taekwoon belum juga datang. Sehingga mau tidak mau mereka memulai rapat tanpa Taekwoon saat ini. Young Wook menghela nafas. Ia beralih menatap Namjoon.
"Siapa yang membawa berkas saksi?" tanya Young Wook.
"Taekwoon hyung, hyung!" balas Namjoon.
"Sebenarnya kemana dia? Hyun-ah, apa kau sudah menghubunginya?" tanya Young Wook. Pria gemuk berumur tiga puluhan itu tak bisa lagi mengontrol kesabarannya.
"Hyung, kau memanggil siapa?" tanya Baekhyun polos. Young Wook berdecak dan menatap Baekhyun dan Seung Hyun bergantian. Baekhyun yang sedang berkedip polos padanya sedangkan Seung Hyun yang tengah menahan tawanya. Young Wook seketika menepuk dahinya.
"Aigoo, aku lupa jika kalian berdua memiliki nama belakang yang sama! Tentu saja aku bertanya padamu Byun Baekhyun!" tegas Young Wook.
"Ah, nde~mianhae hyung. Aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi dia tidak juga membalas setiap pesanku atau menjawab sambunganku!" Young Wook kembali menghela nafas.
"Err, hyung mungkin kita bisa menunggu Taekwoon hyung lima menit lagi selagi kita mencoba untuk menghubunginya!" usul Namjoon.
"Nde, hyung itu benar! Tadi dia pergi tergesa-gesa karena adiknya masuk rumah sakit!" adu Seung Hyun.
"Taekwoon punya adik?" Young Wook tampak terkejut.
"Entahlah, hyung! Setelah dia menerima telepon tadi dia terlihat cemas sekali!" lanjut Seung Hyun. "Lagi pula jika lima menit lagi dia tidak datang, setidaknya ada separuh penelitian yang ia dapat bersama Namjoon!"
"Benarkah?" Namjoon terkejut. "Apa hyung sudah tahu siapa pemilik nomor itu?" Seung Hyun mengangguk. "Siapa hyung?" tanya Namjoon.
"Kalian akan terkejut mendengarnya!" Seung Hyun berucap serius. "Pemilik nomor itu tidak lain adalah—"
CKLEK!
Semua orang menoleh saat pintu ruang rapat mereka kembali terbuka.
"Jeongmall mianhae aku terlambat!" Taekwoon masuk dan membungkukkan badannya. Ia berjalan menuju tempat duduk di samping kiri Seung Hyun.
"Gwenchana, kami baru memulai rapatnya. Kau dari mana saja?" tanya Young Wook ramah meskipun Taekwoon hanya memasang wajah datar.
"Adikku mengalami kecelakaan. Dia ditusuk oleh seseorang yang tidak dikenal di sebuah cafe! Aku mohon maafkan aku!" jawab Taekwoon jujur seraya membungkukkan badanya dihadapan Young Wook.
"Aku turut bersedih mendengarnya. Dimana adikmu dirawat?"
"Severance Hospital!" jawab Taekwoon singkat. Yoongi seketika mendongak dan menatap Taekwoon.
Tidak, tidak mungkin itu Jimin. Kasus seperti itu kan tidak hanya menimpanya? Ini pasti hanya kebetulan.
Yoongi kalut dengan pikirannya sendiri.
"Aku harap adikmu cepat sembuh dan orang yang menikamnya segera tertangkap! Apa adikmu melaporkan kejadian ini ke kantor polisi?" tanya Young Wook simpatik. Taekwoon menggeleng.
"Aku sendiri yang akan menyelidikinya setelah kasus ini selesai!" jawab Taekwoon tegas yang entah kenapa membuat Yoongi seketika keringat dingin padahal ia tidak tahu orang yang disebut sebagai adik Taekwoon adalah orang yang sama dipikirannya atau tidak. Young Wook mengangguk dan tak meneruskan pertanyaannya.
"Kita mulai saja rapat ini. Kasus pembunuhan atas nama Shinji In Ha, seorang gadis Jepang yang ditemukan tewas di Hotel Gradia pekan lalu. Aku sudah mengumpulkan beberapa bukti di kamar tempat kejadian seperti beberapa botol minuman, seprei, hingga karpet di dalam kamar. Tapi, sayang tidak ada satu pun bukti yang mengatakan jika kejadian itu adalah bagian rencana pembunuhan. Bagaimana dengan penyelidikan kalian? Yoongi-ya, kau kan yang bertugas untuk mengidentifikasi tubuhnya?" tanya Young Wook. Yoongi mengangguk, tangannya membuka berkas yang sedari tadi terletak manis di depannya.
"Aku sudah memeriksa langsung kondisi tubuh korban yang saat ini berada di rumah sakit. Ada memar di beberapa bagian tubuhnya seperti di bagian kedua lengan atas tangannya dan bagian kedua pahanya. Bercak memar itu berwarna serupa. Selain itu ada bekas ikatan tali di pergelangan tangannya tepatnya di tangan kirinya. Aku juga sudah memeriksa sampel darah korban dan mencocokkannya dengan hasil autopsi dari rumah sakit. Hasilnya menyatakan bahwa ini bukan kasus pembunuhan!" jelas Yoongi yang membuat orang yang disana seketika membulatkan kedua mata mereka terkejut.
"Apa? Bagaimana bisa? Lalu, bekas memar itu?" tanya Young Wook. Yoongi beranjak berdiri dan berjalan menuju papan tulis yang berada di depan mereka. Ia menempel foto rontgen di atas papan tulis dan mulai menjelaskan lebih rinci.
"Mungkin jika dilihat dari hasil autopsi dan sampel darah kita bisa menemukan jika si korban menderita penyakit skizofrenia!"
"Ski—apa?" tanah Baekhyun kurang paham.
"Skizofrenia itu dimana seseorang mengalami gangguan berat pada otak dimana orang akan menafsirkan realitas dengan abnormal, tidak seperti orang pada umumnya. Si penderita akan mengalami halusinasi, khayalan, dan gangguan pada pemikiran selain itu mereka juga akan mengalami ketakutan yang luar biasa. Seseorang yang sudah di vonis dengan penyakit ini maka ia tidak bisa terlepas dari obat-obatan jika ia melewatkan jam obatnya kondisinya akan semakin memburuk bahkan bisa berdampak pada kematian!" jelas Namjoon lancar. Yoongi mengangkat sebelah alisnya, ia sedikit heran dengan Namjoon pasalnya ia belum memberitahukan hasil ini kepada pemuda bermarga Kim itu. Rekan sekaligus sahabatnya itu memang tidak diragukan lagi atas kecerdasan otaknya, benar-benar menganggumkan.
"Wahh, daebak! Bagaimana kau bisa mengetahui ini semua?" kagum Young Wook.
"Aku pernah membaca buku mengenai kedokteran saat aku kuliah, hyung!" jawab Namjoon tersipu.
"Baiklah, aku lanjutkan!" Yoongi berdehem, meminta perhatian dari seluruh orang-orang yang duduk di hadapannya. "Seperti apa yang Namjoon jelaskan tadi mengenai skizofrenia, bisa diduga jika si korban mengakhiri hidupnya atau memang kejadian ini ketidak sengajaan akibat penyakit yang di deritanya, itu praduga yang bisa kita simpulkan jika kita berdasar pada hasil autopsi dan hasil sampel darah yang di ambil. Tidak ada tanda-tanda adanya pembunuhan di tubuh korban!" Yoongi menunduk dan kembali mendongak, ia kembali menempelkan beberapa foto yang berisi tubuh memar seseorang. "Atas ijin perawat disana, aku berhasil mengambil gambar dari tubuh si korban. Dengan ini kita bisa melihat bagaimana luka itu tercetak jelas di beberapa tubuh korban. Jika korban menderita penyakit skizofrenia dan dari hasil autopsi menjelaskan bahwa meninggalnya korban tidak karena pembunuhan maka mungkin saja si pelaku berusaha untuk menakut-nakutinya. Tapi, kita juga tidak bisa menyimpulkan begitu saja dari dua pernyataan ini. Bisa saja korban itu adalah tersangka itu sendiri!"
"Tapi, bagaimana menurutmu?" tanya Young Wook. Yoongi berfikir sejenak.
"Jika hyung bertanya padaku, mengenai pendapat pribadiku maka menurutku tersangka ini mencoba untuk membunuh korban dengan cara agar si korban membunuh dirinya sendiri!" jawab Yoongi.
"Maksudmu bunuh diri?" tanya Seung Hyun.
"Tidak hyung! Ini berbeda dari bunuh diri!" Yoongi kembali menarik nafas. "Aku rasa si tersangka mengetahui mengenai penyakit yang di derita korban sehingga ia mencoba berbuat agar seolah korban itu meninggal karena penyakit yang di deritanya!"
"Pendapatmu masuk akal Yoongi-ya. Kita harus berhati-hati dalam mengambil keputusan kali ini!" lanjut Young Wook. Yoongi tersenyum kecil kemudian ia beralih kembali ke tempat duduknya. "Lalu, bagaimana dengan pemeriksaan cctv-nya?" tanya Young Wook.
"Aku akan perlihatkan pada kalian!" ujar Baekhyun ia menyetel sesuatu lewat laptopnya yang tersambung langsung ke proyektor.
"Ini cctv yang berada di sekitar koridor menuju kamar yang si korban pesan!" terang Seung Hyun. Semua pasang mata tengah fokus menatap ke layar yang LCD yang terpampang jelas di depan mereka.
"Tunggu, tunggu, tunggu~" sela Young Wook. Baekhyun segera bergerak untuk mem-pause rekaman cctv yang ia putar.
"Bukankah itu calon direktur Jung Corporation? Jung Hoseok? Kenapa dia masuk ke kamar itu?" tanya Young Wook heboh.
"Ah, aku lupa!" seru Seung Hyun teringat sesuatu, ia beralih menatap Taekwoon yang duduk di sampingnya. "Kau tahu siapa pemilik nomor itu?"
"Kau sudah mengetahuinya?" tanya Taekwoon datar. Seung Hyun mengangguk.
"Ya, dia adalah Jung Hoseok!" jawab Seung Hyun antusias. Taekwoon seketika bungkam, tubuhnya seolah kaku untuk di gerakkan. Kedua matanya kembali beralih pada rekaman cctv yang ter-pause dimana menampilkan siluet seseorang yang sangat ia kenali. Seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Seseorang yang sangat ia rindukan. Dan, seseorang yang merupakan adik kandungnya.
.
.
.
"Hyung-ie..." sapa Jungkook ceria saat ia membuka pintu kamar inap Jimin.
Jimin yang kebetulan sedang duduk di atas ranjangnya dengan Seokjin yang tengah menyuapi makan siangnya tersenyum manis saat tahu kedatangan Jungkook. Jungkook tertawa girang seraya mengangkat dua kantong tas karton di kedua tangannya.
"Aku membawakan sesuatu untukmu hyung!" ujar Jungkook duduk di pinggiran ranjang Jimin. Ia meletakkan dua kantung itu di dekat kaki Jimin dan mulai membukanya satu persatu. "Aku rasa kau akan bosan di rumah sakit beberapa hari ke depan, maka dari itu aku membawakan sesuatu untukmu!" uajr Jungkook ceria, senyum dengan gigi kelincinya itu tak pernah lepas dari belah bibirnya.
Aku tidak pernah melihat Jungkook seceria ini sejak halmoni meninggal. Tapi, setelah ada Jimin senyum itu kembali. Aku tahu sekarang, kenapa halmoni begitu menyayangi Jimin.
Seokjin tersenyum dan terlalu hanyut dengan interaksi kedua adiknya itu.
"Hyung tahu, aku membeli empat barang untuk hyung-ie. Yang pertama aku membeli mp3 player, mungkin saja hyung bosan dan ingin menyetel lagu yang hyung sukai lewat mp3 ini. Hyung tahu? Ini mp3 kesayanganku jadi masih ada beberapa laguku yang tersimpan di dalam mp3 ini. Aku harap hyung menyukainya. Asal hyung tahu, seleraku masalah lagu benar-benar top nomor satu. Jadi, tidak akan mengecewakan!" jelas Jungkook. Jimin kembali hanya mengangguk.
"Gomapta, Kook-ie..." Jimin tersenyum dan Jungkook kembali sumringah dan menunjukkan barang lain yang ia bawa untuk Jimin.
"Kedua, aku membawakan hyung-ie buku diary. Aku memesan buku ini semalam dengan desain khusus. Hyung lihat, ukiran covernya? Tidak ada yang akan menyamainya!" Jungkook memperlihatkan buku diary yang berukuran 18cmx18cm dengan cover yang bergambar daun maple berwarna orange kemerahan.
"Wow, indahnya!" pekik Seokjin kagum.
"Kenapa kau memilih daun maple?" tanya Jimin.
"Entahlah hyung, aku menyukainya terlihat indah dan cantik! Apa kau tidak menyukainya?" tanya Jungkook tiba-tiba murung. Jimin menggeleng dan mengelus surai Jungkook.
"Kau tahu apa arti daun maple?" tanya Jimin. Jungkook menggeleng. "Daun maple adalah daun yang sangat indah dan istimewa. Mereka selalu berganti warna di setiap musim berganti dan setiap warna itu, mereka memiliki arti tersendiri!" Jimin tersenyum damai.
"Lalu, apa arti daun maple berwarna orange kemerahan hyung?" tanya Jungkook polos. Jimin kembali tersenyum.
"Mereka menyiratkan ketenangan, kedamaian, kenyamanan, dan kesetiaan!" jawab Jimin. Jungkook sumringah.
"Benarkah?" Jimin mengangguk kemudian ia menunduk dan mengelus ukiran daun maple itu.
Dan juga kesedihan, air mata, kedinginan, kehampaan, rasa sakit, penantian, kesengsaraan, dan keguguran yang terbawa arus angin saat musim gugur dan berharap ia akan kembali ke musim selanjutnya meskipun itu semua hanyalah khayalan. Itulah arti daun maple yang sesungguhnya. Kau, memilih penggambaran yang sangat cocok untukku Jeon Jungkook.
Jimin menahan kembali rasa sesak yang menghampiri dadanya. Ia benci saat perasaan itu kembali menghantuinya. Ia benci saat rasa sakit itu terus bersarang di tubuhnya yang semakin lemah ini. Ia mencoba untuk bersikap biasa di hadapan Jungkook. Mengenyahkan segala rasa pusing yang mendera kepalanya. Ia menarik sedikit sudut bibirnya dan membentuk senyuman.
"Syukurlah, aku tidak salah memilih cover. Aku senang jika hyung-ie menyukainya!" Jungkook tersenyum tulus. "Dan, ini yang ketiga hyung!" Jungkook mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal. Jimin membaca judul buku itu sekilas kemudian ia menatap Jungkook tak mengerti. "Ini buku kesayangan nenekku!" ujar Jungkook seketika kedua matanya berkaca-kaca menahan bendungan air mata yang ingin melesak keluar dari kedua kelopak matanya. "Aku tidak tahu kenapa ingin memberikannya kepadamu, hyung!" Jungkook menyerahkan buku lusuh itu kepada Jimin, Jimin menerimanya. "Sebenarnya buku ini ada kembarannya. Tapi, aku tidak tahu dimana kembaran yang hilang itu!" lirih Jungkook sementara Jimin sibuk memperhatikan buku lusuh yang judulnya bertulis "How To Complicated Life".
"Benarkah? Lalu, apa kau tahu judul kembaran buku ini?" tanya Jimin ingin tahu, ya dia ingin tahu karena hanya ingin memastikan. Jungkook mengangguk.
"Judulnya jika tidak salah, "How To Simple Life". Aku rasa buku ini, tidak banyak orang yang memilikinya. Tapi, sampai sekarang aku tidak pernah menemukan dimana buku itu!" jawab Jungkook. "Hyung, maukah kau menjaga buku ini?" pinta Jungkook hati-hati. Jimin mengangguk antusias.
"Tentu saja Kook-ie. Hyung akan menjaga semua barang yang kau berikan padaku hari ini!" Jungkook berhambur memeluk Jimin dengan hati-hati mengingat kondisi pemuda manis itu.
"Terima Kasih hyung-ie! Aku menyayangimu!" Jimin membalas pelukan Jungkook seraya mengelus punggung Jungkook. Seketika, kedua matanya bertemu dengan kedua mata Seokjin yang sedari tadi hanya diam menyimak. Seokjin mengangguk dan tersenyum.
"Ah, ya!" Jungkook melepas pelukannya. "Masih ada satu barang lagi!" ujarnya kembali meraih kantong yang lain dan mengeluarkan isinya. "Aku baru membelinya tadi saat datang kemari. Aku melewati toko musik dan berniat untuk membeli kotak musik untukmu hyung. Aku harap kau menyukainya!" Jungkook menyerahkan sebuah kotak musik berwarna putih dengan coraknya di setiap dindingnya berhiaskan kupu-kupu berwarna biru langit, beberapa juga kupu-kupu itu ada yang berwarna orange, merah, dan kuning.
"Terima kasih, Kook-ie. Aku sangat menyukai semua hadiah ini!" ujar Jimin seraya mengelus surai Jungkook. Seokjin berdehem dan mengalihkan atensi kedua adinya itu.
"Aku rasa kalian melupakan seseorang yang paling tampan disini!" sela Seokjin, mempoutkan bibirnya kesal. Jungkook dan Jimin terkekeh.
"Mianhae, hyung-ie lagi pula mana mungkin kami melupakan Seokjin hyung!" balas Jungkook. Seokjin tersenyum.
"Hm, karena ada Jungkook disini untuk menemanimu maka aku pergi dulu-nde? Aku harus memeriksa pasien yang lain. Aku akan kembali lagi nanti!" pamit Seokjin beranjak dari duduknya. "Aku titip Jimin-ie nde, Jungkook-ie? Kau tahu dia adalah pasien yang sangat nakal dan keras kepala!"
"Benarkah hyung? Apa Jimin hyung juga sebelumnya pernah di rawat di rumah sakit?" tanya Jungkook, Seokjin terdiam dan menatap Jimin yang masih tersenyum sekilas. Kemudian ia menggeleng kaku.
"Tidak, ini pertama kali dan terakhir untuknya!" ujar Seokjin tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari Jimin yang telah menarik senyuman manisnya. Jungkook mengangguk.
"Nde, setelah itu aku tidak akan membiarkan Jimin hyung ada disini lagi!" sahut Jungkook. Seokjin tersenyum sekilas.
"Aish, kalian berdua ini! Aku bukan anak kecil dan aku baik-baik saja mungkin besok atau lusa sudah pulang!" seru Jimin tidak terima. Seokjin kembali menatapnya tajam.
"Yak, Park Jimin apa kau lupa jika ka—"
"Hyung!" sela Jimin menghentikan ucapan Seokjin, ia menggeleng samar mengisyaratkan pada Seokjin untuk tidak melanjutkan ucapannya. Seokjin menarik nafas.
"Istirahatlah! Min uisa akan memeriksamu nanti!" ujar Seokjin sebelum melangkah meninggalkan kamar inap Jimin.
Jungkook kembali duduk di pinggiran ranjang Jimin. Ia menatap wajah pucat Jimin yang selalu tersenyum damai itu.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Jimin. Jungkook mengedikkan bahu.
"Kenapa orang-orang suka sekali menanyakan tentang sekolahku?" cibir Jungkook sebal. Seketika, Jimin terkekeh.
"Hey, kau sudah berumur 18 tahun tapi suka sekali merajuk. Pantas saja banyak orang yang menganggapmu anak kecil!" ujar Jimin seraya mengelus surai Jungkook.
"Dan, juga hyung-ie suka sekali menyentuh rambutku! Rambutku jadi berantakan!" Jungkook kembali mempoutkan bibirnya, dan Jimin kembali terkekeh.
"Aigoo, kau benar-benar menggemaskan!" Jimin mencubit pipi kiri Jungkook bukannya marah justru Jungkook malah tersenyum.
Entah kenapa jika orang lain bahkan hyung-ku sendiri yang melakukannya aku akan marah. Tapi, saat Jimin hyung yang melakukannya kenapa aku merasa menyukainya? Padahal aku baru mengenalnya kemarin.
"Kookie-ya!" panggil Jimin membuyarkan lamunan Jungkook.
"Nde hyung?" sahut Jungkook.
"Apa kau pernah punya sahabat?" tanya Jimin. Jungkook berfikir sejenak kemudian ia menggeleng.
"Para hyung-ku tidak pernah mengijinkanku untuk berteman dengan sembarang orang. Maka dari itu, saat di asrama pergaulanku terbatas. Para staf dan guru-guru banyak yang memperhatikanku. Kemana aku pergi. Dengan siapa aku bicara. Dan, karena itu banyak anak-anak seangkatanku yang enggan berteman denganku. Aku disana benar-benar kesepian hyung. Maka dari itu, aku tidak suka saat mereka menanyakan bagaimana sekolahku dan selalu menganggapku anak kecil!" jelas Jungkook, Jimin iba mendengarnya.
"Lalu, orang tuamu?" tanya Jimin. Sungguh, ia memang bersepupu dengan Jungkook tapi perihal mengenai hidup pemuda yang lebih muda darinya itu ia tidak tahu sama sekali. Banyak sekali rahasia yang di sembunyikan dari mereka.
"Orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan saat aku berumur 9 tahun!"
"Mianhae, Kook-ie aku turut berduka cita!" lirih Jimin. Jungkook tersenyum dan mengangguk.
"Gwenchana hyung-ie!" balasnya membuat Jimin menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Lalu, setelah orang tuamu meninggal?" tanya Jimin lebih hati-hati takut jika ucapannya melukai pemuda bermarga Jeon itu.
"Selama tiga tahun aku hidup bersama nenekku. Tapi, Tuhan juga mengambilnya dariku saat aku berumur 12 tahun!"
"Nenekmu meninggal 6 tahun yang lalu?" Jungkook mengangguk.
"Aku sudah terbiasa dengan pola hidup yang nenekku ajarkan padaku. Bahkan, semua cucu nenek sempat iri karena kedekatanku dengan beliau. Tapi, aku tidak tahu jika ternyata waktu kami bersama begitu singkat!" Jungkook menarik satu nafasnya. "Setelah nenek tiada, hak asuhku diberikan kepada keluarga Jung. Hyung tahukan, Jung Corporation?" Jimin berfikir sejenak.
"Perusahaan yang bergerak di semua bidang itu kan? Perusahaan yang dijuluki greedy corporation?" tanya Jimin. Jungkook mengangguk.
"Nenek memberikan hak asuhku pada anak kedua, lebih tepatnya kakak perempuan dari ibuku dan selain itu nenek juga berpesan untuk memasukkanku ke asrama pilihannya. Tapi, aku selalu merasa bersalah berada di keluarga Jung itu hyung,"
"Eh, waeyo?"
"Putra sulung mereka sangat membenciku, hyung. Dia tidak pernah pulang sejak meninggalnya nenek dan memutuskan hubungan dengan seluruh keluarganya!"
"Tapi, mungkin saja itu bukan karenamu!" hibur Jimin. Jungkook menggeleng dan menunduk.
"Apa yang dikatakannya tujuh tahun yang lalu adalah kenyataan bahwa dia selamanya akan membenciku!" lirih Jungkook yang membuat Jimin tidak ingin bertanya lebih jauh lagi.
.
.
.
"Ya, dia adalah Jung Hoseok!"
Suara Seung Hyun terus saja menari-nari di dalam gendang telinga Taekwoon. Tidak, ia yakin adiknya tidak mungkin berbuat sekeji ini. Dia pasti salah dengar, atau justru Seung Hyun yang salah memeriksa cctv dan pemilik nomor itu. Taekwoon ingin sekali menyangkal bahwa adiknya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Bukan, itu pasti bukan adiknya. Tapi, kenyataan yang ada di hadapannya sekarang? Bagaimana siluet itu yang masuk pertama kali ke dalam kamar korban dan bagaimana pernyataan yang dikatakan Seung Hyun bahwa pemilik nomor si pengancam itu adalah Jung Hoseok? Jung Hoseok, adik kandungnya?
"Hyung! Taekwoon hyung?" panggil Namjoon membuat Taekwoon tersentak karena terkejut.
"Wae? Kenapa kau terlihat khawatir begitu?" tanya Namjoon yang duduk di hadapan Taekwoon. Taekwoon salah tingkah.
"Apa? Aku? Tidak-aku tidak menyangka orang terhormat sepertinya bisa melakukan hal seperti ini!" ujar Taekwoon mencoba untuk menyembunyikan kegugupannya. Mereka semua mengangguk percaya.
"Tapi, tunggu dulu cctv ini belum selesai kita masih bisa melihat lanjutannya!" ujar Baekhyun kembali menekan tombol play pada laptopnya. Dan semua pasang mata yang kembali fokus pada rekaman di hadapan mereka itu.
"Saat orang pertama yang kita ketahui adalah Jung Hoseok masuk ke kamar itu kita bisa melihat bahwa setelah beberapa menit kemudian ia keluar tanpa mengunci pintu!" jelas Seung Hyun. "Dan, tak lama kemudian bisa kita lihat si korban yang masuk ke kamar itu bersama dengan seorang pria!" semua orang tak pernah melepaskan pandangan mereka dari rekaman cctv itu, mereka menunggu dan terus menatap pintu kamar itu hingga hampir 30 menit lamanya.
"Mana? Kenapa lama sekali? Tidak terjadi apa-apa?" tanya Young Wook tidak sabar.
"Sabar dulu hyung. Orang sabar akan mendapat kemudahan!" ujar Baekhyun yang dibalas decakan dari bibir Young Wook.
"Oh lihat-lihat pintunya terbuka!" seru Seung Hyun heboh seperti mereka semua tengah menonton film dewasa, penuh ketegangan dan kehebohan.
"Eoh? Darimana asalnya pria itu?" pekik Namjoon heran. Baekhyun segera mem-pause rekaman itu dan hanya menampakkan dua sosok pria tak dikenal yang memakai pakaian serba hitam serta topi hitam untuk menutupi wajahnya!" Seung Hyun berdiri dan berjalan mendekati papan tulis yang mana tengah menampilkan rekaman itu.
"Kita semua tahu jika pria ini masuk ke kamar hotel yang bernomor 0134 lantai 13 bersama si korban!" Seung Hyun menunjuk pria yang melangkah di depan pintu. "Sedangkan pria ini?" Seung Hyun beralih menunjuk pria yang tengah menutup pintu "Kita tidak tahu kapan dia masuk karena aku rasa sedari tadi kita memperlihatkan rekaman ini dengan saksama. Dari awal hanya tiga orang yang masuk ke kamar ini, Jung Hoseok, si korban, dan pria ini!" jelas Seung Hyun.
"Tapi, siapa yang memesan kamar itu?" tanya Namjoon.
"Jung Hoseok yang membawa kuncinya pertama kali!" jawab Baekhyun.
"Apa kalian tidak bertanya pada resepsionis yang berjaga waktu itu?"
"Ada yang mengancamnya jadi dia tidak akan memberitahu siapa yang memesan kamar itu. Aku dan Taekwoon hyung sudah bertanya pada resepsionis yang lain untuk memeriksa tapi setiap data di password oleh resepsionis yang berjaga maka dari itu hanya resepsionis itu yang bisa memberitahu!" jelas Namjoon.
"Begitu?" Young Wook menompang dagu dan berfikir sejenak.
"Tunggu!" pekik Yoongi tiba-tiba membuat semua orang menatapnya heran. "Jam berapa mereka masuk ke kamar itu?" tanya Yoongi.
"Ah, sebentar aku akan memeriksanya!" ujar Baekhyun kembali berkutat pada laptopnya. "Cctv itu terekam pada jam 12 lewat 17 malam! Aku sudah memeriksa cctv sebelum rekaman ini dan sesudahnya tapi tidak ada pria yang di belakang itu muncul sama sekali!"
"Jam berapa kejadian pembunuhannya?" tanya Yoongi lagi.
"Kata para karyawan mereka menemukan tubuhnya tak bernyawa di atas kasur pada jam 1 lewat 34 dini hari!" jawab Namjoon. Yoongi menjentikkan tangannya.
"0134 bukankah itu nomor kamarnya? Dan si korban ditemukan tewas pada jam 1 lewat 34 dini hari. Ini pembunuhan berencana!" ujar Yoongi yakin. "Kita tidak akan menemukan pria itu kecuali—" Yoongi menggantungkan ucapannya. "Kecuali dia bekerja disitu!"
"Jadi, maksudmu apa para karyawan juga terlibat dalam pembunuhan ini?" tanya Young Wook.
"Tidak para hyung, tapi beberapa! Jika ini pembunuhan berencana maka mereka pasti sudah menyusunnya se-apik mungkin!" ujar Yoongi. "Kita tidak menghitung berapa banyak karyawan yang masuk ke kamar itu kan? Kita hanya melihat orang asing-nya saja. Mungkin saja ia seorang karyawan di depan cctv dan keluar dengan mengenakan pakaian lain!"
"Atau justru ia masuk ke kamar itu dengan cara menghindari cctv!" sambung Namjoon.
"Untuk saat ini kita tidak bisa mempercayai siapapun yang berada di hotel itu!" Young Wook menarik nafas. "Tapi kita harus tetap menyelesaikan kasus ini hingga ke titik terakhir! Hingga saat ini setidaknya kita sudah menemukan beberapa celah penyebab pembunuhan ini. Tapi, kita harus mencari tahu kasus ini lebih dalam. Baekhyun dan kau Namjoon kalian cari tahu siapa saja karyawan hotel yang bertugas dan berada di sekitar kamar itu dan juga, apa kau sudah mengambil gambar close up dari rekaman cctv ini?" tanya Young Wook pada Baekhyun. Baekhyun mengangguk. "Bagus, kau cocokkan setiap detilnya kepada para karyawan di sana. Karena, Namjoon dan Taekwoon sudah mencoba membujuk resepsionis itu maka aku dan Seung Hyun yang akan kembali menanyainya. Dan untuk kalian berdua!" Young Wook menunjuk Taekwoon dan Yoongi bergantian. "Lakukan interogasi pada Jung Hoseok!" titah Young Wook. Taekwoon mengumpat dalam hati, sungguh kenapa ia sial sekali akhir-akhir ini? Ia harus mencari cara agar tugas itu dilimpahkan kepada yang lain.
"Hyung, tapi kenapa harus aku yang mengiterogasinya? Aku bagian penyelidikan lapang!" elak Taekwoon yang membuat kerutan di dahi Young Wook.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau menolak tugas yang diberikan padamu kan?" tanya Young Wook. Taekwoon kembali memutar otak.
"Tapi, aku tidak pernah menginterogasi orang sebelumnya!" Taekwoon kembali mencari alasan.
"Kau bisa meminta tolong pada Yoongi. Dia rajanya dalam hal ini!"
"Kalau begitu kenapa tidak Yoongi saja?" tanya Taekwoon tetap mengelak.
"Hey, ada denganmu?" tanya Young Wook curiga.
"Aku—" Taekwoon kehabisan alasan.
"Dengar Jung! Menginterogasi adalah kegiatan yang tidak menguras fisik—"
"Tapi menguras otak!" cibir Yoongi datar yang membuat Young Wook menatapnya terkejut terlebih ekspresinya yang datar dan tidak bersahabat sama sekali.
"Kau tahu kenapa aku meminta kalian berdua?" tanya Young Wook. "Itu karena kalian berdua pintar bersilat lidah, kalian memang ditugaskan di bidang yang berbeda tapi aku tahu setiap keberhasilan kalian saat ini, terlebih kalian tahu siapa orang yang kita hadapi saat ini? Dia bukan orang sembarangan!" ujar Young Wook. Taekwoon mengusap wajahnya kasar. Sungguh ia ingin berseru kepada orang-orang yang berada di hadapannya saat ini jika orang yang selalu mereka sebut bukan orang sembarangan itu adalah adik kandungnya! Tapi, Taekwoon belum cukup gila untuk melakukan hal konyol yang mungkin saja akan mereka tertawakan karena tidak mempercayainya. Lagi pula, jika mereka percaya sekalipun, hal itu akan membahayakan untuknya dan juga membahayakan nyawa seseorang yang selama ini ia lindungi.
.
.
.
Jungkook tertawa terpingkal-pingkal seraya memegangi perutnya. Sedari tadi ia tidak bisa berhenti tertawa akibat cerita yang diceritakan Jimin ataupun cerita yang diceritakannya.
"Hyung perutku sakit hyung!" rintih Jungkook meskipun sesekali ia masih tertawa geli. Jimin tersenyum simpul.
"Ah, aku punya satu lagi cerita padamu. Tapi, ini tidak lucu!" ujar Jimin semangat.
"Benarkah? Sungguh, ini tidak lucu?" tanya Jungkook memastikan. Jimin mengangguk.
"Mau dengar ceritanya?" tanya Jimin. Jungkook mengangguk dan menompang dagu di atas ranjang Jimin. Kini, ia sudah duduk di kursi di samping ranjang Jimin. "Beberapa waktu lalu aku melewati sebuah taman!"
"Emm, lalu?" tanya Jungkook.
"Taman itu terdapat satu pohon yang sangat besar yang berada di pusat taman. Waktu itu, aku tidak sengaja melihat ada banyak kerumunan di bawah pohon besar itu. Entah kenapa aku jadi ingin mendekatinya! Kau tahu apa yang terjadi?" tanya Jimin, Jungkook mengangguk. "Ada seorang anak yang naik ke atas pohon tapi ia tidak bisa turun karena mengingat bagaimana tingginya pohon besar itu. Semua teman-temannya berseru untuk berhati-hati agar ia tidak jatuh!"
"Kutebak, hyung pasti datang dan menolongnya kan?" tanya Jungkook. Jimin hanay tersenyum kecil. "Hyung memang daebak!!! Lalu, setelah itu?"
"Aku berjalan mendekati kerumunan itu hingga aku berdiri di samping seorang gadis yang menyerukan sebuah nama pada anak kecil itu!"
"Siapa namanya hyung?"
"Yoonsa jika tidak salah!" jawab Jimin. "Aku menyakinkannya untuk terjun dari atas dan berjanji akan menangkapnya! Awalnya dia takut tapi aku kembali menyakinkannya dan akhirnya dia bersedia terjun dan jatuh ke pelukanku!"
"Wah, Jimin-ie hyung memang seorang malaikat, lalu? Lalu, setelah itu apa yang terjadi!"
"Bocah kecil itu langsung berhambur memeluk gadis yang sedari tadi menyerukan namanya. Dan, karena aku juga tidak ada kepentingan disana lagi maka aku memilih untuk pergi tapi tiba-tiba saja seorang gadis kecil menahan tanganku di saat aku sudah setengah jalan menjauhi kerumunan itu. Kau tahu apa yang dilakukan gadis kecil itu?" tanya Jimin. Jungkook menggeleng polos. "Dia mengucapkan terima Kasih dan mencium pipiku!"
"Aigoo, kyeopta... Aku iri pada gadis kecil itu!"
"Eh, waeyo?" tanya Jimin heran.
"Aku juga ingin menjadi gadis kecil itu dan mencium pipimu hyung!" Jungkook mencebikkan bibirnya pertanda bahwa ia cemburu. Jimin terkekeh melihatnya.
"Aigoo, lihatlah adik kecilku sedang merajuk!" Jimin kembali mengelus surai Jungkook. Jungkook terkejut seketika.
"Hyung-ie tadi menyebutku apa?" tanya Jungkook. Jimin mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Apa?" Jimin balik bertanya.
"Hyung-ie tadi menyebutku sebagai adik kecil hyung~" lirih Jungkook. Jimin mengedip bingung.
"Benarkah? Oh, mianhae seharusnya hyung tidak mengatakan hal itu! Mianhae, Kook-ie!" Jungkook menggeleng.
"Hyung tidak akan aku maafkan jika hyung tidak menganggapku sebagai adik hyung sendiri! Aku tidak mau berpisah dari Jimin hyung mulai saat ini. Aku ingin terus bersamamu!" lirih Jungkook. Jimin tersenyum. "Hyung, berjanjilah akan terus bersamaku!" Jungkook mengangkat jari kelingkingnya dan menunggu Jimin untuk menautkan jari kelingkingnya juga. Jimin mengangguk dan membalas jari kelingking Jungkook dengan jari kelingkingnya.
"Hyung janji!" ujar Jimin. Jungkook tersenyum girang dan berhambur memeluk pemuda yang tengah terbaring sakit di hadapannya itu. Dengan senang hati, Jimin membalas pelukan Jungkook seraya mengelus punggungnya perlahan.
Jungkook melepaskan pelukannya saat ia mendengar ketukan pintu sejenak dan suara deritan pintu kamar inapnya yang tiba-tiba terbuka.
"Jimin~" panggil seseorang saat ia masuk ke kamar inao Jimin seraya kembali menutup pintu itu.
"Tae~" balas Jimin seraya melepas dekapan Jungkook. Taehyung berjalan santai menuju ranjang Jimin.
"Mianhae, aku baru menjengukmu. Aku baru saja selesai mengikuti tes terakhir jadi aku pikir untuk kemari setelah tes itu selesai!" sesal Taehyung. Jimin tersenyum dan mengangguk.
"Gwenchanayo Tae!" balas Jimin tersenyum. Taehyung memincingkan kedua matanya saat melihat sosok pemuda asing yang duduk di samping ranjang Jimin.
"Siapa dia?" tanya Taehyung pada Jimin tanpa mengalihkan pandangannya kepada Jungkook.
"Ah, kenalkan dia Jeon Jungkook. Dia orang yang membawaku kemari. Nah, Jungkook kenalkan dia sahabat sejak aku kecil, Taehyung, Kim Taehyung!" Jimin memperkenalkan keduanya. Taehyung menatap Jungkook tak berkedip sementara, Jungkook hanya menatapnya dengan pandangan malas. Taehyung mengulurkan tangannya pada Jungkook. Jungkook diam sejenak kemudian ia membalas uluran tangan Taehyung.
"Jeon Jungkook!"
"Kim Taehyung!"
"Hyung apa kau butuh sesuatu?" tanya Jungkook setelah ia membalas uluran tangan Taehyung sejenak. Jimin berfikir sejenak kemudian ia menggeleng.
"Tidak, dan sepertinya sebentar lagi Min uisa akan kemari. Jadi, akan lebih baik kenapa kalian berdua tidak ke cafetaria saja? Atau berjalan-jalan di taman?" usul Jimin. Jungkook mengernyitkan dahinya tidak setuju.
"Ah, hyung! Aku masih ingin disini menemanimu!" rengek Jungkook.
"Jeon Jungkook—" Jimin menghentikan ucapannya saat ia mendengar pintu kamarnya kembali terbuka bersamaan dengan seorang dokter yang masuk diikuti seorang perawat di belakangnya.
Sial! Jika Min uisa yang dimaksud Jimin adalah appa Yoongi hyung. Itu berarti dia akan mengenaliku. Aish, apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Park Jimin!" sapa dokter Min berdiri di samping Taehyung yang seketika berdiri kaku. Jimin tersenyum sekilas.
"Annyeong uisa-nim!" balas Jimin.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya dokter Min ramah.
"Lebih baik uisa-nim!" jawab Jimin. Dokter Min mengangguk.
"Baguslah! Aku senang mendengarnya dan—bisakah kalian berdua keluar sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan Jimin sekaligus memeriksa perkembangannya!" pinta dokter Min yang langsung di turuti kedua pemuda itu. Jungkook melangkah lebih dahulu sedangkan, Taehyung tak sedikitpun bergerak dari tempatnya berdiri.
"Tae~" panggil Jimin yang melihat Taehyung sedang melamun. Taehyung tersentak.
"Ah, baiklah! Aku tunggu di luar!" ujar Taehyung berbalik badan dan melewati dokter Min beserta satu perawat yang setia berdiri di belakangnya. Taehyung bernafas lega saat ternyata dokter Min tidak mengenalinya.
"Siapa dia?" tanya dokter Min pada Jimin setelah Taehyung menutup pintu kamar inapnya.
"Dia? Sahabatku uisa-nim!" jawab Jimin.
"Sahabatmu? Tapi, kenapa aku seperti pernah melihatnya?" gumam dokter Min yang tidak di dengar dengan jelas oleh Jimin.
.
.
Jungkook duduk di kursi tunggu di depan kamar inap Jimin sedangkan Taehyung berjalan mondar-mandir tepat di depannya. Ekspresi mereka seolah seperti tengah menantikan hasil ujian mereka yang akan keluar sebentar lagi.
Lelah dengan acara mondar-mandir-nya Taehyung memutuskan untuk berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding di depan Jungkook seraya menatap pemuda itu intens.
Tunggu! Bukankah, dia pemuda yang menolong Jimin di cafe waktu itu?
Jungkook yang merasa di perhatikan awalnya tak begitu mengindahkan dan lebih memilih untuk terfokus pada layar ponsel yang berada di genggamannya.
Bagaimana jika memang dia? Itu berarti, bukankah bukti itu berada padanya?
Jungkook menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan seketika kedua matanya tak sengaja bertemu dengan kedua iris Taehyung. Jungkook mengangkat sebelah alisnya saat melihat tatapan aneh dari kedua mata Taehyung.
"Waeyo?" tanya Jungkook dingin. Taehyung terkejut dan salah tingkah.
"A-ani! Aku—hanya tidak pernah melihatmu bersama Jimin. Kau siapanya?" tanya Taehyung.
"Aku—aku sama sepertimu!" jawab Jungkook sebelum berfikir jawaban apa yang kiranya pantas untuk ia ucapkan. Jungkook menatap wajah Taehyung, kemudian kedua matanya membola sempurna saat ia mengingat sesuatu.
"Tunggu, bukankah kau yang bersamanya waktu di cafe itu kan? Kau kan yang membawa bocah kecil itu?" tanya Jungkook. Taehyung gelagapan.
"Oh, ya! Aku terpaksa melakukannya karena itu permintaan Jimin. Jimin sangat emosional jika mengenai anak kecil, dan aku menyesal sekarang karena telah meninggalkannya!" ujar Taehyung merasa bersalah.
"Gwenchana itu bukan salahmu! Lagi pula keparat itu berniat untuk menusukku bukan Jimin hyung, jadi Jimin hyung telah menyelamatkan nyawaku!" lirih Jungkook yang tak kalah merasa bersalah. "Em, apa kau memang sudah lama berteman dengan Jimin hyung?" Taehyung mengangguk. "Mau minum kopi? Aku akan mentraktirmu!" ajak Jungkook. Taehyung berfikir sejenak. Jika ia ingin mendapatkan sesuatu dari bocah ini bukankah lebih baik jika ia harus mendekatinya secara diam-diam dan mengambil simpatik darinya? Bukankah begitu?
"Baiklah! Kajja!" Taehyung menerima tawaran Jungkook dan kedua pemuda itu berjalan beriringan bersama menuju cafetaria.
Tak ada perbincangan antara keduanya selama langkah mereka menuju cafetaria. Keheningan dan terlalu larut dalam pikiran mereka masing-masing. Jungkook yang sibuk dengan interior rumah sakit dimana tempat hyung-nya bekerja sementara Taehyung yang berfikir keras bagaimana caranya agar ia mendapatkan pisau yang berada pada pemuda yang berdiri bersisihan dengannya.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Jungkook. Keduanya memutuskan untuk duduk di dekat jendela dalam cafetaria yang kebetulan dekat dengan taman rumah sakit. Taehyung berfikir sejenak.
"Coffee latte!" jawabnya. Jungkook mengangguk dan menuju pantry pemesanan. Kedua mata Taehyung tak pernah lepas dari pemuda yang tengah memesan kopi untuknya dan untuk dirinya sendiri.
"Bagaimana caranya aku mendapatkan pisau itu darinya?" pikir Taehyung frustasi. "Ah! Entahlah, aku yakin pasti akan ada kesempatan jika aku terus mendekatinya!"
Jungkook kembali dengan dua cup sedang yang berada di kedua tangannya. Ia memberikan satu cup kepada Taehyung sesuai dengan pesanannya sebelumnya. Jungkook menyesap sedikit kopi yang ia pesan dan kembali menatap Taehyung serius.
"Aku ingin bertanya padamu mengenai Jimin hyung jika kau tidak keberatan!" Jungkook membuka pembicaraan.
"Hm, katakanlah!" balas Taehyung.
"Bisa kau ceritakan, mengenai Jimin hyung? Apa yang dia suka? Apa yang dia benci? Semuanya, itupun jika kau bersedia!" pinta Jungkook.
"Sepertinya kau ingin mengenal lebih dalam soal Jimin!" komentar Taehyung. Jungkook hanya tersenyum simpul.
"Jadi, apa kau bersedia?"
"Apakah aku mendapatkan sesuatu selain coffee latte ini?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya.
"Ah, aku tahu tentu saja ini tidak gratis kan? Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Jungkook semangat. Taehyung berfikir sejenak.
"Mungkin kau harus mentraktirku di tempat yang kuinginkan!" pikir Taehyung setelah menimang-nimang permintaan apa yang ia ajukan kepada Jungkook.
"Baiklah! Itu bukan perkara yang sulit! Aku akan mentraktirmu dimanapun yang kau mau dan kapanpun waktunya!" setuju Jungkook.
"Benarkah? Okay, aku akan menceritakan mengenai Jimin apapun yang ingin kau ketahui. Karena seperti yang Jimin tadi katakan aku sahabatnya sejak kecil!"
"Jadi, apa kau seumuran dengan Jimin hyung?"
"Apakah itu pertanyaan pertama? Aku rasa itu mengacu pada diriku!" Taehyung tersenyum miring sedangkan Jungkook hanya berdecak.
"Aku hanya spontanitas!"
"Ya, kami seumuran! Jadi, kau harus memanggilku dengan sebutan hyung!"
"Bukankah namamu sendiri sudah ada kata hyung?" goda Jungkook. Taehyung tersenyum.
"Sial! Itu sama saja kau memanggil namaku, bocah!" Jungkook tertawa keras.
"Arra, hyung! Jadi, seperti apa Jimin hyung itu? Keadaan keluarganya?" Taehyung menarik nafas.
"Jimin adalah anak bungsu. Ia memiliki dua kakak, kakak laki-laki dan kakak perempuan. Ayah Jimin seorang kepala kepolisian di Gangnam sedangkan ibunya adalah salah seorang desainer terkenal. Kakak laki-lakinya baru saja lulus kuliah dan mendapat gelar sarjana di bidang perfilman sedangkan kakak perempuannya adalah seorang model!"
"Lalu, Jimin hyung?"
"Saat kami SMA dia ingin sekali kuliah di jurusan psikologi tapi sepertinya orang tuanya tidak menyetujuinya tapi dulu ia tetap kekeuh ingin kuliah di jurusan itu, akan tetapi setelah lulus tiba-tiba saja semangatnya hilang!" Jungkook menyimak dengan baik. "Bahkan setiap aku bertanya apa rencananya selanjutnya ia mengatakan bahwa ia sudah merencanakan sesuatu tapi tidak pernah sekalipun ia memberitahuku. Jimin bukan orang yang pemilih dalam berteman tapi banyak orang yang tidak ingin mendekatinya karena dia lambat dalam pergaulan dan tidak banyak bicara, dia juga orang yang pemalu. Jimin sangat menyukai anak-anak dan ia selalu merasa emosional jika menyangkut anak-anak meskipun tidak dikenalinya. Itulah sebabnya setiap anak-anak yang ditemuinya akan mudah dekat dengannya dibandingkan dengan orang yang sesebaya dengannya!" Taehyung menyesap sedikit coffee latte-nya sebelum ia kembali melanjutkan ceritanya. "Jimin sangat menyukai alunan musik dan ia paling menyukai piano dan harpa. Karena itu ia pernah kursus harpa selama satu setengah tahun!"
"Jimin hyung bisa bermain harpa?" tanya Jungkook kagum. Taehyung mengangguk. "Wah, daebak!"
"Tapi, dia sudah tiga tahun tidak pernah memainkannya!"
"Eoh, kenapa hyung?"
"Harpa selalu mengingatkannya kepada seseorang yang sangat penting baginya, jadi ia memutuskan untuk tidak memainkannya lagi. Aku melihat perubahan drastis saat SMA, dia sering murung dan menyendiri di atap sekolah atau perpustakaan. Awalnya aku tidak tahu kenapa tapi ternyata saat ia menceritakan kepadaku ada masalah dalam keluarganya!"
"Itukah sebabnya Jimin hyung tidak mau menghubungi keluarganya?" tanya Jungkook. Taehyung mengangguk.
"Jimin adalah orang yang lihai dalam menyembunyikan masalah. Kau tidak akan tahu kapan ia akan merasakan sakit karena ia terus menyembunyikan keluh kesahnya dengan wajahnya serta senyumannya. Bahkan, kau tidak akan menyangka jika anak itu sering membebani dirinya sendiri. Itulah sebabnya kenapa aku berusaha untuk selalu berada disisinya. Agar ia menceritakan segala masalahnya padaku!"
"Apa hyung tahu apa masalah keluarganya?"
"Maaf, Kook! Aku bukan orang yang tepat untuk menceritakan masalah itu padamu!"
"Gwenchana hyung-ie aku mengerti! Terima kasih kau sudah menceritakan sebagian kisah mengenai Jimin hyung!"
"Tidak apa! Aku senang ada orang yang memperhatikannya!"
Dan juga, aku senang karena berhasil menarik simpatikmu.
.
.
"Kau sudah mulai membaik Jimin-ie!" ujar dokter Min seraya menanggalkan stetoskop-nya ke lehernya.
"Jadi, apa aku bisa pulang secepatnya?" tanya Jimin semangat. Dokter Min menggeleng.
"Apa kau lupa, kau harus menjalani operasi?" dokter Min balik bertanya.
"Bukankah, belum ada pendonor yang cocok untukku?" tanya Jimin. Dokter Min tersenyum.
"Siapa yang mengatakan tidak ada yang cocok?"
"Apa?"
"Ada tiga pendonor yang mengajukan diri mereka padaku!"
"Benarkah?"
"Nde, dan salah seorang dari mereka cocok dengan ginjalmu!"
"Maaf, uisa-nim jika boleh tahu siapa saja mereka?"
"Dua diantara mereka adalah dua hyung-mu, Jung Taekwoon dan Kim Seokjin sementara yang satunya adalah, dia mengatakan padaku jika dia adalah orang terdekatmu!" jelas dokter Min.
"Jadi, apakah yang cocok itu bukan Taekwoon hyung dan Seokjin hyung?" tanya Jimin. Dokter Min menggeleng. "Jika boleh tahu siapa namanya?"
"Chakkaman, aku lihat dulu di dokumennya!" ujar dokter min seraya membuka rekap medis milik Jimin yang sedari tadi di bawa oleh susternya. "Namanya adalah—nah, ini dia~" pekik dokter Min yang tak kunjung menyebutkan sebuah nama membuat Jimin penasaran, siapa orang yang akan mendonorkan ginjal padanya. "Namanya adalah Lee Taemin!"
Seketika Jimin terdiam. Lebih tepatnya terlalu terkejut. Ia rasa pendengarannya mulai bermasalah. Tidak, ia pasti salah dengar. Tidak mungkin nama itu yang muncul. Tapi, kenapa tiba-tiba ia mendengar nama itu lagi setelah sekian lama ia berusaha untuk melupakan nama itu dan sekarang? Ia yakin, ia pasti sedang berhalusinasi tapi kenapa harus nama itu yang terdengar?
"Mianhae, uisa-nim apa anda tidak salah menyebut nama?" tanya Jimin memastikan. Dokter Min menggeleng.
"Tidak, Park Jimin! Benar namanya Lee Taemin, dia mengatakan jika kau adalah orang spesial untuknya. Dan, untunglah ginjalnya cocok denganmu!" jelas dokter Min.
Jimin seketika bimbang. Bagaimana orang itu bisa tahu? Apakah channel itu masih tetap berfungsi untuknya, meskipun setelah bertahun-tahun lamanya? Tidak, itu tidak masuk akal. Tapi, Jimin tidak bisa mempercayainya. Ini semua diluar dugaannya. Kenapa bisa dia? Dan, kenapa dia bisa kembali?
TBC
Wahhh, annyeong reader-nim...
Gimana sama lanjutannya? Aku bawa peran baru nih, yang siap-siap buat jadi orang ketiga antara YoonMin /ketawa jahat\
Semoga gak mengecewakan ya...
For information...
Next chap adalah spesial YoonMin!!!!! Jadi, chap besok full cuman ada mereka tapi aku gak janji ya isinya bakal manis-manis, kkkk
Makasih sama review kalian sebelumnya dan telah menyempatkan membaca ini. Aku benar-benar sangat berterimakasih. Semoga kalian gak bosen ya...
Bye bye. See you on next chapter...
